• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ratih Agustine Putri, Gabriel S.B. Andari Kristanto, Cindy Rianti Priadi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ratih Agustine Putri, Gabriel S.B. Andari Kristanto, Cindy Rianti Priadi"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI PENGELOLAAN LIMBAH PADAT GEDUNG KANTOR

PADA ASPEK TEKNIS OPERASIONAL BERDASARKAN ANALISIS

TIMBULAN DAN KOMPOSISI

(Studi Kasus: Gedung Menara Prima, Jakarta)

Ratih Agustine Putri, Gabriel S.B. Andari Kristanto, Cindy Rianti Priadi

Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia

Email: [email protected]

ABSTRAK

Pada tahun 2011 jumlah timbulan limbah padat di DKI Jakarta mencapai 5.598 ton/hari (BPS DKI Jakarta, 2012), dimana 35% limbah padat berasal dari industri dan perkantoran. Gedung Menara Prima belum memiliki pengelolaan limbah padat terpadu, sehingga diperlukan rekomendasi pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional berdasarkan timbulan dan komposisi limbah padat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah SNI 19-3964-1994 dan SNI 19-2454-2002. Hasil penelitian menunjukkan total rata-rata berat timbulan limbah padat Gedung Menara Prima adalah 449,8 kg/hari dengan total rata-rata volume 3459 L/hari dan berat jenis limbah padatnya adalah 0,15 kg/L. Laju timbulan yang dihasilkan pada area basement adalah 0,062 L/m2/hari, area gedung (aktivitas administrasi kantor) 0,700 L/orang/hari, area kantin 0,089 L/orang/hari, area taman dan sapuan jalan 0,048 L/m2/hari. Tiga komponen utama komposisi limbah padat di Gedung Menara Prima yaitu area gedung terdiri dari 32,9% organik, 50,4% kertas, 9,25% plastik; area kantin terdiri dari 90,0% organik, 4,55% kertas, 4,22% plastik; area taman dan sapuan jalan terdiri dari 79,0% organik, 5,20% kertas, 4,79% kaca. Melalui rekomendasi pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional, limbah padat yang diangkut berpotensi dikurangi sebesar 28,6% dengan penerapan pengomposan dan penjualan limbah padat anorganik laku jual ke lapak yang menerima limbah padat dari kawasan kantor.

POTENTIAL OF OFFICE BUILDING SOLID WASTE MANAGEMENT

ON TECHNICAL ASPECT BASED ON WASTE GENERATION AND

COMPOSITION ANALYSIS

(Case Study: Menara Prima Office Building, Jakarta)

ABSTRACT

In 2011, the amount of solid waste generated in Jakarta reached 5.598 tons/day (BPS Jakarta, 2012), in which 35% of solid waste is from industrial and office. Menara Prima Office Building, has yet to implement an integrated solid waste management, thus a recommendation of solid waste management on technical aspect is required based on waste generation and composition. The method used in this research is based on SNI 19-3964-1994 and SNI 19-2454-2002. The results are as followed: the average weight of total solid waste generation of Menara Prima is 449.8 kg/day, the average of total volume is 3459 L/day, and the density of solid waste is 0.15 kg/L. Generation rates measured from the basement area is 0.062 L/m2/day, building area (office administration activities) is 0.700 L/person/day, canteen area is 0.089 L/person/day, parks and street sweeping area is 0.048 L/m2/day. Three main components of compositions in Menara Prima that are, the building area consist of 32.9% organic, 50.4% paper, 9.25% plastic; the canteen area consists of 90.0% organic, 4.55% paper, 4.22% plastic; and the parks and street sweeping area consists of 79.0% organic, 5.20% paper, 4.79% glass. Solid waste management recommendation on the technical aspect can potentially reduce solid waste transported up to 28.6% by the implementation of solid waste composting and sale of salable inorganic solid waste from the office area.

Key words:

technical aspect; office building; solid waste composition; management recommendation; solid waste generation

(2)

Pendahuluan

Limbah padat merupakan salah satu permasalahan yang tidak kunjung berakhir untuk diselesaikan di Indonesia. Pada tahun 2011 jumlah timbulan limbah padat di DKI Jakarta mencapai 5.598 ton/hari (BPS DKI Jakarta, 2012). Dari jumlah tersebut, 55% limbah padat berasal dari rumah tangga, 35% industri dan perkantoran, dan 5% lainnya dari pasar (Desy & Rimadi, 2012). Sementara itu kebutuhan lahan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bantar Gebang kian terbatas untuk menampung limbah padat tersebut. Di DKI Jakarta, selain pemukiman, pertumbuhan gedung perkantoran juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Konsultan properti Coldwell Banker mengungkapkan bahwa tingkat okupansi perkantoran sewa di DKI Jakarta pada kuartal kedua tahun 2012 bisa tumbuh 1,35% dari kuartal sebelumnya menjadi 96,89%, dengan perincian tingkat hunian perkantoran di pusat bisnis DKI Jakarta (central business distric/CBD) melingkupi area jalan Thamrin, Sudirman dan Kuningan tumbuh 1,05% di kuartal kedua ini menjadi 97,7% (Kompas, 2012). Dapat ditilik bahwa selain bersumber dari pemukiman, limbah padat yang bersumber dari gedung perkantoran di DKI Jakarta merupakan salah satu penyumbang potensial dalam menambah beban timbulan limbah padat yang ada di TPA Bantar Gebang.

Mengacu pada Undang-Undang (UU) No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan diperkuat Peraturan Pemerintah (PP) No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, disebutkan bahwa pengelola limbah padat kawasan pemukiman, kawasan industri, kawasan komersial, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya, harus segera memilah, mengumpulkan, dan mengolah limbah padat di masing-masing kawasan.

Dari penelitian yang sudah pernah dilakukan di Indonesia, khususnya DKI Jakarta yaitu di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 2003 (Silalahi, 2003) dan pada tahun 2010 (Shochib, 2011) serta pada gedung perkantoran PT. Pertamina pada tahun 2012 (Anggreni, 2012), komposisi limbah padat yang dihasilkan dari gedung kantor tersebut mengindikasikan bahwa penerapan pengelolaan limbah padat yang berbasis 3R (reduce, reuse, recycle) berpotensi untuk dilakukan, seperti limbah padat organik dapat dikomposkan, dan limbah padat anorganik dapat didaur ulang melalui penjualan ke lapak/agen/pabrik daur ulang. Sehingga dari paparan di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu berapa jumlah timbulan limbah padat, persentase komposisi limbah padat, rekomendasi potensi pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional, dan potensi

(3)

pengurangan laju timbulan limbah padat yang dapat dihasilkan oleh objek studi yaitu Gedung Menara Prima melalui penerapan rekomendasi pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional. Tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah tersebut adalah untuk mengetahui jumlah timbulan dan persentase komposisi limbah padat, menyusun rekomendasi potensi pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional, serta mengetahui potensi pengurangan laju timbulan limbah padat yang dihasilkan oleh Gedung Menara Prima melalui penerapan rekomendasi pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional.

Tinjauan Teoritis

Penggolongan Jenis Limbah Padat Perkantoran

Menurut Tchobanoglous, Theisen, & Vigil (1993), limbah padat perkantoran terdiri atas:  Kertas  Kardus/karton  Plastik  Kayu  Sisa makanan  Kaca  Logam  Limbah padat khusus  Limbah padat berbahaya

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang limbah padat perkantoran pada tahun 2003 di gedung kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), jenis limbah padat perkantoran yang dihasilkan adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Komposisi rata-rata limbah padat gedung BPPT per hari (Januari dan Maret 2003)

No. Komponen Limbah Padat Volume Berat

m3 % kg % 1 Organik 0,383 21,5 99,82 35,5 2 Plastik Keras 0,130 7,30 5,850 2,08 Lunak 0,148 8,32 10,92 3,88 3 Kertas Boncos 0,204 11,5 23,27 8,27 HVS 0,195 10,9 107,2 38,1 Kardus 0,050 2,81 10,00 3,55 4 Tekstil 0,030 1,69 5,070 1,80 5 Kaca/gelas 0,010 0,56 2,600 0,92 6 Kaleng 0,010 0,56 1,950 0,69 7 Styrofoam 0,320 17,9 5,200 1,85 8 Kayu 0,060 3,37 5,000 1,76 9 Logam 0,020 1,12 2,000 0,71 10 Campuran 0,220 12,4 2,600 0,92 Jumlah 1,780 100 281,4 100,

Sedangkan berdasarkan penelitian limbah padat perkantoran yang telah dilakukan pada tahun 2012 di gedung Kantor Pusat PT. Pertamina, jenis limbah padat perkantoran yang dihasilkan adalah sebagai berikut.

(4)

Tabel 2. Komposisi limbah padat gedung Kantor Pusat PT. Pertamina (2012)

Komposisi Presentase Berat (%)

Pertamina Pusat Gedung Kwarnas

Organik 54,61 58,89 Kertas 28,14 23,37 Plastik 13,43 10,16 Logam 0,01 1,43 Kaleng 0,42 0,29 Kaca/gelas 0,48 0,84 Styrofoam 1,29 0,20 Kayu 0,15 0,34 Tekstil 0,25 0,00 Karet 0,12 0,52 Odner 0,54 1,15 Gabus 0,17 0 B3 0,40 2,80 Campuran 0 0

Aspek Teknis Operasional Limbah Padat Secara Umum

Menurut SNI 19-2454-2002 teknis operasional limbah padat perkotaan terdiri dari kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir limbah padat harus bersifat terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya. Skema teknis operasional yang dimaksud ditampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Skema teknis operasional pengelolaan limbah padat

SNI 19-2454-2002 menjelaskan bahwa timbulan limbah padat adalah banyaknya limbah padat yang timbul dari masyarakat dalam satuan volume maupun berat per kapita perhari, atau per luas bangunan, atau per panjang jalan. Pewadahan limbah padat merupakan aktivitas menampung limbah padat sementara dalam satu wadah khusus untuk dan dari limbah padat individu dimana pola pewadahan limbah padat dapat dilakukan sesuai dengan jenis limbah

(5)

padat yang telah terpilah, yaitu limbah padat organik seperti daun, sisa sayuran, kulit buah lunak, sisa makanan dengan wadah warna gelap; anorganik seperti gelas, plastik, logam, dan lainnya, dengan wadah warna terang; dan bahan berbahaya beracun rumah tangga dengan warna merah yang diberi lambang khusus atau semua ketentuan yang berlaku. Sementara pemilahan adalah proses pemisahan limbah padat berdasarkan jenis limbah padat yang dilakukan sejak dari sumber sampai dengan pembuangan akhir. Pengumpulan limbah padat adalah aktivitas penanganan yang tidak hanya mengumpulkan limbah padat dari wadah individual dan atau dari wadah komunal (bersama) melainkan juga mengangkutnya ke tempat terminal tertentu, baik dengan pengangkutan langsung maupun tidak langsung. Pemindahan limbah padat adalah kegiatan memindahkan limbah padat hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir dengan cara manual, mekanis, atau gabungan. Pengolahan limbah padat adalah suatu proses untuk mengurangi volume limbah padat dan atau mengubah bentuk limbah padat menjadi yang lebih bermanfaat, antara lain dengan cara pembakaran, pengomposan, pemadatan, penghancuran, pengeringan, dan pendaurulangan. Pengangkutan limbah padat merupakan kegiatan membawa limbah padat dari lokasi pemindahan atau langsung dari sumber limbah padat menuju ke tempat pembuangan akhir. Pembuangan akhir limbah padat merupakan tempat dimana dilakukan kegiatan untuk mengisolasi limbah padat sehingga aman bagi lingkungan.

Aspek Teknis Operasional Limbah Padat Perkantoran

Pedoman Pengelolaan Persampahan Perkantoran dan Pemukiman di Lingkungan Kementrian Pekerjaan Umum mengatur tentang pengelolaan limbah padat berbasis 3R. Skema pengelolaan limbah padat di lingkungan perkantoran Kementrian Pekerjaan Umum ditampilkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Skema pengelolaan limbah padat di lingkungan perkantoran Kementrian Pekerjaan Umum

Pelaksanaan teknis operasional penanganan limbah padat yang direncanakan dalam kawasan perkantoran adalah sebagai berikut (Kementrian Pekerjaan Umum, 2011):

(6)

1. Pemilahan dan pewadahan

Pemilahan dimulai pada setiap ruangan

 Pemisahan limbah padat anorganik/kering dengan limbah padat organik/basah

 Pemasukan limbah padat kertas, kardus, koran, majalah, dan sejenisnya kedalam wadah limbah padat kuning yang tersedia di ruangan

Pemasukan limbah padat sisa makanan, kantong teh, dan sejenisnya ke dalam wadah limbah padat hijau (komposter)

 Pemasukan limbah padat botol, kaleng, botol plastik dengan dibawa sendiri ke dalam wadah limbah padat biru yang tersedia di setiap lantai

 Pemasukan limbah padat B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) dengan dibawa sendiri ke wadah limbah padat merah yang tersedia di setiap lobi gedung

Pemindahan limbah padat hasil pemilahan di tiap ruangan oleh petugas pengumpul ke wadah limbah padat besar di setiap lantai untuk selanjutnya dipilah lagi sesuai dengan peruntukkan setiap wadah limbah padat

2. Pengumpulan

 Pengumpulan dimulai di setiap lantai

Pemasukan limbah padat dari setiap wadah limbah padat besar secara terpisah masing-masing ke dalam pastik limbah padat, diikat, dan dikumpulkan

3. Pemindahan:

 Pemindahan limbah padat yang telah dimasukkan ke dalam plastik limbah padat di setiap lantai secara langsung atau dengan menggunakan kereta dorong limbah padat ke TPS sesuai dengan TPS yang ditentukan untuk setiap gedung

Peletakkan limbah padat yang dipindahkan ke TPS pada bak/kontainer sesuai dengan peruntukkannya

 Pemindahan limbah padat organik dari wadah limbah padat hijau harus setiap hari dilakukan ke TPS

 Pemindahan limbah padat anorganik dapat dipindahkan ke TPS setiap 2 hari sekali kecuali bila dalam satu hari wadah limbah padat sudah penuh

4. Pengangkutan

Di TPS, limbah padat yang dapat digunakan kembali (reuse) dan di daur ulang (recycle) akan diambil oleh petugas yang diizinkan oleh pihak Kementrian Pekerjaan Umum

(7)

Limbah padat organik/basah yang terkumpul di TPS selanjutnya dikelola dengan pengomposan oleh petugas yang ditunjuk oleh pihak Kementrian Pekerjaan Umum  Sisa limbah padat di TPS yang tidak dapat dikelola dengan upaya 3R diangkut dengan

menggunakan becak motor ke TPS Jalan Bakti, Blok A, Jakarta Selatan oleh petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) DKI Jakarta.

Potensi Pengolahan Limbah Padat Skala Kantor

Upaya pengolahan limbah padat skala kantor dapat diterapkan melalui pengadaan TPS 3R. PP No. 81 Tahun 2012 menyebutkan TPS 3R merupakan tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, dan pendauran ulang skala kawasan. TPS 3R atau dapat juga disebut Unit Pengolahan Sampah (UPS) atau Material Recovery Facility (MRF) merupakan fasilitas fisik yang digunakan untuk memilah dan memroses limbah padat yang telah dipilah di sumber atau yang masih tercampur (Tchobanoglous, Theisen, & Vigil, 1993). Pengolahan limbah padat dari kawasan kantor dapat diterapkan melalui pemilahan limbah padat anorganik untuk potensi daur ulang dan limbah padat orgnik untuk potensi pengomposan. Kegiatan pemilahan dilakukan sejak dari sumber penghasil limbah padat, kemudian di TPS 3R terjadi pemrosesan untuk limbah padat organik maupun anorganik tersebut.

Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan oleh penulis adalah kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan karena pada penelitian ini akan mengukur jumlah timbulan dan komposisi limbah padat yang dihasilkan pada setiap sumber penghasil limbah padat di gedung kantor. Sementara pendekatan kualitatif diperlukan untuk mengidentifikasi kondisi lapangan sebagai dasar pertimbangan perencanaan rekomendasi pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional. Data yang dikumpulkan melalui pendekatan kualitatif merupakan data yang berasal dari wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan, memo, dan dokumen resmi lainnya (Moleong, 2004).

Variabel terikat dari penelitian ini adalah potensi reduksi limbah padat jika rekomendasi pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional diterapkan. Variabel terikat ini akan dipengaruhi oleh variabel bebas yang dalam penelitian ini adalah timbulan dan komposisi limbah padat yang dihasilkan di tiap objek studi per hari dalam kurun waktu delapan hari pengukuran sampel.

(8)

Populasi yang akan diteliti adalah seluruh limbah padat yang dihasilkan di area Gedung Menara Prima selama 8 hari. Sedangkan sampel yang akan diteliti diambil secara stratified sample, di mana limbah padat dari populasi dibagi dalam kelompok yang homogen terlebih dahulu yaitu limbah padat dari gedung, kantin, area taman, jalan, dan area parkir/basement pada objek studi (Nazir, 1985). Kemudian anggota sampel ditarik secara simple random sampling dari setiap kelompok sumber penghasil limbah padat tersebut. Jumlah anggota sampel dihitung menggunakan rumus Slovin yang digunakan untuk menentukan ukuran sampel minimal (n) jika diketahui populasi (N) pada taraf signifikansi α dengan taraf signifikansi ideal untuk penelitian limbah padat sebesar 0,05.

(1)

Mengingat keterbatasan waktu penelitian hingga bulan Mei, maka pada penelitian ini digunakan taraf signifikansi sebesar 0,2. Sehingga anggota sampel minimal limbah padat diperoleh sebagai berikut.

Untuk area gedung dengan jumlah lantai sebanyak 27 lantai, yaitu:

Untuk area basement dengan jumlah lantai sebanyak 6 lantai, yaitu:

Untuk area kantin dengan jumlah kantin sebanyak 3 buah, yaitu:

Untuk area taman dan sapuan jalan dengan jumlah limbah padat yang dihasilkan dalam 1 hari maksimum sebanyak 2 sulo, yaitu:

Untuk mengukur timbulan dan komposisi yang dihasilkan dilakukan pengukuran terhadap sampel limbah padat berdasarkan SNI 19-3964-1994 mengenai Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan yang merupakan sumber data primer yang dilengkapi dengan wawancara tentang hal terkait. Sementara data sekunder diperoleh dari pihak pengelola gedung kantor objek studi.

Dari data primer dan sekunder yang telah diperoleh, selanjutnya dilakukan analisis mengenai perencanaan pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional yang meliputi pewadahan, pengumpulan, pengolahan, pemindahan, pengangkutan, dan pembuangan akhir. Dasar perencanaan tersebut dihubungkan dengan timbulan dan komposisi limbah padat serta kondisi eksisting objek studi.

(9)

Gambaran Umum Objek Studi

Gedung Menara Prima merupakan salah satu gedung perkantoran multi tenant bertingkat tinggi yang terletak di Pusat Kawasan Bisnis Jl. Lingkar Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Luas lahan peruntukkan Gedung Menara Prima adalah ± 7.397 m2 dengan total luas bangunan sebesar 61.549,8 m2. Jumlah lantai Gedung Menara Prima adalah 33 lantai, dengan tinggi bangunan 28 lantai yang terdiri dari 1 lantai sebagai lobby dan 27 lantai sisanya berfungsi untuk aktivitas perkantoran, ditambah 2 lantai parkir dan 3 lapis basement. Sistem pengelolaan limbah padat eksisting pada Gedung Menara Prima meliputi kegiatan pewadahan yang masih belum memisahkan limbah padat sesuai jenisnya; pengumpulan dilakukan sesuai dengan sumber penghasil limbah padatnya, yaitu area basement, kantin, taman dan sapuan jalan dikumpulkan dari masing-masing area dengan menggunakan sulo dan kemudian dibawa ke TPS; pemindahan dilakukan secara manual dan pengangkutan dilakukan oleh pihak ketiga yang telah bekerja sama dengan Gedung Menara Prima dengan frekuensi 2 hari sekali. Pengelolaan limbah padat di Gedung Menara Prima belum mengupayakan penerapan 3R, baik sistem pewadahan yang belum melakukan pemilahan dari sumber maupun TPS yang belum memiliki fasilitas pengolahan limbah padat.

Hasil Penelitian

Pengukuran timbulan dan komposisi limbah padat di Gedung Menara Prima dilakukan pada masing-masing sumber penghasil limbah padatnya, yaitu area basement, area gedung (aktivitas administrasi kantor), area kantin, dan area taman dan sapuan jalan. Hasil pengukuran timbulan limbah padat ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Timbulan limbah padat Gedung Menara Prima

Sumber Limbah Padat

Total Rata-rata Timbulan (kg/hari) Total Rata-rata Timbulan (L/hari) Laju Timbulan kg/m2/hari kg/orang /hari L/m 2 /hari L/orang/ hari Basement 45,90 353,6 0,008 - 0,062 - Gedung kantor 283,3 2697 - 0,074 - 0,700 Kantin 105,7 344,4 - 0,027 - 0,089

(10)

Secara keseluruhan dalam satu hari Gedung Menara Prima menghasilkan rata-rata 449,8 kg limbah padat dengan total rata-rata volume 3459 L atau 3,459 m3 dan berat jenis limbah padatnya adalah 0,15 kg/L atau 150 kg/m3.

Pengukuran terhadap komposisi limbah padat ditampilkan pada Gambar 3, 4, dan 5.

Gambar 3. Diagram komposisi limbah padat gedung kantor Menara Prima

Gambar 4. Diagram komposisi limbah padat area kantin Gedung Menara Prima

Gambar 5. Diagram komposisi limbah padat area taman dan sapuan jalan Gedung Menara Prima

32,9% 50,4% 9,25% 1,27% 0,58% 0,76% 0,18% 0,87% 3,79% Organik Kertas Plastik Kaca Logam Kayu Tekstil B3 Lain-lain 32,9% 67,1% Organik Anorganik 90,0% 4,55% 4,22% 0,33% 0,63% 0,06% 0,14% 0,00% 0,11% Organik Kertas Plastik Kaca Logam Kayu Tekstil B3 Lain-lain 90,0% 10,0% Organik Anorganik 79,0% 5,20% 4,01% 4,79% 0,20% 3,75% 0,51% 0,00% 2,58% Organik Kertas Plastik Kaca Logam Kayu Tekstil B3 Lain-lain 79,0% 21,0% Organik Anorganik

(11)

Pembahasan

Analisis Timbulan dan Komposisi Limbah Padat

Berdasarkan data yang telah diperoleh selama 8 hari pengukuran dari limbah padat yang dikumpulkan pada pengumpulan sore dan asumsi rata-rata timbulan limbah padat yang dihasilkan pada jam pengumpulan pagi, limbah padat yang bersumber dari basement mempunyai rata-rata berat timbulan sebesar 45,90 kg/hari dengan laju timbulan sebesar 0,008 kg/m2/hari, sedangkanrata-rata volume timbulannya adalah sebesar 353,6 L/hari dengan laju timbulan sebesar 0,062 L/m2/hari. Rata-rata berat timbulan limbah padat yang bersumber dari gedung kantor (aktivitas administrasi) adalah 283,3 kg/hari dengan laju timbulan sebesar 0,074 kg/pegawai/hari, sedangkan rata-rata volume timbulan limbah padatnya adalah sebesar 2697 L/hari dengan laju timbulan sebesar 0,700 L/pegawai/hari. Berdasarkan SNI 3243:2008, standar timbulan untuk gedung perkantoran adalah 0,5 – 0,75 L/orang/hari, sementara menurut Damanhuri & Padmi (2011) dalam Buku Ajar Teknologi Pengelolaan Sampah, standar timbulan gedung perkantoran adalah 0,025 – 0,100 kg/pegawai/hari atau 0,5 – 0,75 L/pegawai/hari. Berdasarkan standar tersebut timbulan limbah padat yang berasal dari aktivitas administrasi kantor pada Gedung Menara Prima masih memenuhi standar. Sementara itu rata-rata berat dan volume timbulan yang berasal dari area kantin tidak dipengaruhi oleh jam pengumpulan pagi, karena area kantin hanya dikumpulkan pada jam pengumpulan sore, sehingga rata-rata laju timbulan limbah padatnya sama yaitu 0,027 kg/orang/hari dan 0,089 L/orang/hari. Untuk limbah padat yang bersumber dari taman dan sapuan jalan, rata-rata berat timbulan limbah padatnya adalah 14,95 kg/hari dengan laju timbulan 0,011 kg/m2/hari dan rata-rata volume timbulan yang dihasilkan adalah 64,50 L/hari dengan laju timbulan 0,048 L/m2/hari (Tabel 3).

Dari Gambar 3, dapat dilihat bahwa komposisi limbah padat maksimum dari area gedung kantor berasal dari komponen kertas dengan persentase sebesar 50,4%, kemudian diikuti oleh limbah padat organik sebesar 32,9%, dan limbah padat plastik sebesar 9,25%. Untuk kategori limbah padat kertas, sumber penghasil terbanyak berasal dari limbah padat kertas jenis tissue bekas, kardus, dan kertas putihan atau HVS. Limbah padat organik berasal dari sisa makanan para karyawan. Hal ini disebabkan masih ada beberapa tenant perusahaan yang menerapkan sistem katering makanan, meskipun beberapa perusahaan lain tetap ada yang membeli makan pada area kantin. Pada limbah padat plastik, jenis penghasil terbanyak berasal dari plastik bening, plastik kresek, dan plastik kemasan (sachet). Dari Gambar 4, dapat dilihat bahwa area kantin menghasilkan tiga komponen utama limbah padat, yaitu organik sebesar 90,0%, kertas

(12)

sebesar 4,55%, dan plastik sebesar 4,22%. Limbah padat organik yang dihasilkan pada area kantin bersumber dari sisa makanan dan sisa bahan baku makanan. Untuk limbah padat kertas, jenis yang paling banyak dihasilkan adalah berupa dupleks, tissue, tetra pak, dan kardus. Sementara itu dari Gambar 5, dapat dilihat bahwa area taman dan sapuan jalan menghasilkan tiga komponen utama limbah padat, yaitu organik sebesar 79,0%, kertas sebesar 5,20%, dan kaca sebesar 4,79%. Limbah padat organik yang dihasilkan pada area taman dan sapuan jalan bersumber dari daun, sisa makanan dan tanah. Untuk limbah padat kertas, tiga jenis yang paling banyak dihasilkan adalah dupleks, kertas campuran, dan tetra pak. Sedangkan limbah padat kaca terdiri dari botol kaca dan potongan kaca/beling.

Perencanaan Aspek Teknis Operasional Pengelolaan Limbah Padat Gedung Menara Prima

Berdasarkan data timbulan dan komposisi, maka dapat dibuat suatu perencanaan terhadap aspek teknis operasional pengelolaan limbah padat di Gedung Menara Prima, yaitu pada sistem pemilahan dan pewadahan, pengumpulan, pengolahan, pemindahan, pengangkutan, dan pembuangan akhir. Perencanaan pada aspek teknis operasional ini didasarkan pada konsep 3R dengan pengelolaan secara terpadu dan diharapkan mampu mengurangi timbulan limbah padat yang diangkut yang kemudian dapat mengurangi beban timbulan di TPA Bantar Gebang.

Potensi reduksi limbah padat dapat diperoleh melalui penerapan pemilahan dan pewadahan dari sumber, dan penanganan lanjutan dilakukan di TPS 3R yang direncanakan. Dimana dalam TPS 3R ini dilakukan pengolahan limbah padat organik dengan proses pengomposan dan anorganik yang berpotensi didaur ulang dengan dijual ke lapak yang menerima limbah padat dari kawasan perkantoran. Melalui kegiatan pengomposan diperkirakan timbulan limbah padat organik akan berkurang sebesar 77,89 kg atau 50,0% per hari, sementara karena proses pemilahan limbah padat anorganik yang laku jual, diperkirakan limbah padat anorganik yang masuk ke TPS 3R akan berkurang sebesar 48,69 kg atau 91,0% per hari dengan asumsi 91,0% dari total limbah padat anorganik (kertas, plastik, kaca, logam) yang masuk TPS 3R merupakan limbah padat anorganik yang tergolong laku dijual di lapak yang menerima limbah padat dari kawasan perkantoran. Sehingga secara keseluruhan melalui sistem pemilahan dari sumber penghasil limbah padat dan penerapan TPS 3R yang direncanakan berpotensi mampu mengurangi timbulan limbah padat yang diangkut sebesar 28,6%. Secara keseluruhan rekomendasi perencanaan pengelolaan limbah padat Gedung Menara Prima pada aspek teknis operasional ditampilkan pada Tabel 4, 5, 6, 7.

(13)

Tabel 4. Rekomendasi sistem pemilahan, pewadahan, dan pengumpulan limbah padat Gedung Menara Prima

Aspek Teknis

Operasional Area Basement

Area Gedung (Aktivitas Administrasi Kantor)

Area Kantin Area Taman dan Sapuan Jalan Keterangan Ruang Kerja Lantai Gedung

Pemi lahan d an pe wadaha n li mba h pa d at Jenis Pewadahan limbah padat organik Wad ah ind ividual (d i ka ki meja karya wan) Pewadahan limbah padat organik Pewadahan limbah padat organik Pewadahan limbah padat organik Pewadahan limbah padat organik

Limbah Padat Organik

Pewadahan limbah padat anorganik Warna Wadah Kategori Limbah Padat Sisa makanan, dedaunan, ranting, rerumputan Pewadahan limbah padat anorganik Wad ah k omuna l (terse ntrali sai ) Pewadahan limbah padat organik Pewadahan limbah padat anorganik Pewadahan limbah padat anorganik Pewadahan limbah padat anorganik

Limbah Padat Anorganik Pewadahan limbah padat anorganik Warna Wadah Kategori Limbah Padat Kertas (HVS/putihan, koran, kardus, boncos, dupleks, campuran); Plastik (botol plastik, kresek, beningan, aqua gelas, emberan);

Kaca (botol kaca, potongan kaca); Logam (kaleng dan kaleng minuman) Pewadahan limbah

padat lain-lain

Pewadahan limbah

padat khusus B3 Pewadahan limbah padat lain-lain Pewadahan limbah padat lain-lain Pewadahan limbah padat lain-lain Pewadahan limbah padat lain-lain Kapasitas 40 L dan 120 L (sulo)

10 L (wadah di kaki meja karyawan dan wadah khusus B3 yang tersentralisasi); 40 L (wadah limbah padat organik, anorganik, lain-lain yang tersentralisasi); 120 L (sulo)

120 L (sulo) 120 L (sulo)

Frekuensi pengumpulan

2 kali sehari (pagi dan sore) untuk limbah padat organik; 1 kali sehari

(pengumpulan sore) untuk limbah padat anorganik, dll

2 kali sehari (pagi dan sore) 2 kali sehari (pagi dan sore)

1 kali sehari (pengumpula n sore)

2 kali sehari (pagi dan sore)

Limbah Padat Khusus B3 Warna Wadah Kategori Limbah Padat Bohlam lampu, catrigde tinta, CD, baterai

(14)

Tabel 4. (lanjutan)

Aspek Teknis

Operasional Area Basement

Area Gedung (Aktivitas Administrasi Kantor)

Area Kantin Area Taman dan Sapuan Jalan Keterangan Ruang Kerja Lantai Gedung

Pemi lahan d an pe wadaha n li mba h pa d at Sistem pengumpulan Limbah padat dikumpulkan dengan menggunakan sulo sesuai jenisnya, di mana tiap jenis sulo mengakumula-sikan limbah padat sesuai jenisnya per 3 lantai

basement

Limbah padat dikumpulkan dari tiap wadah di ruang kerja sesuai jenisnya, kemudian tiap jenis limbah padat diletakkan di sulo yang sesuai jenis limbah padatnya , kecuali untuk limbah padat khusus B3 diletakkan pada plastik khusus limbah padat B3 yang dibawa oleh cleaning service

Limbah padat yang terakumulasi di sulo di tiap lantai dikumpulkan dan dibawa turun menggunakan lift service menuju TPS dengan menggunakan kantong plastik, tiap kantong plastik yang berasal dari sulo harus diberi label sesuai jenis limbah padatnya Limbah padat dikumpulkan dari tiap wadah di setiap area kantin yaitu food gallery, coffee shop, dan Resatauran Euphoria dengan menggunaka n sulo sesuai jenisnya Limbah padat dikumpulkan sesuai jenisnya, kemudian dibawa ke TPS dengan mengguna-kan sulo sesuai jenisnya pula

Limbah Padat Lain-lain Warna Wadah Kategori Limbah Padat Kayu, tekstil, sterofoam, pembalut, tali rafia, dll Penanggung

jawab Cleaning service Office boy Cleaning service

Cleaning service

Cleaning service

(15)

Tabel 5. Rekomendasi sistem pengolahan limbah padat Gedung Menara Prima Aspek Teknis Operasional Proses Kegiatan Daerah dalam TPS 3R Tinggi Penyimpanan dalam TPS 3R (m)

Tinggi Alat yang Digunakan dalam TPS 3R (m) Waktu Penyimpanan dalam TPS 3R (hari) Kebutuhan Lahan dalam TPS 3R (m2) Ket. Peng olaha n L im ba h Pa dat Penerapan TPS 3R Timbulan limbah limbah padat diletakkan di daerah penerimaan dan penyimpanan limbah padat sesuai jenisnya yaitu organik, anorganik, khusus B3, dan residu Daerah penerimaan dan penyimpanan limbah padat organik Limbah padat organik I II Mesin kompos-ter I II Limbah padat organik I II Mesin komposter I II Lt. Dasar 9 9 Lt. Mezzanine 1,1 1 1,9 1,9 1 1 Mesin pencacah I II *I: desain usulan 1 *II: desain usulan 2 1 1 Limbah padat organik diproses menjadi kompos yang nantinya dapat dijual atau digunakan sendiri untuk taman Gedung Menara Prima Daerah penerimaan dan penyimpanan limbah padat anorganik Limbah padat anorga-nik I II Mesin pencacah I II Limbah padat anorga-nik I II Mesin pengayak I II 4 4 1,1 1,1 1,5 1,5 1 1 Penyimpa-nan kompos I II 0,5 0,5 Limbah padat anorganik bernilai ekonomis dijual ke lapak/agen/ pabrik daur ulang Daerah penyimpanan limbah padat anorganik laku jual Limbah padat anorga-nik laku jual I II Mesin pengayak I II Limbah padat anorga-nik laku jual I II Ruang gerak dan jalan I II 1 1 1,2 1,2 2 2 5,5 8,2

(16)

Tabel 5. (lanjutan) Aspek Teknis Operasional Proses Kegiatan Daerah dalam TPS 3R Tinggi Penyimpanan dalam TPS 3R (m)

Tinggi Alat yang Digunakan dalam TPS 3R (m) Waktu Penyimpanan dalam TPS 3R (hari)

Kebutuhan Lahan dalam TPS

3R (m2) Ket. Peng olaha n L im ba h Pa dat Penerapan TPS 3R Limbah padat B3 diserahkan ke pengelola khusus limbah padat B3 Daerah penerimaan dan penyimpanan limbah padat khusus B3 Limbah padat khusus B3 I II Limbah padat khusus B3 I II Penerimaan dan penyimpa-nan limbah padat organik I II Lt. Dasar 0,7 0,7 90 90 0,6 0,6 Lt. Mezzanine Limbah padat residu diangkut oleh petugas kebersihan Kawasan Perkantoran Mega Kuningan Daerah penerimaan dan penyimpanan limbah padat residu Limbah padat residu I II Limbah padat residu I II Penerimaan dan penyimpa-nan limbah padat anorganik I II *I: desain usulan 1 *II: desain usulan 2 1,5 2,5 2 2 0,7 0,7 Daerah pengomposan Kompos I II Kompos I II Penyimpa-nan limbah padat anorganik laku jual I II 1 1 12 12 1,5 1,5 Daerah mesin pencacah limbah padat organik Penerimaan dan penyimpa-nan limbah padat khusus B3 I II 0,5 0,5 Daerah mesin pengayak kompos Penerimaan dan penyimpanan limbah padat residu I II 3 1,8 Daerah penyimpanan kompos

Ruang gerak dan jalan

I II 2,4 1,5

(17)

Tabel 6. Rekomendasi sistem pemindahan dan pengangkutan limbah padat Gedung Menara Prima

Tabel 7. Rekomendasi sistem pembuangan akhir limbah padat Gedung Menara Prima Aspek Teknis

Operasional

Sistem yang Digunakan

Limbah Padat Residu Limbah Padat Anorganik Laku Jual

Penanggung Jawab Total Limbah Padat Residu (kg) Frekuensi Penanggung Jawab

Total Limbah Padat Anorganik yang Dijual (kg) Frekuensi Pemi ndaha n da n Peng angku tan Pemindahan Manual Petugas kebersihan Kawasan Perkantoran Mega Kuningan 642,1 2 hari sekali Pihak lapak yang menerima limbah padat dari kawasan kantor 97,38 2 hari sekali Pengangkutan Tidak langsung (ke TPS kawasan) Aspek Teknis Operasional Lokasi Pembuangan Sementara Lokasi Pembuangan Akhir Potensi Reduksi Limbah Padat (%)

Pembuangan Akhir TPS kawasan Mega

(18)

Kesimpulan

1. Total rata-rata berat timbulan limbah padat Gedung Menara Prima yang dihasilkan dalam satu hari adalah sebesar 449,8 kg dengan total rata-rata volume 3459 L atau 3,459 m3 dan berat jenis limbah padatnya adalah 0,15 kg/L atau 150 kg/m3.

2. Komposisi limbah padat Gedung Menara Prima yang dihasilkan dari setiap sumber limbah padatnya mempunyai 3 komponen utama yaitu area gedung (aktivitas administrasi kantor) terdiri dari 32,9% organik, 50,4% kertas, 9,25% plastik; area kantin terdiri dari 90,0% organik, 4,55% kertas, 4,22% plastik; area taman dan sapuan jalan terdiri dari 79,0% organik, 5,20% kertas, 4,79% kaca.

3. Rekomendasi pengelolaan limbah padat Gedung Menara Prima pada aspek teknis operasional meliputi:

Pemilahan dan pewadahan limbah padat di sumber

Jenis pewadahan limbah padat organik, anorganik, khusus B3, dan lain-lain untuk limbah padat yang bersumber dari area gedung (aktivitas administrasi kantor), dan pewadahan limbah padat organik, anorganik, dan lain-lain untuk limbah padat yang bersumber dari area basement, kantin, taman dan sapuan jalan.

 Pengumpulan limbah padat

Frekuensi pengumpulan dilakukan 2 kali sehari (pengumpulan pagi dan sore) untuk area gedung (aktivitas administrasi kantor), area taman dan sapuan jalan, serta khusus limbah padat organik dari area basement, sementara untuk pengumpulan limbah padat anorganik dan lain-lain dari area basement dan limbah padat dari area kantin dilaksanakan 1 kali sehari (pengumpulan sore). Pengumpulan dilakukan sesuai jenis limbah padatnya.

 Pengolahan limbah padat

Upaya pengolahan limbah padat yang direncanakan adalah melalui penerapan TPS 3R skala kantor.

 Pemindahan dan pengangkutan

Sistem pemindahan limbah padat dilakukan secara manual sementara pengangkutan dilakukan dengan sistem tidak langsung, dengan frekuensi pengangkutan sebanyak 2 hari sekali.

 Pembuangan Akhir

Pembuangan akhir menuju TPS kawasan Mega Kuningan terlebih dahulu kemudian menuju TPA Bantar Gebang.

(19)

4. Potensi pengurangan timbulan limbah padat di Gedung Menara Prima melalui penerapan rekomendasi pengelolaan limbah padat pada aspek teknis operasional adalah sebesar 28,6%.

Saran

1. Perlu dilakukan kajian lebih lanjut tentang aspek hukum, lembaga, biaya, dan peran serta penghuni Gedung Menara Prima terhadap perencanaan aspek teknis operasional untuk menilai keefektifan sistem yang akan diterapkan.

2. Perlu dilakukan kajian lebih lanjut tentang Rancangan Anggaran Biaya (RAB) yang diperlukan untuk menerapkan sistem pengelolaan limbah padat yang dimaksud, terutama analisis ekonomi untuk usulan desain TPS 3R yang diberikan.

3. Perlu dilakukan pengelolaan lebih lanjut terhadap 50% limbah padat organik yang diangkut bersama residu, karena mempertimbangkan lahan yang terbatas untuk mengolah pada skala kantor, maka 50% limbah padat organik sisanya diharapkan dapat diolah di tempat lain, sehingga tetap dapat mengurangi timbulan yang diangkut ke TPA Bantar Gebang.

Kepustakaan

Anggreni, M. W. (2012). Pengelolaan Limbah Padat sebagai Bagian Penerapan Konsep Green Building (Studi Kasus: Kantor Pusat PT. Pertamina, Jakarta). Skripsi, Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, Depok.

Badan Standardisasi Nasional. (1994). Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan. Jakarta: BSN.

Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta. (2012). Jakarta Dalam Angka 2012. Jakarta: BPS.

Damanhuri, E., & Padmi, T. (2011). Buku Ajar Teknologi Pengelolaan Sampah. Bandung: ITB.

Moleong, L. J. (2004). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

(20)

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Silalahi, J. O. (2003). Kajian Kelayakan Teknologi Pengolahan Sampah Terpadu Gedung Perkantoran. Tesis, Program Pasca Sarjana Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Depok.

Shochib, R. (2011). Komposisi Sampah Kantor (Studi Kasus Kawasan Kantor BPPT). Jurnal Pusat Teknologi Lingkungan-BBPT , 53-58.

Tchobanoglous, G., & Kreith, F. (2002). Hand Book of Solid Waste Management. New York: McGraw-Hill.

Tchobanoglous, G., Theisen, H., & Vigil, S. (1993). Integrated Solid Waste Management.New York: McGraw-Hill.

Gambar

Tabel 1. Komposisi rata-rata limbah padat gedung BPPT per hari (Januari dan Maret 2003)
Tabel 2. Komposisi limbah padat gedung Kantor Pusat PT. Pertamina (2012)
Gambar 2. Skema pengelolaan limbah padat di lingkungan perkantoran Kementrian Pekerjaan Umum
Tabel 3. Timbulan limbah padat Gedung Menara Prima
+5

Referensi

Dokumen terkait