• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Trust dan Perceived Of Risk terhadap keputusan Pembelian Online (Studi pada Pengguna E-Commerce Shopee di Kota Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Trust dan Perceived Of Risk terhadap keputusan Pembelian Online (Studi pada Pengguna E-Commerce Shopee di Kota Medan)"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II KERANGKA TEORI

2.1 E-commerce

2.1.1 Pengertian E-commerce

Menurut Hartman (Indrajit, 2001:1) e-commerce sebagai suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronis yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua instansi (B-to-B) maupun antarinstitusi dan konsumen langsung (B-to-C).Sedangkan defenisi e-commerce menurut Kalakota dan Whinston (Turban, 2004:4) dapat ditinjau dalam 4 perspektif berikut yaitu:

1. Dari perspektif komunikasi e-commerce adalah pengiriman barang, layanan,

informasi, atau pembayaranmelalui jaringan komputer atau melalui peralatan

elektronik lainnya.

2. Dari perspektif proses bisnis, e-commerce adalah aplikasi dari teknologi

yang menuju otomatisasi dari transaksi bisnis dan aliran kerja.

3. Dari perspektif layanan, e-commerce merupakan suatu alat yang memenuhi

keinginan perusahaan, konsumen, dan manajemen untuk memangkas biaya

layanan (service cost) ketika meningkatkan kualitas barang dan

meningkatkan kecepatan layanan pengiriman.

4. Dari perspektif online, e-commerce menyediakan kemampuan untuk

membeli dan menjual barang ataupun informasi melalui internet dan sarana

(2)

2.1.2 Dimensi E-commerce

Dimensi e-commerce menurut Choi (Turban, 2000:5) terdiri dari tiga bagian besar yang membangun dimensi tersebut, diantaranya adalah produk, perantaradan proses. Tiap bagiandimensi tersebut bisa merupakan fisik atau digital, sehingga dalam dimensi tersebut akan terdapat delapan kotak, dimana masing-masing kotak tersebut memiliki tiga dimensi. Pada e-commerce tradisional, seluruh dimensi berupa dimensi fisik (kotak pojok kiri bawah) dan pada e-commerce murni, seluruh dimensinya berupa digital (kotak pada sudut kanan atas). Sedangkan kotak-kotak lainnya merupakan gabungan dari dimensi fisik dan digital.

Gambar 2.1 Dimensi E-Commerce

Sumber: Choi (Turban, 2000:5)

Model ini dapat menjelaskan mengapa belanja online dalam sudut pandang perusahaan dapat di kategorikan menjadi e-commerce yang tidak murni dikarenakan pengantarnya dapat melalui jasa lain, seperti kurir lokal.

2.1.3 Klasifikasi E-commerce

(3)

1. Klasifikasi berdasarkan aplikasi

Pengaplikasian dari e-commerce terbagi kedalam 3 kategori menurut Turban

(2000:7) yaitu:

a. Pembelian dan penjualan barang dan jasa. Kategori ini biasanya

mengacu sebagai pasar elektronik.

b. Memfasilitasi aliran informasi, komunikasi dan kolaborasi inter dan

intra organisasi. Ini kadang-kadang disebut sebagai sistem

interorganisasional.

c. Menyediakan layanan konsumen.

2. Klasifikasi berdasarkan pola transaksi

Klasifikasi e-commerce pada sifat pola transaksinya menurut Turban

(2000:11) yaitu:

a. Business to Business (B2B)

Hampir seluruh e-commerce saat ini merupakan tipe B2B. Hal tersebut

karena tipe ini sudah termasuk transaksi IOS dan transaksi pasar

elektronik antar organisasi.

b. Business to Customer (B2C)

Secara umum, transaksi eceran melibatkan pembelanja individu dan

perusahaan yang menyediakan aplikasi e-commerce. Dalam kasus ini

belanja Online.

(4)

Dalam kategori ini, konsumen menjual produk atau jasa langsung ke

konsumen lainnya. Ada beberapa yang menjual produk atau jasa

menggunakan iklan dan setelah itu penjualan dilakukan di web site.

d. Consumer to Business (C2B)

Kategori ini termasuk individu yang menjual produk atau jasa ke

organisasi, serta individu yang mencari penjual, berinteraksi dengan

penjual tersebut, dan melakukan transaksi.

e. Non Business E-commerce

Jenis dari e-commerce ini termasuk juga institusi non-bisnis seperti

institusi akademik, organisasi non-profit, organisasi keagamaan dan

agen pemerintah yang menggunakan e-commerce untuk menekan

pengeluaran atau meningkatkan layanan pelanggan dan operasi.

f. Intrabusiness (organizational) E-commerce

Kategori ini termasuk semua aktifitas internal, biasanya dilakukan

dalam bentuk intranet yang melibatkan pertukaran produk dan jasa atau

informasi. Aktivitas internal bisa bermacam-macam, mulai dari menjual

produk korporat kepada para karyawan hingga aktivitas pelatihan

online.

2.2 Trust(Kepercayaan)

2.2.1 Pengertian Trust(Kepercayaan)

(5)

Sementara Mowen dan Minor (Sangadji dan Sopiah, 2013:201) mendefenisikan kepercayaan konsumen sebagai semua pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen, dan semua kesimpulan yang dibuat oleh konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya. Objek dapat berupa produk, orang, perusahaan, atau segala sesuatu yang padanya seseorang memiliki kepercayaan dan sikap. Atribut adalah karakteristik atau fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek. Terdapat dua macam atribut, yaitu atribut intrinsik dan atribut ekstrinsik. Atribut intrinsik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sikap aktual produk, sedangkan atribut ekstrinsik adalah segala sesuatu yang diperoleh dari segala aspek eksternal produk, seperti nama merek, kemasan, dan label. Manfaat adalah hasil positif yang diberikan atribut kepada konsumen.

Dari kedua defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kepercayaan konsumen adalah kekuatan pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat konsumen bahwa produk mempunyai objek, atribut, dan manfaat (Sangadji dan Sopiah, 2013:202).

(6)

bahwa kepuasan konsumen akan mempengaruhi kepercayaan konsumen dalam hubungan pertukaran industri.

Hubungan dekat antara penjual dan pembeli semacam ini seharusnya tidak terbatas pada skala antar perusahaan. Praktek-praktek semacam inipun seharusnya juga diterapkan pada hubungan antara merek dengan konsumen karena merek merupakan salah satu pilar dalam suatu hubungan jangka panjang antara konsumen dan penjual, di samping itu tujuan merek adalah untuk menciptakan hubungan dengan pelanggannya (Aaker dan Joachimsthler, Ferrinadewi, 2008:147).

Menurut Luarn dan Lin (Ferrinadewi, 2008:147) kepercayaan adalah sejumlah keyakinan spesifik terhadap integritas (kejujuran pihak yang dipercaya dan kemampuan menepati janji), benevolence (perhatian dan motivasi yang dipercaya untuk bertindak sesuai dengan kepentingan yang mempercayai mereka), competency (kemampuan pihak yang dipercaya untuk melaksanakan kebutuhan yang mempercayai) dan predicttability (konsistensi perilaku pihak yang dipercaya).

Dalam riset Costabile (Ferrinadewi, 2008:147) kepercayaan atau trust didefenisikan sebagai persepsi akan kehandalan dari sudut pandang konsumen didasarkan pada pengalaman, atau lebih pada urut-urutan transaksi atau interaksi yang dicirikan oleh terpenuhinya harapan akan kinerja produk dan kepuasan. Menurut teori kepercayaan-komitmen, Morgan dan Hunt (Ferrinadewi, 2008:148) kepercayaan adalah variabel kunci dalam mengembangkan keinginan yang tahan lama untuk terus mempertahankan hubungan jangka panjang, dalam hal ini merek tertentu, Garbarino dan Johnson dalam (Costabile,2002) menerangkan bahwa kepuasan dan kepercayaan memainkan peran yang berbeda dalam memprediksikan intensi konsumen dimasa depan.

(7)

Menurut McKnight et. al. (2002), kepercayaan antara pihak-pihak yang belum saling mengenal baik dalam interaksi maupun proses interaksi, ada dua dimensi kepercayaan konsumen yaitu:

1. Trusting Belief

Trusting Belief adalah sejauh mana seseorang percaya dan merasa yakin

terhadap orang lain dalam suatu situasi. Trusting Beliefadalah persepsi pihak

yang percaya (konsumen) terhadap pihak yang dipercaya (penjual toko

maya) yang mana penjual memiliki karakteristik yang akan menguntungkan

konsumen.

Tiga elemen membangun trusting belief, yaitu: benevolence, integrity,

competence.

a. Benevolence (niat baik) berarti seberapa besar seseorang percaya kepada

penjual untuk berperilaku baik kepada konsumen.

b. Integrity (integritas) adalah seberapa besar keyakinan seseorang

terhadap kejujuran penjual untuk menjaga dan memenuhi kesepakatan

yang telah dibuat kepada konsumen.

c. Competence (kompetensi) adalah keyakinan sesesorang terhadap

kemampuan yang dimiliki penjual untuk membantu konsumen dalam

melakukan sesuatu sesuai dengan yang dibutuhkan konsumen tersebut.

Esensi dari kompetensi adalah seberapa besar keberhasilan penjual

untuk menghasilkan hal yang diinginkan oleh konsumen. Inti dari

kompetensi adalah kemampuan penjual untuk memenuhi kebutuhan

konsumen.

(8)

Trusting Intention adalah suatu hal yang disengaja dimana seseorang siap

bergantung pada orang lain dalam suatu situasi, ini terjadi secara pribadi dan

mengarah langsung kepada orang lain. Trusting Intention didasarkan pada

kepercayaan kognitif seseorang kepada orang lain.

Dua elemen yang membangun Trusting Intention yaitu: willingness to depend dan subjective probability of depending.

a. Willingness to depend adalah kesediaan konsumen untuk bergantung

kepada penjual berupa penerimaan risiko atau konsekuensi negatif yang

mungkin terjadi.

b. Subjective probability of depending subjective probability of depending

adalah kesediaan konsumen secara subjektif berupa pemberian

informasi pribadi kepada penjual, melakukan transaksi, serta bersedia

untuk mengikuti saran atau permintaan penjual.

2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan

Menurut Ryan (2008:32) untuk meningkatkan kepercayaan yang dirasakan dari situs web dan vendor onlineserta fungsi yang dirasakan dari sistem e-commerceterdapat tiga kategori instrumen yang dapat membantu untuk membuat hubungan kerjasama yang lebih efisien dengan menerapkan informasi yaitu:

1. Information Policies (Kebijakan Informasi)

Kebijakan informasi bertujuan untuk mengurangi ketidaksamaan informasi

antara penjual dan pembeli dengan menerapkan berbagai langkah-langkah

komunikatif seperti periklanan, pemasaran langsung dan hubungan

masyarakat. Dalam konteks internet, kebijakan informasi dapat berhubungan

(9)

infrastruktur teknologi yang mendasari. Situs memediasi hubungan antara

konsumen dan organisasi pedagang, desain situs web adalah sangat penting

untuk mendorong kepercayaan. Website ini menyediakan petunjuk penting

untuk konsumen online yang digunakan sebagai penilaian mereka tentang

efisiensi dan keandalan pengecer online, yang didasarkan pada kualitas

informasi tentang isu-isu kunci seperti biaya pengiriman, ketertiban dan

kebijakan privasi, ganti rugi. Pada kepercayaan online termasuk

direkomendasikan untuk mendesain homepage yang memadai dan

informatif.

2. Guarantee Policies (Kebijakan Jaminan)

Kebijakan jaminan berhubungan dengan janji untuk membatasi atau

kompensasi untuk kerusakan yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa

negatif yang tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan oleh para pihak.

Kebijakan jaminan tersebut dapat menutupi kemungkinan pengembalian,

pengembalian uang, masalah keamanan, kehilangan kartu kredit dan

sebagainya. Menyediakan pilihan pengembalian uang dan uang kembali

dapat mengurangi risiko yang dirasakan transaksi online. Jaminan uang

kembali bekerja lebih baik sebagai sinyal kepercayaan di toko-toko online

daripada di dunia nyata. Jaminan kebijakan lebih efektif untuk membangun

kepercayaan dalam e-commerce yang berfokus pada faktor-faktor hukum,

teknis dan organisasi pasar elektronik dan menentukan standar yang ketat

untuk keamanan, perlindungan data, transparansi penggunaan data dan

sebagainya.

(10)

Reputasi dapat didefenisikan sebagai representasi kolektif dari tindakan

masa lalu vendor yang mencakup kemampuan vendor untuk memberikan

hasil yang berharga untuk stakeholder. Karena reputasi penjual dibentuk

berdasarkan kinerja masa lalu dengan pembeli, maka hal ini dapat membantu

konsumen untuk menilai kemungkinan perilaku vendor dalam transaksi di

waktu lain. Penerbitan testimonial konsumen pada website dan

mempertahankan komunikasi virtual di mana pelanggan dapat berbagi

pengalaman mereka juga dianggap sebagai sarana yang menandai untuk

meningkatkan reputasi vendoronline. Perusahaan juga harus menyatakan

sejarah mereka dan pengembangan website, misalnya “Tentang Kami”

bagian dari situs web yang menunjukkan pelanggan bahwa mereka telah

beroperasi untuk beberapa waktu di internet.Trust konsumen dipengaruhi

oleh informasi ataupun kebijakan yang diberikan oleh perusahaan.

Kebijakan itu berupa informasi, jaminan dan reputasi dari produk yang

ditawarkan. Dengan demikian, informasi sangat dibutuhkan oleh konsumen

untuk melakukan pembelian, baik itu informasi mengenai harga, produk dan

(11)

2.3Perceived Of Risk (Persepsi Risiko)

2.3.1 Pengertian Perceived Of Risk (Persepsi Risiko)

Menurut Dowling (Ferrinadewi, 2008:58) persepsi risiko adalah persepsi negatif konsumen atas sejumlah aktivitas yang didasarkan pada hasil yang negatif dan kemungkinan bahwa hasil tersebut menjadi nyata. Berdasarkan hal tersebut ada 2 poin penting yang perlu dicermati yaitu adanya hasil negatif akibat keputusan tertentu dan kemungkinan hasil tersebut terjadi. Kedua hal tersebut merupakan masalah yang senantiasa dihadapi konsumen dan menciptakan suatu kondisi yang tidak pasti atau uncertainty misalkan ketika konsumen menentukan pembelian produk baru.

Perceived of risk berarti keyakinan subyektif individu tentang potensi konsekuensi negatif dari keputusan yang diambil konsumen (Samadi & Ali, 2009). Diketahui bahwa para konsumen dipengaruhi oleh berbagai risiko yang mereka rasakan, apakah risiko itu betul-betul ada atau tidak. Mengahadapi tingginya persepsi konsumen terhadap risiko merek, maka pemasar dapat melakukan upaya-upaya untuk mengurangi bahkan memperbaiki citra toko atau merek karena konsumen cenderung percaya bahwa kedua hal tersebut dapat mengurangi risiko pembelian, menyediakan informasi sebanyak-banyaknya pada konsumen, menyesuaikan harga produk artinya harga produk sebaiknya dikurangi ketika produk tersebut merupakan produk langka sehingga konsumen merasa berkurangnya risiko keuangan yang harus ditanggungnya atau menaikkan harga produk jika terdapat banyak pesanan di pasar dengan maksud menciptakan persepsi dalam benak konsumen bahwa merek tersebut memiliki kualitas unggul.

(12)

terhadap pengorbanan. Stimuli yang diajukan Dodds adalah nama merek, nama toko, dan tujuan harga. Seperti ditunjukkan pada model pada gambar berikut :

Gambar 2.2

Conceptual Model The Effect of Price, Brand Name and Store Name on Product Evaluation

Sumber: Dodds et al., (Ferrinadewi, 2008:60)

Berdasarkan model yang diusulkan oleh Dodds, keinginan konsumen untuk membeli merupakan fungsi dari persepsi terhadap nilai produk. Persepsi konsumen terhadap nilai produk merupakan fungsi dari persepsi konsumen terhadap nilai trade off antara persepsi konsumen terhadap kualitas dan persepsi konsumen terhadap pengorbanan. Persepsi konsumen terhadap kualitas produk merupakan fungsi dari berbagai stimuli yaitu nama merk, nama toko, dan harga.

Persepsi konsumen terhadap kualitas adalah penilaian konsumen secara menyeluruh terhadap kinerja produk atau jasa. Dalam melakukan penilaian terhadap kinerja produk, kemampuan konsumen untuk melakukan penilaian sangat tergantung pada apakah atribut-atribut intrinsik produk dapat dirasakan dan dievaluasi pada saat hendak melakukan pembelian.

Persepsi konsumen terhadap kualitas adalah penilaian konsumen secara menyeluruh terhadap kinerja produk atau jasa. Dalam melakukan penilaian terhadap kinerja produk, kemampuan konsumen untuk melakukan penilaian sangat

(13)

tergantung pada apakah atribut-atribut intrinsik produk dapat dirasakan dan dievaluasi pada saat hendak melakukan pembelian. Misalkan, ketika konsumen hendak membeli jam tangan, dapatkah atribut-atribut intrinsik jam tangan tersebut seperti bahan dasar pembuatnya, komponen yang digunakan, ketepatan mekanisnya dirasakan. Keterbatasan konsumen ini disebabkan karena terbatasnya pengetahuan mereka tentang cara pembuatannya atau bahkan konsumen tidak memiliki cukup banyak waktu untuk melakukan penilaian. Akibatnya konsumen cenderung untuk mengandalkan atribut-atribut ekstrinsik seperti nama merek, nama toko dan harga dalam mengevaluasi kualitas produk. Atribut-atribut ekstrinsik produk ini berperan sebagai jalan pintas yang menyediakan sejumlah informasi bagi konsumen dalam melakukan evaluasi.

Persepsi terhadap harga. Konsumen tidak hanya menggunakan harga sebagai indikator kualitas tapi juga sebagai indikator kualitas tapi juga sebagai indikator biaya yang dikorbankan Dodds et.al, Zeithmal (Ferrinadewi, 2008). Harga dipandang sebagai indikator biaya ketika konsumen harus mengorbankan sejumlah uang untuk ditukar dengan produk atau manfaat produk. Secara teoritis, konsumen memiliki apa yang disebut dengan budget constraints, karena itu semakin tinggi harga produk maka semakin besar pula pengorbanan yang dirasakan konsumen.

(14)

yang positif dengan persepsi dengan persepsi terhadap nilai dan persepsi terhadap pengorbanan.

2.3.2 Dimensi Perceived Of Risk (Persepsi Risiko)

Menurut (Ye Naiyi, 2004) dimensi persepsi risiko dalam online shopping adalah sebagai berikut:

1. Fraud Risk, mengacu pada perhatian konsumen mengenai kepercayaan

terhadap penjual pada online shopping.

2. Delivery Risk, mengacu pada perhatian konsumen mengenai proses

pengiriman barang.

3. Financial Risk, mengacu pada perhatian konsumen mengenai kemungkinan

kehilangan uang ketika berbelanja melalui internet.

4. Process dan Time Risk, mengacu pada pandangan terhadap waktu,

kemudahan dan kenyamanan konsumen mengenai berbelanja melalui

internet.

5. Product Risk, mengacu pada produk, kinerjanya, kepalsuan produk dan

masalah lain dan berhubungan dengan produk tersebut.

6. Privacy Risk, mengacu pada perhatian konsumen mengenai keamanan dan

informasi pribadi ketika berbelanja secara online.

7. Information Risk, mengacu pada perhatian konsumen terhadap

ketidakpuasan informasi mengenai penjual ataupun produk.

2.4 Keputusan Pembelian

2.4.1 Pengertian Keputusan Pembelian

(15)

mendefinisikan bahwa inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternatif atau lebih, dan memilih salah satu di antaranya. Hasil dari pengintegrasian ini adalah suatu pilihan yang disajikan secara kognitif sebagai keinginan berperilaku. Menurut Kotler dan Amstrong (2008:181), keputusan pembelian (purchase decision) konsumen adalah keputusan pembeli tentang merek yang paling disukai. Dalam menentukan keputusan pembelian akan dihadapkan pada berbagai alternatif pilihan. Dari penjelasan dia atas dapat ditarik kesimpulan bahwa semua perilaku sengaja dilandaskan pada keinginan yang dihasilkan ketika konsumen secara sadar memilih salah satu di antara tindakan alternatif yang ada.

Schiffman dan Kanuk (2000) mengemukakan empat macam perspektif model manusia (model of man). Model manusia yang dimaksud adalahsuatu model tingkah laku keputusan dari seorang individu berdasarkan empat perspektif, yaitu manusia ekonomi (economic man), manusia pasif (passive man), manusia kognitif (cognitive man), dan manusia emosional (emotional man). Model manusia ini menggambarkan bagaimana dan mengapa seorang individu berperilaku seperti apa yang mereka lakukan.

2.4.2 Pihak-pihak yang Terlibat dalam Keputusan Pembelian

Menurut Bilson Simamora (2004:15), ada sejumlah orang yang memiliki

keterlibatan dalam keputusan pembelian, yaitu sebagai berikut:

1. Pengambilan inisiatif (initiator), individu yang mempunya inisiatif

pembelian barang tertentu atau yang mempunyai kebutuhan atau keinginan

tetapi tidak mempunyai wewenang untuk melakukan sendiri.

2. Orang yang mempengaruhi (influencer), individu yang mempengaruhi

(16)

3. Pembuat keputusan (decider), individu yang memutuskan apakah akan

membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya, kapan

dan dimana membelinya.

4. Pembeli(buyer), individu yang melakukan pembelian yan sebenarnya.

5. Pemakai (user), individu yang menikmati atau memakai produk atau jasa

yang dibeli.

2.4.3 Proses Keputusan Pembelian

Proses pengambilan keputusan konsumen dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.3

Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

Sumber: Kotler dan Armstrong (2001) dalam (Sangadji dan Sopiah, 2013:36)

Proses yang digunakan konsumen untuk mengambil keputusan membeli terdiri atas lima tahap Kotler dan Armstrong (Sangadji dan Sopiah, 2013:36), yaitu :

1. Pengenalan Masalah

Pengenalan masalah merupakan tahap pertama dari proses pengambilan

keputusan pembeli di mana konsumen mengenali suatu masalah atau

kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan nyata dengan

Problem Recognition

Information Search Alternative Evaluation

Product Choice

(17)

keadaan yang diinginkan. Pada tahap ini pemasar harus meneliti konsumen

untuk menemukan jenis kebutuhan atau masalah apa yang akan muncul, apa

yang memunculkan mereka, dan bagaimana, dengan adanya masalah

tersebut, konsumen termotivasi untuk memilih produk tertentu.

2. Pencarian Informasi

Konsumen yang tertarik mungkin akan mencari lebih banyak informasi.

Apabila dorongan konsumen begitu kuat dan produk yang memuaskan

berada dalam jangkauan, konsumen kemungkinan besar akan membelinya.

Namun jika produk yang diinginkan berada jauh dari jangkauan, walaupun

konsumen mempunyai dorongan yang kuat, konsumen mungkin akan

menyimpan kebutuhannya dalam ingatan atau melakukan pencarian

informasi. Pencarian informasi (information search) merupakan tahap proses

pengambilan keputusan pembelian di mana konsumen telah tertarik untuk

mencari lebih banyak informasi. Dalam hal ini, konsumen mungkin hanya

akan meningkatkan perhatian atau aktif mencari informasi. Konsumen dapat

memperoleh informasi dari sumber mana pun, misalnya:

a. Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga, kenalan;

b. Sumber komersial: iklan, wiraniaga, dealer, kemasan, pajangan;

c. Sumber publik: media massa, organisasi penilai pelanggan;

d. Sumber pengalaman: menangani, memerikasa, dan menggunakan

produk.

3. Evaluasi Berbagai Alternatif

Pemasar perlu mengetahui evaluasi berbagai alternatif alternative

(18)

pembelian di mana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi

merek-merek alternatif dalam satu susunan pilihan. Bagaimana konsumen

mengevaluasi alternatif pembelian tergantung pada konsumen individu dan

situasi pembelian tertentu. Pemasar harus mempelajari pembeli untuk

mengetahui bagaimana mereka mengevaluasi alternatif merek. Jika mereka

tahu bahwa proses evaluasi sedang berjalan, pemasar dapat mengambil

langkah-langkah untuk mempengaruhi keputusan pembelian.

4. Keputusan pembelian

Keputusan pembelian merupakan tahap dalam proses pengambilan

keputusan pembelian sampai konsumen benar-benar membeli produk.

Biasanya keputusan pembelian konsumen (purchase decision) adalah

pembelian merek yang paling disukai. Namun demikian, ada dua faktor yang

bisa muncul di antara niat untuk membeli dan keputusan pembelian yang

mungkin mengubah niat tersebut. faktor pertama adalah sikap orang lain;

faktor kedua adalah situasi yang tidak diharapkan. Jadi, pilihan niat untuk

membeli tidak selalu menghasilkan pilihan pembelian yang aktual.

5. Perilaku Pascapembelian

Tugas pemasar tidak berakhir ketika produknya sudah dibeli konsumen.

Setelah membeli produk, konsumen bisa puas atau tidak puas, dan akan

terlibat dalam perilaku pascapembelian (post-purchase behaviour) yang

tetap menarik bagi pemasar. Perilaku pascapembelian merupakan tahap

(19)

mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan kepuasan atau

ketidakpuasan yang mereka rasakan. Hubungan antara harapan konsumen

denagn kinerja yang dirasakan dari produk merupakan faktor yang

menentukan apakah pembeli puas atau tidak. Jika produk gagal memenuhi

harapan, konsumen akan kecewa; jika harapan terpenuhi, konsumen akan

puas; jika harapan terlampaui, konsumen akan sangat puas.

Konsumen mendasarkan harapan mereka pada informasi yang mereka terima

dari penjual, teman, dan sumber lainnya. Jika penjual melebih-lebihkan

kinerja produknya, harapan konsumen tidak akan terpenuhi, dan hasilnya

adalah ketidakpuasan. Semakin besar kesenjangan antara harapan dengan

kinerja, semakin besar ketidakpuasan konsumen. Hal ini menunjukkan

bahwa penjual harus membuat pernyataan yang jujur mengenai kinerja

produknya sehingga pembeli bisa terpuaskan.

Proses pembelian dimulai jauh sebelum pembelian aktual dan terus

berlangsung lama sesudahnya. Pemasar perlu memusatkan perhatian pada

proses pembelian dan bukan pada keputusan pembelian saja.

2.4.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu (1) faktor internal, (2) faktor eksternal, dan (3) faktor situasional.

1. Faktor Internal (faktor pribadi)

Pengaruh faktor internal atau faktor pribadi (persepsi, keluarga, motivasi dan

keterlibatan, pengetahuan, sikap, pembelajaran, kelompok usia, dan gaya

hidup) kerap memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan

(20)

diungkapkan baik melalui kelompok acuan maupun melalui komunikasi

lisan Engel (Sangadji dan Sopiah, 2013:41)

a. Persepsi

Persepsi adalah proses individu untuk mendapatkan, mengorganisasi,

mengolah, dan menginterpretasikan informasi. Informasi yang sama

bisa dipersepsikan berbeda oleh individu yang berbeda. Persepsi

individu tentang informasi tergantung pada pengetahuan, pengalaman,

pendidikan, minat, perhatian, dan sebagainya.

b. Keluarga

Keluarga atau famili adalah kelompok yang terdiri atas dua orang atau

lebih yang berhubungan melalui darah, perkawinan, adopsi, dan tempat

tinggal Engel (Sangadji dan Sopiah, 2013:42). Keluarga mempunyai

pengaruh yang sangat kuat pada perilaku pembeli. Hal ini dapat

dimaklumi karena dalam suatu keluarga antara satu anggota keluarga

dengan anggota keluarga yang lain mempunyai pengaruh dan peranan

yang sama pada saat melakukan pembelian sehari-hari.

c. Motivasi dan Keterlibatan

Sumarwan (Sangadji dan Sopiah, 2013:43) menyimpulkan bahwa

motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh

konsumen. Kebutuhan sendiri muncul karena konsumen merasakan

ketidaknyamanan (state of tension) antara yang seharusnya dirasakan

dan yang sesungguhnya dirasakan. Kebutuhan yang dirasakan tersebut

mendorong seseorang untuk melakukan tindakan untuk memnuhi

(21)

d. Pengetahuan

Secara umum, pengetahuan dapat didefenisikan sebagai informasi yang

disimpan di dalam ingatan. Himpunan bagian dari informasi total yang

relevan dengan fungsi konsumen di dalam pasar disebut pengetahuan

konsumen Engel dalam (Sangadji dan Sopiah, 2013:43)

Menurut Engel (Sangadji dan Sopiah, 2013:43), pengetahuan konsumen

dibagi dalam tiga bidang umum, yaitu pengetahuan produk (product

knowledge), pengetahuan pembelian (purchase knowledge), dan

pengetahuan pemakaian (usage knowledge).

e. Sikap

Sikap sering terbentuk sebagai hasil dari kontak langsung dengan objek

sikap Engel (Sangadji dan Sopiah, 2013:44).

f. Pembelajaran

Mangkunegara (Sangadji dan Sopiah, 2013:45) menjelaskan bahwa

secara umum ada tiga teori belajar, yaitu (1) teori stimulus respons, (2)

teori kognitif, dan (3) teori gestalt dan lapangan.

g. Kelompok usia

Usia mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan.

Anak-anak mengambil keputusan dengan cepat, cenderung tidak terlalu

banyak pertimbangan. Ketika membuat keputusan, remaja sudah mulai

mempertimbangkan beberapa hal. Mereka cenderung emosional.

Keputusan pembelian produk yang dibuat orang tua cenderung

rasioanal, banyak yang dipertimbangkan (Sangadji dan Sopiah,

(22)

h. Gaya hidup

Gaya hidup menunjukkan bagaimana seseorang menjalankan hidup,

membelanjakan uang, dan memanfaatkan waktunya (Sangadji dan

Sopiah, 2013:46). Gaya hidup dalam pandangan ekonomi menunjukkan

bagaimana seorang individu mengalokasikan pendapatannya dan

bagaimana pola konsumsinya.

2. Faktor eksternal

a. Budaya

Menurut Engel (Sangadji dan Sopiah, 2013:47) dalam proses sosialisasi

yang terjadi dalam suatu masyarakat, budaya mengacu pada seperangkat

nilai, gagasan, artefak, dan simbol bermakna lainnya yang membantu

individu berkomunikasi, menafsirkan, dan membantu evaluasi sebagai

anggota masyarakat. Menurut Kotler (Sangadji dan Sopiah, 2013:47),

kebudayaan adalah sumber yang paling dasar dari keinginan dan tingkah

laku seseorang.

b. Kelas sosial

Menurut Engel (Sangadji dan Sopiah, 2013:48) menyatakan bahwa

kelas sosial mengacu pada pengelompokan orang yang sama dalam

perilaku berdasarkan posisi ekonomi mereka dalam pasar. Kelas sosial

ditentukan oleh banyak faktor, antara lain pekerjaan, prestasi pribadi,

interaksi, pemilikan, orientasi nilai, dan kesadaran kelas.

(23)

Setiap orang akan bergabung dengan kelompok-kelompok tertentu.

Alasan bergabungnya individu dengan suatu kelompok bisa

bermacam-maca, misalnya karena adanya kesamaan hobi, profesi, pendidikan,

suku, etnis, budaya, agama, bangsa, dan lain-lain. Suatu kelompok akan

memengaruhi perilaku anggotanya, termasuk dalam pengambilan

keputusan pembelian produk (Sangadji dan Sopiah, 2013:49).

3. Faktor situasional

Situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang

khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik

konsumen dan karakteristik objek, menurut Engel (Sangadji dan Sopiah,

2013:49).

Engel (Sangadji dan Sopiah, 2013:49) menjelaskan bahwa situasi konsumen

sebenarnya dapat dipisahkan menjadi tiga, yaitu situasi komunikasi, situasi

pembelian, dan situasi pemakaian. Situasi komunikasi dapat didefenisikan

sebagai latar konsumen ketika dihadapkan pada komunikasi pribadi atau

nonpribadi. Komunikasi pribadi akan mencakup percakapan yang mungkin

diadakan oleh konsumen dengan orang lain seperti wiraniaga atau sesama

konsumen. Komunikasi nonpribadi akan melibatkan spektrum stimulus

seperti iklan dan program, serta publikasi yang berorientasi konsumen.

2.5 Keputusan Pembelian Online 2.5 1 Belanja Online

(24)

pengguna jejaring sosial ini tidak terlepas dari perkembangan penggunaan media ini yang semakin meningkat di tingkat global. Penggunaan internet sebagai saluran pembelian yang semula cenderung untuk komunikasi pemasaran dan pencitraan, kini digunakan sebagai transaksi pembelian. Karena aspek kepraktisan ini para konsumen tertarik untuk berbelanja melalui internet.

Menurut Kotler dan Amstrong (2008:181), keputusan pembelian (purchase decision) konsumen adalah keputusan pembeli tentang merek yang paling disukai. Dalam menentukan keputusan pembelian akan dihadapkan pada berbagai alternatif pilihan. Suatu onlineshop, e-store, internet shop, web shop, web store dan virtual store dapat dianalogikan dengan pembelian fisik jasa atau produk di toko retail atau di suatu mal pusat perbelanjaan. Belanja online adalah bentuk perdagangan elektronik yang digunakan pada transaksi Business-to-Business (B2B) dan Business- to-Consumer (B2C).

Belanja online dapat dilakukan dengan menggunakan media. Beberapa media belanja online di Indonesia, yaitu:

1. Blog

Salah satu media yang menampilkan belanja online antara lain adalah blog.

Blog merupakan layanan web gratis dimana pelaku usaha online

menggunakan blog sebagai toko online yang penjual miliki untuk menjual

sekaligus mempromosikan barang dan jasa yang ditawarkan kepada calon

konsumen. Karena sifatnya yang mudah di kustomisasi oleh penggunanya,

maka belanja online melalui media blog cukup riskan karena pembeli cukup

sulit mengetahui reputasi dari penjual. Biasanya penjual mengunggah

bukti-bukti transfer yang dimiliki sebagai bentuk jaminan kepada pelanggan untuk

(25)

2. Situs web

Ada banyak situs web yang menyediakan layanan belanja daring baik web

lokal maupun web internasional. Biasanya terdapat keranjang belanja,

dimana calon pembeli dapat memilih produk yang akan dibeli. Selain

dengan keranjang belanja, pembeli juga dapat langsung menghubungi

penjual agar transaksi langsung dapat dilakukan melalui telepon atau e-mail

seperti yang dilakukan oleh jasa pembuatan toko online. Ada banyak hal

yang dapat dilakukan dilayanan belanja daring melalui web, diantaranya

yang terkenal adalah lelang. Lelang merupakan kegiatan belanja daring

dimana pembeli menetapkan batas bawah suatu harga yang hendak dilelang,

kemudian sang pembeli yang tertarik dapat menawar sesuai kelipatan yang

diajukan. Lelang biasanya pada periode tertentu sehingga pembeli dengan

nominal tertinggi dinyatakan berhak membeli barang yang diinginkan sesua

dengan harga yang pembeli ajukan.

3. Situs Jejaring Sosial

Seiring dengan maraknya penumbuhan situs jejaring sosial di dunia, media

social networking ini juga dilirik oleh pelaku belanja daring untuk

memasarkan produknya. Penjual akan mengunggah barang yang ditawarkan

kemudian melalui messaging atau fitur photo sharing. Bentuk penawaran ini

merupakan perkembangan dari media katalog yang tadinya disebarkan

dalam bentuk media cetak per bulan, kini disebarkan mealui media katalog

online yang penawarannya dapat di update kapan saja.

(26)

Dalam model perilaku konsumen online menurut Turban (Adi, 2013:39) menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dan model perilaku pembelian online tersebut dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Keputusan membeli konsumen online sebagai variabel tergantung

dipengaruhi oleh dua variabel yang tidak dapat dikendalikan sebagai

variabel bebas, yaitu variabel pertama meliputi: Karakteristik konsumen,

lingkungan serta penjual dan perantara. Variabel kedua meliputi variabel

karakteristik produk atau jasa dan sistem dalam e-commerce. Kedua variabel

bebas yang tidak dapat dikendalikan itu mempengaruhi keputusan membeli

konsumen online.

2. Keputusan membeli konsumen meliputi: maksud, pembelian dan pembelian

ulang.

3. Karakteristik konsumen meliputi: umur, gender, etnik, pendidikan, masalah

psikologi, pengetahuan, nilai-nilai yang dianutnya, kepuasan, pengalaman

sebelumnya, preferensi, kebiasaan, kepercayaan, sikap, inovasi dan

kepribadian.

4. Karakteristik lingkungan meliputi: budaya, pengaruh sosial yang bersifat

normatif, pengaruh sosial yang bersifat informasional, hukum, institusional,

pemerintah, regulasi dan politik.

5. Karakteristik penjual dan perantara: reputasi merek, kepercayaan, kebijakan

dan prosedur, kompensasi dan apologi.

6. Karakteristik produk atau jasa meliputi: pengetahuan mengenai produk atau

jasa, tipe produk atau jasa, ketersediaan produk atau jasa, penyesuaian

(27)

7. Sistem e-commerce menyangkut: pembayaran dan dukungan logistic

meliputi diantaranya: opsi pembayaran, opsi pengiriman barang, ketepatan

dan kecepatan pengiriman pesanan, kondisi barang saat diterima, keamanan

dan privasi. Fitur website: akurasi, kebaruan, presentasi informsi,

kelengkapan, desain yang sederhana, navigasi, konsistensi, mudah

digunakan dan mudah diakses.

8. Layanan pelanggan: ada FAQ, email dan personalisasi.

2.6 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah model tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah teridentifikasi sebagai masalah. Keputusan pembelian onlinedipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kepercayaan terhadap produk dan persepsi akan risiko yang akan diterima. Kedua faktor ini merupakan faktor yang biasanya menjadi suatu pertimbangan oleh pelanggan untuk akhirnya memutuskan suatu pembelian terhadap produk.

Kepercayaan merupakan dasar suatu hubungan dua orang atau lebih dalam bekerja sama. Dalam transaksi online, kepercayaan muncul ketika pihak yang terlibat telah mendapat kepastian dari pihak lainnya, serta mau dan bisa memberikan kewajibannya. Kepercayaan melibatkan ketersediaan orang lain untuk bertingkah laku tertentu karena keyakinan bahwa mitranya akan memberikan apa yang diharapkan dan harapan yang umumnya dimiliki seseorang bahwa kata, janji atau pernyataan orang lain dapat diperlihatkan secara umum dalam suatu hubungna diperlukannya kepercayaan.

(28)

pengiriman, barang yang tidak sesuai dan ada juga mengenai faktor security dan privacy.

Dalam proses pembeliannya, konsumen akan dihadapkan pada beberapa pilihan. Belanja online cukup dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kepercayaan akan produk, dan persepsi risiko yang disebabkan karena sifat transaksi yang tidak bertemu langsung antara penjual dan pembeli. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat digambarkan kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 2.4

Penelitian-penelitian terdahulu yang digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian ini antara lain:

1. Fera Novita (2017) melakukan penelitian berjudul, “Pengaruh Kepercayaan,

Iklan (Advertising), dan Persepsi Risiko (Perceived Risk) Terhadap

Keputusan Pembelian Secara Online Pada Ibu Muda Kelas Menengah di

Perumahan Johor Indah Permai 1 Medan”. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa berdasarkan uji F, variabel independen yang terdiri dari variabel

Kepercayaan, Iklan (Advertising), dan Persepsi Risiko (Perceived Risk)

secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan

pembelian.

Keputusan Pembelian (Y)

Persepsi Risiko (X2) Kepercayaan

(29)

2. Haryosasongko (2015) melakukan penelitian berjudul, “Pengaruh Persepsi

Risiko, Persepsi Kemudahan, Dan Persepsi Manfaat Terhadap Minat

Pembelian Online Pada Website Lazada.co.id di kota Malang”. Hasil

penelitian menyatakan bahwa persepsi risiko memiliki pengaruh signifikan

terhadap minat pembelian online.

3. Maya Sari Puspa (2015), melakukan penelitian berjudul, “Pengaruh

Kepercayaan, Kemudahan, dan Kualitas Informasi Terhadap Keputusan

Pembelian Secara Online Di Situs Lazada.co.id Pada Mahasiswa/i Fakultas

Ekonomi dan Bisnis USU”. Hasil pengujian hipotesis penelitian

menunjukkan bahwa variabel kepercayaan, kemudahan dan kualitas

informasi secara simultan maupun parsial berpengaruh positif dan signifikan

terhadap keputusan pembelian secara online di situs lazada.co.id pada

Mahasiswa/i Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU.

4. Putri Eka Sari (2015), melakukan penelitian berjudul, “Analisis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen Pada Pembelian

Produk-Produk Online Shop (Studi Pada Mahasiswa-Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial

Dan Politik Universitas Sumatera Utara)”. Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa harga, kepercayaan, advertising dan kualitas prosuk berdampak

positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk-produk online

shop dan faktor kepercayaan menjadi faktor yang paling dominan dalam

penelitian ini yaitu dengan nilai thitung> ttabel yakni 2.911 > 1.990.

5. Dwi Putra Jati Ariwibowo (2013), melakukan penelitian berjudul, “Pengaruh

(30)

E-Commerce”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh

Gambar

Gambar 2.2 Conceptual Model The Effect of Price, Brand Name and Store Name on Product
Gambar 2.3
Gambar 2.4 Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Besar sudut keliling-sudut keliling yang menghadap busur yang sama adalah sama besar Sudut- sudut pusat berbanding sebagai p : q, maka perbandingan panjang busurnya dan

Fokus penelitian yang meliputi standar pelayanan Surat Izin Mengemudi, yakni prosedur pelayanan, waktu penyelesaian, biaya pelayanan, produk pelayanan, sarana dan

penampilan yang dapat dibaca dari foto-foto penampilan Jalan kepang di Sawahlunto ini antara lain adalah: (1) properti dan spektakel penampilan; (2) kostum yang dikenakan

Untuk indicator ketersediaan dan kompetensi kepala sekolah dinyatakan bahwa masih ada sekolah jenjang SMP pada kategori menuju SNP 1 sebesar 6,49 % dan sudah SNP sebesar 19,48

Dengan kata lain gangguan pada tempat tersebut akan dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam membuka mulut atau rahang disamping rasa nyeri yang timbul saat melakukan

Simalungun Dalam Angka 2005.. Badan

Pada babak penyisihan akan diambil 10 tim dengan peringkat teratas yang akan diumumkan melalui website IT Today 2016 pada tanggal 23 Agustus 2016.. Kategori soal pada