• Tidak ada hasil yang ditemukan

PE SKRIPSI OLEH DEARNY LOVANIA PURBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PE SKRIPSI OLEH DEARNY LOVANIA PURBA"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

PE SKRIPSI

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP AKTIVITAS MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN

MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2013-2015

OLEH

DEARNY LOVANIA PURBA 130503166

PROGRAM STUDI STRATA I AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

RNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP AKTIVITAS MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2013-2015” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan /atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Maret 2017 Yang membuat pernyataan,

Dearny Lovania Purba NIM: 130503166

(3)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Good Corporate Governance terhadap aktivitas manajemen laba. Variabel yang diuji dalam penelitian ini meliputi kepemilikan institusional, kepemilikan manajemen, komposisi/proporsi dewan komisaris, ukuran dewaan komisaris, dan ukuran komite audit terhadap aktivitas manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015.

Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan metode sampling purposive. Pengumpulan data dan informasi dilaksanakan penulis dengan mengumpulkan data sekunder yang diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia. Objek penelitian ini adalah kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komposisi/proporsi dewan komisaris, ukuran dewan komisaris, dan ukuran komite audit.

Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial variabel kepemilikan institusional dan ukuran dewan komisaris berpengaruh secara positif terhadap manajemen laba, sedangkan kepemilikan manajerial, komposisi/proporsi dewan komisaris dan ukuran komite audit berpengaruh secara negatif terhadap manajemen laba.

Kata Kunci : Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Komposisi / Proporsi Dewan Komisaris, Ukuran Dewan Komisaris, dan Ukuran Komite Audit.

(4)

ABSTRACT

This study aims to determine the effect of Good Corporate Governance of the earnings management activities. The variables tested in this study include institutional ownership, management ownership, composition/proportion of commissioners, commissioners board size, and the size of the audit committee to the activity of earnings management in manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange 2013-2015 period.

The method used in this research is quantitative method with purposive sampling method. The collection of data and information held by the author of collecting secondary data obtained from the website of the Indonesia Stock Exchange. The object of this study is institutional ownership, managerial ownership, composition / proportion of the board of commissioners, board size, and the size of the audit committee.

The research hypothesis testing using t-test. The results showed that in partial institutional ownership, managerial ownership, board size and the positive effect on earnings management, and the composition / proportion board of directors and audit committee size harmful impact on earnings management.

Keywords: Institutional Ownership, Managerial Ownership, composition / proportion of BOC, the BOC size, and the size of the Audit Committee.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan pertolonganNyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Skripsi ini berjudul “Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Aktivitas Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015”.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, motivasi, semangat, saran, doa dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua orangtua penulis Ayahanda Agustaf Ilham Purba dan Ibunda Netty Herawati, nenek Henny Yanti serta kakak dan adik-adik saya, Alfrestica Debriaty Purba, Angeline Sorthaliharni Tania Purba, dan Dillon Maden Limskyie Purba beserta semua keluarga atas semua kasih sayang, doa, semangat yang sangat berarti. Semoga penulis dapat menjadi anak yang dibanggakan. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak., CPA selaku Ketua Prodi S1 Akuntansi dan Bapak Drs. Syahrul Rambe, M.M., Ak. selaku Sekretaris Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Chairul Nazwar, M.Si., Ak. selaku Dosen Penguji penulis, dan Ibu Rina Bukit, S.E., M.Si., Ak., selaku Dosen Pembanding penulis yang telah memberikan bimbingan baik masukan dan saran dalam penyusunan skripsi saya ini.

4. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan ke penulis selama menempuh studi di FEB Universitas Sumatera Utara.

(6)

5. Staf Tata Usaha dan Perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis selama studi.

6. Kepada teman-teman seperjuangan mahasiswa S-1 Akuntansi FEB-USU Stambuk 2013 atas kebersamaan dan kerjasamanya selama ini, secara khusus kepada Yudi Sihombing, Abrillianetta Purba, Diana Oktavia, dan Patria Saragih dan semua anggota “Halehaab” yang selalu menemani dan memberikan semangat serta dukungan kepada penulis.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyajian skripsi ini, sehingga kritik dan saran sangat diharapkan. Akhir kata, penulis mengharapkan skripsi ini bermanfaat bagi pembacanya.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 8

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory) ... 8

2.1.2 Shareholder Value Theory ... 11

2.1.3 Stakeholder Theory ... 13

2.1.4 Corporate Governance ... 14

2.1.5 Manajemen Laba ... 17

2.1.6 Motivasi Manajemen Laba ... 18

2.1.7 Kepemilikan Institusional ... 20

2.1.8 Komisaris Independen ... 20

2.1.9 Dewan Direksi ... 21

2.2 Penelitian Terdahulu ... 21

2.3 Kerangka Konseptual ... 24

2.4 Hipotesis Penelitian ... 25

2.4.1 Kepemilikan Manajerial dan Manajemen Laba ... 25

2.4.2 Kepemilikan Institusional dan Manajemen Laba ... 27

2.4.3 Dewan Komisaris dan Manajemen Laba ... 28

2.4.4 Keberadaan Komite Audit dan Manajemen Laba ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 31

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 31

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian ... 34

3.4 Batasan Operasional ... 34

3.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 35

3.5.1 Variabel Dependen ... 35

3.5.1.1 Manajemen Laba ... 35

(8)

3.5.2 Variabel Independen ... 37

3.5.2.1 Kepemilikan Institusional ... 38

3.5.2.2 Kepemilikan Manajerial ... 38

3.5.2.3 Komposisi/Proporsi Dewan Komisaris ... 39

3.5.2.4 Ukuran Dewan Komisaris ... 40

3.5.2.5 Ukuran Komite Audit ... 40

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 41

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 42

3.8Metode Analisis dan Pengujian Hipotesis ... 42

3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 42

3.8.2 Uji Asumsi Klasik ... 42

3.8.1.1 Uji Normalitas ... 42

3.8.1.2 Uji Heteroskedastisitas ... 43

3.8.1.1 Uji Multikolinearitas ... 43

3.8.1.2 Uji Autokorelasi ... 44

3.8.3 Uji Hipotesis ... 45

3.8.3.1 Uji Koefisien Determinasi ... 45

3.8.3.2 Uji Statistik t (t-test) ... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data ... 46

4.2 Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 47

4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 47

4.3 Uji Asumsi Klasik ... 48

4.3.1 Uji Asumsi Normalitas ... 48

4.3.2 Uji Multikolinearitas ... 50

4.3.3 Uji Heteroskedastisitas ... 52

4.3.4 Uji Autokorelasi ... 53

4.4 Analisis Koefisien Determinasi ... 53

4.5 Analisis Regresi Linear Berganda dan Uji Signifikan Pengaruh Parsial (uji t) ... 54

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 59

5.2 Keterbatasan Penelitian...61

5.3 Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ...62

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu ... 23

Tabel 3.2 Jumlah Sampel Berdassarkan Kriteria... 32

Tabel 3.5.2.5 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 41

Tabel 4.2.1 Statistik Deskriptif dari Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Komposisi/Proporsi Dewan Komisaris, Ukuran Dewan Komisaris, Ukuran Komite Audit, dan Manajemen Laba ...47

Tabel 4.3.1 Uji Normalitas...49

Tabel 4.3.2 Uji Multikolinearitas ...51

Tabel 4.3.4 Uji Autokorelasi dengan Durbin-Watson...53

Tabel 4.4 Koefisien Determinasi...54

Tabel 4.5 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (uji t)...55

(10)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.3 Kerangka Konseptual ... 25 Gambar 4.3.1 Uji Normalitas dengan Pendekatan Normal Probability Plot 50 Gambar 4.3.3 Uji Heteroskedastisitas ... 52 Gambar 4.5 Menghitung Tabel dengan Rumus TINV Dalam

Microsoft Excel ... 57

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Nama Perusahaan yang Terpilih Menjadi Sampel ... 65

Lampiran 2 Hasil Akrual Nondiskresioner (NDA) Tahun 2013 ... 65

Lampiran 3 Hasil Akrual Nondiskresioner (NDA) Tahun 2014 ... 66

Lampiran 4 Hasil Akrual Nondiskresioner (NDA) Tahun 2015 ... 66

Lampiran 5 Data Variabel Dependen dan Independen ... 67

Lampiran 6 Hasil Analisis Statistik Deskriptif ... 68

Lampiran 7 Hasil Uji Normalitas ... 68

Lampiran 8 Hasil Uji Normalitas dengan Pendekatan Normal Probability Plot ... 69

Lampiran 9 Hasil Uji Multikolinearitas ... 70

Lampiran 10 Uji Heteroskedastisitas ... 70

Lampiran 11 Hasil Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson ... 70

Lampiran 12 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 71

Lampiran 13 Hasil Analisis Linear Berganda dan Uji Asumsi Klasik ... 71

Lampiran 14 Hasil Uji Statistik t (t-test) ... 76

Lampiran 15 Menghitung Tabel dengan Rumus TINV dalam Microsoft Excel ... 76

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Manajemen laba dilakukan oleh pihak manajemen untuk mencapai target laba dengan mempengaruhi tingkat pendapatan pada periode tertentu. Dalam hal ini tindakan manajemen labanya dilakukan berdasarkan pertimbangan pihak menejemen bukan berdasarkan fakta transaksi dan kinerja yang sesungguhnya dalam pelaporan keuangan dan struktur transaksi juga diubah sedemikian rupa agar menghasilkan laporan keuangan yang mencapai target, sebab pencapaian laba perusahaan yang maksimal memperlihatkan keberhasilan kinerja perusahaan.

Manajemen laba muncul sebagai dampak masalah keagenan dimana adanya ketidakselarasan antara kepentingan pihak pemegang saham (principal) dengan pihak manajemen perusahaan (agent). Pihak pemegang saham ingin mensejahterahkan dirinya dengan profit yang tinggi sedangkan pihak manajemen perusahaan menginginkan kesejahteraan ekonomi. Dalam kondisi ini dibutuhkan adanya mekanisme yang mengendalikan keadaan sehingga tidak terjadinya manajemen laba.

Berikut ini beberapa kasus dari manajemen laba yang pernah terjadi di Indonesia yakni pada perusahaan PT. Kimia Farma Tbk, PT. Indofarma Tbk, PT.

Ades Alfindo Tbk (Sulistiawan et al 2011:54), dan PT. Katarina Utama Tbk (Rosliana, 2014).

PT. Kimia Farma Tbk adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang obat-obatan di Indonesia. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen

(13)

Kimia Farma melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp. 132 miliar dan laporan tersebut diaudit oleh Hans Tuanakotta dan Mustofa. Bapepam menyebutkan terdapat kesalahan penyajian dalam laporan keuangan PT. Kimia Farma, dan dampak kesalahan tersebut mengakibatkan overstated laba pada laba bersih untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001 sebesar Rp. 32,7 miliar.

Fenomena manajemen laba juga terjadi pada PT. Indofarma Tbk.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawasan Pasar Modal terhadap PT.

Indofarma Tbk ditemukan bukti bahwa nilai barang dalam proses dinilai lebih tinggi dari nilai yang seharusnya dalam penyajian nilai persediaan barang dalam proses pada tahun buku 2001 sebesar Rp. 28,87 miliar. Akibatnya, penyajian terlalu tinggi (overstated) persediaan sebesar 38,87 miliar harga pokok penjualan disajikan terlalu rendah (understated) sebesar 28,8 miliar dan laba bersih disajikan tinggi (overstated) dengan nilai yang sama.

Manajemen laba pada PT. Ades Alfindo Tbk. Kasus ini terungkap ketika manajemen baru PT. Ades menemukan inkonsisten pencatatan atas penjualan periode 2001-2004. Sebelumnya pada bulan Juni 2004 terjadi penurunan manajemen di PT.Ades dengan masuk Water Partners Bottling Co (Perusahaan patungan The Coca Cola Company dan Nestle SA) dengan kepemilikan saham sebesar 65,67%. Hasil penelusuran menunjukkan untuk setiap kuartal angka penjualan lebih tinggi antara 0,6-0,9 juta galon dibandingkan angka produksinya.

Manajemen PT. Ades baru melaporkan angka penjualan rill pada tahun 2001 diperkirakan lebih rendah Rp. 13 miliar dari yang dilaporkan. Pada Tahun 2002 perbedaannya mencapai Rp.45 miliar sedangkan untuk tahun 2003 sebesar Rp. 55

(14)

miliar. Untuk enam bulan pertama 2004, selisihnya kira-kira 2 miliar. Kesalahan tersebut luput dari pengamatan publik karena PT. Ades tidak memasukkan volume penjualan dalam laporan keuangan yang telah diaudit. Akibatnya laporan keuangan yang disajikan PT. Ades pada tahun 2001 dan 2004 lebih tinggi dari yang seharusnya di laporkan.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Hoesen menyatakan bahwa PT. Katarina Utama Tbk terancam dikeluarkan dari rantai Bursa Efek Indonesia, dikarenakan PT. Katarina Utama Tbk tidak memperlihatkan tanggung jawab sebagai perusahaan publik. PT. Katarina memang bersalah atas dugaan manajemen yang seluruhnya ekspatriat asal Malaysia karena menyelewengkan perolehan dana penawaran umum atau initial public offering (IPO), penggelembungan asset, serta manipulasi laporan keuangan auditan 2009. Dari perolehan dana IPO sebesar Rp 33.6 miliar, manajemen diduga menggelapkan sebesar Rp 29,6 miliar.

Mekanisme Good Corporate Governance (GCG) merupakan suatu prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang melakukan kontrol/ pengawasan terhadap keputusan. Tujuan Good Corporate Governance adalah menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) (Sutedi,2012:7). Sistem Good Corporate Governance (GCG) yang baik memberikan perlindungan kepada pihak investor dan pihak kreditor, sehingga mereka bisa yakin untuk menerima kembali hasil investasinya dengan wajar dan bernilai tinggi. Mekanisme Good Corporate Governance diwujudkan oleh kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial,

(15)

komposisi dewan komisaris dan ukuran perusahaan. Namun, keberadaan keempat elemen dari mekanisme Good Corporate Governance diatas akan didukung oleh elemen dari komite audit sebagai variabel tambahan dalam penelitian ini.

Konsep Good Corporate Governance diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memonitor kinerja perusahaan manufaktur dan untuk memberikan keyakinan kepada investor bahwa mereka akan menerima return yang sesuai dengan investasi yang telah ditanamkan.

Penelitian ini mengacu pada penelitian-penelitian sebelumnya yang meneliti pengaruh Good Corporate Governance terhadap manajemen laba.

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah menguji kembali faktor-faktor yang berpengaruh terhadap manajemen laba karena adanya perbedaan hasil penelitian (research gap) pada penelitian-penelitian sebelumnya. Research Gap merupakan celah-celah atau senjang penelitian yang dimasuki oleh seorang peneliti berdasarkan pengalaman atau temuan peneliti-peneliti terdahulu. Dalam hal ini penulis menemukan adanya perbedaan hasil yang dikemukakan oleh Ujiyanto dan Pramuka (2007) dimana hasil penelitiannya menyatakan bahwa kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komposisi dewan komisaris, dan ukuran dewan komisaris berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba, sedangkan peneliti lain seperti Dian Agustia (2013) menyatakan bahwa kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Menurut Nasution juga komposisi dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian Ujiyanto dan Pramuka (2007). Riestie (2010) juga

(16)

mengemukakan hasil penelitian tentang komposisi dewan komisaris yang tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba yang bertentangan dengan hasil penelitian Ujiyanto dan Pramuka (2007) yang menyatakan komposisi dewan komisaris berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Melihat perbedaan hasil penelitian dari uraian diatas, penulis berniat untuk mengetahui hasil dari hubungan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komposisi dewan komisaris, ukuran dewan komisaris, dan komite audit terhadap manajemen laba. Sampel yang digunakan berasal dari sektor manufaktur industri barang konsumsi. Dipilihnya sektor manufaktur sebab sektor manufakturlah salah satu sektor yang selama ini sering ditemukan kasus manajemen laba sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui apakah masih ada praktik manajemen laba pada tahun- tahun terakhir yakni tahun 2013-2015 atau telah berkurangnya praktik manajemen laba pada tahun tersebut seiring dengan penerapan Good Corporate Governance.

Atas dasar uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai

“Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Aktivitas Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, masalah-masalah yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap aktivitas manajemen laba pada perusahaan manufaktur?

(17)

2) Apakah kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap aktivitas manajemen laba pada perusahaan manufaktur?

3) Apakah komposisi dewan komisaris berpengaruh terhadap aktivitas manajemen laba pada perusahaan manufaktur?

4) Apakah ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap aktivitas manajemen laba perusahaan manufaktur?

5) Apakah komite audit berpengaruh terhadap aktivitas manajemen laba perusahaan manufaktur?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah:

1) Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan institusional terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2013-2015.

2) Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2013-2015.

3) Untuk mengetahui pengaruh komposisi dewan komisaris terhadap manajemen laba pada perusah\aan manufaktur yang terdaftar di BEI 2013- 2015.

4) Untuk mengetahui pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2013-2015.

(18)

5) Untuk mengetahui pengaruh komite audit terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2013-2015.

1.4 Manfaat Penelitian

1) Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah dan mengembangkan pengetahuan khususnya mengenai pengaruh kepemilikan institusional, kepemilikan menejerial, komposisi dewan komisaris, ukuran dewan komisaris, dan komite audit terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar BEI 2013-2015.

2) Bagi pihak manajemen perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan pertimbangan sebagai acuan bagi manajemen dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan manajemen laba.

3) Bagi pihak lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dan pembanding bagi peneliti selanjutnya.

4) Bagi universitas, penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan literatur bacaan yang dapat digunakan demi kepentingan bersama pada universitas.

5) Bagi pihak regulator, diharapkan dapat menetapkan standar yang lebih baik di masa yang akan datang mengenai corporate governance.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan merupakan dasar yang digunakan untuk

memahami corporate governance. Teori keagenan menyangkut hubungan kontraktual antara anggota-anggota di perusahaan. Jensen dan Meckling (1976: 308) “An agency relationship as a contract under which one or more persons (the principal) engage another person (the agent) to perform some service on their behalf which involves delegating some decision making authorityto the agent”. Hal ini menjelaskan bahwa hubungan agensi terjadi ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian

mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan. Yang disebut

principal adalah pemegang saham atau investor dan yang dimaksud agent adalah manajemen yang mengelola perusahaan. Inti dari hubungan

keagenan adalah adanya pemisahan fungsi antara kepemilikan di investor dan pengendalian di pihak manajemen.

Menurut Eisenhardt yang dikemukakan oleh Ujiyantho dan Pramuka (2007:5) teori agensi menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu: (1) manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self

interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa

(20)

mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu menghindari resiko (risk averse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut sebagai manusia akan berindak opportunistic, yaitu mengutamakan kepentingan pribadinya. Hak pengendalian yang dimiliki oleh manajer memungkinkan untuk diselewengkan dan dapat menimbulkan masalah keagenan yang dapat diartikan dengan sulitnya investor memperoleh keyakinan bahwa dana yang mereka investasikan dikelola dengan

semestinya oleh manajer. Manajer memiliki kewenangan untuk mengelola perusahaan dan dengan demikian manajer memiliki hak dalam mengelola dana investor. Adanya pemisahan antara pemilik perusahaan (principal) dan pengelolaan oleh manajemen (agent) cenderung menimbulkan konflik keagenan di antara prinsipal dan agen. Konflik kepentingan antara pemilik dan agen terjadi karena kemungkinan agen tidak selalu berbuat sesuai dengan keinginan prinsipal, sehingga menimbulkan biaya keagenan (agency cost) (Ujiyantho dan Pramuka, 2007:5). Agency cost as the sum of: the monitoring expenditures by the principal, the bonding expenditures by the agent, the residual loss (Jensen dan Meckling, 1976:308). Hal ini mengungkapkan bahwa agency cost merupakan biaya yang dikeluarkan oleh prinsipal untuk biaya pengawasan terhadap agen, pengeluaran yang mengikat oleh agen, dan adanya residual loss. Residual loss merupakan nilai uang yang timbul akibat kerugian atau pengurangan kesejahteraan principal dengan adanya peryimpangan antara keputusan yang diambil agen dengan keputusan untuk meningkatkan kesejahteraan prinsipal.

(21)

Konflik kepentingan dapat semakin meningkat karena prinsipal tidak dapat selalu memonitor aktivitas manajemen untuk memastikan apakah manajemen telah bekerja sesuai dengan keinginan prinsipal.

Laporan keuangan yang dibuat dengan angka-angka akuntansi diharapkan dapat meminimalkan konflik di antara pihak pihak yang berkepentingan.

Dengan laporan keuangan yang dibuat manajemen, prinsipal dapat menilai kinerja manajemen untuk melaporkan laba sesuai kepentingan pribadinya.

Jika hal ini terjadi maka akan mengakibatkan rendahnya kualitas laba.

Dalam Rachmawati dan Triatmoko (2007:2) Standar Akuntansi Keuangan (SAK) memberikan kelonggaran (flexibility principles) dalam memilih metode akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.

Dengan kelonggaran ini, perusahaan dapat menghasilkan nilai laba yang berbeda melalui pemilihan metode akuntansi yang berbeda. Praktik seperti ini dapat memberikan dampak terhadap kualitas laba yang dilaporkan (Boediono, 2005:176). Salah satu mekanisme yang diharapkan dapat mengontrol konflik keagenan adalah dengan menerapkan monitoring melalui tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).

Corporate governance merupakan konsep yang diajukan demi peningkatan kinerja perusahaan melalui supervisi atau monitoring kinerja manajemen dan menjamin akuntabilitas manajemen terhadap stakeholder dengan mendasarkan pada kerangka peraturan. Konsep corporate

governance diajukan demi tercapainya pengelolaan perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan (Nasution dan

(22)

Setiawan, 2007:2). Hal ini sekaligus terkait dengan masalah keagenan di mana corporate governance merupakan konsep yang didasarkan pada teori keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka investasikan.

Corporate governance juga berkaitan dengan bagaimana para investor yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bahwa manajer tidak akan mencuri/menggelapkan atau

menginvestasikan ke dalam proyek-proyek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang telah ditanamkan oleh investor, dan berkaitan dengan bagaimana para investor mengontrol para manajer seperti menurut La Porta: Lopez de Silaens: Schleifer & Vishny 1997-1999 yang dikemukakan oleh Sutedi (2012: 15) “Corporate governance is a set of mechanism through which outside investors protect themselves against expropriation by the insiders”.

2.1.2 Shareholder Value Theory

Menurut Richard Smerdon yang dikemukakan oleh Sutedi (2012:31) Menurut teori ini, tanggung jawab yang paling mendasar dari direksi adalah bertindak untuk kepentingan meningkatkan nilai (value) dari pemegang saham. Argumentasinya adalah jika perusahaan

memeperhatikan kepentingan pemasok, pelanggan, karyawan, dan

lingkungannya, maka nilai (value) yang didapatkan oleh pemegang saham

(23)

akan semakin sedikit, sehingga berjalannya pengurusan oleh direksi harus mempertimbangkan kepentingan pemegang sahamnya untuk memastikan kesehatan perusahaan dalam jangka panjang termasuk peningkatan nilai (value) pemegang sahamnya.

Mercury Asset Management sebuah perusahaan manajemen investasi yang mengeluarkan pendapat tentang Teori Shareholder value yang dikemukakan oleh Sutedi (2012:32) sebagai berikut:

“Good Corporate Governance creates framework within which company can be managed in the long term interest of its shareholders.

Whilist we support initiatives to increase standards in corporate governance, we believe that it is imposible to create a singel set of rules that is appropriate for every company. Indeed, there is a risk that in attempting to produce a singel set of rules that substantive issues may be lost. The introduction of a code of best practice cannot of itself ensure that companies are managed with competence and integrity and each company needs to be analysed on an individual basic”.

Untuk lebih memperjelas pernyataan diatas, Mercury Asset Management mengeluarkan lima prinsip yang menjadi kebijakannya dalam menjaga shareholder value, yaitu:

a) Dengan memperoleh modal dari pemegang saham, perusahaan telah menyatakan komitmennya untuk memperoleh laba sebagai pengembalian investasi atas modal tersebut. Direksi perusahaan selanjutnya harus mempertanggungjawabkan kepada pemegang saham atas setiap penggunaan uang.

(24)

b) Perusahaan dan direksi di dalamnya harus berada dalam struktur yang terbaik yang memungkinkan adanya check and balance, yaitu untuk memastikan bahwa perusahaan dan direksi telah dijalankan sesuai dengan kepentingan jangka panjang pemegang saham serta dengan integritas.

c) Hak memberikan suara (voting rights) adalah hal yang utama dalam hak kepemilikan saham.

d) Saham-saham yang dipegang oleh pihak lain berdasarkan kepercayaan harus diambil suaranya sesuai dengan kepentingan pemilik aslinya tanpa ada keraguan.

e) Meskipun pengambilan suara dilakukan atas beberapa hal dalam Rapat Tahunan maupun Rapat Luar Biasa, namun ada 3 (tiga) hal yang mendasar dalam melindungi kepentingan pemegang saham, yaitu pemilihan direksi, penambahan jumlah ekuiti (saham dan derivative-nya), dan penunjukkan auditor.

2.1.3 Stakeholder Theory

Menurut Ibit yang dikemukakan oleh Sutedi (2012:39) ”teori stakeholder, dalam pengertian yang umum menyatakan bahwa tujuan akhir dari teori shareholder value, secara jelas telah gagal untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dari pelanggan, pemasok, dan tenaga kerja”. Namun ada beberapa model alternatif dalam melindungi kepentingan dari stakeholder menurut Key yang dikemukakan oleh Sutedi

(25)

(2012:40) yang setidaknya harus memiliki beberapa elemen penting antara lain sebagai berikut:

a. Perbedaan dan pemisahan harus secara tegas dibuat (melalui mekanisme Undang-Undang tentang Perusahaan) antara perusahaan publik-institusi sosial dengan pemilik yang mengontrol perseroan terbatas. Perusahaan yang telah memenuhi persyaratan ukuran-ukuran tertentu dengan jumlah pemegang saham tertentu diharuskan untuk mendaftar sebagai perusahaan publik, sedangkan statury duties dari direksi perusahaan publik tersebut adalah untuk meningkatkan usaha perusahaan dan dengan memberikan kesempatan yang seimbang atas kleim dari investor, pelanggan, pemasok, dan tenaga kerjanya.

b. Sebuah kerangka kerja governance yang baru harus segera diterapkan kepada perusahaan publik. Perusahaan publik diharuskan untuk memiliki dewan direksi yang dipimpin oleh direktur independen dengan sekurangnya memiliki 3 (tiga) orang direktur independen.

c. Peranan dan fungsi dari CEO, harus diterapkan dan proses pemilihannya harus melalui konsultasi dengan karyawan, investor, pemasok, dan lembaga-lembaga regulator lain yang relevan. Direktur independen diharapkan dapat memimpin proses tersebut dan menyusun laporan berkaitan dengan kinerja dan strategi perusahaan.

d. Penunjukan CEO melalui proses di atas adalah untuk jangka waktu yang tetap selama 4 (empat) tahun.

e. Kewenangan penunjukkan direktur seharusnya diserahkan kepada direktur independen namun direktur independen tersebut harus mengkonsultasikan kepada stakeholders sebelum menunjuk direktur independen yang baru.

2.1.4 Corporate Governance

Pandangan teori keagenan di mana terdapat pemisahan antara pihak agen dan prinsipal yang mengakibatkan munculnya potensi konflik dapat mempengaruhi kualitas laba yang dilaporkan (Rachmawati dan Triatmoko, 2007:3). Hal ini dapat timbul karena manajemen dapat menyusun laporan laba demi kepentingannya dan bukan untuk

kepentingan prinsipal atau dengan kata lain manajemen dapat bertindak sesuai dengan kepentingan terbaik (best interest) prinsipal. Dalam hal

(26)

kondisi seperti ini, diperlukan suatu mekanisme pengendalian untuk

menyejajarkan perbedaan kepentingan antara manajemen dengan prinsipal.

Apabila kepentingan manajemen dan pemilik dapat diselaraskan, maka kinerja perusahaan akan meningkat sehingga menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.

Corporate governance didefinisikan sebagai seperangkat aturan yang mendefinisikan hubungan antara pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah karyawan, dan stakeholder internal maupun eksternal lain, mengenai hak dan kewajiban mereka, atau sistem di mana perusahaan diatur (directed) dan dikendalikan (controlled), tujuan corporate governance adalah menciptakan nilai tambah bagi stakeholder.

Mekanisme corporate governance memiliki kemampuan dalam kaitannya untuk menghasilkan suatu laporan keuangan yang memiliki kandungan informasi laba (Boediono, 2005:176). Dengan demikian diharapkan investor dapat memperoleh informasi yang lebih akurat dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan.

Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) pada tahun 1999 (direvisi pada tahun 2004) telah menerbitkan dan mempublikasikan OECD Principles of Corporate governance untuk membantu mengevaluasi dan meningkatkan rerangka hukum, institusional, dan regulatori corporate governance dan memberikan pedoman dan saran- saran untuk pasar modal, investor, perusahaan, dan pihak-pihak lain yang

(27)

memiliki peran dalam pengembangan corporate governance. Prinsip- prinsip corporate governance yang dikemukakan oleh OECD (2004) yaitu:

1. Memastikan dasar bagi kerangka corporate governance yang efektif (Ensuring The Basis for an Effective Corporate governance Framework). Kerangka corporate governance harus meningkatkan pasar yang transparan dan efisien, konsisten dengan aturan hukum dan secara jelas mengartikulasikan pembagian kewajiban antara pengawas, regulator dan otoritas pelaksanan yang berbeda.

2. Hak-hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan kunci (The Rights of Shareholders and Key Ownership Functions) Kerangka corporate governance harus melindungi dan memfasilitasi penggunaan hak-hak pemegang saham.

3. Persamaan perlakuan bagi pemegang saham (The Equitable Treatment of Shareholders). Kerangka coprporate governance harus memastikan persamaan perlakuan bagi seluruh pemegang saham, termasuk pemegang saham minoritas dan asing. Semua pemegang saham harus memiliki kesempatan untuk memperoleh penggantian kembali secara efektif atas pelanggaran hak-hak mereka.

4. Peranan shareholder dalam corporate governance (The Role of Stakeholders in Corporate governance) Kerangka corporate governance harus mengakui hak-hak stakeholder yang ditetapkan oleh hukum atau melalui mutul agreement dan mendorong kerjasama aktif antara korporat dan stakeholder dalam menciptakan kemakmuran, pekerjaan, dan perusahaan yang memiliki sustainable.

5. Pengungkapan dan transparansi (Disclosure and Transparency) Kerangka corporate governance harus memastikan bahwa pengungkapan yang tepat waktu dan akurat telah dibuat atas semua hal yang material menyangkut korporat, termasuk situasi keuangan, kinerja, kepemilikan, dan pengelolaan perusahaan.

6. Kewajiban dewan (The Responsibilities of the Board) Kerangka corporate governance harus memastikan pedoman strategis perusahaan, pengawasan yang efektif terhadap manajemen oleh dewan, dan akuntabilitas dewan kepada perusahaan dan pemegang saham. Komite Nasional Kebijakan Governance pada tahun 2006 telah mengeluarkan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia.

Pedoman GCG merupakan panduan bagi perusahaan dalam membangun, melaksanakan dan mengkomunikasikan praktik GCG kepada pemangku kepentingan. Menurut the Organization for Economic Co-

(28)

operation and Development (EOCD) yang dikemukakan oleh Tjager et al (2003:53) ada lima prinsip yang idealnya harus tercakup dalam setiap maksud penerapan corporate governance dalam perseroan yakni:

1. Transparansi (Transparency)

Keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materill dan relevan mengenai perusahaan.

2. Kemandirian

Suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

3. Akuntabilitas (Accountability)

Kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

4. Pertanggungjawaban

Kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi.

5. Kewajaran (Fairness)

Keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.1.5 Manajemen Laba

Menurut Schipper yang dikemukakan oleh Gumanti, (2000:107) defenisi lain dari manajemen laba adalah disclosure management in the sense of purposeful intervention in the external reporting process, with intent of obtaining some private gain. Hal diatas menyebutkan bahwa manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan ekternal dengan sengaja untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi. Sementara menurut Healy dan Wahlen yang dikemukakan oleh Xie, (2001:4) mendefinisikan manajemen laba :

(29)

“. . . when managers use judgment in financial reporting and in structuring transactions to alter financial reports to either mislead some stakeholder about the underlying economic performance of the company, or to influence contractual outcomes that depend on reported accounting numbers.”

dari pengertian di atas, definisi manajemen laba menurut Healy dan Wahlen yang dikemukakan oleh Xie, (2001:4) mengandung beberapa aspek. Pertama, manajemen laba terhadap pelaporan keuangan dapat dilakukan dengan penggunaan judgment (penilaian) seperti umur

ekonomis dan nilai residu, pajak yang ditangguhkan, dan lain-lain. Kedua, adapun tujuan manajemen melakukan manajemen laba adalah untuk menyesatkan stakeholders mengenai kinerja ekonomi perusahaan.

2.1.6 Motivasi Manajemen Laba

Tindakan manajemen laba tidak muncul dengan sendirinya, namun dilatar belakangi oleh adanya motivasi ekstrinsik dibalik perilaku

sebenarnya. Seperti menurut Watts and Zimmerman yang dikemukakan oleh Sulistiawan et al, (2011: 31) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang memotivasi individu atau badan usaha melakukan tindakan manajemen laba, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Motivasi Bonus

Dalam sebuah perjanjian bisnis, pemegang saham akan memberikan sejumlah insentif dan bonus sebagai feedback atau evaluasi atas kinerja manajer dalam menjalankan operasional perusahaan. Insentif ini diberikan dalam jumlah relatif tetap dan rutin. Sementara, bonus yang

(30)

relatif lebih besar nilainya hanya akan diberikan ketika kinerja manajer berada di area pencapaian bonus yang telah ditetapkan oleh para pemegang saham. Kinerja manajemen salah satunya diukur dari pencapaian laba usaha. Pengukuran kinerja berdasarkan laba dan skema bonus tersebut memotivasi para manajer untuk memberikan performa terbaiknya sehingga tidak menutup peluang mereka melakukan tindakan manajeman laba agar dapat menampilkan kinerja (performance) yang baik demi mendapatkan bonus yang maksimal.

2. Motivasi Utang

Selain melakukan kontrak bisnis dengan pemegang saham, untuk kepentingan ekspansi perusahaan, manajer seringkali melakukan beberapa kontrak bisnis dengan pihak ketiga, dalam hal ini adalah kreditor. Agar kreditor mau menginvestasikan dananya di perusahaannya, tentunya manajer harus menunjukkkan performa yang baik dari perusahaannya. Dalam hal ini untuk memperoleh hasil yang maksimal yakni berupa pinjaman dalam jumlah yang besar, perilaku kreatif dari manajer untuk menampilkan performa yang baik dari laporan keuangannya sering kali muncul. Selain untuk mendapatkan pinjaman, kasus seperti itu juga berlaku untuk menjaga perjanjian utang. Jika suatu perusahaan mendapatkan dana dari kreditor, perusahaan berkewajiban menjaga resiko keuangannya agar berada pada batas bawah tertentu. Jika hal ini dilanggar, perjanjian utang dibatalkan.

3. Motivasi Pajak

Adanya pengaruh penerapan peraturan perpajakkan tahun 1994 terhadap dugaan praktik manajemen laba pada 179 perusahaan yang terdaftar di BEJ pada periode 1994-1995. Pada tahun 1994 tepatnya satu periode sebelum berlakunya peraturan perpajakan ada penurunan laba yang tidak signifikan sedangkan pada tahun 1995 terjadinya penurunan laba yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan peraturan perpajakan telah memotivasi perusahaan atau manajer mempercepat pengakuan biaya dan menunda pendapatan sehingga diperoleh laba minimal yang berimplikasi pada biaya pajak yang rendah.

4. Motivasi Penjualan Saham

Motivasi ini banyak digunakan oleh perusahaan yang akan go public ataupun sudah go public. Perusahaan yang akan go public akan melakukan penawaran saham perdananya ke publik atau yang lebih dikenal dengan istilah Initial Public Offerings (IPO) untuk memperoleh tambahan modal usaha dari calon investor. Proses penjualan saham perusahaan ke publik akan direspon positif oleh pasar ketika perusahaan penerbit saham (emiten) dapat menjual kinerja dengan baik. Salah satu ukuran kinerja yang dilihat oleh calon investor adalah penyajian laba

(31)

pada laporan keuangan perusahaan. Kondisi ini sering kali memotivasi manajer untuk berperilaku kreatif dengan berusaha menampilkan kinerja keuangan yang lebih baik dari biasanya.

5. Motivasi Pergantian Direksi

Praktik manajemen laba biasanya terjadi pada sekitar periode pergantian direksi atau chief executive officer (CEO). Menjelang berakhirnya masa jabatan, direksi cenderung bertindak kreatif dengan memaksimalkan laba agar performa kinerjanya tetap terlihat baik pada tahun terakhir ia menjabat. Perilaku ini ditunjukkan dengan terjadinya peningkatan laba yang cukup signifikan menjelang akhir masa jabatannya. Motivasi utama yang mendorong perilaku ini adalah untuk memperoleh bonus yang maksimal pada akhir masa jabatan.

6. Motivasi Politis

Motivasi ini biasanya terjadi pada perusahaan besar yang bidang usahanya banyak menyentuh masyarakat luas, seperti perusahaan industri stategis perminyakan, gas, listrik, dan air. Demi menjaga agar tetap mendapatkan subsidi, perusahaan-perusahaan tersebut cenderung menjaga posisi keuangannya dalam keadaan tertentu sehingga prestasi atau kinerjanya tidak terlalu baik agar selalu mendapatkan subsidi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi visibilitas perusahaan sehingga tidak menarik perhatian pemerintah, media, atau konsumen yang dapat menyebabkan meningkatnya biaya politis perusahaan. Rendahnya biaya politis akan menguntungkan pihak manajemen.

2.1.7 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham oleh pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dan dana perwakilan serta institusi lainnya pada akhir tahun.

Menurut Boediono (2005:175) kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif sehingga mengurangi tindakan manajemen laba.

Dengan adanya proses monitoring ini mampu meningkatkan kesejahteraan pemegang saham.

2.1.8 Komisaris Independen

(32)

Ukuran komisaris dalam suatu perusahaan sangat dibutuhkan sesuai dengan ketentuan di Pasar Modal dalam Surat Direksi PT. Bursa Efek Jakarta (sekarang BEI) nomor KEP-399/BEJ/07-2011 tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di Bursa poin C mengatur hal-hal mengenai Komisaris Independen, Komite Audit, dan Sekretaris Perusahaan, yang menjelaskan bahwa dalam rangka

penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) perusahaan tercatat wajib memiliki Komisaris Independen yang jumlahnya secara proporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh bukan Pemegang Saham Pengendali.

2.1.8 Dewan Direksi

Dewan direksi merupakan salah satu indikator dalam pelaksanaan corporate governance yang bertugas dan bertanggungjawab untuk

menjalankan manajemen perusahaan.

2.2 Penelitian Terdahulu

Veronica dan Bachtiar (2003) menguji pengaruh mekanisme corporate governance terhadap asimetri informasi dan manajemen laba. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa dewan komisaris berpengaruh signifikan terhadap informasi asimetri dan manajemen laba , komite audit juga berpengaruh secara signifikan terhadap informasi asimetri dan manajemen laba dan ukuran komite audit berpengaruh secara signifikan terhadap informasi asimetri dan manajemen laba.

(33)

Ujiyanto dan Pramuka (2007) menguji mekanisme corporate governance terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan. Hasil penelitiannya menunjukkan kepemilikan institusional berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

Kepemilikan manajerial berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

Komposisi dewan komisaris berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Ukuran dewan komisaris berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

Nasution dan Setiawan (2007) melakukan penelitian pengaruh pelaksanaan corporate governance terhadap tindak manajemen laba yang terjadi di perusahaan perbankan. Dimana hasil penelitian ini membuktikan bahwa Komposisi dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

Keberadaan komite audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Restie (2010) melakukan pengujian analisis pengaruh ukuran perusahaan dan mekanisme corporate governance terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur. Data yang digunakan yakni bersumber dari Bursa Efek Indonesia khususnya perusahaan manufaktur dari tahun 2006-2008. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa adanya pengaruh signifikan dari konsentrasi kepemilikan saham terhadap manajemen laba. Ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Kualitas audit dengan proksi spesialisasi industri auditor juga berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

sedangkan komposisi dewan komisaris tidak berpengaruh secara signifikan

(34)

terhadap manajemen laba, serta komposisi komite audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

Menurut Dian Agustia (2013) ukuran komite audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Proporsi komite audit independen juga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Kepemilikan institusional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba, dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

Sedangkan laverage berpengaruh terhadap manajemen laba. Free cash flow berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini diungkapnya dalam hasil penelitiannya mengenai pengaruh faktor good corporate governance, free cash flow, dan leverage terhadap manajemen laba

Tabel 2.2

N

o Peneliti Judul Penelitian Variabel Independen

Variabel

Dependen Hasil Penelitian 1 Veronica dan

Bachtiar (2004)

Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terhadap Asimetri

Informasi dan Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2007)

Mekanisme corporate

governance yang terdiri dari:

 Dewan komisaris

 Komite audit

 Ukuran audit.

 Informasi asimetri

 Manajemen laba

 Dewan komisaris berpengaruh secara signifikan terhadap informasi asimetri dan manajemen laba.

 Komite audit berpengaruh secara signifikan terhadap informasi asimetri dan manajemen laba.

 Ukuran komite audit

berpengaruh secara signifikan terhadap informasi asimetri dan manajemen laba.

2 Ujiyanto dan Pramuka (2007)

Mekanisme Corporate Governance,Mana jemen Laba, dan

 Kepemilikan institusional

 Kepemilikan manajerial

 Kinerja keuangan

 Manajemen laba.

 Kepemilikan institusional berpengaruh secara signifikan

(35)

Kinerja

Keuangan. (Studi pada Perusahaan go Publik Sektor Manufaktur)

 Komposisi dewan komisaris

 Ukuran dewan komisaris.

terhadap manajemen laba

 Kepemilikan manajerial berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

 Komposisi dewan komisaris berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

 Ukuran dewan komisaris berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

3 Nasution dan Setiawan (2007)

Pengaruh Pelaksanaan Corporate Governance Terhadap Tindak Manajemen Laba yang Terjadi di Perusahaan Perbankan.

 Komposisi Dewan Komisaris

 Ukuran Dewan Komisaris

 Keberadaan Komite Audit

 Manajemen Laba

 Komposisi dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

 Ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

 Keberadaan komite audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

4 Restie (2010) Analisis Pengaruh Ukuran

Perusahaan dan Mekanisme Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2006-2008)

 Ukuran perusahaan

 Konsentrasi kepemilikan

 Komposisi anggota dewan komisaris

 Spesialisasi industri KAP

 Komposisi komite audit.

 Manajemen laba

 Adanya pengaruh signifikan dari konsentrasi kepemilikan saham, ukuran perusahaan, kualitas audit dengan proksi spesialisasi industri auditor

 Komposisi dewan komisaris, dan komposisi komite audit tidak

berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

5 Dian Agustia (2013)

Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow, dan Laverage

Terhadap

 Ukuran komite audit

 Proporsi komite audit independen

 Kepemilikan institusional

 Manajemen laba

 Ukuran komite audit, proporsi komite audit independen, kepemilikan institusional, dan

(36)

Manajemen Laba pada BEI 2007- 2011.

 Kepemilikan manajerial

 Free cash flow

 Laverage

kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

 Laverage berpengaruh terhadap manajemen laba.

 Free cash flow berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap manajemen laba.

Sumber: Diolah oleh penulis, 2016

2.3 Kerangka Konseptual

Mekanisme good corporate governance yang diproksikan dengan kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, komposisi dewan komisaris independen, ukuran dewan komisaris, dan ukuran komite audit diharapkan dapat meningkatkan proses pengawasan terhadap manajemen sehingga mencegah perilaku oportunistik manajemen. Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa variabel

independen antara lain: kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komposisi dewan komisaris, ukuran dewan komisaris, dan komite audit, sedangkan variabel dependennya adalah manajemen laba.

(37)

Gambar 2.3

Kerangka Pemiikiran

H1

H2 H3

H4

H5

2.4 Hipotesis

2.4.1 Kepemilikan Manajerial dan Manajemen Laba

Kepemilikan manajemen (Dian Agustia, 2013:33) adalah saham yang dimiliki oleh manajemen secara pribadi maupun saham yang dimiliki oleh anak cabang perusahaan bersangkutan beserta afiliasinya. Ada dua pandangan yang dapat menjelaskan hubungan antara hubungan

kepemilikan manajerial dengan manajemen laba, yaitu entrenchment effect dan alligment effect. Pandangan entrenchment effect menyatakan bahwa jika kepemilikan manajerial meningkat, manajer akan memiliki

perlindungan atau pertahanan (entrenchment) sehingga mereka dapat melakukan aktivitas yang tidak meningkatkan nilai bagi perusahaan dan mereka akan mengurangi kemakmuran pemegang saham dari luar Kepemilikan institusional (X1)

Manajemen Laba

(Y) Kepemilikan manajerial (X2)

Komposisi dewan komisaris (X3)

Ukuran dewan komisaris (X4)

Komite Audit (X5)

(38)

perusahaan. Berdasarkan pandangan tersebut manajemen akan bertindak lebih leluasa dalam melakukan aktivitas yang berorientasi kepada kepentingan pribadi mereka melalui kebijakan dan pilihan metode akuntansi.

Penyatuan kepentingan (convergence of interest) antara manajer dan pemilik dapat dicapai dengan memberikan kepemilikan saham kepada manajer. Jika manajer memiliki saham di perusahaan, mereka akan

memiliki kepentingan yang cenderung sama dengan pemegang saham lainnya. Dengan adanya penyatuan kepentingan tersebut konflik keagenan akan berkurang sehingga manajer termotivasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan kemakmuran pemegang saham.

Manajer yang memiliki akses terhadap informasi perusahaan akan memiliki inisiatif untuk memanipulasi informasi tersebut jika mereka merasa informasi tersebut merugikan kepentingan mereka. Namun jika kepentingan manajer dan pemilik dapat disejajarkan, manajer tidak akan termotivasi untuk memanipulasi informasi atau melakukan manajemen laba sehingga kualitas informasi akuntansi dan keinformatifan laba dapat meningkat. Dengan memperbesar kepemilikan manajerial diharapkan dapat mengurangi tindakan manajemen laba yang tercermin dari berkurangnya nilai discretionary accruals. Besarnya kepemilikan manajerial diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dan laba yang dihasilkan. Dengan uraian di atas hipotesis yang diajukan adalah :

(39)

H1 : Kepemilikan Manajerial berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

2.4.2 Kepemilikan Institusional dan Manajemen Laba

Investor institusional merupakan pemegang saham yang memiliki pengaruh besar terhadap perusahaan karena kepemilikan sahamnya yang besar. Dalam hubungannya dengan fungsi monitor, investor institusional diyakini memiliki kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih baik dibandingkan investor individual. Menurut Dian Agustia menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh

signifikan terhadap manajemen laba. menyebutkan Secara umum, ada dua perbedaan pendapat mengenai investor institusional. Pendapat pertama didasarkan pada pandangan bahwa investor institusional adalah pemilik sementara (transfer owner) sehingga hanya terfokus pada laba sekarang (current earnings). Perubahan pada laba sekarang dapat mempengaruhi keputusan investor institusional. Jika perubahan ini tidak dirasakan

menguntungkan oleh investor, maka investor dapat melikuidasi sahamnya.

Hasil penelitiannya menyatakan bahwa investor institusional biasanya memiliki saham dengan jumlah besar, sehingga jika mereka melikuidasi sahamnya akan mempengaruhi nilai saham secara keseluruhan. Untuk menghindari tindakan likuidasi dari investor, manajer akan melakukan earnings management. Pendapat kedua memandang investor institusional sebagai investor yang berpengalaman (sophisticated). Menurut pendapat

(40)

ini, investor lebih terfokus pada laba masa datang (future earnings) yang lebih besar relatif dari laba sekarang.

Investor institusional akan melakukan monitoring secara efektif dan tidak akan mudah diperdaya dengan tindakan manipulasi yang dilakukan manajer.

H2 : Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

2.4.3 Dewan Komisaris Independen dan Manajemen Laba

Struktur governance di Indonesia memisahkan antara dewan komisaris dengan dewan direksi. Fungsi dewan komisaris adalah sebagai pengawas dan pemberi nasehat kepada manajer (direksi) atas nama para pemegang saham. Dewan komisaris sebagai puncak dari sistem

pengendalian internal perusahaan memiliki peranan terhadap terhadap aktivitas pengawasan (Siallagan dan Machfoedz, 2006:6). Pengawasan oleh dewan komisaris akan menambah keyakinan bahwa manajemen telah bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham, karena dewan komisaris diangkat oleh pemegang saham maka mereka harus mewakili kepentingan para pemegang saham dalam mengawasi tindakan

manajemen. Di samping itu, dalam pemecahan perselisihan antara para manajer internal dan pengawasan kebijakan manajemen serta pemberian nasihat kepada manajemen diperlukan pihak ketiga yang independen.

Menurut Ujiyanto dan Pramuka (2007) komposisi dewan komisaris dan

(41)

ukuran dewan komisaris berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

Komisaris independen merupakan posisi terbaik untuk

melaksanakan fungsi-fungsi tersebut agar tercipta perusahaan yang good corporate governance. Vafeas (dalam Siallagan dan Machfoedz, 2006:6) mengatakan bahwa selain kepemilikan manajerial, peran dewan komisaris juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas laba dengan membatasi tingkat manajemen laba melalui fungsi monitoring laporan keuangan.

Fungsi monitoring yang dilakukan oleh dewan komisaris dipengaruhi oleh jumlah atau ukuran dewan komisaris (Siallagan dan Machfoedz, 2006:6).

H3 : Proporsi dewan komisaris independen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba

H4 : Ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap manajemen laba

2.4.4 Keberadaan Komite Audit dan Manajemen Laba

Untuk memperkuat fungsi pengawasan maka dibentuk komite audit yang umumnya beranggotakan wakil dewan komisaris, khususnya komisaris independen. Komite audit yang bertanggung jawab untuk mengawasi laporan keuangan, mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal (termasuk audit internal) dapat mengurangi sifat oportunistik manajemen yang melakukan manajemen laba dengan cara mengawasi laporan keuangan dan melakukan pengawasan pada audit

(42)

eksternal (Siallagan dan Machfoedz, 2006:6). Menurut Nasution dan Setiawan (2007) keberadaan komite audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Komite audit bertanggung jawab kepada dewan komisaris. Dengan keberadaan komite audit diharapkan dapat meningkatkan kualitas laba melalui pengawasan terhadap proses pelaporan keuangan dan pelaksanaan audit eksternal. Dengan adanya komite audit dalam perusahaan,

discretionary accruals semakin rendah, yang berarti kualitas laba yang dihasilkan semakin tinggi. Siallagan dan Machfoedz (2006:7) menyatakan bahwa dengan adanya komite audit akan memiliki konsekuensi pada laporan keuangan, yaitu : (1) berkurangnya pengukuran akuntansi yang tidak tepat, (2) berkurangnya pengungkapan akuntansi yang tidak tepat, dan (3) berkurangnya tindakan kecurangan manajemen dan tindakan ilegal. Dari uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H5 : Ukuran komite audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba

(43)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian causal research (riset kausal). Pengertian penelitian riset kausal adalah riset yang bertujuan untuk menentukan hubungan dari suatu sebab akibat/ causal dari suatu hal. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data kuantitatif yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia berupa laporan keuangan yang telah diaudit dari tahun 2013-2015. Teknik pemilihan sampel menggunakan purposive sampling.

3.2 Populasi dan Sampel

Populasi adalah sekelompok orang, kejadian, sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu yang akan diteliti (bahan penelitian). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Periode pengamatan penelitian dilakukan dari tahun 2013-2015 dengan jumlah 19 perusahaan. Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu (purposive sampling), yaitu :

1) Telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2013- 2015.

2) Menerbitkan laporan keuangan dari tahun 2013-2015.

(44)

3) Memiliki data mengenai kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dewan komisaris independen, ukuran dewan komisaris, dan komite audit.

Kriteria Pemilihan Sampel

 Jumlah perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang ada di Bursa Efek Indonesia jumlah 37.

 Jumlah perusahaan yang tidak lengkap menerbitkan laporan keuangan tahunan periode tahun 2013-2015 jumlahnya 2 perusahaan.

 Jumlah perusahaan yang tidak lengkap data kepemilikan institusional,

kepemilikan manajerial, dewan komisaris independen, ukuran dewan komisaris, dan komite audit jumlahnya 20 perusahaan.

 Jumlah sampel yang terpilih 15 sampel dikali 3 tahun pengaman jadi

jumlahnya 45 sampel.

Tabel 3.2

Jumlah Sampel Berdasarkan Karakteristik Sampel

No Nama Perusahaan Kode

Kriteria

Sampel

1 2 3

1 Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. AISA - -

2 Tri Banyan Tirta Tbk. ALTO Sampel 1

3 Wilmar Cahaya Indonesia Tbk. CEKA √ √ - -

4 Delta Djakarta Tbk. DLTA √ √ - -

5 Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. ICBP √ √ - -

Referensi

Dokumen terkait

KEGIATAN 1 2 KEGIATAN PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN: Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Penataan Bangunan dan Lingkungan Termasuk Pengelolaan

Metode  penentuan  ini  dimaksudkan  sebagai  acuan  dan  pegangan  dalam 

Bagaimana usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi hambatan dalam mengimplementasi nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan dalam tradisi sambatan di Desa

• D etermine how the trans ac tion affec ts the ac c ounting equa tion by identifying the financ ial s ta tement elements related to eac h ac c ount... T he employee

From the first equation in (15), > 0 is mandatory, meaning that the attachment point of the spring with stiffness must be above the first joint of the mechanism. This can

“But then the starship will appear in a time when people will notice it.” “I didn’t say I’d bring the starship forward into the future with us,” said Noxon?. “We can stash it

Metode t asmi’ (semaan) untuk memperbaiki hafalan hufadz dimana cara prakteknya yakni saling bergantian simak menyimak antar teman. Sedangkan metode muraja’ah suatu

bahwa kalau ada orang yang lebih sesuai untuk menjadi kepala negara pemerintahan,. maka beliau selalu siap