16 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pada tanggal 31 Desember 2019, telah dikabarkan ditemukannya kasus pneunomia di kota Wuhan oleh Country Office WHO di China yang tidak diketahui pemicunya. Kasus pneumonia tersebut diperkenalkan oleh China sebagai jenis baru dari virus corona (coronavirus disease, Covid-19) pada 7 Januari 2020. International Public Health of Emergency Concer (PHEIC) atau Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia pada 30 Januari 2020 diumumkan oleh World Health Organization (WHO) atas munculnya virus Covid-19 tersebut. Pertambahan jumlah kasus Covid-19 terlampau cepat dan sudah menjangkit ke berbagai area di Wuhan dan negara lain. Pada 16 Februari 2020 sejumlah 51.857 kasus diverifikasi dan telah dilaporkan dengan 1.669 kematian (CFR 3,2%) di 25 negara di seantero dunia (Kementerian Kesehatan, 2020)
Kasus pertama Covid-19 terdeteksi di Indonesia pada 2 Maret 2020, dan hingga saat ini jumlah kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat hingga mencapai 130.718 kasus dan 5.903 kematian teridentifikasi per Agustus 2020 di 3 Provinsi Indonesia (Kementerian Kesehatan, 2021). Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan ke-5 di Asia dengan jumlah kasus terkonfirmasi sebanyak 549.431 kasus dan urutan ke-3 di Asia dan angka kematian urutan ke-21 di dunia (World Health Organization, 2022). Hingga pada tanggal 24 Februari 2022 diperoleh 5.457.775 kasus dan 147.586 kematian di seluruh Indonesia (Kementerian Kesehatan, 2022).
Penularan Covid-19 terbilang sangat cepat, sehingga diperlukan upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 antara lain; tinggal di rumah, membatasi
mobilitas, tidak bepergian dengan kondisi kesehatan yang buruk, dan menjaga jarak dengan orang lain. Selain itu, upaya pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah mengonsumsi makanan sehat agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh, menggunakan masker, rutin mencuci tangan, aktif olahraga dan istirahat yang cukup (Erlina Burhan, 2015). Selain itu, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah ditetapkan oleh pemerintah guna mempercepat penanganan kasus Covid-19 di Indonesia yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.21 Tahun 2020 (Menteri Kesehatan, 2020).
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga telah diberlakukan di Kota Jambi untuk mencegah penyebaran Covid-19. Pada 6 Juli 2021 Walikota Jambi telah menetapakan Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat dan dan Optimalisasi Sarana Pengolahan Covid-19 Tingkat Desa dan Kecamatan untuk Membatasi Penyebaran Covid-19, yang merupakan isi dari Keputusan Walikota No. 14/INS/VII/HKU/2021, dimana sesuai Peraturan 10 D, makan dan minum di tempat umum didefinisikan seperti ini:
1. Hanya sebesar 25% dari kapasitas tempat usaha dapat digunakan untuk kegiatan makan dan minum;
2. Dibatasinya jam operasional hanya sampai dengan pukul 17.00 WIB;
3. Tetap diizinkannya takeaway dan pesan antar hanya sampai pukul 20.00 WIB;
4. Untuk restoran dapat beroperasi selama 24 jam hanya untuk yang melayani pesan antar dan takeaway;
5. Tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat pelaksanaan kegiatan yang tertera dari angka 1- 4 dapat dilaksanakan.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan sektor bisnis yang secara khusus terimbas oleh adanya peraturan tersebut. Keadaan tersebut secara serius mempengaruhi UMKM yang secara khusus memiliki posisi di
perekonomian Indonesia. Pada tahun 2018 jumlah UMKM diketahui mencapai 64,2 juta berdasarkan data BPS, dari seluruh usaha yang beroperasi di Indonesia angka tersebut mencapai 99,9 persennya. Total Produk Domestik Bruto (PDB) dari kontribusi UMKM sekitar 60,3%, dan dari total tenaga kerja menyerap sekitar 97%, serta dari total lapangan kerja sebesar 99% (Silfia & Utami, 2021). Namun, di tengah pandemi Covid-19, sebanyak 163.713 UMKM terkena dampak pandemi. Dilaporkan kepada Kementerian Koperasi dan UKM Indonesia bahwa pandemi telah mempengaruhi bisnis sekitar 37.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, dilaporkan penurunan penjualan sekitar 56%, masalah pembiayaan sekitar 22%, masalah distribusi produk sekitar 15%, dan dilaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku sekitar 4% sisanya. Dpengan adanya permasalahan tersebut, untuk mempertahankan suatu usaha cukup sulit untuk dilakukan dikarenakan pendapatan para pelaku UMKM yang pada pandemi seperti saat ini dapat dikatakan tidak stabil (S, Leny, 2021).
Pendapatan adalah peningkatan modal yang diakibatkan oleh peningkatan kekayaan, namun bukan berasal dari hutang atau tambahan modal pemilik, tetapi berasal dari pihak lain yang diperoleh dari proses penjualan jasa dan barang.
Pendapatan tersebut dapat dinyatakan sebagai kompensasi atas jasa yang telah diberikan kepada pihak lain, pengertian ini merupakan penjelasan dari buku
“Akuntansi Keuangan Menengah Intermediate“ menurut Kusnadi (Polandos et al., 2019). Terdapat survei terkait pendapatan UMKM yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC). Hasilnya menunjukkan bahwa hanya sekitar 1,6% pelaku UMKM yang meningkatkan penjualan mereka sebesar 30% atau lebih, dan 2,2%
dari mereka yang meningkatkan penjualannya kurang dari 30%. Di sisi lain, lebih banyak UMKM mengalami penurunan penjualan selama pandemi, dengan persentase sebesar 63,9% mengalami penurunan penjualan 30% atau lebih, dan sisanya tidak menunjukkan perubahan omzet penjualan selama pandemi (Katadata Insight center, 2020).
Selain pendapatan, Katadata Insight Center (KIC) juga melakukan survei terkait kondisi UMKM di Indonesia baik sesudah dan sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Data menunjukkan UMKM di Indonesia dalam kondisi baik/sangat baik sebelum merebaknya pandemi Covid-19 mencapai 92,70%, dibandingkan 6,30%
dalam kondisi normal. Namun, dalam kondisi yang sangat buruk, hanya mencapai 1%. Di sisi lain, pada juni 2020 ditemukan bahwa kondisi UMKM di Indonesia pasca terjadinya Covid-19 berbanding terbalik, dengan persentase kondisi usaha sangat buruk meningkat menjadi 56,80%, kondisi baik/sangat baik terjun bebas mencapai angka 14,10%, serta kondisi usaha biasa juga tercatat mengalami peningkatan mencapai angka 29,10% (S, Leny, 2021).
Tabel 1.1
Jumlah UMKM Kota Jambi Tahun 2018-2021
No Kecamatan Jumlah UMKM
2018 2019 2020 2021
1 Kota Baru 736 1.173 3.057 4147
2 Alam Barajo 932 1.213 4.095 5189
3 Jambi selatan 1.031 1.180 3.773 4721 4 Paal merah 1.115 1.489 5.719 7360
5 Jelutung 553 764 3.827 4982
6 Pasar jambi 929 964 1.034 1434
7 Telanai pura 1.195 1.444 2.903 3957 8 Danau sipin 1.578 1.815 3.103 4248
9 Danau teluk 656 670 1.329 2323
10 Pelayangan 615 648 2.026 3051
11 Jambi timur 1.423 1.487 4.279 7084 Jumlah 10.763 12.763 35.145 48.496 Sumber: Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Kota Jambi, 2022
Berdasarkan data dari tabel 1.1 dapat dilihat bahwa jumlah UMKM di Kota Jambi sebelum terjadinya pandemi Covid-19 pada tahun 2018 berjumlah 10.763 dan pada tahun 2019 berjumlah 12.763, dan setelah terjadinya pandemi Covid-19 di Indonesia Jumlah UMKM di Kota Jambi pada tahun 2020 berjumlah 35.145
dan pada tahun 2021 berjumlah 48.496 UMKM. Dapat dilihat pula bahwa dari tahun ke tahun meski sedang menghadapi pandemi Covid-19 jumlah UMKM di Kota Jambi terus mengalami peningkatan, hal tersebut dikarenakan menurut Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Kota Jambi para pelaku UMKM mendapatkan bantuan dana usaha dari pemerintah.
UMKM dari tahun ke tahun terus tumbuh dan berkembang menjadikan UMKM salah satu penggerak ekonomi terbesar di Indonesia. Namun, karena pandemi Covid-19, beberapa UMKM menderita bahkan bangkrut. Secara khusus, UMKM di bidang kuliner yang menjadi fokus kajian ini juga terkena dampak parah dari pandemi Covid-19. Menurut Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Jambi, UMKM kuliner cukup dominan di Kota Jambi.
Usaha kuliner ialah seseorang atau sekelompok orang yang melakukan aktivitas jual beli makanan dan minuman dengan perancangan yang terstruktur supaya memperoleh keuntungan dengan cara menghasilkan dan menjajakan barang atau jasa guna mencukupi kepentingan masyarakat (Hidayatullah et al., n.d.).
Tabel 1.2
Jumlah UMKM Kuliner Kota Jambi Tahun 2020-2021
No Kecamatan Jumlah Usaha Kuliner
2020 2021
1. Jambi timur 1.864 2.963
2. Jambi selatan 1.646 2.037
3. Danau teluk 352 620
4. Danau sipin 1.185 1.611
5. Kota Baru 1.084 1.454
6. Pasar jambi 302 595
7. Alam Barajo 1.539 1.911
8. Jelutung 1.536 2.017
9. Telanai pura 1.112 1.527
10. Pelayangan 712 1.046
11. Paal merah 2.205 2.806
Jumlah 13.629 18.587
Sumber: Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Kota Jambi, 2022
Berdasarkan data dari tabel 1.2 dapat diketahui bahwa jumlah usaha kuliner di Kota Jambi yang terbagi dalam beberapa kecamatan dari tahun 2020-2021 mengalami peningkatan jumlah UMKM. Pada data tersebut dijelaskan bahwa di Kecamatan Jambi Timur pada tahun 2020 UMKM berjumlah 1.864 unit dan pada tahun 2021 berjumlah 2.963 unit, selanjutnya di Kecamatan Jambi Selatan tahun 2020 berjumlah 1.646 unit dan pada tahun 2021 berjumlah 2.037 unit, Kecamatan Danau Teluk berjumlah 352 unit tahun 2020 dan berjumlah 620 unit pada tahun 2021, Kecamatan Danau Sipin tahun 2020 berjumlah 1.185 unit dan pada tahun 2021 berjumlah 1.611 unit, Kecamatan Kota Baru tahun 2020 berjumlah 1.084 dan tahun 2021 berjumlah 1.454, Kecamatan Pasar Jambi tahun 2020 berjumlah 302 unit dan tahun 2021 berjumlah 595 unit, Kecamatan Alam Barajo tahun 2020 berjumlah 1.539 unit dan tahun 2021 berjumlah 1.911 unit, Kecamatan Jelutung tahun 2020 berjumlah 1.536 unit dan tahun 2021 berjumlah 2.017 unit, Kecamatan Telanai Pura tahun 2020 berjumlah 1.112 unit dan pada tahun 2021 berjumlah 1.527 unit, Kecamatan Pelayangan berjumlah 712 unit pada tahun 2020 dan berjumlah 1.046 unit pada tahun 2021, yang terakhir pada Kecamatan Paal Merah berjumlah 2.205 unit pada tahun 2020 dan berjumlah 2.806 unit pada tahun 2021.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan usaha antara lain akses e-commerce, modal usaha dan tenaga kerja. Menurut penelitian yang dilaksanakan oleh Martha Rianty dan Pipit Fitri Rahayu (2021) perihal e- commerce berpengaruh terhadap pendapatan UMKM Kuliner. Selain itu, terdapat
pula penelitian yang dilksanakan oleh Andri Waskita Aji dan Sela Putri Listyaningrum (2021) yang memaparkan bahwa modal usaha berpengaruh positif terhadap pendapatan UMKM. Serta penelitian dari Yuniarum Fatin Laili dan Achma Hendra Setiawan (2020) yang memaparkan bahwa tenaga kerja berpengaruh positif terhadap pendapatan UMKM.
E-Commerce yakni transaksi bisnis berbasis individu yang memfokuskan diri pada suatu jenis mekanisme bisnis elektonis dengan media pertukaran jasa dan barang menggunakan internet melewati kendala ruang dan waktu antara dua buah institusi (business to business) maupun antar institusi dan konsumen langsung (business-to-consumer) (Romindo, 2019). Namun, UMKM menghadapi beberapa kendala seperti: hanya sekitar 8% dari 64 juta UMKM yang sudah go online (e-commerce) di Indonesia. Dibutuhkan serangkaian langkah adaptasi kepada pelaku UMKM yang belum terbiasa menggunakan teknologi agar dapat mengubah pola penjualan dari fisik ke platform internet. Kedua, pada beberapa daerah terpencil atau pedesaan akses infrastruktur internet tidak merata. Ketiga, perusahaan financial technology telah menyediakan layanan pembayaran, namun para pelaku UMKM kurang belajar dan kurang memiliki informasi mengenai hal tersebut. Kesulitan menjangkau konsumen di luar wilayah karena tingginya biaya logistik merupakan kendala terakhir yang dialami UMKM (Annur, 2020).
Selain akses e-commerce, modal usaha menjadi faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan UMKM pada masa pandemi Covid-19. Penelitian yang dilakukan oleh Andri Waskita Aji dan Sela Putri Listyaningrum (2021) menjelaskan bahwa modal usaha mempengaruhi pendapatan UMKM. Selain itu, selama masa pandemi Covid-19 sekitar 69,02% UMKM di Indonesia menurut survei Badan Pusat Statistik tahun 2020 mengalami masalah terhadap permodalan.
Menurut James C Van Harne dalam Nase Saipudin Zuhri (2017) modal usaha adalah dana yang diperlukan untuk menjalankan usaha dan digunakan baik
untuk pengeluaran tetap maupun tidak tetap setiap bulannya. Berdasarkan data dari dinas tenaga kerja, koperasi dan UMKM di Kota Jambi, pandemi Covid-19 membuat UMKM tertekan karena aktivitas perdagangan mengalami penurunan berupa penurunan penjualan sekitar 60% dan penurunan modal sekitar 15%
lumpuh, sekitar 10% hambatan distribusi produk dan sekitar 6% masalah bahan baku (Putri, 2021). Namun menurut data dari pihak Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Kota Jambi, disatu sisi pemerintah memberikan keringanan berupa bantuan kepada pelaku UMKM agar dapat terus melangsungkan usahanya meski tengah menghadapi pandemi, bantuan tersebut disebut juga dengan Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM).
Tentunya, bantuan ini memungkinkan untuk membantu para pelaku UMKM yang benar-benar berjuang dalam urusan permodalan di masa pandemi saat ini.
Namun, menurut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), ada banyak masalah dengan distribusi BPUM. Mengutip laporan keuangan pemerintah pusat tahun 2020, penyebab permasalahan tersebut adalah belum terpenuhinya standar yang dipersyaratkan penerima bantuan, tidak sesuainya penyaluran dana dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan minimnya dana kepada penerima bantuan adalah terjadinya distribusi ganda (Kompas.TV, 2021).
Akibatnya, banyak pelaku UMKM yang sangat membutuhkan modal untuk menjalankan usahanya terpaksa gulung tikar.
Faktor terakhir yang diketahui mempengaruhi pendapatan UMKM selama pandemi Covid-19 adalah tenaga kerja. Menteri Tenaga Kerja Ida Fawziya mengatakan kelompok yang paling terkena dampak penyebaran virus corona adalah pekerja di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Pasalnya, pada masa pandemi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) merupakan kasus yang paling sering ditemui pada para pelaku UMKM. (merdeka.com, 2020).
Definisi tenaga kerja menurut Undang-Undang Pokok Ketenagakerjaan No.
13, Tahun 2003 yaitu setiap orang yang sanggup melaksanakan pekerjaan untuk mencukupi kepentingan sendiri maupun untuk masyarakat guna menghasilkan jasa atau barang baik di dalam maupun diluar ikatan kerja. Namun, banyak pelaku UMKM yang harus menamatkan masa kerja karyawannya pada masa pandemi Covid-19. Bersumber pada informasi dari Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM Kota Jambi, pada tahun 2020 telah tercatat 23 kasus PHK dengan menyeret 96 orang pekerja Kota Jambi, setelah itu tercatat 76 kasus dengan menyeret 121 pekerja. Ini adalah beberapa informasi pemberhentian pekerja yang terdaftar, diyakini masih banyak lagi informasi dari pekerja yang diberhentikan yang tidak terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM Kota Jambi (TribunJambi.com, n.d.).
Berdasarkan paparan penjelasan latar belakang di atas, maka peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Akses E- Commerce, Modal Usaha, dan Tenaga Kerja Terhadap Pendapatan UMKM
Kuliner Kota Jambi Pada Masa Pandemi Covid-19”.
1.2 Rumusan Masalah
Berikut merupakan permasalahan yang dapat dirumuskan setelah menilik latar belakang yang telah diuraikan:
1. Apakah akses e-commerce berpengaruh terhadap pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi pada masa pandemi Covid-19?
2. Apakah modal usaha berpengaruh terhadap pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi pada masa pandemi Covid-19?
3. Apakah tenaga kerja berpengaruh terhadap pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi pada masa pandemi Covid-19?
1.3 Tujuan Penelitian
Berikut tujuan dilakukannya penelitian ini setelah menilik perumusan masalah yang telah diuraikan:
1. Untuk mengetahui pengaruh akses e-commerce terhadap pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi pada masa pandemi Covid-19.
2. Untuk mengetahui pengaruh modal usaha terhadap pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi pada masa pandemi Covid-19.
3. Untuk mengetahui pengaruh tenaga kerja terhadap pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi pada masa pandemi Covid-19.
1.4 Manfaat Penelitian
Berikut merupakan manfaat dari dilakukannya penelitian ini:
1. Manfaat Teoritis
a. Meningkatkan wawasan perihal pengaruh akses e-commerce, modal usaha dan tenaga kerja terhadap pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi pada masa pandemi Covid-19.
b. Sebagai referensi tambahan dan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya oleh pihak-pihak yang ingin meneliti topik yang sama.
c. Diharapkan dapat menambah khasanah baru dan memberikan kontribusi bagi perkembangan teori akuntansi serta karya-karya sebelumnya dengan topik yang sama .
2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis
Hal ini dapat digunakan sebagai alternatif untuk mempraktekkan ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan pemikiran, sikap kreatif dan menambah pengalaman
di bidang akuntansi khususnya bidang usaha kecil dan menengah dalam pemecahan berbagai masalah.
b. Bagi Pemerintah Kota Jambi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan UMKM dapat menjadi dasar evaluasi. Hal ini memungkinkan pemerintah daerah untuk menyusun program atau strategi yang tepat guna meningkatkan pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi selama pandemi Covid-19.
c. Bagi Pelaku UMKM/ Masyarakat
Memberikan pelajaran bagi pelaku UMKM perihal faktor-faktor yang dapat meningkatkan pendapatan UMKM Kuliner pada masa pandemi Covid-19, yakni dengan menafsirkan betapa bermanfaatnya akses e- commerce, modal usaha dan tenaga kerja.
d. Bagi Universitas Jambi
Dapat dijadikan referensi bagi peneliti selanjutnya dan memperkuat bukti ilmiah terkait uji faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan UMKM Kuliner pada masa pandemi Covid-19.