• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Model Pembelajaran Reciprocal. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penerapan Model Pembelajaran Reciprocal. pdf"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING

DENGAN GAME SMART CASE UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR DAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA KELAS VIIIG

POKOK MATERI SISTEM EKSKRESI DI SMPN 13 MALANG

Lazarus

Pendidikan Biologi, FPIEK, IKIP Budi Utomo Malang E-mail: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar dan ketuntasan belajar biologi untuk materi biologi melalui penerapan model pembelajaran Reciprocal Teaching dengan game smart case. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian siswa kelas VIIIG SMP Negeri 13 Malang dengan materi pembelajaran sistem ekskresi.

Partisipan penelitian ini adalah siswa kelas VIIIG SMP N 13 Malang yang berjumlah 31 siswa.Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, metode dokumentasi, angket, dan tes.Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif, kemudian dilakukan triangulasi untuk keabsahan data.

Proses pembelajaran dengan pendekatan Model Reciprocal Teaching Dengan Game Smart Case yang dapat meningkatkan minat belajar dan ketuntasan belajar siswa kelas VIIIG SMP N 13 Malang dilakukan dengan; (1) peneliti memodelkan pembelajaran dengan pendekatan Reciprocal Teaching; (2) siswa merangkum materi yang ditugaskan oleh peneliti; (3) siswa membuat pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang ditugaskan peneliti dan jawabannya; (4) kelompok presentasi; (5) kelompok lain menanggapi; (6) setelah waktu untuk presentasi selesai, siswa dengan bimbingan peneliti menyimpulkan materi yang telah dipelajari; (7) siswa mengerjakan soal tes secara mandiri untuk mengetahui kemampuan siswa setelah mempelajari materi; (8) sebelum mengakhiri pembelajaran, peneliti menyampaikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya dan menyampaikan kegiatan siswa pada pertemuan selanjutnya. Berdasarkan Hasil angket minat belajar siswa di siklus I menunjukkan bahwa dari 31 siswa yang mengisi angket dan dianalisis nilainya adalah didapat Skor rerata gabungan 38,30/10 = 3,83nilai ini termasuk dalam kategori cukup baik karena 2,50 ≤3,31<3,50. Pada siklus II minat belajar siswa kelas VIIIG meningkat Skor rerata gabungan 38,30/10 = 3,83, dan menunjukan minat belajar siswa termasuk dalam kategori baik, karena 3,50≤3,83<4,50. Peningkatan ketuntasan belajar siswa kelas VIIIG SMP N 13 Malang dapat dilihat dari peningkatan rata-rata nilai pada tes siklus I dan tes siklus II berturut-turut 78,5 dan 86,2

(2)

PENDAHULUAN

Berdasarkan tujuan Kurikulum 2013 ( Dalam Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 68 tahun 2013 Tentang Kerangka dasar dan struktur kurikulum Sekolah menengah pertama/madrasah Tsanawiyah) menyatakan bahwa Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Seperti yang dijelaskan dalam jurnal (jurnal. upi. Edu /file /06._Resti_Fauziah_165-178 pdf_. hal 166. Diakses tanggal 25 April 2015)menyatakan bahwaKurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran (Permendikbud No.81A, 2013: 35). Kurikulum 2013 juga memberi alokasi waktu pada kegiatan pengembangan diri peserta didik yang berkarakter. Peserta didik tidak hanya mengenal teori, tetapi diajak untuk terlibat dalam sebuah proses pengalaman belajarnya dengan harapan menghasilkan individu yang berkualitas.

Untuk mencapai tujuan pendidikan, maka pendidik hendaknya melakukan sistem pengajaran yang salah satunya adalah dengan menggunakan prinsip kurikulum 2013 yang telah ditetapkan. Adapun kurikulum yang dikembangkan pada saat ini adalah Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 ini disempurnakan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang mengacu pada keseimbangan antara sikap, keterampilan dan pengetahuan untuk membangunsoft skills dan hard skills(Rasional Kurikulum 2013, Badan pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan kebudayaan Dan penjaminan mutu pendidikan: 17).

Pendidikan di pulau jawa khususnya Jawa Timur tidak diragukan lagi kemajuan dan eksistensinya di kancah Nasional khususnya Malang. Malang merupakan salah satu kota yang menyandang gelar kota pendidikan selain Yogyakarta, sampai saat ini gelar itu masih tetap disandang kota Malang. Tetapi gelar yang disandangnya kurang memberikan kontribusi yang baik bagi masyarakat dan sekolah baik sekolah menengah tingkat SMP maupun tingkat SMA atau sederajatnya. Oleh karena itu masih banyak sekolah-sekolah di Malang ini yang masih menerapkan model ceramah pada saat menjelaskan materi.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaian dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar ( Trianto, 2007 : 99 – 100 ).

(3)

pelajaran yang sulit dan tingkat pemahamannya masih rendah sehingga berakibat minat belajar dan hasil belajar siswa masih rendah. Oleh sebab itu, Guru Biologi harus merencanakan dan melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan untuk mengajarkan Biologi salah satunya menyiapkan model pembelajaran yang aktif dan inovatif.

Menurut mohlisin (2014) tentang “Penerapan Media Stelang Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII Pada Materi Sistem Peredaran Darah Manusia SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang, mengatakan Pembelajaran Biologi dengan penerapan model-model pembelajaran dapat memungkinkan siswa untuk belajar lebih aktif, mencamkan apa yang dipelajarainya lebih baik dan meningkatkan performance siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai terutama untuk memahami materi yang dipelajarinya. Dari model pembelajaran yang inovatif tersebut pesan atau bahan yang terkandung di dalam materi akan tersampaikan dengan baik, dengan istilah lain disebut perangkat lunak (sofytware) dan perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar.

Dilapangan faktanya saat ini masih ada guru yang memilih jalan termudah yang hanya mengejar pencapaian hasil belajar dengan belum melaksanakan prinsip Kurikulum 2013 tersebut. Guru mengajarkan hanya yang ada di buku saja, dengan pelajaran semacam itu maka dapat mempengaruhi rendahnya minat siswa atas pelajaran IPA serta hasil belajar siswa.

Prinsip yang telah ditetapkan dalam Kurikulum 2013 dalam pembelajaran Biologi, hendaknya direalisasikan, karena Biologi merupakan salah satu bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains yang dasarnya biologi juga merupakan ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari dan diketahui karena biologi memberikan pengetahuan dan informasi mengenai seluk

beluk makhluk hidup. Jika guru tetap tidak memedulikan akan prinsip Kurikulum 2013 tersebut, maka akan berdampak negatif bagi peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas maupun untuk mencapai tujuan pendidikan. Untuk mengatasi hal tersebut, guru harus memiliki kerangka pembelajaran secara konseptual agar peserta didik dapat belajar efektif dan efisien, mencapai pada tujuan yang diharapkan.

Trianto (2007: 1) mendefinisikan model pembelajaran sebagai suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

Banyak model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pengajaran ,salah satunya adalah model pembelajaran Reciprocal Teaching. Namun, tidak semua model pembelajaran dapat diterapkan dalam pengajaran, tentu semuanya harus disesuaikan dengan kebutuhan yang menyangkut materi yang akan disajikan.

Siswa sebagai subjek belajar harus berperan aktif dalam pembelajaran. Keaktifan siswa dimulai dari peranannya dalam pembelajaran yang menimbulkan kemampuan berfikir kritis dan lebih aktif. Keaktifan siswa merupakan suatu bentuk belajar mandiri untuk membangun pemahamannya dan mengembangkan kemampuannya sendiri sehingga dalam hal ini guru berperan sebagai pembimbing, motivator dan menyediakan suasana atau kondisi belajar yang mendukung proses pembentukan pengetahuan pada diri siswa.

(4)

semua siswa aktif dalam diskusi tersebut. Faktor yang menyebabkan siswa kurang aktif diantaranya; siswa kurang memahami bacaan yang ada dalam buku, siswa malas untuk mengajukan pertanyaan, tidak ada perlakuan dalam pembelajaran yang berupa permainan atau game sehingga siswa kurang semangat dalam belajar, kurangnya kemandirian siswa dalam belajar yaitu, siswa lebih banyak mendengarkan informasi dari guru dan tidak berusaha mencari sendiri informasi yang ada didalam buku atau dengan kata lain siswa cenderung pasif.

Hasil pengamatan dari data nilai yang diperoleh pada tanggal 18 desember 2014 menunujukkan rata-rata nilai UTS (Ujian Tengah Semester) biologi kelas VIIIG dari 32 siswa terdapat 15 siswa yang tuntas dengan persentase sebesar 46,87%. Sedangkan sisanya atau sekitar 53,13% persentase siswa yang mendapat nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dengan ketentuan nilai 75. Sedangkan prosentase nilai ketuntasan klasikalnya adalah ≥ 85%, dengan demikian masih banyak siswa kelas VIIIG yang belum tuntas belajarnya.

Masalah tersebut dapat diatasi dengan cara meningkatkan ketertiban siswa dalam pembelajaran, agar kemampuan belajar mandiri siswa dapat ditingkatkan, sehingga pemahaman terhadap IPA Biologi akan meningkat. Peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan disertai permainan games smart case. Pembelajaran ini merupakan salah satu pendekatan pembalajaran yang berpusat pada siswa.Menurut Palinscar dan Brown (1984), pengajaran dua arah (Reciprocal teaching) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang melatihkan keterampilan metakognisi melalui empat strategi, yaitu: 1) menyusun pertanyaan-pertanyaan dari teks bacaan dan jawabannya, 2) membuat rangkuman (ringkasan) informasi-informasi penting dari teks bacaan, 3) membuat prediksi, dan 4) mengidentifikasi hal-hal yang kurang jelas dan memberikan klarifikasi (penjelasan),

(Jurnal Santiaji Pendidikan, Volume 3, Nomor 2, Juli 20113: 89).

Pembelajaran terbalik merupakan pembelajaran dengan memilih seorang siswa agar berperan seperti guru untuk menjelaskan materi yang belum disampaikan guru kepada teman siswa lain. Sehingga guru dapat memantau pemahaman bacaan yang dipelajari siswa. Dengan demikian siswa dapat belajar mandiri yang nantinya dapat meningkatkan pemahaman, minat belajar mata pelajaran biologi dan mencapai ketuntasan belajar. METODELOGI PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian yang dapat dilaksanakan guru sebagai alternatif pilihan untuk menemukan cara dalam rangka meningkatkan mutu atau kualitas proses pembelajaran disekolah.

Prosedur penelitian tindakan kelas ini mempunyai empat langkah utama, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting) yang saling berkaitan dalam satu siklus.

Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Malang yang berlokasi diJalan Sunan Ampel II Kota Malang. Pengambilan datadilaksanakan pada tanggal 09 Maret sampai dengan tanggal 26 Maret 2015 dengan menyesuaikan jam pelajaran yang ditentukan.

Subjek Penelitian

(5)

Prosedur Penelitian ( Model Siklus ) Penelitian ini terdiri dari 2 siklus karena sudah cukup mewakili data yang diperlukan untuk mengukur tingkatan kognitif minat belajar siswa dan ketuntasan hasil belajar siswa. Pada penelitian ini masing-masing siklus melalui 4 tahap yaitu: (1) perencanaan (plan), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) pengamatan (observation), dan 4 refleksi (reflection). Instrumen Penelitian

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :

a) Lembar Kerja Siswa (LKS)

b) Tes formatif yang berbentuk pilihan ganda

c) Lembar Observasi d) Angket Minat Siswa

e) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

f) Dokumentasi

Data dan Sumber Data 1. Data

Data dalampenelitian ini meliputi (1) data proses belajar mencakup kemampuan-kemampuan mengerjakan lembar kerja peserta didik (2) data hasil belajar peserta didik (3) hasil pengamatan terhadap kegiatan peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran, apakah peserta didik aktif dan apakah guru memposisikan diri sebagai pembimbing dan fasilitator dalam pembelajaran.

2. Sumber data

penelitian tindakan kelas ini berasal dari guru kelas yang melaksanakan proses pembelajaran sebelumnya kepada siswa kelas Kelas VIIIG SMPN 13 Malang berupa data aktivitas mengajar dan nilai – nilai yang kemudian data ini di gunakan untuk membantu proses penelitian serta untuk mengetahui apakah ada perubahan dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan permainan games smart case pada siswa kelas VIIIG SMPN 13 Malang. Data dalam penelitian ini bersumber dari proses belajar

siswa dan kemampuan berpikir siswa selama pembelajaran.

Teknik Analisis Data

Analisi data pada penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah yang dilakukan secara deskriptif yaitu menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di lapangan secara alami menggunakan teknik statistik deskriptif dengan mengutamakan pengungkapan makna dan proses pembelajaran sebagai upaya meningkatkan minat belajardan ketuntasan belajar kognitif siswa melalui pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dan permainan games smart case.

1. Data Hasil Observasi

Data hasil observasi pelaksanaan pembelajaran Reciprocal teaching dan permainan games smart case secara deskriptif, kemudian hasilnya dibandingkan antara siklus I dan siklus II.

2. Analisis Data Hasil Tes

Data yang diperoleh dalam penelitian ini ada dua, yaitu data tentang minat belajar dan ketuntasan belajar siswa kedua data diolah dengan menggunakan analisis statistik deskriptif.

a. Analisis Minat Belajar

Pada penelitian ini akan dicari skor keaktifan minat siswa. Perhitungan skor dan penilaian dihitung dengan cara berikut. Rekap skor yang diberikan siswa terhadap pernyataan-pernyataan dalam Angket.

Minat Siswa dibuat dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Untuk pernyataan dengan kriteria positif: 1 = sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = ragu-ragu, 4 = setuju, dan 5 = sangat setuju.

2. Untuk pernyataan dengan kriteria negatif: 1 = sangat setuju, 2 = setuju, 3 = ragu-ragu, 4 = tidak setuju, dan 5 = sangat tidak setuju.

(6)

1,00-1,49 = tidak baik, 1,50-2,49 = kurang baik, 2,50-3,49 = cukup baik, 3,50-4,49 = baik, dan 4,50-5,00 = sangat baik. 4. Jumlah skor gabungan (JS) dihitung

dengan menjumlah skor-skor untuk masing-masing indikator.

5. Skor akhir (SA) sesuai rumus berikut:

6. Kriteria keberhasilan ditentukan sebagai berikut:

a) Skor 1,00-1,49 = tidak baik, b) Skor 1,50-2,49 = kurang baik, c) Skor 2,50-3,49 = cukup baik, d) Skor 3,50-4,49 = baik, dan e) Skor 4,50-5,00 = sangat baik. b. Analisis Ketuntasan Belajar

Ada 2 kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. seorang siswa telah tuntas belajar secara individual apabila telah mencapai nilai ≥75 sesuai dengan Standar Ketuntasan Minimal (SKM) dan siswa dapat dikatakan tuntas secara klasikal apabila dalam satu kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap atau ≥85% dari seluruh jumlah siswa di kelas tersebut sesuai dengan Standar ketuntasan minimal (SKM) yang digunakan pada setiap sekolah. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut :

Rumus yang digunakan (modivikasi Trianto, 2010:240)

KB = Keterangan:

KB : Ketuntasan Belajar Klasikal Ni :Banyaknya Siswa yang

memperoleh nilai ≥ 75 N : Banyaknya Siswa yang

mengikuti Test Data hasil angket tanggapan siswa

Data hasil tanggapan siswa terhadap model pembelajaran Reciprocal teaching dan games smart case dihitung persentasenya dengan rumus sebagai berikut:

P = X 100% Keterangan:

P = persentase yang menjawab pilihan

F = banyaknya responden yang menjawab pilihan

N = jumlah responden

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Minat Belajar Siswa dalam penerapan model reciprocal teaching pada Siklus I

Minat belajar siswa dapat diketahui dengan memberikan angket minat kepada siswa di setiap akhir siklus.Angket minat ini terdiri dari 10 pernyataan, dimana pernyataan yang digunakan oleh peneliti untuk angket minat merupakan pernyataan positif yang harus siswa jawab.

Setelah diperoleh data pada siklus I, maka data tersebut dianalisis untuk dilihat bagaimana minat belajar siswa setelah belajar menggunakan model reciprocal teaching dengan Games Smart Case.

Dilihat dari nilai yang diperoleh dari perhitungan minat belajar siswa secarakeseluruhan satu kelas diatas maka pada siklus I minat belajar siswa termasuk dalam kategori cukup baik karena skor rerata gabungan 33,08/10 = 3,31.

pada siklus I minat belajar siswa termasuk dalam kategori cukup baik karena 2,50 ≤3,31<3,50 merupakan kriteria minat yang cukup baik. Minat belajar siswa yang terhitung cukup baik tersebut karena siswa merasa senang dengan penggunaan model reciprocal teaching dengan Games Smart Case.

Analisis Data Tindakan Penelitian

(7)

NO Pernyataan Pilihan Jawaban

Skor Rerata 1 Saya selalu mempersiapkan diri untuk mengikuti

pelajaran ini

1 2 3 4 5 112/31 =3, 61 2 Saya memperhatikan guru menerangkan materi

pelajaran

1 2 3 4 5 114/31 = 3,67 3 Pada pembelajaran ini saya diberikan hal-hal

baru yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya

1 2 3 4 5 116/ 31 = 3,74

4 Saya telah mempelajari sesuatu yang menarik dan tidak terduga sebelumnya

1 2 3 4 5 103/31 = 3,32 5 Dengan model reciprocal teaching dengan game

smart case ini saya menjadi terdorong untuk dapat memahami materi

1 2 3 4 5 101/31 = 3,25

6 Setelah belajar dengan menggunakan model reciprocal teachingdengan game smart case ini saya percaya akan dapat menyelesaikan latihan-latihan

1 2 3 4 5 91/31 = 2,93

7 Tugas-tugas latihan dalam model reciprocal teaching dengan game smart case ini terlalu sulit

1 2 3 4 5 85/31=2,74 8 Penyampaian materi dalam pembelajaran ini

kurang menarik

1 2 3 4 5 98/31 = 3,16 9 Sedikitpun saya tidak dapat memahami materi

pembelajaran dengan menggunakan model reciprocal teaching dengan game smart case ini

1 2 3 4 5 110/31 = 3,54

10 Saya tidakyakin dapat menyelesaikan evaluasi dengan berhasil

1 2 3 4 5 97/31 = 3,12

Hasil Tes SikluS I

Jumlah Skor Siswa 2382,3

Nilai Rata-rata 76,8

(8)

No Rentang Nilai Jumlah Siswa (SIKLUS1)

1 ≤ 64 8

2 65 – 74 7

3 75 – 86 6

4 86 – 100 10

Jumlah Seluruh Siswa 31

Nilai Siswa yang ≤ 75 16 Nilai Siswa yang ≥ 75 15

Tabel 4.5.Nilai ketuntasan Siklus I

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa hasil tes siklus I siswa melalui penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan games smart case diberikan tes siklus I menunjukan jumlah skor siswa secara keseluruhan 2382,3 dengan nilai rata-rata 76,8. sedangkan persentase siswa yang tuntas hanya 51,6%. peserta didik yang tidak tuntas dengan persentase 48,3%. hal ini disebabkan karena siswa masih belum terbiasa menggunakan penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan games smart case, dan masih ada sebagian siswa kurang bekerjasama dengan teman kelompoknya terutama dalam mengerjakan LKS.

Berdasarkan grafik 4.1 diatas dapat diketahui dari hasil belajar biologi peserta didik setelah dilakukan tindakan siklus I yaitu penerapan model Reciprocal teaching dengan games smart case dengan diberikan tes siklus I, hasil belajar biologi belum baik karena masih banyak peserta didik yang nilainya dibawah KKM yaitu 75, siswa yang dikatakan tuntas secara klasikal 48,3% sedangkan siswa yang tidak tuntas secara klasikal 51,6%. Maka

dari itu perlu diadakan perbaikan dan dilanjutkan pada siklus II.

Pencapaian KKM Siklus I

Pada akhir tindakan siklus I siswa diberi tes siklus I, untuk mengetahui bagaimana pencapaian standar ketuntasan belajar siswa setelah dilakukan penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan games smart case, dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

PENCAPAIAN KKM

Data Test Siklus I Jumlah siswa yang tuntas 16 Jumlah siswa yang tidak tuntas

15

Nilai rata-rata 76,8

Persentase (%) yang tuntas 48,3% Persentase (%) yang tidak

tuntas

51,6% Tabel 4.6 Analisa Pencapaian KKM Hasil belajar siklus I

Data tabel diatas merupakan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Berdasarkan standar kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang digunakan yaitu 75, setelah dilakukan tindakan siklus I yaitu penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan game smart case dari 31 siswa diberikan tes siklus I, peserta didik yang dikatakan tuntas secara individu ada 15 siswa dengan ketuntasan klasikal 48,3% dan rata-rata nilai 76,8 sedangkan siswa yang tidak tuntas ada 16 siswa secara klasikal 51,6% karena belum mencapai persentase ≥ 75%.

HASIL TES SIKLUS I

Tuntas

(9)

Minat Belajar Siswa pada Siklus II

Minat siswa dapat dilihat dengan memberikan angket minat kepada siswa.Pemberian angket ini dilakukan oleh guru di akhir siklus II.Pemberian angket di siklus II dilakukan pada tanggal 26 Maret 2015 setelah siswa mengerjakan soal latihan dari guru.Angket minat ini terdiri dari 10

pernyataan, Setelah diperoleh data dari angket minat yang diisi oleh siswa pada siklus II, maka data tersebut dianalisis untuk dilihat bagaimana minat belajar siswa setelah belajar menggunakan model Reciprocal teaching dengan permainan games smart case. Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.7 berikut ini:

NO Pernyataan Pilihan

Jawaban

Skor Rerata 1 Saya selalu mempersiapkan diri untuk mengikuti

pelajaran ini

1 2 3 4 5 129/31=4,16 2 Saya memperhatikan guru menerangkan materi

pelajaran

1 2 3 4 5 124/31 = 4 3 Pada pembelajaran ini saya diberikan hal-hal baru

yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya

1 2 3 4 5 116/31 = 3,74 4 Saya telah mempelajari sesuatu yang menarik dan

tidak terduga sebelumnya

1 2 3 4 5 104/31 = 3,35 5 Dengan model Reciprocal teaching dengan game

smart case ini saya menjadi terdorong untuk dapat memahami materi

1 2 3 4 5 126/31 = 4,06

6 Setelah belajar dengan menggunakan model Reciprocal teachingdengan game smart case ini saya percaya akan dapat menyelesaikan latihan-latihan

1 2 3 4 5 118/31 = 3,80

7 Tugas-tugas latihan dalam model Reciprocal teaching dengan game smart case ini terlalu sulit

1 2 3 4 5 102/31 = 3,29 8 Penyampaian materi dalam pembelajaran ini kurang

menarik

1 2 3 4 5 126/31 = 4,06 9 Sedikitpun saya tidak dapat memahami materi

pembelajaran dengan menggunakan model Reciprocal teaching dengan game smart case ini

1 2 3 4 5 128/31 = 4,12

10 Saya tidakyakin dapat meneyelesaikan evaluasi dengan berhasil

1 2 3 4 5 116/31 = 3,74 Tabel 4.7 Data Minat Belajar Siswa Siklus II

Berdasarkan tabel 4.7 didapat Skor rerata gabungan 38,32/10 = 3,83. Berdasarkan hasil angket minat belajar siswa pada siklus I minat belajar siswatermasuk dalam kategori cukup baik

karena 2,50 ≤3,31<3,50. Sedangkan hasil angket pada siklus II menunjukan minat belajar siswa termasuk

dalam kategori baik, karena 3,50≤3,83<4,50.

(10)

Hasil Tes Siklus II

Jumlah Skor Siswa 2713

Nilai Rata-rata 90,7

Persentase (%) yang tuntas 83,8% Persentase (%) yang tidak tuntas 16,2%

Tabel 4.8. Data Hasil Belajar Biologi Siswa Siklus II

No Rentang Nilai Jumlah Siswa

(SIKLUS II)

1 ≤ 64 -

2 65 – 74 5

3 75 – 86 4

4 86 – 100 22

Jumlah Seluruh Siswa 31

Nilai Siswa yang ≤ 75 5 Nilai Siswa yang ≥ 75 26

Tabel 4.9Nilai ketuntasan Siklus II

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa hasil tes siklus II siswa melalui penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan games smart case diberikan tes siklus II menunjukan jumlah skor siswa secara keseluruhan 2173 dengan nilai rata-rata 90,7 sedangkan persentase siswa yang tuntas hanya 83,8%. peserta didik yang tidak tuntas dengan persentase 16,2%. Hal ini hasil belajar siswa meningkat menggunakan penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan games smart case dari siklus I dengan nilai rata-rata 76,8%. Pada siklus II ini dapat dikatakan terjadi peningkatan karena tidak terlepas dari aktivitas siswa dan peran guru dari hasil refleksi siklus I dan pada saat siklus II sudah banyak siswa yang hasil belajarnya diatas 75. Peningkatan Hasil Belajar Siswa siklus I dan II

Setelah dilakukan tindakan siklus I dan II terhadap siswa kelas VIIIG SMP Negeri 13 Malang dengan penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan

games smart case pada materi sistem ekskresi menunjukan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari hasil belajar siklus I ke hasil belajar siklus II. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Hasil Tes Belajar siswa Siklus I dan Siklus II

Data Tes Siklus I

Data Tes Siklus II Jumlah skor

siswa

2382,3 2713 Nilai rata-rata 76,8 90,7 Persentase

(%) yang tuntas

48,3% 83,8%

Persentase (%) yang Tidak Tuntas

51,6% 16,2%

Tabel 4.11 Perbandingan Peningkatan Hasil Tes siklus I dan II

(11)

nilai rata-rata 76,8 ke siklus II menjadi nilai rata-rata 90,7. sedangkan persentase yang tuntas 48,3% pada tindakan siklus II menjadi 83,3%, persentase yang tidak tuntas 51,6% pada siklus II menjadi 16,2%. Maka hal ini menunjukan bahwa siswa yang mendapat nilai dibawah persentase ≥ 75% semakin sedikit, dan jumlah siswa yang mencapai kategori diatas persentase ≥ 75% semakin meningkat sehingga dapat dikatakan penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan game smart case pada materi sistem ekskresi berhasil. Ketuntasan Belajar Individu

Suatu kelas dikatakan tuntas secara individual apabila seluruh siswa memperoleh nilai minimal 75 sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan oleh SMP Negeri 13 Malang. Hasil belajar peserta didik secara individual dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.13 Ketuntasan Hasil Belajar Individual

Tabel diatas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM setelah dilakukan penerapan model Reciprocal teaching dengan game smart case pada materi sistem ekskresi. Hasil belajar siswa pada tes siklus II mengalami

a) Ketuntasan Belajar Klasikal

D.Ismalaranti, Dkk dalam (Unnes Physics Education Journal: 38) Ketuntasan belajar secara klasikal dikatakan tercapai jika terdapat minimal 85% siswa yang mencapai batas tuntas minimal 65%. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal berdasarkan data dari hasil tes siklus I dan siklus II selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.14 Ketuntasan Hasil Belajar Klasikal

Tabel diatas merupakan ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal. Pada tes siklus I dengan persentase 48,8% yang tuntas. Jadi secara klasikal hasil belajar siklus I ini tidak tuntas/belum tuntas. Sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan dengan persentase 83,8% yang tuntas. Maka hasil belajar siswa secara klasikal dapat dikatakan tuntas karena sesuai dengan KKM. Kelas sudah dikatakan tuntas apabila jumlah peserta didik yang mendapat nilai 75 atau mencapai KKM 75% dari jumlah siswa seluruhnya. Hasil Belajar Kelompok

(12)

permainan games smart case dari siklus I dan siklus II dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik secara kelompok dan dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata LKPD kelompok antara siklus I dan II. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik disamping ini.

Grafik 4.3 Peningkatan Hasil Belajar Kelompok Siswa Siklus I dan II

Berdasarkan grafik 4.3 diatas, hasil belajar kelompok siswa mengalami peningkatan dari siklus I dan siklus II. Peningkatan ini terjai karena siswa sudah memahami penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching, siswa tidak lagi mengerjakan sendiri-sendiri dalam mengerjakan LKS kelompok, mereka sudah bisa bekerjasama dengan baik mengikuti prosedur pembelajaran Reciprocal teaching sehingga peneliti merasa puas dengan hasik kerja siswa yang semakin meningkat dari siklus I ke siklus II dan belajar kelompok siswa sudah mencapai KKM yang ditetapkan dari SMP Negeri 13 Malang. Hasil Angket Tanggapan Siswa

Angket tanggapan siswa ini adalah terdiri dari beberapa option jawaban yang sesuai dengan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang peneliti terapkan

saat mengajar. Angket tanggapan siswa ini diberikan pada akhir siklus II dengan memberi tanda silang pada pilihan yang peneliti siapkan yaitu option “IYA atau TIDAK”.

Pembahasan

Minat Belajar Siswa Dalam Penerapan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Dengan Games Smart Case.

Dalam proses belajar mengajar, siswa harus mempunyai minat atau kesukaan untuk megikuti kegiatan belajar yang berlangsung. Karena dengan adanya minat akan mendorong siswa untuk menunjukan perhatian, aktivitasnya dan partisipasinya yang berlangsung.

Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini, awal pelaksanaan penelitian adalah dilakukannya observasi terhadap minat belajar siswa. Sebagai acuan untuk mengetahui adanya peningkatan minat belajar siswa adalah dengan adanya angket minat belajar yang dibuat oleh peneliti yang diberikan kepada siswa setelah siklus berakhir.

Hasil angket minat belajar siswa di siklus I menunjukkan bahwa dari 31 siswa yang mengisi angket dan dianalisis nilainya adalah didapat Skor rerata gabungan 38,30/10 = 3,83

Nilai ini termasuk dalam kategori cukup baik karena 2,50 ≤3,31<3,50. Namun dengan hasil siklus I, peneliti masih ingin melihat apakah hasil pada siklus II lebih baik/semakin meningkat. Pada saat selesai tes siklus II, peneliti terus memberikan angket minat belajar kepada siswasupaya bisa dibandingkan dengan siklus I dan ternyata pada siklus II minat belajar siswa kelas VIIIG meningkat Skor rerata gabungan 38,30/10 = 3,83, dan menunjukan minat belajar siswa termasuk dalam kategori baik, karena 3,50≤3,83<4,50.

87,5

82,5 90

87,5

85 95

90

97,5 97,5

95

75 80 85 90 95 100

(13)

Pencapaian Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIIIG SMP Negeri 13 Malang menggunakan model pembelajaran

Reciprocal Teaching dengan games smart case

Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan permainan games smart case pada materi sistem ekskresi pada manusia dari siklus I ke siklus II hasil ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil belajar siswa kelas VIIIG SMP Negeri 13 Malang menunjukan bahwa hasil belajar siklus II siswa mengalami peningkatan dari siklus I.

Pada siklus I, ketuntasan belajar siswa belum berhasil mencapai KKM yang diharapkan baik secara klasikal maupun individu. Hal ini bisa dilihat pada hasil belajar siswa yaitu siswa yang tuntas hanya 48,3% dengan ketuntasan individual hanya 16 siswa yang tuntas. Sedangkan yang tidak tuntas 51,6% secara individual ada 15 siswa yang tidak tuntas dengan rerata nilai 76,8. Secara klasikal ketuntasan belajar siswa belum mencapai KKM yang ditetapkan sekolah.

Berdasarkan observasi hasil pembelajaran siklus I, dikarenakan proses pembelajaran dikelas menunjukan ada sedikit keributan ketika pembagian kelompok dan LKS sehingga sebagian siswa yang protes dan hal ini membuat waktu sedikit terbuang. Selain itu, siswa kelihatan kurang paham dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan permainan games smart case sehingga peneliti menjelaskan dan mendemontrasikan secara berulang kali sampai siswa benar-benar paham.

Pada saat mengerjakan LKS dengan kelompok masing-masing, siswa belum sepenuhnya berdiskusi dengan anggota kelompoknya karena ada yang mengerjakan secara individu, ada yang tidak mengerjakan sama sekali, ada yang ngomong sendiri dan saat diskusi berlangsung siswa kurang begitu aktif dalihat dari sedikitnya siswa yang merespon pertanyaan dan mengajukan

pertanyaan yang dijelaskan oleh Siswa-Guru (pembelajaran terbalik) ini dikarenakan siswa masih banyak yang bingung dengan model yang diterapkan. Diakhir siklus diadakan tes untuk mengukur sejauh mana daya tangkap siswa terhadap materi sistem ekskresi yang dijelaskan menggunakan model Reciprocal teaching dengan kombinasi games smart case.

Pada siklus II terjadi peningkatan hasil ketuntasan belajar siswa kelas VIIIG SMP Negeri 13 Malang karena secara klasikal maupun individual hasilnya menunjukan yang tuntas mencapai 83,8% dengan ketuntasan individual mencapai 26 siswa. Sedangkan yang tidak tuntas sudah mulai sedikit turun menjadi 16,2% dengan ketuntasan individual sebanyak 5 siswa. Oleh karena itu, tahap siklus ke II ini peneliti nyatakan telah berhasil dan mencapai KKM yang diharapkan.

Hasil penelitian relevan yang juga berhubungan dengan minat dan ketuntasan belajar seperti hasil penelitian Munifah Sri Fajarwati(2010) menyatakan dalam penelitiannya bahwa dengan menerapkan model Reciprocal Teaching telah mampu meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa kelas XI Akuntansi RSBI SMK Negeri 1 Depok dalam materi arithmetic sequences and series (barisan dan deret aritmatika). Demikian pula hasil penelitian Husni Robith (2010) menyatakan dalam penelitiannya Siswa mampu menguasai empat strategi pemahaman yang diajarkan meliputi perangkuman, pengajuan pertanyaan, klarifikasi, dan prediksi sehingga secara keseluruhan pembelajaran dengan pendekatan Reciprocal Teaching berbasis media pembelajaran visual pada materi pokok Cahaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-A MTs Negeri Jeketro Tahun Pelajaran 2009/2010.

(14)

Pencapaian KKM Siswa kelas VIIIG Melalui Penerapan model pembelajaran

Reciprocal teaching dengan games smart case

Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan permainan games smart casepada siklus I terhadap ketuntasan belajar siswa belum memenuhi KKM yang ditetapkan oleh sekolah baik secara klasikal maupun individual karena data yang diperoleh pada siklus I dengan jumlah 31 siswa hanya 48,3% siswa yang tuntas secara klasikal dengan ketuntasan individu ada 16 siswa sedangkan sisanya 15 tidak tuntas secara klasikal 51,6% dengan rata-rata 76,8.

Penerapan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan permainan games smart case pada siklus I terhadap ketuntasan belajar siswa berhasil karena ketuntasan 75 hasil belajar secara klasikal tercapai apabila 85% dari keseluruhan peserta didik telah memperoleh nilai minimum 75 kala kelas dikatakan tuntas.

Pada siklus II menggunakan model pembelajaran Reciprocal teaching dengan permainan games smart case mengalami peningkatan karena siswa pada siklus I yang tidak mencapai KKM pada siklus II sudah banyak peningkatan dengan hasil yang memuaskan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Berdasarkan grafik diatas, pencapaian KKM siswa pada tindakan siklus II mengalami peningkatakan dibandingkan pada siklus I. Peningkatan ini terjadi karena siswa telah memahami model pembelajaran Reciprocal teaching dengan kombinasi games smart case sehingga siswa yang mendapat nilai ≥75% semakin sedikit yaitu 5 siswa sedangkan jumlah siswa yang mendapat nilai diatas persentase ≥75% semakin meningkat yaitu 26 siswa.

Tanggapan Siswa Terhadap Penerapan Model pembelajaran Reciprocal teaching

dengan game smart case

Berdasarkan angket tanggapan siswa yang didapatkan pada siklus II yaitu pada aspek ke-1 “Apakah model model Reciprocal teaching dengan games smart case menyenangkan Anda?”, aspek ke-2 “Apakah penggunaan model Reciprocal teaching dengan games smart case membantu Anda memahami pelajaran?”, aspek ke-3 “Apakah waktu yang tersedia untuk menggunakan model Reciprocal teaching dengan games smart case cukup memadai?”, aspek ke-4 “Dalam pembelajaran menggunakan model Reciprocal teaching dengan games smart case, Anda menemukan kesulitan?”, aspek ke-5 “Menurut pendapat Anda, apakah setiap materi pelajaran perlu menggunakan model Reciprocal teaching dengan games smart case?”, aspek ke-6 “Apakah pembelajaran menggunakan model Reciprocal teaching dengan games smart caseini menarik?”, aspek ke-7 “Apakah materi yang dijelaskan menggunakan model Reciprocal teaching dengan games smart case dan penjelasan materi dari guru cukup lengkap?”, aspek ke-8 “Menurut penilaian Anda, apa yang kurang dari pembelajaran ini?”, aspek ke-9 “Bagaimanakah pendapat anda mengenai penjelasan guru tentang materi sistem eksresi dengan menggunakan model Reciprocal teaching dengan games smart case?”, aspek ke-10 “Apakah untuk memahami materi pelajaran yang konsepnya

NILAI

SIKLUS I 76,8 48,30% 51,60%

SIKLUS II 90,7 83,80% 16,20% 0

PENCAPAIAN KKM SIKLUS I

DAN II KELAS VIIIG SMPN

13 MALANG TAHUN AJARAN

(15)

abstrak perlu bimbingan dari guru dan menggunakan media pembelajaran?”.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran biologi menggunakan model Reciprocal teaching dengan games smart case dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut:

a. Guru Memodelkan Strategi Reciprocal teaching

Pada pertemuan pertama guru menjelaskan materi tentang pengertian sistem ekskresi, sekresi, defekasi serta organ dari sistem ekskresi manusia, memberikan contoh pertanyaan dalam penerapan model Reciprocal teaching serta jawabannya. Kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberi tanggapan.Hal ini dimaksudkan sebagai contoh atau model bagi siswa dalam menjelaskan konsep atau mengkomunikasikan ide. Pada pertemuan selanjutnya guru tidak memodelkan strategi Reciprocal teaching. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan scaffolding.

b. Merangkum

Setelah mendengarkan penjelasan dari guru tentang sistem ekskresi, peneliti membagikan LKS dan siswa diminta membuat rangkuman materi tentang materi tersebut. Buku acuan yang digunakan adalah buku paket dan referensi-referensi lain berisi materi yang berkaitan dengan materi yang ditugaskan. Kegiatan merangkum dilakukan secara kelompok dimana setiap anggota kelompok beranggotakan limasampai enam siswa yang dipilih secara acak.

c. Membuat Pertanyaan Beserta Jawabannya Siswa membuat pertanyaan dan jawabannya yang berkaitan dengan materi yang dirangkum. Membuat pertanyaan dan jawabannya dimaksudkan untuk melatih siswa mengevaluasi belajar sendiri dan bertanggungjawab atas kebenaran pertanyaan dan jawabannya soal yang mereka susun.

d. Presentasi

Siswa mempresentasikan tugas mereka di depan kelas. Hal ini akan melatih siswa lebih percaya diri, tanggung jawab, dan meningkatkan evaluasi belajar siswa. e. Tanggapan Kelompok Lain

Pada tahapan ini kelompok lain menanggapi presentasi temannya, yaitu dengan bertanya jika ada yang belum jelas atau menyampakan pendapatnya. Dengan menanggapi kelompok yang sedang presentasi, siswa dilatih untuk lebih percaya diri, meningkatkan inisiatif, dan menunjukkan sifat keaslian siswa.

Peningkatan minat belajar siswa kelas VIIIG SMP N 13 Malang dapat dilihat dari deskripsi hasil observasi dan terbukti bahwa pada siklus II telah mengalami peningkatan pada aspek-aspek minat belajar biologi siswa kelas VIIIG dibandingkan pada siklus I. Sedangkan berdasar hasil analisis minat belajar siswa terhadap model Reciprocal teaching dengan games smart case pembelajaran biologi, Dilihat dari nilai yang diperoleh dari perhitungan minat belajar siswa secarakeseluruhan satu kelas diatas maka pada siklus I minat belajar siswa termasuk dalam kategori cukup baik karena skor rerata gabungan 33,08/10 = 3,31.

Pada siklus I minat belajar siswa termasuk dalam kategori cukup baik karena 2,50 ≤3,31<3,50 merupakan kriteria minat yang cukup baik. Minat belajar siswa yang terhitung cukup baik tersebut karena siswa merasa senang dengan penggunaan model Reciprocal teaching dengan Permainan Games Smart Case, sedangkan hasil angket pada siklus II menunjukan minat belajar siswa termasuk dalam kategori baik, karena 3,50≤3,83<4,50.

Dengan adanya peningkatan minat belajar siswa ini maka, terlihat bahwa proses pembelajaran di siklus II ini mampu membuat siswa menjadi lebih termotivasi lagi dalam belajarnya.

(16)

analisis hasil tes siklus I dan tes siklus II, rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II telah mengalami peningkatan dibandingkan rata-rata hasil belajar siswa pada tes siklus I. Rata-rata hasil tes siswa pada siklus I adalah 78,5 sedangkan pada siklus II adalah 86,2 sehingga meningkat.

Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran-saran yang dapat diberikan sebagai berikut:

1. Bagi Pihak Guru

a. Guru lebih komunikatif dengan siswa, sehingga siswa tidak malu dan takut lagi untuk bertanya apabila mengalami kesulitan dan lebih berani menyampaikan pendapatnya.

b. Penggunaan metode pembelajaran dengan model Reciprocal teaching dengan games smart case sebagai alternatif dalam pembelajaran biologi sehingga proses pembelajaran tidak menjenuhkan.

2. Bagi Pihak Calon Peneliti

Pengelolaan waktu dalam model Reciprocal teaching dengan games smart case harus diolah sebaik mungkin agar semua tahapan dalam pembelajaran tercapai sesuai skenario pembelajaran (RPP) yang telah dibuat dengan mendiskusikannya dengan guru agar tercapai hasil yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Aswan Zain, dkk. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Anonim.http://strategi

pembelajaran.pusku.com/2015/03/mod el-pembelajaran-berbalik-reciprocal-learning/. Diakses 29 Apil 2015. Anonim. 2009. Proposal reciprocal

teaching.(http://pendidikan matematika.

files.wordpress.com/2009/03/proposal _reciprocal_teaching_.doc.) Diakses pada tanggal 16 Maret 2015.

Anonim.http://en. wikipedia. org/wiki/Reciprocal_teaching.Diakses tanggal 8 April 2015.

Anonim.http://www.ingentaconnect.com/c ontent/routledg/urwl/2004/00000020/0 0000002/art00009. Diakses tanggal 8 April 2015.

Anonim.http://epltt.coe.uga.edu/index.php ?title=Reciprocal_Teaching. Diakses tanggal 8 April 2015.

Hamzah B. Uno.2006. Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan. Gorontalo: Bumi Aksara.

Hamalik, Oemar. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Hamzah B. Uno, Haji. 2012. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Marthawuri. 2012. Proposal Skripsi. (http://marthawuri. wordpress.

com/2012/01/13/proposal-skripsi/). Diakses pada tanggal 15 Maret 2015.

Mathunnes, Diana. Artikel Ilmiah (efektifitas reciprocal theaching) (http://www.

academia.edu/5461369/Artikel_Il miah_efektifitas_reciprocal_theach ing_?lo

n=&email_was_taken=true). Diakses pada tanggal 17 Maret 2015.

(17)

view&id=36&itemid=41. Diakses tanggal 8 Maret 2015.

Mohlisin. 2014. Penerapan Media Stelang Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas Viiib Pada Materi Sistem Peredaran Darah Manusia Smp Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang. Skripsi IKIP Budi Utomo Malang.

(Online).http://habibinurulpikri.blogspot.c om/2010/06/minat-belajar.html, Diakses 29 april 2015.

(online). Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 68 tahun 2013 Tentang Kerangka dasar dan struktur kurikulum Sekolah menengah pertama/madrasah Tsanawiyah. Pdf.

(online). Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A tahun 2013 Tentang Implementasi kurikulum Dengan rahmat tuhan yang maha esa Menteri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia, Pdf.

(Online), Halim R. Selamet, (2013), Minat Siswi SMA Dr. Soetomo Surabaya Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Futsal, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya.Pdf.Sukmadinata. 2005. Metode penelitian pendidikan. Bandung: UPI.

(Online), Efendi Nur, (2013) Jurnal Santiaji Pendidikan, Volume 3, Nomor 2, Juli 2013, pdf.

(Online), D.Ismalaranti, Dkk, (2014).Efektivitas Pembelajaran Fisika Melalui Media Animasi dan LKS Mandiri Pada Siswa SMA.Unnes Physics Education Journal.Pdf.

Paul Suparno. 2008. Riset Tindakan untuk pendidikan. Jakarta: Gramedia Widia sarana Indonesia.

Soetriono dan SRDm Rita

Hanafe.2007.Filsafat Ilmu dan Metodelogi Penelitian. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Trianto. 2007. Model pembelajaran terpadu dalam teori dan praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Saifuddin azwar. 1997. Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Paulina Panen. (2000). Model Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching).www .file://localhost /Literacy%20-%20 Reciprocal %20 Teaching.htm. Diakses tanggal 9 Maret 2015.

W.R Nurlin. 2014. Penerapan metode pembelajaran timbal balik (reciprocal learning) dalam upaya meningkatkan prestasi belajar dan aktivitas siswa pada materi sistem gerak pada manusia kelas VIII-H SMPN 16 Malang. Skripsi ikip budi utomo malang. Zainal Mustafa EQ. 2003. Mengurai

Gambar

Tabel 4.4. Data Hasil Belajar Biologi Siswa Siklus I
tabel diketahui bahwa hasil tes siklus I siswa
Tabel 4.7 Data Minat Belajar Siswa Siklus II
Tabel 4.11 Perbandingan Peningkatan Hasil Tes siklus I dan II
+3

Referensi

Dokumen terkait

Judul Skripsi : Kajian Persebaran Spasial Pasar Tradisional Di Kecamatan Karanganyar, Matesih dan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Tahun 2016 (Sebagai Bahan

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa di kelas VIII E MTsN

Hasil uji manova pada Tabel 19, menunjukkan bahwa nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,001&lt; 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang

Seni arca pada masa peradaban kuno di Jawa Tengah lebih menunjukkan kemiripannya dengan budaya India sedangkan seni arca pada peradaban di Jawa Timur lebih menunjukkan

Formulir Pengalihan Unit Penyertaan dari REKSA DANA BNP PARIBAS INFRASTRUKTUR PLUS yang diterima secara lengkap dan benar oleh Manajer Investasi atau Agen Penjual Efek REKSA DANA

Hudud , Hudud adalah bentuk jamak dari kata hadd yang berarti batasan adalah sebuah istilah Islam yang mengacu pada hukuman yang berdasarkan hukum Islam, Pidana

yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan praktik kerja magang di NET 3.. Kedua orangtua saya yang telah terus memberikan support dan doa kepada saya

Ketika jalan kompromi dan konsensus tertutup sama sekali dan tidak ada jalan alternasi lain yang dapat ditempuh, alias deadlock , khususnya dalam hal-hal yang terkait