• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAWATAN GIGI DAN MULUT ANAK SEKOLAH DI GAMPONG LAMCOT KECAMATAN DARUL IMARAH ACEH BESAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAWATAN GIGI DAN MULUT ANAK SEKOLAH DI GAMPONG LAMCOT KECAMATAN DARUL IMARAH ACEH BESAR"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERAWATAN GIGI DAN MULUT ANAK SEKOLAH DI GAMPONG LAMCOT

KECAMATAN DARUL IMARAH ACEH BESAR

DENTAL CARE AND MOUTH OF CHILDREN SCHOOL IN GAMPONG

LAMCOT KECAMATAN DARUL IMARAH ACEH BESAR

Ahyal Miska1, Samsul Alam2 1

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 2

Bagian Keilmuan Keperawatan Komunitas Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh e-mail: [email protected], tsa_psik_unsyiah.co.id

ABSTRAK

Masalah kesehatan gigi dan mulut merupakan masalah yang rentan dihadapi oleh kelompok anak usia Sekolah Dasar (SD), karena anak usia sekolah (6-12 tahun) merupakan periode transisi atau masa bercampurnya antara gigi susu (gigi primer) dan gigi tetap (gigi sekunder). Periode transisi bagi anak adalah periode terburuk karena masalah kesehatan gigi dan mulut dan kurangnya perhatian terhadap perawatan kesehatan gigi dan mulut akan bermula dari periode ini serta akan mempengaruhi masa depan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perawatan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar. Jenis penelitian ini adalah deskriptive dengan desain cross sectional study. Populasi pada penelitian ini adalah anak usia sekolah usia 10 sampai 12 tahun. Teknik pengambilan sampel adalah teknik non random sampling berdasarkan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara terpimpin. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang terdiri dari 19 item pertanyaan dalam skala dichotomous choice. Metode analisis data dengan menggunakan analisis univariat. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan perawatan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah adalah kurang baik (78%), dimana yang termasuk kurang baik adalah flossing (96%), berkumur (76%) sedangkan menyikat gigi (58%) dan asupan nutrisi (60%) adalah baik. sehingga dapat disimpulkan bahwa perawatan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah adalah kurang baik. Diharapkan perawat dapat melakukan sosialisasi dan simulasi ke Gampong Lamcot terkait dengan perawatan kesehatan gigi dan mulut yang baik. Kata Kunci : Menyikat gigi, flossing, berkumur, asupan nutrisi

ABSTRACT

Health problems the teeth and the mouth a matter susceptible faced by a group of primary school age children (SD), because school age children (6-12 years) is of a transition period or the term mixed between the teeth milk (of teeth primary) and teeth fixed (teeth secondary star). Of the transition period for the son was the period worst because it is health problems teeth and mouth and lack of care for health care the teeth and the mouth will began from this period and will affect the future children. The purpose of the research is to identity health care teeth and the mouth on school-age children in Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar. The type of the research was used descriptive used cross sectional study design. The population in this research was school age children the ages of 10 and 12 years. Sampling technique was a technique non random sampling based on technique purposive sampling with the sample of the 50 respondents. Data collection was done a set of guided interview. The instruments used was a questionnaire consisted used 19 questions on dichotomous choice scale. Data analysis methods used univariate analysis. Based on the results of the study was obtained health care teeth and the mouth on children of school age was less well (78%), where was that including less well is flossing (96%), gargling (76%) while brushing teeth (58%) and intake of nutrients (60%) was good. So that we can conclude that health care teeth and the mouth on children of school age was less than good. Nurses expected to be able to conduct socialization and simulation to Gampong Lamcot associated with health care the teeth and of the mouth which is good . Keywords : Brushing teeth, flossing, gargling, intake of nutrients

(2)

2 PENDAHULUAN

Perawatan kesehatan merupakan sebuah proses yang berhubungan dengan tindakan pencegahan, perawatan dan manajemen penyakit. Perawatan kesehatan sangat penting dalam kehidupan karena hal ini merupakan tindakan yang baik untuk dapat menjalani aktivitas dan memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu perawatan kesehatan yang dapat menunjang kesehatan diri yaitu perawatan kesehatan gigi dan mulut.

Gigi dan mulut merupakan bagian penting yang harus dirawat kesehatan dan kebersihannya, sebab melalui organ ini berbagai kuman dapat masuk (Alimul, 2009). Kesehatan gigi dan mulut sangat penting untuk dijaga karena jika gigi dan mulut tidak dirawat dengan benar akan menimbulkan rasa sakit, gangguan pengunyahan, maloklusi gigi dan dapat mengganggu kesehatan tubuh lainnya.

Masalah kesehatan gigi dan mulut merupakan masalah yang rentan dihadapi oleh kelompok anak usia Sekolah Dasar (SD), karena anak usia sekolah (6-12 tahun) merupakan periode transisi atau masa bercampurnya antara gigi susu (gigi primer) dan gigi tetap (gigi sekunder). Periode transisi bagi anak adalah periode terburuk karena masalah kesehatan gigi dan mulut dan kurangnya perhatian terhadap perawatan kesehatan gigi dan mulut akan bermula dari periode ini serta akan mempengaruhi masa depan anak (Pratiwi, 2007).

Data World Health Organisation (WHO, 2005) dalam Riskesdas (2007) diperkirakan bahwa 90% dari anak sekolah didunia dan sebagian orang dewasa pernah menderita karies gigi. Hasil Riskesdas (2013) menyatakan bahwa di Indonesia, prevalensi nasional masalah gigi dan mulut adalah 25,9% penduduk, diantaranya terdapat 31,1% yang menerima perawatan dan pengobatan dari tenaga medis gigi, sementara 68,9% lainnya tidak dilakukan perawatan. Di Indonesia, provinsi yang mempunyai prevalensi tertinggi masalah kesehatan gigi

dan mulut adalah Sulawesi Selatan 36,2%, Kalimantan Selatan 36,1%, Sulawesi Tengah 35,6%, Sulawesi Barat 32,2%, DI Yogyakarta 32,1%, Sulawesi Utara 31,6%, dan Aceh 30,5%.

Berdasarkan hasil penelitian Kusnoto (2007) dalam Iswandani (2015) mengenai kebersihan gigi dan mulut yang diukur dengan menggunakan Oral Hygiene Index Simplied (OHIS) menunjukkan bahwa rata-rata kebersihan gigi dan mulut murid sekolah dasar kelas IV – VI di wilayah DKI Jakarta termasuk kategori sedang yaitu 53,8% dari seluruh murid yang diperiksa. Sedangkan hasil penelitian Setiawan, Adhani, Sukmana dan Hadianto (2008) mengenai hubungan pelaksanaan UKGS dengan status kesehatan gigi dan mulut murid Sekolah Dasar Sederajat di wilayah kerja Puskesmas Cempaka Putih Kota Banjarmasin menunjukkan bahwa angka bebas karies pada anak 23% dan yang mengalami karies 77% dengan rincian anak laki-laki yang mengalami karies 39% dan yang bebas karies 15%, anak perempuan yang mengalami karies 38% dan yang bebas karies 8%.

Gampong Lamcot merupakan salah satu gampong yang berada di Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar dan letaknya jauh dari Puskesmas Kecamatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan anak usia sekolah di Gampong Lamcot terdapat 6 dari 10 orang anak sering mengalami sakit gigi. Hal ini dikarenakan mereka sering mengkonsumsi makanan yang manis, minuman yang dingin dan kebiasaan yang jarang menyikat gigi. Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Perawatan gigi dan mulut anak sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar”.

METODE

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah descriptive, dengan desain penelitian cross sectional study melalui kuesioner dengan wawancara terpimpin. Metode pengambilan sampel yang

(3)

3 digunakan dalam penelitian ini adalah non

random sampling berdasarkan teknik purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah, usia 10 sampai 12 tahun di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar yang berjumlah 102 anak. Sampel dalam penelitian ini merupakan bagian dari populasi target yang akan diteliti secara langsung yang berjumlah 50 orang (Notoatmodjo, 2010).

HASIL

Data yang diperoleh berdasarkan kuesioner terhadap 50 responden adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Data Demografi Anak Usia Sekolah (10-12 tahun) Data Demografi f % Usia Responden a.10 tahun b.11 tahun c.12 tahun 31 9 10 62.0 18.0 20.0 Jenis Kelamin a.Laki-laki b.Perempuan 25 25 50.0 50.0 Tingkat Pendidikan Orang Tua a.SD b.SMP c.SMA d.Perguruan Tinggi 14 12 20 4 28.0 24.0 40.0 8.0 Pekerjaan Orang Tua

a.Wiraswasta b.Petani c.IRT d.Pensiunan 41 4 4 1 82.0 8.0 8.0 2.0 Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa responden berdasarkan usia terbanyak adalah 10 tahun dengan frekuensi sebanyak 31 orang (62%), responden berdasarkan jenis kelamin didapatkan bahwa jumlah responden laki-laki dan perempuan adalah sama yaitu 25 orang (50%), responden berdasarkan tingkat pendidikan orang tua terbanyak adalah tingkat SMA dengan frekuensi sebanyak 20 orang (40%) dan responden berdasarkan pekerjaan orang tua terbanyak adalah wiraswasta dengan frekuensi sebanyak 41 orang (82%).

Tabel 2. Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut ditinjau dari Menyikat Gigi

Menyikat Gigi f %

Kurang Baik 21 42

Baik 29 58

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari menyikat gigi pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar adalah baik dengan frekuensi sebanyak 29 responden (58%) dan kurang baik dengan frekuensi sebanyak 21 responden (42%).

Tabel 3. Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut ditinjau dari Flossing

Flossing f %

Kurang Baik 48 96

Baik 2 4

Berdasarkan table 3 dapat diketahui bahwa perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari flossing pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar adalah kurang baik dengan frekuensi sebanyak 48 responden (96%) dan baik dengan frekuensi sebanyak 2 responden (4%).

Tabel 4. Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut ditinjau dari Berkumur

Berkumur f %

Kurang Baik 38 76

Baik 12 24

Berdasarkan table 4 dapat diketahui bahwa bahwa perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari berkumur pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar adalah kurang baik dengan frekuensi sebanyak 38 responden (76%) dan baik dengan frekuensi sebanyak 12 responden (24%).

Tabel 5. Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut ditinjau dari Asupan Nutrisi

Asupan Nutrisi f %

Kurang Baik 20 40

(4)

4 Berdasarkan table 5 dapat diketahui

bahwa bahwa perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari asupan nutrisi yang baik untuk kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar adalah baik dengan frekuensi sebanyak 30 responden (60%) dan kurang baik dengan frekuensi sebanyak 20 responden (40%).

Tabel 6. Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak Usia Sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar

Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut f % Kurang Baik 39 78 Baik 11 22

Berdasarkan table 6 menunjukkan bahwa perawatan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar berada pada kategori kurang baik sebanyak 39 responden (78%).

PEMBAHASAN

Perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari menyikat gigi

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 2 ditinjau dari menyikat gigi dapat analisa bahwa dari 50 responden, 29 responden (58%) diantaranya melakukan kebiasaan menyikat gigi yang “baik”. Kebiasaan menyikat gigi dalam penelitian ini meliputi frekuensi dan waktu, penggunaan pasta gigi berflour dan cara atau metode menyikat gigi.

Frekuensi menyikat gigi dilihat dari berapa kali dalam sehari anak melakukan tindakan menyikat gigi sedangkan waktu menyikat gigi dilihat dari kapan tindakan menyikat gigi dilakukan oleh anak tersebut. Hasil penelitian dari 50 responden terdapat 24 responden (48%) yang menyikat gigi dua kali sehari sebelum tidur dan sesudah sarapan. Sedangkan kebiasaan menyikat gigi yang keliru, yaitu 26 responden (52%) rata-

rata melakukan penyikatan gigi dua kali sehari tetapi diwaktu yang tidak tepat. Tindakan yang keliru ini dilakukan sebelum sarapan dan saat mandi sore atau sebelum makan malam.

Menurut Claessen (2008) waktu yang tepat untuk menyikat gigi adalah setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam. Tindakan ini dikatakan tepat karena sesuai dengan tujuan menyikat gigi yakni membersihkan gigi dan mulut dari sisa-sisa makanan yang menempel pada permukaan gigi setelah selesai makan. Selanjutnya, dalam penelitian Dian (2015) tentang Gambaran pola jajan, frekuensi menyikat gigi dan status karies gigi anak usia 11-12 tahun di SD Negeri Gumpang 01 Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo menyebutkan bahwa sebanyak 87.5% responden mengaku melakukan kebiasaan menyikat gigi pada saat mandi pagi dan sore dan hanya sebanyak 12.5 % responden lainnya menyikat gigi sesaat setelah makan dan malam sebelum tidur.

Kebiasaan menyikat gigi terkait dengan penggunaan pasta gigi berflour menunjukkan bahwa dari 50 responden terdapat 47 responden (94%) yang selalu menggunakan pasta gigi berflour ketika akan menyikat gigi dan sebanyak 3 orang (6%) yang tidak selalu menggunakan pasta gigi ketika menyikat gigi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sukanto (2015) menyatakan bahwa menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi dengan cara yang benar dapat mencegah timbulnya plak dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang dapat mengganggu kesehatan gigi dan mulut. Pasta gigi yang mengandung flour bisa memperbaiki dan mempertahankan struktur gigi karena resisten terhadap kerusakan dan pembusukan serta merangsang remineralisasi. Bahan-bahan khusus yang ada pada pasta gigi membantu membersihkan dan membuat gigi lebih berkilau. Pasta gigi dapat membuat napas lebih segar.

(5)

5 Metode menyikat gigi dalam

penelitian ini menunjukkan bahwa metode menyikat gigi yang sering digunakan oleh anak-anak Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar adalah metode maju mundur (horizontal). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sarika (2012) yang menyatakan bahwa metode menyikat gigi horizontal cocok digunakan pada anak-anak. Penelitian dari Pintauli (2008) juga menyatakan bahwa metode

vertical dan roll tidak dapat

menurunkan indeks plak lebih besar dibandingkan dengan metode horizontal karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kemampuan untuk melakukan teknik menyikat gigi secara baik dan benar sesuai yang diajarkan pada setiap anak berbeda-beda, tekanan yang diberikan pada saat menyikat gigi berbeda-beda dan kebiasaan menyikat gigi yang berbeda. Sedangkan dalam hasil penelitian Sutjipto (2013) terkait dengan cara menyikat gigi menyatakan bahwa sebagian besar responden (82%) menyikat gigi dengan mengombinasikan gerakan ke atas ke bawah dengan gerakan maju mundur, dan gerakan memutar. Gerakan penyikatan untuk rahang bawah arahnya ke atas dan untuk rahang atas arahnya ke bawah, sedangkan untuk permukaan kunyah (oklusal) disikat dengan gerakan maju mundur. Para ahli juga menyimpulkan bahwa cara menyikat gigi yang paling efektif yaitu dengan cara mengombinasikan semua metode yang ada.

Asumsi penulis terkait subvariabel menyikat gigi pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar adalah dari 50 responden, 29 diantaranya memiliki kebiasaan menyikat gigi yang baik dan 21 lainnya memiliki kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia sekolah yang ada di Gampong Lamcot sudah memiliki kesadaran yang baik terkait menyikat gigi yang benar. Hal ini dikarenakan adanya dukungan yang baik dari

orang tua responden dan di sekolah sekitar yaitu di SDN 1 Lamcot sudah pernah dilakukan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut oleh tenaga kesehatan.

Perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari flossing

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 3 ditinjau dari flossing di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar menyatakan bahwa dari 50 responden terdapat 48 responden (96%) berada pada kategori kurang baik.

Flossing adalah tindakan

pembersihan gigi dengan menggunakan dental floss atau yang lebih dikenal dengan benang gigi atau juga menggunakan benda lain. Flossing bertujuan untuk mengangkat sisa makanan diantara gigi yang tidak tercapai dengan sikat gigi. Idealnya flossing dilakukan setelah menyikat gigi sehingga upaya pembersihan gigi menjadi sempurna (Pratiwi, 2007).

Hasil penelitian Maghfirah (2014) menyebutkan bahwa rata-rata indeks plak menyikat gigi tanpa disertai dengan dental floss sebesar 1.97, sedangkan rata-rata indeks plak menyikat gigi disertai dengan dental floss sebesar 0.45. Penurunan indeks plak antara menyikat gigi tanpa disertai dental floss dengan menyikat gigi disertai dental floss sebesar 1.52 (77.2%). Dental floss dapat membersihkan daerah yang sulit dicapai oleh sikat gigi karena dental floss berupa benang yang dapat disisipkan diantara gigi-gigi yang berdekatan. Gerakan gergaji naik turun sepanjang sisi gigi menyebabkan plak yang menempel pada bagian tersebut dapat dibersihkan terutama pada bagian interproksimal (ADA, 2013). Dalam hasil penelitian Sarner (2008) menyebutkan bahwa efektifitas dental floss dalam meghilangkan plak dipengaruhi oleh waktu dan teknik penggunaan.

Flossing atau dental floss sebaiknya diperkenalkan sedini mungkin sejak masa kanak-kanak. Dengan demikian kebiasaan flossing ini diharapkan terbawa terus sampai

(6)

6 dewasa. Menurut Nurdin (2016) flossing

sebaiknya dilakukan pada anak saat berusia sekitar 2 sampai 3 tahun. Anak-anak umumnya perlu bantuan dengan flossing sampai mereka 8 sampai 10 tahun. Flossing membantu menghilangkan kotoran pada gigi dan gusi di antara gigi, pemoles permukaan gigi dan kontrol bau mulut. Flossing paling efektif bila dilakukan setidaknya sekali sehari selama 2 sampai 3 menit setiap kali.

Asumsi penulis terkait dengan penggunaan flossing pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar adalah dari 50 responden, 48 diantaranya tidak pernah melakukan flossing, hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan anak usia sekolah yang ada di Gampong Lamcot belum mengenal dan mengetahui flossing serta belum adanya sosialisasi, hal ini dibuktikan ketika melakukan wawancara mereka terlihat bingung ketika mendengar flossing atau benang gigi.

Perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari berkumur

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4 ditinjau dari berkumur di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar menyatakan bahwa dari 50 responden terdapat 38 responden (76%) berada pada kategori kurang baik.

Menurut Ardhiani (2000) pada saat melakukan oral hygiene dibutuhkan antiseptik yang merupakan suatu senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan atau perkembangan mikroorganisme tanpa merusak secara keseluruhan. Sebagai antibakteri, pemakaian antiseptik sebagai obat kumur bertujuan menghambat pertumbuhan bakteri dalam mulut. Berkumur yang efektif biasanya menggunakan obat kumur yang bersifat antiseptik yang dapat membunuh kuman sebagai timbulnya plak, radang gusi, dan bau mulut. Namun tindakan berkumur menggunakan obat kumur ini tidak mengeliminir perlunya penyikatan gigi. Obat kumur juga dapat menjadi penyegar mulut

atau mengurangi bau mulut seusai makan (Pratiwi, 2007).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dian (2014) menyebutkan bahwa telah terjadi penurunan plak setelah pemakaian obat kumur selama dua minggu yang mengandung CPC (Cetylpyridinium Chloride). Pada pemeriksaan sebelum pemakaian obat kumur yang mengandung CPC didapatkan indeks plak rata-rata sebesar 1.25 dan setelah pemakaian obat kumur yang mengandung CPC indeks plak rata-rata turun menjadi sebesar 0.63.

Dalam penelitian Sari (2014) tentang perbandingan efektivitas obat kumur bebas alkohol yang mengandung cetylpyridinium chloride dengan chlorhexidine terhadap penurunan plak disebutkan bahwa alkohol yang dimasukkan kedalam obat kumur digunakan antara lain untuk antiseptic, memperpanjang masa simpan obat kumur, mencegah pencemaran mikroorganisme dan pelarut. Akan tetapi kandungan alkohol dalam obat kumur ini juga menyebabkan individu-individu tertentu tidak dapat menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol, seperti anak-anak, ibu hamil/menyusui, pecandu alkohol, pasien-pasien yang menggunakan metronidazole dan pasien dengan xerostomia.

Menurut asumsi penulis, perawatan kesehatan gigi dan mulut terkait berkumur pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar adalah kurang baik dengan jumlah responden sebanyak 38 orang (78%) dengan rincian yang sering memakai obat kumur sebanyak 5 responden dan yang pernah berkumur menggunakan larutan garam sebanyak 7 responden, hal ini menunjukkan bahwa pada anak untuk berkumur menggunakan obat kumur dan berkumur dengan larutan garam belum banyak yang menggunakan karena tingkat pemahaman responden yang masih kurang, dan juga di pengaruhi oleh pendapatan dan pendidikan orang tua serta kurangnya informasi dan sosialisasi yang didapat.

(7)

7 Perawatan kesehatan gigi dan mulut

ditinjau dari berkumur

Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 5 ditinjau dari asupan nurisi di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar menyatakan bahwa dari 50 responden terdapat 30 responden (60%) berada pada kategori baik yakni anak sering mengkonsumsi sayur-sayuran, buah-buahan, permen karet dan keju serta kurang mengkomsumsi makanan manis dan lengket seperti coklat, biskuit dan permen.

Menurut Djamil (2011) karies gigi sering menyebabkan gigi berlubang penyebab sukrosa makanan utama Streptococcus mutans untuk tumbuh dan berkembang biak. Akibatnya gigi akan menjadi rapuh dan mudah berlubang, jika tidak segera ditangani secara tepat, kerusakan bisa menjalar ke rongga lebih dalam dari bagian gigi, yaitu dentin dan pulpa. Jika sudah melukai pulpa, tentu butuh perawatan lebih kompleks. Bakteri plak akan memfermentasi karbohidrat (misalnya sukrosa) yang menghasilkan asam, sehingga menyebabkan pH plak akan turun dalam waktu 1-3 menit sampai pH 4.5-5.0. Kemudian pH akan kembali normal pada pH sekitar 7 dalam 30-60 menit dan jika penurunan pH plak ini terjadi secara terus-menerus maka akan menyebabkan demineralisasi pada permukaan gigi. Kondisi asam seperti ini sangat disukai oleh Streptococcus mutans dan Lactobacilus sp. yang merupakan mikroorganisme penyebab utama dalam proses terjadinya karies (Taqwin, 2011).

Dalam penelitian Hadnyanawati (2002) menyatakan bahwa konsumsi permen karet dapat berfungsi untuk merangsang sekresi saliva serta meningkatkan kecepatan aliran saliva. Saliva ini berguna sebagai pembersih mulut dari sisa-sisa makanan termasuk karbohidrat yang mudah difermentasi oleh mikroorganisme mulut. Saliva juga bermanfaat untuk membersihkan asam-asam yang terbentuk akibat proses

glikolisis karbohidrat oleh mikroorganisme asidogenik. Beberapa jenis sayuran dan buah-buahan yang berserat yang mengandung sedikit karbohidrat berperan sebagai penghambat terjadinya karies dan juga dapat merangsang sekresi saliva. Konsumsi keju juga dapat meningkatkan produksi saliva sehingga dapat menetralkan asam. Selain itu, keju juga bisa mencegah gigi berlubang (Michaela Oneill dalam Jurnal Kedokteran Gigi, 2016).

Dalam hasil penelitian Hadnyanawati (2002) terkait dengan pengaruh pola jajan di sekolah terhadap karies gigi pada siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Jember juga

menunjukkan siswa yang suka

mengkonsumsi sayur dan buah-buahan mempunyai nilai DMF-T sebesar 1.1 dibandingkan dengan siswa yang suka mengkonsumsi biskuit mempunyai nilai DMF-T lebih tinggi yaitu 1.2. Siswa yang tidak suka mengkonsumsi permen mempunyai nilai DMF-T paling kecil yaitu 0.9, siswa yang suka mengkonsumsi permen karet mempunyai nilai DMF-T paling kecil yaitu 1.2 diantara seluruh siswa yang suka mengkonsumsi permen.

Menurut asumsi penulis, perawatan kesehatan gigi dan mulut terkait asupan nutrisi yang baik untuk kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar adalah baik dengan jumlah responden yang mengkonsumsi makanan yang baik untuk kesehatan gigi dan mulut sebanyak 30 orang (60%), hal ini menunjukkan bahwa anak usia sekolah di Gampong Lamcot sudah memiliki kesadaran dan pemahaman yang cukup baik terkait dengan kesehatan gigi dan mulut, hal ini dibuktikan dari hasil wawancara didapatkan banyak anak yang suka mengkonsumsi sayur, buah, permen karet dan keju yang dapat menghambat terjadinya karies, gigi berlubang, meningkatkan produksi saliva dan dapat menetralkan asam.

(8)

8 KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah gambaran perawatan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah di Gampong Lamcot Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar sebagian besar berada pada kategori kurang baik, dengan rincian perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari menyikat gigi berada pada kategori baik, perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari flossing berada pada kategori kurang baik, perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari berkumur berada pada kategori kurang baik dan perawatan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari asupan nutrisi yang baik untuk kesehatan gigi dan mulut berada pada kategori baik.

.

REFERENSI

Alimul, A. (2009). Metode penelitian keperawatan dan teknik analisis data. Jakarta : Salemba Medika American Dental Association. (2013). Floss

and other interdental cleaners.

Diakses dari

http://www.ada.org/1318.aspx Ardhiani, D. (2000). The effect of mouthwash

containing povidone iodine 1% on salivary levels of streptococcus mutans analysis on the effect of mouth rising for 15 secons. Skripsi. Jakarta : FKG UI

Balitbang Depkes RI. (2008). Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS 2007. Jakarta : Balitbang Depkes RI

Balitbang Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS 2013. Jakarta : Balitbang Kemenkes RI Budiarto, E. (2003). Biostatistika untuk

kedokteran dan kesehatan

masyarakat. Jakarta: EGC

Budisuari, MA., Oktarina & Muhammad AM. (2010). Hubungan pola makan dan kebiasaan menyikat gigi dengan kesehatan gigi dan mulut (karies) di Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Vol 13 No 1. Diakses dari ejournal.litbang.depkes.go.id

Claessen, J.P. & Wright, R. (2008). Designing interventions to improve tooth brushing. International Dental Journal.

Dian, A. (2015). Gambaran pola jajan, frekuensi menyikat gigi dan status karies gigi anak usia 11-12 tahun di SD Negeri Gumpang 01 Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo. Skripsi. Surakarta : Unmuha. Diakses dari

eprints.ums.ac.id/38227/12/11.%20n askah%20publikasi.pdf

Hadnyawati, H. (2012). Pengaruh pola jajan di sekolah terhadap karies gigi pada siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Jember. Journal of Dentistry Indonesia. Vol 9, No 3. Jember :

FKG UI. Diakses dari

www.Jdefmtistry.ui.ac.id

Iswandani, W. (2015). Gambaran pengetahuan anak usia 7 sampai dengan 12 tahun tentang oral

hygiene berdasarkan karakteristik

di SDN Jalan Anyar

Kota

Bandung

.

Di

akses

dari

repository.upi.edu/15618/5/Ta_JK

R_1205696_Chapter1.pdf

Maghfirah, A., Widodo & Rachmadi, P.

(2014).

Efektifitas menyikat gigi

disertai dental floss terhadap penurunan indeks plak. Dentino Jurnal Kedokteran Gigi Vol II, No 1. Banjarmasin : PSKG Unlam. Diakses dari fkg.unlam.ac.id

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nurdin, R. (2016). 5 tips menghindari gigi berlubang pada anak. Diakses dari http://www.jurnalkedokterangigi.com /

Pintauli, S. & Hamada, T. (2008). Menuju gigi dan mulut sehat. Skripsi. Medan : USU

Pratiwi, D. (2007). Merawat gigi sehari-hari. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara

Sari, D.N. (2014). Perbandingan efektivitas obat kumur bebas alkohol yang mengandung cetylpyridinium chloride dengan chlorhexidine terhadap penurunan plak. Laporan Penelitian. Jurnal Kedokteran Gigi Dentino. Vol 2 No 2. Banjarmasin : PSKG ULM.

(9)

9 Sarika, S., Amit, A., & Autar. (2012). Effect

of tootbrushing grip on plaque removal during manual tootbrushing in children. Journal Oral Sci.

Setiawan, R., Adhani, R., Sukmana, B.I., & Hadianto, T. (2014). Hubungan pelaksanaan UKGS dengan status kesehatan gigi dan mulut murid Sekolah Dasar Sederajat di wilayah kerja Puskesmas Cempaka Putih

Kota Banjarmasin. Dentino

(Jur.Ked.Gigi), Vol II. No I. Maret 2014: 102-109. Diakses dari fkg.unlam.ac.id/

Sutjipto, C., Wowor, V. & Kaunang, W. (2013). Gambaran tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak usia 10-12 tahun di SD Kristen Eben Haezar 02 Manado. Journal Biomedik Vol. 1 No.1. Manado: PSKG Universitas Sam

Ratulangi. Diakses dari

ejournal.unsrat.ac.id/index.php/ebio medik/article/view/4622

Gambar

Tabel 1. Data Demografi Anak Usia Sekolah  (10-12 tahun)  Data Demografi  f  %  Usia Responden  a

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut anak usia sekolah, Ibu memiliki pengetahuan yang tergolong baik (73,3%), sikap yang

Sally Yumanta : Perawatan Gigi Dan Mulut Yang Aman Pada Pasien Penyakit Jantung Koroner, 2006... Sally Yumanta : Perawatan Gigi Dan Mulut Yang Aman Pada Pasien Penyakit Jantung

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut anak usia sekolah, Ibu memiliki pengetahuan yang tergolong baik (73,3%), sikap yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku ibu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah di SDN 054936 Kecamatan Sei Lepan

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT DENGAN PEMBESARAN TONSIL PADA TONSILITIS KRONIS ANAK USIA SEKOLAH DI SDN.. I

Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan anak tentang kesehatan gigi dengan perilaku perawatan gigi pada anak usia sekolah 10-12 tahun di kelurahan

Hubungan tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dengan perilaku perawatan gigi pada anak usia sekolah di SDN Pondok Cina 4 Depok [skripsi].. Kesehatan gigi dan

Menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak usia balita sangat penting untuk memastikan perkembangan mereka yang