1 BAGIAN II.
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Pendeta
Pendeta berasal dari bahasa Sansekerta yaitu pandit yang berakar pada tradisi agama Hindu, kata pandit dalam agama Hindu merupakan gelar dari kasta Brahmana, yang melakukan fungsi imamat, dan memiliki keahlian dalam menafsirkan kitab suci dan teks hukum serta filsafat kuno, Pendeta umumnya menggambarkan orang yang terpelajar atau seorang imam. Dalam tulisan Webster’s Third New International Dictionary Encylopedia Britanica, dijelaskan bahwa kata pandit dalam bahasa Sansekerta adalah orang yang pandai, yang menjadi perantara antara Tuhan dengan umatnya (agama moro) dan agama Hindu memaknai atau mendefinsikan kata pandit, sebagai guru agama yang ahli.1 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendeta diartikan sebagai orang pandai, pertapa (dalam cerita lama), pemuka atau pemimpin agama (dalam agama Hindu dan Protestan), rohaniawan, guru agama.2
Pendeta juga memiliki kaitan yang sangat erat pada struktur kekristenan. G.D.
Dahlenburg menjelaskan pendeta itu sebagai hamba Tuhan, yang dimana setiap pendeta dipanggil untuk melayani, bukan untuk dilayani (Matius 20:26-28). Pendeta yang merupakan hamba Tuhan harus mengabdikan dirinya sebagai pengikut Kristus, yang mencerminkan diri menjadi pendeta yang baik dalam melayani setiap jemaat,harus setia dalam tugas serta harus rendah hati. Pendeta juga seorang pelayan yang senantiasa memberitakan dan menyampaikan anugerah Allah.3
Dalam Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Pendeta yang bertanggungjawab melaksanakan tugas pemberitaan injil Kristus, yang terlaksana dalam bentuk pengajaran, khotbah dan pelaksanaan sakramen, sehingga tugas dari seorang pendeta lebih khusus dibandingkan dengan tugas pelayan gereja yang lain,
1 Robert P. Borrong, Melayani Makin Sungguh: Signifikasi Kode Etik Pendeta bagi Pelayan Gereja- gereja di Indonesia ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 15.
2 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Indonesia Edisi Ketiga, ( Jakarta: Balai Pustaka,2007).849.
3 G. D. Dahleburg, Siapakah Pendeta Itu? (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2002).25.
2
karena jabatan Kristus (nabi, imam dan raja) terakumulasi atau diemban oleh tugas dari seorang Pendeta.4 Secara definitif, dalam konffesi HKBP menjelaskan arti pendeta sebagai berikut:
a. Pendeta adalah partohonan ni Kristus atau pembawa pesan Kristus. (2 Korintus 5:20).
b. Pendeta adalah singkat Kristus, yang menjelaskan pengganti kehadiran Kristus.
c. Dibagasan tohonan hapanditaon i do dihamham tohonan ni Kristus na tolu i ma: Panurirang, Malim dohot Raja, yang menjelaskan dalam jabatan kependetaan itu tercakup, ketiga jabatan Kristus yaitu nabi, imam dan Raja.5
Pendeta merupakan seorang pelayan untuk memberitakan dan menyampaikan anugerah dari Allah, pendeta juga merupakan seorang Hamba Tuhan dan pengikut Kristus.6 Pendeta yang menggambarkan diri menjadi hamba Tuhan senantiasa menyiapkan diri menjadi pelayan yang baik,harus rajin melayani, setia dalam tugas yang diberikan kepadanya dan mengerjakan tugas tersebut dengan kesungguhan hati.
Menurut Dahlenburg, seorang gembala (Pendeta) memiliki sifat-sifat seperti: Dia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti Dia, mengenal domba- dombanya, memberikan nyawa bagi domba-dombanya, mengenal Bapa (Yoh 10:1- 17). Lemah lembut dan rendah hati (Matius 11:29), belas kasihan (Matius 9:36), Pendeta atau gembala yang baik itu tidak mencari kepentingan sendiri,rendah hati,menganggap yang lain lebih utama, mengambil rupa seorang hamba serta taat sampai mati (Filipi 2:2-8).Menjadi seorang pendeta akan berusaha meniru sikap Kristus (Filipi 2).7 Pendeta adalah seorang yang menerima jabatan kependetaan dari HKBP melalui pimpinan di HKBP yaitu Ephorus sesuai dengan yang terdapat di
4 Darwin Lumbantobing, HKBP IS HKBP, Penggalian Teologis, Sejarah,Tradisi, dan Dogma HKBP, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia,2016), 148.
5 Darwin Lumbantobing, HKBP IS HKBP, Penggalian Teologis, Sejarah,Tradisi, dan Dogma HKBP, 133.
6 G. D. Dahleburg, Siapakah Pendeta Itu? ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 25.
7 G. D. Dahleburg, Siapakah Pendeta Itu? ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 30.
3
dalam Agenda HKBP serta ketiga jabatan Pendeta, terdapat tiga jabatan Kristus di dalamnya yaitu nabi, imam dan raja.8
Tugas yang paling penting bagi seorang pendeta atau pelayan gereja adalah tugas dan hakikat pelayan itu sendiri, yaitu pemberita firman dan pelayan sakramen.
Seorang yang memegang jabatan sebagai pendeta, harus bertanggung jawab terhadap jabatan itu,bukan untuk kepentingan jabatan melainkan untuk kepentingan semua anggota yang lain,dan jabatan kependetaan pada hakikatnya adalah suatu pelayanan kepada Tuhan serta pendeta-pendeta harus memenuhi jabatan-jabatan Pendetanya dengan ketaatan kepada Tuhan dan menurut tuntutan-tuntutan yang diberikan dalam firmanNya.9 Pendeta yang ditahbiskan merupakan pembantu dalam panggilan yang diterimanya,diangkat oleh gereja, pendeta yang memiliki tanggung jawab harus menjalankan kewajibannya guna menjadikan pendeta yang mempunyai integritas religius,iman dan hikma spiritual. Pendeta adalah pemimpin-pemimpin di dalam gereja diantara umat Allah.10 Pendeta adalah orang yang telah menerima jabatan kependetaan dari HKBP melalui Ephorus sesuai di dalam agenda HKBP, di dalam jabatan kependetaan terdapat tiga jabatan yaitu nabi, imam dan raja.11 Pendeta bertanggung jawab terhadap tugas yang dilakukannya seperti menggembalakan jemaat,mengunjungi jemaat, membangun relasi dengan sesama pendeta, pendeta harus menghayati komitmen untuk mengajar dan mengikuti pandangan bahwa janji dalam suatu perkawinan merupakan perkwinan monogami dan seumur hidup.12
Tugas dan tanggung jawab dari seorang pelayan gereja (Pendeta) menurut Joe E.Trull & James E.Carter antara lain yaitu berkhotbah, seorang pendeta harus dapat mengamalkan kothbah atau firman Allah yang disampaikannya kepada jemaat yang dilayani, serta menghidupi firman Allah di dalam setiap aspek perilaku pendeta itu sendiri, pendeta juga mengajarkan firman Allah kepada setiap umat dengan baik dan
8 Tata Dasar dan Tata Laksana HKBP 2002 Setelah Amandemen Kedua, (Pematangsiantar: Unit Usaha Percetakan HKBP (2002), 121.
9 G. D. Dahleburg, Siapakah Pendeta Itu? ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002), 11.
10 Gaylord Noyce, Tanggung Jawab Etis Pelayan Jemaat, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 23.
11 Aturan dan Peraturan HKBP, (Tapanuli Utara: Paeraja Tarutung, Kantor Pusat HKBP, 2002),175.
12 Gaylord Noyce, Tanggung Jawab Etis Pelayan Jemaat, 93.
4
benar, Pendeta juga harus dapat melakukan perkunjungan konseling dan menjaga setiap kerahasiaan yang di dapatkan di dalam perkunjungan atau konseling di dalam jemaat, seorang Pendeta atau pelayan gereja mengunjungi orang sakit,seorang pelayan melaksanakan tugasnya melayankan pernikahan dan pemakaman, yang dimana seorang pelayan gereja memiliki dua tugas dasar yang harus Pendeta lakukan dengan penuh tanggung jawab, pelayan gereja membangun relasi yang baik dengan sesama pelayan gereja yang lainnya, pelayan di dalam membangun relasi dengan sesama pelayan gereja harus menghormati otoritas, mau melakukan perbuatan baik, tidak menyakiti hati siapa saja,menghindari sikap yang berselisih paham dengan sesama pelayan gereja, harus memiliki sifat ramah dan santun kepada sesama pelayan gereja. Pendeta harus melayani dengan kesungguhan hati, serta pendeta harus membangun relasi yang baik dengan denominasi dari gereja yang lain, pelayan gereja (pendeta) harus menghargai, hormat setiap para pelayan dari gereja yang lainnya.
Pendeta harus menjaga kepercayaan jemaat yang menyangkut pelecehan seksual dan penyalahgunaan kekuasaan di tengah-tengah jemaat.
Tugas dan Tanggung jawab Pendeta di HKBP antara lain yaitu: Pendeta harus menjaga komitmen didalam pernikahan yang dimilikinya, pendeta harus menjaga kode etik yang dimiliki oleh pendeta itu sendiri, pelayan harus menjadi teladan moral di dalam pelayanan.13 Pendeta di HKBP harus berpegang teguh pada prinsip yang berdasarkan pada firman Tuhan, pendeta di HKBP menjalankan tugas berdasarkan Konfensi,Agenda,RPP (Ruhut Parmahanion Dohot Paminjanngon) dan AP-HKBP, Pendeta di HKBP dalam menjalankan tugasnya harus secara professional, disiplin, bertanggung jawab dengan sungguh-sungguh, Pendeta di HKBP harus menjaga diri supaya tidak menjadi sumber di dalam konflik, dan pendeta yang terbukti secara sengaja melakukan atau membuat konflik terhadap tugas pelayanannya, sebaiknya keluar dari pendeta HKBP.
Pendeta juga berkewajiban membuat laporan terkait laporan tentang kepemimpinannya kepada pemimpin setiap tahun melalui praeses atau pelayan
13 Joe E. Trull & James E. Carter, Etika Pelayan Gereja, (Jakarta: Gunung Mulia, 2012), 282.
5
setingkat diatasnya, pendeta harus mempedomani Poda Parjamitaon (nasehat terhadap khotbah) dalam menyampaikan firman Tuhan kepada jemaat, pendeta harus memelihara persatuan, kesatuan, nama baik, dan martabat sesama pendeta sebagai saudara, baik di dalam maupun di luar pelayanan, pendeta harus menumbuhkan rasa solidaritas antar sesama pendeta dan menolong sesama pendeta yang sedang mengalami kesulitan, serta pendeta wajib mengefektifkan komunikasi dalam bentuk rasa peduli, perkunjungan dan pertemuan,pendeta di HKBP tidak boleh menjatuhkan atau menjelek-jelekkan sesama pendeta, pendeta wajib memelihara persatuan dan kesatuan dengan sesama “partohonan” pelayan tahbisan lainnya,pendeta harus menjaga nama baik dan martabat sesama pelayan tahbisan,pendeta berkewajiban dalam memelihara hubungan yang erat dengan sesama jemaat, serta pendeta di dalam menjalankan tugas pelayanannya tidak boleh memperalat warga jemaat yang dapat menimbulkan konflik atau pertengkaran di dalam jemaat, pendeta tidak boleh mengeluhkan kebutuhan pribadinya di dalam jemaat, pendeta berkewajiban menghormati jabatan struktural di dalam organisasi yang ada di HKBP dan taat kepada pimpinan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pendeta harus tinggal bersama serumah dengan isteri/suami, pendeta harus memelihara persatuan kepada sesama keluarga pendeta yang lainnya, pendeta di HKBP harus aktif dalam berperan dalam membina kerjasama oikumenis, serta pendeta harus menghormati dan terbuka menerima gereja lain dalam membangun hubungan relasi atau kerjasama yang baik.14 Pendeta harus menjalankan tugas yang kudus, tugas yang kudus dimaksud ialah hidup di dalam perilaku yang baik,tidak hidup di dalam perilaku yang bercela, pendeta harus memberitakan dan menyampaikan firman Allah kepada kesesama manusia, mengembalakan dan mengajar, memperlengkapi orang-orang kudus bagian dari pekerjaan pelayanan yang dijalani bagi pendeta. Pendeta merupakan suatu panggilan yang telah ditetapkan oleh Allah. Tugas pendeta, antara lain yaitu memberitakan firman Allah, mengunjungi orang sakit, menderita dan
14 Kode Etik Kependetaan HKBP, (Tarutung: Sipoholon,2009), 9.
6
memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan Allah.15 Pendeta sebagai pendidik dan pengajar bagi pelayan-pelayan lain baik di jemaat maupun di resort, seperti nasehat Rasul Paulus (Efesus 4:12), pendeta sebagai pembimbing, dalam hal ini pendeta senantiasa membimbing jemaat, dapat bergaul dengan anggota-anggotanya dan bergaul dengan masyarakat sekitar atau pendeta harus dapat bergaul dengan semua orang, pendeta sangat perlu untuk mengunjungi jemaat yang sakit, mengunjungi jemaat yang melahirkan, mengunjungi jemaat yang meninggal dan mengunjungi jemaat yang baru menikah, biasanya pada saat-saat seperti ini, orang sangat terbuka untuk menerima nasehat dan bimbingan dari seorang pendeta. Pendeta harus bertanggung jawab kepada keluarganya, setia kepada keluarga dan pendeta harus bertanggung jawab kepada pimpinan baik dari kantor pusat maupun dari sinode serta saling menyokong dan menolong.16
Pendeta dalam Pemahaman HKBP (Sebagai Ordinasi)
Sebelum memahami makna dari panggilan menjadi seorang pendeta, penulis sedikit akan menguraikan tentang apa itu ordonasi? Secara etimologi ordonasi berasal dari dari bahasa Latin yaitu ordonatione, ordonation dan kemudian diturunkan dalam bahasa Jerman dan Inggris sehingga dipadankan dalam kata ministry (ordained minister) sehingga mempunyai arti sebagai pelayan tahbisan17. Dari pengertian tersebut maka kata ordonian merujuk kepada pelantikan, pengukuhan, maupun pengangkatan yang dilakukan secara ritual. Hal lain yang dapat dilihat bahwa rujukan kata ordonasi hanya tertuju kepada pendeta, pastor, atapun phafher. Pemaknaan kata tersebut tidak hanya sampai disitu saja, dalam bahasa Batak Toba kata ordonasi diartikan sebagai tohonan. Di dalam Agenda HKBP, kata Tohonan dalam bahasa Batak Toba ditujukan kepada seorang pendeta yang disebut sebagai ordinasi18.
15 G. D. Dahleburg, Siapakah Pendeta Itu? ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002), 31.
16 G. D. Dahleburg, Siapakah Pendeta Itu? ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002), 43.
17 Darwin Lumbantobing, HKBP do HKBP (HKBP is HKBP): Penggalian Teologis dalam Sejarah, Tradisi, dan Dogma HKBP, (Jakarat: BPK Gunung Mulia, 2017), 123.
18 Agenda HKBP, Pearaja Tarutung, 1933.
7
Dari penjelasan di atas, secara historis ordinan merupakan suatu rangkaian kegiatan pelantikan atau penahbisan yang dilakukan dengan penumpangan tangan.
Dengan demikian makna dari ordinasi sangat melekat kepada pendeta. Hal ini ditemui dalam tradisi liturgis yang ada di HKBP. Rangkain kegiatan pengukuhan atau penahbisan seorang pendeta dilakukan dengan ucapan Hu pabangkit jala huuras ma ho gabe Pandita di Huria Kristen Batak Protestan (saya akan mengangkat dan mengurapi engkau menjadi pendeta di Huria Kristen Batak Protestan)19. Ucapan tersebut merupakan suatu formula yang menekankan orisinalitas dari kata ordinasi.
dengan demikian kalimat/ ucapan hupanbangkit jala huuras hanya dipakai kepada kegiatan penahbisan seorang pendeta saja yang selalu ditandai dengan ritus penumpangan tangan. penumpangan tangan tersebut tentunya sebagai bentuk simbolik akan penyaluran kuasa Roh Kudus yang telah dimiliki seorang pendeta. Dari rangkaian tersebut penumpangan tangan hanya mutlak di tangan seorang pendeta saja.
Di HKBP pendeta dipahami sebagai naposo ni Debata. Kata naposo ni Debata dirujuk dari kata pais tou Theou atau doulos, ebed Yahwe yang diartikan sebagai hamba Allah. Terjemahan kata pais tou Theou atau doulos, ebed Yahwe ini memiliki arti sebagai naposo ni Debata dan mempunyai makna sebagai yang muda.20 Kata naposo tentunya merujuk kepada eksistensi seseorang yang masih muda dan mempunyai kekuatan, semangat dan harapan. Dengan demikian naposo ni Debata memiliki makna yang dalam sebagai orang yang kuat, rajin, lincah, dan menjadi andalan untuk memberikan dan melaksanankan tugas panggilannya untuk memberitakan firman Allah. Naposo ni Debata tentunya merujuk kepada seorang pendeta.
2.2. Pengertian Etika Pelayan Gereja
19 Darwin Lumbantobing, HKBP do HKBP (HKBP is HKBP): Penggalian Teologis dalam Sejarah, Tradisi, dan Dogma HKBP, 124 -125.
20 Darwin Lumbantobing, HKBP do HKBP (HKBP is HKBP): Penggalian Teologis dalam Sejarah, Tradisi, dan Dogma HKBP, 130 -131.
8
Kajian Etika Pelayan Gereja, Joe E. Trull & James E.Carter mengemukakan bahwa setiap pelayan gereja harus memiliki etika yang baik dan benar di dalam menjalankan tugas jabatan sesuai dengan panggilannya, setiap pelayan gereja haruslah menjalankan tugas atau pelayanannya di tengah-tengah jemaat berdasarkan panggilan yang dimilikinya, oleh sebab itu etika pelayan gereja harus bertumpu pada pemahaman yang benar terkait panggilan pelayanan.21 Pelayanan adalah vocatio yang berarti panggilan Allah. Menjadi pelayan (pendeta) bukanlah panggilan untuk menolong orang belaka, tetapi pelayan dipanggil untuk menolong setiap orang di dalam nama Yesus, tetapi setiap pelayan gereja (pendeta) harus menggambarkan kehidupan moral pelayan yang memiliki integritas, berkarakter, perilaku dan visi moral menjadi hidup sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan dari Allah (Efesus 4;1). Karakter menentukan semua keputusan etis dan watak menentukan perbuatan setiap individu. Sebagai pelayan harus memiliki kontrol diri sebagai wujud disiplin diri, untuk mengendalikan dorongan pemenuhan dalam diri pelayan gereja.22
Etika pelayan gereja adalah pemahaman tentang hakikat moral Allah. Hakikat moral yang dimaksudkan disini ialah menjadi teladan atau meneladani sikap Kristus, serta berperilaku yang baik, berkata yang jujur seturut dengan kehendak Allah.
Setiap pelayan gereja harus menyatakan perilaku dan perbuatan berdasarkan karakter moral Allah di dalam setiap aspek pelayanannya yang mencakup nilai kasih dan keadilan, serta bertanggung jawab dalam pemenuhan janji yang diucapkan, perkataan yang benar, derma/amal, kebaikan dan keadilan. Pelayan gereja memiliki kewajiban- kewajiban moral yang harus dipatuhi, ada norma-norma yang relevan yang harus dipegang seorang pelayan gereja, serta memiliki konsekuensi-konsekuensi sosial yang harus diperhitungkan. Setiap pelayan gereja memiliki integritas yang senantiasa mewujud dalam kehidupan pribadi dan perilaku pelayan, setiap pelayan harus memiliki integritas yang diniatkan di dalam diri setiap pelayan, yang dimana setiap pelayan haruslah menjunjung etika yang baik dan jujur di dalam menjalankan tugas
21 Joe E. Trull & James E. Carter, Etika Pelayan Gereja, (Jakarta: Gunung Mulia, 2012), 17.
22 Joe E. Trull & James E. Carter, Etika Pelayan Gereja, 53.
9
dan panggilannya di gereja, serta pelayan gereja harus membangun hubungan spiritual yang baik dengan Allah.23
Pemahaman terkait pelayan gereja, termasuk jabatan pendeta, tidak lepas dari pemahaman dan makna gereja tersebut, gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang mempunyai pengalaman rohani melalui persekutuan dengan Kristus dan yang dipanggil dan diutus oleh Yesus Kristus, di awal pemanggilan Yesus kepada para murid, bertujuan untuk mengikuti Dia, bersama dengan Dia, serta bersekutu dengan Dia (Matius 4:18-22; Markus 1:16-20; Lukas 5:1- 11). Sehingga pelayan dipanggil serta diutus oleh Allah untuk senantiasa memelihara dan memperlengkapi jemaat, sebagai upaya untuk mencapai keutuhan hidup orang- orang yang bersekutu (Efesus 4:11). Menurut Leonard Griffith, seorang pelayan gereja menggambarkan diri sebagai hamba Allah, orang yang melayani tidak pernah mengharapkan sesuatu untuk dirinya, serta pelayan yang berperan sebagai hamba tanggap terhadap dengan kebutuhan jemaat dan melayani jemaat dengan ketulusan hati. Yesus Kristuslah yang harus menjadi gambaran dari sikap dan perilaku yang dapat diteladani oleh setiap pelayan gereja.24 Seorang pelayan gereja harus memiliki integritas yang terwujud dalam kehidupan pribadi dan perilaku pelayan, pelayan gereja harus menjauhkan diri dari setiap pelanggaran etis, yang berakibat buruk terhadap pelayanan yang dijalaninya.25 Tugas pendeta, antara lain yaitu memberitakan firman Allah, mengunjungi orang sakit, menderita dan memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan Allah.26 Etika yang dimiliki seorang pendeta haruslah mencerminkan perilaku yang baik dan benar, sehingga pendeta menjadi teladan yang dapat ditiru oleh setiap jemaat. Pendeta harus dapat membangun hubungan yang baik dengan sesama jemaat, membangun hubungan yang baik dengan sesama pelayan gereja yang lainnya, sehingga pendeta akan di hormati oleh jemaat. Pendeta di dalam melayani jemaat harus di dasarkan pada ketulusan dan
23Joe E. Trull & James E. Carter, Etika Pelayan Gereja, 66.
24 Joe E. Trull & James E. Carter, Etika Pelayan Gereja, (Jakarta: Gunung Mulia, 2012), 124.
25 Joe E. Trull & James E.Carter, Etika Pelayan Gereja, 83.
26 G.D. Dahleburg, Siapakah Pendeta Itu? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 31.
10
kejujuran, sehingga jemaat akan merasa senang terhadap pendeta atau pelayan gereja yang tulus di dalam melayani jemaat.