• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mutia Yusuf, Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Kondisi Psikologis 149

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mutia Yusuf, Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Kondisi Psikologis 149"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

USIA PRA SEKOLAH YANG MENGALAMI HOSPITALISASI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH

THE IMPACT OF PLAY THERAPY ON HOSPITALIZED CHILDREN PSYCHOLOGICAL CONDITION AT SEURUNE WARD ZAINOEL ABIDIN HOSPITAL BANDA ACEH INDONESIA

Meutia Yusuf* dan Asniah Syamsuddin** dan Nurhayati***

Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Aceh Jln. Tgk. Mohd. Daud Beureueh No. 110 Banda Aceh

Email: [email protected]

ABSTRACT

Preschool age (3-5 years old) reactions to illness include anxiety, feeling of loss, body injury, and pain. Amongst of these children responds to hospitalization are refusing to eat, giving or sending frequent questions, crying, and uncooperative behaviors toward health workers.

Hospitalization is often perceived as restriction to their activities which causing the feeling of shame, fear, aggressive attitudes, and angriness. This study was to determine the effect of play therapy on psychological conditions of the hospitalized pre-school children (3-5 years) at dr. Zainoel Abidin General Hospital Banda Aceh. This research with quasi experiment approach through pre-test post- test design without controlling. Results were analyzed by applying statistical parametric paired t tests. The results showed the relationships of pre- school children psychological conditions (3-5 years old) who are hospitalized before and after play therapy showed as positive correlation, with the value of 0.811 and p value = 0.000

<0.05. In addition, there are differences in the psychological conditions of the hospitalized pre-school children (3-5 years) before and after play therapy, with a value of t count> t table of values ??(21.728> 1.69) or p Value < (0.000 <0, 05).

Keywords: Preschool age, play therapy, psychological conditions, hospitalization

ABSTRAK

Pada umumnya reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh, dan rasa nyeri. Pada masa prasekolah (usia 3-5 th) reaksi anak terhadap hospitalisasi adalah menolak makan, sering bertanya, menangis perlahan, tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. Sehingga perawatan di rumah sakit menjadi kehilangan kontrol dan pembatasan aktivitas. Sering kali hospitalisasi dipersepsikan oleh anak sebagai hukuman, sehingga ada perasaan malu, takut sehingga menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak, tidak mau bekerja sama dengan perawat Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi bermain terhadap psikologis anak usia pra sekolah (3 – 5 tahun) yang mengalami hospitalisasi di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment melalui pendekatan pre-post test design without controlling. Hasil penelitian dianalisa dengan menggunakan statistik parametrik yaitu paired sampel t test yang diolah menggunakan komputer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain sangat erat dan positif, dengan nilai korelasi adalah 0,811 dan nilai p = 0,000 < 0,05.

Terdapat perbedaan kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi antara sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain, dengan nilai t hitung > dari nilai t tabel (21,728 > 1,69) atau p Value < (0,000 < 0,05).

Kata kunci : Anak Pra Sekolah, Terapi Bermain, Kondisi Psikologis, Hospitalisasi.

149

nasuwakesaceh.ac.id

(2)

PENDAHULUAN

Masalah kesehatan pada anak- anak di negara berkembang perlu mendapat perhatian, mengingat kondisi perekonomian yang belum stabil. Hal ini semakin memperburuk tingkat kesehatan penduduk terutama populasi anak. Implikasi ketika seorang anak menderita sakit adalah mereka akan mengalami gangguan dalam tumbuh kembangnya. Prevalensi disfungsi perkembangan pada saat anak sakit berkisar antara 1–3%. Persentase anak- anak yang dirawat di rumah sakit saat ini mengalami masalah yang serius dan kompleks 3 . Hospitalisasi merupakan suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi dan perawatan.

Meskipun demikian dirawat di rumah sakit tetap merupakan masalah besar serta menimbulkan ketakutan dan cemas bagi anak 6 .

Perawatan anak di rumah sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan stres, baik bagi anak maupun orang tua. Lingkungan rumah sakit merupakan penyebab stres bagi anak dan orang tua baik lingkungan fisik rumah sakit seperti bangunan/ruang rawat, alat-alat, bau yang khas, pakaian

putih petugas rumah sakit maupun lingkungan sosial seperti sesama pasien anak ataupun interaksi dan sikap petugas kesehatan itu sendiri sehingga perasaan takut, cemas, tegang, nyeri dan perasaan tidak menyenangkan lainnya sering dialami oleh anak.

Umumnya anak yang dirawat di rumah sakit takut pada dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya serta anak takut berpisah dengan orang tua dan saudaranya 4 .

Permasalahan lainnya adalah terganggunya kebutuhan bermain pada anak yang mengalami hospitalisasi. Hal ini disebabkan karena dunia anak adalah dunia bermain, khususnya bagi anak yang berusia 3 - 5 tahun.

Pertumbuhan dan perkembangan tersebut harus dijaga kelangsungannya dengan upaya stimulasi yang dapat dilakukan, sekalipun anak dalam perawatan di rumah sakit. Bermain merupakan aktivitas yang dapat dilakukan anak sebagai upaya stimulasi pertumbuhan dan perkembangannya dan bermain pada anak di rumah sakit sebagai media bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, relaksasi dan distraksi perasaan yang tidak nyaman 6 .

nasuwakesaceh.ac.id

(3)

dampak dari hospitalisasi yang dialami oleh anak usia 3 – 5 tahun karena menghadapi stresor yang ada di lingkungan rumah sakit. Dalam penelitiannya Halstroom & Elander (1997), Dampak psikologis yang umum terjadi pada anak usia 3 – 5 tahun akibat dari hospitalisasi adalah menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain, anak tidak aktif, kurang menunjukkan minat bermain, sedih dan apatis. Oleh karena adanya pembatasan terhadap pergerakannya, anak akan kehilangan kemampuannya untuk mengontrol diri dan anak menjadi tergantung pada lingkungannya. Akhirnya, anak akan kembali mundur pada kemampuan sebelumnya atau regresi. Terhadap perlukaan yang dialami atau nyeri yang dirasakan karena mendapatkan tindakan invasif, seperti injeksi, infus, pengambilan darah, anak akan meringis, menggigit bibirnya, dan memukul.

Intervensi penting yang harus dilakukan oleh perawat pada anak yang di hospitalisasi pada prinsipnya untuk meminimalkan stressor, mencegah perasaan kehilangan, meminimalkan perasaan takut dan nyeri terhadap perlukaan serta memaksimalkan

bermain 6 .

Terapi bermain diyakini mampu menghilangkan batasan, hambatan dalam diri, stres, frustasi serta mempunyai masalah emosi dengan tujuan mengubah tingkah laku anak yang tidak sesuai menjadi tingkah laku yang diharapkan dan anak sering diajak bermain akan lebih kooperatif dan mudah diajak kerjasama selama masa perawatan3. Bermain juga menjadi media terapi yang baik bagi anak-anak bermasalah selain berguna untuk mengembangkan potensi anak 2 .

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Widyasari, dkk (2005) diketahui bahwa berdasarkan hasil Wilcoxon Signed Rank Test diperoleh hasil p- value adalah 0,005 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara terapi bermain terhadap penerimaan tindakan invasif pada anak usia pra sekolah di Ruang Rawat Anak RSUD Ngudi Waluyo Blitar 7 .

Berdasarkan uraian, fenomena dan data di atas, maka peneliti beranggapan bahwa terapi bermain sangat penting dalam proses penyembuhan anak yang di rawat di rumah sakit sehingga peneliti tertarik

nasuwakesaceh.ac.id

(4)

untuk mengetahui pengaruh terapi bermain terhadap kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang mengalami hospitalisasi di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

METODE PENELITIAN

Penelitian berjenis kuantitatif ini didesain dalam bentuk quasi experiment melalui pendekatan pre-post test design without controlling. Rancangan tersebut digambarkan sebagai berikut:

Pre Test

Perlakuan Post test Kelompok

Eksperimen

(01) X (02)

Keterangan:

(01) : Pengukuran kondisi psikologis anak sebelum dilakukan terapi bermain.

X : Terapi bermain.

(02) : Pengukuran kondisi psikologis anak sesudah dilakukan terapi bermain.

Populasi yang diteliti adalah anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah berdasarkan rata-rata pasien anak per bulannya, yaitu 36 orang.

Pengumpulan data dilaksanakan pada Ruang Seurune I RSUD dr.

Zainoel Abidin Banda Aceh dari tanggal 24 September sampai dengan 23 Oktober 2012. Adapun Alat pengumpulan data untuk kedua variabel adalah 1.Terapi bermain, dilaksanakan dengan terlebih dahulu menyusun skenario permainan untuk masing- masing kelompok umur. 2. Kondisi psikologis anak usia pra sekolah diukur dengan menggunakan Pediatric Symptom Checklist (PSC), yaitu suatu instrument yang dikembangkan oleh Jellinek, Murphy dan Little pada tahun 1999 untuk mendeteksi secara dini penyimpangan prilaku anak akibat perubahan situasi atau krisis. Instrumen ini terdiri dari 35 item pertanyaan tertutup dengan alternatif jawaban

“Tidak Pernah” (bobot = 0), Kadang- kadang” (bobot = 1) dan “Sering”

(bobot = 2). Kriteria hasil pengkuran, yaitu apabila skor total 24, maka kondisi psikologis anak baik dan apabila skor total ? 24, maka anak mengalami gangguan psikologis.

Hasil pengolahan data selanjutnya dianalisa dengan menggunakan statistik parametrik yaitu paired sampel t test dengan = 0,05 dan degree of freedom adalah N – 1. Interpretasi hasil dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan t table. Apabila nilai t

nasuwakesaceh.ac.id

(5)

Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh antara terapi bermain terhadap kondisi psikologis anak usia pra sekolah. Jika nilai t hitung t table atau pValue ? 0,05, maka Ho diterima yang berarti tidak terdapat pengaruh antara terapi bermain terhadap kondisi psikologis anak usia pra sekolah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian tentang data demografi menyangkut umur dan jenis kelamin anak usia pra sekolah di rumah sakit umum dr. Zainoel Abidin Banda Aceh seperti ditampilkan pada tabel 1.

Tabel 1. Distribusi Responden anak usia pra sekolah berdasarkan Umur, dan jenis kelamin di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2012 (n = 36)

Umur F %

3 Tahun 8 22.2

4 Tahun 13 36.1

5 Tahun 15 41.7

Jumlah 36 100.0

Jenis Kelamin F %

Laki-laki 16 44.4

Perempuan 20 55.6

Jumlah 36 100.0

Umur responden dikelompokkan menjadi 3, yaitu 3 tahun, 4 tahun dan 5 tahun, responden terbanyak berusia 5 tahun yaitu 15 orang (41,7 %) dan

(55,6 %) . Hasil kajian kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3–5 Tahun) di Rumah Sakit Umum dr.

Zainoel Abidin Banda Aceh sebelum dan setelah terapi bermain yang diukur dengan menggunakan Pediatric Symptom Checklist (PSC), ditampilkan pada tabel 2 di bawah ini :

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Kondisi Psikologis Anak Usia Pra Sekolah Sebelum Terapi Bermain dan setelah terapi bermain di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

Kondisi Psikologis

Frekwensi (f)

Persentase (%) Sebelum terapi bermain

Baik 5 13.9

Kurang Baik 31 86.1

Setelah terapi bermain

Baik 33 91.7

Kurang Baik 3 8.3

JUMLAH 36 100.0

Kondisi psikologis anak usia pra sekolah yang dihospitalisasi sebelum dilakukan terapi bermain diperlihatkan pada tabel diatas berada pada katagori kurang baik, yaitu sebanyak 31 orang (86,1 %). Dan kondisi psikologis anak yang dihospitalisasi setelah dilakukan terapi bermain berada pada katagori baik yaitu sebanyak 33 orang (91,7%).

Hasil ini memberikan gambaran bahwa ada peningkatan kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5

nasuwakesaceh.ac.id

(6)

tahun) yang dihospitalisasi sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain.

Manfaat bermain adalah sebagai terapi bagi anak. Pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti : marah, takut, cemas, sedih dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stresor yang ada di lingkungan rumah sakit.

Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stres yang dialaminya karena dengan melakukan permainan, anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi).

Hasil kajian pengaruh terapi bermain terhadap kondisi psikologis anak usia pra sekolah yang dihospitalisasi di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh ditampilkan pada tabel 3.

Tabel 3. Distribusi nilai rata-rata kondisi psikologis anak usia pra sekolah yang di hospitalisasi di RSUD dr.

Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2012 (n = 36)

Mean SD F

Sebelum 27.08 2.842 36 Sesudah 21.06 2.329 36

Berdasarkan tabel 3 di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai rata-rata (mean) kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi sebelum diberikan terapi bermain adalah 27,08 diatas batas nilai normal yang ditetapkan oleh Pediatric Symptom Checklist (PSC)1 yaitu 24.

Hasil ini menunjukkan bahwa sebelum diberikan terapi bermain, kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi rata- rata kurang baik.

Melihat hasil penelitian di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa terapi bermain pada anak usia pra sekolah (3- 5 tahun) yang dihospitalisasi dapat menurunkan stress akibat hospitalisasi tersebut dan akhirnya menjaga kondisi psikologis anak tetap baik. Bermain juga digunakan sebagai terapi dalam proses penyembuhan pasien anak karena diyakini mampu untuk menghilangkan berbagai batasan, hambatan dalam diri, stres dan frustasi, karena bermain memiliki efek healing (penyembuhan)8.

Terapi bermain merupakan suatu proses penyembuhan dengan metode bermain yang digunakan pada anak yang mempunyai masalah emosi, khususnya pada anak usia 3 – 12 tahun,

nasuwakesaceh.ac.id

(7)

anak yang tidak sesuai menjadi tingkah laku yang diharapkan.

Kemudian, untuk melihat hubungan antara kedua pengukuran,

terapi bermain dapat diperlihatkan pada tabel 4 berikut ini:

Tabel 4. Perbedaan kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi antara sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain.

Mean SD CI 95% T Df Α

Lower Upper

Sebelum dan sesudah 6.028 1.665 5.465 6.591 21.728 35 .000

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai t hitung adalah 21,728 dan nilai p adalah 0.000. Nilai t table untuk df = 35 adalah 1,67, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai t hitung > dari nilai t tabel (21,728 >

1,69) atau p Value < (0,000 < 0,05) yang berarti terdapat perbedaan kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi antara sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain. yang pengaruhnya sangat erat dan positif antara kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain dengan nilai korelasi adalah 0,811. Dan terdapat perbedaan kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi antara sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain. Terapi bermain dapat memperbaiki kondisi psikologis anak pra sekolah yang menurun akibat dampak dari hospitalisasi.

Setelah melewati usia balita, anak yang sering diajak bermain akan lebih kooperatif dan mudah diajak bekerjasama. Sebaliknya kalau anak kurang diajak bermain, anak akan kurang memiliki stimulasi, menjadi seperti ditelantarkan, kurang peka terhadap sekitarnya, sulit percaya pada orang lain, dan suka curiga kalau memasuki lingkungan baru 3 .

Pendapat di atas juga didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahma dan Puspasari (2008), yaitu ada perubahan tingkat kooperatif pada

nasuwakesaceh.ac.id

(8)

anak usia prasekolah (3-5 tahun) sebelum dan sesudah diberi terapi bermain di Ruang CB2 Anak Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta9.

KESIMPULAN

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang pengaruhnya sangat erat dan positif antara kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain. dengan nilai korelasi adalah 0,811. Dan terdapat perbedaan kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi antara sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kondisi psikologis anak usia pra sekolah (3-5 tahun) yang dihospitalisasi sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain. Terapi bermain dapat memperbaiki kondisi psikologis anak pra sekolah yang menurun akibat dampak dari hospitalisasi.

SARAN

Perlu adanya pemberian terapi bermain pada anak yang dihospitalisasi dengan membuat jadwal rutin secara berkala untuk kegiatan bermain tersebut

dan menjadikannya bagian dari intervensi dalam asuhan keperawatan anak. Dan kepada pihak keluarga pasien anak yang dirawat di RSUD dr.

Zainoel Abidin Banda Aceh, agar dapat memberikan dukungan penuh dan bekerjasama yang baik dengan perawat dalam menjalankan terapi bermain dengan cara ikut terlibat dalam kegiatan tersebut secara aktif.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktur Poltekkes Kemenkes Aceh yang telah menyediakan dana untuk penelitian ini, Rumah Sakit Umum dr. Zainaoel Abidin Banda Aceh yang telah menyediakan tempat untuk penelitian, dan teman-teman dosen pada Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Aceh yang telah memberi support.

DAFTAR PUSTAKA

¹ Brightfures (2000). Pediatric Symtyomp Checklist.

www.brightfutures.org.

² Martin. (2008). Bermain Sebagai Media Terapi, printout 20

Februari 2012 :

http://www.tabloid-nakita.com ³ Mulyaman. I. (2006). Terapi Bermain

untuk Mengurangi Tingkat

nasuwakesaceh.ac.id

(9)

hospitalissai pada Anak Usia Sekolah. Dikutip dari http://blognurse.blogspot.

com.com/2008/12/terapi- bermain-untukmengurangi- tingkat.html.

4 Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta: EGC.

5 Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

6 Supartini, Yupi (2004). Buku Ajar:

Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.

7 Widyasari, C., dkk (2005). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Penerimaan Terapi Invasif Pada Anak Pra Sekolah Di

Waluyo Blitar. Poltekkes Depkes Malang.

8 Yuniarti (2005). Pengaruh Terapi Bermain Simbolik terhadap Prilaku Kooperatif Anak yang Mengalami Hospitalisasi di RS dr. Sardjito Yokyakarta.

Yokyakarta : Jurnal Kesehatan Surya Medika.

9 Harsono. Y. (2005). Pengaruh Terapi Bermain terhadap Perilaku Kooperatif Anak selama Menjalani Perawatan di RS.

Dr. Sardjito. Yogyakarta:

Proposal penelitian Fakultas Ilmu Keperawatan UGM.

nasuwakesaceh.ac.id

Referensi

Dokumen terkait

Data Kadar Gula Darah dan Berat Badan Tikus Treatment Sonde Sorbet Buah Naga Merah dengan Penambahan Isolat Protein 50

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah disebut, maka dapat disimpulkan bahwa desain adalah cara yang digunakan guru menyampaikan materi dalam proses pembelajaran untuk

Di hari ketigapuluh ini tugas penulis adalah melakukan integrasi atau hosting website yang sudah penulis develop ke dalam domain yang sudah dimiliki oleh

Nama Madrasah : MI Tarbiyatul Islam Mata Pelajaran : Akidah Akhlak7. Kelas : III (Tiga) Tahun Ajaran

[r]

Berdasarkan hasil penelitian pada saat pembelajaran di kelas berlangsung, klitik tak- ini digunakan oleh salah satu siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia. Hal

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan di lingkungan Sekretariat Daerah Kota Mataram, sumber daya keuangan merupakan salah satu faktor yang menentukan pencapaian target

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA pada Bank Umum Swasta.. Nasional Non Devisa sebesar 88,1 persen dan sisanya 11,9