• Tidak ada hasil yang ditemukan

F'RESIDEN REPU8LIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "F'RESIDEN REPU8LIK INDONESIA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

F'RESIDEN

REPU8LIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 146 TAHUN 2015

TENTANG

PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN KILANG MINYAK DI DALAM NEGERI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang

Mengingat

a. bahwa dalam rangka mewujudkan ketahanan energl nasional dan menjamin ketersediaan Bahan Bakar Minyak nasional serta mengurangi ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak, perlu melakukan pembangunan dan pengembangan kilang minyak di dalam negeri;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Pelaksanaan Pembangunan dan Pengembangan Kilang Minyak di Dalam Negeri;

1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152);

3. Undang-Undang ...

(2)

Menetapkan

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 2 -

3. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4436) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4996);

5. Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2010 tentang Penjaminan Infrastruktur dalam Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha yang Dilakukan Melalui Badan Usaha Penjaminan Infrastruktur;

6. Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kei-ja Sama Pemerintah dengan Badall Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 62);

MEMUTUSKAN:

PERATURAN PRESIDEN TENTANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN KILANG MINYAK DI DALAM NEGERI.

BAB I ...

(3)

PRESIDEN

REPU8LIK INDONESIA

- 3 -

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan:

1. Pembangunan Kilang Minyak di Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Pembangunan Kilang Minyak adalah pembangunan kilang minyak baru beserta fasilitas pendukungnya di dalam negeri.

2. Pengembangan Kilang Minyak di Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Pengembangan Kilang Minyak adalah penambahan fasilitas kilang minyak yang telah beroperasi.

3. Bahan Bakar Minyak adalah bahan bakar yang berasal dan/ atau diolah dari minyak bumi.

4. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu aleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

5. Badan Usaha adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang menjalankan jenis usaha yang bersifat tetap, terus menerus, dan didirikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan serta bekerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6. Kerja Sama...

(4)

I' .,cr" ..

PRESIDEN

REPU8L1K INDONESIA

- 4 -

6. Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha yang selanjutnya disingkat KPBU adalah kerja sama antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh menterijkepala lembagajkepala daerahj badan usaha milik negarajbadan usaha milik daerah, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak.

7. Penanggung Jawab Proyek Kerja Sarna yang selanjutnya disingkat PJPK adalah menterijkepala lembagajkepala daerah, atau badan usaha milik negarajbadan usaha milik daerah sebagai penyedia atau penyelenggara infrastruktur berdasarkan peraturan perundang- undangan.

8. Badan Usaha Pelaksana KPBU yang selanjutnya disebut Badan Usaha Pelaksana adalah Perseroan Terbatas yang didirikan oleh Badan Usaha pemenang lelang atau ditunjuk langsung.

9. Penanggung Jawab Kegiatan yang selanjutnya disingkat PJK adalah badan usaha milik negara yang menyiapkan dokumen perencanaan, dokumen pelaksanaan pengadaan, dan penanggung jawab, serta pengawasan pembangunan.

10. Izin Usaha Pengolahan adalah izin yang diberikan kepada Badan Usaha untuk melaksanakan pengolahan Minyak Bumi untuk menghasilkan Bahan Bakar Minyak sebagai produk utama.

11. Anggaran ...

(5)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 5 -

11. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

12. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang memlmpm pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

13. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang minyak dan gas bumi.

Pasal2

Peraturan Presiden ini bertujuan untlik memberikan pedoman dalam pe1aksanaan Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional melalui peningkatan penyediaan Bahan Bakar Minyak dan produk lainnya secara terintegrasi.

BAB 11

PEMBANGUNAN KILANG MINYAK DAN PENGEMBANGAN KILANG MINYAK

Bagian Kesatu Umum

Pasa] 3

·\ I.,:::.":

(1)

Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak diselenggarakan secara efektif, efisien, transparan, adil, dan akuntabel.

(2) Pembangunan...

(6)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 6 -

(2) Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan Izin Usaha Pengolahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal4

Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak harus:

a. menggunakan teknologi yang memenuhi ketentuan pengelolaan dan perlindungan lingkungan; dan

b. mengutamakan penggunaan produk dalam negeri.

Pasal5

Dalam rangka meningkatkan kelayakan keekonomian, pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak dapat dilakukan dengan:

a. memberikan fasilitas insentif fiskal maupun non fiskal sesum dengan ketentuan peraturan perundang- undangan; danjatau

b. mengintegrasikan pemroduksian petrokimia.

Bagian Kedua

Pembangunan Kilang Minyak

Paragraf 1

Skema Pembangunan Kilang Minyak

Pasal6

(1) Pembangunan Kilang Minyak dapat dilakukan oleh:

a. Pemerintah; atau b. Badan Usaha..

(2) Pembangunan ...

(7)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 7 -

Minyak oleh Pemerintah pada ayat (1) huruf a dapat Pembangunan Kilang

sebagaimana dimaksud dilakukan dengan:

a. KPBU; atau b. penugasan.

(3) Pembangunan Kilang Minyak oleh Pemerintah melalui penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilakukan melalui:

(2)

a. pembiayaan Pemerintah; atau b. pembiayaan korporasi.

Pasa17

(1) Dalam rangka pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a, Menteri menetapkan sekurang- kurangnya:

a. lokasi;

b. kapasitas kilang; dan

c. jenis dan jumlah produk kilang.

(2) Dalam rangka penetapan lokasi pembangunan kilang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri berkoordinasi dengan menteri terkait.

Paragraf 2

Pembangunan Kilang Minyak Melalui KPBU

Pasa18

(1) Pembangunan Kilang Minyak melalui KPBU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a dilakukan berdasarkan kerja sama antara Pemerintah dengan Badan Usaha.

0' " \ '

(2) Dalam ...

(8)

" .

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 8 -

(2) Dalam pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak melalui KPBU sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri menunjuk PT Pertamina (Persero) sebagai PJPK.

(3) PT Pertamina (Persero) sebagai PJPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan penunjukan sebagai PJPK berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang KPBU.

Pasal9

(1) Dalam rangka mendukung upaya percepatan Pembangunan Kilang Minyak melalui KPBU, menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara menyediakan fasilitas penYlapan Pembangunan Kilang Minyak dan

I

atau pendampingan transaksi sesuai dengan kewenangannya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

(2) Dalam rangka pelaksanaan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PT Pertamina (Persero) dapat dibantu oleh lembaga internasional dengan persetujuan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara.

(3) Menteri yang menye1enggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara memberikan penggantian atas biaya terkait dengan penyiapan Pembangunan Kilang Minyak dan/atau pendampingan transaksi sebagaimana dimaksud padaayat (2).

(4) Ketentuan ...

(9)

r. ' ' ' ,

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 9 -

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggantian atas biaya terkait dengan penyiapan Pembangunan Kilang Minyak danl atau pendampingan transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara.

Pasal 10

(1) Dalam melaksanakan KPBU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, PT Pertamina (Persero) sebagai PJPK melakukan perencanaan, penYlapan transaksi, dan penandatanganan transaksi serta mengawasl pelaksanaan proyek KPBU.

(2) Dalam melakukan perencanaan dan penyiapan transaksi KPBU sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PT Pertamina (Persero) sebagai PJPK melakukan:

a. pengadaan Badan Usaha Pelaksana;

b. penandatanganan perjanjian KPBU dengan Badan Usaha Pelaksana; dan

c. memastikan pemenuhan pembiayaan oleh Badan Usaha Pelaksana.

(3) Pengadaan Badan Usaha Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai PJPK melalui pelelangan sesual dengan ketentuan peraturan perundang- undangan di bidang KPBU.

(4) Penandatanganan perjanjian KPBU dengan Badan Usaha Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai PJPK dengan memuat sekurang-kurangnya:

a. persyaratan ...

(10)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 10 -

a. persyaratan perjanjian KPBU;

b. pemenuhan pembiayaan;

c. kewajiban penyediaan bahan baku;

d. kewajiban pembelian produk kilang;

e. pemenuhan kaidah keteknikan yang baik; dan f. pengakhiran perjanjian.

Pasal 11

(1) Badan Usaha Pelaksana wajib memperoleh pembiayaan atas KPBU dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan setelah penandatanganan perjanjian KPBU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4).

(2) Badan Usaha Pe1aksana yang tidak mendapatkan pembiayaan atas KPBU setelah jangka waktu perpanJangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berakhir yang disebabkan oleh hal di luar tanggung jawab Badan Usaha Pelaksana, Badan Usaha Pelaksana dapat diberikan perpanjangan kembali untuk 1 (satu) kali paling lama 12 (dua belas) bulan oleh PJPK.

(3) Dalam hal Badan Usaha Pelaksana tidak mendapatkan pembiayaan atas KPBU setelah jangka waktu perpanJangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berakhir, perjanjian KPBU dinyatakan berakhir dan Jamman pelaksanaan dicairkan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai PJPK dan disetorkan langsung ke kas negara.

Pasal 12 ...

(11)

.

'

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 11 -

Pasal 12

(1) Badan Usaha Pelaksana dibel'ikan Izin Usaha Pengolahan se1arna 30 (tiga puluh) tahun dan dapat dipel'panjang 1 (satu) kali paling lama 20 (dua puluh) tahun.

(2) Pada saat bel'akhil'nya Izin Usaha Pengolahan tel'masuk pel'panjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan Usaha Pelaksana wajib menyel'ahkan tanah sel'ta selul'uh aset kilang minyak dan fasilitas penunjang dalam kondisi laik opel'asi kepada Pemel'intah.

Pasal13

(1) Pemel'intah membel'ikan Jarnlllan dan dukungan tel'hadap Pembangunan Kilang Minyak melalui KPBU.

(2) Jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibel'ikan oleh menteri yang menyelenggal'akan ul'usan pemel'intahan di bidang keuangan negara kepada Badan Usaha Pelaksana atas l'isiko infl'astl'uktul' sesuai dengan alokasi l'isiko sebagaimana disepakati dalam pel'janjian KPBU.

(3) Dukungan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) berupa:

a. pembebasan pajak dan/atau pembebasan bea masuk tel'hadap barang impol' sesuai dengan ketentuan pel'atul'an pel'uildang-undangan; dan b. insentif lainnya selain hul'uf a sesuai dengan

ketentuan pel'atul'an perundang-undangan.

(4) Pelaksanaan pembel'ian jarninan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan ketentuan pel'atul'an perundang-undangan di bidang penjaminan infrastruktur dalam proyek KPBU.

Pal'agraf3 ...

(12)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 12 -

Paragraf 3

Pembangunan Kilang Minyak melalui Penugasan dengan Pembiayaan Pemerintah

Pasal 14

Pembangunan Kilang Minyak melalui penugasan dengan pembiayaan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf a dilakukan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang pembiayaannya dilakukan berdasarkan tahun jamak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 15

(1) Pembangunan Kilang Minyak melalui penugasan dengan pembiayaan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dilakukan dengan memberikan penugasan kepada PT Pertamina (Persero) oleh Menteri.

(2) Dalam melaksanakan penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PT Pertamina bertindak sebagai PJK.

(3) Satuan kerja pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak berada pada PT Pertamina (Persero) sebagai PJK sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

Pasal 16

Dalam pelaksanaan Pernbangunan Kilang Minyak melalui penugasan dengan pembiayaan Pemerintah, PT Pertamina (Persero) sebagai RJK menjamin:

a. terselesaikannya ...

(13)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 13 -

a. terselesaikannya seluruh tahapan pembangunan kilang minyak sesuai dengan jangka waktu serta alokasi anggaran yang telah ditentukan;

b. ketersediaan sumber daya manusia selama proses pembangunan kilang minyak; dan

c. pemenuhan kaidah keteknikan yang baik selama proses pembangunan kilang minyak.

Pasal 17

(1) Terhadap kilang minyak yang telah selesai dibangun melalui penugasan dengan pembiayaan Pemerintah, Menteri menugaskan PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola kilang minyak.

(2) Dalam pelaksanaan penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola kilang minyak menjamin:

a. ketersediaan bahan baku selama masa operas!

kilang minyak; dan

b. ketersediaan fasilitas pendistribusian dan pemasaran Bahan Bakar Minyak dan produk lainnya sampai kepada konsumen.

Paragraf 4

Pembangunan Kilang Minyak melalui Penugasan dengan Pembiayaan Korporasi

Pasal 18

Pembangunan Kilang Minyak melalui penugasan dengan pembiayaan korporasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf b dilakukan dengan memberikan penugasan kepada PT Pertamina (Persero) oleh Menteri.

Pasal 19 ...

(14)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 14 -

Pasal 19

(1) Dalam melaksanakan penugasan melalui pembiayaan ko1'po1'asi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, PT Pe1'tamina (Pe1'se1'o) dapat melakukan Pembangunan Kilang Minyak sendi1'i atau beke1'ja sarna dengan Badan Usaha lain.

(2) Pelaksanaan ke1'ja sarna PT Pe1'tamina (Perse1'o) dengan Badan Usaha lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan membentuk pe1'usahaan patungan.

Pasal20

(1) Dalam pelaksanaan penugasan dengan pembiayaan korporasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, PT Pe1'tamina (Pe1'sero) dibe1'ikan fasilitas pendanaan, be1'upa:

a. penye1'taan modal nega1'a;

b. laba yang ditahan;

c. pinjaman PT Pe1'tamina (Pe1'sero) yang be1'asal da1'i dalam nege1'i danl atau luar nege1'i;

d. pinjaman Pemerintah yang be1'asal dari lua1' nege1'i, te1'masuk lembaga keuangan multilateral; danl atau e. pene1'bitan obligasi oleh PT Pertamina (Perse1'o).

(2) Dalam rangka pelaksanaan pembe1'ian fasilitas pinjaman sebagaimuna dimaksud pada ayat (1) hu1'uf c, PT Pe1'tamina (Pe1'se1'o) dapat diberikan jaminan Pemerintah terhadap kewajiban pembayaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Ketentuan ...

(15)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 15 -

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenal Jamman terhadap pmJaman dalam negen diatur oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara.

Pasal21

Pelaksanaan proses pembiayaan Pembangunan Kilang Minyak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dikecualikan dari ketentuan Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 1972 tentang Penerimaan Kredit Luar Negeri.

Pasal22

Dalam pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak melalui pembiayaan korporasi:

a. Menteri memberikan Izin Usaha Pengolahan kepada PT Pertarnina (Persero) dalam hal PT Pertamina (Persero) melakukan Pembangunan Kilang Minyak sendiri; atau b. Menteri memberikan Izin Usaha Pengolahan kepada

perusahaan patungan dalam hal PT Pertamina (Persero) melakukan Pembangunan Kilang Minyak melalui kerja sarna dengan Badan Usaha lain.

Pasal23

Dalam pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak melalui penugasan dengan pembiayaan korporasi, PT Pertamina (Persero) menjarnin:

a. terselesaikannya seluruh tahapan pembangunan kilang minyak sesuai dengan jangka waktu serta alokasi anggaran yang te1ah ditentukan;

b. ketersediaa.'1 ...

(16)

·

"

PRESIDEN

REPU8LIK INDONESIA

- 16 -

b. ketersediaan bahan baku selama masa operasl kilang minyak;

c. ketersediaan sumber daya manUSla selama proses pembangunan kilang minyak;

d. ketersediaan fasilitas pendistribusian dan pemasaran Bahan Bakar Minyak dan produk lainnya sampai kepada konsumen; dan

e. pemenuhan kaidah keteknikan yang baik selama proses pembangunan kilang minyak.

Paragraf 5

Pembangunan Kilang Minyak oleh Badan Usaha

Pasa124

(1) Pembangunan Kilang Minyak oleh Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b dilakukan berdasarkan penyelenggaraan kegiatan usaha hilir minyak dan gas bumi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

a. badan usaha milik negara;

b. badan usaha milik daerah;

c. badan usaha swasta; atau d. koperasi.

Bagian ...

(17)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 17 -

Bagian Ketiga

Pengembangan Kilang Minyak

Pasa125

Ketentuan mengenal Pembangunan Kilang Minyak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 24 berlaku secara mutatis mutandis terhadap Pengembangan Kilang Minyak.

Bagian Keempat Perizinan

Pasa126

Pemerintah dan Pemerintah Daerahmemberikan kemudahan dan percepatan perizinan yang diperlukan dalam pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak.

Bagian Kelima Penyediaan Tanah

Pasa127

(1) Pengadaan tauah untuk Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a dan Pasal 25 dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.

(2) Pengadaan ...

(18)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 18 -

(2) Pengadaan tanah untuk Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak oleh Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b dan Pasal 25 dilakukan dengan perolehan tanah berdasarkan kesepakatan dengan pemilik tanah.

(3) Pemerintah danl atau Pemerintah Daerah dapat memberikan dukungan kepada Badan Usaha berupa:

a. prioritas atas penyediaan tanah; dan/ atau

b. penggunaan tanah milik Pemerintah atau Pemerintah Daerah,

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangarl.

BAB III

PEMBELIAN PRODUK KILANG MINYAK

Pasa128

(1)

(2)

Menteri dapat menugaskan PT Pertamina (Persero) untuk bertindak sebagm pembeli Bahan Bakar Minyak dan prod1,lk lainnya dengan harga keekonomian dalam hal Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak dilakukan melalui:

a. KPBU; atau

b. penugasan dengan pembiayaan korporasi kepada PT Pertarnina (Persero)apablla bekerja sarna dengan B2.dan Use:iha lain.

Harga keekonornian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupaka.n harga yang diperhitungkan berdasarkan pengembalian nilai investasi dan keuntungan yang wajar atus Pembangunan Kilang Minyak atau Pengembangan

Kilang ...

(19)

i'

.,.

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 19 -

Kilang Minyak yang besarannya ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara.

(3) PT Pertamina (Persero) dapat bertindak sebagai pembeli Bahan Bakar Minyak danl atau produk lainnya dalam hal Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak dilakukan oleh Badan Usaha.

BABIV

PEMENUHAN KEBUTUHAN DALAM NEGERI

Pasa129

(1) Produk hasil kilang minyak diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

(2) Dalam hal kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi danlatau tidak ada pembeli dari dalam negeri, produk hasil kilang minyak dapat dijual ke luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BABV

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasa130

Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan atas

pelak~anaan Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasa131 ...

(20)

I" I

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 20 -

Pasa131

Dalam hal pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak dilakukan oleh PT Pertamina (Persero), menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang badan usaha milik negara:

a. melakukan pembinaan dan pengawasan korporasi terhadap pelaksanaan penugasan; dan

b. mengoordinasikan badan usaha milik negara lainnya untuk mendukung pelaksanaan penugasan.

Pasal32

(1) Untuk mendukung pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak, dibentuk Tim Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan dan Pengembangan Kilang Minyak Nasional yang selanjutnya disebut Tim Koordinasi.

(2) Tim Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh menteri yang menyelenggarakan koordinasi urusan pemerintahan di bidang perekonomian, dengan keanggotaan terdiri atas wakil dari kementerian yang menyelenggarakan koordinasi urusan pemerintahan di bidang kemaritiman, kementerian yang menye1enggarakan urusan pemerintahan di bidang perencanaall pembangunan nasiollal, kementerian yang menyelenggarakan urU32n pemerintahan di b~dang keuangan negara, kementeriall yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang energi dansumber daya mineral, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang badan usaba milik negara, kementerian yang menyelenggarakan urusan ...

(21)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 21 -

urusan pemerintahan di bidang perindustrian, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agraria dan tata ruang, lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan, dan instansi terkait lainnya.

(3) Tim Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunym tugas melakukan koordinasi dan memberikan bantuan yang diperlukan untuk kelancaran pclaksanaan Pembangunan Kilang Minyak dan Pengembangan Kilang Minyak.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenm Tim Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan koordinasi urusan pemerintahan di bidang perekonomian.

Pasa133

PT Pettamina (Persero) wajib menyampaikan laporan secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali atau sewaktu-waktu apabila diperlukan dalam rangka pelaks8.naan penugasan oleh Pemerintah untuk Pembangunan Kilang Minyak danlatau Pengembangan Kilang Minyak kepada Tim Koordinasi ..

BAB VI

KETENTUAN PENUTUP

" "Ir:

·'·1.

'. -"..

Peraturan Presiden diunclangkan.

Pasa134

ml mulai berlaku pada tanggal

Agar ...

(22)

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

- 22 -

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 22 Desember 2015 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

JOKO WIDODO

Diundangkan di Jakarta

pada tanggal 30 Desember 2015

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MA NUSIA REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

YASONNA H. LAOLY

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2015 NOMOR 417

Salinan sesuai denga.n aslinya SEKRETARIAT KABINET RI

i 1

Referensi

Dokumen terkait

(4) Rincian penambahan, pengurangan Anggaran Belanja Pembangunan dimaksud pada Pasal 1 ayat (2) huruf c, sebagaimana tersebut dalam Lampiran IV Peraturan Daerah

bahwa Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2011 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Anggaran Pendapatan dan

(4) Biaya penilaian kesesuaian yang dilakukan oleh LPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf b dan huruf c, dapat dibebankan pada Anggaran Pendapatan

Bupati Sabu Raijua sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1). dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja

Pendanaan misi pemeliharaan perdamaian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a dibebankan pada bagian anggaran kementerian atau

dimaksud pada huruf a dan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 3 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Be1anja Negara Tahun

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (1) huruf b dan ayat (7) huruf e Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

(1) BLUD dapat melakukan pergeseran anggaran rincian belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf a yang menggunakan sumber dana dari pendapatan