• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lapsus DM tipe 2 dgn kaki diabetik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Lapsus DM tipe 2 dgn kaki diabetik"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Dia

Diabetbetes es melmellitlitus us (DM(DM) ) mermerupaupakan kan susuatu atu penpenyakyakit it yanyang g ditditandandai ai oleolehh adanya kenaikan kadar gula darah (hiperglikemia) kronik. Keadaan hiperglikemia adanya kenaikan kadar gula darah (hiperglikemia) kronik. Keadaan hiperglikemia kroni

kronik k pada DM pada DM dapat mengakibdapat mengakibatkan atkan terjadterjadinya inya kompkomplikaslikasi i kronkronik ik beberabeberapapa organ tubuh, terutama mata,

organ tubuh, terutama mata, ginjaginjal, l, saraf, jantung dan saraf, jantung dan pembpembuluh darah. Keadaanuluh darah. Keadaan hiper

hiperglikeglikemia mia kronikronik k tersebtersebut ut dapat mengenai banyak organ dapat mengenai banyak organ pada semua pada semua lapislapisanan masyarakat di seluruh dunia.

masyarakat di seluruh dunia.11

Menurut WHO, pada tahun 2004 didapatkan lebih dari 150 juta orang dari Menurut WHO, pada tahun 2004 didapatkan lebih dari 150 juta orang dari seluruh dunia yang menderita diabetes. Angka kejadian ini meningkat dengan seluruh dunia yang menderita diabetes. Angka kejadian ini meningkat dengan ce

cepapat t dadan n didipeperkrkirirakakan an papada da tatahuhun n 202025 25 akakan an bebertrtamambabah h dudua a kakali li lilipapat.t. Pen

Peningingkatkatan an angangka ka preprevalvalensensi i diadiabetbetes es yanyang g palpaling ing besbesar ar terjterjadi adi di di AsiAsia a dandan Af

Afrikrika. a. PePeniningngkakatatan n anangkgka a kekejajadidian an didiababetetes es inini i didiikikututi i jujuga ga ololeh eh NeNegagarara   berkembang melalui urbanisasi dan akibat perubahan gaya hidup.

  berkembang melalui urbanisasi dan akibat perubahan gaya hidup.22 Pada tahunPada tahun 2000 di Indonesia diperkirakan minimal terdapat 4 juta. Diperkirakan pada tahun 2000 di Indonesia diperkirakan minimal terdapat 4 juta. Diperkirakan pada tahun 2010 jumlah penderita diabetes di Indonesia menjadi minimal 5 juta.

2010 jumlah penderita diabetes di Indonesia menjadi minimal 5 juta.11

Penderita diabetes yang kontrol diabetesnya baik, ternyata lebih sedikit Penderita diabetes yang kontrol diabetesnya baik, ternyata lebih sedikit meng

mengalami alami kompkomplikaslikasi i kronikronik, k, itu itu sebabsebabnya nya para pakar para pakar diabetdiabetes es menekmenekankanankan   pe

  pentintingnngnya ya penpengengendaldalian ian ataatau u konkontrotrol l diadiabetbetes es yanyang g ketketat at (ba(baik)ik)..33 DiantaraDiantara komplikasi kronik DM, kelainan pada tungkai bawah yang selanjutnya disebut komplikasi kronik DM, kelainan pada tungkai bawah yang selanjutnya disebut sebag

sebagai ai kaki diabetes, merupakan komplikkaki diabetes, merupakan komplikasi asi yang paling yang paling mencemmencemaskan bagiaskan bagi  pasien dan dokter yang mengobatinya. Data dari berbagai penelitian di Indonesia  pasien dan dokter yang mengobatinya. Data dari berbagai penelitian di Indonesia menunjukan angka amputasi dan angka kematian ulkus/gangren diabetes menunjukan angka amputasi dan angka kematian ulkus/gangren diabetes

(2)

masing-masing sebesar 15-30% dan 17-32%. Sampai saat ini pengelolaan kaki diabetes masih merupakan kendala yang cukup berat untuk diatasi.1

Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus diabetes mellitus tipe II dengan kaki diabetes yang dirawat di bagian penyakit dalam pria RSUD Ulin Banjarmasin.

(3)

LAPORAN KASUS A. Identitas Pasien Nama : Tn. S Umur : 48 tahun Pekerjaan : Swasta Agama : Islam

Alamat : Jl. Veteran km. 3,5 RT. 15 No. 20 Banjarmasin

B. Anamnesa

1. Keluhan Utama : Luka dan bengkak pada kaki kiri 2. Riwayat Penyakit Sekarang

Sejak 20 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengaku kakinya mulai bengkak. Awalnya kaki pasien tertusuk keong di sawah. Kemudian luka dibawa ke mantri dan puskesmas. Kaki sudah diberi obat dan disuntik (pasien tidak tahu nama dan jenis obat yang disuntikkan), tetapi luka tidak sembuh-sembuh dan kaki semakin membengkak dan terasa sakit. Pasien tidak ada keluhan panas.

Pasien mengaku sering merasa haus dan sering buang air kecil. Pasien juga mengaku nafsu makan normal tetapi berat badan pasien tidak   bertambah. Karena keluhan sakit dikakinya tidak sembuh-sembuh, pasien  berobat ke dokter swasta dan disarankan untuk berobat ke RSUD Ulin.

(4)

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak tahu ada riwayat kencing manis, riwayat darah tinggi dan asma tidak ada.

4. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada riwayat kencing manis, hipertensi dan asma dalam keluarga.

C. Pemeriksaan Fisik 

1. Keadaan Umum : Tampak sakit sedang 2. Kesadaran : Compos Mentis

3. Tanda Vital : TD = 120/70 mmHg N = 24 x/menit RR = 96 x/menit T = 36,8oC

4. Kulit : warna sawo matang, sianosis tidak ada, hemangioma tidak ada, turgor cepat kembali, vena kolateral tidak ada, kelembaban cukup.

5. Kepala dan Leher 

Rambut : warna hitam, lurus, tipis, tidak mudah dicabut, alopesia tidak  ada.

Kepala : bentuk simetris, tidak ada trauma maupun memar.

Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokhor  refleks cahaya (+/+)

Mulut : bentuk normal, mukosa tidak anemis, lidah tidak kotor, tidak  tremor, tidak ada perdarahan gusi, pharing tidak ada edema dan tidak hiperemis

(5)

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, jugular venous  pressure tidak meningkat, pembesaran kelenjar getah bening

tidak ada, kaku kuduk tidak ada. 6. Thorak 

Paru : I = Gerakan nafas simetris

P = Fremitus raba simetris, nyeri tekan tidak ada P = Sonor, nyeri ketuk tidak ada

A = Suara nafas vesikuler, Ronkhi (-), Wheezing (-) Jantung : I = Iktus, pulsasi dan voussure cardiaqe tidak terlihat

P = Thrill tidak teraba

P = Batas Kanan ICS IV LPS Dextra Batas Kiri ICS VI LMC Sinistra

A = S1 dan S2 tunggal, bising dan murmur tidak ada 7. Abdomen

I = tampak datar, umbilikus tidak menonjol

P = Hepar/Lien/Massa tidak teraba, nyeri tekan epigastrium tidak ada P = timpani, nyeri ketuk tidak ada, shifting dullness tidak ada

A = Bising usus (+) normal. 8. Ekstremitas

- Atas: refleks fisiologis (+) kanan kiri tidak meningkat, refleks patologis (-/-), edema, deformitas dan atrofi tidak ada.

- Bawah : Refleks fisiologis (+/+), reflex patologis (-/-), edema (-/+), atrofi dan deformitas tidak ada.

(6)

Status lokalis ekstremitas bawah kiri :

- Inspeksi: tampak kaki pedis sinistra bengkak, hiperemi (+), luka (+) - Palpasi : nyeri tekan positif 

D. Pemeriksaan Penunjang • 25 April 2005 Darah Rutin : Hb : 12,3 gr% Eritrosit : 5,44 juta/mmk  Leukosit : 15.000/mmk  Trombosit : 235.000/mmk  Hematokrit : 42%  Kimia Darah : GDS : 445 mg/dl Urea : 37 mg/dl Kreatinin : 0,7 mg/dl Asam urat : 4,7 mg/dl SGPT : 23 U/L SGOT : 20 U/L • 27 April 2005 - GDP : 294 mg/dl - GD 2 J PP : 236 mg/dl

- Foto Pedis : Soft tissue swelling (+), gas gangren (-), gambaran tulang normal • 28 April 2005 GDP : 212 mg/dl • 30 April 2005 GDS : 270 mg/dl • 2 Mei 2005 GDS : 235 mg/dl

(7)

• 4 Mei 2005 GDS : 136 mg/dl

E. Diagnosis

Diabetes Mellitus Type II dengan Kaki Diabetes

F. Follow up dan Penatalaksanaan

Follow Up 25/4 26/4 27/4 28/4 29/4 30/4 1/5 2/5 3/5 4/5 SUBJEK  Panas Kaki Bengkak   Nanah Kaki Nyeri -+ + + -+ + + -+ + + -+ < < -< < < -< < < -< < < -< -Objek  TD 120/ 70 120/ 70 110/ 70 130/ 80 120/ 80 120/ 70 120/ 70 110/ 70 120/ 60 120/ 80 Nadi 82 86 90 86 84 88 90 88 86 88 Respirasi 20 22 18 22 20 20 22 22 20 24 Suhu 36,6 36,8 37,0 36,5 36,8 36,6 36,7 36,5 37,2 36,8 Planning IVFD RL 20 tts/mnt + + + + + + + + + + Cefotaxime 3x1 gr  + + + + + + + + + + Inj. Gentamisin 2x80 mg - - + + + + + - - -Actravid 3x8 IU + + - - - -Actravid 3x10 IU - - + + + - - - - -Actravid 3x12 IU + + + - - + + - - -Actravid 3x14 IU - - - + + + Asetosal 1x100 - - - + + + + + + + Asam folat 2x1 - - - + + + + + + +

Kompres Gentamisin 80mg-NaCl + + + + + + + + + +

PEMBAHASAN

Diabetes mellitus (DM) sering disebut sebagai the great imitator dissease, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ dan menimbulkan berbagai

(8)

macam keluhan. DM adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang bersifat adanya hiperglikemia yang disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, gangguan insulin atau keduanya. Diagnosis DM umumnya akan dipikirkan dengan adanya gejala khas DM berupa poliuiri, polidipsi, polifagia, lemas, berat badan menurun serta gejala lain/gejala tidak khas yang mungkin diungkapkan adalah kesemutan, gatal, mata kabur, impotensi atau keputihan. 4

Menurut American Diabetes Association (ADA), Diabetes Mellitus diklasifikasikan menjadi DM tipe I dan DM tipe II. Menurut ADA yaitu apabila kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl, kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl dan kadar glukosa darah 2 jam PP adalah > 200 mg/dl.5

Perlu dilakukan pemeriksaan penyaring pada kelompok dengan salah satu resiko DM sebagai berikut : 6

 Usia > 45 tahun

 Berat badan : BBR > 110% BB idaman atau IMT > 23 kg/m2

 Hipertensi (> 140/90 mmHg)

 Riwayat DM dalam garis keturunan

 Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau BB lahir   bayi > 4000 gr 

 Kolesterol HDL < 35 mg/dl dan atau trigliserida > 360 mg/dl

Klasifikasi etiologi DM menurut ADA (1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) ialah :7

1. DM tipe I (destruksi sel β, umumnya menjurus ke defisiensi insulin

(9)

2. DM tipe II (bervariasi mulai terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin).

3. DM tipe lain :

a. Defek genetik fungsi β :

- Maturity onset diabetes Of The Young (MODY) 1,2,3 - DNA mitokondria

 b. Defek genetik kerja insulin c. Penyakit eksokrin pankreas

d. Endokrinopati : akromegali, syndrome cushing, feokromositoma dan hipertyroidisme.

e. Karena obat/zat kimia

- Vacor, pentamidin, asam nikotinat - Glukokortikoid, hormone tiroid

- Tiazid, dilantin, interferon alfa, dan lain-lain f. Infeksi : rubella congenital, sitomegalovirus

g. Penyebab imunologi yang jarang : antibody antiinsulin

h. Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM : sindrom down, sindrom kleinefelter, sindrom turner, dan lain lain.

4. Diabetes Mellitus Gestasional (DMG)

Diabetes Mellitus gestasional diartikan sebagai intoleransi glukosa yang ditemukan pada saat hamil dan diperkirakan insiden sebesar 1-3%. Pada umumnya mulai ditemukan pada kehamilan trimester ketiga.

(10)

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksan laboratorium pasien ini didiagnosa sebagai DM dengan komplikasi kaki diabetes. Didiagnosa sebagai penderita DM karena didapatkan gejala yang mendukung, yaitu sering buang air kecil, sering haus, penurunan berat badan, dan luka yang lama sembuh. Selain itu juga didapatkan kadar glukosa darah sewaktu yang meningkat dari normal (445 mg/dl)

Gambar: Langkah-langkah diagnosis DM dangangguan toleransi glukosa.6

Keluhan klnis DM

Keluhan khas(+) Keluhan khas(-)

GDP Atau GDS ≥ 126 ≥ 200 < 126 < 200 GDP Atau GDS ≥ 126 ≥ 200 110-125 < 110 110-199 Ulang GDS atau GDP ≥ 126 ≥ 200 < 126 < 200 GDP Atau GDS TTGO GD 2 Jam ≥ 200 140-199 < 140 GDPT Normal TGT DIABETES MELLITUS

Evaluasi status gizi Evaluasi penyulit DM

Evaluasi dan perencanaan makan Sesuai kebutuhan

 Nasihat umum Perencanaan makan Latihan jasmani Berat Idaman

Belum perlu obat penurun glukosa

Keterangan: GDP (Glukosa Darah Puasa), GDS (Glukosa Darah Sewaktu),

(11)

  pada pemeriksaan darah rutin. Pada keadaan pasien yang demikian perlu dilakukan tes toleransi glukosa oral untuk memastikan diagnose DM.

Diabetes pada orang dewasa seringkali langsung dinyatakan sebagai DM tipe II, sebagaimana halnya dengan kasus ini. DM bentuk ini bervariasi mulai dari yang mempunyai kelainan utama resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai dengan kelainan utama adalah defek sekresi insulin yang disertai resistensi insulin.8

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terhadap meningktanya kerentanan penderita DM terhadap penyakit infeksi antara lain : 9

1. Tingginya kadar glukosa darah

Kemampuan lekosit memfagosit dan membunuh kuman berkurang akibatnya infeksi mudah berkembang. Adanya kerusakan atau penurunan fungsi fagositosis bakteri dan pertahanan sel oleh granulosit dapat terlihat   pada serum penderita DM yang tidak terkontrol (glukosa darah > 250

mg/dl).

2. Gangguan mekanisme seluler  

Semua asfek fungsi fagosit yaitu adherence, fagositosis dan intercellular killing terganggu pada pasien DM. Gangguan gerakan sel (sitotaksis, kemotaksis dan leukotaksis) tampaknya bersifat herediter dan tidak diperburuk oleh tingginya kadar glukosa darah. Dalam melaksanakan fungsinya “menelan” partikel sasaran, sel-sel fagosit (neutrofil dan makrofag) harus mengenal dan menempel dulu pada sel sasaran. Proses   pengenalan sel sasaran melalui reseptor IgG pada membrane sel,

(12)

komplemen C3b dan lektin. Pada pasien DM dengan HLA B8/DR3 kadar  IgA serta IgG berkurang. Defisiensi komplemen terutama C4 merupakan kejadian yang sering dijumpai pada DM tipe I. Masih belum jelas pengaruh   berkurangnya komplemen pada proses fagositosis leukosit. Sulitnya

mengukur kemampuan fagsositosis leukosit menyebabkan kesimpulan hasil-hasil penelitian yang berbeda. Sesudah mikroroganisme sarsan “ditelan”, granula-granula lisosom dilepaskan ke dalam vakuola dan proses “membunuh” dengan cara oksidatif dan non-oksidatif berlangsung. Cara oksidatif dengan menggunakan produk-produk oksigen aktif seperti superoksida, hydrogen peroksida dan hipoklorit berlangsung lebih awal. Energi cara oksidatif ini dipaosk melalui heksose monofosfat shunt (HMPS). Proses ini diawali dengan oksidasi membran sel yang memanfaatkan donor  elektron yang berasal dari NADPH yang menghasilkan radikal superoksida. Dalam keadaan normal glukosa memasuki HMPS dan menghasilkan   NADPH. Dinding leukosit permeabel terhadap glukosa sehingga pada keadaan hiperglikemia, glukosa membannjiri HMPS di dalam leukosit dan dimetabolisme oleh aldose redoktase melalui polyolpathway. Aldose reduktase merupakan enzim yang membutuhkan NADPH dan berakibat menurunnya produksi radikal superoksid yang dibutuhkan oleh leukosit untuk proses “oksidative killing”. Obat penyekat aldose reduktase terbukti mampu memulihkan proses abnormalitas tersebut dengan cara memulihkan kadar radikal superoksid.

(13)

Kaitan DM dengan peran hormon selain insulin dalam hubungannya dengan ketahanan tubuh terhadap infeksi masih belum jelas. Pengaruh anti inflamasi steroid adrenal dikaitkan dengan permeabilitas mikrovaskuler, menurunnya respon antibodi dan sistem retikuloendotelial.

4. Angiopati

Insufisiensi vaskuler sangat berperan dalam timbulnya infeksi pada kaki. Pada DM infeksi merupakan faktor yang penting dalam patogenesis gangren.

5. Neuropati dan mekanik  

  Neuropati sensorik menyebabkan berkurangnya rasa nyeri setempat sehingga luka kurang disadari dan diabaikan oleh paien,serta berakibat terlambatnya pengobatan. Luka dapat timbul spontan misalnya akibat bula yang pecah atau akibat ruda paksa. Neuropati motorik dapat berakibat deformitas bentuk kaki dan gangguan titik-titik tekan pada telapak kaki. Lebih lanjut neuropati autonom dapat menyebabkan atoni kandung kemih serta gangguan mekanisme fungsi kelenjar keringat. Atoni kandung kemih menyebakna timbulnya stasis residu urin dalam kandung kemih yang merupakan faktor predisposisi infeksi yang sering kambuh.

Untuk terapi DM pada kasus ini penderita diberikan suntikan insulin actrapid, pemberian insulin pada penderita ini sesuai dengan indikasi pengobatan dengan insulin yaitu pada keadaan DM dengan infeksi. Karena pada keadaan infeksi biasanya menyebabkan kebutuhan insulin meningkat cepat dan banyak. Seringkali dibutuhkan pemberian tambahan insulin untuk mempertahankan

(14)

kendali metabolisme. Karena defisiensi terhadap insulin, menyebabkan kerusakan atau ketidaknormalan respon leukosit dan limfosit terhadap infeksi. 10

Kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi kronis DM. Komplikasi sering ditemukan pada penderita DM. Sekitar 5-10% dari penderita DM ditemukan ulserasi pada kaki dan sekitar 1% dari mereka akan mengalami amputasi. Berbagai faktor secara bersama-sama berperan pada terjadinya ulkus/gangren diabetes. Dimulai dari faktor DM yang tidak dikelola dengan baik, adanya neuropati perifer maupun autonom, diserati faktor komplikasi vaskuler  yang memperburuk aliran darah ke kaki tempat luka dan faktor kerentanan terhadap infeksi akibat respon kekebalan tubuh yang menurun pada keadaan DM tidak terkendali, serta kemudian ditambah lagi dengan faktor ketidaktahuan pasien sehingga terjadilah kaki diabetes tersebut. 11

Adapun klasifikasi/penentuan derajat lesi menurut Wagner adalah : 12

1. Derajat 0 : tidak ada lesi terbuka, kulit intak/utuh

2. Derajat 1 : Tukak supefisial, tanpa infeksi, terbatas pada kulit

3. Derajat 2 : Tukak dalam, tembus kulit sampai dengan tendon dan tulang

4. Derajat 3 : Tukak dalam dengan infeksi

5. Derajat 4 : Tukak dengan gangren pada 1-2 jari kaki 6. Derajat 5 : Tukak dengan gangren luas seluruh kaki Sedangkan perawatan atau pengobatan pada tiap derajat lesi adlah :12

(15)

2. Derajat 1-4 : Terdiri dari terapi non-bedah (obat-obatan) dan tindakan bedah minor 

3. Derajat 5 : amputasi atau bedah mayor (mulai dari lutut atau dibawah lutut) yang sedapat meungkin didahului dengan bedah minor.

Tindakan debridement yang baik pada tukak diabet sangat penting untuk  mendapatkan hasil pengelolaan yang memadai. Pemberian antibiotik sering memerlukan kombinasi berbagai macam obat, disesuaikan dengan hasilpemeriksaan biakan dan resistensi kuman. Dengan demikian, berbagai

Diabets Mellitus

Neuropati Penyakit vascular periferal

Hiperlipidemia Merokok 

Neuropati Autonomic Neuropati

Somatik  Pain sensation Proprioseptif  Masalah ortopedi Limited joint movement Keringat Altered  blood flow Plantar   pressure Dry skin fissure Engorged vein Warm foot Otot hipotropik 

Ulkus pada kaki

Callus

Ischemic limb

Infeksi

(16)

tindakan untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang baik harus dikerjakan   bersama-sama, sekaligus memanfaatkan debridement luka yang adekuat,  perawatan dan pemantauan luka yang baik, pengendalian kadar glukosa darah,

menggunakan antibiotik yang tepat dan adekuat, semuanya diharapkan memberi hasil pengelolaan yang lebih baik.12

Pada pasien ini komplikasi kaki diabetesnya dikelola dengan melakukan dressing berupa kompres NaCL dan gentamisin 80 mg. Juga diberikan injeksi cefotaxime 3x1 gr, obat ini berfungsi untuk mengobati infeksi kaki diabetes yang termasuk derajat 1. Selain itu juga diberikan injeksi gentamisin 2x80 mg. Pada keadaan infeksi berat, penggunaan antibiotik harus dilakukan semaksimal mungkin dengan pemikiran bahwa infeksi berat umumnya disebabkan oleh lebih dari satu jenis kuman, disamping itu juga sering disertai kuman anaerob.5 Sedangkan obat-obatan lain diberikan untuk menghilangkan symptom atau gejala yang ada, antara lain antrain/parasetamol, asma folat dan asetosal.

Dari hasil pemeriksaan fungsi gunjal dan hati tidak ditemukan adanya kelainan. Dan selama perawatan keadaan penderita membaik, glukosa darah sewaktu teregulasi dan penderita dijinkan pulang dengan pengobatan diteruskan secara rawat jalan.

PENUTUP

Telah dilaporkan sebuah kasus seorang laik-laki, Tn. S, 48 tahun, telah dirawat di ruang penyakit dalam pria RSUD Ulin Banjarmaisn dengan diagnose

(17)

DM tipe II dengan komplikasi kaki diabetes derajat I. Selama perawatan keadaan  penderita membaik dan diijinkan pulang untuk pengobatan rawat jalan.

Referensi

Dokumen terkait

Kualitas hidup pasien luka kaki diabetik Persepsi atau pandangan individu dalam menghadapi masalah luka pada kaki yang merupakan komplikasi dari penyakit DM yang dideritanya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita DM memiliki resiko rendah untuk mengalami resiko ulkus kaki.. diabetik, namun ada yang beresiko sedang bahkan

Masalah yang sering terjadi pada pasien DM adalah gangguan tidur dan penurunan sensitivitas kaki yang dapat dipengaruhi oleh sirkulasi darah kurang optimal yang

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh senam kaki terhadap penurunan resiko neuropati perifer dengan skor diabetic neuropathy examination pada pasien diabetes

value 0,036, maka disimpulkan ada pengaruh foot self-care terhadap neuropati perifer pada pasien DM Tipe 2 dengan pendekatan teori keperawatan orem, Intervensi foot self care

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 30 responden yang diteliti menunjukkan bahwa pengetahuan penderita DM Terhadap Senam Kaki Diabetik di RSU

Hasil analisis statistik diperoleh P value 0,001 berarti terdapat pengaruh senam diabetik terhadap penurunan resiko ulkus kaki diabetik dengan nilai OR (Odds Rasio) 1,238

KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang dilakukan di Ruang Bedah RSUD dr Slamet Garut pada penderita DM yang memiliki komplikasi kaki diabetik dapat disimpulkan bahwa Hasil penelitian