• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGALIHAN HAK TAGIH UTANG (CESSIE)

C. Praktik Pengalihan Hak Tagih Utang (Cessie) dalam

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita jumpai kasus pengalihan hak tagih utang atau cessie. Dalam Pasal 613 ayat 1 BW yang berbunyi sebagai berikut :

“Penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya, dilakukan dengan jalan membuat sebuah akta otentik atau di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain”

Di dalam pasal tersebut diatur dua pokok, yaitu penyerahan “tagihan atas nama”

dan penyerahan “benda tak bertubuh lainnya”. Adapun yang dimaksud dengan

“benda tak bertubuh lainnya” adalah benda tak bertubuh yang bukan berupa tagihan atas nama dan bahkan yang bukan berupa tagihan. Sebab penyerahan tagihan atas tunjuk (aan toonder) dan tagihan kepada order mempunyai caranya sendiri, sebagaimana diatur dalam Pasal 613 ayat 3 BW.58

Berdasarkan ciri, krediturnya tertentu dan diketahui dengan baik oleh debitur.59 Tagihan kepada order adalah tagihan-tagihan yang menunjuk orang tertentu kepada siapa tagihan harus dilunasi, tetapi disertai dengan hak untuk

memindahkannya kepada orang lain melalui endosemen,60 sedangkan tagihan atas tunjuk (aan toonder) adalah tagihan-tagihan yang krediturnya (sengaja dibuat, demi untuk memudahkan pengalihannya) tidak tertentu. Untuk mudahnya orang menyebut tagihan atas nama sebagai semua tagihan yang bukan tagihan kepada order dan juga bukan tagihan atas tunjuk atau aan toonder.61

58Rachmad Setiawan dan J. Satrio, Op.Cit.,Hlm. 3.

59Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perdata tentang Persetudjuan Tertentu, Bandung:

Vorkink-Van Hoeve, 1959, Hlm. 37.

60J. Satrio, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007, Hlm.106.

Perlu juga diketahui

61Hartono Seorjopratiknjo, Utang Piutang, Perjanjian-Perjanjian Pembayaran dan Jaminan Hypotik, Yogyakarta: Seksi Notariat Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 1984,

bahwa benda tak bertubuh diluar tagihan atas nama, seperti yang disebutkan dalam Pasal 613 BW, tentunya bukan berupa tagihan, salah satu contohnya adalah saham perseroan.

Selanjutnya karena Pasal 613 BW berada dalam Bagian Kedua Buku II BW di bawah judul “Tentang Cara Memperoleh Hak milik”, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan penyerahan dalam Pasal 613 BW adalah penyerahan ke dalam kepemilikan dari orang yang menerima penyerahan itu.

Tindakan penyerahan tidak pernah berdiri sendiri, tindakan tersebut selalu merupakan konsekuensi lebih lanjut dari suatu peristiwa hukum, yang

mewajibkan orang untuk menyerahkan sesuatu yang disini berupa tagihan atas nama atau suatu benda tak bertubuh lainnya. Hubungan hukum yang mewajibkan adanya penyerahan disebut hubungan hukum obligatoir, yang bisa timbul dari perjanjian ataupun undang-undang.62

Peristiwa yang menjadi dasar penyerahan yang disebut peristiwa perdata atau rectstitel. Rechtstitel adalah peristiwa yang menimbulkan perikatan-perikatan diantara dua pihak, dimana yang satu berkedudukan sebagai kreditur dan pihak lain berkedudukan sebagai debitur. Seperti yang telah disebutkan diatas, orang-orang menyebutkan peristiwa perdata atau rechtsitel sebagai hubungan yang menjadi dasar cessie.63

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, atas peristiwa cessie, saya akan coba jelaskan dengan peristiwa konkret fiktif seperti berikut ini. Seorang kreditur, Hlm.62; J. Satrio, Cessie, Suborgatie, Novasi, Kompensasi dan Pencampuran Utang, Bandung:

Alumni, 1999, Hlm.4

62Rachmad Setiawan dan J. Satrio, Op.Cit.,Hlm. 4.

63Ibid.

kita sebut saja A, mempunyai tagihan (atas nama) terhadap seorang debitur, yang kita sebut saja, B. karena terdesak kebutuhan uang, telah menjual tagihannya terhadap B, kepada C. perjanjian jual-belinya telah ditutup. Jadi, hubungan hukum antara A dengan B kita sebut hubungan hukum awal. Dalam hubungan hukum awal ada A (kreditur) dan B (debitur). Pada waktu A menjual tagihannya terhadap B kepada C, maka dalam hubungan hukum antara A dan C, B berkedudukan sebagai pihak ketiga. Karena cessie dari A kepada C bisa terjadi diluar kerjasama B, maka C perlu mendapatkan jaminan bahwa sesudah cessie, B tidak lagi membayar utangnya yang sah kepada A (kreditur-asal), tetapi hanya kepada dirinya (C). Untuk itu harus ada mekanisme yang bisa mengikat B, agar selanjutnya tidak bisa lagi membayar secara sah kepada A. sebaliknya, B perlu ada pegangan kepada siapa ia selanjutnya harus membayar agar utangnya lunas.64

Suatu perikatan lunas (maksudnya kewajiban perikatannya menjadi hapus) dengan pembayaran (Pasal 1381 BW), dan kita katakan lunas, kalau pembayaran itu sudah diterima dan apa yang dibayarkan telah menjadi milik kreditur. Kalau kita membaca Pasal 613 BW, disana terdapat pernyataan “dengan membuat akta otentik atau di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu

dilimpahkan kepada orang lain”. Maka dari redaksi seperti itu ada dasar untuk menyimpulkan bahwa dengan selesainya akta cessie, maka hak milik sudah berpindah dari cedent kepada cessionaries.Ini berlaku terjadap semua, termasuk terhadap cessus. Jadi tidak benar kalau dikatakan terhadap debitur, cessie baru berlaku setelah kepada debitur dikirim surat juru sita.65

64Ibid.,Hlm. 5.

65Ibid.,Hlm. 19.

Karena hak milik sudah beralih dengan ditandataganinya akta cessie, maka perumusan “cessie” tidak mungkin meliputi penyerahan “benda tak bertubuh lainnya”, karena tidak semua penyerahan benda tak bertubuh lainnya (misalnya saham) sudah menjadikan si penerima menjadi pemilik dari saham yang

diserahkan, karena bukankah untuk itu masih diperlukan adanya balik nama dalam daftar pemegang saham dalam PT ybs. (Pasal 48, Pasal 50 sub 1, 3, Pasal 51 jo Pasal 56 UUPT)66

Dalam praktek, mengenai saat beralihnya tagihan.Pengadilan (dilihat dari beberapa putusannya) berpendapat bahwa dengan telah selesai ditandataganinya akta cessie, maka hak tagih yang dialihkan sudah menjadi milik

cessionaries.67Pengadilan juga berpendapat bahwa dengan ditandataganinya akta cessie oleh cedent dan cessionaries, maka hak milik atas tagihan telah beralih kepada cessionaries.68Jadi agak janggal kalau ada yang mengaitkan masalah pemberitahuan dengan jual-beli piutang.69

66Ibid.

67Putusan MA No. 364 K/Pdt/2002, ttgl. 13 Maret 2007; PT bandung No.39/Pdt/2004/PT Bdg., ttgl. 22 Desember 2004.

68Putusan MA No. 364 K/Pdt/2006, ttgl. 13 Maret 2007.

69Putusan MA. No. 48 K/Pdt/2000, ttgl. 8 Oktober 2002, dimuat dalam Varia Peradilan, Tahun XVIII No. 216, September 2003, Hlm. 30.

Jadi, pengadilan berpendapat bahwa dengan ditandataganinya akta cessie maka pengalihan hak milik sudah terjadi tanpa perlunya pemberitahuan.

Dalam transaksi bisnis di Indonesia saat ini, akta cessie biasa dibuat dalam bentuk

“Assignment Deed”. Hal-hal pokok yang biasanya diatur didalam assignment deed adalah sebagai berikut:

1. Para pihak, yaitu pihak yang memiliki piutang (Transferor) dan pihak yang akan menerima pengalihan piutang (Transferee);

2. Pernyataan pengalihan piutang oleh Transferor kepada Transferee dan pernyataan penerimaan pengalihan piutang tersebut oleh Transferee dari Transferor

3. Syarat adanya pemberitahuan dari Transferor kepada pihak yang berhutang dan penegasan si berutang ini bahwa ia menerima pengalihan hutangnya (atau piutang si Transferor) kepada Transferee.

Akta cessie biasanya dibuat dalam hubungan dengan perjanjian hutang piutang biasa dalam konteks perdagangan (pembelian dan penjualan barang dagangan secara cicilan), perjanjian pinjaman (kredit), dan anjak piutang (factoring).70

1. Piutang beralih dari cedent kepada cessionaries.

Pengalihan hak tagih atau cessie hanys bisa dilakukan sepanjang hutang yang dicessiekan tersebut berasal dari suatu kontrak atau perikatan lainnya

“berdasarkan undang-undang yang bukan perbuatan melawan hukum”. Cessie tagihan yang berasal dari suatu perbuatan melawan hukum yang tidak mungkin dilakukan, karena cessi yang demikian akan melanggar ketertiban umum, sehingga tidak mempunyai akibat hukum apapun. Dengan adanya cessie, akibat hukum yang terpenting adalah:

2. Setelah terjadinya cessie, kedudukan cessionaries menggantikan tempat kedudukan cedent yang berarti segala hak yang dimiliki oleh

70Budi Nugraha Wardhana, Cessie adalah??,

budinugrahawardhana.blogspot.com/2013/02/cessie-adalah.html?m=1, terakhir diakses tanggal 30 Juni 2014

cedent terhadap cessus dapat digunakan oleh cessionaries sepenuhnya.71

Dari keseluruhan proses transaksi cessie, ada tiga macam hubungan hukum yang terjadi yaitu sebagai berikut:

a. Hubungan utang piutang lama antara pihak kreditur lama dengan pihak debitur.

b. Hubungan pengalihan piutang antara pihak kreditur lama dengan pihak kreditur baru.

c. Hubungan utang piutang baru antara pihak kreditur baru dengan pihak debitur.72

71Muhamad Rizky Djangkarang, 2013, Aspek Hukum Pengalihan Hak Tagihan Melalui Cessie, Jurnal Hukum, Hlm. 4.

72Ibid.,Hlm. 5.

BAB III

UTANG SEBAGAI SYARAT PAILIT DALAM PERMOHONAN PERSEROAN TERBATAS

A. Syarat dan Putusan Pailit di Pengadilan Niaga Menurut Undang-Undang No 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

Syarat-syarat untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit di pengadilan niaga penting karena apabila permohonan kepailitan tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, maka permohonan tersebut tidak akan dikabulkan oleh Pengadilan Niaga. Dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, menjelaskan bahwa satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan baik atas permohonannya sendiri atau maupun atas permohonan satu atau lebih krediturnya.73

1. Syarat adanya dua kreditur atau lebih (concursus ceditorium)

Syarat-syarat permohonan pailit sebagaimana yang ditentukan oleh Pasal 2 ayat (1) dapat dijelaskan sebagai berikut :

Adanya persyaratan concursus creditorium adalah sebagai bentuk konsekuensi berlakunya ketentuan Pasal 1131 burgerlijk wetboek dimana rasio kepailitan adalah jatuhnya sita umum atas semua harta benda debitur untuk kemudian setelah dilakukan rapat verifikasi utang-piutang tidak tercapai perdamaian atau

73Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal I, Bab I, Pasal 1, Angka 1.

accoord, dilakukan proses likuidasi atas seluruh harta benda debitur untuk kemudian dibagi-bagikan hasil perolehannya kepada semua kreditur sesuai urutan tingkat kreditur yang telah diatur oleh undang-undang.74

Ini berarti terhitung sejak tanggal pernyataan pailit dijatuhkan, terjadi penyitaan umum oleh Pengadilan atas seluruh harta kekayaan debitur akan dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan hakim pengawas.75 Alasan mengapa seorang debitur tidak dapat dinyatakan pailit jika ia hanya memiliki seorang kreditur adalah bahwa tidak ada keperluan untuk membagi asset debitur diantara para kreditur.

Kreditur berhak dalam perkara ini atas semua asset debitur. Hal ini dapat dimaklumi karena dalam kepailitan, yang terjadi sebenarnya sita umu terhadap semua harta kekayaan debitur yang diikuti dengan likuidasi paksa, untuk nanti perolehan dari likuidasi paksa tersebut dibagi secara adil diantara krediturnya, kecuali apabila ada diantara para krediturnya yang harus didahulukan menurut ketentuan Pasal 1132 KUH Perdata.76

2. Syarat harus adanya utang

Pengertian mengenai utang di dalam hukum kepailitan di Indonesia mengikuti setiap perubahan aturan kepailitan yang ada.Di dalam Faillissementsverordening tidak diatur tentang pengertian utang.Faillissementsverordening menentukan bahwa putusan pernyataan pailit dikenakan terhadap “de schuldenaar. Die in en toestand verkeert daj hij heft apgehouden te betalen”. Dari ketentuan ini, dapat diterjemahkan dalam beberapa versi, yaitu :

74Sutan Remy Sjahdeini, “Hukum Jaminan dan Kepailitan”, Jurnal Hukum Bisnis:

Volume II, Juli 2000. Hlm.64

75Munir Faudy, Pengantar Hukum Bisnis, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002, Hlm.

76Imran Nating, Tanggung Jawab Kurator dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, Hlm. 24

1. Pertama : “setiap debitur (orang yang berutang) yang tidak mampu membayar utangnya yang berada dalam keadaan berhenti membayar kembali utang tersebut.

2. Kedua : setiap berutang yang berada dalam keadaan telah berhenti membayar utang-utangnya.

3. Ketiga : setiap debitur yang berada dalam keadaan berhenti membayar utang-utangnya.

Siti soemarti Hartono menyatakan bahwa dalam yurisprudensi ternyata bahwa membayar tidak selalu berarti menyerahkan sejumah uang.Oleh karenanya di dalam Faillissementsverordening dapat dilihat adanya konsep utang dalam arti luas.Menurut putusan H. R. 3 Juni 1921, membayar berarti memenuhi suatu perikatan, ini diperuntukkan untuk menyerahkan barang-barangnya. Pada hakekatnya utang merupakan kewajiban yang timbul dari perikatan dimana ada satu pihak yang berhak atas prestasi (kreditur) dan disisi lain ada pihak yang berkewajiban memenuhi prestasi itu (debitur) atas suatu prestasi tertentu. Dengan rumusan demikian, maka utang yang menjadi dasar permohonan pailit termasuk yang timbul diluar kerangka perjanjian pinjam-meminjam (uang) misalnya perjanjian jual-beli, sewa-menyewa, perjanjuan pemborongan, dll.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang kepailitan tidak mengatur tentang pengertian utang. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 menentukan debitur dapat dinyatakan pailit apabila “tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih kepada kreditur”. Undang-Undang ini hanya menentukan utang yang tidak dibayar oleh debitur adalah utang pokok atau bunga.

Hal ini berarti permohonan pernyataan pailit terhadap debitur dapat dilakukan

apabila ia dalam keadaan berhenti membayar utang atau ketika ia tidak membayar bunganya saja.

Dalam Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Nomor 37 Tahun 2004, sudah terdapat perubahan pengertian utang. Utang diartikan sebagai kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul karena perjanjian atau undang-undang, dan wajib dipenuhi oleh debitur dan bila tidak dipenuhi member hak kepada kreditur untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitur.77

Dari pengertian utang di Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Nomor 37 Tahun 2004, permohonan pailit dapat dikabulkan apabila “debitur mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan satu atau lebih kreditur”.78

77Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal I, Bab I, Pasal 1, Angka 6.

78Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal I, Bab II, Pasal 2, Angka 1.

Namum diaturnya pengertian mengenai utang dan syarat dikabulkannya permohonan pailit di dalam Undang-Undang ini ternyata dianggap belum mampu mengakomodasi ketentuan tentang persyaratan permohonan pernyataan pailit yang banyak diterapkan oleh Negara lain, seperti misalnya mengenai batasan nominal utang yang dapat diajukan pailit. Batasan minimal nominal utang yang dimiliki oleh debitur sebagai syarat dalam permohonan pernyataan pailit dianggap penting untuk membatasi

jumlah permohonan pernyataan pailit.Pembatasan ini sebagai berntuk perlindungan hukum terhadap kreditur mayoritas dari kesewenang-wenangan kreditur minoritas, dan untuk mencegah kreditur dengan piutang sangat kecil dibandingkan dengan asset yang dimiliki oleh debitur, mengabulkan permohonan pernyataan pailit, dan dikabulkan oleh hakim.79

1. Terdapat minimal 2 (dua) orang kreditur.

3. Syarat adanya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih

Didalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menyebutkan syarat untuk dinyatakan pailit melalui putusan pengadilan yaitu :

2. Debitur tidak membayar lunas sedikitnya satu utang, dan 3. Utang tersebut telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Setelah syarat harus adanya utang, syarat yang ada pada poin ketiga menunjukkan bahwa harus adanya utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, menunjukkan bahwa kreditur sudah mempunyai hak untuk meuntut debitur untuk memenuhi prestasinya. Menurut Jono, hak ini menunjukkan adanya utang yang harus lahir dari perikatan sempurna yaitu adanya schuld dan haftung. Schuld yang dimaksud disini adalah kewajiban setiap debitur untuk menyerahkan prestasi kepada kreditur, dan karena itu debitur mempunyai kewajiban untuk membayar utang.

Sedangkan haftung adalah bentuk kewajiban debitur yang lain yaitu debitur berkewajiban untuk membiarkan harta kekayaannya diambil oleh kreditur

79Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Seri hukum Bisnis: Kepailitan, Jakarta: Rajawali Pers, 1999, Hlm, 71.

sebanyak utang debitur guna pelunasan utang tadi, apabila debitur tidak memenuhi kewajibannya membayar utang tersebut.80

Penggunaan istilah jatuh waktu atau jatuh tempo merupakan terjemahan dari istilah “date of maturity”.

Menurut Sutan Remy Sjahdeini, ketentuan mengenai adanya syarat utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, kedua istilah tersebut memiliki pengertian dan kejadian yang berbeda. Suatu utang dikatakan sebagai utang yang telah jatuh waktu atau utang yang expired, yaitu utang yang dengan sendirinya menjadi utang yang telah dapat ditagih. Sedangkan utang yang telah dapat ditagih belum tentu merupakan utang yang telah jatuh waktu.

81

Pada umumnya, debitur dianggap lali jika ia tidak tahu atau gagal dalam memnuhi kewajibannya dengan melampaui batas waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian. Sehingga, untuk melihat apakah suatu utang telah jatuh waktu dan

Date of maturity atau tanggal jatuh tempo adalah tanggal yang ditetapkan sebagai batas waktu maksimal terhadap utang atau kewajiban. Tidak dipergunakannya istilah jatuh waktu disini karena tidak ditemukan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pengertian jatuh tempo itu sendiri ditemukan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jatuh tempo mempunyai pengertian batas waktu pembayaran atau penerimaan sesuatu dengan yang ditetapkan; sudah lewat waktunya; kadaluarsa.Pengertian tempo mempunyai arti waktu, batas waktu, janji (waktu yang dijanjikan).

80Menurut pakar hukum dan yurisprudensi, schuld dan haftung dapat dibedakan tetapi pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan.Asas pokok haftung terdapat dalam Pasal 1131 Burgerlijk Wetboek. Lihat Mariam Darus Badrulzaman, et.al, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, Hlm. 8-9.

81Date of maturity dapat diartikan sebagai tanggal saat utang atau kewajiban tetentu harus dibayar atau dilunasi. Lihat HRA Rivai Wirasasmita, et.al, Kamus lengkap Ekonomi, Bandung:

Pionir Jaya, 2002, Hlm. 111.

dapat ditagih harus merujuk kepada perjanjian yang mendasari utang tersebut.82

Menurut Pasal itu debitur dianggap lalai jika ada suatu perintah akta pernyataan lainnya si debitur yang dikirimkan oleh kreditur.Sehingga wanprestasi tidak secara otomatis terjadi dan mengakibatkan dapat dituntutnya debitur terhadap ganti rugi atas tidak terpenuhinya prestasi.Sedangkan utang yang tidak terbayar adalah utang pokok atau bunganya, maka kemudian yang perlu diantisipasi oleh pemerintah adalah harus segera menyiapkan sarana dan prasarananya yakni lembaga peradilannya, hakimnya, untuk menyelesaikan perkara kepailitan tersebut.

Namun apabila merujuk pada ketentuan Buku ketiga Pasal 1238 KUH Perdata, menyatakan bahwa:

“si berhutang adalah lalai apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ia menetapkan, bahwa si berhutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”.

83

1. Panitia Kreditur jika diperlukan ;

Setelah permohonan pailit dikabulkan oleh hakim, maka akan segera diangkat pihak-pikah sebagai berikut :

2. Seorang atau lebih kurator ; 3. Seorang hakim pengawas.

Penegakan Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di dalam perjalanannya menghasilkan beberapa putusan pengadilan niaga yang mendalilkan debitur tidak membayar utang, antara lain :

82Aria Suyudi, Eryanto Nugroho, dan Herni Sri Nurbayanti, Kepailitan di Negeri Pailit, Jakarta : Penerbit Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia, Cetakan II, 2004, Hlm.135

83Rahayu Hartini, Op. Cit., Hlm. 7.

1. Debitur tidak membayar utang ketika debitur berhenti membayar utang terhadap puluhan kreditur sementara harta yang dimiliki debitur makin hari makin berkurang dan nilainya menjadi lebih kecil dari utang-utang kreditur,

2. Debitur tidak membayar utangnya ketika debitur tidak melunasi pembayarannya kepada kreditur pada saat yang telah ditentukan dan mengakui utangnya tersebut.

4. Syarat pemohon pailit

Berdsarkan Pasal 2 ayat (1), (2), (3), (4), (5) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menunjukkan bahwa pihak yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit bagi seorang debitur adalah :84

a. Debitur yang bersangkutan b. Kreditur atau para kreditur

c. Kejaksaan untuk kepentingan umum

d. Bank Indonesia apabila debiturnya adalah bank

e. Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) apabila debiturnya adalah perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian

f. Menteri Keuangan apabila debiturnya adalah perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, atau badan usaha milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik.

84Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal I, Bab I, Pasal 2, Angka 1, Angka 2, Angka 3, Angka 4, Angka 5.

Beberapa pihak diatas yang dapat mengajukan permohonan pailit, pihak yang pailing umum mengajukan permohonan pailit adalah pihak debitur dan kreditur.Pengajuan permohonan pailit yang dilakukan oleh debitur disebut voluntary petition.Voluntary petition adalah permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh debitur, yang tidak mensyaratkan berapa besar jumlah utang yang dimilikinya.Sebalinya pengajuan permohonan pailit yang dilakukan oleh pihak kreditur disebut dengan involuntary petition.Involuntary petition adalah pengajuan permohonan pernyataan pailit yang dilakukan oleh kreditur apabila debitur memiliki utang yang jumlah nilai utangnya dan bentuk utangnya telah ditentukan di dalam perjanjian.

Ketentauan bahwa debitur adalah salah satu pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit terhadap dirinya sendiri adalah ketentuan yang dianut di banyak Negara.Namun ketentuan ini memberi kesempatan bagi debitur nakal untuk melakukan rekayasa demi kepentigannya sendiri.Oleh karenannya sekalipun mungkin saja permohonan pernyataan pailit terhadap debitur dikabulkan oleh pengadilan, baik yang diajukan oleh debitur sendiri atau oleh kreditur teman kolusi debitur atau sekongkolannya, namun debitur tidak seharusnya lepas dari jerat pidana.85

85Sutan Remy Sjahdeini, Op. Cit., Hlm. 122-124

Sedangkan ketentian kreditur di dalam mengajukan permohonan pernyataan pailit mengacu pada ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.Undang-Undang ini juga telah mengatur pula kewenangan kreditur separatis dan kreditur preferen dapat

mengajukan permohonan pernyataan pailit tanpa kehilangan hak agunan atas

mengajukan permohonan pernyataan pailit tanpa kehilangan hak agunan atas

Dokumen terkait