• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Terminologi Judul

Judul dari proyek yang akan dirancang adalah "Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala

Namu", dimana proyek ini akan berfungsi sebagai sebuah lembaga pendidikan formal berupa

sekolah tinggi yang berperan dalam menunjang penguasaan bahasa asing. Di dalam judul

"Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu", terdapat beberapa pengertian utama yaitu:  Sekolah Tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan

akademik dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, seni atau jika

memenuhi persyaratan, sekolah tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan profesi

tertentu.

 Bahasa Asing adalah bahasa milik bangsa lain yang dikuasai, biasanya melalui pendidikan formal dan yang secara sosiokultural tidak dianggap sebagai bahasa

sendiri.

 Kuala Namu berasal dari dua kata yaitu "Kuala" berasal dari bahasa Melayu yang berarti muara sungai atau pertemuan sungai dengan laut, dan "Namu" atau "Namo"

berasal dari bahasa Karo yang berarti lubuk. Jadi, Kuala Namu ialah tempat

bertemu.

2.2. Tinjauan Umum

Tinjauan umum membahas tentang sistem pendidikan secara keseluruhan.

2.2.1. Klasifikasi Sekolah

Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, berfungsi untuk

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa

yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang

bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia

(2)

sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang

demokratis serta bertanggung jawab.

Jalur pendidikan terdiri atas (www.kemdiknas.go.id) :

1. Pendidikan formal, jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar,

pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

2. Pendidikan non formal, yang meliputi:

a) pendidikan kecakapan hidup,

b) pendidikan anak usia dini,

c) pendidikan kepemudaan,

d) pendidikan pemberdayaan perempuan,

e) pendidikan keaksaraan,

f) pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,

g) pendidikan kesetaraan, serta

h) pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan

peserta didik.

Satuan pendidikan nonformal terdiri atas:

a) lembaga kursus,

b) lembaga pelatihan,

c) kelompok belajar,

d) pusat kegiatan belajar masyarakat, dan

e) majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

3. Pendidikan informal

Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan

berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui

sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus

ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Di samping jalur pendidikan tersebut terdapat berbagai jenis pendidikan

lainnya, antara lain :

1. Pendidikan Anak Usia Dini

Mengacu Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang

Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah

suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan

(3)

pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan

jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki

pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan

formal berbentuk:

a) Taman Kanak-kanak (TK),

b) Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk:

a) Kelompok Bermain (KB),

b) Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

c) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk

pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh

lingkungan.

2. Pendidikan Kedinasan

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2010

tentang Pendidikan Kedinasan, pengertian pendidikan kedinasan adalah

pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh Kementerian, kementerian

lain, atau lembaga pemerintah nonkementerian yang berfungsi untuk

meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas

kedinasan bagi pegawai negeri dan calon pegawai negeri.

3. Pendidikan Keagamaan

Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau

kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan

perundang-undangan. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada

jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan keagamaan berbentuk:

a) Pendidikan Diniyah

b) Pesantren

c) Pasraman

d) Pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

4. Pendidikan Jarak Jauh

Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan

jenis pendidikan. Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan

pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti

(4)

diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang

didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang

menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

5. Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus

Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki

tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan

fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi

kecerdasan dan bakat istimewa. Pendidikan layanan khusus merupakan

pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang,

masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana

sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

2.2.2. Jenis Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan

tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa, sedangkan tenaga

pendidik perguruan tinggi disebut dosen. Di Indonesia, perguruan tinggi dapat

berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas.

Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik, profesi, dan

vokasi dengan program pendidikan diploma (D1, D2, D3, D4), sarjana (S1),

magister (S2), doktor (S3), dan spesialis. Perguruan tinggi dapat dibagi

menjadi beberapa bagian, yaitu:

1) Akademi

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 Pasal

16, akademi merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan

pendidikan terapan dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu

pengetahuan, teknologi, atau kesenian tertentu.

2) Politeknik

Politeknik atau sering disamakan dengan institut teknologi adalah

penamaan yang digunakan dalam berbagai institusi pendidikan yang

memberikan berbagai jenis gelar dan sering beroperasi pada tingkat yang

berbeda-beda dalam sistem pendidikan. Politeknik dapat merupakan

institusi pendidikan dan teknik lanjutan serta penelitian ilmiah ternama

dunia atau pendidikan vokasi profesional, yang memiliki spesialiasi dalam

(5)

yang berbeda jenis. Istilah tersebut juga dapat merujuk pada

sekolah pendidikan menengah yang berfokus pada pelatihan vokasional.

3) Sekolah Tinggi

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989

pasal 16 ayat 2 dan UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 20 ayat 1 tentang

Sistem Pendidikan Nasional, sekolah tinggi merupakan salah satu

bentuk perguruan tinggi selain akademi, politeknik, institut, dan universitas.

Penjelasan pasal 20 ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2003 menyebutkan,

"Sekolah tinggi menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau

pendidikan vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi,

dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan

pendidikan profesi".

4) Institut

Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan

akademik dan/atau vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan,

teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan

pendidikan profesi.

5) Universitas

Universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan

akademik dan/atau vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi,

dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan

pendidikan profesi.

Berbagai jenis lembaga pendidikan lainnya yang tergolong dalam perguruan

tinggi yang terdapat di Indonesia antara lain :

Pendidikan vokasi adalah pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu, yang mencakup program pendidikan

diploma 1, diploma 2, diploma 3, dan diploma 4, maksimal setara dengan

program pendidikan sarjana. Lulusan pendidikan vokasi akan mendapatkan

gelar vokasi. Di Indonesia, gelar vokasi diatur oleh senat perguruan tinggi

dan ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan

singkatannya. Gelar vokasi yang ada di Indonesia antara lain adalah Ahli

Pratama (A.P.) , Ahli Muda (A.Ma.) , Ahli Madya (A.Md.) , Sarjana Sains

(6)

Pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan

dengan persyaratan keahlian khusus. Lulusan pendidikan profesi akan

mendapatkan gelar profesi.

2.2.3. Struktur Organisasi

Dari hasil studi banding literatur dan survey yang diperoleh, struktur

organisasi dari Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu yang akan dibangun

nantinya adalah sebagai berikut :

Diagram 2.1 Struktur Organisasi Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu STRUKTUR ORGANISASI SEKOLAH TINGGI

BAHASA ASING KUALA NAMU

(7)

2.2.4. Kurikulum Sekolah Tinggi Bahasa Asing

Melalui hasil studi banding dan literatur, maka dihasilkan kurikulum untuk

Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu setiap jurusannya. Adapun mata kuliah

dan rencana studi program bahasa asing dibagi menjadi 4 jurusan, yaitu Sastra

Mandarin, Sastra Inggris, Sastra Jepang, dan Sastra Arab.

(8)

Gambar 2.1 Rencana Studi Sastra Mandarin

(9)
(10)

Gambar 2.2 Rencana Studi Sastra Inggris

3. Kurikulum Sastra Jepang

Semester I

1. Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Katolik Pendidikan Protestan

Pendidikan Buddha

Pendidikan Hindu

2. Pendidikan Bahasa Indonesia

3. Pendidikan Bahasa Inggris

4. Dasar-Dasar Ilmu Budaya

5. Bahasa Jepang I

6. Pemahaman I

7. Percakapan / Pendengaran I

8. Huruf Jepang I

Semester II

1. Teknologi Informasi

2. Komunikasi Dan Etiket

3. Bahasa Jepang II 4

4. Pemahaman II

5. Percakapan / Pendengaran II

(11)

7. Fonologi Bahasa Jepang

8. Pengantar Sejarah Jepang

Semester III

1. Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan

2. Filsafat Ilmu Pengetahuan

3. Sejarah Pemikiran Timur Dan Barat

4. Bahasa Jepang III

5. Percakapan / Pendengaran III

6. Huruf Jepang III

7. Pengantar Linguistik Umum

8. Pengantar Ilmu Sastra

9. Sejarah Jepang Modern

Semester IV

1. Pengantar Metode Penelitian

2. Masy. dan Kebudayaan Indonesia

3. Bahasa Jepang IV

4. Percakapan / Pendengaran IV

5. Huruf Jepang IV

6. Morfologi Bahasa Jepang

7. Sintaksis Bahasa Jepang

8. Telaah Pranata Masyarakat Jepang I

9. Telaah Prosa Jepang

Semester V

1. Bahasa Indonesia Akademik

2. Bahasa Inggris Akademik

3. Bahasa Jepang V

4. Percakapan / Pendengaran V

5. Huruf Jepang V

6. Telaah Pranata Masyarakat Jepang II

7. Semantik Bahasa Jepang

8. Telaah Puisi Jepang

9. Sosiolinguistik Jepang

10. Bahasa Mandarin

(12)

1. Kewirausahaan

2. Seni Budaya dan Pariwisata

3. Bahasa Jepang VI

4. Percakapan/Pendengaran VI

5. Huruf Jepang VI

6. Telaah Pranata Masyarakat Jepang III

7. Telaah Drama Jepang

8. Kritik Sastra Jepang

9. Ekspresi/Ungkapan

Semester VII

1. * Metode Penelitian Sastra

2. * Metode Penelitian Bahasa

3. Terjemahan I

4. Kemahiran Bahasa Jepang I

5. Telaah Wacana

6. * Seminar Linguistik

7. * Seminar Sastra

8. * Seminar Pranata Masyarakat Jepang

9. Mengarang

10. Korespondensi Bahasa Jepang

11. Statistik

Semester VIII

1. Terjemahan II

2. Kemahiran Bahasa Jepang II

3. Seminar Proposal Skripsi

4. Skripsi

4. Kurikulum Sastra Arab

Semester I

1. Pendidikan Agama

2. Dasar-Dasar Ilmu Budaya

3. Bahasa Inggris

(13)

5. Tasrif

6. Al-Hikam wa al-Amsal

7. Percakapan Arab I

8. Telaah Teks Arab I

Semester II

1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2. Percakapan Arab II

3. Telaah Teks Arab II

4. Morfologi Arab I

5. Sintaksis Arab I

6. Kebudayaan Arab

1. Seni dan Budaya Indonesia

2. Bahasa Indonesia

3. Percakapan Arab III

4. Telaah Teks Arab III

5. Morfologi Arab II

6. Sintaksis Arab II

7. Komposisi Arab I

8. Balaghah I

9. Sastra Anak

10. Bahasa Ibrani

11. Bahasa Turki I

12. Bahasa Arab (Non Sastra Arab)

Semester IV

1. Percakapan Arab IV

2. Telaah Teks Arab IV

3. Komposisi Arab II

(14)

5. Balaghah II

6. Linguistik Arab

7. Menulis Kreatif

8. Semantik Arab

9. Aliran Pemikiran Arab

10.Sastra Islam

11.Bahasa Arab Amiyah

12.Bahasa Turki II

Semester V

1. Komposisi Arab III

2. Terjemah II

3. Muhadarah

4. Kajian Linguistik Arab

5. Komunikasi Massa

6. Kesusastraan Arab

7. Sosiolinguistik Arab

8. Leksikologi dan Leksikografi Arab

9. Pengantar Ekonomi Islam

10.Pemanduan Wisata

Semester VI

1. Pembelajaran Mandiri

2. Kajian Sastra Arab

3. Kajian Budaya Arab

4. Pengantar Hubungan Internasional

5. Sastra Arab Terjemahan

6. Arûdh dan Qawâfy

7. Metode Pengajaran Bahasa

8. Kewirausahaan

Semester VII

1. Kuliah Kerja Nyata

2. Bahasa Inggris Lanjut

3. Seminar Proposal

Semester VIII

(15)

2.3. Lokasi

Pada sub bab ini akan dibahas mengenai lokasi proyek, yang terdiri dari kriteria

pemilihan lokasi proyek dan deskripsi lokasi sebagai tapak rancangan.

2.3.1. Kriteria Pemilihan Lokasi

Kriteria pemilihan lokasi berdasarkan persyaratan lokasi yang dapat dijadikan

sebagai acuan atau tolak ukur standar sebagai pertimbangan dalam pemilihan

lokasi Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu, yaitu:

Tabel 2.1 Kriteria Pemilihan Lokasi

No. Kriteria Lokasi

1. Posisi Site Berada di kawasan bandara sebagai penunjang

fungsi bangunan dan tidak berada di kawasan konservasi.

2. Tinjauan terhadap Struktur Kota Berada di kawasan strategis yang memang

diperuntukkan untuk zona pendidikan atau fasilitas

umum.

3. Lingkungan Berada di lingkungan dengan kepadatan rendah

dan strategis serta memiliki fungsi eksisting yang

mampu mendukung bangunan.

4. Wilayah Pengembangan Berada di wilayah yang termasuk dalam wilayah

pengembangan MEBIDANGBRO.

5. Pencapaian Dapat diakses baik dengan bus, kendaraa umum,

maupun kendaraan pribadi.

6. Status Kepemilikan Merupakan lahan hijau atau perkebunan warga

sekitar.

7. Kontur Tapak / Topografi Keadaan lahan eksisting relatif landai.

8. Jaringan Jalan Berada di jalan yang mudah diakses.

9. Peraturan Bangunan (GSB,

KLB, KDB, dsb. )

Disesuaikan dengan RDTR Kecamatan yang

(16)

2.3.2. Deksripsi kondisi existing lokasi sebagai tapak rancangan

Gambar 2.3 Peta Lokasi Sumber : google earth

Adapun deskripsi lokasi tapak rancangan Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu

adalah:

Tabel 2.2 Deskripsi Lokasi Tapak Rancangan

Nama Proyek Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu

Status Fiktif

Pemilik Pemerintah

Lokasi Jalan Gambir Ujung, Kecamatan Batang Kuis, Deli Serdang

Luas 1,5 Ha

(17)

Timur Rumah penduduk

Barat Lahan kosong

Selatan Lahan kosong

Peraturan KDB Maksimal 60 %

GSB 5,5 meter

KKOP (Kawasan

Keselamatan Operasi

Penerbangan)

Berada di Ring III, yaitu ketinggian

maksimum bangunan adalah 145 meter.

Gambar 2.4 Rencana Ketinggian Bangunan

Kawasan Bandara dan Sekitarnya

Bangunan eksisting Lahan kosong

Potensi Site A. Terletak dekat dengan kawasan bandara

B. Berada pada kawasan pengembangan

C. Transportasi lancar, baik dan bebas kemacetan

D. Luas site sesuai syarat

E. Site berada di area lahan kosong

F. Berada di lingkungan yang tenang

2.4. Tinjauan Fungsi

2.4.1. Deskripsi penggunaan dan kegiatan

1. Pengguna dari bangunan "Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu" dapat

digolongkan atas beberapa golongan yaitu:  Mahasiswa

Yang dimaksud dengan mahasiswa yaitu semua yang belajar, terdaftar,

mengambil dan mengikuti mata kuliah bahasa asing dan segala kegiatan yang

berkaitan dengan bahasa asing yang terdapat di Sekolah Tinggi Bahasa Asing

(18)

 Dosen / Staf Pengajar

Yang dimaksud dengan dosen atau staf pengajar adalah orang yang

mempunyai tugas dan wewenang untuk membimbing ataupun mengajarkan

materi kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah yang terdapat di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala Namu.

 Ketua Sekolah Tinggi

Yang dimaksud dengan ketua sekolah tinggi adalah orang yang memimpin

penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,

membina tenaga kependidikan, mahasiswa, tenaga administrasi, serta

hubungannya dengan lingkungan, serta membina dan melaksanakan kerjasama

dengan instansi, badan swasta dan masyarakat untuk memecahkan persoalan

yang timbul, terutama menyangkut bidang tanggung jawabnya.  Pembantu Ketua Sekolah Tinggi

Yang dimaksud dengan pembantu ketua sekolah tinggi adalah unsur pimpinan

yang membidangi bagian yang menjadi tanggung jawabnya seperti akademik

(pendidikan dan pengajaran), kemahasiswaan, keuangan, administrasi umum,

pembinaan serta layanan kesejahteraan mahasiswa dan bertanggung jawab

langsung kepada ketua, serta apabila ketua berhalangan bertugas sebagai yang

mewakili.  Ketua Jurusan

Yang dimaksud dengan ketua jurusan adalah unsur pimpinan yang

menjalankan kebijakan akademik dan standar mutu pendidikan yang

ditetapkan sekolah tinggi, menyusun rencana kegiatan atau program kerja

jurusan, mengkoordinasikan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian

pada masyarakat di Jurusan, melaksanakan pengembangan jurusan di bidang

pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, mengembangkan

hubungan baik dan kerjasama dengan pemangku kepentingan(stakeholder),

melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan proses belajar mengajar di

tingkat jurusan, menyampaikan laporan kegiatan secara berkala.  Sekretaris Jurusan

Yang dimaksud dengan sekretaris jurusan adalah unsur pimpinan yang

membantu tugas Ketua Jurusan seperti melaksanakan kegiatan administratif

(19)

pengembangan kurikulum pendidikan jurusan, mengkoordinasikan kegiatan

proses belajar mengajar bersama dengan Kelompok Dosen Keahlian.

menyusun jadwal perkuliahan di tingkat jurusan, mengkoordinasikan kegiatan

laboratorium di lingkungan jurusan, mengkoordinasikan kegiatan Praktek

Kerja Lapangan dan atau Kuliah Kerja Nyata mahasiswa, menyusun basis data

akademik kemahasiswaan di Jurusan, menyusun basis data kegiatan

pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat di Jurusan.  Kepala Bagian

Yang dimaksud dengan kepala bagian adalah orang yang memiliki fungsi dan

tanggung jawab di bidang tertentu pada jurusan untuk melakukan perencanaan,

pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan pembinaan terhadap mahasiswa

maupun SDM yang menjadi bawahannya.  Staf / Karyawan

Yang dimaksud dengan staf atau karyawan adalah orang yang bekerja pada

suatu lembaga dimana dalam hal ini berkaitan dengan sekolah tinggi dan

bertanggung jawab akan bidang yang menjadi program kerjanya.

2. Dapat ditinjau juga melalui kelompok kegiatan seperti:

2.1.Kelompok Kegiatan Utama

2.1.1.Kegiatan Belajar-Mengajar

Di dalam kegiatan belajar - mengajar terdapat 3 kegiatan umum

yaitu kegiatan pembelajaran dan kegiatan diskusi.  Kegiatan Pembelajaran

Yang dimaksud dengan kegiatan pembelajaran adalah kegiatan

dimana para mahasiswa akan diajarkan / diberikan pengetahuan

tentang materi pembelajaran oleh dosen atau staf pengajar

dimana kegiatan ini umumnya selalu dilakukan di dalam sebuah

ruangan kelas, yang di dalamnya sudah difasilitasi dengan sarana

dan prasarana seperti meja, kursi dan papan tulis.  Kegiatan Diskusi

Kegiatan diskusi di dalam sebuah sekolah tinggi melibatkan

peran antara para dosen (staf pengajar) dengan para mahasiswa.

Dalam pengertiannya dimana persepsi fungsi dan pelaksanaanya

(20)

memiliki perbedaan dalam teknik pemahaman materi dan waktu

pelaksanaan kegiatannya; sebagaimana pengertian dari kegiatan

diskusi memiliki arti yang berbeda jika ditinjau oleh pihak yang

berbeda.

2.1.2.Kegiatan Bimbingan

Di dalam kegiatan bimbingan terdapat beberapa kegiatan umum

yaitu kegiatan konselling dan kegiatan seminar.  Kegiatan Konseling

Yang dimaksud dengan kegiatan konselling yaitu kegiatan

dimana para dosen atau staf pengajar akan melakukan konsultasi

dengan bertatap muka secara langsung dengan para mahasiswa

untuk memberikan motivasi dan membahas tentang potensi /

bakat yang terdapat di dalam dirinya sehingga diharapkan dengan

adanya kegiatan seperti ini potensi dan bakat dari mahasiswa

dapat lebih diarahkan dan dikembangkan  Kegiatan Seminar

Yang dimaksud dengan kegiatan seminar adalah kegiatan dimana

sekolah tinggi akan mendatangkan beberapa ahli motivasi

ataupun alumni yang telah sukses untuk datang memberikan

testimoni ataupun motivasi kepada para mahasiswa. Kegiatan

seminar dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa menjadi

semakin percaya diri dan termotivasi untuk maju.

2.2.Kelompok Kegiatan Penunjang

Di dalam kelompok kegiatan penunjang terdapat kelompok kegiatan

rekreasi. Yang dimaksud dengan kegiatan rekreasi adalah kegiatan dimana

para pengguna bangunan akan merasakan bahwa kegiatan ini dapat

memberikan rasa santai dan rileks bagi pelakunya namun secara tidak

langsung juga telah memberikan pengetahuan kepada penggunanya.

Kegiatan rekreasi yang dimaksud pada bangunan bimbingan belajar akan

diisi oleh ruang komputer (multimedia) dan kantin.

2.3.Kelompok Kegiatan Pengelolaan

(21)

 Kegiatan penyusunan materi kuliah 2.4.Kelompok Kegiatan Teknis

Kegiatan yang termasuk di dalam kelompok ini meliputi kegiatan :  Yang berhubungan dengan maintenance (perawatan)

 Yang berhubungan dengan kegiatan mekanikal dan elektrikal 2.5.Kelompok Kegiatan Pelayanan

Kegiatan yang termasuk di dalam kelompok ini meliputi :

 Parkir dan sirkulasi kendaraan baik pengunjung, mahasiswa maupun kendaraan dosen atau staf pengajar ataupun pihak pengelola

 Sirkulasi dan kegiatan loading / unloading barang

2.4.2. Deskripsi perilaku Pola kegiatan utama

-Mahasiswa

Diagram 2.2 Alur Perilaku Mahasiswa

-Dosen / Instruktur

Diagram 2.3 Alur Perilaku Dosen

DATANG ISTIRAHAT

KULIAH

KELOMPOK KEGIATAN PRAKTIK

PULANG ASRAMA IBADAH

OLAHRAGA PARKIR

DATANG

PARKIR

MASUK

MENGAJAR

KELOMPOK KEGIATAN

(22)

-Pengelola

Diagram 2.4 Alur Perilaku Pengelola

-Pengunjung

Diagram 2.5 Alur Perilaku Pengunjung

2.4.3. Deskripsi kebutuhan ruang dan besaran ruang

Deskripsi kebutuhan ruang Sekolah Tinggi Bahasa Asing

Tabel 2.3 Deskripsi Kebutuhan Ruang

Pengguna Kegiatan Kebutuhan Ruang Karakter Ruang Mahasiswa Belajar formal Ruang kelas - Privat

- Dengan pencahayaan

penghawaan dan sistem akustik

yang harus diperhatikan

- Dipakai setiap hari belajar

- Sirkulasi dalam ruang harus

diperhatikan

- Fleksibel terhadap beberapa

kegiatan

Berdiskusi Ruang kelas - Privat

- Ruangan harus fleksibel DATANG

PARKIR

MASUK BEKERJA

RAPAT

ISTIRAHAT PULANG

DATANG

PARKIR

(23)

Ruang diskusi terhadap beberapa konfigurasi

penyusunan kursi

Melakukan

praktek

Laboratorium - Privat

- Dengan kebutuhan

pencahayaan dan penghawaan

yang baik

Berolahraga Lapangan olahraga - Semi publik

- Harus fleksibel dengan

beberapa kegiatan yang bisa

ditampung selain kegiatan

olahraga

- Pencahayaan dan penghawaan

harus diperhatikan

Mencari bahan

pelajaran

Perpustakaan - Semi publik

- Sistem pencahayaan,

penghawaan, dan akustik harus

diperhatikan

- Sirkulasi harus diperhatikan

- Jarak antara rak buku

Menyimpan

barang

Loker - Privat

- Dengan sirkulasi yang baik

- Kebutuhan semua mahasiswa

harus terpenuhi

Kegiatan

ekstrakulikuler

Ruang ekstrakulikuler - Semi publik

- Ruangan fleksibel sesuai

- Pencahayaan dan penghawaan

harus diperhatikan

(24)

Guru/Dosen Memarkirkan

kendaraan

Parkir - Publik

Mengajar Ruang kelas - Privat

- Dengan pencahayaan

penghawaan dan sistem akustik

yang harus diperhatikan

- Dipakai setiap hari belajar

- Sirkulasi dalam ruang harus

diperhatikan

- Fleksibel terhadap beberapa

kegiatan

Berdiskusi

dengan

mahasiswa

Ruang worshop - Privat

- Ruangan harus fleksibel

terhadap beberapa konfigurasi

penyusunan kursi Ruang kelas

Membimbing

praktek

Laboratorium - Privat

- Dengan kebutuhan

pencahayaan dan penghawaan

yang baik

- Pencahayaan dan penghawaan

harus diperhatikan

- Harus memenuhi jumlah dosen

yang ada

Mencari bahan

pelajaran

Perpustakaan - Semi publik

- Sistem pencahayaan,

penghawaan, dan akustik harus

diperhatikan

(25)

- Jarak antara rak buku

Membimbing

kegiatan

ekstrakulikuler

Ruang ekstrakulikuler - Semi publik

- Ruangan fleksibel sesuai

Menerima tamu Ruang tamu - Publik

Rapat Ruang rapat - Semi publik

- Pencahayaan dan penghawaan

harus diperhatikan

Menerima tamu Ruang tamu - Publik

Rapat Ruang rapat - Semi publik

- Pencahayaan dan penghawaan

(26)

Jurusan Mengawasi

pelaksanaan

kurikulum

Kantor pengawas - Privat

Memelihara

Mengatur IT Kantor operasional IT - Semi publik

Rapat Ruang rapat - Semi publik

- Pencahayaan dan penghawaan

harus diperhatikan

Area asisten - Semi publik

Menjaga

Ruang security - Semi publik

Menjaga

lingkungan

Hunian penjaga

sekolah

- Semi publik

(27)

sekolah

- Pencahayaan dan penghawaan

harus diperhatikan Kantin

Buang air WC - Privat

Deskripsi besaran ruang Sekolah Tinggi Bahasa Asing

 Area Penerimaan

Tabel 2.4 Besaran Ruang Area Penerimaan

No. Jenis Ruang Kebutuhan

Ruang Standar (m

 Area Pendidikan dan Pelatihan

Tabel 2.5 Besaran Ruang Area Pendidikan dan Pelatihan

No. Jenis Ruang Kebutuhan

(28)

4.

Tabel 2.6 Besaran Ruang Area Pengelola

No. Jenis Ruang Kebutuhan

Ruang Standar (m

(29)

10.

 Area Multifunction Hall

Tabel 2.7 Besaran Ruang Area Multifunction Hall

No. Jenis Ruang Kebutuhan

(30)

 Area Perpustakaan

Tabel 2.8 Besaran Ruang Area Perpustakaan

No. Jenis Ruang Kebutuhan

Ruang Standar (m

Tabel 2.9 Besaran Ruang Area Servis

(31)

5. Ruang Security 9 m2 AS

 Fasilitas Penunjang

Tabel 2.10 Besaran Ruang Area Fasilitas Penunjang

No. Jenis Ruang Kebutuhan

(32)

Wastafel 0.54m2/WC

Urinoir 2 m2/WC

2. Musholla

R. Doa 40 AS

R. Wudhu L 10 AS

W 10 AS

3. Lapangan Basket (14 x 26) m2 NAD 4. Lapangan Bulu

Tangkis

(6 x 13,3) m2

NAD

5. Parkir

Sepeda Motor 1 m2 NAD

Mobil 12,5 m2 NAD

Bus 60 m2 NAD

Keterangan :

NAD : Neufert Architect's Data

TSS : Time Savers Standarts

BPDS : Building Planning and Design Standart

SR : Studi Ruang

AS : Asumsi

2.4.4. Deskripsi persyaratan dan kriteria ruang

Beberapa persyaratan dan kriteria ruang dalam kaitannya dengan kebutuhan

ruang ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 2.11 Deskripsi Persyaratan dan Kebutuhan Ruang

No. Nama Ruang Kriteria Ruang

Cahaya Bersih Tenang Sejuk Strategis View Akustik

1. Ruang Penerimaan v v v v v

2. Ruang Kelas I, II,

III

(33)

3. Ruang Kaligrafi v v v v v v

11. Ruang Sekretaris

(34)

25. Ruang Cleaning

Service

v v v

26. Ruang Janitor v v v v v

27. Gudang v v v

28. Asrama v v v v v

29. Kafetaria v v v v v

30. Toilet v v v

31. Musholla / Area

Sembahyang

v v v v

2.4.5. Studi banding arsitektur yang mempunyai fungsi sejenis

a. Jiangbei Foreign Language School / DC ALLIANCE

Gambar 2.5 Jiangbei Foreign Language School

Sumber : archdaily.com

Berbeda dengan tampilan lama semua fungsi bangunan yang

diperuntukkan untuk sekolah, pada proyek ini arsitek mencoba menyusun

dasar tampilan bangunan secara vertikal dengan memperhatikan sistem

pengkondisian udara yang tidak terdapat pada sekolah umum di China. Desain ini menghadirkan ruang baru dan menciptakan keadaan yang kompleks dalam

kampus. Desain juga menerapkan konsep "Sandwich" dimana terdapat tiga

(35)

Data Teknis :

Arsitek : DC ALLIANCE

Lokasi : Ningbo, Provinsi Zhejiang, China

Tim Desain : Cui Zhe, Dong Yi,Cheng Jiujun,Shi Linlin

Klien : Jiangbei District Public Construction Center

Luas : 42000.0 m2

Tahun Proyek : 2013

Fotografer : Lyu Hengzhong

Gambar 2.6 Potret dan Denah Jiangbei Foreign Language School

(36)

b. Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia

Gambar 2.7 Sekolah Tinggi Bahasa Asing Persahabatan Internasional Asia

Sekolah Tinggi Bahasa Asing - Persahabatan Internasional Asia adalah sebuah

Sekolah Tinggi di Medan, Indonesia. Sekolah ini, yang namanya sering disingkat

sebagai STBA-PIA atau STBA PIA didirikan pada 20 Agustus 2008 oleh

Perhimpunan Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara - Peduli Sosial dan

Pendidikan (MITSU-PSP) dan dikelola oleh Yayasan Pendidikan Nasional

Sumatera Utara (YPNSU). STBA-PIA memiliki kampus hijau yang terletak di

Jalan K.L. Yos Sudarso Lorong 12 Lingkungan XI Glugur Kota, Medan. Sekolah

Tinggi Bahasa Asing - Persahabatan Internasional Asia bertempat di daerah

keramaian kota, Glugur Medan, berdekatan dengan kantor PLN.

Gambar 2.8 Gambar 2.9 Gambar 2.10

R. Serbaguna Inner Court R. Lab. Komputer

Gambar 2.11 Gambar 2.12 Gambar 2.13

(37)

Gambar 2.14 Gambar 2.15 Gambar 2.16

R. Staff Asrama Kantin

Perhimpunan Masyarakat Indonesia Tionghoa Sumatera Utara - Peduli

Sosial dan Pendidikan (MITSU-PSP) telah membeli tanah dan gedung bekas

pabrik permen Union, luas tanah tersebut 8000m², dan bisa dibangun seluas

5000m² bangunannya. Setelah mendapat rekomendasi dari ahli, maka bentuk

bangunan bentuk L diubah menjadi bangunan sekolah, aula dan kantor, dan

ditambah dengan bangunan sekolah yang baru, bangunan baru dan lama

berjumlah 3 tingkat, total luas bangunan menjadi 9489m². Keseluruhan bangunan

antara lain:

 Ruangan kelas : 50 ruangan  Perpustakaan : 1 ruangan  Laboratorium : 3 ruangan  Ruangan komputer : 3 ruangan  Ruangan audio : 1 ruangan

 Ruangan belajar jarak jauh : 1 ruangan  Kantor guru : 3 ruangan

 Ruangan tata usaha : 8 ruangan  Ruang rapat : 1 ruangan

 Ruang kontrol : 1 ruangan  Aula : 1 ruangan

 Klinik : 1 ruangan  Toilet : 16 ruangan  Dapur : 2 ruangan  Kantin : 2 ruangan

 Ruangan pengaturan listrik dan air: 1 ruangan  Lapangan basket

(38)

2.5. Elaborasi Tema 2.5.1. Pengertian

Telah disadari bersama bahwa masalah energi telah menjadi isu yang paling banyak mengundang perhatian dunia. Respon keprihatinan dan bukti kepedulian

terhadap energi yang kian mengkhawatirkan tidak hanya melilit negara-negara maju,

tetapi juga melanda negara yang sedang berkembang. Salah satu bentuk konsep desain

arsitektur yang memperhatikan masalah energy dan berwawasan lingkungan adalah

Eko-arsitektur. Menurut Heinz Frick (1998), Eko diambil dari kata ekologi yang

didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk

hidup dan lingkungannya. Ekologi Arsitektur adalah :

 Holistis, berhubungan dengan sistem keseluruhan, sebagai suatu kesatuan yang lebih penting dari pada sekadar kumpulan bagian

 Memanfaatkan pengalaman manusia, (tradisi dalam pembangunan) dan pengalaman lingkungan alam terhadap manusia

 Pembangunan sebagai proses, dan bukan sebagai kenyataan tertentu yang statis

 Kerja sama, antara manusia dengan alam sekitarnya demi keselamatan kedua belah pihak

Gambar 2.17 Konsep Eko-arsitektur yang holistik (sistem keseluruhan)

Sumber : Frick, 1998

‘Pembangunan sebagai kebutuhan hidup manusia dalam hubungan timbal

balik dengan lingkungan alamnya dinamakan arsitektur ekologis atau eko-arsitektur’.

Pelaksanaan dan perencanaan eko-arsitektur tidak dapat disamakan dengan

(39)

eko-arsitektur harus dimengerti sebagai proses dengan titik permulaan terletak lebih

awal.

Konsep penekanan desain eko-arsitektur ini juga didasari dengan maraknya

issue global warming. Diharapkan dengan konsep perancangan yang berdasar pada

keseimbangan alam ini, dapat mengurangi pemanasan global sehingga suhu bumi

tetap terjaga. Satu penyumbang terbesar bagi pemanasan global dan bentuk lain dari

perusakan lingkungan adalah industri konstruksi bangunan. Sebuah wacana tentang

perlawanan terhadap Global warming pun segegra menjadi sorotan dunia saat ini,

tidak terkecuali negara Indonesia yang tercatat memiliki nilai respon tertinggi 12,6%

dari 9 negara lainnya (China, Australia dan Negara Asia Tenggara) dalam green

building survey awal tahun lalu. Meskipun demikian, Indonesia menempati posisi

ke-8 dengan nilai Green Building Involvementnya yang hanya bernilai 38% (konferensi

BCI Asia FuturArc Forum 2008). Itu berarti bahwa penerapan konsep desain yang

berwawasan lingkungan di Indonesia masih sangat perlu ditingkatkan.

Pola perencanaan eko-arsitektur suatu bangunan selalu memanfaatkan

peredaran alam sebagai berikut :

 Menciptakan kawasan penghijauan diantara kawasan pembangunan sebagai paru-paru hijau.

 Menggunakan bahan bangunan alamiah, dan intensitas energi yang terkandung dalam bahan bangunan maupun yang digunakan pada saat pembangunan harus

seminimal mungkin.

 Bangunan sebaiknya diarahkan menurut orientasi timur-barat dengan bagian utara/selatan menerima cahaya alam tanpa kesilauan.

 Kulit (dinding dan atap) sebuah bangunan sesuai dengan tugasnya, harus melindungi dirinya dari panas, angin dan hujan. Dinding bangunan harus

memberi perlindungan terhadap panas, daya serap panas dan tebalnya dinding

harus sesuai dengan kebutuhan iklim ruang dalamnya. Bangunan yang

memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa menghemat banyak

energi.

(40)

 Menjamin kesinambungan pada struktur sebagai hubungan antara masa pakai bahan bangunan dan struktur bangunan

 Memperhatikan bentuk/proporsi ruang berdasarkan aturan harmonikal.

 Menjamin bahwa bangunan yang direncanakan tidak menimbulkan masalah lingkungan dan membutuhkan energi sedikit mungkin.

 Menciptakan bangunan bebas hambatan sehingga gedung dapat dimanfaatkan oleh semua penghuni (termasuk anak-anak, orang tua maupun orang cacat

tubuh).

Pola perencanaan eko-arsitektur juga melingkupi perencanaan struktur dan

konstruksi bangunan, yang harus dapat memenuhi persoalan teknik dan persoalan

estetika, termasuk pembentukan ruang. Kualitas struktur didefenisikan sebagai :

 Struktur Fungsional, menentukan dimensi goemetris yang berhubungan dengan penggunaan atau fungsi (kebutuhan ruang, ruang gerak, ruang sirkulasi

dan sebagainya), dimensi pengaturan ruang. Dimensi fisiologis tentang

kenyamanan, penyinaran, dan penyegaran udara. Dimensi teknis dengan beban

lantai, instalasi listrik dan sebagainya.

 Struktur Lingkungan, meliputi lingkungan alam (iklim, topografi, geologi, hidrologi, serta radiasi teritis dan kosmis) serta lingkungan buatan (bangunan,

sirkulasi, prasarana teknis dan radiasi buatan). Konteks sosial dan psikologis,

sejarah, kesedian bahan baku, ekonomi dan waktu yang tersedia.

 Struktur Bangunan, meliputi bahan bangunan, sistem penggunannya dan teknik serta konstruksi bangunan yang harus memenuhi tuntutan ekologis.  Struktur Bentuk, mengandung massa dan isi, ruang antara dan segala kegiatan

mengatur ruang. Bentuk ruang tersebut dapat didefenisikan oleh dinding

pembatas, tiang, lantai, dan sebaginya serta bukaan dinding.

Suatu eko-arsitektur akan tercipta apabila dalam proses berarsitektur

menggunkan pendekatan-pendekatan desain yang ekologis (menggunakan alam

sebagai basis desain). Proses pendekatan desain arsitektur yang berbasis ekologis

dikenal dengan eko-desain (ecological design). Ecological design bermaksud

menggabungkan alam dengan teknologi, menggunakan alam sebagai basis design,

(41)

dan skala untuk menghasilkan suatu bentuk bangunan, lansekap, permukiman dan

kota yang revolusioner dengan menerapkan teknologi dalam perancangannya.

Salah satu aspek penting dalam disain arsitektur yang semakin hari semakin

dirasakan penting adalah penataan energi dalam bangunan. Krisis sumber energi tak

terbaharui mendorong arsitek untuk semakin peduli akan energi dengan cara beralih

ke sumber energi terbaharui dalam merancang bangunan yang hemat energi.

Di banyak negara, konsep ekologi arsitektur terbukti menambah nilai jual.

Strategi desain yang dapat diterapkan antara lain, pemanfaatan material berkelanjutan,

keterkaitan dengan ekologi lokal, keterkaitan antara transit dan tempat tinggal, rekreasi dan bekerja, serta efisiensi penggunaan air, penanganan limbah, dan

memprioritaskan kondisi lokal baik secara fisik maupun secara sosial.

2.5.2. Interpretasi tema

Ada berbagai cara yang dilakukan dari pendekatan ekologi pada perncangan

arsitektur, tetapi pada umumnya mempunyai inti yang sama , antara lain : Yeang

(2006), mendefinisikannya sebagai: Ecological design, is bioclimatic design, design

with the climate of the locality, and low energy design. Yeang, menekankan pada :

integrasi kondisi ekologi setempat, iklim makro dan mikro, kondisi tapak, program

bangunan, konsep design dan sistem yang tanggap pada iklim, penggunan energi yang

rendah, diawali dengan upaya perancangan secara pasif dengan mempertimbangkan

bentuk, konfigurasi, façade, orientasi bangunan, vegetasi, ventilasi alami, warna.

Integrasi tersebut dapat tercapai dengan mulus dan ramah, melalui 3 tingkatan; yaitu

yang pertama integrasi fisik dengan karakter fisik ekologi setempat, meliputi keadaan

tanah, topografi, air tanah, vegetasi, iklim dan sebagainya. Kedua, integrasi

sistim-sistim dengan proses alam, meliputi: cara penggunaan air, pengolahan dan

pembuangan limbah cair, sistim pembuangan dari bangunan dan pelepasan panas dari

bangunan dan sebagainya. Yang ketiga adalah, integrasi penggunaan sumber daya

yang mencakup penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Aplikasi dari

ketiga integrasi tersebut, dilakukannya pada perancangan tempat tinggalnya, seperti

(42)

Gambar 2.18 Orientasi Bangunan, Pencegah Radiasi Matahari dan Atap Ganda

Rumah Tinggal Ken Yeang, di Malaysia

Menurut Metallinou (2006), bahwa pendekatan ekologi pada rancangan

arsitektur atau eko arsitektur bukan merupakan konsep rancangan bangunan hi-tech

yang spesifik, tetapi konsep rancangan bangunan yang menekankan pada suatu

kesadaran dan keberanian sikap untuk memutuskan konsep rancangan bangunan yang

menghargai pentingnya keberlangsungan ekositim di alam. Pendekatan dan konsep

rancangan arsitektur seperti ini diharapkan mampu melindungi alam dan ekosistim

didalamnya dari kerusakan yang lebih parah, dan juga dapat menciptakan

kenyamanan bagi penghuninya secara fisik, sosial dan ekonomi.

Pendekatan ekologi pada perancangan arsitektur, Heinz Frick (1998),

berpendapat bahwa, eko-arsitektur tidak menentukan apa yang seharusnya terjadi

dalam arsitektur, karena tidak ada sifat khas yang mengikat sebagai standar atau

ukuran baku. Namun mencakup keselarasan antara manusia dan alam. Eko-arsitektur

mengandung juga dimensi waktu, alam, sosio-kultural, ruang dan teknik bangunan.

Ini menunjukan bahwa eko arsitektur bersifat kompleks, padat dan vital.

Eko-arsitektur mengandung bagian bagian Eko-arsitektur biologis (kemanusiaan dan

kesehatan), arsitektur surya, arsitektur bionik (teknik sipil dan konstruksi bgi

kesehatan), serta biologi pembangunan. Oleh karena itu eko arsitektur adalah istilah

(43)

Gambar 2.19 Perbandingan Siklus Energi, Materi pada Rumah Biasa dan Rumah

Ekologis

Sumber : Heinz Frick

Mendekati masalah perancangan arsitektur dengan konsep ekologi, berarti

ditujukan pada pengelolaan tanah, air dan udara untuk keberlangsungan ekosistim. Efisiensi penggunaan sumber daya alam tak terperbarui (energi) dengan

mengupayakan energi alternatif (solar, angin, air, bio). Menggunakan sumber daya

alam terperbarui dengan konsep siklus tertutup, daur ulang dan hemat energi mulai

pengambilan dari alam sampai pada penggunaan kembali, penyesuaian terhadap

lingkungan sekitar, iklim, sosialbudaya, dan ekonomi. Keselarasan dengan perilaku

alam, dapat dicapai dengan konsep perancangan arsitektur yang kontekstual, yaitu

pengolahan perancangan tapak dan bangunan yang sesuai potensi setempat. termasuk

topografi, vegetasi dan kondisi alam lainnya.

Material yang dipilih harus dipertimbangkan hemat energi mulai dari

pemanfaatan sebagai sumber daya alam sampai pada penggunaan di bangunan dan

memungkinkan daur ulang (berkelanjutan) dan limbah yang dapat sesuai dengan

siklus di alam. Konservasi sumberdaya alam dan keberlangsungan siklus-siklus

ekosistim di alam, pemilihan dan pemanfaatan bahan bangunan dengan menekankan

pada daur ulang, kesehatan penghuni dan dampak pada alam sekitarnya, energi yang

efisien, dan mempertahankan potensi setempat. Keselarasan rancangan arsitektur

dengan alam juga harus dapat menjaga kelestarian alam, baik vegetasi setempat

(44)

meningkatkan penyerapan CO2 yang dihasilkan kegiatan manusia, dan melestarikan

habitat mahluk hidup lain.

Untuk mendapatkan hasil rancangan yang mampu selaras dan sesuai dengan

perilaku alam, maka semua keputusan dari konsep perancangan harus melalui analisis

secara teknis dan ilmiah Pemikiran dan pertimbangan yang dilakukan memerlukan

pemikiran yang interdisiplin dan holistic karena sangat kompleks dan mencakup

berbagai macam keilmuan.

Dari berbagai pendapat pada perancangan arsitektur dengan pendekatan

ekologi, pada intinya adalah, mendekati masalah perancangan arsitektur dengan

menekankan pada keselarasan bangunan dengan perilaku alam, mulai dari tahap

pendirian sampai usia bangunan habis. Bangunan sebagai pelindung manusia yang

ketiga harus nyaman bagi penghuni, selaras dengan perilaku alam, efisien dalam

memanfatkan sumber daya alam, ramah terhadap alam. Sehingga perencanaannya

perlu memprediksi kemungkinan-kemungkinan ketidak selarasan dengan alam yang

akan timbul dimasa bangunan didirikan, beroperasi sampai tidak digunakan, terutama

dari penggunaan energi, pembuangan limbah dari sistim-sistim yang digunakan dalam

bangunan. Semua keputusan yang diambil harus melalui pertimbangan secara teknis

dan ilmiah yang holistik dan interdisipliner. Tujuan perancangan arsitektur melalui

pendekatan arsitektur adalah upaya ikut menjaga keselarasan bangunan rancangan

manusia dengan alam untuk jangka waktu yang panjang. Keselarasan ini tercapai

melalui kaitan dan kesatuan antara kondisi alam, waktu, ruang dan kegiatan manusia

yang menuntut perkembangan teknologi yang mempertimbangkan nilai-kilai ekologi,

dan merupakan suatu upaya yang berkelanjutan.

Kesimpulan

Pada pendekatan ekologi, ada berbagai macam sudut pandang dan penekanan,

tetapi semua mempunyai arah dan tujuan yang sama, yaitu konsep perancangan

dengan :

 Mengupayakan terpeliharanya sumber daya alam, membantu mengurangi dampak yang lebih parah dari pemanasan global, melalui pemahaman prilaku

(45)

 Mengelola tanah, air dan udara untuk menjamin keberlangsungan siklus-siklus ekosistim didalamnya, melalui sikap transenden terhadap alam tanpa

melupakan bahwa manusia adalan imanen dengan alam.

 Pemikiran dan keputusan dilakukan secara holistik, dan kontekstual.  Perancangan dilakukan secara teknis dan ilmiah.

 Menciptakan kenyamanan bagi penghuni secara fisik, sosial dan ekonomi melalui sistim-sistim dalam bangunan yang selaras dengan alam, dan

lingkungan sekitarnya.

 Penggunaan sistim-sistim bangunan yang hemat energi, diutamakan penggunaan sistim-sistim pasif (alamiah), selaras dengan iklim setempat, daur

ulang dan menggunakan potensi setempat.

 Penggunaan material yang ekologis, setempat, sesuai iklim setempat, menggunakan energi yang hemat mulai pengambilan dari alam sampai pada

penggunaan pada bangunan dan kemungkinan daur ulang.

 Meminimalkan dampak negatif pada alam, baik dampak dari limbah maupun kegiatan.

 Meningkatkan penyerapan gas buang dengan memperluas dan melestarikan vegetasi dan habitat mahluk hidup.

 Menggunakan teknologi yang mempertimbangkan nilai-nilai ekologi.  Menuju pada suatu perancangan bangunan yang berkelanjutan.

Dari pemikiran pendekatan di atas akan muncul pertimbangan-pertimbangan

yang sangat kompleks dan saling berhubungan secara timbal balik. Oleh karena itu

dalam pendekatan ekologis memerlukan pemecahan secara interdisipliner, yaitu

keterlibatan berbagai macam disiplin ilmu untuk mendapatkan hasil perancangan yang

optimal bagi manusia dan alam

2.5.3. Keterkaitan tema dengan judul

Kasus proyek yang berjudul Sekolah Tinggi Bahasa Asing Kuala

Namu adalah yang akan menjadi pusat pendidikan, pembelajaran dan pelatihan

sumber daya manusia yang profesional dan berkualitas tinggi tidak hanya

secara teori namun dalam praktik di dunia bahasa internasional.

Dalam keterkaitannya dengan fungsinya sebagai sekolah tinggi bahasa

(46)

tinggi bahasa asing ini. Tema ini bertujuan menggambarkan hal apa yang

paling mudah ditangkap orang mengenai keadaan site, sebagai bagian dari

pendukung fungsi sekolah tinggi bahasa asing sebagai area pendidikan.

Dengan adanya penerapan eko-arsitektur, maka menjadikan bangunan ini

nyaman bukan hanya untuk pengguna namun terhadap keadaan sekitar dalam

upaya menjaga kelestarian alam.

2.5.4. Studi banding arsitektur yang mempunyai tema sejenis

Urban Eco House / Tecon Architects

Gambar 2.20 Urban Eco House

Sumber : archdaily.com

Pemilihan site untuk tempat tinggal masa depan terletak dekat dengan

Taman Herastrau, dimana juga ditetapkan sebuah lahan dengan ukuran kecil

yang dikelilingi oleh keadaan area sekitar. Keputusan desain terhadap kondisi

eksisting ini adalah dengan pembangunan vertikal (lantai dasar garasi, lantai 1

untuk area kebutuhan sehari-hari, lantai 2 untuk kamar tidur dan lantai 3 untuk

(47)

Gambar 2.21 Potret Eksterior dan Interior Urban Eco House

Sumber : archdaily.com

Data Teknis:

Arsitek : TECON Architects

Lokasi : Parcul Herăstrău, București, Romania

Penanggung Jawab Arsitek : Bogdan Babici, Eliodor Streza

Fotografer : Cosmin Dragomir

Asisten Arsitek : Tudor Iacob, Anca Paunescu, Monica Streza,

Dragos Fodoreanu, Paul Lipan Weber

Struktur : Inginerie Civila, Gheorghe Drugea, Cristi

Voicu

(48)

Gambar 2.22 Denah dan Konsep Urban Eco House

Gambar

Gambar 2.1 Rencana Studi Sastra Mandarin
Tabel 2.1 Kriteria Pemilihan Lokasi
Tabel 2.2 Deskripsi Lokasi Tapak Rancangan
Gambar 2.4 Rencana Ketinggian Bangunan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pokja Pengadaan Barang I Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Kota Denpasar akan melaksanakan pelelangan sederhana dengan pascakualifikasi untuk

Dynamics of spatial structure and spatial pattern changes contributes changes of resident mobility; while, development tendency of the existing spatial and land use is no

he required water volume needed to fulill the domestic water of the community which has a high salinity on the groundwater (brackish and saline) is 1.244.378 liters/day, equals to

Panitia Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pada Seketariat DPRD yang bersumber da.i APBD Kabupaten Nias Selatan TA.2012 akan melaksanakan Pemilihan Langsung Dengan

Panitia Pengadaan Barungl Jasa Dinas Perindagkop dan IIMKM Kabupaten Nias Utara T.A. Ahmad Fadlan Caniago,

Dari pelaksanaan kegiatan PPL, dapat disimpulkan bahwa kegiatan PPL, dapat memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam pengembangan kompetensi di bidang

[r]

Panitia Pengadaan pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset akan melaksanakan Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan Pengadaan