Nama Pengarang : Victor M. Situmorang, S.H.
Hendri Soekarso, S.H.
Judul buku : Pengantar Hukum Kepailitan Di Indonesia
Penerbit : Rineka Cipta
Kota : Jakarta
Tahun : 1993
BAB I PENDAHULUAN
A. Hukum Kepailitan Dalam Dunia Usaha
Dalam dunia usaha, suatu perusahaan tidak selalu berjalan dengan baik dan acapkali keadaaan keuangannya sudah sedemikian rupa sehingga perusahaan tersebut tidak sanggup lagi membayar hutang-hutangnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehidupan suatu perusahaan dapat saja dalam kondisi untung ataupun rugi. Dlaam rangka pengembangan suatu perusahaan mungkin atau pasti mempunyai hutang. Bagi suatu perusahaan hutang bukanlah sutu hal yang buruk asal perusahaan itu masih dapat membayar kembali. Perusahaan begini biasa disebut sebagai solvable, artinya perusahaan yang mampu membayar hutangnya. Sebaliknya, perusahaan yang tidak mampu membayar hutang-hutangnya disebut dissolvable, artinya tidak mampu membayar.
Dalam peraturan kepailitan hanya mensyaratkan “seseorang telah berhenti membayar hutang-hutangnya”, tanpa menyebutkan sebab-sebabnya, sehingga ada kemungkinan bahwa keadaan berhenti membayar itu disebabkan oleh karena debitur memang tidak mampu atau karena ia (debitur) hanya tidak mau membayar hutang atau hutang-hutangnya.
Jika kita berbicara mengenai masalah hukum, maka kita akan mengenai adanya subyek dan obyek hukum. Subyek hukum adalah pendukung hak dan kewajiban. Sedangkan obyek hukum adalah dapat berupa benda atau segala sesuatu yang menjadi intisari dan perikatan. Mengnai subyek hukum ada 2 macam yaitu :
person menurut hukum. Jadi setiap manusia dianggap sebagai pendukung hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum dan merupakan subyek hukum.
- Badan Hukum (Recht Person) adalah buatan manusia, yang mendorong terbentuknya suatu pengertian badan hukum adalah manusia didslam hubungan-hubungan hukum privat tidak hanya dengan sesamanya tetapi jugs terhadap persekutuan. Dalam melaksanakan hak dan kewajibannya badan hukum diwakili oleh direksi atau pegawainya, akan tetapi orang yang bertindak tidak untuk dirinya melainkan untuk dan atas pertanggung gugat badan hukum.
Pada pasal 1234 KUHPerdata menentukan bahwa prestasi dapa berupa memberikan sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu. Pada azasnya dengan berlakunya sistem hukum maupun seorang yang berhutang (debitur) berkewajiban untuk memenuhi prestasinya terhadap orang yang berpiutang (kreditur), dengan demikian maka dibentuklah UU oleh pembentuk UU.
Dalam rangka mencegah tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh kreditur yang beritikad buruk yang akan mengambil barang-barang debitur dengan harapan sebagai pelunasan dari piutangnya dengan merugikan para kreditur yang lain termaksud termaksud pilih kasih oleh debitur kepada kreditur lainnya, maka diberlakukannya peraturan kepailitan yang berusaha mengadakan peraturan yang adil. Dengan adanya peraturan kepailitan, penyelesaian urusan-urusan yang berkepentingan dalam hal hutang piutang dengan cara keseimbagan, artinya, sesuai dengan imbalan jumlah-jumlah piutang yang dimiliki. Tanpa adanya azas keseimbangan ini jelas bahwa dengan terdapatnya sejumlah kreditur terhadap seorang debitur, maka akan terjadi kreditur yang terdahulunya yang mendapat pelunasan penuh sebab harta debitur sudah habis. Hal rangka mencegah hal demikian, peraturan kepailitan berusaha menciptakan tata yang adil demi memenuhi beberapa syarat kepailitan yang essensial yaitu :
1. Adanya keadaan berhenti membayar oleh seorang debitur,
2. Terdapa sejumlah kreditur, yang salah seorang dari kreditur tersebut piutangnya sudah dapat ditagih,
3. Harus melalui putusan hakim pengadilan negeri.
masing dan para kreditur itu pula menerima sesuai dengan hak atau kedudukannya masing-masing.
B. Maksud dan Tujuan Hukum Kepailitan
Hukum kepailitan bukan suatu lembaga yang sederhana dan berdiri sendiri, karena mengatur hubungan berbagai pihak sehingga mempunyai berbagai kaitan dan aspek yang merupakan masalah yang perlu diperhatikan.
Adapun maksud kepailitan ialah untuk mencegah sitaan dan eksekusi oleh seroang kreditur atau lebih secara perseorangan atau untuk menghentikan sitaan atau eksekusi dengan sitaan atau eksekusi secara bersama-sama, hasil penjualan semua kekayaan tersebut lazim disebut “budel”, dapa dibagikan secara adil antara seluruh kreditu dengan mengingat akan hak-hak pemegang hak-hak istimewa, gadai dan hipotik, selanjutnya tujuan kepailitan tersebut ialah untuk mencegah sitaan dan eksekusi oleh seorang kreditur atau lebih secara perorangan. Dengan demikian pernyataan pailit pada hakikatnya bertujuan untuk mendapatkan penyitaan umum atas seluruh kekayaan si beruntang yaitu seluruh kekayaan si berutang disita dan dibekukan untuk kepentingan semua kreditur.
BAB II
PENGERTIAN TENTANG KEPAILITAN
A. Istilah dan Pengertian Kepailitan
Secara itimologi istilah kepailitan berasal dari kata pailit. Selanjutnya isilah “pailit” berasaldari kata Belanda yaitu failliet yang mempunyai arti ganda yaitu sebagai kata benda dan kata sifat. Istilah failliet sendiri berasal dari kata Perancisyaitu Faillite yang berarti pemogokan atau kemacetan pembayaran, sedangkan orang yang mogok atau berhenti membayar dalam bahasa Perancis disebut La Faili. Kata kerja Faillir artinya ialah gagal. Sedagkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata to fail dengan arti yang sama, dan dalam bahasa latin disebut failure. Kemudian istilah kepailitan dalam pengertian hukum menggunakan istilah faillet yang mengandung unsure-unsur tersendiri yang dibatasi secara tajam, namun definisi tersebut tidak terdaapt dalam UU.
Dengan berbagai definisi maka unsure-unsur dari kepailitan yakni : - Adanya sita dan eksekusi atas seluruh kekayaan debitur,
- Sita itu semata-mata mengenai harta kekayaan,
- Sita dan eksekusi tersebut untuk kepentingan para kreditu secara bersama-sama. B. Subyek dari Kepailitan
Sebelum dihapuskannya Buku III KUHD, UU masih membedakan kepailitan pedagang dan kepailitan bukan dagang. Untuk kepailitan par pedagan diatur dalam Buku III KUHD berjudul “perihal ketentuan-ketentuan dalam keadaan pedagang tidak mampu”. Sedangkan untuk kepailitan bukan pedagang diatur dalam WVK dalam bab tersendiri. Setelah dihapusnya Buku III KUHD dan dengan diundangnya UU Kepailitan, UU tidak lagi membedakan kepailitan untuk pedagang dan bukan pedagang. Berikut ini ialah yang dapat dinyatakan pailit :
1. Wanita yang bersuami
pailit. Lain halnya jika hutang tersebut ialah hutang si istri sendiri dan tidak menjdai tanggungjawab suami.
Dari ketentuan pasal 3 peratan kepailitan bahwa kepailitan terhadap istri yang bersuami hanya dapat dinyatakan pailit berdasarkan :
- Hutang istri itu sendiri yang secara pribadi harus bertanggungjawab karena adanya izin dari suaminya (pasal 108 KUHPerdata)
- Hutang istri dalam hal istri dengan izin yang tegas atau izin secara diam-diam dari suami atau atas usahanya sendiri yang melakukan sesuatu mata pencaharian (pasal 113 KUHPerdata)
- Hutang istri, dalam hal ini istri tersebut sebelum ia kawin dan hutang rumah tangga istri itu sendiri (pasal 121, pasal 109 KUHPerdata)
2. Kepailitan harta peninggalan
Mengenai harta peninggalan dari seseorang yang sudsh meninggal dunia dapat pula dinyatakan pailit berdasarkan peraturan kepailitan pasal 197. Untuk selanjutnya ahli waris si mati harus dipanggil melalui jalur sita untuk didengar tentang adanya permohonan itu. Pernyataan pailit oleh hakim berakibat demi hukum terpisahnya harta kekayaan si mati dengan harta kekayaan para ahli waris.
3. Kepailitan Firma dan Commanditier Vennootschap
Mengenai kepailitan tersebut diatur dalam pasal 4 ayat (2) peraturan kepailitan (PK) yang dapat disimpulkan bahwa firma dan CV dipandang atau diperlakukan sebagai suatu badan hukum sehingga perseroang tersebut dapat dinyatakan pailit. Apabila suatu firma dinyatakan pailit berarti kepailitan dari para perseronya yang masing-masing bertanggungjawab sepenuhnya untuk perikatan-perikatan dari firma. Kemudian apabila terdapat hutang-hutang yang tidak dibayar oleh suatu firma adalah hutang dari perseroan firma itu sendiri, sedangkan kepailitan sebuah CV adalah juga kepailitan dari para perseroannya.
4. Kepailitan Perseoran Terbatas (PT)
anggaran dasar perseroan tersebut, sedangkan para perseronya hanya bertanggungjawab secara terbatas yaitu sebagai modal yang mereka masukan.
C. Sejarah Hukum Perseroan
Sejak tanggal 1 oktober 1838 Belanda telah memiliki Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (WUK). Dan pada saat itu Belanda masih menjajah Indonesia. Karena itu berdasarkan azas konkordasi hukum dagang Belanda diberlakukan di Indonesia mulai tanggal 1 Mei 1848. Yang termuat dalam pengumuman pemerintah Belanda tanggal 30 April 1847 LN Stb 1847 No.23. Kemudian dengan adanya 2 peraturan yang masing-masing ditentukan berlaku bagi pedagang dan bukan pedagang hal tersebut dinyatakan tidaklha praktis dalam penerapannya. Bertitik tolak pada hal tersebut maka dipandang perlu adanya perubahan maupun penyempurnaannya. Oleh karena itu pada tahun 1893 dikelaurkannya peraturan baru dalam bentuk Faillissmentswet atau UU Kepailitan yang tidak membedakan lagi antara pedagang dan bukan pedagang. Kemudiaa peraturan ini diikuti oleh Hindia Belanda dalam bentuk Faillissmentsverordening (peraturan kepailitan) yang diundangkan dengan Stbl.1905 No.217 yang mulai berlaku tanggal 1 November 1906 berdasarkan Stbl. 1906 No.348 sehingga sejak tahun 1905 kepailitan diatur diluar KUHD.
Dengan demikian peraturan kepailitan yang berlaku sebelum tahun 1906 dan setelah 1906 terlihat adanya perbedaan mengenai peraturannya, keadaan insolvensi dan kedudukan hukum orang pailit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peraturan kepailitan dapat diberlakukan terhadap orang Indonesia berdasarkan pasal II Aturan Peralihan UUD 1945. Pasal II Aturan Peralihan tersebut sangat besar fungsinya untuk menghindari adanya kefakuman atau kekosongan hukum yang sekaligus memberikan landasan hukum terhadap peraturan pemerintah colonial yang masih tetap diberlakukan sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
D. Peraturan Tentang Hukum Kepailitan
Negara 1917 Nomor 12 Jo Nomor 528 tentang penundukan sukarela pada hukum perdata Eropa, yakni penundukan padal :
- Keseluruhan hukum perdata barat - Sebagian hukum perdata barat - Suatu perbuatan hukum tertentu - Penundukan secara diam-diam
BAB III
KEADAAAN DAN PROSEDUR PERMOHONAN PAILIT
A. Keadaan Berhenti Membayar
Sehubungan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (1) PK, UU tidak memberikan penjelasan ukuran apa yang dipakai bahwa debitur berada dalam keadaan berhenti membayar dan kapan hal itu dapat dibuktikan.
Berikut ini merupakan unsure-unsur dari keadaan berhenti membayar sebagai berikut : - Debitur tidak berprestasi, adapun bentuk prestasi disini dapat berupa uang maupun
barang
- Adanya bukti nyata yang menunjukkan tidak dibayarnya utang yang telah jatuh tempo. B. Para Pihak yang Boleh Mengajukan Permohonan Kepailitan
Menurut ketentuan pasal 1 ayat (1) dan ayat (2) peraturan kepailitan, bahwa para pihak yang boleh mengajukan permohonan kepailitan adalah :
- Debitur sendiri
- Seorang kreditur atau lebih - Jaksa demi kepentingan umum
Menentukan tentang siapa yang dapat mengajukan permohonan kepailitan adalah sangat penting sekali untuk adanya kepastian hukum sehingga mencegah penyalahgunaan hak. 1. Debitur Sendiri
Jika seorang kreditur atau lebih mengajukan permohonan kepailitan harus memenuhi syarat bahwa hak menuntutnya terbukti. Walau menurut peraturan kepailitan bersifat sumir atau sederhana yaitu sistem pembuktian yang tidak terkait pasal kepada pasal 1866 BW, yaitu bukti tertulis, saksi , prasangka, pengakuan dan sumpah, kaan tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk melewati jalur hukum.
3. Kejaksaan Demi Kepentingan Hukum
Pihak kejaksaan dapat mengajukan permohonan kepailitan debitur bilamana dipenuhi syarat-syarat adanya keadaaan berhenti membayar dari yang bersangkutan dan berdasarkan alasan kepentingan umum. Apa yang dimaksud dengan kepentingan umum diserahkan kepada pendapat hakim/pengadilan yang bersangkutan.
C. Tata Cara Mengajukan Permohonan Pailit
Undang-undang tidak mengharuskan bahwa permohonan pailit dilakukan oleh perantara seorang pengacara, demikian pula dalam praktek, juga UU tidak mengharuskan bahwa permohonan harus secara tertulis. Selanjutnya bilamana permohonan itu dilakukan secara lisan, maka dari permohonan itu akan dibuat akte yang ditandatangani oleh panitera.
1. Kewenangan Mengadili
Mengenai peradilan yang berwenang memeriksa, mengadili dan memutus perkaranya tergantung pada siapa yang dimohonkan kepailitan. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :
- Menurut pasal 3 Peraturan kepailitan pengadilan yang berwenang menjatuhkan kepailitan adalah Road Van Justice ditempat kediaman debitur. Namun, oada tahun 1942 Road Van Justice dihapuskan dan ditugaskan kepada Pengadilan Negeri.
- Untuk debitur yang pergi keluar Indonesia, maka pengadilan yang berwenang adalah hakim Pengadilan Negeri ditempat kedudukan balai harta peninggalan yang diwilayah hukumhya tempat kediaman terakhir dari si debitur
- Untuk debitur yang tidak mempunyai tempat kediaman di Indonesia, pengadilan yang berwenang adalah pengadilan negeri ditempat kedudukan balai harta peninggalan yang didalam wilayah hukumnya terletak tempat kantornya.
- Untuk perkumpulan-perkumpulan yang tidak berbadan hukum pengadilan yang berwenang adala pengadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (3) peraturan kepailitan jo pasal 11 ayat (1) peratutan darurat kepailitan.
- Untuk wanita yang bersuami yang menjalankan pekerjaan perusahaan maka berlakunya ketentuan dalam pasal 3 peraturan kepailitan jo pasal 11 ayat (1) peraturan darurat kepailitan 1947 yaitu pengadilan negeri ditempat ia menjalankan usahanya atau dimana ia berkediaman.
2. Pemeriksaan Kepailitan
Permohonan kepailitan dilakukan dalan sidang tertutup, sedangkan putusannya diucapkan dalam sidang tertutup untuk umum. Pernyataan pailit baru terbukti bahwa keadaaan berhenti membayar itu ada , kemudian hakim akan memanggil debitur menghadap secara pribadi atau dengan kuasanya uuntuk didengar. Kemudian dengan adanya putusan kepailitan, maka kekuasaan pengurusan harta kekayaan debitur beralih pada balai harta peninggalan dan putusan kepalitan bersifat konstitutif artinya putusan yang meniadakan atau menciptakan suatu badan hukum yang baru, perubahan hubungan atau keadaaan hukum itu sekaligus terjadi pada saat putusan itu diucapkan tanpa memerlukan paksaan. 3. Putusan kepailitan
Disamping memuat hal-hal yang lazim terdapat putusan pengadilam seperti identitas penggugat, tergugat, pertimbagan, dictum, juga pengangkatan seorang hakim pengadilan sebagai hakim komisaris dan pengangkatan panitia sementara para kreditur kalau kepentingan bundle menghendakinya.
Hakim pengawas tersebut memperhatikan semua kepentingan-kepentingan para keditur dan debitur.
4. Panitia Para Kreditur
Sedangkan panitia tetap para kreditur daingkat oleh hakim komisaris yang dipilih oleh para kreditur pada akhir rapat verifikasi, kemudia panitia tetap yang telah disetujui oleh para kreditur lalu diangkat oleh hakim komisaris.
5. Rapat Para Kreditur
Setelah panitia para kreditur terbentuk, kemudian diadakannya rapat-rapat antara lain : - Rapat verifikasi
Tujuan dan maksud dari rapat ini ialah :
Menetapkan siapa yang dianggap kreditu yang sah
Membuka kemungkinan bagi para kreditur untuk memasukkan penagihan, paling lambat 2 hari sebelum rapat verifikasi
Membuka kemungkinan diadakannya perukunan
- Rapat untuk membicarakan akur bila ini diajukan oleh si pailit dan belum sempat dibicarakan pada rapat verifikasi.
BAB IV
BEBERAPA AKIBAT HUKUM TERHADAP PUTUSAN KEPAILITAN
Kepailitan memiliki akibat-akibat penting terutama bagi debitur baik material maupun moril. Berikut ini adalah beberspa akibat oleh beberapa pihak
A. Terhadap Diri Si Pailit
lintas hukum, pendek kata putusan kepailitan tidak mempengaruhi martabat sebagai manusia, akan tetapi baru akan tampak apabila ia ingin memperoleh kredit.
B. Terhadap Harta Kekayaan Si Pailit
Kepailitan meliputi seluruh harta kekayaan si berutang pada saat pernyataan pailit, serta apa yang diperoleh selama kepailitan. Barang-barang yang dikenakan pialit haruslah milik si pailit sendiri, sedangkan barang-barang pihak ketiga yang berada pada tangan si pailit tidak terkena oleh kepailitan.
Setiap pelaksanaan hukum atas harta kekayaan debitur sebelum adanya putusan pailit segera berakhir dengan adanya putusan pailit. Selanjutnya dalam pelaksanaan hukum tersebut antara lain :
- Penyitaan, yang mana aa 3 jenis sita yakni sita revindikasi, sita consevatoir dan sita exsecutoir.
- Paksaan badan (sandera), bilamana debitur dalam penyaderaan pada waktu putusan pailit diucapkan maka ia segera dikeluarkan.
- Uang paksa, uang ini yang dibebankan kepada si debitur tidak hapus melainkan ditunda dan setelah diselesainya kepailitan uang paksa itu hidup kembali.
- Penjulaan barang untuk melunasi hutang, jika debitur sebelum kepailitan menjual harta kekayaannya maka balai harta peninggalan atas kuasahakim komisaris dapat melangsungkan penjualan itu dan hasilnya dimasukkan dalam budel pailit.
- Persetujuan timbal balik, beberapa tuntutan yang bertujuan dipenuhinya suatu perikatan timbal balik menurut sifatnya tidak terpengaruhi sama sekali dengan adanya putusan pernyataan pailit.
- Pengembalian nama - Lampau waktu
C. Pengaruh Kepailitan Terhadap Harta Perkawinan
Apabila seorang yang kawin dalam suatu kebersamaan harta jatuh pailit, maka pailit itu diperlakukan sebagai kepailitan dari kebersaaam tersebut. Apabila seorang pailit yang kawin dalam suatu kebersamaan mempunyai benda-benda pribadi, maka benda-benda tersebut juga terkena kepailitan akan tetapi benda-benda itu tidak bertanggungjawab atas tagihan-tagihan terhadap harta kebersamaan. Apabila seorang suami pailit, istri berhak mengambil semua benda-benda bergerak dan tidak bergerak yang menjadi miliknya yang tidak masuk dalam kebersamaan. Apabila ada barang-barang bergerak yang selama perkawinan karena warisan, penghibaan jatuh pada si istri, maka jika kelak terjadi perselisihan, harus dibuktikan dengan salah satu cara yakni :
- Pertelaan (daftar keterangan, rincian)
- Surat-surat yang memperlihatkan jenis dan harga masing-masing barang - Saksi-saksi
- Dengan pengetahuan umum (pasal 166 KUHPerdata) D. Terhadap Pihak Ketiga
Segala perbuatan yang dilakukan debitur terhadap pihka ketiga sebelum putusan kepailitan dapat tampil sebagai penagih bersaing, kecuali perbuatan tersebut dilakukan 40 hari sebelum putusan kepailitan atau tenggang waktu ini dapat dikalikan dua apabila perbuatan penghibahan dilakukan oleh debitur kepada keluarga sedarah atau semenda samapi derajat ketiga. Apabila perbuatan tersebut dilakukan oleh debitur kepada pihak ketiga setelah adanya putusan kepailitan diakui sepanjang dapat dibuktikan ia tidakmengetahui pernyataan pailit oleh debitur.
E. Saat berakhirnya Kepailitan
Mengenai berakhirnya kepailitan ini terdapat 2 cara yakni dengan cara akor/Accord dan cara Insolvensi.
- Akor/Accord
diterima, maka pengadilan negeri dapat menjatuhkan pernyataan paillit (pasal 274 PK), terhadap putusan pailit tersebut maak si debitur dapat naik banding (pasal 275 PK). - Insolvensi
Insolvensi dapat terjadi bilaman dalam suatu kepailitan tidak ditawarkan akur, atau akur dipecahkan karena tidak dipenuhi sebagaimana yang telah disetujui. Dengan timbulnya insolvensi ini, maka dimulailah penjualan barang-barang yang masih ada, yang mana hasilnya kemudian dibagikan kepada para kreditur. Umumnya penjualan ini dilakukan dimuka umum (lelang), tetapi mungkin pula bahwa suatu likwidasi berangsur-angsur akan membawa hasil yang lebih banyak yang akan menguntungkan baik para kreditur maupun debitur itu sendiri.
Apabila sudah tidak ada lagi kreditur yang merasa keberatan atau semua keberatan telah diselesaikan, maka daftar pembagian dapat mempunyai kekuatan pasti (pasal182 ayat (4) PK). Daftar pembagian itu dapat dikeluarkan berkali-kali seseuai dengan penerimaan sejumlah uang yang akan dibagi melunasi kekurangan sampai kepada daftar pembagian yang terakhir. Apabila daftar pembagian yang terakhir sudah mempunyai kekuatan pasti maka berakhirlah masa kepailitan (pasal 187, pasal 188 PK)
F. Status Hukum Si Pailit
Tentang masa status atau kedudukan hukum si pailit setelah berakhirnya pemberesan yang dilaksanakan oleh balai harta peninggalan, diatur dalam Bab I Bagian Kedelapan Peraturan Kepailitan. Mengenai pengertian pemberesan tidak selalu berarti bahwa para kreditur telah memperoleh kembali piutang mereka secara penuh. Bilamana terjadi bahwa piutangnya para kreditur masih tersisa, maka sisa tersebut tetap merupakan tagihan yang harus dilunasi oleh seorang pailit, dan kreditur tersebut beerhak untuk menuntutnya.
Meskipun orang tersebut telah dinyatakan pailit, orang tersebut mash mendapat perlindungan hukum.
G. Harta Benda Si Pailit
Mengenai harta benda si pailit diatur berdasarkan hukum kebendaan bahwa suatu hak kebendaan ialah suatu hak yang memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda. Dengan adanya peraturan kepailitan maka menjamin harta benda si pailit dari gangguan-gangguan yang mengarah kapada usaha menguntungkan diri.
Menurut pasal 205 si debitur atau para ahli warisnya, setelah berakhirnya kepailitan berhak untuk mendapatkan rehabilitasi atau pemulihan nama baik kepada keadaan semula sebelum adanya pernyataan pailit kepada PN yang dulu memeriksa pernyataan pailit. Yang mana pemulihan tersebut harus disebarluaskan kepada masyarakat luas melalui iklan disruat kabar yang telah mendapat persetujuan PN.
BAB V
BEBERAPA UPAYA HUKUM TERHADAP PUTUSAN PAILIT
A. Pengertian Mengenai Upaya Hukum
Upaya hukum merupakan langkah atau usaha yang diperlukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk memperoleh keputusan yang adil. Dalam peraturan kepailitan dikenal beberapa upaya hukum yakni : perlawanan (verset), banding (hogerberoep) dan kasasi (cassatie).
B. Perlawanan
Mengenai perlawanan menurut pasal 8 ayat (2) PK, apabila debitur tidak deidengar tentang pernyataaan kepailitannya tersedia bagi debitur upaya hukum perlawanan dengan tenggang waktu 14 hari setelah putusan diucapkan.
C. Banding (Hogerberoep)
Mengenai banding peraturan kepailitan mengsturnya dalam pasal 8 ayat (4) dan ayat (5). Debitur dapat memohon banding dalam hal si debitur telah didengar keterangannya dalam kepailitan akan tetapi debitur tidak puas dengan putusan tersebut, maka debitur dapat meminta banding pada Pengadilan Tinggi, dan peromohonan banding dapat diajukan dalam waktu 8 hari setelah putusan diucapkan oleh PN yang berwenang.
D. Kasasi
Permohonan kasasi dapat diajukan dalam tenggang waktu 8 hari setelah putusan pailit dijatuhkan. Selambat-lambatnya 2 minggu setelah mengajukan permohonan kasasi dan dilengkapi dengan alasan-alasan kasasi (memori kasasi).
E. Para Pihak yang Berperan Dalam Pengurusan Budel
2. Balai harta peninggalan 3. Panitia para kreditur 4. Rapat para kreditur
BAB VI
PENUNDAAN PEMBAYARAN
A. Pengertian Penundaan Pembayaran
Acapkali debitur lalai memenuhi atau membayar hutang-hutangnya kepada kreditur. Dalaam hal ini kelalaian dari debitur dapat terjadi karena factor kesengajaan atau ketidakmauan ataupun karena keadaan yang sangat sulit. Menghadapai hal ini hukum telah menyediakan 2 pintu untuk menyelesaiakan hal ini yakni debgan cara penundaan pembayaran dan dengan cara kepailitan. Dasar utama peraturan penundaan pembayaran hutang terdapat dalam pasal 212PK yang menegaskan bahwadebitur yang menduga bahwa dia tidak akan dapat melanjutkan membayar hutang-hutangnya yang sudah dapat ditagih, bisa mengajukan permohonan penundaan pembayaran hutang-hutangnya kepada hakim.
B. Keuntungan dan Akibat dari Adanya Lembaga Penundaan Pembayaran Pengadaan lembaga penundaan pembayaran ini berguna bagi :
- Debitur, karena ia dalam jangka waktu yang cukup dapat memperbaiki kesulitannya dan akhirnya ia dapat membayar hutang-hutangnya denganpenuh
- Kreditur, karena dengan diberikannya penundaan pembayaran tersebut, ada kemungkinan besar si debitur dapat membayar hutang-hutangnya secara penuh sehingga tidak merugikan para kreditur.
Akibat-akibat dari penundaan pembayaran adalah sbb :
- Debitur tidak boleh dipaksa untuk membayar hutang-hutangnya selama berlangsungnya penundaan pembayaran.
- Debitur masih berhak dan berwenang mengurus dan menguasai harta bendanya. Tetapi setiap perbuatan hukum yang dilakukan terhadapa harta bendanya itu harus mendapatkan izin dari pemelihara.
- Debitur masih diberikan keleluasaan untuk membayar hutangnya, tetapi apabila ia membayar harus dilakukan secara berimbang dan merata pada semua krediturnya.
- Selama waktu penundaan pembayaran, debitur tidak boleh dimintakan pernyataan pailit begitu saja.
Perbedaan antara penundaan pembayaran dengan kepailitan adalah sbb : 1. Waktu Pemberian
Meskipun permohonan penundaan pembayaran mendapat perioritas utamauntuk diperiksa dipersidangan tidak berarti permohonan itu harrus selalu ada, artinya apabila debitur tidak mengajukan permohonan penundaan pembayaran maka hakim dapat langsung menyatakan debitur dalam keadaan pailit apabial ada permohonan pailit dari para kreditur.
2. Kedudukan Tertunda
Dalam penundaan pembayaran nasib tertunda yakni orang yang mendapat izin dari hakim untuk menunda pembayaran hutang-hutangnya, tidak sejelek si pailit. Berbeda dengan si pailit yang kehilangan kecakapan berbuat terhadap harta bendanya, maka si tertunda tidak kehilangan hak atas harta bendanya.
3. Lembaga “Pemeliharaan”
Dalam penundaan pembayaran, si tertunda masih cakap berbuat terhadap harta bendanya, hanya tiap-tiap tindakan yang mengenai harta bendanya, dia harus mendapat izin dari seseorang atau lebih yang disebut dengan “pemeliharaan” yang diangkat oleh hakim.
4. Balai Harta Peninggalan
Jika dalam kepailitan dibutuhkan campur tangan dari balai Harta Peninggalan untuk mengurus harta benda si pailit, maka dalampenundaan pembayaran Balai Harta Peninggalan tidak diperlukan lagi.
5. Hakim Komisaris
Tidak ditetapkannya hakim komisaris dalam penundaan pembayaran. Apabila terdapat kesulitan dalam pelaksanaan penundaan pembayaran maka dapat diselesaikan oleh hakim pemutus penundaan pembayaran itu sendiri.
C. Tata Cara Permohonan Penundaan Pembayaran
- Debitur mengajukan permohonan penundaan pembayaran kepada PN, dan permohonan tersebut harus dilampirkan dengan surat-surat
- Surat tersebut dan lampirannya diletakkan di Kepaniteraan PN agak dapat dilihat oleh semua pihak yang berkepentingan
- Setelah PN menerima permohonan tersebut, untuk sementara memberikan izin penundaan pembayaran, seiring dengan penerimaan tersebut pengadilan akan mengangkat seorang atau lebih pemelihara yang bersama-sama debitur mengurus kepentingan debitur dan krediturnya
- Hakim PN melalui paniteranya memanggil para kreditur yang bersangkutan, debitur dan pemelihara untuk diadakannya musyawarah pada hari,jam dan tempat tertentu.
D. Pencabutan Penundaan Pembayaran
Sehubungan dengan ketentuan dalam pasal 240 dan pasal 244 PK, maka pengunduran pembayaran baik yang telah diberikan sementara maupun definitive dapat dicabut :
- Atas permintaan pengurus harta (pasal 240 PK)
- Atas permintaan seorang kreditur atau lebih (pasal 240 PK) - Karena jabatan oleh pengadilan negeri (pasal 240 PK) - Atas permintaan si debitur itu sendiri (pasal 244 PK)
- Para pengurus harta dan apabila mengenia suatu pengunduran tetap, para kreditur harus didengar atau dipanggil sepatutnya (pasal 244 ayat (1) PK)
E. Akor Pada Penundaan Pembayaran
Perbedaan antara akor pada kepailitan dan akor pada penundaan pembayaran adalah sbb: 1. Dari segi waktu
Dari segi waktu , akor penudaan pembayaran diajukan pada saat atau setelah permohonan penundaan pembyaran, sedangkan akor pada kepailitan diajukan setelah adanya putusan hakim.
2. Dari segi penyelesaian
Penyelesaian akor dilakukan padasidang pengadilan yang memeriksa permohonan penundaan pembayaran, sedangkan akor kepailitan dibicarakan pada saat verifikasi, yaitu setelah adanya putusan kepailitan.
Syarat penerimaan akor pada penundaan pembayaran haruslah disetujui oleh 2/3 jumlah kreditur yang diakui dan mewakili ¾ dari jumlah piutang yang diakui. Sedangkan akor pada kepailitan harus disetujui oleh 2/3 dari jumlah kreditur konkuren, yang mewakili ¾ jumlah semua tagihan yang tidak mempuyai kedudukan istimewa.
4. Dari segi kekuatan mengikat