11 BAB III
GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
III.1 Geomorfologi
Morfologi permukaan bumi merupakan hasil interaksi antara proses eksogen dan proses endogen (Thornbury, 1989). Parameter klasifikasi geomorfologi daerah penelitian Wates, Pringsewu, ditentukan berdasarkan beberapa aspek geomorfologi, yaitu morfometri, morfografi, dan morfogenesis (Zuidam, 1985).
Analisa geomorfologi daerah penlitian dilakukan dengan cara penginderaan jauh menggunakan data DEM (Digital Elevation Model) dan peta topografi untuk mendapatkan jangkauan lebih luas. Morfografi merupakan suatu gambaran dari bentuk permukaan bumi yang menjelaskan bentukan bentang alam seperti dataran, perbukitan, dan pegunungan, berdasarkan hasil analisis prespektif, dengan morfologi umum berupa perbukitan yang sudah tererosi dan dataran aluvial yang di dominasi oleh sawah masyarakat sekitar.
Berdasarkan hasil analisis pengolahan data morfografi, klasifikasi Zuidam (1985), satuan geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi tiga bentukan, yaitu dataran rendah pedalaman, perbukitan rendah, dan perbukitan. Berdasarkan interpretasi peta topografi, daerah penelitian di dominasi oleh pola kontur yang sedang sampai rapat yang menunjukkan adanya perbedaaan ketinggian pada daerah penelitian (Gambar III.1.).
III.1.1 Analisis Pola Kelurusan
Pola kelurusan diamati melalui citra satelit SRTM (Shuttle Radar Topography Mission). Analisis pola kelurusan dibagi menjadi dua, yaitu analisis pola kelurusan punggungan dan pola kelurusan lembah dan sungai. Hasil analisis pola kelurusan punggungan dan lembahan ditampilkan pada Gambar III.2. Terdapat 62 kelurusan punggungan dengan warna merah dan panjang setiap garisnya 250 m. Terdapat 83 kelurusan lembahan dengan warna kuning dan panjang setiap garisnya 250 m. Hasil analisis menunjukkan arah yang paling dominan adalah baratlaut-tenggara. Arah pola kelurusan ini dapat ditafsirkan sebagai arah umum struktur yang terbentuk di daerah penelitian.
12 Gambar III.1. Peta morfografi daerah penelitian berdasarkan klasifikasi Zuidam (1985).
13 Gambar III.2. Analisis pola kelurusan daerah penelitian.
III.1.2 Pola Aliran Sungai
Pola aliran sungai pada daerah penelitian menggunakan klasifikasi Zuidam (1985) yang secara umum menunjukkan pola rektangular (Gambar III.3.).
Gambar III.3. Pola aliran sungai daerah peneltian.
14 Pola aliran ini di bagian percabangan sungai membentuk sudut tumpul sebagai sungai utama. Pola ini mencirikan dengan kehadiran struktur berupa kekar yang terdapat pada beberapa cabang sungai besar Way Tebu dan memperlihatkan pola pengaliran yang tidak menerus. Struktur-struktur kekar dominan didapatkan pada percabangan aliran sungai utama.
III.1.3 Tahapan Geomorfik
Proses geomorfik daerah penelitian dapat diketahui melalui ciri litologi serta bentuk lembahan yang terdapat di lapangan. Tahapan geomorfik daerah penelitian sudah dikategorikan sebagai tahapan tua berdasarkan ciri-ciri keberadaan sungai dengan lembah berbentuk “U” pada Sungai Way Tebu sebagai sungai utama daerah penelitian (Gambar III.4.). Bentuk sungai ini diakibatkan oleh erosi secara lateral yang jauh lebih dominan dibandingkan erosi vertikal.
Gambar III.4. Sungai Way Tebu.
15 III.1.4 Satuan Geomorfologi
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan Desa Wates dan sekitaranya dapat dibagi menjadi 3 satuan geomorfologi berdasarkan klasifikasi Zuidam (1985) yaitu, Satuan Perbukitan Batuan Metamorf, Satuan Dataran Denudasional, dan Satuan Dataran Aluvial. Pembagian satuan geomorfologi dapat diamati pada Peta Geomorofologi Daerah Penelitian (Lampiran 2).
III.1.4.1 Satuan Perbukitan Batuan Metamorf
Satuan ini menempati sekitar ± 8% daerah penelitian yang tersebar di bagian timur- tenggara daerah penelitian, ditandai oleh warna ungu pada peta geomorfologi (Lampiran 2). Satuan ini dicirikan dengan garis kontur yang renggang-rapat serta bentuk perbukitan (Gambar III.5.). Satuan ini mempunyai kemiringan lereng berkisar antara 8°-35° (Gambar) dengan ketinggian berkisar 112,5-271 mdpl.
Litologi pada satuan ini dicirikan dengan batuan metamorf filit aktinolit. Pola aliran sungai pada satuan ini adalah rektangular. Sungai-sungai pada satuan ini mempunyai lembah yang relatif luas dan berbentuk ‘U’ serta erosi yang dominan secara lateral dengan pola utama yang terhubung dengan sungai besar daerah penelitian. Daerah perbukitan ini dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat penambangan bahan galian C berupa tambang batu kuari.
Gambar III.5. Satuan perbukitan batuan metamorf.
16 III.1.4.2 Satuan Dataran Denudasional
Satuan ini terdapat pada bagian tenggara sampai baratlaut daerah penelitian, ditandai dengan warna coklat tua pada peta geomorfologi (Lampiran 2). Satuan ini menempati ± 73% daerah penelitian dan berada pada ketinggian berkisar 100-112,5 mdpl dengan kemiringan lereng antara 0°-4° (Gambar). Kenampakan satuan ini pada peta topografi dan citra SRTM mempunyai morfologi berupa daerah lembahan dengan kontur yang relatif renggang. Pada pengamatan yang dilakukan secara langsung di lapangan menunjukkan bentukan dataran (Gambar III.6.). Sungai yang mengalir pada daerah ini mempunyai pola berupa rektangular. Hasil pemetaan geologi menunjukkan bahwa litologi penyusun berupa tuf yang dominan dan batuan metamorf (sekis) dalam kondisi lapuk. Pemanfaatan utama lahan di satuan ini adalah pemukiman warga, perkebunan, dan persawahan.
III.1.4.3 Satuan Dataran Endapan Aluvial
Satuan ini terletak di bagian utara sampai timurlaut daerah penelitian, ditandai dengan warna abu-abu muda pada peta geomorfologi (Lampiran 2). Satuan ini menempati ± 17% dari daerah penelitian yang dicirikan dengan lembah berbentuk
‘U’ dan terdapat endapan-endapan lepas berukuran kerikil, kerakal, serta bongkah berupa tuf dan sekis pada bagian tepi dan juga bagian dasar aliran sungai (Gambar III.7). Satuan ini berada pada ketinggian 89,5 mdpl, dengan kemiringan lereng berkisar 0°-2° (Gambar). Proses yang dominan dalam mengontrol satuan ini adalah proses erosi lateral intensif yang menyebabkan sungai berbentuk ‘U’ serta pelapukan dari Sungai Way Tebu dan anak sungainya. Satuan ini merupakan daerah yang di tempati warga sebagai pemukiman serta beberapa persawahan dan perkebunan.
17 III.6. Satuan dataran denudasional.
Gambar III.7. Satuan dataran aluvial.
III.2 Stratigrafi Daerah Penelitian
Pembagian dan penamaan satuan stratigrafi daerah penelitian menggunakan penamaan stratigrafi tidak resmi berdasarkan data litologi dominan hasil pengamatan langsung di lapangan dan analisis laboratorium (SSI, 1996). Daerah penelitian dibagi menjadi enam satuan litostratigrafi, dengan urutan dari tua ke muda, sebagai berikut:
18 1. Satuan Kuarsit,
2. Satuan Sekis,
3. Satuan Filit Aktinolit, 4. Satuan Tuf Kristal, 5. Satuan Tuf Gelas, 6. Satuan Endapan Aluvial.
Hasil pengamatan di lapangan dan analisis laboratorium dapat dilihat dalam suatu kolom stratigrafi sebagai berikut (Gambar III.8.).
III.2.1 Satuan Kuarsit
Satuan ini mempunyai luas total sekitar ± 4% di bagian barat daerah penelitian.
Satuan batuan ini pada peta geologi (Lampiran 3) ditandai dengan warna ungu muda. Satuan ini tersusun atas kuarsit, dan singkapan terbaik ditemukan dengan kode pengamatan PW-8C berada pada elevasi 125 m di atas permukaan laut.
Kenampakan singkapan Satuan Kuarsit berwarna coklat lapuk, struktur foliasi slaty, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dan mineral kuarsa. Foto singkapan kuarsit dapat dilihat pada Gambar III.9.
Gambar III.9. Singkapan kuarsit PW-8C.
Berdasarkan analisis petrografi pada sampel kuarsit (Gambar III.10.) berwarna putih keruh, struktur foliasi slaty, tekstur heteroblastik (granoblastik dan lepidoblastik), bentuk mineral hipidioblastik, terdiri dari mineral kuarsa (90%) dan muskovit (10%), berukuran 0,01-0,04 mm.
19 Gambar III.8. Stratigrafi daerah penelitian.
20 Gambar III.10. Sayatan tipis kuarsit terdiri dari kuarsa (F5) (90%) dan (C1) (muskovit).
III.2.2 Satuan Sekis
Satuan ini menempati sekitar ± 27% di bagian baratlaut dan selatan daerah penelitian. Satuan batuan ini (Lampiran 3) ditandai dengan warna ungu tua pada peta geologi. Satuan ini terdiri atas sekis, dengan singkapan terbaik ditemukan dengan kode pengamatan PW-1A berada pada elevasi 112,5-237,5 m di atas permukaan laut. Singkapan Satuan Sekis memiliki kenampakan berwarna coklat, lapuk, struktur foliasi sekistos, tekstur heteroblastik (lepidoblastik, granoblastik dan nematoblastik), terdiri dari mineral kuarsa, muskovit, biotit, plagioklas (Gambar III.11.).
Gambar III.11. Singkapan sekis PW-1A.
21 Berdasarkan analisis petrografi pada sampel sekis (Gambar III.12.) batuannya putih keruh, struktur foliasi sekistose, tekstur heteroblastik (granoblastik, lepidoblastik dan nematoblastik), bentuk mineral idioblastik, hipidioblastik, xenoblastik, terdiri dari mineral kuarsa (50%), muskovit (45%), kianit (5%).
Gambar III.12. Sayatan tipis sekis muskovit kuarsa (E6), muskovit (D2) dan, kianit (F6).
Gambar III.13. merupakan sayatan tipis sekis putih coklat, diketahui terdapat struktur foliasi sekistose, tekstur heteroblastik (granoblastik, lepidoblastik dan nematoblastik), bentuk mineral idioblastik, hipidioblastik, xenoblastik, kuarsa (50%), biotit (30%), aktinolit (12%), dan plagioklas (8%).
Gambar III.13. Sayatan tipis sekis kuarsa (D2), Biotit (E4), aktinolit (H8), dan plagioklas (E3).
22 III.2.3 Satuan Filit Aktinolit
Satuan ini menempati sekitar ± 8% di bagian timur daerah penelitian. Satuan batuan ini (Lampiran 3) ditandai dengan warna ungu pada peta geologi. Satuan ini tersusun atas filit aktinolit dan singkapan terbaik ditemukan dengan kode pengamatan PW-4G berada pada elevasi 112,5-162,5 m di atas permukaan laut.
Satuan Filit Aktinolit memiliki kenampakan berwarna abu-abu kehijauan, lapuk, struktur foliasi filitik, tekstur heteroblastik, terdiri dari mineral aktinolit, kuarsa, plagioklas. (Gambar III.14.).
Gambar III.14. Singkapan filit aktinolit PW-4G.
Berdasarkan analisis petrografi pada sampel Filit Aktinolit (Gambar III.15.) berwarna hijau, struktur foliasi filitik, tekstur kristaloblastik, heteroblastik, (granoblastik, lepidoblastik dan nematoblastik) relief tinggi, bentuk mineral idoblastik, hipidioblastik, xenoblastik, terdiri dari mineral aktinolit (75%), kuarsa (20%), dan plagioklas (5%).
23 Gambar III.15. Sayatan tipis filit aktinolit, aktinolit (C6), kuarsa (C3) dan, plagioklas (F1).
Satuan Kuarsit, Satuan Sekis, dan Satuan Filit Aktinolit menurut peta geologi Lembar Kotaagung dan Tanjungkarang (Amin, dkk, 1993 dan Mangga, dkk, 1993) diperkirakan berumur Paleozoikum dan disetarakan dengan Kompleks Gunung Kasih. Satuan Kuarsit, Satuan Sekis dan Satuan Filit Aktinolit terbentuk pada zona subduksi yang terbentuk pada umur Paleozoikum di atasnya terdapat Satuan Tuf Kristal yang terendapkan secara tidak selaras.
III.2.4 Satuan Tuf Kristal
Satuan ini menempati sekitar ± 48% di bagian utara-selatan daerah penelitian.
Satuan ini terdiri atas tuf kristal dan tuf litik, dan singkapan terbaik ditemukan dengan kode pengamatan PW-2H berada pada pinggiran sungai utama Way Tebu.
Tuf Kristal memiliki karakteristik berwarna abu-abu sampai kecoklatan, dalam kondisi lapuk, ukuran butir debu sampai lapili, kemas tertutup, sortasi baik, masif, dan mineral kuarsa dan matriks gelas. (Gambar III.16.). Tuf Litik memiliki karakteristik berwarna abu-abu kehitaman, dalam kondisi lapuk, ukuran butir lapili, kemas terbuka, sortasi buruk, masif, dan mineral kuarsa dan matriks gelas.
24 Gambar III.16. Singkapan tuf kristal PW-2H.
Berdasarkan analisis petrografi pada sampel Tuf Kristal (Gambar III.17.) diketahui bahwa batuan ini berwarna putih keruh, memiliki tekstur klastik, terpilah buruk, kemas terbuka, bentuk butir membundar tanggung, tersusun oleh butiran mineral kuarsa (40%), plagioklas (4%), mineral opak (4%), dan matriks gelas (50%). Mineral sekunder berupa mineral lempung (2%) hadir menggantikan gelas.
Gambar III.17. Sayatan tipis tuf kristal kuarsa (D8), plagioklas (H8), mineral opak (E1), matrikS gelas (F4), dan mineral lempung (A9).
Satuan Tuf Kristal menurut peta geologi Lembar Kotaagung dan Tanjungkarang (Amin, dkk, 1993 dan Mangga, dkk, 1993) diperkirakan berumur Pliosen Akhir- Plistosen Awal yang disetarakan dengan Formasi Lampung. Satuan ini diendapkan secara tidak selaras diatas Satuan Kuarsit, Satuan Sekis dan Satuan Filit Aktinolit.
25 III.2.3 Satuan Tuf Gelas
Satuan ini menempati sekitar ± 4% di bagian tenggara daerah penelitian. Satuan ini terdiri atas tuf gelas dan singkapan terbaik ditemukan dengan kode pengamatan PW-9J berada pada elevasi 125 m di atas permukaan laut. Satuan Tuf Gelas memiliki karakteristik berwarna abu-abu, dalam kondisi lapuk, ukuran butir debu, kemas tertutup, sortasi baik, masif, dan mineral kuarsa serta gelas. (Gambar III.18.).
Gambar III.18. Singkapan tuf gelas PW-9J.
Berdasarkan analisis petrografi pada sampel tuf gelas (Gambar III.19.) diketahui bahwa batuan ini memiliki warna putih keruh, tekstur klastik, terpilah baik, kemas terbuka, menyudut, terdiri dari mineral plagioklas (5%), kuarsa (1%), opak (2%), berukuran 0,0125-0,6 mm, berbentuk menyudut. Matriks (90%) berupa gelas.
Mineral sekunder berupa mineral lempung (2%) sebagai ubahan gelas.
Gambar III.19. Sayatan tipis tuf gelas matriks gelas (C2), kuarsa (B7), kuarsa (J1), mineral opak (H7) dan, mineral lempung (A7).
26 Satuan ini menurut peta geologi Lembar Kotaagung dan Tanjungkarang (Amin, dkk, 1993 dan Mangga, dkk, 1993) diperkirakan berumur Kuarter pada kala Holosen yang disetarakan dengan Endapan Gunungapi Muda diendapkan secara tidak selaras diatas Satuan Tuf Kristal.
III.2.4 Endapan Aluvial
Endapan ini menempati sekitar ± 11% di bagian utara daerah penelitian, terdiri atas material endapan-endapan lepas berupa tuf pasir, kerikil, bongkahan pada sisi sawah. Pada peta geologi satuan ini ditandai dengan warna abu-abu (Lampiran 3).
Satuan ini mempunyai hubungan yang tidak selaras dengan satuan sebelumnya yaitu Satuan Tuf Gelas. Satuan ini menurut peta geologi Lembar Kotaagung dan Tanjungkarang (Amin, dkk, 1993 dan Mangga, dkk, 1993) diperkirakan berumur Kuarter pada kala Holosen yang disetarakan dengan Aluvial, selain aluvial berupa persawahan yang dikelolah oleh warga sekitar. Terdapat juga endapan-endapan lepas pada Sungai Way Tebu daerah penelitian (Gambar III.20.).
Gambar III.20. Satuan endapan aluvial sawah.
III.3 Struktur Geologi
Struktur geologi di daerah penelitian ditentukan dengan pengamatan secara langsung dan pengamatan tidak langsung. Pengamatan secara langsung dilakukan dengan cara mencari indikasi-indikasi struktur yang terdapat di lapangan, berupa pengukuran kekar gerus dan pengukuran foliasi yang terdapat pada batuan metamorf. Sedangkan pengamatan tidak langsung dilakukan dengan metode penginderaan jauh terhadap gejala struktur menggunakan citra satelit (SRTM) dan
27 peta topografi berskala 1:25.000, berupa penarikan kelurusan yang di interpretasikan sebagai sesar pada daerah penelitian.
III.3.1 Kekar
Data kekar yang di dapatkan di lapangan diambil pada 7 titik dengan total jumlah data 50 kekar gerus. Berdasarkan analisis kinematik di dapatkan arah bukaan σ3 berarah dominan baratdaya-timurlaut dan baratlaut-tenggara (Gambar III.21.).
Gambar III.21. Kekar PW-6D berarah baratlaut-tenggara.
28 Gambar III.22. Kekar PW-12G berarah baratdaya-timurlaut.
III.3.2 Sesar Mendatar Menganan
Struktur sesar yang ditemukan pada daerah penelitian adalah sesar yang ditentukan dari analisis kelurusan dari SRTM dan peta topografi serta dengan melihat pola kelurusan daerah penelitian. Hasil analisis pola kelurusan punggungan dan lembahan pada citra satelit dan topografi mengindikasi arah kelurusan yang searah dengan Sesar Sumatera.
Namun, pada daerah penelitian struktur yang berkembang berarah dominan baratdaya-timurlaut dan menghasilkan Sesar Mendatar Menganan. Hasil analisis ini didasarkan pada data SRTM hillshade, morfometri, dan morfografi. Pada peta hillshade pada Gambar III.23. memperlihatkan tekstur kasar yang sama antara blok a dan blok b. Kedua blok ini disusun oleh litologi Satuan Sekis dan Satuan Filit Aktinolit.
Sesar Mendatar Menganan memotong Satuan Batuan Metamorf dan Satuan Tuf Kristal. Struktur ini diprekirakan berumur Tersier (Barber & Crow, 2005) relatif
29 lebih muda dibandingkan Satuan Tuf Kristal pada daerah penelitian (Gambar III.23.).
Gambar III.22. Sesar geser menganan berarah baratdaya-timurlaut (peta hillshade azimut 315 dan altitud 45).