• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. commit to user. Lihat Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Pasal 1 ayat (6-9).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV. commit to user. Lihat Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Pasal 1 ayat (6-9)."

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

49 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Perbedaan sebelum dan pasca Izin Lingkungan dengan Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik

Izin Lingkungan dilakukan hanya kepada AMDAL atau UKL-UPL.

Maka dari itu, terdapat perbedaan pengurusan AMDAL atau UKL-UPL sebelum dan pasca berlakunya perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik. AMDAL merupakan salah satu prasyarat yang harus dipenuhi bagi pelaku usaha yang wajib memenuhi kriteria AMDAL sebeulm mendapatkan izin lingkungan. Komponen AMDAL terdiri dari Kerangka Acuan, Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) dan RKL-RPL. Dalam dokumen AMDAL, Pasal 5 Peraturan Pemerintah Tentang Izin Lingkungan menyatakan bahwa dokumen AMDAL terdiri dari Kerangka Acuan (KA), Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) serta Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)-Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).

Kerangka Acuan (KA) merupakan ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil dari pelingkupan.

ANDAL, merupakan telaah cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan udaha penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan atau kegiatan. Sedangkan RPL merupakan upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan1. Setelah disahkannya peraturan pelaksana perundang-undangan yang baru berkaitan dengan izin lingkungan, maka

1 Lihat Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Pasal 1 ayat (6-9).

commit to user

(2)

50

proses pemenuhan izin prasyarat lingkungan juga mengalami perubahan antara Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Usaha Terintegrasi Secara Elektronik termasuk dengan norma khusus pelaksana peraturan Pemerintah tersebut meliputi peraturan menteri yang berkaitan. Perbedaan tersebut terdiri dari bagian:

Tabel 4. 1 Perbedaan Penyusunan Izin Lingkungan Non OSS dan OSS

Tentang Non OSS OSS

Izin

Lingkungan terhadap izin usaha

Izin Lingkungan sebelum OSS diterbitkan sebagai prasyarat izin usaha, maka dari itu, izin usaha tidak dapat terbit sebelum adanya izin lingkungan (Pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 menyatakan bahwa: Izin Lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib Amdal atau UKL- UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat memperoleh izin Usaha dan/atau Kegiatan)

Izin lingkungan tidak lagi menjadi prasyarat untuk izin usaha karena ada istilah izin

lingkungan dalam

“komitmen” yang

memberikan pelaku usaha mendapatkan izin usaha meskipun ketentuan dalam izin lingkungan belum selesai. Izin usaha berdasarkan komitmen dapat diterbitkan kepada pelaku usaha yang tidak memerlukan prasarana maupun pelaku usaha yang memerlukan prasana (Pasal 32 PP nomor 24 tahun 2018).

Bentuk

prasyarat izin Lingkungan

Berdasarkan penjelasan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012, jenis usaha yang wajib AMDAL

maupun UKL-UPL

merupakan prasyarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin

Dalam OSS, bentuk prasyarat izin lingkungan yang harus dipenuhi sama dengan sebelum OSS, yaitu AMDAL dan UKL-UPL sebagai proses pengambilan keputusan terhadap izin lingkungan (pasal 1 angka 21 dan 22 PP nomor 24 commit to user

(3)

51

lingkungan sebagai proses pengambilan keputusan terhadap izin lingkungan

tahun 2018)

Batas Waktu Penyusunan Dokumen Kerangka Acuan

Tidak ada batas waktu dalam penyusunan dokumen AMDAL yang meliputi Kerangka Acuan ANDAL dan RKL-RPL.

Namun, kerangka acuan ANDAL tidak berlaku lagi apabila perbaikan Kerangka Acuan tidak disampaikan kembali oleh pemrakarsa (pelaku usaha) paling lama tiga tahun terhitung sejak dikembalikannya

Kerangka Acuan kepada Pemrakarsa oleh Komisi Penilai Amdal (pasal 25 PP nomor 27 tahun 2012)

Dalam online single submission, batas waktu penyusunan dokumen AMDAL adalah 30 hari setelah izin lingkungan

dengan komitmen

diterbitkan (pasal 55 ayat (2) PP nomor 24 tahun 2018).

Batas Waktu Penilaian Kerangka Acuan ANDAL

Jangka waktu penilaian Kerangka Acuan sampai dengan diterbitkannya surat persetujuan dilakukan paling lama 30 hari kerja terhitung sejak KA diterima dan dinyatakan lengkap secara administrasi (Pasal 13 ayat (1) PermenLH No. 8 Tahun 2013)

Penilaian KA ANDAL dalam bentuk pemeriksaan dan persetujuan KA ANDAL dilakukan paling lama 30 hari kerja terhitung setelah dilakukannya pengisian formulir KA ANDAL oleh pelaku usaha atau pemrakarsa. (Pasal 19 ayat (5) PermenLHK No. 26 Tahun 2018).

Jangka waktu penyusunan ANDAL dan RKL-RPL

Jangka waktu penyusunan ANDAL dan RKL-RPL dilakukan paling lama tujuh puluh lima hari kerja terhitung sejak Andal dan RKL-RPL diterima dan dinyatakan

lengkap secara

administrasi (Pasal 13

Jangka waktu penyusunan Andal dan RKL-RPL dilakukan paling lama seratus delapan puluh hari kerja.

commit to user

(4)

52

ayat (2) PermenLH No. 8 Tahun 2013)

Penilaian ANDAL dan RKL-RPL

Penilaian Andal dan RKL-RPL sampai hasil rekomendasi penilaian

kelayakan atau

ketidaklayakan

lingkungan hidup dilakukan paling lama 75 hari kerja terhitung sejak Andal dan RKL-RPL diterima dan dinyatakan

lengkap secara

administrasi (Pasal 13 ayat (2) Permen LH No. 8 Tahun 2013)

60 hari kerja sejak ANDAL dan RKL-RPL diajukan yang terdiri dari:

 Penilaian ANDAL dan RKL RPL beserta perbaikan paling lama 50 hari

 Penyampaian

rekomendasi hasil penilaian Andal dan

RKL-RPL yang

dilakukan oleh Pemerintah paling lama 5 hari

 Penetapan keputusan dalam bentuk Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKL) paling lama 5 hari

Penerbitan SKKLH atau Keputusan Kelayakan atau

Ketidaklayaka n Lingkungan Hidup

Penerbitan surat keputusan kelayakan atau ketidaklayakan

lingkungan hidup dilakukan paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya rekomendasi hasil penilaian atau penilaian akhir dari Komisi Penilai Amdal (Pasal 32 ayat (2) PP Nomor 27 tahun 2012)

Penetapan keputusan

kelayakan atau

ketidaklayakan lingkungan hidup dilakukan paling lama 5 hari kerja terhitung dari diterimanya rekomendasi hasil penilaian atau penilaian akhir dari Komisi Penilai AMDAL (pasal 32 ayat 2 PermenLHK No. 26 Tahun 2018)

2. Perbedaan Alur Izin Lingkungan Sebelum dan Sesudah OSS

commit to user

(5)

53

Proses Penyusunan Penilaian AMDAL dan Izin Lingkungan

Pelaku usaha/ Pemrakarsa Sekretariat KPA, Tim teknis, Komisi Penilai AMDAL

Menteri/Gubernur/Bupati/

Walikota

Mulai

Pengumuman &

Konsultasi Publik

Pengajuan Penilaian

KA

Penilaian KA oleh sekretariat KPA

Penilaian KA oleh Tim teknis

Persetujuan KA oleh Ketua KPA

Pengajuan permohonan izin

lingkungan dan Penilaian ANDAL

dan RKL-RPL

Penilaian ANDAL dan RKL-RPL oleh

Sekretariat KPA

Pengumuman permohonan izin

lingkungan

Penilaian ANDAL dan RKL-RPL oleh

tim teknis

Penilaian akhir ANDAL dan RKL-

RPL oleh KPA

Rekomendasi KPA

Penerbitan keputusan kelayakan

lingkungan hidup dan izin lingkungan

KA:

1. Pendahuluan 2. Pelingkupan 3. Metode Studi 4. Daftar Pustaka 5. Lampiran

ANDAL:

1. Pendahuluan 2. Deskripsi rona LH

3. Prakiraan dampak penting

4. Evaluasi holistik thdp dampak LH 5. Daftar pustaka 6. Lampiran

RKL-RPL 1. Pendahuluan 2. Rencana pengelolaan LH 3. Rencana pemantauan LH 4. Jumlah &jenis izin PPLH 5. Pernyataan Komitmen 6. Daftar pustaka

7. Lampiran

Pengumuman Izin Lingkungan

Keputusan ketidaklayakan lingkungan hidup tidak

Ya

Selesai

30 hari kerja 75 hari kerja Max. 5 hari kerja setelahpenerbitan KKLH

Min. 10 hari kerja diterima oleh seluruh anggota KPA 10 hari dari saran, pendapat dan tanggapan

Gambar 4. 1 Alur Penyusunan dan Penilaian AMDAL serta izin lingkungan sebelum berlakunya OSS

commit to user

(6)

54

Proses AMDAL hingga memenuhi izin lingkungan dilakukan oleh pemrakarsa (pelaku usaha), Komisi Penilai AMDAL dan Menteri, Gubernur, Bupati maupun Walikota yang diawali dari pemrakarsa membuat pengumuman dan konsultasi public kepada masyarakat untuk menampung saran, pendapat dan tanggapan (SPT) selama 10 hari kerja dari pengumuman.

Setelah proses pengumuman dan konsultasi public, dilanjutkan dengan proses kerangka acuan, pengajuan penilaian kerangka acuan dan penilaian kerangka acuan yang dilakukan oleh secretariat Komisi Penilai AMDAL (KPA), penilaian kerangka acuan oleh tim teknis serta penerbitan persetujuan kerangka acuan dilakukan oleh KPA yang dilakukan paling lama 30 hari kerja.

Setelah dilakukan penilaian kerangka acuan, pemrakarsa melakukan penyusunan ANDAL dan RKL-RPL dengan pengajuan permohonan izin lingkungan dan penilaian ANDAL dan RKL-RPL sebagai integrasi izin lingkungan dalam proses AMDAL. Dalam proses penilaian ANDAL dan RKL-RPL, dilakukan oleh Sekretariat KPA kemudian pengumuman permohonan izin lingkungan, dilanjutkan penilaian ANDAL RKL-RPL oleh tim teknis dan KPA. Setelah itu, dikelurkannya rekomendasi oleh KPA yang memberikan keputusan kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan hidup.

Apabilla keputusan adalah ketidaklayakan lingkungan hidup, maka dokumen AMDAL dinyatakan tidak layak. Sedangkan apabila keputusan dinyatakan kelayakan lingkungan hidup, maka tahap selanjutnya adalah penerbitan keputusan kelayakan lingkungan hidup dan izin lingkungan yang kemudian disusul pengumuman izin lingkungan yang dilakukan paling lambat 5 hari kerja setelah diterbitkan.

Sedangkan untuk proses izin lingkungan dengan AMDAL setelah adanya OSS, dapat dijelaskan dengan skema berikut:

commit to user

(7)

55

Proses Penyusunan AMDAL dan Izin Lingkungan

KPA/Tim Teknis

Pelaku Usaha Lembaga OSS Menteri/Gubernur/

Bupati /Walikota

Mulai

Pernyataan komitmen untuk pemenuhan izin lingkungan dg syarat sudah memenuhi:

deskripsi rencana usaha Rona lingkungan hidup lokasi

hasil konsultasi publik (bila sudah dilakukan

Izin Lingkungan dengan Komitmen

Pengumuman rencana konsultasi

dan konsultasi publik

Pengisian Kerangka Acuan

Pemeriksaan formulir KA (maksimal 10 hari kerja sejak form KA diajukan dan diterima sekretariat

KPA)

Penyusunan ANDAL dan RKL-

RPL (maks. 180

hari) Penilaian ANDAL

dan RKL-RPL 1. Penilaian Administratif oleh

sekretariat KPA 2. Penilaian Teknis

oleh tim Teknis &

KPA (50 hari kerja) Perbaikan ANDAL

RKL-RPL

Hasil akhir penilaian ANDAL RKL RPL:

Rekomendasi hasil penilaian (5 hari kerja)

ya

Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup

pemenuhan komitmen Izin Lingkungan

bagian yang tidak terpisahkan dari Izin Lingkungan yang telah diterbitkan oleh Lembaga OSS

persyaratan dan kewajiban rinci terkait denganaspek PPLH

Keputusan Ketidaklayakan Lingkungan Hidup tidak

Selesai

pernyataan kegagalan pemenuhan komitmen Izin Lingkungan dan penyataan bahwa Izin Lingkungan

yang telah diterbitkan oleh Lembaga OSS batal Menyatakan keputusan

kelayakan/ketidaklayajan maks. 5 hari kerja

20 Hari kerja

Gambar 4. 2 Alur Penyusunan dan Penilaian AMDAL serta izin lingkungan berdasarkan OSS

commit to user

(8)

56

Penyusunan izin lingkungan dengan komitmen memberikan pelaku usaha izin usaha dahulu sebelum memenuhi izin lingkungan Pelaku usaha wajib memiliki data dan informasi yang lengkap untuk penyusunan dokumen lingkungan hidup sebelum mengajukan ke OSS meliputi deskripsi rencana usaha, rona lingkungan hidup, tim penyusun dokumen Lingkungan hidup, serta hasil konsultasi publik apabila telah ada sebelum pelaku usaha mengajukan izin usaha ke laman OSS. Secara prosedur, pelaku usaha mendaftarkan diri ke laman OSS. Kemudian lembaga OSS akan memberikan Nomor Induk Berusaha (NIB), dan izin lingkungan berdasarkan komitmen dengan melengkapi AMDAL. Izin lingkungan telah didapatkan oleh pelaku usaha terlebih dahulu sebelum penyusunan AMDAL selesai. Tahap selnjutnya adalah, memenuhi komitmen izin lingkungan tersebut, seperti proses penyusunan AMDAL. Proses pengumuman dan konsultasi publik, pengisian pengisian formulir KA, penyusunan dan persetujuan formulir KA sebagai dasar penyusunan ANDAL dan RKL-RPL wajib selesai paling lama 30 hari setelah lembaga OSS menerbitkan izin lingkungan dengan komitmen. Setelah tahap tersebut dilanjutkan dengan penyusunan ANDAL dan RKL-RPL dengan jangka waktu maksimal 180 hari dari persetujuan KA. Setelah penyusunan ANDAL dan RKL-RPL selesai, dilanjutkan tahap penilaian ANDAL dan RKL-RPL oleh KPA. Apabila terdapat perbaikan ANDAL dan RKL-RPL, wajib diperbaiki hingga mendapat penilaian akhir oleh KPA. Jangka waktu penilaian ternasuk tahap perbaikan hingga penilaian final ditentukan 50 hari kerja. Tahap selanjutnya adalah penilaian akhir ANDAL dan RKL-RPL oleh KPA. Setelah mendapatkan rekomendasi hasil penilaian, maka dapat dinyatakan keputusan kelayakan lingkungan hidup atau keputusan ketidaklayakan lingkungan hidup oleh Dinas Penanaman Modal PTSP.

Selain AMDAL, kriteria yang wajib dipenuhi dalam izin lingkungan adalah UKL-UPL. Berikut proses izin lingkungan dengan memenuhi kriteria UKL-UPL:

commit to user

(9)

57

Proses Pemeriksaan UKL-UPL dan Izin Lingkungan

Pemrakarsa/Pelaku usaha Lembaga Lingkungan Hidup Menteri, Gubernur, Bupati/

Walikota

Pengisian formulir UKL-UPL

Pengajuan permohonan izin

lingkungan dan pemeriksaan UKL-

UPL

Pemeriksa memberikan tanda

bukti penerimaan dan melakukan uji

administrasi

Kelengkapan

Pernyataan ketidaklengkapan

administrasi

Memberikan pernyataan kelengkapan administrasi

Pengumuman permohonan izin

lingkungan

Penerbitan persetujuan UKL-

UPL Pemeriksaan substansi formulir

UKL-UPL

Dikembalikan untuk diperbaiki tidak

ya Pengajuan

permohonan izin lingkungan

Sesuai dengan pedoman PERMENLH No. 16/

2012

Perbaikan formulir UKL-UPL

tidak

Rekomendasi UKL- UPL

Penerbitan penolakan UKL-

UPL

ya

Penerbitan izin lingkungan Menerima

persetujuan UKL- UPL dan izin

lingkungan

Selesai Perbaikan isi formulir UKL-UPL

Kewenangan pemeriksaan, penerbitan rekomendasi UKL-UPL, dan penerbitan Izin Lingkungan dapat didelegasikan kepada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri, kepala Instansi Lingkungan Hidup Provinsi, kepala Instansi Lingkungan Hidup Kabupaten/

Kota. (Pasal 26 ayat (3) PermenLH No.

8 tahun 2013)

Pemeriksaan UKL-UPL 14 hari kerja sejak

dinyatakan lengkap scr administrasi

Gambar 4. 3 Alur Penyusunan dan Penilaian UKL-UPL serta izin lingkungan commit to user

(10)

58

Penyusunan UKL-UPL sebelum adanya OSS diawali dengan pengajuan permohonan izin lingkungan serta pemeriksaan UKL-UPL oleh pemrakarsa. Permohonan dan pemeriksaan tersebut dinilai kelengkapan administrasi oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) atau UPT lingkungan hidup dalam waktu maksimal 3 hari. Apabila administrasi dinyatakan tidak lengkap, maka prosedur kembali ke awal yaitu kembali mengajukan permohonan izin lingkungan. Apabila proses kelengkapan administrasi terpenuhi, maka dikeluarkan pernyataan kelengkapan administrasi dan pengumuman permohonan izin lingkungan lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan UKL-UPL oleh BKPM atau UPT Lingkungan Hidup dalam waktu maksimal 7 hari. Setelah dilakukan pemeriksaan UKL-UPL, dilanjutkan oleh pembuatan rekomendasi UKL-UPL maksimal 2 hari kerja yang menyatakan antara dua kemungkinan yaitu kemungkinan pertama, penerbitan surat penolakan UKL-UPL yang berimplikasi harus kembali ke proses awal apabila ingin mengajukan UKL-UPL kembali, dan penerbitan persetujuan UKL-UPL. Apabila telah keluar penerbitan persetujuan UKL- UPL, maka diterbitkan izin lingkungan dan pengumuman penerbitan izin lingkungan.

Sedangkan proses izin lingkungan dengan pemenuhan UKL-UPL dengan sistem OSS dapat dijelaskan sebagai berikut:

commit to user

(11)

59

Proses Pemeriksaan UKL-UPL dan Izin Lingkungan

Pemrakarsa/Pelaku Usaha Lembaga OSS Instansi Lingkungan Hidup

Mulai

Pernyataan Komitmen

Nomor Induk Berusaha (NIB) Izin Lingkungan

berdasarkan komitmen

Pengajuan surat permohonan pemeriksaan UKL-

UPL

Pemeriksaan UKL- UPL scr administratif dan substantif (maks. 5 hari setelah berkas dinyatakan lengkap)

Melengkapi UKL-UPL

Deskripsi rencana usaha

Dampak

Program pemantauan LH

Pengumuman pengajuan UKL-

UPL

Perbaikan: evaluasi (dalam sistem OSS)

Penyampaian kembali UKL-UPL

pasca perbaikan

(maks. 5 hari Persetujuan

rekomendasi UKL- UPL (dalam sistem

OSS) Pemenuhan Komitmen izin

Lingkungan Ada perbaikan

Tidak ada perbaikan

10 Hari kerja

Gambar 4. 4 Alur Penyusunan dan Penilaian UKL-UPL serta izin lingkungan Seperti dalam izin lingkungan dengan komitmen wajib AMDAL, izin lingkungan dengan komitmen wajib UKL-UPL memberikan pelaku usaha izin lingkungan dengan komitmen dalam arti, pelaku usaha mendapatkan izin lingkungan terlebih dahulu sebelum selesai dalam tahap pemenuhan UKL-UPL.

commit to user

(12)

60

Kewajiban pelaku usaha adalah memenuhi komitmen tersebut. Proses penyusunan diawali dengan pelaku usaha mendaftar melalui OSS dengan masuk ke laman OSS dengan menggunakan User ID. Laman OSS memberikan NIB dan Izin Lingkungan dengan Komitmen yang wajib dipenuhi. Pelaku usaha menyusun UKL-UPL dan mengajukan surat permohonan pemeriksaan UKL-UPL paling lama 10 hari setelah izin lingkungan dengan komitmen diterbitkan. Setelah mengajukan, tim teknis bertugas memeriksa UKL-UPL paling lama 5 hari setelah berkas dinyatakan lengkap secara administrasi.

Apabila terdapat evaluasi perbaikan, maka pelaku usaha memperbaiki UKL- UPL dan menyampaikannya kembali maksimal 5 hari setelah diterimanya hasil pemeriksaan. Apabila tidak ada perbaikan, maka lanjut pembuatan draf rekomendasi atau persetujuan atau penolakan UKL-UPL oleh tim teknis.

Setelah mendapatkan rekomendasi, maka dilakukan penetapan rekomendasi atau persetujuan UKL-UPL atau penolakan UKL-UPL oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup. Maka, pemenuhan izin lingkungan dengan komitmen dengan melengkapi UKL-UPL terdiri dari 15 atau 20 hari apabila terdapat perbaikan.

3. Kewenangan Pemberian Izin

Berdasarkan gambar alur AMDAL, UKL-UPL dan pemenuhan izin lingkungan dari sebelum dan pasca perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik, telah mengubah ketentuan pemberi izin. Dalam ketentuan sebelumnya, izin merupakan suatu keputusan pemerintah dalam bentuk diskresi yang merupakan kebebasan bertindak untuk menentukan ya atau tidaknya suatu kebijakan dengan berbagai pertimbangan.

Dalam pengelolaan kewenangan pelaksanaan perizinan, menurut pasal 25 ayat (4) dan ayat (5) Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang penanaman modal menyatakan bahwa perusahaan penanaman modal yang akan melakukan kegiatan usaha wajib memperoleh izin dari instansi yang memiliki kewenangan melalui pelayanan terpadu satu pintu atau

commit to user

(13)

61

PTSP2. Hal tersebut selaras di daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah Pasal 350 ayat (2) dan ayat (3) yang menyatakan bahwa Kepala Daerah wajib memberikan pelayanan perizinan berpedoman pada peraturan perundang-undangan dan pembentukan unit pelayanan terpadu satu pintu juga berpedoman dalam peraturan perundang-undangan3.

Sedangkan ketentuan dalam PP 24 tahun 2018 mengganti ketentuan yang telah ada dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang penanaman modal terhadap kewenangan Pemerintah dalam memberikan atau menolak izin lingkungan termasuk juga kewenangan pemerintah daerah yang disampaikan melalui PTSP. Dalam ketentuan PP nomor 24 tahun 2018, Izin lingkungan dengan komitmen dalam bentuk NIB dikeluarkan oleh Lembaga OSS.

Lembaga perizinan sebelumnya didelegasikan kepada Dinas Penanaman Modal/PTSP, kemudian diubah kepada Lembaga OSS.

Selaras dengan hal tersebut, kewenangan pemberi izin lingkungan (dengan komitmen sebelum persyaratan dipenuhi) dilakukan oleh lembaga OSS. Padahal, ketentuan pemberian izin hanya dapat dilakukan oleh pejabat administratif yaitu pemerintah meliputi Pemerintah Pusat maupun Daerah yang didelegasikan melalui Dinas Penanaman Modal.

Ketentuan tersebut juga mereduksi kewenangan Pemerintah Daerah dalam memberikan keputusan izin lingkungan karena Lembaga OSS dalam laman OSS mencakup secara Nasional.

4. Perbedaan Izin Lingkungan dalam Undang-Undang Cipta Kerja

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja disahkan ditengah timbulnya polemic kontra dari beberapa lapisan masyarakat yang menilai bahwa peraturan tersebut disusun secara tertutup tanpa

2 Pasal 25 ayat (4) dan (5) Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

3 Pasal 350 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014.

commit to user

(14)

62

partisipasi. Setelah disahkan pada 2 November 2020, Undang-Undang Cipta Kerja memiliki dasar hukum dalam menghapus dan mengubah beberapa peraturan Perundang-Undangan yang lainnya tidak terkecuali mengubah ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009.

Pengertian AMDAL pada pasal 1 angka 11 sedikit diubah dalam Undang- Undang Cipta Kerja menjadi:

“Analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang selanjutnya disebut Amdal adalah Kajian mengenai dampak penting pada lingkungan hidup dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan, untuk digunakan sebagai prasyarat pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan atau kegiatan serta termuat dalam Perizinan Berusaha, atau persetujuan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.”

Sedangkan pengertian UKL-UPL dalam pasal 1 angka 12 juga turut serta diubah menjadi:

“Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang selanjutnya disebut UKL-UPL adalah rangkaian proses pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dituangkan dalam bentuk standar untuk digunakan sebagai prasyarat pengambilan keputusan serta termuat dalam Perizinan Berusaha, atau persetujuan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.”

Undang-Undang Cipta Kerja merubah ketentuan dalam Undang- Undang Nomor 32 tahun 2009 pada aspek izin lingkungan. Perbedan yang telah diubah tersebut meliputi:

a. Tahapan

Aspek yang harus dipenuhi dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 terhadap izin usaha yaitu: proses dokumen lingkungan (AMDAL dan UKL-UPL), persetujuan lingkungan, izin lingkungan, dan izin usaha. Sedangkan dalam Undang-Undang Cipta Kerja, izin lingkungan tidak lagi digunakan melainkan: proses dokumen lingkungan (AMDAL dan UKL-UPL), persetujuan lingkungan dan izin usaha. Pengertian persetujuan lingkungan dalam cipta kerja merupakan keputusan kelayakan lingkungan hidup atau pernyataan kesanggupan pengelolaan lingkungan hidup yang telah mendapatkan

commit to user

(15)

63

persetujuan dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah4. Sedangkan pengertian dari Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup adalah keputusan yang menyatakan kelayakan lingkungan hidup dari suatu rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Amdal5.

Penghapusan istilah izin lingkungan tersebut secara normatif memberikan dampak dihapuskannya integrasi perizinan. Seperti yang diketahui bahwa izin lingkungan berfungsi sebagai pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan serta sebagai integrasi perizinan dalam lingkungan hidup meliputi pengelolaan Limbah B3, izin pembuangan limbah B3 ke laut, pembuangan air limbah ke sumber air dan atau memanfaatkan air limbah untuk aplikasi ke tanah6. Maka, Undang-Undang Cipta kerja yang bertujuan untuk mengintegrasikan ketentuan justru sebaliknya, memberikan dasar hukum untuk mengganti ketentuan yang tercantum dalam PP OSS tersebut.

b. Dasar pelaksanaan AMDAL dan UKL-UPL

Dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009, kriteria kegiatan yang wajib AMDAL merupakan kegiatan usaha yang dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Pasal 22 ayat (1) UUPPLH menyatakan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki AMDAL. Kriteria dampak penting yang ditentukan wajib memiliki AMDAL diantaranya7:

4 Pasal 1 angka 35 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja

5 Pasal 1 angka 10 Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012

6 Pasal 63 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik.

7 Lihat dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Nomor:P.38/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2019 tentang jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pasal 3 ayat (2).

commit to user

(16)

64

1) Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam

2) Eksploitasi sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan

3) Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakanlingkungan hidup serta pemborosan dan kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya

4) Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya

5) Proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya

6) Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, dan jasad renik 7) Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan nonhayati 8) Kegiatan yang mempunyai risiko tinggi dan/atau mempengaruhi

pertahanan Negara

9) Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup.

Sedangkan untuk kriteria yang tidak terlalu berdampak penting, wajib UKL-UPL sebagai pengambil keputusan. Sedangkan terhadap kegiatan usaha yang tidak dibebani AMDAL maupun UKL-UPL, wajib terhadap Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup. Dalam Undang-Undang Cipta Kerja, tidak lagi menggunakan istilah dampak penting, melainkan berbasis risiko meliputi risiko tinggi, menengah, dan rendah. Penetapan risiko tersebut dinilai dari tingkat bahaya dan potensi terjadinya bahaya dalam aspek kesehatan, keselamatan, lingkungan, dan atau

commit to user

(17)

65

pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya. Penilaian tingkat bahaya dilakukan dengan memperhitungkan jenis kegiatan usaha, kriteria kegiatan usaha, lokasi, keterbatasan sumber daya, dan risiko volatilitas (keuangan)8.

Berkaitan dengan perizinan berusaha, kegiatan usaha beresiko rendah mendapatkan nomor induk berusaha, kegiatan usaha berisiko menengah mendapatkan nomor induk berusaha dan sertifikat standar, dan kegiatan usaha berisiko tinggi mendapatkan nomor induk berusaha dan izin atas persetujuan pemerintah terhadap pelaksanaan kegiatan usaha9.

Implikasi dari perubahan tersebut memberikan perubahan dalam kriteria klasifikasi kegiatan usaha yang memiliki dampak atau tidak memiliki dampak dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009. Adanya dasar hukum ini dapat menimbulkan perubahan dalam kriteria usaha wajib AMDAL yang dapat diubah dengan menghapus atau mengeluarkan kriteria usaha wajib AMDAL yang telah tercantum dalam norma sebelumnya, karena dasar dari perizinan usaha berbasis risiko sebagai peningkatan kegiatan investasi dan kegiatan berusaha.

Selain itu, menurut analisis Reynaldo Sembiring, penetapan risiko terbatas hanya dalam aspek kesehatan, keselamatan, lingkungan, dan atau pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya serta aspek lainnya sesuai kegiatan lainnya dinilai sangat birokratis dan sempit. Penilaian risiko yang birokratis berkaitan dengan persepsi yang mungkin berbeda antar manusia karena penetapan risiko hanya dari beberapa faktor tersebut dinilai masih sempit dan belum ada penjelasan yang lebih lanjut pada tiap kriteria nya. Indikator yang digunakan juga belum jelas dalam perhitungan risiko. Misalkan dalam aspek

8 Pasal 7 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 Tentang Cipta Kerja.

9 Ibid, pasal 8, 9 dan 10.

commit to user

(18)

66

lingkungan belum ada standar yang dipertimbangkan secara komperehensif dan matang.10

c. Penilai Instrumen AMDAL

Komisi Penilai AMDAL (KPA) dibentuk oleh Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota untuk menilai dokumen AMDAL11. Namun dalam Undang-Undang Cipta Kerja, tidak ditemukan istilah KPA, melainkan Lembaga Uji Kelayakan (LUK) yang dibentuk oleh Pemerintah Pusat terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan ahli bersertifikat12. Dihapuskannya KPA justru tidak mengindahkan adanya asas partisipasi dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Penilai dokumen AMDAL tidak lagi oleh instansi lingkungan hidup, instansi tekniks terkait, pakar dibidang pengetahuan yang terkait jenis usaha dan atau kegiatan, wakil dari masyarakat yang berpotensi terkena dampak hingga organisasi lingkungan hidup yang tercantum dalam Pasal 30 Undang-Undang 32 tahun 2009 yang dihapus oleh Undang-Undang Cipta Kerja.

d. Keterlibatan Masyarakat

Selain dihapuskannya keterlibatan masyarakat dalam KPA, partisipasi public dalam penyusunan AMDAL dikurangi seperti pada ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 yang juga mereduksi partisipasi masyarakat.

Ketentuan izin lingkungan dalam Undang-Undang Cipta Kerja yang diintegrasikan kedalam izin usaha dengan istilah persetujuan lingkungan dengan maksud apabila terdapat pelanggaran maka tidak sekedar izin lingkungan yang dicabut (izin usaha tetap ada), melainkan izin usaha

10 Reynaldo Sembiring, 2020, Pelemahan Instrumen Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam RUU Cipta Kerja, Seri Analisis ICEL (2), ICEL: Jakarta, hlm. 3

11 Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

12 Pasal 24 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 tentang Cipta Kerja

commit to user

(19)

67

yang termasuk didalamnya mengandung persetujuan lingkungan yang dicabut yang mampu memberikan sanksi dicabutnya izin usaha13. Padahal apabila dicermati, gagasan tersebut dirasa tidak menambah kekuatan hukum sebelumnya dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009.

Dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 juga telah mengandung penguatan instrument hukum dalam izin lingkungan. Izin lingkungan sebagai prasyarat izin usaha berdasarkan pasal 40 ayat (2) Undang- Undang Nomor 32 tahun 2009 menyatakan bahwa:

“Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan dibatalkan.”

Meskipun dicabutnya izin lingkungan tidak membatalkan izin usaha, namun berdasarkan ketentuan pasal 40 ayat (20), izin usaha secara administratif dibatalkan. Oleh karena itu, apabila kegiatan usaha tetap beroperasi dengan keadaan izin lingkungan yang dicabut, maka kegiatan tersebut melanggar ketentuan hukum14.

Ketentuan hukum yang dilanggar meliputi pasal 109 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 yang menyatakan bahwa:

“Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa memiliki izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).”

Maka, ketentuan tersebut menunjukkan bahwa izin lingkungan memberikan pengaruh kepada izin usaha apabila dicabut, meskipun sanksi yang dijatuhkan hanya berupa sanksi pidana dan denda. Dalam Pasal 22 yang merubah, menghapus serta menentukan ketentuan baru izin lingkungan menjadi istilah persetujuan lingkungan

13 https://ekonomi.bisnis.com/read/20201009/9/1302877/izin-amdal-dalam-omnibus-law-tidak- dihapus-hanya-disederhanakan diakses pada tanggal 18 November 2020.

14 Reynaldo Sembiring, Yustisia Rahman, dkk, 2014, Anotasi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Jakarta: Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), hlm. 378

commit to user

(20)

68

Tabel 4. 2 Perbedaan Penyusunan Izin lingkungan dan Persetujuan Lingkungan dalam Undang-Undang Cipta Kerja

No .

Indikator UUPPLH UU Cipta Kerja

1. Istilah Izin Lingkungan Persetujuan Lingkungan 2. Pengertian Izin lingkungan adalah

izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan.

(Pasal 1 angka 35)

Persetujuan

Lingkungan adalah Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau pernyataan Kesanggupan

Pengelolaan

Lingkungan Hidup

yang telah

mendapatkan

persetujuan dari pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah (Perubahan Pasal 1 angka 35 UUPPLH dalam UU Cipta Kerja)

3. Tingkat Proses Perizinan

1. Dampak penting bagi lingkungan 2. Tidak berdampak

penting bagi lingkungan

1. Risiko Rendah Hanya wajib memiliki NIB 2. Risiko Sedang

Hanya wajib memiliki NIB 3. Risiko Tinggi

Wajib memiliki NIB dan AMDAL (Pasal 17 ayat (3) PP Nomor 5 Tahun 2021) 4. Posisi Izin

Lingkungan/Pe rsetujuan Lingkungan

Izin lingkungan harus dipenuhi dahulu sebagai prasyarat izin usaha (Pasal 35 ayat (1) UUPPLH)

Persetujuan

lingkungan terletak dalam izin usaha, maka dari itu persetujuan

lingkungan berakhir bersamaan dengan commit to user

(21)

69

izin usaha (Pasal 3 ayat (5) PP Nomor 5

Tahun 2021).

Pernyataan kesanggupan pengelolaan

lingkungan hidup merupakan prasyarat persetujuan

lingkungan dan perizinan berusaha (Pasal 64 ayat (1) PP Nomor 22 Tahun 2021)

5. Anggota Penilai AMDAL

Komisi Penilai AMDAL yang terdiri dari:

1. Instansi lingkungan hidup

2. Instansi teknis terkait

3. Pakar di bidang pengetahuan yang terkait dengan jenis usaha dan/atau kegiatan yang sedang dikaji 4. Pakar di bidang

pengetahuan yang terkait dengan dampak yang timbul dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang sedang dikaji 5. Wakil dari

masyarakat yang berpotensi terkena dampak

6. Organisasi lingkungan hidup (Pasal 30 UUPPLH)

Komisi Penilai AMDAL dihapuskan, digant dengan Tim Uji Kelayakan Lingkungan Hidup yang terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Ahli Sertifikat (Pasal 24 UUCK)

commit to user

(22)

70 6. Masyarakat

yang terlibat dalam

AMDAL

Masyarakat yang terkena dampak, pemerhati lingkungan, dan masyarakat yang terpengaruh atas segala keputusan dalam proses AMDAL (Pasal 26 ayat (3) UUPPLH)

Masyarakat yang terkena dampak langsung (Pasal 26 ayat (2) UUCK)

7. Sanksi Pelanggaran Perizinan

Sanksi administratif yang terdiri dari:

1. Teguran tertulis 2. Paksaan pemerintah 3. Pembekuan izin

lingkungan

4. Pencabutan izin lingkungan

(Pasal 76 ayat (2) UUPPLH)

Sanksi administratif yang terdiri dari:

1. Teguran tertulis 2. Paksaan

pemerintah 3. Denda

administrative 4. Pembekuan

Perizinan

Berusaha, dan atau

5. Pencabutan Perizinan

Berusaha. (Pasal 82 C ayat (1) UUCK).

Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa terdapat perbedaan izin lingkungan dengan persetujuan lingkungan meskipun secara konsep masih sama namun hanya terdapat perbedaan istilah dan posisi izin lingkungan/persetujuan lingkungan tersebut. Istilah izin lingkungan menjadi persetujuan lingkungan, tingkat dampak menjadi risiko rendah, sedang, dan tinggi yang disyaratkan sesuai dengan kriteria nya untuk SPPL, UKL-UPL atau AMDAL. Posisi Izin lingkungan tidak lagi sebagai prasyarat dalam izin usaha, namun posisi izin lingkungan (persetujuan lingkungan) terletak dalam persetujuan usaha. Oleh karena itu, ketentuan baru memberikan pelaku usaha untuk memenuhi pemenuhan izin lingkungan dan izin usaha secara bersamaan.

commit to user

(23)

71

Namun, partisipasi masyarakat dalam UUCK lebih direduksi dibandingkan dengan izin lingkungan sebelumnya dalam UUPPLH. Sama halnya dengan ketentuan dalam izin lingkungan dalam sistem perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik, ketentuan dalam perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik juga mereduksi partisipasi masyarakat yang hanya diikutsertakan dalam proses konsultasi publik saja.

B. Pembahasan

1. Ambiguitas pada penerbitan izin lingkungan antara Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Usaha Terintegrasi Secara Elektronik

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup merupakan norma dalam pengaturan Lingkungan Hidup sebagai implementasi dari Pasal 28 H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memberikan ketentuan diantaranya setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat. Selain itu, Undang-Undang tersebut secara vertical berdasarkan hierarki peraturan perundang-undangan merupakan dasar hukum dalam pembentukan peraturan-peraturan yang berada dibawahnya sebagai pelaksana seperti regulasi berkaitan dengan izin lingkungan yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2012 tentang izin lingkungan.

Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah norma ideal untuk menyempurnakan ketentuan berkaitan dengan lingkungan hidup dari norma-norma sebelumnya. Pada mulanya, Undang- Undang Lingkungan Hidup Nomor 4 tahun 1982 atau dikenal dengan UULH 1982, timbul karena adanya semangat konferensi Stockhlom

commit to user

(24)

72

197215. UULH Nomor 4 Tahun 1982 menyatakan bahwa setiap rencana yang memiliki dampak terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan AMDAL16.

Namun, adanya ketentuan dengan kewajiban pelaku usaha juga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada pada era tahun berlakunya UULH tahun 1948 tersebut. Meskipun substansi yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 4 tahun 1982 telah memenuhi akomodasi yang diharapkan dalam pengelolaan lingkungan hidup, pada aspek penggunaan hukum tersebut dirasa kurang efektif karena adanya manipulasi data terhadap AMDAL pada beberapa kasus karena kurangnya pengawasan17. Oleh karena itu, ketentuan dalam lingkungan hidup diperbarui dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, terdapat penambahan asas lingkungan hidup yaitu asas tanggung jawab Negara yang memiliki ati bahwa pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat baik masa saat ini hingga nanti. Hal tersebut merupakan tujuan dari undang-undang tersebut yaitu mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia. Selain itu, terdapat aspek baru dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang diatur seperti Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, pengertian Pelestarian daya dukung dan Daya tampung Lingkungan, pengertian audit lingkungan, bahan

15 Marhaeni Ria Sihombo, Op.cit, hlm. 71.

16 Pasal 16 Undang-Undang Lingkungan Hidup Nomor 4 tahun 1982

17 Marhaeni Ria Sihombo, Op.cit, hlm. 72.

commit to user

(25)

73

berbahaya dan beracun (B3), serta pengaturan mengenai peran serta masyarakat.

Namun, Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup kemudian diperbarui dengan adanya Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Faktor perubahan peraturan tersebut didasari bahwa, secara subtantif terdapat kelemahan normatif dalam penegakan hukum administrasi oleh penyidik pegawai negeri sipil dan kementerian lingkungan hidup, perubahan amandemen Undang-Undang Dasar 1945 yang mengakibatkan undang-undang juga harus dirubah sesuai ketentuan dalam amandemen yaitu, pembangunan ekonomi nasional diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta kebijakan otonomi daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan yang memberikan perubahan termasuk dalam regulasi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai dasar pelaksanaan pencegahan represif pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup serta upaya preventif dalam pemulihan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

Perbedaan dari Undang-Undang sebelumnya adalah dalam Undang- Undang Nomor 32 tahun 2009 terdapat penambahan perihal pendayagunaan pendekatan ekosistem atau ekoregion, perubahan denda, pembagian kewenangan pemerintah pusat dan daerah, kajian lingkungan hidup strategis (KLHS), Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL), analisis risiko lingkungan hidup, kewajiban bagi seseorang yang melakukan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, pemeliharaan lingkungan hidup, sistem informasi lingkungan hidup, hak gugat pemerintah dan pemerintah

commit to user

(26)

74

daerah, penyidik terpadu yang terdiri dari penyidik pegawai negeri sipil, kepolisian, dan kejaksaan di bawah koordinasi Menteri, serta alat bukti dalam tindak pidana lingkungan.

Pemerintah memberikan klaim bahwa sistem OSS merupakan pemangkasan birokrasi yang berbelit-belit dalam penyusunan izin usaha.

Perizinan usaha dan izin lingkungan lebih mudah didapatkan setelah adanya sistem OSS yang memberikan pelaku usaha untuk melakukan usahanya dengan adanya komitmen pemenuhan izin lingkungan. Tidak semua sector usaha masuk dalam ketentuan OSS.

Sector izin usaha yang diatur dalam perizinan OSS ini diantaranya pada sector: sektor ketenagalistrikan, sektor pertanian, sektor lingkungan hidup dan kehutanan, sektor pekerjaan umum dan perumahan rakyat, sektor kelautan dan perikanan, sektor kesehatan, sektor obat dan makanan, sektor perindustrian, sektor perdagangan, sektor perhubungan, sektor komunikasi dan informatika, sektor keuangan, sektor pariwisata, sektor pendidikan dan kebudayaan, sektor pendidikan tinggi, sektor agama dan keagamaan, sektor ketenagakerjaan, sektor kepolisian, sektor perkoperasian dan usaha mikro, kecil, menengah, dan sector ketenaganukliran18.

Pembentukan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 didasarkan pada konsideran dari pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 20l4 tentang Pemerintahan Daerah.

Peraturan Pemerintah tersebut tidak didasari dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 meskipun dalam ketentuan Peraturan Pemerintah tersebut membahas mengenai izin lingkungan. Izin lingkungan hanya

18 Ibid, Pasal 85.

commit to user

(27)

75

salah satu bagian dari ketentuan yang harus dipenuhi dalam izin usaha, beberapa persyaratan yang harus dipersiapkan diantaranya:

a. Rekaman perizinan berupa Izin Prinsip/Izin Investasi/Izin Usaha/Izin Kementerian/ Lembaga/Dinas terkait yang telah dimiliki

b. Rekaman Akta Pendirian perusahaan c. NPWP perusahaan

d. Rekaman legalitas lokasi proyek dan/atau alamat perusahaan terdiri dari bukti penguasaan tanah dan/atau bangunan untuk kantor dan/atau gudang seperti sertifikat Hak Atas Tanah dan IMB atau bukti perjanjian sewa menyewa tanah dan/atau gedung/bangunan, berupa rekaman perjanjian sewa-menyewa tanah dan/atau bangunan atas nama perusahaan

e. Izin lokasi atau surat dari instansi terkait mengenai tata ruang kota dan peruntukan lokasi industri apabila perusahaan berada di luar Kawasan Industri.

f. Kelengkapan perizinan daerah sesuai lokasi proyek meliputi:

rekaman Izin Gangguan (UUG/HO) dan/atau SITU bagi perusahaan yang berlokasi di luar kawasan industri dan bagi perusahaan yang berlokasi di Kawasan Industri atau gedung perkantoran, tidak diwajibkan melampirkan rekaman Izin Gangguan (UUG/HO) dan/atau SITU.

g. Rekaman dokumen lengkap dan persetujuan atau pengesahan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) atau Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL)

commit to user

(28)

76

h. Rekaman Izin Lingkungan untuk perusahaan yang telah memiliki AMDAL atau UKL-UPL.

Izin lingkungan merupakan upaya preventif sebagai bentuk pencegahan terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan. Maka dari itu, prasyarat izin lingkungan seperti AMDAL merupakan bentuk keputusan kelayakan lingkungan atau keputusan ketidaklayakan lingkungan sebagai penentu dalam menentukan pelaku usaha memiliki wewenang dalam melakukan usaha maupun merubah bentuk alam sesuai dengan tujuan berusaha yang diharapkannya. AMDAL dan UKL-UPL merupakan salah satu dari instrument pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup selain Kajian Lingkungan Hidup Strategis, Tata Ruang, Baku mutu lingkungan hidup, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, perizinan, instrument ekonomi lingkungan hidup, peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup, anggaran berbasis lingkungan hidup, analisis risiko lingkungan hidup, audit lingkungan hidup serta instrumen lain sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan19

Adanya OSS memberikan kelonggaran kepada pelaku usaha untuk menjalankan kegiatan usahanya sebelum komitmen AMDAL maupun UKL-UPL dapat dipenuhi yaitu mampu melakukan kegiatan seperti pengadaan tanah, perubahan luas lahan, pengadaan peralatan atau sarana, pengadaan sumber daya manusia, penyelesaian sertihkasi atau kelaikan, pelaksanaan uji coba produksi (commisioning), dan pelaksanaan produksi20.

19 Pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

20 Pasal 38 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018

commit to user

(29)

77

Padahal adanya AMDAL dan UKL-UPL dalam prasyarat izin lingkungan merupakan implementasi dari upaya preventif sebagai wujud pembangunan berkelanjutan. Adanya Peraturan Pemerintah tentang OSS sebagai dasar pelaksanaan OSS mempermudah perizinan hanya melalui dalam jaringan (online) selain melalui Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang memberikan konsep praktis. Namun, cara praktis tersebut juga memberikan ketentuan untuk mempercepat proses mendapatkan izin lingkungan.

Jangka waktu dalam penyusunan AMDAL berdasarkan ketentuan umum dalam Peraturan Pemerintah tentang izin lingkungan, ketentuan pemenuhan AMDAL tergantung dari pelaku usaha dalam mempersiapkan kerangka acuan karena kerangka acuan (KA) tidak memiliki batas waktu hingga KA tersebut tidak disampaikan kembali hingga 3 tahun setelahnya. Maka dari itu, hal tersebut tergantung dengan kinerja pelaku usaha untuk mempersiapkan dokumen prasyarat izin lingkungan tersebut.

Sedangkan perizinan lingkungan melalui OSS, pelaku usaha wajib memenuhi izin lingkungan dengan komitmen AMDAL dalam jangka waktu 270 hari mulai dari proses pengumuman dan konsultasi public hingga mendapatkan keputusan kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan hidup. Jangka waktu 270 hari memberikan implikasi bahwa, penyusunan dokumen AMDAL wajib disusun sesuai target yang telah ditentukan. Hal tersebut mengakibatkan melemahnya kedudukan AMDAL selain sudah tidak lagi menjadi penentu dalam keputusan kegiatan maupun usaha, serta memberikan kedudukan hanya sebagai persyaratan administratif yang wajib dipenuhi tanpa mempedulikan proses penyusunan dan kajian yang terkesan tergesa-gesa karena terdapat ketentuan dan batas waktu.

commit to user

(30)

78

Sedangkan izin lingkungan dengan pemenuhan UKL-UPL antara sebelum OSS maupun setelah OSS tidak terjadi perubahan signifikan dalam waktu, sistem konvensional ditentukan selama 14 hari kerja namun tidak termasuk dengan perbaikan dan penyempurnaan.

Sedangkan dalam sistem OSS ditentukan 15 hari kerja dan 5 hari kerja apabila terdapat perbaikan.

Dasar ketentuan adanya pembentukan PP nomor 24 tahun 2018 adalah untuk mempercepat penanaman modal berusaha. Maka dari itu, ketentuan dalam website OSS secara umum mengatur segala persyaratan berkaitan dengan izin usaha. Izin lingkungan merupakan salah satunya. Dalam konsiderasi PP Nomor 24 tahun 2018 tidak mencantumkan Undang- Undang Nomor 32 tahun 2009 sebagai implementasi dari pasal yang berkaitan dengan izin lingkungan. Pasal-pasal dalam Undang Nomor 32 tahun 2009 yang berkaitan dengan izin usaha dilaksanakan dengan Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 2012 tentang izin lingkungan.

Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha terintegrasi secara elektronik merupakan pengaturan yang mengatur tentang perizinan usaha dari segala aspek, dimana izin lingkungan merupakan salah satu yang dibahas.

Menurut asas preferensi Lex posterior derogat legi priori, peraturan yang lebih baru diterbitkan mengesampingkan peraturan yang lebih lama.

Dalam hal ini, Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 2012 tentang izin lingkungan digantikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha terintegrasi secara elektronik dalam aspek izin lingkungan. Kedua norma tersebut mengatur ketentuan yang berbeda, Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 mengatur perizinan berusaha sedangkan Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 2012 mengatur tentang izin lingkungan namun dalam Peraturan

commit to user

(31)

79

Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 mengatur juga mengenai izin lingkungan yang berkaitan dengan izin usaha. Maka dari itu, berdasarkan asas preferensi, aturan izin lingkungan menggunakan ketentuan yang lebih baru yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018.

Namun tidak semua aspek izin lingkungan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018. Aspek izin lingkungan yang belum diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 diantaranya meliputi sektor pertahanan, sektor teknologi satelit, sektor pertambangan minerba, sektor MIGAS eksploitasi panas bumi, usaha dan atau kegiatan yang pemrakarsanya Kementerian, Lembaga, Daerah belum diatur dalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018. Oleh karena itu, kegiatan izin lingkungan yang belum tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 masih menggunakan ketentuan lama yaitu Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 2012 tentang izin lingkungan21.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 dalam hal pemenuhan prasyarat izin lingkungan terdapat konflik norma secara vertikal dengan pasal pada konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 sebagai green constitution. Terdapat konflik norma karena ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 tidak berdasarkan konstitusi hijau Undang-Undang Dasar 1945.

Meskipun demikian, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 Tentang Cipta Kerja yang baru tersebut sama halnya dengan Peraturan Peraturan

21 Pasal 86 Pembentukan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018, menyatakan bahwa Pelaksanaan Perizinan Berusaha yang tidak termasuk dalam Pasal 85 (sector yang tercantum dalam lampiran PP nomor 24 tahun 2018) dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sektor bersangkutan.

commit to user

(32)

80

Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 yaitu memberikan Nomor Induk Berusaha (NIB) diawal sebelum AMDAL maupun UKL-UPL terpenuhi.

Tabel 4. 3 Sinkronisasi Undang-Undang 1945 dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018

Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945

Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018

Pasal 28 H ayat (1)

Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Pasal 32 ayat (2)

Lembaga OSS

menerbitkan Izin Usaha berdasarkan Komitmen kepada Pelaku Usaha yang memerlukan prasarana untuk menjalankan usaha dan/atau kegiatan tapi belum memiliki atau menguasai prasarana yg dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) huruf b, setelah Lembaga OSS menerbitkan:

a. lzin lokasi;

b. lzin Lokasi Perairan;

c. Izin Lingkungan;

dan/atau d. IMB,

berdasarkan Komitmen.

Pasal 38 ayat (1)

Pelaku Usaha yang telah mendapatkan Izin Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 dapat melakukan kegiatan:

a. pengadaan tanah;

b. perubahan luas lahan;

Pasal 33 ayat (4)

Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi

dengan prinsip

kebersamaan, efisiensi berkeadilan,

berkelanjutan,

berwawasan lingkungan, commit to user

(33)

81 kemandirian, serta

dengan menjaga

keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional

c.pembangunan gedung dan pengoperasiannya;

d. pengadaan peralatan atau sarana;

e.pengadaan sumber daya manusia;

f.penyelesaian

sertihkasi atau kelaikan;

g. pelaksanaan uji coba produksi

h. pelaksanaan produksi.

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009

Pasal 38 ayat (2)

Pelaku Usaha yang telah mendapatkan Izin Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 namun belum menyelesaikan:

a. Amdal dan/atau b. rencana teknis bangunan gedung, belum dapat melakukan kegiatan pembangunan bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c.

Pasal 44

Setiap penyusunan peraturan

perundangundangan pada tingkat nasional dan

daerah wajib

memperhatikan

perlindungan fungsi lingkungan hidup dan prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.

Meskipun Undang-Undang Dasar 1945 tidak mencantumkan pasal khusus terkait konstitusi, namun green constitution termuat dalam ketentuan Pasal 28 H ayat (1) sebagai dasar bahwa setiap masyarakat berhak mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat serta Pasal 33 ayat (4) merupakan pasal hasil amandemen ke-4 yang disahkan pada 10 Agustus 2002 sebagai acuan dalam perekonomian nasional yang

commit to user

(34)

82

berlandaskan pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut menjadi dasar penting dalam implementasi konsep pembangunan berkelanjutan di Indonesia yang diatur secara konstitusional dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai hierarki tertinggi dari perundang-undangan Indonesia dan termasuk dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009.

Kedudukan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 dalam hal pemenuhan prasyarat izin lingkungan juga bertentangan dengan ketentuan yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009, izin lingkungan harus dipenuhi sebelum mendaptkan izin usaha. Bahkan, penerbitan izin lingkungan yang tidak dipenuhi dengan AMDAL maupun UKL-UPL dapat diberikan sanksi pidana. Pasal 110 telah dihapuskan oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja. Pasal 109 dan pasal 111 Undang- Undang Nomor 32 tahun 2009 menyatakan bahwa:

Pasal 109:

Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa memiliki izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satumiliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 111:

(1) Pejabat pemberi izin lingkungan yang menerbitkan izin lingkungan tanpa dilengkapi dengan amdal atau UKL-UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3

commit to user

(35)

83

(tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

(2) Pejabat pemberi izin usaha dan/atau kegiatan yang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan tanpa dilengkapi dengan izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Ketiga pasal tersebut memberikan kesimpulan bahwa, AMDAL dan UKL-UPL merupakan penentu adanya suatu kelayakan lingkungan atau tidak sebelum izin usaha dijalankan hal tersebut selaras dengan konsep pembangunan berkelanjutan sebagai upaya preventif dalam menangani perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di sector kegiatan dan atau usaha.

Instrumen pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan AMDAL maupun UKL-UPL tersebut merupakan wujud dari prinsip dalam pembangunan berkelanjutan yaitu:

a. Keadilan antar generasi (intergenerational equity)

Fungsi dari instrument pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan adalah sebagai upaya untuk pelaksanaan pembangunan berkelanjutan terhadap generasi yang akan datang bahwa generasi saat ini tidak boleh memaksakan eksternalitas negatif pembangunan pada generasi mendatang. AMDAL adalah kajian mengenai dampak penting dari rencana usaha dan atau kegiatan terhadap lingkungan, yang diperlukan untuk proses pengambilan keputusan usaha dan atau kegiatan sebagai upaya pencegahan secara preventif apabila ditemukannya dampak lingkungan, maka hal tersebut akan dikaji dalam dokumen AMDAL sebagaimana mestinya. Sedangkan UKL-

commit to user

(36)

84

UPL merupakan upaya pemantauan terhadap usaha yang tidak berdampak signifikan dalam lingkungan hidup untuk proses pengambilan keputusan maupun kegiatan. Proses pemantauan inilah yang menjadi upaya pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan agar menjamin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu, AMDAL dan UKL-UPL merupakan wujud dari prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai upaya untuk mencapai keadilan antar generasi.

b. Keadilan dalam satu generasi (intra-generational equity)

Setiap usaha yang memiliki dampak perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha maupun kegiatan maupun yang tidak memiliki dampak penting wajib dilengkapi dengan instrument perlindungan dan kerusakan lingkungan hidup yaitu AMDAL atau UKL-UPL. Meskipun keuntungan suatu kegiatan maupun usaha diterima oleh pihak yang bersangkutan, dampak dari kerusakan lingkungan hidup diterima oleh masyarakat yang berada disekitar dampak. Beban dari permasalahan lingkungan harus ditanggung bersama dalam satu generasi. Oleh karena itu, instrument pencegahan dan kerusakan lingkungan meliputi AMDAL dan UKL-UPL merupakan pencegahan agar lapisan masyarakat yang bersangkutan baik secara langsung maupun tidak langsung dapat dicegah secara preventif terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pelaku usaha atau kegiatan.

c. Prinsip pencegahan dini (precautionary principle)

Prinsip ini menyatakan bahwa, ketika dalam kondisi kerusakan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan, ketidakpastian pembuktian ilmiah yang belum dapat disimpulkan, tidak serta merta sebagai dasar

commit to user

Gambar

Tabel 4. 1 Perbedaan Penyusunan Izin Lingkungan Non OSS dan OSS
Gambar 4. 1 Alur Penyusunan dan Penilaian AMDAL serta izin lingkungan sebelum  berlakunya OSS
Gambar 4. 2 Alur Penyusunan dan Penilaian AMDAL serta izin lingkungan  berdasarkan OSS
Gambar 4. 3 Alur Penyusunan dan Penilaian UKL-UPL serta izin lingkungan  commit to user
+4

Referensi

Dokumen terkait

authority starting from the authority to test the validity of the Political Party’s leadership at the central level through testing the official resolution letter regarding the

3ngkapan simbolis dalam arsitektur erat kaitannya dengan fungsi arsitektur  sendiri yang melayani dan memberikan suatu arti khusus dalam interaksi antara

Metode penelitian pada dasarnya menggunakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan metode tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Berdasarkan uraian-uraian pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sektor-sektor ekonomi apa saja yang paling strategis dan potensial

menyimpulkan materi.Untuk kegiatan siswa pada pembelajaran siklus I memperoleh nilai rata-rata 76% dan berada dalam kategori cukup. Beberapa kegiatan siswa yang diamati

Berdasarkan data tersebut yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan sistem rujukan pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional di

Dengan demikian beta merupakan pengukur resiko sistematik dari suatu sekuritas atau portofolio relatif terhadap resiko pasar”, beta digunakan untuk mengukur nilai systemic risk

Pengaturan Program Pembentukan Peraturan Daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan