PENGALIHAN HAK TAGIH UTANG TERHADAP DEBITUR DALAM PERKARA KEPAILITAN (Studi Kasus Putusan PN
Nomor : 08/Pailit/2013/PN.Niaga/Mdn)
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat- Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
S K R I P S I
Oleh :
100200187
FRENKY AGUSTINUS
DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2014
PENGALIHAN HAK TAGIH UTANG TERHADAP DEBITUR DALAM PERKARA KEPAILITAN (Studi Kasus Putusan PN Nomor :
08/Pailit/2013/PN.Niaga/Mdn)
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
SKRIPSI
OLEH:
NIM : 100200187 FRENKY AGUSTINUS
DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI
Disetujui,
Ketua Departemen Hukum Ekonomi
NIP. 197501122005012002 Windha, S. H., M. Hum.
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Ramli Siregar, S. H., M. Hum.
NIP. 195303121983031002 NIP. 197501122005012002 Windha, S. H., M. Hum.
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2014
ABSTRAK
PENGALIHAN HAK TAGIH UTANG TERHADAP DEBITUR DALAM PERKARA KEPAILITAN (Studi Kasus Putusan PN Nomor :
08/Pailit/2013/Pn.Niaga/Mdn)
Frenky Agustinus*
1Kata Kunci: Kepailitan, Pengalihan Hak Tagih Utang, Utang.
Ramli Siregar**
Windha***
Dalam memenuhi kebutuhan hidup Masyarakat yang bermacam-macam,
maksyarakat akan terdorong untuk melakukan kegiatan usaha yang menghasilkan uang. Kegiatan usaha baik dalam skala kecil maupun skala besar akan
memerlukan dana segar (fresh money) untuk mengembangkannya. Salah satu caranya adalah dengan menjual piutang atau Pengalihan hak tagih
utang.Pengalihan hak tagih utang tidak diatur jelas di dalam Kitab Undang- Undang Hukum Perdata. Sehingga akan menimbulkan pertanyaan mengenai pengaturan pengalihan hak tagih utang hingga mengenai keabsahan pengalihan hak tagih utang itu.
Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian hukum normative dan bersifat deskriptif.Data yang digunakan penulis adalah data sekunder dan seluruh data-data serta dokumen dikumpulkan oleh penulis dengan menggunakan metode studi kepustakaan. Dan data-data serta dokumen yang sudah dikumpulkan oleh penulis akan dianalisis dengan metode pendekatan normatif dan kualitatif.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini antara lain bahwa pengalihan hak tagih utang PT. TUNGGUL ULUNG MAKMUR kepada MASWADI dan YANTO NDEY tidaklah sah karena tidak memenuhi syarat-syarat keabsahan pengalihan hak tagih utang serta berdasarkan bukti-bukti dalam persidangan PT.
USAHA BINTAN BERSAMA SEJAHTERA sama sekali tidak memiliki utang untuk dialihkan oleh PT. TUNGGUL ULUNG MAKMUR.
* Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
** Pembimbing I, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
*** Pembimbing II, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan rahmat yang telah diberikan-Nya selama ini, sehingga Penulis bisa menyelesaikan karya tulis skripsi ini dengan baik dan benar.
Penulisan Skripsi yang berjudul: Pengalihan Hak Tagih Utang Terhadap Debitur Dalam PerkaraKepailitan (Studi Kasus Putusan PN Nomor :08/Pailit/2013/PN.Niaga/Mdn)adalah guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (SH) di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa hasil Penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karenanya, Penulis sangat mengharapkan adanya saran dan kritik dari para pembaca skripsi ini. Kelak dengan adanya saran dan kritik tersebut, maka Penulis akan dapat menghasilkan karya tulis yang lebih baik dan berkualitas, baik dari segi substansi maupun dari segi cara Penulisannya.
Secara khusus, Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua Penulis yang telah membesarkan, mendidik, dan
mendukung Penulis hingga bisa menyelesaikan pendidikan formal Strata Satu (S1) ini.Terima kasih yang besar juga Penulis ucapkan kepada kakak dan adik Penulis yang selama ini banyak mendukung dan membantu Penulis dalam proses perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc.(CTM), Sp.A(K)., selakuRektor Universitas Sumatera Utara (USU) yang telah mengelola dan menyelenggarakan universitas sesuai dengan visi dan misi USU.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) yang telah memimpin
penyelenggaraan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta
membina tenaga pendidik dan mahasiswa di lingkungan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara (USU).
3. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) yang telah banyak membantu Dekan dalam memimpin pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
4. Bapak Syarifuddin Hasibuan, S.H., M.Hum.,DFM, selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) yang telah banyak membantu Dekan dalam memimpin pelaksanaan kegiatan di bidang administrasi umum.
5. Bapak Dr. O.K. Saidin, S.H., M.Hum, selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) yang telah banyak membantu Dekan dalam pelaksanaan kegiatan di bidang pembinaan dan pelayanan kesejahteraan mahasiswa.
6. Ibu Windha, S. H., M. Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi dan Dosen Pembimbing II. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya atas segala bantuan, kritikan, saran, bimbingan, dan dukungan yang sangat berarti dan bermanfaat hingga selesainya penyusunan skripsi ini.
7. Bapak Ramli Siregar, S.H., M. Hum., selaku Sekretaris Jurusan Departemen Hukum Ekonomidan Dosen Pembimbing I. Ucapan terima kasih sebesar- besarnya atasatas segala bantuan dan dukungannya yang sangat berarti dan bermanfaat bagi penyelesaian skripsi ini.
8. Bapak Mirza Nasution, Dr., S.H., M.H., selaku Dosen Wali. Ucapan terima
kasih sebesar-besarnya atas segala bantuan sejak baru menjadi
mahasiswasampai sekarang selesai menyelesaikan pendidikan.
9. Para Dosen, Asisten Dosen, dan seluruh staf administrasi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah berjasa mendidik dan membantu Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Noviana Tandra, selaku teman dekat Penulis yang tidak pernah bosan memberikan semangat, masukan, nasehat dan bantuan kepada Penulis dari awal perkuliahan hingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis mengucapkan banyak Terima Kasih atas dukungan dan semangat yang sudah di berikan selama ini. Thanks Novi!
11. Barran Hamzah, S.H., Henjoko, S.H., Boby Anastasius, Widodo Ramadhana, Angelus Andi P. Lase, S.H., Triana Maulia, yang telah sekelas (segrup) dengan Penulis selama proses perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, serta selalu bersama Penulis dalam suka maupun duka pada saat menjalani masa perkuliahan.
12. Teman-teman Grup A Stambuk 2010 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang juga telah bersama dengan Penulis selama hampir 4 (empat) tahun proses perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
13. Senior-senior di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan banyak informasi mengenai kegiatan perkuliahan dan membimbing Penulis selama mengikuti kegiatan-kegiatan hukum dalam organisasi kampus.
14. Teman-teman organisasi Ikatan Mahasiswa Hukum Ekonomi (IMAHMI).
15. Serta seluruh teman Penulis dari berbagai grup (kelas) dan berbagai stambuk
di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah bersama dengan
Penulis selama ini
Medan, Agustus 2014 Penulis,
FRENKY AGUSTINUS
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 6
D. Keaslian Penulisan ... 7
E. Tinjauan Kepustakaan ... 7
F. Metode Penelitian ... 12
G. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II PENGALIHAN HAK TAGIH UTANG (CESSIE) DALAM PEMBAYRAN UTANG PERSEROAN TERBATAS A. Pengertian Utang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ... 19
B. Pengaturan tentang Pengalihan Hak Tagih Utang ... 21
C. Praktik Pengalihan Hak Tagih Utang (Cessie) dalam Pembayaran Utang Perseroan Terbatas ... 36
BAB III UTANG SEBAGAI SYARAT PAILIT DALAM
PERMOHONAN PAILIT PERSEROAN TERBATAS DI
PENGADILAN NIAGA
A. Syarat dan Putusan Pailit di Pengadilan Niaga Menurut Undang-Undang No 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ... 42 B. Utang Sebagai Syarat dalam Permohonan Pailit
Perseroan Terbatas di Pengadilan Niaga ... 51 C. Prosedur Mengajukan Permohonan Pailit Perseroan
Terbatas di Pengadilan Niaga ... 54
BAB IV KEABSAHAN PENGALIHAN HAK TAGIH UTANG
TERHADAP DEBITUR DALAM PERKARA KEPAILITAN
A. Syarat dan Ketentuan Sahnya Pengalihan Hak Tagih Utang Terhadap Debitur ... 60 B. Keabsahan Pengalihan Hak Tagih Utang Terhadap
Debitur dalam Perkara Kepailitan ... 66 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 86
B. Saran ... 88
DAFTAR PUSTAKA ... 90
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tidak pernah lepas dari kebutuhan hidup yang bermacam-macam. Dalam memenuhi kebutuhan hidup itu masyarakat akan melakukan berbagai macam cara, secara historis dulunya berawal dengan memakai system barter dimana barang ditukar dengan barang milik orang lain. Dalam perkembangannya system barter ini makin lama semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Masyarakat ada tendensi untuk memilih cara-cara yang lebih praktis, misalnya dengan menggunakan alat tukar uang.Perkembangan ini erat sekali korelasinya dengan kemajuan berfikir dari masyarakat.
Seiring dengan perkembangan dan kemajuan cara berfikir masyarakat dalam mengelola alat tukar uang, masyarakat akan terdorong untuk melakukan suatu kegiatan usaha yang dapat menghasilkan uang. Kegiatan usaha ini, baik untuk skala kecil, maupun untuk skala yang lebih besar, membutuhkan dana segar (fresh money) dalam mengembangkannya. Demi mendapatkan dana segar itu ada banyak metode yang dapat digunakan oleh masyarakat, salah satunya adalah dengan cara menjual utang atau dengan cara pengalihan hak tagih utang kepada pihak ketiga agar dapat mendapatkan dana segar tersebut.
Pengalihan hak tagih utang atau cessie biasanya terjadi karena kreditur
membutuhkan uang. Sehingga ia menjual piutangnya kepada pihak ketiga yang
akan menerima pembayaran dari debitur pada saat piutang tersebut telah jatuh
tempo.
2Pengalihan hak tagih utang atau dikenal juga dengan kata Cessie adalah suatu pengalihan atau pengoperan hak tagih. Cessie mempunyai sifat yang dualistis, maksudnya ialah cessie dapat di pandang dari dua sudut yang berbeda, yaitu dari sudut pandang hukum benda dan dari sudut pandang hukum perikatan.
Cessie diatur dalam Pasal 613 KUH Perdata yang merupakan bagian dari Buku Kedua KUH Perdata yang mengatur mengenai kebendaan. Dari sudut pandang hukum perikatan, cessie dapat dikategorikan sebagai suatu lembaga dan sarana hukum untuk terjadinya pergantian kerditur.
3Dalam Pasal 613 KUH Perdata ayat 1 ditegaskan bahwa penyerahan piutang atas nama harus dilakukan dengan jalan membuat akta otentik atau akta di bawah tangan yang disebut dengan akta cessie, di mana hak-hak atas keandaan itu dialihkan kepada pihak ketiga sebagaimana penerima pengalihan. Pada ayat 2 ditambahkan, bahwa penyerahan tersebut tidak berakibat hukum kepada debitur melainkan setelah diberitahukan kepadanya atau secara tertulis disetujui dan diakuinya.
4Seiring berjalannya waktu, Kasus cessie sendiri sudah banyak terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Kasus cessie yang paling menyedot perhatian publik adalah kasus Bank Bali pada tahun 1998, kasus ini adalah kasus dimana tidak terbayarnya utang Bank Dagang Nasional Indonesia dan Bank Umum Nasional sehingga Bank Bali melakukan Perjanjian dengan PT Era Giant Prima untuk melakukan pengalihan (cessie) tagihan piutang ke Bank Dagang Nasional dan
2
Herlien budiono, Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan Penerapannya di Bidang Kenotariatan, Bandung: Citra Aditya, 2010, Hlm. 186
3
Ibid., Hlm. 185
4
Ibid.,
Bank Umum Nasional. Kasus Bank Bali ini adalah kasus yang menyedot perhatian publik karena menyangkut jaringan money politics, serta kasus ini juga menjerat beberapa pejabat penting yang sedang menjabat pada saat itu.
Namun seiring berjalannya waktu, pengalihan hak tagih utang itu sendiri sudah berkembang di masyarakat, banyak yang mendasarkan cessie sebagai dasar mengajukan pailit di pengadilan niaga. Seperti dalam kasus antara PT TUNGGUL ULUNG MAKMUR (PT TUM) melawan PT USAHA BINTAN BERSAMA SEJAHTERA (PT UBBS) dalam Putusan Pengadilan Negeri Republik Indonesia Nomor : 08/Pailit/2013/PN.Niaga/Mdn. Dimana kasus ini membahas tentang PT TUNGGUL ULUNG MAKMUR (sebagai Pemohon) yang menjalin kerjasama dengan PT USAHA BINTAN BERSAMA SEJAHTERA (sebagai Termohon) Tanggal 10 juni 2009 yang pada intinya membuat hal-hal tentang hak dan kewajiban Pemohon dan Termohon untuk eksport hasil penambangan biji bauksit.Bahwa sebagai realisasi perjanjian antara Pemohon dan Termohon menyangkut masalah eksport biji bauksit, perinciannya adalah sebagai berikut;
1. Total Cargo Loading Tahun 2010 sebesar: 87.637,91 M/T.
2. Total Cargo Loading Tahun 2011 sebesar: 1.058.109,03 M/T.
3. Total Cargo Loading Tahun 2012 sebesar: 510.324,86 M/T
Keseluruhan Berjumlah : 1.656.107,80 M/T. perincian sebagai berikut;
a. Jumlah eksport = 1.656.107,80 M/T x (dikali) USD 6,7 =
11.095,922,26
b. Jumlah pembayaran dari Termohon kepada Pemohon adalah = USD 8.512.223,66
c. Jumlah kekurangan pembayaran Termohon kepada Pemohon = USD 2.396.812,7
d. Bahwa sesuai surat tanggal 09 Januari 2013, No.10350.96.2013.I.Sdrf, agar Termohon membayar lunas seluruh utang-utangnya kepada Pemohon paling lambat tanggal 15 januari 2013
e. Bahwa utang Termohon kepada Pemohon sebagian dialihkan berdasarkan Akta Notaris Ashelfine, SH. MH di Pekanbaru No.355 dan No.336, tanggal 20 Maret 2013, lengkapnya adalah sebagai berikut;
A. Kepada MASWADI, adalah 10% yaitu USD 239.681,27
B. Kepada YANTO NDEY adalah 10% yaitu USD 239.681,27
Berdasarkan perincian inilah Pemohon pailit (PT TUM) ingin
mempailitkan Termohon pailit (PT UBBS) karena Termohon pailit tidak bisa
melunasi utang-utangnya kepada Pemohon pailit.Selanjutnya Termohon pailit
menolak pernyataan dari Pemohon pailit berdasarkan bukti-bukti yang dimiliki
oleh Termohon pailit. Termohon pailit menyampaikan bahwa Termohon pailit
kelebihan dalam membayarkan utangnya kepada Pemohon pailit, sehingga
Pemohon pailitlah yang mempunyai utang kepada Termohon pailit. Pernyataan
Termohon pailit didasarkan karena kadar biji bauksit tidak sesuai dengan
perjanjian yang telah disepakati diantara Termohon pailit dengan Pemohon pailit,
Termohon pailit dikenai penalty dari costumer, Sehingga costumer mengurangi
fee dari USD 6,70 menjadi USD 3,70. Total fee untuk Pemohon pailit setelah dikurangi dengan penalty adalah sebesar 1.410.671,90 DMT (nett) x USD 3,70 = USD 5,219.486,03.
Sehingga terlihat dengan jelas bahwa Termohon pailit kelebihan bayar kepada Pemohon sebesar USD 3.292.737,63. Sedangkan tentang pengalihan hak tagih utang yang dimaksudkan oleh Pemohon pailit ditolak oleh Termohon pailit karena menurut Termohon pailit utangnya telah dibayar lunas kepada Pemohon pailit sehingga pengalihan hak tagih utang atau cessie yang dilakukan oleh Pemohon kepada Maswadi dan Yanto Ndey masing-masing sebesar 10% tidak mendasar menurut hukum dan Termohon pailit menolak dengan tegas pengalihan hak tagih utang tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat dirumuskan 3 (tiga) permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini, yaitu:
1. Bagaimana Pengalihan Hak Tagih Utang (Cessie) dalam Pembayaran Utang Perseroan Terbatas?
2. Bagaimana Utang Sebagai Syarat Pailit dalam Permohonan Pailit Perseroan Terbatas di Pengadilan Niaga?
3. Bagaimana Keabsahan Pengalihan Hak Tagih Utang Terhadap Debitur dalam
Perkara Kepailitan?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan penulisan
Tujuan yang ingin dicapai melalui karya tulis skripsi ini ialah:
a. Untuk mengetahui latar belakang pengalihan hak tagih utang dalam pembayaran utang perseroan terbatas.
b. Untuk mengetahui pengaturan mengenai utang sebagai syarat pailit dalam permohonan pailit perseroan terbatas di pengadilan niaga.
c. Untuk mengetahui alasan perlunyakeabsahan pengalihan hak tagih utang dalam perkara kepailitan.
2. Manfaat penulisan a. Secara teoritis
1) Untuk menambah wawasan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dalam bidang hukum kepailitan, terutama berhubungan dengan pengalihan hak tagih utang sebagai syarat pailit dalam permohonan pailit.
2) Sebagai salah satu bahan kajian oleh kalangan akademisi dalam mempelajari mengenai perlunya keabsahan pengalihan hak tagih utang dalam pengalihan piutang.
b. Secara praktis
1) Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas mengenai
perkembangan ilmu hukum, terutama mengenai pengalihan hak tagih
utang terhadap debitur dalam perkara kepailitan.
2) Untuk memberikan masukan dan pengetahuan yang lebih mendalam kepada masyarakat mengenai ketentuan hukum yang berkaitan dengan pengalihan hak tagih utang.
D. Keaslian Penulisan
Skripsi yang berjudul “Pengalihan Hak Tagih Utang Terhadap Debitur dalam Perkara Kepailitan ( Studi Kasus putusan PN Nomor :
08/Pailit/2013/PN.Niaga/Mdn )” ini merupakan benar hasil karya sendiri, tanpa meniru karya tulis milik orang lain. Oleh karenanya, keaslian dan kebenaran karya tulis ini dapat dipertanggungjawabkan dan telah sesuai dengan asas-asas keilmuan yang harus dijunjung tinggi secara akademik, yaitu kejujuran, rasional, objektif, dan terbuka. Hal ini merupakan implikasi etis dalam proses menemukan
kebenaran ilmu sehingga dengan demikian penulisan karya tulis ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, keilmuan dan terbuka untuk kritik yang sifatnya konstruktif. Selain itu, semua informasi di dalam skripsi ini berasal dari berbagai karya tulis penulis lain, baik yang dipublikasikan ataupun tidak, serta telah diberikan penghargaan dengan mengutip nama sumber penulis dengan benar dan lengkap.
E. Tinjauan Kepustakaan
1. Pengalihan Hak Tagih Utang (Cessie)
Didalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 613 menjelaskan bahwa
pengalihan hak tagih utang atau sering juga disebut dengan kata Cessie adalah
penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya,
dilakukan dengan jalan membuat suatu akta otentik atau di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain.
5Menurut Prof. Subekti,
6Menurut Prof. Mariam Daruz Badrulzaman,
Cessie adalah pemindahan hak piutang yang sebelumnya merupakan penggantian orang berpiutang lama, yang dalam hal ini dinamakan cedent, dengan seorang berpiutang baru, yang dalam hubungan ini dinamakan cessionaries. Pemindahan itu harus dilakukan dengan suatu akta otentik atau di bawah tangan; jadi tidak boleh dengan lisan atau dengan penyerahan piutang saja.Agar permindahan berlaku terhadap si berutang, akta cessie tersebut harus diberitahukan padanya secara resmi.Hak piutang dianggap telah berpindah pada waktu akta cessie itu dibuat jadi tidak pada waktu akta itu diberitahukan pada si berutang.
7
Menurut Prof. Dr. Sri Sudewi Massjchoen Sofwan,
Cessie adalah suatu perjanjian di mana kreditur mengalihkan piutangnya (atas nama) kepada pihak lain. Cessie merupakan perjanjian kebendaan yang didahului suatu “title” yang merupakan perjanjian obligatoir.
8
5
KUH Perdata Pasal 613 ayat 1
6
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cet. XX, Jakarta: Intermasa, 1985, hlm.73-74.
7
Mariam Daruz Badrulzaman, Bab-Bab Tentang Credietverband, Gadai dan Fidusia, Bandung: Ikapi, 1984, hlm. 105-106.
8
Sri Sudewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia, Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, BPHN, Departemen Kehakiman.
Cessie ialah penyerahan
piutang atas nama yang dilakukan dengan cara membuatkan akta otentik atau akta
di bawah tangan, kemudian dilakukan pemberitahuan mengenai adanya
penyerahan itu oleh juru sita kepada debitur dari piutang tersebut.
Menurut Suharnoko,
9Menurut Ignatius I. Widyadharma,
Cessie adalah cara pengalihan piutang atas nama yang diatur dalam Pasal 613 KUH Perdata. Pengalihan tersebut terjadi atas dasar suatu peristiwa perdata, misalnya jual-beli antara kreditur lama dengan calon kreditur baru.Dalam cessie utang piutang lama tidak hapus, hanya beralih kepada pihak ketiga sebagai kreditur baru.Dalam cessie debitur selamanya pasif, dia hanya diberitahukan tentang adanya penggantian kreditur, sehingga dia harus membayar kepada kreditur baru.
10
Menurut Indrawati Soewarso,
Cessie adalah suatu peralihan atas nama, yaitu suatu kewajiban dari cessus guna membayar kepada cedent (kreditur lama), telah dialihkan atau dilimpahkan oleh cedent kepada cessionaries (kreditur baru).
Atas peralihan/pelimpahan tersebut diperlukan pelimpahan peralihan dalam suatu cessie harus dilakukan dalam suatu akta otentik atau akta di bawah tangan.Pihak debitur, yaitu disebut cessus, layak diberi tahu dan pemberitahuannya harus dilakukan secara resmi yakni lewat juru sita (HGH 29 Oktober 1931.T 35 hlm.
80.). Atau dapat pula dikatahuinya dengan cara si cessus secara tertulis telah menerima atau mengakui/613 ayat 2 BW.
11
9
Suharnoko, Doktrin Suborgasi, Novasi dan Cessie, Cet. Ke-1, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2005, hlm 101.
10
Ignatius I. Widyadharma, Sedikit tentang Hukum Jaminan di Indonesia, Semarang:
Tanjung Mas, 1982, hlm. 29.
11
Indrawati Soewarso, Aspek Hukum Jaminan Kredit, Institut Bankir Indonesia, 2002, Hlm. 97-98.
Cessie dalam kepustakaan hukum diartikan
sebagai penyerahan atau pengalihan hak tagih atau piutang. Hak tagih itu timbul
dari suatu hubungan hukum antara dua pihak yang melakukan transaksi, pihak
yang satu punya kewajiban melakukan pembayaran atau penyerahan barang
(debitur), dan pihak lainnya berhak atas pembayaran atau penerimaan barang-
barang yang diserahkan (kreditur). Hak tagih itu dapat berupa dan terutang dalam suatu akta (tagihan biasa), dapat pula diwujudkan dalam penerbitan surat berharga seperti wesel atau aksep. Cessie tersebut dilakukan dengan membuat akta baik otentik maupun di bawah tangan.Pengalihan ini mengikat para pihak.Tetapi barulah mengikat debitur apabila cessie tersebut diberitahukan kepadanya secara resmi melalui juru sita pengadilan atau secara tertulis diakui dan disetujui oleh debitur. Dengan demikian, dalam cessie terdapat 2 hubungan hukum: (i) hubungan hukum antara kreditur lama yang disebut cedent, dan kreditur baru (cessionaries), yaitu pengalihan hak tagih dari cedent ke cessionaries dan dapat terlaksana tanpa bantuan debitur/cessus; (ii) hubungan hukum antara cessionaries dan cessus yang timbul sebagai akibat hukum tersebut pada (i) akan tetapi baru berkekuatan mengikat cessus apabila kepadanya telah diberitahukan secara tertulis atau disetujui atau diakuinya secara tertulis.
Pengalihan hak tagih utang diatur di dalam Pasal 613 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menentukan bahwa:
Penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya, dilakukan dengan jalan membuat akta otentik atau di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain
12Penyerahan yang demikian bagi si berutang tidak ada akibatnya, melainkan setelah penyerahan itu diberitahukan kepadanya atau secara tertulis disetujui dan diakuinya
1312
Pasal 613 ayat 1 KUH Perdata
13
Pasal 613 ayat 2 KUH Perdata.
Penyerahan tiap-tiap piutang karena surat bawa dilakukan dengan penyerahan surat itu; penyerahan tiap-tiap piutang karena suerat tunjuk dilakukan dengan penyrahan surat disertai dengan endosemen.
142. Kepailitan
Menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disebut Undang-Undang Kepailitan), Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh curator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
15Kreditur adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.
16Debitur adalah orang yang memupnyai utang karena perjanjian atau Undang-Undang yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan.
17Menurut Black’s Law Dictionary, bahwa pengertian pailit dihubungkan dengan
“ketiadamampuan untuk membayar” dari seorang (debitur) atas utang-utangnya yang telah jatuh tempo. Ketiadamampuan tersebut harus disertai dengan suatu tindakan nyata untuk mengajukan, baik yang dilakukan secara sukarela oleh debitur sendiri, maupun atas permintaan pihak ketiga (diluar debitur), suatu permohonan pernyataan pailit ke Pengadilan.Maksud dari pengajuan permohonan tersebut adalah sebagai suatu bentuk pemenuhan azas “publisitas” dari keadaan tidak mampu membayar dari seseorang debitur. Tanpa adanya permohonan
14
Pasal 613 ayat 3 KUH Perdata.
15
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal I, Bab I, Pasal 1, Angka 1.
16
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal I, Bab I, Pasal 1, Angka 2.
17
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal I, Bab I, Pasal 1, Angka 3.
tersebut ke Pengadilan, maka pihak ketiga yang berkepentingan tidak akan pernah tahu keadaan tidak mampu membayar dari debitur. Keadaan ini kemudian akan diperkuat dengan suatu putusan pernyataan pailit oleh Hakim Pengadilan, baik itu yang merupakan putusan yang mengabulkan ataupun menolak permohonan kepailitan yang diajukan.
18Yang berhak mengajukan permohonan pernyataan pailit di Pengadilan adalah
191. Debitur sendiri;
2. Atas permintaan seorang atau lebih krediturya;
3. Kejaksaan untuk kepentingan umum;
4. Dalam hal menyangkut debitur yang merupakan bank, permohonan pernyataan pailit dapat diajukan oleh Bank Indonesia
5. Dalam hal menyangkut debitur yang merupakan perusahaan efek permohonan pernyataan pailit dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal
F. Metode Penelitian
Penelitian merupakan sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk memperkuat, membina serta mengembangkan ilmu pengetahuan.
2018
Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis: Kepailitan, Ed. Pertama, Cet.
Ketiga (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), hlm. 11-12.
19
Ibid., Hlm. 12
20
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cet. Ketiga (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2005), hlm. 3.
Skripsi ini
sebagai hasil penelitian tentu dihasilkan dari penerapan metodologi penelitian
sebagai pertanggungjawaban ilmiah terhadap komunitas pengemban ilmu hukum.
211. Jenis dan sifat penelitian
Skripsi ini merupakan penelitian hukum normatif dan bersifat deskriptif.
Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka.
22Penelitian hukum normatif ini sendiri mencakup:
23a. penelitian terhadap asas-asas hukum, b. penelitian terhadap sistematika hukum, c. penelitian terhadap tahap sinkronisasi hukum, d. penelitian sejarah hukum, dan
e. penelitian perbandingan hukum.
Penelitian hukum normatif sendiri mengacu pada berbagai bahan hukum sekunder,
24yaitu inventarisasi berbagai peraturan hukum nasional dan internasional dalam pengalihan hak tagih utang, jurnal-jurnal dan karya tulis ilmiah lainnya, serta artikel-artikel berita terkait. Sedangkan penelitian deskriptif ialah penelitian yang pada umumnya bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat terhadap suatu populasi atau daerah tertentu
2521
Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi: Penelitian Hukum Normatif, Ed. Revisi (Malang: Bayumedia Publishing, 2008), hlm. 26.
22
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, Ed. Pertama, Cet. Ketujuh (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 13-14.
23
Soerjono Soekanto, Op. cit., hlm. 51.
24
Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Ed. Pertama, Cet. Kedua (Jakarta:
Sinar Grafika, 1996), hlm. 14.
25
Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum: Suatu Pengantar, Ed. Pertama, Cet. Kedua (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1998), hlm. 36.
,dalam
hal ini mengenai pengaturang pengalihan hak tagih utang, mengenai syarat sahnya
suatu pengalihan hak tagih utang serta akibat hukum pengalihan hak tagih utang.
Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin
262. Data
,dalam hal ini tentang praktek pengalihan hak tagih utang di Indonesia.
Pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini, menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) atau studi dokumen (document study). Metode penelitian kepustakaan dilakukan terhadap data yang bersifat sekunder yang ada di perpustakaan.
27Menurut Soerjono Soekanto, data sekunder dalam penelitian hukum terdiri atas tiga bahan hukum, yaitu:
28a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, seperti undang-undang, peraturan pemerintah, konvensi atau perjanjian internasional, dan berbagai peraturan hukum nasional dan internasional yang mengikat, antara lain:
1) Undang-Undang Nomor 37Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti: rancangan undang-undang, hasil- hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum, dan berbagai karya tulis ilmiah yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan ini.
c. Bahan hukum tersier (tertier), yakni bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder;
contohnya adalah kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif, dan seterusnya.
26
Soerjono Soekanto, Op. cit., hlm. 10.
27
Bambang Waluyo, Op. cit., hlm. 13-14.
28
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op. cit., hlm. 13.
Selain itu, bahan tersier ini juga meliputi berbagai bahan primer, sekunder, dan tersier di luar bidang hukum yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan, terutama dari bidang ekonomi.
3. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data diperlukan untuk memperoleh suatu kebenaran dalam penulisan skripsi, dalam hal ini digunakan metode pengumpulan data dengan cara studi kepustakaan (library research), yaitu mempelajari dan menganalisis data secara sistematis melalui buku-buku, surat kabar, makalah ilmiah, internet, peraturan perundang-undangan, dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan materi yang dibahas dalam skripsi ini.
4. Analisis data
Dalam menganalisis data penelitian digunakan analisis normatif kualitatif, yaitu data yang diperoleh kemudian disusun secara sistematis dan selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas dan hasilnya tersebut dituangkan dalam bentuk skripsi. Metode kualitatif dilakukan guna mendapatkan data yang bersifat deskriptif, yaitu data-data yang akan diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini meliputi:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan
kepustakaan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II PENGALIHAN HAK TAGIH UTANG (CESSIE) DALAM PEMBAYARAN UTANG PERSEROAN TERBATAS
Bab ini menguraikan tentang pengertian dari utang menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, pengertian utang menurut para ahli, dan pembagian utang.Serta mengenai pengaturan tentang pengalihan hak tagih utang, pengertian pengalihan hak tagih utang, akibat hukum pengalihan hak tagih utang, para pihak, dan syarat sahnya pengalihan hak tagih utang.Kemudian tentang praktik pengalihan hak tagih utang (cessie) dalam pembayaran utang perseroan terbatas, yang meliputi praktek pengalihan hak tagih utang selama ini dan akibat dari pengalihan hak tagih utang.
BAB III UTANG SEBAGAI SYARAT PAILIT DALAM PERMOHONAN PAILIT PERSEROAN TERBATAS DI PENGADILAN NIAGA Bab ini menguraikan tentang syarat dan putusan pailit di Pendadilan Niaga menurut Undang-Undang No 37 tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang yang meliputi tentang syarat mempailitakan suatu perseroan terbatas dan bagaimana mepailitkan suatu perseroan terbatas.
Kemudian tentang utang sebagai syarat dalam permohonan pailit
perseroan terbatas di pengadilan niaga yang meliputi tentang
syarat-syarat mengajukan pailit perseroan terbatas di pengadilan
niaga. Terakhir tentang prosedur mengajukan pailit perseroan
terbatas di pengadilan niaga yang membahas tentang tata cara
mengajukan pailit perseroan terbatas di pengadilan niaga.
BAB IV KEABSAHAN PENGALIHAN HAK TAGIH UTANG TERHADAP DEBITUR DALAM PERKARA KEPAILITAN
Bab ini menguraikan tentang syarat dan ketentuan sahnya pengalihan hak tagih utang dalam perkara kepailitan serta membahas putusan pengadilan niaga Nomor : 08/Pailit/2013 PN.Niaga/Mdn antara PT. TUNGGUL ULUNG MAKMUR melawan PT. USAHA BINTAN BERSAMA SEJAHTERA.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan bab pernutup dimana akan disimpulkan
mengenai pengalihan hak tagih utang terhadap debitur dan
memberi saran-saran agar dapat diperoleh solusi guna mengatasi
permasalahan pengalihan hak tagih utang dalam perkara kepailitan
yang timbul dimasa yang akan datang.
BAB II
PENGALIHAN HAK TAGIH UTANG (CESSIE) DALAM PEMBAYARAN UTANG PERSEROAN TERBATAS
A. Pengertian tentang Utang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kata utang diambil dari kata Gotisch “Skulan” atau “sollen”, yang berarti harus dikerjakan menurut hukum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, utang adalah kewajiban membayar kembali apa yang sudah diterima, misalnya uang yang dipinjam dari orang lain harus dikembalikan.
29Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sama sekali tidak memberikan rumusan, defenisi, maupun arti dari istilan utang dalam suatu “perikatan”. Dalam ketentuan Pasal 1233 KUH Perdata ingin mengaskan bahwa setiap kewajiban perdata terjadi karena memang dikehendaki oleh pihak-pihak yang terkait dalam perikatan, yang dengan secara sengaja dibuat oleh mereka maupun karena ditentukan oleh
Kewajiban dalam pengertian utang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diatas timbul dari perikatan yang dilakukan antara para subjek hukum.Dalam Pasal 1233 KUH Perdata
menyebutkan bahwa perikatan itu dapat dilahirkan baik karena persetujuan
(perjanjian) atau karena Undang-Undang. Perikatan yang timbul karena perjanjian maupun dari Undang-Undang tentu akan menciptakan hak dan kewajiban bagi para pihak. Kewajiban tersebut terdapat dalam Pasal 1234 KUH Perdata yang menyebutkan “tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu”.
29
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995,
Hlm. 1139.
peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Maka, dapat dilihat bahwa setiap perikatan, baik yang berwujud dalam prestasi untuk memberikan sesuatu, untuk melakukan sesuat, atau untuk tidak melakukan sesuatu, membawa pada kewajiban unttuk mengganti dalam bentuk biaya, rugi dan bunga adalah merupakan suatu bentuk kualifikasi prestasi dalam jumlah tertentu yang mana dapat dinilai dengan uang.
30Menurut Subekti, yang dimaksud dengan perikatan di Buku III KUH Perdata itu adalah :
311. Menyerahkan suatu barang
Suatu hubungan hukum (mengenai harta benda) antara 2 orang, yang memberikan hak kepada satu untuk menuntut barang sesuatu dari lainnya, sedangkan orang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu.
Buku II KUH Perdata mengatur perihal hubungan-hubungan hukum antara orang dengan benda (hak-hak perbendaan).Buku III KUH Perdata mengatur perihal hubungan-hubungan hukum antara orang dengan orang (hak-hak perseorangan), meskipun mungkin yang menjadi objek juga suatu benda.Oleh karena sifat hukum yang termuat dalam Buku III KUH Perdata ini juga dinamakan “hukum
perutangan”.Pihak yang berhak menuntut dinamakan pihak berpiutang atau kreditur, sedangkan pihak yang wajib memenuhi tuntutan dinamakan pihak yang berutang atau debitur. Adapun barang sesuatu yang dapat dituntut dinamakan prestasi yang menurut undang-undang dapat berupa:
2. Melakukan suatu perbuatan 3. Tidak melakukan suatu perbuatan
Dari apa yang dikemukakan oleh Subekti tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dinamakan dengan utang atau kewajiban itu adalah segala kewajiban dan
tanggung jawab dari seorang yang dapat dituntut baik yang timbul karena
perjanjian maupun yang timbul karena perbuatan yang melanggar hukum ataupun
30
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, Jakarta: Raja Grafindo, 2004, Hlm. 6 juncto Hlm. 10.
31
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta: PT.Intermasa, 1985, Hlm. 122-123
yang timbul karena pengurusan kepentingan orang lain yang tidak berdasarkan perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Buku III KUH Perdata.
3232
Fuji Kadriah Zulaika, SH., 2003, Pengertian Utang dalam Kasus Kepailitan (Suatu Analisa Yuridis : Berkaitan dengan Utang dalam Putusan Pailit), Tesis, Sarjana Hukum, Fakultas Hukum Universitas Dipenogoro: Semarang . Hlm. 46
Karena KUH Perdata tidak memberitahukan defenisi atau pengertian apa yang dimaksud dengan “utang”, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah memberikan defenisi atau pengertian mengenai Utang sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (6).
Dalam Pasal 1 Ayat (6) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memberitahukan bahwa:
“Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh Debitur dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada Kreditur untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan
Debitur”.
Dari isi Pasal 1 ayat (6) yang sudah disebutkan di atas, dapat kita lihat bahwa undang-undang menyatakan kewajiban yang timbul karena perjanjian antara pihak Debitur dan pihak Kreditur harus dapat dipenuhi oleh pihak Debitur karena
apabila pihak Debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya maka pihak kreditur
akan atau dapat mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan pihak Debitur.
B. Pengaturan Tentang Pengalihan Hak Tagih Utang
Pengalihan hak tagih utang atau biasa dikenal dengan kata Cessie merupakan istilah yang diciptakan oleh doktrin, untuk menunjuk kepada tindakan pengalihan hak tagih utang, sebagaimana diatur oleh Pasal 613 BW Penyerahannya dilakukan dengan membuat akta. Akta pengahilan hak tagih utang disebut akta Cessie. Cessie biasanya berupa pengalihan piutang atas nama kepada pihak ketiga, dimana seorang menjual hak tagihnya kepada orang lain.
Dalam KUH Perdata tidak mengenal istilah cessie, tetapi di dalam Pasal 613 ayat 1 KUH Perdata disebutkan bahwa “penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tidak bertubuh lainya dilakukan dengan jalan membuat sebuah akta otentik atau akta di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain”. Dari hal tersebut dapat dipelajari bahwa yang diatur dalam Pasal 613 ayat 1 adalah penyerahan tagihan atas nama dan benda-benda tak bertubuh lainnya. Adapun yang dimaksud dengan benda- benda tak bertubuh lainnya dapat disimpulkan pasti bukan tagihan, karena semua penyerahan tagihan sudah mendapat pengaturan dalam Pasal 613 KUH Perdata.
Oleh karena itu yang disebut dengan cessie tidak meliputi “benda tak bertubuh lainnya” karena bukan merupakan tagihan atas nama. Cessie juga dapat disebut sebagai sarana untuk memperoleh hak milik.
33Piutang yang dimaksud di dalam Pasal 613 KUH Perdata adalah hak tagih yang timbul dari adanya hubungan hukum pinjam meminjam uang antara pihak yang meminjamkan (si berpiutang) dengan pihak yang meminjam (si
33
Rachmad Setiawan dan J. Satrio, Penjelasan Hukum tentang Cessie, Jakarta: PT
Gramedia,2010, Hlm. 39.
berhutang).Apabila memperhatikan ketentuan Pasal 613 KUH Perdata, pengaturan di dalam Pasal 613 KUH Perdata adalah mengenai penyerahan piutang atas nama dan kebendaan tidak bertubuh lainnya, sehubungan dengan kata
“piutang” di dalam Pasal 613 KUH Perdata, hal ini menunjukkan bahwa yang dapat dialihkan adalah suatu piutang dan bukanlah suatu hutang. Sehubungan degan itu, maka hanya kreditur yang dapat melakukan pengalihan atas hutangnya.Ketentuan yang diatur di dalam Pasal 613 KUH Perdata hanya dapat diberlakukan untuk melakukan penggantian kreditur dan tidak dapat diberlakukan untuk melakukan penggantian debitur.
34Hal ini diatur dalam Pasal 613 KUH Perdata terletak pada Bagian Bab Ketiga buku II KUH Perdata yang mengatur tentang cara memperoleh hak milik, hal ini dikaitkan dengan ketentuan umum tentang cara memperoleh hak milik dalam Pasal 548 KUH Perdata salah satunya melalui penyerahan. Agar peralihan hak milik melalui penyerahan sah, maka harus dipenuhi syarat (Pasal 548 KUH Perdata) antara lain harus didasarkan atas suatu peristiwa perdata dan pihak yang menyerahakan harus mempunyai kewenangan untuk mengambil tindakan/tindakan hukum pemilikan atas benda yang diserahkan atas tagihan atas nama yang bersangkutan.
351. Pengertian Cessie menurut Black Law
Ada beberapa para ahli yang mencoba mengartikan kata Cessie, diantaranya adalah :
36
34
Puteri Nataliasari, 2010, Pengalihan Piutang secara Cessie dan Akibatnya terhadap Jaminan Hak Tanggungan dan Jaminan Fidusia, Skripsi, Sarjana Hukum, Fakultas Hukum Universitas Indonesia: Jakarta. Hlm. 16-17.
35
Ibid, Hlm. 40.
36
Ibid,
Dalam Black Law Dictonary, cessie atau istilah bahasa Inggris yang digunakan adalah cession yang memiliki 3 arti, yaitu
a. The act of relinquishing property rights,
b. The relinquishing or transfer of land from one state to another, esp. when a state defeated in war gives up the land as part of the price of piece, dan
c. The land so relinquished of transferred
Dengan demikian, cessie dalam arti definisi ini memiliki hubungan antara penyerahan hak-hak property yang disempitkan dalam bidang pertanahan.
Seorang yang melakukan penyerahan tanah tersebut dalam istilah bahasa Inggris disebut cesser, yang didefenisikan dalam sejarahnya sebagai, “a tenant whose failure to pay rent or perform prescribed services gives the landowner the right to recover possession of the land”. Defenisi kedua yang menjelaskan tentang cesser ini adalah “a termination of a right or interest”.Istilah cesser ini juga dikenal dengan istilah Cessor atau Cessure.
2. Pengertian Cessie menurut Dictionary of Law (4
thEdition)
37Cessie adalah penyerahan utang piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya, dilakukan dengan jalan sebuah akta otentik atau di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain.
Penyerahan yang demikian bagi siberutang tidak ada akibatnya, melainkan setelah penyerahan itu diberitahukan kepadanya, atau secara tertulis disetujui dan
diakuinya. Penyerahan tiap-tiap piutang karena surat bawa dilakukan dengan
37
Ibid, Hlm. 41.
penyerahan surat itu. Penyerahan tiap-tiap piutang karena surat tunjuk dilakukan dengan penyerahan surat disertai dengan endosemen.
3. Pengertian Cessie menurut Dictionary of Law (4
thEdition)
38Cessie adalah pelepasan, pengalihan suatu utang atau tagihan;
pennggantian seorang kreditur oleh kreditur lainnya, kebalikan dari delegatie.Cessie tidak dianggap sebagai suatu betuk pembaharuan utang.Orang yang mengalihkan disebut cedent, yang menerima disebut cessionaries.Debitur dari tagihan disebut debitur/cessus. Cessie dari tagihan atas untuk terjadi dengan penyerahan suratnya dengan tagihan atas nama dengan akta cessie dan dari tagihan atas pemberitahuan order dengan endosemen.
4. Pengertian Cessie menurut Land Computerization
39Cessie adalah pengalihan hak atas kebendaan tak bertubuh (intangible goods) kepada pihak ketiga. Kebendaan tak bertubuh disini biasa berbentuk piutang atas nama. Cessie adalah suatu perbuatan hukum mengalihkan piutang orang atau kreditur-kreditur pemegang hak tanggungan kepada pihak lain,
Cessie adalah penyerahan piutang atas nama yang dilakukan dengan cara membuat akta otentik atau akta di bawah tangan, kemudian dilakukan
pemberitahuan mengenai adanya penyerahan itu oleh juru sita kepada debitur dari piutang tersebut.
5. Pengertian Cessie menurut Prof. Subekti
40Cessie adalah pemindahan hak piutang, yang sebetulnya merupakam penggantian orang berpiutang lama, yang dalam hal ini dinamakan cedent, dengan
38
Ibid.
39
Ibid.
40
Subekti, Loc.Cit.
seorang beriputang baru, yang dalam hubungan ini dinamakan
cessionaries.Pemindahan itu harus dilakukan dengan suatu akta otentik atau di bawah tangan; jadi tak boleh harus dilakukan dengan lisan atau dengan
penyerahan piutang saja.Agar pemindahan berlaku terhadap si berutang, akta cessie tersebut harus diberitahukan padanya secara resmi (betekend).Hak piutang dianggap telah berpindah pada waktu akta cessie itu dibuat; jadi tidak pada waktu akta itu diberitahukan pada si berutang.
6. Pengertian Cessie menurut Prof. Mariam Daruz Badrulzaman
41Cessie adalah suatu perjanjian dimana kreditur mengalihkan piutangnya (atas nama) kepada pihak lain. Cessie merupakan perjanjian kebendaan yang didahului suatu “title” yang merupakan perjanjian obligatoir. Ada hal menarik, sementara dalam Pasal 613 ayat 2 KUH Perdata mewajibkan adanya
pemberitahuan pada debitur/cessus, tetapi Prof. Mariam Daruz menyebutkan tidak perlu pemberitahuan pada debitur/cessus.
7. Pengertian Cessie menurut Prof. Dr. Sri Sudewi Massjchoen Sofwan
42Cessie ialah penyerahan piutang atas nama yang dilakukan dengan cara membuatkan akta otentik atau akta di bawah tangan, kemudian dilakukan
pemberitahuan mengenai adanya penyerahan itu olh juru sita kepada debitur dari piutang tersebut. Peralihan piutang atas nama demikian dipakai sebagai jaminan (tambahan jaminan) utang, dalam praktik perbankan. Menurut sejarahnya cessie sebagai jaminan, dalam praktik perbankan dan notariil, sudah dikenal sejak 1974, jadi jauh sebelum timbulnya lembaga fidusia.
41
Mariam Daruz Badrulzaman, Loc.Cit.
42
Sri Sudewi Masjchoen Sofwan, Loc.Cit.
8. Pengertian Cessie menurut Suharnoko
43Cessie adalah cara pengalihan piutang atas nama yang diatur dalam Pasal 613 KUH Perdata. Pengalihan tersebut terjadi atas dasar suatu peristiwa perdata, misalnya jual-beli antara kreditur lama dengan calon kreditur baru.Dalam cessie utang piutang yang lama tidak hapus, hanya beralih kepada pihak ketiga sebagai kreditur baru.Dalam cessie debitur selamanya pasif, dia hanya diberitahukan tentang adanya penggantian kreditur, sehingga dia harus membayar kepada kreditur baru.
9. Pengertian Cessie menurut Ignatius I. Widyadharma
44Cessie adalah suatu peralihan piutang atas nama, yaitu suatu kewajiban dari cessus guna membayar kepada cedent (kreditur lama), telah dialihkan atau dilimpahkan oleh cedent kepada cessionaries (kreditur baru). Atas
peralihan/pelimpahan tersebut diperlukan (a) pelimpahan peralihan dalam suatu cessie harus dilakukan dalam suatu akta otentik atau akta di bawah tangan. (b) Pihak debitur, yaitu disebut cessus, layak diberitahu dan pemberitahuannya harus dilakukan secara resmi yakni lewat juru sita (HGH 29 Oktober 1931.T 35 hlm.
80). Atau dapat diketahuinya dengan cara si cessus secara tertulis telah menerima atau mengakui/613 ayat 2 BW.
10. Pengertian Cessie menurut Herlien Budiono
45Cessie merupakan pengalihan atau pengoperan hak tagih yang di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) digunakan istilah Penyerahan Piutang Atas Nama mempunyai sifat dualistis. Cessie diatur dalam
43
Suharnoko, Loc.Cit.
44
Ignatius I. Widyadharma, Loc.Cit.
45
Rachmad Setiawan dan J. Satrio, Op.Cit.,Hlm. 44.
Buku II KUH Perdata pada bagian yang mengatur kebendaan, selain merupakan salah satu bentuk penyerahan (levering) seperti halnya penyerahan pada benda bergerak karena memperoleh hak milik; tetapi cessie juga dari segi hukum perikatan dapat dikategorikan sama dengan lembaga dan sarana hukum di mana muncul penggantian kreditur seperti halnya pada suborgasi dan novasi subjektif aktif (penggantian kreditur). Dalam cessie diperlukan dua formalitas: (i) dibuatnya akta dalam bentuk akta otentik atau akta di bawah tangan, (ii) diberitahukan cessie tersebut kepada debitur/cessus yang dapat pula dilakukan dengan penerimaan atau pengakuan tertulis dari debitur/cessus. Sedangkan isi akta cessie harus memuat:
(i) hak tagih yang dialihkan, (ii) nama-nama dari cedent dan cessionaries dan debitur/cessus, (iii) keterangan pernyataan dari pihak cedent dan cessionaries atas pengalihan hak tagih, (iv) tanda-tangan dari cedent dan cessionaries. Biasanya dalam akta cessie diatur pula beding-beding tertentu, hak dan kewajiban masing- masing cedent dan cessionaries.Ditentukan pula siapa yang harus melakukan pemberitahuan (betekining) kepada debitur/cessus.Dalam hal tidak ditentukan siapanya, maka masing-masing pihak berhak memberitahukan pada
debitur/cessus.
Dari pandangan-pandangan para ahli hukum yang sudah disebutkan di atas dapat kita ketahui bahwa Cessie merupakan suatu cara untuk mengalihkan dan/atau suatu cara untuk menyerahkan hak atas suatu piutang atas nama.
Di Indonesia, pengaturan mengenai Cessie diatur di dalam buku II, Pasal 613 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang menyebutkan bahwa penyerahan piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya dilakukan dengan
membuat akta autentuik atau akta di bawah tangan, dengan mana hak-hak
kebendaan tersebut dilimpahkan kepada orang lain. Selanjutnya pada Pasal 613 ayat 2 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa supaya
penyerahan piutang dari kreditur lama kepada kreditur baru mempunyai akibat hukum kepada debitur, maka penyerahan tersebut harus diberutahukan kepada debitur , atau debitur secara tertulis telah menyetujuinya atau mengakuinya.
Piutang atas nama adalah piutang yang pembayarannya dilakukan kepada pihak yang namanya tertulis dalam surat piutang tersebut dalam hal ini kreditur lama.
Akan tetapi dengan adanya pemberitahuan tentang pengalihan piutang atas nama kepada debitur, maka debitur terikat untuk membayar kepada kreditur baru dan bukan kepada kreditur lama.
46Penyerahan piutang atas nama yang diatur dalam Pasal 613 Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata, adalah suatu yurisdische levering atau perbuatan hukum pengalihan hak milik. Hal ini diperlukan karena dalam system Kitab Undang- Undang Hukum Perdata, perjanjian jual beli, termasuk jual-beli piutang hanya bersifat konsensual obligatoir.Artinya baru meletakkan hak dan kewajiban bagi penjual dan pembeli, namun belum mengalihkan kepemilikan. Pasal 1458 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan bahwa jual-beli dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak, seketika setelah penjual dan pembeli mencapai sepakat tentang barang dan harga, meskipun kebendaan itu belum diserahkan dan harga belum dibayar. Selanjutnya, Pasal 1459 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan bahwa hak milik atas benda yang dijual tidaklah beralih
46
Suharnoko dan Endah Hartati, Doktrin Suborgasi, Novasi dan Cessie, Cet. Ke-3,
Jakarta: Kencana Prenada Media, 2008, hlm 102-103.
kepada pembeli selama penyerahannya belum dilakukan menurut Pasal 612, 613, dan 616 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
47Dari ketentuan Pasal 613 dapat kita simpulkan bahwa secara tidak langsung, disana juga diatur tentang pembuktian. Karena penuangan dalam suatu akta merupakan syarat yang tidak bisa disimpangi/disingkirkan, maka bisa kita
katakana, bahwa penyerahan tagihan atas nama tidak bisa dibuktikan dengan cara lain daripada melalui suatu akta, yang disebut dengan akta cessie. Dan kalau penerimaannya dilakukan dalam akta tersendiri dengan disertai dengan akta penerimaannya. Dari akta itu harus nampak tindakan para pihak, bahwa cedent menyerahkan tagihan atas nama itu ke dalam pemilikan cessionaries dan cessionaries menerima penyerahan tagihan atas nama itu. Jadi, akta cessie berfungsi sebagai alat bukti dan merupakan satu-satunya alat bukti.
48Dalam ilmu hukum dikenal dua doktrin pengalihan hak milik, yaitu teori kausal dan teori abstrak.Menurut teori kausal, keabsahan suatu penyerahan hak milik (levering) tergantung dari sah atau tidaknya perjanjian obligatoir yang
mendasarinya.Jika perjanjian obligatoirnya sah maka penyerahan hak miliknya juga sah, artinya jika perjanjian jual-beli piutangnya sah, maka cessie juga sah dan sebaliknya jika perjanjian jual-beli piutangnya tidak sah, maka cessie juga tidak sah. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menganut system kausal, hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 584 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyebutkan antara lain bahwa hak milik diperboleh dengan cara penyerahan (misalnya dengan cara cessie), berdasarkan atas suatu peristiwa
47
Ibid.,Hlm, 103.
48
J. Satrio, Cessie Tagihan Atas Nama, Jakarta: Yayasan DNC Permata Kuningan, 20012,
Hlm. 60.
perdata untuk memindahkan hak milik atau disebut rechts title (misalnya perjanjian jual-beli piutang) dan dilakukan oleh orang yang berwenang untuk mengalihkan hak milik. Sedangkan teori yang kedua adalah teori abstrak, dimana saha tau tidaknya levering tidak tergantung pada sah atau tidaknya perjanjian obligatoirnya.Artinya meskipun perjanjian obligatoir yang mendasari levering tidak sah, tetapi levering atau pengalihan hak miliknya tetap sah.Kosekuensinya pemiliknya tidak mempunyai hak revindicatie lagi karena hak milik memang sudah beralih.
49Ketentuan Pasal 1977 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan bahwa barang siapa menguasai barang bergerak berwujud, dianggap sebagai pemiliknya.Ketentuan ini merupakan pengecualian dari ketentuan Pasal 584 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa untuk sahnya
penyerahan hak milik maka penyerahan tersebut harus didasarkan pada suatu persitiwa perdata atau rechtstitle yang sah dan dilakukan oleh orang yang berwenang.Dengan demikian, Pasal 1977 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, melindungi pembeli yang beritikad baik.Meskipun pembeli memperoleh barang bergerak bukan dari si pemiliknya dia tetap dilindungi dari gugatan si pemilik sejati.
50Mengenai berlakunya ketentuan Pasal 1977 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sebagai pengecualian dari Pasal 584 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dikenal dua teori, yaitu eigendoms theory dan legitimatie theory. Teori yag pertama menghilangkan dua syarat sahnya pengalihan hak milik, yaitu
49
Suharnoko dan Endah Hartati, Op.Cit.,Hlm. 107-108.
50
Ibid.,Hlm. 108-109.
didasarkan pada rechtstitel yang sah dan harus dilakukan oleh orang yang berwenang, sedangkan teori yang kedua hanya menghilangkan syarat bahwa penyerahan hak milik harus dilakukan oleh orang yang berwenang.
511. Asas nemo plus iurist
Dalam suatu transaksi pengalihan hak tagih atau Cessie terdapat beberapa asas hukum, yaitu sebagai berikut :
52
Asas nemo plus iurist adalah suatu asas yang mengajarkan bahwa seseorang tidak memberikan/mengalihkan kepada pihak lain melebihi dari apa yang dipunyainya. Dalam hubungannya dengan tindakan cessie, maka pemberlakuan asas nemoplus jurist ini adalah bahwa ketika piutang dialihkan secara cessie, maka piutang tersebut haruslah maka pihak yang mengalihkannya, tidak dapat mengalihkan melebihi dari apa yang menjadi miliknya.
2. Asas cessie sebagai lembaga assesoir
Assesoir berarti tambahan/ikutan. Perjanjian yang bersifat assesoir adalah perjanjian yang senantiasa dikaitkan dengan perjanjian pokok.
Dalam praktik perbankan, perjanjian pokoknya itu berupa perjanjian pemberian kredit, dengan kesanggupan memberikan jaminan seperti gadai, fidusia, hipotik, dan lain-lain. Kemudian diikuti perjanjian penjaminan secara tersendiri yang merupakan tambahan yang dikaitkan dengan perjanjian pokok tersebut.
5351
Ibid.,Hlm. 109.
52
J.Satrio,Cessie, Subrogatie, Novatie, Kompensatie,&Percampuran Hutang, Penerbit Alumni, Bandung, 1999,Hlm. 27.
53
Sri Soedewi, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Perorangan, Liberty Offset Yogyakarta, Yogyakarta, 2007,Hlm. 37.
Dalam hubungannya
dengan cessie, dikatakan assesoir karena tindakan cessie tersebut bergantung pada eksistensi piutang yang dialihkan dan kontrak yang menghasilkan piutang tersebut. Konsekuensi yuridis dengan berlakunya prinsip cessie ini adalah bahwa jika dengan alasan apapun piutang yang dialihkan tidak sah atau kontrak yang melahirkan piutangnya tidak sah, maka cessie tersebut juga menjadi tidak sah.
3. Asas kontrak nyata (riil)
Yang dimaksud dengan kontrak nyata (riil) adalah suatu kontrak yang baru dianggap terjadi setelah benda yang merupakan objek kontrak tersebut dialihkan kepada pihak lain (pihak yang menerima peralihan).
Sebelum levering dilakukan, maka kontrak dianggap belum ada.
Dalam hubungan dengan perbuatan cessie ini, maka berdasarkan asas kontrak nyata, maka cessie baru ada dan mengikat pada saat piutang tersebut dialihkan. Berdasarkan asas kontrak nyata ini, jika seorang berjanji untuk mengalihkan piutangnya di kemudian hari, meskipun perjanjian yang demikian sudah mengikat secara obligatoir, tetapi cessie belum terjadi, meskipun piutang tersebut mungkin pada saat dibuat sudah ada dan sudah menjadi milik pihak yang akan mengalihkan tersebut. Hal ini adalah wajar, mengingat tindakan cessie yang dimaksudkan dalam KUH Perdata adalah tindakan penyerahan (levering) itu sendiri.
54Di lain sisi, mengingat bahwa yang dialihkan di sini adalah benda tak bertubuh, sehingga pengalihan benda tersebut dapat saja dilakukan
54
KUH Perdata Pasal 613
meskipun fisik dari benda tersebut tidak ada (tidak dipindahtangankan) pada saat proses pengalihan tersebut. Berdasarkan pendapat tersebut, ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa cessie terhadap tagihan yang akan ada di masa yang akan datang sah-sah saja dilakukan.
4. Asas levering tertulis
Berdasarkan asas ini, maka tindakan cessie haruslah dibuat dalam bentuk tertulis (akta cessie), baik itu dengan akta otentik
55atau akta di bawah tangan.
56Konsekuensi hukum jika akta tersebut tidak dibuat adalah bahwa tindakan cessie tersebut menjadi batal demi hukum. Dengan telah dibuatnya akta cessie, maka telah terjadilah tindakan atau perbuatan hukum cessie, walaupun belum diberitahukan kepada debitur mengenai adanya pengalihan tersebut. Pemberitahuan hanya dimaksudkan agar debitur mengetahui adanya pengalihan hak tersebut kemudian terikat oleh adanya cessie itu.
.
57
55
Akta otentik adalah akta/surat yang dibuat pejabat umum yang diberi wewenang untuk itu, yang mempunyai kekuatan sebagai keterangan resmi dari pejabat tersebut, menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh Undang – Undang. Pejabat yang dimaksud, antara lain, notaris, panitera, jurusita, pegawai pencatat sipil, hakim, dan sebagainya.
56
Akta di bawah tangan adalah akta yang dibuat untuk pembuktian oleh para pihak tanpa bantuan dari seorang pejabat berwenang. Jadi, semata – mata dibuat antara para pihak yang berkepentingan. Misal, kuitansi, surat- surat, dan sebagainya.
57
Sri Soedewi, Op.cit., Hlm. 68.
Jika setelah dibuat akta cessie kemudian para
pihak ternyata berubah pemikiran sehingga cessie ingin dibatalkan,
maka dapat ditempuh cara membuat cessie lagi kepada kreditur semula
dengan suatu akta tertulis lagi. Jika sudah diberitahukan kepada debitur
atau debitur sudah menyetujuinya, maka pemberitahuan atau
persetujuan dari debitur tersebut perlu dilakukan lagi. Inilah yang
disebut dengan retro cessie.
Proses retro cessie ini misalnya diperlukan dalam hal tidak tertagihnya piutang yang sudah dialihkan dengan anjak piutang (dengan hak regres), tetapi kemudian pihak pembeli piutang bermaksud untuk menggunakan hak regresnya.
5. Asas transparansi kepada debitur
Dalam KUH Perdata disyaratkan agar dalam melakukan tindakan cessie, unsur transparansi khususnya transparansi kepada debitur harus benar-benar dikedepankan. Dalam hal ini ditentukan bahwa:
• Tindakan cessie harus diberitahukan (tertulis atau lisan) kepada debitur, atau
• Debitur menyetujuinya dan mengakuinya secara tertulis.
Konsekuensi hukum dari tidak dipenuhinya syarat transparansi ini memang tidak sampai mengakibatkan gagalnya tindakan cessie tersebut. Tindakan cessie tetap sah dan mengikat secara hukum, hanya saja tindakan tersebut tidak berpengaruh/tidak mempunyai akibat hukum terhadap debitur. Artinya, debitur dapat menolak untuk membayar utangnya kepada kreditur yang lama. Demikian pula pihak kreditur baru tidak dapat lagi menolak atau membatalkan cessie tersebut secara sepihak hanya karena alasan pihak debitur tidak mengetahui adanya cessie tersebut.
C. Praktik Pengalihan Hak Tagih Utang (Cessie) dalam Pembayaran Utang
Perseroan Terbatas
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita jumpai kasus pengalihan hak tagih utang atau cessie. Dalam Pasal 613 ayat 1 BW yang berbunyi sebagai berikut :
“Penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya, dilakukan dengan jalan membuat sebuah akta otentik atau di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain”
Di dalam pasal tersebut diatur dua pokok, yaitu penyerahan “tagihan atas nama”
dan penyerahan “benda tak bertubuh lainnya”. Adapun yang dimaksud dengan
“benda tak bertubuh lainnya” adalah benda tak bertubuh yang bukan berupa tagihan atas nama dan bahkan yang bukan berupa tagihan. Sebab penyerahan tagihan atas tunjuk (aan toonder) dan tagihan kepada order mempunyai caranya sendiri, sebagaimana diatur dalam Pasal 613 ayat 3 BW.
58Berdasarkan ciri, krediturnya tertentu dan diketahui dengan baik oleh debitur.
59Tagihan kepada order adalah tagihan-tagihan yang menunjuk orang tertentu kepada siapa tagihan harus dilunasi, tetapi disertai dengan hak untuk
memindahkannya kepada orang lain melalui endosemen,
60sedangkan tagihan atas tunjuk (aan toonder) adalah tagihan-tagihan yang krediturnya (sengaja dibuat, demi untuk memudahkan pengalihannya) tidak tertentu. Untuk mudahnya orang menyebut tagihan atas nama sebagai semua tagihan yang bukan tagihan kepada order dan juga bukan tagihan atas tunjuk atau aan toonder.
6158
Rachmad Setiawan dan J. Satrio, Op.Cit.,Hlm. 3.
59
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perdata tentang Persetudjuan Tertentu, Bandung:
Vorkink-Van Hoeve, 1959, Hlm. 37.
60
J. Satrio, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007, Hlm.106.
Perlu juga diketahui
61