KASUS PEMBANGUNAN SOSIAL DI PONDOK PESANTREN
TRILOGI AL-MUHAJIRIN
MUTIARA NISA
Pengembangan Masyarakat Islam/IV/B Fakultas Dakwah dan Komunikasi
1. 1 Abstrak
Kasus pembangunan adalah suatu kebijakan-kebijakan atau program-program yang di buat oleh suatu lembaga atau pemerintahan untuk mengatur suatu sistem didalam masyarakat. Kebijakan-kebijakan ini bisa menjadi pedoman bagi masyarakat sendiri karena dengan adanya suatu kebijakan atau program maka masyarakat akan tahu kemana arah atau jalan yang mereka tuju. Sebaliknya jika di dalam suatu masyarakat tidak di buatkan sistem kebijakan atau program tersebut maka masyarakat akan kacau.
Pondok pesantren Trilogi Al-Muhajirin adalah suatu lembaga pendidikan yang berbasisi keagamaan. Pondok ini biasa di sebut dengan pondok pesantren mahasiswa karena latar belakang pondok pesantren ini memang disediakan untuk mahasiswa terutama mahasisiwa UIN Sunan Gunung Djati karena terdapat sekitar 98% di dalamnya adalah mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tentunya akan sangat berbeda bagaimana sistem di pondok pesantren biasa dengan pondok pesantren mahasisiwa, karena jika menelik kepada ideologinya pun sudah sangat berbeda. Maka dari itu pembahasan disini akan membahas mengenai sistem atau kebijakan apa saja yang di buat dan bagaimana reaksinya terhadap baik bagi pelaku atau subjek maupun objek dari suatu sistem yang dibuat.
1. 2 Pembahasan
Pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang berlandaskan agama. Didalamnya terdapat berbagai pembelajaran mengenai ilmu agama seperti ilmu akhlak, tasawuf maupun ilmu fiqh. Dalam proses pembelajarannyapun memiliki metode-metode yang berbeda tergantung dari manajemen dari pihak pondok itu sendiri. Ada yang menggunakan metode modern seperti pesantren-pesantren modern yang mengembangkan ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan umum. Ada pula yang yang berlandaskan salafiyyah contohnya seperti pondok pesantren yang bertempat di desa Cinunuk kecamatan Cileunyi yaitu pondok pesantren Trilogi Al- muhajirin.
Program kerja yang berjalan saat ini cukup banyak namun saya hanya akan membahas salah satunya saja, yaitu program dari bidang P3 yaitu mengenai diadakannya musrif dan musrifah. Musrif Musrifah adalah seorang pembimbing yang akan mengatur anggotanya dalam berbagai hal seperti dalam hal peribadatan maupun program kemandirian lainnya.
Saya sendiri telah mewawancarai salah satu pengurus dalam bidang tersebut yaitu Elvariana Valencia, beliau ada salah satu mahasisiwa UIN Sunan Gunung Djati dan saat ini sedang menduduki semester IV. Beliau mengatakan bahwasanya program ini dibuat agar santri Trilogi Al-Muhajirin bisa lebih menaati peraturan apabila setiap santri sendiri memiliki masing-masing pembimbing yang akan membimbingnya, Program ini juga dibuat agar tidak terlalu memberatkan bagi pengurus dewan santri dalam bidang P3, karena anggota dari bidang P3 sendiri terbilang sedikit jika dibandingkan dengan santri yang ada. Hanya terdapat 4 anggota di dalam bidang P3, yaitu Khamim Fakhrurrozi sebagai ketua, selanjutnya Diki Agus Catur Pamungkas, Elvariana Valencia, dan Nuri Nurbayani sebagai anggota.
Namun nyatanya harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan, Karena dalam pelaksanaannya sendiri pengurus dewan santri dari P3 mengalami kesulitan dalam melaksakannya, terdapat berbagai faktor yang menjadi penghalang dari pelaksanaan program Musrif musrifah tersebut. Yang pertama yaitu kurangnya sumberdaya manusia yang akan dijadikan sebagai musrif musrifah tersebut, karena kebanyakan dari musrif musrifah itu sendiri saat ini telah banyak yang melanjutkan karir atau pendidikannya diluar sehingga sulit untuk mendapati senior atau musrif musrifah tersebut di pondok pesantren Trilogi Al-Muhajirin. Faktor kedua yaitu keterbatasan waktu, karena santri yang tinggal dipondok pesantren ini merupakan sebagian besar dari mahasiswa maka sulit untuk menyamakan jadwal antara waktu kuliah dengan waktu pengajian yang terdapat dalam pondok pesantren Trilogi Al-Muhajirin sendiri. Waktu dari Pagi hingga siang kebanyakan dipakai untuk waktu kuliah kemudian malam harinya setelah isya di laksanakan pengajian sampai pukul kira-kira 21.00. Sehingga jadwal yang padat dalam hal ini sendiri menjadikan kesulitan bagi bidang P3 dalam melaksakan salah satu program mereka yaitu Musrif dan Musrifah.
yang salah dalam hal ini karena dengan jumlah santri yang terbilang puluhan bahkan ratusan dalam setiap pelaksaan pengajian tersebut hanya terdapat segelintir orang saja yang ikut atau hadir dalam pengajian tersebut, bahkan bisa disebut hanya itu-itu saja santri yang selalu hadir dalam setiap pengajian.
Alasannya sepele, hanya karena kurangnya kesadaran bagi santri Trilogi Al-Muhajirin dalam mengikuti berbagai kegiatan yang ada. Seperti alasan banyak tugas dan sebagainya sehingga mereka tidak mengikuti program atau aturan yang ada di pondok sendiri. Setelah dilakukan berbagai analisis saya mengetahui bahwa alasan dari tidak mengikuti kegiatan di pondok sendiri 85% nya adalah malas.
Dalam hal ini saya mengambil teori mengenai alasan yang telah disebutkan diatas yaitu teori fokus normatif. Teori ini menyatakan bahwa norma akan mempengaruhi tingkah laku hanya bila norma tersebut menjadi fokus dari orang yang terlibat pada saat tingkah laku tersebut muncul. 1Dengan kata lain, orang akan mematuhi norma hanya
jika mereka memikirkan tentang norma tersebut dan melihatnya terkait dengan tindakan mereka. Karena 98% santriawan maupun santriawati di pondok pesantren Trilogi Al-muhajirin adalah seorang mahasiswa maka hal ini pun mempengaruhi terhadap kegiatan-kegiatan yang diberikan oleh pihak pondok. Sebagian besar mereka berfikir bahwa tugas kuliah lebih penting daripada kegiatan-kegiatan yang ada di pondok seperti mengaji, sehingga terkadang mereka mengabaikan berbagai kegiatan tersebut.
Namun bukan berarti santri yang melanggar tersebut didiamkan begitu saja, karena pengurus dewan santri pun selain memiliki wewenang untuk membuat suatu program tetapi mereka juga berhak untuk menghukum setiap santri yang melanggar aturannya. Seperti dalam hal pengajian, pengurus dewan santri berhak untuk melakukan denda bagi santri yang melanggar aturan dalam program pengajian tersebut. Totalnya dalam setiap sekali melanggar maka santri tersebut akan dikenakan denda sebesar 1000 Rupiah. Dalam hal ini saya akan sedikit mengkritik karena seharusnya hukuman bisa membuat pelakunya jera namun dalam hal ini denda bagi hukuman tersebut dirasa kurang efektif karena tidak akan menimbulkan efek jera bagi pelakunya. Seharusnya pengurus dewan santri bisa lebih inisiatif lagi dalam memilih hukuman yang akan di berikan bagi para pelaku yang melanggar aturan.
Selanjutnya program kerja dari bidang Keamanan, Kebersihan dan Ketertiban atau biasa disingkat K3. Berbeda dengan kepengurusan sebelumnya, karena saat ini banyak pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan oleh pengurus dewan santri pada bidang K3, seperti dibuatkannya pamflet-pamflet yang berisikan tentang upaya untuk menjaga kebersihan. Terdapat satu atau duanya pamflet tersebut terpasang disetiap penjuru bangunan terutama di sekitar kamar mandi.
Dan hasilnya sebagian tempat di wilayah pondok pesantren Trilogi Al-Muhajirin sendiri dapat terbebas dari sampah, dan wilayah pondok pesantren bisa lebih asri. Selain memasang pamflet pengurus dari bidang K3 juga mengadakan pembersihan terhadap lingkungan setiap minggunya, yaitu dilaksakan setiap hari Sabtu atau biasa di sebut dengan Sabsih (sabtu bersih).
Namun dalam membina suatu anggota atau masyarakat pun tentunya tidak bisa berjalan hanya mulus-mulus saja, karena ada saja oknum-oknum santri yang sama sekali tidak memperhatikan terhadap program yang ada. Seperti membuang sampah dimana saja bahkan ditempat dekat dengan pamflet-pamflet tersebut dipasang. Saya sendiri mengherankan karena dengan latar belakang pondok pesantren Mahasiswa yang didalamnya terdapat orang-orang dengan berbagai keilmuannya yang tinggi namun tetap tidak bisa memperhatikan lingkungannya bahkan setelah diperingatkan dengan berbagai pamflet yang adapun tidak dapat menggerakan hati mereka.
Juga saat pelaksanaan sabsihpun ada saja santri yang sengaja tidak mengikuti kegiatan tersebut dan malas-malasan di kamarnya. Semua ini terjadi hanya karena satu faktor, yaitu kurangnya kesadaran dari santri yang bertempat di pondok pesantren Trilogi Al-Muhajirin dalam menjaga lingkungannya.
Dan selanjutnya yaitu program kerja dari bidang Wirausaha dan Pengembangan Bakat Santri. Setiap minggunya tepatnya pada hari minggu malam diadakannya suatu ekstrakulikuler santri, terdapat 3 ekstrakulikuler yaitu marawis, hadlroh dan vokal santri. Namun seperti program kerja sebelumnya karena kurangnya kesadaran dari santri tersebut sehingga keikutsertaan dalam kegiatan tersebut pun kurang maksimal, selain karena kurang kesadaranpun kurang maksimalnya program kerja dari bidang Wirausaha dan Pengembangan Bakat Santri juga karena waktunya pada hari libur, sehingga banyak santri yang izin pulang dan tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut.
utama penghalang terlaksananya berbagai program dari pengurus Dewan santri Trilogi Al-Muhajirin.
Mungkin hal ini bukan hanya terjadi di pondok pesantren Trilogi Al-muhajirin saja, karena pada dasarnya semakin dewasanya seseorang maka akan timbul kecenderungan untuk menentukan suatu sikap atau perilaku atas kehendaknya sendiri saja sehingga semakin sulit seseorang tersebut untuk mengikuti suatu norma atau hukum yang ada. Berbeda dengan pesantren-pesantren yang diperuntukan oleh siswa siswi saja seperti tingkatan SD-SMA. Karena sebagian besar dari mereka akan mengikuti berbagai kegiatan yang ada karena belum timbulnya kesadaran untuk melakukan berbagai kegiatan sekehendaknya, dan rasa takut akan segala hukuman di dalam setiap pelanggaran sendiri menjadi alasan kuat untuk tidak melanggar berbagai aturan tersebut, berbeda dengan orang dewasa yang kecenderungan akan rasa takut terhadap hukumannya lebih sedikit.
Sumber: