• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIFITAS KOMUNIKASI DALAM PERUBAHAN B

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EFEKTIFITAS KOMUNIKASI DALAM PERUBAHAN B"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIFITAS KOMUNIKASI DALAM

PERUBAHAN BUDAYA ORGANISASI LEMBAGA PENDIDIKAN

Ahmad Noval

Pascasarja UIN SGD Bandung

Program Magister Manajemen Pendidikan Islam

Kampus II, Jl. Cimencrang – Panyileukan, Bandung, Jawa Barat 40292

[email protected]

ABSTRACT

The change that must be created by organizations, including educational institutions such as school or madrasah, to respond ever-changing environmental changes is the change of organizational culture in order to improve organizational performance. To create the change of organizational culture within the school needs an effective communication so that the values, attitudes, and behavior that must be adopted together can be understood and implemented by all components of the school. The purpose of this study is to describe the relationship between effective communication in changing and creating organizational culture in educational institutions, such as school or madrasah. This research as a descriptive qualitative research. The result of this study indicates that effective communication is absolutely necessary in the change of organizational culture. The paradigm of thinking, values, attitudes, and behavior within the school should be well communicated, thus forming a better school culture change.

Keywords: Change, School Culture, Effective Communication

PENDAHULUAN

(2)

Dalam rangka menyikapi tantangan perubahan yang terjadi, sebuah organisasi dituntut untuk dapat meletakkan landasan budaya yang paling sesuai diterapkan pada seluruh lapisan organisasi, agar keefektifan sumber daya manusia dapat diperoleh sehingga dapat meningkatkan kinerja organisasi. Sebagaimana pendapat Ismail Nawawi yang mengatakan bahwa perubahan memerlukan dukungan budaya organisasi, sehingga apabila budaya organisasi tidak sesuai dengan kebutuhan perubahan, perlu dilakukan perubahan budaya organisasi(Ismail Nawawi, 2014. P. 93).

Konsep budaya organisasi yang disandarkan pada kemampuan individu tentunya memerlukan penguatan yang diberikan pada manusia selaku individu agar kesadaran mengenai fungsi mereka sebagai aset organisasi yang paling berharga bisa lebih ditumbuhkan, sehingga kemampuan mereka dalam beradapatasi terhadap perubahan zaman bisa lebih fleksibel dan mendukung kemajuan organisasi. Untuk menjembatani kondisi ideal yang diinginkan organisasi dengan realita yang terjadi, penerapan budaya yang sesuai terhadap keberhasilan kinerja organisasi mutlak diperlukan. Diharapkan dengan adanya ketepatan penerapan budaya pada berbagai situasi dan kondisi, misi dan tujuan organisasi dapat dicapai.

Sebuh komitmen perubahan agar dapat ditumbuhkan perlu adanya visi bersama (shared vision) tentang bagaimana memperbaiki situasi dan kondisi organisasi, dan tujuan bersama (shared aim) menuju organisasi masa depan, serta bagaimana langkah terbaik menuju suatu perubahan organisasi (Ismail Nawawi,2014, p. 45). Artinya, perubahan budaya organisasi yang dibutuhkan demi eksistensi organisasi bisa terjadi apabila terdapat suatu komitmen “kebersamaan” yang tercipta dengan pola komunikasi yang baik antar komponen organisasi. Dengan komunikasi yang tepat maka komitmen perubahan yang dianut secara bersama oleh seluruh komponen organisasi bisa tercipta.

(3)

tidak akan mampu menciptakan budaya organisasi yang baik. Setiap proses perubahan yang terjadi dalam suatu organisasi, tentunya akan menimbulkan suatu konflik, baik yang positif ataupun negatif. Konflik tersebut akan berdampak negatif apabila tidak dikomunikasikan dengan baik antara pihak manajemen dan seluruh anggota organisasi.

Dalam organisasi lembaga pendidikan, komunikasi memiliki peran yang sangat vital. Dengan komunikasi yang baik, suatu lembaga pendidikan dapat berjalan lancar dan berhasil, sebaliknya kurang atau tidak adanya komunikasi maka roda lembaga pendidikan tidak akan berjalan lancar sebagaimana mestinya. Perubahan budaya sekolah menuju lebih baik akan tercipta apabila terdapak komunikasi yang baik antar komponen dalam sekolah. Sekolah-sekolah dengan layanan pendidikan yang bermutu atau berkualitas akan tercipta manakala lingkungan atau budaya sekolah juga mendukung peningkatan mutu sekolah. Sekolah sebagai suatu organisasi pendidikan dengan sistem yang khas maka komponen-komponenya, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, kurikulum, bahkan sarana prasarana, harus saling bersinergi dalam membentuk lingkungan budaya sekolah yang baik. Dengan kata lain, budaya sekolah yang mendukung terciptanya kualitas pendidikan tidak akan terwujud apabila komponen-komponen tersebut tidak bersifat interrelated.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai rumusan masalah yang jawabannya akan diuraiakan dalam artikel ini. Dengan kata lain, artikel ini mencoba untuk menjawab dua pertanyaan rumusan penelitian, yaitu 1) bagaimanakah konsep budaya dan komunikasi organisasi? dan 2) bagaimanakah menciptakan komunikasi yang efektif dalam merespon perubahan budaya organisasi?

(4)

KAJIAN PUSTAKA

Budaya Organisasi Lembaga Pendidikan

Sebagai organisasi lembaga pendidikan, sekolah merupakan organisasidengan sistem terbuka, sekolah tidak mengisolasi diri dari lingkungannya, karena mempunyai hubungan dengan lingkungan intenal dan eksternal sekolah. Sedangkan tujuan utama sekolah adalah menjalankan proses belajar mengajar, evaluasi hasil belajar peserta didik, dan meluluskan peserta didik yang berkualitas memenuhi standar yang dipersyaratkan (Syaiful Sagala, 2013, p. 71). Mutu pendidikan yang diberikan oleh sekolah dengan salah satu indikatornya adalah lulusan yang berkualitas akan terwujud apabila sekolah tersebut memiliki kultur positif yang dibangun dengan memperhatinkan lingkungan internal dan ekstenal sekolah. Artinya, kultur atau budaya sekolah inilah yang akan menentukan kualitas atau mutu pendidikan di sekolah tersebut.

Kent D. Peterson (2002: 3) dalam artikelnya mengatakan bahwa:

School culture is the set of norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and stories that make up the "persona" of the school. These unwritten expectations build up over time as teachers, administrators, parents, and students work together, solve problems, deal with challenges and, at times, cope with failures.

Sedangkan menurut Akhmad Sudrajad (2010), budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah.

Muhaimin, dkk. (Muhaimin, 2011, p. 48) juga mengemukakan bahwa budaya sekolah merupakan sesuatu yang dibangun dari hasil pertemuan antara nilai-nilai yang dianut oleh kepala sekolah/madrasah sebagai pemimpin dengan nilai-nilai yang dianut oleh guru-guru dan para karyawan yang ada dalam sekolah/madrasah.

(5)

Artinya, budaya sekolah yang positif tidak akan terbangun apabila nilai-nilai positif tidak dikomunikasikan dan dikonstruksikan ke dalam pikiran-pikiran individu masing-masing komponen sekolah, baik komponen internal ataupun komponen eksternal.

Asas-Asas Pengembangan Budaya Sekolah

Dalam mengembangkan budaya sekolah yang positif, seluruh komponen sekolah, khususnya kepala sekolah harus selalu berpegang pada asas-asas pengembangan budaya sekolah. Dalam hal ini, Akhmad Sudrajad (2010) mengemukakan sembilan asas pengembagan budaya sekolah, antara lain:

1. Kerjasama tim (team work);nilai kerja sama merupakan suatu keharusan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah.

2. Kemampuan;kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik.

3. Keinginan; Keinginan harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi seluruh kompones sekolah.

4. Kegembiraan (happiness); kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah, nyaman, dan mendukung.

5. Hormat (respect); nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders lainnya.

(6)

7. Disiplin (discipline); sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan untuk hidup teratur, rapi, dan mampu menempatkan sesuatu secara proporsional.

8. Empati (empathy); kemampuan memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut.

9. Pengetahuan dan Kesopanan; Pengetahuan dan kesopanan yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari orang lain memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain.

Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi, menurut Abdul Aziz Wahab (2011: 142–144), bisa didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Komunikasi organisasi adalah perilaku pengorganisasian yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu berinteraksi dan memberi makna atas apa yang sedang terjadi.

Dengan demikian, komunikasi organisasi merupakan suatu proses penyampaian pesan yang terjadi dalam sebuah organisasi. Karena suatu organisasi terdiri dari beberapa unit yang tidak hanya mencakup internal organisasi, tapi juga ekternal organisasi, maka komunikasi organisasi bisa dikategorikan dalam dua bentuk, yaitu komunikasi internal dan komunikasi ekternal.

Menurut Yosal dan Usep Syaripudin, komunikasi internal adalah pertukaran dan penerimaan pesan di antara manajemen dan warga organisasi serta sesama warga organisasi(Yosal dan Usep Syaripudin, 2013, p. 50–52),. Sedangkan komunikasi eksternal adalah bentuk komunikasi yang dilakukan organisasi dengan lingkungan eksternalnya, seperti para stakeholder dan pihak-pihak yang berada di luar organisasi.

(7)

pengendali perilaku anggota, 2) membangkitkan motivasi karyawan, 3) pengungkapan emosi, dan 4) pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Sedangkan menuru Sendjaja,komunikasi organisasi memiliki fungsi sebagai berikut(Sendjaja, 2002, p. 48):

1. Fungsi informatif; organisasi dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi.

2. Fungsi regulatif; berkaitan dengan peraturan yang berlaku dalam organisasi. 3. Fungsi persuasif; ketika kekuasaan dan kewenangan bisa mengatasi konflik. 4. Fungsi integratif; memungkinkan karyawan bisa melaksanakan tugas dengan

baik.

Selanjutnya, komunikasi dalam suatu organisasi bisa terjadi dalam beberapa pola atau bentuk. Berdasarkan interaksi komunikasi yang dilakukan anggota atau unit organisasi, menurut Arni Muhammadada tiga bentuk komunikasi dalam organisasi, antara lain(Arni Muhammad, 2011, p. 158–197):

1. Komunikasi Interpersonal; proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya dua orang yang langsung diketahui balikannya.

2. Komunikasi Kelompok Kecil; suatu kumpulan individu yang dapat mempengaruhi satu sama lain, memperoleh beberapa kepuasan satu sama lain, berinteraksi untuk beberapa tujuan, mengambil peranan, terikat satu sama lain dan berkomunikasi tatap muka.

3. Komunikasi Publik; pertukaran pesan dengan sejumlah orang yang berada dalam organisasi atau yang diluar organisasi, secara tatap muka atau melalui media.

Sedangkan berdasarkan arah interaksi komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi, terdapat empat bentuk komunikasi sebagaimana yang disampaikakan oleh Sopiah dalam Rusdiana (2016: 182–183), antara lain:

(8)

2. Komunikasi dari bawah ke atas; dirancang untuk menyediakan umpan tentang seberapa baik organisasi telah berfungsi melalui masukan dari bawahan atas perjalanan organisasi.

3. Komunikasi horizontal; komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang memiliki hierarki sama dalam organisasi, seperti antara wakil kepala sekolah. 4. Komunikasi diagonal; komunikasi yang terjadi antara orang-orang dengan

hierarki yang berbeda dan tidak memiliki kewenangan secara langsung.

Penelitian Terdahulu yang Relevan

Persoalan antara komunikasi, perubahan organisai, dan budaya organisasi sebenarnya sudah sering menjadi objek penelitian. Berikut ini merupakan beberapa penelitian yang ada kaitannya dengan komunikasi dan perubahan organisasi, dan budaya organisasi, antara lain:

1. Artikel yang ditulis oleh Benedicta Evienia Prabawanti, Magister Manajemen Universitas Parayangan, dengan judul “Peran Komunikasi sebagai Pendukung Perubahan Organisasi” pada Januari 2009. Penelitian ini merupakan kajian literatur dengan contoh kasus dua perusahaan yang diambil dari buku Blue Ocean Strategy karya W. Chan Kin dan Renee Mauborgne (2005). Artikel ini menunjukkan bahwa komunikasi menjadi bagian penting yang harus dilakukan oleh perusahaan ketika melakukan perubahan. Sedangkan komunikasi yang paling sering dianggap penting adalah komunikasi dengan bentuk penyebaran organisasi, sehingga informasi mengenai perubahan dapat diterima, sehingga mereka juga mengetahui alasan yang melatarbelakangi dilakukannya program perubahan.

(9)

mempunyai hubungan yang positif dengan kinerja guru; budaya organisasi dan komunikasi organisasi secara bersama-sama mempunyai hubungan yang positif dengan kinerja guru. Hal ini menunjukkan bahwa upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja guru dapat dilakukan melalui upaya peningkatan budaya organisasi dan komunikasi organisasi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Menurut Arikunto, penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bukan eksperimen karena tidak dimaksudkan untuk mengetahui akibat dari suatu perlakuan, tetapi bermaksud menggambarkan atau menerangkan suatu gejala tentang suatu variabel. Adapun varibel dalam penelitian ini adalah komunikasi organisasi dan budaya organisasi(Arikunto, 2010, p. 250).

PEMBAHASAN

Komunikasi dan Perubahan Budaya Sekolah

Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan manusia, mulai dari kehidupan pribadi, sosial, masyarakat, agama, dan begitupun dalam berorganisasi. Dalam suatu oganisasi, komunikasi yang baik mutlak diperlukan untuk mengatasi segala persoalan atau konflik yang muncul akibat dari perubahan yang terjadi dalam organisasi tersebut. Perubahan organisasi merupakan sebuah keniscayaan yang harus direspon positif oleh organisasi agar bisa terus belajar dan berkembang.

Salah satu aspek perubahan organisasi yang harus ikut berubah dalam merespon perkembangan organisasi adalah perubahana budaya organisasi. Sebagaimana pendapat Ismail Nawawi yang mengatakan bahwa budaya organisasi berdampak pada kinerja jangka panjang organisasi, sehingga menjadi fakor penting dalam menentuk keberhasilan atau kegagalan organisasi (Ismail Nawawi, 2014, p. 96).

(10)

organisasi bukanlah hal yang mudah. Namun demikian, perubahan budaya organisasi dapat meningkatkan kinerja yang berdampak pada peningkatan produktivitas organisasi. Budaya organisasi perlu diubah ketika organisasi dalam cara kerjanya telah menghalangi kesempatan berubah dan melakukan persaingan (Ismail Nawawi, 2014, p. 97).

Untuk melakukan perubahan budaya dalam organisasi, perlua adanya komunikasi yang efektif yang terjalin antar seluruh komponen organisasi. Keyakinan, sikap, pola perilaku, serta nilai-nilai yang harus dianut secara bersama bisa tercipta apabila terdapat komunikasi yang efektif dalam tubuh organisasi tersebut. Organisasi lembaga pendidikan yang ingin membangun budaya sekolah yang baik harus memperhatikan beberapa asas pengembangan budaya sekolah. Di antara beberapa asas tersebut, teamworking merupakan asas yang paling penting yang harus ada di sekolah. Artinya, tanpa kerja sama yang baik antara seluruh warga sekolah, budaya sekolah yang baik tidak akan tercipta. Maka dari itu, komunikasi efektif dalam membentuk teamworking sangat diperlukan.

Dalam lingkungan organisasi lembaga pendidikan, seluruh komponen organisasi yang meliputi kepala sekolah/madrasah, para guru dan tenaga kependidikan, peserta didik, para orang tua dan masyarakat harus bekerja sama dan memiliki pikiran yang sama dalam membentuk nilai-nilai positif di lingkungan sekolah. Apabila mereka memiliki pikiran yang tidak baik, maka nilai-nilai yang muncul di sekolah akan berdampak pada budaya sekolah yang negatif. Misalnya, jika seorang kepala sekolah dan para guru memiliki pikiran bahwa kuantitas kelulusan jauh lebih penting dari pada kualitas pribadi peserta didik, maka nilai-nilai yang muncul akan negatif. Budaya mencontek pada saat ujian nasional yang dilakukan oleh peserta didik dianggap biasa oleh guru karena yang sekolah inginkan adalah kuantitas lulusan, bukan kualitas pribadi siswa. Apalagi, pikiran seperti ini didukung oleh para orang tua yang menginginkan anaknya lulus meskipun cara yang digunakan tidak baik.

(11)

budaya sekolah yang positif, seluruh komponen sekolah harus bersama-sama menumbuhkan paradigma berpikir positif pada diri mereka. Cara berpikir inilah yang akan menciptakan nilai-nilai yang diimplemantasikan dalam budaya sekolah.

Bagan 1. Pembentukan Budaya Sekolah (Muhaimin, dkk., 2011)

Dari bagan di atas, pembentukan suatu budaya dalam sekolah akan tercipta apabila terjadi proses komunikasi yang efektif antar komponen sekolah, baik komponen internal maupun eksternal. Dari proses komunikasi tersebut, seluruh komponen akan mengetahui dan memahami adanya perubahan dan pembentukan budaya sekolah agar sekolah bisa terus berkembang dan meningkatkan prestasi.

Efektivitas Komunikasi dalam Lembaga Pendidikan

Dalam prosesnya bahwa komunikasi merupakan suatu proses untuk mentranmisikan atau menyampaikan perasaan atau informasi baik yang berupa ide-ide atau gagasan-gagasan dalam rangka mempengaruhi orang lain. Agar komunikasi berjalan efektif, komunikator hendaknya mampu mengatur aliran pemberitaan ke tiga arah, yakni ke bawah, ke atas, ke samping atau mendatar. Bagi setiap orang atau kelompok dalam organisasi hendaknya mungkin untuk berkomunikasi dengan setiap orang atau kelompok lain, dan untuk menerima respon sikap, itu diminta oleh komuniktor.

Menurut Marsetio Donosepoetro dalam proses komunikasi ada beberapa ketentuan, antara lain(Marsetio Donosepoetro, 1982, p. 75):

1. Karena komunikasi mempunyai suatu maksud, maka suatu pesan atau stimulus selalu ditujukan kepada sekumpulan orang tertentu. Ini disebut penerima yang terntetu.

Paradigma Berpikir

(Mindset)

Nilai-nilai

(Values)

Budaya Sekolah

(School Culture)

(12)

2. Komunikator berkeinginan menimbulkan suatu respon kepada penerima yang sesuai dengan maksud yang dibawakan oleh messege atau stimulus tertentu. 3. Suatu komunikasi dinyatakan berhasil jika respon yang timbul

pada penerima, sesuai dengan maksud komunikasi.

Agar komunikasi suatu organisasi lembaga pendidikan bisa berjalan efektif, maka yang harus diperhatikan adalah peran dan fungsi komunikasi dalam organisasi lembaga pendidikan. Barnard (1968) yang dikutip oleh Rusdiana (Rusdiana, 2016, p. 183) mengemukakan faktor komunikasi yang berperan dalam menciptakan dan memelihara otoritas yang objektif dalam organisasi pendidikan, antara lain:

1. Saluran komunikasi harus diketahui secara pasti.

2. Ada saluran komunikasi formal pada setiap anggota organisasi. 3. Jalur komunikasi seharusnya langsung dan sependek mungkin. 4. Garis komunikasi formal dipergunakan secara normal.

5. Orang yang bekerja sebagai pusat pengatur komunikasi haruslah memiliki kemampuan yang baik.

Selain beberapa hal di atas, peranana pemimpin dalam suatu organisasi lembaga pendidikan juga perlu diperhatikan. Oleh sebab itu, seorang pemimpin lembaga pendidikan harus memiliki beberapa keterampilan dasar dalam berkomunikasi sebagaiman yang diuraikan oleh Rusdiana (2016: 184), antara lain: 1. Mampu saling memahami kelebihan dan kekurangan individu.

2. Mampu mengomunikasikan perasaan.

3. Mampu saling menerima, menolong, dan mendukung. 4. Mampu mengatasi konflik yang terjadi dalam komunikasi. 5. Saling menghargai dan menghormati.

(13)

Hambatan dalam Komunikasi Organisasi

Komunikasi tidak selamanya berjalan dengan lancar. Banyak sekali terdapat kesalahan -kesalahan penyampaian, penerimaan, bahkan kesalahan ketika harus mengartikan pesan atau informasi yang di terima. Hal ini menyebabkan salah pengertian antara satu anggota dengan anggota lainnya atau antara atasan dengan bawahannya mengenai pesan yang mereka sampaikan dalam berkomunikasi.

Menurut Arni Muhammad, terdapat dua faktor yang mempengaruhi adanya kesalahan pemahaman terhadap pesan yang disampaikan, yaitu faktor personal dan faktor organisasi(Arni Muhammad, 2011, p. 206–214).

1. Faktor Personal; salah faktor utama yang memberikan kontribusi pada kesalahan memahami pesan pada poses komunikasi adalah persepsi mengenai pemberian komunikasi.

2. Faktor organisasi; kedudukan atau posisi dalam suatu organisasi juga menjadi salah satu faktor utama dalam distorsi pesan dalam proses komunikasi.

Untuk menjalin komunikasi efektif, tentunya hambatan-hambatan tersebut harus disadari dan dicari solusinya. Secara individu (faktor personal), komunikasi yang baik antara rekan sejawat selalu penting dalam membentuk suatu organisasi yang berorientasi pada tim. Ketika komunikasi antar individu sudah baik, maka hambatan struktural tidak akan berdampak terlalu besar pada efektifitas komunikasi dalam organisasi.

PENUTUP

(14)

Organisasi lembaga pendidikan yang bermutu terbentuk melalui kultur atau budaya yang ada di lembaga tersebut. Dengan kata lain, untuk menciptakan kualitas pendidikan, suatu lembaga pendidikan harus membangun budaya yang positif melalui seluruh warga sekolah. Budaya tersebut merupakan sebuah implementasi dari nilai-nilai positif pada yang dianut oleh seluruh elemen sekolah, baik guru, karyawan, siswa, dan orang tua siswa. Nilai-nilai positif akan membangun suatu budaya sekolah yang baik, sebaliknya nilai-nilai negatif akan membangun budaya sekolah yang tidak baik.

Komunikasi ialah proses menyalurkan informasi, ide, penjelasan, perasaan, pertanyaan dari orang ke orang lain atau dari kelompok ke kelompok. Ia adalah proses interaksi antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang dan kelompok-kelompok.

Dalam organisasi lembaga pendidikan, komunikasi yang efektif sangat diperlukan dalam rangka merubah dan membentuk budaya organisasi menjadi lebih baik. Agar hal tersebut bisa terlaksana, maka seluruh komponen organisasi harus diarahkan dan dikomunikasikan agar secara bersama-sama menganut nilai-nilai positif serta memiliki sikap dan perilaku yang membentuk budaya sekolah yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Donosepoetro. (1982). Marsetio. Manajemen dalam Pengertian dan Pendidikan Berpikir. Surabaya.

Iriantara, Yosal. & Syarifudin, Usep. (2013).Komunikasi Pendidikan. Bandung: PT: Remaja Rosdakarya.

Muhaimin, dkk. (2011).Manajemen Pendidikan; Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. Jakarta: Prenada Media Group.

Muhammad, Arni. (2011).Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

(15)

Nawawi, Ismail. (2014).Manajemen Perubahan; Teori dan Aplikasi pada Organisasi Manajemen Publik dan Bisnis. Bogor: Ghalia Indonisa.

Peterson, D., Kent. Enhancing School Culture; Reculturing School. dalam jurnal theJournal of Staff Development. Summer 2002. vol.23.

Prabawanti, Evienia, Benedicta. Peran Komunikasi sebagai Pendukung Perubahan Organisasi, Bina Ekonomi Majalah Ilmiah Fak. Ekonomi UNPAR, Vol. 12, No. 1 (Januari 2010), hlm. 78 – 86.

Rusdiana. A. (2016).Pengembangan Organisasi Lembaga Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Sagala, Syaiful. (2013).Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sendjaja, S. Djuarsa. (2002).Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sudrajad, Akhmad. Pengembangan Budaya Sekolah, sebuat artikel online yang ditulis dan diposkan pada tanggal 4 Maret 2010. Artikel tersebut diunduh dari https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/03/04/ pada tanggal 25 November 2016.

Referensi

Dokumen terkait

1) Kepala sekolah sebagai edukator (pendidik), meliputi pembinaan mental, pembinaan moral dan pembinaan fisik bagi tenaga kependidikan. 2) Kepala sekolah sebagai

Pengaturan lingkungan fisik, Lingkungan yang kondusif akan menumbuhkan motivasi tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu kepala madrasah harus

Peningkatan Kompetensi Supervisi Klinis KEpala Sekolah/ Madrasah untuk meningkatkan Profesionalisme guru.. Jurnal Tenaga

Skripsi Yuyun Yuningsih (2019), dengan judul “Manajemen Kepala Sekolah dalam meningkatkan kinerja tenaga kependidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 01 Rejang

Informan yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, para guru, tenaga kependidikan, komite sekolah dan siswa

Salah satu terobosan yang dilakukan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja tenaga kependidikan adalah dengan mengikutsertakan para guru dalam penataran- penataran, lokakarya,

Informan : Dalam lingkungan sekolah mengembangkan karakter adalah tugas bagi semua tenaga kependidikan baik itu petugas kebersihan, guru karyawan, sampai kepala madrasah turut berperan

Kepala sekolah harus menanamkan kedisiplinan kepada para guru BK, dengan cara membantu para tenaga kependidikan dalam mengembangkan pola prilakunya, membantu para tenaga dalam