ANALISA
1978 — 10
ANALTSA
Diterbitkan oleh
CENTRE FOR STRATEGIC AND INTER- NATIONAL STUDIES
(CSIS) sebagai terbitan berkala yang?menyajikan
analisa-analisa peristiwadan masalah
internasionalJdan
nasional, baik ideologidan
politikmaupun ekonomi,
sosialbudaya dan
pertahanan sertakeamanan, yang
ditulis oleh Staf CSIS. TetapiANALISA
jugamenerima
tulisan-tulisan dari luar:CSIS dan menyediakan
honoraria bagi,karangan-karangan yangi dimuat. Tulisan-tulisandalam ANALISA
tidak selalu mencer-minkan pandangan
CSIS.Pemimpin Redaksi/
Penanggung jawab Dewan Redaksi
Kirdi
DIPOYUDO
Daoed JOESOEF,
RufinusLAHUR,
J.
PANGLAYKIM, A.M.W. PRA- NARKA, M. Hadi SOESASTRO,
Harry TJAN SILALAHI dan
JusufWANANDI
Redaksi Pelaksana
: KirdiDIPOYUDO,
RufinusLAHUR:
STT : S.K. Menpen R.I. No. 509/SK/DITJEN PPG/STT/1978, tgl. 28—
8—
197?Harga
per eks : Rp.700,—
Harga
langganan 1 tahun (12nomor)
: Rp.8.000,—
(bayar dimuka), untuk Mahasiswa
Rp.7.200,— sudah
termasuk ongkos kirim.Redaksi : Jalan
Tanah Abang
111/27, JakartaPusat,Telepon
356532-5TataUsaha
: Biro Publikasi CSIS, Jalan Kesehatan 3/13, JakartaPusat,Telepon
349489TAHUN
VIINo. 10,OKTOBER
1978ANALISA
PENGANTAR REDAKSI
756
SUNARIO,
ARTI SUMPAH PEMUDA, NASIONAL DAN INTER-
NASIONAL
?59
Abdurrachman
SURJOMIHARDJO,
SUMPAH PEMUDA
DIDALAM PERKEMBANGAN
BUDAYA-POLITIK INDONESIA
1900-1945 769Kirdi
DIPOYUDO,
MENGGALANGPERSATUANBANGSA INDONESIA
788
A chmad MUGALIH,
BAHASA INDONESIA DAN INTEGRASI NASIONAL
801Kirdi
DIPOYUDO,
PANCASILA DAN KEBUDAYAAN NASIONAL INDO-
NESIA
gl3
DAFTAR PUBLIKASI
CSIS 82i
Dari semua Kongres Pemuda
Indonesiayang pernah
diada-kan selama
iniKongres
Ke-II,yang
diselenggarakan di Jakartapada
tanggal27-28Oktober
1928, ternyatapafingoanyak men- dapat
perhatian.Hal
ini adalahkarena dua
hal: pertama, isiputusan yang
diambil oleh kongres itumemang mencerminkan semangat jamannya; dan
kedua, sejarah telahmembuktikan bahwa putusan
itu telahmembawa perubahan yang mendasar pada perkembangan perjuangan
nasionalselanjutnya,termasuk diproklamirkannya kemerdekaan
IndonesiaolehSoekarno-Hatta
sebagai wakilrakyat Indonesiayang
telahmenjadi
satu bangsa.Kini
50
tahunkemudian masyarakat bangsa
Indonesiamemperingati putusan
kongresyang kemudian
dikenal sebagaiSumpah Pemuda
itudengan melakukan macam-macam
kegiatan seperti kongres nasionalbahasa
Indonesia, loka karyapembi- naan
generasimuda,
kongrespemuda/KNPI
ke-II,dan
berbagai ulasan melaluimedia komunikasi
massa.Semuanya
itumeng- ungkapkan
betapa besarnya perhatiandan bahkan kekaguman
orang atas peristiwa bersejarah50
tahunyang
lalu itu. Kenyata- an inijugamerupakan
buktidan pengakuan bahwa makin
besarperubahan
sosialyang
dilakukanorang pada
suatuwaktu makin
besarpula
dorongan untuk memperhatikannya dan
belajar dari padanya.Dalam
pelbagai ulasan yang ditampilkan sehubungan denganSumpah Pemuda
dan perananpemuda nampak
secara tersuratmaupun
tersiratadanya harapan agargenerasi berikut- nya dapat berperanan sesuai dengan panggilan sejarah, yaitu mengisikemerdekaan melalui kegiatanpembangunan
yang ber- manfaatbagiseluruh masyarakat.Dalam
rangka itupulaANALISA
kaliini ikut menyajikan pelbagai pemikiran yang ada hubungannya denganSumpah Pemuda
itu.M. SUNARIO
khusus menyoroti artinya, baik nasionalmaupun
internasional. Penulis tidak saja mem'punyai perhatian besar atas gerakan pemuda, tetapi juga ikut aktif dalam KongresPemuda
Ke-II itu dan bahkan menjadi salah seorang pembicara, disampingMuhammad
Yamin, S.Mangun-
sarkoro,
Nona Purnomo
Wulan danlainsebagainya. Tulisan inidapatlahkitaanggapsebagai
semacam
kesaksian pribadi seorang pejuangyangada baiknyadiketahui oleh generasi-generasi beri-kutnya.
Lain halnya dengan tulisan yang kedua. Sebagai salah seorangpengamat sejarah Abdurrachman
SURJOMIHARDJO
membahas Sumpah Pemuda
di dalam perkembangan budaya- politikIndonesiadalamperiode1900-1945. Karangan iniadalah sekedar ikhtisar, suatu kerangka perkembangan, suatu cara untuk dapatmemahami
hubungan pergerakan-pergerakan kebangsaan Indonesia dalam jalinan sejarah bangsa.Tema
pokoknya ialahperjuanganpemakaian kata Indonesia dan Ba- hasa Indonesia sebagaiidentitasbangsa, sebagaisalah satu aspek perkembangan budaya-politikpadajaman
kolonial. Uraiannya bersumber pada kesadaran dan penghayatan sejarah tentang suatuperistiwa sejarahyang tidakdialamisendiri tetapidiketa- huimelaluipembacaan.Dalam
karangan yang ketiga.KirdiDIPOYUDO
berusaha mengulasSumpah Pemuda
satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa sebagai faktor penting dalam usaha menggalang persa- tuanbangsaIndonesia. Biarpunpadawaktuitulebihmerupakancita-cita daripada kenyataan,
Sumpah Pemuda
itu dapat dipan- dangsebagailahirnya bangsa dan kebudayaan nasionalIndone-secara berangsur-angsur berhasil
menghimpun
berbagaibangsa Nusantara menjadi
satubangsa
Indonesia.Dalam karangan
berikutnyaAchmad MUGALIH memba-
has
Bahasa
Indonesiadan
integrasinasional Tulisan inimembi-
carakanbagaimana bahasa
daerahMelayu yang semula
adalahbahasa
salah satusuku yang
kecillambat
launberkembang menjadi
linguafranca Nusantara dan bahasa
persatuan Indone-sia.
Hal
inimengungkapkan dua
hal:pertama, betapa besarnyakemampuan
potensiilbahasa
Indonesia sehingga dapatberkem- bang menjadi unsur
integrasiyang
raksasa;dan
kedua, betapa besarnyajiwa
toleransisuku-suku bangsa yang
besar sepertisuku-suku bangsa Jawa dan Sunda yang mau menerima
suatubahasa
minoritas kecilmenjadi bahasa
nasional Indonesiademi
persatuandan
kesatuanbangsa.Karangan yang
kelimadan
terakhirdengan judul "Panca-
sila
dan Kebudayaan Nasional Indonesia"
ditulis oleh KirdiDIPOYUDO.
Sejarahmenunjukkan bahwa Sumpah Pemuda
adalah sangat penting
dalam pergerakan
nasional Indonesiakarena dapat dipandang
sebagailahirnyabangsa dan kebudaya-
an nasionalIndonesia: Pancasila sebagai dasarfalsa/ah negara,pandangan hidup dan moral bangsa
Indonesia, adalah bagianinti serta
jiwa kebudayaan
nasional itudan
landasan idealpengembangannya. Berkat peranan
Pancasiladalam pengem- bangan kebudayaan
itu,kebudayaan Nasional
Indonesiamenja-
di strategi
kehidupan masyarakat dan
negaramenuju
tujuannya, yaitu kesejahteraan lahir batin selengkapmungkin
bagi setiapdan semua
warganya.Oktober 1978 REDAKSI
ARTI SUMP AH PEMUDA,
NASIONAL DAN INTERNASIONAL*
SUNARIO
Sebagaisalahseorangpesertadansalah seorangpemrasaran pada Kongres
Pemuda-pemuda
Indonesia ke-II di Jakarta dari 27-28 Oktober 1928 yangakhirnyaberhasil mencetuskan"Sum-
pahPemuda"
padamalam
tanggal 28 Oktober 1928 di Jalan Kramat (Raya) No. 106, tentu saja penulis banyak memiliki kenang-kenangan yangsangat berharga mengenaiperistiwayang bersejarah dahulu. Tentang soal-soal yang dibicarakan dan siapa-siapasemuayang ikut berbicara, dapat dilihat dari Acara Kongres (Kerapatan) yang sebelumnya telah disiapkan. Dengancatatanbahwatidaksemuadapat dilaksanakan, karena misalnya arak-arakan (pawai) pandu-pandu terpaksa ditiadakan, karena laranganolehpihakpenguasa Belandaatau karenatidakdatang- nya pembicara, di antaranya Ki Hajar Dewantara dari Jogya.
Maka
kenang-kenangan tadi penulis simpan dan pelihara dalam pikirandan hatinya dengan sebaik-baiknya, karena tetapmenggembirakan dan mengharukan. Lebih-lebih lagi karena
"Sumpah Pemuda"
ituterbukti besar, bahkan sangat menentu- kan artinya bagi pergerakan kemerdekaan nasional kita yangmemuncak
pada ProklamasiKemerdekaandari 17Agustus 1945.Dengan ini jelaslah, dan demikian pula harus dimengerti oleh
* KaranganProf.SunarioSH,bekas Menteri LuarNegeriRI(1953-1955),inipcrnah dimuatdalam buku45TahunSumpah Pemuda(Jakarta: YayasanGedung-gcdung Bersejarah Jakarta,1974), hal.277-285
kita
semua, bahwa
hasilusaha angkatan
pejoang-pejoang 1928 adalah diperlukanuntuk
dijadikan dasar dariusaha Angkatan
pejoang-pejoang 1945.Yakni
karena kita nyata baruhendak
dapatmerdeka hanya
di atas kesadaran,bahwa
kita ini "ber- tanahairsatu, berbangsasatudan
berbahasa satu",yang
ketiga- tiganya meliputi seluruh Indonesia (Baik ditekankan,bahwa yang dimaksudkan dengan
sebutan"Angkatan"
daritahun
iniatau tahun itu yakni
bukan
generasi secara biologisyang
susul-menyusul
kira-kira setiap 25 tahun,melainkan yang merupakan
"Angkatan Pejoang-pejoang"
semata-mata).Telah
banyak
kali penulismendapat kesempatan untuk membentangkan
dimuka corong
radio ataudalam
rapat-rapat peringatan didalam dan
di luar negeri, tentangmaksud dan makna "Sumpah Pemuda"
itu.Di
antaranyapada Pertemuan
PeringatanSumpah Pemuda yang
diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia diKramat Raya
106 Jakarta,pada
28Oktober
1969, dimana
ataspermintaan
Panitya Penyelengga-ra, penulis
memajukan sebuah
"RisalahKongres Pemuda-Pe- muda
Indonesia II" (dimuatdalam
terbitanSesudah
45 tahun,28 Oktober 1928 — 28 Oktober
1973, penerbit: Idayu.Untuk
singkatnyadipersilahkan sajamembacanya).
Telah
mudah sesungguhnya
sekarang ini,untuk
meneliti kembalibahan-bahan mengenai program, masalah-masalah yang
dipersoalkan,nama
para pembicara, jalannyapembicaraan dan
keputusanKongres
itu, setelah tertulisnya Skripsi dari Drs. Su-warno pada IKIP
di Jakartapada
tahun 1965 tentang"Sumpah Pemuda"
(1928). Sarjana ini telah berhasilmenemukan
kembalibanyak bahan
dari surat-surat kabar,dan
lain-lain di Perpusta-kaan Museum
Pusat kita di Jakarta, selainmengadakan wawan- cara-wawancara
terpisahdengan
Saudara-saudaraSugondo
Djojopuspito bekasKetua PPPI yang memimpin Kongres
terse- butdan
beberapa peserta: (Prof. Dr.)Sarwono
Prawirohardjo, (aim) Sartono S.H.,Wongsonegoro SH dan
penulis sendiri(kemudian malahan masih menyusul karangan-karangan
dari pihak-pihak lain-lainyang
berhasil melengkapi lagibahan-bahan
yangmungkin akan
lenyapsama
sekali jika tidak digali kembaliARTI SUMPAH PEMUDA
secepat-cepatnya. Surat-surat kabar di
Museum
Pusat daripenode sekitar 1928 juga telah banyak yang hampir hancur kertasnya).
Tetapi, meskipun
"Sumpah Pemuda"
itu telah banyak mendapat perhatian dan sorotan darikita,
namun
masih saja mendorongpenulis untuk menjelaskan tentang suatu segi yang nyata dirasakan belum begitu jelas mengenai peristiwa yangmaha
pentingitu.Bahwa "Sumpah Pemuda"
memiliki arti nasional yangluhurbagikitabangsa dan rakyat Indonesiasudah terang sekali.
Tetapi, jika dihubungkan dengan kejadian-kejadian lain, yakni bukan saja dengan perjuangan kemerdekaan seluruhnya di dalam negeri, melainkan juga dengan yang terjadi di bidang itu di luar negeri, juga sebagai bagian dalam proses perjuangan untuk kemajuan dan demokrasimoderndi seluruh dunia,
maka
terasalahbahwapenjelasanlebih lanjutmasihsangat diperlukan.
Biarpunjugasecara ringkassaja.
Karena hubungan, khususnya dengan kejadian-kejadian di duniainternasional yang tersebut terakhirtadi
memang
terdapat secarapositif, bahkanbanyak ikutmenentukanjalannyasejarahdiTanahAir kita sendiri, termasuklahirnya
"Sumpah Pemuda"
itu. Meskipun benar juga, bahwa di Indonesia sendiri belum pernah terdapat sesuatu periode yang sepi sama sekali dari usaha-usahaperlawanan terhadap penjajah, yakni secara besar- besaran di bawah Sultan Agung, di Aceh, di bawah Pangeran Diponegoro dan Iain-Iainsebagainya.
Tetapi terutama sekali tak boleh diabaikan atau dilupakan, bahwa khususnya dengan permulaan abad
XX
seluruh benua Asia dan Afrika menginjak zaman modern yang cerah, yangmembawa
angin baru, sehingga timbul kata-kata Renaissance (kebangkitan kembali) dari benua Asia. "Fajar menyingsing" diDunia Timur, dan sebagainya, yang mengandung banyak poli- ticaldansocialchangeitu.
Jadi missing link
yang
biasanya terdapatdalam
tujuan- tujuan tentang peristiwa-peristiwadalam
pergerakan nasional kita itu, perludiketemukan dan mendapat
sorotan kembali.Maka
mulaidengan percobaan-percobaan
oleh perintis- perintis perjuangan nasional kita di awalabad XX, khususnya
usaha-usaha IbuRaden Adjeng
Kartinidan
Dr.Wahidin
Sudiro-husodo dahulu
itutidak lepas dariperobahan
besaryang
terjadi,terutama di Asia. Ini (yang
mengesankan
sekali)malahan
ber- langsungsebelum
terjadinyakemenangan Jepang
dari Asiayang
gilang-gemilang itu terhadap Rusia dari Barat (1905)yang mengembalikan
secaramenanjak
sekali kepercayaan bangsa-bangsa
Asia (Timur)pada kemampuan
diri sendiri.Kita baik
memperhatikan dan merenungkan
isi surat-suratyang terkumpul dalam buku Door
duisternis tot licht dari Ibu Kartiniyang
disebut oleh J.S.Fur
nival (Nederlands Indie) sebagai perintispertama
dari perjuangan nasional kita,dan
kedua:karangan-karangan
dari Dr.Wahidin Sudirohusodo
da-lam majalah Retno Doemilah (dalam bahasa Jawa dan "Mela-
yu"),kedua-duanya
tertulis di sekitartahun
1900.Kedua-dua- nya mengandung
cita-cita nasional luhuryang
tidak terbataspada
pulauJawa
semata-mata. Dari Ibu Kartini tidakhanya mengenai
pendidikan semata-mata,bagaimana
pentingnya juga soal-soalitu.Dengan
lahirnyaabad XX
itu di Indonesia timbul,apa yang waktu
penulismasih
kecil(penulis lahir tanggal 28Agustus
1902) terkenal sebagai"zaman kemajuan".
Disebut demikian, karena segala-gala mulai maju: pendidikan,sampai
juga bagikaum
wanita(dibukanya
beberapa Hoofdenschool untuk
pangrehpra- ja"bumi
putra",kemudian "Sekolah Dokter Jawa"
di Jakarta, mulai diterimanyaanak-anak
darigolongan
elite kita di sekolah- sekolah Belanda,termasuk HBS dan
sebagainya), timbulnyaperkumpulan-perkumpulan yang
beberapa di antaranyakemu-
dian lambat-Iaun menjadi partai-partai politik
yang
bercorakberaneka-ragam
(agama, kesukuan, kepulauan),kepanduan dan
sebagainya.Sampai
modernisasi (secara Barat)mempengaruhi
ARTI SUMPAH PEMUDA
pakaian, mulai dengan pakaian anak-anak. Ini semua dapat terjadi setapak demi setapak karena dorongan dari hati kita sendiri, meskipun pikiran-pikiran
"kaum muda"
juga agak menggelisahkan kalangan-kalangan kita yang masih berjiwa konservatif atau feodal. Perkembangan ini dipercepat dengan masuknyaberita-beritatentangkemajuan-kemajuanyangterjadidi Eropa. Mengenai keadaan zaman permulaanjnation building kita itu penting thesis Dr. Akira Nagazumi: The
dawn
ofIndonesian Nationalism, The early years of the Budi
Utomo
1908
—
1918, Tokyo, 1972.Keadaan ekonomi kita, khususnya di Jawa tetap suram
sekali, bahkan begitu merosot, sehingga dianggap perlu untuk diadakan penyelidikan resmi tentang adanya mindere welvaart, Cultuurstelsel, landrente, erfpacht dan herendienst masih terus merajaMa, poenalesanctieuntukkuli-kuli kontrakankita berja- lan terus, meskipun ada maksud "melunakkan" sedikit-sedikit tekanan-tekanan yang disinyalir juga oleh Ibu Kartini, dengan dimulai ethische politiek (tetapi yang tidak dijalankan secara jujur).
Masih terus dipertahankan larangan mutlak (sampai 1919) untuk berserikat dan berkumpul dalam Regeringsreglement, berdampingan dengan "hak-hakexorbitant" dari gubernur-jen- dral (pembuangan secara tiga macam). Unsur-unsur rasialisme
pun terasa terdapat dalam kolonialisme Barat itu.
Akan
tetapi ajaibnya, penderitaan-penderitaan kita sebagai inlanders ma- lahanmerupakanrabuk yang sangatmenyuburkan berkembang- nya danmakin meratanyanasionalisme danrasademokrasi kitasampai berangsur-angsur meliputi seluruh Nusantara. Sehingga tepatlah apa yang dibentangkan dengan penuh keyakinan oleh Ernest Renan(1881), bahwahakekat bangsaitu intinya terdapat dalam "keinginan untuk hidup bersama" (le de'sir de vivre ensemble), meskipun ada perbedaan rasial, agama dan sebagai- nya, berdasarkan memiliki dalam sejarah nasib bersama dalam suka dan duka, lebih-lebih dalam duka. Tinggal saja pada pemimpin-pemimpinyang mengerti tentang"panggilan-zaman"
untuk menyalurkan emosi alamiahyang semakin mendalamdan
merata
tadi secara rasionil-sistematisdan mempercepat
proses-nya
ke arah tujuan-tujuan nasionalyang normal
pula, sesuaidengan yang
dikehendakizaman modern
itu.Yang
dirasakan sangat penting yaknimembina "bahasa
persatuan"untuk mempercepat dan menyempurnakan
nation- building.Oleh
sebab itu tidakmengherankan, bahwa dengan munculnya golongan pemuda yang
terdidik secaramodern menurut
standard internasional, timbullah berangsur-angsur perintis-perintis pergerakankitayang mula-mula menuju
ke arah persatuankedaerahan
(1908),kemudian
kepersatuandan
kemer-dekaan
seluruhIndonesia(1928/1945).Alhasil, segala
usaha
pihak penjajahuntuk
mengisolasi kita daripengaruh
pikiran-pikirandan
cita-cita politik universil, un- tukmembikin
kitatetap terbelakangdalam
segala-galanyayang dibutuhkan dalam
duniamodern, dan untuk memecah-belah
kita
dengan
politikdivideet-impera-nyayang dianggapnya masih
terus
ampuh
itu, segalausaha
itu akhirnyakandas semuanya.
Sikap pasif terhadap "panggilan suci" (mission sacree) dari bangsa-bangsa berkulit putih dari Barat
membalik menjadi
ketidak-percayaan terhadapmereka, bahkan semakin
naik kepercayaankepada kekuatan dan kemampuan bangsa
sendiri.Dengan
demikianlah"Kebangkitan Nasional"
kitadengan
berdirinyaBudi Utomo pada
20Mei
1908yang
diilhami olehBapak Wahidin Sudirohusodo
dibawah pimpinan murid-murid
Stoviapemuda-pemuda Sutomo dan kawan-kawan.
Itu terang tak dapat diceraikan dari,bahkan
sedikitbanyak
dipengaruhi oleh gejala-gejaladan
kejadian-kejadianyang
bersejarah di negeri-negeri lain di Asiadalam menghadapi kekuasaan
Barat, dimana
di antaranya tercatatkemenangan
besar dariJepang
terhadap Rusia di tahun 1905 tersebut. Jadi"Kebangkitan
Nasional" kita ituhanya merupakan
suatu bagian dariAwakening of
theEastyang
tidak ingin terusmerasa
ketinggalandalam perkembangan kemajuan
di duniadengan
tetap merasa-kan
kalahnyasajadengan
Baratdi segalalapangan.ARTI SUMPAH PEMUDA
Budi
Utomo
disusul dengan berdirinya perkumpulan-per- kumpulan murid-murid sekolah menengah: Tri KoroDharmo
(1915) yangkemudianmenjadi Jong Java (1918) dengan kepan- duannya, Jong Sumatra (1917) dan sebagainya. Begitu pula kemudian, perjoangan pemuda-pemuda kita yang
di sekitar tahun 20-an telah berjiwa "Kebangsaan Indone-
sia" yang
memuncak
padamalam
28 Oktober 1928 dengan '^SumpahPemuda",itupuntidak dapat dikatakanberdirisendi- n. Sebab iamerupakanjuga suatumatarantaidalam serentetan perjuanganuntuk "persatuan dan kemerdekaannasional", anti kolonialisme dan imperialisme, serta anti rasialisme di sel'uruhbenua kembar Asia dan Afrika sehabis Perang Dunia I (1914- 1918), yang juga bersifat perjuangan
umum
untuk cita-cita de- mokrasi.Hanya
karena masih kuatnya kekuasaan Belanda dan Barat padaumumnya
baru persatuan bangsa, belum kemerde- kaan, dapat dicapai, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa persatuan nasional (nasionalisme) itu merupakan syarat mutlak untuk mencapai kemerdekaan, sepertipondamen
yang harus kuatbagi sebuahbangunanyanghendak didirikan. Kemerdeka- ankita sendiri, samahalnya dengankemerdekaan banyak bang- sa-bangsaAsia danAfrika lain, baru dapatterwujudkan setelah untuk keduakalinyanama
{prestige)Barat merosot, yaknidalam Perang Dunia II (1938-1945), bagi kita setelah negeri Belanda diduduki dengan kekerasan oleh Jerman (1940) dan Indonesiaoleh Jepang (1942). Jadi baru 17 tahun kurang sedikit setelah
Sumpah Pemuda
yaknipada 17Agustus 1945. Tetapi kebetulan juga cukup lama untuk membikin persatuan kita kukuh-kuat untuk bertahan terhadap usaha Belanda, yang dibantu oleh Sekutu-sekutunya, untuk come-backgunamenjajahkitakemba-li. Juga cukup kuatguna mencegahperpecahan-perpecahandari dalam (pemberontakan
PKI
diMadiun
dansebagainya).Sebelumnya, yakni setelah berdirinya Budi Utomo, raksasa Cinapunbangkitdan menggulingkan kekuasaan Kaisar
Manchu
di bawah Sun Yat-sen dengan San-Min-Chui-nya (1911). Keja- dian inipun ikut mempercepat tempo perjuangan nasional di tanahair kita, dengan berdirinyaSarekat(Dagang) Islam (1911) dibawahHaji Samanhudi yang kemudian bernama PSI, kemu-
dianlagi
PSH (Bapak HOS Tjokroaminoto, Bapak Agus
Salim, dr.Sukiman dan
sebagainya). Tetapi juga terjadi bentrokan- bentrokan antara rakyat kitadengan penduduk Cina
di sini,yang banyak
mulaimemotong
"kucir"nya.Juga Perang
Tripoli antara Turkidan
Italia (1911)yang gambarnya
dipasang dimana-mana,
di sinimeskipun
juga dika- lahkanolehTurki,menaikkan semangat
pergerakan kita, teruta-ma yang
bercorak"agama Islam" yang
dapatpengaruh
dari pergerakan Pan-Islamisme.Tidak lama kemudian muncullah
pergerakan Insulinde— NIP
(1912) dipimpin oleh dr. TjiptoMangunkusumo. Bapak Suwardi
Suryaningrat (KiHajar Dewantoro) dan
Dr.Douwes Dekker
dibawah
panji-panji IndischNationalismedengan pengaruh
besar dari pihak golong-an kaum "Indo"
(sedikitbanyak mencontoh
Pilipina).Tetapi
khususnya
setelah terjadi PerjanjianPerdamaian
diVersailles (1919)
yang
mengakhiriPerang Dunia
Imenjadi semakin
tegaslah tuntutan bangsa-bangsa,bukan
saja diEropa
(Polandia, Tsekoslovakia, Yugoslavia
dan
sebagainya), melain-kan
jugadiAsiadan
sebagianAfrika (Mesirdan
lain-lain)untuk menentukan
secarabebas haridepannya
sendiri. Jadi bagi duniaTimur
khususnya, bebas dari kolonialismedan
imperialisme Barat,dan hidup dalam
"negara-negarakebangsaan"
{nation states) sendiriyang modern, merdeka dan
berdaulat.Sebab
rakyat-rakyatdi Asiadan
Afrikapun
ikutmendengar dan
mera- perhatikandengan seksama
seruan nyaring dari PresidenWood- row Wilson
dariAmerika
Serikat tentang"hak
bangsa-bangsa untukmenentukan
nasibnya sendiri" {rightof
national self-determination)
yang
terpakudalam "4
asas"dan "14
pasal"-nya yang
termasyur itu.Maksudnya
ialahuntuk mencapai
ketentramandan perdamaian
kekal di dunia, dimana
hinggawaktu
itudiabaikan "asaskebangsaan" yang
sesuai puladengan
tuntutandemokrasi &
keadilandan
suaranyaberkumandang sampai
pelosok-pelosokbenua Timur.
Di
mana-mana
secara revolusioner bangsa-bangsa mulaimelontarkan
pergolakan sengituntuk mencapai kemerdekaan-
ARTI SUMPAH PEMUDA
nya(kembali) secara penuh: di Turki, di Mesir, di negeri-negeri
Arablain, di India.
Dan
dengan sendirinya Indonesia pun tidak suka ketinggalan sesudah berabad-abad dan banyak kali ber- usaha untuk memerdekakan dirinya, tetapi yang selalu masih menemui kegagalan saja. (Lihat bunyi Proklamasi Kemerde- kaan danPembukaan
Undang-undangDasar'45).Jadinyatalahbahwa bukansaja "emosi" atau "sentimen", yakni keinginan untuk merdeka yang perlu terdapat pada kita|
melainkan sangat dibutuhkan pula di sampingnya pembinaan kekuatan bangsasecara rasionil sistematis dan effektif. Dengan demikian proses kepersatuan dan kemerdekaan itu dapat diper- cepat (ini adalah pendapat pula dari Bung Hatta dalam pidato pembelaannyadi
muka
hakimdiDen
Haag, 1928—
"Indonesia vrij" terdapat dalam "Verspreide Geschriften", Jakarta, 1952).Maka
ajaibnyaialah, bahwadiluarnegeri, bahkanjustru di negeriBelanda yang menjajahkitaitu,mulai disusunoleh pemu- da-pemuda kita kekuatan berupa ideologi dan program politikyang tepat untuk dilaksanakan kemudian secepat-cepatnya di
Tanah Air, termasuk
"Sumpah Pemuda"
itu, dalam mengha-dapi kekuatan pihak penjajah dengan cukup harapan akan
berhasil. Ini terjadi di kalangan perkumpulan mahasiswa-maha- siswa kita yang belajar di negeri Belanda. Perkumpulan itu didirikan sebagai Indische Vereeniging (1908, setelah berdirinya Budi Utomo), mula-mula untuk memelihara "keramah-tamah- an" saja, tetapi kemudian menjadi aktif di bidang politik dan berganti
nama
menjadi Indonesische Vereeniging (1922), dan akhirnya Perhimpunan Indonesia 1925). Tokoh-tokohnya yang menonjolyakni terutamasekaliduapemuda
Subardjo danMoh.
Hatta, yang kebetulan juga cukup lama mendapat kesempatan
belajar di sana, sehingga dapat cukup waktu untuk
memimpin
secara mental-politis (banyakdari belakang layar) perhimpunan
itu. Keadaan waktu itu tidak jauh berbeda dari yang
nampak
dalamsejarah perjuangan kemerdekaan India misalnya. Karena baikMahatma
Gandhi,maupun
Jawaharlal Nehru dan lain-lain juga menjadi "matang" pikiran-pikiran dan keyakinan politik-nyadinegeri Inggerisyang menjajah India. Ini seringkali dilupa- kan.
Sebab-sebabnya
terang:Udara
diEropa
adalah lebih bebas bagisemua
orang, juga bagi kita di sana,meskipun masih
tidak luput di sana sini darispionnage
secara kolonial dari pihak"Departement
vanKolonien
".Hubungan dengan pemuda-pemuda
dari negeri-negeri lainyang
juga berjuanguntuk kemerdekaan masih
dapat diselengga- rakandengan mudah. Rasa memberontak
timbuldengan
sendiri-nya
segera setelah timbul kesadaran tentangperbedaan
antarakedudukan warga-negara
suatu negarayang merdeka dan
ber- daulat di suatu pihakdan
sebagaikawula
(onderdaan) pemerin- tahjajahandilainpihak.Memang ada tokoh-tokoh
kita tanpa pergi ke luar negeri telah dapatmerasakan
ketidak adilandalam
perlakuan-perlaku-an
rakyatnya secara dalam.Misalnya
Ibu Kartini, dr.Wahidin
Sudirohusodo,Bapak H.O.S. Tjokroaminoto,
dr. TjiptoMa- ngunkusumo, Bapak Suwardi
Suryaningrat,Bapak Agus
Salim,Bung Karno dan
sebagainya. Tetapigolongan
iniwaktu
itumasih merupakan
pengecualian.Dalam PI
itulah tergembleng rasa nasionalnyadan
patriotisme terhadapbangsa dan Tanah
Air Indonesia sebagaikeseluruhandan
dapat timbul cepatsekali keinginanuntuk
ikut berjoang bagikemerdekaan
Indonesiaber-sama
rakyat sendiriyang
harus mencari jalannya sendiri ke arahitu.
Karena kerjasama dengan
pihak penjajah, lebih-lebihlagi dibawah
Gubernur-Jendral sepertiMr. D. Fock
(1921-1926) sesu-dah diucapkan
JSfovember-beloften (1918) nyata tidakmungkin,
berdasarkanadanya perbedaan dalam
kepentingan secara kekal(politikself-help
dan
non-koperasi).Oleh
pihakBelanda
dianggapberbahaya
sekalikhususnya
ikutsertanya wakil-wakil PI
dalam Kongres
ke-Idari"Ligamela- wan
imperialismedan
penindasan kolonial" di Brussel (Pebruari 1927), dimana mereka bertemu dengan
JawaharlalNehru dan
lain-lain.
Dengan
aktivitas-aktivitasnyasemacam
itu,khususnya
dalam
periode 1923—
1930, besardan menentukan peranan
PI terhadap jalannyasejarah pergerakannasional Indonesia, terma- suk"Sumpah Pemuda"
SUMP AH PEMUDA DI DALAM PERKEMBANGAN BUDAYA-PO-
LITIK INDONESIA 1900 — 1945
SEBUAH IKHTISAR*
Abdurrachman
SURJOMIHARDJO
SSPENGANTAR
Pertama-tamaharuslahdijelaskan.
bahwa
penuliskaranganini tidak termasuk mereka yang mengalami dan
memegang
peranan sekitar peristiwa"Sumpah Pemuda
1928". Karanganini semata-mata merupakan hasil pembacaan belaka, sehingga dalam nada dan pendekatannya akan berbeda dengan apa yang telahtertulisdidalam bukuini.
Berbagai aspek sekitar
"Sumpah
Pemuda", baik yang berupa kenangan, kesaksian serta pengalaman dalam pergerak- an, seperti diungkapkankembali oleh parasaksisertapemegang peranan, telahmampu
menghidupkan kembali "semangat jaman" itu.Dalam
bentuknya yang sekarang dapatlah dipan- dangsebagaisekelumit otobiografi merekamasing-masing, yang dalam penggolongandokumen-dokumen
sejarahtermasukbahanpenelitian bagipenulisansejarah. Nilai otobiografi, apalagiyang komprehensif, sangat besar artinya bagi ilmu pengetahuan,
"karena banyak
memuat
faktor-faktor subjektifseperti segi-segi efektif, motivasi, harapan-harapan, pengalaman serta interpre- tasi dan konseptualisasi dari individu yang bersangkutan terha- dap faktor-faktoritu.Gambaran
tentangperkembangan pribadi seseorang mencerminkan keadaan masyarakat yang mengeli-* Karangan ini pernah dimuat dalam buku 45 Tahun Sumpah Pemuda (Jakarta:
YayasanGedung-gedungBersejarah Jakarta,1974), hal.291-304
linginya, ialah
kelompok
sosialnya, struktur dari stratifikasi sosialdan
sebagainya", demikianlah seorang sejarawan terke-muka
Indonesiadewasa
inidalam menempatkan
nilai otobiogra-fi bagipenulisansejarah. 1
Karangan
ini hanyalah sekedarmerupakan
ikhtisar, suatukerangka perkembangan,
sebagai suatu carauntuk
dapat"memahami hubungan
pergerakan-pergerakankebangsaan
kitadalam
jalinan sejarah bangsa", seperti tercantumdalam
suratKetua Yayasan Gedung-gedung
Bersejarah Jakartakepada
pe- nuliskarangan
ini. 2Dalam beberapa
hal dapat diketengahkanbahan-bahan dokumenter
lain sebagaipembanding kenangan
serta
pengalaman
parapenulisbuku
peringatan ini.Tema pokok karangan
ini ialahperjuangan pemakaian
kata Indonesiadan Bahasa
Indonesia sebagai identitas bangsa, sebagai salah satu aspekperkembangan
budaya-politikpada jaman
kolonial.Uraiannya
beralaskepada
kesadarandan penghayatan
seja-rah tentang peristiwa sejarah,
yang
tidak dialami sendiri, tetapiyang
dapat diketahui melaluipembacaan
kembalikepustakaan dan bahan-bahan dokumenter.
DARI BAHASA MELAYU KE BAHASA INDONESIA
Perkembangan Bahasa Melayu menjadi Bahasa
Indonesia,yang
kinimenjadi Bahasa
Nasional Republik Indonesia, sejaklama
telahmenjadi bahan pembicaraan
luas. 3Bahasa Melayu
1 Sartono Kartodirdjo, "Metode Penggunaan Bahan Dokumen", dalam Koentjara- ningrat(red.),MetodePenelitianMasyarakat, Jakarta 1978, hal. 51-81. Lihatjuga
Louis Gottschalk, "The Historian and the Historical Document", dalam Louis Gottschalk, ClydeKluckhohn and Robert Angel, The Use ofPersonalDocuments
in History,AnthropologyandSociology, NewYork 1945. Terbitan Social Science Research Council, Bulletin no.53. Bandingkan dengan Koentjaraningrat, "Metode Penggunaan Data Pengalaman Individu", dalam Koentjaraningrat (red), op. cit., hal. 185-202.
2 PakSoediro, tertanggal30 Januari 1974
3 Periksa S.T.Alisjahbana, DariPerdjuangan dan Pertumbuhan BahasaIndonesia, Djakarta 1957.—, "The Indonesian Language, By-product of Nationalism",Pacific Affairs, XII, 1949,hal. 388—392. A.Teeuw,A CriticalSurveyofStudiesonMalay and BahasaIndonesia,'s-Gravenhagc 1961.
SUMPAH PEMUDA DALAM SEJARAH BUDAYA-POLITIK
yangaslinyamerupakanbahasakelompoksuku-bangsadikepu- lauan Indonesia, telah menjadi bahasa perdagangan pada masa
lalu di pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia. Di samping
itu dipergunakan dalam penyebaran
agama
Islam dan Kristen.Pertentangan-pertentangan setempat, yang timbul berhu- bung dengan kedatangan pedagang-pedagang Belanda dan ber- akhir dengan perjanjian-perjanjian dagang
maupun
politikbanyak yang menggunakanbahasa Melayu di samping bahasa Belanda.
Sekolah-sekolah bumiputra yang kemudian didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada mulanya direncanakan untuk memakaibahasaMelayu sebagai bahasapengantar. Tetapisejak awalabad
ke-XX
kepentingandaerahjajahan,yangmemerlukan tenaga-tenagarendahan yangmengerti bahasa Belanaa mengge-ser kedudukan bahasa Melayu. Di kota-kota sekolah lebih banyak mengajarkan BahasaBelanda.i
.
Sebaliknya perkembangan sosial di kota-kota
menumbuh-
kan kelompok elite baru yang amat peka terhadap perubahan.Tanda-tanda pertama kepekaan terhadap perubahan itu dapat dilihat dengan lahirnya organisasi bercorak politik yang menci- ta-citakan kemajuan dan kemerdekaan bangsa, seperti Budi Utomo,Sarekat IslamdanIndischePartij. 2
1 I.J. Brugmans, Geschiedenis van het Onderwijs in Nederlandsch-Indie, Batavia- Groningen1938
2 Mengenaikecenderungan pemikiran parapemimpinBudiUtomotentangpolitikdan kebudayaan sampai tahun 1918, lihat studi Dr. Akira Nagazumi, The Dawn of IndonesianNationalism. TheEarlyYearsoftheBudi Utomo, 1908
—
1918, Tokyo1972.KhususmengenaikegiatanparapelajardiJakartadanberita-beritapersmen- jelang20Mei 1908sampaiKongresBUyang pertama,lihatAbdurrachman Surjo- mihardjo, "Budi Utomo Cabang Betawi", Budaya Djaja, 62 (Juli) 1973, hal.
399—442. MengenaiSarekat Islam,lihatDeliarNoer, TheModernistMuslimMove- ment in Indonesia, 1900—1942, Singapore-Kuala Lumpur 1973, hal. 343—346.
Sartono Kartodirdjo telah merekonstruksi kegiatan S.I. lokal, di mana massa
Sangat
menarik untuk
dicatat laianmengenai bahasa yang dipergunakan
didalam
kongres-kongresmaupun
publikasi orga- nisasi itu.Budi Utomo mempergunakan bahasa
Belanda,Jawa dan Melayu. Demikian
juga Indische Partij,mula-mula meng- gunakan bahasa Belanda dan Melayu, kemudian
setelahmenjadi
Nationale IndischePartij, jugabahasa Jawa dalam
surat kabar- nya.Seorang
wakil pelajar Indonesia di Nederland,yang
telah aktifdalam gerakan
nasional,dalam
kongres Indonesisch Ver-bond
van Studeerenden (Perserikatan Pelajar Indonesia)pada tahun
1918 diWageningen
telahmengusulkan
agarbahasa Melayu
dipakai sebagaibahasa
pengantar di sekolah-sekolah Indonesia. 1Majalah
pelajar-pelajar Indonesia diNederland
berjudulHindia
Poetra, tetapi isinyadalam bahasa
Belanda.pengikut S.L bergerak. Lihat karangannya Protest Movements in Rural Java, Singapore-Kuala Lumpur 1973, hal. 142—185. Kedua studi itu mempergunakan
surat-surat kabardandokumenpemerintah sebagaisumber. Dokumen pemerintah Hindia Belanda, terutama yang mengenai kegiatan para pemimpin S.I., terdapat dalampenerbitansumber yangdikerjakanoleh S.L.vanderWal(ed.),DeVolksraad endeStaatkundige Ontwikkeling van Nederlandsch-Indie, Eerstestuk(1981-1926),
Tweede Stuk (1927—1942), Groningen 1965. (selanjutnya S.L. van der Wal, De
Volksraad....). JugaS.L., vanderWal (ed)., DeOpkomstvan deNationalistische BeweginginNederlands-Indie, Groningen 1967 (selanjutnya S.L. vanderWal, De Opkomst ...) Indische Partij adalah organisasi golongan Indo (Eurasia) yang berhasilmenarik sekelompok cendekiawanIndonesiayangmemiliki kecenderungan
politik yang kuat dan radikal. Dokumen-dokumen Hindia Belanda mengenai Indische Partijtermuat secara luas dalam S.L. van der Wal, De Opkomst ...
passim. Penerbitan LP. dipakai dalamstudi P.W. van der Veur, Introduction toa socio-politicalstudyoftheEurasiansofIndonesia, Ph.
D
. ThesisCornell Univer- sity1956.Dalambentukxerografikini tersimpandalamPerpustakaanLRKN-LIPI,Jakarta.KoleksiPerpustakaanMuseumPusatmengenaipenerbitan IPtelahpuladi-
pergunakanpenuliskaranganini.Lihatcatatan (2)dibawah.
2 Lihat Indieinde NederlandscheStudentenwereld. Verslag van hetEerste Congres vanhet"Indonesisch Verbondvan Studerenden", gehoudente Wageningen op den 29sten, 30sten en 31 stenAugustus 1918. Den Haag 1918. Laporan Kongres itu diterbitkan olehIndonesisch Persbureauyangdipimpin olehSuwardi Surjaningrat.
Ikhtisarpembicaraan mengenaibahasa pengantardalamkongresitu terdapatdalam Abdurrachman Surjomihardjo, "Suatu analisa cita-cita dan tindak perbuatan nasional revolusioncr Suwardi Surjaningrat, 1913—1922", dalam Medan Ilmu Pengetahuan,III(April) 1962, hal.476
—
480.TerjemahanbahasaInggris terdapatdidalam MadjalahIlmu-ilmuSastra Indonesia, III, 1964, hal.371
—
406.SUMPAH PEMUDA DALAM SEJARAH BUDAYA-POLITIK
DiIndonesiasendiri perkembangan pers berbahasa Melayu
dinilai sangat penting peranannya, karena pers itu dapat lang- sungmencapaipembaca penduduk bumiputra, golongan pendu- duk yang terbanyak jumlahnya di samping golongan Belanda dan Tionghoa. Pada mulanya pers
bahwa
Melayu itu adalah milik modalBelanda dan Tionghoa, tetapi tidakjarang redaksi- nya merupakan campuran.Umumnya
ada guru bahasa Melayu yang duduk dalam redaksi, demikian juga pembentu-penulis suratkabar. Peranan pers bahasa Melayu itu menjadi perhatian dua pengarang pertama tentang pers Indonesia, yang menulis dalmtahun 1909. 1Sebuah mingguan, yang kemudian menjadi harian,
Medan
Prijaji (1907
—
1912), merupakan penerbitan yang terpentingdalamrangkaianperkembanganawalpersIndonesia. Bukansaja karena modal dan penerbitnya adalah orang Indonesia, tetapi
nada isinya yang jelas menunjukkan kesadaran penggunaan bahasa Melayu sebagai media untuk
membentuk
pendapatumum
mengenai berbagai-persoalan masyarakat dewasa itu.Pemimpinnya R.M. Tirtohadisurjo, kemudian diserahi tugas untuk
memimpin
surat kabar Sarekat Islam yang pertama dan terkemuka, yaituSarotama(1914).1 E.F.E. Douwes Dekker, "The Press", dalam Arnold Wright and T. Breakspear (eds), TwentiethCentury ImpressionsofNetherlands-India London-Batavia 1909, hal.261—268.A. Cabation, "LaPresse indigeneauxIndes Neerlandaises",dalam RevueduMondemusulman,VII, 1909,hal.485-490.Penyusunpertamasejarahsu- ratkabarIndonesiaialahSudarjo Tjokrosisworo(ed.),KenanganSekilasSedjarah Perdjuangan Pers Sebangsa, Djakarta1958. PersIndonesia-Tionghwa, yangmeng- gunakan bahasaMelayu Pasar, kedudukandan peranannyadi tengah-tengah per- kembangan bangsaIndonesia, terdapatdalam uraian Kwee Kek Beng, "De Chi- neesche Pers in Nederlandsch-Indi'e", dalam KolonialeStudien, 9jrg. 1935, hal.
194
—
224.LihatjugaotobiografiKweeKekBeng.Doeapoeloeh lima tahoensebagai wartawan,Batavia 1948. Suatustudipendahuluanyang menyeluruhterdapatdalam Liauw Kian Djoe (Leo Suryadinata), Pers Indonesia Tionghwa dan Pergerakan Kemerdekaan(1901—
1942).SkripsiSarjanaJurusanSejarah. Fakultas Sastra U.I.1965. Juga dalam Leo Suryadinata, The Pre-World War II Peranakan-Chinese Pressof Java ,OhioUniversityCenterforInternationalStudies 1971.
Sejak
tahun
1923 elitebaru yang
terdiri darimahasiswa
Indonesia diNederland memimpin dan mengarahkan
idea Indo-nesia sebagai pengertianpolitik
dan
identitas bangsa. Organisasimereka
bergantinama menjadi Perhimpunan
Indonesiadan majalahnya bernama
IndonesiaMerdeka.
iKata
Indonesiayang
semula dikenalmereka dalam kepustakaan
etnologi, ditingkat-kan
sebagai identitas mereka. Sebagai kelanjutan idea identitas Indonesia itu,maka
di Indonesiapada tahun
1927 didirikan PartaiNasional Indonesia. Darinamanya
sajasudah merupakan
identitas politik baru,
yang
mengatasi pengertiandan
batas-batassuku bangsa
diIndonesia. 2Elite Indonesia baru,
yang semula hanya
pandaibahasa
daerahdan bahasa
Belanda, melihatkemungkinan pemakaian bahasa Melayu
sebagai alatkomunikasi
politik.Hal
inipun secarabersamaan
disadaridan
diketahuiakan bahayanya
oleh pejabat-pejabatHindia
Belanda.1 Terbit dalam bahasa Belanda, tetapi sejak tahun 1927 telah ada karangan dalam bahasaIndonesia. Pernahpulaterbitdalam bahasa Indonesia,tetapi hanya sampai lima nomor. Mengenai PerhimpunanIndonesia dan peranannyadalam pergerakan nasional,periksaMohammadHatta, VerspreideGeschriften, Djakarta-Amsterdam- Surabaia 1952; dan Kumpulan Karangan, I-II, Djakarta-Amsterdam-Surabaia 1953. Lihat juga Gedenkboek Indonesische Vereeniging 1908
—
1923; JubileumNummerPerhimpoenanIndonesia 1908
—
1938. Sangatmenarik untukdiperhatikan ialah karangan-karangan Suwardi Surjaningrat, "De Indische Vereeniging. een RadicaleHervorming, 1908—1918", di dalamDeBeweging, 29 Maart 1919, Noto Soeroto, "DeEerste organisatievan Indonesiers in Nederland". IndischeGids, LI, 1929; hal. 238—
242. Suatu rekonstruksi sejarah berdasarkan pengalaman sendiri danpembacaansumber-sumbertelahdibuatolehProf. SoenarioS.H.Perhimpunan IndonesiadanPeranannya dalam PerjuanganKemerdekaankita, kertas-kerja pada Seminar Sedjarah Nasional II, 26—
29Agustus 1970di Yogyakarta. JugaAchmad Subardjo Djoyoadisuryo, "Kenang-kenangan akan Saudara Mohammad Hatta", dalam buku Bung Hatta Mengabdi pada cita-cita perdjuangan bangsa, Djakarta 1972, hal. 117—138.2 DavidJoelSteinbergdanlain-lain, InSearch ofSoutheastAsia.
A
ModernHistory,NewYork 1971, hal.296.MengenaiPNIdan perkembangannyaperiksa studiBern- hard Dahm, SukarnosKampfurn Indonesiens Unabhiingigkeit. Werdegang Und/
Ideen eines asiatischen Nationalisten (Perjuangan Sukarno untuk kemerdekaan Indonesia. Asalmula dan gagasan seorang nasionalis Asia), Frankfurt am Main- Berlin 1966. Buku Dahmini telah terbitdalamterjemahan bahasa Belanda (Meppel
t.t.)danInggris (Ithaca, 1969). Bukuini sangatpentingsebagaipembandingotobio- grafi Ir.Sukarno,sepertitelahdikisahkan kepadaNy. CindyAdams, yangpenyaji- annya banyakmcngandungkesalahan-kesalahan.
SUMPAH PEMUDA DALAM SEJARAH BUDAYA-POLITIK
BanyaknyakasuspersdelictdimasaHindiaBelanda,larang- an terbit bagi brosur dan pers antara lain karena disadari bahayanya pengaruh tulisan dalam bahasa Melayu dalam pers itusegeradapatdipahamiolehpendudukbumiputra.
Suatu contoh yang terkenal dan diketahui
umum
ialah ter- bitnya risaJahA
Is ik eens Nederlander was di dalam bahasa Belanda dan Melayu pada tahun 1913, yang segera dilarang untuk diedarkan. Risalah ituditerbitkan untukmengecam
pera- yaanseratustahunkemerdekaan Nederland (darijajahan Peran-cis), yang akan diadakan di Indonesia (yang masih dijajah
Belanda).
Demikianlah beberapa peristiwa sebelum diadakannya Kongres
Pemuda
Indonesiake-II diJakarta.GEMA "SUMPAH PEMUDA INDONESIA RAYA"
Dalam
hubungankarangan ini, keputusan KongresPemuda
ke-II itu,
bahwa "Kami
putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia" merupakan perumusan yangtepatsekalidarikesadaranyangsecaralambat berkembang padatahun-tahun sebelumnya.Sejak itupenggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai ke- sempatan sejalan dengan kesadaran identitas Indonesia. Latar- belakangbudaya dan sosialpemakai bahasaitu tercermin dalam karangan-karangan mereka. Karya Sastra Indonesia sebagai hasil "arsitek-arsitek bahasa Indonesia", baik sebagai terbitan BalaiPustaka
maupun
diluarnyamenuju ke arah kesempurnaan penggunaan Bahasa Indonesia. Poedjangga Baroe yang terbit sejak tahun 1933 merupakan cermin kegiatan intelektuil elitebaru dan dengan sadar menggunakan BahasaIndonesia sebagai alat komunikasi modern di tengah-tengah perkembangan ilmu dan teknologi. •
1 Mengenai karya sastra Indonesia modern, lihat karangan-karangan Alisjahbana, Armijn Pane dan H.B. Jassin. Bibliografi karya mereka terdapat dalam buku A.
Teeuw,ModernIndonesianLiterature, TheHague 1967. Jugadalam Ajip Rosidi, IchtisarSedjarahSastra Indonesia,Bandung1969,hal.224—238.