5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pendidikan Berkualitas
Menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua. Hal ini menjadi target utama dalam goals ke- 4 SDGs. Dalam laporan terbaru program pembangunan PBB tahun 2015, Indonesia menempati posisi 110 dari 187 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan angka 0,684.
Dengan angka itu Indonesia masih tertinggal dari dua negara tetangga ASEAN yaitu Malaysia (peringkat 62) dan Singapura (peringkat 11) (Bappenas.go.id). Sehingga, tujuan pendidikan pun akan menjadi tumpuan upaya pemerintah Indonesia untuk mendorong pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Adapun berikut penjabaran beberapa target yang ingin dicapai dalam tujuan ke-4 SDGs yaitu pendidikan berkualitas yang nantinya akan digunakan dalam menganalisis strategi pembangunan daerah 3T di Pulau Salura. Pada poin 4.1 tujuan ke-4 SDGs memaparkan bahwa pada tahun 2030, menjamin bahwa semua anak perempuan dan laki-laki menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah tanpa dipungut biaya, setara, dan berkualitas, yang mengarah pada capaian pembelajaran yang relevan dan efektif. Selanjutnya pada poin 4.7 bahwa pada tahun 2030, menjamin semua peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan pembangunan berkelanjutan, termasuk antara lain, melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan gaya hidup yang berkelanjutan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, promosi budaya damai dan non kekerasan, kewarganegaraan global dan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya dan kontribusi budaya terhadap pembangunan berkelanjutan. Lalu, pada bagian 4.a menjelaskan bahwa akan membangun dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang ramah anak, ramah penyandang cacat dan gender, serta menyediakan lingkungan belajar yang aman, anti kekerasan, inklusif dan efektif bagi semua.
Yang terakhir pada bagian 4.c menjelaskab pada tahun 2030, secara signifikan meningkatkan pasokan guru yang berkualitas, termasuk melalui kerjasama internasional dalam pelatihan guru di negara berkembang, terutama negara kurang berkembang, dan negara berkembang kepulauan kecil.
6
Berdasarkan pada target-target dalam tujuan ke-4 SDGs, untuk dapat mencapai target tersebut maka terdapat beberapa indikator dalam pencapaian pendidikan berkualitas. Berikut tabel indikator-indikator dalam tujuan 4 SDGs:
Target Indikator
4.1 4.1.1 Proporsi anak-anak dan remaja: (a) pada kelas 4, (b) tingkat akhir SD/kelas 6, (c) tingkat akhir SMP/kelas 9 yang mencapai standar kemampuan minimum dalam: (i) membaca, (ii) matematika
4.1.1 a Presentase SD/MI berakreditasi minimal B 4.1.1 b Presentase SMP/MTs berakreditasi minimal B 4.1.1 c Presentase SMA/MA berakreditasi minimal B 4.1.1 d Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI
4.1.1 e Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs/sederajat 4.1.1 f Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK/MA/ sederajat 4.1.1 g Rata-rata lama sekolah penduduk umur ≥ 15 Tahun
4.7 4.7.1 Pengarustamaan pada semua jenjang pendidikan, (i) pendidikan kewargaan dunia, (ii) pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan termasuk kesetaraan gender dan hak asasi manusia pada: (a) kebijakan pendidikan nasional, (b) kurikulum, (c) pendidikan guru, (d) penilaian siswa
4. a 4.a.1 Proporsi sekolah dengan akses ke: (a) listrik (b) internet untuk tujuan pengajaran, (c) computer untuk tujuan pengajaran, (d) infrastruktur dan materi memadai bagi siswa disabilitas, (e) air minum layak, (f) fasilitas sanitasi dasar per jenis kelamin, (g) fasilitas cuci tangan (terdiri air, sanitasi, dan higienis bagi semua (WASH)
4.c 4.c.1 Persentase guru TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan PLB yang bersertifikat pendidik.
Sumber: Hadiwijoyo, 2020
7
Pada indikator-indikator tersebut tidak semua dapat digunakan untuk menganalisis kondisi pendidikan di pulau Salura. Indikator yang digunakan akan di sesuaikan dengan kondisi lingkungan di pulau Salura. Hal ini dikarenakan indikator dalam SDGs tujuan ke-4 merupakan indikator pada tingkat provinsi dan kota/kabupaten. Namun pulau Salura merupakan sebuah pulau atau desa yang mana perhitungan indikator persentase dan proporsi perlu diturunkan dalam bentuk jumlah. Indikator pendidikan yang digunakan dalam lingkup Pulau Salura yaitu:
a) Jumlah kelulusan, pada indikator ini akan dilihat besarnya kontribusi jumlah kelulusan pada kedua sekolah di Pulau Salura dalam meningkatkan angka kelulusan di Kab. Sumba Timur. b) Jumlah anak usia sekolah c) Jumlah SD/MI minimal berakreditasi B d) Jumlah SMP/MTs minimal berakreditasi B e) Jumlah sarana prasarana menunjang seperti gedung sekolah yang layak, listrik, fasilitas sanitasi, internet, dan komputer/laptop. f) Kualifikasi guru/tenaga pendidik. Beberapa indikator tersebut yang akan digunakan untuk melihat ketercapaian pendidikan berkualitas di Pulau Salura.
Pulau Salura terdapat 2 sekolah, 1 Sekolah Dasar (SD) yaitu SD Inpres Pulau Salura dan 1 Sekolah Mengah Pertama yaitu SMP Negeri Satap Pulau Salura. Fasilitas di sekolah dasar ini jika berdasarkan pada indikator target 4a SDGs maka jumlah sekolah yang memiiliki akses listrik di pulau Salura hanya terdapat 2 sekolah saja. Lalu untuk akses lainnya seperti internet untuk tujuan pengajaran, computer untuk tujuan pengajaran, infrastruktur dan materi memadai bagi siswa disabilitas, air minum layak, fasilitas sanitasi dasar per jenis kelamin, dan fasilitas cuci tangan (terdiri air, sanitasi, dan higienis bagi semua (WASH), semua ini masih jauh dari jangkauan 2 sekolah yang ada di pulau Salura. Kedua sekolah di pulau Saluran ini bahkan tidak memiliki laboratotirum dan perpustakaan, sekolah ini hanya memiliki 6 ruang kelas dan 1 sanitasi siswa. Selanjutnya pada indikator target 4c yaitu jumlah guru bersertifikat.
Menurut data pada sekolah dasar di pulau Salura ini memiliki 1 orang guru PNS dan 6 orang guru Honorer, sedangkan untuk guru bersertifikat memiliki persentase 00,00% (Dapokdikbud, 2017). Oleh karena itu, indikator-indikator yang sudah diperkecil lingkupnya tetapi tetap bedasarkan indikator tujuan 4 SDGs, nantinya akan menjadi acuan dalam melihat pembangunan pendidikan di Pulau Salura Kabupaten Sumba Timur.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 12 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikam dan KebudayaanNomor 22 Tahun 2015 Tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015-2019
8
merupakan landasan acuan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Dalam Renstra Kemendikbud ini terdapat RPJMN-III (2015-2019) yang menjadi fokus pembangunan pada masa presiden Jokowi yakni memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis pada SDA yang tersedia, SDM yang berkualitas, serta kemampuan IPTEK (Kemendikbuk, 2018).
Adapun Misi Renstra 2015-2019 beberapa di antaranya sebagai berikut: (1) Mewujudkan pelaku pendidikan dan kebudayaan yang kuat adalah menguatkan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemimpin institusi pendidikan dalam ekosistem pendidikan;
memberdayakan pelaku budaya dalam pelestarian dan pemajuan kebudayaan; serta fokus kebijakan diarahkan pada penguatan perilaku yang mandiri dan berkepribadian. (2) Mewujudkan akses yang meluas, merata, dan berkeadilan adalah mengoptimalkan capaian wajib belajar 12 tahun; meningkatkan ketersediaan serta keterjangkauan layanan pendidikan, khususnya bagi masyarakat yang berkebutuhan khusus dan masyarakat terpinggirkan, serta bagi wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). (3) Mewujudkan pembelajaran yang bermutu adalah meningkatkan mutu pendidikan sesuai lingkup standar nasional pendidikan;
serta memfokuskan kebijakan berdasarkan percepatan peningkatan mutu untuk menghadapi persaingan global dengan pemahaman akan keberagaman, dan penguatan praktik baik dan inovasi.
Berdasarkan misi Renstra tersebut, membangun pendidikan yang merata di Indonesia menjadi salah satu prioritas. Pembangunan yang merata yang dimaksud ialah tidak adanya perbedaan antara pendidikan di daerah pusat dan daerah pinggiran. Sehingga Sesuai dengan salah satu misi Renstra yaitu mewujudkan akses yang meluas dan merata khususnya bagi daerah 3T maka hal ini yang nantinya akan diteliti oleh penulis terkait pembangunan pendidikan di pulau Salura Kabupaten Sumba Timur yang mana juga merupakan daerah 3T.
2.2 Konsep Standar Pelayanan Minimal Pendidikan
Menurut Peraturan Menteri Pendidikandan Kebudayaan RI Nomor 32 Tahun 2018 Tentang Standar Teknis Pelayanan Minimal Pendidikan mendefiniskan bahwa Standar Pelayanan Minimal Pendidikan yangdisingkat SPM Pendidikan adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar pendidikan yang merupakan urusan pemerintahan wajib yang
9
berhak diperoleh setiap Peserta Didik secara minimal (Kemendikbud.go.id). Standar pelayanan minimal pendidikan ini bertujuan untuk memberikan panduan kepada Pemerintah Daerah dalam pemenuhan kebutuhan dasar Peserta Didik sesuai dengan jenjang dan jalur Pendidikan.
SPM Pendidikan ditetapkan dan diterapkan berdasarkan prinsip: a. kesesuaian kewenangan; b.
ketersediaan; c. keterjangkauan; d. kesinambungan; e. keterukuran; dan f. ketepatan sasaran.
Dalam SPM jenis Pelayanan Dasar yang dimaksud ialah jenis pelayanan dalam rangka penyediaan barang dan/atau jasa kebutuhan dasar yang berhak diperoleh oleh Peserta Didik secara minimal. Pada pasal 5 dijabarkan terkaitjenis pelayanan dasar SPM Pendidikan pada tingkat daerah kabupaten/kota terdiri atas, a. pendidikan anak usia dini; b. pendidikan dasar;
dan c. pendidikan kesetaraan. Pendidikan dasar yang di maksud ialah terdiri atas, a. sekolah dasar; dan b. sekolah menengah pertama. Dalam pencapaian SPM terdapat mutu pelayanan dasar, dalam pasal 7 dijabarkan Mutu Pelayanan Dasar untuk setiap Jenis Pelayanan Dasar SPM Pendidikan mencakup: a. standar jumlah dan kualitas barang dan/atau jasa; b. standar jumlah dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan; dan c. tata cara pemenuhan standar.
Dalam standar jumlah dan kualitas barang dan/jasa pada huruf a terdapat standar satuan pendidikan. Lalu pada pasal 8 di jelaskan Standar satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas: a. standar kompetensi lulusan; b. standar isi; c. standar proses;
d. standar sarana dan prasarana; e. standar pengelolaan; f. standar pembiayaan; dan g. standar penilaian. Selanjutnya pada bagian b. Standar jumlah dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, pendidik dan tenaga kependidikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Pada pasal 30 Jenis pendidik sebagaimana dimaksud terdiri atas: a. guru kelas;
dan b. guru mata pelajaran, jika SMP guru mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan kurikulum.
Jenis tenaga kependidikan terdiri atas: a. kepala sekolah; dan b. tenaga penunjang lainnya.
Kualitas pendidik yang dimaksud sebagai berikut: a. paling rendah memiliki ijazah Diploma empat (DIV) atau Sarjana (S1); dan b. memiliki sertifikat pendidik. Kualitas tenaga kependidikan sebagai berikut: a. kepala sekolah: 1. paling rendah memiliki ijazah Diploma empat (D-IV) atau Sarjana (S1); 2. memiliki sertifikat pendidik; dan 3. memiliki surat tanda tamat pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah. b. tenaga penunjang lainnya paling rendah memiliki ijazah SMA/sederajat. Seluruh indikator tersebut menjadi indikator penting dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimal pendidikan di Indonesia. Standar ini juga sebagai indikator pendukung dalam melihat pembangunan pendidikan di Pulau Salura.
10
2.3 Konsep Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal
Dalam buku yang di tulis oleh Handoko di sebutkan bahwa daerah tertinggal didefinisikan berdasarkan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan wilayah (fungsi inter dan intra spasial baik pada aspek alam, aspek manusia, maupun sarana prasarana penduduknya) (Syafii, 2018). Kategori wilayah tertinggal dapat dilihat dari beberapa hal seperti, sarana prasarana (infrastruktur), sumber daya manusia, aksesbilitas dan perekonomian daerah. Kriteria penentuan wilayah tertinggal dengan menggunakan pendekatan perhitungan 6 (enam) kriteria dasar yaitu: perekonomian masyarakat, sumberdaya manusia, prasarana (infrastruktur), kemampuan keuangan lokal (fiskal), aksesibilitas, dan karakteristik daerah (Hasthoro, 2016).
Seluruh kategori ini merupakan masalah-masalah yang di hadapi oleh masyarakat yang berada di daerah tertinggal. Indonesia juga memiliki peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 34 Tahun 2012 tentang kriteria daerah khusus, yang di maksud daerah khusus adalah daerah yang terpencil, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil, daerah yang mengalami bencana (alam maupun sosial), daerah yang berada dalam keadaan darurat dan daerah pulau luar terkecil. Berdasarkan definisi tersebut maka daerah khusus atau bisa disebut daerah terpencil ini memiliki kriteria-kriteria yang menunjukkan perlu perhatian atau program nyata dari pemerintah. Kriteria yang dimaksud ialah akses transportasi sulit di jangkau (tidak memiliki jalan raya yang memadai), terbatasnya sarana prasarana (tidak ada pembangunan infrastruktur) seperti, sulitnya mendapatkan fasilitas listrik, pelayanan kesehatan, fasilitas informasi dan komunikasi, saran air bersih dan fasilitas pendidikan.
Dari kriteria tersebut, Pulau Salura masuk dalam seluruh kriteria tersebut. Pulau ini yang juga terpencil, terisolasi, dan sangat sulit untuk di akses. Untuk bisa sampai ke pulau Salura perjalanan dari ujung selatan Kabupaten Sumba Timur harus menyebrangi laut menggunakan perahu kecil. Fasilitas listrik juga masih sulit karena masih menggunakan listrik tenaga surya yang hanya bertahan dalam beberapa waktu, sarana air bersih masih sulit di jangkau karena masyarakat setempat di kelilingi oleh pantai sehingga khususnya air tawar sangat sulit untuk di dapat. Masyarakat setempat juga dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup yang pekerjaan utamanya nelayan harus melanggar laut dan menjual hasil lautnya di seberang pulau yang merupakan daerah ujung selatan kabupaten Sumba Timur. Terkait fasilitas pendidikan yang merupakan fokus utama dalam penelitian ini masih jauh dari standar
11
pendidikan daerah lain. Pendidikan di pulau Salura sangat terbatas, hanya memiliki satu sekolah dasar (SD) dan satu SMP yang mana kelayakan sekolah-sekolah ini masih jauh jika di bandingkan sekolah-sekolah di daerah lainnya. Permasalahan paling mendasar selain sosial dan ekonomi ialah pendidikan. Pendidikan sudah seharusnya menjadi satu hal dasar yang harus di bangun dan di tingkatkan. Pendidikan yang rendah dapat membentuk suatu bangsa menjadi bangsa yang bodoh, untuk itu pembangunan pendidikan menjadi hal yang penting di Indonesia khususnya pulau Salura yang masih tertinggal.
2.4 Teori Konstruktivisme Sosial
Konstruktivisme memandang bahwa sistem internasional tidak ada dengan sendirinya melainkan ada sebagai bentuk kesadaran intersubjektif atau pemahaman umum, dalam artian sistem disusun oleh ide-ide, bukan oleh kekuatan material. Konstruktivisme mulai hadir dalam Hubungan Internasional ketika Nicholas Onuf memperkenalkan Konstruktivisme pada tahun 1989 melalui “World of Our Making” yang kemudian dikembangkan oleh Alexander Wendt dalam artikelnya “Anarchy is What States Makes Of It” pada tahun 1992 (Rachmawati, 2012).
Menurut Alexander Wendt, struktur dan sistem sosial mengandung 3 elemen, yaitu kondisi material, kepentingan dan ide-ide. Wendt mengatakan bahwa akibat dari munculnya konstruksi sosial membentuk sebuah ide atau pemikiran baru yang akan berujung pada terciptanya suatu kepentingan.
“The distribution of power may always affect states 'calculations, but how it does so depends on the intersubjective understandings and expectations, on the "distribution of knowledge," that constitute their conceptions of self and other." If society "forgets" what a university is, the powers and practices of professor and student cease to exist; if the United States and Soviet Union decide that they are no longer enemies, "the cold war is over." It is collective meanings that constitute the structures which organize our actions.” (Wendt, 1992:397)
Argumen Wendt menolak asumsi dasar Neorealis yang menurutnya anarki pasti mengarah pada pertolongan pada diri sendiri atau egois, Wendt menjelaskan bahwa hal ini dapat bergantung pada interaksi di antara negara-negara. Dalam proses interaksi ini, identitas dan kepentingan negara diciptakan.
Menurut konstruktivis negara terkungkung oleh struktur sosial yang normatif. Bahkan negara dianggap tidak mungkin exist atau ada secara terpisah dari yang lainnya. Negara saling mengenali satu dengan yang lain melalui asosiasi atau kerjasama yang dijalin dengan negara
12
lainnya. Sehingga, kaum konstruktivis percaya bahwa identitas negara terkonstruksi oleh norma dan kemudian membentuk kepentingan-kepentingan tertentu. Norma yang ada bahkan mampu merekonstruksi identitas, dengan demikan maka kepentingan pun berubah sejalan dengan hal tersebut dan akhirnya akan merubah kebijakan negara. Elemen ideasional yang menjadi fokus kaum Konstruktivis adalah keyakinan intersubjektif (ide, konsepsi, serta asumsi), ideologi juga di percaya sebagai sistem .pembentukan keyakinan bersama. Oleh karena itu, terdapat banyak jenis ide yang berbeda, Nina Tannewald mengidentifikasi empat tipe utama yakni :
1. Keyakinan bersama ialah rangkaian doktrin atau keyakinan sistematis yang mencerminkan kebutuhan sosial dan aspirasi kelompok, kelas atau negara.
2. Keyakinan normatif (prinsip) adalah keyakinan tentang hal yang benar dan salah. Ini di tunjukkan berdasarkan nilai-nilai atau sikap yang menunjukkan kriteria untuk membedakan benar dan salah atau dibedakan dari ketidakadilan dan standar perilaku.
3. Keyakinan kausal adalah keyakinan tentang sebab akibat atau hubungan sarana-akhir.
Ini menyediakan panduan atau strategi bagi individu untuk mencapai tujuan akhir.
4. Preskripsi kebijakan adalah ide yang memfasilitasi pembuat kebijakan dam bagaimana memecahkan masalah kebijakan tertentu. Ide ini memiliki pusat perdebatan kebijakan dan dihubungkan dengan strategi spesifik serta program kebijakan.
(Tannewald, 2005)
Dalam konstruktivisme juga terdapat pandangan terkait norma-norma masyarakat internasional. Martha Finnemore mengemukakan varian konstruktivis lain dalam bukunya tahun 1996, National Interest in International Society. Poin awalnya adalah definisi identitas dan kepentingan negara. Finnemore mengatakan bahwa selain memperhatikan internaksi sosial diantara negara-negara, fokusnya adalah pada norma-norma masyarakat internasional dan cara dimana mereka mempengaruhi identitas dan kepentingan negara. Perilaku negara di definisikan oleh identitas dan kepentingan. Identitas dan kepentingan di definiskan dengan kekuatan internasional, yaitu dengan norma-norma perilaku yang ditanamkan dalam masyarakat internasional. Mereka membentuk kebijakan internasional dengan ‘mengajarkan’
kepada negara apa yang seharusnya yang menjadi kepentingan negara (Jackson, 2013:381).
Dengan demikian, Martha Finnemore berpendapat bahwa norma-norma internasional yang dikemukakan oleh organisasi internasional dapat secara meyakinkan mempengaruhi panduan
13
nasional dengan mendorong negara-negara untuk mengadopsi norma-norma tersebut sebagai kebijakan nasionalnya.
Konstruktivisme menyatakan bahwa, John Hobson mencoba memetakan menjadi 3 varian dalam Konstruktivisme, yaitu: International Society-Centric Constructivism, State Centric Constructivism dan Radical Constructivism (Rachmawati, 2012). Pertama, International Society Centric Constructivism Varian ini menitikberatkan pentingnya struktur atas agensi karena percaya bahwa identitas dan kepentingan nasional negara ditentukan oleh struktur normatif dari masyarakat internasional. Pada varian ini berlandaskan pada pandangan Martha Finnemore, dimana , negara berupaya mengadaptasi norma internasional ke dalam kebijakan dalam negeri negara. Menurut konstruktivisme International Society Centric ini bahwa organisasi internasional berperan sebagai active teacher yang pada akhirnya akan mengadopsi norma masyarakat internasional. Baginya struktur memiliki pengaruh yang lebih besar dari agensi. Kedua, State Centric Constructivism, Menurut Peter Katzenstein, penjelasan sistemik sebelumnya tidak cukup menjelaskan hubungan yang terjadi dalam struktur negara sendiri sehingga mereka bersedia menerima norma internasional tersebut. Katzenstein berpendapat bahwa make-up internal negara memengaruhi perilaku internasionalnya. Peter Katzenstein menggarisbawahi pentingnya 3 struktur normatif (domestic normative structure) yang akan memandu negara dalam mengambil kebijakan, yaitu: norma keamanan ekonomi, norma keamanan militer eksternal dan norma norma keamanan internal. Struktur normatif domestik ini akan bertemu dengan norma internasional yang kadang-kadang tidak saling mendukung tetapi saling bertentangan. Bagi Katzenstein, negara memiliki struktur domestik yang kuat dan otonom, maka penting baginya untuk melihat hubungan domestik antara negara dan masyarakat dalam membentuk kebijakan negara. Kebijakan negara dapat terbentuk oleh identitas dan budaya domestik negara, ini juga merupakan hasil hasil interaksi antara negara dan masyarakatnya. Sehingga yang ingin disampaikn oleh Katzenstein adalah bahwa identitas domestik sebuah negara (yang tidak selalu sama satu negara dengan yang lainnya) memiliki kekuatan yang sama besar dengan struktur internasional dalam menentukan kebijakan negara.
Ketiga, Radical Constructivism, Radikal Konstruktivis merupakan teori yang radikal karena tidak lagi mendasarkan diri pada pengetahuan karena pengetahuan sendiri dianggap tidak merefleksikan obyektiftas. Radikal Konstruktivis mendasarkan pemikirannya dengan mempersoalkan negara karena negara tidak dengan mudah dapat disamakan dengan kedaulatan, terlebih dengan identitas negara, legitimasi dan juga komunitas politik domestik,
14
karena semua hal itu tidak bersifat materi. Semua hal tersebut merupakan hasil dari konstruksi sosial.
Berdasarkan ketiga varian konstruktivisme, dalam penelitian ini penulis menganalisis menggunakan varian International Society Centric Constructivism. Pada varian konstruktivisme ini berfokus pada negara yang memiliki peluang untuk saling berinteraksi, dari interaksi-interaksi tersebut terbentuk keyakinan bersama antar-negara dan kemudian negara berupaya mengadaptasi norma internasional ke dalam kebijakan dalam negeri negara.
Sehingga ini menjadi salah satu asumsi awal penulis dalam menganalisis dasar pembentukkan kebijakan/strategi pembangunan pendidikan berkualitas di daerah 3T Indonesia.
2.5 Penelitian Terdahulu
No. Nama Judul/Publikasi Hasil
1. Muhhamad Tommy F P dan
Margaertha Lassni Rhussary
Peningkatan Mutu Pendidikan Daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) di Kabupaten Mahakam Hulu/Jurnal Ekonomi dan Manajemen Vol 12 No 2. 2018
Strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah berbeda-beda seperti SDN 001 Ujoh Bilang metode normative, SMPN 001 Ujoh Bilang metode deskriptif dan SMUN 001 Ujoh Bilang metode hermeneutis akan tetapi semua itu terletak pada penerapan disiplin yang ketat dari sekolah, sehingga semua siswa akan disiplin sehingga daya serap materi pelajaran akan tercapai. Dengan adanya faktor pendukung sarana dan prasarana yang memadai maka dalam peningkatan mutu pendidikan sekolah akan meningkat minimal setara dengan tingkat pendidikan diperkotaan selain itu harus adanya tingkat keprofesionalan guru yang kreatif dengan mengajar beberapa metode baru sehingga mampu membuat peserta didik dapat dilaksanakan dengan baik, kualitas proses pembelajaran tercipta yang berindikasi kepada standar kelulusan diperoleh maksimal (100%).
15 2. Adityo
Darmawan Sudagung, Veronica Putri (dkk)
Upaya Indonesia Mencapai Target Sustainable
Development Goals Bidang Pendidikan di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat (2014-2019)/ Jurnal Polinter Prodi Ilmu Politik FISIP UTA45Jakarta Vol 5 No 1. 2019
Pencapaian SDGs sementara di bidang pendidikan pada poin keempat memang sudah cukup baik secara nasional.
Didukung dengan baseline capaian MDGs sampai tahun 2015 yang sudah tercapai semua indikatornya. Namun, masalah pemerataan kualitas masih menjadi masalah bagi Indonesia. Fasilitas pendidikan dan sarana penunjang pendidikan belum benar-benar memadai di seluruh kawasan Indonesia, khususnya di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau. Pemerintah Indonesia era Jokowi-JK memang sudah menempatkan peran negara sangat besar di bidang pembangunan manusia pada sektor pendidikan. Tetapi, pembenahan masih perlu dilakukanagar manusia Indonesia mampu merasa aman dalam hal pemenuhan kebutuhannya atas pendidikan. Khusus di kawasan perbatasan, keberadaan negara harus benar-benar mampu dirasakan. Perlu adanya pembangunan pendidikan dengan memastikan fasilitas pendidikan dan kualitas guru merata, termasuk dana pendidikan yang disalurkan untuk membayar gaji guru honorer dengan layak.
3 Ahmad Syafii Perluasan dan Pemerataan Akses Kependidikan Daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal)/Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam, Vol.
4, No. 2. 2018
Pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu negara.
Dengan mengenyam pendidikan bangsa ini dapatberkontestasi dengan bangsa lain di dunia. Akan tetapi dalam realitasnya akses pendidikan dalam masyarakat belum merata seutuhnya. Masih terdapat daerah, terdepan terluar dan tertinggal yang membutuhkan banyak sentuhan pendidikan. Program pemerintah seperti SM3T maupunprogram Bina kawasan menjadi langka strategis yang diambil. Meskipun demikian hal itu harus didukung dengan peran serta masyarakat sebagai Civil Society.
Masyarakat juga harus bergerak untukmelakukan pengembangan pendidikan. Juga, Organisasi masyarakat maupun LSM-LSM yang ada juga berperan penting dalam
16
proses ini. Pemerataan akses pendidikan tidak akan berhasil tanpa adanya kerja sama yang baik antara berbagai pihak termasuk juga kesadaran yang dimiliki oleh masyarakat daerah 3T itu sendiri.
Penulis menggunakan penelitian Muhhamad dan Margaertha sebagai penelitian terdahulu karena dalam penelitian tersebut menyinggung terkait peningkatan pendidikan di daerah 3T, dikatakan dalam penelitian tersebut alasan mengapa perlu adanya peningkatan mutu pendidikan di daerah Kabupaten Mahakam Hulu. Permasalahan kompleks terkait pendidikan di Indonesia dengan adanya disparitas pendidikan, sarana prasana yang tidak menunjang mengakibatkan adanya pendidikan di daerah 3T yang berbeda dan hal ini membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah. Namun dalam penelitian tersebut menggunakan metode yang berbeda dimana peneliti menganalisis menggunakan motode deskriptif, normative, dan hermunities di beberapa sekolah yang ada di kabupaten Mahakam Hulu. Sedangkan dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kepustakaan yang sumber data di dapatkan dari literature yang ada.
Selanjutnya, penelitian Adityo Sudagung (dkk) di gunakan sebagai penelitian terdahulu karena dalam penelitian tersebut membahas terkait upaya pencapaian SDGs goals ke-4 bidang pendidikan di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Penelitian tersebut berkaitan erat dengan penelitian yang akan di teliti oleh penulis dimana masalah pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi masalah bagi Indonesia. Fasilitas pendidikan dan sarana penunjang pendidikan belum benar-benar memadai di seluruh kawasan Indonesia dan hal tersebut menjadi permasalahan yang sama yang di hadapi oleh Kecamatan Sekayam dan Pulau Salura. Namun yang menjadi pembeda dalam kedua penelitian ini ialah terkait fokus penelitiannya. Fokus dalam penelitian Adityo ialah berlandaskan pada pembangunan manusia dimana terpenuhinya human security individu dilihat dari pendidikan yang mudah dijangkau oleh semua individu namun berbeda halnya dengan penelitian penulis yang lebih berfokus pada setiap program pemerintah dalam upaya pembangunan pendidikan berkualitas di daerah 3T sejalan dengan tercapainya goals ke-4 SDGs di Pulau Salura Kabupaten Sumba Timur.
Selanjutnya, pada penelitian terdahulu ketiga penulis menggunakan penelitian Ahmad yang mana membahas terkait pemerataan akses pendidikan di daerah 3T. Menurut penelitian
17
tersebut belum adanya pemerataan akses pendidikan di daerah 3T dan terdapat beberapa program yang sudah di jalankan pemerintah seperti program SM3T yang sangat menunjang meningkatkan mutu pendidikan di daerah 3T. Program ini juga nantinya yang akan digunakan oleh penulis dalam melihat pembangunan pendidikan di pulau Salura sebagai salah satu dari daerah 3T, juga penulis menggunakan jurnal penelitian Ahmad sebagai sumber dalam mendefinisikan konsep daerah terluar, tertinggal, dan terdepan yang mana juga digunakan sebagai konsep dalam penelitian Ahmad. Namun, pada penelitian Ahmad lebih berfokus pada peran serta civil society dan lembaga masyarakat (LSM) lainnya dalam memperluas dan menyamaratakan pendidikan di pulau Salura. Sedangkan penulis lebih berfokus pada strategi pemerintah dan upaya dalam membangun pendidikan berkualitas di Pulau Salura sejalan dengan target yang ada pada goals ke 4 SDGs.
2.6 Kerangka Pikir
Disparitas Pendidikan di Indonesia : - Minimnya sarana dan prasarana
belajar
- Minimnya ketersediaan guru
Peningkatan Kualitas Pendidikan - Terpenuhinya Standar Pelayanan
Minimal Pendidikan
- Tercapainya Tujuan 4 SDGs
Strategi Pembangunan Pendidikan di Daerah 3T Teori
Konstrukti visme Sosial
Teori Konstrukti
visme Sosial
18 BAB III - Program Indonesia Pintar
- Program Guru GarisDepan (GGD)
- Program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3T)
Hasil Pencapaian Pendidikan Berkualitas di Pulau Salura (2015-2019)
- Kerjasama Indonesia-
Australia (Inovasi Untuk Anak Indonesia)