• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Arang Serbuk Gergaji dan Minyak Jarak untuk Pembuatan Sol Karet Cetak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemanfaatan Arang Serbuk Gergaji dan Minyak Jarak untuk Pembuatan Sol Karet Cetak"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Seminar Nasional I Hasil Litbangyasa Industri Palembang, 18 Oktober 2018

ISSN 2654-8550

8

Pemanfaatan Arang Serbuk Gergaji dan Minyak Jarak

untuk Pembuatan Sol Karet Cetak

Mili Purbaya

1,a)

, dan Rahmaniar

1, b)

,

1

Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, Indonesia 2

Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang, Kementerian Perindustrian, Indonesia a)

Corresponding author: [email protected]

b)[email protected]

ABSTRAK

Sumber daya alam lokal di Sumatera Selatan seperti karet alam, arang serbuk gergaji dan minyak jarak telah digunakan pada penelitian ini untuk menghasilkan sol karet cetak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh arang serbuk gergaji dan minyak jarak terhadap karakteristik pematangan dan sifat mekanik vulkanisat sol karet cetak. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 (dua) faktor, setiap perlakuan diulang 3 (tiga) kali. Faktor pertama adalah variasi konsentrasi Arang Serbuk Gergaji (ASG) : A1 : 50 phr dan A2 : 70 phr. Faktor kedua adalah variasi konsentrasi minyak jarak (MJ) : B1 : 0,5 phr dan

B2 : 1,5 phr. Parameter yang diamati adalah karakteristik vulkanisasi Rheometer 150oC, kekerasan, tegangan putus

dan perpanjangan putus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ASG dan MJ mempunyai pengaruh terhadap sifat mekanik sol karet cetakdan memenuhi persyaratan mutu sol karet cetak (SNI 0778:2009). Hasil pengujian yang terbaik adalah A1B1, kombinasi perlakuan 50 phr arang serbuk gergaji dan 0,5 phr minyak jarak. Karakteristik

vulkanisasi untuk perlakuan ini adalah : S.Max : 7,52 kg/cm, S.Min : 0,7 N/mm2, S.Max-S.Min : 6,82 kg/cm, Opt. Cure time (t90) : 7,49 menit dan scorch time (ts2) : 4,35 menit. Sifat mekanik vulkanisat karetnya adalah nilai kekerasan 66 shore A, tegangan putus 6,7 N/mm 2 dan perpanjangan putus 400%.

Abstract

The local natural resources in South Sumatera such as natural rubber, sawdust charcoal and castrol oil had been used in this study to produce rubber sole mold. The purpose of this research was to investigate the effect of sawdust charcoal and castrol oil to curing characteristics and mechanical properties of vulcanizate of rubber sole mold. The experimental design used Completely Randomized Design (CRD) with 2 (two) factors and 3 (three) replications. The first factor was the variation in the concentration of sawdust charcoal (ASG): A1 : 50 phr and A2 : 70 phr. The second factor was the variation of the concentration of castor oil (MJ) : B1 : 0,5 phr and B 2 : 1,5 phr. The observed parameters were curing characteristic of Rheometer 150 oC, hardness, tensile strength, elongation at break. The results showed that ASG and MJ had an effect on the mechanical properties of rubber sole mold and could meet the standard requirements of rubber sole mold (SNI 0778: 2009). The best test results was A1B1, a combination treatment between 50 phr of sawdust charcoal and 0,5 phr of castrol oil. The curing characteristics for this treatment were : S.max : 7,52 kg/cm, S.min : 0,7 N/mm2, S.max-S.min : 6,82 kg/cm, opt. cure time (t90) : 7,49 min and scorch time (ts2) : 4,35 min. The mechanical properties of rubber vulcanizate were hardness of 66 shore A, tensile strength of 6,7 N/mm 2 and elongation at break of 400%.

(2)

Prosiding Seminar Nasional I Hasil Litbangyasa Industri Palembang, 18 Oktober 2018

ISSN 2654-8550

9

PENDAHULUAN

Perkembangan industri hilir karet di Indonesia masih rendah. Sebagian besar karet alam diekspor ke luar negeri dalam bentuk karet remah, sit asap dan lateks pekat. Hanya sebagian kecil saja yang dikonsumsi untuk industri barang jadi karet. Menurut Dewan Karet Indonesia [1], konsumsi karet alam untuk industri alas kaki hanya 93.900 ton atau 2,9% dari total produksi karet di Indonesia. Padahal, jika Indonesia dapat meningkatkan konsumsi karet domestik, maka Indonesia dapat berperan dalam penentuan harga karet di dalam negeri. Untuk itu perlu dilakukan kajian-kajian pembuatan barang jadi karet yang dapat mendorong perkembangan industri barang jadi karet sehingga konsumsi karet alam domestik akan meningkat. Salah satu produk barang jadi karet yang dapat dikembangkan adalah sol karet cetak.

Dalam pembuatan barang jadi karet, penggunaan filler (bahan pengisi) sangat diperlukan untuk meningkatkan sifat fisik, memperbaiki karakteristik pengolahan dan menurunkan biaya [2-5]. Berdasarkan fungsinya, terdapat dua jenis filler, yaitu filler aktif dan filler tidak aktif. Filler aktif memiliki sifat penguat (reinforcing) yang akan mempengaruhi kekerasan, ketahanan sobek, ketahanan kikis dan tegangan putus. Contoh

filler aktif adalah karbon hitam, silica, aluminium silica dan magnesium silica. Filler tidak aktif hanya akan menambah kekerasan dan kekakuan bahan saja. Contoh filler tidak aktif adalah tanah liat, kalsium karbonat, magnesium karbonat, barium sulfat, barit dan kaolin. Karbon hitam (carbon black) merupakan filler penguat yang paling banyak digunakan dalam industri barang jadi karet. Karbon hitam diperoleh dari hasil proses thermal cracking hydrocarbon dari minyak bumi [6].

Selain filler, dalam pembuatan kompon karet juga diperlukan bahan pelunak (plasticiser) yang digunakan untuk melunakkan karet dan memudahkan pencampuran bahan-bahan kimia karet [7]. Bahan pelunak yang biasa digunakan untuk pembuatan kompon dari karet alam adalah parafinik, aromatik dan naftanik [8]. Bahan pelunak ini merupakan bahan pelunak sintetis yang diperoleh dari hasil pengolahan minyak bumi

Namun seiring dengan semakin menurunnya cadangan minyak bumi dan untuk meminimalisir pengaruh emisi karbon dioksida yang timbul pada proses pembuatan kompon karet berbahan turunan minyak bumi, serta menurunkan volume impor bahan kimia, maka perlu dicari alternatif bahan pengisi dan bahan pelunak alami yang dapat digunakan untuk pembuatan kompon karet, seperti arang serbuk gergaji dan minyak jarak.

Arang serbuk gergaji merupakan limbah dari industri pengergajian kayu. Menurut Pari dan Roliadi [9] potensi limbah serbuk gergaji dari industri pengergajian kayu di Indonesia adalah 0,78 juta m3/th. Limbah serbuk gergaji ini jumlahnya cukup besar sehingga perlu dilakukan penanganan atau pemanfaatan yang lebih optimal sehingga zero waste limbah industri penggergajian dapat ditekan. Salah satu pemanfaatan limbah serbuk gergaji adalah mengkonversikan limbah tersebut menjadi Arang Serbuk Gergaji (ASG). ASG dapat mengandung lebih dari 70% karbon terikat [10] sehingga ASG dapat digunakan sebagai pengganti filler karbon hitam dalam pembuatan kompon karet.

Bahan pelunak berbahan nabati seperti Minyak Jarak (MJ) memiliki sifat physical softener yaitu bahan yang dapat meningkatkan plastisitas kompon sehingga memudahkan proses pencampuran [11]. Sehingga MJ dapat menjadi alternatif bahan pelunak dalam pembuatan kompon karet. Bahkan Puspitasari dan Cifriadi [12], telah menggunakan minyak jarak castor terhidrogenasi sebagai bahan pelunak kompon karet.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh arang serbuk gergaji dan minyak jarak terhadap karakteristik pematangan dan sifat mekanik vulkanisat sol karet cetak. Hasil penelitian kemudian dibandingkan dengan persyaratan mutu sol karet cetak sesuai SNI 0778:2009 (Tabel 1).

Tabel 1. Persyaratan Mutu Sol Karet Cetak (SNI 0778:2009)

No. Jenis Uji Satuan Persyaratan

Mutu 1 Mutu 2 Mutu 3

1. Organoleptis

1.1. Keadaan dan kenampakan sol - Tidak cacat dan atau rusak yang berupa sobek, lubang,

retak, goresan, serta sol tercetak penuh

1.2. Nomor sol kanan dan kiri - Harus sama

2. Fisika

2.1. Kekerasan Shore A 55-80 55-80 55-80

2.2. Tegangan putus N/mm2 Min 16 Min 11 Min 5,0

(3)

Prosiding Seminar Nasional I Hasil Litbangyasa Industri Palembang, 18 Oktober 2018 ISSN 2654-8550

10

METODE PENELITIAN

Bahan

Bahan yang digunakan adalah karet alam (karet remah dari PT. Felda Indo Rubber), arang serbuk gergaji (400 mesh), serbuk gergaji (dari panglong kayu yang ada di kota Palembang), NaCl 4%, air, minyak jarak (PT. Hadi Kimia Palembang), kaolin (filler), asam stearat (aflux 52), Zink Oksida (ZnO), cumaron resin (rhenosin ge 3071), CBS (willong cbs oil powder), Tetra Metil Tiuram Disulfida (TMTD), (BHT) dan sulfur (SP-325 ).

Prosedur Penelitian

Penelitian dilakukan pada skala laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 (dua) faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah variasi konsentrasi Arang Serbuk Gergaji (ASG) : A1 : 50 phr dan A2 :

70 phr. Faktor kedua adalah variasi konsentrasi minyak jarak (MJ) : B1 : 0,5 phr dan B2 : 1,5 phr.

Tabel 1. Formula kompon karet.

No. Bahan Formula (phr)

A1B1 A1B2 A2B1 A2B2 1. NR 100 100 100 100 2. ASG 50 50 70 70 3. MJ 0,5 1,5 0,5 1,5 4. Kaolin 50 50 50 50 5. ZnO 5 5 5 5 6. Asam stearat 2 2 2 2 7. Cumaron resin 2 2 2 2 8. CBS 0,7 0,7 0,7 0,7 9. TMTD 0,5 0,5 0,5 0,5 10. BHT 1,5 1,5 1,5 1,5 11. Sulfur 2 2 2 2

Persiapan Arang Serbuk Gergaji

Serbuk gergaji di sortasi, serbuk gergaji dilakukan proses karbonisasi dengan suhu 450ºC selama 1 jam dihasilkan arang serbuk gergaji (ASG). Arang serbuk gergaji (ASG) dihaluskan dengan crusher, ASG yang sudah hancur kemudian dipisahkan/diayak dengan menggunakan sieve shaker kecepatan 65 rpm, lama waktu 20 menit dengan ukuran partikel yang dihasilkan 400 mesh.

Pembuatan Kompon Karet

Proses pembuatan kompon karet berdasarkan ASTM D3182 (Standard Practice for Rubber (Materials,

Equipment, and Procedures)). Prosedurnya adalah : a. Penimbangan

Bahan yang diperlukan untuk masing-masing formulasi kompon ditimbang sesuai perlakuan. Jumlah dari setiap bahan di dalam formulasi kompon dinyatakan dalam phr (berat per seratus karet).

b. Mixing (pencampuran)

Proses pencampuran dilakukan dalam gilingan terbuka (open mill), yang terlebih dahulu dibersihkan sebelum digunakan. Selanjutnya dilakukan proses :

- Mastikasi karet alam selama 1-3 menit.

- Penambahan bahan-bahan kimia sesuai dengan urutan pencampuran bahan

(4)

Prosiding Seminar Nasional I Hasil Litbangyasa Industri Palembang, 18 Oktober 2018

ISSN 2654-8550

11

- Kompon dikeluarkan dari open mill dan ditentukan ukuran ketebalan lembaran kompon dengan menyetel jarak roll pada cetakan sheet, dikeluarkan dan diletakkan diatas plastik transfaran dan kompon dipotong disesuaikan dengan barang jadi yang akan dibuat.

Pengujian Kompon

Kompon sol karet cetak yang dihasilkan kemudian dilakukan pengujian karakteristik pematangan (Curing characteristic) dengan alat Rheometer 150oC sesuai dengan ASTM 5289 (Standard Test Method for Rubber

Property- Vulcanization Using Rotorless Cure Meters). Pengujian sifat fisika vulkanisat kompon terdiri dari kekerasan, tegangan putus dan perpanjangan putus. Uji kekerasan menggunakan metode ISO 7619-1986 (Rubber – Determination of Indentation hardness by Means of Pocket Hardness Meters). Uji tegangan putus dan perpanjangan putus menggunakan metode ISO 37 1994 (Rubber Vulcanized or Thermoplastic-Determination at Tensile Stress-Strain Properties)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Pematangan Kompon

Karakteristik pematangan kompon sol karet cetak dapat dilihat pada Tabel 2. Karakteristik ini terdiri dari torsi maksimum (Smax), torsi minimum (Smin), S (Smax – Smin), waktu pematangan optimum (t90) dan waktu scorch

(ts2). Torsi maksimum untuk perlakuan A1B1 dan perlakuan A1B2 lebih kecil dibandingkan kedua perlakuan lainnya.

Sedangkan untuk torsi minimum, perlakuan A1B1 memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan ketiga perlakuan

lainnya. Pengaruh MJ sebagai bahan pelunak dapat dilihat dari nilai torsi minimum. Penambahan dosis MJ sebagai bahan pelunak (pemlastis) dapat menurunkan nilai torsi minimum kompon. Menurut Fathurrohman dan Ramadhan [13], bahan pemlastis dalam kompon dapat mengalami kristalisasi pada proses pendinginan, sehingga menurunkan nilai torsi minimum.

Delta torsi memberikan gambaran pembentukan jaringan dalam sistem ikatan silang atau derajat ikatan silang [14]. Derajat ikatan silang yang lebih besar menunjukkan peningkatan modulus, kekerasan dan menurunkan perpanjangan putus [13]. Berdasarkan Tabel 2, penambahan dosis bahan pengisi dapat meningkatkan nilai S, hal ini menunjukkan bahan bahan pengisi ASG dapat meningkatkan derajat ikatan silang kompon.

Waktu scorch merupakan waktu yang diperlukan sebelum proses vulkanisasi berlangsung, sehingga waktu scorch harus cukup memadai untuk berlangsungnya proses pengaliran, pengisian dan pengempaan kompon [2]. Berdasarkan Tabel 2, waktu scorch untuk semua perlakuan hampir sama nilainya, ini menunjukkan bahwa semua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap waktu scorch.

Optimum cure time merupakan waktu yang menunjukkan 90% tingkat kematangan kompon [2]. Berdasarkan tabel 2, perlakuan A1B1 memiliki waktu pemasakan yang paling pendek dibandingkan ketiga perlakuan

lainnya, sehingga perlakuan ini merupakan perlakuan optimal untuk pembuatan kompon sol karet cetak. Tabel 2. Karakteristik pematangan kompon.

Sampel kompon Smax (Kg/cm) Smin (Kg/cm) S (Kg/cm) t90 (min, sec) ts2 (min,sec) A1B1 7,52 0,7 6,82 7,49 4,35 A1B2 7,58 0,65 6,93 7,86 4,36 A2B1 8,48 0,53 7,87 7,92 4,28 A2B2 8,76 0,45 8,31 8,23 4,34

Laju reaksi vulkanisasi dapat dilihat dari indeks laju pematangan (CRI) yang dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

(5)

Prosiding Seminar Nasional I Hasil Litbangyasa Industri Palembang, 18 Oktober 2018

ISSN 2654-8550

12

Gambar 1. Indeks laju vulkanisasi (CRI) dengan beberapa formula.

Gambar 1 menyajikan indeks laju pematangan untuk masing-masing sampel kompon sol karet cetak. Penambahan dosis ASG dan MJ dapat menurunkan nilai CRI seperti yang terlihat pada Gambar 1. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh bahan pelunak MJ. Penambahan bahan pelunak dapat mempersingkat waktu vulkanisasi [2] sehingga indeks laju pematangan menjadi lebih cepat.

Sifat Mekanik Vulkanisat

Pengujian sifat mekanik vulkanisat kompon sol karet cetak terdiri dari kekerasan, tegangan putus dan perpanjangan putus. Pengujian kekerasan dilakukan untuk mengetahui besarnya kekerasan vulkanisat karet dengan kekuatan penekanan tertentu. Nilai kekerasan kompon dipengaruhi oleh jenis bahan pengisi dan bahan pelunak. Berdasarkan Gambar 2. Penambahan dosis ASG dapat meningkatkan nilai kekerasan. Hasil ini menunjukkan bahwa ASG memiliki sifat sebagai bahan pengisi penguat karena dapat meningkatkan kekerasan kompon. Sifat penguatan tersebut dimungkinkan karena terjadinya interkalasi/penyisipan dari ASG ke dalam matrik karet, seperti yang terjadi apabila menggunakan filler jenis lain pada pembuatan kompon karet [15].

Gambar 2. Kekerasan vulkanisat sol karet cetak.

Penambahan dosis MJ dapat menurunkan nilai kekerasan pada perlakuan dosis ASG yang sama. hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Thomas [16] dan Ciesielski [17] bahwa penambahan bahan pelunak dapat menurunkan kekerasan kompon. Bahan pelunak juga akan memberikan daya pantul (resilience) yang baik sehingga dapat mengurangi kekerasan kompon [28]. Jika dibandingkan dengan persyaratan mutu Sol karet Cetak yaitu SNI 0778:2009, semua perlakuan dapat memenuhi persyaratan standar SNI tersebut (55 – 80 shore A).

Tegangan putus menunjukkan besarnya beban yang diperlukan untuk meregangkan potongan uji sampai putus. Gambar 3 menyajikan hasil uji tegangan putus untuk perlakuan ASG dan MJ. Berdasarkan grafik yang

(6)

Prosiding Seminar Nasional I Hasil Litbangyasa Industri Palembang, 18 Oktober 2018

ISSN 2654-8550

13

diperoleh, penambahan dosis ASG dapat menurunkan nilai tegangan putus, sedangkan penambahan dosis MJ pada perlakuan dosis ASG yang sama dapat menurunkan nilai tegangan putus kompon.

Bahan pengisi penguat dapat meningkatkan tegangan putus kompon karet [2]. Filler ASG merupakan bahan pengisi penguat seharusnya dapat meningkatkan nilai tegangan putus kompon karet, tetapi karena pengaruh bahan pelunak MJ, maka nilai tegangan putus kompon karet tidak meningkat dengan penambahan dosis ASG. Penambahan dosis MJ dapat menurunkan nilai tegangan putus kompon (Gambar 3), hal ini sesuai dengan yang telah dikemukakan oleh Thomas [16] bahwa penambahan bahan pelunak dapat menurunkan tegangan putus kompon.

Gambar 3. Tegangan putus vulkanisat sol karet cetak.

Nilai tegangan putus untuk semua perlakuan ASG dan MJ dapat memenuhi persyaratan standar SNI sol karet cetak (SNI 0778 : 2009) karena nilainya lebih dari 5 N/mm2. Tetapi untuk mendapatkan sol karet cetak terbaik, perlakuan A1B1 merupakan perlakuan terbaik karena memiliki nilai tegangan putus yang paling tinggi dibandingkan

ketiga perlakuan lainnya.

Gambar 4. Perpanjangan putus sol karet cetak.

Perpanjangan putus adalah pertambahan panjang suatu potongan uji bila diregangkan sampai putus. Gambar 4 menyajikan nilai perpanjangan putus untuk semua perlakuan penambahan ASG dan MJ. Nilai perpanjangan putus tertinggi terdapat pada perlakuan A1B1. Hasil ini sejalan dengan hasil delta torsi pada rheometer

yang mengindikasikan derajat ikatan silang yang paling kecil pada perlakuan A1B1 akan menghasilkan perpanjangan

putus yang paling besar. Perlakuan A1B1 merupakan perlakuan terbaik karena nilai perpanjangan putusnya paling

tinggi dibandingkan ketiga perlakuan lainnya. Perlakuan ini juga dapat memenuhi persyaratan teknis mutu sol karet cetak (SNI 0778:2009) dimana untuk menghasilkan sol karet cetak sesuai SNI, kompon karet harus memiliki nilai perpanjangan putus minimal 150 %.

(7)

Prosiding Seminar Nasional I Hasil Litbangyasa Industri Palembang, 18 Oktober 2018

ISSN 2654-8550

14

KESIMPULAN

Perlakuan terbaik untuk pembuatan kompon dan dapat memenuhi standar mutu sol karet cetak (SNI 0778:2009) adalah perlakuan A1B1 yaitu kombinasi perlakuan 50 phr arang serbuk gergaji dan 0,5 phr minyak jarak.

Perlakuan ini menghasilkan kompon karet dengan waktu pemasakan optimum yaitu 7,49 menit dan sifat fisik yang optimal seperti kekerasan 66 shore A, tegangan putus 6,7 N/mm2, dan perpanjangan putus 400%.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dewan Karet Indonesia. Data Industri Karet Indonesia. 2018. Jakarta, Juli 2018.

2. Alfa, A.A. Bahan Kimia untuk Kompon Karet. Kursus Teknologi Barang Jadi Karet padat, 2005. Balai Penelitian Teknologi Karet Bogor.

3. Fu, S,-Y., Feng X,-Q., Lauke, B., and Mai, Y,-W. Effect of particle size, particle/matrix interface adhesion and particle loading on mechanical properties of particulate-polymer composites. Composites Part B : Engineering, 2008. 39 (6): p. 933-961.

4. Frohlich, J., Niedermeier, W., and Luginsland, H. D. The effect of filler-filler and filler-elastomer interaction on rubber reinforcement. Composites Part A. Applied Science and Manufacturing, 2005. 36(4): p. 449-460.

5. Ku, H., Wang, H., Pattarachaiyakoop, N., and Trada, M. A Review on the tensile properties of natural fiber reinforced polymer composites. Composites Part B: Engineering, 2011. 42(4): p. 856-873.

6. Ismail, A.F. Teknologi Minyak dan Gas Bumi. 2003. Universitas Sriwijaya Palembang.

7. Suseno, Rs Suwarti. Memanfaatkan bahan pembantu produk dalam negeri untuk industry karet. Prosiding Lokakarya Processing Oil’90, 1990. Jakarta, 27 – 28 Februari. Pusat Pengendalian Mutu Petrokimia : 1-15.

8. Arizal, Ridha. Pengaruh hasil analisa kimia bahan pelunak-minyak terhadap kompon dan vulkanisat karet. Prosiding Lokakarya Processing Oil’90, 1990. Jakarta, 27-28 Februari. Pusat Pengendalian Mutu Petrokimia : 1-9.

9. Pari, G dan Roliadi, H. Alternative technology for the utilization of biomass waste from wood industries. Proceeding of the International Workshop ob better Utilization of Forest Biomass for Local Community and Environments, 2004. Research and Development Center for Forest Products Technology, Bogor.

10. Pari, G., Widayati, D, T., dan Yoshida, M. Mutu arang aktif dari serbuk gergaji kayu. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 2009. 27(4):381-398.

11. McMillan, F. M. Rubber, softener, and extenders, in Morton, M. Introduction to Rubber Technology, 1959. Reinhold Publishing Co, New York.

12. Puspitasari, S, dan Cifriadi, A. Pembuatan bahan pelunak alami untuk kompon karet melalui reaksi hidrogenasi minyak jarak castor. Jurnal Penelitian Karet, 2014. 32(1) : 56-64.

13. Fathurrohman, M.I. dan Ramadhan, A. Sifat mekanik vulkanisat campuran karet alam-karet polibutadien dengan bahan pengisi organobentonit terekspansi. Jurnal Penelitian Karet, 2015.33(1):65-74.

14. Jovanovic, V., Simendic, B. J., Jovanovic, S.S., Moarkovic, G., and Concovic, M. M. The influence of carbon black on curing kinetics and thermal aging of acrilonitrile-butadiene rubber. Chemical Industry & Chemical Engineering, 2009.15(4):283-289.

15. Carli, L. N., Roncato, C.R., Zanchet, A., Mauler, R. S., Giovanela, M., Brandalise, R. N., and J.S. Crespo, J. S. Characterization of natural rubber nanocomposites filled with organoclay as a substitute for silica obtained by the conventional two-roll mill method. Applied Clay Science, 2011. 52:56-61.

16. Thomas, J. Desain Kompon ; di dalam kumpulan makalah kursus teknologi barang jadi karet padat, 2003. Balai Penelitian Teknologi Karet. Bogor.

17. Ciesielski, A. An Introduction to Rubber Technology. 1999. Rapra Technology Limited. Shropshire. p.40. 18. Long, H. Basic Compounding and Processing of Rubber. 1985. Rubber Division, American Chemical

Gambar

Tabel 1. Persyaratan Mutu Sol Karet Cetak (SNI 0778:2009)  No.  Jenis Uji  Satuan  Persyaratan
Tabel 1. Formula kompon karet.
Gambar  1  menyajikan  indeks  laju  pematangan  untuk  masing-masing  sampel  kompon  sol  karet  cetak
Gambar 4. Perpanjangan putus sol karet cetak.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu semakin lama waktu pengadukan yang digunakan maka proses pengikatan asam lemak bebas yang masih terdapat dalam minyak jelantah semakin besar karena semakin lama

Penambahan bahan pelunak berupa minyak kernel kelapa sawit memberikan nilai tegangan putus yang mendekati nilai tegangan putus pada kompon dengan penambahan minyak

Pemanfaatan arang cangkang sawit sebagai bahan isian akan dapat mengurangi biaya bahan baku pembuatan kompon sol karet cetak, selain itu permasalahan yang dihadapi saat

Kondisi optimal dalam sintesis bahan pelunak karet alami dari minyak jarak castor melalui reaksi hidrogenasi oleh senyawa diimide pada kapasitas 300 ml minyak/ batch

oleh oksigen dan ozon. Pengaruh ukuran partikel arang serbuk gergaji dan waktu vulkanisasi terhadap ketahanan kikis kompon ban luar kendaraan bermotor roda

Kondisi optimal dalam sintesis bahan pelunak karet alami dari minyak jarak castor melalui reaksi hidrogenasi oleh senyawa diimide pada kapasitas 300 ml minyak/batch

Mutu Minyak Jarak Terhidrogenasi Reaksi hidrogenasi minyak jarak yang berjalan optimal akan menghasilkan minyak jarak terhidrogenasi sebagai bahan pelunak karet bermutu

Perbandingan pengukuran densitas pelet karbon dari serbuk gergaji kayu karet hasil penelitian yang telah dilakukan teriihat pada gambar 4.2, bahwa nilai derjsitas rata-rata