Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 1 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
P U T U S A N Nomor 991 K/Pdt/2016
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara perdata pada tingkat kasasi telah memutus sebagai berikut dalam perkara:
1. BUPATI KEPALA DAERAH KABUPATEN BANGKALAN, berkedudukan di Jalan Sukarno-Hatta Nomor 35, Kabupaten Bangkalan;
2. KEPALA BADAN PERTANAHAN NEGARA (BPN), berkedudukan di Jalan Soekarno-Hatta Bangkalan, yang diwakili oleh Didik Bangun Restuaji, S.H., Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bangkalan, keduanya dalam hal ini memberikan kuasa kepada Bakhtiar Pradinata, S.H., dan kawan-kawan, Para Advokat, beralamat di Perum Batara Regency Kav. 02 Jalan Nusa Indah – Perumda Bangkalan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 15 Juli 2015;
3. PT TRI WAROKO UTAMA atau dikenal PT TRI WAROKO, berkedudukan di Jalan Swasembada Barat IA Nomor 10, Tanjung Priok, Jakarta, dalam hal ini memberikan kuasa kepada Andi F. Simangunsong dan kawan-kawan, Para Advokat pada Kantor Hukum AES Partnership, beralamat di Menara Thamrin, Lt 14 Suite 1408, Jalan MH. Thamrin Kav. 3, Jakarta Pusat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 10 Agustus 2015;
Para Pemohon Kasasi dahulu Para Tergugat/Para Terbanding;
L a w a n
IRAWAN ONGGARA, selaku Direktur Utama PT Gerbang Samudra Santosa, berkedudukan di Surabaya, bertempat tinggal kantor di Jalan Perak Timur 564 – A8 Surabaya, dalam hal ini memberikan kuasa kepada Abbas Achmad Anshori, S.H., M.H., dan kawan-kawan, Para Advokat pada Kantor Hukum “LKBH Baladhika Surabaya”, beralamat di Jalan Bukit Citra Darmo BCE Nomor 1, Jalan Raya Klakah Rejo, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 12 Agustus 2013;
Termohon Kasasi dahulu Penggugat/Pembanding;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 2 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
D a n:
1. KEPALA KECAMATAN BANGKALAN KABUPATEN BANGKALAN, berkedudukan di Jalan RA. Kartini Nomor 2, Kabupaten Bangkalan;
2. KEPALA DESA SEMBILANGAN KABUPATEN BANGKALAN, berkedudukan di Jalan Raya Sembilangan, Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan;
3. JATI WIYONO, bertempat tinggal di Jalan Trunijoyo Nomor 87, Kabupaten Bangkalan;
4. AMIRUSI ERONI, bertempat tinggal di Letnan Abdullah 1 Nomor 76, Kraton, Kabupaten Bangkalan;
5. RITA AGUSTINA, S.Kom., bertempat tinggal di Jalan Teuku Umar II Nomor 19, RT 001 RW 003, Kelurahan Kemayoran, Kabupaten Bangkalan;
6. HERRY SUCHELY, bertempat tinggal di Jalan Letnan Sunarto II Nomor 26, RT 003 RW 001, Kabupaten Bangkalan;
7. MADE ADNYANA, bertempat tinggal di Jalan JDPP II Nomor 19, RT 006, RW 001, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan;
8. KADEK KARTANEGARA, bertempat tinggal di Jalan JDPP II Nomor 19, RT 006 RW 001, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan;
9. KOMANG KURNIATO, bertempat tinggal di Jalan Cidodol, RT 008 RW 006, Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan;
10. NOTARIS dan PPAT “BHINNOECKE EKA SARI, S.H., M.KN.”, bertempat tinggal di Jalan KH. Moch. Kholil, Nomor 42, Kabupaten Bangkalan;
Turut Para Termohon Kasasi dahulu Turut Para Tergugat/Turut Para Terbanding;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata sekarang Termohon Kasasi dahulu Penggugat/Pembanding telah menggugat sekarang Para Pemohon Kasasi dahulu Para Tergugat/Para Terbanding dan Turut Para Termohon Kasasi dahulu Turut Para Tergugat/Turut Para Terbanding di muka persidangan Pengadilan Negeri Bangkalan pada pokoknya atas dalil-dalil:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 3 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
1. Bahwa pada tanggal 27 Desember 1995 Penggugat mendapatkan Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dari Tergugat I dengan Nomor 503/249/443.021/1995, yang isinya menyetujui rencana pembangunan industri kapal yang terletak di Desa Ujung Piring, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, seluas 10,5 ha (sepuluh setengah hektar) dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi), dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi);
2. Bahwa mengingat lokasi yang dimaksud dalam Surat Persetujuan Izin Prinsip tersebut di atas adalah salah ketik, maka Tergugat I mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Surat Nomor 503/237/443.021/1996 tanggal 7 Februari 1996 yang isinya memperbaiki atau merubah lokasi desanya yakni tidak di Ujung Piring melainkan di Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan;
3. Bahwa Surat Persetujuan Izin Prinsip tersebut di atas, oleh Tergugat I diperpanjang tiap tahunnya akan tetapi ada pengurangan, sebagaimana awalnya seluas 10,5 ha (sepuluh setengah hektar) menjadi seluas ± 44.375 m² (empat puluh empat ribu tiga ratus tujuh puluh lima meter persegi) yang terkwalifikasi melakukan perbuatan melawan hukum, dengan lokasi yang sama yakni Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, dengan rincian panjang pantai 443,75 m² (empat ratus empat puluh tiga koma tujuh puluh lima meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi);
4. Bahwa kemudian Tergugat I menindaklanjuti dengan mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Izin Lokasi kepada Penggugat dengan Nomor 188.45/525/Kpts/433.201/2002, tanggal 29 November 2002 dengan lokasi yang sama yakni Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, yang awalnya seluas 10,5 ha (sepuluh koma lima hektar) dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi), menjadi seluas
± 44.375 m² (empat puluh empat ribu tiga ratus tujuh puluh lima meter persegi), dengan rincian panjang pantai 443,75 m² (empat ratus empat puluh tiga koma tujuh puluh lima meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi) dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara Tanah milik PT Adiluhung/ASSI;
- Sebelah Timur Jalan Desa Sembilangan;
- Sebelah Selatan Dermaga Perahu Tradisional;
- Sebelah Barat Pantai Laut Sembilangan;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 4 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
Yang untuk selanjutnya disebut sebagai objek sengketa;
5. Bahwa selain tersebut di atas, Tergugat I juga mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Surat Persetujuan Prinsip Penanaman Modal Dalam Negeri Nomor 582/307/433.011/2008 tanggal 12 Maret 2008 yang berakhir tanggal 12 Maret 2009 di atas objek sengketa atas nama Penggugat;
6. Berkaitan Surat Izin Prinsip dan Izin Lokasi tersebut di atas, maka layak dan patut Penggugat sampaikan yakni masyarakat warga sekitar lokasi objek sengketa yang oleh Penggugat akan mendirikan industri kapal adalah merasa setuju dan sepakat kalau segera dimulai pembangunannya mengingat dengan sudah dibangunnya industri kapal tersebut maka akan berdampak positif dalam perekonomian warga sekitar. Hal ini dapat dibuktikan dari bantuan yang diberikan Penggugat kepada masyarakat warga sekitar sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atas dana partisipasi pembangunan Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan tanggal 6 Maret 1996 dan juga belum bantuan-bantuan lain yang tidak terperinci dan tidak tertulis;
7. Bahwa guna menindaklanjuti Surat Persetujuan Izin Prinsip dan Izin Lokasi tersebut di atas, Penggugat telah melakukan segala persiapan dan pelaksanaan, sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Tergugat I berkaitan dengan rencana pendirian industri galangan kapal di Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, yang di antaranya adalah menyiapkan lahannya, memagari dan memberikan batas-batas lahannya, menyiapkan perangkatnya, melakukan penelitihan, melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar lokasi proyek dimana industri galangan kapal itu didirikan, maupun mengurus perizinan-perizinan yang dibutuhkan yang sebagian telah disetujui dan sebagaian lagi masih dalam proses yang terus di ajukan oleh Penggugat kepada Tergugat I yang tentunya Penggugat telah mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga yang banyak;
8. Bahwa di samping tersebut di atas, Penggugat juga sudah melakukan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan di lokasi lahan tersebut dengan Nomor SPPT ( NOP ) 35.26.110.001.008-0001.0 pada tahun 2005 dan tahun 2006 tiap tahunnya dibayar dengan nominal Rp426.600,00 (empat ratus dua puluh enam ribu enam ratus rupiah) dan tahun 2007 dibayar dengan nominal Rp499.975,00 (empat ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus tujuh puluh lima rupiah);
9. Bahwa mengingat tersebut di atas, yang oleh Penggugat dirasa sudah cukup, sebagaimana Penggugat juga berkesanggupan memberikan ganti kerugian
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 5 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
kepada Negara agar untuk dibuatkan Akta Pelepasan Hak di atas objek sengketa dan juga untuk menindaklanjuti Surat dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Kecamatan Bangkalan Nomor 601/179/433.401/2008 tanggal 17 April 2008, untuk itu maka Penggugat telah mengajukan permohonan dan mendaftarkan kepada Tergugat II, dengan maksud dan bertujuan agar di atas objek sengketa segera diterbitkan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) atas nama Penggugat;
10. Bahwa dikarenakan permohonan Penggugat kepada Tergugat II masih dalam proses, sedangkan mengenai Surat Persetujuan Prinsip Penanaman Modal Dalam Negeri Nomor 582/307/433.011/2008 tanggal 12 Maret 2008 yang berakhir tanggal 12 Maret 2009, untuk itu dengan iktikad baiknya sebelum Surat Persetujan Izin tersebut berakhir, Penggugat mengajukan surat permohonan kepada Tergugat I dengan Nomor 101/GGS-PL/XI/2008 tertanggal 21 November 2008 yang meliputi permohononan izin lokasi, izin HO, izin mendirikan bangunan, kemudian disusul surat dari Penggugat Nomor 102/GGS PL/XII/2008 tanggal 22 Desember 2009;
11. Bahwa menjadi kaget dan heran yakni permohonan Penggugat tersebut di atas mendapatkan jawaban dari Tergugat I, berupa penolakan terhadap permohonan Penggugat tertanggal 10 Februari 2008 dengan Nomor 181/153/433.303/2009 yang oleh Tergugat I ditindaklanjuti dengan mengeluarkan, menandatangani dan memberikan surat dengan Nomor 582/1642/443.303/2008, Perihal Pencabutan Izin Prinsip sebelum Izin Prinsip Tersebut berakhir yakni tanggal 4 Desember 2008, yang faktanya diterima Penggugat tanggal 28 Desember 2009, dengan pertimbangan yang tidak benar dan tidak rasional yang terkualifikasi melakukan perbuatan melawan hukum, karena selama ini Penggugat yang dalam merealisasikan investasinya di bidang industri galangan dan reparasi kapal di Kabupaten Bangkalan di atas objek sengketa, dilakukan dengan sungguh- sungguh dan dengan dana, tenaga dan waktu yang tidak murah, yang apabila dihitung Penggugat sudah mengeluarkan biaya yang totalnya sebesar Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah);
12. Bahwa atas perbuatan Tergugat I tersebut di atas, yang dengan arogan dan melawan hukum, telah mengizinkan dan atau telah melakukan pengurukan/
reklamasi terhadap lokasi lahan yang berdiri di atas Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dan Galangan Kapal maupun Surat Izin Lokasi milik Penggugat yang terletak di Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, untuk itu Penggugat pada tanggal 12 Maret 2012 telah mendaftarkan gugatan di Pengadilan Negeri Bangkalan dengan perkara
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 6 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
Nomor 04/Pdt.G/2012/PN Bkl;
13. Bahwa amar putusan Pengadilan Negeri Bangkalan perkara perdata Nomor 04/Pdt.G/2012/PN Bkl, yang diputus pada tanggal 2 Agustus 2012, pada prinsipnya dalam pokok perkara “Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard)” dan dikuatkan oleh Putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur di Surabaya dalam Perkara Nomor 510/PDT/2012/PT SBY. tanggal 11 Desember 2012;
14. Bahwa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bangkalan perkara perdata Nomor 04/Pdt.G/2012/PN Bkl. Tergugat I mengajukan saksi dan bukti-bukti, yang pada prinsipnya mengakuhi dan membenarkan jika di atas objek sengketa adalah pernah dikeluarkan Surat Izin Prinsip dan Izin Lokasi an.
Penggugat, yang saat ini telah diuruk/direklamasi dan dikuasai oleh Tergugat III, dan dengan pertimbangan tersebut, sebagaimana tercantum dalam berita acara pemeriksaan saksi yang bernama Moh. Yusuf pada salinan putusan Pengadilan Negeri Bangkalan perkara perdata Nomor 04/Pdt.G/2012/PN Bkl halaman 42 sampai dengan 45 dan Bukti Tulis T– 8 sampai dengan T- 10 dan T–12 sampai dengan T-14 pada salinan putusan Pengadilan Negeri Bangkalan perkara perdata Nomor 04/Pdt.G/2012/PN Bkl. halaman 28 dan 29, sebagaimana ada pihak-pihak yang tidak dilibatkan, karenanya Majelis Hakim dalam amar putusannya “Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima“ (niet ontvankelijke verklaard )”;
15. Bahwa perlu dan patut Penggugat sampaikan, yakni sebagai berikut:
a. Bukti T–8 adalah Surat Keterangan dari Turut Tergugat II yang diketahui Turut Tergugat I dengan Nomor 590/01/433.402.8/2009 tanggal 2 Desember 2009 yang kemudian ditindaklanjuti dengan membuat Bukti T 12 yakni Akta Perjanjian Pelepasan Hak Garapan/Penguasaan Atas Tanah Negara Nomor 109 yang dibuat di hadapan Turut Tergugat X tanggal 28 Juli 2011 yang pada prinsipnya menerangkan di atas objek sengketa seluas 19.555 m² (sembilan belas ribu lima ratus lima puluh lima meter persegi) dikuasai Turut Tergugat IV atas pembelian dari Turut Tergugat III yang kemudian dibeli oleh Turut Tergugat VII;
b. Bukti T-9 adalah Surat Keterangan dari Turut Tergugat II yang diketahui Turut Tergugat I dengan Nomor 590/02/433.402.8/2009 tanggal 2 Desember 2009 yang kemudian ditindaklanjuti dengan membuat Bukti T- 13 yakni Akta Perjanjian Pelepasan Hak Garapan/Penguasaan Atas Tanah Negara Nomor 55 yang dibuat di hadapan Turut Tergugat X tanggal 16 Agustus 2011, yang pada prinsipnya menerangkan di atas
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 7 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
objek sengketa seluas 19.755 m² (sembilan belas ribu tujuh ratus lima puluh lima meter persegi) dikuasai Turut Tergugat VI atas pembelian dari Turut Tergugat III yang kemudian dibeli oleh Tergugat VII;
c. Bukti T–10 adalah Surat Keterangan dari Turut Tergugat II yang diketahui Turut Tergugat I dengan Nomor 590/04/433.402.8/2009 tanggal 2 Desember 2009 yang kemudian ditindaklanjuti dengan membuat Bukti T-14, yakni Akta Perjanjian Pelepasan Hak Garapan/Penguasaan Atas Tanah Negara Nomor 54 yang dibuat di hadapan Turut Tergugat X tanggal 16 Agustus 2011, yang pada prinsipnya menerangkan di atas objek sengketa seluas 16.225 m² (enam belas ribu dua ratus dua puluh lima meter persegi) dikuasai Turut Tergugat V atas pembelian dari Turut Tergugat III yang kemudian dibeli oleh Turut Tergugat VIII dan Turut Tergugat IX;
16. Bahwa mengingat tersebut di atas, sebagaimana dalam bukti tulis yang diajukan Tergugat I, yakni Bukti T-8 sampai dengan T-10 dan T-12 sampai dengan T-14 diketahui dan adanya klausul ketidakbenaran dari Tergugat I dan Tergugat II, sebagaimana berkontradiksi dengan fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bangkalan dalam Perkara Nomor 04/Pdt.G/2012/PN Bkl. untuk itu maka membuktikan adanya konspirasi tidak baik antara Tergugat I dan Tergugat II dengan Para Turut Tergugat dalam hal pembuatan bukti yakni T-8 sampai dengan T-10 dan T- 12 sampai dengan T-14 yang pada kenyataannya saat ini Tergugat III telah menguasai, menguruk/reklamasi dan membangun objek sengketa, karenanya agar memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum, maka layak dan patut Para Tergugat dan Para Turut Tergugat dalam perkara ini dijadikan pihak;
17. Bahwa perlu dan patut Penggugat sampaikan, yakni sebelum Bukti T-8 sampai dengan T-10 dan T-12 sampai dengan T-14 dibuat oleh Tergugat I dan Tergugat II dengan Para Turut Tergugat, yang pada kenyataannya saat ini Tergugat III telah dan sudah menguasai, menguruk/reklamasi dan membangun objek sengketa adalah Para Tergugat dan Para Turut Tergugat dengan iktikad baiknya tidak pernah memberikan pemberitahuan baik secara tertulis maupun lisan kepada Penggugat, karenanya layak dan patut dipertanyakan apakah pengurukan/reklamasi dan pembangunan yang dilakukan Tergugat III terhadap objek sengketa tidak bertentangan dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku dan juga apakah pengurukan dan pembangunan dimaksud sudah mendapatkan izin dari instansi yang berwenang;
18. Bahwa selain tersebut di atas, yakni mengenai isi atau klausul sebagaimana tercantum dalam Bukti T-8 sampai dengan T-10 dan T-12 sampai dengan T-
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 8 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
14 adalah diragukan ke-otentikannya dan kebenarannya yang terindikasi melakukan perbuatan melawan hukum. Dengan demikian terbukti jika Tergugat I dan Tergugat II yang telah mengizinkan Tergugat III untuk menguasai dan menguruk/reklamasi yang saat ini telah dibangun oleh Tergugat III di atas objek sengketa adalah bekerjasama dengan Para Turut Tergugat, sebagaimana cara-cara yang dilakukan Para Tergugat dan Para Turut Tergugat tersebut di atas, terindikasikan sebagai perbuatan melawan hukum/onrechtmatige daad (vide Pasal 1365 Kitab Undang Undang Hukum Perdata), yang nyata-nyata mengakibatkan kerugian yang dialami oleh Penggugat, karenanya layak dan patut Kepada Yth. Majelis Hakim pemeriksa perkara ini untuk Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng untuk memberikan ganti kerugian kepada Penggugat, yang rinciannya sebagai berikut:
Kerugian Materiil:
Yaitu kerugian yang sudah dikeluarkan oleh Penggugat, diantaranya sebagai berikut:
- Bantuan yang diberikan Penggugat kepada masyarakat warga sekitar sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atas dana partisipasi pembangunan Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan;
- Pembayaran pajak bumi dan bangunan tanah di lokasi lahan tersebut pada tahun 2005 dan tahun 2006, dengan Nomor SPPT (NOP) 35.26.110.001.008-0001.0, yang tiap tahunnya dibayar dengan nominal Rp 426.600,00 (empat ratus dua puluh enam ribu enam ratus rupiah) dan tahun 2007 dibayar dengan nominal Rp499.975,00 (empat ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus tujuh puluh lima rupiah), yang totalnya sebesar Rp1.353.175,00 (satu juta tiga ratus lima puluh tiga ribu seratus tujuh puluh lima rupiah);
- Biaya menyiapkan lahannya, menyiapkan perangkatnya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar lokasi proyek dimana industri galangan kapal itu akan didirikan, maupun mengurus perizinan-perizinan yang dibutuhkan yang sebagian telah disetujui, yang apabila dihitung Penggugat sudah mengeluarkan biaya yang totalnya sebesar Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah);
Yang totalnya Rp10.000.000,00 + Rp1.353.175,00 + Rp2.000.000.000,00 = Rp2.011.353.175,00 (dua miliar sebelas juta tiga ratus lima puluh tiga ribu seratus tujuh puluh lima rupiah);
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 9 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
Kerugian Inmateriil:
Yaitu akibat kerugian yang disebabkan sejak Tergugat I mengeluarkan Surat Penolakan terhadap permohonan Penggugat tanggal 10 Februari 2008 dengan Nomor 181/153/433.303/2009 yang oleh Tergugat I ditindaklanjuti dengan mengeluarkan, menandatangani dan memberikan surat dengan Nomor 582/1642/443.303/2008, Perihal Pencabutan Izin Prinsip sebelum Izin Prinsip tersebut berakhir yakni tanggal 4 Desember 2008, yang faktanya diterima Penggugat tanggal 28 Desember 2009, sehingga tiada lain Penggugat mempertahankan haknya, maka Penggugat merasa dirugikan yang apabila dihitung sebesar Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah);
19. Bahwa untuk menjamin agar gugaatan Penggugat tidak sia-sia maka Penggugat mohon kepada Majelis Hakim kiranya untuk menjatuhkan penetapan sita mengenai peletakan Sita Jaminan (conservatoir beslag) atas izin-izin milik Tergugat III yang berdiri di atas surat izin milik Penggugat diantaranya Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dari Tergugat I dengan Nomor 503/249/443.021/1995 tanggal 27 Desember 1995 yang ditindaklanjuti oleh Tergugat I mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Surat Nomor 503/237/443.021/1996 tertanggal 7 Februari 1996 dan Surat persetujuan Izin Prinsip Nomor 582/307/433.011/2008, tanggal 12 Maret Tahun 2008 juga Surat Izin Lokasi Nomor 188.45/
525/Kpts/433.201/2002 tanggal 29 November 2002 yang pada saat ini telah dikuasai, diuruk/reklamasi dan dibangun oleh Tergugat III, di lokasi desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, seluas 10,5 ha (sepuluh koma lima hektar), dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi) dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara Tanah milik PT Adiluhung/ASSI;
- Sebelah Timur Jalan Desa Sembilangan;
- Sebelah Selatan Dermaga Perahu Tradisional;
- Sebelah Barat Pantai Laut Sembilangan;
20. Bahwa karena bukti dokumen Penggugat adalah berdasarkan akte otentik yang sah secara hukum serta bukti bayar yang sudah dikeluarkan Penggugat, maka mohon agar Pengadilan Negeri Bangkalan mengabulkan gugatan provisi yang diajukan;
21. Bahwa agar Penggugat tidak dirugikan, maka mohon agar Pengadilan Negeri Bangkalan memerintahkan agar Para Tergugat atau seluruh pihak yang terkait didalamnya segera menghentikan kegiatan pengurukan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 10 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
maupun pembangunan di atas surat izin milik Penggugat diantaranya Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dari Tergugat I dengan Nomor 503/249/443.021/1995 tanggal 27 Desember 1995 yang ditindaklanjuti oleh Tergugat I mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Surat Nomor 503/237/443.021/1996 tertanggal 7 Februari 1996 dan Surat Persetujuan Izin Prinsip Nomor 582/307/433.011/2008 tanggal 12 Maret tahun 2008 juga Surat Izin Lokasi Nomor 188.45/525/Kpts/433.201/2002 tertanggal 29 November 2002 di lokasi Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, seluas 10,5 ha, (sepuluh koma lima hektar) dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi), dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara Tanah milik PT Adiluhung/ASSI;
- Sebelah Timur Jalan Desa Sembilangan;
- Sebelah Selatan Dermaga Perahu Tradisional;
- Sebelah Barat Pantai Laut Sembilangan;
22. Bahwa mohon juga dibebankan agar Para Tergugat membayar uang paksa (dwangsom) kepada Penggugat sebesar Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) setiap harinya apabila tidak melaksanakan perintah dalam putusan;
Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas Penggugat mohon kepada Pengadilan Negeri Bangkalan agar memberikan putusan sebagai berikut:
Dalam Provisi:
- Memerintahkan agar Para Tergugat atau seluruh pihak yang terkait dalam tempo paling lambat 2 (dua) hari setelah dijatuhkan putusan provisi, menghentikan kegiatan pengurukan maupun pembangunan di atas Surat Izin milik Penggugat diantaranya Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dari Tergugat I dengan Nomor 503/249/443.021/1995 yang ditindaklanjuti oleh Tergugat I mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Surat Nomor 503/237/443.021/1996 tanggal 7 Februari 1996 dan Surat Persetujuan Izin Prinsip Nomor 582/307/433.011/2008 tanggal 12 Maret tahun 2008 juga Surat Izin Lokasi Nomor 188.45/525/Kpts/433.201/2002 tanggal 29 November 2002 dilokasi desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, seluas 10,5 ha (sepuluh koma lima hektar), dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi), dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara Tanah milik PT Adiluhung/Assi;
- Sebelah Timur Jalan Desa Sembilangan;
- Sebelah Selatan Dermaga Perahu Tradisional;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 11 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
- Sebelah Barat Pantai Laut Sembilangan;
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan sah putusan dalam provisi;
3. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan (CB) atas izin-izin milik Tergugat III yang berdiri di atas surat izin milik Penggugat diantaranya Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dari Tergugat I dengan Nomor 503/249/443.021/1995, tanggal 27 Desember 1995 yang ditindaklanjuti oleh Tergugat I mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Surat Nomor 503/237/ 443.021/1996 tanggal 7 Februari 1996 dan Surat Persetujuan Izin Prinsip Nomor 582/307/433.011/2008 tanggal 12 Maret tahun 2008 juga Surat Izin Lokasi Nomor 188.45/525/Kpts/
433.201/2002 tanggal 29 November 2002 yang pada saat ini telah dikuasai, diuruk/reklamasi dan dibangun oleh Tergugat III, di lokasi Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, seluas 10,5 ha (sepuluh koma lima hektar), dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seribu meter persegi), dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara Tanah milik PT Adiluhung/Assi;
- Sebelah Timur Jalan Desa Sembilangan;
- Sebelah Selatan Dermaga Perahu Tradisional;
- Sebelah Barat Pantai Laut Sembilangan;
4. Menyatakan Para Tergugat dan Para Turut Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad );
5. Menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng untuk memberikan ganti kerugian kepada Penggugat, yang rinciannya sebagai berikut:
Kerugian Materiil:
Yaitu kerugian yang sudah dikeluarkan oleh Penggugat, diantaranya sebagai berikut:
- Bantuan yang diberikan Penggugat kepada masyarakat warga sekitar sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atas dana partisipasi pembangunan Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan;
- Pembayaran pajak bumi dan bangunan tanah di lokasi lahan tersebut pada tahun 2005 dan tahun 2006, dengan Nomor SPPT (NOP) 35.26.110.001.008-0001.0, yang tiap tahunnya dibayar dengan nominal Rp426.600,00 (empat ratus dua puluh enam ribu enam ratus rupiah ) dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 12 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
tahun 2007 dibayar dengan nominal Rp499.975,00 (empat ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus tujuh puluh lima rupiah), yang totalnya sebesar Rp1.353.175,00 (satu juta tiga ratus lima puluh tiga ribu seratus tujuh puluh lima rupiah);
- Biaya menyiapkan lahannya, menyiapkan perangkatnya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar lokasi proyek dimana industri galangan kapal itu akan didirikan, maupun mengurus perizinan-perizinan yang dibutuhkan yang sebagian telah disetujui, yang apabila dihitung Penggugat sudah mengeluarkan biaya yang totalnya sebesar Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah);
- Totalnya Rp10.000.000,00 + Rp1.353.175,00 + Rp2.000.000.000,00 = Rp2.011.353.175,00 (dua miliar sebelas juta tiga ratus lima puluh tiga ribu seratus tujuh puluh lima rupiah);
Kerugian Inmateriil:
Yaitu akibat kerugian yang disebabkan sejak Tergugat I mengeluarkan Surat Penolakan terhadap Permohonan Penggugat tanggal 10 Februari 2008 dengan Nomor 181/153/433.303/2009 yang oleh Tergugat I ditindaklanjuti dengan mengeluarkan, menandatangani dan memberikan surat dengan Nomor 582/1642/443.303/2008, Perihal Pencabutan Izin Prinsip sebelum Izin Prinsip tersebut berakhir yakni tanggal 4 Desember 2008, yang faktanya diterima Penggugat tanggal 28 Desember 2009, sehingga tiada lain Penggugat mempertahankan haknya, maka Penggugat merasa dirugikan yang apabila dihitung sebesar Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah);
6. Menyatakan izin-izin milik Tergugat III yang berdiri di atas surat izin milik Penggugat diantaranya Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dari Tergugat I dengan Nomor 503/249/443.021/1995 tanggal 27 Desember 1995 yang ditindaklanjuti oleh Tergugat I mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Surat Nomor 503/237/443.021/1996 tanggal 7 Februari 1996 dan Surat persetujuan Izin Prinsip Nomor 582/307/
433.011/2008 tanggal 12 Maret tahun 2008 juga Surat Izin Lokasi Nomor 188.45/525/Kpts/433.201/2002 tertanggal 29 November 2002 yang pada saat ini telah dikuasai, diuruk/reklamasi dan dibangun oleh Tergugat III, di lokasi Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, seluas 10,5 Ha (sepuluh koma lima hektar), dengan rincian panjang pantai 1.050 M2 (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi), dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara Tanah milik PT Adiluhung/Assi;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 13 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
- Sebelah Timur Jalan Desa Sembilangan;
- Sebelah Selatan Dermaga Perahu Tradisional;
- Sebelah Barat Pantai Laut Sembilangan;
Adalah tidak sah atau batal demi hukum atau tidak mempunyai kekuatan hukum, dengan segala akibat hukumnya yang timbul setelah Izin-izin milik Tergugat III tersebut dibuat dan ditandatangani;
7. Menghukum dan memerintahkan Tergugat III dan pihak-pihak lain yang terkait dalam perkara ini untuk membongkar dan mengosongkan bangunan- bangunan dalam keadaan kosong yang berdiri di atas surat izin milik Penggugat diantaranya Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dari Tergugat I dengan Nomor 503/249/443.021/1995 tanggal 27 Desember 1995 yang ditindaklanjuti oleh Tergugat I mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Surat Nomor 503/237/443.021/1996 tanggal 7 Februari 1996 dan Surat Persetujuan Izin Prinsip Nomor 582/307/
433.011/2008 tanggal 12 Maret tahun 2008 juga Surat Izin Lokasi Nomor 188.45/525/Kpts/433.201/2002 tanggal 29 November 2002, di lokasi Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, seluas 10,5 ha (sepuluh koma lima hektar), dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seribu meter persegi), dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara Tanah milik PT Adiluhung/Assi;
- Sebelah Timur Jalan Desa Sembilangan;
- Sebelah Selatan Dermaga Perahu Tradisional;
- Sebelah Barat Pantai Laut Sembilangan;
8. Menyatakan Surat Keterangan Kepala Desa Sembilangan tanggal 2 Desember 2009 Nomor 590/01/433.402.8/2009 adalah tidak sah atau batal demi hukum atau tidak mempunyai kekuatan hukum, dengan segala akibat hukumnya yang timbul setelah surat keterangan tersebut dibuat dan ditandatangani;
9. Menyatakan Surat Keterangan Kepala Desa Sembilangan tanggal 2 Desember 2009 Nomor 590/02/433.402.8/2009 adalah tidak sah atau batal demi hukum atau tidak mempunyai kekuatan hukum, dengan segala akibat hukumnya yang timbul setelah surat keterangan tersebut dibuat dan ditandatangani;
10. Menyatakan Surat Keterangan Kepala Desa Sembilangan tanggal 2 Desember 2009 Nomor 590/04/433.402.8/2009 adalah tidak sah atau batal demi hukum atau tidak mempunyai kekuatan hukum, dengan segala akibat hukumnya yang timbul setelah surat keterangan tersebut dibuat dan ditandatangani;
11. Menyatakan Akta Perjanjian Pengikatan Pelepasan Hak Garapan/Penguasaan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 14 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
Atas Negara Nomor 109 yang dibuat di hadapan Notaris dan PPAT “Bhinnoecke Eka Sari, S.H., M.KN” tanggal 28 Juli 2011 adalah tidak sah atau tidak mempunyai kekuatan hukum, dengan segala akibat hukumnya yang timbul setelah Akta Perjanjian Pengikatan tersebut dibuat dan ditandatangani;
12. Menyatakan Akta Perjanjian Pengikatan Pelepasan Hak Garapan/
Penguasaan Atas Negara Nomor 55 yang dibuat di hadapan Notaris dan PPAT “Bhinnoecke Eka Sari, S.H., M.KN” tanggal 16 Agustus 2011 adalah tidak sah atau tidak mempunyai kekuatan hukum, dengan segala akibat hukumnya yang timbul setelah Akta Perjanjian Pengikatan tersebut dibuat dan ditandatangani;
13. Menyatakan Akta Perjanjian Pengikatan Pelepasan Hak Garapan/
Penguasaan Atas Negara Nomor 54 yang dibuat di hadapan Notaris dan PPAT “Bhinnoecke Eka Sari, S.H., M.KN” tanggal 16 Agustus 2011 adalah tidak sah atau tidak mempunyai kekuatan hukum, dengan segala akibat hukumnya yang timbul setelah Akta Perjanjian Pengikatan tersebut dibuat dan ditandatangani;
14. Menyatakan Penggugat berhak atas pengelolaan hak atas tanah di atas surat izin milik Penggugat diantaranya Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dari Tergugat I dengan Nomor 503/249/443.021/1995 tanggal 27 Desember 1995 yang ditindaklanjuti oleh Tergugat I mengeluarkan, menandatangani dan memberikan Surat Nomor 503/237/443.021/1996 tanggal 7 Februari 1996 dan Surat persetujuan Izin Prinsip Nomor 582/307/433.011/2008 tanggal 12 Maret tahun 2008 juga Surat Izin Lokasi Nomor 188.45/525/Kpts/433.201/2002 tanggal 29 November 2002 dilokasi desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, seluas 10,5 Ha (sepuluh koma lima hektar), dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi), dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara Tanah milik PT Adiluhung/Assi;
- Sebelah Timur Jalan Desa Sembilangan;
- Sebelah Selatan Dermaga Perahu Tradisional;
- Sebelah Barat Pantai Laut Sembilangan;
15. Memerintahkan Tergugat II untuk segera menerbitkan Sertifikat Hak Guna Bangunan atas nama Penggugat di atas Surat Izin milik Penggugat diantaranya Surat Persetujuan Prinsip Pembangunan Industri Kapal dari Tergugat I dengan Nomor 503/249/443.021/1995 tanggal 27 Desember 1995 yang ditindaklanjuti oleh Tergugat I mengeluarkan, menandatangani dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 15 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
memberikan Surat Nomor 503/237/443.021/1996 tanggal 7 Februari 1996 dan Surat persetujuan Izin Prinsip Nomor 582/307/433.011/2008 tanggal 12 Maret tahun 2008 juga Surat Izin Lokasi Nomor 188.45/525/Kpts/433.201/2002 tanggal 29 November 2002 di lokasi Desa Sembilangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, seluas 10,5 ha, dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m² (seratus meter persegi) dengan rincian panjang pantai 1.050 m² (seribu lima puluh meter persegi) dan lebar ke arah laut 100 m², (seratus meter persegi) dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara Tanah milik PT Adiluhung/Assi;
- Sebelah Timur Jalan Desa Sembilangan;
- Sebelah Selatan Dermaga Perahu Tradisional;
- Sebelah Barat Pantai Laut Sembilangan;
16. Menyatakan putusan perkara ini dapat dijalankan terlebih dahulu/serta merta ( uitvoerbaar bij voorraad ) walaupun ada upaya banding, kasasi atau verzet;
17. Menghukum agar Para Tergugat membayar uang paksa (dwangsom) kepada Penggugat sebesar Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) setiap harinya apabila tidak melaksanakan perintah dalam putusan;
18. Menghukum Para Tergugat, Para Turut Tergugat dan Pihak-pihak lain yang terkait dengan perkara ini tunduk pada putusan ini;
19. Menghukum Para Tergugat membayar biaya perkara yang timbul;
Atau: apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil- adilnya (ex aequo et bono);
Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III, Turut Tergugat VII, Turut Tergugat VIII, Turut Tergugat IX dan Turut Tergugat X masing-masing mengajukan eksepsi dan gugatan rekonvensi yang pada pokoknya sebagai berikut:
Eksepsi Tergugat I:
1. Bahwa, Tergugat I menolak dengan keras seluruh dalil-dalil yang disampaikan oleh Penggugat, kecuali yang secara tegas diakui kebenarannya oleh Tergugat I;
2. Bahwa, gugatan yang diajukan oleh Penggugat adalah adanya perbuatan melawan hukum akan tetapi isi dari subtansi di dalam gugatan adalah mengenai izin-izin yang harus dinyatakan tidak sah atau batal demi hukum, dimana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku perkara a quo bukan kewenangan Pengadilan Negeri Bangkalan, melainkan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 16 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara;
3. Bahwa, di dalam Petitum gugatan Penggugat angka 6 sudah sangat jelas pula bilamana Pengadilan Negeri Bangkalan tidak berwenang untuk menyatakan segala perizinan yang telah dikeluarkan oleh Tergugat I di nyatakan tidak sah atau batal demi hukum. Karena objek yang dijadikan dasar di dalam gugatan tersebut adalah merupakan prodak KTUN, sehingga sangat tidak tepat bilamana gugatan Penggugat diajukan melalui Pengadilan Negeri Bangkalan, berdasarkan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1986 juncto Undang Undang Nomor 9 Tahun 2004 juncto Undang Undang Nomor 51 Tahun 2009, serta Yurisprudensi Mahkamah Agung Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 321/K/SIP/1978 tanggal 31 Januari 1981;
4. Bahwa, sehubungan dengan petitum gugatan Penggugat angka 8, 9, 10, 11, 12, 13, seluruhnya adalah merupakan prodak Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN), dimana Pengadilan Negeri Bangkalan tidak mempunyai wewenang untuk membatalkan atau menyatakan prodak Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN), tersebut cacat hukum, karena prodak Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN), tersebut sifatnya kongkrit, individual dan final;
5. Bahwa seseorang atau badan hukum yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara dengan tuntutan agar prodak Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN), yang di sengketakan tersebut untuk dibatalkan atau dinyatakan tidak sah (niet ontvankelijke verklaard). Sebagaimana diatur dalam Pasal 53 ayat (1) Undang Undang Nomor 5 Tahun 1986 juncto Undang Undang Nomor 09 Tahun 2004 dan Undang Undang Nomor 51 Tahun 2009;
6. Bahwa, sehubungan dengan adanya kepentingan Penggugat berkenaan dengan Prodak Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN), yang dikeluarkan oleh Tergugat I kemudian dianggap merugikan Penggugat, Penggugat telah mengajukan gugatan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara pada tanggal 9 Februari 2009 yang terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Nomor 12/G/2009/PTUN.Sby. tanggal 10 Februari 2009;
7. Bahwa, sehubungan atas dalil-dalil di dalam Poin 3, 4 dan 5 di atas, dikarenakan eksepsi tersebut merupakan masalah kewenangan Kompetensi absolut, maka dengan ini Tergugat I mohon kepada yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bangkalan yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk memutus perkara ini dalam putusan sela dengan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 17 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
mengayatakan gugatan Penggugat tidak dapat di terima seluruhnya;
Eksepsi Tergugat II:
- Bahwa gugatan Penggugat tidak jelas dan kabur (obscuur libel) dan secara keliru menyertakan Tergugat II dalam perkara kali ini (error in persona), karena dalam surat gugatan Penggugat tidak ada satupun posita/dalil gugatan yang menyatakan bahwa Tergugat II telah melakukan perbuatan melawan hukum;
- Bahwa tidak benar Kantor Pertanahan Kabupaten Bangkalan sebagai Tergugat II harus memberitahu terjadinya pengurukan dan pembangunan objek sengketa oleh Tergugat III kepada Penggugat. Hal tersebut bukan bagian dari pelayanan Tergugat II kepada masyarakat khususnya kepada Penggugat;
- Bahwa tidak benar Tergugat II telah memberi izin kepada Tergugat III untuk menguasai dan menguruk objek sengketa. Hal tersebut bukan kewenangan Tergugat II yang merupakan instansi vertikal yang bertanggung jawab langsung pada Presiden melalui Kepala Badan Pertanahan Nasional;
- Gugatan Penggugat dalam pokok perkara meminta kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bangkalan agar memerintahkan kepada Tergugat II untuk segera menerbitkan Sertifikat Hak Guna Bangunan di atas surat izin yang dimiliki oleh Penggugat. Hal tersebut sangat tidak konsisten dan tidak ada hubungannya dengan apa yang menurut Penggugat bahwa Tergugat II telah melakukan perbuatan melanggar hukum yang mana;
- Bahwa penerbitan Sertifikat Hak Guna Bangunan adalah kegiatan proaktif dari Penggugat sendiri untuk melakukan pendaftaran tanah dengan kelengkapan berkasnya dan bukan seperti dalam gugatan yang ada di pokok perkara yang seakan akan Tergugat II tidak mau memproses. Dalam hal ini Penggugat sudah mendaftar pada tanggal 23 Juli 2002 di daftar isian 302 Nomor 1290/2002 namun tidak bisa diukur karena bidang tanah yang akan diukur masih berupa laut;
- Maka berdasarkan hal tersebut di atas, kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini mohon untuk menjatuhkan putusan sela yang menyatakan gugatan Penggugat tersebut tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard);
Eksepsi Tergugat III, Turut Tergugat VII, Turut Tergugat VIII dan Turut Tergugat IX sebagai berikut:
Dalam Eksepsi Kompetensi Absolut:
I. Pengadilan Negeri bangkalan tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara a quo karena jelas-jelas semua petitum yang diminta
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 18 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
Penggugat merupakan permintaan untuk membatalkan suatu Keputusan Tata Usaha Negara (“KTUN”) membatalkan dokumen-dokumen yang dibuat sebagai pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara (“KTUN”) meminta diterbitkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara (“KTUN”) dan menuntut ganti rugi karena pelaksanaan suatu Keputusan Tata Usaha Negara (“KTUN”);
II. Posita gugatan Penggugat berisi uraian tentang sengketa tata usaha negara yaitu uraian tentang izin-izin Keputusan Tata Usaha Negara (“KTUN”) yang diberikan kepada Penggugat; uraian tentang kerugian akibat dilaksanakannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara (“KTUN”) uraian tentang dokumen- dokumen yang dibuat sebagai pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara (“KTUN”) dan uraian tentang tindakan konkrit akibat diterbitkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara;
III. Formulasi gugatan Penggugat yang diajukan dengan judul “gugatan perbuatan melawan hukum” tidak serta-merta menjadikan pengadilan negeri bangkalan berwenang mengadili perkara a quo;
IV. Ditariknya PT Tri Warako Utama sebagai Tergugat 3 tidaklah menghalangi kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara untuk memeriksa perkara ini karena di dalam Pengadilan TUN pihak lain yang memiliki keterkaitan dengan perkara dapat ditarik sebagai Tergugat Intervensi;
V. Mohon putusan terlebih dahulu berkenaan dengan eksepsi kompetensi absolut sesuai dengan ketentuan Pasal 136 HIR;
Dalam Rekonvensi:
1. Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan memanfaatkan lembaga resmi peradilan untuk melanggar hak subjektif Penggugat Rekonvensi/Tergugat 3 Konvensi;
2. Majelis Hakim yang terhormat pada dasarnya mengajukan tuntutan hukum adalah hak setiap warga negara yang dilindungi oleh Undang Undang dan dijamin dengan kepastian hukum. Namun demikian hak daripada setiap warganegara untuk mengajukan gugatan bukanlah tanpa batasan. Hak tersebut berbatasan dengan hak-hak warganegara lainnya dan tidak boleh melanggar hak subyektif dari warga negara yang lain. Hal ini berarti bahwa dalam mengajukan tuntutan hukum harus ada dasar dan hubungan hukum serta alasan yang cukup untuk menuntut hak daripada si Penggugat. Asas ini tercermin dalam doktrin hukum Prof. Sudikno Mertokusumo dalam bukunya yang berjudul “Hukum Acara Perdata Indonesia”, Edisi ke-4, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1993, halaman 39, yang menyatakan bahwa suatu tuntutan hak harus mempunyai kepentingan hukum yang cukup,
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 19 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
merupakan syarat utama untuk dapat diterimanya tuntutan hak itu oleh pengadilan guna diperiksa: point d’interet, point d’action ;
Mahkamah Agung di dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia tanggal 7 Juli 1971, Nomor 294 K/Sip/1971 juga menyatakan hal yang sama sebagai berikut:
“suatu surat gugatan harus diajukan oleh orang yang mempunyai hubungan hukum”;
3. Dengan demikian suatu gugatan yang diajukan tanpa adanya dasar dan hubungan hukum serta alasan yang cukup maka gugatan tersebut bukan hanya tidak dapat dikabulkan, melainkan juga sesungguhnya telah melanggar hak subjektif orang lain dan merupakan suatu perbuatan melawan hukum;
4. Dalam perkara a quo, meskipun Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi telah mengetahui bahwa dirinya sudah tidak memiliki hak lagi di lahan a quo karena izin lokasi dan izin prinsip milik Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi telah habis masa berlakunya sejak tahun 2008-2009, namun demikian Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi tetap saja mengajukan gugatan a quo kepada Penggugat Rekonvensi/Tergugat 3 Konvensi tanpa berdasarkan hukum yang bertujuan untuk menggangu Penggugat Rekonvensi/
Tergugat 3 Konvensi. Gugatan Tergugat Rekonvensi/ Penggugat Konvensi tanpa dasar hukum dan hanya mengada-ada karena Penggugat Rekonvensi/
Tergugat 3 Konvensi tidak ada hubungannya dengan penolakan dan pencabutan izin lokasi dan izin prinsip Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi. Izin lokasi dan izin prinsip milik Penggugat Rekonvensi/Tergugat 3 Konpensi baru diajukan 2 (dua) tahun setelah izin-izin milik Tergugat Rekonvensi/ Penggugat Konvensi dicabut atau tidak berlaku lagi;
5. Sehubungan dengan gugatan dari Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi yang mengada-ada tersebut, fasilitas kredit usaha yang sedang diajukan oleh Penggugat Rekonvensi/Tergugat 3 Konvensi menjadi dibatalkan akibat adanya gugatan a quo. Oleh karena itu maka Penggugat Rekonvensi/Tergugat 3 Konvensi merasa sangat dirugikan dengan adanya gugatan ini dan mengajukan gugatan rekonvensi;
6. Bahwa suatu gugatan yang diajukan tanpa dasar dan hanya bertujuan untuk menggangu ketentraman si Tergugat saja merupakan suatu bentuk perbuatan melawan hukum yang melanggar hak subjektif orang lain dengan memanfaatkan lembaga resmi peradilan. Hal ini sebagaimana dipertimbangkan dalam Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 1228/Pdt.G/2007/PN Jkt.Sel. tanggal 28 Februari 2008 dalam perkara
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 20 dari 63 hal.Put.Nomor 991 K/Pdt/2016
antara Bulog melawan PT Goro Batara Sakti dan Tommy Soeharto, yang dalam pertimbangannya menyatakan sebagai berikut:
“Menimbang bahwa ternyata dalam perkara ini Tergugat Rekonvensi/
Penggugat Konvensi walaupun menyadari sepenuhnya telah menerima pembayaran penyelesaian tanggungjawab perdata terhadap kerugian yang timbul tersebut, tetapi ternyata menuntut lagi pembayaran ganti kerugian tersebut dan mengingkari fakta yang sebenarnya yang mana hal ini menunjukan adanya iktikad jahat atau iktikad tidak baik dari Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi dan bertentangan dengan hak subjektif orang lain serta bertentangan dengan asas kepatutan, ketelitian, dan sikap hati-hati yang harus dimiliki seseorang (Penggugat Konvensi/Tergugat Rekonvensi) dalam pergaulan hidup bermasyarakat yang merupakan kriteria dari perbuatan melawan hukum;
Menimbang bahwa hal tersebut tidak dapat ditolerir secara hukum, karena dapat merusak tatanan/sistem hukum nasional dan ditiru orang-orang yang ingin berbuat jahat dan mempunyai iktikad buruk dengan memanfaatkan lembaga resmi peradilan untuk melegalkan perbuatan jahat dan tidak baik tersebut”;
7. Menurut J. Satrio, suatu perbuatan merupakan tindakan yang melawan hukum apabila perbuatan tersebut (i) melanggar hak subyektif orang lain; atau (ii) bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku; atau (iii) bertentangan dengan kesusilaan; atau (iv) bertentangan dengan kepatutan dalam memperhatikan kepentingan diri dan harta orang lain dalam pergaulan hidup;
8. Tindakan Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi yang telah mengetahui dan menyadari sepenuhnya bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menggugat, namun tetap juga mengajukan gugatan merupakan suatu bentuk itikad tidak baik yang telah melanggar hak subjektif Penggugat Konvensi/Tergugat 3 Rekonvensi, bertentangan dengan kewajiban hukum Tergugat Rekonvensi/
Penggugat Konvensi, serta tentunya hal tersebut juga bertentangan dengan kesusilaan dan kepatutan dalam pergaulan hidup di masyarakat;
9. Berdasarkan hal-hal tersebut terlihat bahwa gugatan konvensi yang diajukan oleh Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi hanya mengada- ada saja dan diajukan berdasarkan itikad tidak baik dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang tidak wajar (unjust enrichment) dan memanfaatkan kesempatan dengan mempergunakan tangan Pengadilan.
Perbuatan Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi jelas tidak dapat dibiarkan dan merupakan suatu perbuatan melawan hukum;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20