• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ditulis oleh David Dwiarto Rabu, 20 November :02 - Terakhir Diperbaharui Rabu, 20 November :20

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Ditulis oleh David Dwiarto Rabu, 20 November :02 - Terakhir Diperbaharui Rabu, 20 November :20"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Egenius Soda

[email protected]

Aturan yang memaksa perusahaan tambang mendivestasi sahamnya tahun kelima setelah berproduksi membuat investasi tambang di Indonesia semakin tidak menarik bagi perusahaan asing. Pengalaman pahit terkait divestasi saham perusahaan tambang.

Sudah puluhan tahun Newmont beroperasi di Indonesia. Toh perusahaan tarnbang emas asal Amerika Serikat yang mengelola tambang di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, itu kesandung urusan divestasi. Program alokasi sebagian saham untuk pernerintah sesuai amanat regulasi itu belum kelar hingga saat ini. Padahal divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT), yang mengelola tambang Batu Hijau, itu sudah berjalan lima tahun lebih.

Ketika diwajibkan melakukan divestasi, baru diketahui sebagian saham perusahaan tambang emas dan tembaga ini digadaikan. Saat itu, pemerintah meminta pemegang saham asing

segera melunaskan hutang. Sayangnya, ketika divestasi sudah dilakukan dan diserahkan ke PT Multi Daerah Bersaing, ternyata saham tersebut dijaminkan ke perusahaan investasi dari Cina, China Investment Corporation.

Sampai sekarang pun PT Multi Daerah Bersaing, pa¬tungan antara Pemerintah Daerah NTB, Pemda Sumbawa Barat, dan Pemda Sumbawa masih harus membayar hu¬tang tersebut.

Pada divestasi tahap berikutnya, batu sandungan makin banyak. Proses divestasi menjadi berlarut-larut. Sampai sekarang divestasi saham          Newmont tahun 2010, besarnya 7%, belum juga ada pembelinya, sehingga diperpanjang hingga 24 Januari 2014.

Divestasi saham merupakan kewajiban perusahaan tambang yang meneken kontrak karya.

Sejak awal, ketika hendak menandatangani kontrak karya, pemegang saham asing sudah

(2)

mengetahui ada¬nya kewajiban tersebut. Bah¬kan beberapa perusahaan tam¬bang asing sudah melaksana¬kan divestasi. Contohnya PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara, meski program divestasi itu ter¬kesan tidak tuntas.

Pertengahan September lalu, pemerintah kembali menegaskan program divestasi ini lewat Peraturan Menteri ESDM Nomor 27/2013. Regulasi anyar itu sejatinya mengatur tata cara divestasi. Peraturan tersebut merupakan turunan dari Pera¬turan Pemerintah (PP) Nomor 24 tahun 2012 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. PP ini merupakan aturan pelaksana dari UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Sejak

Undang-Undang Pertambangan diterbitkan, beberapa revisi peraturan pemerintah dilakukan.

Sebelumnya, pemerintah menerbitkan PP Nomor 23 Tahun 2010 tentang Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Pada 2012, pemerintah kembali menerbitkan PP 24 sebagai revisi

Permen 23 Tahun 2010. Salah satu bagian yang diperbaiki adalah kebijakan terkait divestasi.

Dan sekarang, berhembus kabar bahwa PP Nomor 24/2012 ini pun sedang dikaji untuk direvisi.

Di pasal 97 PP 23/ 2010 disebutkan, pemilik modal asing harus melakukan divestasi ke badan usaha nasional sehingga badan usaha nasional ini memiliki saham mi¬nimal 20%. Sementara pada PP 24/2012 ditegaskan pemegang saham asing wajib mengalihkan saham ke pemegang saham nasional sebesar 51%. Prosesnya bertahap, dimulai setelah lima tahun berproduksi.

Lebih rinci lagi, pernerintah menerbitkan Permen ESDM No.27 Tahun 2013. Permen ini mengatur teknis dan tata cara divestasi, mulai dari tahapan, siapa yang berhak mendapat kesempatan, perhitungan nilai divestasi, dan beberapa aturan pendukung. Seperti larangan bagi pemegang saham asing menggadaikan sahamnya. Direktur pembinaan dan pengusahaan Mineral, Kementerian ESDM, Dede Ida Suhendra menjelaskan, kebijakan ini merupakan bentuk pengendalian pengelolaan mineral oleh pihak Indonesia. "Kedaulatan mineral dicerminkan oleh pengendalian pengelolaan sumber daya alam oleh anak bangsa melalui penguasaan saham.

Ini merupakan pengejawantahan UUD 1945, khususnya pasal 33 ayat l bahwa tanah, air, dan kekayaan alam dikuasai negara dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat," tegasnya.

Kewajiban divestasi saham hingga 51 % setelah ope¬rasi produksi pemegang IUP, menurut Dede, merupakan kehendak masyarakat. Investor yang akan datang berin-vestasi di sektor mineral tentu telah mempelajari kebijak¬an nasional Indonesia. "Kami mengundang investor yang paham dengan kondisi rakyat, yang sudah dibodohi sela-ma puluhan tahun," tandasnya.

(3)

Kewajiban divestasi ini tidak akan dibebankan kepada pemilik IUPK pengolahan dan pemurnian. Kewajiban hanya diberikan kepada pemegang IUP operasi produksi dan IUP Khusus operasi khusus. "Siapa pun yang nantinya menguasai saham divestasi, tidak begitu penting sejauh perusahaan itu mau ikut berkontribusi meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri," kata Dede.

Pemerintah telah mencapai kesepakatan dengan salah satu perusahaan tambang nikel, PT Weda Bay Nickel. Jika Weda Bay melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri, maka hanya melakukan divestasi saham sebesar 40%. "Bila pemilikan modal asing tersebut terintegrasi dari hulu sampai hilir, kewajiban divestasinya hanya sampai 40%," ujar Dede.

Perusahaan yang mayoritas sahamnya dikuasai St¬rand Mineral Pte Ltd itu akan mengolah dan memurnikan nikel dengan nilai investasi US$ 5,5 miliar. Pabriknya dibangun di Halmahera Utara.

Divestasi menjadi jalan bagi Indonesia untuk menasionalisasikan sektor tambang mineral dan batu bara. Dede menilai, cara nasionalisasi lebih elegan bila lewat divestasi. Dengan

kepemilikan saham mayoritas, pihak Indonesia bisa menjadi pengendali dan pengontrol.

Kewajiban divestasi saham tersebut berlaku untuk perusahaan modal asing (PMA) di sektor hulu pertambangan. "Sekarang, perusahaan lokal sudah mampu menjalankan industri pertambangan di sektor hulu, sehingga kepemilikan asing harus dikurangi," ungkapnya.

Terkait regulasi yang ditetapkan pada 13 September 2013 lalu, beberapa poin menjadi perhatian. Dalam regulasi ini ditetapkan bahwa divestasi sudah harus dilakukan setelah lima tahun produksi.

Aturan ini dirasa cukup memberatkan, karena lima tahun terlalu singkat. Bisa jadi, saat itu perusahaan skala mereka. "Padahal mereka telah mengambil risiko besar mulai dari survei, eksplorasi, konstruksi, sampai eksploitasi. Belum lagi perusahaan sudah harus membangun pabrik pengolahan sendiri," ujar Tony Wenas, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA).

(4)

Menurut Tony, yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah bukan pada kepemilikan saham, tetapi bagaimana sektor pertambangan ini memberi manfaat lebih besar pada masyarakat.

"Jangan lupa, pemilik saham perusahaan tambang juga bisa rugi ketika harga komoditi turun,"

ujarnya

Perusahaan tambang skala besar dan menengah baru bisa meraup untung beberapa tahun setelah beroperasi. Baru saja menikmati laba, perusahaan sudah harus menyerahkan 20%

saham pada pemegang saham nasional. Malah sampai tahun ke-10, posisinya menjadi pemegang saham minoritas.

Apalagi, selain kewajiban divestasi, ada aturan lain: dilarang menggadaikan sahamnya. Aturan ini masih menjadi pertanyaan di kalangan pengusaha tambang. Sebagai industri padat modal, perusahan tambang sudah lazim menjaminkan sahamnya di perbankan atau lembaga

keuangan sebagai cara pembiayaan usaha pertambangan pada kewajiban divestasi, dan tidak perlu mengurus soal gadai saham, karena hal itu merupakan kebijakan perusahaan," kata Tony.

Oleh karenanya, menurut Tony, pemerintah mestinya merumuskan aturan dengan melibatkan pelaku usaha tambang. "Ini yang mungkin harus digaris bawahi, dalam merumuskan sebuah kebijakan, kalangan industri perlu diajak bicara," ungkapnya.

Namun Dede menyanggah pendapat Tony terkait urusan perbankan. Menurut Dede, yang menentukan perusahaan mendapat pinjaman bank atau tidak adalah potensi cadangan yang sudah diverifikasi oleh orang kompeten, jumlah, kualitas cadangan yang dimiliki, serta tingkat produksi dan umur tambang. "Selain itu juga akan dilihat ada tidaknya tenaga ahli, manajemen yang profesional, pasar dan harga jual serta nilai perusahaan. Kalau positif pasti layak

dipinjamkan," jelas Dede.

   Aturan lain yang juga mendapat perhatian adalah pelepasan saham ke publik lewat pasar modal yang dinilai tidak termasuk kegiatan divestasi. Padahal sejumlah perusahaan tambang seperti PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara sudah mempertimbangkan untuk melantai di Bursa Efek, sebagai salah satu cara divestasi. Namun, para pemangku kebijakan berdalih, saham yang terjual di BEI dapat berakhir di tangan investor asing.

Pemerintah juga harus mewaspadai cara penetapan harga saham divestasi. Penetapan harga

(5)

divestasi saham pemegang IUP ditetapkan berdasarkan biaya penggantian atas investasi.

Sistem ini mirip public service obligation PSO) dalam industri minyak dan gas bumi. Biaya penggantian berpotensi digelembungkan, sehingga merugikan negara.

Mekanisme ini diyakini akan ditolak pelaku usaha. "Mana ada perusahaan yang mau

menggunakan perhitungan ini. Sebaiknya harga saham mengikuti harga pasar saat kewajiban divestasi dilaksanakan," jelas salah seorang pelaku usaha tambang yang tidak bersedia disebut namanya.

Dalam aturan disebutkan, penawaran saham divestasi pertama dilakukan kepada pemerintah pusat, kemudian pemerintah provinsi, lalu pemerintah daerah, Badan usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan perusahaan swasta nasional. Pengalaman selama mi membuktikan bahwa proses penawaran saham divestasi membutuhkan waktu karena harus melewati beberapa tahapan.

Sebagai contoh, divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara yang membutuhkan waktu cukup lama. Bahkan sampai sekarang 7% yang menjadi kewajiban investasi tahap terakhir, meski sudah diperpanjang beberapa kali, hingga kini belum kelar.

Indonesia memiliki pengalaman pahit balk terkait dengan divestasi. Dalam praktiknya, pemerintah biasanya tidak akan membeli saham divestasi. Begitu juga dengan BUMN dan BUMND yang ditawarkan. Saham yang dilepas asing biasanya jatuh ke perusahaan swasta nasional. "Nanti praktiknya hanya ganti baju. Perusahaan swastanasional, tetapi modalnya modal asing juga. lni sama saja," jelas Toni.

Belum lagi pemerintah daerah yang ikut berlomba membeli saham. Dengan kocek tipis, akhirnya pemerintah daerah menggandeng perusahaan swasta nasiorial sebagai mitra.

Terkadang mitra ini juga tidak memiliki kemampuan finansial, Sehingga meminjam duit dari luar.

Risikonya, jika gagal bayar maka saham tersebut akan kembali jadi milik pihak asing.

Masih segar dalam ingatan kita, saat divestasi PT Freeport Indonesia. Ketika itu, produsen tembaga dan emas tersebut mendivestasikan sahamnya pada pemerintah sebesar 10%, dan kelakangan diketahui, saham pemerintah Indonesia hariya tersisa 9,36% dan Freeport

McMoran 90,64%. Saham milik PT Iridocopper Investama sebesar 9,36% sudah dibeli kembali

(6)

oleh PT Freeport Indonesia.

Ketika terjadi pembaruan kontrak karya (KK) tahap 11 pada 1991, sebanyak 9,36% saham Freeport dibeli oleh grup Bakrie melalui PT Indocopper Investama dengan harga US$ 213 juta.

Namun, pada 1992, Freeport membeli kembali senilai US$ 212 juta. Pada 1997, Bakrie juga melepas 49% saham miliknya di Indocopper kepada PT Nusamba Mineral Industri milik Bob Hasan senilai US$ 302,7 juta. Tahun 2002, Bob Hasan menjual semua sahamnya di

Indocopper kepada PT Freeport Indonesia.

Ini semua menjadi gambafan bahwa tidak selalu kegiatan divestasi mi bakal berbuah manis.

Apalagi dengan kebijakan akan membuat beberapa perusahaan tambang asing akan membuat pertimbangan matang untuk berinvestasi di Indonesia.

Investor di sektor tambang mineral dan batu bara tentu harus berpikir secara serius untuk menanamkan duitnya di Indonesia. Maklum, dua aturan baru Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam bidang pertambangan akan semakin membatasi gerak mereka.

Hal ini ditegaskan Backer&McKenzie, sebuah lembaga riset yang dalam kesimpulannya menilai bahwa kebijakan mi menjadi langkah mundur bagi investasi asing. Kombinasi kebijakan antara kewajiban divestasi sebesar 51% dengan harga divestasi yang ditentukan Sesuai dengan biaya penggantian, merupakan hal yang sulit dilaksanakan. "Ini akan mengurangi rriinat investor asing masuk sektor pertambangan di Indonesia," demikian Catatan lembaga riset ini.

Sumber : Majalah Tambang, Volume 8, No 101, November 2013

Referensi

Dokumen terkait