Page | ii
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas KuasaNya, makalah yang berjudul “Perbandingan Perencanaan Wilayah berbasis Mitigasi Bencana di Jepang dan Indonesia” ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat dalam rangka tugas mata kuliah Perencanaan Wilayah, yang memuat beberapa substansi dalam rangka membandingkan, serta mengambil pelajaran dari perencanaan wilayah berbasis mitigasi bencana dari pihak yang lebih baik.
Banyak pihak yang turut serta membantu dalam penyusunan Laporan Pendahuluan ini. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.Rer.Reg. selaku dosen pembimbing dalam penyusunan makalah ini.
2. Orang tua yang telah memberikan dukungan bagi penulis dalam menyelesaikan makalah.
3. Pihak-pihak lain yang memberikan kontribusi dalam penyelesaian makalah.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan penulis demi perbaikan makalah di masa mendatang. Penulis berharap makalah ini dapat berguna bagi para pembaca dan masyarakat pada umumnya.
Saitama, Jepang, Mei 2016
Page | iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
I. Pendahuluan ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan... 2
1.3 Sistematika Penulisan ... 2
II. Review Literatur... 3
2.1 Pengertian Bencana ... 3
2.2 Bencana Gempa Bumi ... 3
III. Pembahasan ... 6
3.1 Studi Kasus di Jepang ... 6
3.1.1 Jepang secara Umum ... 6
3.1.2 Kondisi Geografis Jepang ... 6
3.1.3 Gempa Bumi di Jepang ... 7
3.2 Studi Kasus di Indonesia ... 13
3.3 Poin penting dari Perencanaan Wilayah berbasis Bencana di Jepang ... 15
IV. Penutup ... 16
4.1 Kesimpulan ... 16
Page | iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Daerah Rawan Bencana Dunia ... 5
Gambar 2 Lempeng Tektonik di Jepang ... 6
Gambar 3 Jumlah Penduduk Migrasi Tahun 2011... 8
Gambar 4 GDP Regional Tohoku ... 9
Gambar 5 Jalur Kereta Api Wilayah Tohoku ... 10
Gambar 6 Public Housing di Daerah Terdampak Bencana ... 10
Gambar 7 Rencana Pembangunan Kembali ... 11
Gambar 8 Ilustrasi Rencana Buffer Zone Kawasan Terdampak Bencana ... 12
Gambar 9 Rencana Zonasi dan Relokasi Kawasan Terdampak Bencana: Sendai City ... 12
Gambar 10 Daerah Rawan Bencana Gempa Bumi di Indonesia... 13
Gambar 11 Pusat Gempa Aceh 2004 ... 14
Page | 1
1
I. Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Perencanaan wilayah merupakan suatu upaya merumuskan dan mengaplikasikan
kerangka teori ke dalam kebijakan ekonomi dan program pembangunan yang ada di
dalamnya. Perencanaan wilayah perlu mempertimbangkan aspek kewilayahan dan
mengintegrasikan dengan aspek social dan lingkungan menuju tercapainya kesejahteraan
yang optimal dan berkelanjutan (Nugroho dan Dauri, 2004). Wilayah dikembangkan
berdasarkan kebutujan pembangunan masyarakat dalam konteks ruang (spasial) dan waktu
tertentu. Wilayah berkembang secara dinamis sehingga perlu dikaji secara komprehensif.
Pada perencanaan wilayah, terdapat beberapa pendekatan analisis, di antaranya adalah
analisis social budaya, analisis lingkungan, analisis lokasi, analisis ekonomi, analisis
kelembagaan, serta analisis biogeofisik. Analisis biogeofisik merupakan analisis yang
memperhatikan struktur dalam tanah, tingkat kerawanan bencana, daya dukung tanah, dan
sebagainya sehingga kebencanaan merupakan salah satu perspektif yang harus
diperhatikan dalam merencanakan suatu wilayah.
Sebagai warga negara Indonesia, kita pasti sudah tidak asing lagi mendengar berita-berita
mengenai bencana yang menimpa Indonesia. Bencana yang terjadi di antaranta gempa
bumi, tsunami, gunung berapi, banjir, kekeringan, longsor, dan lain sebagainya. Wilayah
Indonesia termasuk daerah yang rawan terjadi bencana alam geologi karena letaknya yang
berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik di dunia, yaitu lempeng Australia di Selatan,
Lempeng Euro-Asia di bagian barat dan lempeng Samudera Pasifik di bagian timur.
Kondisi tersebut menyebabkan bencana terutama gempa bumi. Pada tahun 2015 saja,
terdapat belasan gempa bumi yang mengguncang Indonesia. Pada tahun 2012, terdapat
gempa di Pulau Sumatera yang terasa hingga India dan Thailand. Pada tahu 2009, terdapat
gempa di Sumatera Barat yang menghancurkan ratusan ribu rumah warga dan menewaskan
ribuan jiwa. Pada tahun 2006, terdapat gempa bumi di Daerah Istimewa Yogyakarta yang
merenggut nyawa lebih dari enam ribu jiwa, serta menghancurkan ratusan ribu bangunan.
Page | 2 Sumatera Utara yang meluluhlantakkan Provinsi Aceh dan merenggut ratusan ribu jiwa. Hal
tersebut menimbulkan kerugian bagi wilayah yang tertimpa. Baik kerugian psikologis yang
dialami masing-masing jiwa yang tertimpa, juga kerugian ekonomi akibat lumpuhnya
infrastruktur yang hancur akibat gempa bumi.
Berdasarkan pemaparan tersebut, bencana alam terutama gempa bumi memang tidak
dapat terhindarkan lagi. Namun masih bisa diminalisir kerugian yang dialami. Salah satu
caranya adalah dengan perencanaan wilayah dan penataan ruang berbasis mitigasi bencana.
Namun penanganan bencana di Indonesia cenderung kurang efektif. Hal ini disebabkan oleh
berbagai hal, antara lain paradigm penanganan bencana yang parsial, sectoral dan kurang
terpadu, yan masih memusatkan tanggapan pada upaya pemerintah, sebatas pemberian
bantuan fisik, dan dilakukan hanya pada fase kedaruratan (Pedoman Umum Mitigasi
Bencana; lampiran Peraturan Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2006). Indonesia sebenarnya
dapat mengambil contoh dan pelajaran dari Negara-Negara Maju yang memiliki ancaman
bencana serupa namun memiliki konsep mitigasi yang cukup efektif.
1.2
Tujuan
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui perencanaan wilayah di negara maju berdasarkan bencana
2. Mengetahui poin-poin penting dalam perencanaan wilayah di negara maju
berdasarkan bencana yang dapat diterapkan di Indonesia
1.3
Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN. Merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan
dan sistematika pembahasan.
BAB II RREVIEW LITERATUR Merupakan bab yang berisi tentang konsep dasar teoritis
mengenai bencana dan mitigasi bencana.
BAB III PEMBAHASAN. Merupakan bab yang berisi ulasan best practice mitigasi bencana
di luar negeri dan poin penting yang dapat diterapkan di Indonesia
Page | 3
2
II. Review Literatur
2.1
Pengertian Bencana
Bencana merupakan suatu peristiwa di alam atau di lingkungan buaan manusia yang
berpotensi mrugikan kehidupan manusia, harta, benda, atau aktivitas manusia. Menurut
Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007, Bencana adalah peristiwa atau angkaian peristiwa
yang mengancam dan mngganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh factor alam dan/atau non alam maupun factor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis.
Bencana dapat terbagi menjadi dua jenis, yaitu Bencana Alam dan Bencana non Alam, serta
Bencana Sosial. Bencana Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain berupa gempa bumi, tsunami,
gunung meletus, banjir, kekeringan, angina topa, dan tanah longsor. Bencana non alam
adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang
antara lain berua gagal teknologi, gagal medrnisasi, epidemic, dan wabah penyakit.
Sedangkan Bencana Sosial adaleh peristiwa atau peristiwa yang diakibatkan oleh manusia
yang melipurti konflik social/antar kelompok atau antarkomunitas, masyarajat, dan terror.
(Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007).
2.2
Bencana Gempa Bumi
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang
disebabkan oleh tuumbukan lempeng atra bumi, patahan aktif, aktivitas guung aoi atau
runtuhan batuan. (UU No 24 Tahun 2007). Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi
akibat pelepasan energy di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya
lapisan batuan pada kerak bumi (
http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Gempabumi_-_Tsunami/Gempabumi.bmkg). Akumulasi energy penyebab terjadinya gempa bumi
dihasilkan dari pergerakan lepeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan ke
segala arah berupa gelombang gempa bumi sehinga efeknya dapat dirasakan sampai ke
permukaan bumi. Gempa bumi memiliki karakteristik, di antaranya:
Page | 4 - Lokasi kejadian tertentu
- Dapat menimbulkan bencana - Berpotensi terulang lagi - Belum dapat diprediski
- Tidak dapat dicegah, namun resikonya dapat dikurangi
Gempa bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan-lempengan tektonik yang bergerak.
Semakin lama tekanan yang disebabkan lempengan itu semakin membesar dan akhirnya
mencapai pada keadaan di mana teknana tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggri
lempengan. Gempa Bumi paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan
kompresiona; dan translasional. Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena
pergerakan magma di dalam gunung berapi. Sebagian lagi juga dapat terjadi karena injeksi
atau akstraksi cairan dari/ke dalam bumi, namun yang ini sangat jarang terjadi
(https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi#Akibat_Gempa_Bumi).
Lempeng tektonik dunia dibagi menjadi dua sabuk besar, yaitu Sabuk Sirkum Pasifik dan
Sabuk Mediterania (Erickson, 2001 dalam
http://www.faktailmiah.com/2011/07/28/daerah-rawan-gempa-bumi-di-dunia.html). Daerah paling rawan gempa di dunia adalah sabuk
Sirkum Pasifik. Ia bermula di Selandia Baru, menuju utara kepulauan Tonga, Samoa, Fiji,
Loyalti, Hebrida Baru, dan Solomon. Sabuk ini terus berlanjut ke barat menuju ke Britania
Baru, Papua Nugini, dan Kepulauan Maluku. Satu segmen terus menuju ke Indonesia Barat.
Lengan Utama naik ke utara menuju Fillipina, Taiwan, dan Jepang. Sabuk tersebu berlanjut
ke utara dan mengikuti bususr seismic melintasi ouncak Pasifik, termasuk kepulauan kuril,
Semenanjung Kamchatka, dan Kepulauan Aleut. Sabuk terus memanjang ke parit Aleur,
bertanggung jawab atas banyak gempa Alaska, zoba subduksi Cascadian, dan guncangan
barat laut Pasifik di masa prasejarah, serta celah San Andreas yang menggoyang
California.Sabuk ini terus turun ke Pegunungan Andes di Amerika Tengah dan Selatan,
terkenal karena banyak gempa menghancurkan dan besar. Sebuah zona subduksi besar di
lepas pantai mengancam pesisir Amerika Selatan.Zona seismic kedua pada sabuk
Mediterania melewati daerah pegunungan lipat di moncong Laut Tengah. Daerah
Page | 5 sangat tidak stabil. Sabuk ini berlanjut menembus Iran, melewati pegunungan Himalaya,
menuju China. Jalurnya bercabang di Iran melewati pegunungan Kaukasus menuju Turki.
Daerah-daerah lain yang tidak berdekatan dengan zona seismik merupakan daerah stabil.
Namun gempa tetap mungkun terjadi di daerah ini akibat pelemahan kerak bumi akibat
tekanan di bagian tepian lempengnya.
Gambar 1 Daerah Rawan Bencana Dunia
Sumber: faktailmiah.com
Di Indonesia, penanggulangan bencana diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2007. Di dalamnya diatur mengenai kelembagaan yang berwenang untuk menanggulangi
bencana, hak dan kewajiban masyarakat dalam penanggulangan bencana, peran lembaha
usaha dan lembaga internasional, serta pendanaan dan pengelolaan penanggulangan
bencana. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa gempa bumi belum dapat
diprediksi dan tidak dapat dicegah, melainkan dapat dikurangi resikonya. Untuk
mengurangi resiko bencana gempa bumi, salah satunya adalah Penataan ruang di suatu
wilayah. Di Indonesia, terdapat peraturan yang mengatur penataan ruang di kawasan rawan
Page | 6
3
III. Pembahasan
3.1
Studi Kasus di Jepang
3.1.1
Jepang secara Umum
Jepang merupakan sebuah negara kepulauan di Asia Timur yang letaknya di ujung barat
Samudra Pasifik. Jepang bertetangga dengan Republik Rakyat Tiongkok. Korea, dan Rusia.
Sebagai negara kepulauan, Jepang memiliki 6.852 pulau dengan pulau terbesar, yaitu
Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu. Jepang merupakan degara dengan Produk
Domestik Bruto terbesar kedua setelah Amerika Serikat dan berada pada urutan tiga besar
dalam keseimbangan kemampuan Belanja. Jepang memiliki kekuatan militer yang
memadai lengkap dengan system pertahanan modern seperti AEGIS serta skuat armada
besar. Jepang berada pada peringkat ke-4 negara pengeksplor terbesar dan negara ke-6
pengimpor terbesar di dunia. Jepang memiliki standar hidup yang tinggi, yaitu peringkat
ke-8 dalam Indeks Pembangunan Manusia dan angka harapan hidup tertinggi di dunia.
3.1.2
Kondisi Geografis Jepang
Jepang merupakan negara yang terdiri dari pegunungan yang berhutan-hutan. Daerah ini
cocok untuk pertanian, industry, serta permukiman. Ada pula daerah yang curam dan
berbahaya untuk dihuni karena resiko tanah longsor akibat gempa bumi, kondisi tanah
yang lunak, dan hujan yang lebat. Oleh karena itu, permukiman penduduk terpusat di
kawasan pesisir. Keadaan geografi Jepang menyebabkan negara ini memiliki banyak
sumber mata air panas, dan sebagian di antaranya dijadikan tujuan wisata.
Gambar 2 Lempeng Tektonik di Jepang
Page | 7
3.1.3
Gempa Bumi di Jepang
Letak Jepang yang berada di daerah sabuk gempa dunia, serta memiliki banyak gunung
api menjadikan gempa bumi merupakan hal yang lumrah terjadi di Jepang. Dalam satu
tahun, setidaknya terjadi 10.000 kali guncangan, 2.000 di antaranya merupakan guncangan
yang dapat dirasakan oleh manusia. Pada tahun 2016, gempa besar terakhir yang dialami
adalah gempa yang mengguncang Prefektur Kumamoto. Gempa mengguncang wilayah
ini dua kali dalam jarak waktu 28 jam, masing-masing memiliki kekuatan sebesar 6,2 Skala
Richter dan 7 Skala Richter.
Pada Maret 2011, terdapat gempa bumi besar berkekuatan 9 Skala Richter yang
mengakibatkan gelombang Tsunami setinggi 10 meter. Gempa ini berpusat di
Semenanjung Oshika, pantai timur Tohoku. Kekuatan gempa yang begitu besar
menjadikan gempa ini sebagai gempa terbesar yang mengguncang Jepang dalam 1.200
tahun terakhir dan satu dari empat gempa terbesar dunia sejak pencatatan gempa
modern dimulai.
3.1.3.1 Dampak yang Ditimbulkan
Bencana ini memakan banyak korban.Kepolisian setempat menginfirmas terdapat 15.894
jiwa tewas, 6.152 luka-luka, dam 2.562 hilang di 20 prefektur terdampak. Bencana ini juga
menyebabkan kerugian di negara lain, masing-masing satu orang meninggal dunia di
Jayapura, Indonesia dan di California Amerika Serikat akibat hempasan air laut. Di 3
prefektur utama terdampak gempa, Iwate, miyagi, dan Fukushima, hingga tahun 2012
mengalami penurunan jumlah penduduk hingga 41.216 jiwa, yang artinya lebih dari
30.000 jiwa berpindah ke luar daerah. Sementara dalam hal pariwisata juga mengalami
Page | 8 Gambar 3 Jumlah Penduduk Migrasi Tahun 2011
Sumber: MILT
Dampak lain dari bencana ini meliputi kebakaran di sebuah bangunan di Pelabuhan Tokyo,
pencairan tanah (soil liquefaction) di lahan area wisata Tokyo Disneyland. Layanan kereta
Shinkanshen di hentikan.Penerbangan di Bandar Udara Internasional Narita dan Bandar
Udara Haneda dialihkan ke bandara lain. Seluruh jasa kereta api dibatalkan. 4,4 juta rumah
di timur laut Jepangmengalami pemadaman lsitrik. Pembangkit listrik tenaga nuklit
dimatikan. Kilang minyak di Prefektur Chiba terbakar. Pusat energy nuklir di Fukushia juga
mengalami kebocoran akibat gempa dan tsunami. Perdagangan Jepang ditutup setelah
bencana ini, akibatnya pendapatan per kapita di jepang menurutn drastis, serta bedampak
pula pada pasar saham lain di seluruh dunia seperti di Jerman turun 1,2%, India turun
Page | 9 Gambar 4 GDP Regional Tohoku
Sumber: MILT
3.1.3.2 Respon Pemerintah Jepang
Dalam rangka memulihkan daerah terdampak, pemerintah Jpang mengeluarkan
dokumen rencana tanggap bencana yang dikhususkan untuk kasus Gempa Tohoku 2011.
Pada dokumen tersebut, terdapat rencana pemulihan hingga tahun 2013. Pada dokumen
ini terbagi menjadi 3 tahap, 1) Tanggap darurat, 2)Rehabilitasi, 3)Rencana pemulihan.
Pada tahap-tahap tersebut dibahas masing-masing aspek pendekatan perencanaan.
1. Transportasi
Sanriku Coastal Road merupakan jalan yang dibangun di luar zona rawan tsunami
namun saat itu kondisinya rusak parah sedangkan jalur ini memiliki peran penting
dalam rute transportasi darurat. Jalan ini merupakan rute untuk penguruman barang
bagi korban bencana alam. Selain itu, transportasi umum berupa kereta cepat
Shinkansen juga turut diperbaiki. Hingga Maret 2012 pun expressways di wilayah
Tohoku dibuka gratis untuk umum dalam. Pemulihan jalur kendaraan umum ini
bertujuan untuk mewadahi korban untuk memenuhi kebutuhannya di luar tohoku
Page | 10 Gambar 5 Jalur Kereta Api Wilayah Tohoku
Sumber: MILT
2. Keamanan Tempat Tinggal
Bencana gempa dan tsunami di Tohoku menghancurkan lebih dari 120.000 rumah,
dan merusakkan lebih dari 240.000 rumah. Untuk itu, pemerintah membuat program
pembangunan kembali tempat tinggal yang dikhususkan untuk perumahan tingkat
menengah ke bawah seperti public housing sehingga korban yang tidak memiliki
tempat tinggal dapat menyewa sementara tempat tinggal di sana.
Gambar 6 Public Housing di Daerah Terdampak Bencana
Page | 11 3. Rencana pembangunan kembali
Langkah-langkah pembangunan kembali di daerah terdampak bencana di wilayah
tohoku, Jepang adalah sebagai berikut:
- Menyederhanakan prosedur perizinan kepemilikan dalam rangka mengikuti rencana zonasi
- Mewadahi pembangunan baru yang terintegrasi dengan daerah terbangun dan pertanian
- Menyegerakan pembangunan tempat tinggal
Dalam memulihkan daerah perkotaan yang terdampak bencana, terdapat rencana
tersendiri, yaitu 1) mengembangkan daerah perkotaan, 2) memindahkan
permukiman di tepi pantai menuju daerah yang aman, 3) mengembangkan rute
transportasi darurat, 4) mengembangkan drainase penampung air hujan, 5)
membangun taman-taman untuk melindungi daerah dari bencana 6) pembangunan
untuk sungai beserta tanggulnya, 7) pembangunan hutan buatan untuk mencegah
resiko bencana.
Gambar 7 Rencana Pembangunan Kembali
Page | 12 Gambar 8 Ilustrasi Rencana Buffer Zone Kawasan Terdampak Bencana
Sumber: MILT
Gambar 9 Rencana Zonasi dan Relokasi Kawasan Terdampak Bencana: Sendai City
Page | 13 Setelah itu, pemerintah juga berupaya untuk mempromosikan kembali daerah
terdampak bencana. Seperti salah satu contohnya adalah ‘Tohoku Tourism Expo’.
Dengan demikian, perencanaan konsep mitigasi bencana di Jepang membagi
kawasan yang terancan tsunami menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah
kawasan tsunami level 1 yang merupakan daerah berpotensi terdampak oleh
tsunami dengan periode ulang kejadian 50-150 tahun. Tsunami yang dibangkitkan
oleh gempa jenis ini rata-rata memiliki ketinggian 7 hingga 10 meter. Bagian kedua
adalah kawasan tsunami level 2 yang merupakan daerah berpoteni terdampak
tsunami dengan periode ulang kejadian di atas 500 tahun hingga ribuan tahun.
Tsunami jenis ini dapat mencapai ketinggian 20-30 meter.
3.2
Studi Kasus di Indonesia
Indonesia juga merupakan daerah rawan bencana gempa bumi. Hal ini disebabkan oleh
posisi Indonesia yang berada pada sabuk Sirkum Pasifik.
Gambar 10 Daerah Rawan Bencana Gempa Bumi di Indonesia
Sumber: google.com
Pada tanggal 26 Desember 2004, terjadi bencana besar yang menimpa Indonesia. Pada hari
itu, terjadi gempa berkekuatan 9,3 skala richter yang berpusat di Samudera Hindia, sebelah
barat pulau Sumatera, Indonesia. Gempa bumi ini mengakibatkan tsunami dengan
ketinggian 30 meter dan menewaskan 230.000 jiwa di 14 negara, 130.000 di antaranya
Page | 14 Gambar 11 Pusat Gempa Aceh 2004
Sumber: Wikipedia.com
Kota Banda Aceh merupakan kota dengan populasi terbanyak di mana sebelum tsunami
terdapat sekotar 239.000 jiwa yang tersebar di Sembilan kecamatan (BPS Banda Aceh 2004).
Empat dari Sembilan kecamatan di Kota Banda Aceh merupakan wilayah yang berbatasan
langsung dengan Laut Andaman. Tedapat dua kecamatan di Kota Banda Aceh yang habis
dilahap tsunami pada tahun 2004, yaitu Kecamatan Meuraxa dan Kecamatan Kutaradja. Dua
kecamatan ini juga merupakan kecamatan yang memilii populasi penduduk di kawasan
[antai cukup tinggi sebelum gempa bumi 2004.
Terdapat dua dokumen untuk melihat tataruang kota Banda Aceh, yaitu RTRW kota Banda
Aceh Tahun 2002-2010 dan RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029, Pada RTRW yang
baru, telah ditetapkan pola ruang Banda Aceh berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
terhadap keadaan pola pemanfaatan ruang sebelum tsunami, kecenderungan
perkembangan setelah tsunami, optimasi dan efisiensi pemanfaatan ruang, kelestarian
lingkungan, dan mitigasi bencana. Untuk tujuan mitigasi bencana disebutkan adanya hutan
bakau di sepanjang pantai dan direncanakan ditetapkan dengan kriteria koridor di
Page | 15 Gambar 12 Rencana Penggunaan Lahan Kota Banda Aceh
Sumber: RTRW Banda Aceh dalam Syamsidik 2015
Pada dokumen tersebut juga disebutkan bahwa kawasan yang memiliki resiko bencana
perlu dibatasi penyebaran dan kepadaan penduduknya, namun tidak dinyatakan dengan
definitive. Kawsan perumahan kepadatan tinggi justru diarahkan kw eilayah pantai yang
berada di sebelah utara dari Kota Banda Aceh. Oleh karena itu, control kepadatan penduduk
masih belum begitu jelas. Petunjuk tekns yang lebih rinci masih belum tersedia. Di sisi lain,
populasi penduduk di kawasan pantai Banda Aceh menunjukkan kecenderungan naik dari
waktu ke watu. Tempat dan jalur evakuasi juga belu, memperkirakan waktu tersingkat
tibanya gelombang tsunami berdasarkn berbagai scenario tsunami.
3.3
Poin penting dari Perencanaan Wilayah berbasis Bencana di Jepang
Berikut ini beberapa catatan penting mengenai perbedaan perencanaan wilayah berbasis
bencana di Tohoku Jepang dengan di Banda Aceh Indonesia:
1. Kota Banda Aceh belum memiliki konsep mitigasi yang jelas di kawasan pesisirnya.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa di wilayah Tohoku terdapat zona-zona
mitigasi yang jelas beserta peruntukannya.
2. Belum ada control yang ketat untuk perencanaan tata ruang di Indonesia berbasis
mitigasi bencana. Telah disebutkan juga sebelumnya bahwa pasca tsunami 2004,
walaupun sudah direncanakan pola ruang di Banda Aceh, namun tetap saja populasi
penduduk di kawasan pesisir masih bertumbuh pesat.
3. Skenario pemulihan yang belum jelas. Berbeda dengan wilayah Tohoku yang memiliki
Page | 16
4
IV. Penutup
4.1
Kesimpulan
Makalah ini membandingkan perencanaan wilayah berbasis mitigasi bencana di wilayah
Tohoku, Jepang dengan Banda Aceh, Indonesia. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa
perencanaan wilayah di Jepang berbasis mitigasi bencana jauh lebih rinci dan terarah
sehingga pemulihan pasca bencana di Jepang dilakukan dengan efektif dan efisien.
Indonesia, khususnya Banda Aceh telah berusaha untuk memulihkan kembali kawasan
terdampak bencana, namun belum diikuti dengan konsep control yang jelas, juga dngan
tahap-tahap yang sistematis dan teratur sehingga hasilnya masih belum terlihat maksimal.
5
DAFTAR PUSTAKA
2011 Tohoku Earthquake and Tsunami. (2011, Desember 5). Retrieved from Wikipedia:
https://en.wikipedia.org/wiki/2011_T%C5%8Dhoku_earthquake_and_tsunami
BMKG. (2014, April 12). Gempa Bumi. Retrieved from Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika: http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Gempabumi_-_Tsunami/Gempabumi.bmkg
Daerah Rawan Gempa Bumi di Dunia. (2011, Juli 28). Retrieved from Fakta Ilmiah:
http://www.faktailmiah.com/2011/07/28/daerah-rawan-gempa-bumi-di-dunia.html
Gempa Bumi. (2008, Agustus 11). Retrieved from Wikipedia:
https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi#Akibat_Gempa_Bumi
Government, S. C. (2011). Sendai City Earthquake Disaster Reconstruction Plan. Sendai: Post DIsaster Reconstruction Division.
MILT. (2011). White Paper on Land, Infrastructure, Transport and Tourism in Japan. Tokyo: Ministry of Land, Infrastructure, Transport, and Tourism Japan.
Muhari, A. (2016, Maret 12). Pelajaran Berharga Mitigasi Tsunami Jepang untuk Indonesia. Retrieved from National Geographic Indonesia: http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/03/pelajaran-berharga-mitigasi-tsunami-jepang-untuk-indonesia/1