BAB IV
ANALISA DAN BAHASAN
IV.1 Analisa Aspek Manusia
IV.1.1 Alur Kegiatan
Analisa pelaku terbagi atas jenis pelaku kegiatan dalam hotel tersebut yakni, pemakai, pengelola, dan pekerja. Pada pelaku yang kita sebut pemakai terbagi atas 2 tipe yaitu pemakai yang menghuni, dan pemakai yang tidak menghuni. Sedangkan untuk pemakai yang kita sebut pengelola terbagi juga menjadi 2 yaitu pengelola bangunan (hotel), dan pengelola tenant (fasilitas penunjang) yang masing-masingnya memiliki pekerja dan pegawai. Agar memudahkan, alur kegiatan terbagi lagi menjadi 2, yaitu hotel dan fasilitas penunjang.
Alur kegiatan pada hotel
Alur kegiatan yang dilakukan pengguna hotel adalah sebegai berikut:
Diagram 1 Alur Kegiatan Pengguna Hotel
Alur kegiatan yang dilakukan oleh pengelola/karyawan pada bangunan hotel adalah sebagai berikut:
Diagram 2 Diagram Alur Kegiatan Pengelola Hotel Alur Kegiatan pada Fasilitas Penunjang
Pada alur kegiatan di bangunan fasilitas penunjang, pengguna hotel kita bagi menjadi 2 yakni pengguna yang menghuni (tamu huni) dan yang tidak menghuni.
Diagram 3 Diagram Kegiatan Pengguna Fasilitas Penunjang (huni)
Diagram 4 Diagram Kegiatan Pengguna Fasilitas Penunjang (non-huni)
Seperti yang telah disebutkan diatas, pengguna bangunan fasilitas penunjang tidak hanya tamu, tetapi juga pegawai/karyawan yang bekerja pada tenant bagunan penunjang tersebut. Kegiatan yang dilakukan pada bangunan penunjang tersebut cukup banyak terutama karena lalu-lalangnya pegawai, serta perlunya loading barang untuk fasilitas-fasilitas penunjang layaknya mini-market, restoran dan sebagainya. Alur kegiatan untuk pegawai tenant pada bangunan fasilitas penunjang antara lain adalah sebagai berikut:
Diagram 5 Diagram Alur Kegiatan Pegawai/Karyawan Pada Bangunan Penunjang Alur kegiatan untuk supplier tenant fasilitas penunjang untuk loading barang adalah sebagai berikut:
Diagram 6 Diagram Alur Kegiatan Supplier Tenant Pada Bangunan Fasilitas Penunjang
IV.1.2 Organisasi Ruang
Organisasi ruang dibagi menjadi 2, yakni organisasi ruang secara makro dan organisasi ruang secara mikro. Pembagian ini dilakukan agar terjadi kemudahan untuk menentukan hubungan antar ruangnya. Pembagian organisasi ruang secara makro nantinya akan dibahas secara mendetail per ruangannya ke sub-ruangan yang ada pada pembagian organisasi ruang secara makro tersebut.
IV.1.2.1 Organisasi Ruang Makro
Diagram 7 Diagram Organisasi Ruang Secara Makro
Berdasarkan diagram diatas dan dilihat dari hubungan organisasi ruangnya, semua ruangan (makro) berhubungan langsung melalui lobby. Pengguna hotel dapat mengakses fasilitas-fasilitas penunjang seperti retail dan restoran melalui lobby ataupun akses langsung. Pengguna hotel dapat mengakses ruang loker setelah melakukan check- in kemudian menuju kamar ataupun langsung menuju kamar setelah melakukan check- in di lobby. Begitu juga akses menuju ruang rapat/seminar, dapat diakses langsung dari lobby sehingga pengguna fasilitas penunjang yang tidak menginap tidak perlu melalui area private seperti kamar tidur.
Pengelola/karyawan dapat mengakses kantor mereka langsung dari parkir dan bisa mengkases lobby agar tidak terjadinya crossing antara pengguna hotel dan karyawan
hotel. Posisi ruang servis berdekatan dengan fasilitas retail dan restoran dan diakses langsung melalui area parkir untuk memudahkan saat melakukan loading barang.
IV.1.2.2 Organisasi Ruang Mikro Ruang tidur
Diagram 8 Organisasi Ruang Mikro Pada Ruang Tidur
Untuk organisasi ruang secara mikro pada kamar tidur yang berupa kapsul ini, secara umum harus memuat kebutuhan 1 orang dengan ukuran besaran yang mencukupi. Karena hotel kapsul ini memiliki target pasa para businessman, maka tiap kapsul harus memiliki paling tidak sebuah area kerja baik nantinya area tersebut adalah sebuah ruang ataupun sebuah meja kerja. Penyimpanan barang pribadi juga perlu disediakan di kamar tidur ini meskipun disediakan ruang loker di organisasi ruang secara makro. Kamar mandi menjadi satu kesatuan dalam kapsul, dikarenakan kebiasan secara umum orang di Indonesia yang menginginkan fasilitas kamar mandi yang lebih private.
Ruang Kantor Pengelola
Diagram 9 Organisasi Ruang Mikro Pada Ruang Pengelola
Organisasi ruang kantor pengelola dibuat sesederhana mungkin, ruang kantor pengelola merupakan area backoffice dan area ruang kerja staff dibuat akses langsung menuju ruang file dan ruang manager.
Retail Area
Diagram 10 Organisasi Ruang Mikro Pada Retail Area
Area ruang retail pembagiannya organisasi ruangnya dikumpulkan di bagian belakang ruangan, karena area yang diperlukan merupakan area yang bersifat service dan private seperti gudang, dan ruang karyawan.
Restoran
Diagram 11 Organisasi Ruang Mikro Pada Restoran
Restoran terbagi menjadi 5 bagian organisasi ruang, dimana area makan merupakan area yang terbesar dan memiliki akses langsung ke dapur. Dapur sendiri menjadi pusat orientasi organisasi ruangannya, dikarenakan ruangan seperti storage dan ruang pegawai (meliputi ruang loker) tidak dapat diakses dari area ruang makan restoran agar tidak terjadinya crossing antara pegawai restoran dan pengunjung restoran.
Sedangkan area untuk loading harus memiliki akses langsung menuju ruang storage.
Service Area
Diagram 12 Organisasi Ruang Mikro Pada Area Servis
Ruang karyawan menjadi pusat orientasi organisasi ruang servis ini, ruang karyawan memiliki akses menuju ruang genset, ruang elektrikal, gudang, laundry, ruang pompa, TPS. Fasilitas ruang karyawan memiliki ruang pantry dan WC yang juga memiliki akses langsung dari ruang karyawan.
IV.1.3 Program Ruang
Setelah proses analisa kegiatan membentuk hubungan antar ruang secara makro dan mikro, yang dilakukan selanjutnya adalah melakukan pembentukan besaran ruang melalui program ruang. Program ruang disusun mengacu berdasarkan standar ruang
yang ada pada buku Neufert Architect Data dan Time Saver Standart pembahasan program ruang untuk bangunan Hotel.
Kelengkapan Program Ruang terlampir pada lampiran Skripsi ini.
IV.2 Analisa Aspek Lingkungan
IV.2.1 Situasi Lingkungan
Gambar 1 Kondisi Lingkungan Sekitar Tapak
Kondisi lingkungan sekitar tapak terbilang sepi dan tidak padat, namun pada jam-jam tertentu seperti jam berangkat dan pulang kerja serta saat jam makan siang area sekitar terlihat sangat padat. Kepadatan pada jam berangkat dan pulang kerja diakibatkan tapak yang berdekatan dengan stasiun sudirman. Jalur kereta ini cukup
Percetakan
Parkir & Ojek
St. Sudirman
Belakang Pasar
Depan Pasar
dipadati para pekerja/karyawan di area perkantoran M.H Thamrin terutama para pekerja yang memiliki rumah di perbatasan Jakarta.
Gambar 2 Area yang dijadikan Lahan Parkir dan Parkir Ojek
Pada sisi sebelah barat tapak, area yang memiliki cukup banyak penghijauan itu digunakan oleh warga sekitar untuk tempat parkir. Wilayah di jl.blora ini memiliki banyak ruko berupa tempat makan, sehingga cukup dipadati oleh pekerja dan karyawan di waktu makan siang. Tidak hanya parkir kendaraan pribadi, area sebelah barat juga menjadi area pangkalan ojek yang mengincar penumpang dari stasiun.
Gambar 3 Parkir Ojek Yang memadati Pedestrian Stasiun
Namun pada pagi dan sore, jumlah ojek menjadi bertambah hingga memadati area pedestrian di sisi sepanjang jalur stasiun.
Tapak juga bersebelahan dengan pasar yang terbilang hampir non-aktif, kondisi pasar yang berdekatan dengan kawasan pemukiman area Menteng membuat pasar tidak terlalu ramai dan tidak berantakan (teratur).
IV.2.2 Kebisingan
Tapak berada di kawasan yang cukup tenang, namun tidak pada jam-jam tertentu. Posisi tapak yang tepat berseberangan dengan stasiun kereta api sudirman membuat pada waktu pagi dan sore ketika kereta sering lalu-lalang menjadi ramai.
Gambar 4 Arah Kebisingan Dari Luar Ke Dalam Tapak
Sumber kebisingan tidak hanya berasal dari arah stasiun, kondisi jalan M.H.Thamrin pada pagi dan sore juga cukup terbilang ramai akibat kepadatan kendaraan yang lalu-lalang di jalan tersebut. Sedangkan dari sisi timur tapak terbilang cukup tenang, karena area di dominasi oleh kawasan pemukiman. Yang perlu diperhatikan justru adalah kebisingan yang akan terjadi dari dalam ke luar tapak (ke arah pemukiman).
Jalan blora tidak terlalu dipadati kendaraan meski jalan blora merupakan jalan yang cukup lebar dan besar. Jalan blora bukan merupakan jalan utama (mainstreet) sehingga, tidak banyak kendaraan yang lewat. Sisi jalan kendal sama seperti jalan blora yang merupakan jalan 1 arah, namun jalan kendal bukan merupakan jalan yang lebar seperti jalan blora, sehingga tidak terlalu ramai dan kepadatan kendaraan yang lalu- lalang di area ini tidak terlalu menghasilkan kebisingan.
Gambar 5 Respon Terhadap Sumber Kebisingan
• Bukaan ke dalam bangunan diatur agar kebisingan yang masuk tidak terlalu besar, sehingga masih tercipta tingkat privasi yang tinggi terutama masalah kebisingan tersebut.
• Menempatkan fungsi ruang yang membutuhkan ketenangan ke sisi yang terjauh dari kebisingan
• Seandainya area yang membutuhkan ketenangan terpaksa bertempat di area yang bising, kebisingan di-buffer dengan memaksimalkan penggunaan sandwich panel foam core pada sisi ruangan tersebut.
IV.2.3 View dan Orientasi Bangunan Terhadap Tapak
Tapak memanjang ke arah utara dan selatan, dengan sisi pipih yang menghadap ke barat dan timur. Sisi pendek tapak kurang lebih berukuran 1/3 dari sisi panjangnya.
Ukuran sisi terpendek dari tapak kurang lebih 27m. Dengan lebar 27m, massa bangunan tetap harus dikondisikan berorientasi timur-barat.
Gambar 6 Orientasi Tapak dan View
Perlu dilakukan perlakuan khusus terhadap massa bangunan yang menghadap ke sisi barat, dengan menggunakan overstek ataupun menggunakan secondary skin sebagai buffer dari panas matahari barat. Sedangkan dari sisi timur, tidak perlu diberlakukan treatment khusus cukup memberi bukaan yang sesuai dan menyeimbangkan/merespon dari secondary skin yang diterapkan dari sisi sebelah barat.
IV.2.4 Matahari
Gambar 7 Pergerakan Matahari dan Respon Terhadapnya
Dengan posisi tapak berorientasi timur-barat, diperlukan bukaan-bukaan untuk memasukan cahaya alami ke dalam bangunan semaksimal mungkin namun tanpa memasukan panasnya. Bukaan diarahkan ke arah sisi timur tapak untuk memaksimalkan cahaya matahari yang masuk ke dalam. Pergerakan matahari di Jakarta berada sisi utara dikarenakan posisi Jakarta yang berada di bawah garis khatulistiwa. Sehingga dari analisa tersebut, terbentuklah zoning yang disesuaikan kondisi di tapak.
IV.2.5 Zoning
Gambar 8 Lokasi Pangkalan Ojek
Pada lingkungan sekitar tapak, area pangkalan ojek yang memaksakan tempat ke area pedestrian sepanjang jalur stasiun sudirman membuat pejalan kaki dari arah stasiun sudirman yang menuju ke utara (arah bundaran HI) merasa terganggu. Diharapkan dengan membuka ruang public yang merespon/terkoneksi dengan wilayah pedestrian setempat akan menambah kenyamanan bagi pejalan kaki di area tersebut.
Gambar 9 Pembentukan Ruang Public Berdasarkan Kondisi Tapak
Dengan menciptakan zona ruang terbuka besar yang berfungsi sebagai ruang public diharapkan memudahkan para pejalan kaki untuk melakukan pencapaian mereka tanpa harus terhalangi oleh kawasan yang padat terutama oleh para ojek.
Gambar 10 Zoning Tapak
Area public ditempatkan di sisi selatan dan barat sebagai buffer dari kebisingan yang telah di analisa di sub-bab sebelumnya, sedangkan area service ditempatkan di sisi utara yang juga berfungsi sebagai buffer dari panas matahari. Area private yang berada di tengah dan terlindung dari bising serta panas matahari.
Sisi zona ruang public tersebut juga terbentuk dari analisa kepadatan manusia dari arah sisi stasiun sudirman pada jam-jam tertentu. Dengan penempatan tersebut, diharapkan ruang public yang tercipta dapat dimanfaatkan dengan maksimal.
IV.2.5 Angin
Gambar 11 Rata-rata Arah angin Di Indonesia sumber: J.H Houbolt, Iklim Indonesia
Arah angin secara makro (Pulau Jawa), angin cukup banyak berasal dari arah barat laut. Tidak hanya dari arah barat laut, angin juga berhembus dari arah barat daya dikarenakan dari sisi tersebut cukup banyak bangunan tinggi. Bangunan tinggi akan menyebabkan pergerakan udara dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, dimana area yang memiliki tekanan rendah adalah area yang berketinggian rendah juga. Karena sisi timur dari lahan merupakan kawasan residensial, dan sisi tenggara adalah kawasan terbuka (jalur kereta dan kanal) maka pergerakan udara akan menuju ke daerah tersebut.
Gambar 12 Arah Sumber Angin Pada Tapak Dan Respon Terhadapnya
Angin banyak berasal dari arah barat daya dan dari barat laut meskipun dari arah barat daya intensitas anginnya tidak terlalu banyak, maka respon bangunan harus memberikan bukaan pada sisi sebelah barat daya dan barat laut.
IV.3 Analisa Aspek Bangunan
IV.3.1 Analisa Massa Bangunan
Setelah melakukan analisa aspek manusia dan aspek lingkungan, proses berikutnya adalah melakukan analisa aspek bangunan yang terdiri dari proses analisa massa bangunan. Proses analisa massa bangunan dilakukan berdasarkan pertimbangan dari analisa aspek manusia, aspek lingkungan, serta aspek dari bangunan itu sendiri.
Gambar 13 Proses pembentukan Massa I Berdasarkan Orientasi Tapak
Berdasarkan orientasinya, tapak memanjang ke utara dan selatan sehingga sisi pipih dari tapak menghadap ke barat timur. Orientasi bangunan dibuat memanjang, mengikuti bentuk lahan.
Gambar 14 Massa Bangunan II dibentuk seperti huruf S
Bangunan dibentuk seperti huruf S untuk memberikan ruang terbuka (public space) di sisi yang menghadap ke stasiun sudirman untuk memberikan kesan menyambut pejalan kaki dari arah tersebut. Dari analisa zoning pada sub-bab sebelumnya juga disebutkan pembentukan public space untuk memudahkan pejalan kaki mencapai ke arah sisi utara tapak tanpa harus terhalangi oleh kepadatan yang diakibatkan oleh ojek. Sisi timur laut bangunan (bagian belakang) juga dibuat mengikuti untuk merespon bentuk dan memberikan ruang besar bagi penempatan area loading dock di bagian belakang bangunan.
Gambar 15 Massa III, ditambahkan Fungsi Tambahan Seperti Restoran Di Area Terbuka
Pada bagian yang terbuka, diisikan massa bangunan yang difungsikan sebagai restoran. Pada analisa di sub-bab sebelumnya pada bagian analisa aspek manusia, untuk jenis hotel transit perlu ditambahkan fungsi tambahan/pendukung seperti restoran.
Gambar 16 Massa IV, Massa Bagian Bawah Restoran di-press pull
Massa bagian bawah fungsi restoran diperkecil untuk memperluas area public space di bagian depan. Dan diberikan fungsi lobby, sebagai penyambutan terhadap pengguna yang datang dari arah stasiun sudirman.
Gambar 17 Massa V, Massa Restoran Dipotong dan Diberikan Akses
Pada massa restoran, massa dipotong dan diberikan akses langsung untuk menuju ke fungsi massa secara langsung dari arah luar. Ini dibuat untuk menghindari pengunjung non-huni untuk mengakses restoran harus masuk ke dalam bangunan hotel terlebih dahulu. Dengan sistem ini, diharapkan tidak menjadi crossing antara pengguna restoran huni dan non-huni.
IV.3.1.2 Analisa Model Struktur Bangunan
Setelah massa bangunan didapatkan dari analisa-analisa sebelumnya, dari bentuk massa perlu ditentukan struktur bangunan yang dapat membentuk bentuk massa yang sudah didapatkan tersebut.
Struktur dibagi menjadi 2 jenis yakni
• Struktur bagian bawah (sub-structure)
• Struktur bagian atas (upper-structure)
Struktur Bagian Bawah
Sub structure adalah struktur dari bangunan yang menahan beban dari atas ke bawah, bisa juga disebut sebagai kaki dari bangunan tersebut. Perbandingan beberapa jenis sub structure :
Jenis Pondasi Kelebihan Kekurangan
Batu kali Mudah dikerjakan
Dapat berupa pondasi
Lajur dan setempat
Kekuatan beban terbatas
Beton bertulang Mudah dikerjakan Dapat berupa pondasi
Lajur dan setempat
Kekuatan beban terbatas
Tiang Pancang Menahan beban
besar
Pemasangan relatif cepat
Kualitas bahan terjaga
Biaya besar Menimbulkan bising
Perlu arat berat
Bore pile Menahan beban
cukup besar
Biaya relatif besar
Pelaksanaan rumit
Waktu nya lama
Table 1 Tabel analisis Sub-Structure
Berdasarkan Tabel Sub structure di atas, Sistem Sub Structure yang digunakan Hotel Kapsul ini adalah Tiang Pancang. Pondasi Tiang Pancang digunakan berdasarkan
efisiensi waktu yang digunakan dalam proses pembangunan dan pondasi tiang pancang dapat menerima beban yang relatif sangat besar.
Struktur Bagian Atas
Upper-structure merupakan struktur utama yang bertugas untuk menerima seluruh beban hidup atau beban lateral yang diterimanya untuk diterukan pada pondasi.
Berikut tabel perbandingan beberapa jenis sistem upper structure :
Jenis Struktur Kelebihan Kekurangan
Portal
(kolom dan balok)
kekakuan cukup
struktur sederhana dan ringan
dimensi relatif besar untuk bentang lebar
trafe kolom relatif kecil
Dinding pemikul kekakuan tinggi
material beton pada bidang datar dapat mereduksi suara
Memipih sesuai ruang (efisiensi)
Waktu pemasangan cepat
penampilan masif
Biaya yang cukup besar
Harus terjadi banyak penyesuaian dengan barang dari pabrik
Struktur baja
(balok, rangka, grid, dan slab)
pemakaian bahan sedikit dan berupa prefab
waktu pengerjaan cepat
dapat digunakan untuk bentang lebar
mahal
korosi
Struktur bentang lebar
(baja, balon, hybrid, dll)
• Bentuk-bentuk yang impresif dan
fleksibel (struktur kabel, membran, shell,dsb)
• Cocok untuk ruangan berbentang lebar
• Tidak cocok untuk ruang-ruang yang sangat fungsional
• Konstruksi pabrikasi
• Cenderung mahal
Table 2 Tabel Analisis Upper-Structure
Berdasarkan tabel analisis di atas dan bentuk massa yang telah didapatkan, cukup jelas bahwa jenis upper-structure yang digunakan untuk massa bangunan hotel kapsul ini adalah sistem struktur portal.
Aplikasi Struktur Pada Hotel Kapsul
Setelah mendapatkan jenis struktur yang sesuai dengan massa bangunan yang didapatkan, jenis struktur tersebut disimulasikan ke dalam massa bangunan.
Gambar 18 Simulasi Penerapan Sub-Structure Pada Massa Hotel Kapsul (Pondasi Tiang Pancang)
Struktur pondasi tiang pancang
Substruktur menggunakan sistem pondasi tiang pancang, disusun mengikuti pola bentuk massa yang sebelumnya telah dianalisis menjadi bentuk linear.
Gambar 19 Simulasi Penerapan Sub-Structure Pada Massa Hotel Kapsul (Sloof) Setelah pondasi tiang pancang tersusun, masing-masing pondasi diikat dengan sloof terutama di bagian struktur inti.
Gambar 20 Simulasi Penerapan Upper-Structure Pada Massa Hotel Kapsul Kemudian masuk ke dalam sistem upper-structure, dimana kolom yang disusun secara sistem portal dengan bentangan tertentu diikat oleh balok dan menerus secara tipikal hingga ke struktur bangunan paling atas.
IV.3.1.3 Pemasangan Sandwich Panel terhadap Struktur
Setelah simulasi bentuk struktur dilakukan, saat ini kondisi bentuk massa beserta strukturnya telah terlihat, kemudian pembahasan berlanjut dengan bagaimana kapsul dapat mengikat ke struktur bangunan.
Dengan mengacu kepada sistem yang diaplikasikan oleh Nakagin Capsule Hotel pada buku "Beyond Metabolism: The New Japanese Architecture" maka terciptalah suatu sistem sambungan yang menyesuaikan dengan sistem struktur yang digunakan dalam Hotel Kapsul dalam skripsi ini.
Gambar 21 Sistem Sambungan Sandwich Panel Pada Kapsul Ke Struktur Bangunan Struktur inti berupa struktur dengan sistem portal baja yang diberikan sambungan sebagai pengikat kapsul. Sambungan bagian bawah dibuat sistem sambungan vertikal untuk menahan gaya gravitasi, sedangkan sambungan bagian atas dibuat secara horizontal dengan baut.
Dengan sistem pemasangan seperti ini, kapsul yang sudah terpasang dapat dilepas dengan melepaskan baut-baut pada sambungan yang telah tersedia. sehingga memenuhi kebutuhan pada konsep lepas-pasang kapsul yang dibahas pada tabel permasalahan.
IV.3.1.4 Analisa Aplikasi Material Exterior
Aplikasi material exterior dalam analisa ini dibagi menjadi 2 bagian, yakni:
• Solid
• Translucent
Kategori material solid di artikan sebagai material yang tertutup rapat, sedangkan kategori material translucent merupakan kategori material yang dapat melihat ke bagian dalam (transparant).
Gambar 22 Analisa Aplikasi Material
Pada gambar diatas, telah dibagi jenis material yang masuk ke dalam material solid dan translucent. Analisa material translucent dibagi 3, sisi utara bangunan, sisi selatan bangunan, dan pusat bangunan.
1. Pusat Bangunan
Material jenis translucent diaplikasikan pada pusat bangunan, seperti yang telah dibahas pada sub-bab Analisa Lingkungan pada bagian Analisa Matahari, tujuan untuk memberikan material translucent di area ini dikarenakan pergerakan matahari yang berada di posisi lebih ke utara akibat posisi Jakarta yang berada di bawah area khatulistiwa. Material translucent ditujukan untuk merespon pergerakan matahari di sisi sebelah timur, untuk memasukan cahaya matahari ke dalam bangunan sebesar-besarnya.
1
2
3
Kemudian pada sub-bab Analisa Lingkungan pada bagian Orientasi tapak, bagian translucent pada pusat bangunan diaplikasikan untuk merespon view pengguna kereta api di stasiun sudirman. Dengan bentuk massa yang seperti massa bangunan ini, material translucent juga menjadi point of interest untuk para pengguna jalan M.H.Thamrin.
2. Sisi Utara Bangunan
Sisi utara bangunan bagian lantai dasar dibuat material translucent atas pertimbangan estetika, dimana dengan membuat area tersebut dengan material translucent maka massa bangunan akan terlihat seolah "terbang".
3. Sisi Selatan Bangunan
Pada Analisa Lingkungan bagian Analisa Zoning, telah ditentukan 3 bagian zona yang tersusun pada tapak ini. Sisi selatan bangunan merupakan area public dimana retail dan restoran berada, area ini diekspos dengan material translucent agar bersifat terbuka dan tidak terlihat tertutup.
IV.3.1.5 Pemasangan Sandwich Panel terhadap Material Exterior
Material exterior yang digunakan dalam kategori translucent beberapa diantaranya adalah kaca. Sedangkan kategori material solid salah satunya adalah sandwich panel. Bata, beton dan material solid lainnya hubungan terhadap material translucent tidak dibahas secara spesifik. Pembahasan spesifik antara material sandwich panel terhadap kaca, karena sandwich panel adalah jenis material yang dibahas dalam skripsi ini dan material kaca yang merupakan material dominan lainnya.
Gambar 23 Sambungan Sandwich Panel Terhadap Kaca Menggunakan Frame Alumunium
Dapat dilihat pada gambar diatas, sambungan sandwich panel terhadap kaca menggunakan kusen frame alumunium yang dibaut langsung ke sandwich panel sebagai pengikat. Frame alumunium yang telah dibatu di-coating agar baut menjadi tidak terlihat.
Gambar 24 Sambungan Sandwich Panel Terhadap Kaca Secara Langsung (Sealent) Pada gambar 56 dapat kita lihat sandwich panel dapat disambungkan secara langsung dengan kaca dengan hanya menggunakan sealent, namun kaca dijepit dengan alumunium frame yang ditanam ke dalam plat lantai/ditanam di dalam keramik.
IV.3.2 Analisa Bentuk Kapsul
Dalam produksi, sandwich panel memiliki bentuk modul tetap yakni bentuk panel persegi panjang dengan lebar antara 24" sampai 42" (±61cm - 107cm) dan ketinggian yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Gambar 25 Modul Sandwich Panel
Berdasarkan modul tersebut, kapsul yang akan mengaplikasikan sandwich panel sebagai dinding akan dianalisa terlebih dahulu untuk mendapatkan bentuk yang optimal dan efisien.
Bentuk Unit Keuntungan terhadap sandwich panel
Kerugian terhadap sandwich panel
• Modul sandwich panel dapat diaplikasikan dengan maksimal.
• Mudah dalam pengaplikasian terhadap struktur bangunan
• Bentuk kaku dan monoton.
• Bentuk yang tidak monoton
• Modul
sandwich panel
sulit
diaplikasikan
• Sandwich panel perlu di-
customize
Table 3 Analisis Bentuk Kapsul
Dari analisis bentuk diatas, yang cocok untuk diterapkan pada bangunan hotel kapsul di skripsi ini adalah bentuk kubus. Dilihat dari analisa pada sub-bab sebelumnya yakni Analisa Bangunan pada bagian struktur, telah didapatkan jenis struktur yang efisien yakni jenis struktur portal. Dari kedua bentuk diatas, yang cocok untuk diterapkan pada jenis struktur tersebut adalah bentuk kubus.
Gambar 26 Unit Kapsul
Dari bentuk kubus, dimasukan ukuran kebutuhan yang telah dianalisa pada analisa manusia di sub-bab sebelumnya. area kapsul dibagi menjadi 3, yakni area tidur, area sirkulasi, dan area kamar mandi.
IV.3.2.1 Pemasangan Sandwich Panel sebagai Dinding Kapsul
Setelah bentuk kapsul didapatkan pada analisa bentuk kapsul di sub-bab sebelumnya, yang perlu dianalisa adalah bagaimana penerapan sandwich panel sebagai dinding kapsul tersebut. Pembahasan akan berlanjut juga ke sambungan antar sandwich panel sebagai dinding.
Gambar 27 Penerapan Sandwich Panel Sebagai Dinding Kapsul
Pada gambar 59 di atas, sandwich panel sebagai dinding dibuat tersusun secara linier begitu pula dengan sandwich panel sebagai atap dan lantai. Susunan sandwich panel tersebut perlu ditinjau sambungan antar panelnya.
Gambar 28 Sambungan Antar Sandwich Panel, Detail 1
Sambungan antar panel mengacu pada literatur Metal Construction Association.
Dimana sambungan menggunakan sistem hidden bolt, dengan baut yang tersembunyi diantara 2 panel tersebut.
1 2
Gambar 29 Corner Flashing, Detail 2
Sistem corner flashing untuk penyambungan antara sandwich panel vertikal dengan sandwich panel horizontal.
IV.3.2.2 Pemasangan Kapsul Menggunakan Sistem Crane
Kapsul dipasang menggunakan system crane yang telah terintegrasi pada bangunan. Crane yang digunakan adalah system crane portable dengan rail yang terpasang pada rooftop bangunan kapsul.
Gambar 30 Sistem pemasangan Kapsul Dengan menggunakan Crane
Kapsul dibawa setelah dirakit dengan menggunakan container dan kemudian di angkat dari bawah menuju ke atas dengan system crane.
Gambar 31 Sistem Rail Pada Mobile Crane
Gambar 32 Contoh gambar mobile crane