3.2 Pemahaman Mahasiswa Tentang Tradisi “Piring Nazar”
Pada bagian ini akan dijelaskan tujuan pertama dari penelitian ini yaitu pemahaman mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana yang berasal dari Gereja Protestan Maluku tentang tradisi “Piring Nazar” yang masih dilakukan di kos atau tempat kediaman mereka selama berkuliah di Salatiga. Tradisi “Piring Nazar” sudah mendarah daging di dalam kehidupan masyarakat kota Ambon1 dan paling terasa dalam kehidupan keluarga-keluarga Kristen di Ambon. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan beberapa orang mahasiswa yang berasal dari Gereja Protestan Maluku di Salatiga, mereka bersepakat bahwa tradisi “Piring
Nazar” masih dilakukan oleh semua keluarga Kristen di Ambon baik itu keluarga kecil ataupun
keluarga besar, baik itu keluarga yang baru saja menikah ataupun keluarga yang sudah lama menikah2. Sebagai bagian dari keluarga, maka mahasiswa-mahasiswa Gereja Protestan Maluku masih melakukan hal tersebut ketika mereka sudah berada di Salatiga. Salah seorang mahasiswa Ambon yang diwawancai menuturkan bahwa “Piring Nazar” itu secara otomatis akan dilakukan atau setiap orang pasti punya karena mereka sadar bahwa itu sudah menjadi aturan yang tidak dapat diganggu gugat3.
Mahasiswa UKSW yang berasal dari GPM menjadikan “Piring Nazar” sebagai tempat
untuk melakukan ritual-ritual Kristen diantaranya adalah menaikkan doa serta memberikan persembahan baik itu sebagai tanda ungkapan syukur maupun janji. Pada umumnya mahasiswa UKSW yang berasal dari GPM tetap mempertahankan dan melakukan tradisi ini dikarenakan didikan orang tua. Ketika orang tua (pada umunya adalah mama) mengantar mereka ke Salatiga
1
Hasil wawancara dengan AP tanggal 10 September 2014 2
FGD tanggal 10 September 2014 3
untuk berkuliah maka hal pertama yang akan dilakukan adalah membeli piring untuk dijadikan sebagai “Piring Nazar”.
Sampai dengan saat ini “Piring Nazar” yang dimiliki oleh mahasiswa yang berada di Salatiga dijadikan sebagai tempat untuk berdoa dan memberikan persembahan seperti kebiasaan yang mereka lakukan di rumah (di Ambon) bersama orang tua. Sebelum keluar dari kos baik itu ketika pergi kuliah ataupun pergi ketempat lainnya mereka akan terlebih dahulu berdoa di depan piring tersebut. Piring itu mereka letakkan bersama-sama dengan Alkitab dan juga air sombayang. Hampir semua mahasiswa memiliki urutan yang sama dalam penataan meja sombayang mereka. Dalam ururtan penempatan yang paling bahwa mereka meletakakan sebuah piring yang di dalamnya sudah terdapat uang nazar atau pergumulan-pergumulan mereka yang mereka tulis dalam sebuah kertas dan mereka tutup dengan sebuah kain atau biasa mereka sebut dengan lenso. Diatasnya mereka akan meletakkan Alkitab. Setelah diwawancarai para mahasiswa beranggapan bahwa Alkitab adalah benda yang suci sehingga itu haruslah ditempatkan di paling atas. Alkitab yang suci tersebut manjadi penutup dari semua ungkapan permohonan atau nazar yang berada dalam piring agar sampai kepada Tuhan.
Tradisi “Piring Nazar” yang sebelumnya merupakan warisan tete-nene moyang, kini telah
berubah menjadi sebuah tradisi Kristen akibat masuknya agama Kristen yang dibawa oleh zending ke tanah Maluku.
Ada 2 cara yang biasa dilakukan untuk berdoa di depan “Piring Nazar” yakni4:
a. Secara Pribadi atau berdoa sendiri
4
Sudah jelas bahwa berdoa secara pribadi yang dimaksudkan disini adalah masing-masing orang atau masing-masing-masing-masing anggota keluarga datang dan berdoa sendiri di depan “Piring Nazar” dan membawa pergumulan pribadinya.
b. Keluarga
Berdoa bersama keluarga dilakukan ketika hari-hari tertentu, yakni ketika malam Tahun Baru (malam konci taon), dan saat malam minggu (kunci usbu). Pada saat malam kunci usbu, “Piring Nazar” akan dikeluarkan dan diletakkan di ruang tamu, kemudian semua
anggota keluarga berdoa bersama-sama yang akan dipimpin oleh ayah atau salah satu anggota keluarga.
“Piring Nazar” biasanya diletakkan di atas meja sombayang5 bersama Alkitab dan air
sembayang. Pada umumnya “meja sombayang” diletakkan di kamar orang tua. Walaupun ada beberapa keluarga yang meletakkan “Piring Nazar” di kamar tengah atau kamar kedua rumah. Dalam wawancara bersama AP ia menyebutkan bahwa “Piring Nazar” tersebut ada dalam
kamarnya dikarenakan rumah yang mereka tempati sekarang adalah “rumah tua”6
, sehingga ada perbedaan antara tradisi “Piring Nazar” dalam keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.
Latar belakang keluarga yang berbeda-beda juga menyebabkan perbedaan pelaksaan tradisi “Piring Nazar”.
Meja sombayang diartikan dengan meja sembayang. 6
Rumah Tua adalah rumah dari kakek dan nenek atau dari pendahulu-pendahulu sebelumnya. Kamar yang besar dalam rumah tua adalah kamar tengah sehingga “Piring Nazar” kadang-kadang juga diletakkan di kamar yang besar atau kamar tengah.
7
atau hal-hal yang tidak baik. Sehingga pemaknaan dari tradisi “Piring Nazar” dilihat secara beraneka ragam, oleh masayarakat kota Ambon itu sendiri.
Pemaparan mengenai gambaran umum tradisi “Piring Nazar” ini menunjukkan bahwa
orang Maluku adalah tipe orang yang mudah untuk menerima dan meneruskan suatu tradisi. Orang Maluku menilai bahwa tradisi “Piring Nazar” adalah suatu aturan yang “harus” dilakukan
dan tidak dapat diganggu gugat. Hal ini sesuai dengan apa yang dituliskan Cooley dalam disertasinya bahwa adat atau kebiasaan yang dilakukan oleh orang Maluku dianggap sebagai sebuah hukum yang harus dipatuhi dan mengatur kehidupan orang Maluku8.
Seperti yang dijabarkan diatas bahwa, hampir semua mahasiswa Ambon yang berkuliah di Salatiga masih melakukan tradisi “Piring Nazar” ini. Mereka melakukannya dengan berbagai
alasan dan tentunya alasan yang mereka miliki juga akan berpengaruh pada pemahaman mereka tentang hal tersebut. Berikut adalah berbagai pemahaman mereka tentang tradisi “Piring Nazar”;
1. Piring Nazar adalah Tradisi9
“Piring Nazar” dinilai hanyalah sebuah tradisi. Berdasarkan hasil wawancara yang
dilakukan bahwa “Piring Nazar” adalah salah satu tradisi yang sudah ada jauh sebelum
dia lahir, oleh sebab itu “Piring Nazar” perlulah untuk tetap dilakukan karena secara
tidak langsung “Piring Nazar” itu sudah merupakan sebuah aturan yang harus
dilakukan.
2. Piring Nazar adalah Jembatan10
8
Cooley, Mimbar dan Takhta, 106-109. 9
Hasil Wawancara dengan IL tanggal 10 September 2014 10
Mahasiswa UKSW yang berasal dari GPM melihat bahwa “Piring Nazar” adalah
sebagai jembatan antara keluarga dengan gereja dan pribadi mereka dengan Tuhan. Jembatan antara keluarga dengan gereja yang dimaksudkan dapat terlihat dari persembahan-persembahan keluarga yang di berikan dalam “Piring Nazar”. Ketika persembahan itu diberikan segala bentuk pergumulan dan syukur dari keluarga di letakkan di “Piring Nazar” dan pada hari minggu nanti persembahan itu dibawa ke
gereja. Sedangkan jembatan antara pribadi (personal) dengan Tuhan terjadi ketika salah satu anggota keluarga menaikkan ungkapan syukur, pemohonan, pergumulan dan segala bentuk perasaan kepada Tuhan.
3. Piring Nazar punya kekuatan magi11
Mahasiswa yang diwawancarai mengatakan bahwa “Piring Nazar” tersebut memiliki kekuatan yang tersembunyi. Mereka menceritakan pengalaman mereka masing-masing ketika berdoa pada “Piring Nazar”. Segala pergumulan yang didoakaan atau yang
dinaikkan lewat “Piring Nazar” akan terjawab oleh Tuhan.
4. Piring Nazar sebagai sumber kekuatan12
Mereka yang melakukan tradisi “Piring Nazar” ini menyadari bahwa ada kekuatan baru
yang didapatkan ketika semua persoalan di serahkan kepada Tuhan lewat “Piring Nazar”. MP menyebutkan bahwa ia menyadari bahwa lewat “Piring Nazar” dan dengan
tetap menjaga tradisi ini ia tidak akan merasa kesusahan. Pengalaman yang ia miliki bahwa ketika ia tetap menjaga “uang dasar”13 yang ia letakkan dalam “Piring Nazar”
11
Hasil Wawancara dengan MP tanggal 10 september 2014 12
Hasil Wawancara dengan MP tanggal 10 september 2014 dan didukung oleh wawancara dengan AA tanggal 16 september 2014
13
tersebut maka ia tidak akan mendapatkan susah, ia menyebutkan bahwa berkat akan selalu ada dalam kehidupannya. Selain itu, dalam wawancara yang dilakukan dengan AP, ia menyebutkan bahwa ketika memiliki masalah pribadi dengan temannya, ia berdoa di depan “Piring Nazar” dan merasa jauh lebih baik dan memiliki kekuatan baru.
5. Piring Nazar adalah sesuatu yang sakral14
“Piring Nazar” menjadi sesuatu yang sakral dapat dirasakan ketika masih kanak-kanak.
Orang tua akan sangat marah apabila anak-anak menyentuh “Piring Nazar” atau bermain disekitar “Piring Nazar”, mereka sangatmenjaga jangan sampai “Piring Nazar”
tersebut jatuh. Uang yang ada dalam “Piring Nazar” juga dinilai sakral, oleh sebab itu
orang tua tidak memperbolekan anak-anak mengambil uang dalam “Piring Nazar” untuk membeli sesuatu atau untuk jajan. Ada sebuah kisah mengenai kesakralan “Piring Nazar” yakni, ketika ada orang yang dengan sengaja mengambil uang dalam “Piring
Nazar” untuk dibelanjakan, maka ia mendapatkan celaka. Sekalipun uang yang
digunakan adalah digunakan untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari15.
6. “Piring Nazar” adalah janji16
Lewat “Piring Nazar” mereka belajar untuk menepati apa yang telah mereka nazarkan. Ketika dalam pergumulan kehidupan di Salatiga sebagai seorang Mahasiswa, maka “Piring Nazar” dalam pelaksanaannya selain dijadikan tempat untuk berkeluh kesah, “Piring Nazar” juga kemudian menjadi tempat untuk menaruh janji-janji mereka kepada
Tuhan.
mereka yakini bahwa ketika uang itu tetap berada dalam “Piring Nazar” maka mereka tidak akan kesusahan.
14
Hasil Wawancara dengan IS tanggal 12 september 2014 15
Hasil FGD dengan AA dan NT tanggal 16 September 2014 16
7. “Piring Nazar” adalah wujud kehadiran Allah17
Ketika “Piring Nazar” ada dalam suatu keluarga hal ini akan menunjukkan bahwa dalam
“Piring Nazar” yang berada pada meja sombayang itu adalah tempat hadirnya Tuhan, sehingga “Piring Nazar” dinilai sakral oleh masyarakat Maluku. Nilai-nilai kesakralan
dapat terlihat dari beberapa pantangan yang dilakukan dalam pelaksanaan tradisi “Piring Nazar” oleh masing-masing keluarga.
Dari data yang diungkapkan di atas, maka dapat diringkas bahwa, tradisi “Piring Nazar” yang dilakukan oleh mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana, dimaknai secara berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Ada yang memaknai tradisi “Piring Nazar” sebagai sebuah tradisi yang perlu dipertahankan karena tradisi “Piring Nazar” ini adalah sebuah tradisi yang
baik. Sedangkan yang lainnya memaknai tradisi “Piring Nazar” sebagai sebuah jalan atau cara
untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan atau Sang Pencipta. Tradisi “Piring Nazar” bukan hanya sebagai sebuah warisan kebudayaan tetapi juga berubah menjadi tradisi
Kristen.
Setelah melihat data yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, terlihat bahwa ada berbagai macam pemaknaan yang diberikan oleh mahasiswa ketika melaksanakan tradisi “Piring Nazar”. Perbedaan-perbedaan dalam pemaknaan tersebut tidak menunjukkan bahwa tradisi yang
dilakukan oleh mahasiswa tidak dengan makna yang sesungguhnya adalah tradisi yang salah. Dalam tradisi “Piring Nazar” itu sendiri tidak ada satu makna yang baku atau sah. Masing -masing orang atau keluarga melakukan pemaknaan sesuai dengan apa yang dirasakan atau berdasarkan pengalaman iman dari keluarga atau individu. Hal lain yang juga mempengaruhi
17
perbedaan pemaknaan terhadap pelaksanaan tradisi “Piring Nazar” adalah karena pendidikan dan sosialisasi.
Tradisi “Piring Nazar” yang tetap dilakukan sampai saat ini oleh para mahasiswa yang
berasal dari Gereja Protestan Maluku yang berkuliah di Universitas Kristen Satya Wacana adalah sebagai bagian dari usaha pendidikan. Sesuai dengan pemahaman yang diberikan oleh Cremin bahwa pendidikan merupakan usaha yang sengaja, sitematis dan terus menerus untuk menyampaikan, menimbulkan dan memperoleh pengetahuan, sikap, nilai-nilai dan keahlian18. Maka tradisi “Piring Nazar” jelas merupakan suatu produk dari pendidikan, melalui pendidikan mahasiswa dapat membangun sikap yang memiliki nilai dalam kehidupan mereka yang didasarkan pada tradisi “Piring Nazar”.
Sikap yang dibentuk sebagai hasil dari pendidikan dalam keluarga antaralain adanya sikap hormat terhadap tradisi “Piring Nazar”. Hal tersebut terlihat dari pemberian makna yang
diberikan oleh para mahasiswa yaitu “Piring Nazar” dilihat sebagai sesuatu yang bernilai sakral dan merupakan wujud dari kehadiran Allah. Sikap hormat akan terbentuk karena mereka mamahami bahwa sesuatu yang sakral selalu berkaitan dengan Tuhan. Apabila manusia berhadapan dengan Tuhan, maka ia harus menjaga sikap hormat.
Sebagai pembentuk sikap dan nilai, tradisi “Piring Nazar” tidak lahir begitu saja. Pemahaman mahasiswa tentang tradisi “Piring Nazar” yang berbeda ini didapat dari pemahaman
yang berasal dari pendidikan dalam keluarga. Berdasarkan pemahaman yang diungkapkan oleh para ahli bahwa keluarga adalah dasar dari masyarakat19 sehingga segala apa yang dilakukan oleh seseorang di masyarakat adalah hal-hal yang berasal dari keluarga. Oleh karena itu, pemahaman yang berbeda yang diungkapkan oleh para mahasiswa merupakan salah satu hasil
18
Groome, Pendidikan Agama Kristen, 29. 19
dari ide-ide dasar yang diberikan oleh orang tua didalam keluarga kepada anak-anaknya. Pemahaman ini juga dapat dikaitkan lagi dengan pandangan tentang fungsi keluarga yang dipaparkan oleh Tjandrarini mengenai fungsi pendidikan dan sosialisasi20. Sebagai fungsi pendidikan, apa yang menjadi didikan dalam keluarga akan menjadi dasar bagi anak dalam proses perkembangan. Sedangkan fungsi proses sosialisasi dalam keluarga akan membantu anak dalam menentukan sikap dan mampu bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal yang berbeda diungkapkan oleh Groome bahwa proses sosialisasi yang terjadi dalam Kekristenan yang juga dipengaruhi oleh identitas-identitas lain yang dimiliki oleh anggotanya seperti etnis, profesi dan lain sebagainya juga dapat mengakibatkan dan menimbulkan berbagaimacam pandangan hidup dan nilai (bahkan nilai yang bertentangan dengan iman Kristen)21. Perbedaan pemahaman yang terlah diungkapakan oleh mahasiswa, menurut Groome adalah dikarenakan oleh proses sosialisasi. Berbagai pemahaman yang diungkapkan oleh mahasiswa ada yang mendukung terlaksananya Pendidikan Agama Kristen dalam hal ini sesuai dengan nilai-nilai Kekristenan dan ada juga beberapa makna yang diberikan oleh mahasiswa bertentangan dengan nilai Kristiani. Pemahaman yang diungkapkan tentang tradisi “Piring Nazar” perlu dikritisi ulang sehingga dapat diterima oleh Gereja Protestan Maluku sebagai
sebuah model atau cara yang baik dalam melakukan pembinaan terhadap keluarga-keluarga Kristen di Maluku. Pemakanaan yang diberikan mahasiswa bahwa tradisi “Piring Nazar” memiliki kekuatan magi perlulah untuk dilihat dengan kacamata yang lain. Ketika seseorang mengatakan bahwa “Piring Nazar” memiliki kekuatan magi maka hal ini menunjukkan bahwa
ada kekuatan yang tersebunyi dibalik tradisi “Piring Nazar”. Magi yang diklasifikasikan oleh
Raymond Firth yaitu (1) magi produktif; magi yang dipakai untuk menghasilkan sesuatu,
20
Tjandrarini, Bimbingan Konseling Keluarga, 19-21. 21
misalnya digunakan untuk berburu, berdagang, menangkap ikan dan lain-lain. (2) magi protektif; magi yang digunakan untuk melindungi, misalnya untuk pemeliharaan orang sakit, keselamatan dalam perjalanan, dan lain-lain. (3) magi destruktif; magi yang digunakan untuk mencelakakan orang lain, misalnya mendatangkan kematian, merusak milik dan mendatangkan penyakit22. Dalam tradisi “Piring Nazar”, pemaknaan yang diberikan oleh mahasiswa adalah berkaitan
dengan Magi Protektif23 yakni jenis magi yang digunakan untuk melindungi. Magi ini dipakai untuk melawan magi yang bertujuan untuk menghacurkan. Pamahaman yang diungkan oleh mahasiswa terkait dengan tradisi “Piring Nazar” yang memiliki kekuatan magi, dapat dimasukkan sebagai jenis magi yang bertujuan untuk melakukan perlindungan. Ketika mahasiwa memiliki masalah ia kemudian berdoa kepada Tuhan lewat “Piring Nazar” dan dari doa itu
dijawab, mereka beranggapan bahwa ada kekuatan tersembunyi yang akan memberikan bantuan dan perlindungan kepada dirinya. Kekuatan magi yang dipahami oleh mahasiswa bukanlah merupakan kekuatan magi yang dapat merusak dan memusnahkan namun kekuatan magi dilihat sebagai sesuatu yang memiliki sumber kekuatan untuk melindungi dan juga mendatangkan berkat yang berasal dati Tuhan. Pemahaman mengenai “Piring Nazar” memiliki kekuatan magi
dapat disatukan dengan makna berikutnya yang diungkapkan oleh mahasiswa yaitu tradisi “Piring Nazar” sebagai sumber kekuatan.
Ajaran dalam bentuk sosialisasi maupun pendidikan yang diterima oleh mahasiswa ternyata sangat berpengaruh pada cara berpikir dan bertindak berkaitan dengan “Piring Nazar”. Mereka juga caranya memberi makna khusus pada tradisi “ Piring Nazar” yang diterapkan dalam kehidupannya. Sekalipun ada yang mengatakan tradisi “Piring Nazar” hanyalah sebuah
22
Mariasusai Dhavamony, trans., Fenomenologi Agama (Yogyakarta:Kanisius, 2010), 58. 23
penerusan tradisi namun pada kenyataan pelaksanaannya ternyata ia juga memiliki sikap hormat dan menganggap bahwa tradisi “Piring Nazar” merupakan hal yang sakral atau kudus.
3.3 Tradisi “Piring Nazar” Merupakan Bagian Dari PAK Keluarga
Tradisi “Piring Nazar” secara khusus dilakukan oleh keluarga-keluarga yang pada
akhirnya masih dilakukan oleh Mahasiswa yang berasal dari Gereja Protestan Maluku di Salatiga tempat mereka berkuliah. Pada umumnya mereka beranggapan bahwa “Piring Nazar” memberikan nilai-nilai Kristiani di dalamnya yang diajarkan oleh kedua orang tua baik secara langsung maupun tidak langsung. Berikut adalah penjabaran tentang posisi tradisi “Piring Nazar” dalam PAK Kelurga yang merupakan tujuan kedua dari penelitian ini dan selanjutnya hal tersebut akan dianalisa dengan analisa perspektif PAK Keluarga.
Tradisi “Piring Nazar” yang dilakukan oleh mahasiswa Gereja Protestan
Maluku yang berkuliah di Universitas Kristen Satya Wacana sampai saat ini ketika mereka berada di Salatiga, sebagaimana yang telah diulas pada bagian sebelumnya. Ternyata sebagian dari mereka mengungkapkan bahwa mereka menerima didikan yang disengaja dari orang tua khususnya didikan yang diberikan oleh mama yaitu dengan cara memberikan contoh. Sedangkan sebagaian mahasiswa mengungkapkan bahwa mereka menerima didikan tersebut secara tidak sengaja. Mereka melihat atau mengobservasi apa yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka, akhirnya mereka mengerti bahwa apa yang selama ini mereka lihat mengenai tradisi “Piring Nazar” yang dilakukan kedua orang tua adalah hal yang baik. Disamping itu ada juga mahasiswa
Dalam pelaksanaan PAK Keluarga, ritual “Piring Nazar” mengambil beberapa peran penting,antara lain:
1. Dalam Ibadah Rumah Tangga24
Ibadah rumah tangga di Gereja Protestan Maluku (GPM) adalah ibadah yang dilakukan dari rumah kerumah sesuai dengan jadwal yang sudah diberikan dari pengurus wilayah. Ketika mereka akan memberikan persembahan, tandu (tempat persembahan) yang biasanya dipakai di gereja untuk mengumpulkan persembahan diganti dengan “Piring Nazar” yang ada dalam keluarga tersebut. Ada juga keluarga
yang tidak langsung menggantikan tandu persembahan yang ada di gereja dengan “Piring Nazar”, tetapi persemahan dari keluarga di letakkan terlebih dahulu dalam “Piring Nazar”. Ketika ibadah rumah tangga telah selesai, tuan rumah akan mengambilkan uang persembahan keluarga dari “Piring Nazar” untuk di gabungkan
bersama persembahan yang lain. 2. Dalam Ibadah BINAKEL25
Kata “Binakel” berarti Bina Keluarga. Ibadah Binakel merupakan aturan yang ditetapkan oleh Gereja Protestan Maluku (GPM) untuk semua jemaat. Ibadah Binakel ini ditandai dengan bunyi lonceng gereja sekitar pukul 20.00 WIT. Pada saat melakukan ibadah Binakel semua keluarga akan berkumpul bersama di sebuah ruangan. Bisa dilakukan di ruang tamu atau ruangan lain yang lebih besar sehingga semua orang yang ada adalam keluarga tersebut bisa berkumpul bersama-sama. Dalam Ibadah ini, “Piring Nazar” akan menjadi central atau pusat ibadah. Semua anggota keluarga akan berdiri mengelilingi “Piring Nazar” tersebut. Dalam
24
Hasil Wawancara dengan semua informan 25
wawancara yang dilakukan dengan Pdt. PP, beliau mengatakan bahwa “Piring Nazar” menjadi tempat untuk keluarga berkumpul dan beribadah bersama-sama.
3. Sebagai Mimbar atau Altar Keluarga26
Sebagai mimbar atau altar keluarga, “Piring Nazar” dijadikan sebagai pusat dari
segala peribadatan keluarga. Pada mimbar keluarga ini juga, segala pergumulan dan beban kehidupan dari masing-masing anggota keluarga dibawa kepada Tuhan lewat doa bersama maupun pribadi di depan “Piring Nazar”.
4. Tempat bersektunya anggota keluarga27
Dalam “Piring Nazar” beberapa keluarga menuliskan nama mereka pada uang-uang tersebut (hal semacam ini dilakukan dalam keluarga JP dan Pdt.PP). Dalam wawancara dengan JP dan Pdt. PP dicontohkan apabila sebuah keluarga memiliki 6 orang anak, maka nama ke-6 anaka tersebut akan ditulis pada masing – masing koin dan diletakkan melingkar dalam “Piring Nazar” tersebut. Beberapa keluarga
mempercayai bahwa apa yang ada dalam “Piring Nazar” juga akan terjadi dalam
kehidupan nyata, juga dalam kehidupan persaudaraan sehari-hari. Ikatan persaudaraan itu sudah terikat dalam “Piring Nazar”. Dalam kehidupan sehari-hari
apabila mereka ingin berdoa bersama, maka mereka akan berdoa mengelilingi “Piring Nazar” tersebut sama seperti bagaimana nama mereka yang telah ditulis pada
koin yang ada dalam “Piring Nazar”.
5. Allah hadir dalam Keluarga28.
Keluarga memahai bahwa “Piring Nazar” adalah sesuatu yang sakral atau kudus.
Pemaknaan yang sama yang dimiliki oleh mahasiswa GPM di UKSW. Apabila
26
Hasil wawancara dengan semua informan 27
Hasil wawancara dengan Pdt. PP tanggal 17 september 2014 28
dikatakan bahwa Tuhan hadir dimana saja, maka bagi orang Maluku, “Piring Nazar”
adalah tempat dimana Tuhan hadir dan menyapa keluarga dan pribadi. Sehingga meja sombayang yang diatasnya terdapat “Piring Nazar” mendapat sebutan sebagai “mimbar keluarga”29 atau “mimbar doa”30.
6. Menjaga setiap Anggota keluarga yang jauh31
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap anggota keluarga akan datang dan pergi. Tinggal di rumah atau ada kemungkinan juga untuk tinggal jauh dari rumah dan bahkan diluar pulau. Dengan adanya “Piring Nazar”, orang tua (ayah dan ibu) akan ada
dalam keyakinan bahwa anak-anak atau setiap anggota keluarga akan ada dalam keadaan baik dan diberkati karena Tuhan menjaga mereka semua. Oleh sebab itu, ketika anak- anak pergi atau keluar dari rumah dan menetap di tempat lain, mereka tetap melakukan ritual “Piring Nazar”. Ritual “Piring Nazar” menjadi penghubung dengan anggota keluarga yang jauh, karena mereka akan saling mendoakan.
7. Sebagai suatu simbol bahwa memberikan yang terbaik pada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk keluarga32
Ketika dengan penuh keyakinan seseorang atau keluarga memberikan persembahan yang terbaik, mka akibatnya orang percaya bahwa apa yang akan mereka terima dari Tuhan juga adalah sesuatu yang baik. “Piring Nazar” adalah suatu simbol bahwa apa yang diberikan kepada Tuhan haruslah diberikan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan hati, tidak boleh memberikan uang persembahan dengan setengah hati
29
Hasil wawancara dengan semua informan 30
Hasil wawancara dengan DL tanggal 19 september 2014 31
Hasil wawancara dengan Ibu LL tanggal 19 september 2014 32
kepada Tuhan. Karena, hal tersebut akan ada dampaknya dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga.
8. Sebagai sarana untuk ibadah dan berkumpul33
Melakukan ritual “Piring Nazar” bersama dengan keluarga menjadikan ikatan atau hubungan dalam keluarga menjadi semakin baik dan semakin dekat. Keluarga memiliki waktu khusus untuk berkumpul bersama-sama dengan semua anggota keluarga. Segala aktifitas dan rutinitas akan ditinggalkan untuk melakukan ibadah bersama anggota keluarga yang lain pada jam-jam yang sudah ditetapkan oleh keluarga. Pada jam-jam tertentu mereka membuat kesepakatan untuk berdoa bersama-sama, bisa pada malam hari sebelum tidur atau pada pagi hari sebelum mulai beraktifitas.
Selain adanya pemahaman bahwa ritual “Piring Nazar” memiliki nilai penting dalam keluarga, ritual tersebut juga mengajarkan nilai-nilai Kristiani yang terkandung di dalamnya, antara lain:
1. Hal Berdoa34
Hal berdoa terlihat jelas ketika masing-masing anggota keluarga datang secara otomatis kepada “Piring Nazar” dan berdoa sebelum ia keluar dari rumah untuk pergi
ke sekolah, ke gereja, ke tempat kerja atau kemana saja. “Piring Nazar” erat kaitannya dengan doa karena di depan “Piring Nazar” anggota keluarga selalu
memanjatkan segala doa, baik itu doa syukur, permohonan, hingga menaikkan pergumulan keluarga dan janji (nazar) individu maupun keluarga.
33
Hasil wawancara dengan Om RL tanggal 20 september 2014 34
2. Hal mepersembahkan35
“Piring Nazar” dekat dengan persembahan karena ketika melakukan tradisi
“Piring Nazar”, orang belajar untuk memberikan apa yang dimiliki kepada Tuhan
dan bahkan menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Tuhan. Hal – hal yang dipersembahkan bukan saja dalam bentuk uang tetapi seluruh diri dan kehidupan keluaraga atau individu yang melakukan tradisi “Piring Nazar”.
3. Memberikan yang terbaik untuk Tuhan36
Memberikan yang terbaik untuk Tuhan dapat terlihat lewat hal-hal sederhana yang dilakukan. Hampir semua informan yang diwawancarai mengatakan bahwa uang yang mereka isi dalam “Piring Nazar” adalah “uang yang baik”. Mereka
sengaja memilih uang yang masih bagus bukan yang su busu - busu37 4. Membangun jam- jam doa38
Ada kebiasaan yang dibangun ketika ritual “Piring Nazar” itu dilakukan dalam keluarga. Dengan cara sengaja ataupun tidak keluarga akan mendisiplinkan diri dengan membangun jam-jam doa bersama keluarga.
5. Hubungan vertikal dengan Tuhan terjaga
Ketika anggota keluarga memiliki kebiasaan untuk berdoa di depan “Piring Nazar” sebelum pergi atau keluar dari rumah ataupun ketika pulang ke rumah, maka
secara tidak langsung hal ini akan menunjukkan adanya hubungan tiap-tiap anggota
35
Hasil wawancara dari semua informan 36
Hasil wawancara dengan DL tanggal 19 september 2014 dan didukung oleh wawancara dengan Om RL tanggal 20 september 2014
37
Uang yang Su busu-busu artinya uang tersebut sudah jelek, atau dapat dikatakan dengan uang lama yang sudah usang.
38
keluarga dengan Tuhan. Anak-anak akan terbiasa dengan mengawali kegiatan dan mengakhiri kegiatan mereka dengan berdoa.
Untuk menemukan apakah tradisi “Piring Nazar” mengambil posisi penting dalam
pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen dalam Keluarga. Beberapa hal yang bisa dijadikan dasar analisis terhadap posisi tradisi “Piring Nazar” adalah beberapa hal yakni;
Analisa dilakukan berdasarkan tujuan Pendidikan Agama Kristen. Pada bagian analisis ini akan dilihat apakah pelaksanaan tradisi “Piring Nazar” sudah sesuai dengan tujuan
Pendidikan Agama Kristen. Terdapat berbagai jenis tujuan Pendidikan Agama Kristen berdasarkan pendapat para ahli. Sesuai dengan tujuan yang diungkapkan oleh Graendorf bahwa tujuan Pendidikan Agama Kristen dapat membimbing individu pada pengenalan serta rencana Allah melalui setiap aspek kehidupan39. Tujuan ini dapat terlihat dalam pelaksanaan ritual “Piring Nazar” ketika anggota keluarga dengan penuh kejujuran menaikkan nazar ataupun
pergumulannya kepada Tuhan dengan segenap hati dan kemudian anggota keluarga tersebut menerima jawaban atas setiap pergumulan yang dinaikkan maka mereka telah belajar bahwa Allah berencana dalam kehidupan mereka secara pribadi dan juga dalam kehidupan persekutuan keluarga.
Marthaler memberikan pandangan bahwa salah satu tujuan dari Pendidikan Agama Kristen adalah mewariskan tradisi agamawi40. Melalui tujuan ini, maka dapat terlihat jelas bahwa ritual “Piring Nazar” telah mengambil peran sebagai tradisi yang diwariskan dari kakek-nenek, turun kepada ayah-ibu dan kemudian kepada anak-anak. Orang tua tentu saja sedang melakukan
39
Daniel Nuhamara, Pembimbing PAK, 31. 40
Pendidikan Agama Kristen ketika mereka melakukan pewarisan sebuah tradisi Kristiani lewat tradisi “Piring Nazar”.
Tujuan yang dikemukakan oleh Gereja Kongregasional, Evangelikal dan Reformed bahwa Pendidikan Agama Kristen membawa orang-orang dalam persekutuan Kristiani, membimbing dalam iman dan memberikan kekuatan bagi kehidupan baru dari Allah dengan ucapan syukur41. Apabila tujuan tersebut dikaitkan dengan ritual “Piring Nazar”, maka ritual ini bersesuaian dengan tujuan dari Pendidikan Agama Kristen yang dikemukakan oleh Gereja Kongregasional, Evangelikal dan Reformed. Keluarga sebagai salah satu bentuk persekutuan iman Kristen juga mengajarakan anak-anak untuk masuk dalam persekutuan tersebut dengan bersama-sama berdoa dan membawa persembahan lewat tradisi “Piring Nazar”. Ketika anak -anak sudah masuk persekutuan iman bersama dalam keluarga, maka secara otomatis orang tua akan membimbing anak dalam iman yang benar kepada Kristus. Hal ini bisa terlihat dari nilai-nilai iman Kristiani yang tertanam atau diajarkan dalam pelaksanaan tradisi “Piring Nazar”. Tujuan lain yang diungkapkan oleh Gereja Kongregasional, Evangelikal dan Reformed adalah Pendidikan Agama Kristen dapat menjadi kekuatan bagi kehidupan. Dalam wawancara yang dilakukan disebutkan bahwa ketika seseorang berdoa di depan “Piring Nazar” ada kekuatan baru yang dia rasakan atau yang didapatkan ketika ada pergumulan yang didoakan lewat “Piring
Nazar”. Dengan demikian, realita dilapangan, ternyata menguatkan pendapat para ahli.
Dapat disimpulkan, berdasarkan tujuan yang disebutkan oleh para ahli terlihat bahwa “Piring Nazar” membantu untuk mewujudkan beberapa tujuan akhir dari Pendidikan Agama
Kristen. Dengan adanya “Piring Nazar” maka dapat dikatakan bahwa pelaksanaan Pendidikan
Agama Kristen semakin terbantu dan dapat dilakukan dengan mudah karena dimulai dari lembaga pendidikan primer yakni keluarga.
41
Dalam analisa berikutnya, perlulah diketahui tentang berbagai pendekatan yang mendukung tradisi “Piring Nazar” sehingga dapat terinternalisasi dalam diri mahasiswa yang
berasal dari Gereja Protestan Maluku yang berkuliah di Salatiga. Pada bagian analisa sebelumnya sudah dicapai suatu hasil bahwa tradisi “Piring Nazar” dapat dikatakan sebagai bagian dari upaya pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen. Dalam melakukan Pendidikan Agama Kristen diperlukan berbagai pendekatan.
Dalam teori yang diusulkan, ada beberapa jenis pendekatan-pendekatan dalam Pendidikan Agama Kristen. Dari berbagai pedekatan tersebut, pelaksanaan tradisi “PiringNazar” dapat dilakukan dengan 3 jenis pendekatan yakni pendekatan sosialisasi oleh Horace Bushnell dan pendekatan sosialisasi oleh George Albert Coe dan Bernard Marthaler.
Pendekatan Bushnell yang dilatarbelakangi oleh adanya revivalisme yang melanda Amerika bahwa adanya kerusakan total pada manusia dan anak-anak tidak dapat bertumbuh dalam kehidupan iman Kristen hingga adanya lahir baru42. Bushnell melihat bahwa waktu untuk menunggu hingga seorang anak lahir baru sangat lama, sehingga Bushnell mengemukakan untuk melakukan suatu pendekatan baru yakni pendekatan dalam keluarga yang dapat menolong anak mendapatkan Pendidikan Agama Kristen dan ia dapat bertumbuh menjadi seorang anak yang memiliki iman Kristen. Dalam pendekatan ini perlu adanya pemahaman bahwa orang tua harus lebih dahulu memiliki iman Kristen, agar ia dapat membagikan penglaman iman tersebut kepada anak-anaknya. Pengalaman iman tersebut dapat dibagikan kepada anak-anak dengan cara memberikan contoh-contoh kehidupan yang baik. Dalam pelaksanaan ritual “Piring Nazar”, orang tua telah lebih dahulu menerima didikan tersebut dari kakek-nenek kemudian diturunkan kepada anak-anak dengan memberikan teladan atau contoh tentang pelaksanaan ritual “Piring
42
Nazar”. Pendekatan yang paling cocok dalam pewarisan tradisi “Piring Nazar” sebagai sebuah
tradisi Kristiani adalah dengan melakukan pendekatan dalam keluarga seperti yang dikemukakan oleh Bushnell. Keluarga dijadikan sebagai agen pelaku sosialisasi, dikarenakan tradisi “Piring Nazar” ini adalah sebuah kebiasaan yang terjadi atau dilakukan dalam keluarga. Apabila melihat ulang pemaparan tentang gambaran umum dari tadisi “Piring Nazar” maka terlihat jelas bahwa
tradisi “Piring Nazar” merupakan suatu keharusan dalam sebuah keluarga. Dalam kehidupan
bermasyarakat dan bergereja juga terdapat kesepakatan bersama, bahwa keluarga adalah agen belajar yang primer. Dalam keluarga seorang anak akan belajar tentang berbagai hal yang akan mempengaruhi sikap, tindakan dan pola pikirnya yang akan berpengaruh ketika ia dewasa. Segala hal yang berkaitan dengan pembentukan sikap, tindakan dan pola pikir sangat bergantung pada didikan yang diperoleh dalam dari keluarga.
Pedekatan berikutnya yang bisa dipakai dalam pelaksanaan tradisi “Piring Nazar” adalah pendekatan sosialisasi yang dikemukakan Coe. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Bushnell bahwa ia menambahkan sebuah penekanan khusus yakni interaksi sosial adalah inti dari Pendidikan Agama Kristen. Coe melihat bahwa Pendidikan Agama Kristen dapat dilakukan lewat semua jaringan sosial. Dalam hal ini jaringan sosial yang dimaksud bukan saja keluarga tetapi semua interaksi sosial dengan semua pihak dalam bentuk sosialisasi43. Dalam pelaksanaan tradisi “Piring Nazar”, pendekatan ini dapat dilakukan, sekalipun ruang lingkup pendidikannya
hanya berlangsung dalam keluarga. Keluarga merupakan sebuah kelompok sosial dan didalamnya terdapat suatu interaksi sosial. Interaksi yang dilakukan dalam keluarga akan membantu anggota keluarganya untuk mendapatkan makna dari Pendidikan Agama Kristen. Lewat tradisi “Piring Nazar”. Pola interaksi yang lebih mendalam akan dibahas pada point yang
selanjutnya dari bagian ini. Sedangkan pendekatan dari Marthaler tentang sosialisasi lebih
43
menekankan pada bagaimana seluruh persekutuan iman yang mendidik44. Keluarga dalam kaitannya dengan tradisi “Piring Nazar” juga dapat dipahami sebagai sebuah persekutuan iman.
Hal ini terlihat dari keluarga-keluarga yang melakukan atau menerapkan nilai-nilai Kristiani dalam keluarga dan juga membantu mewujudkan tujuan dari Pendidikan Agama Kristen. Dalam pendekatan sosisalisasi yang dimaksudkan oleh Marthaler adalah gereja (GPM) sudah sadar tardisi “Piring Nazar” ini merupakan bagian dari Pendidikan Agama Kristen. Hal ini terlihat dari
wawancara yang dilakukan bahwa dalam sebuah jemaat sudah ada pemahaman tentang pentingnya “Piring Nazar” dan makna dari “Piring Nazar”. Pemahaman tersebut diberikan ketika
anak mengikuti Sekolah Minggu ataupun ketika remaja mengikuti katekasasi sidi. Kekurangan dari pelaksanaan tradisi “Piring Nazar” dalam kaitannya dengan pendekatan sosialisasi yang dimaksudkan oleh Marthaler adalah belum sepenuhnya sempurna, dikarenakan GPM belum benar-benar menjangkau semua jemaat dan memberikan perhatian penuh pada tradisi “Piring Nazar”.
Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Schaefer bahwa upacara-upacara atau adat yang dilakukan dapat menolong dalam melakukan transfer nilai-nilai atau ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam keluarga45. Berdasarkan pendapat dari Schaefer tersebut dapat dilihat bahwa tradisi “Piring Nazar” merupakan suatu upacara keluarga yang menjadi rutinitas dan
dilakukan dengan teratur. Melihat hal ini maka, apa yang telah keluarga lakukan sesuai dengan pendapat dari Schaefer dan pendapat yang diberikan masih relevan untuk dipakai saat ini.
Bagian analisa yang kedua ini dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam Pendidikan Agama Kristen akan mempengaruhi terlaksananya pendidikan itu sendiri sesuai dengan konteksnya. Sesuai dengan pendapat yang diungkapkan oleh para ahli bahwa
44
Ibid., 124. 45
dalam tradisi “Piring Nazar” pendekatan sosialisasi yang dilakukan oleh keluarga akan menolong
anggota keluarga (anak-anak) untuk memiliki pemahaman yang baru tentang iman Kristen. Masa depan anak-anak sangat bergantung pada bagaimana pembentukan yang diterima dalam keluarga. Interaksi yang terjadi dalam keluarga juga sangat mendukung proses Pendidikan Agama Kristen dengan pendekatan sosialisasi yang diusung oleh para ahli.
Berdasarkan pendekatan yang digunakan dalam tardisi “Piring Nazar”, keluarga merupakan tempat terjadinya proses sosislisasi. Oleh sebab itu keluarga dijadikan sebagai salah satu setting dalam pendidikan agama Kristen tentunya memiliki tujuan. Beberapa tujuan dari keluarga adalah membangun hubungan atau persekutuan yang berpusat kepada Allah, perkembangan jasmani maupun rohani, serta sebagai tempat pembentukan paling luas. Sehubungan dengan tujuan keluarga Kristen ini, maka dengan adanya tardisi “Piring Nazar”
akan membantu keluarga-keluarga untuk menjalankan fungsinya sebagai keluarga Kriten dapat terwujud. Hal ini terlihat dari nilai-nilai atau makna yang didapatkan lewat tradisi “Piring Nazar” yaitu ketika keluarga memaknai tradisi “Piring Nazar” diantaranya:
a. Sebagai sarana untuk berkumpul dalam keluarga dan sebagai mimbar keluarga. Ketika sebuah keluarga memaknai “Piring Nazar” dengan kedua hal tersebut maka keluarga
b. “Piring Nazar” yang dipahami dapat mengajarakan keluarga atau anggota keluarga tentang hal berdoa, hal memprsembahkan, dan pengajaran untuk membangun jam-jam doa dapat membantu mengembangkan iman dan pengenalan yang baik oleh keluarga atau anggota keluarga tentang Allah. Dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang menyampaikan atau menceritakan segala masalah yang dialami kepada temannya ataupun kepada orang tuanya, maka hal tersebut menunjukkan bahwa ada kepercayaan besar yang diberikan oleh seseorang kepada teman maupun kepada orang tuanya. Sama halnya dengan makna dari tradisi “Piring Nazar”, ketika keluarga atau
setiap anggota keluarga telah menyerahkan semua kehidupan dan pergumulan kepada Allah, maka hal ini menunjukkan bahwa ada iman yang besar yang dimiliki oleh keluarga kepada Allah. Salah satu tujuan keluarga sebagai agen perkembangan rohani telah terwujud dengan adanya tradisi “Piring Nazar”.
c. Ketika tradisi “Piring Nazar” dinilai memiliki nilai Kristiani yaitu dapat membangun jam-jam doa maka hal ini menunjukkan bahwa ada suatu latihan tentang kedisiplinan diri. Dengan adanya jam-jam doa seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang taat. Dengan demikian tujuan keluarga sebagai tempat pembentukan yang luas dapat dilaksanakan dengan adanya tradisi “Piring Nazar”. Lewat tradisi “Piring Nazar” ini
atau dengan kata lain adalah Allah hadir dalam keluarga lewat “Piring Nazar”, oleh
sebab itu anak mulai belajar untuk menghormati ibadah (dikarenkan “Piring Nazar”
adalah tempat untuk beribadah). Anak-anak akan berlaku sopan ketika berhadapan dengan “Piring Nazar”, kamar orang tua juga kemudian menjadi kamar yang khusus
karena di dalamnya terdapat “Piring Nazar” yang dinilai sakral dan kudus.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam kehidupan berkeluarga adalah membangun relasi antara anggota keluarga dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan dalam buku yang ditulis oleh pusat bimbingan keluarga, disebutkan beberapa caranya yaitu dengan berdoa bersama, saling mendoakan, membaca firman Tuhan, ibadah bersama keluarga dan ruang doa46. Cara yang diungkapkan oleh pusat bimbingan ini telah dilakukan oleh keluarga-keluarga di Ambon terutama penekanannya ada pada ruang doa. Kamar orang tua yang didalamnya terdapat “Piring Nazar” secara tidak langsung merupakan kamar untuk berdoa karena semua anggota keluarga akan datang ke kamar tersebut dengan sengaja untuk berdoa karena mereka menyadari bahwa disanalah tempat yang telah disiapkan oleh orang tua untuk berdoa. Hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah apakah kamar tersebut sudah benar-benar dimaknai sebagai tempat untuk bertemu Tuhan secara benar oleh setiap anggota keluarga ataukah hanya sebatas rutinitas.
Dapat disimpulkan bahwa tradisi “Piring Nazar” bukan hanya mendukung terlaksananya
tujuan dari Pendidikan Agama Kristen tetapi juga berperan penting dalam terlaksaanya tujuan dari keluarga Kristen.
46 Pusat Pendampingan Keluarga “Brayat Minulyo” Keuskupan Agung Semarang,
Dalam kaitannya dengan kamar doa, keluarga juga dikatakan sebagai gereja mini. Keluarga menjadi tempat atau pusat bagi setiap anggota keluarga untuk bertemu dengan Tuhan layaknya sebuah gereja.
Keluarga sebagai gereja mini juga perlu untuk memperhatikan dan menjalankan salah satu tugas gereja yakni sebagai tempat pembentukan rohani. Sebagai tempat pembentukan rohani, maka keluarga-keluarga Kristen perlu membangun kebiasaan Kristani yang dapat mendukung dalam mengajarkan nilai-nilai Kristiani dalam keluarga. Salah satu hal yang sudah dilakukan oleh keluarga-keluarga Kristen adalah seperti apa yang dilakukan oleh keluarga Kristen di Ambon. Mereka menjadikan sebuah tradisi yang sudah ada untuk mengajarkan nilai-nilai Kristiani kepada anggota keluarga. Dengan adanya kebiasaan ini (tradisi “Piring Nazar”), setiap anggota dapat menemukan sendiri nilai Kristiani apa yang baik dan perlu untuk dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga sebagai gereja mini juga perlu untuk memperhatikan hal-hal lainnya yaitu sebuah rumah haruslah memiliki tempat sentral yang kudus untuk beroda. Dalam keluarga Kristen di Ambon, mereka menggunakan “Piring Nazar” sebagai pusat dari peribadatan keluarga. Meja sombayang yang di atasnya terdapat “Piring Nazar” tersebut, mereka katakan sebagai mimbar keluarga. Keluarga sebagai gereja mini, bukan saja menjadi tempat untuk beribadah, Budiyana menambahkan bahwa dalam keluarga yang disebut sebagai gereja mini itu akan ada sikap-sikap tertentu yang dibangun47 diantaranya adalah:
a. Kejujuran (kesediaan untuk membuka diri)
b. Persahabatan (meluangkan waktu untuk berdekutu bersama) c. Penundukkan diri (kesediaan saling memberi respon)
47
d. Loyalitas (kesediaan untuk menggunakan kekurangan masing – masing sebagai cara untuk memberi dukungan)
e. Kepercayaan dan respek (kesediaan untuk melepaskan tuduhan – tuduhan) f. Kemantapan dan sambutan (bersedia untuk menerima apa adanya)
Berdasarkan sikap-sikap di atas, dalam pelaksanaannya ada beberapa sikap yang belum kelihatan dari wawancara yang dilakukan. Dalam keluarga Kristen, ketika mereka melakukan tradisi “Piring Nazar” sikap-sikap yang tercermin adalah kejujuran dimana anak-anak dengan
jujur memberitahukan pergumulan mereka sehingga itu dapat menjadi beban bersama-sama dan mereka akan saling mendoakan. Sikap persahabatan juga tercermin dalam keluarga-keluarga Kristen di Ambon. Ketika mereka melaksanakan tradisi “Piring Nazar” ada aturan-aturan
mengenai jam-jam doa yang perlu untuk mereka sepakati bersama-sama. Sikap kepercayaan dapat dikatakan degan kesediaan untuk memaafkan. Sikap ini terlihat ketika keluarga melakuka ibadah konci taon dimana akan ada saling memaafkan antar anggota keluarag dan bahkan mereka (biasanya orang tua) akan mendoakan anggota keluarga yang lain dan sikap untuk menerima masing-masing anggota apa adanya sudah merupakan suatu kewajiban apabila seseorang disebut sebagai keluarga. Walaupun demikian, tidak semua sikap yang dimaksudkan oleh Budiyana tercermin secara langsung dalam tradisi “Piring Nazar”.
“Piring Nazar” bukan hanya merupakan sebuah kebiasaan yang dilakukan secara formalitas,
walaupun ada keluarga yang melakukan tradisi “Piring Nazar” karena merasa tidak nyaman
berkeluarga, tradisi “Piring Nazar” ini membantu orang tua untuk memberikan Pendidikan
Agama Kristiani kepada anak-anak atau anggota keluarganya. Tradisi ini sangat baik untuk mendukung gereja dalam melaksanakan Pendidikan Agama Kristen dalam keluarga.
3.4Pola Pendidikan Orang Tua Kepada Anak-Anak48
Pemaparan pada bagian ini akan menjadi tujuan akhir dari penelitian ini, setelah mengetahui bahwa “Piring Nazar” memiliki tempat yang cukup penting dalam kehidupan berkeluarga dan
membangun keluarga Kristen.
Pola pendidikan yang diberikan orang tua dari masing-masing keluarga berbeda-beda sesuai dengan latar belakang sosial dan pendidikan dari masing-masing keluarga. Pada umumnya cara-cara umu yang dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anak adalah dengan:
1. Mengajak untuk berdoa bersama
Hal pertama yang dilakukan adalah dengan mengajak anak untuk beroda bersama. Sekalipun anak belum bisa berdoa atau dapat dikatakan bahwa sekalipun anak-anak belum paham tentang apa itu doa dan fungsi dari doa bersama. Namun, ketika anak-anak sering mengikuti kedua orang tuanya untuk berdoa, maka kebiasaan tersebut akan terpola dalam pribadi anak-anak. Ketika anak sudah memiliki pola yang sama setiap harinya dengan rutinitas tersebut maka anak kemudian akan menjalankan kebiasaan tersebut tanpa diperintah. Seorang mahasiswa yang diwawancarai membenarkan hal tersebut, ia berkata bahwa sekalipun di rumah “Piring Nazar” itu
sudah dipindahkan ke tempat lain, tetap saja bahwa kebiasaan untuk datang ke tempat
48
itu dan berdoa masih tetap ada, sekalipun ruangan tersebut kosong (tidak ada lagi “Piring Nazar)49
.
Ketika dilakukan ibadah-ibadah dalam keluarga, orang tua tetap mengajak anak-anak untuk berdoa bersama terutama pada saat ibadah BINAKEL dan juga ibadah-ibadah keluarga yang yang dilakukan secara khusus lainnya. Maksud yang sama yang dilakukan oleh orang tua adalah agar anak-anak terbiasa untuk berdoa.
2. Memberitahukan bahwa “Piring Nazar” adalah tempat untuk berdoa.
Pada umumnya keluarga memberitahukan bahwa “Piring Nazar” adalah tempat untuk berdoa ketika mereka ( orang tua ) mengajak anak untuk berdoa. Sekalipun pada saat itu anak-anak belum mengerti, orang tua tetap memberitahukan hal tersebut sambil tetap mengajak dan memberikan contoh bagaiamana menaikkan doa.
3. Memberitahukan tentang ini adalah tempat untuk mengambil persembahan
Orang tua mulai untuk megajarkan tentang “Piring Nazar” dalam hubungannya
dengan persembahan adalah dengan mengajarkan anak-anak untuk mengambil persembahan pada sebuah tempat tertentu yaitu di “Piring Nazar”. Ketika anak-anak akan ke sekolah minggu ataupun beribadah bersama dengan orang tua, maka orang tua akan memberitahukan sekalipun anak-anak belum memahami dengan benar apa arti dari “Piring Nazar”. Orang tua beranggapan bahwa memberi pengertian awal dengan
membiasakan anak-anak mengambil dari “Piring Nazar” jauh lebih mudah. 4. Memberitahukan bahwa ini adalah tempat persembahan
Beberapa keluarga memberikan pemahaman bahwa “Piring Nazar” dijadikan
sebagai tempat persembahan kepada anak-anak ketika mereka sudah beranjak besar. Usia yang mereka pilih adalah ketika mereka memasuki usia Sekolah dasar dan sudah
49
mulai bergabung di sekolah minggu. Selain anak-anak sudah memiliki pemahaman tentang persembahan, di sekolah minggu mereka mendapatkan pemahaman tentang “Piring Nazar” sebagai tempat untuk mendoakan persembahan sebelum persembahan
tersebut di bawa ke gereja atau ke sekolah minggu. Pemahaman tentang menggunakan “Piring Nazar” sebagai tempat untuk berdoa juga didapatkan ketika berada di sekolah
minggu.
5. Memberikan pengertian tentang bagaimana memberikan persembahan.
Pokok yang paling akhir ini tidak dilakukan oleh semua keluarga. Hanya beberapa keluarga saja yang memberikan pemahaman tentang bagaimana memberikan persembahan yang baik dan benar. Keluarga tidak memberikan konsep-konsep Krtisten tentang persembahan atau konsep-konsep Kristen tentang doa. Ketika dewasa nanti, mereka akan menemukan maknanya sesuai dengan pengalaman iman yang dimiliki. Pendidikan atau pembelajaran yang benar dilakukan dengan cara memberitahukan bahwa persembahan yang diberikan kepada Tuhan haruslah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Sebagai contoh uang yang diberikan harulah dipersiapkan dengan baik dalam “Piring Nazar”. Anak-anak di ajarkan untuk tidak menggunakan uang dalam “Piring Nazar” sebagai uang jajan ataupun sebaliknya bahwa jangan menggunakan uang
yang berasal dari luar “Piring Nazar” untuk dipersembahkan kepada Tuhan ketika
uang yang sudah lama atau uang yang sudah jelek dengan uang yang masih baru dengan sengaja untuk diletakkan di “Piring Nazar” dan nantinya akan di bawa ke gereja.
Berdasarkan data yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa orang tua melakukan pendidikan dengan 2 cara yaitu dengan cara, yaitu dengan cara sosialisasi dan pendidikan. Model sosialisasi terlihat pada saat orang tua memberikan contoh kepada anak-anak ketika harus berdoa dan memberikan persembahan. Model pendidikan yang diberikan oleh orang tua adalah pada saat orang tua memberikan pemahaman kepada anak bahwa “Piring Nazar” harus digunakan
sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai tempat untuk berdoa dan tempat untuk mendoakan persembahan yang sudah dipersiapkan sebelum di bawa ke gereja atau ke sekolah minggu dan ibadah-ibadah lainnya.
pengalamannya sendiri. Hal yang mendorong semua ini dapat terjadi adalah didikan yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Dengan demikian pola didikan yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anak yang perlu untuk diperhatikan.
Pola didikan pertama yang dilakukan oleh orang tua adalah memberikan contoh untuk membangun sebuah kebiasaan dalam diri anak-anak sekalipun belum ada pemahaman yang benar tentang apa yang sedang dilakukan. Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Vebrianto bahwa dalam proses sosialisasi50, orang perlu untuk:
1. Individu menahan dan mengubah implus dan mengambil alih cara hidup dalam masyarakat. Dalam pola pendidikan pelaksanaan tradisi “Piring Nazar”, anak-anak menerima apa yang dilihat mereka yaitu kebiasaan-kebiasaan untuk berdoa dan memberikan persembahan. Anak-anak menerima itu dan mereka akan mengolahnya kemudian menjadikan itu sebagai suatu cara untuk hidup atau bergabung dalam suatu masyarakat. Dalam proses ini orang tua perlu untuk berhati-hati agar implus yang diberikan adalah hal-hal yang positif atau hal-hal yang baik.
2. Individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide, pola-pola nilai dan tingkah laku. Proses inilah yang paling jelas menunjukkan bahwa pola pendidikan yang telah dilakukan oleh orang tua sangat menentukan proses internalisasi tradisi “Piring Nazar” dalam pribadi mahasiswa. Pada awalnya anak-anak hanya bisa melihat kebiasaan-kebiasaan dari kedua orang tuanya, yakni setiap malam orang tuanya berdoa di depan “Piring Nazar” bersama-sama, atau pada saat malam konci taon kedua orang tuanya berdoa bersama, mendoakan saudara-saudaranya yang berada jauh dari rumah. Ide-ide yang bisa dipelajari oleh seorang anak adalah ketika ia sudah bisa memberikan kesimpulan sendiri dari pengalaman yang dilihatnya sehingga ia sadar bahwa ada ide-ide atau nilai-nilai
50
yang ia dapatkan. Ketika mahasiswa ditanya tentang nilai-nilai Kristiani apa yang mereka rasakan ketika melakukan ritual “Piring Nazar”, mereka menjawabnya berdasarkan pengalaman pribadi mereka. Pemahaman tentang nilai-nilai Kristiani tidak didapat ketika orang tua memberitahukan secara sengaja bahwa ada nilai-nilai Kristiani. Tetapi ide dan juga kesadaran akan nilai-nilai kristiani itu muncul lewat pengalaman-pengalaman pribadi yang didapatkan dari teladan yang diberikan.
3. Sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam masyarakat. Ketika anak-anak sudah tahu tentang apa yang sedang dia lakukan bersama orang tuanya. Anak-anak juga sudah mulai belajar bahwa doa merupakan nafas hidup dan persembahan merupakan suatu bentuk ungkapan syukur maka pola didikan yang diberikan oleh orang tuanya telah tertanam dalam dirinya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tradisi “Piring Nazar” yang masih
dilakukan hingga saat ini di kediaman mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana yang berasal dari Gereja Protestan Maluku.
Proses lain yang diungkapkan oleh Groome untuk mencapai internalisasi adalah dengan melewati beberapa proses yakni eksternalisasi, objektifikasi dan sampai pada internalisasi51. Internalisasi tradisi “Piring Nazar” berdasarkan pada proses yang diungkapkan oleh Groome
maka, dimulai dengan adanya kesadaran dari mahasiswa bahwa mereka hidup bersama dengan orang lain. Dalam menjalani kehidupan mereka membutuhkan keluarga sebagai bagian dari masyarakat yang terkecil agar dapat melakukan interaki sosial. Dalam proses interaksi tersebut seorang anak akan keluar dari dirinya dan masuk kedalam komunitas barunya dalam hal ini adalah keluarga. Anak akan menerima kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh komunitas yang
51
ia masuki sekarang yaitu keluarga. Kebiasaan-kebiasaan yang ada kemudian berubah menjadi aturan yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini, tradisi “Piring Nazar” awalnya dikenalkan oleh keluarga ketika seseorang masuk dalam komunitas keluarga.
Setelah ada dalam komunitas keluarga, kebiasaan-kebiasaan dari “Piring Nazar” akan menjadi aturan yang dimiliki. Hal ini tercermin ketika informan mengatakan bahwa “Piring Nazar” itu harus dulakukan karena itu sudah aturan52. Ketika seseorang yang dalam hal ini adalah mahasiswa sudah menyebutkan bahwa itu merupakan suatu keharusan dalam melaksanakan tradisi “Piring Nazar”, maka “Piring Nazar” sudah menjadi bagian dari dirinya yang tidak dapat
dipisahkan. Ketika seseorang mengatakan bahwa baginya “Piring Nazar” memiliki makna dan dapat mengajarkannya berbagai hal, maka “Piring Nazar” itu sendiri sudah ada dalam pribadinya
atau sudah menyatu dengan dirinya.
Menurut Ihromi, proses sosialisasi dilakukan dalam 2 tahapan yaitu sosialisasi primer yang dijalani individu ketika masih kecil dan sosialisasi skunder yang dilakukan oleh pendidikan dan lingkungan sosial yang lebih luas dari keluarga53. Proses sosialisai yang dilalui oleh mahasiwa hingga mereka paham tentang tradisi “Piring Nazar” adalah sosialiasasi primer. Seseorang tidak perlu harus mengikuti semua tahapan sosialisasi agar ia mengerti, tetapi dengan sosialisasi primer yang dilakukan oleh orang tua saja sudah cukup untuk memberikan pengertian kepada anak. Sehingga pendapat yang dikemukakan oleh Ihromi kurang relevan dengan kenyataan yang terjadi dalam masyarakat Maluku. Ketika masih anak-anak mereka belajar dari orang tua. Orang tua memberikan contoh dan teladan. Sosialisasi sekunder dilakukan tidak lama setelah sosialisasi primer yakni anak-anak belajar di Sekolah Minggu dan kemudian ketika mengikuti Katekisasi. Bentuk sosialisasi sekunder ini tidak dirasakan oleh semua anak. Hanya beberapa anak saja yang
52
Hasil Wawancara dengan IL tanggal 10 September 2014 53
menerima sosialisasi sekunder. Sosialisasi yang dilakukan oleh keluarga merupakan sebuah sosialisasi primer dimana anak-anak (mahasiswa) menjalani masa kecilnya dalam keluarga dan melihat adanya kebiasaan-kebiasaan dari keluarga.
Hanum menawarkan 3 metode yang dapat digunakan yaitu; Metode ganjaran dan hukuman, Metode Didactic Teaching, dan Metode Pemberian Contoh atau Keteladanan54. Sesuai dengan apa yang dijabarakan sebelumnya bahwa anak-anak belajar dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya dirumah. Maka metode yang di tawarkan oleh Hanum dalam proses sosialisasi adalah metode pemberian contoh atau keteladanan. Sejalan dengan apa yang terjadi dalam keluaraga Kristen di Ambon. Mereka memberikan contoh kepada anak-anaknya untuk melakukan tradisi “Piring Nazar”.
Pola didikan yang diberikan orang tua merupakan sebuah pola yang benar. Setiap orang tua tidak memahami bahwa ada teori yang mendukung pola didikan yang telah mereka lakukan dalam keluarga sehingga dapat dikatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh keluarga-keluarga di Ambon mendukung teori yang diungkapkan oleh para ahli tentang proses internalisasi.
Rangkuman
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa sejarah atau asal mula dari tradisi “Piring Nazar” itu sendiri tidak ada penjelasan yang baku dan pasti. Masing-masing klan
memiliki ceritanya sendiri, namun apabila diperhatikan, cerita-cerita tersebut memiliki inti yang sama yaitu pada awalnya sebelum Kekristenan masuk ke Maluku, orang-orang Maluku sudah memiliki dan menjalankan tradisi “Piring Nazar” dengan makna yang berbeda yaitu “Piring
54
Nazar” tersebut dilakukan sebagai bentuk penyembahan kepada tete-nene moyang dan juga
kepada allah-allah yang mereka miliki saat itu.
Tardisi “Piring Nazar” secara teknis atau prakteknya terdapat berbagai perbedaan. Ada keluarga yang meletakkan “Piring Nazar” diatas meja sombayang dan ada juga yang menyimpan “Piring Nazar” di dalam lemari, ketika saat-saat tertentu barulah “Piring Nazar” tersebut
dikeluarkan agar semua anggota keluarga dapat berkumpul dan berdoa bersama-sama. Perbedaan lainnya adalah dalam “Piring Nazar” ada yang menuliskan nama setiap anggota keluarga pada uang logam (koin) yang ada dalam “Piring Nazar”, karena mereka memaknai “Piring Nazar”
sebagai simbol kebersamaan. Oleh sebab itu ketika nama semua anggota keluarga ada dalam “Piring Nazar”, dapat mencerminkan bahwa semua anggota keluarga berkumpul bersama. Hal yang sangat lain dari pemaknaan tradisi “Piring Nazar” ini adalah, di beberapa tempat atau
keluarga menjadikan “Piring Nazar” ini bersifat negatif. Mereka menjadikan “Piring Nazar”
sebagai sarana untuk mengutuk dan mecelakakan orang lain yang dianggap sebagai musuh. Mahasiswa yang berasal dari GPM dan sedang berkuliah di UKSW memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang tradisi “Piring Nazar”. Walaupun demikian mereka memiliki pemahaman yang sama tentang nilai-nilai Kristiani yang terdapat dalam tradisi “Piring Nazar”. Tradisi “Piring Nazar” mengajarkan mereka untuk berdoa, memberikan persembahan yang
terbaik untuk Tuhan dan hubungan mereka dengan Tuhan lebih akrab lagi dikarenakan semua beban, pergumulan dan nazar mereka secara jujur mereka ungkapkan dalam doa mereka di depan “Piring Nazar”, tradisi “Piring Nazar” mengajarakan tentang kedisiplinan rohani serta
mengajarkan tentang berdoa dan mempersembahkan.
Setelah mengetahui adanya nilai Kristiani dalam tradisi “Piring Nazar”, maka ketika
Nazar” dengan Pendidikan Agama Kristen dalam keluarga yakni “Piring Nazar” sering
mengambil peran penting dalam ibadah-ibadah rumah tangga, ibadah BINAKEL dan sebagai sarana dalam mempersatukan tiap-tiap anggota keluarga. Tradisi “Piring Nazar” bisa dikatakan sebagai salah satu jalan atau cara untuk menurunkan dan mewariskan nilai-nilai Kristiani kepada anggota keluarga. Tradisi “Piring Nazar” diterima dengan mudah oleh masyarakat atau keluarga-keluarga di Ambon, karenakan tradisi “Piring Nazar” merupakan sebuah kenyataan budaya yang sudah ada jauh sebelum masuknya agama Kristen ke Maluku sekitar abad ke-15. Seperti yang diungkapkan oleh Pazmino bahwa jika hendak melakukan Pendidikan Agama Kristen maka salah satu fondasi dalamnya yang tidak boleh dilupakan adalah fondasi sosiologisnya. Tradisi “Piring Nazar” yang sekarang dilakukan oleh keluarga-keluarga di Ambon masih sangat relevan