12
BAB III
GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
III.1. Geomorfologi
Analisis geomorfologi dilakukan dengan tiga analisis, diantaranya adalah analisis citra satelit, analisis pola aliran sungai, dan analisis pola kontur. Analisis citra satelit dilakukan untuk mengetahui bentuk punggungan dan lembahan yang ada di daerah penelitian. Analisis citra satelit dilakukan dengan menarik kelurusan pada punggungan dan lembahan. Lalu, kumpulan garis kelurusan itu akan dianalisis persebarannya dengan diagram roset. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk perbukitan sebenarnya dan pola dari punggungan dan lembahan. Analisis pola aliran sungai dilakukan untuk mengetahui perkembangan morfologi dan pengaruh gaya eksogen maupun endogen pada daerah penelitian.
Analisa pola kontur dilakukan untuk mengetahui bentuk morfologi yang ada di daerah penelitian. Hasil dari semua analisis ini kemudian akan menjadi satuan geomorfologi daerah penelitian.
III.1.1. Analisis Kelurusan
Analisis kelurusan dilakukan dengan pengamatan citra satelit berupa DEMNAS (Digital Elevation Model Nasional) untuk mengetahui pola struktur yang berpengaruh dan bentuk morfologi pada daerah penelitian. Pola struktur yang berpengaruh di daerah penelitian dapat dilihat dari bentuk-bentuk kelurusan yang kemudian dianalisis menggunakan diagram roset.
Metode penarikan kelurusan yang dilakukan di daerah penelitian dilihat dari sudut ketinggian matahari (altitude) berarah 45⁰ dan sudut penyinaran matahari (azimuth) berarah 315⁰. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kelurusan punggungan dan lembahan (Gambar III.1).
13
Gambar III.1 Kelurusan punggungan dan lembahan beserta diagram rosetnya.
Berdasarkan analisis citra satelit dalam penarikan kelurusan punggungan dan lembahan, pada daerah penelitian dihasilkan berupa 250 data kelurusan, terdiri dari: 121 data punggungan dan 129 data lembahan. Pada diagram roset kelurusan punggungan menunjukkan arah dominan berarah baratdaya-timurlaut dan diagram roset lembahan terlihat arah dominan kelurusan yang menunjukan arah baratlaut- tenggara dan baratdaya-timurlaut.
III.1.2. Analisis Pola Aliran Sungai
Analisis pola aliran sungai pada daerah penelitian berdasarkan klasifikasi pola aliran sungai menurut Howard (1967) terdiri dari dua pola, yaitu dendritik dan trelis (Gambar III.2). Pola aliran dendritik mengindikasikan bahwa aliran sungai mengarah ke berbagai cabang seperti ranting pohon. Pada pola dendritik mencerminkan daerah yang memiliki struktur batuan yang homogen dan resisten.
Pola ini biasanya berkembang pada daerah punggungan dan lembahan.
Sedangkan, pada pola trelis dicirikan oleh aliran sungai yang mengalir sepanjang lembahan dengan cabang-cabangnya berasal dari lereng yang curam dari kedua
14
sisinya. Sungai utama dengan cabang-cabang sungai membentuk sudut tegak lurus (90⁰). Pola aliran trelis erat kaitannya dengan proses struktur geologi.
Gambar III.2 Pola aliran sungai pada daerah penelitian.
III.1.3. Morfometri
Morfometri merupakan aspek kuantitatif dari bentuk lahan maupun relief permukaan bumi. Aspek kuantitatif dari suatu bentang alam kurang diperhatikan karena aspek tersebut ditujukan untuk penelitian geomorfologi yang lebih detail.
Namun, pada penelitian ini aspek seperti kemiringan lereng dianggap penting karena memiliki hubungan erat dengan komponen geomorfik seperti tingkat erosi, stadia geomorfologi, serta asosiasi terhadap litologi penyusun bentang alam.
Berdasarkan klasifikasi kelas lereng oleh Van Zuidam (1985) lokasi penelitian terbagi menjadi enam kelas lereng. Lereng datar (0-2%) ditunjukkan dengan warna hijau, lereng sangat landai (2-7%) ditunjukkan dengan warna hijau muda, lereng landai (7-15%) ditunjukkan dengan warna kuning, lereng agak curam (15- 30%) ditunjukkan dengan warna jingga, lereng curam (30-70%) ditunjukkan dengan warna merah, dan lereng sangat curam (70-140%) ditunjukkan dengan warna merah tua (Gambar III.3).
15
Gambar III.3 Peta morfometri pada daerah penelitian.
III.1.4. Satuan Geomorfologi
Pembagian satuan geomorfologi dilakukan berdasarkan analisis pola kontur, analisis citra satelit, dan pengamatan di lapangan. Analisis pola kontur dilakukan untuk mengetahui bentuk-bentuk kontur yang mengacu pada morfologi suatu endapan. Analisis citra satelit dilakukan untuk mengetahui kemiringan lereng yang ada pada daerah penelitian (Gambar III.3). Pengamatan di lapangan dilakukan untuk mengetahui bentuk-bentuk morfologi secara langsung dan jenis endapan yang membentuk morfologi tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan satuan geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi lima satuan geomorfologi berdasarkan klasifikasi Van Zuidam (1985) yaitu: Perbukitan Blok Sesar, Perbukitan Tererosi Kuat, Perbukitan Tererosi Ringan, Dataran Pantai dan Kipas Aluvial.
III.1.4.1. Satuan Perbukitan Blok Sesar (S3)
Satuan geomorfologi ini menempati luas 44,4% dari luas total daerah penelitian.
Satuan ini berada pada ketinggian 12,5-150 meter dicirikan dengan kontur yang agak rapat hingga rapat dengan kemiringan lereng curam hingga sangat curam
16
(30-140%). Berdasarkan pengamatan lapangan, litologi penyusun satuan ini adalah sekis muskovit kuarsa garnet, sekis kuarsa garnet muskovit, andesit, basalt, dan diorit. Satuan ini dikontrol oleh struktur sesar mendatar yang membentuk gawir pada daerah penelitian.
Proses geomorfologi yang berkembang pada satuan ini adalah tahapan muda.
Tahapan ini ditandai dengan bentuk lembahan sungai yang membentuk V sehingga proses geomorfologi eksogen sangat jarang terjadi. Pada satuan ini di dominasi oleh hutan sekunder dan semak.
Gambar III.4 Satuan perbukitan blok sesar, foto diambil dari pesisir Pantai Sebalang.
III.1.4.2. Satuan Perbukitan Tererosi Kuat (D1)
Satuan geomorfologi ini menempati luas 15,24% dari luas total daerah penelitian.
Satuan ini berada pada ketinggian 68,75-143,75 meter dicirikan dengan kontur yang agak rapat hingga rapat dengan kemiringan lereng curam hingga sangat curam (21-140%). Berdasarkan pengamatan lapangan, litologi penyusun satuan ini adalah sekis muskovit kuarsa garnet, sekis kuarsa garnet muskovit, dan basalt.
Proses geomorfologi yang berkembang pada satuan ini adalah tahapan dewasa.
Tahapan ini ditandai dengan bentuk lembahan sungai U – V sehingga proses
17
eksogen cukup berperan dalam proses perkembangan geomorfologi pada daerah ini. Satuan ini di dominasi oleh hutan sekunder dan semak.
Gambar III.5 Satuan perbukitan tererosi kuat, foto diambil dari perbukitan sekitar Desa Karya Tunggal.
III.1.4.3. Satuan Perbukitan Tererosi Ringan (D3)
Satuan geomorfologi ini menempati luas 28,46% dari luas total daerah penelitian.
Satuan ini berada pada ketinggian 150-187.5 meter dicirikan dengan kontur yang agak renggang hingga agak rapat dengan kemiringan lereng datar hingga curam (3-55%). Berdasarkan pengamatan lapangan, litologi penyusun satuan ini adalah adalah sekis muskovit kuarsa garnet, sekis kuarsa garnet muskovit, basalt dan diorit.
Proses geomorfologi yang berkembang pada satuan ini adalah tahap dewasa.
Tahapan ini ditandai dengan bentuk lembahan U – V sehingga proses eksogen cukup berperan dalam proses perkembangan geomorfologi pada daerah ini.
Satuan ini di dominasi oleh hutan sekunder, semak, pemukiman, dan pertanian.
18
Gambar III.6 Satuan perbukitan tererosi ringan, foto diambil dari Desa Karya Tunggal.
III.1.4.4. Dataran Pantai (M1)
Satuan geomorfologi ini menempati luas 8,11% dari luas total daerah penelitian.
Satuan ini berada pada ketinggian 0-6.25 meter dicirikan dengan kontur yang sangat renggang dengan kemiringan lereng datar hingga landai (0-13%).
Berdasarkan pengamatan lapangan litologi penyusun satuan ini adalah endapan- endapan pantai.
Gambar III.7 Satuan dataran pantai, foto diambil dari Pantai Pandawa Surung Batang.
III.1.4.5. Kipas Aluvial (F1)
Satuan geomorfologi ini menempati luas 3,77% dari luas total daerah penelitian.
Satuan ini berada pada ketinggian 6,25-12,5 meter dicirikan dengan kontur yang
19
agak renggang dengan kemiringan lereng landai hingga agak curam (8-20%).
Berdasarkan pengamatan lapangan litologi penyusun satuan ini adalah endapan- endapan sedimen yang berasal dari morfologi perbukitan memanjang pada satuan perbukitan struktur. Pola aliran yang berkembang pada satuan ini adalah dendritik yang bergerak menuju ketempat yang lebih rendah yaitu pantai dan dengan bentuk lembahan sungai U – V. Satuan ini didominasi oleh daerah pemukiman dan semak.
Gambar III.8 Satuan kipas aluvial, foto diambil dari pesisir Pantai Sebalang.
III.1.5. Tahapan Geomorfik
Tahapan geomorfologi yang terjadi secara umum di daerah penelitian adalah tahapan geomorfologi muda. Tahapan ini didominasi oleh bentuk sungai yang masih banyak berbentuk V. Tahapan geomorfologi muda ini dikontrol juga oleh batuan resisten pada daerah penelitian seperti batuan beku dan batuan metamorf.
Tahapan geomorfologi dewasa pada daerah penelitian terjadi di sekitar pemukiman sebelah utara hingga timur dengan proses erosi yang cukup intens dan sungai – sungai berbentuk U. Tahapan geomorfologi pada daerah penelitian umumnya disebabkan oleh dua hal, yaitu endogen dan eksogen. Proses endogen yang terjadi pada daerah penelitian merupakan akibat proses struktur geologi yang membentuk perbukitan struktural. Sedangkan proses eksogenik yang terjadi yaitu proses pelapukan dan erosi. Erosi yang terjadi ditunjukkan dengan tebalnya
20
lapisan tanah, erosi yang terjadi secara vertikal, hadirnya endapan longsoran, dan proses sedimentasi yang cukup intensif. Hal itu dapat terjadi karena adanya aktivitas dinamika seperti atmospheric karena besarnya pengaruh dari aliran air dan proses pelapukan. Pelapukan yang umum terjadi adalah pelapukan biologis dan pelapukan kimiawi. Pelapukan biologis terjadi pada lingkungan dengan vegetasi yang lebat seperti hutan dan perkebunan. Pelapukan kimiawi umumnya terjadi di daerah bervegetasi rendah, seperti sawah.
Gambar III.9 Bentuk lembah V yang mencirikan tahapan geomorfik muda.
Gambar III.10 Bentuk lembah U yang mencirikan tahapan geomorfik dewasa.
21 III.2. Stratigrafi
Satuan stratigrafi pada daerah penelitian dapat dibagi enam satuan batuan tidak resmi, yaitu:
1. Satuan Sekis Muskovit Kuarsa Garnet 2. Satuan Sekis Kuarsa Garnet Muskovit 3. Satuan Diorit
4. Satuan Basalt 5. Satuan Andesit 6. Aluvium
III.2.1. Satuan Sekis Muskovit Kuarsa Garnet
Satuan Sekis Muskovit Kuarsa Garnet terdapat pada bagian barat hingga timur menempati 34% dari luas total daerah penelitian. Berdasarkan data lapangan (Gambar III.11) satuan ini memiliki ciri – ciri warna abu gelap, struktur skistosa, tekstur lepidoblastik, terdiri dari mineral kuarsa, muskovit, dan garnet dengan foliasi bearah N 275⁰ E / 60⁰.
Gambar III.11 Foto singkapan satuan sekis muskovit kuarsa garnet berlokasi di Desa Karya Tunggal.
Pada sayatan tipis sekis muskovit kuarsa garnet (Gambar III.12) warna putih kecoklatan, struktur skistos, heteroblastik, granoblastik dan lepidoblastik, muskovit membentuk lepidoblastik, garnet dan kuarsa membentuk granoblastik,
22
dan mineral opak. Garnet quartz inclusion, garnet porphyroblast. Terdiri dari mineral muskovit 54%, kuarsa 33%, garnet 8%, dan opak 5%.
Gambar III.12 Foto sayatan tipis satuan sekis muskovit kuarsa garnet kode sampel 21/MN/02B.
Satuan Sekis Muskovit Kuarsa Garnet ini diinterpretasikan sebagai hasil dari akresi terrain Woyla Arc dan terrain West Sumatera yang berlangsung selama Kapur (Barber dkk., 2005). Keterdapatan mineral garnet menandakan fasies metamorfisme merupakan fase peralihan dari fase greenschist menjadi fase amphibolite. Satuan disebandingkan dengan Formasi Sekis Way Galih yang berumur Paleozoikum (Mangga dkk., 1993).
III.2.2. Satuan Sekis Kuarsa Garnet Muskovit
Satuan Sekis Kuarsa Garnet Muskovit terdapat pada bagian Selatan menempati 34% dari luas total daerah penelitian. Berdasarkan data lapangan (Gambar III.13) satuan ini memiliki ciri-ciri warna abu gelap, struktur skistosa, tekstur lepidoblastik, terdiri dari mineral kuarsa, muskovit, dan garnet dengan arah foliasi N 285⁰ E / 75⁰.
23
Gambar III.13 Foto singkapan satuan sekis kuarsa garnet muskovit di Desa Karya Tunggal.
Pada sayatan tipis sekis amfibol (Gambar III.12) memiliki warna putih kecoklatan, struktur skistos, heteroblastik, granoblastik dan lepidoblastik, muskovit membentuk lepidoblastik, garnet dan kuarsa membentuk granoblastik dan mineral opak. Garnet quartz inclusion. Terdiri dari mineral kuarsa 55%, garnet 25%, muskovit 20%.
Gambar III.14 Foto sayatan tipis satuan sekis kuarsa garnet muskovit kode sampel 21/MN/08A.
Satuan Sekis Kuarsa Garnet Muskovit ini diinterpretasikan sebagai hasil akresi dari terrain Woyla Arc dan terrain West Sumatera (Barber dkk., 2005).
Keterdapatan mineral garnet menandakan fasies metamorfisme merupakan fase peralihan dari fase greenschist menjadi fase amphibolite. Satuan ini
24
disebandingkan dengan Formasi Sekis Way Galih yang berumur Paleozoikum (Mangga dkk., 1993)
III.2.3. Satuan Diorit
Satuan Diorit tersebar di bagian Selatan mengintrusi satuan sekis muskovit menempati 1,5% dari luas total daerah penelitian. Berdasarkan data lapangan (Gambar III.15) satuan ini memiliki ciri warna abu kehijauan, fanerik, inequigranular, euhedral – subhedral, terdiri dari mineral plagioklas, biotit, dan hornblenda.
Gambar III.15 Foto singkapan satuan diorit di Sungai Gubug Garam.
Pada sayatan tipis diorit (Gambar III.16) memiliki warna putih kecoklatan, ukuran butir fanerik, keseragaman kristal inequigranular, derajat kristalinitas holokristalin, bentuk kristal euhedral - subhedral, terdiri dari mineral plagioklas 85%, hornblenda 8%, biotit 3%, opak 2%, dan kuarsa 2%. Berdasarkan Streckeisen (1976) satuan ini bernama diorit. Perhitungan mineral plagioklas menunjukkan bahwa mineral plagioklas pada satuan ini merupakan mineral Andesin dengan rata-rata perhitungan An 43 (Magma Intermediate).
25
Gambar III.16 Foto sayatan tipis satuan diorit kode sampel 21/MN/15A.
Satuan Diorit merupakan satuan batuan plutonik yang mengintrusi satuan sekis.
Peristiwa keterbentukan satuan diorit ini diinterpretasikan sebagai subduksi lanjutan pasca akresi yang berlangsung selama Kapur (Barber dkk., 2005). Pada satuan ini disebandingkan dengan Formasi Granodiorit Sulan yang berumur Kapur (Mangga dkk., 1993).
III.2.4. Satuan Basalt
Satuan Basalt terdapat pada bagian Selatan menempati 20% dari luas total daerah penelitian. Berdasarkan data lapangan (Gambar III.17) memiliki warna abu kehijauan, porfiritik, holokristalin, terdiri dari mineral plagioklas, piroksen, dan hornblenda.
Gambar III.17 Foto singkapan basalt berlokasi di Sungai Gubug garam.
26
Pada sayatan tipis satuan basalt (Gambar III.18) memiliki warna abu-abu keputihan, ukuran butir porfiritik, keseragaman kristal inequigranular, derajat kristalinitas holokristalin, bentuk kristal subhedral - anhedral, tekstur khusus trakitik, terdiri dari mineral plagioklas 65%, feldspar 16%, olivin 12%, opak 5%, piroksen 2%. Berdasarkan Streckeisen (1976) satuan ini bernama basalt.
Perhitungan mineral plagioklas menunjukkan bahwa mineral plagioklas pada satuan ini merupakan mineral Labradorit dengan rata-rata perhitungan An 62.7 (Magma Mafik).
Gambar III.18 Foto sayatan tipis satuan basalt kode sampel 21/MN/19B.
Adanya tekstur khusus berupa trakitik ditunjukkan pada Gambar III.18 (C5, C6, E5, E6, F5, F6) menunjukkan bahwa satuan ini berupa aliran lava. Dan pada beberapa sampel basalt terdapat vesikuler yang menandakan bahwa satuan ini terbentuk hingga ke permukaan. Satuan ini disebandingkan dengan Formasi Sumbat Basal yang berumur Paleosen – Eosen (Mangga dkk., 1993).
III.2.5. Satuan Andesit
Satuan andesit terdapat pada bagian Selatan mengintrusi satuan sekis muskovit kuarsa garnet menempati 0,95% dari luas total daerah penelitian. Berdasarkan data lapangan (Gambar III.19) satuan ini memiliki warna coklat, fanerik, holokristalin, terdiri dari mineral kuarsa, feldspar, dan plagioklas.
27
Gambar III.19 Foto singkapan satuan andesit berlokasi di Tambang PT. Batu Alam Tarahan.
Pada sayatan tipis andesit (Gambar III.20) memiliki warna coklat, ukuran butir porfiritik, keseragaman kristal inequigranular, bentuk kristal subhedral-anhedral, derajat kristalinitas holokristalin. Komposisi mineral terdiri dari feldspar 18%, plagioklas 62%, opak 5%, piroksen 18%, hornblenda 5%. Berdasarkan Streckeisen (1976) satuan ini bernama andesit. Perhitungan mineral plagioklas menunjukkan bahwa mineral plagioklas pada satuan ini merupakan mineral Andesin dengan rata-rata perhitungan An 46.25 (Magma Intermediate).
Gambar III.20 Foto sayatan tipis satuan andesit kode sampel 21/MN/08B.
28
Satuan andesit merupakan satuan intrusi yang menerobos satuan sekis muskovit kuarsa garnet. Keberadaan satuan ini menjadi bukti penunjaman yang berlangsung selama Kapur Akhir – Oligosen Awal (Barber dkk., 2005). Satuan ini disebandingkan dengan Formasi Sumbat Basal yang berumur Paleosen – Eosen (Mangga dkk., 1993).
III.2.6. Aluvium
Satuan aluvium merupakan endapan kuarter yang berada di sekitar pesisir pantai dan menempati 6,6% dari total luas daerah penelitian. Satuan ini terdiri dari endapan-endapan batuan metamorf yang berasal dari perbukitan dan membentuk morfologi kipas aluvial akibat suatu proses struktur geologi dan proses erosi secara vertikal. Tidak hanya endapan batuan metamorf, satuan aluvium ini juga terdiri dari material-material yang berasal dari laut seperti pecahan-pecahan cangkang yang membentang di sepanjang pesisir Pantai Sebalang hingga Pantai Pandawa Suru Batang (Gambar III.21). Satuan aluvium ini memiliki ukuran butir dari lempung hingga kerakal dengan bentuk butir yang menyudut hingga membundar tanggung.
Gambar III.21 Foto satuan aluvium diambil dari Pantai Sebalang dan Pantai Pandawa Suru Batang.
III.3. Struktur Geologi
Struktur geologi dapat dianalisis berdasarkan analisis pola kelurusan dengan citra satelit berupa SRTM. Kemudian tahapan geologi lapangan dilakukan untuk memperkuat data struktur yang diperoleh di lapangan. Data struktur yang sudah diperoleh dari lapangan berupa kekar gerus dan kekar tarik.
29 III.3.1. Analisis Kelurusan SRTM
Pola kelurusan dapat dianalisis dengan interpretasi citra SRTM. Analisis ini dilakukan dengan menarik kelurusan pada punggungan dan lembahan (Gambar III.22). Terdapat 250 data kelurusan terdiri dari 121 data punggungan (garis merah) dan 129 data lembahan (garis kuning). Berdasarkan kelurusan punggungan yang didapat bahwa kelurusan daerah penelitian berarah relatif baratdaya – timurlaut dan kelurusan lembahan berarah relatif baratdaya – timurlaut dan baratlaut - tenggara yang diperkirakan struktur berupa sesar gabungan dari sistem Sesar Sumatera.
Gambar III.22 Peta pola kelurusan daerah penelitian.
III.3.2. Kekar
Kekar atau rekahan adalah struktur geologi yang terdiri antara lain berupa kekar gerus (shear fracture), kekar tarik (tension joint), dan fissure. Pada daerah penelitian banyak kekar yang dijumpai karena batuan sudah mengalami deformasi. Pengolahan data dilakukan dengan data kekar gerus (shear fracture) yang bertujuan untuk menganalisis gaya dinamik yang bekerja pada daerah
30
penelitian dan mengetahui pergerakan relatif suatu batuan. Dari hasil pengamatan lapangan ditemukannya struktur kekar di lapangan, antara lain:
A. Kekar Gerus Karya Tunggal
Dari hasil pengamatan struktur dijumpai beberapa lokasi yang tersebar di sekitar Karya Tunggal, antara lain:
Pada lokasi pertama dengan titik pengamatan 21/MN/01 ditemukan struktur geologi berupa kekar gerus yang berlitologi sekis kuarsa garnet muskovit.
Berdasarkan hasil pengolahan, dapat diketahui bahwa arah tegasan utama N 200⁰ E – N 210⁰ E dan N 230⁰ E – N 240⁰ E.
Kemudian dilakukan analisis stereografi untuk menganalisa arah tegasan berupa σ1, σ2, dan σ3. Setelah dilakukan analisis stereografi dihasilkan tegasan sigma (σ1) berarah 8, N 51⁰ E, tegasan sigma (σ2) berarah 79, N 254⁰ E, dan tegasan sigma (σ3) berarah 2, N 142⁰ E (Gambar III.23). Berdasarkan klasifikasi Anderson (1951) pada titik pengamatan ini terbentuk sesar mendatar.
Gambar III.23 Kenampakan kekar dan analisis stereografi 21/MN/01.
B. Kekar Gerus pada Karya Utama
Dari hasil pengamatan struktur dijumpai beberapa lokasi yang tersebar di sekitar Karya Utama, antara lain:
31
Pada lokasi kedua dengan titik pengamatan 21/MN/37 ditemukan struktur geologi berupa kekar gerus (shear fracture) yang berlitologi sekis muskovit kuarsa garnet.
Berdasarkan hasil pengolahan, maka dapat diketahui bahwa arah tegasan utama N 200⁰ E – N 210⁰ E.
Kemudian dilakukan analisis stereografi untuk menganalisis arah tegasan berupa σ1, σ2, dan σ3. Setelah dilakukan analisis stereografi dihasilkan tegasan sigma (σ1) berarah 11, N 07⁰ E, tegasan sigma (σ2) berarah 69, N 245⁰ E, dan tegasan sigma (σ3) berarah 17, N 101⁰ E (Gambar III.24). Berdasarkan klasifikasi Anderson (1951) pada titik pengamatan ini terbentuk sesar mendatar.
Gambar III.24 Kenampakan kekar dan analisa stereografi 21/MN/37.
III.3.3. Analisis Sesar
Struktur sesar dapat diidentifikasi dari pola kelurusan, pembelokan sungai, perubahan morfologi yang signifikan, dan bukti keberadaan struktur geologi di lapangan. Pada daerah penelitian terdapat tiga sesar mendatar yaitu: Sesar Mendatar Karya Utama, Sesar Mendatar Karya Tunggal, dan Sesar Mendatar Panjang.
32 III.3.3.1. Sesar Mendatar Karya Tunggal
Sesar mendatar Karya Utama berada di sebelah barat daerah penelitian dan berarah timurlaut - baratdaya. Hal ini dicirikan dengan perubahan morfologi lembahan dengan kemiringan yang curam berkisar 30-140% dengan pola kelurusan dominan pada daerah tersebut (Gambar III.25).
Gambar III.25 Kelurusan pada daerah Karya Tunggal sebagai penafsiran sesar.
III.3.3.2. Sesar Mendatar Karya Utama
Sesar mendatar Karya Utama berada di sebelah timur daerah penelitian dan berarah baratlaut – tenggara. Hal ini dicirikan dengan perubahan morfologi lembahan dengan kemiringan yang curam berkisar 30-140% dengan pola kelurusan dominan pada daerah tersebut (Gambar III.26).
Data tersebut dikonfirmasi dengan analisis kinematik kekar pada titik pengamatan 21/MN/37 yang diduga terdapat pergerakan sesar mendatar. Hal ini dibuktikan dengan hubungan shear fracture dengan konsep Anderson (1951) bahwa sigma (σ1) berarah 11, N 07⁰ E, tegasan sigma (σ2) berarah 69, N 245⁰ E, dan tegasan sigma (σ3) berarah 17, N 101⁰ E. Berdasarkan kinematik pergerakan dari sesar, tegasan σ2 berarah relatif vertikal menyebabkan terbentuknya sesar mendatar pada lokasi ini.
33
Gambar III.26 Kelurusan pada daerah Karya Utama sebagai penafsiran sesar.
III.3.3.3. Sesar Mendatar Panjang
Sesar mendatar Panjang berada di sebelah barat daerah penelitian yang membentang sepanjang batas perbukitan dan dataran pantai. Kelurusan sesar ini berarah baratlaut – tenggara. Hal ini dicirikan dengan morfologi gawir, lereng - lereng curam, triangular facets, dan talus yang membentuk kipas aluvial (Gambar III.27).
Gambar III.27 Kelurusan pada daerah Pantai Sebalang sebagai penafsiran sesar.
34 III.3.4. Analisis Dinamik
Struktur geologi yang didapat pada daerah penelitian memiliki pola struktur dengan arah tegasan dominan berarah baratdaya – timurlaut. Pergerakan struktur berarah baratlaut-tenggara (synthetic) dan baratdaya-timurlaut (antithetic) merupakan struktur yang dikontrol oleh sesar mendatar sumatera berumur Miosen – Resen (Barber dkk., 2005). Model ellipsoidal simple shear menurut Wilcox dkk (1973) dianggap dapat merepresentasikan pola pergerakan struktur daerah penelitian (Gambar III.28).
Gambar III. 28 Model ellipsoidal simple shear (Wilcox dkk., 1973).