• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. Cahyani, Tinuk Dwi. Hukum Perkawinan. (Malang:UMM Press,2020) hal 1 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II. Cahyani, Tinuk Dwi. Hukum Perkawinan. (Malang:UMM Press,2020) hal 1 2"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

18 BAB II KAJIAN TEORI A. Perkawinan

1. Pengertian Perkawinan

Perkawinan berasal dari dua kata yaitu Zawwaja yang berarti menghimpun dan Nakaha yang berarti pasangan. Jadi perkawinan dapat diartikan menghimpun dua orang menjadi satu yaitu melalui dua insan manusia yang pada awalnya hidup sendiri kemudian dengan perkawinan dua insan yang dipertemukan oleh Allah SWT menjadi pasangan suami istri untuk melengkpi satu sama lain.1

Menurut UU No. 1/1974 dalam pasal 1 mendefinisikan Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi sesuai dengan UU No. 1/1974, perkawinan mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dengan agama/ kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/ jasmani, tetapi unsur bathin/rokhani juga mempunyai peranan yang penting.2

Sedangkan Menurut pasal 3 Kompilasi Hukum Islam, perkawinan adalah akad untuk mentaati perintah Allah SWT serta melaksanakan ibadah yang bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.3

Perkawinan menurut empat imam mazhab yaitu4 Imam Syafi’i dan imam Hanafi, nikah (kawin) merupakan suatu akad yang mana dengannya menjadi halal suatu hubungan seksual antara pria dengan wanita. Sedangkan menurut imam Malik nikah merupakan akad yang mengandung suatu ketentuan hukum yang mana semata-mata membolehkan wathi’

(Bersetubuh), bersenang-senang serta menikmati apa yang ada pada diri seorang wanita yang menikah dengannya. Dan menurut imam Hanbal mikah merupakan suatu akad dengan menggunakan lafaz nikah untuk membolehkan manfaat, bersenang-senang dengan wanita.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah dipaparkan diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perkawinan merupakan akad (perjanjian) yang mana diperbolehkannya

1 Cahyani, Tinuk Dwi. Hukum Perkawinan. (Malang:UMM Press,2020) hal 1

2 Pasal 1 UU N0 1 tahun 1974 tentang perkawinan

3 Pasal 1 Kompilasi Hukum Islam

4 Mardani. Hukum Keluarga Islam di Indonesia. (Jakarta:Kencana,2017) hal 24

(2)

19

atau dihalalkannya hubungan seksual antara suami dan istri dan membina suatu rumah tangga yang sakinah dan mentaati perintah dari Allah SWT dan merupakan suatu ibadah.

2. Dasar Hukum Perkawinan

Perkawinan merupakan suatu akad atau perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk melakukan suatu yang sebelumnya tidak diperbolehkan kemudian diperbolehkan.Perkawinan merupakan suatu perbuatan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana dengan adanya firman Allah SWT dalam surat Al-nur ayat 32 yang berbunyi :

َّللا ُمِهِنْغُي َءا َرَقُف اوُنوُكَي ْنِإ ۚ ْمُكِئاَمِإ َو ْمُكِداَبِع ْنِم َني ِحِلاَّصلا َو ْمُكْنِم ٰىَماَيَ ْلْا اوُحِكْنَأ َو ٌميِلَع ٌعِسا َو ُهَّللا َو ۗ ِهِلْضَف ْنِم ُه

Artinya : “dan kawinlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (untuk kawin) diantara hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya”

Dalam menetapkan suatu hukum asal suatu perkawinan terdapat beberapa perbedaan pendapat dikalangan ulama. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum perkawinan adalah sunnah. Dasar hukum tersebut muncul dikarenakan banyaknya perintah Allah SWT didalam Al-Quran dan hadist dari Rasulullah untuk melangsukan suatu perkawinan namun perintah tersebut tidak sampai mengandung arti wajib. Tidak wajibnya perkawinan itu dikarenakan tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah yang secara tegas memberikan ancaman kepada orang-orang yang tidak melakukan perkawinan.5

Sementara menurut golongan Zahiriyyah berpendapat bahwa perkawinan bagi orang yang mampu melakukan hubungan seksual dan biaya perkawinan adalah wajib hukumnya.

Hal tersebut didasarkan pada perintah Allah SWT dan Rasulnya untuk melangsungkan suatu perkawinan.6

Antara pria dengan wanita dapat dikatakan adanya suatu hubungan perkawinan dengan segala akibat hukumnya apabila perkawinan tersebut dilaksanakan dengan tata cara yang sah. Menurut pasal 2 (1) UU No. 1/1974, perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. meskipun UU No. 1/1974 merupakan unifkasi dalam hukum perkawinan. Tetapi dalam hal sahnya perkawinan masih terdapat pluralisme.7

5 Ja’far, Kumedi. Hukum Keluarga Islam di Indonesia. (Bandar Lampung: Arjasa Pratama,2020) hal 27

6 Ibid.

7 Komariah. Hukum Perdata. (Malang:UMM Press,2016) hal 33

(3)

20

Azas-azas atau prinsip-prinsip yang tercantum dalam Undang-undang ini adalah sebagai berikut:8

a. Tujuan perkawinan (pasal 1 UU No. 1/ 1974) merupakan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Untuk itu suami isteri saling membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spirituil dan materil.

b. Dalam Undang-Undang ini dinyatakan, bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu: dan disamping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang.

undangan yang berlaku (Pasal 2 ayat 1 dan 2 UU No. 1/1974).

Menurut pasal 2 Kompilasi hukum islam menyatakan bahwa suatu perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaagon gholidhan sehingga perlu adanya suatu alat bukti yang kuat.9 Kewajiban pencatatan perkawinan demi perlindungan para pihak dalam perkawinan karena para pihak memperoleh Akta Perkawinan/ Akta Pernikahan yang merupakan alat bukti akta otentik jika terjadi penyangkalan perkawinan.

3. Tujuan Perkawinan

Tujuan dari perkawinan yaitu 10:

a. Membentuk suatu keluarga yang bahagia dan kekal. Maka dari itu suami dan istri harus saling membantu dan melengkapi agar masing-masing pihak dapat mengembangkan kepribadiannya untuk membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan materi.

b. Membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah.

c. Menuruti perintah Allah untuk memperoleh keturunan yang sah di dalam masyarakat. Dengan mendirikan suatu rumah tangga yang damai serta teratur.

d. Untuk memenuhi tuntutan hajat, tabiat kemanusiaan berhubungan antara laki-laki dengan perempuan dalam rangka mewujudkan suatu keluarga yang bahagia dengan dasar cinta kasih.

4. Syarat-syarat Perkawinan

a. Syarat-syarat Materiil, yaitu syarat mengenai orang-orang yang hendak melangsungkan perkawinan, terutama mengenai persetujuan, ijin dan kewenangan

8 Ibid, hal 34

9 Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam

10 Mardani,loc.cit., hal 27

(4)

21

untuk memberi ijin. Syarat materil diatur dalam pasal 6 s/d 11 undang-undang nomor 1 tahun 1974, yaitu :

1) Batas umur minimum pria 19 tahun dan untuk wanita 16 tahun (pasal 7 ayat 1 UU No. 1/1974). Namum dalam pasal 7 ayat (1) undang-undang nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan atas undang-undang nomor 1 tahun 2017 tentang perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan diizinkan apabila pria dan wanita telah berumur 19 tahun. Dalam hal terdapat penyimpangan dari batas umur tersebut dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan.

2) Perkawinan harus didasarkan atas perjanjian atau persetujuan antara kedua calon mempelai (pasal 6 ayat 1).

3) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat ijin kedua orang tua (pasal 6 ayat 2). Ijin kawin dalam KUH Pdt ditentukan dalam pasal 35 s/d 40 yang pada intinya adalah sebagai berikut :

a) Untuk anak-anak sah yang belum berumur 21 tahun harus mendapat ijin dari orang tua/ walinya, walaupun terdapat perbedaan pandangan antara kedua orang tuanya.

b) Untuk anak-anak luar kawin yang diakui yang belum berumur 21 tahun, pada pokoknya berlaku ketentuanketentuan yang sama dengan anak sah. Namun dalam hal ada perbedaan pandangan antara kedua orang tua /walinya maka dapatlah hal ini dimintakan putusan Pengadilan Negeri. Apabila ayah dan ibunya sudah meninggal maka persetujuan harus didapatkan dari wali dan wali pengawasnya (bukan persetujuan dari kakek dan neneknya).

c) Syarat materiil yang relatif/ nisbi, merupakan syarat yang melarang perkawinan antara seorang dengan seorang yang tertentu, yaitu:

(1) Larangan kawin antara orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga, yakni hubungan kekeluargaan karena darah dan perkawinan, yang ditentukan dalam pasal 8 UU No. 1 /1974:

(a) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau pun ke atas (b) Berhubungan darah daiam garis keturunan menyamping yaitu antara

saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya.

(c) Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/ bapak tiri.

(5)

22

(d) Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/ paman susuan.

(e) Berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang.

(f) Mempunyai hubungan yang olen agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.

(2) Seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi, kecuali seorang suami yang oleh pengadilan diijinkan untuk poligami karena telah memenuhi alasan-alasan dan syarat-syarat ditentukan (Pasal 9 UU No. 1 /1974).

(3) Larangan kawin bagi suami dan isteri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, sepanjang hukum masing- maisng agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain (Pasal 10 UU No. 1/1974).

(4) Seorang wanita yang putus perkawinannya dilarang kawin lagi sebelum habis jangka tunggu (Pasal 11 UU No. 1/1974).

(5) Syarat-syarat Formil :

(a) Pemberitahuan akan dilangsungkannya perkawinan oleh calon mempelai baik secara lisan maupun tertulis kepada Pegawai Pencatat di tempat perkawinan akan dilangsungkan, dalam jangka waktu sekurangkurangnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan (Pasal 3 dan 4 PP No. 9/ 1975).

(b) Pengumuman oleh Pegawai Pencatat dengan menempelkannya pada tempat yang disediakan di Kantor Pencatatan Perkawinan. Maksud pengumuman itu adalah untuk memberikan kesempatan kepada orang yang mempunyai pertalian dengan calon suami/ isteri itu atau pihak-pihak lain yang mempunyai kepentingan (misalnya Kejaksaan) untuk menentang perkawinan itu kalau ada ketentuan Undang-Undang yang dilanggar.

5. Pencegahan Perkawinan

Pencegahan perkawinan, merupakan suatu hak yang diberikan oleh Undang-Undang kepada orang-orang tertentu untuk atas dasar tertentu menyatakan keberatan terhadap dilangsungkannya suatu perkawinan antara orang-orang tertentu. Pencegahan perkawinan diajukan kepada Pengadilan dalam daerah hukum dimana perkawinan akan

(6)

23

dilangsungkan dengan memberitahukan juga kepada pegawai pencatat perkawinan.

Perkawinan dapat dicegah apabila tidak memenuhi syarat materiil baik yang absolut dan salah seorang mempelai di bawah pengampuan maupun yang relatif.

Adapun pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan perkawinan adalah: para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah, saudara, wali nikah, wali, pengampu dari salah seorang calon mempelai, pihak-pihak yang berkepentingan dan suami atau isteri salah seorang calon mempelai kalau di antara mereka ada yang masih terikat dalam Suatu perkawinan (Pasal 14 dan 15 UU No. 1/1974).11

Apabila terdapat pencegahan perkawinan, maka Pegawai Pencatat Perkawinan dilarang melangsungkan perkawinan itu sebelum adanya suatu putusan pengadilan yang mencabut pencegahan perkawinan atau penarikan kembali pencegahan kepada pengadilan yang mencegah.

6. Pembatalan Perkawinan

Para ahli hukum berpendapat bahwa tiap perkawinan hanya dapat dinyatakan vernietigbaar (dapat dibatalkan), artinya bahwa perkawinan itu hanya dapat dinyatakan batal sesudah keputusan Hakim atas dasar-dasar yang diajukan oleh penuntut yang ditunjuk oleh Undang-Undang. Jadi perkawinan tidak dapat dinyatakan nietigbaar (batal demi hukum), karena kalau demikian halnya maka tak menjamin kepastian hukum.

Perkawinan dinyatakan batal sesudah dilangsungkannya perkawinan. 12 Perkawinan dapat dibatalkan dengan alasan-alasan sebagai berikut:

a. pabila para pihak (suami isteri) tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan, yakni syarat materiil absolut maupun relatif seperti ditentukan dalam pasal 6 s/d 11 UU No. 1/ 1974.

b. Perkawinan diajukan pada Pegawai Pencatat yang tidak berwenang.

c. Perkawinan dilaksanakan oleh wali nikah yang tidak sah.

d. Perkawinan dilaksanakan tanpa dihadiri oleh 2 orang saksi

e. Perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum

f. Pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau isteri.

Menurut pasal 27 (3) UU No. 1/1974, apabila ancaman telah berhenti, atau yang bersalah sangka itu menyadari keadaannya dan dalam jangka waktu 6 bulan setelah itu

11 Zainuddin.Hukum Perdata Islam di Indonesia.Jakarta:Sinar GraFIKA,2018. Hal 33

12 Ibid,hal 37

(7)

24

tetap hidup sebagai suami isteri, dan tidak mempergunakan haknya untuk mengajukan permohonan pembatalan, maka haknya gugur.

Adapun pihak-pihak yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan menurut pasal 23 UU No. 1/1974 adalah sebagai berikut:

a. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau isteri.

b. Suami atau isteri.

c. Pejabat yang berwenang dan yang ditunjuk oleh UU.

d. Setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi hanya setelah perkawinan itu putus.

Dalam KUH Pdt diatur secara rinci alasan-alasan permohonan pembatalan perkawinan beserta pihak-pihak yang dapat mengajukan pembatalan sebagai berikut:

a. Suami/ isteri dari perkawinan pertama.

b. Suami/ isteri dari perkawinan kedua.

c. keluarga sedarah menurut garis lurus ke atas.

d. semua orang yang berkepentingan (misalnya anak dari perkawinan pertama).

e. Jaksa

7. Perjanjian Perkawinan

Dalam UU No. 1/1974, perjanjian perkawinan hanya diatur secara singkat dalam satu pasal, yakni pasal 29. Dalam pasal tersebut hanya mengatur:13

a. Perjanjian perkawinan dapat diadakan pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan.

b. Perjanjian perkawinan harus tertulis, yang disahkan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan.

c. Perjanjian tidak boleh melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan.

d. Perjanjian kawin berlaku terhadap pihak ketiga setelah perjanjian tersebut disahkan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan. Sedang berlaku terhadap kedua belah pihak, sejak perkawinan tersebut dilangsungkan.

e. Selama perkawinan berlangsung, perjanjian tersebut tidak dapat dirubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk merubah dan perubahan tidak Bentuk- bentuk perjanjian kawin:

13 Komariah, loc.Cit.hal 48

(8)

25

1) Perjanjian perkawinan dengan persatuan keuntungan dan kerugian.

2) Perjanjian perkawinan dengan persetujuan penghasilan dan pendapatan.

3) Segala pencampuran harta benda dikesampingkan.

B. Perceraian

1. Putusnya Perkawinan

Menurut pasal 28 UU No. 11/1974, perkawinan dapat putus karena:14 a. Kematian

b. Perceraian dan

c. Atas keputusan Pengadilan.

Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasi mendamaikan kedua belah Pihak (pasal 39 ayat 1). Maksud pasal ini adalah untuk mempersulit perceraian, mengingat tujuan Perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut pasal 19 PP No. 9/1975, alasan-alasan perceraian adalah:

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal Jain di luar kemampuannya.

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain,

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/ isteri.

f. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dari pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian menurut pasal 41 UU No. 1/1974 adalah:

14 Ibid, hal 44

(9)

26

a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak: bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya.

b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/ atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.

C. Dispensasi Perkawinan

Menurut kamus besar bahasa Indonesia Dispensasi nikah, ialah izin pembebasan dari sesuatu kewajiban ataupun larangan jadi dispensasi ialah kelonggaran terhadap suatu yang sesungguhnya tidak diperbolehkan untuk dicoba ataupun dilaksanakan. Dispensasi perkawinan mempunyai makna yaitu keringanan mengenai suatu kehendak tentang batas (batas usia) di dalam melaksanakan jalinan perawinan antara seorang laki-laki dengan seseorang perempuan selaku suami istri dengan tujuan membentuk keluarga( rumah tangga) yang senang serta kekal.

Bersumber pada ketuhanan Yang Maha Esa Seorang yang hendak melakukan pernikahan diwajibkan buat penuhi persyaratan administratif serta subtantif. Dispensasi merupakan sesuatu pengecualian terhadap ketentuanketentuan peraturan- peraturan hukum maupun undang- undang yang sepatutnya berlaku secara formil. Dispensasi nikah merupakan pengecualian terhadap syarat pasal 7 ayat 1 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang batas umur minimun menikah untuk calon lakilaki serta wanita yang belum menggapai umur minimun menikah tersebut sebab terdapatnya sebagian perihal ataupun dalam kondisi tertentu.

Batas umur minimum pria 19 tahun dan untuk wanita 16 tahun (pasal 7 ayat 1 UU No.

1/1974). Namum dalam pasal 7 ayat (1) undang-undang nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan atas undang-undang nomor 1 tahun 2017 tentang perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan diizinkan apabila pria dan wanita telah berumur 19 tahun. Dalam hal terdapat penyimpangan dari batas umur tersebut dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan.

D. Batasan Umur

Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ayat (1) menyatakan bahwa “perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak

(10)

27

wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun” namun ketentuan tersebut telah dirubah dalam pasal 7 ayat (1) undang-undang nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan atas undang- undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan oleh pria dan wanita yang telah berumur 19 tahun.

Ketentuan batas usia perkawinan ini juga seperti disebutkan dalam Kompilasi Pasal 15 ayat (1) didasarkan kepada pertimbangan kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan. Ini sejalan dengan prinsip yang diletakkan UU Perkawinan, bahwa calon suami istri harus telah masak jiwa raganya, agar tujuan perkawinan dapat diwujudkan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat. Untuk itu harus dicegah adanya perkawinan antara calon suami istri yang masih di bawah umur. 15

Masalah penentuan UU Perkawinan maupun dalam kompilasi memang besifat itjihadiyah, sebagai usaha pembaruan Pemikiran fikih yang dirumuskan ulama terdahulu. Namun demikian, apabila dilacak referensi syar'inya mempunyai landasan kuat. Misalnya isyarat Allah dalam surat Al- Nisa' [4] :9:

ۡوُقَيۡل َو َهّٰللا اوُقَّتَيۡلَفۖ ۡمِهۡيَلَع ا ۡوُفاَخ اًفٰع ِض ًةَّي ِ رُذ ۡمِهِفۡلَخ ۡنِم ا ۡوُك َرَت ۡوَل َنۡيِذَّلا َش ۡخَيۡل َو ًد ۡيِدَس ًلً ۡوَق اوُل

Artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (OS Al-Nisa' (4) : 9)

Ayat tersebut memberikan petunjuk (dalalah) bersifat umum, tidak secara langsung menunjukkan bahwa perkawinan yang telah dilakukan oleh pasangan Usia muda di bawah ketentuan yang diatur dalam UU No. 16 tahun 2019 tentang perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 akan menghasilkan keturunan yang dikhawatirkan kesejahteraannya. Akan tetapi berdasarkan pengamatan berbagai pihak, rendahnya usia kawin, lebih banyak menimbulkan hal-hal yang tidak sejalan dengan misi dan tujuan Perkawinan, yaitu terwujudnya ketenteraman dalam rumah tangga berdasarkan kasih sayang.

Dalam hal ini Undang-undang Perkawinan tidak konsisten. Di satu sisi, Pasal 6 ayat (2) menegaskan bahwa untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua, di sisi lain Pasal 7 (1) UU No.

16 tahun 2019 tentang perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 menyebutkan perkawinan hanya

15 Rofiq,Ahmad. Hukum Perdata Islam Di Indonesia.Depok:Rajawali Pers,2019. Hal 59

(11)

28

di izinkan jika pihak pria dan sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun. Bedanya, jika kurang dari 21 tahun, yang dipertukan izin orang tua, dan jika kurang dari 19 tahun, perlu izin pengadilan. Ini dikuatkan Pasal 15 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam. 16

Masalah kematangan fisik dan jiwa seseorang dalam konsep Islam, tampaknya lebih ditonjolkan pada aspek yang pertama, yaitu fisik. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam pembebanan hukum (taklif) bagi seseorang, yang dalam term teknis disebut mukallaf (dianggap mampu menanggung beban hukum atau cakap melakukan perbuatan hukum). Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda:

عفر ملقلا لاث ث ع ن مٔٮانلا ىتح ظقيتسي نعو نونجملا ىتح

قفي نعو يبصلا ىتح ملتحي

“Terangkat pertanggung jawaban seseorang dari tiga hal: orang yang tidur hingga ia bangun, orang gila hingga ia sembuh, dan anak-anak hingga ia bermimpi (dan mengeluarkan air mani/ihtilam)," (Riwayat Imam Empat)"17

Menurut isyarat hadis tersebut, kematangan seseorang dilihat pada gejala kematangan seksualitasnya, yaitu keluar mani bagi laki-laki dan menstruasi (haidl) bagi perempuan.

Mengenai usia perkawinan pada dasarnya hukum Islam tidak mengatur secara mutlak terkait batas umur perkawinan. Tetapi, secara tidak langsung Al-Quran dan hadist mengakui bahwa kedewasaan penting dalam perkawinan. Usia dewasa dalam fiqh ditentukan dari tanda-tanda yang bersifat jasmani yaitu tanda baligh secara umum antara lain sempurnanya 15 tahun.18 Atas dasar hadis tersebut, dalam kitab Kasyifah al-Saja dijelaskan: “Tanda tanda dewasa (baligh)-nya seseorang itu ada tiga, yaitu sempurnanya umur lima belas tahun bagi pria dan wanita, bermimpi (keluar mani) bagi laki-iaki dan perempuan pada usia sembilan tahun, dan haid (menstruasi) bagi wanita usia sembilan tahun”. Ini dapat dikaitkan juga dengan perintah Rasulullah Saw. kepada kaum muslimin agar mendidik anaknya menjalankan shalat pada saat berusia tujuh tahun, dan memukulnya pada usia sepuluh tahun, apabila anak enggan menjalankan shalat.

Adanya konsesi bagi calon mempelai yang kurang dari sembilan belas tahun, atau enam belas tahun bagi wanita, boleh jadi didasarkan kepada nash hadis di atas. Kendatipun kebolehan

16 Ibid, Hal 60

17 As-san’ani, Subulus salam III, (Kairo: Dar ihya’al-Turas al-Araby, 1379 H). Hal 179

18 Bastomi, Hasan.(2016). Pernikahan Dini dan Dampaknya (tinjauan Batasan Umur Menurut Hukum Islam dan Hukum Perkawinan Indonesia). Yudisia: Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, 7 (2). Hal 362

(12)

29

tersebut harus dilampiri izin dari pejabat yang berwenang untuk itu. Ini menunjukkan bahwa penanaman konsep.

Pembaruan hukum Islam yang memang bersifat ijtihadi, diperlukan waktu, dan usaha terus-menerus. Maksudnya, pendekatan konsep mashlahat mursalah dalam formulasi Hukum Perdata Islam di Indonesia, memerlukan waktu, agar masyarakat sebagai subjek hukum dapat menerima dan menjalankannya dengan sukarela tanpa ada unsur pemaksaan. Oleh karena itulah, pentingnya sosiologi hukum dalam upaya mengintrodusir pembaruan hukum, mutlak diperlukan. Di samping itu pemahaman terhadap nash, utamanya yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. pada saat menikah dengan 'Aisyah, juga perlu dipahami seiring dengan tuntutan situasi dan kondisi waktu itu. Ini penting dipahami, karena tuntutan kemaslahatan yang ada waktu itu dibanding dengan keadaan sekarang, jelas sudah berbeda.

Referensi

Dokumen terkait

Perkawinan antara bibi dan keponakan menjadi batal demi hukum menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Hukum Islam, namun berdasarkan Pasal 28

Pemberian dispensasi umur perkawinan oleh Pasal 7 Ayat 2 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 kepada pasangan di bawah umur yang akan melangsungkan perkawinan di Pengadilan

ABSTRAK Sinta Afriyanti 4011611070 Penerapan Kompilasi Hukum Islam Dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang

1968/Pdt.P/2020/PA.Srg tentang dispensasi perkawinan sudah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juncto Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019

128 Lihat Pasal 7 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawian. 129 Lihat Pasal 7 ayat 1 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahas Atas Undang- Undang Nomor

Pemberian dispensasi umur perkawinan oleh Pasal 7 Ayat 2 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 kepada pasangan di bawah umur yang akan melangsungkan perkawinan di Pengadilan

Pemberian dispensasi umur perkawinan oleh Pasal 7 Ayat 2 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 kepada pasangan di bawah umur yang akan melangsungkan perkawinan di Pengadilan

Ketentuan pada Pasal 6 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 yaitu “ perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai” maka perkawinan harus disetujui oleh kedua