• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ditulis oleh David Dwiarto Rabu, 20 November :20 - Terakhir Diperbaharui Rabu, 20 November :23

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Ditulis oleh David Dwiarto Rabu, 20 November :20 - Terakhir Diperbaharui Rabu, 20 November :23"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

EGENIUS SODA

[email protected]">[email protected]

Keharusan membangun smelter disiasati beragam cara oleh pelaku industri tambang.

Modal besar menjadi kendala. Ratusan proposal pembangunan smelter diduga akal­akalan.

Tenggat waktu bagi para pelaku tambang mineral untuk membangun smelter tinggal dua bulan.

Persisnya mulai 12 Januari 2014, tidak ada lagi ekspor mineral dalam bentuk mentah. Semua ha­rus sudah diolah dan dimurnikan.

Empat tahun merupakan waktu yang diberikan UU pada pengusaha untuk membangun pabrik pengolahan. Sayangnya, sampai saat ini tidak banyak smelter yang siap berproduksi. Padahal sebelumnya ada 300 proposal yang mampir ke meja Direktorat Jenderal (Ditjen) Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM.

Ternyata satu demi satu proposal tersebut gugur se­telah diverifikasi. "Itu hanya akal-akalan pengusaha agar mendapat izin ekspor mineral. Kita tidak butuh smelter sebanyak itu," demikian kata Dirjen Minerba ketika itu.

Banjir proposal itu bisa dimaklumi. Saat Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2012 yang merupakan revisi Per­men ESDM Nomor 7 Tahun 2012 dirilis, ditegaskan bahwa salah satu syarat

mendapat izin ekspor, perusahaan harus mengajukan rencana membangun smelter.

Rencana tinggal rencana. Setelah diverifikasi, hanya 125 proposal yang dianggap layak dan serius. Eh, terus me­nyusut, hingga tersisa 28 yang dinyatakan sungguh-sung­guh. Saat ini 28 perusahaan tersebut sedang diverifikasi lapangan oleh pemerintah.

(2)

"Tujuannya untuk melakukan crosscheck, apakah sesuai antara data yang disampaikan dengan kondisi la­pangan," kata Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba, Dede Ida Suhendra.

Namun, menurut Simon Sembiring, situasi saat ini sudah tidak mungkin dilaksanakan hilirisasi mineral se­suai amanat UU Minerba. "Pemerintah harus tegas dan memberi sanksi pada perusahaan kontrak karya yang ti­dak melakukan pengolahan dalam negeri," tandas bekas Direktur Jenderal Mineral dan Batubara ini. Simon meru­pakan salah satu tokoh penting yang turut membidani lahirnya UU Nomor 4 Tahun 2009.

la menilai, selama ini pemerintah kurang tegas me­laksanakan amanat UU ini. Menurut Simon, tidak sulit un­tuk mengetahui perusahaan ini serius atau tidak dalam menggarap smelter. "Masa sih mau membuat smelter da­lam jumlah ratusan. Tidak mungkin setiap perusahaan membuat smelter. Apakah semua sudah diajak bicara? Tidak," kata Simon.

la pun mempertanyakan, apakah selama ini peme­rintah sudah mengajak bicara pengusaha yang sudah me­ngajukan proposal. Simon menilai, peran pemerintah ha­rus lebih besar lagi untuk keberhasilan hilirisasi. Menurut­nya, pemerintah harus lebih proaktif dengan

mengun­dang perusahaan besarberinvestasi smelter di Indonesia.

"Ini yang tidak dilakukan. Selama ini pengusaha se­ring mencari celah untuk memanfaatkan kelemahan In­donesia. Pemerintahnya lemah dan pengusahanya akal­akalan," tegas Simon.

Natsir Mansyur, Direktur Utama PT Indosmelt, salah satu perusahaan yang menyatakan akan membangun in­dustri pengolahan mineral, juga menyatakan Indonesia tidak membutuhkan banyak smelter. "Saya tidak menga­takan bahwa ada banyak pengusaha yang akal-akalan, yang diperlukan sekitar 20 sampai 30 smelter saja," kata 'Natsir. Menurutnya, lebih baik Indonesia fokus dulu pada beberapa komoditi mineral unggulan dari pada memaksa semua membangun smelter, namun akhirnya tidak berja­Ian.

Pernyataan lebih pedas lagi disampaikan wakil Ke­tua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis.

Menurutnya, hilirisasi mineral sudah berantakan karena tidak ada ketegasan dari pemerintah.

"Bahkan disinyalir ada'main mata' anta­ra pengambil kebijakan dan pengusaha industri hulu dan tambang. Makanya tarik ulur terus dan tidak ada yang jadi ini barang. Kementerian ESDM

(3)

harus tegas terhadap pe­ngusaha/investor tambang," kata politisi Partai Golkar ini.

Ketua Asosisasi Pengusaha Mineral Indonesia (APEMINDO) Poltak Sitanggang menilai, mestinya peme­rintah membuat peta jalan hilirisasi mineral. "Kami tanya ke pemerintah, ternyata tidak ada. Masa semua harus membangun smelter. Bayangkan saja, jika di satu wilayah ada 20 komoditi, lalu harus ada 20 smelter. Tentu menjadi ruwet," katanya.

Poltak juga mempertanyakan peran pemerintah da­lam mendukung program ini. Misalnya menyediakan in­frastruktur pendukung seperti jalan, listrik, dan pelabu­han. Poltak memberi contoh, Cina maju dalam industri pe­ngolahan dan pemurnian karena pemerintahnya terlibat mempersiapkan infrastruktur pendukung.

Harus diakui, membangun smelter bukanlah peker­jaan mudah. Meski memiliki prospek

keuntungan besar, perusahaan harus menggelontorkan dana lumayan gede. Selama ini, pelaku usaha tambang sudah dimanjakan ke­longgaran bisa menjual mineral mentah.

Ada yang secara tegas mengatakan bahwa pem­bangunan smelter tidak ekonomis. Seperti disampaikan manajemen PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT). Da­lam wawancara dengan majalah TAMBANG tiga bulan lalu, Direktur Utama Newmont, Martiono Hadianto

meng­ingatkan bahwa kewajiban mengolah di dalam negeri ha­rus dibedakan dengan keharusan mepdirikan smelter.

Perusahaan tambang tembaga dan emas lainnya, PT Freeport Indonesia, telah menyatakan niatnya menggan­deng pihak ketiga. Di antaranya menyuplai konsentrat pa­da PT Indosmelt dan PT Indovasi Mineral Indonesia.

Freeport saat ini tengah membuat studi kelayakan, yang diharapkan selesai awa12014. Tiga lokasi dipelajari, yakni Gresik dan Tuban, keduanya di Jawa Timur, plus sa­tunya di Papua.

Baru Januari nanti bisa dilihat hasilnya.

"Kami minta dispensasi, sebab Freeport bukan ahli di bi­dang itu," ungkap Presiden Direktur PT Freeport Indone­sia, Rozik B. Sutjipto. Pabrik itu investasinya US$ 1,2-1,5 miliar, direncanakan

(4)

rampung pada 2017.

Meski kesepakatan kerjasama dengan calon pihak ketiga sudah diteken, sebagian kalangan belum yakin bah­wa perusahaan asal Amerika Serikat itu bakal serius mem­bangun smelter.

"Itu hanya akal-akalan pengusaha. Jika serius tentu dalam beberapa tahun ini sudah ada kema­juan," demikian sumber majalah TAMBANG yang juga pe­tinggi di Kementerian ESDM.

Tudingan akal-akalan itu dibantah Natsir Mansyur. Menurutnya, pihak yang menuduh

perusahaannya dan beberapa perusahaan smelter tidak serius, karena tidak mengerti situasi dan persiapan yang sedang dijalani. "Sampai sekarang masih berjalan sesuai rencana dan se­dang tahap perencanaan," ujar Natsir. Rencananya, Natsir membangun pabrik pengolahan mineral di Maros, Sula­wesi Selatan, mulai 2014, diharapkan selesai pada 2017.

Untuk lebih meyakinkan lagi, Natsir menjelaskan bahwa smelternya akan menggunakan teknologi dari Aus­tralia dan Finlandia, dengan total investasi sebesar US$ 1,5 miliar. "PT Freeport Indonesia akan memasok bahan baku konsentrat tembaga dan emas. Kapasitasnya 300 ribu ton tembaga dan 30 ton emas," jelas Natsir.

Menurut Natsir, semua orang harus memahami bah­wa membangun smelter butuh waktu lama karena inves­tasinya besar. Selain itu, teknologi dan sumber daya manu sia juga perlu

dipersiapkan. Banyak hal harus dipersiap­kan. "Ini bukan investasi kecil, sehingga butuh waktu," ujarnya.

Direktur Utama PT Indovasi Mineral Indonesia, Tau­fik Sastrawinata, menjelaskan kepada majalah TAMBANG bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan diskusi kon­trak dan juga analisis keuangan. Pabrik pengolahannya rencananya dibangun di Tuban atau Gresik, Jawa Timur ini. Investasinya mencapai US$ 1,5 miliar, sebanyk 30% di antaranya dari modal sendiri, sisanya dari perbankan. "Ada kemungkinan bertambah, karena faktor kenaikan ni­lai tukar rupiah dan gejolak ekonomi dunia," ungkapnya.

Namun, menurut Taufik, berhasil tidaknya proyek ini sangat bergantung pada komitmen PT Freeport Indonesia dalam memasok konsentrat. Maksudnya, jika PT Freeport Indonesia berubah pikiran dan tidak lagi bersedia mema­sok konsentrat, proyek ini batal. "Tapi kami optimistis pro­yek ini bakal berjalan," tegas Taufik.

(5)

Pabrik pengolahan smelter ini nantinya akan meng­gunakan teknologi milik Autotech dari

Finlandia dan Ex­tratech dari Australia. Diperkirakan paling lambat pada pertengahan atau akhir 2014, sudah mulai peletakan batu pertama, sehingga pada 2017 sudah bisa berproduksi.

Taufik pun memahami keraguan beberapa pihak pa­da keseriusan perusahaan membangun smelter. Menurut­nya, sebelum membangun smelter, banyak hal harus di­pertimbangkan dan dipastikan. "Selain itu, investasi mem­bangun smelter itu tidak kecil, yakni US$ 1,5 miliar. Jadi, wajar butuh waktu lama. Tapi, sekali lagi semua tergan­tung Freeport, kalau tiba-tiba mereka bilang tidak, ya apa boleh buat. Tapi kami bisa pastikan ini serius kalau dibe­rikan

kesempatan," tegas Taufik.

Persoalan hilirisasi selama ini bak telur dan ayam. Belum jelas, mana yang harus didahulukan.

Kegagalan

membangun smelter sesuai jadwal yang sudah diamanat­kan UU Minerba memang tidak semata kesalahan pengu­saha. Pemerintah, oleh beberapa kalangan, dinilai turut berperan terkait kegagalan membangun smelter sesuai rencana.

Selama ini, pelaku usaha menunggu kejelasan sikap pemerintah terkait hilirisasi sektor mineral.

Misalnya peta jalan dari hilirisasi mineral ini sampai sekarang belum je­las. "Kondisi saat ini tidak serta merta kesalahan pengu­saha. Pemerintah harus ikut bertanggungjawab," ujar Pol­tak Sitanggang.

Menurutnya selama ini Pemerintah belum menyu­sun peta jalan hilirisasi mineral. Padahal hal itu sangat pen­ting, karena tidak semua mineral layak secara ekonomis untuk dilakukan pengolahan dalarri negeri. "Harusnya pe­merintah melakukan kajian, mineral mana yang

cadang­an besar dan Indonesia memiliki posisi strategis. Itulah yang mendapat perioritas untuk dilakukan pengolahan. Pemerintah tidak bisa hanya membuat aturan," jelas Pol­tak.

la pun tidak menyangkal bahwa banyak perusahaan tidak serius dalam mengajukan proposal membangun smelter. "Melihat jumlah proposal yang sangat banyak itu, sudah pasti bahwa banyak perusahaan yang hanya me­manfaatkan celah hukum agar mendapat izin ekspor,"

(6)

ungkap Poltak.

Oleh karenanya, Poltak berharap, selain lebih tegas menerapkan verifikasi terhadap proposal pembangunan smelter, pemerintah juga harus membantu pengusaha menyukseskan kegiatan hilirisasi. "Pemerintah juga harus terlibat dalam mempersiapkan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan dan listrik. Selain itu juga membantu memper­cepat proses perijinan, seperti pembebasan lahan, pinjam pakai lahan dan lainnya," ungkapnya.

Wakil Ketua Komisi VI Fraksi Partai Golkar, Airlangga

Hartanto, mengaku pesimistis kebijakan hilirisasi berjalan sesuai jadwal. Bahkan menurutnya, kebijakan terancam berantakan. Sebab, fisik pabrik yang dinantikan tak kun­jung kelihatan. Jika dimulai dari 2014, tentunya akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk

mereali­sasikan program pembangunan smelter.

Menurut Airlangga, pemerintah selama ini juga tidak serius membantu pengusaha tambang dalam menye­lesaikan berbagai kendala. Misalnya biaya investasi yang tidak memadahi, rendahnya produksi biji mineral tam­bang, belum adanya jaminan pasokan listrik, minimnya infrastruktur transportasi, dan belum adanya teknologi yang mumpuni untuk membangun smelter. "Peraturan

yang saat ini ada belum tepat untuk mendukung dunia usaha. Ini artinya pemerintah melakukan pembiaran," tegasnya.

Oleh karena itu, Airlangga meminta Pemerintah lebih tegas menjalankan amanat UU Minerba terkait hiliri­sasi. Ketegasan itu juga diterapkan saat melakukan verifi­kasi atas rencana

perusahaan membangunan smelter.

Pemerintah boleh saja berargumen bahwa saat ini yang harus jadi perhatian bukan lagi pada waktu, tetapi lebih pada proses hilirisasi agar dapat berjalan. Dalam pro­ses verifikasi,

Pemerintah harus lebih tegas dalam mene­rapkan aturan dimana perusahaan yang benar-benar se­riuslah yang mendapat insentif berupa relaksasi ekspor.

(7)

 Sumber : Majalah Tambang, Volume 8, No 101, November 2013

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga kita bisa menterapi orang lain secara tepat dan efektif dengan metoda atau.. gaya

Kelemahan dari buku ini adalah buku ini tidak memuat tentang data dan fakta yang diambil dari eksperimen-eksperimen ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan sehingga membuat para

Dan mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dengan masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah jalinan hubungan tersebut adalah

11 bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, merupakan instrumen penting dalam sektor pertambangan dimana PEMDA bisa lebih pro-aktif melakukan inventarisasi dan explorasi Sumber

7.16.(1) Perkerasan Jalan Beton K-350 (dengan sambungan Tie Bar) + Additive (harga Nego). PEJABAT PELAKSANA TEKNIS KEGIATAN

o Peletakan papan iklan di atas bumbung bangunan adalah tidak digalakkan bertujuan bagi mewujudkan `skyline’ yang seragam.. o Sistem perparitan dilengkapi dengan perangkap sisa

Model linear programming [4] untuk menghitung biaya transportasi yang optimum (dalam penelitian ini, optimum adalah minimum transport cost), dan model gravitasi