• Tidak ada hasil yang ditemukan

CONTINUING DEVELOPMENT MEDICAL EDUCATION (CDME) FK-UMM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CONTINUING DEVELOPMENT MEDICAL EDUCATION (CDME) FK-UMM"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

CONTINUING DEVELOPMENT MEDICAL EDUCATION

(CDME) FK-UMM

2 0 2 0

(2)

“Covid-19 pada Tinjauan Kedokteran Keluarga”

Continuing Development Medical Education (CDME) FK-UMM

2 0 2 0

(3)

PROSIDING

Webinar Seri 1: COVID-19, Apa dan Bagaimana?

“Covid-19 pada Tinjauan Kedokteran Keluarga”

Steering Committee:

1. Dr. Meddy Setiawan, dr., Sp.PD., FINASIM 2. dr. Moch. Ma’roef, Sp.OG

3. dr. Sri Adila Nurainiwati, Sp.KK 4. dr. Indra Setiawan, Sp.THT-KL

Pelaksana kegiatan:

Ketua : Dr. Febri Endra Budi Setyawan, dr., M.Kes., FISPH., FISCM Sekretaris : Patmawati, S.Pd

Bendahara : Emma Argianti, S.E Narahubung : Nyono, S.Pd

Joko Febrianto, S.I.kom., M.Si Sie Acara : dr. S. Khansa Z

dr. Lustyafa Inassani A Sie IT : Drs. Djoko Trisilo

Handika Setyobudi, S.Kom Zainal Abidin, S.Kom Sie Publikasi : dr. Feny Tunjungsari, M.Kes

Reviewer:

1. Dr. Retno Lestari, S.Kep., Ns., M.Nurs 2. dr. Rubayat Indradi, M.OH

Editor:

Dr. Febri Endra Budi Setyawan, dr., M.Kes., FISPH., FISCM

(4)

Penerbit:

Continuing Development Medical Education (CDME) FK-UMM Kontak redaksi:

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Bendungan Sutami 188A Malang

Telp. (0341) 552443 Email: [email protected]

Cetakan pertama: September 2020

Hak cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari Penerbit

(5)

i

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Alhamdulillah, pada era Pandemi COVID-19 ini kita semua masih diberikan karunia nikmat kesehatan oleh ALLAH SWT sehingga kami, Continuing Development Medical Education (CDME) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang dapat mengadalan Webinar seri 1:

COVID-19: Apa dan Bagaimana? dengan tema Covid-19 pada Tinjauan Kedokteran Keluarga.

Kegiatan ini merupakan salah satu wujud nyata dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang untuk berperan aktif dalam memberikan informasi dari berbagai bidang ilmu terkait tentang COVID-19 yang saat ini telah menjadi suatu pandemi. Webinar ini membahas secara komprehensif tentang COVID-19 dan diharapkan para partisipan yang mengikuti kegiatan Webinar CDME FK-UMM ini dapat lebih memahami dan memiliki wawasan yang luas dan benar tentang pandemi COVID-19.

Tentunya tidak ada gading yang tak retak, tidak ada satupun kegitan yang sempurna. Kami menyadari bahwa masih cukup banyak kekurangan kami dalam penyelenggaraan kegiatan Webinar ini. Untuk itu kami sangat mengharapkan saran untuk penyempurnaan kegiatan Webinar CDME FK- UMM. Semoga kita semua selalu dalam lindungan ALLAH SWT.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Editor,

Dr. Febri Endra Budi Setyawan, dr., M.Kes., FISPH., FISCM.

(6)

ii

Daftar Isi

Topik bahasan Kontributor Hal

1. COVID-19: Sudut Pandang Kedokteran Keluarga 2. Skreening COVID-19 Pada

Layanan Primer

3. Pendekatan Pemeriksaan Laboratorium Dalam Penatalaksanaan COVID-19 4. Pendekatan Komprehensif

Tatalaksana Komorbid

Diabetes Melitus Pada Layanan Primer dan Pekerja di Era Pandemi COVID-19

5. Kelainan Dermatologis Pasien COVID-19 dan Pada Pemakaian APD

6. Kecemasan Pada Diabetes Melitus Di Era COVID-19 7. Imunitas Pada Anak dan

Peningkatan Imunitas Pada Anak

8. Rekomendasi Nutrisi Dalam

Menghadapi Pandemi COVID- 19

Dr. Febri Endra Budi Setyawan, dr., M.Kes., FISPH., FISCM dr. Isbandiyah, Sp.PD dr. Diah Hermayanti, Sp.PK

Dr. Meddy Setiawan, dr., Sp.PD., FINASIM

dr. Andri Catur Jatmiko, Sp.KK

dr. Iwan Sis, Sp.KJ

dr. Pertiwi Febriana Chandrawati, M.Sc, Sp.A

dr. Gita Sekar Prihanti, M.Pd.Ked

1-20 21-32 33-38

39-60

61-64

65-70 71-84

85-90

(7)

71

IMUNITAS DAN PENINGKATAN IMUNITAS PADA ANAK

Pertiwi Febriana Chandrawati

Departemen Ilmu Kesehatan Anak,

Faklutas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang

Sistem imun suatu sistem yang sangat komplek di dalam tubuh, yang bertanggung jawab untuk melawan penyakit. Imunitas adalah pertahanan pada organisme untuk melindungi tubuh dari pengaruh biologis luar dengan mengenali dan membunuh patogen. Tugas utama adalah mengidentifikasi benda asing dalam tubuh yang disebut antigen (termasuk bakteri, virus, jamur, parasit, organ atau jaringan transplantasi) dan menghasilkan pertahanan tubuh untuk melawan benda asing tersebut. Pertahanan ini dikenal sebagai respon imun.

Dua Jenis Imunitas Tubuh

Manusia secara umum memiliki 2 jenis imunitas di dalam tubuhnya. Antara lain: Imunitas bawaan/alamiah (innate) dan imunitas dapatan/acquired (adaptive)

Sistem imun alami/bawaan/innate/non spesifik

Sistem imun alami merupakan pertahanan tubuh yang pertama kali bekerja saat terdapat invasi. Sistem ini umumnya aktif sampai 12 jam pertama sejak invasi organisme. Sel yang berperan dalam sistem imun alami di antaranya adalah makrofag dan natural killer cell. Sel-sel tersebut dinamakan fagosit karena akan melawan invasi dengan cara fagositosis (penelanan organisme asing). Selain fagositosis, salah satu mekanisme lain dalam sistem imun alami adalah dengan produksi

‘antibiotik alami’ berupa interferon dan lysozyme. Interferon berperan

dalam mengeblok replikasi dari virus yang masuk ke dalam tubuh,

sedangkan lysozyme berperan dalam menyerang dinding sel bakteri.

(8)

72

Gambar 12. Step of The Inflammatory Response

Terus kenapa disebut sebagai sistem imunitas nonspesifik?

Itu karena sistem pertahanan pertama tubuh kita ini tidak bisa membedakan patogen yang masuk ke tubuh kita. Semua patogen yang terdeteksi oleh sistem imunitas lapis pertama ini akan dianggap sebagai benda asing yang berpotensi mengganggu tubuh kita.

Yang termasuk sistem kekebalan atau pertahanan tubuh tidak spesifik ialah:

1. Pertahanan fisik : kulit, selaput lendir 2. Kimiawi : enzim, keasaman lambung

3. Mekanik : gerakan usus, rambut getar selaput lendir

4. Fagositosis : pemusnahan kuman/zat asing oleh sel darah putih 5. Zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses

pemusnahan kuman/zat asing.

Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman/zat asing ke dalam tubuh, misalnya kulit yang luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau gangguan proses pemusnahan kuman/zat asing oleh leukosi (sel darah putih).

Sistem imun adaptif/acquired/spesific

Apabila invasi bakteri tidak dapat diatasi dengan sistem imun

alami, saat tersebut akan diaktifkan sistem imun lainnya, yaitu

sistem imun adaptif. . Adaptive immunity berperan pada 12 jam -5

hari dimana B-lymphosyt dan T-lyphosyt berperan. B-lymphosyt

(9)

73

bekerja humoral bersirkulasi dalam peredaran darah dan limfa serta mukosa. Sedangkan T-Cell berperan di dalam cell.

Limfosit adalah jenis sel darah putih yang penting dalam imunitas adaptif dalam tubuh kita. Limfosit T terlibat dalam imunitas yang diperantarai sel sementara limfosit B terlibat dalam imunitas humoral.

Sumsum tulang menghasilkan limfosit T dan limfosit B. Namun, limfosit T matang di timus sedangkan limfosit B matang di sumsum tulang. Ada tiga jenis limfosit T sebagai sel T penolong, sel T penekan, dan sel T sitotoksik. Sel T penolong mengaktifkan sel T sitotoksik dan sel B sementara sel T sitotoksik membunuh patogen dengan fagositosis. Di sisi lain, limfosit B memproduksi dan mengeluarkan antibodi untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk menghancurkan antigen.

Limfosit B juga memiliki dua jenis utama: sel plasma dan sel memori.

Gambar 13.

Innate And Adaptive Immunity Time Line. The Mechanisms Of Innate Immunity Provide The Initial Defense Against Infections.

Pada sistem imun adaptif, antigen pertama kali akan

difagositosis oleh antigen presenting cells (APC), misalnya

makrofag. Hasil dari pencernaan tersebut akan dibawa ke sel T

untuk ‘dikenalkan’. Dari proses tersebut dapat terjadi dua macam

mekanisme berdasarkan jenis sel T.Sel T akan mengaktifkan sel B

(10)

74

antibodi yang spesifik untuk melawan antigen. Sel T yang terlibat pada jenis ini disebut sel T helper, atau dapat juga sel T langsung melawan antigen tersebut. sel T yang demikian disebut sel T sitotoksik (toksik terhadap sel yang telah terinfeksi).

Gambar 14. Perbedaan Limfosit T dan Limfosit B

(11)

75 Limfosit B

1. Dibuat di sumsum tulang yaitu sel batang yang sifatnya pluripotensi(pluripotent stem cells) dan dimatangkan di sumsum tulang(Bone Marrow)

2. 2.Berperan dalam imunitas humoral

3. 3.Menyerang antigen yang ada di cairan antar sel

4. Terdapat 3 jenis sel Limfosit B yaitu :· Limfosit B plasma, memproduksi antibodi· Limfosit B pembelah, menghasilkan Limfosit B dalam jumlah banyak dan cepat· Limfosit B memori, menyimpan mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh

Limfosit T

1. Dibuat di sumsum tulang dari sel batang yang pluripotensi(pluripotent stem cells) dan dimatangkan di Timus 2. Berperan dalam imunitas selular

3. Menyerang antigen yang berada di dalam sel

4. Terdapat 3 jenis Limfosit T yaitu:· Limfosit T pempantu (Helper T cells), berfungsi mengantur sistem imun dan mengontrol kualitas sistem imun· Limfosit T pembunuh(Killer T cells) atau Limfosit T Sitotoksik, menyerang sel tubuh yang terinfeksi oleh patogen· Limfosit T surpressor (Surpressor T cells), berfungsi menurunkan dan menghentikan respon imun jika infeksi berhasil diatasi

Gambar 15. Mekanisme Limfosit T dan Limfosit B

(12)

76

Sistem imun tubuh diaktifkan oleh mikroorganisme atau zat asing (antigen) yang tidak dikenali oleh tubuh. Contoh antigen tersebut seperti bakteri, jamur, dan virus.

1. Mengenali Zat Asing yang Masuk ke Tubuh

Ketika antigen melekat pada reseptor sel imun, seluruh tubuh akan bekerja sama untuk mengenali antigen dan memberikan sinyal untuk mengaktifkan setiap komponen sistem imun. Fungsi sistem imun salah satunya membuat catatan mengenai setiap antigen yang pernah dijumpai pertama kalinya dan bagaimana cara menghancurkannya. Sel memori ini ada dalam bentuk sel darah putih yaitu limfosit T (sel T) dan limfosit B (sel B).Karena memori tersebut, saat terserang oleh antigen yang sama, tubuh akan langsung mengenali penyakit tersebut dan segera mengeluarkannya.

2. Menghasilkan Antibodi

Sel plasma dari limfosit B berfungsi menghasilkan antibodi.

Antibodi akan mengikat pada antigen yang masuk dan Limfosit B akan membentuk sel memori yang bertahan di dalam tubuh. Jadi, ketika sistem imun berjumpa dengan antigen yang sama, antibodi akan selalu siap sedia melawan antigen tersebut.

3. Diadaptasi untuk Vaksin

Cara kerja imunisasi atau vaksin mirip dengan proses tersebut.

Vaksin akan memperkenalkan sistem imun dengan antigen penyakit. Sehingga tubuh dapat memproduksi sel memori dan antibodi yang siap menghalau antigen kapan pun dan di mana pun.

4. Imun Lebih Kuat terhadap Antigen Lama

Pernah berpikir mengapa jarang sekali orang terkena cacar air untuk kedua kalinya? Ini karena sel memori tersebut yang mengenali antigen cacar air, sehingga sistem imun langsung membunuhnya. Sedangkan penyakit baru seperti virus COVID-19 tidak dikenali oleh tubuh dan belum ditemukan vaksinnya. Virus ini akan mudah menyerang siapa pun, terutama orang dengan sistem kekebalan lemah.

5. Membunuh Antigen

Antibodi dari limfosit B ini tidak bekerja sendiri. Antibodi membutuhkan bantuan limfosit T untuk membunuh antigen.

Limfosit T sebagai prajurit yang membunuh antigen penyakit ini.

Sebagian komponen limfosit T disebut juga “T- killer cell” atau sel

T pembunuh. Selain itu, Limfosit T berfungsi menyampaikan sinyal

ke sel lain (seperti fagosit) yang juga bekerja “menelan” dan

menghancurkan virus.

(13)

77 6. Bagaimana pada Penderita Autoimun?

Bagi penderita autoimun, tubuh tidak bisa membedakan antara zat asing dan sel tubuh sendiri. Oleh karena itu, sistem imun bisa menyerang sel tubuh sendiri yang sehat dan tidak berbahaya.Kondisi ini menyebabkan penderita autoimun mudah terserang berbagai penyakit.

Jadi apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh Anda ketika terinfeksi virus, dan siapa yang memiliki risiko terinfeksi lebih parah?

Saat diserang virus, saat pertama kali terinfeksi, tubuh akan mengeluarkan pertahanan kekebalan bawaan/innate imunity sebagaimana menghadapi jenis virus apa pun. Di sini terjadi pelepasan protein bernama interferon yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi di dalam sel-sel tubuh. Interferon juga merekrut sel-sel kekebalan lain untuk datang dan menyerang virus agar tidak menyebar.

Idealnya, respons awal ini memungkinkan tubuh mendapatkan kendali atas infeksi dengan cepat, meskipun virus memiliki pertahanannya sendiri untuk menumpulkan atau melepaskan diri dari efek interferon.

Respons imun bawaan sebenarnya ditunjukkan dari banyak gejala yang dialami ketika sakit. Misalnya, ketika terjadi infeksi virus maka akan terjadi demam, ini adalah bentuk respons imun yang menjadi peringatan bagi tubuh bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi, yakni serangan virus. Selain itu, gejala yang ditimbulkan ini juga wujud sistem imun bawaan yang tengah berupaya menyingkirkan virus.

Misalnya melalui proses batuk atau diare, jika virus berada di saluran pernapasan, pasien terserang batuk. Sementara apabila virus ada di saluran cerna, maka seseorang akan mengalami diare.

Gejala berbeda-beda

Dijelaskan, gejala berbeda pada orang-orang yang terinfeksi virus bisa terjadi, tergantung bagaimana tubuh menangani virus tersebut.

Virus corona masuk ke dalam sel dengan menempel pada protein yang disebut reseptor ACE2 yang ada di permukaan sel. Reseptor ini paling banyak terdapat di paru-paru, itulah sebabnya Covid-19 dianggap sebagai penyakit pernapasan. Namun, jumlah reseptor ACE2 tertinggi kedua ada di usus, yang dapat menjelaskan mengapa banyak orang yang terinfeksi virus corona mengalami diare. Virus bisa masuk ke paru-paru karena terbawa saat seseorang bernafas, sementara ia bisa masuk ke perut ketika seseorang menelan sesuatu. "Begitulah cara virus dapat mempengaruhi keduanya (pernafasan dan pencernaan),"

kata Mehra. Tujuan kekebalan tubuh Tujuan pertahanan kekebalan

tubuh bawaan adalah untuk mencegah virus mereplikasi diri menjadi

(14)

78

tubuh masih memiliki cukup waktu untuk bekerja sebelum infeksi menjadi tak terkendali. Respon imun adaptif terdiri dari antibodi spesifik virus dan sel T yang berfungsi untuk mengenali virus sehingga bisa lebih cepat menghancurkannya. Antibodi ini juga lah yang berfungsi untuk memberi kekebalan dan perlindungan sehingga orang yang pernah terinfeksi tidak akan kembali terinfeksi untuk kedua kalinya. Pada beberapa orang, virus berhasil mereplikasi dan menyebar dengan cepat sehingga sistem kekebalan tubuh yang dimiliki tidak sempat mengendalikannya. Misalnya pada dokter atau tenaga kesehatan yang setiap hari menangani pasien virus corona ini. Mereka terpapar virus setiap harinya, jumlah paparan itu pun tak hanya sekali dua kali saja. Oleh karena itu, mereka justru dapat mengalami infeksi yang lebih parah, meskipun masih berusia muda dan memiliki kondisi fisik yang sehat. Semakin banyak virus yang masuk, maka semakin sulit sistem kekebalan tubuh bertahan.

Alasan lain mengapa virus bisa bergerak cepat dan menang atas tubuh seseorang ada pada sistem kekebalan tubuh itu sendiri.

Kekebalan tubuh yang sudah lemah memudahkan virus untuk berkembang. Maka dari itu, kelompok usia tua menjadi populasi yang paling rentan terhadap infeksi virus corona baru ini, akibat sistem kekebalan tubuh yang mereka miliki sudah mulai menurun termakan usia. Selain orang tua, kelompok yang terbilang rentan adalah orang- orang yang mengonsumsi obat-obatan, sehingga kekebalannya tertekan. Sistem kekebalan yang tertekan ini kemudian bisa mengakibatkan respons interferon awal yang lebih lemah atau terlambatnya antibodi dalam memberikan respons. Hal ini membuat virus bisa menyebar dari satu sel ke sel lainnya hingga menjadi tak terkendali. Jika virus telah menetap di paru-paru, maka penyakit yang ditimbulkan bisa berkembang menjadi pneumonia. Sel-sel di paru-paru mengalami kerusakan dan peradangan. Sebagian sel memang rusak akibat serangan virus, namun sebagian besar lainnnya rusak justru akibat sistem kekebalan tubuh yang mencoba menyingkirkan sel-sel lain yang terinfeksi.

Jadi, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi pada seseorang yang

menderita Covid-19. Pertama, respons imun tetap stabil dan bisa

mengendalikan kembali sel-selnya yang sudah terserang virus, dan

membersihkannya menggunaan sel T dan antiodi. Jika ini yang terjadi,

maka pasien akan sembuh. Sementara yang kedua, sistem kekebalan

tubuh kuwalahan dan menunjukkan reaksi berlebihan untuk

menghilangkan virus sehingga menghasilkan lebih banyak protein

inflamasi yang disebut sitokin. Inilah yang menyebabkan kasus infeksi

virus corona berakhir kritis, pasien menderita gangguan pernapasan

(15)

79

akut, atau bahkan kematian. Ketika ini terjadi, paru-paru terisi oleh banyak cairan sehingga tidak bisa memproduksi oksigen dan proses pemompaan darah di jantung menjadi terhenti.

Berikut adalah cara-cara alami yang bisa dilakukan untuk menjaga sistem imun atau daya tahan tubuh:

1. Jangan biarkan anak murung

WHO dalam laman resminya, mendorong para pengasuh anak untuk dapat membantu anak-anak menemukan cara positif untuk mengekspresikan perasaan yang mengganggu, seperti ketakutan dan kesedihan. Setiap anak memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikan emosi. Jangan biarkan anak-anak larut dalam keresahan karena harus menerapkan pola hidup baru dengan banyak di rumah saat terjadi pandemi Covid-19. Bicara baik-baik dengan mereka dengan kata-kata yang mudah dimengerti. Ajari mereka juga untuk senantiasa menerapkan pola hidup sehat dengan cara-cara yang menyenangkan. Jangan sampai anak dibiarkan menyendiri. Kurangnya bersosialisasi bahkan akan mengubah sistem imunitas tubuh pada tingkat seluler. Artinya, kesehatan fisik dan mental rentan akan mengalami penurunan dan tergganggu. Maka dari itu, penting untuk para orangtua untuk membantu membuat pikiran anak tetap rileks.

2. Ajak anak tetap aktif atau berolahraga

Olahraga juga terbukti mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan meredakan peradangan. Olahraga yang dilakukan secara teratur memiliki efek yang lebih baik terhadap sistem imun dibandingkan olahraga yang hanya sesekali.WHO merekomendasikan untuk melakukan aktivitas fisik selama 1 jam per hari bagi anak-anak.

3. Mengonsumsi makanan bergizi

Kita harus mengkonsumsi mikronutrien dan makronutrien secara seimbang, karena akan meningkatkan metabolisme tubuh.

Makronutrisi, misalnya, makanan yang mengandung karbohidrat, protein, juga lemak. Sedang mikronutrisi, contohnya, makanan mengandung vitamin dan mineral. Konsumsi makanan yang kaya akan antioksidan, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, dapat membantu tubuh melawan radikal bebas. Jika di dalam tubuh banyak terdapat radikal bebas, kerja sistem imun bisa terganggu dan menjadi lebih mudah terkena infeksi virus Corona. Makan berbagai makanan yang mengandung vitamin A, B, C, D dan E dan mineral besi, seng dan selenium.

Vitamin A dan seng (Zink) membantu menjaga integritas kulit dan

lapisan organ vital dan sistem pernapasan, memperkuat sistem

(16)

80

mukosa yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh bawaan. Contoh makanan ini seperti ubi jalar, wortel, paprika, bayam,mangga, semangka, pepaya, jambu biji,cabai merah, hati ayam, keju, telur rebus. Zink : daging sapi

Vitamin B9(asam folat), B12 dan zat besi juga penting untuk produksi hemoglobin yang membawa oksigen dalam darah,sedangkan B6 berfungsi sebagai T Cell sangat memengaruhi produksi antibodi penting untuk mengatasi setiap infeksi. Vitamin B kompleks ini bisa didapatkan pada makanan seperti pada hati ayam, daging sapi, telur, susu. Sedangkan pada zat besi bisa didapatkan pada : hati ayam, hati sapi, bayam

Vitamin C, E, dan selenium membantu mengendalikan peradangan dengan menghilangkan dampak stres oksidatif, karena radikal bebas yang menembus dinding sel dan menyebabkan kebocoran.

Juga sebagai masker immune-boasting nutrient yang membantu sel-sel imunitas menjadi dewasa, meningkatkan performa antibodi, dan antibakteri Contohnya seperti cabe, paprika, kangkung, brokoli, pepaya. E : hazetnut, kacang tanah, brokoli, telur, almond, biji labu, biji bunga matahari. Selenium : pisang, susu, tuna, roti, daging sapi, yogurt.

Vitamin D manfaatnya sangat besar bagi kesehatan tulang, kekebalan tubuh, juga penyerapan kalsium. Vitamin D bisa didapatkan dengan berjemur di bawah sinar matahari dan juga dari makanan. Makanan yang kaya akan vitamin D antara lain termasuk ikan salmon, ikan herring, ikan lele, tiram, susu, telur, dan jamur shitake.

4. Sun (matahari)

Cara meningkatkan imunitas tubuh lainnya adalah berjemur di bawah sinar matahari. sinar matahari bisa meningkatkan kualitas vitamin D. Tubuh dirancang untuk memproduksi vitamin D secara otomatis ketika kulit terpapar sinar matahari. Sinar matahari mengandung sinar ultraviolet B (UVB). Saat UV B terkena kulit, maka kulit mengubah cholesterol menjadi vitamin D3 (cholecalciferol) dalam jumlah besar. Vitamin D3 kemudian diolah oleh hati dan ginjal menjadi vitamin D aktif yang dibutuhkan oleh tubuh. Sinar matahari memiliki 3 jenis sinar radiasi yang terbagi berdasarkan panjang gelombangnya.

Sinar Ultra Violet A (UV A) dengan gelombang panjang, sinar Ultra

Violet B (UV B) dengan gelombang pendek, dan sinar Ultra Violet C

(UV C) dengan gelombang sangat pendek. Bila semakin pendek

gelombang, maka tingkat radiasinya semakin besar dan bisa

merusak kulit. UV C sendiri menjadi sinar yang paling merusak.

(17)

81

Tapi, karena lapisan ozon bumi bisa mencegah sinar UV C sehingga hanya sinar UV A dan UV B yang masuk ke bumi.Ultraviolet A banyak didapat mulai matahari terbit sampai matahari terbenam, sedangkan UVB banyak didapatkan pada pukul 10.00-14.00, jadi disarankan berjemur pada saat itu. Berjemur yang baik berjemur 5 menit dahulu, kemudian naikkan secara bertahap maksimum 15 menit, dan dilakukan 3 kali dalam seminggu.

5. Mengelola stres dengan baik

Stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan produksi hormon kortisol. Kadar hormon kortisol yang tinggi dapat mengganggu kerja sistem imun dalam melawan infeksi. Oleh karena itu, upayakan untuk mengelola stres dengan baik supaya sistem imun anak tetap terjaga dan kuat melawan semua antigen yang ada.Stres bisa dikendalikan dengan hal yang sederhana, misalnya dengan tidur cukup setiap harinya. Anda juga bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan supaya tubuh dan pikiran rileks.

6. Beristirahat yang cukup

Walaupun terdengar sederhana, kurang tidur terbukti bisa menimbulkan dampak yang buruk pada kesehatan. Salah satunya adalah penurunan daya tahan tubuh, sehingga beragam penyakit dapat lebih mudah menyerang. kebutuhan tidur sesuai usia rekomendasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk anak- anak:

- Bayi usia 0-1 bulan Bayi yang usianya baru mencapai dua

bulan, umumnya membutuhkan tidur 14-18 jam setiap hari.

(18)

82

tidur 12-14 jam setiap hari, termasuk tidur siang. Tidur cukup akan membuat tubuh dan otak bayi berkembang baik dan normal.

- Usia 3-6 tahun Kebutuhan tidur yang sehat di usia anak menjelang masuk sekolah ini, mereka membutuhkan waktu untuk istirahat tidur 11-13 jam, termasuk tidur siang. Menurut penelitian, anak usia di bawah enam tahun yang kurang tidur, akan cenderung obesitas di kemudian hari.

- Usia 6-12 tahun Anak usia ini membutuhkan waktu tidur 10 jam. Menurut penelitian, anak yang tidak memiliki waktu istirahat yang cukup, dapat menyebabkan mereka menjadi hiperaktif, tidak konsentrasi belajar, dan memilki masalah pada perilaku di sekolah.

- Usia 12-18 tahun Menjelang remaja, kebutuhan tidur yang sehat adalah 8-9 jam. Studi menunjukkan bahwa remaja yang kurang tidur, lebih rentan terkena depresi, tidak fokus dan punya nilai sekolah yang buruk

Referensi:

- Afshar M, Gallo RL. Innate immune defense system of the skin. Vet Dermatol. 2013;24:32–9. [PubMed]

- Cruvinel de MW, Mesquita D Jr, Pereira Araújo JA, et al. Immune system – Part I. Fundamentals of innate immunity with emphasis on molecular and cellular mechanisms of inflammatory response.

Bras J Rheumatol. 2010;50:434–61. [PubMed]

- Fulkerson PC, Rothenberg ME. Targeting eosinophils in allergy, inflammation and beyond. Nat Rev Drug Discov. 2013;12:117–29.

[PMC free article] [PubMed]

- Gallo RL, Hooper LV. Epithelial antimicrobial defence of the skin and intestine. Nat Rev Immunol. 2012;12:503–16. [PMC free article] [PubMed]

- http://www.biology.arizona.edu. The University of Arizona . Innate vs. Adaptive Immunity May 24, 2000

- Jaeger BN, Donadieu J, Cognet C, Bernat C, Ordoñez-Rueda D,

Barlogis V, Mahlaoui N, Fenis A, Narni-Mancinelli E, Beaupain B,

Bellanné-Chantelot C, Bajénoff M, Malissen B, Malissen M, Vivier

E, Ugolini S. Neutrophil depletion impairs natural killer cell

maturation, function, and homeostasis. J Exp Med. 2012 Mar

12;209(3):565–580. [PMC free article] [PubMed]

(19)

83

- Kumagai Y, Akira S. Identification and functions of pattern- recognition receptors. J Allergy Clin Immunol. 2010;125:985–992.

[PubMed]

- Liu K, Nussenzweig MC. Origin and development of dendritic cells.

Immunol Rev. 2010;234:45–54. [PubMed]

- Menche N. (ed.) Biologie Anatomie Physiologie. Munich: Urban &

Fischer/ Elsevier; 2012.

- Pillay J, Kamp VM, van Hoffen E, et al. A subset of neutrophils in human systemic inflammation inbhits T cell responses through Mac-1. J Clin Invest. 2012;122:327–36. [PMC free article]

[PubMed]

- Simon D, Simon HU, Yousefi S. Extracellular DNA traps in allergic, infectious, and autoimmune diseases. Allergy. 2013 Apr;68(4):409–16. [PubMed]

- Walker JA, Barlow JL, McKenzie ANJ. Innatelymphoidcells – Howdidwe miss them? Nat Rev Immunol. 2013;13:75–87.

[PubMed]

- Wong MH, Chapin OC, Johnson MD. LPS-stimulated cytokine production in type I cells is modulated by the renin-angiotensin system. Am JRespir Cell MolBiol. 2012;46:641–50. [PMC free article] [PubMed]

- WHO World Health Organization, Ultraviolet (UV) radiation, 2016

(20)

Gambar

Gambar 12. Step of The Inflammatory Response
Gambar 14. Perbedaan Limfosit T dan Limfosit B
Gambar 15. Mekanisme Limfosit T dan Limfosit B

Referensi

Dokumen terkait

Kapasitas antioksidan minuman kunyit asam ditampilkan pada Tabel 5, hasil juga menunjukkan bahwa perlakuan yang memberi nilai total fenol tertinggi adalah formulasi satu (F1)

Alhamdulillahirrabbil’alamiin, Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Mendengar lagi Maha melihat dan atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga

X-Ways forensik, edisi forensik dari WinHex, adalah lingkungan computer forensik yang kuat dan mampu dengan sejumlah fitur forensik, menerjemahkannya menjadi perangkat

Tabel 1.4 Rasio Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak dalam Melaporkan

Radioisotop 115 Cd memiliki waktu paro 53,5 jam, sehingga dengan iradiasi selama 12 hari, radioaktivitas yang dihasilkan telah. mendekati nilai

Faktor yang menjadi penguatan economic civic dalam membentuk kemandirian santri sabagi wujud good governance .... Pembahasan Hasil

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ekstrak biji sumba kling dapat digunakan sebagai indikator asam basa, kecenderungan panjang gelombang maksimum bergeser makin

Keragaan genetik Taura Syndrome Virus (TSV) yang telah menginfeksi udang vanname (L. vannamei) dan udang windu (P. monodon) pada tingkat medium tidak berbeda atau dapat dikatakan