1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi saat ini sudah cukup banyak café dan restoran yang bermunculan di semua negara. Seperti di Indonesia sendiri khususnya di kota Surabaya, mulai banyak pebisnis yang mengembangkan usahanya dalam bidang kuliner khususnya restoran dan café. Restoran pertama kali hadir ke dunia pada tahun 1765. A Boulanger adalah nama restoran pertama di dunia itu. Restoran ini berdiri di kota Paris. Dengan berdirinya restoran ini, Paris menjadi memiliki sejarah penting bagi kelahiran restoran dan bisnis kuliner di dunia. Setelah bisnis restoran dimulai di Paris, berikutnya muncul kafetarian pertama di dunia yang dipercaya hadir di Kansas City. Kafetarian ini bernama YWCA dan berdiri tahun 1891. Kafetaria ini dianggap sebagai konsep varian dari restoran. Ruangan yang disediakan kafetaria lebih sederhana dibanding restoran, dan menunya pun lebih banyak berupa makanan ringan. Dari sinilah kemudian bisnis restoran berkembang dalam berbagai konsep hingga saat ini. Ada restoran tradisional, restoran cepat saji, kafe, dan sebagainya. Saat ini, restoran telah menjadi bisnis besar yang menghadirkan banyak pengusaha terkemuka. Tak hanya menjalankan bisnis konvensional, restoran juga kemudian berkembang menjadi waralaba yang mendunia.
Kata café itu sendiri berasal dari bahasa Perancis yang artinya adalah minuman kopi, tetapi kemudian dari situ dikembangkan menjadi tempat di mana seseorang tidak hanya bisa minum-minuman dari kopi saja melainkan juga minuman lainnya dan mulai dikembangkan menyediakan makanan.
Beberapa café di Surabaya tidak hanya menyediakan minuman saja tetapi juga menyediakan makanan seperti: makanan ringan, makanan pembuka.
Berbagai jenis makanan dan minuman dijual dengan harga yang bervariasi.
Tempat yang sangat nyaman serta rasa makanan dan minuman yang enak merupakan salah satu tujuan pembeli.
Restoran atau café saat ini juga menjadi kebutuhan masyarakat sebagai tempat bersosialisasi dan perwujudan eksistensi diri serta kelompok mereka. Di
Indonesia, khususnya Surabaya, café menjadi salah satu bisnis yang cukup berkembang, dimana perkembangan café juga ditunjang dengan adanya dukungan dari kampus-kampus yang gencar membangkitkan jiwa enterpreneurship mahasiswa. Selama kuliah masih membuka outlet-outlet kecil, biasanya setelah lulus akan dikembangkan sehingga muncul lagi satu pemain baru (Wahyudi, 2012).
Di satu sisi, pertumbuhan ini memang menggembirakan. Namun ada sisi lain yang juga harus diperhitungkan yaitu masalah persaingan. Dengan semakin banyaknya restoran dan café di Surabaya, masing-masing pemain di industri ini harus pandai-pandai melakukan diferensiasi baik dari sisi produk maupun servisnya. Di Surabaya, pelaku bisnis kuliner juga mesti pandai bersiasat menghadapi berbagai karakter masayrakat yang cukup unik dan memilki banyak pertimbangan dalam memilih sesuatu.
Sekjend Asosiasi Pengusaha Kafe Restauran Indonesia (Apkrindo) Jatim, Mufid Wahyudi mengatakan di tahun 2012 yang lalu bisnis café dan restoran akan tumbuh 15-20%. (CentroOne Economic News, 07 Januari 2012) dapat dilihat dari pertambahan jumlah outlet yang terus meningkat. Ini juga untuk mengimbangi perubahan gaya hidup masyarakat Surabaya, sehingga perusahaan perlu mencermati perilaku konsumen yang ada dan faktor- faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian dalam usaha-usaha memasarkan sebuah produk. Hal tersebut dikarenakan dalam konsep, salah satu cara untuk mencapai tujuan perusahaan adalah dengan mengetahui apa kebutuhan dan keinginan konsumen atau pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing (Kotler, 1996). Pelaku bisnis yang terjun di bidang sejenis juga akan berdampak pada semakin meningkatnya kuantitas produk yang dijual di pasar. Dengan meningkatnya kuantitas produk dan pelaku bisnis di pasar, maka tingkat persaingan yang ada telah menjadi salah satu topik permasalahan bisnis sehari-hari. Karena itu tingkat persaingan dalam bisnis café akan semakin meningkat tajam dari tahun ke tahun dan di masa-masa yang akan datang.
Beberapa orang beranggapan bahwa Coffee Shop di Surabaya menjual makanan dan minuman dengan harga yang mahal. Padahal tidak semua makanan
dan minuman dijual dengan harga mahal. Manajemen Coffee Shop di Surabaya dituntut untuk dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh konsumen, sehingga dengan begitu dapat memberikan kepuasan kepada para pembelinya dan pembeli yang telah memutuskan untuk membeli minuman maupun makanan di café ini tidak merasa kecewa sehingga pada akhirnya pembeli merasa puas. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi pebisnis untuk bertahan dalam menghadapi persaingan bisnis yang ada, terutama bisnis Coffee Shop di kota Surabaya.
Tjahjono (www.kabarbisnis.com, 2010) mengatakan hal itu karena saat ini banyak mall baru yang akan berdiri pada tahu depan. Kebanyakan mall tersebut hampir 30-60 % adalah café dan restoran. “Tahun depan kan di Surabaya akan berdiri mall-mall baru, contohnya Grand City, Ciputra World, biasanya di mall itu 30-40% adalah café dan restoran,”. Tjahjono juga mencontohkan Sutos yang sekarang 60% adalah café dan restoran.
Salah satu cara untuk mencapai tujuan perusahaan adalah dengan mengetahui apa kebutuhan dan keinginan konsumen atau pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing (Kotler, 1996). Lokasi yang mudah dijangkau oleh konsumen dan dekat dengan pusat keramaian merupakan lokasi yang sangat tepat untuk membuka suatu usaha, termasuk usaha Coffee Shop. Sebelum seseorang atau sekelompok orang memutuskan untuk makan atau minum di sebuah café, konsumen juga akan mempertimbangkan lokasi tempat café tersebut berada.
Konsumen pasti mempertimbangkan apakah nantinya tempat parkirnya mudah dijangkau atau tidak.
Faktor yang tidak kalah penting yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen adalah faktor harga itu sendiri (Kotler, 1996). Penentuan harga produk maupun jasa yang dilakukan perusahaan sangat berpengaruh pada keputusan konsumen. Harga adalah atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen sehingga manajer perusahaan perlu bener-benar menyadari peran tersebut dalam menentukan sikap konsumen. Harga itu sendiri sebagai atribut dapat diartikan bahwa harga merupakan konsep keanekaragaman yang memiliki arti berbeda bagi konsumen tergantung karakteristik konsumen, situasi dan produk. Setelah mempertimbangkan kualitas dari produk (minuman dan
makanan) yang akan konsumen beli, konsumen mengharapkan adanya kesesuaian atau timbal balik yang setara antara harga dan lokasi dari coffee shop tersebut.
Faktor kualitas produk merupakan penentu tingkat kepuasan yang diperoleh konsumen setelah melakukan pembelian dan pemakaian terhadap suatu produk. Dengan kualitas produk yang baik konsumen akan terpenuhi keinginan dan kebutuhannya akan suatu produk.
Dalam Samuel (2007) keputusan pembelian adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan konsumen sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Sehingga pengusaha dalam hal ini harus jeli dalam melihat faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan untuk menarik konsumen.
Folks! Coffee Shop and Tea House sendiri adalah Coffee Shop yang terletak di tengah kota Surabaya yang tempatnya berada di dekat Grand City mall, lebih tepatnya di jalan slamet 8A. Folks! Satu kata dengan banyak arti.
Terjemahan dari wikipedia folks sendiri berarti “people”. Ada yang bilang folks itu sebagai kata ganti panggil teman atau kawan. Bahkan Folks sendiri menjadi sebuah genre lagu, atau tema sebuah art. Tapi bila diambil benang merah, folks!
sendiri bersifat bersahabat, kebersamaan, atau hal menyenangkan lainnya. Atas dasar itulah, di bulan april 2012, coffee shop baru yang berlokasi di tengah kota ini diberi nama Folks! Coffee Shop and Tea House. Untuk interior sendiri, awalnya Folks! Coffee Shop and Tea House didirikan dengan konsep unfinished industrialis. Karena itu ada beberapa tembok yang terlihat belum selesai, serta kursi-kursi dengan besi dan beberapa pekerjaan yang sengaja belum di selesaikan.
seiring waktu, interior pun bertambah ke arah pop art. Hal ini bisa dilihat dari permainan wallpaper di ruang depan, ketika Folks! berkunjung di sana. Tidak hanya itu, Folks! Coffee Shop and Tea House sendiri diciptakan dengan konsep bersamaan. Karena itu, di samping tempat inipun dibuka sebuah toko baju, khusus wanita, dengan brand Flashy. Jadi ketika Folks! berkunjung ke sana, di sini
memberikan one stop place. Di mana bisa berinteraksi dengan teman, mengobrol, dan sekaligus berbelanja di toko Flashy.
Folks! Coffee Shop and Tea House berlokasi di tempat yang tidak terlalu strategis, yaitu di jalan slamet no.8A. Banyak orang yang tidak tahu di mana jalan slamet no.8A tetapi Folks! Coffee Shop and Tea House tetap ramai dikunjungi oleh konsumen. Lokasi dari Folks! Coffee Shop and Tea House sendiri secara visual tidaklah jelas karena Folks! Coffee Shop and Tea House seperti rumah pada umumnya dan terletak di ujung jalan slamet serta dekat dengan SMA komplek.
Ketika waktu sekolah untuk mecari tempat parkir sangatlah susah dan seusai sekolah juga karena dekat dengan lembaga pendidikan seperti primagama, soni sugema college. Untuk produk makanan dan minuman yang dijual di Folks!
Coffee Shop and Tea House sama seperti yang dijual di café pada umumnya namun hal ini tidak membuat konsumen enggan untuk berkunjung kembali.
Selain itu, berdasarkan wawancara dari konsumen dan mantan pegawai Folks! Coffee Shop and Tea House, produk yang ditawarkan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena sering terjadi pergantian pegawai di kitchen dimana pegawai yang baru tidak memiliki dasar dalam mengoperasionalkan sebuah kitchen, sehingga standart yang sudah dibuat tidak terjaga dengan baik.
Dengan penurunan kualitas, harga yang dibayarkan konsumen menjadi terkesan mahal dikarenakan value yang diterima atas uang yang dibayarkan menurun.
Namun, ketiga hal diatas tidak mengurangi tingkat keramaian pengujung Folks!.
Sehingga peneliti menilai bahwa ada juga faktor-faktor lain dalam marketing mix yang mempengaruhi konsumen untuk mengunjungi Folks! Coffee Shop and Tea House sebagai tempat pilihan mereka.
Berdasarkan pendapat peneliti seperti yang telah dipaparkan diatas mengenai fenomena yang terjadi di Folks! Coffee Shop and Tea House bahwa faktor-faktor dalam marketing mix memiliki perbedaan pengaruh terhadap keputusan pembelian, yang menyebabkan adanya gap. Hal ini menjadi latar belakang peneliti untuk melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Pengaruh marketing mix (7P) terhadap Keputusan Pembelian. (Studi pada Folks! Coffee Shop and Tea House Surabaya)”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah faktor product mempengaruhi konsumen secara positif dan signifikan dalam memutuskan untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House?
2. Apakah faktor price mempengaruhi konsumen secara positif dan signifikan dalam memutuskan untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House?
3. Apakah faktor place mempengaruhi konsumen secara positif dan signifikan dalam memutuskan untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House?
4. Apakah faktor promotion mempengaruhi konsumen secara positif dan signifikan dalam memutuskan untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House?
5. Apakah faktor physical evidence mempengaruhi konsumen secara positif dan signifikan dalam memutuskan untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House?
6. Apakah faktor people mempengaruhi konsumen secara positif dan signifikan dalam memutuskan untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House?
7. Apakah faktor process mempengaruhi konsumen secara positif dan signifikan dalam memutuskan untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Seberapa besar pengaruh product terhadap keputusan konsumen untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House.
2. Seberapa besar pengaruh price terhadap keputusan konsumen untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House.
3. Seberapa besar pengaruh place terhadap keputusan konsumen untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House.
4. Seberapa besar pengaruh promotion terhadap keputusan konsumen untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House.
5. Seberapa besar pengaruh physical evidence terhadap keputusan konsumen untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House.
6. Seberapa besar pengaruh people terhadap keputusan konsumen untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House.
7. Seberapa besar pengaruh process terhadap keputusan konsumen untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House.
1.4 Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan batasan penelitan dari sudut pandang konsumen saja. Maka dari itu, penelitian ini akan menggunakan indikator umum yang dirasakan secara langsung konsumen. Sedangkan beberapa indikator pada variabel place terkait kedekatan supplier dan tenaga kerja tidak akan diikutsertakan dalam penelitian ini, karena tidak semua konsumen memahami hal tersebut. Dan pada variabel price, periode pembayaran dan syarat-syarat kredit juga tidak diikutsertakan dalam penelitian ini, karena objek penelitian tidak menggunakan hal tersebut dalam sistem transaksinya dengan konsumen.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak, antara lain :
1. Bagi Universitas
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan buku referensi dan masukan bagi pihak intern maupun ekstern universitas yang membutuhkan informasi mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian.
2. Bagi Perusahaan
Bagi pihak pemilik dan manajemen Folks! , diharapkan penelitian ini dapat memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsumen dalam memutuskan untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House, seperti faktor produk, harga, lokasi, promosi, lingkungan fisik, orang dan proses.
3. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan penulis mengenai faktor- faktor yang dapat mempengaruhi konsumen mengambil keputusan untuk memilih Folks! Coffee Shop and Tea House, khususnya faktor produk, harga, lokasi, promosi, lingkungan fisik, orang dan proses.