• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISA SISTEM BERJALAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III ANALISA SISTEM BERJALAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

42

ANALISA SISTEM BERJALAN

3.1 Tinjauan Perusahaan

Perusahaan adalah merupakan suatu sistem yang bersifat fisik yang dikelola dengan menggunakan suatu sistem konseptual atau informasi. Tinjauan perusahaan merupakan hal-hal mengenai sejarah terbentuknya perusahaan. Struktur organisasi serta fungsi dari stuktur organisasi tersebut.

3.1.1 Sejarah Perusahaan

R.S Kodiklat TNI AD merupakan pelaksana yang berkedudukan langsung dibawah kodiklat TNI AD, dengan tugas pokok membina serta melaksanakan pendidikan kecabangan kesehatan yang meliputi pendidikan pembentukan, pendidikan pengembangan umum, pendidikan pengembangan spesialisasi, pendidikan peralihan dan pendidikan – pendidikan lain yang di tentukan oleh satuan atas serta melaksanakan penelitian, pengembangan pendidikan dan pengajaran kesehatan.

Sejarah terbentuknya cikal bakal RS Kodiklat TNI AD secara de vacto bisa dikatakan dimulai pada pertengahan tahun 1951, melalui pendidikan calon Intruktur Kesehatan Lapangan/ Militer yang diambil dari DKT Teritorial. Dalam kurun waktu tahun 1951 sampai dengan sekarang Pusdikkes Kodiklat TNI AD telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan situasi dan kondisi TNI AD saat itu. Walaupun telah

(2)

terjadi beberapa kali perubahan status organisasi, mulai dari terbentuknya sampai saat ini, RS Kodiklat TNI AD tetap dapat melaksanakan tugas pokoknya dengan baik.

1. Latar Belakang

Pendidikan dan latihan kesehatan merupakan suatu upaya jaminan terlaksananya tugas-tugas perawatan di rumah-rumah sakit serta pemeliharaan kesehatan, bagi personel TNI AD yang berdaya guna dan berhasil guna. Jawatan Kesehatan Tentara Angkatan Darat telah terbentuk sejak akhir tahun 1945, dengan tenaga-tenaga kesehatan yang secara sukarela terjun dalam kancah perjuangan suci mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Bangsa Indonesia, baik para dokter, jururawat, maupun prajurit kesehatannya.

Corak ragam, tingkatan dan kemampuan tenaga-tenaga sukarela tersebut berbeda-beda. Ada yang berpengalaman dalam Tentara Pembela Tanah Air (PETA), ada yang memperoleh pengalaman dalam kesehatan Tentara Koningkelijke Nederlands Indische (KNIL), dalam kesehatan Hei Ho (tentara Jepang), dalam kesehatan Rakyat dan tidak sedikit mereka yang belum berpengalaman ataupun belum pernah mendapat latihan sama sekali. Kesamaannya mereka terletak pada "satu hasrat dan satu tekad". untuk menyumbangkan tenaga dan membaktikan diri sebaik- baiknya mengikuti perjuangan dalam Tentara Nasional Indonesia. Pembentukan Kesatuan-kesatuan Kesehatan di Resimen-resimen yang anggotanya dilatih secara praktis menurut pandangan dan pengetahuan dokter Resimen masing-masing sebagai bekal menjalankan tugas di garis depan dan Rumah Sakit Darurat.

Dalam rapat dokter-dokter Divisi di Solo pada tahun 1946 telah dikemukakan suatu pokok acara untuk mengusahakan persamaan dalam pendidikan

(3)

dan latihan bagi tenaga-tenaga DK-AD/ Kesehatan Tentara agar seluruh DKT setaraf mutunya. Dari hasil rapat tersebut lahirlah sebuah Panitia Pendidikan dengan anggota-anggotanya antara lain:

a. Mayor dr. Soemarno Sosroatmodjo - Kepala RST Malang.

b. Letkol dr. Satrlo - dokter Divisi Banten.

Panitia belum sempat bekerja sesuai apa yang direncanakan, telah diobrak- abrik oleh clash-clash dengan tentara Belanda sehingga koordinasi yang dimaksudkan tertunda hampir selama 5 tahun. Didalam medio tahun 1950 setelah pengoperan

"Lager Hospital" menjadi RSTP (RSPAD sekarang) di Jakarta, yang pertama dilakukan adalah pembukaan pendidikan jururawat/ perawat dan bidan, termasuk dirumah-rumah Sakit Tentara di daerah. Sementara itu dipikirkan pula perlu diadakannya pendidikan/ sekolah spesifik kesehatan militer, yang dapat menjamin pengembangan kemampuan satuan-satuan kesehatan dimedan tempur.

Sejalan dengan upaya kegiatan pendidikan di rumah – rumah sakit tentara yang khusus mendidik para jururawat, perawat dan bidan, serta sebagai realisasi pemikiran Staf Djawatan Kesehatan Tentara (DKT – AD) untuk segera melaksanakan pendidikan yang spesifik militer, maka pada pertengahan tahun 1951, dimulai pendidikan calon Intruktur Kesehatan Lapangan/ Militer yang diambil dari DKT Teritorial. Untuk pertama kali baru diikuti oleh 7 orang Pa/ Ba dengan tempat pendidikan di ruang bawah Markas DKT – AD Jalan dr. Abdulrachman Saleh, Jakarta. Kepala DKT – AD menunjuk beberapa dokter Tentara/ Sipil sebagai guru, instruktur diantaranya ialah : Letkol dr. Eri Soedewo, Mayor dr. Harnopidjati, Kapten dr. Frans Pattiasina dan dr. Zainal Abidin.

(4)

Setelah beberapa bulan menerima pendidikan tambahan materi kesehatan lapangan (Keslap) dan kesehatan militer (Kesmil), beberapa orang dari tujuh orang peserta pelatihan yang terpilih, diperintahkan untuk melanjutkan pendidiikan ke Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat di Bandung yang kemudian menghasilkan dua orang tenaga instruktur kesehatan sabagai inti, yaitu: Letda Soetomo dan Capa Samudji. Kepada kedua personel tersebut kemudian Pimpinan DKT–AD memberikan tugas sebagaii pimpinan sekolah.Mula – mula sekolah diselenggarakan dengan nama

“ Sekolah Bintara Ulangan Kesehatan Lapangan “, dimana dalam rangka pelaksanaan kegiatan pendidikan, mendapat bantuan tenaga dari Misi Militer Belanda.

2. Pemrakarsa

Pendidikan dan Latihan secara Intensif dan terpusat ditangani dan dibina dengan baik demi pembangunan Djawatan Kesehatan Tentara. Dalam rangka pembangunan personel/ tenaga DKT – AD selain dibukanya kesempatan bagi para ex mahasiswa Ika Dai Gakku, maka Pimpinan Kesehatan Tentara segera merencanakan Pendidkan dan Latihan sesuai dengan kebutuhan Organisasi Militer modern. Maka Pendidikan Kesehatan Lapangan segera ditangani secara :

a. SentraI ( dibawah koordinasi Pusat ).

b. Lebih teratur dan di programkan.

c. Sistematis dan terarah.

d. Seragam dan bertingkat ( TA, BA, PA ).

e. Dengan memperoleh tenaga – tenaga pengajar, sarana dan fasilitaspendidikan ( termasuk biaya ) yang semakin meningkat dan diprogramkan pula.

(5)

Guna terus meningkatkan dan memperluas kegiatan dibidang pendidikan Keslap, pendidikan/ latihan bagi para pelatihpun mendapat perhatian dan bimbingan secara kusus, sehingga pada tanggal 15 Januari 1953 keluarlah surat keputusan KASAD Nomor : 5/KASAD/KPTS/53 tentang adanya sekolah pelatih Kesehatan.

Kemudian untuk menegakan kewibawaan instruktur – instruktur dan guru – guru pada sekolah militer DKT – AD serta untuk memperlancar pencapaian tujuan pendidikan, pada tanggal 25 Maret 1953 keluarlah surat keputusan KASAD Nomor : 48/KASAD/KPTS/53 tentang lencana untuk instruktur dan guru pada sekolah militer di lingkungan DKT – AD.

3. Kapan Dibentuk

Dengan keluarnya surat keputusan Kasad No. Kpts No-0-5, menyangkut pendidikan – pendidikan di lingkungan Angkatan Darat bahwa semua lembaga pendidikan kecabangan yang bersifat militer termasuk militer medis harus dibina oleh Inspektorat Pendidikan Latihan ( Idjen PL ) / Koplat. Sejak itu sebutan PPKL – AD berubah menjadi Resimen Induk Kesehatan ( Rinkes ), dan pengembangan personel baik tenaga staf maupun pelatih – pelatihnya mendapat tambahan dari Jankesad dan Koplat. Untuk dapat menyelengarakan pendidikan dan latihan Kesehatan Militer ( Kesehatan lapangan ) yang lebih teratur dan modern, maka Pimpinan DKT – AD terhitung mulai tanggal 9 Februari 1952 meresmikan “ Lembaga Pendidikan Kesehatan Angkatan Darat “ dengan nama “ Pusat Pendidikan Kesehatan Lapangan Angkatan Darat “ disingkat PPKL – AD di Cililitan Jakarta. Hal ini didasarkan pada Skep KASAD Nomor 074/KASAD/KPTS/II/1952 tanggal 9 Februari 1952., yang kemudian dijadikan Hari lahirnya PUSDIKKES yang diperingati setiap tahun.

(6)

Pimpinan PPKL – AD pertama kali disebut sebagai Direktur, dengan pejabat pertamanya Letkol dr. EE. Pelamonia kemudian diganti oleh Mayor dr.

Sadjiman Atmosudigdo ( Pensiun Brigjen TNI ). Selanjutnya dengan keluarnya Skep MEN/PANGAB No. KPTS/ 073/3/1963 disamping melanjutkan pendidikan – pendidikan yang bersifat regular dan pembentukan, Rinkes juga menyelenggarakan latihan – latihan bagi tenaga sukarelawan/ wati Trikora dan Dwikora dan berdasarkan Sprin Menpangab Nomor 347/1963 tanggal 6 Juni 1963, Rinkes berubah menjadi Pusat Pendidikan Kesehatan Angkatan Darat yang secara administratif dan taktis berada dibawah jawatan Kesehatan Angkatan Darat.

4. Organisasi

Dalam rangka reorganisasi ABRI, termasuk reorganisasi Angkatan Darat khususnya organisasi Kesehatan Angkatan Darat yang baru dengan sebutan Pusat Kesehatan Angkatan Darat dibawah Kobangdiklat, sedangkan Pusdikkes administrasi dan organik berada dibawah Pusat Kesehatan Angkatan Darat. Dan selanjutnya berdasarkan keputusan KASAD Nomor 123/1971 tanggal 12 Maret 1971, Pusdikkes berubah menjadi Pusat Pendidikan Kesehatan Lapangan yang secara administratif dan taktis berada dibawah Puskesad. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 69 tahun 1971, Pusdikkeslap berubah menjadi Pusdikkes TNI AD dan berada dibawah Pusat Kesehatan Kobangdiklat TNI AD.

Selanjutnya pada tanggal 30 Nopember 1978, Puskes Kobangdiklat TNI AD bergabung dengan Jankesad, Pusdikkes TNI AD secara taktis administratif tetap berada dibawah Kobangdiklat TNI AD dengan sebutan Pusdikkes Kobangdiklat.

Berdasarkan Surat Telegram Kasad Nomor : 552/1985 tanggal 9 september 1985 dan

(7)

Surat Perintah Danjen Kobangdiklat TNI AD Nomor : Sprin/1730/IX/1985 Pusdikkes TNI AD secara taktis administratif kembali berada dibawah Ditkesad dengan sebutan Pusdikkes Ditkesad. Selanjutnya berdasarkan Surat Perintah Kasad Nomor : Sprin/

53/I/1999 tanggal 13 Januari 1999, tentang pelaksaan pengorganikan 7 ( tujuh ) Pusdikcab TNI kedalam Kodiklat TNI AD, maka Pusdikkes secara taktis administratif kembali berada dibawah Kodiklat TNI AD. Dalam pelaksaan tugasnya berdasarkan Surat Keputusan Kasad No: Kep/ 47/ X/ 2005 tanggal 27 September 2005, tentang Struktur organisasi Pusdikkes Kodiklat TNI AD.

5. Visi

Menjadi Rumah Sakit pilihan utama dan kebanggaan prajurit, PNS dan keluarganya serta masyarakat Jakarta.

6. Misi

a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada prajurit, PNS dan keluargannya secara professional, manusiawi dengan perasaan aman dan nyaman.

b. Memanfaatkan kapasitas lebih rumah sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum secara professional dengan memperhatikan aspek social, ekonomi dan dengan biaya yang terjangkau.

c. Menyelenggarakan fungsi pendidikan, penelitian dan pengembangan kesehatan yang seimbang, komprehensif dan terintregasi.

d. Meningkatkan sumber daya manusia agar memiliki kemampuan yang professional, guna meningkatkan mutu dan citra rumah sakit.

(8)

e. Meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota rumah sakit dan pihak yang terkait.

3.1.2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan tata kerja, tugas atau wewenang guna mengatur guna mengatur berbagai pekerjaan untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi sangat diperlukan untuk dapat mengetahui secara jelas bagaimana hubungan antara unit-unit yang terdapat dalam organisasi tersebut.

Bentuk struktur organisasi yang dipakai pada RS. Kodiklat TNI AD Jakarta adalah berbentuk lini atau garis. Disini penulis tidak memperinci secara detail dari seluruh struktur organisasi atau perusahaan, penulis hanya menerangkan struktur organisasi pada bagian Sistem penerimaan pegawai harian lepas pada RS. Kodiklat TNI AD Jakarta.

Sumber : Bintara Tinggi Tata Usaha Urusan Dalam (BATITUUD) Gambar III.1 Struktur Organisasi Rumah Sakit

Sub Yanmed

Kaur Rumkit

Sub Diklat

Batituud Sub Dinas

KARUMKIT

(9)

Tugas dan wewenang masing-masing jabatannya menurut struktur organisasi pada RS. Kodiklat TNI AD Jakarta adalah sebagai berikut :

1. Karumkit

a. Memimpin kegiatan rumah sakit atas pemberian arah dan petunjuk kepada staff untuk bersama-sama menentukan arah dan tujuan, menetapkan sasaran, merencanakan, melaksanakan rencana kerja dan menilai pekerjaan.

b. Menetapkan kebijakan dibidang medis dalam hal pengobatan dan rehabilitas medis.

2. Kaur Rumkit

Kaur Rumkit bertugas untuk mempertanggungjawabkan atas koordinasi dari segala kegiatan dalam ruang lingkup yang dilayani oleh rumah sakit.

3. Batituud

Mengembangkan sistem perencanaan dan pengendalian kebijakan pegawai serta melaksanakan kebutuhan administrasi kepegawaian.

4. Sub Diklat

a. Melakukan pengajuan anggaran dana penerimaan dan pengeluaran secara periodik.

b. Melakukan penelitian, penilaian, dan pengendalian dana secara utuh tepat pada waktunya.

5. Sub Yanmed

Sub Yanmed bertugas untuk membuat perencanaan kebijakan dalam urusan pelayanan medis.

(10)

6. Sub Dinas

Sub Dinas bertugas membuat perancangan teknis ataupun non teknis yang dibutuhkan kemudian diajukan kepada pimpinan rumah sakit untuk mendapatkan persetujuan.

3.2. Prosedur Sistem Berjalan

Prosedur sistem berjalan yang diambil pada RS. Kodiklat TNI AD adalah sistem penerimaan pegawai baru diawali dengan pengumuman melalu media elektronik secara umum dan melewati proses sebagai berikut :

1. Penyerahan Berkas

Didalam proses ini calon pegawai baru menyerahkan CV ke bagian Batituud, kemudian bagian Batituud mengecek kelengkapan data dari calon pegawai baru setelah lengkap dan masuk ke dalam kriteria yang di butuhkan, maka calon pegawai baru memasuki ruang test dan mendapatkan no test yg di sesuaikan dengan tempat duduk peserta test.

2. Test

Setelah calon pegawai baru memasuki ruang test dan mendapatkan no test yg di sesuaikan dengan tempat duduk peserta test, Kemudian calon pegawai baru mengikuti proses test, dimana proses test tersebut meliputi test tertulis dan test praktek. Test praktek yang dimaksud adalah masa Pra-Orientasi, dimana calon pegawai baru di test praktek sesuai dengan bidang atau bagian yang dibutuhkan.

Bagi calon pegawai baru yang berkompeten atau lulus dalam test praktek maka

(11)

Batituud akan membuatkan jadwal orientasi dan memberikannya kepada calon pegawai baru.

3. Orientasi

Setelah pegawai baru mendapatkan jadwal orientasi maka pegawai baru hadir dan membawa jadwal orientasi pada tanggal yang telah di tentukan didalam jadwal tersebut untuk mendapatkan kartu pengenal, serta penandatanganan surat kontrak kerja, setelah itu pegawai baru mengikuti proses orientasi, dimana masa orientasi tersebut dilakukan selama satu bulan.

4. Pembuatan Laporan

Berdasarkan seluruh rangkaian test tersebut Batituud membuatkan laporan hasil test dan laporan data pegawai baru untuk selanjutnya diberitahukan kepada Karumkit bahwa nama-nama tersebut telah menjadi pegawai Harian Lepas RS.

Kodiklat TNI AD Jakarta.

3.3. Diagram Alir Data ( DAD ) Sistem Berjalan.

Diagram alir data dimaksudkan untuk memperjelas dan menggambarkan secara nyata juga mempermudah untuk memahami sistem. Diagram alir sistem berjalan pada RS. Kodiklat TNI AD adalah sebagai berikut :

(12)

JO + SKK + Kartu Pengenal Laporan_Hasil_Test + Laporan_Data_Pegawai_Baru

Kartu_Pengenal + JO

DCPHL

Ket :

Karumkit = Kepala Rumah Sakit

Batituud = Bintara Tinggi Tata Usaha Urusan Dalam

CV = Curriculum Vitae

DCPHL = Dokumen Calon Pegawai Harian Lepas JO = Jadwal Orientasi

SKK = Surat Kontrak Kerja

Gambar III.2 Diagram Konteks Sistem Berjalan

Laporan_Hasil_Test + Laporan _Data_Pegawai_Baru CV

Perancangan Sistem Informasi Penerimaan Pegawai

Harian Lepas Pada Rumah Sakit

Kodiklat TNI AD Jakarta Calon

Pegawai Harian

Lepas

Karumkit Batituud

(13)

CV

DCPHL DCPHL

DPHL

DPHL

Hasil_Test Hasil_Test Hasil_Test

SKK_ACC

Kartu Pengenal

Hasil_Test JO JO

JO

Laporan_Hasil_Test + Laporan _Data_Pegawai_Baru

ds

Ket :

CV = Curriculum Vitae

DCPHL = Dokumen Calon Pegawai Harian Lepas DPHL = Dokumen Pegawai Harian Lepas SKK = Surat Kontrak Kerja

JO = Jadwal Orientasi

Gambar III.3 Diagram Nol Sistem Berjalan

4.0

Pembuatan Laporan

Karumkit

Arsip Hasil_Test

Arsip_DPHL

Calon Pegawai

Baru

1.0

Penyerahan Berkas

2.0

Test

3.0

Orientasi

Arsip_

DCPHL

Batituud

Arsip SKK_ACC

(14)

CV

DCPHL

Ket :

CV = Curriculum Vitae

DCPHL = Dokumen Calon Pegawai Harian Lepas

Gambar III.4

Diagram Detail 1.0 Sistem Berjalan Proses Penyerahan Berkas Calon

Pegawai Harian

Lepas

1.1

Verifikasi Data

Arsip_

DCPHL

(15)

DCPHL Hasil_Test

DCPHL

JO JO

Ket :

DCPHL = Dokumen Calon Pegawai Harian Lepas JO = Jadwal Orientasi

Gambar III.5

Diagram Detail 2.0 Sistem Berjalan Proses Test

Batituud

2.1

Test Tertulis + Test Praktek Arsip_DCPHL

2.2

Penyerahan Jadwal Orientasi

Calon Pegawai

Harian Lepas

(16)

DPHL

Hasil_Test Hasil_Test

Hasil_Test SKK_ACC

SKK

Kartu_Pengenal

SKK_ACC JO

Ket :

SKK = Surat Kontrak Kerja

DPHL = Dokumen Pegawai Harian Lepas JO = Jadwal Orientasi

Gambar III.6

Diagram Detail 3.0 Sistem Berjalan Proses Orientasi

3.1

Masa Orientasi

3.2

Tanda Tangan Kontrak Kerja

Arsip_

DPHL

Calon Pegawai

Harian Lepas Batituud

Arsip_

SKK_ACC

3.3

Penyerahan Kartu Pengenal

(17)

Hasil_Test

DPHL

Hasil_Test + DPHL

Laporan_Hasil_Test +

Laporan _Data_Pegawai_Harian Lepas

Ket :

DPHL = Dokumen Pegawai Harian Lepas Gambar III.7

Diagram Detail 4.0 Sistem Berjalan Pembuatan Laporan

4.1

Buku Arsip

4.2

Penyerahan Laporan Arsip_

DPHL Arsip_

Hasil Test

Karumkit

(18)

3.4. Spesifikasi Dokumen Sistem Berjalan

Karena banyaknya proses yang ada di RS. Kodiklat TNI AD Jakarta maka penulis hanya membatasi sistem penerimaan pegawai harian lepas. Spesifikasi sistem berjalan merupakan pembahasan mengenai bentuk dokumen yang mempunyai peranan dalam proses penerimaan pegawai baru pada RS. Kodiklat TNI AD.

3.4.1. Spesifikasi Bentuk Dokumen Masukan

Dokumen input atau dokumen masukan adalah segala bentuk dokumen masukan baik berasal dari lingkungan dalam maupun lingkungan luar. Adapun dokumen input tersebut adalah :

Nama Dokumen : CV

Fungsi : Untuk mendaftar diri sebagai calon pegawai harian lepas

Sumber : Calon pegawai harian lepas

Tujuan : Batituud

Media : Kertas Cetakan

Frekuensi : Setiap diadakan penerimaan pegawai harian lepas

Jumlah : Satu Berkas

Bentuk : Lampiran A-1

3.4.2. Spesifikasi Bentuk Dokumen Keluaran

Dokumen Output atau dokumen keluaran adalah segala bentuk dokumen berupa dokumen–dokumen yang akan mendukung kegiatan serta merupakan hasil pencatatan atau pelaporan. Adapun dokumen keluaran sebagai berikut :

(19)

1. Nama dokumen : Jadwal Orientasi

Fungsi : Sebagai jadwal pelaksanaan masa orientasi

Sumber : Batituud

Tujuan : Calon pegawai harian lepas

Media : Kertas Cetakan

Frekuensi : Setiap calon pegawai harian lepas yang lulus tes tertulis dan test praktek

Jumlah : Satu Lembar

Bentuk : Lampiran B-1

2. Nama dokumen : Surat Kontrak Kerja

Fungsi : Sebagai bukti perjanjian kerja

Sumber : Batituud

Tujuan : Calon pegawai harian lepas

Media : Kertas Cetakan

Frekuensi : Setiap calon pegawai harian lepas yang diterima bekerja

Jumlah : Satu Lembar

Bentuk : Lampiran B-2

3. Nama dokumen : Kartu Pengenal

Fungsi : Sebagai identitas kepegawaian

Sumber : Batituud

Tujuan : Calon Pegawai Harian Lepas

Media : Kertas Cetakan

(20)

Frekuensi : Setiap calon pegawai harian lepas yang diterima bekerja

Jumlah : Satu Kartu

Bentuk : Lampiran B-3

4. Nama dokumen : Laporan Hasil Test

Fungsi : Sebagai laporan hasil test keseluruhan

Sumber : Batituud

Tujuan : Kaur Rumkit

Media : Kertas Cetakan

Frekuensi : Setiap akhir test keseluruhan

Jumlah : Satu Lembar

Bentuk : Lampiran B-4

5. Nama dokumen : Laporan Data Pegawai Harian Lepas Fungsi : Sebagai data pegawai harian lepas

Sumber : Batituud

Tujuan : Karumkit

Media : Kertas Cetakan

Frekuensi : Setiap akhir penerimaan pegawai harian lepas

Jumlah : Satu Lembar

Bentuk : Lampiran B-5

(21)

3.5. Permasalahan Pokok

Dari hasil pengamatan penulis, penulis memperoleh beberapa permasalahan yang di alami oleh RS. Kodiklat TNI AD, yaitu:

1. Pengolahan data yang masih manual dapat menyita banyak waktu, apabila terjadi kesalahan dalam pencatatan, maka harus di ulang dari awal.

2. Kerangkapan data tidak bisa terkontrol.

3. Penyimpanan data yang kurang rapih dapat mengakibatkan kehilangan dokumen.

3.6. Pemecahan Masalah

Banyak berbagai masalah yang timbul akibat sistem penerimaan pegawai harian lepas yang masih manual. Hal tersebut terjadi tentu tidak lagi sesuai dengan kemajuan zaman, terutama dibidang teknologi komputer.Keuntungan dari penggunaan teknologi komputer/pengolahan data dengan terkomputerisasi antara lain:

1. Dapat meminimalisir waktu untuk dari mulai penginputan sampai pembuatan laporan yang lebih cepat dan akurat sehingga waktu yang dipergunakan bisa maksimal untuk melakukan pekerjaan yang lain.

2. Dapat menyimpan data dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat.

3. Data yang disimpan akan lebih aman dan juga dapat terhindar dari kerusakan- kerusakan yang bersifat fisik.

Referensi

Dokumen terkait

Aset dan Konsep Asset Management START Tahap Pengembangan Konsep Maintenance Cost , Operation Cost , Revenue & Investment Cost (MORI ) A Pembuatan Model Konseptual.

Adakah hambatan yang dihadapi dalam membeli kopi Arabika Jawaban 2 Ada, Jalan yang rusak sehingga susah untuk akses ke petani 1 Harga kopi yang sering turun 1 Jalan raya yang rusak

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pratistha (2014) menunjukan dari hasil penelitian tersebut bahwa kehilangan independensi seorang auditor akan berimbas terhadap

Program ini ditujukan untuk meningkatkan keberdayaan masyarakat pedesaan yang ditempuh dengan beberapa cara antara lain dengan menguatkan kapasitas pemerintah desa, dan

Evaluasi Mengevaluasi Mengevaluasi respon respon subjektif subjektif dan dan objektif objektif setelah setelah dilakukan dilakukan intervensi intervensi dan dan

Dalam Tess wartegg, anda akan menemukan 8 kotak yang berisi dengan coretan-coretan kecil dengan Dalam Tess wartegg, anda akan menemukan 8 kotak yang berisi dengan coretan-coretan

Ada berbagai faktor-faktor resiko yang dihubungkan dengan kanker payudara seperti mendapat haid pada umur kurang dari 10 tahun, mendapat menopause setalah berumur 50 tahun,

Dalam praktek komunikasi ritual, keberadaan natoni ditempatkan sebagai salah satu upacara ritual yang dilakukan untuk berkumpul di antara sesama warga suku Boti