EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN KOTA HIJAU (GREEN CITY) DI KOTA KENDARI
Sri Mindasari,Hj. Rostin
Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Halu Oleo Email: [email protected]
ABSTRACK
This study aims to look at the planning of domestic waste water, solid waste, and green open spaces and green city program development (green city) in Kendari. The data used in this research is secondary data, obtained from the Department of City Planning and Department of Sanitation Kendari. Data processing method that analyzes the data. Analysis of the data used is descriptive analysis by using respondents. The scope of this research include an understanding of domestic waste water, waste, and green open spaces in the city of Kendari. Methods of data collection that is using the sample population. The results showed that the percentage generated for the planning of domestic waste water and solid waste reached 7.78% and 4.39% of the total percentage of collected while the green open spaces only reach 5.96% of the total percentage of the generated, this means planning green open spaces better than planning on wastewater domestic and waste carried by the municipal government of Kendari. Results of the research by using the sample population showed kendari city government is not quite ready to go green city (green city) from the aspect of domestic waste water and solid waste.
Keywords: Green Cities Development Program (Green City), Domestic Waste Water, Waste, green open space.
1. PENDAHULUAN Latar Belakang
Di seluruh dunia, kota hijau atau green city telah menjadi model pengembangan perkotaan yang baru, baik di benua Amerika, Asia, Eropa, Australia, maupun Afrika. Fenomena yang sama juga dialami oleh Indonesia. Maka perlu diperhatikan bahwa dampak perubahan iklim di Indonesia bukan hanya dihadapi melalui bidang kehutanan atau pengembangan lahan gambut, tetapi sekarang juga melalui pengembangan kawasan seperti identitas perkotaan, dengan konsep Kota Hijau (Green City). Ini merupakan tantangan baru dan terbesar yang sedang dihadapi Indonesia, terlebih karena lebih dari 52%penduduk nasional mendiami kawasan perkotaan (Dwi Suryadi, Nugroho, 2011). Indonesia saat ini fokus pada penanganan daerah perkotaan yang sangat rentan mengalami dampak perubahan iklim.Oleh karena itu, penyelenggaraan penataan ruang yang terintegrasi menjadi unsur penting didalam mewujudkan ruang yang nyaman, produktif dan berkelanjutan.
Kota Hijau (Green City) saat ini salah satu program prioritas Pemerintah Kota Kendari dan untuk melaksanakan program kota hijau (green city).Kota Kendari mulai menerapkan Program green city ditahun 2007, dengan mendatangkan tiga (3) pakar ilmu lingkungan dari UNESCO yaitu Prof.
Chris Zwevenbergen, Robert Van Der Hoff dan Dr. Sebastian Van herk. Kehadiran mereka dalam rangka membantu pemerintahan Kota Kendari secara teknis menuju Green City.Bagi ketiganya, Kota Kendari punya potensi untuk menjadi salah satu kawasan pengembanganGreen City dan menjadi contoh pertama di Asia.
2. TINJAUAN PUSTAKA Konsep Evaluasi Program dan Perencanaan
Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Evaluasi program merupakan proses pengumpulan data atau
informasi yang ilmiah yang hasilnyadapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif kebijakan.Pengertian Perencanaan Evaluasi Sebelum kita berbicara mengenai perencanaan evaluasi, kita perdalam lebih dahulu istilah “rencana” dan
“perencanaan”.Kita pahami bahwa rencana adalah “a detailed proposal for doing or achieving something”, artinya suatu rancangan rinci untuk melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu.Dalam hal ini, perencanaan berarti proses merencanakan sesuatu.
Ackoff menyatakan bahwa walaupun perencanaan itu merupakan suatu proses pembuatan- keputusan, perencanaan adalah jenis pembuatan keputusan khusus: (a) perencanaan merupakan sesuatu yang kita lakukan sebelum bertindak, artinya adalah pembuatan keputusan yang sifatnya antisipatif; (b) perencanaan diperlukan bila keadaan masa depan yang kita inginkan tersebut melibatkan sejumlah putusan yang saling berkaitan, artinya suatu sistem keputusan; dan (c) perencanaan merupakan suatu proses yang diarahkan untuk menghasilkan keadaan di masa depan yang diinginkan, dan tidak diharapkan muncul kecuali ada suatu tindakan yang dilakukan.
Lebih jauh lagi, evaluasi berusaha mengidentifikasikan mengenai apa yang sebenarnya yang terjadi pada pelaksanaan atau penerapan program. Dengan demikian evaluasi bertujuan untuk:
1. Mengidentifikasikan tingkat pencapaian tujuan
2. Mengukur dampak langsung yang terjadi pada kelompok sasaran
3. Mengetahui dan menganalisa konsekuensi-konsekuensi lain yang mungkin terjadi diluar sosial.
Konsep dan Teori Perencanaan Perkotaan
Dalam rangka mewujudkan konsep pengembangan wilayah yang di dalamnya memuat tujuan dan sasaran yang bersifat kewilayahan di Indonesia, maka ditempuh melalui proses perencanaan tata ruang wilayah, yang menghasilkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Disamping sebagai
“guidance of future action” RTRW pada dasarnya merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar interaksi manusia/ makluk hidup dengan lingkungannya dapat berjalan serasi, selaras, seimbang untuk tercapainya kesejahteraan manusia/ makluk hidup serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan (sustainability development).Sesuai dengan UU 24/1992 tentang penataan ruang, sistem perencanaan tata ruang wilayah diselenggarakan secara berhirarki menurut kewenangan administratif, yakni dalam bentuk RTRW Nasional, RTRW Propinsi dan RTRW Kabupaten/Kota serta rencana-rencana yang sifatnya lebih rinci. RTRW Nasional disusun dengan memperhatikan wilayah nasional sebagai satu kesatuan wilayah yang lebih lanjut dijabarkan dalam strategi serta struktur dan pola pemanfaatan ruang pada wilayah propinsi (RTRWP), termasuk di dalamnya penetapan sejumlah kawasan tertentu dan kawasan andalan yang diprioritaskan penangananya.
Konsep dan Teori Pengembangan Perkotaan
Teori Konsentris (The Consentric Theory) teori ini dikemukakan oleh E.W Burgess ( Yunus, 1999), atas dasar studi kasusnya mengenai morfologi kota Chicago, menurutnya suatu kota yang besar mempunyai kecendrungan berkembang kearah luar disemua bagian-bagiannya. Masing-masing zona tumbuh sedikit demi sedikt kearah luar. Oleh karena semua bagian-bagiannya berkembang ke segala arah, maka pola keruangan yang dihasilkan akan berbentuk seperti lingkaran yang berlapis-lapir, dengan daerah pusat kegiatan sabagai intinya.
Konsep dan Strategi Pengembangan Kota hijau (Green city)
Kota Hijau merupakan salah satu konsep pendekatan perencanaan kota yang berkelanjutan.
Kota Hijau juga dikenal sebagai Kota Ekologis atau kota yang sehat. Artinya adanya keseimbangan antara pembangunan dan perkembangan kotadengan kelestarian lingkungan. Dengan kota yang sehat dapat mewujudkan suatu kondisi kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat untuk dihuni penduduknya dengan mengoptimalkan potensi sosial ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan forum masyarakat, difasilitasi oleh sektor terkait dan sinkron dengan perencanaan kota. Untuk dapat mewujudkannya, diperlukan usaha dari setiap individu anggota masyarakat dan semua pihak terkait
(stakeholders). Dapat dikatakan pula bahwa Kota hijau (Green City) merupakan kota yang sehat secara ekologis. Kota hijau harus dipahami sebagai kota yang memanfaatkan secara efektif dan efisien sumber daya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan, dan menyinergikan lingkungan alami dan buatan. Kota hijau(Green City) adalah konsep perkotaan, dimana masalah lingkungan hidup, ekonomi, dan sosial budaya (kearifan lokal) harus seimbang demi generasi mendatang yang lebih baik.
Tinjaun Empirik
Penelitian terdahulu yang relevan pada penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh : Dwi Suryadi Nugroho dan Ernady Syaodih (2013). Strategi Peningkatan Kualitas Empat Atribut Geen city Di Kecamatan Bandung Wetan Kota Bandung, dengan judul Fenomena permasalahan perkotaan saat ini yang dihadapi Kota Bandung saat ini adalah sebagai berikut : Ruang Terbuka Hijau (RTH), kemacetan, sampah, kurang terkodinirnya komunitas hijau, penataan mall, pedagang kaki lima dan banjir. Dengan begitu Kota Bandung menjadi semakin panas dan berdebu, kekurangan pohon, menumpuknya sampah, sungai yang sekarat, dan lain-lain.
3. METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian ini pada Dinas Tata Ruang dan Dinas Kebersihan Kota Kendari. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu Data yang diperoleh atau didapatkan dari studi pustaka atau informasi tertulis, data-data tersebut meliputi Luas kawasan ruang terbuka hijau (RTH) Kota Kendari yang akan dikembangkan, Luas RTH eksisting setiap Kecamatan, Sistem pengelolaan dan pengembangan limbah di Kota Kendari serta data pembuangan limbah di Kota Kendari.
Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif secara analitik yaitu mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana adanya, sehingga hanya merupakan penyingkapan fakta. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh baik melalui hasil kuesioner dan bantuan wawancara, kemudian dideskripsikan dengan cara menggunakan analisis persentase.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian
Analisis Program Limbah a. Air Limbah Domestik
Cara hidup sehat warga Kota Kendari dilihat dari segi pembuangan air besar yang digunakan tiap harinya disajikan sebagaimana Tabel 1 yang menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Kota Kendari yang tersebar di 10 kecamatan telah menggunakan jamban pribadi untuk membuang air besardengan rata-rata mencapai 87,29 %. Kecamatan Kadia merupakan kecamatan yang tingkat pemilikan jamban pribadi tertinggi yakni mencapai 99 % sedangkan Kecamatan Puuwatu merupakan kecamatan yang paling rendah kepemilikan jamban pribadi yaitu mencapai 76,7 %.
Table 1 Tempat Yang Digunakan Untuk Membuang Air Besar (Jumlah Atau Persentase) No Kecamatan Jamban
Pribadi
MCK/
WC Umum WC Helikopter
Sungai/
Pantai/ Laut
Kebun /Pekarangan
Selokan /Parit/
Got
Lubang Galian
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 Mandonga 93,3 0,8 0,0 0,4 0,8 0,4 1,3
2 Kendari 88,6 4,7 0,6 1,9 1,9 0,6 3,1
3 Baruga 77,5 9,4 9,4 0,6 0,0 0,6 0,0
4 Poasia 86,3 1,3 0,6 3,1 5,0 0,0 0,6
5 Kendari Barat 85,0 6,9 1,1 2,8 1,1 0,6 0,0
6 Abeli 79,6 5,4 2,5 8,7 2,1 0,2 0,8
7 Wua-Wua 91,9 1,9 0,0 0,0 3,1 0,0 2,5
8 Kadia 99,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
9 Puwatu 76,7 11,3 0,8 1,3 2,5 0,0 5,0
10 Kambu 95,0 2,5 0,6 0,0 0,0 0,0 0,0
Total 87,29% 44,2% 15,6% 18,8%, 16,5% 2,4% 13,3%
Sumber : Laporan Environmental Health Risk Assesment (EHRA) Kota Kendari (Diolah)2012
b. Persampahan
Cara hidup sehat warga Kota Kendari dilihat dari cara pengelolaan sampah yang digunakan disajikan sebagaimana Tabel 2, yang menunjukkan bahwa pengelolaan sampah oleh masyarakat di Kota Kendari saat ini dengan metode mengumpulkan sampah lalu dibuang ke TPS cukup tinggi terutama pada Kecamatan Kendari Barat dan Kecamatan Kadia yang mencapai 72% dan 67,5%.
Disamping itu metode membakar sampah juga cukup tinggi terutama pada Kecamatan Mandonga dan Kecamatan Baruga.Selain membakar sampah, metode membuang sampah ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk pada beberapa kawasan cukup dominan terutama pada Kecamatan Puuwatu yang mencapai 35%.
Table 2 Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (Jumlah atau Persentase KK) No Kecamatan Dikumpulkan
oleh kolektor informal yang mendaur ulang
Dikumpulkan dan dibuang ke TPS
Dibakar Dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah
Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah
Dibuang ke
sungai/kali/laut/danau
Dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 Mandonga 0,0 38,4 47,1 1,7 3,9 3,4 4,2
2 Kendari 0,3 43,3 26,3 0,8 1,9 7,2 16,7
3 Baruga 0,0 33,8 43,1 0,0 6,3 3,1 13,8
4 Poasia 0,0 40,0 31,9 1,9 6,9 1,9 11,3
5 Kendari Barat 0,8 72,5 11,9 0,3 1,1 6,7 5,6
6 Abeli 0,4 16,2 30,4 1,5 4,2 18,7 25,0
7 Wua-Wua 0,0 47,1 21,4 0,6 6,3 0,0 24,5
8 Kadia 0,0 67,5 8,0 1,5 2,5 1,5 18,5
9 Puwatu 0,8 20,4 29,6 2,5 6,7 2,9 35,4
10 Kambu 0,0 60,6 1,3 2,5 6,3 3,8 25,0
Total 1,15%% 219,8% 124% 6,65% 23,05% 24,6% 90%
Sumber : Laporan Environmental Health RiskAssesment (EHRA) kota Kendari (Diolah) 2012
Analisis Program Ketersedian Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Kendari sebagian besar sudah dilakukan pengelolaan.
Walaupun dalam proses pengelolaannya belum sepenuhnya berjalan sesuai pencapaian target.
Berdasarkan hasil analisis ketersediaan RTH perkotaan Kota Kendari bahwa setiap kecamatan di Kota Kendari telah memiliki ruang untuk ruang hijau.
Ruang terbuka hijau kota adalah bagian ruang-ruang terbuka (open space) suatu wilayah perkotaan yang disi oleh tumbuhan, tanaman vegetasi guna mendukung manfaat langsung atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kesejahteraan dan keindahan wilayah perkotaan. Dari hasil survey data tentang potensi ketersediaan pembangunan RTH Kota Kendari yakni masih tersedianya lahan kosong untuk melakukan pembangunan ruang terbuka hijau guna tercapainya terget pembangunan RTH kota.
Pembahasan
Bedasarkan pada hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Pengelolaan limbah di Kota Kendari sebagai berikut :
a. Air Limbah Domestik
Berdasarkan sistem pengelolaan air limbah domestik yang ada di Kota Kendari di ketahui bahwa sebagian besar penduduk Kota Kendari yang tersebar di 10 kecamatan telah menggunakan jamban pribadi untuk membuang air besardengan rata-rata mencapai 87,29 %. Kecamatan Kadia merupakan kecamatan yang tingkat pemilikan jamban pribadi tertinggi yakni mencapai 99 % sedangkan Kecamatan Puuwatu merupakan kecamatan yang paling rendah kepemilikan jamban pribadi yaitu mencapai 76,7 %, untuk warga yang membuang pada sungai, pantai dan laut mencakup 18,8%, kebun, pekarangan 16,5%, selokan, parit dan got 2,4% sisanya lubang galian mencakup 13,3%. Hal ini menunjukan bahwa rata-rata warga kota kendari telah membuang limbah pada jamban pribadi.
b. Persampahan
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa Cara pengelolaan sampah oleh masyarakat pada tatanan rumah tangga di Kota Kendari saat ini dengan metode mengumpulkan sampah lalu dibuang ke TPS cukup tinggi terutama pada Kecamatan Kendari Barat dan Kecamatan Kadia yang mencapai 72% dan 67,5%. Disamping itu metode membakar sampah juga cukup tinggi terutama pada Kecamatan Mandonga dan Kecamatan Baruga.Selain membakar sampah, metode membuang sampah ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk pada beberapa kawasan cukup dominan terutama pada Kecamatan Puuwatu yang mencapai 35%. Dengan jumlah rata-rata warga membuang sampah dengan cara dikumpulkan dan dibuang ke TPS yang mencakup 219,8% dari total persentase yang dihasilkan setiap Kecamatan yang berada di kota Kendari, selebihnya warga melakukan pembakaran pada sampah yang dihasilkan yang mencakup 124%. Hal ini berarti rata-rata warga kota Kendari telah membuang sampah pada tempatnya.
Tabel 3 Pengelolaan dan Pencapaian RTH Pemerintah Kota Kendari
No Nama RTH Luas
(Ha)
Kecamatan
1. Taman Kendari Beach (Teratai) 1,43 Kendari Barat
2. Taman Kendari Beach (P2KH) 1,24 Kendari Barat
3. Taman Walikota 4 Mandonga
4. Hutan Anduonohu (Bumi Praja) 16 Poasia
5. Hutan Baruga 3 Baruga
6. Hutan Abeli Dalam 8 Puuwatu
7. Hutan Nanga-Nanga 6 Baruga
8. Taman & Median Jalan 10,5 Wua-Wua
9. TPU Puungolaka 15 Puuwatu
10. Bantaran Sungai 2 Kambu
11. Kali Kembar Kadia 2 Bende
12. Lap. Benu Benua 5 Kendari Barat
13. Lap. Anduonohu 2 Poasia
14. Lap. Lakidende 7 Kadia
15. Lap. Bola Puuwatu 1 Puuwatu
16. Lap. Pol Airut 1 Kendari
17. Lap. Bola Abeli 25 Abeli
18. TPU Abeli 25 Abeli
19. TPU Anggolamelai 50 Abeli
20. RTH Kawasan Industri Baruga 50 Baruga
21. RTH RS. Abunawas 30 Kambu
22. RTH Mangrove Bungkutoko 23 Abeli
23. RTH Kebun Raya (Nanga-Nanga) 116 Baruga
24. RTH Kampus UHO 40 Kambu
Sumber : Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Kendari (diolah), 2016
c. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Bedasarkan pada hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa rata-rata potensi luas lahan ketersediaan dari pencapaian ruang terbuka hijau Kota Kendari adalah 444,17 Ha dari luas total Kota Kendari yang mencapai 7.442 Ha dengan total pencapaian RTH sebesar 20% dan luas RTH publik mencapai 5,96%.
Pada dasarnya kondisi Kota Kendari yang masih didominasi lahan terbuka yang tidak produktif memiliki potensi dan peluang yang cukup memungkinkan untuk dilakukan pengembangan ruang terbuka hijaunya.Namun perlu adanya kerjasama antara masyarakat dan pemerintah maupun pihak swasta agar semua bersinergi dengan visi dan misi Kota Kendari sesuai dengan RTRW.Sebagaimana teori otonomi daerah yang diungkapkan Soehartono (2001), bahwa dengan otonomi daerah berarti telah memindahkan sebagian besar kewenangan yang tadinya berada di pemerintah pusat diserahkan kepada daerah otonom, sehingga pemerintah daerah otonom dapat lebih cepat dalam merespon tuntutan masyarakat daerah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
5. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Program pengembangan Kota Hijau (Green City) untuk Air Limbah Domestik dari tahun 2007- 2016 mencapai 87,29% ini berarti pemerintah harus mencukupi 12,71%, untuk sampah dari tahun 2007-2016 mencapai 43,98% ini berarti pemerintah harus mencukupi 56,02% ditahun 2020 untuk mecapai target Kota Hijau (Green City).
2. Program pengembangan Kota Hijau (Green City) untuk RTH Publik dari tahun 2007-2016 mencapai 5,96% ini berarti pemerintah harus mencukupi 14,04% ditahun 2020 untuk mecapai target Kota Hijau (Green City).
Saran
1. Untuk Pengembangan Limbah dan RTH Di Kota Kendari berdasarkan hasil penelitian kendala yang dihadapi adalah masyarakata kurang paham dengan pola hidup sehat dengan tidak membuang limbah disembarangan tempat dan membantu pemerintah dalam mengembangkan Ruang Terbuka Hijau dengan tidak membuka lahan baru dengan cara menebang hutan kota.
Untuk solusi kendala diatas sebagaio berikut :
a. Diperlukan kebijakan penanganan secara tepat dan menyeluruh untuk Air Limbah Domestik dan Sampah yang dihasilkan oleh warga Kota Kendari.
b. Perlu adanya program mengenai kesadaran masyarakat mengenai hidup sehat dengan membuang limbah pada tempatnya.
c. Perlu menambah angkutan truck sampah agar dapat menjangkau secara keseluruhan sampah yang dihasilkan oleh warga Kota Kendari.
d. Untuk pengembangan ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Kendari perlu ada kebijakan yang tegas. Agar pengembangan ketersediaan RTH tersebut dapat difungsikan dan dikembangkan sesuai dengan rencananya.
DAFTAR PUSTAKA
Amanda, Putri Wisuda2012. Analisis Pelaksanaan Kebijakan Perencanaan Pembangunan Taman Kota Sebagai Ruang Terbuka Hijau Di Kota Depok. Skripsi, Universitas Indonesia, Depok.
Total 444,17 -
Luas Kota Kendari 7.442 -
% RTH Publik 5,96 % -
Anggriani, Niniek. 2011. Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan di kota Klaten, Yayasan Humaniora, Depok
Biru Voice, Ruang Terbuka Hijau Berfungsi sebagai Spon. 2010.
(http://www.biruvoice.com/artikel/arsipartikelkumpulanartikel-lama/33-ruangterbukahijau- berfungsisebagaispon.html) Diakses Oktober 2016.
BPS Kota Kendari, 2001.Profil Kabupaten / Kota Kendari.Diakses Desember 2016.
BKPRN, B. K. (2012, Januari-Februari).Buletin tata ruang.GERAKAN KOTA HIJAU.
Budihardjo, Dkk, 1993. Kota Berwawasan Lingkungan.Penerbit Alumni. Bandung.
Buku putih sanitasi Kota Kendari, 2012 pokja sanitasi dan air minum Kota Kendari : PPSP Kota Kendari.
Caroll, N.D.R., 1993, Teori dan konsep dasar geografi kota dan perencanaan kota.
Damin, Muh. Adnan, 2013.Strategi Pengembangan Rang Terbuka Hijau di Kota Mamuju, Tesis dipublikkan, Univesitas Hasanuddin.Makassar.
Departemen Pekerjaan Umum. 2008. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan. Jakarta, Direktorat Jenderal Penataan Ruang.
Departemen Pekerjaan Umum. 2009. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTNH) di Kawasan Perkotaan. Jakarta, Direktorat Jenderal Penataan Ruang.
Dinas Pekerjaan Umum. 2010. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTR) wilayah Cibeunying. Bandung, Pemerintah Kota Bandung.
Dokumen RPJMD Kota Kendari, 2012,hasil penyepakatan POKJA Sanitasi dan Air Minum Kota Kendari.
Dwi Suryadi, Nugroho, 2011, Strategi peningkatan kualitas empat atribut green city di Kecamatan Bandung Wetan Kota Bandung, Universitas Islam Bandung.
Endah Haritsatul Hafidzoh, 2016, Strategi Dan Kebijakan Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (Rth) Kota Kendari Di Era Otonomi Daerah : Universitas Halu Oleo Kendari
E.W, Burgess, 1999, TEORI KONSENTRIS (THE CONSENTRIC THEORY), Kota Chicago.
Gusnita,, 2010, Organization for Economic Co-Operation and Development.
Isfa, Sastrawati 2011, pola tata hijau di Kota Kendari, Universitas Hasanuddin
Joga, Nirwono dan Iwan Ismaun. 2011. RTH 30% Resolusi (Kota) Hijau. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
JOSÉ, MANUEL MANIQUIN2011, Konsep Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (Rth) Di Kota Dili Timor Leste, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Julius, Raflesia Renata dan Harahap, Tuti Khaerani, 2014.Strategi Pemerintah Kota Pekanbaru Dalam Meningkatkan Ruang Terbuka Hijau Dikota Pekanbaru. Jurnal RTH, (http://repository.unri.ac.id.>handle,>Jurnal.), Diakses Juli 2016
Pekanbaru.Jurnal RTH, (http://repository.unri.ac.id.>handle,>Jurnal.), Diakses Juli 2016.
Landoala, Tasrif. 2013. Startegi dan Kebijakan Pembangunan RTH Kota. Artikel, (http://jembatan4.blogspot.co.id/2013/10kebijakan-dan-strategipembangunan.htm),
Diakses Juni 2016.
Salmina, W Ginting, 2000, Konsep dan Praktek Perencanaan Kota, Konflik dan Kasus-kasus. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Sugandhi, Aca dan Hakim, Rustam, 2007.Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Sumami. 2010. Upaya Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Malang: Universitas Negeri Malang
Veronica, Adelin Kumurur, 2011, Pembangunan Kota Makassar. Universitas Hasanuddin
Wanda, Widigdo C, Ketut Canadarma, 2013, Surabaya sebagai Kota Taman atau “Green City” , Universitas Kristen Petra.
Priyon, Agussusanto. 2010. KampungHijau. Yogyakarta (http://www.kampunghijau.com/p/
contactus.html) Diakses pada November 2016.
Respati, Dian, 2015. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. (http://geografisku.blogspot.com), Diakses September 2016.
Tjondro, (2003), Strategi dan Implementasi Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Lanskap Perkotaan dalam Mewujudkan Green City, Prosiding Seminar Landskap Perkotaan
“Green City, Jurusan Argonomi-Fakultas Pertanian, Universitan Pembangunan Nasional
“Veteran” Jawa Timur, Surabaya
Triyono, Slamet. 2014. Konsep pembangunan Berkelanjutan. Artikel.(http://slamet- triyono.blogspot.com), Diakses September 2016.
Usman, W., Isnan F.N., dan Bayu M., 2001.Pembangunan Pertanian Daerah globalisasi.LP2KP Pustaka Kaya.Yogyakarta.
Yohanes, Dicky Ekaputra dan Margareta Maria Sudarwani, 2013, implikasi program pengembangan kota hijau (P2KH) terhadap pemenuhan luasan ruang terbuka hijau (RTH) perkotaan, Universitas Pandanaran Semarang