• Tidak ada hasil yang ditemukan

BADA AN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBAN NGUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BADA AN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBAN NGUNAN"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

L

L

LA

A

AP

P

PO

O

OR

R

RA

A

AN

N

N K

K

KE

E

EU

U

UA

A

AN

N

NG

G

GA

A

AN

N

N

B

B

BP

P

PK

K

KP

P

P T

T

TA

A

AH

H

HU

U

UN

N

N 2

2

20

0

01

1

15

5

5

(

(

(A

A

Au

u

ud

d

di

i

it

t

te

e

ed

d

d)

)

)

N

N

No

o

om

m

mo

o

or

r

r :

:

: L

L

LA

A

AP

P

P-

-

- 1

1

12

2

2 /

/

/K

K

K/

/

/S

S

SU

U

U/

/

/2

2

20

0

01

1

16

6

6

T

T

Ta

a

an

n

ng

g

gg

g

ga

a

al

l

l :

:

: 2

2

21

1

1 A

A

Ap

p

pr

r

ri

i

il

l

l 2

2

20

0

01

1

16

6

6

L

L

LA

A

AP

P

PO

O

OR

R

RA

A

AN

N

N K

K

KE

E

EU

U

UA

A

AN

N

NG

G

GA

A

AN

N

N

B

B

BP

P

PK

K

KP

P

P T

T

TA

A

AH

H

HU

U

UN

N

N 2

2

20

0

01

1

15

5

5

(

(

(A

A

Au

u

ud

d

di

i

it

t

te

e

ed

d

d)

)

)

N

N

No

o

om

m

mo

o

or

r

r :

:

: L

L

LA

A

AP

P

P-

-

- 1

1

12

2

2 /

/

/K

K

K/

/

/S

S

SU

U

U/

/

/2

2

20

0

01

1

16

6

6

T

T

Ta

a

an

n

ng

g

gg

g

ga

a

al

l

l :

:

: 2

2

21

1

1 A

A

Ap

p

pr

r

ri

i

il

l

l 2

2

20

0

01

1

16

6

6

L

L

LA

A

AP

P

PO

O

OR

R

RA

A

AN

N

N K

K

KE

E

EU

U

UA

A

AN

N

NG

G

GA

A

AN

N

N

B

B

BP

P

PK

K

KP

P

P T

T

TA

A

AH

H

HU

U

UN

N

N 2

2

20

0

01

1

15

5

5

(

(

(A

A

Au

u

ud

d

di

i

it

t

te

e

ed

d

d)

)

)

N

N

No

o

om

m

mo

o

or

r

r :

:

: L

L

LA

A

AP

P

P-

-

- 1

1

12

2

2 /

/

/K

K

K/

/

/S

S

SU

U

U/

/

/2

2

20

0

01

1

16

6

6

T

T

Ta

a

an

n

ng

g

gg

g

ga

a

al

l

l :

:

: 2

2

21

1

1 A

A

Ap

p

pr

r

ri

i

il

l

l 2

2

20

0

01

1

16

6

6

(2)
(3)
(4)
(5)

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

Daftar Tabel iii

Daftar Lampiran iv

Pernyataan Telah Direviu v

Pernyataan Tanggung Jawab vi

Ringkasan Laporan Keuangan 1

I. Laporan Realisasi Anggaran 3

II. Neraca 4

III. Laporan Operasional 6

IV. Laporan Perubahan Ekuitas 7

V. Catatan atas Laporan Keuangan 8

A. Penjelasan Umum 8

A.1. Profil dan Kebijakan Teknis 8

A.2. Implementasi Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Tahun 2015 9

A.3. Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan 10

A.4. Basis Akuntansi 10

A.5. Dasar Pengukuran 11

A.6. Kebijakan Akuntansi 11

B. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Realisasi Anggaran 19

B.1. Pendapatan Negara dan Hibah 19

B.2. Belanja Negara 20

C. Penjelasan atas Pos-pos Neraca 25

C.1. Aset Lancar 25

C.2. Aset Tetap 28

C.3. Piutang Jangka Panjang 40

C.4. Aset Lainnya 42

C.5. Kewajiban Jangka Pendek 45

C.6. Ekuitas 47

D. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Operasional 49

D.1. Surplus/(Defisit) dari Kegiatan Operasional 49

D.2. Surplus/(Defisit) dari Kegiatan Non Operasional 57

E. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Perubahan Ekuitas 61

E.1. Ekuitas Awal 61

E.2. Surplus/(Defisit) LO 61

E.3. Penyesuaian Nilai Tahun Berjalan 61

E.4. Dampak Kumulatif Perubahan Kebijakan Akuntansi/Kesalahan

Mendasar 62

E.5. Transaksi Antar Entitas 63

E.6. Ekuitas Akhir 65

F. Pengungkapan Penting Lainnya 66

F.1. Informasi Dana Penugasan Beban Mitra Kerja 66

(6)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 : Rincian Estimasi dan Realisasi PNBP TA 2015 19

Tabel 2 : Perbandingan Realisasi PNBP TA 2015 dan 2014 20

Tabel 3 : Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Menurut Program TA 2015 20 Tabel 4 : Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja per Jenis Belanja TA 2015 21

Tabel 5 : Perbandingan Realisasi Belanja TA 2015 dan 2014 21

Tabel 6 : Perbandingan Realisasi Belanja Pegawai TA 2015 dan 2014 22

Tabel 7 : Perbandingan Realisasi Belanja Barang TA 2015 dan 2014 22

Tabel 8 : Perbandingan Realisasi Belanja Modal TA 2015 dan 2014 23

Tabel 9 : Rincian Aset Lancar per 31 Desember 2015 dan 2014 25

Tabel 10 : Rincian Persediaan per 31 Desember 2015 dan 2014 28

Tabel 11 : Rincian Aset Tetap per 31 Desember 2015 dan 2014 29

Tabel 12 : Rincian Konstruksi Dalam Pengerjaan per 31 Desember 2015 39

Tabel 13 : Rincian Akumulasi Penyusutan Aset Tetap per 31 Desember 2015 39

Tabel 14 : Rincian Tagihan TP/TGR per 31 Desember 2015 40

Tabel 15 : Rincian Aset Lainnya per 31 Desember 2015 dan 2014 42

Tabel 16 : Rincian Aset Tak Berwujud per 31 Desember 2015 43

Tabel 17 : Rincian Aset Lain-lain per Satuan Kerja per 31 Desember 2015 45 Tabel 18 : Rincian Kewajiban Jangka Pendek per 31 Desember 2015 dan 2014 45

Tabel 19 : Rincian Pendapatan Diterima Dimuka per 31 Desember 2015 47

Tabel 20 : Rincian Pendapatan Negara Bukan Pajak-LO Tahun 2015 dan 2014 49

Tabel 21 : Rincian Beban Operasional Tahun 2015 dan 2014 51

Tabel 22 : Rincian Beban Pegawai Tahun 2015 dan 2014 51

Tabel 23 : Rincian Beban Persediaan Tahun 2015 dan 2014 52

Tabel 24 : Rincian Beban Barang dan Jasa TA 2015 dan 2014 53

Tabel 25 : Rincian Beban Pemeliharaan TA 2015 dan 2014 54

Tabel 26 : Rincian Beban Perjalanan Dinas Tahun 2015 dan 2014 56

Tabel 27 : Rincian Beban Penyusutan dan Amortisasi Tahun 2015 dan 2014 57

Tabel 28 : Rincian Pendapatan Pelepasan Aset Non Lancar Tahun 2015 dan 2014 58 Tabel 29 : Rincian Pendapatan dari Kegiatan Non Operasional Lainnya Tahun

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Nota Kesepakatan Angka Asersi Final Laporan Keuangan BPKP Tahun 2015 2. Laporan Keuangan Pokok

A. Neraca Percobaan

B. Laporan Realisasi Anggaran C. Neraca

D. Laporan Operasional E. Laporan Perubahan Ekuitas

3. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah 4. Laporan Realisasi Pengembalian Pendapatan Negara dan Hibah 5. Laporan Realisasi Anggaran Belanja

6. Laporan Realisasi Pengembalian Belanja 7. Daftar Persediaan – SIMAK BMN

8. Laporan Barang Pengguna - SIMAK BMN 9. Lampiran Pendukung Lainnya

A. Daftar Rekening dan Saldo per Satuan Kerja per 31 Desember 2015 B. Rincian Belanja Dibayar Dimuka (prepaid) per 31 Desember 2015 C. Daftar Persediaan per 31 Desember 2015

D. Daftar Tanah per 31 Desember 2015

E. Daftar Peralatan dan Mesin per 31 Desember 2015 F. Daftar Gedung dan Bangunan per 31 Desember 2015 G. Daftar Jalan, Irigasi dan Jaringan per 31 Desember 2015 H. Daftar Aset Tetap Lainnya per 31 Desember 2015

I. Daftar Nilai Perolehan, Akumulasi Penyusutan, dan Nilai Buku Aset per 31 Desember 2015

J. Daftar Belanja Pegawai Yang Masih Harus Dibayar per 31 Desember 2015 K. Daftar Belanja Barang Yang Masih Harus Dibayar per 31 Desember 2015 L. Daftar Penyesuaian Nilai Persediaan per 31 Desember 2015

M. Rekapitulasi Biaya Penugasan dari Pihak Ketiga per 31 Desember 2015

N. Daftar Rekomendasi atas Temuan BPK yang Masih Dalam Proses Penyelesaian Tindak Lanjut per 31 Desember 2015

(8)

RINGKASAN LAPORAN KEUANGAN

Laporan Keuangan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Tahun 2015 ini telah disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), dan berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat dalam pemerintahan. Laporan Keuangan ini meliputi:

1. LAPORAN REALISASI ANGGARAN

Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara anggaran dengan realisasinya, yang mencakup unsur-unsur Pendapatan-LRA dan Belanja selama periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2015.

Realisasi Pendapatan Negara sampai dengan 31 Desember 2015 adalah berupa Pendapatan Negara Bukan Pajak sebesar Rp23.655.917.183,00 atau mencapai 123,03 persen dari estimasi pendapatan sebesar Rp19.227.951.000,00.

Realisasi Belanja Negara sampai dengan 31 Desember 2015 adalah sebesar Rp1.527.155.091.508,00 atau mencapai 90,98 persen dari alokasi anggaran sebesar Rp1.678.645.140.000,00.

2. NERACA

Neraca menggambarkan posisi keuangan entitas mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana per 31 Desember 2015 dan 2014.

Nilai Aset per 31 Desember 2015 dicatat dan disajikan sebesar Rp1.876.314.627.176,00 yang terdiri atas Aset Lancar sebesar Rp9.994.682.007,00, Aset Tetap (netto setelah akumulasi penyusutan) sebesar Rp1.851.402.344.806,00, Piutang Jangka Panjang (netto setelah penyisihan piutang tak tertagih) sebesar Rp0,00, dan Aset Lainnya (netto setelah akumulasi penyusutan) sebesar Rp14.917.600.363,00.

Nilai Kewajiban dan Ekuitas masing-masing sebesar Rp5.091.888.207,00 dan Rp1.871.222.738.969,00.

3. LAPORAN OPERASIONAL

Laporan Operasional menyajikan berbagai unsur pendapatan-LO, beban, surplus/defisit dari kegiatan operasional, surplus/defisit dari kegiatan non-operasional, dan surplus/defisit-LO, yang diperlukan untuk penyajian yang wajar. Surplus/(Defisit) dari

(9)

Kegiatan Operasional sampai dengan 31 Desember 2015 sebesar minus Rp1.414.619.467.195,00 yang merupakan selisih antara Pendapatan Operasional sebesar Rp21.343.583.670,00 dikurangi dengan Beban Operasional sebesar Rp1.435.963.050.865,00. Sedangkan Surplus/(Defisit) dari Kegiatan Non Operasional sebesar minus Rp4.471.001.357,00 yang merupakan Defisit dari Pelepasan Aset Non Lancar sebesar minus Rp6.972.305.783,00 dan Surplus dari Kegiatan Non Operasional Lainnya sebesar Rp2.501.304.426,00.

4. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ekuitas pada tanggal 1 Januari 2015 adalah sebesar Rp1.755.600.021.038,00 dikurangi Defisit-LO sebesar Rp1.419.090.468.552,00, kemudian ditambah dengan penyesuaian nilai tahun berjalan sebesar Rp680.477.550,00, koreksi nilai aset tetap non revaluasi senilai Rp3.989.992.582,00, dan ditambah Transaksi Antar Entitas sebesar Rp1.530.042.716.351,00 sehingga Ekuitas BPKP pada tanggal 31 Desember 2015 adalah sebesar Rp1.871.222.738.969,00.

5. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menyajikan informasi tentang penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Termasuk pula dalam CaLK adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan.

Dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran untuk periode yang berakhir sampai dengan tanggal 31 Desember 2015 disusun dan disajikan berdasarkan basis kas. Sedangkan Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas untuk periode sampai dengan 31 Desember 2015 disusun dan disajikan dengan basis akrual.

(10)

I. LAPORAN REALISASI ANGGARAN

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2015 DAN 2014

(dalam Rupiah) U R A I A N CATA-TAN TAHUN ANGGARAN 2015 TA 2014 REALISASI ANGGARAN REALISASI % REALISASI THD ANGGARAN PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH B.1 ■ Penerimaan Negara Bukan Pajak 19.227.951.000 23.655.917.183 123,03 23.620.102.680 Jumlah Pendapatan 19.227.951.000 23.655.917.183 123,03 23.620.102.680 BELANJA B.2 Rupiah Murni 1.480.537.270.000 1.366.099.035.351 92,27 1.124.951.512.548 ■ Belanja Pegawai 871.303.741.000 817.121.792.474 93,78 707.828.461.053 ■ Belanja Barang 468.139.521.000 413.528.989.074 88,33 353.121.811.706 ■ Belanja Modal 141.094.008.000 135.448.253.803 96,00 64.001.239.789

Pinjaman Luar Negeri 198.107.870.000 161.056.056.157 81,30 84.212.686.761

■ Belanja Pegawai - - - -■ Belanja Barang 179.113.472.000 144.628.876.157 80,75 81.898.208.761 ■ Belanja Modal 18.994.398.000 16.427.180.000 86,48 2.314.478.000 Jumlah Belanja 1.678.645.140.000 1.527.155.091.508 90,98 1.209.164.199.309 ■ Belanja Pegawai B.2.1 871.303.741.000 817.121.792.474 93,78 707.828.461.053 ■ Belanja Barang B.2.2 647.252.993.000 558.157.865.231 86,23 435.020.020.467 ■ Belanja Modal B.2.3 160.088.406.000 151.875.433.803 94,87 66.315.717.789

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan ini.

(11)

II. N E R A C A

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NERACA

PER 31 DESEMBER 2015 DAN 2014

(dalam Rupiah)

NAMA PERKIRAAN CATATAN 31 DES 2015 31 DES 2014

ASET

ASET LANCAR C.1

■ Kas di Bendahara Pengeluaran C.1.1 55.914.380

-■ Kas Lainnya dan Setara Kas C.1.2 - 30.541.650

■ Belanja Dibayar Dimuka (prepaid) C.1.3 1.178.866.301 14.223.116.286 ■ Pendapatan Yang Masih Harus Diterima C.1.4 9.017.362

-■ Piutang Bukan Pajak C.1.5 - 5.363.125

■ Penyisihan Piutang Tidak Tertagih

-Piutang Bukan Pajak C.1.6 - (26.816)

■ Piutang Bukan Pajak (Netto) - 5.336.309

■ Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan /

Tuntutan Ganti Rugi C.1.7 4.889.000

-■ Penyisihan Piutang Tidak Tertagih – Bagian Lancar

Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi C.1.8 (24.445) -■ Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan /Tuntutan Ganti

Rugi (Netto) 4.864.555

-■ Persediaan C.1.9 8.746.019.409 7.345.210.452

JUMLAH ASET LANCAR 9.994.682.007 21.604.204.697

ASET TETAP C.2

■ Tanah C.2.1 1.044.359.436.558 1.039.340.183.858

■ Peralatan dan Mesin C.2.2 310.669.492.725 265.881.148.667 ■ Gedung dan Bangunan C.2.3 808.458.385.816 714.621.243.595 ■ Jalan, Irigasi dan Jaringan C.2.4 15.317.578.738 15.053.018.438

■ Aset Tetap Lainnya C.2.5 2.481.645.492 2.410.925.945

■ Konstruksi Dalam Pengerjaan C.2.6 45.218.093.911 16.869.758.480 ■ Akumulasi Penyusutan C.2.7 (375.102.288.434) (336.272.827.267)

JUMLAH ASET TETAP 1.851.402.344.806 1.717.903.451.716

PIUTANG JANGKA PANJANG C.3

■ Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti

Rugi (TP/TGR) C.3.1 30.223.151.509 29.773.865.318

■ Penyisihan Piutang Tidak Tertagih - Tagihan TP/TGR C.3.2 (30.223.151.509) (29.773.865.318)

■ Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi

(TP/TGR) (Netto) -

(12)

-NAMA PERKIRAAN CATATAN 31 DES 2015 31 DES 2014

ASET LAINNYA C.4

■ Aset Tak Berwujud C.4.1 14.391.215.470 10.881.355.470

■ Aset Lain-lain C.4.2 2.529.430.988 8.797.190.541

■ Akumulasi Penyusutan/Amortisasi Aset Lainnya C.4.3 (2.003.046.095) (1.554.414.109)

JUMLAH ASET LAINNYA 14.917.600.363 18.124.131.902

JUMLAH ASET 1.876.314.627.176 1.757.631.788.315

KEWAJIBAN

KEWAJIBAN JANGKA PENDEK C.5

■ Utang Kepada Pihak Ketiga C.5.1 4.672.479.584 1.565.557.593 ■ Pendapatan Diterima Dimuka C.5.2 363.494.243 466.209.684

■ Uang Muka dari KPPN C.5.3 55.914.380

-■ Pendapatan Yang Ditangguhkan C.5.4 - 23.751.650

JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PENDEK 5.091.888.207 2.055.518.927

JUMLAH KEWAJIBAN 5.091.888.207 2.055.518.927

EKUITAS C.6

■ Ekuitas Dana Lancar C.6.1 - 19.548.685.770

■ Ekuitas Dana Investasi C.6.2 - 1.736.027.583.618

■ Ekuitas C.6.3 1.871.222.738.969

-JUMLAH EKUITAS 1.871.222.738.969 1.755.576.269.388

JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 1.876.314.627.176 1.757.631.788.315

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan ini.

(13)

III. LAPORAN OPERASIONAL

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN LAPORAN OPERASIONAL

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2015 DAN 2014

(dalam Rupiah)

NAMA PERKIRAAN CATATAN 31 DES 2015 31 DES 2014

KEGIATAN OPERASIONAL D.1

PENDAPATAN OPERASIONAL D.1.1

■ Pendapatan Negara Bukan Pajak D.1.1.1 21.343.583.670

-Jumlah Pendapatan Operasional (D.1.1.1) D.1.1 21.343.583.670

-BEBAN OPERASIONAL D.1.2

■ Beban Pegawai D.1.2.1 818.269.725.451

-■ Beban Persediaan D.1.2.2 16.701.905.256

-■ Beban Barang dan Jasa D.1.2.3 243.436.661.762

-■ Beban Pemeliharaan D.1.2.4 32.747.048.686

-■ Beban Perjalanan Dinas D.1.2.5 279.210.364.913

-■ Beban Barang Untuk Diserahkan Kepada

Masyarakat/Pemda D.1.2.6 313.260.100

-■ Beban Penyusutan dan Amortisasi D.1.2.7 44.834.800.877 -■ Beban Penyisihan Piutang Tak Tertagih D.1.2.8 449.283.820

-Jumlah Beban Operasional (D.1.2.1 s.d. D.1.2.8) D.1.2 1.435.963.050.865

-Surplus / (Defisit) dari Kegiatan Operasional (D.1.1–D.1.2) D.1 (1.414.619.467.195)

-KEGIATAN NON OPERASIONAL D.2

SURPLUS / (DEFISIT) DARI PELEPASAN ASET NON

LANCAR D.2.1

■ Pendapatan Pelepasan Aset Non Lancar D.2.1.1 177.152.600 -■ Beban Pelepasan Aset Non Lancar D.2.1.2 7.149.458.383

-Jumlah Surplus / (Defisit) dari Pelepasan Aset Non Lancar

(D.2.1.1–D.2.1.2) D.2.1 (6.972.305.783)

-SURPLUS / (DEFISIT) DARI KEGIATAN NON

OPERASIONAL LAINNYA D.2.2.

■ Pendapatan dari Kegiatan Non Operasional Lainnya D.2.2.1 2.671.974.132 -■ Beban dari Kegiatan Non Operasional Lainnya D.2.2.2 170.669.706

-Jumlah Surplus / (Defisit) dari Kegiatan Non Operasional

Lainnya (D.2.2.1-D.2.2.2) D.2.2 2.501.304.426

-Surplus / (Defisit) dari Kegiatan Non Operasional

(D.2.1+D.2.2) D.2 (4.471.001.357)

-SURPLUS / (DEFISIT) – LO (D.1+D.2) (1.419.090.468.552)

-Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan ini.

(14)

IV. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2015 DAN 2014

(dalam Rupiah)

NAMA PERKIRAAN CATATAN 31 DES 2015 31 DES 2014

EKUITAS AWAL E.1 1.755.600.021.038

-SURPLUS/(DEFISIT) – LO E.2 (1.419.090.468.552)

-PENYESUAIAN NILAI TAHUN BERJALAN E.3

■ Penyesuaian Nilai Aset E.3.1 680.477.550

-Jumlah Penyesuaian Nilai Tahun Berjalan 680.477.550

-DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN

AKUNTANSI/KESALAHAN MENDASAR E.4

■ Koreksi Nilai Aset Tetap Non Revaluasi E.4.1 3.989.992.582

-Jumlah Dampak Kumulatif Perubahan Kebijakan

Akuntansi/Kesalahan Mendasar 3.989.992.582

-TRANSAKSI ANTAR ENTITAS E.5

■ Ditagihkan ke Entitas Lain E.5.1 1.527.155.091.508

-■ Diterima dari Entitas Lain E.5.2 (23.655.917.183)

-■ Transfer Masuk E.5.3 27.873.132.780

-■ Transfer Keluar E.5.4 (7.334.590.754)

-■ Pengesahan Hibah Langsung E.5.5 6.005.000.000

-Jumlah Transaksi Antar Entitas 1.530.042.716.351

-KENAIKAN/(PENURUNAN) EKUITAS (E.2+E.3+E.4+E.5) 115.622.717.931

-EKUITAS AKHIR (E.1+E.2+E.3+E.4+E.5) E.6 1.871.222.738.969

-Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan ini.

(15)

V. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

A. PENJELASAN UMUM Profil dan

Kebijakan Teknis A.1. PROFIL DAN KEBIJAKAN TEKNIS

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) adalah lembaga pemerintah non kementerian, yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983, kemudian diperbarui dengan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen, sebagaimana beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014.

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, BPKP merupakan aparat pengawasan intern pemerintah yang berada dan bertanggung jawab kepada Presiden. Tugas BPKP adalah menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan keuangan negara/daerah dan pembangunan nasional.

Sebagai aparat pengawasan internal pemerintah, BPKP berperan untuk membantu pemerintah dalam membangun pemerintahan yang baik dan bersih, membantu menghadapi permasalahan yang terjadi dan memberikan masukan/solusi. Penegasan jati diri sebagai pengawas internal pemerintah adalah dalam arti BPKP lebih mengedepankan peran proaktif untuk dapat memberikan nilai tambah kepada stakeholder dan shareholder. Dalam hal ini, BPKP berperan untuk meningkatkan proses governance, manajemen risiko dan penerapan sistem pengendalian guna mencapai tujuan nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, menyatakan BPKP berperan dalam mendukung akuntabilitas Presiden dalam pelaksanaan pengelolaan Keuangan Negara melalui fungsi pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara dan pembinaan penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

(16)

Susunan organisasi dan pejabat pimpinan unit kerja di lingkungan BPKP adalah sebagai berikut:

Kepala BPKP : DR. Ardan Adiperdana, Ak., MBA Sekretaris Utama (membawahi 5 Biro) : Meidyah Indreswari, S.E., Ak., M.Sc,

Ph.D., CKM, CCSA, CCMM Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah

Bidang Perekonomian dan Kemaritiman (membawahi 5 Direktorat)

: Nurdin, Ak.MBA

Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Politik, Hukum, Keamanan, Pembangunan Manusia dan

Kebudayaan (membawahi 4 Direktorat)

: DR. Binsar H. Simanjuntak, Ak., MBA

Deputi Pengawasan Bidang Penyelenggaraan Keuangan Daerah (membawahi 3 Direktorat)

: Dadang Kurnia, Ak, MBA

Deputi Bidang Akuntan Negara

(membawahi 5 Direktorat) : Drs. Gatot Darmasto, MBA Deputi Bidang Investigasi (membawahi

3 Direktorat) : Iswan Helmi, Ak., MS.Acc 33 Perwakilan, 4 Pusat, dan Inspektorat

Implementasi Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Tahun 2015

A.2. IMPLEMENTASI AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL TAHUN 2015

BPKP mulai tahun anggaran 2015 untuk pertama kali mengimplementasikan akuntansi berbasis akrual dalam penyusunan laporan keuangan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Dalam implementasi pertama ini, perlakuan akuntansi atas penyajian dan pengungkapan laporan keuangan adalah sebagai berikut:

 Sesuai dengan Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (IPSAP) Nomor 4 tentang Perubahan Kebijakan Akuntansi, Estimasi Akuntansi, dan Koreksi Kesalahan Tanpa Penyajian Kembali Laporan Keuangan, BPKP tidak melakukan penyajian kembali atas Laporan Keuangan Tahun 2014.

 BPKP menyandingkan Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2015 berbasis akrual dengan Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2014 berbasis kas menuju akrual.

 Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2015 dan 2014 tersanding adalah bukan laporan keuangan komparatif.

(17)

Pembaca laporan keuangan diharapkan memahami penyandingan tersebut bukan perbandingan, sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar analisis laporan keuangan lintas tahun.

Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan

A.3. PENDEKATAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN

Laporan Keuangan per 31 Desember 2015 ini merupakan laporan yang mencakup seluruh aspek keuangan yang dikelola oleh BPKP. Laporan Keuangan ini dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yaitu serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan dan pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pada Kementerian Negara/Lembaga.

SAI terdiri dari Sistem Akuntansi Instansi Berbasis Akrual (SAIBA) dan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN). SAI dirancang untuk menghasilkan Laporan Keuangan Satuan Kerja yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Sedangkan SIMAK-BMN adalah sistem yang menghasilkan informasi aset tetap, persediaan, dan aset lainnya untuk penyusunan neraca dan laporan barang milik negara serta laporan manajerial lainnya.

Jumlah satuan kerja yang menyusun laporan keuangan dan dikonsolidasikan menjadi laporan keuangan BPKP sebanyak satu Eselon Satu yang terdiri dari 39 satuan kerja yaitu 33 satuan kerja Kantor Daerah (KD) dan 6 satuan kerja Kantor Pusat (KP).

Basis Akuntansi A.4. BASIS AKUNTANSI

BPKP menerapkan basis akrual dalam penyusunan dan penyajian Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas serta basis kas untuk penyusunan dan penyajian Laporan Realisasi Anggaran. Basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa memerhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayarkan. Sedangkan basis kas adalah basis akuntansi

(18)

yang mengakui pengaruh transaksi atau peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Hal ini sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

Dasar Pengukuran A.5. DASAR PENGUKURAN

Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan. Dasar pengukuran yang diterapkan BPKP dalam penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan adalah dengan menggunakan nilai perolehan historis.

Aset dicatat sebesar pengeluaran/penggunaan sumber daya ekonomi atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut. Kewajiban dicatat sebesar nilai wajar sumber daya ekonomi yang digunakan pemerintah untuk memenuhi kewajiban yang bersangkutan.

Pengukuran pos-pos laporan keuangan menggunakan mata uang rupiah. Transaksi yang menggunakan mata uang asing dikonversi terlebih dahulu dan dinyatakan dalam mata uang rupiah.

Kebijakan

Akuntansi A.6. KEBIJAKAN AKUNTANSI

Penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan per 31 Desember 2015 telah mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Kebijakan akuntansi merupakan prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi-konvensi, aturan-aturan, dan praktik-praktik spesifik yang dipilih oleh suatu entitas pelaporan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam laporan keuangan ini merupakan kebijakan yang ditetapkan oleh BPKP. Di samping itu, dalam penyusunannya telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan.

(19)

penyusunan Laporan Keuangan BPKP adalah sebagai berikut: Pendapatan-LRA (1) Pendapatan-LRA

 Pendapatan-LRA adalah semua penerimaan yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah pusat dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah pusat.

 Pendapatan-LRA diakui pada saat kas diterima pada Kas Umum Negara (KUN).

 Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah nettonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

 Pendapatan-LRA disajikan menurut klasifikasi sumber pendapatan.

Pendapatan-LO (2) Pendapatan-LO

 Pendapatan-LO adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.

 Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas

pendapatan dan/atau pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi. Secara khusus

pengakuan pendapatan-LO pada BPKP adalah sebagai

berikut:

 Pendapatan Jasa Pelatihan diakui setelah pelatihan selesai dilaksanakan.

 Pendapatan Sewa Aset Tetap diakui secara proporsional antara nilai dan periode waktu sewa.

 Pendapatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan diakui pada saat ditetapkan surat keputusan denda atau dokumen lain yang dipersamakan.

 Akuntansi pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah nettonya (setelah dikompensasikan dengan

(20)

pengeluaran).

 Pendapatan disajikan menurut klasifikasi sumber pendapatan.

Belanja (3) Belanja

 Belanja adalah semua pengeluaran yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah pusat.  Belanja diakui pada saat terjadi pengeluaran kas dari KUN.  Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran,

pengakuan belanja terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).

 Belanja disajikan menurut klasifikasi ekonomi/jenis belanja dan selanjutnya klasifikasi berdasarkan organisasi dan fungsi akan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Beban (4) Beban

 Beban adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi dalam periode pelaporan yang menurunkan ekuitas, yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya kewajiban.

 Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban; terjadinya konsumsi aset; terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.

 Beban disajikan menurut klasifikasi ekonomi/jenis belanja dan selanjutnya klasifikasi berdasarkan organisasi dan fungsi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Aset (5) Aset

Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar, Aset Tetap, Piutang Jangka Panjang, dan Aset Lainnya.

Aset Lancar a. Aset Lancar

 Kas disajikan di neraca dengan menggunakan nilai nominal. Kas dalam bentuk valuta asing disajikan di neraca dengan menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca.

(21)

 Piutang diakui apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:  Piutang yang timbul dari Tuntutan Perbendaharaan/

Ganti Rugi diakui apabila telah timbul hak tagih yang didukung dengan Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTM) dan/atau telah dikeluarkannya surat keputusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.  Piutang yang timbul dari perikatan, diakui apabila telah

ada peristiwa yang menimbulkan hak tagih dan didukung dengan naskah perjanjian yang menyatakan hak dan kewajiban secara jelas serta jumlahnya bisa diukur secara handal.

 Piutang disajikan dalam neraca pada nilai yang dapat direalisasikan (net realizable value). Hal ini diwujudkan dengan membentuk penyisihan piutang tak tertagih. Penyisihan tersebut didasarkan atas kualitas piutang yang ditentukan berdasarkan jatuh tempo dan upaya penagihan yang dilakukan pemerintah. Perhitungan penyisihannya adalah sebagai berikut:

Kualitas

Piutang Uraian

Tarif Penyisihan

Lancar Belum dilakukan pelunasan s.d. tanggal jatuh

tempo 0,5%

Kurang Lancar

Satu bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan

Pertama tidak dilakukan pelunasan 10%

Diragukan Satu bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan

Kedua tidak dilakukan pelunasan 50%

Macet

1. Satu bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Ketiga tidak dilakukan pelunasan 2. Piutang telah diserahkan kepada Panitia

Urusan Piutang Negara/DJKN

100%

 Piutang Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang akan jatuh tempo dua belas (12) bulan setelah tanggal pelaporan disajikan sebagai Bagian Lancar Tagihan TGR.

 Persediaan dicatat berdasarkan hasil perhitungan fisik pada tanggal neraca dikalikan dengan harga pembelian terakhir.

(22)

Aset Tetap b. Aset Tetap

 Nilai aset tetap disajikan berdasarkan harga perolehan atau harga wajar.

 Pengakuan aset tetap didasarkan pada nilai satuan minimum kapitalisasi sebagai berikut:

 Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin dan peralatan olah raga yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah);

 Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah);

 Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan nilai minimum kapitalisasi tersebut di atas, diperlakukan sebagai biaya kecuali pengeluaran untuk tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap lainnya berupa koleksi perpustakaan dan barang bercorak kesenian.  Aset Tetap yang tidak digunakan dalam kegiatan

operasional pemerintah yang disebabkan antara lain karena aus, ketinggalan jaman, tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi yang makin berkembang, rusak berat, tidak sesuai dengan rencana umum tata ruang (RUTR), atau masa kegunaannya telah berakhir, direklasifikasi ke Aset Lain-Lain pada pos Aset Lain-Lainnya.

 Aset tetap yang secara permanen dihentikan

penggunaannya, dikeluarkan dari neraca pada saat ada penetapan dari entitas sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang BMN/BMD.

 Pengembalian belanja modal tahun anggaran yang lalu dicatat sebagai koreksi terhadap nilai aset yang bersangkutan pada saat pengembalian tersebut telah disetorkan ke Kas Negara.

(23)

Penyusutan Aset

Tetap

c.

Penyusutan Aset Tetap

 Penyusutan aset tetap adalah penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset tetap. Kebijakan penyusutan aset tetap didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 90/PMK.06/2014 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PMK.06/2013 tentang Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap Pada Entitas Pemerintah Pusat.

 Penyusutan aset tetap tidak dilakukan terhadap Tanah, Konstruksi dalam Pengerjaan (KDP), dan Aset Tetap yang dinyatakan hilang berdasarkan dokumen sumber sah atau dalam kondisi rusak berat dan/atau usang yang telah diusulkan kepada Pengelola Barang untuk dilakukan penghapusan.

 Penghitungan dan pencatatan Penyusutan Aset Tetap dilakukan setiap akhir semester tanpa memperhitungkan adanya nilai residu.

 Penyusutan Aset Tetap dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus yaitu dengan mengalokasikan nilai yang dapat disusutkan dari Aset Tetap secara merata setiap semester selama Masa Manfaat.

 Masa Manfaat Aset Tetap ditentukan dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK.06/2013 tentang Tabel Masa Manfaat Dalam Rangka Penyusutan Barang Milik Negara berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat. Secara umum tabel masa manfaat adalah sebagai berikut:

Kelompok Aset Tetap Masa Manfaat

Peralatan dan Mesin 2 s.d. 20 tahun Gedung dan Bangunan 10 s.d. 50 tahun Jalan, Jaringan dan Irigasi 5 s.d 40 tahun Aset Tetap Lainnya (Alat Musik Modern) 4 tahun

(24)

Piutang Jangka

Panjang d. Piutang Jangka Panjang

 Piutang Jangka Panjang adalah piutang yang akan jatuh tempo atau akan direalisasikan lebih dari dua belas (12) bulan sejak tanggal pelaporan. Termasuk dalam Piutang Jangka Panjang adalah Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/ Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR) yang jatuh tempo lebih dari satu tahun.

 TP adalah tagihan yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan kepada bendahara yang karena lalai atau perbuatan melawan hukum mengakibatkan kerugian negara/daerah.

 TGR adalah suatu proses yang dilakukan terhadap pegawai negeri atau bukan pegawai negeri bukan bendahara dengan tujuan untuk menuntut penggantian atas suatu kerugian yang diderita oleh negara sebagai akibat langsung ataupun tidak langsung dari suatu perbuatan yang melanggar hukum yang dilakukan oleh pegawai tersebut atau kelalaian dalam pelaksanaan tugasnya.

Aset Lainnya e. Aset Lainnya

 Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain aset lancar, aset tetap, dan piutang jangka panjang. Termasuk dalam Aset Lainnya adalah Aset Tak Berwujud, dan Aset Lain-lain.  Aset Tak Berwujud merupakan aset yang dapat

diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan barang atau jasa atau digunakan untuk tujuan lainnya termasuk hak atas kekayaan intelektual.

 Aset Lain-lain berupa aset tetap pemerintah disajikan sebesar nilai buku yaitu harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan.

Kewajiban (6) Kewajiban

 Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber

(25)

daya ekonomi pemerintah.

 Kewajiban pemerintah diklasifikasikan ke dalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.

a. Kewajiban Jangka Pendek

Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.

Kewajiban jangka pendek meliputi Utang Kepada Pihak Ketiga, Belanja yang Masih Harus Dibayar, Pendapatan Diterima Dimuka, dan Utang Jangka Pendek Lainnya.

b. Kewajiban Jangka Panjang

Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari dua belas (12) bulan setelah tanggal pelaporan.

 Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal, yaitu sebesar nilai kewajiban pemerintah pada saat pertama kali transaksi berlangsung.

Ekuitas (7) Ekuitas

Ekuitas merupakan selisih antara aset dengan kewajiban dalam satu periode. Pengungkapan lebih lanjut dari ekuitas disajikan dalam Laporan Perubahan Ekuitas.

(26)

B. PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN Selama periode berjalan, BPKP telah merevisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Hal ini disebabkan adanya perubahan Pagu Anggaran Belanja dalam APBN-P sebesar Rp136.043.200.000,00, penambahan pagu PNBP sebesar Rp5.059.261.000,00 dan luncuran Pinjaman Luar Negeri Tahun 2014 sebesar Rp6.174.542.000,00. Perubahan tersebut berdasarkan jenis belanja adalah sebagai berikut:

Jenis Belanja Jumlah Anggaran

Kode Uraian Awal Revisi

51 Belanja Pegawai 735.411.920.000 871.303.741.000 52 Belanja Barang 672.330.245.000 647.252.993.000 53 Belanja Modal 123.625.972.000 160.088.406.000 Jumlah 1.531.368.137.000 1.678.645.140.000 Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah Rp23.655.917.183

B.1. Pendapatan Negara dan Hibah

Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah pada TA 2015 adalah sebesar Rp23.655.917.183,00 atau 123,03 persen dari estimasi pendapatan yang ditetapkan sebesar Rp19.227.951.000,00. Keseluruhan Pendapatan Negara di BPKP merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Lainnya. Rincian Estimasi dan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Lainnya sampai dengan 31 Desember 2015 disajikan pada Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1

Rincian Estimasi dan Realisasi PNBP TA 2015

Jenis Pendapatan Estimasi (Rp) Realisasi (Rp) % Realisasi

Pendapatan Penjualan 300.000.000 23.100.000 7,70

Pendapatan Pemindahtanganan BMN - 177.152.600

-Pendapatan Pemanfaatan BMN 2.455.700.000 3.832.494.510 156,07

Pendapatan Jasa 16.472.251.000 17.085.441.100 103,72

Pendapatan Iuran dan Denda - 257.018.946

-Pendapatan Pelunasan Piutang - 497.885.278

-Penerimaan Kembali Belanja Tahun

Anggaran Yang Lalu - 1.729.574.842

-Pendapatan Lain-Lain - 53.249.907

(27)

Dibandingkan dengan TA 2014, terdapat kenaikan realisasi Pendapatan Negara sebesar Rp35.814.503,00 atau 0,15 persen yang berasal dari pendapatan jasa diklat pada Pusdiklatwas BPKP. Perbandingan realisasi PNBP TA 2015 dan 2014 disajikan pada Tabel 2 berikut ini:

Tabel 2

Perbandingan Realisasi PNBP TA 2015 dan 2014

Uraian Jenis PNBP Realisasi PNBP Naik / (Turun)

TA 2015 (Rp) TA 2014 (Rp) Rp % Pendapatan Penjualan 23.100.000 214.529.000 (191.429.000) (89,23) Pendapatan Pemindahtanganan BMN 177.152.600 433.500.000 (256.347.400) (59,13) Pendapatan Pemanfaatan BMN 3.832.494.510 4.496.082.338 (663.587.828) (14,76) Pendapatan Jasa 17.085.441.100 15.576.422.100 1.509.019.000 9,69

Pendapatan Iuran dan Denda 257.018.946 9.935.605 247.083.341 2.486,85 Pendapatan Pelunasan Piutang 497.885.278 898.174.335 (400.289.057) (44,57) Penerimaan Kembali Belanja

Tahun Anggaran Yang Lalu 1.729.574.842 1.765.919.522 (36.344.680) (2,06)

Pendapatan Lain-Lain 53.249.907 225.539.780 (172.289.873) (76,39) Jumlah Netto 23.655.917.183 23.620.102.680 35.814.503 0,15 Realisasi Belanja Negara Rp1.527.155.091.508 B.2. Belanja Negara

Realisasi belanja BPKP pada TA 2015 setelah dikurangi pengembalian belanja adalah sebesar Rp1.527.155.091.508,00 atau 90,98 persen dari anggaran sebesar Rp1.678.645.140.000,00. Rincian anggaran dan realisasi belanja menurut program TA 2015 disajikan pada Tabel 3 berikut ini:

Tabel 3

Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja Menurut Program TA 2015

Program Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) %

Program Dukungan Manajemen dan

Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BPKP 1.207.422.626.000 1.124.587.895.334 93,14 Program Pengawasan Intern Akuntabilitas

Keuangan Negara dan Pembinaan

Penyelenggaraan SPIP 471.222.514.000 402.567.196.174 85,43

Jumlah 1.678.645.140.000 1.527.155.091.508 90,98 Sedangkan menurut jenis belanja, anggaran dan realisasinya disajikan pada Tabel 4 berikut ini:

(28)

Tabel 4

Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja per Jenis Belanja TA 2015

Jenis Belanja

Anggaran Realisasi Realisasi%

Kode Uraian

51 Belanja Pegawai 871.303.741.000 817.121.792.474 93,78 52 Belanja Barang 647.252.993.000 558.157.865.231 86,23 53 Belanja Modal 160.088.406.000 151.875.433.803 94,87

Jumlah 1.678.645.140.000 1.527.155.091.508 90,98

Komposisi anggaran dan realisasi belanja TA 2015 disajikan pada Grafik 1 berikut ini:

Grafik 1

Anggaran dan Realisasi Belanja TA 2015

Realisasi belanja TA 2015 mengalami kenaikan sebesar

Rp317.990.892.199,00 atau 26,30% dibandingkan TA 2014 disebabkan adanya kenaikan anggaran belanja dari tahun sebelumnya. Perbandingan realisasi belanja TA 2015 dan 2014 disajikan pada Tabel 5 berikut ini:

Tabel 5

Perbandingan Realisasi Belanja TA 2015 dan 2014

Jenis Belanja Realisasi Belanja Naik / (Turun)

Kode Uraian TA 2015 (Rp) TA 2014 (Rp) Rp %

51 Belanja Pegawai 817.121.792.474 707.828.461.053 109.293.331.421 15,44 52 Belanja Barang 558.157.865.231 435.020.020.467 123.137.844.764 28,31 53 Belanja Modal 151.875.433.803 66.315.717.789 85.559.716.014 129,02

(29)

Belanja Pegawai

Rp817.121.792.474 B.2.1. Belanja Pegawai

Realisasi Belanja Pegawai TA 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp817.121.792.474,00 dan Rp707.828.461.053,00. Terdapat kenaikan realisasi Belanja Pegawai sebesar Rp109.293.331.421,00 atau 15,44 persen karena adanya pengangkatan PNS dari CPNS yang diterima pada tahun sebelumnya. Perbandingan realisasi Belanja Pegawai TA 2015 dan 2014 disajikan pada Tabel 6 berikut ini:

Tabel 6

Perbandingan Realisasi Belanja Pegawai TA 2015 dan 2014

Uraian Realisasi Belanja Naik / (Turun)

TA 2015 (Rp) TA 2014 (Rp) Rp %

Belanja Gaji dan Tunj. PNS 402.839.555.467 374.788.285.126 28.051.270.341 7,48

Belanja Lembur 5.703.234.350 5.562.100.450 141.133.900 2,54

Belanja Tunjangan Khusus dan

Belanja Pegawai Transito 411.712.925.518 328.561.427.166 83.151.498.352 25,31

Realisasi Belanja Bruto 820.255.715.335 708.911.812.742 111.343.902.593 15,71

Pengembalian Belanja (3.133.922.861) (1.083.351.689) (2.050.571.172) (189,28)

Realisasi Belanja Netto 817.121.792.474 707.828.461.053 109.293.331.421 15,44 Belanja Barang

Rp558.157.865.231 B.2.2. Belanja Barang

Realisasi Belanja Barang TA 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp558.157.865.231,00 dan Rp435.020.020.467,00. Terdapat kenaikan realisasi Belanja Barang sebesar Rp123.137.844.764,00 atau 28,31 persen, antara lain disebabkan meningkatnya kegiatan State Accountability Revitalization (STAR) yaitu pemberian bea siswa dan pelaksanaan diklat/workshop kepada pegawai di lingkungan pemerintah pusat dan daerah. Perbandingan realisasi Belanja Barang TA 2015 dan 2014 disajikan pada Tabel 7 berikut ini:

Tabel 7

Perbandingan Realisasi Belanja Barang TA 2015 dan 2014

Uraian Realisasi Belanja Naik / (Turun)

TA 2015 (Rp) TA 2014 (Rp) Rp %

Belanja Barang Operasional 39.242.179.838 35.837.376.689 3.404.803.149 9,50 Belanja Barang Non

Operasional 160.304.737.120 97.327.572.356 62.977.164.764 64,71

Belanja Barang Persediaan 16.615.778.065 - 16.615.778.065

(30)

Uraian Realisasi Belanja Naik / (Turun)

TA 2015 (Rp) TA 2014 (Rp) Rp %

Belanja Pemeliharaan 33.256.485.508 21.778.524.017 11.477.961.491 52,70 Belanja Perj. Dalam Negeri 277.344.222.226 248.572.607.955 28.771.614.271 11,57 Belanja Perjalanan Luar Negeri 5.292.917.558 6.111.005.988 (818.088.430) (13,39)

Realisasi Belanja Bruto 561.810.823.148 436.668.886.141 125.141.937.007 28,66

Pengembalian Belanja (3.652.957.917) (1.648.865.674) (2.004.092.243) 121,54

Realisasi Belanja Netto 558.157.865.231 435.020.020.467 123.137.844.764 28,31 Dalam realisasi Belanja Barang sebesar Rp558.157.865.231,00 termasuk realisasi dari Pinjaman Luar Negeri (ADB 2127-INO) sebesar Rp144.628.876.157,00 atau 25,91% dari total realisasi Belanja Barang.

Belanja Modal

Rp151.875.433.803 B.2.3. Belanja Modal

Realisasi Belanja Modal TA 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp151.875.433.803,00 dan Rp66.315.717.789,00. Realisasi Belanja Modal mengalami kenaikan sebesar Rp85.559.716.014,00 atau 129,02 persen, antara lain disebabkan kenaikan anggaran pembangunan gedung kantor Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat. Perbandingan realisasi Belanja Modal TA 2015 dan 2014 disajikan pada Tabel 8 berikut ini:

Tabel 8

Perbandingan Realisasi Belanja Modal TA 2015 dan 2014

Uraian Realisasi Belanja Naik / (Turun)

TA 2015 (Rp) TA 2014 (Rp) Rp %

Belanja Modal Tanah 35.000.000 - 35.000.000

-Belanja Modal Peralatan

dan Mesin 52.776.847.912 14.255.120.530 38.521.727.382 270,23

Belanja Modal Gedung

dan Bangunan 96.440.270.693 52.007.369.509 44.432.901.184 85,44

Belanja Modal Jalan,

Irigasi dan Jaringan 2.248.729.300 44.123.700 2.204.605.600 4.996,42

Belanja Modal Lainnya 462.606.210 124.816.450 337.789.760 270,63

Realiasi Belanja Bruto 151.963.454.115 66.431.430.189 85.532.023.926 128,75

Pengembalian Belanja (88.020.312) (115.712.400) 27.692.088 23,93

(31)

Dalam realisasi Belanja Modal sebesar Rp151.875.433.803,00 termasuk realisasi Pinjaman Luar Negeri (ADB 2127-INO) sebesar Rp16.427.180.000,00 atau 10,82% dari total realisasi Belanja Modal. Dari realisasi Belanja Modal sebesar Rp151.875.433.803,00 dicatat sebagai perolehan aset sebesar Rp151.558.502.903,00, sebagai aset ekstrakomtabel sebesar Rp3.670.800,00, dan aset yang diserahkan ke pemerintah daerah sebesar Rp313.260.100,00. Uraian lebih lanjut tentang realisasi Belanja Modal dapat dilihat pada Penjelasan Pos-Pos Neraca, dan Laporan Operasional.

(32)

C. PENJELASAN ATAS POS-POS NERACA

Aset Lancar

Rp9.994.682.007 C.1. Aset Lancar

Nilai Aset Lancar per 31 Desember 2015 dan 2014 adalah masing-masing sebesar Rp9.994.682.007,00 dan Rp21.604.204.697,00. Aset Lancar merupakan aset yang diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu dua belas (12) bulan sejak tanggal pelaporan.

Rincian Aset Lancar per 31 Desember 2015 dan 2014 disajikan pada Tabel 9 berikut ini:

Tabel 9

Rincian Aset Lancar per 31 Desember 2015 dan 2014

No. Aset Lancar 31 Desember 2015 (Rp) 31 Desember 2014 (Rp) 1 Kas di Bendahara Pengeluaran 55.914.380 - 2 Kas Lainnya dan Setara Kas - 30.541.650 3 Belanja Dibayar Dimuka (prepaid) 1.178.866.301 14.223.116.286 4 Pendapatan Yang Masih Harus Diterima 9.017.362 -

5 Piutang Bukan Pajak - 5.363.125

6 Penyisihan Piutang Tidak Tertagih – Piutang Bukan Pajak - (26.816) 7 Bagian Lancar Tagihan TP/TGR 4.889.000

8 Penyisihan Piutang Tidak Tertagih- Bagian Lancar Tagihan TP/TGR (24.445)

9 Persediaan 8.746.019.409 7.345.210.452 Jumlah 9.994.682.007 21.604.204.697

Kas di Bendahara Pengeluaran Rp55.914.380

C.1.1. Kas di Bendahara Pengeluaran

Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp55.914.380,00 dan Rp0,00. Jumlah tersebut merupakan saldo UP yang belum dipertanggungjawabkan secara definitif ke Kas Negara pada tanggal Neraca. Saldo tersebut telah disetor ke Kas Negara tanggal 5 Januari 2016 dengan bukti NTPN 0709021412010407 sebesar Rp55.614.380,00 dan pada tanggal 15 Januari 2016 dengan NTPN E6AB17NC5ELJ0V1O sebesar Rp300.000,00.

(33)

Seluruh satker di lingkungan BPKP telah menggunakan rekening tunggal (single account), dan secara periodik telah menyampaikan laporan penggunaan rekening sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Daftar Rekening dan Saldo per Satuan Kerja per 31 Desember 2015 dapat dilihat pada Lampiran 9-A.

Kas Lainnya dan

Setara Kas Nihil C.1.2. Kas Lainnya dan Setara Kas

Saldo Kas Lainnya dan Setara Kas per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp0,00 dan Rp30.541.650,00.

Saldo kas per 31 Desember 2014 tersebut telah diserahkan kepada yang berhak pada tanggal 12 Januari 2015 sebesar Rp6.790.000,00 dan disetorkan ke Kas Negara pada tanggal 13 Januari 2015 sebesar Rp23.751.650,00, dengan NTPN Nomor 11430441212151211.

Belanja Dibayar Dimuka (prepaid) Rp1.178.866.301

C.1.3. Belanja Dibayar Dimuka (prepaid)

Saldo Belanja Dibayar Dimuka per 31 Desember 2015 dan

2014 masing-masing sebesar Rp1.178.866.301,00 dan

Rp14.223.116.286,00. Belanja Dibayar Dimuka merupakan hak yang masih harus diterima dari pihak ketiga setelah tanggal neraca sebagai akibat dari telah dibayarkannya secara penuh belanja dan membebani anggaran tahun berjalan namun barang atau jasa belum diterima seluruhnya. Rincian Belanja Dibayar Dimuka (prepaid) per 31 Desember 2015 dapat dilihat pada Lampiran 9-B.

Pendapatan Yang Masih Harus Diterima Rp9.017.362

C.1.4. Pendapatan Yang Masih Harus Diterima

Saldo Pendapatan Yang Masih Harus Diterima per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp9.017.362,00 dan Rp0,00. Jumlah tersebut merupakan pendapatan sewa gedung dan bangunan yang belum diterima sampai dengan 31 Desember 2015 dengan rincian sebagai berikut:

Nama Satuan Kerja Nilai (Rp) Keterangan

Kantor Pusat BPKP 4.728.804 Sewa rumah dinas dan Focus Media Pusdiklatwas 2.100.000 Sewa ATM

Perw. BPKP Prov. Banten 429.600 Sewa rumah dinas Perw. BPKP Prov. Sumatera Utara 1.758.958 Sewa ATM

(34)

Pajak Nihil C.1.5. Piutang Bukan Pajak

Saldo Piutang Bukan Pajak per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp0,00 dan Rp5.363.125,00. Saldo piutang per 31 Desember 2014 seluruhnya telah disetor ke Kas Negara pada tahun 2015 sebagai pendapatan sewa sebesar Rp4.763.125,00 dan pendapatan lain-lain sebesar Rp600.000,00.

Penyisihan Piutang Tidak Tertagih-Piutang Bukan Pajak Nihil

C.1.6. Penyisihan Piutang Tidak Tertagih - Piutang Bukan Pajak

Saldo Penyisihan Piutang Tidak Tertagih-Piutang Bukan Pajak per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp0,00 dan minus Rp26.816,00.

Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/ Tuntutan Ganti Rugi Rp4.889.000

C.1.7. Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi

Saldo Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR) per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp4.889.000,00 dan Rp0,00. Saldo Bagian Lancar Tagihan TP/TGR per 31 Desember 2015 sebesar Rp4.889.000,00 merupakan ganti rugi ikatan dinas satu (1) orang pegawai yang diberhentikan tidak dengan hormat (PTDH) pada tahun 2015 dan belum dibayarkan sampai dengan tanggal pelaporan.

Penyisihan Piutang Tidak Tertagih - Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tun tutan Ganti Rugi (Rp24.445)

C.1.8. Penyisihan Piutang Tidak Tertagih - Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi

Saldo Penyisihan Piutang Tidak Tertagih-Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar minus Rp24.445,00 dan Rp0,00. Saldo Penyisihan Piutang Tidak Tertagih-Bagian Lancar Tagihan TP/TGR per 31 Desember 2015 sebesar Rp24.445,00 adalah 0,5% dari saldo Bagian Lancar TP/TGR.

Persediaan Rp

Rp8.746..019.409 C.1.9. Persediaan

Saldo Persediaan per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp8.746.019.409,00 dan Rp7.345.210.452,00. Persediaan merupakan jenis aset dalam bentuk barang atau perlengkapan (supplies) pada tanggal neraca, yang diperoleh dengan maksud untuk

(35)

mendukung kegiatan operasional dan tidak untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Rincian Persediaan per 31 Desember 2015 dan 2014 disajikan pada Tabel 10 berikut ini:

Tabel 10

Rincian Persediaan per 31 Desember 2015 dan 2014

Kode Jenis Persediaan 31 Desember 2015 (Rp) 31 Desember 2014 (Rp) 117111 Barang Konsumsi 6.762.821.931 5.757.528.816 117113 Bahan untuk Pemeliharaan 495.537.675 191.294.196 117114 Suku Cadang 31.621.365 74.414.395 117121 Pita Cukai, Materai dan Leges - 315.000 117131 Bahan Baku 297.071.440 512.846.675 117191 Persediaan Untuk Tuj. Strategis - 3.789.500 117199 Persediaan Lainnya 1.158.966.998 805.021.870

Jumlah 8.746.019.409 7.345.210.452

Semua jenis persediaan dengan nilai sebesar Rp8.746.019.409,00 berada dalam kondisi baik.

Daftar Persediaan per Satuan Kerja per 31 Desember 2015 dapat dilihat pada Lampiran 9-C.

Aset Tetap

Rp1.851.402.344.806 C.2. Aset Tetap

Nilai buku Aset Tetap per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp1.851.402.344.806,00 dan Rp1.717.903.451.716,00, yang merupakan aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari dua belas (12) bulan, dan digunakan dalam kegiatan operasional entitas.

Rincian Aset Tetap per 31 Desember 2015 dan 2014 disajikan pada Tabel 11 berikut ini:

(36)

Tabel 11

Rincian Aset Tetap per 31 Desember 2015 dan 2014

No. Uraian 31 Desember 2015 (Rp) 31 Desember 2014 (Rp) 1 Tanah 1.044.359.436.558 1.039.340.183.858 2 Peralatan dan Mesin 310.669.492.725 265.881.148.667 3 Gedung dan Bangunan 808.458.385.816 714.621.243.595 4 Jalan, Irigasi dan Jaringan 15.317.578.738 15.053.018.438 5 Aset Tetap Lainnya 2.481.645.492 2.410.925.945 6 Konstruksi Dalam Pengerjaan 45.218.093.911 16.869.758.480

Nilai Perolehan 2.226.504.633.240 2.054.176.278.983 7 Akumulasi Penyusutan (375.102.288.434) (336.272.827.267) Nilai Buku 1.851.402.344.806 1.717.903.451.716

Tanah

Rp1.044.359.436.558 C.2.1. Tanah

Nilai Aset Tetap berupa Tanah yang dimiliki BPKP per 31 Desember 2015 dan 2014 masing-masing sebesar Rp1.044.359.436.558,00 dan Rp1.039.340.183.858,00.

Selama tahun 2015 terjadi kenaikan nilai perolehan Tanah sebesar Rp5.019.252.700,00 dengan penjelasan sebagai berikut:

Uraian Jumlah (Rp)

Nilai Perolehan per 31 Desember 2014 1.039.340.183.858

Mutasi Tambah:

- Koreksi Pencatatan Nilai 6.280.863.600

- Transfer Masuk 233.116.500

- Hibah Masuk 6.005.000.000

- Pengembangan Nilai Aset 46.165.600 Jumlah Mutasi Tambah 12.565.145.700 Mutasi Kurang:

- Transfer Keluar (5.865.000.000)

- Penghapusan (475.143.000)

- Koreksi Pencatatan Nilai (1.205.750.000) Jumlah Mutasi Kurang (7.545.893.000) Nilai Perolehan per 31 Desember 2015 1.044.359.436.558

Transaksi penambahan dan pengurangan nilai Tanah dalam tahun 2015 adalah sebagai berikut:

 Mutasi Tambah berupa Koreksi Pencatatan Nilai sebesar Rp6.280.863.600,00 merupakan koreksi nilai perolehan seluas

(37)

4.000 m2 dengan nilai sebesar Rp537.790.400,00 menjadi sebesar Rp6.818.654.000,00 berdasarkan penilaian dari KPKNL Batam pada tanggal 17 Maret 2015 pada Perwakilan BPKP Provinsi Kepulauan Riau.

 Mutasi Tambah melalui Transfer Masuk sebesar

Rp233.116.500,00 merupakan perolehan tanah dari Badan Pusat Statistik (BPS) ke Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Selatan.

 Mutasi Tambah melalui Hibah Masuk sebesar

Rp6.005.000.000,00 berasal dari:

 Pemerintah Provinsi Papua Barat kepada Perwakilan BPKP Provinsi Papua Barat sebesar Rp.4.500.000.000,00.

 Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat kepada Perwakilan BPKP Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar Rp1.505.000.000,00.

 Pengembangan Nilai Aset Rp46.165.600,00 merupakan realisasi Belanja Modal Tanah untuk biaya proses balik nama tanah pada Perwakilan BPKP Provinsi NTB sebesar Rp35.000.000,00 dan kapitalisasi dari biaya perjalanan dinas pengurusan hibah yang berasal dari administrasi proyek sebesar Rp11.165.600,00.

 Mutasi Kurang melalui Transfer Keluar sebesar

Rp5.865.000.000,00 merupakan penyerahan tanah dari Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Selatan kepada Badan Pusat Statistik (BPS).

 Mutasi Kurang berupa penghapusan sebesar Rp475.143.000,00 karena pelepasan hak atas tanah seluas 149 m2 Hak Pakai

Nomor 1737 yang berlokasi di Jl. Lapangan Roos I Nomor 6, Tebet yang telah dibayar lunas perjanjian sewa belinya.

 Mutasi Kurang berupa koreksi pencatatan nilai sebesar Rp1.205.750.000,00 karena pelepasan sebagian hak atas sertifikat tanah Hak Pakai Nomor 00011 yang berlokasi di Desa Cempaka Putih, Tangerang Selatan sehingga sisa luas tanah menjadi 2.441 m2 dari sebelumnya seluas 3.004m2.

(38)

Dalam saldo Tanah per 31 Desember 2015 sebesar Rp1.044.359.436.558,00, termasuk:

 Tanah dalam proses angsuran sewa beli rumah negara kepada Syamsuddin dan Soedibyo yang merupakan bagian dari Sertifikat Hak Pakai Nomor 00288 Rawasari.

 Tanah dalam proses penyelesaian sengketa kepemilikan yaitu:  Sertifikat Hak Pakai Nomor 42 seluas 980 M2 di Jl. Kasuari

Nomor 5, Makassar dengan nilai Rp1.185.800.00,00. Hasil sengketa di tingkat Pengadilan Negeri sesuai Keputusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor 370/Pdt.G/2013/PN.Mks tanggal 29 Oktober 2014, pihak penggugat dinyatakan kalah, dan sampai saat ini masih dalam proses banding.

 Tanah seluas 92 M2 di Desa Wua-Wua yang merupakan bagian dari Sertifikat Hak Pakai Nomor 202 seluas 1.000 M2 dengan nilai Rp172.000.000,00. Hasil sengketa di tingkat Pengadilan Negeri sesuai Keputusan Pengadilan Negeri Kendari Nomor 14/Pdt.G/2014/PN.KDI tanggal 16 Desember 2014, pihak penggugat dinyatakan kalah, dan sampai saat ini masih dalam proses kasasi.

Daftar Tanah per Satuan Kerja per 31 Desember 2015 dapat dilihat pada Lampiran 9-D.

Peralatan dan Mesin

Rp310.669.492.725 C.2.2. Peralatan dan Mesin

Nilai perolehan Peralatan dan Mesin per 31 Desember 2015 dan

masing-masing sebesar Rp310.669.492.725,00 dan

Rp265.881.148.667,00. Sedangkan nilai buku Peralatan dan Mesin pada tanggal pelaporan yaitu nilai perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutannya adalah sebesar Rp70.292.691.286,00. Mutasi nilai Peralatan dan Mesin tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

(39)

Uraian Jumlah (Rp) Nilai Perolehan per 31 Desember 2014 265.881.148.667

Mutasi Tambah:

- Pembelian 50.472.538.450

- Transfer Masuk 824.122.512

- Reklasifikasi dari Aset Lain-Lain 1.099.000

Jumlah Mutasi Tambah 51.297.759.962

Mutasi Kurang:

- Transfer Keluar (824.122.512)

- Penghentian Aset dari Penggunaan (2.659.806.392)

- Penghapusan (3.016.487.000)

- Koreksi Pencatatan Nilai (9.000.000) Jumlah Mutasi Kurang (6.509.415.904) Nilai Perolehan per 31 Desember 2015 310.669.492.725 Akumulasi Penyusutan s.d. 31 Desember 2015 240.376.801.439 Nilai Buku per 31 Desember 2015 70.292.691.286

Transaksi penambahan dan pengurangan nilai Peralatan dan Mesin tahun 2015 adalah sebagai berikut:

Penambahan Peralatan dan Mesin dari transasksi pembelian sebesar Rp50.472.538.450,00 terdiri atas Belanja Modal Peralatan dan Mesin sebesar Rp49.375.585.750,00, Belanja Modal Gedung dan Bangunan sebesar Rp89.245.200,00, Belanja Modal Jaringan Rp937.444.000,00 dan Belanja Barang Rp70.263.500,00.

Realisasi Anggaran Belanja Modal Peralatan dan Mesin yang fisiknya dicatat sebagai perolehan Peralatan dan Mesin adalah sebesar Rp49.375.585.750,00. Sedangkan Realisasi Anggaran Belanja Modal Peralatan dan Mesin Tahun 2015 seluruhnya sebesar Rp52.771.946.237,00 sehingga terdapat selisih sebesar Rp3.396.360.487,00 yang tidak dicatat sebagai penambahan Peralatan dan Mesin, namun dicatat sebagai perolehan:

 Gedung dan Bangunan sebesar Rp86.229.687,00 pada Kantor Pusat BPKP.

 Software sebesar Rp261.580.000,00 pada Kantor Pusat BPKP.  Aset Tak Berwujud Lainnya pada Pusinfowas BPKP sebesar

Rp3.044.880.000,00.

 Aset extracomptable Peralatan dan Mesin sebesar Rp3.670.800,00 karena harga satuannya dibawah nilai kapitalisasi peralatan dan mesin.

(40)

 Mutasi Tambah/Kurang melalui Transfer Masuk/Keluar sebesar Rp824.122.512,00 merupakan transfer antar satuan kerja di lingkungan BPKP, dengan rincian sebagai berikut:

Transfer Masuk Transfer Keluar Jumlah (Rp)

Kantor Pusat BPKP

Pusbin JFA 297.699.956

Perw. BPKP Prov. DKI Jakarta 64.800.000 Perw. BPKP Prov. D I Y 215.600.000 Perw. BPKP Prov. Bali 186.767.756 Perw. BPKP Prov. Papua Barat 21.466.500

Perw. BPKP Prov. Kaltim Kantor Pusat BPKP 9.570.000

Perw. BPKP Prov. Jabar

Pusinfowas 20.639.300

Perw. BPKP Prov. Lampung 7.579.000

Jumlah 824.122.512

 Mutasi Tambah melalui Reklasifikasi dari Aset Lain-Lain sebesar Rp1.099.000,00 merupakan perubahan kode barang yang sebelumnya dicatat sebagai Aset Lain-Lain pada Perwakilan BPKP Provinsi Riau.

 Mutasi Kurang melalui Penghentian Aset dari Penggunaan sebesar Rp2.659.806.392,00 merupakan reklasifikasi ke Aset Lain-Lain melalui transaksi “penghentian aset dari penggunaan” yang disebabkan BMN kondisinya Rusak Berat sesuai dengan hasil inventarisasi, terdiri atas:

Nama Satuan Kerja Nilai (Rp)

Pusdiklatwas 873.657.628

Perw. BPKP Prov. Sumatera Utara 828.606.008 Perw. BPKP Prov. Sumatera Barat 144.050.000 Perw. BPKP Prov. Sumatera Selatan 346.641.056 Perw. BPKP Prov. Lampung 463.155.700 Perw. BPKP Prov. Kalimantan Selatan 3.696.000

Jumlah 2.659.806.392

 Mutasi Kurang melalui Penghapusan sebesar Rp3.016.487.000,00 terjadi pada Satuan Kerja sebagai berikut:

Nama Satuan Kerja Nilai (Rp)

Kantor Pusat BPKP 1.821.923.873

Inspektorat BPKP 259.107.102

Perw. BPKP Prov. DKI Jakarta 471.517.185 Perw. BPKP Prov. Maluku 437.151.840 Perw. BPKP Prov. Kep. Bangka Belitung 26.787.000

(41)

 Mutasi Kurang melalui Koreksi Nilai Aset Tetap sebesar Rp9.000.000,00 merupakan koreksi nilai perolehan karena pengembalian realisasi belanja modal tahun anggaran yang lalu pada Pusdiklatwas BPKP.

Daftar Peralatan dan Mesin per Satuan Kerja per 31 Desember 2015 dapat dilihat pada Lampiran 9-E.

Gedung dan Bangunan Rp808.458.385.816

C.2.3. Gedung dan Bangunan

Nilai perolehan Gedung dan Bangunan per 31 Desember 2015 dan 2014, masing-masing sebesar Rp808.458.385.816,00 dan Rp714.621.243.595,00.

Sedangkan nilai buku Gedung dan Bangunan pada tanggal pelaporan yaitu nilai perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutannya adalah sebesar Rp681.042.983.766,00.

Mutasi nilai Gedung dan Bangunan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Uraian Jumlah (Rp)

Nilai Perolehan per 31 Desember 2014 714.621.243.595 Mutasi Tambah:

 Pembelian 2.083.139.800

 Pengembangan Nilai Aset 24.217.656.528

 Transfer Masuk 27.375.004.099

 Reklasifikasi Masuk 42.712.685.784

Jumlah Mutasi Tambah 96.388.486.211

Mutasi Kurang

 Transfer Keluar (1.465.205.000)  Koreksi Nilai Aset Tetap (1.086.138.990) Jumlah Mutasi Kurang (2.551.343.990) Nilai Perolehan per 31 Desember 2015 808.458.385.816 Akumulasi Penyusutan s.d. 31 Desember 2015 (127.415.402.050) Nilai Buku per 31 Desember 2015 681.042.983.766

Transaksi penambahan dan pengurangan nilai Gedung dan Bangunan per 31 Desember 2015 adalah sebagai berikut:

Penambahan Gedung dan Bangunan yang berasal dari realisasi belanja adalah sebesar Rp26.300.796.328,00, terdiri atas:

Gambar

Tabel 1 : Rincian Estimasi dan Realisasi PNBP TA 2015 19

Referensi

Dokumen terkait

Aset tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual, nilai tercatat serta akumulasi penyusutan dan amortisasi dikeluarkan dari kelompok aset tetap yang bersangkutan

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep dikelompokkan menjadi tiga kategori. Tingkat pertama adalah kemampuan untuk mengubah simbol

Menurut Fajar (2008) ada empat alasan yang menguntungkan produsen untuk memasarkan produknya kepada pihak lain yaitu: (1) produsen mendapatkan keuntungan tertentu dengan

Sisa dana yang terdapat dalam rekening penampungan sebagaimana dimaksud dalam ayat I.3.6.c.iv diatas yang belum/tidak ditarik oleh Nasabah tidak akan mendapat bunga atau

Oleh karena dalam undang-undang tidak mengatur mengenai perlindungan hukum terhadap kreditor yang mana Hak Guna Bangunan sebagai jaminan kredit telah berakhir jangka

NO KEGIATAN DAN NANTA PEKERJAAN KODE REKENING CARA PENGADAAN VOLUME LOKASI PEKEzuAAN PAGU SUMBER. DANA PERKIRAAN MULAI PELAKSANAAN PEKEzuAAN WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN I 2 3 4 5

Berdasarkan logika berfikir, teori, dan penelitian terdahulu, penggunaan jasa auditor eksternal yang tergolong spesialis industri, akan memperkecil probabilitas

Teknologi yang telah dihasilkan oleh lembaga penelitian sudah cukup banyak, karena penelitian mengenai komoditas ini sudah dilakukan sejak lama terutama oleh