1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Pasal 1 dalam Darmadi (2010:39) memaparkan bahwa:
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan bangsa.
Penyelenggaraan pendidikan yang paling utama dilakukan di sekolah melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran harus direncanakan dengan baik untuk menciptakan suasana belajar yang dapat mengaktifkan peserta didik sehingga potensi dalam dirinya dapat berkembang sesuai dengan harapan pendidikan. Hal ini merupakan tugas dari guru yang merupakan pengatur dan pelaksana pembelajaran di sekolah. Pendapat ini sejalan dengan Hernawan, dkk (2008:9.5) yang menyatakan bahwa guru menempati posisi kunci dan strategis dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan untuk mengarahkan siswa agar dapat mencapai tujuan secara optimal, menurutnya pembelajaran merupakan sebuah proses komunikasi yang bersifat timbal balik baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Selain adanya komunikasi timbal balik, dalam pembelajaran juga terdapat komponen-komponen lain seperti materi pelajaran, model pembelajaran, media pembelajaran, dan alat evaluasi pembelajaran yang dapat berpengaruh pada pencapaian tujuan pembelajaran.
Apabila komponen-komponen tersebut dapat dikelola dengan baik maka tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik pula.
Pencapaian tujuan pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa, hal ini sejalan dengan pendapat Asmani (2013:18) yang menyebutkan bahwa pembelajaran yang baik akan menghasilkan lulusan dengan hasil belajar yang
baik. “Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar” (Abdurrahman,2009:37). Hasil belajar siswa dikatakan baik jika telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah.
Terdapat beberapa mata pelajaran yang diajarkan dalam proses pembelajaran di sekolah, salah satunya adalah Pendidikan Kewarganegaraan.
Menurut Standar Isi dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 menyebutkan bahwa “Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945”. Oleh karena itu mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang penting agar siswa dapat melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Pendidikan Kewarganegaraan di SD memiliki beberapa tujuan, diantaranya untuk membekali agar siswa dapat berpikir kritis, rasional, kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan, berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta anti korupsi, berkembang secara positif dan demokratis berdasarkan karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa lainnya, dan dapat berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi dan informasi (Mawardi dan Suroso,2009:5).
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan model pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa agar kemampuan berpikirnya dapat berkembang, selain itu dalam pembelajaran harus ada interaksi baik antara siswa dengan guru, maupun siswa dengan siswa lainnya agar siswa dapat berkembang menjadi pribadi yang demokratis dan bertanggung jawab sehingga nantinya dapat berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini sejalan dengan pendapat Utami (2010:5) yang menjelaskan bahwa dalam pembelajaran PKn di SD guru harus memberi kesempatan yang luas pada siswa untuk membentuk pengetahuannya agar dapat berpikir kritis sehingga guru tidak lagi menerapkan
model pembelajaran konvensional yang monologis dan memaksa siswa menghafal konsep-konsep yang abstrak.
Namun pada umumnya dalam pembelajaran PKn guru belum menggunakan model pembelajaran yang melatih siswa untuk berpikir kritis dan menjadi pribadi yang demokratis dengan berinteraksi dengan guru dan siswa lainnya. Guru masih menggunakan model ceramah untuk menyampaikan materi dan dilanjutkan dengan pemberian tugas karena dirasa lebih praktis dan mudah dilakukan. Hal ini juga terjadi di SD Negeri Bugel 01 Salatiga. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi yang dilakukan, ditemukan bahwa dalam pembelajaran PKn guru menggunakan model ceramah kemudian dilanjutkan pemberian tugas, akibatnya siswa menjadi kurang antusias, kurang bersemangat, kurang aktif dan mudah bosan dalam pembelajaran sehingga pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan menjadi berkurang. Guru juga belum menggunakan media pembelajaran sehingga siswa kurang tertarik pada materi yang disajikan.
Akibatnya pada saat dilakukan ulangan harian, hasil belajar sebagian besar siswa belum mencapai Kriteria Ketuntatasan Minimal (KKM) yang ditentukan sekolah yaitu ≥ 70. Hal ini dapat dilihat dari nilai ulangan pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SD Negeri Bugel 01 pada Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016, dengan Kompetensi Dasar 3.1 mendeskripsikan pengertian organisasi dan Kompetensi Dasar 3.2 menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn masih rendah karena dari 16 siswa ditemukan 10 siswa atau 62,5% siswa dalam kelas belum mencapai KKM, hanya 6 siswa atau 37,5% siswa dalam kelas yang mencapai KKM dengan nilai rata-rata kelas pada mata pelajaran PKn adalah 68,25 yang juga belum mencapai KKM, sedangkan nilai tertinggi 88 dan nilai terendah 52.
Untuk mengatasi masalah tersebut guru harus menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan agar membuat siswa tertarik pada materi pelajaran PKn, tidak mudah bosan, bersemangat dan siswa lebih aktif dalam pembelajaran PKn agar hasil belajar siswa meningkat. Guru harus mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia Sekolah Dasar yaitu dengan menciptakan pembelajaran yang mengandung unsur
permainan, bekerja atau belajar dalam kelompok dan memberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam pembelajaran (Desmita, 2014:36). Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai. Model pembelajaran adalah prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar, dengan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik atau kondisi siswa serta bahan dan sumber belajar akan menunjang keberhasilan belajar siswa yang dapat dilihat dari hasil belajarnya (Kurniasih dan Sani, 2015:18-19). Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar dan sesuai dengan karakteristik anak usia SD adalah model pembelajaran course review horay. Menurut Kurniasih dan Sani (2015:80) model pembelajaran course review horay adalah model yang dapat menciptakan suasana kelas menjadi meriah dan menyenangkan karena setiap siswa yang dapat menjawab dengan benar maka siswa tersebut diwajibkan berteriak “hore” atau yel-yel yang disepakati. Selanjutnya Huda (2013:230) menjelaskan bahwa model pembelajaran course review horay membantu siswa untuk memahami konsep dengan baik melalui diskusi kelompok karena dengan model ini akan dilakukan pengujian pemahaman siswa pada materi pelajaran dan langsung dibahas sehingga siswa dapat langsung mengetahui jawabannya benar atau salah. Model pembelajaran course review horay juga memiliki kelebihan diantaranya terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan karena diselingi dengan hiburan dan melatih kerja sama dalam menjawab soal yang diberikan oleh guru secara kelompok. Saat siswa terbiasa menjawab soal dan dilakukan pembahasan secara langsung, siswa akan lebih memahami materi pembelajaran sehingga diharapkan hasil belajarnya meningkat.
Keberhasilan model pembelajaran course review horay dalam meningkatkan hasil belajar telah terbukti dalam penelitian yang dilakukan oleh Siska Fitriani dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Course Review Horay untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas 3 SD N Winong 01 Kecamatan Pati Kabupaten Pati Semester 1 Tahun Pelajaran 2013/2014” yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada prasiklus adalah 37%, siklus I menjadi 77% dan siklus II menjadi 94%.
Model pembelajaran ini akan lebih berhasil apabila dilengkapi dengan media pembelajaran karena materi pembelajaran dapat lebih mudah dipahami dan siswa lebih tertarik pada pembelajaran, hal ini sejalan dengan pendapat Briggs (Susilana dan Riyana,2009:6) yang menjelaskan bahwa media pembelajaran adalah alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar. Salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran PKn agar lebih menarik dan mudah dipahami adalah media flipchart. Indriana (2011:16) menyatakan bahwa media flipchart adalah lembaran kertas berbentuk album atau kalender yang disusun dalam urutan, diikat pada bagian atasnya bisa diisi huruf, gambar, diagram, dan angka sehingga mampu menyajikan pesan pembelajaran secara ringkas. Penggunaan media flipchart dapat membuat materi pelajaran disampaikan dengan berbagai bentuk seperti penambahan gambar, huruf yang menarik, diagram, bagan sehingga siswa tertarik dan tidak mudah bosan pada materi pelajaran yang disajikan, selain itu materi pelajaran disajikan secara ringkas sehingga akan mempermudah pemahaman siswa
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Model Pembelajaran Course Review Horay Berbantuan Media Flipchart pada Siswa Kelas V SD Negeri Bugel 01 Salatiga Semester II Tahun Pelajaran 2015/ 2016”.
1.2 Identifikasi Masalah
Beberapa masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran PKn SD Negeri Bugel 01 Salatiga adalah :
1. Siswa kurang tertarik pada materi mata pelajaran PKn karena dalam pembelajaran yang dilakukan guru belum menggunakan media pembelajaran.
2. Suasana pembelajaran kurang dapat membuat siswa aktif, kurang antusias, dan mudah bosan dalam pembelajaran PKn karena guru menggunakan model pembelajaran ceramah dilanjutkan pemberian tugas sehingga pemahaman siswa terhadap materi pelajaran kurang.
3. Hasil belajar PKn sebagian besar siswa belum mencapai KKM yang ditetapkan sekolah.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Apakah model pembelajaran course review horay berbantuan media flipchart dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SD Negeri Bugel 01 Salatiga semester II tahun pelajaran 2015/2016?”
1.4 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SD Negeri Bugel 01 Salatiga semester II tahun pelajaran 2015/2016 dengan menggunakan model pembelajaran couse review horay berbantuan media flipchart.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
1.5.1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis penelitian ini adalah menambah wawasan tentang model pembelajaran course review horay berbantuan media flipchart untuk meningkatkan hasil belajar PKn.
1.5.2 Manfaat Praktis 1. Bagi siswa
Dapat meningkatkan hasil belajar PKn melalui penggunaan model pembelajaran course review horay berbantuan media flipchart
2. Bagi guru
Memperkenalkan, menambah pengetahuan dan pengalaman tentang penerapan model pembelajaran course review horay berbantuan media flipchart pada mata pelajaran PKn dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa.
3. Bagi sekolah
Sebagai referensi yang dapat digunakan untuk peningkatan hasil belajar siswa.