• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

12 A. Pembiayaan Murabahah

1. Pengertian Pembiayaan

Berdasarkan UU No.7 tahun 1992 pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan atau yang dapat di persamakan dengan itu berdasarkan tujuan atau kesepakatan pinjam meminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu ditambah dengan sejumlahharga imbalan atau pembagian hasil.

Menurut Muhamad Syafi’i Antonio dalam bukunya Bank Syari’ah dari Teori ke Praktek yang dimaksud denan pembiayaan adalah pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit

2. Pengertian Murabahah

Salah satu skim fiqih yang paling popular digunakan oleh perbankan syariah adalah skim jual-beli murabahah. Transaksi murabahah ini lazim dilakukan oleh Rasulallah Saw. Dan para

sahabatnya. Secara sederhana, murabahah berarti suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati. Misalnya, seseorang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu. Berapa besar keuntungan tersebut dapat dinyatakan

(2)

dalam nominal rupiah tertentu atau dalam bentuk persentase dari harga pembelinya, misalnya 10% atau 20%.

Dalam aplikasi bank syariah, bank merupakan penjual atas objek barang dan nasabah merupakan pembeli. Bank menyediakan barang yang dibutuhkan oleh nasabah dengan membeli barang dari supplier, kemudian menjualnya kepada nasabah dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga beli yang dilakukan oleh bank syariah. Pembayaran atas transaksi murabahah dapat dilakukan dengan cara membayar sekaligus pada saat

jatuh tempo atau melakukan pembayaran angsuran selama jangka waktu yang disepakati.

3. Skema Pembiayaan Murabahah

Dalam pembiayaan murabahah, sekurang-kurangnya terdapat dua pihak yang melakukan transaksi jual beli, yaitu bank syariah sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli barang.

Gambar 1.1 skema pembiayaan murabahah Sumber Ismail : Jakarta,2011

1. Negosiasi & Persyaratan

Bank Nasabah

Supplier penjual 2. Akad jual beli

3. Beli barang

4. Kirim barang 5. Terima barang

& dokumen 6. Bayar

(3)

Keterangan:

1. Bank syariah dan nasabah melakukan negosiasi tentang rencana transaksi jual beli yang akan dilaksanakan. Poin negosiasi meliputu jenis barang yang akan dibeli, kualitas barang, dan harga jual.

2. Bank syariah melakukan akad jual beli dengan nasabah, dimana bank syariah sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Dalam akad jual beli ini, ditetapkan barang yang menjadi objek jual beli yang telah dipilih oleh nasabah, dan harga jual barang.

Atas akad yang dilaksanakan antara bank syariah dan nasabah, maka bank syariah membeli barang dari supplier/penjual.

3. Pembelian yang dilakukan oleh bank syariah ini sesuai dengan keinginan nasabah yang telah tertuang dalam akad.

4. Supplier mengirimkan barang kepada nasabah atas perintah bank

syariah.

5. Nasabah menerima barang dari supplier dan menerima dokumen kepemilikan barang tersebut.

6. Setelah menerima barang dan dokumen, maka nasabah melakukan pembayaran. Pembayaran yang lazim dilakukan oleh nasabah ialah dengan cara angsuran.

(4)

B. Jaminan

1. Pengertian jaminan dan agunan

Menurut ketentuan Pasal 2 Ayat (1) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 23/69/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang Jaminan Pemberian Kredit, bahwa yang dimaksud dengan jaminan adalah suatu keyakinan bank atas kesanggupan debitor untuk melunasi kredit sesuai yang diperjanjikan. Sedangkan menurut ketentuan Pasal 1 butir 23 yang dimaksud dengan agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitor kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

Dalam penjelasan pasal 8 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, dinyatakan bahwa: “Kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang diberikan oleh bank mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang sehat.

Untuk mengurangi risiko tersebut, jaminan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dalam arti kemampuan dan kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank. Untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang

(5)

seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dana prospek usaha dari nasabah debitur.

Berdasarkan ketentuan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

a) Yang dimaksud dengan jaminan kredit atau pembiayaan adalah keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi kewajbannya sesuai dengan yang diperjanjikan.

b) Jaminan kredit atau pembiayaan dalam arti luas meliputi watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari nasabah debitur.

Dalam arti sempit jaminan kredit atau pembiayaan adalah agunan.

c) Jenis agunan kredit atau pembiayaan terdiri dari:

1) Agunan pokok yaitu berupa barang, proyek, atau hak tagih yang dibiayai dengan pembiayaan yang bersangkutan.

2) Agunan tambahan yaitu berupa barang yang tidak berkaitan langsung dengan objek yang dibiayai.

d) Bank konvensional maupun bank syariah harus memperoleh agunan dari nasabah debitur/penerima fasilitas sebagai jaminan kredit/pembiayaan yang diberikannya. Ketentuan ini bersifat legal mandatory, sehingga wajib ditaati.

2. Landasan hukum dan Fungsi Jaminan a. Landasan hukum jaminan

1) Al-Qur’an

Surat Al-Baqarah ayat 283:

(6)





 





 

































 





















Artinya : “jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang[180] (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

2) Hadist

ْ َ

َ َ ِاَ

َيِ َ

ُ لَّلا اَ َْ

لَّ َ لَّيِلَّلا ىلََّ

ُ لَّلا

ِ ْيََ

َ لََّ َ ىَ َْ ا اً اَ َ

ْ ِ يٍّيِ وُ َي

ىَلِ

ٍ َ َ

ُ ََ َ َ

ُ َ ْ ِ

Artinya : “Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa Rasulullah Alaihi wa Sallam pernah membeli bahan makanan dari seorang Yahudi dan beliau menggadaikan baju perang dari besi.” (HR Bukhari-Muslim)

b. Fungsi jaminan

Berdasarkan pada pengertian jaminan diatas, maka dapat dikemukakan bahwa fungsi utama dari jaminan adalah untuk meyakinkan bank atau kreditor bahwa debitor mempunyai kemampuan untuk melunasi kredit yang diberikan kepadanya sesuai dengan perjanjian kredit yang telah disepakati bersama.

Jaminan secara umum berfungsi sebagai jaminan pelunasan kredit/pembiayaan. Jaminan kredit/pembiayan berupa watak,

(7)

kemampuan, modal, dan prospek usaha yang dimilki debitur merupakan jaminan immaterial yang berfungsi sebagai first way out.

Dengan jaminan immaterial tersebut diharapkan debitur dapat mengelola perusahaannya dengan baik sehingga memperoleh pendapatan (revenue) bisnis guna melunasi kredit/pembiayaan sesuai yang diperjanjikan. Jaminan kredit/pembiayaanberupa agunan bersifat materiil/kebendaan berfungsi sebagai second way out. Sebagai second way out, pelaksanaan penjual/eksekusi agunan baru dilakukan apabila

debitur gagal memenuhi kewajibannya melalui first way out.

3. Rukun, syarat dan jenis-jenis jaminan a. Rukun jaminan

1) Orang yang berakad (ar rahindan al murtahin) 2) Sighat (lafadz ijab dan qabul)

3) Utang (al-mahrun bih)

4) Harta yang dijadikan jaminan (al-mahrun) b. Syarat jaminan

1) Syarat yang terkait dengan orang yang berakad (ar-rahin dan al murtahin) adalah cakap bertindak hukum. Kecakapan bertindak

hukum, menurut Juhur Ulama adalah orang yang orang yang telah baligh dan berakal. Sedangkan menurut Ulama Hanafiyah kedua belah pihak yang berakad tidak tidak disyaratkan baligh, tetapi cukup berakal saja. Oleh sebab itu, menurut mereka anak kecil

(8)

yang mummayyiz boleh melakukan akad ar-rahn asal dapat persetujuan dari walinya.

2) Syarat yang terkait dengan sighat, Ulama Hanafiyah berpendapat dalam akad itu ar-rahn tidak boleh dikaitkan oleh syarat tertentu.

Karena akad ar-rahn sama dengan akad jual beli.apabila akad itu dibarengi dengan syarat tertentu maka syaratnya batal sedang akadnya sah. Sementara, Jumhur Ulama mengatakan bahwa apabila syarat itu ialah syarat yang mendukung kelancaran akad itu, maka syarat itu dibolehkan, tetapi apabila syarat itu bertentangan dengan tabiat akad ar-rahn, maka syaratnya batal.

3) Syarat yang terkait dengan utang (al-mahrun bih) : (a) merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada yang member utang, (b) utang itu boleh dilunasi dengan jaminan, dan (c) utang itu jelas dan tertentu

4) Syarat yang terkait dengan barang yang dijadikan jaminan (al-mahrun), menurut Ulama fiqh syarat-syaratnya sebagai berikut:

(a) barang jaminan itu boleh dijual dan nilainya seimbang dengan utang, (b) berharga dan boleh dimanfaatkan, (c) jelas dan tertentu, (d) milik sah orang yang berutang, (e) tidak terkait dengan hak orang lain, (f) merupakan harta utuh dan, (g) boleh diserahkan baik materinya maupun manfaatnya.

(9)

c. Jenis-jenis jaminan

a. Jaminan perorangan (personal Guaranty)

Jaminan perorangan atau jaminan pribadi adalah jaminan seorang pihak ketiga yang bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitor. Dalam jaminan perorangan selalu dimaksudkan bahwa untuk pemenuhan kewajiban-kewajiban si berutang, yang dijamin pemenuhan seluruhnya atau sampai suatu bagian (jumlah) tertentu, harta benda si penanggung (penjamin) bias disita dan dilelang menurut ketentuan-ketentuan perihal pelaksanaan (eksekusi) putusan-putusan pengadilan.

b. Jaminan kebendaan

Jaminan kebendaan merupakan suatu tindakan berupa suatu penjaminan yang dilakukan oleh kreditor terhadap debitornya, atau antara kreditor dengan seorang pihak ketiga guna menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitor.

Pemberian jaminan kebendaan selalu berupa menyendirikan suatu bagian dari kekayaan seseorang, si pemberi jaminan, dan menyediakannya guna pemenuhan (pembayaran) kewajiban (utang) dari seorang debitor. Kekayaan tersebut dapat berupa kekayaan si debitor sendiri atau kekayaan seorang pihak

(10)

ketiga. Penyendirian atau penyediaan secara khusus itu diperuntukkan bagi keuntungan seorang kreditor tertentu yang telah memintanya, karena bila tidak ada penyendirian dan penyediaan khusus itu, bagian dari kekayaan tadi, seperti halnya dengan seluruh kekayaan si debitor dijadikan jaminan untuk pembayaran semua utang debitor.

4. Kriteria barang jaminan (agunan)

Kriteria suatu benda untuk dapat dijadikan agunan adalah:

a. Mempunyai nilai ekonomis dalam arti dapat dinilai dengan uang dan dijadikan uang.

b. Mempunyai nilai yang relatif stabil dalam jangka waktu tertentu.

c. Dapat dipindahtangankan kepemilikannya (transferability).

d. Dapat dinilai secara umum dan pasti (tidak dipengaruhi factor subyektifitas tinggi). Contoh benda yang tidak memiliki kriteria tersebut seperti lukisan, benda antik, benda pusaka, batu berlian atau sarang burung walet.

e. Mempunyai nilai yuridis (legality) dalam arti memiliki bukti kepemilikan yang sah dan kuat berdasarkan hukum positif yang berlaku.

5. Agunan Yang Diambil Alih (AYDA)

Agunan Yang Diambil Alih adalah sebagian atau seluruh agunan yang dibeli bank, baik melalui pelelangan maupun diluar pelelangan,

(11)

berdasarkan penyerahan sukarela oleh pemilik agunan atau berdasarkan pemberian kuasa untuk menjual dari pemilik agunan dengan kewajiban untuk dicairkan kembali. Bank dapat mengambil alih agunan dalam rangka penyelesaian pembiayaan, pengambilalihan agunan hanya dapat dilakukan terhadap nasabah pembiayaan yang memiliki kualitas macet.

Bank yang mengambil alih agunan wajib mencairkan AYDA paling lama 1 tahun terhitung sejak tanggal pengambilalihan dan wajib mendokumentasikan upaya pencairan AYDA.

6. Kriteria dalam melakukan tindakan likuidasi agunan

a. Penjualan agunan secara di bawah tangan; kriteria minimal yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Pembiayaan telah masuk dalam kategori NPF

2) Telah mendapatkan persetujuan tertulis dari nasabah

3) Nasabah masih kooperatif (memiliki ittikad baik dalam menyelesaikan kewajibannya antara lain dengan cara menjual agunan)

4) Agunan telah/belum diikat secara sempurna sesuai dengan peraturan yang berlaku.

b. Lelang Sukarela; kriteria minimal yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Pembiayaan telah masuk dalam kategori NPF

2) Telah mendapatkan persetujuan tertulis dari nasabah

(12)

3) Nasabah masih kooperatif (memiliki ittikad baik dalam menyelesaikan kewajibannya antara lain dengan cara menjual agunan)

4) Agunan telah/belum diikat secara sempurna sesuai dengan peraturan yang berlaku.

c. Lelang eksekusi tanpa fiat eksekusi dari pengadilan (melalui KPKNL atau balai lelang swasta); kriteria minimal yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Nasabah tidak kooperatif (tidak ittikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya)

2) Agunan telahtelah diikat Hak Tanggunan dan memuat janji sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 Jo. Pasal 11 ayat 2 huruf e UUHT, yaitu: apabila debitur cidera janji pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari usaha tersebut.

3) Bank harus sebagai pemegang Hak Tanggungan I atau satu-satunya sebagai pemegang Hak Tanggungan.

4) Lelgalitas pemberian pembiayaan harus baik, dalam arti tidak dapat cacat hokum, baik dalam pemberian pembiayaan maupun dalam pengikatan barang agunan

5) Nilai Hak Tanggungan atau setidaknya nilai barang agunan dapat menutup seluruh atau sebagian kewajiban nasabah.

(13)

d. Lelang eksekusi dengan fiat eksekusi dari pengadilan negeri; kriteria minimal yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Telah memenuhi kriteria agunan pembiayaan yang dapat dilakukan langkah likuidasi

2) Nasabah tidak kooperatif (tidak memiliki ittikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya)

3) Agunan telah diikat Hak Tanggungan I atau satu-satunya sebagai pemegang Hak Tanggungan

4) Legalitas pemberian pembiayaan harus baik, dalam arti tidak terdapat cacat hokum, baik dalam pemberian pembiayaan maupun dalam pengikatan barang agunan

5) Nilai Hak Tanggungan atau setidaknya nilai barang agunan dapat menutup seluruh atau sebagian kewajiban nasabah

e. Penebusan agunan; kriteria minimal yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Telah memenuhi

2) Telah mendapatkan persetujuan tertulis dari nasabah

3) Agunan telah/belum diikat secara sempurna sesuai ketentuan yang berlaku.

C. Lelang

1. Pengertian lelang

Istilah lelang berasal dari bahasa belanda, yaitu vendu, sedangkan dalam bahasa Inggris , disebut dengan istilah auction. Istilah lainnya

(14)

merupakan terjemahan darai bahasa belanda openbare verkooping, openbare veiling, atau openbare verkopingen, yang berarti “lelang” atau

“penjualan dimuka umum”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian istilah “lelang”

dijelaskan sebagai berikut:

Lelang adalah penjualan dihadapan orang banyak (dengan tawaran yang atas mengatasi) dipimpin oleh pejabat lelang. Sedangkan melelang adalah menjual dengan cara lelang

Kemudian dalam kamus besar Bahasa Indonesia, diberikan pengertian istilah “perlelangan” sebagai berikut:

Perlelangan adalah penjualan dengan jalan lelang. Selanjutnya pelelangan adalah proses, cara, perbuatan melelang (melelangkan).

Menurut Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 27/PMK.06/2016, Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara tertulis dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun untuk mencapai harga tertinggi, yang didahului dengan pengumuman lelang.

Dalam penyelesaian kredit macet pada bank-bank swasta diselesaikan melalui jalur pengadilan. Adapun khusus terhadap kredit macet pada bank-bank pemerintah, selama ini proses penagihannya dilakukan lewat Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), yang dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 49 Prp 1960, dan Badan Usaha Piutang

(15)

dan Lelang Negara (BUPLN), yang dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 1991. Pasal 2 dari keppres ini menentukan bahwa BUPN mempunyai tugas menyelenggarakan pengurusan piutang Negara dan lelang baik yang berasal dari penyelenggaraan pelaksanaan tugas PUPN maupun lainnya ditetapkan oleh menteri keuangan.

2. Landasan hukum lelang a. Al Qur’an































…



Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu....”

b. Hadis

ْ َ

ِ ََ

ِ ْ

ٍ ِلاَ

لَّ َ اًُ َ

ْ ِ

ِ اَ َْْلا

َ اَ

ىَلِ

يِّيِلَّلا ىلََّ

ُ لَّلا

ِ ْيََ

َ لََّ َ

ُ ُلَْ َي

َ اََ

َ َل يِ

َ ِْيَ

ٌ ْيَ

َ اَ

ىََ

ٌ ِْ

ُ ََْ

ُ َ ْ َ

ُ ُ ََْ

ُ َ ْ َ

ٌ َ ََ

ُ َ ْ َ

ِ يِ

َ اَ ْلا

َ اَ

يِِْا اَ ِ ِ

َ اَ

ُاَََ

اَ ِ ِ اَ ُ َ َ ََ

ُ وُ َ

ِ لَّلا ىلََّ

ُ لَّلا

ِ ْيََ

َ لََّ َ

ِِ َيِ

لَّ ُ

َ اَ

ْ َ يِ َْ َي

ِ ْيَ َ

َ اََ

ٌ ُ َ اََ

اَ ُ ُ ُ آ

ٍ َ ْ ِ ِ

َ اَ

ْ َ

ُ يِ َي ىََ

ٍ َ ْ ِ

ِ ْيَلَّ َ

ْ َ اًاََ

َ اَ

ٌ ُ َ اََ

اَ ُ ُ ُ آ

ِ ْيَ َ ْ ِ ِ اَ ُ اَ ْ ََ

ُالَّيِ

َ َ ََ

ِ ْيَ َ ْ يِّ لا اَ ُ اَ ْ ََ

لَّيِ اَ َْْلا

“Dari Anas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah SAW. menjual sebuah pelana dan sebuah mangkok air dengan berkata siapa yang mau membeli pelana ddan mangkok ini?

Seorang laki-laki menyahut; aku bersedia membeli seharga satu dirham. Lalu Nabi berkata lagi, siapa yang berani menambah?

Maka diberi dua dirham oleh seorang laki-laki kepada beliau, lalu dijuallah kedua benda itu kepada laki-laki tadi.” (HR Tirmidzi)

(16)

3. Syarat dan macam-macam Lelang a. Syarat Lelang

Dengan merujuk kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketentuan persyaratan lelang diatur sebagai berikut.

1) Setiap pelaksanaan lelang harus dilakukan oleh dan/atau dihadapan pejabat lelang kecuali ditentukan lain oleh undang-undang atau peraturan pemerintah. Lelang demikian tidak dapat dibatalkan.

2) Dilaksanakan secara terbuka yang dihadiri oleh penjual dan peserta lelang. Lelang tetap dilaksanakan walaupun hanya diikuti oleh satu orang peserta lelang. Bilamana tidak ada peserta lelang, lelang tetap dilaksanakan dan dibuatkan Risalah Lelang Tidak Ada Penawaran.

3) Dilaksanakan pada jam dan hari kerja yang telah ditentukan dan bertempat dalam wilayah kerja KPKNL atau wilayah jabatan Pejabat Lelang Kelas II tempat barang berada.

4) Adanya uang jaminan penawaran yang disetorkan kepada Kantor Lelang, Balai Lelang atau Pejabat Lelang oleh peserta minimal 20% dari nilai limit dan maksimal sama dengan nilai limit.

(17)

5) Adanya nilai limit, yaitu harga minimal barang yang akan di lelang.

6) Pelaksanaan lelang didahului dengan pengumuman lelang 7) Penjual atau pemilik barang wajib atau harus memperlihatkan

atau menyerahkan asli dokumen kepemilikan kepada pejabat lelang.

8) Pembayaran harga lelang dan bea lelang harus dilakukan secara tunai maupun cek atau giro maksimal 3 hari kerja setelah pelaksanaan lelang.

9) Pelaksanaan lelang wajib dituangkan dalam berita acara lelang yang disebut risalah lelang.

b. Macam-macam lelang

Menteri Keuangan Republik Indonesia membedakan lelang menjadi tiga macam:

a) Lelang Eksekusi adalah lelang untuk melaksanakan putusan atau penetapan pengadilan, dokumen-dokumen lain yang dipersamakan dengan itu, dan/atau melaksanakan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan.

b) Lelang Noneksekusi Wajib adalah lelang untuk melaksanakan penjualan barang yang oleh perturan perundang-undangan diharuskan dijula secara lelang.

(18)

c) Lelang Noneksekusi Sukarela adalah lelang atas barang milik swasta, perorangan atau badan hokum/badan usaha yang dilelang secara sukarela.

4. Proses Lelang

Petunjuk pelaksanaan lelang, lelang dapat dilakukan dan diawasi oleh pejabat lelang yang dipilih oleh pejabat balai lelang Negara atau pejabat balai lelang swasta. Pejabat lelang negara yang diangkat oleh negara yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau pegawai notaris serta pegawai pajak, sedangkan pejabat lelang swasta yang diangkat dan dipilih oleh lembaga lelang swasta yang berkuatan hokum atas dasar kesepakatan bersama. Pejabat Lelang Kelas I, yang berwenang melaksanakan lelang untuk semua jenis lelang atas permohonan penjual/pemilik barang sedangkan Pejabat Lelang Kelas II, yang berwenang melaksanakan lelang Noneksekusi Sukarela atas permohonan Balai Lelang atau Penjual.

a. Persiapan Lelang

Dalam pelaksanaan lelang adapun persiapan lelang yang dilakukan antaranya adalah:

1) Permohonan Lelang

Penjual/Pemilik Barang yang bermaksud melakukan penjualan barang secara lelang melalui KPKNL, harus mengajukan surat permohonan lelang secara tertulis kepada Kepala KPKNL untuk

(19)

dimintakan jadwal pelaksanaan lelang, disertai dokumen persyaratan lelang sesuai dengan jenis lelangnya..

2) Penjual/ pemilik barang

Dalam penjualan lelang Penjual/Pemilik Barang bertanggung jawab terhadap:

a) Keabsahan kepemilikan barang;

b) Keabsahan dokumen persyaratan lelang;

c) Penyerahan barang bergerak dan/atau barang tidak bergerak;

d) Penyerahan dokumen kepemilikan kepada Pembeli; dan e) Penetapan Nilai Limit.

3) Tempat pelaksanaan lelang

Tempat pelaksanaan lelang harus dalam wilayah kerja KPKNL atau wilayah jabatan Pejabat Lelang Kelas II tempat barang berada

4) Penetapan waktu pelaksanaan lelang

Dalam pelaksanaan lelang waktu pelaksanaan lelang ditetapkan oleh Kepala KPKNL atau Pejabat Lelang Kelas II dan dilakukan pada jam dan hari kerja KPKNL, kecuali untuk Lelang Noneksekusi Sukarela, dapat dilaksanakan di luar jam dan hari kerja dengan persetujuan tertulis Kepala Kantor Wilayah setempat 5) Surat Keterangan Tanah

(20)

Pelaksanaan lelang atas barang berupa tanah atau tanah dan bangunan harus dilengkapi dengan SKT/SKPT dari kantor pertanahan setempat.

6) Pembatalan sebelum lelang

Lelang yang akan dilaksanakan hanya dapat dibatalkan dengan permintaan penjual atau berdasarkan penetapan atau putusan dari lembaga peradilan.

7) Jaminan penawaran lelang

Dalam setiap pelaksanaan lelang, peserta lelang harus menyetorkan atau menyerahkan jaminan penawaran lelang.

8) Nilai limit

Setiap pelaksanaan lelang disyaratkan adanya Nilai Limit.

Penetapan nilai limit menjadi tanggung jawab penjual.

9) Pengumuman lelang

secara lelang harus didahului dengan pengumuman lelang dengan cara penjual harus menyerahkan bukti Pengumuman Lelang sesuai ketentuan kepada Pejabat Lelang. Dalam pengumuman ini meliputi;

a) Identitas penjual

b) Hari,tanggal, waktu dan tempat pelaksanaan lelang dilaksanakan

c) Jenis dan jumlah barang

(21)

d) Lokasi, luas tanah, jenis hak atas tanah, dan ada atau tidak adanya bangunan, khusus untuk barang tidak bergerak berupa tanah dan/atau bangunan

e) Spesifikasi barang, khusus untuk barang bergerak

f) Waktu dan tempat aanwijzing, dalam hal penjual melakukan aanwijzing

g) Jaminan penawaran lelang meliputi besaran, jangka waktu, cara dan tempat penyetoran, dalam hal dipersyaratkan adanya jaminan penawaran lelang

h) Nilai limit, kecuali lelang kayu dan hasil hutan lainnya dari tangan pertama dan lelang Noneksekusi Sukarela untuk barang bergerak

i) Cara penawaran lelang

j) Jangka waktu kewajiban pembayaran lelang oleh pembeli k) Alamat domain KPKNL atau Balai Lelang yang melaksanakan

lelang.

Dalam pelaksanaan lelang sebagaimana telah diuaraikan diatas pejabat lelang dapat dibantu oleh pemandu lelang. Pemandu Lelang

dapat berasal dari Pegawai DJKN atau dari luar DJKN.

b. Pelaksanaan lelang 1) Penawaran lelang

(22)

a) Lelang tertulis, yaitu lelang dengan penawaran harga dilakukan secara tertulis dalam sampul tertutup

b) Lelang terbuka, yaitu lelang dengan penawaran harga dilakukan langsung secara lisan dengan penawaran makin meningkat atau menurun

c) Lelang kombinasi tertulis dilanjutkan dengan terbuka atau dilanjutkan dengan tertulis, yaitu penawaran barang mula-mula dilakukan secara tertulis atau terbuka dan jika belum mencapai harga yang diinginkan dilanjutkan dengan terbuka atau sebaliknya

2) Pemenang Lelang atau Pembeli

Menurut pasal 66 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/KMK.06/2010, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK,06/2013, pejabat lelang mengesahkan penawar tertinggi yang telah mencapai atau melampaui nilai limit sebagai pembeli, dalam pelaksanaan lelang yang menggunakan nilai limit dan mengesahkan penawar tertinggi sebagai pembeli dalam pelaksanaan lelang noneksekusi sukarela yang tidak menggunakan nilai limit.

3) Pembayaran dan penyetoran

Menurut pasal 71 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/KMK/.06/2010 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan

(23)

Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013, pembayaran harga lelang dan bea lelang harus dilakukan secaratunai atau cash maupun cek atau giro paling lama 5 (lima) hari kerja setelah pelaksanaan lelang

4) Penyerahan dokumen kepemilikan barang

Dalam pasal 76 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/KMK.06/2010 lebih lanjut diatur mengenai penyerahan dokumen kepemilikan barang. Menurut ketentuan ini, dalam hal penjual atau pemilik barang menyerahkan dokumen asli kepemilikan barang lelan kepada Pejabat Lelang, Pejabat Lelang harus menyerahkan asli dokumen kepemilikan dan/atau barang yang dilelang kapada pembeli, paling lama 1 hari kerja setelah pembeli menunjukan buktu pelunasam pembayaran dan menyerahkan bukti setor bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB).

5) Prosedur lelang

Secara sederhana prosedur lelang dapat digambarkan sebagai berikut:

3 Pemohon lelang, pemilik

barang atau penjual

Surat kabar harian atau cara pengumuman lain

(24)

1 8

7

5 9

6

4

Gambar 1.2 prosedur lelang Keterangan:

1. Pemohon lelang dari pemilik barang atau penjual 2. Penetapan tanggal atau hari dan jam lelang 3. Pengumuman lelang di surat kabar harian

4. Peserta lelamg menyetor uang jaminan ke rekening KPKNL 5. Pelaksanaan lelang oleh Pejabat Lelang dari KPKNL

6. Pemenag lelang membayar harga lelang kepada KPKNL 7. Bea lelang disetorkan ke Kas Negara oleh KPKNL

8. Hasil bersih lelang disetor ke pemohon lelang atau pemilik barang 9. KPKNL menyerahkan dokumen dan petikan risalah lelang sebagai

bukti untuk balik nama dan sebagainya.

KPKNL atau pejabat lelang

Peserta Lelang Bank, Bendahara

penerima KPKNL, atau Pejabat Lelang

Kas Negara 2

Gambar

Gambar 1.2 prosedur lelang Keterangan:

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayahnya, sehingga saya telah berhasil menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Produk,

Dengan nilai p tersebut maka HO diterima, karena nilai p >0,05 maka disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pola makan terhadap dengan status

Sindrome metabolik ditentukan berdasarkan kriteria International Diabtes Federation (IDF) salah satunya adalah kadar kolesterol HDL <40 mg/dl. Penelitian yang

Candida albicans ATTC 10231 pada rentang konsentrasi yang dibuat tidak menunjukan adanya aktivitas antimikroba, ini disebabkan karena kurangnya konsentrasi dari infusum

Berdasarkan analisis data satelit Aqua dan Terra MODIS, Nurheryanto (2009) melaporkan bahwa suhu permukaan laut yang relatif rendah di perairan utara Sumbawa

Skripsi berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Masalah pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI IPS Semester Gasal Pokok Bahasan Ketenagakerjaan dan

CNS Inspektor Level 3 wajib mengikuti Refreshing Course untuk Fasilitas Telekomunikasi Penerbangan yang dilaksanakan di tempat pelatihan dalam negeri maupun tempat pelatihan di

Jenis penelitian ini adalah menggunakan penelitian observasional yang bersifat analitik dengan rancangan potong lintang untuk menganalisa pengaruh pengetahuan, sikap dan