LAPORAN
EVALUASI ATAS PENERAPAN
WHISTLEBLOWING SYSTEM (WBS)
DAN TINDAK LANJUTNYA
DI BALAI BIOTEKNOLOGI – BPPT
LAPORAN EVALUASI
ATAS IMPLEMENTASI WHISTLEBLOWING SYSTEM DI BALAI BIOTEKNOLOGI BPPT
Pendahuluan
Dalam rangka rangka penyempurnaan Sistem Pengadaan Barang / jasa yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) serta persaingan usaha tidak sehat perlu memperkuat mekanisme pencegahan dan pengawasan dengan mendorong pengungkapan penyimpangan atau penyalahgunaan kewenangan dalam proses pengadaan barang / jasa pemerintah di Balai Bioteknologi maka harus selalu melakukan perbaikan diantaranya dilakukan dengan reformasi birokrasi dan menerapkan prinsip-prinsip Good Public Governance. Langkah nyata Balai Bioteknologi adalah dengan kebijakan Whistleblowing System (WBS) pada Tahun 2019.
Salah satu bentuk penerapannya adalah dengan menerbitkan Surat Keputusan Kepala Balai Bioteknologi No. 36 tahun 2018 tentang “PEMBENTUKAN TIM PENYELENGGARA SISTEM PENGADUAN INTERNAL (WHISTLEBLOWING SYSTEM) PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH” di lingkungan Balai Bioteknologi – BPPT. Hal ini menunjukkan Balai Bioteknologi, merupakan salah satu unit kerja tingkat Eselon III di BPPT yang telah merealisasikan
Whistleblowing System tidak hanya sebagai sebuah kebijakan, tetapi juga sebagai suatu peraturan tertulis.
Hal-hal yang melatarbelakangi diterbitkannya peraturan terkait Whistleblowing System di Balai Bioteknologi adalah sebagai berikut:
1.
Tindak pidana korupsi merupakan salah satu jenis pelanggaran yang termasukextraordinary crime sehingga harus ditangani secara extraordinary
2.
Pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai akan berdampak negatif bagi Balai Bioteknologi dan BPPT3.
Balai Bioteknologi memerlukan sistem pencegahan, deteksi dini dan penindakan yang efektif dan konsisten terhadap pelanggaranMenurut Balai Bioteknologi, Whistleblowing System Balai Bioteknologi adalah bentuk kepedulian yang dipaksakan yang terlahir dari upaya untuk membangun public trust, juga membangun sistem yang mewajibkan individu untuk saling peduli, koreksi dan mengingatkan serta diharapkan akan mendukung pencapaian sasaran kerja Balai Bioteknologi.
Tinjauan Teoritis
Good Public Governance
United Nations Development Programme (UNDP, 1997) mendefinisiksan Good Public Governance sebagai suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, demokratis, dan efektif sesuai dengan cita-cita terbentuknya suatu masyarakat madani. Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG, 2006) menyatakan Good Public Governance harus dilaksanakan dalam rangka:
1.
Mendorong efektivitas penyelenggaraan negara sesuai asas Good Public Governance.2.
Mendorong terlaksananya fungsi legislatif dan pengawasan, eksekutif, yudikatif dan lembaga-lembaga non struktural sesuai dengan tugas dan wewenangnya dengan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.3.
Mendorong penyelenggara negara untuk meningkatkan kompetensi dan integritas yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi, tugas dan kewenangannya.4.
Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggungjawab untuk memajukan dan mengutamakan kesejahteraan rakyat dengan mempertimbangkan hak asasi dan kewajiban warga negara.5.
Meningkatkan daya saing yang sehat dan tinggi bagi Indonesia baik secara regional maupun internasional, dengan cara menciptakan pasar bagi Indonesia yang inovatif dan efisien sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.Sebagai perwujudan asas-asas Good Public Governance terutama asas transparansi dan akuntabilitas, serta sebagai salah satu perwujudan indikator responsiveness maka salah satu kebijakan yang dapat diterapkan adalah Whistleblowing System.
Whistleblowing System
Eaton and Akers, 2007, menjelaskan bahwa Whistleblowing didefinisikan sebagai suatu tindakan melaporkan pelanggaran dalam suatu organisasi kepada pihak lain baik di dalam maupun di luar organisasi. Beberapa unsur dan isu penting dalam penerapan Whistleblowing System menurut Teen (2005) yaitu membangun budaya amanah dan keterbukaan, metode dan saluran yang disediakan, pengaduan dengan atau tanpa identitas, ketidakwajaran atau penyimpangan yang dapat dilaporkan, investigasi, tindaklanjut dan prosedur pelaporan, jenis pembalasan yang dilarang dan kebijakan terkait imunitas Whistleblower dari penegakan disiplin dan tuntutan hukum.
Metode Evaluasi Metode Evaluasi
Evaluasi menggunakan metode kualitatif untuk mengetahui bagaimana implementasi
Whistlebowing System di Balai Bioteknologi berjalan, baik dalam kebijakan maupun pelaksanaannya, juga mengetahui hubungan antara penerapan Whistleblowing System dengan dengan pelaksanaan Good Public Governance.
Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder sebagai berikut:
1.
Data PrimerData primer yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara dengan pegawai Balai Bioteknologi tepatnya pada Tim Website, Tim SPIP dan Tim WBK untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Whistleblowing System. Data primer ini diperoleh secara langsung dari narasumber yang dapat dipercaya dan terkait langsung dengan
Whistleblowing System untuk memberikan gambaran secara lebih mendalam mengenai proses serta kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan Whistleblowing System.
2.
Data SekunderData-data sekunder yang digunakan oleh penulis adalah data dari website balai Bioteknologi,
Hasil Penerapan Whistleblowing System
Penanganan Pengaduan Sebelum Whistleblowing System
Whistleblowing System yang diatur dalam Surat Keputusan Balai Bioteknologi, BPPT No 36 Tahun 2018 mulai berlaku bulan November 2018. Sebelum berlakunya keputusan tersebut hanya terdapat peraturan khusus terkait Standard Operating Procedure (SOP) atas tata cara pengaduan klien dari kegiatan pengujian yang berhubungan dengan ISO 17025.
Peraturan yang berlaku sebelum diterapkannya Whistleblowing System hanya mengatur mengenai prosedur penanganan pengaduan pelayanan pengujian. Tidak ada aturan yang jelas mengenai kewajiban melaporkan pelanggaran, jenis pelanggaran yang dapat dilaporkan, tidak diatur dengan jelas prosedur tindak lanjut yang harus dilakukan karena tidak didahului analisis bertahap, tidak ada jaminan bahwa hak-hak pelapor terpenuhi, tidak ada mekanisme perlindungan dan pemberian penghargaan bagi pelapor, kurangnya dokumentasi atas proses penanganan
pengaduan, serta kurang jelasnya wewenang investigator. Selain itu sarana pengaduan pun masih terbatas jumlahnya.
Sosialisasi Whistleblowing System
Sebagai sebuah kebijakan baru, sosilalisasi atas Whistleblowing System telah dilakukan oleh Balai Bioteknologi. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan melalui berbagai metode sebagai berikut:
1.
Diseminasi langsung kepada seluruh personil Balai Bioteknologi.Sosialisasi dilaksanakan, sejak November 2019 dari tahapan manajemen, level kordinator kegiatan, ka. Lab dan Ka. Ur, serta terakhir ke seluruh pegawai Balai Bioteknologi pada Bulan Maret 2019.
2.
Sosialisasi melalui Website serta media sosialisasi lainnya.Untuk lebih mengoptimalkan kesadaran dan pemahaman para pegawai Balai Bioteknologi, sosialisasi juga telah dilakukan dengan menyebarluaskan materi Whistleblowing System
pengadaan barang/ jasa pemerintah di website Balai Bioteknologi
Kebijakan dan Pelaksanaan Whistleblowing System di Balai Bioteknologi Dalam Pelaksanaannya diatur hal-hal sebagai berikut:
•
Melaporkan Pelanggaran. Setiap pegawai yang mendengar, melihat dan/atau mengalami terjadinya pelanggaran atau dugaan terjadinya pelanggaran, wajib melaporkannya kepada bagian Penguatan Pengawasan Balai Bioteknologi. Sementara tidak ada kewajiban yang mengikat bagi masyarakat di luar lingkungan Balai Bioteknologi untuk melaporkan pelanggaran, tetapi mereka diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengaduan atas pelanggaran.•
Saluran Pengaduan. Pengaduan dapat dilakukan secara langsung dengan melaporkan melalui Help Desk Kotak Pengaduan Balai bioteknologi dan Email Pengaduan yang tertera dalam website Balai Bioteknologu melalui http://balaibiotek.bppt.go.id/.•
Balai Bioteknologi telah menyediakan cukup banyak saluran pengaduan. Hal ini menunjukkan komitmen untuk memberikan kesempatan yang besar bagi semua pihak dalam menyampaikan pengaduan atas pelanggaran. Selain itu, kepada pihak internal disediakan sarana khusus seperti seperti pelaporan kerusakan sarana prasarana Balai.•
Pengelolaan Pengaduan. Pengelolaan pengaduan yang diterima melaluiWhistleblowing System mengacu kepada Surat Keputusan Kepala Balai Bioteknologi No. 36 tahun 2018.
Berdasarkan hasil evaluasi, Balai Bioteknologi telah melakukan hal positif dengan mengatur secara rinci mengenai prosedur dan dokumentasi yang harus disiapkan dalam mengelola pengaduan, yang merupakan standar bagi pegawai yang bertugas, sehingga menghindari subjektivitas dalam pelaksanaannya.
Pengaduan
Selama sosialisasi Whistleblowing System belum terdapat pengaduan yang masuk dari pengaduan eksternal. Adapun untuk pengaduan internal telah berjalan terkait pengaduan kerusakan alat, perbaikan sarana dan fasilitas penelitian. Setelah adanya regulasi mengenai
Whistleblowing System, sarana pengaduanpun tersedia, yang sebelumnya sarana fisik dan maya belum tersedia sekarang telah tersedia kotak pengaduan dan email pengaduan,
Evaluasi dan Analisis atas Kebijakan Whistleblowing System
Dalam merumuskan kebijakan Whistleblowing System beberapa unsur yang harus ada, antara lain komitmen organisasi dan karyawan serta komitmen untuk melindungi dan menindaklanjuti laporan pengaduan. Pada dasarnya komitmen Balai Bioteknologi telah kuat dalam pelaksanaan Whistleblowing System karena kebijakan telah dibuat secara jelas dan tegas, serta menyiapkan sistem pendukung dan sumber daya manusia yang terpilih. Tetapi bagaimana komitmen karyawan masih harus diteliti lebih lanjut karena Balai Bioteknologi belum pernah melakukan riset atas komitmen maupun pemahaman pegawai atas kebijakan tersebut.
Teen (2005) menjelaskan mengenai beberapa isu penting dalam pelaksanaan Whistleblowing System sebagai berikut :
1.
Metode dan saluran. Balai Bioteknologi telah menyediakan berbagai sarana pengaduan yang dikelola secara internal. Terkait kepercayaan pada integritas metode, pelapor masih mengandalkan surat tertulis akibat kekhawatiran akan kerahasiaan identitas mereka. Sehingga sarana pengaduan lainnya menjadi kurang optimal.2.
Pengaduan dengan atau tanpa identitas. Beberapa organisasi menetapkan bahwa pengaduan tanpa nama tidak akan ditindaklanjuti, karena dapat dilakukan secara tidak bertanggung jawab. Di sisi lain Balai Bioteknologi akan tetap menindaklanjuti pengaduan tanpa identitas karena yang tepenting adalah materi pengaduan, bukan siapa yang mengadukan.3.
Ketidakwajaran atau penyimpangan yang dapat dilaporkan. Whistleblowing Systemkorupsi, dan peraturan kepegawaian.
4.
Investigasi, tindaklanjut dan prosedur pelaporan. Tim pelaksana akan mengatur terkait pelaporan atas hasil Whistleblowing System akan disampaikan kepada Kepala balai Bioteknologi.Berdasarkan hasil evaluasi penerapan Whistleblowing System pada tahun 2019, Periode Januari – Maret 2019. secara umum penanganan Whistleblowing System dan pengaduan yang berjalan selama ini telah sesuai dengan peraturan yang terkait. Sampai dengan saat ini belum pernah dilakukan evaluasi oleh pihak ketiga.
Tindak lanjut
Balai Bioteknologi telah melakukan langkah positif dengan menerbitkan Surat Keputusan Kepala Balai Bioteknologi No 36 Tahun 2018 tentang PEMBENTUKAN TIM PENYELENGGARA
SISTEM PENGADUAN INTERNAL (WHISTLEBLOWING SYSTEM) PENGADAAN BARANG
DAN JASA PEMERINTAH di lingkungan Balai Bioteknologi – BPPT. Hal ini menunjukkan Balai Bioteknologi, merupakan salah satu unit kerja tingkat Eselon III di BPPT yang telah merealisasikan
Whistleblowing System tidak hanya sebagai sebuah kebijakan, tetapi juga sebagai suatu peraturan tertulis. Whistleblowing System merupakan salah satu bentuk implementasi dari asas-asas Good Public Governance, terutama asas transparansi dan akuntabilitas. Selain itu sistem tersebut juga merupakan pelaksanaan atas salah satu indikator Good Public Governance, yaitu daya tanggap (responsiveness).
Dalam pelaksanaannya, Whistleblowing System Balai Bioteknologi telah menyediakan sarana pengaduan berupa kotak pengaduan dan pengaduan di website Balai Bioteknologi yang juga dilengkapi dengan panduan pengaduan. Pada tahun 2019 sampai bulan Maret 2019 belum terdapat pengaduan eksternal. Tetapi pengaduan internal terkait fasilitas dan peralatan telah ada dan telah ditindaklanuti.
Atas kondisi tersebut tindak lanjut hasil evaluasi terhadap penerapan whistleblowing system Triwulan I tahun 2019 adalah rekomendasi pemantauan, monitoring pelaksanaan WBS pada kegiatan triwulan berikutnya. Agar pemantauan penerapan lebih berjalan dengan baik, maka perlu dilakukan monitoring tentang penerapan whistleblowing system secara berkala dengan periode waktu perbulan.
Daftar Referensi
Komite Nasional Kebijakan Governance. (2010). Pedoman Umum Good Public Governance. Pedoman Umum Good Public Governance. KNKG
Komite Nasional Kebijakan Governance. (2006). Pedoman Umum Good Corporate Governance. KNKG Komite Nasional Kebijakan Governance. (2009). Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran (SPP) WhistleblowingSystem. Pedoman Umum Good Public Governance. KNKG.
Eaton, Tim V. & Akers, Michael D. (2002). Whistleblowing and Good Governance: Policies for Universities, Government Entities and Nonprofit Organization. The CPA Journal; Jun 2007; 77, 6; ProQuest pg. 66
Teen, Mak Yuan. (2005). Whistleblowing: Recent Developments And Implementation Issues. International Financial Corporation World Bank Grou: 3-17