Perkembangan Pendidikan Islam di Daerah
Mayoritas dan Minoritas Muslim Indonesia
A. Pendidikan Islam di Indonesia
Sejarah membuktikan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M/1 H.1
Tetapi baru meluas pada abad ke-13 M. Perluasan Islam ditandai berdirinya kerajaan Islam tertua di Indonesia, seperti Perlak dan Samudra Pasai di Aceh pada tahun 1292 dan tahun 1297.
Perkembangan pendidikan islam di Indonesia antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang amat sederhana, sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern. Lembaga pendidikan islam telah memainkan fungsi dan perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zamannya.
Pendidikan Islam di Indonesia pada masa awalnya bersifat informal, yakni melalui interaksi inter-personal yang berlangsung dalam berbagai kesempatan seperti aktivitas perdagangan. Da’wah bil hal atau keteladanan. Pada konteks ini mempunyai pengaruh besar dalam menarik perhatian dan minat seseorang untuk mengkaji atau memeluk ajaran Islam. Selanjutnya, ketika agama ini kian berkembang, system pendidikan pun mulai berkembang
Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan.
Pendidikan Islam merupakan pewarisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman ajaran Islam sebagaimana yang termaktub dalam Alqur’an dan terjabar dalam Sunnah Rasul, yang dimaksudkan adalah dalam rangka terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.2 Dengan demikian cirri yang membedakan
antara pendidikan Islam dengan yang lain adalah pada penggunaan ajaran Islam sebagai pedoman dalam proses pewarisan dan pengembangan budaya ummat manusia tersebut.
Indonesia merupakan negara yang memiliki kemajemukan dalam masyarakatnya. Masyarakat majemuk disusun oleh perbedaan-perbedaan identitas sosial, seperti identitas keagamaan, keetnisan, identitas profesi, dan berbagai kelompok sosial yang mendefinisikan diri secara unik dan berbeda dari kelompok lain. Hal penting yang muncul dalam pemikiran sosiologis terhadap adanya masyarakat majemuk ini adalah konsekuensi-konsekuensi terhadap beberapa hal penting dalam kehidupan sosial seperti stabilitas dan harmoni sosial dan persaingan identitas dalam arena-arena sosial. Secara umum dari semua konsekuensi tersebut, konsekuensi masyarakat majemuk adalah konflik sosial dan hal inilah yang terjadi di Indonesia selama beberapa dekade belakangan ini.
Negara Mayoritas Muslim adalah negara yang jumlah penduduk kaum musliminnya lebih dari setengah jumlah penduduk. Akan tetapi apabila jumlah kaum musliminnya kurang dari setengah jumlah penduduk, maka digolongkan minoritas, dan termasuk ke dalam Negara yang bukan Islam. Selain itu, yang dimaksud dengan minoritas muslim (sekalipun jumlah mereka banyak) adalah kelemahan dan tidak adanya peran (baik ekonomi, sosial maupun politik) kaum muslim di sana.3
Islam di Indonesia merupakan mayoritas terbesar umat Muslim di dunia. Berdasarkan seminar tahun 1963 M di kota Medan, agama Islam pertama kali masuk ke Indonesia pada abad 1 H/ 7 M, langsung dari negeri Arab. Daerah pertama yang dimasuki Islam adalah pesisir Sumatera Utara. Setelah itu umat Islam membentuk kerajaan Islam pertama, yaitu kerajaan Aceh. Mayoritas para Dai yang pertama adalah pedagang. Pada saat itu dakwah disebarkan secara damai.4
2Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam (PT Al-Ma’arif Bandung, 1984), hal.23 3. Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam, Terjemahan : Samson Rahman, (Jakarta: Akbar Media, 2013), hal.549-550
Perkembangan pendidikan islam di Indonesia antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang amat sederhana, sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern. Lembaga pendidikan islam telah memainkan fungsi dan perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zamannya. Perkembangan lembaga-lembaga pendidikan tersebut telah menarik perhatian para ahli baik dari dalam maupun luar negeri untuk melakukan studi ilmiah secara komprehensif. Kini sudah banyak hasil karya penelitian para ahli yang menginformasikan tentang pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan islam tersebut. Tujuannya selain untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan yang bernuansa keislaman juga sebagai bahan rujukan dan perbandingan bagi para pengelola pendidikan islam pada masa-masa berikutnya.
B. Pendidikan Zaman Kerajaan Islam
Salah satu tujuan adanya pendidikan Islam adalah terbentuknya masyarakat muslim di Indonesia. Terbentuknya masyarakat muslim disuatu daerah adalah melalui proses yang panjang, yang dimulai dari terbentuknya pribadi muslim sebagai hasil dari upaya para Da’i.
Tumbuhnya kerajaan Islam sebagai pusat-pusat kekuasaan Islam di Indonesia ini jelas sangat berpengaruh sekali dalam proses islamisasi pendidikan Islam di Indonesia yaitu sebagai suatu wadah yang dapat mempermudah penyebaran islam di Indonesia. Ketika kekuasaan politik Islam semakin kokoh dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam, pendidikan semakin memperoleh perhatian, karena kekuatan politik digabungkan dengan semangat para mubaligh untuk mengajarkan Islam merupakan dua sayap kembar yang mempercepat tersebarnya Islam keberbagai wilayah di Indonesia.
Dalam sebuah sejarah ada yang menyatakan bahwa kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Samudra Pasai, yang didirikan pada abad ke 10 M dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Tapi catatan lain ada yang menyatakan bahwa kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak. Hal ini dikuatkan oleh Yusuf Abdullah Puar, dengan mengutip pendapat seorang pakar sejarah Dr.NA. Baloch dalam bukunya “Advend of Islam in Indonesia”.5 Tapi saying sekali bukti-bukti kuat yang mendukung fakta
sejarah ini tidak banyak ditemukan.
Dikatakan Ibn Batutah dalam bukunya Rihlah Ibn Batutah bahwa ketika ia berkunjung ke Samudra Pasai pada tahun 1354 ia mengikuti raja setelah shalat jum’at sampai waktu ashar. Dengan hal tersebut ia mengira bahwa pada saat itu Samudra Pasai sudah merupakan pusat agama islam dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai Negara Islam untuk berdiskusi tentang masalah keagamaan dan keduniawian sekaligus.6
Dengan demikian, Samudra Pasai merupakan tempat studi islam yang paling tua yang dilakukan oleh sebuah kerajaan. Sementara itu, untuk luar kerajaan , ajaran islam diduga sudah dilakukan di koloni-koloni tempat para pedagang di pelabuhan. Proses ajaran islam di kalangan Kerajaan diduga dilakukan di mesjid kerajaan bagi anak-anak pembesar negara, di mesjid-mesjid lain, mengaji di rumah-rumah guru dan di surau-surau untuk masyarakat umum. Dari semua itu lalu berkembang menjadi lembaga pendidikan islam.
Samudra Pasai terus menjadi pusat studi islam di Asia Tenggara khususnya di Indonesia, walaupun secara politik tidak berpengaruh lagi. Ketika kerajaan Islam Malaka menjadi pusat kegiatan politik, Malaka juga berkembang menjadi pusat studi Islam. Tapi peran Samudra Pasai tidak berkurang, bahkan fatwah-fatwah yang tidak biasa di selesaikan ulama di Malaka maka mereka minta bantuan ulama Samudra Pasai. Belum dapat di ketahui secara pasti bagaimana ajar islam dilakukan di Malaka, namun kemungkinan sama seperti yang dilakukan di Samudra Pasai.
Istana juga berperan sebagai tempat mudzakarah masalah ilmu pengetahuan dan sebagai pustaka, dan juga sebagai pusat penyalinan dan penerjemahan kitab-kitab keislaman.7 Mata
pelajaran yang di bagikan di lembaga pendidikan Islam dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu : 1. Tingkat dasar terdiri atas pelajaran membaca, menulis, bahasa Arab, mengaji Al-Qur’an
dan ibadah praktis.
2. Tingkat yang lebih tinggi yaitu dengan materi-materi ilmu fiqih, tasawuf, ilmu kalam, dan lain sebagainya.
Banyak ulama dari Afghanistan, Malabar, Hindustan dan terutama Dari Arab untuk mengambil peran menyebarkan agama Islam di Malaka. Para ulama itu biasanya di beri kedudukan yang tinggi di kerajaan dan para penuntut ilmu banyak berdatangan dari Asia
6Taufik Abdullah, PerkembanganPendidikan Islam, Op.Cit., hal .110
Tenggara. Dari jawa, Sunan Bonang dan Sunan Giri pernah belajar di Malaka, dan setelah selesai belajar mereka mendirikan tempat pendidikan Islam di tempat mereka masing-masing.
Di kerajaan Aceh Darussalam, Sultan Iskandar Muda juga sangat memerhatikan pengembangan agama dengan mendirikan masjid-masjid seperti Masjid Bait al-Rahman di Banda Aceh dan pusat-pusat pendidikan Islam yang disebut dayah. Sultan mengambil ulama sebagai penasihatnya, yang terkenal diantaranya adalah Samsuddin al-Sumatrani. Tradisi ini juga dilakukan oleh sultan selanjutnya, sehingga di Aceh terdapat ulama-ulama terkenal yang menyebarkan Islam di Asia Tenggara.
Para ulama besar ini berjasa mendirikan dayah yang kemudian berkembang menjadi perguruan tinggi. Para ulama dari luar Aceh yang dating menuntut ilmu di sana seperti Syekh Burhanuddin yang berasal dari Ulakan-Pariaman-Minangkabau. Setelah tamat iya pulang kemudian mendirikan lembaga pendidikan islam yang di sebut surau. Kemajuan pesat lembaga pendidikan di aceh ini membuat orang memanggilnya “Serambi Mekkah”.8 Dan
setelah mereka belajar di Aceh mereka melanjutkan di Makkah.
Sistem pengajaran bagi setiap umat Islam, sebagai mana di negeri-negeri Muslim, adalah pengajian Alquran. Pada tahap awal yaitu hapal bacaan hijaiyah sesudah itu menghapal surat pendek Juz’Amma beserta tajwidnya yang diperlukan untuk shalat.9 Pelajaran selanjutnya
berkenaan dengan persoalan yang berkaitan dengan hukum islam (fiqih) dan tasawuf. Yang member pelajaran pada tahap awal di sebut alim, sedangkan pelajaran yang lebih lanjut diberikan oleh ulama besar terutama yang pernah belajar di Makkah.
Pendidikan islam berkembang pesat setelah para ulama mengarang buku-buku pelajaran keislaman dengan bahasa Melayu, seperti karya-karya Hamzah Fanzuri, Nuruddin al-Raniri, Abd. Rauf Singkel di Aceh. Dan kebahasa-bahasa daerah lainnya, terutama para ulama yang pulang dari Makkah.
Diminangkabau lembaga pendidikan dinamakan surau. Dimana dulu surau dijadikan sebagai tempat menginap anak bujang, setelah islam datang lalu berubah fungsi sebagai tempat shalat, pengajaran dan pengembangan islam seperti belajar membaca Al-Quran.
8 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta:Hidakarya,1995),hal.174
Di Jawa lembaga pendidikan islam disebut pesantren, di Aceh dayah atau Rangkang, di minangkabau surau, pesantren berasal dari nama lembaga sebelum Islam yaitu berasal dari bahasa Tamik santri yang berarti guru ngaji.10 Dari lembaga pendidikan inilah menyebar
agama islam ke berbagai pelosok jawa dan wilayah Indonesia bagian Timur. Oleh karena itu, di jawa sudah ada lembaga pendidikan sejak abad ke-15 dan 16.
Menurut sumber local, lembaga pendidikan islam pertama di Jawa adalah Pesantren Giri dan Pesantren Gresik di Jawa Timur. Pesantren Gresik didirikan Maulana Malik Ibrahim yang mendidik para mubalig yang nantiknya akan menyiarkan agama islam ke seluruh Jawa. Pesantren Giri didirikan oleh Sunan Giri setelah ia kembali dari menuntut ilmu di Malaka.sunan Giri I (Raden Paku) ada tahun 1485 menetap di Giri sebagai kiai besar dengan gelar Prabu (Raja) Samatra. Ia membangu Istana dan masjid sebagai sebuah kerajaan Islam, sehingga digelari raja-ulama. Prabu Samatra sebagai orang pertama yang membangun pusat pendidikan.11 Pesantren Ini dikunjungi oleh santri setempat, Maluku, terutama Hitu.
Terdapat juga pendidikan agama di Ampel-Surabaya-Jawa Timur, dibangun oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel Denta). Berawal dari Giri dan Ampel, pada masa selanjutnya semakin banyak tempat pendidikan di Jawa seperti Tembayat, Prawoto (Demak) dan Gunung Jati Cirebon. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), Sunan Giri, diberi gelar Raja Pandito Ratu sebagai ahli agama yang menyebarkan agama Islam di Cirebon. 12
Di Kerajaan Islam Banjar Kalimantan Selatan, lembaga pendidikan Islam disebut langgar. Orang pertama yang mendirikan adalah Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, seorang ulama Banjar yang pernah menuntut ilmu di Aceh dan Makkah selama beberapa tahun. Sekembalinya ke Banjarmasin, ia membuat langgar di pinggirin ibukota kerajaan yang kemudian dikenal denangan nama Kampung Dalam Pagar.13 Langgar memiliki
banyak kemiripan dengan pesantren di Jawa.
10A.H.Jhon, Islam in South East Asia, Reflections and the New Directions. dalam Indonesia, CMIP, No.19, hal. 40
11H.J. de Graaf, “Shout East Asian Islam to The Eighteenth Century” dalam P.M. Holt,et.al., The Cambridg History of Islam, (London: Cambridge University Press, 1970), vol. ii, hal.175
12Ibid, hal.135
Metode pengajaran dilembaga-lembaga pendidikan keislaman itu adalah sorogan dan bandungan. Sorogan adalah system pengajaran bersifat individual, biasanya bagi murid pemula. Metode ini digunakan yang berlangsung di rumah, masjid, dan langgar secara perorangan.Bandungan adalah sekeompok santri mendengarkan seorang guru memaca, menerjemahkan, menerangkan, mengulas buku Islam dalam bahasa Arab yang sering disebut “kitab kuning” dengan cepat. Santri senior biasanya membantu tugas kiai dan Syaikh. Kiai muda atau ustad masih mendapat pendidikan didalam kelas disebut kelas musyawarah (semacam diskusi) dimana murit mempelajari sendiri kitab-kitab nya.
Dalam pesantren biasanya tidak ada kurikulum, tiap pesantren biasanya memiliki spesifikasi sendiri sesuai pendidikan kiai besarnya. Di Sumatra dan Kalimantan biasanya mereka mempelajari buku-buku orisinil yang di karang oleh ulama Melayu dalam bahasa Melayu, sedangkan di Jawa penekanan diberikan kepada Kitab Arab Klasik yang terkadang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa.
Di Jawa setelah berdirinya kerajaan Demak, pendidikan Islam bertambah maju karena telah ada pemerintah yang menyelenggarakan dan pembesar-pembesar Islam membelanya. Tahun 1475di Bintaro dibentuk organisasi Bayankari Islah (angkatan pelopor perbaikan) untuk mempergiat usaha pendidikan dan pengajaran Islam.14
Setiap anak laki-laki maupun perempuan berumur tujuh tahun harus belajar. Kalau ibu bapaknya tidak sangggup mengajar maka akan diserahakan kepada guru ngaji. Selain untuk mengajar anak-anak, diadakan juga tempat pengajian kitab yang diperuntukkan bagi murit yang telah menamatkan Al-Quran. Pelajaran yang mula-mula adalah usul 6 bis, kemudian matan Taqribi, dan Bidayah Al-Hidayah karangan Imam Al-Ghazali.
Tentang system pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama Islam di Demak punya kemiripan dengan yang dilaksanakan di Aceh, yaitu dengan mendirikan mesjid ditempat-tempat yang menjadi sentral di suatu daerah, disana diajarkan pendidikan agama dibawah pimpinan seorang Badal untuk menjadi seorang guru, yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama Islam.
Pada beberapa daerah kabupaten diadakan Pesantren Besar lengkap dengan pondok-pondoknya untuk melanjutkan pendidikan di desa. Gurunya diberi gelar kiai sepuh atau Kanjeng Kiai, Guru-guru itu biasanya adalah ulama keraton.
Kerajaan Demak ternyata tidak bertahan lama, pada tahun 1568 M terjadi perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang. Namun adanya perpindahan ini tidak menyebabkan terjadinya perubahan yang berartti terhadap system pendidikan dan pengajaran Islam yang sudah berjalan.
Setelah pusat kerajaan Islam berpindah dari Pajang ke Mataram (1586), teruatama disaat Sultan Agung setelah mempersatukan Jawa Timur dengan Mataram serta daerah-daerah yang lain, sejak tahun 1630 M mencurahkan perhatiannya untuk membangun Negara, seperti menggalakkan pertanian, perdagangan dengan luar negeri dan sebagainya, bahkan pada zaman Sultan Agung juga kebudayaan, kesenian dan kesusastraan sangat maju.15
Pada zaman kerajaan Mataram, pendidikan sudah mendapat perhatian sedemikian rupa, seolah-olah tertanam semacam kesadaran akan pendidikan pada masyarakat kala itu, meskipun tidak ada semacam Undang-undang Wajib Belajar, tapi anak-anak usia sekolah tampaknya harus belajar pada tempat-tempat pengajian di desanya atas kehendak orang tuanya sendiri.
Selain pelajaran al-qur’an, juga ada tempat pengajian kitab, bagi murid-murid yang telah khatam mengaji al-qur’an. Tempat pengajiannya disebut pesantren. Para santri harus tinggal diasrama yang dinamai pondok, didekat pesantren tersebut.
C. Pendidikan Islam Zaman Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, penyelenggaraan pendidikan agama mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik di sekolah Negeri maupun Swasta. Usaha untuk itu dimulai dengan memberikan bantuan terhadap lembaga tersebut sebagaimana yang dianjurkan oleh Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP) tanggal 27 Desember 1945, yang menyebutkan bahwa: Madrasah dan pesantren yang pada hakikatnya adalah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berurat berakar dalam
masyarakat Indonesia umumnya, hendaklah pula pendapat perhatian dan bantuannya nyata berupa tunutunan dan bantuan material dari pemerintah.16
Kenyataan yang demikian timbul karena kesadaran ummat Islam yang dalam, setelah sekian lama mereka terpuruk dibawah kekuasaan penjajah. Sebab pada zaman penjajahan Belanda pintu masuk pendidikan modern bagi ummat Islam terbuka secara sangat sempit dalam hal ini menurut Hasbullah minimal ada dua hal yang menjadi penyebabnya, yaitu: 1. Sikap dan kebijaksanaan pemerintah kolonial yang amat diskriminatif terhadap kaum
muslimin.
2. Politik nonkooperatif para ulama terhadap Belanda yang memanfaatkan bahwa ikut serta dalam budaya Belanda, termaksud pendidikan modernnya, adalah suatu bentuk penyelewengan agama.17 Mereka berpegangan kepada salah satu hadits Nabi Muhammad
SAW yang artinya “Barangsiapa menyerupai satu golongan, maka ia termaksud ke dalam golongan itu.18
Akan tetapi keadaan berubah secara radikal setelah kemerdekaan Indonesia dicapai, seakan-akan merupakan ganjaran unutk para pahlawan nasional sepanjang sejarah yang umumnya terdiri darp para ulama atau yang dijiwai oleh keislaman itu, kemerdekaan membuahkan sesuatu yang luar biasa besar manfaatnya bagi kaum muslimin, teruatama di bidang pendidikan modern.
Meskipun Indonesia baru memproklamirkan kemerdekaannya dan tengah menghadapi revolusi fisik, pemerintah Indonesia sudah membenah diri terutama memerhatikan masalah pendidikan yang dianggap cukup vital dan untuk itu dibentuklah Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PP dan K).19 Dengan terbentuknya Kementrian Pendidikan
Pengajaran dan Kebudayaan tersebut, maka diadakanlah berbagai usaha terutama system pendidikan dan menyelesaikannya dengan keadaan yang baru.
16H.A. Timur Djaelani, Op.Cit. hal.135
17Itulah diantara factor yang menyebabkan mengapa kaum muslimin Indonesia amat tercecer dalam segi intelektualitas ketimbang golongan lain. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia : Lintahan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan , (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hal 71
18Ridwan Saidi, Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa, (Jakarta, CV. Rajawali, 1984), hal 6
Seirama dengan perjalanan sejarah bangsa dan Negara Indonesia sejak proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang, maka kebijakan Pendidikan di Indonesia termasuk di dalamnya pendidikan Islam memang mengalami pasang surut.
Oleh karena itu, perjalanan sejarah Pendidikan Islam di Indonesia semenjak Indonesia merdeka sampai tahun 1965 yang lebih dikenal dengan masa Orde Lama (Orla), akan berbeda dengan tahun 1965 sampai sekarang yang lebih dikenal dengan Orde Baru.
Di tengah-tengah berkobarnya revolusi fisik, pemerintah RI tetap membina pendidikan agama pada khususnya. Pembinaan pendidikan agama itu secara formal institusional dipercayakan kepada Departemen Agama dan Departemen P & K (Depdikbud). Oleh karena itu, maka dikeluarkanlah peraturan-peraturan bersama antara kedua departemen tersebut untuk mengelola pendidikan agama di sekolah-sekolah umum.
Pendidikan Agama Islam untuk umum mulai diatur secara resmi oleh pemerintah pada bulan Desember 1946. Sebelum itu pendidikan agama sebagai pengganti pendidikan budi pekerti yang sudah ada sejak zaman Jepang, berjalan sendiri-sendiri di masing-masing daerah.20
Perkembangan pendidikan juga terjadi pada zaman pemerintahan kolonial Belanda dengan memperkenalkan sekolah-sekolah modern menurut system persekolahan yang berkembang di dunia barat, sedikit banyak mempengaruhi system pendidikan di Indonesia, yaitu pesantren. Padahal diketahui bahwa pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan formal di Indonesia sebelum adanya kolonial Belanda, justru sangat berbeda dalam system dan pengelolaannya dengan sekolah yang diperkenalkan oleh Belanda.21
Pendidikan yang dikelola Belanda khususnya berpusat pada pengetahuan dan keterampilan
20Pada bulan Desember 1946 dikeluarkan peraturan bersama dua menteri yaitu Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Pengajaran yang menetapkan bahwa pendidikan agama diberikan mulai kelas IV SR (Sekolah Rakyat=Sekolah Dasar)sampai kelas VI. Pada masa itu keadaan keamanan di Indonesia belum dapat berjalan dengan semestinya. Daerah-daerah dilaur Jawa masih banyak yang memberikan pendidikan agama mulai kelas I SR. Pemerintah membentuk Majlis Pertimbangan Pengajaran Agama Islam pada tahun 1947, yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara dari Departemen. Samsul Nizar. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesi, (Cet. 3, Jakarta, Kencana,2009) hal 348
duniawi yaitu pendidikan umum, sedangkan pada lembaga pendidikan Islam lebih menekankan pada pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi penghayatan agama.22
Dengan terbukanya kesempatan yang luas bagi masyarakat umum untuk memasuki sekolah-sekolah yang diselenggarakan secara tradisional oleh kalangan Islam, dan mendapat tantangan dan saingan berat dengan didirikannya sekolah Belanda yang dikelola secara modern oleh Belanda yang berisikan materi tentang keterampilan duniawi karena untuk sekolah pesantren memerlukan biaya yang sangat tinggi
Melalui perjalanan waktu yang cukup panjang, proses penyusunan Undang-undang tentang system pendidikan nasional, sejak tahun 1945 sampai tahun 1989, tampaknya undang-undang tersebut juga merupakan puncak dari usaha mengintegrasikanpendidikan Islam kedalam kedalam system pendidikan nasional, sebagai usaha untuk menghilangkan dualism system pendidikan yang selama ini masih berjalan
D. Kesimpulan
1. Pendidikan Islam di Indonesia sejatinya berlangsung sejak masuknay Islam di Indonesia dengan masjid sebagai pusat peribadatan dan tempat belajar. Setelah penggunaan masjid cukup, maka munculah pesantren yang kemudian menjadi akar pendidikan Islam di Indonesia.
2. Pendidikan merupakan suatu hal yang amat penting dalam menentukan maju-mundurnya suatu peradaban dan bangsa. Kegiatan pendidikan, pada umumnya, sudah dimulai sejak zaman dahulu, dan tentunya telah mengalami berbagai macam perubahan, baik yang diakibatkan oleh dinamika pemikiran, maupun dinamika social-politik pada tempat dan waktu yang tertentu, begitu pun halnya dengan masa zaman kerajaan Islam.
3. Metode pendidikan pada masa kerajaan samudra pasai yaitu mengadakan pendekatan secara langsung dengan pimpinan masyarakat yang dilakukan oleh Syekh Ismail, seorang da’i yang diutus langsung oleh seorang Syarif penguasa Malakah. Melalui Merah Siluh
yang kemudian setelah beragama Islam bernama Sultan Malik Al-Saleh disinilah Islam mulai berkembang pesat di Samudra Pasai.
4. Nilai-nilai dan aspek-aspek tujuan pendidikan nasional yang sesuai dengan Pasal 4, sepenuhnya adalah nilai-nilai dasar ajaran Islam tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu perkembangan pendidikan Islam akan mempunyai peran yang menentukan dalam keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Ishak. Islam di Nusantara (Khususnya di Tanah Melayu), Selangor: al-Rahmaniyah, 1990
Abdullah,Taufik. PerkembanganPendidikan Islam, Op.Cit., 2001
Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam, Terjemahan : Samson Rahman. Jakarta: Akbar Media, 2013 Boechari, Sidi Ibrahim. Pengaruh Timbal Balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan
Nasional di Minangkabau, Jakarta: Gunung Tiga, 1981
Carbon, Arya Pangean. Purwaka Tjaruban Nagari (Salinan Adja), Jakarta: Ikatan Karyawan Museum, 1972
Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta: LP3ES, 1982
D. Marimba, Ahmad. Filsafat Pendidikan Islam, Bandung PT Al-Ma’arif, 1984
Graaf, H.J. de, “Shout East Asian Islam to The Eighteenth Century” dalam P.M. Holt,et.al., The Cambridg History of Islam, London: Cambridge University Press, 1970
Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia : Lintahan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan , Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999
Hurgronje, C.Snouck. Aceh di Mata Kolonialis, Jakarta: Yayasan Soko Guru, 1985
Jhon, A.H. Islam in South East Asia, Reflections and the New Directions. dalam Indonesia, CMIP, No.19,
Mahmud, Yunus. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hidakarya, 1995
Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Belajar,2004 Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah
Sampai Indonesi, Cet. 3, Jakarta, Kencana,2009