• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user III - 1

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai metodologi penelitian yang digunakan. Metodologi penelitian ini merupakan urutan langkah pengerjaan yang digambarkan dalam bentuk flowchart sebagai berikut:

Gambar 3.1. Diagram Alir Metodologi Penelitian

(2)

commit to user III - 2

Dalam merancang desain tampilan website E-Commerce terdiri dari 2 tahapan utama, yaitu tahap benchmarking dan mendesain tampilan website E- Commerce.

3.1. Tahap Benchmarking

Benchmarking yang dilakukan merupakan competitive benchmarking, yaitu memberikan perbandingan fungsi sejenis pada industri yang sama. Strategi ini membatasi pada perbandingan terhadap pesaing secara langsung. Benchmarking bertujuan untuk menghasilkan sebuah best practice yang akan digunakan sebagai dasar untuk mendesain tampilan website E-Commerce. Menurut Gaspersz (2002), tahapan dalam benchmarking yang dilakukan, yaitu tahap perencanaan, tahap analisis, dan tahap integrasi.

3.1.1. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini akan dilakukan perencanaan benchmarking yang terdiri dari identifikasi subjek benchmarking, identifikasi target benchmarking, dan penentuan metode pengumpulan data.

a. Identifikasi Subjek Benchmarking

Subjek benchmarking merupakan siapa yang akan di-benchmarking-kan atau subjek yang akan dilakukan perbandingan. Usaha yang akan menjadi subjek benchmarking diidentifikasi terhadap usaha yang bergerak pada bidang E- Commerce kategori fashion. Langkah-langkah dalam pemilihan subjek benchmarking pada penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi dan memilih perusahaan mana yang akan digunakan sebagai subjek benchmarking. Kriteria dari perusahaan ini adalah perusahaan E-Commerce fashion terbesar dengan banyaknya transaksi yang dilakukan pada perusahaan tersebut.

2. Mencari informasi mengenai perusahaan yang akan dijadikan sebagai subjek benchmarking. Informasi perusahaan berupa sejarah perusahaan, jenis produk yang dijual, serta reputasi website perusahaan. Untuk informasi dari sejarah perusahaan, produk yang dijual, dan banyaknya transaksi, didapatkan melalui website perusahaan tersebut dan beberapa berita online. Sedangkan untuk reputasi website perusahaan tersebut

(3)

commit to user III - 3

didapatkan dari situs Alexa (alexa.com). Pemilihan situs Alexa ini dikarenakan situs ini menyediakan layanan perangkingan secara otomatis untuk seluruh situs di dunia.

Kriteria subjek benchmarking yang dipilih berdasarkan pada perusahaan E- Commerce fashion yang terbesar di Indonesia. Jumlah subjek benchmarking telah ditentukan 3 perusahaan E-Commerce. Jumlah ini berdasarkan pada penelitian Wafa (2011) yang melakukan perancangan bisnis warabala menggunakan metode benchmarking.

b. Identifikasi Target Benchmarking

Target benchmarking merupakan apa yang akan di-benchmarking-kan atau item yang dijadikan sebagai dasar dalam mendapatkan informasi yang ingin diperoleh. Penentuan target benchmarking pada penelitian ini berdasarkan observasi langsung proses pembelian dalam website dan studi literatur pada parameter usability. Target benchmarking terdiri dari proses pembelian yang diidentifikasi menggunakan HTA dan desain parameter usablity pada website.

1. Identifikasi proses pembelian dilakukan dengan menggunakan metode HTA (Hierarchical Task Analysis).

HTA ini digunakan karena dapat mengetahui urutan proses yang dilakukan selama proses pembelian dalam website (dari proses pemilihan produk hingga proses tracking produk) secara hierarki terhadap pengguna. Pada proses pembuatan HTA, tugas yang kompleks dipecah menjadi operasi-operasi dan sub- sub operasi yang bertingkat. Proses pembuatan HTA dimulai dengan menetapkan tujuan umum (tugas level 0) dari proses pembelian dalam website. Kemudian, mem-breakdown beberapa tugas (level 1) yang dilakukan agar tujuan umum tercapai. Tugas level 1 di-breakdown menjadi sub-tugas. Tugas level 1 akan menjadi tujuan dari sub-tugas di bawahnya. Hal tersebut terus diteruskan hingga sub-tugas tidak dapat di-breakdown lagi. Proses pembuatan HTA ini dilakukan berdasarkan pada observasi secara langsung bagaimana proses pembelian pada masing-masing subjek benchmarking selama proses pemesanan hingga tracking produk dalam website.

(4)

commit to user III - 4

2. Identifikasi desain website E-Commerce dengan parameter usability.

Parameter usability berdasarkan pada 4 tipe pengguna E-Commerce, yaitu browser dan evaluator (Sadiah, 2012) serta transactor dan customer (Mutaram, 2012). Menurut Chak (2003) tipe pengguna browser merupakan tipe pengguna yang berpetualang untuk melihat atau mencari sesuatu yang menarik sehingga para desainer harus merancang homepage, search, dan navigasi semenarik dan semudah mungkin sesuai dengan kaidah usability. Tipe pengguna evaluator merupakan tipe pengguna yang mengumpulkan fakta-fakta lalu menganalisisnya dan mengambil keputusan sesuai dengan yang mereka butuhkan. Tipe pengguna transactor adalah pengguna yang sudah siap untuk melakukan transaksi atau sudah siap untuk membeli produk yang ditawarkan pada suatu website.

Sedangkan, tipe pengguna customer merupakan pengguna yang sudah pernah melakukan transaksi dan telah menjadi anggota atau member dari website E- Commerce.

c. Menentukan Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, studi literatur, dan penelitian terdahulu. Observasi dilakukan dengan melakukan proses pembelian dalam website dan parameter usability pada subjek benchmarking. Studi literatur berkaitan dengan informasi desain usability secara teknis. Sedangkan, penelitian terdahulu berkaitan dengan parameter usability yang digunakan sebagai target benchmarking.

d. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini:

1. Proses pembelian dalam website terdiri dari memilih produk hingga tracking produk masing-masing subjek benchmarking.

2. Parameter usability berdasarkan pada tipe pengguna browser, evaluator (Sadiah, 2012), transactor, dan customer (Mutaram, 2012).

3. Penilaian berdasarkan HHS Guidelines yang sesuai dengan parameter usability di atas.

3.1.2. Tahap Analisis

Tahap ini dilakukan perbandingan antara perusahaan yang menjadi subjek benchmarking. Perbandingan dilakukan berdasarkan target benchmarking yang

(5)

commit to user III - 5

telah ditentukan. Data yang telah didapatkan pada masing-masing perusahaan E- Commerce kemudian dibandingkan. Pada parameter usability dalam target benchmarking hanya terbatas pada ada atau tidaknya parameter tersebut di dalam masing-masing subjek benchmarking.

3.1.3. Tahap Integrasi

Tahap ini mencakup metode benchmarking yang digunakan untuk menentukan target operasional dalam proses perubahan atau perbaikan. Pada tahap ini merupakan hasil dari benchmarking yang merupakan gabungan desain website dari semua perusaahan E-Commerce yang menjadi subjek benchmarking.

Gabungan ini disebut sebagai sebuah best practice.

Best practice yang dihasilkan berupa proses pembelian produk dan desain tampilan website E-Commerce berdasarkan pada parameter usability. Dalam pemilihan best practice tersebut langkah pertama adalah menentukan best practice dari proses pembelian. Best practice pada proses pembelian tersebut didapatkan dengan memperhatikan parameter usability yang telah ditentukan serta proses tersebut merupakan proses yang mencakup semuanya, terstruktur, dan lebih ringkas. Kemudian, menentukan best practice desain website E-Commerce yang dimana berdasarkan pada parameter usability dan dikaji menggunakan HHS Guidelines. HHS Guidelines mencakup berbagai isu desain website, termasuk aksesibilitas, desain homepage, home dan situs navigasi, grafik dan gambar, organisasi konten web, dan cara menulis konten web yang efektif (Bevan, 2005).

HHS Guidelines yang digunakan mengacu pada pedoman karangan Leavitt dan Shneiderman (2004).

Pada tahap ini juga diberikan kekurangan dan kelebihan dari pemilihan best practice tersebut. Selain itu, dari hasil benchmarking yang telah didapatkan tersebut, dilakukan pengkategorian setiap parameternya terhadap parameter usability berdasarkan Nielsen, yaitu yaitu easy to learn, efficient to use, easy to remember, few errors, dan subjectifely pleasing (Nielsen, 1993).

3.2. Desain Tampilan Website E-Commerce

Tahap ini merupakan tahap mendesain tampilan website E-Commerce fashion menggunakan hasil best practice. Hasil desain tersebut merupakan

(6)

commit to user III - 6

gabungan best practice dari target benchmarking, yaitu proses pembelian dalam website dan parameter usability. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah:

a. Menentukan tampilan apa saja yang dibutuhkan dalam desain E-Commerce berdasarkan dengan proses pembelian yang terpilih.

b. Pada setiap tampilan diidentifikasi proses dan parameter usability apa saja yang terkandung di dalamnya.

c. Kemudian dilakukan penyesuaian antara proses pembelian dan parameter usability dalam mendesain setiap tampilannya.

Desain tampilan website E-Commerce tersebut dibuat dengan Software Balsamiq. Hasil desain tampilan ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan tampilan website E-Commerce pada UMKM terutama yang bergerak dibidang fashion.

3.3. Analisis dan Interpretasi Hasil Penelitian

Tahap analisis dilakukan pada hasil best practice yang didapatkan dan desain tampilan website E-Commerce tersebut. Selain itu, diuraikan analisis tentang kelebihan dari desain tampilan website E-Commerce dan tahap pengembangan desain tersebut selanjutnya.

3.4. Kesimpulan dan Saran

Isi dari kesimpulan adalah menjawab dari tujuan yang telah diuraikan.

Sedangkan saran berisi mengenai hal-hal apa saja yang dapat dijadikan masukan baik berkenaan dengan hasil dari pengamatan maupun saran untuk penelitian berikutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Keputusan Ditjen Perhubungan Nomor SK.687/AJ.206/DRJD/2002, maka dilakukan analisis terhadap kondisi pelayanan angkutan umum AKDP trayek Yogyakarta –

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala suku, dapat disimpulkan bahwa Kepala Suku sangat berperan dalam pengambilan keputusan yaitu memecahkan

Melalui konseling Gestalt teknik bermain proyeksi dalam tiga kali pertemuan klien menjadi berani berbicara di depan kelas dengan aktif mengikuti pelajaran, berani

Siswa Dalam Menghadapi UN Kelas XII Sma 5 Pekanbaru Tahun Ajaran 2012/2013 “. Tujuan Penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui gambaran kecemasan siswa dalam menghadapi UN

Berdasarkan pengolahan data kemampuan kinerja guru pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas IV sekolah dasar menggunakan metode diskusi diperoleh hasil pada siklus

 Unified Modeling Language (UML) adalah keluarga notasi grafis yang didukung oleh meta-model tunggal, yang membantu pendeskripsian dan desain sistem perangkat lunak, khususnya

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kurangnya variasi guru, kurangnya perhatian peserta didik, dan kurangnya minat peserta didik sehingga peserta didik mengantuk,

[r]