Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020|32
Analisis Tingkat Kewajaran Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Nur Alam1*
PT. Bank Muamalat
*email korespondensi:
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kewajaran harga saham perbankan yang mengalami Overvalue, Undervalue dan Fairvalue pada perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2010 sampai 2014, sedangkan sampel penelitian ini ditentukan dengan metode purposive sampling sehingga diperoleh 9 perusahaan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pada perusahaan perbankan terdapat perusahaan yang memiliki nilai yang mahal (overvalued) yaitu PT.Bank Central Asia Tbk, PT. Bank Negara Indonesia Tbk dan PT. Bank BPD Jawa Barat dan Banten Tbk, sedangkan perusahaan yang bernilai undervalued yaitu PT.
Nusantara Parahyangan Tbk, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT. Bank Danamon Tbk, PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk.
Kata Kunci: Kewajaran Harga Saham, Overvalue, Undervalue dan Fairvalue
I. PENDAHULUAN
Pasar modal berfungsi sebagai sarana untuk memobilisasi dana yang bersumber dari masyarakat ke berbagai sektor usaha. Pasar modal diharapkan berperan aktif dalam menunjang keberhasilan pengerahan dana dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha.
Investasi yang ditanamkan para investor ke perusahaan tertentu merupakan bentuk yang hampir dapat dipastikan mengandung resiko tertentu. Di sisi lain, investasi tersebut juga menjanjikan keuntungan pada tingkat tertentu.
Industri perbankan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat dibandingkan kondisi terpuruk pada krisis moneter tahun 1997/1998 dan telah banyak yang menjadi emiten di pasar modal. Oleh karena itu, pihak regulator (BI dan OJK), pengawas (OJK, BPK, Auditor), investors dan stakeholder membutuhkan analisis fundamental dari Sektor Perbankan tersebut untuk menilai kondisi, kinerja dan prospek di masa depan termasuk dalam rangka menilai kewajaran nilai saham perusahaan.
Kondisi fundamental masing-masing bank tersebut dapat mempengaruhi persepsi pasar dan cepat atau lambat akan berdampak pada harga saham masing masing bank. Untuk menganalisis fundamental nilai kewajaran harga saham dari ketiga bank tersebut dapat menggunakan top-down approach yang mencakup analisis ekonomi global dan domestik yang dapat mempengaruhi kinerja bank, analisis industri/sektor perbankan. Terdapat beberapa cara dalam menilai kondisi, kinerja dan prospek masa depan bank, seperti pendekatan tingkat kesehatan bank sesuai peraturan Bank Indonesia dan pendekatan para akademisi/praktisi.
Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020|33 Berdasarkan analisis fundamental, maka akan dapat diketahui dan diperbandingkan berapa nilai kewajaran harga saham masing-masing bank tersebut dan mana yang terbaik untuk dipilih sebagai pilihan investasi.
Salah satu tehnik penilaian harga saham yang dapat digunakan oleh para investor adalah tehnik analisis fundamental. Analisis fundamental didasarkan pada suatu anggapan bahwa setiap saham memiliki nilai intrinsik. Nilai intrinsik inilah yang akan diestimasi oleh para pemodal atau analis. Hasil dari estimasi nilai instrinsik kemudian dibandingkan dengan harga pasar yang sekarang (current market price) sehingga dapat diketahui tingkat kewajaran harga saham yakni overvalued, undervalue dan correctly valued. Hasil dari penilaian tingkat kewajaran harga saham tersebut digunakan oleh para investor untuk pengambilan keputusan dalam berinvestasi.
Keputusan yang dapat diambil oleh para investor adalah membeli, menjual atau menahan saham yang telah dimiliki. Investor dapat membeli saham ketika nilai intrinsik saham > harga pasar sekarang “undervalued”, sebaliknya ketika nilai intrinsik saham <
harga pasar sekarang“overvalued” investor dapat menjual saham yang dimiliki. Ketika nilai intrinsik saham = harga pasar sekarang “correctly valued” maka investor lebih baik menahan saham yang dimilikinya atau tidak melakukan jual beli saham sampai investor menemukan kondisi yang dapat menguntungkannya.
Salah Satu Analisis fundamental yang dapat digunakan untuk menilai kewajaran harga saham adalah price earnings ratio (Alexander and Sharpe, 1995:117). Besarnya PER diukur dengan cara membagi harga per lembar saham dengan laba per lembar saham, maka pada hakekatnya faktor-faktor yang menentukan harga saham juga merupakan faktor-faktor yang menentukan PER. Tingkat pertumbuhan laba, baik jangka pendek maupun jangka panjang merupakan cermin berkembang tidaknya perusahaan. Dengan memperhatikan tingkat pertumbuhan laba dapat dilihat prospek perusahaan di masa mendatang. Growth rule of earning akan mempengaruhi PER maupun nilai pasar sekuritas (Constand et all.,1990). Alasan utama rnengapa PER dipergunakan dalarn analisis harga saham, karena PER rnernudahkan atau membantu judgement penganalisis.
Hasil dari analisis harga saham dengan menggunakan pendekatan PER dapat dibandingkan dengan nilai PER aktualnya untuk menentukan nilai harga saham dan strategi investasi yang akan dilakukan. Disamping itu Jogianto (1998), menyatakan bahwa strategi yang menggunakan Price Earning Ratio untuk mengidentifikasi saham mana yang harganya wajar (fair-valued), terlalu rendah (undervalued), dan terlalu tinggi (overvalued), pada umumnya mengaitkan PER dengan nilai intrinsik saham yang diperkirakan berdasarkan model penilaian saham. Jika rasio yang berlaku dari suatu saham ternyata tidak konsisten dengan model penelitian saham, maka hal tersebut menunjukkan kemungkinan terdapatnya ketidak-wajaran harga saham dan membuka peluang bagi investor untuk menentukan strategi investasinya berdasarkan kondisi tersebut, sehingga menghasilkan imbal hasil saham (stock return) yang relatif tinggi.
Utama dan Santosa (1998). Suatu efek dalam keadaan undervalued, maka strategi investasi yang tepat adalah membeli efek tersebut. Sebaliknya jika efek dalam keadaan overvalued maka sebaiknya menjual efek yang bersangkutan. Dengan pertimbangan bahwa saham yang dinilai terlalu tinggi dalam jangka panjang cenderung akan mengalami penurunan harga. Sebaliknya harga saham yang dinilai terlalu rendah oleh pasar dalam jangka panjang akan memiliki trend yang cenderung meningkatkan harga.
Walter R. Good (1991), Pu Shen (2000).
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis fundamental
Analisis fundamental adalah analisis sekuritas yang menggunakan data-data fundamental dan faktor-faktor eksternal yang berhubungan dengan perusahaan/ badan
Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020|34 usaha tersebut. Data fundamental yang dimaksud adalah data keuangan, data pangsa pasar, siklus bisnis, dan sejenisnya. Sementara data faktor eksternal yang berhubungan dengan badan usaha adalah kebijakan pemerintah, tingkat suku bunga, inflasi, dan sejenisnya. Dengan mempertimbangkan data-data seperti tersebut diatas, analisis fundamental menghasilkan berupa analisis penilaian badan usaha dengan kesimpulan apakah perusahaan tersebut sahamnya layak dibeli atau tidak. Jika nilainya mahal atau overvalued, saham tersebut dianggap nilainya lebih tinggi berdasarkan analisis fundamental melalui perbandingan harga yang berlaku di pasar (Muspa, 2019; Hikmah, 2019). Dengan kata lain harganya sudah terlalu mahal jadi lebih baik tidak dibeli atau dijual jika memiliki sahamnya. Sementara jika yang terjadi sebaliknya, saham itu layak untuk dibeli dengan alasan harganya murah.
Analisis fundamental memiliki dua model penilaian saham yang sering digunakan para analisis sekuritas (Jogiyanto, 2003:89) yaitu :
a. Pendekatan Present value, mencoba menaksir present value, dengan menggunakan tingkat bunga tertentu, manfaat yang akan diterima oleh pemilik saham.
b. Pendekatan Price earning ratio, menaksir nilai saham dengan mengalikan laba perlembar saham dengan kelipatan tertentu. Price Earning Ratio ( PER ) ini sendiri dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut : harga pasar / EPS. Untuk EPS / Earning per share ini dapat dicari dengan rumus sebagai berikut : NIAT (- Deviden) / total saham.
2.2 Penilaian Saham
Menurut Tandelilin (2001:183) dalam penilaian saham dikenal tiga jenis nilai, yaitu: nilai buku merupakan nilai yang dihitung berdasarkan pembukuan perusahaan penerbit, nilai pasar merupakan nilai saham di pasar, dan nilai intrinsik saham merupakan nilai saham sebenarnya atau yang seharusnya terjadi. Menurut Tandelilin (2001:183) pedoman yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
a. Apabila NI > harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai under valued (harganya terlalu rendah), oleh karena itu saham layak ntuk dibeli dan ditanam apabila saham tersebut telah dimiliki.
b. Apabila NI < harga pasar sat ini, maka saham dinilai overvalued (harganya terlalu mahal) oleh karena itu layak dijual.
c. Apabila NI = harga pasar saat ini maka saham tersebut dinilai wajar harganya dan dalam kondisi keseimbangan.
Menurut Tandelilin (2001:320) Penilaian saham menggunakan pendekatan fundamental dapat dilakukan dengan teknik analisis rasio. Rasio keuangan yang digunakan untuk melakukan analisis penilaian saham sebagai berikut :
a. Return on Equity (ROE) Net Profit After Tax
Stake Holder Equity x 100%
b. Earning Per Share (EPS) Net Profit After Tax
Number Of Comon Stock Outstanding
c. Deviden per lembar saham (Deviden per Share/DPS)
Deviden Paid
Number Of Share Of Common Stock
d. Rasio Pembayaran Deviden (Devidend Payout Ratio / DPR ) Deviden Per Share
Earning Per Share e. Price Earning Ratio (PER)
Closing Price Earning Per Share
Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020|35 Penilaian saham dapat dilakukan melalui beberapa cara yang dikenal dengan model penilaian. Model penilaian (valuation model) merupakan suatu mekanisme untuk rnerubah serangkaian variabel ekonomi atau variabel perusahaan yang diramalkan (diamati), menjadi perkiraan tentang harga saham (Elton and Gruber, 1995:111).
Valuation model dimaksudkan untuk melihat benchmark secara kuantitatif dalam evaluasi harga pada saat ini serta harga yang diharapkan dimasa yang akan datang, berdasarkan asumsi dan faktor fundamental. Selain itu untuk memberikan kerangka pemikiran guna memahami hubungan antara faktor-faktor fundamental dan dampak perubahannva terhadap penilaian saham.
Secara umum metode penilaian saham dikelompokkan menjadi dua yaitu: analisis fundamental dan analisis teknikal. Salah satu analisis fundamental yang dapat digunakan untuk menilai kewajaran harga saham adalah price earnings ratios (Alexander and Sharpe, 1995:117). Karena besarnya PER diukur dengan cara membagi harga per lembar saham dengan laba per lembar saham, maka pada hakekatnya faktor- faktor yang menentukan harga saham juga merupakan faktor-faktor yang menentukan PER. Tingkat pertumbuhan laba, baik jangka pendek maupun jangka panjang merupakan cermin berkembang tidaknya perusahaan. Dengan memperhatikan tingkat pertumbuhan laba dapat dilihat prospek perusahaan di masa mendatang. Growth rule of earning akan mempengaruhi PER maupun nilai pasar sekuritas (Constand et all.,1990).
Alasan utama rnengapa PER dipergunakan dalarn analisis harga saham, karena PER rnernudahkan atau membantu judgement penganalisis.
Banyak cara yang dapat digunakan untuk menghitung estimasi harga wajar suatu saham. Hal ini sangat penting karena sebagai acuan kita dalam membeli suatu saham. Jika suatu saham sudah melebihi nilai wajarnya ada baiknya dihindari karena kemungkinan saham tersebut naik lagi lebih kecil daripada saham yang masih kurang dari harga wajarnya. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung nilai wajar suatu saham antara lain:
a. Metode komparasi yaitu dengan membandingkan rasio P/E dan PBV suatu saham dengan saham perusahaan lain dalam industri sejenis. Metode ini mengasumsikan bahwa pertumbuhan perusahaan-perusahaan dalam industri sejenis adalah seragam. Contoh jika pada industri perbankan rata-rata P/E adalah 13, maka jika ada saham bank dengan P/E dibawah 13 maka kita anggap saham itu murah, dengan catatat pertumbuhan laba perusahaan tersebut mirip dengan rata-rata industri. Jika saham perusahaan A harganya 1000 dan P/E nya 10, maka harga wajarnya = 1000*13/10 = 1300. Cara ini adalah yang paling mudah dan merupakan favorit saya.
b. Discounted Dividend Model. Metode ini menghitung nilai saat ini dari deviden yang diterima dimasa depan. Asumsi yang digunakan dalam metode ini adalah perusahaan selalu membagi deviden dari tahun ke tahun. Rumusnya adalah sebagai berikut:
VALUE OF STOCK = Devident Per Share
(Discount Rate − Devidend Growth Rate) Keterangan :
Dividend per share : Deviden per saham
Discount rate : tingkat return yang kita inginkan Dividend growth rate : tingkat pertumbuhan dividen
Contohnya jika saham Bank Mandiri (BMRI) = 105 dan tingkat pertumbuhan dividen per tahun =20% dan return yang kita inginkan = 21%, maka harga wajarnya adalah 120 / (0.21-0.2) = 12.000. Jika return yang kita inginkan 30% maka harga wajarnya adalah 120 / (0.3-0.2) = 1200. Dapat terlihat bahwa perhitungan harga wajarnya sangat terpengaruh oleh tingkat return yang kita inginkan.
Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020|36 Dividend Discount Model (DDM) adalah salah satu metode klasik yang digunakan untuk menentukan harga wajar saham. Idenya sederhana, harga wajar dari suatu saham merupakan present value dari seluruh dividen yang akan didapatkan di masa datang.
Pemikirannya cukup logis karena memang jika seorang investor membeli suatu saham dan memegangnya selama-lamanya, maka hasil investasinya hanyalah dividen yang diberikan oleh perusahaan. Value perusahaan adalah present value dari potensi keseluruhan dividen yang akan diterimanya.
Formula DDM adalah sebagai berikut:Di mana:
v =DO(1 + g) (k − g) V : Harga wajar suatu saham D0 : Dividen tahun sebelumnya g : long term growth
k : cost of equity (return minimal yang diharapkan oleh pemegang saham)
Untuk cost of equity sendiri bisa didapatkan dengan menggunakan formula CAPM:
k= Rf + β(RM – Rf) Di mana:
k :cost of equity
Rf : risk free rate (biasanya menggunakan BI rate).
RM : return pasar (dalam hal ini adalah IHSG)
Β : beta (sensitivitas perubahan harga saham terhadap perubahan pasar).
Dari formula DDM di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa growth harus konsisten untuk waktu yang sangat panjang bahkan kalau bisa selamanya. Tentu saja hal ini hampir tidak mungkin dalam kehidupan nyata. Namun yang agak mendekati mungkin adalah apabila suatu perusahaan yang berada dalam tahap mature dan cenderung memiliki growth yang konsisten.
c. Discounted Cash Flow Model. Metode ini menghitung nilai saat ini dari arus kas yang diterima termasuk dividen dimasa depan. Untuk langkah-langkahnya akan dibahan diartikel tersendiri karena langkah-langkahnya banyak.
Untuk menilai perkiraan harga wajar saham, dalam ilmu financial, ada beberapa metode yang digunakan, diantaranya:
a. Capital Asset Pricing Model (CAPM)
Kewajaran harga saham melalui CAPM diperoleh dengan mencari tau tingkat- imbal-hasil-yang-disayaratkan a.k.a required rate of return, dengan rumus perhitungan:
ks = Rf + B (Rm-Rf), dimana:
ks : required rate of return
Rf : tingkat imbal hasil investasi bebas risiko (kayak SBI, deposito, obligasi negara,dll)
B : koefisien beta perusahaan (tingkat sensitivitas individu saham terhadap pergerakan pasar)
Rm : tingkat imbal hasil portofolio pasar.
b. Price Earning Ratio (PER)
Cara menghitungnya adalah dengan membagi harga pasar dengan pendapatan per lembar saham (EPS). Angka pada PER menunjukkan berapa harga yang kita bayar untuk mendapatkan pendapatan tertentu. Contohnya kalo harga saham Rp.
1000 dan EPS 200, maka akan diperoleh PER sebesar 5x, yang artinya untuk
Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020|37 memperoleh pendapatan sebesar Rp. 200, kita harus membayarnya dengan harga 5x dari pendapatan tersebut.
c. Price to Book Value (PBV)
PBV adalah rasio perbandingan harga pasar saham dan nilai buku per lembar saham. Nilai buku per lembar saham diperoleh dengan membagi total ekuitas dengan jumlah saham perusahaan yang beredar.
d. Economic Value Added (EVA),.
Memang di tiap contoh perhitungan perkiraan nilai wajar di atas akan menghasilkan suatu angka. Namun perlu diingat, angka tersebut samasekali tidak pasti menentukan harga wajar saham sudah wajar atau belum.
Contohnya untuk indikator PER, tidak selamanya saham dengan PER tinggi itu mahal, buktinya masih banyak investor yang memburu perusahaan dengan PER tinggi.
Peran indikator perhitungan di atas hanya sebagai alat bantu untuk menilai kewajaran harga saham, bukan berarti harga saham harus dieksekusi dengan harga sekian.
Bahkan angka-angka pada CAPM, PER, maupun PBV itu masih belum sepenuhnya angka mentah. Angka-angka yang ditunjukkannya masih bisa kita kalkulasiin lagi dengan pertimbangan-pertimbangan finansial lainnya untuk memperoleh nilai wajar yang baru.
2.2.1 Definisi Earning Per Share (EPS)
Earning Per Share merupakan rasio dari laba bersih terhadap jumlah lembar saham atau pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk setiap lembar saham yang beredar. Pendapatan per lembar saham merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga saham. Semakin tinggi EPS yang dihasilkan, maka akan meningkatkan harga saham. Dengan memperhatikan pertumbuhan EPS maka dapat dilihat prospek pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang. Dalam Tandelilin (2001:242) EPS dihitung dengan formulasi sebagai berikut :
EPS = Laba Bersih/Jumlah Saham Beredar
Tandelilin (2001) menyatakan bahwa EPS yang berhubungan positif dengan harga saham sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara perubahan earning dengan perubahan harga saham.
2.2.2 Definisi Price Earning Ratio (PER)
Price Earning Ratio (PER) merupakan rasio untuk menghitung nilai intrinsik saham dengan membandingkan antara harga saham dengan earning perusahaan. Dalam rasio ini dihitung berapa kali nilai earning yang tercermin dalam harga suatu saham.
PER juga memberikan informasi berapa rupiah harga yang harus dibayar investor untuk memperoleh setiap Rp 1,00 earning perusahaan. Rumus untuk menghitung PER suatu saham adalah dengan memmbagi harga saham perusahaan terhadap earning perlembar saham. Secara sistematis, rumus untuk menghitung PER adalah 𝐶𝑙𝑜𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑟𝑖𝑐𝑒 / 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑒𝑟 𝑆ℎ𝑎𝑟𝑒, Selain itu PER juga dapat digunakan untuk menentukan nilai intrinsik saham yaitu dengan mengestimasikannya dengan rumus (𝐷1 /𝐸1) / (𝑘−𝑔). Dimana, D1/E1 adalah Deviden payout ratio, K adalah tingkat return dan g adalah tingkat pertumbuhan deviden (Tandelilin (2010:320).
Menurut Sofyan (2001) menjelaskan bahwa semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa investor mengharapkan pertumbuhan dividen yang tinggi, saham memiliki risiko yang rendah dan investor puas dengan pendapatan yang tinggi serta perusahaan mengharapkan pertumbuhan dividen daripada proporsi laba yang tinggi.
Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mendeskripsikan perkembangan variabel fundamental secara time series yang meliputi ROE (Return On Equity), EPS (Earnings Per Share), DPS (Dividend Per Share), DPR (Dividend Payout Ratio) dan PER (Price Earnings Ratio).
Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020|38 b. Menentukan nilai intrinsik saham menggunakan analisis fundamental dengan
pendekatan PER, dengan tahapan berikut ini:
1) Menghitung expected earnings growth (g) yaitu g=ROExb sedangkan untuk menentukan retention ratio (b) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut b=(1-DPR).
2) Menentukan estimated cash dividend per share (DPS) yaitu : D1 = D0(1+g)
Dimana :
D : Estimasi DPS,
D0 : DPS tahun Sebelumnya
g :Tingkat pertumbuhan deviden yang diharapkan.
3) Menentukan estimated earnings per share (EPS) yaitu E1 = E0 (1+g)
Dimana
E1 : Estimasi EPS
E0 : EPS tahun sebelumnya
g : Tingkat pertumbuhan deviden yang diharapkan.
4) Menentukan return yang diisyaratkan investor (k) yaitu k = (D1/P0) + g
Dimana :
K : Tingkat pengembalian yang diharapkan
D1 : Estimasi DPS
D0 : DPS tahun sebelumnya
G : Tingkat pertumbuhan deviden yang diharapkan 5) Menghitung estimasi PER (price earnings ratio) yaitu :
PER = (D1/E1) / k-g Dimana :
PER : Price Earning Ratio
D : Estimasi DPS
E1 : Estimasi EPS
K : Tingkat return yang disyaratkan
G : Tingkat pertumbuhan deviden yang diharapkan 6) Menghitung nilai intrinsik saham
Nilai Intrinsik = Estimasi EPS x Estimasi PER
III. KESIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Untuk Harga Saham Undervalue, Overvalue dan fairvalue Pada Perusahaan Sektor Perbankan Yang Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014.
1. Overvalue yang terjadi pada sektor perbankan dengan menggunakan pendekatan PER
Apabila nilai intrinsik lebih kecil dari harga pasar sat ini, maka saham dinilai overvalued (harganya terlalu mahal) oleh karena itu layak dijual. Hal ini terlihat pada saham perbankan pada tahun 2010 yang terjadi overvalue pada Bank Himpunan saudara 1906, dengan nilai intrinsik sebesar Rp 288,- lebih kecil dari harga pasar sebesar Rp 290,- Sedangkan pada tahun 2011 terdapat dua bank yang mengalami overvalue yaitu, Bank BNI nilai intrinsik sebesar 3.797 lebih kecil dari harga saham sebesar Rp 3.800 dan Bank BJB nilai intrinsik sebesar Rp 908 lebih kecil dari harga saham sebesar Rp. 910,- pada tahun 2012 Bank BNI dan Bank BJB juga mengali undervalue meskipun harga saham juga mengalami kenaikan dan juga pada tahun 2012 bank BRI juga mengalami Overvalue dengan nilai intriksik sebesar
Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020|39 Rp. 6,746 lebih kecil dari harga saham sebesar Rp. 6,750,-. Kemudian tahun 2013 Bank Nusantara Parayangan dengan nilai intrinsik sebesar Rp 1.476 lebih kecil dari harga saham sebesar Rp 1.480,- . serta pada tahun 2014 Bank BCA juga mengalami Overvalue sebesar Rp. 13.116 lebih kecil dari harga saham sebesar Rp. 13.125,- perusahaan sektor perbankan dengan keputusan yang paling tepat dilakukan oleh Investor dengan menjual sahamnya yang mengalami overvalue dengan memperhitungkan tingkat resiko tertentu.
2. Undervalue yang terjadi pada sektor perbankan dengan menggunakan pendekatan PER
Nilai Intrinsik lebih besar dari harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai under valued (harganya terlalu rendah), oleh karena itu saham layak untuk dibeli dan ditanam apabila saham tersebut telah dimiliki. Selama periode pengamatan terjadi over value rata-rata pada tahun 2010, 2012 dan 2014 pada perusahaan sektor sektor perbankan nilai intrinsik lebih besar dari harga saham dipasar dengan demikian keputusan investasi yang perlu dilakukan oleh investor dengan membeli saham-saham yang mengalami undervalue pada tahun dimana rata-rata terjadi undervalue. Saat harga saham telah mengalami kenaikan dalam tran yang positif investor dapat menjula saham telah dimilikinya.
3. Fairvalue yang terjadi pada sektor perbankan dengan menggunakan pendekatan PER
Apabila Nilai intrinsik sama dengan harga pasar saat ini maka saham tersebut dinilai wajar harganya dan dalam kondisi keseimbangan. Pada kondisi ini investor mengambil keputusan dengan menahan sahamnya. Dalam penelitian yang dilakukan dari tahun 2010 hingga 2014 hanya pada tahun 2013 rata-rata terjadi fairvalue pada perusahaan perbankan, yang dapat dilihat Pada Tahun 2013 terjadi fairvalue pada saham sektor perbankan yang menunjukkan bahwa keputusan investasi yang dapat dilakukan oleh investor dengan menahan saham tersebut dikarenakan harga saham sama dengan nilai interinsik yang terlihat dari rata – rata nilai Intrinsiknya lebih kecil sebesar Rp.4.062 dari nilai harga saham sebesar Rp.
4.062,- dengan menggunakan pendekatan price earning ratio
4. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perusahaan perbankan yang membagikan dividen di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan analisis yang didukung oleh teori-teori yang melandasi, serta hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa hasil perhitungan analisis fundamental dengan menggunakan metode PER, maka saham-saham sektor perbankan seperti BBCA, BBNI, BBNP, BBRI, BBTN, BDMN, BJBR, BBMRI dan SDRA pada tahun 2010-2014 mengalami undervalue yang terlihat dari nilai interinsik lebih besar dibandingkan harga saham dipasar dan terjadi fairvalue pada tahun 2013 sehingga keputusan investasi yang dapat dilakukan oleh investor dengan membeli harga saham pada tahun dimana terjadi Undervalue dan menahan sahamnya pada tahun 2013. Hal ini terjadi seiring dengan penurunan laba yang dihasilkan dengan menggunakan modal sendiri yang mengalami penurunan setiap tahunnya dari 2010- 2014. Dengan demikian investor perlu memperhatikan faktor fundamental perusahaan yang dapat mempengaruhi secara langsung kinerja perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Arman, M.S. Hamka (2000). Pengaruh Variabel Earning per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), dan Return on Equity (ROE) Terhadap Harga Saham. (Studi Pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia).
Alexander, Gordon J & Wiliam F Sharpe. (1995). Investasi. Prantic Hall.Prenhallindo.
Jakarta.
Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020|40 Elton, E. J., Gruber, M. J., Brown, S. J., & Goetzmann, W. N. (2009). Modern portfolio
theory and investment analysis. John Wiley & Sons.
European Central Bank. (2010). Beyond ROE-How to Measure Bank Performance
Handayani, Wiwid. (2002). Analisis Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Price Earning Ratio Sebagai Dasar Penilaian Kewajaran Harga Saham Pada Perusahaan Farmasi/Kimia Yang Go Public Di Bursa Efek Jakarta Pada Tahun 1996-2000.
Jurnal Ekonomi & Bisnis, 1-15.
Harjanti, R. (2015). Analisis Fundamental Internal Untuk Menilai Kewajaran Harga Saham Dengan Pedekatan Price Earning Ratio (Per)(Studi Pada Perusahaan Subsektor Konstruksi Dan Bangunan Yang Listing Di Bei Periode 2011- 2013). Jurnal Administrasi Bisnis, 26(1).
Hikmah, N., & Suwandaru, R. (2019). Pengaruh Economic Value Added dan Market Value Added Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), 2(2), 71-77
Husnan, S. (2015). Dasar-dasar teori portofolio dan analisis sekuritas. Jakarta
Jogiyanto, H. (1998), Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi pertama.
BPFE.Yogyakarta.
Hartono, J. (2003). Teori Portofolio dan Analisis Investasi Edisi Kelima. Yogyakarta:
BPFE.
Muspa, M. (2019). Analisis Saham Perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang Listing di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), 2(2), 56-70
Rusdin, R. (2006). Pasar Modal, Teori, Masalah dan Kebijakan dalam Praktik. Bandung:
Alfa Beta
Sunariyah. (2006). Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Supardi, S. (2005). Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Bandung
Eduardus, T. (2001). Analisis investasi dan manajemen portofolio. Yogyakarta: PT. BPFE.
Eduardus, T. (2010). Portofolio dan Investasi teori dan aplikasi. Yogyakarta: Kanisius.
Utama, S., & Santosa, A. Y. B. (1998). Kaitan antara rasio price/book value dan imbal hasil saham pada bursa efek Jakarta. The Indonesian Journal of Accounting Research, 1(1).