• Tidak ada hasil yang ditemukan

7. Termodinamika Pencampuran Gas, Cair dan Padat dalam Pembentukan Larutan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "7. Termodinamika Pencampuran Gas, Cair dan Padat dalam Pembentukan Larutan"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

7.

Termodinamika Pencampuran Gas, Cair dan Padat dalam Pembentukan Larutan

TK2901-01: Termodinamika Proses Kelas Rekayasa Paska Panen

Prof. Yazid Bindar

Dr. Megawati Zunita

Teknik Kimia, FTI, ITB

(2)

7.1 Larutan

i. Bahan kimia dapat bercampur bersama bahan kimia lainnya membentuk bahan kimia campuran ii. Larutan adalah dua bahan atau lebih yang membentuk campuran homogen yang mana salah satu

bertindak sebagai bahan pelarut dan yang lainnya sebagai terlarut

iii. Garam NaCl yang berbentuk padat melarut dalam air membentuk larutan garam fasa cair sehingga garam sebagai terlarut dan air sebagai pelarut

iv. Gas O2 juga bisa larut dalam air membentuk campuran homogen fasa cair dimana gas O2 dinyatakan sebagai bahan terlarut dan air sebagai pelarut

v. Gas O2 larutan dalam gas N2 membentukan campuran homogen dalam fasa gas

vi. Etanol cair larut dalam air membentuk larutan cair etanol dimana etanol sebagai terlarut dan air sebagai pelarut

vii. Perunggu merupakan larutan padat-padat dari bahan timah sebagai terlarut dan tembaga sebagai pelarut

(3)

7.2 Ukuran komposisi bahan dalam larutan

i. Komposisi bahan i dalam larutan diukur dengan ukuran fraksi berat dengan simbul xi sebagai perbandingan massa bahan i (mi) dengan massa keseluruhan m dimana

𝜔𝑖 = 𝑚𝑖

𝑚 dimana 𝑚 = σ𝑖𝑁𝑚𝑖

ii. Ukuran komposisi bahan i dalam larutan dinyatakan juga dalam fraksi mol dengan simbul yisebagai perbandingan mol bahan i (ini) dengan mol keseluruhan n dimana

𝑦𝑖 = 𝑛𝑖

𝑛 dimana n = σ𝑖𝑁𝑛𝑖

iii. Ukuran komposisi bahan i dalam larutan cair dinyatakan juga dalam ukuran konsentrasi molar dengan simbul Ci yang menyatakan jumlah mol bahan i (ni) dalam volume larutan V yang dinyatakan oleh

𝐶𝑖 = 𝑛𝑖

𝑉 , bila volume per satuan mol larutan dinyatakan sebagai v, maka 𝐶𝑖 = 𝑦𝑖

𝑣

(4)

7.3 Volume Campuran larutan

i. Sebuah larutan cair dibentuk oleh bahan terlarut sebagai bahan 1 dan bahan pelarut sebagai bahan 2 dengan y1 sebagai fraksi mol bahan 1 dan y2 sebagai fraksi mol bahan 2

ii. Volume molar murni bahan 1 dinyatakan sebagai 𝑣1 (cm3/mol), dan volume molar bahan 1 dalam larutan biner ini dinyatakan sebagai ҧ𝑣1

iii. Volume molar murni bahan 2 dinyatakan sebagai 𝑣2 (cm3/mol), dan volume molar bahan 1 dalam larutan biner ini dinyatakan sebagai ҧ𝑣2

iv. Volume molar larutan sebagai 𝑣 untuk campuran biner larutan cair di atas diperoleh dari persamaan berikut

𝑣 = 𝑦1𝑣ҧ1 + 𝑦2𝑣ҧ2,

v. Volume total larutan dinyatakan sebagai Vt

vi. Jumlah mol total larutan dan jumlah mol masing-masing bahan dalam larutan diperoleh dari hubungan 𝑛 = 𝑉𝑡

𝑣 ; 𝑛1 = 𝑦1𝑛; 𝑛2 = 𝑦2𝑛

vi. Jumlah volume bahan murni 1 (V1) dan bahan murni 2 (V2) yang dicampurkan membentuk larutan dengan volume total Vt diperoleh dari hubungan berikut

𝑉1 = 𝑛1𝑣1 dan 𝑉2 = 𝑛2𝑣2

(5)

Kasus 7.1

Kebutuhan muncul untuk memperolah larutan cair sebanyak 2000 cm3 sebagai larutan antibeku. Larutan ini adalah larutan biner antara Metanol dan Air dengan kandungan 30 mol-% metanol dalamnya.

Volume molar Metanol dalam larutan sebagai ҧ𝑣1 adalah 38,632 cm3/mol. Volume molar Air dalam larutan sebagai ҧ𝑣2 adalah 17,765 cm3/mol. Volume molar Metanol murni sebagai 𝑣1adalah 40,727 cm3/mol. Volume molar Air murni sebagai 𝑣2 adalah cm3/mol. Data-data ini berlaku untuk temperatur 25 oC.

Berapa volume metanol murni dan air murni pada 25°C yang harus dicampur untuk membentuk 2000 cm3 larutan antibeku pada temperatur 25°C?

Solusi Kasus 7.1

• Volume molar larutan sebagai 𝑣 untuk campuran biner larutan cair di atas diperoleh dari persamaan berikut 𝑣 = 𝑦1𝑣ҧ1 + 𝑦2𝑣ҧ2 = 0,3 𝑥38,632 cm3/mol + 0,7 x17,765 cm3/mol=24,025cm3/mol

• Jumlah mol total larutan untuk 2000 cm3 volume larutan dan jumlah mol Metanol dan Air dihitung sebagai berikut 𝑛 = 𝑉𝑡

𝑣 = 2000 𝑐𝑚3/(24,025cm3/mol)=83,246 mol , jumlah mol Metanol adalah

𝑛1 = 𝑦1𝑛 = 0,3x83,246 mol = 24,974 mol ; jumlah mol Air adalah 𝑛2 = 𝑦2𝑛 = 0,7x83,246 mol = 57,272 mol

(6)

Kasus 7.1

Kebutuhan muncul untuk memperolah larutan cair sebanyak 2000 cm3 sebagai larutan antibeku. Larutan ini adalah larutan biner antara Metanol dan Air dengan kandungan 30 mol-% metanol dalamnya.

Volume molar Metanol dalam larutan sebagai ҧ𝑣1 adalah 38,632 cm3/mol. Volume molar Air dalam larutan sebagai ҧ𝑣2 adalah 17,765 cm3/mol. Volume molar Metanol murni sebagai 𝑣1adalah 40,727 cm3/mol. Volume molar Air murni sebagai 𝑣2 adalah 18,068 cm3/mol. Data-data ini berlaku untuk temperatur 25 oC.

Berapa volume metanol murni dan air murni pada 25°C yang harus dicampur untuk membentuk 2000 cm3 larutan antibeku pada temperatur 25°C?

Solusi Kasus 7.1

• Jumlah volume bahan murni Metanol (V1) dan bahan murni Air (V2) yang dicampurkan membentuk larutan dengan volume total Vt mol diperoleh dari hubugan berikut

𝑉1 = 24,974 mol 𝑥 40,727 cm3/mol= 1017 cm3 dan 𝑉2 = 57,272 mol 𝑥18,068 cm3/mol=1053 cm3

(7)

7.4 Entalpi Campuran larutan

i. Sebuah larutan dibentuk oleh bahan terlarut sebagai bahan 1 dan bahan pelarut sebagai bahan 2 dengan y1 sebagai fraksi mol bahan 1 dan y2 sebagai fraksi mol bahan 2

ii. Entalpi molar murni bahan 1 dinyatakan sebagai ℎ1 (J/mol), dan entalpi molar bahan 1 dalam larutan biner ini dinyatakan sebagai ത1

iii. Entalpi molar murni bahan 2 dinyatakan sebagai ℎ2 (J/mol), dan entalpi molar bahan 1 dalam larutan biner ini dinyatakan sebagai ത2

iv. Entalpi molar larutan sebagai ℎ untuk campuran biner larutan cair di atas diperoleh dari persamaan berikut ℎ = 𝑦11 + 𝑦22,

v. Entalpi total larutan dinyatakan sebagai Ht

vi. Jumlah mol total larutan dan jumlah mol masing-masing bahan dalam larutan diperoleh dari hubungan 𝑛 = 𝐻𝑡

; 𝑛1 = 𝑦1𝑛; 𝑛2 = 𝑦2𝑛

vi. Entalpi molar bahan murni 1 sebagai h1 dan bahan murni 2 sebagai h2 membentuk larutan dengan entalpi molar h, maka perubahan entalpi molar Δℎ𝑠𝑜𝑙 yang ditimbulkan proses pelarutan adalah

Δℎ𝑠𝑜𝑙 = ℎ − 𝑦11 + 𝑦22 atau perubahan entalpi larutan per satuan massa Δℎ𝑠𝑜𝑙 = ℎ − 𝜔11 + 𝜔22

(8)

7.4.1 Panas Larutan dan Pencampuran

i. Panas yang dihasilkan atau diperlukan dalam pencampuran (a) bahan fasa gas dengan bahan fasa gas, (b) pencampuran bahan fasa gas dengan bahan fasa padat dan (c) pencampuran bahan fasa padat dengan bahan fasa padat dapat diabaikan.

ii. Panas pencampuran (dihasilkan atau diperlukan) antara (d) fasa gas dan fasa cair, (e) fasa cair dan fasa cair, dan (f) fasa padat dan fasa cair tidak bisa diabaikan dan harus diperhitungkan

iii. Pencampuran dua bahan murni yang masing-masing bahan murni memiliki entalpi molar ℎ1 dan ℎ2 membentuk larutan dengan fraksi mol masing-masing bahan 𝑦1 dan 𝑦2 sehingga entalpi molar larutan yang dihasilkan dinyatakan sebagai ℎ, maka perubahan entalpi molar setelah pencampuran dengan sebelum pencampuran dinyatakan oleh persamaan

Δℎ𝑠𝑜𝑙 = ℎ − 𝑦11 + 𝑦22

iv. Proses pencampuran dilangsungkan tanpa ada energi kerja yang terlibat pada tekanan tetap dengan jumlah mol bahan hasil pencampuran 𝑛, maka jumlah panas 𝑄𝑠𝑜𝑙 yang terlibat adalah

𝑄𝑠𝑜𝑙 = 𝑛Δℎ𝑠𝑜𝑙

(9)

Kasus 7.2

Perubahan entalpi molar pelarutan NaOH (Δℎ𝑠𝑜𝑙) dalam air diketahui sebesar -445,1 kJ/mol. Sejumlah 5 g NaOH dilarutkan dalam 1 liter air. Densitas air diketahui sebesar 1 kg/liter pada temperatur 25 oC. Tentukan jumlah panas yang dilepaskan oleh larutan ini sehingga temperatur tetap berada pada 25 oC.

Solusi kasus 7.2

• Jumlah panas pelarutan 𝑄𝑠𝑜𝑙 = 𝑛Δℎ𝑠𝑜𝑙

• Jumlah mol NaOH yang dilarutkan n adalah 𝑛 = 𝑚𝑁𝑎𝑂𝐻

𝑀𝑊,𝑁𝑎𝑂𝐻 = 5 𝑔

23+16+1 𝑔

𝑚𝑜𝑙

= 5

40𝑚𝑜𝑙 = 0,125 𝑚𝑜𝑙

• Maka

𝑄𝑠𝑜𝑙 = 𝑛Δℎ𝑠𝑜𝑙 = 0,125 𝑚𝑜𝑙 𝑥 −445,1 𝑘𝐽

𝑚𝑜𝑙 = −55,64 𝑘𝐽

Qsol yang bernilai menunjukkan bahwa panas sejumlah 55,64 kJ ini dibebaskan dalam proses pelarutan ini.

(10)

Kasus 7.3

Perubahan entalpi molar pelarutan NaOH (Δℎ𝑠𝑜𝑙) dalam air diketahui sebesar -445,1 kJ/mol. Sejumlah 5 g NaOH dilarutkan dalam 1 liter air. Densitas air diketahui sebesar 1 kg/liter. Temperatur air dan NaOH sebelum bercampur adalah 25 oC. Semua panas yang dilepaskan digunakan untuk menaikkan temperatur larutan. Tentukan temperatur larutan bila kapasitas panas jenis larutan tekanan tetap bernilai tetap sebesar 4,18 J/(g K).

Solusi kasus 7.3

• Jumlah panas pelarutan 𝑄𝑠𝑜𝑙 = 𝑛Δℎ𝑠𝑜𝑙

• Jumlah mol NaOH yang dilarutkan n adalah 𝑛 = 𝑚𝑁𝑎𝑂𝐻

𝑀𝑊,𝑁𝑎𝑂𝐻 = 5 𝑔

23+16+1 𝑔

𝑚𝑜𝑙

= 5

40𝑚𝑜𝑙 = 0,125 𝑚𝑜𝑙

• Maka 𝑄𝑠𝑜𝑙 = 𝑛Δℎ𝑠𝑜𝑙 = 0,125 𝑚𝑜𝑙 𝑥 −445,1 𝑘𝐽

𝑚𝑜𝑙 = −55,64 𝑘𝐽

• Massa larutan: 𝑚𝑠𝑜𝑙 = 𝑚𝐻2𝑂 + 𝑚𝑁𝑎𝑂𝐻 = 1000 𝑔 + 5 𝑔 = 1005 𝑔

• Semua panas Qsol ini digunakan untuk menaikkan temperatur larutan ke temperatur Tsol dari temperatur sebelum bercampur

−𝑄𝑠𝑜𝑙= 𝑚𝑠𝑜𝑙𝐶𝑝,𝑠𝑜𝑙 𝑇𝑠𝑜𝑙 − 𝑇𝑜 ; 55640 𝐽 = 1005 𝑔 𝑥 4,18 𝐽

𝑔 𝐾 𝑇𝑠𝑜𝑙 − 298 ; Maka 𝑇𝑠𝑜𝑙 = 311,24 𝐾 = 38,24 𝑜𝐶

(11)

Kasus 7.4

Data entalpi pencampuran H2SO4 dalam air diberikan pada diagram. 3 mol air dan 1 mol H2SO4 dicampurankan pada temperatur 0 oC. Entalpi air dan entalpi H2SO4 pada temperatur 0 oC adalah 0 kJ/kg. Tentukan jumlah panas yang dilepaskan oleh larutan ini sehingga temperatur tetap berada pada 0 oC.

Solusi kasus 7.4

• Jumlah panas pelarutan

𝑄𝑠𝑜𝑙 = 𝑚Δℎ𝑠𝑜𝑙 = 𝑚 ℎ − 𝜔𝐻2𝑂𝐻2𝑂 + 𝜔𝐻2𝑆𝑂4𝐻2𝑆𝑂4

• Fraksi massa H2SO4 𝜔𝐻2𝑆𝑂4 = 𝑚𝐻2𝑆𝑂4

𝑚𝐻2𝑆𝑂4+𝑚𝐻2𝑂 = 1 𝑥 98 𝑔

1 𝑥 98 +3 𝑥 18 𝑔 = 0,645

• Dari diagram pada 𝜔𝐻2𝑆𝑂4 = 0,645 dan T = 0 oC, maka ℎ = −315 𝑘𝐽

𝑘𝑔

• Qsol diperoleh secara berikut .

𝑄𝑠𝑜𝑙 = 𝑚 ℎ − 𝜔𝐻2𝑂𝐻2𝑂 + 𝜔𝐻2𝑆𝑂4𝐻2𝑆𝑂4 𝑄𝑠𝑜𝑙 = 0,152 𝑘𝑔 −315 𝑘𝐽

𝑘𝑔 − 0,355 𝑥 0 𝑘𝐽

𝑘𝑔 + 0,645 𝑥 0𝑘𝐽

𝑘𝑔

𝑄𝑠𝑜𝑙 = −47,9 𝑘𝐽

(12)

Kasus 7.5

Data entalpi pencampuran H2SO4 dalam air diberikan pada diagram. 3 mol air dan 1 mol H2SO4 dicampurankan pada temperatur 0 oC. Entalpi air dan

entalpi H2SO4 pada temperatur 0 oC adalah 0 kJ/kg. Seluruh panas yang dilepaskan oleh larutan ini digunakan menaikkan temperatur larutan dari temperatur 0 oC ke temperatur Tsol. Tentukan temperatur Tsol ini. Kapasitas panas jenis larutan yang terbentuk adalah tetap pada 2,1 kJ/(kg K)

Solusi kasus 7.5

• Jumlah panas pelarutan

𝑄𝑠𝑜𝑙 = 𝑚Δℎ𝑠𝑜𝑙 = 𝑚 ℎ − 𝑥𝐻2𝑂𝐻2𝑂 + 𝑥𝐻2𝑆𝑂4𝐻2𝑆𝑂4

−𝑄𝑠𝑜𝑙= 𝑚𝑠𝑜𝑙𝐶𝑝,𝑠𝑜𝑙 𝑇𝑠𝑜𝑙 − 𝑇𝑜

• Fraksi massa H2SO4 𝜔𝐻2𝑆𝑂4 = 𝑚𝐻2𝑆𝑂4

𝑚𝐻2𝑆𝑂4+𝑚𝐻2𝑂 = 1 𝑥 98 𝑔

1 𝑥 98 +3 𝑥 18 𝑔 = 0,645

• Dari diagram pada 𝑥𝐻2𝑆𝑂4 = 0,645 dan T = 0 oC, maka ℎ = −315𝑘𝐽

𝑘𝑔

• Qsoldiperoleh secara berikut .

𝑄𝑠𝑜𝑙 = 𝑚𝑠𝑜𝑙 ℎ − 𝑥𝐻2𝑂𝐻2𝑂 + 𝑥𝐻2𝑆𝑂4𝐻2𝑆𝑂4 𝑄𝑠𝑜𝑙 = 0,152 𝑘𝑔 −315 𝑘𝐽

𝑘𝑔− 0,355 𝑥 0𝑘𝐽

𝑘𝑔+ 0,645 𝑥 0𝑘𝐽

𝑘𝑔

−𝑄𝑠𝑜𝑙= 47,9 𝑘𝐽 = 0,152 𝑘𝑔 𝑥 2,1 𝑘𝐽

𝑘𝑔 𝐾𝑥 𝑇𝑠𝑜𝑙 − 273 K Maka Tsol= 150 oC

(13)

Kasus 7.6

Pemekatan Asam Sulfat dari 20 % berat kadar Asam Sulfat dalam larutan dengan air hendak dipekatkan ke kadar 70 % berat dalam sebuah unit proses Evaporator. Evaporator bekerja dengan cara pemasokan panas untuk menguapkan kandungan air dalam larutan Asam Sulfat yang dipekatkan ini.

Laju Asam Sulfat 20 % berat ini diumpankan sebanyak 11,4 kg/s ke Evaporator dengan temperatur 27 oC. Tekanan evaporator dijaga pada tekanan 0,1 Bar. Temperatur didih untuk 70 % H2SO4 pada tekanan 0,1 Bar adalah 102,8 oC.

Lakukan perhitungan laju panas yang dipasok ke Evaporator.

Solusi kasus 7.6

Untuk x1=0,2 pada T=27 oC, maka entalpi larutan ini h1=-45 kJ/kg

Untuk x2=0,7 pada T=102,8 oC, maka entalpi larutan ini h2= -87,5 kJ/kg

Uap air murni pada P=0,1 Bar dan T=102,8 oC, maka entalpi ini h3= 2692,8 kJ/kg

Neraca massa air: mair-inlet = mair-2 + mair-3, (1-0,2) x 11,4 kg/s = (1-0,7)x(11,4-mair-3) + mair-3 9,12 kg/s = 3,42 kg/s + 0,7 mair-3 ; maka laju alir massa uap murni mair-3= 8,143 kg/S .

Laju massa larutan pekat m2 = (1-0,7)(11,4 – 8,143) kg/s = 3,26 kg/s Neraca energi

Δ𝐻 = 𝑚22 + 𝑚33 − 𝑚11 Δ𝐻 = 3,26𝑘𝑔

𝑠 −87,5 𝑘𝐽

𝑘𝑔+ 8,143𝑘𝑔

𝑠 2692,8 𝑘𝐽

𝑘𝑔 − 11,4𝑘𝑔

𝑠 −45 𝑘𝐽

𝑘𝑔 = 22155𝑘𝐽

𝑠

(14)

Kasus 7.6

Pemekatan Asam Sulfat dari 20 % berat kadar Asam Sulfat dalam larutan dengan air hendak dipekatkan ke kadar 70 % berat dalam sebuah unit proses Evaporator. Evaporator bekerja dengan cara pemasokan panas untuk menguapkan kandungan air dalam larutan Asam Sulfat yang dipekatkan ini.

Laju Asam Sulfat 20 % berat ini diumpankan sebanyak 11,4 kg/s ke Evaporator dengan temperatur 27 oC. Tekanan evaporator dijaga pada tekanan 0,1 Bar. Temperatur didih untuk 70 % H2SO4 pada tekanan 0,1 Bar adalah 102,8 oC.

Lakukan perhitungan laju panas yang dipasok ke Evaporator.

Solusi kasus 7.6

Untuk ω

1

=0,2 pada T=27 oC, maka entalpi larutan ini h=-45 kJ/kg

Untuk ω

2

=0,7 pada T=102,8 oC, maka entalpi larutan ini h = -87,5 kJ/kg

Uap air murni pada P=0,1 Bar dan T=102,8 oC, maka entalpi ini h = 2692,8 kJ/kg

(15)

T=25 oC

(16)
(17)

7.5 Entropi Campuran larutan

i. Sebuah larutan dibentuk oleh bahan terlarut sebagai bahan 1 dan bahan pelarut sebagai bahan 2 dengan y1 sebagai fraksi mol bahan 1 dan y2 sebagai fraksi mol bahan 2

ii. Entropi molar murni bahan 1 dinyatakan sebagai 𝑠1 (J/(mol K)), dan entropi molar bahan 1 dalam larutan biner ini dinyatakan sebagai ҧ𝑠1

iii. Entropi molar murni bahan 2 dinyatakan sebagai 𝑠2 (J/(mol K)), dan entropi molar bahan 1 dalam larutan biner ini dinyatakan sebagai ҧ𝑠2

iv. Entropi molar larutan sebagai 𝑠 untuk campuran biner larutan cair di atas diperoleh dari persamaan berikut

𝑠 = 𝑦1 1ҧ𝑠 + 𝑦2 ҧ𝑠2,

∆𝑠 = 𝑦1 1ҧ𝑠 + 𝑦2 ҧ𝑠2 − 𝑦1𝑠1 + 𝑦2𝑠2

v. Entropi total larutan dinyatakan sebagai St

vi. Jumlah mol total larutan dan jumlah mol masing-masing bahan dalam larutan diperoleh dari hubungan 𝑛 = 𝑆𝑡

𝑠 ; 𝑛1 = 𝑦1𝑛; 𝑛2 = 𝑦2𝑛

(18)

7.6 Energi Bebas Gibbs Larutan

i. Entalpi H merupakan kandungan energi yang dikandung bahan termasuk energi dalam dan energi oleh tekanan tekanan P dan volume V

ii. Entropi S dan temperatur T dapat mengurangi kandungan energi dalam bahan

iii. Energi bebas Gibbs G yang dimiliki diperkenalkan sebagai energi bebas yang dimiliki bahan yang diperoleh dari pengurangan kandungan energi entalpi H dengan perkalian temperatur T dengan entropi S sehingga energi bebas Gibbs dinyatakan oleh persamaan

𝐺 = 𝐻 − 𝑇𝑆 : dalam satuan energi seperti J dan Btu

Energi bebas Gibbs per satuan massa atau mol bahan dinyatakan sebagai g yang dinyatakan oleh persamaan

𝑔 = ℎ − 𝑇𝑠 :

dalam satuan energi/satuan massa atau satuan mol seperti J/kg, J/mol, Btu/lb atau Btu/lb-mol dan Btu v. Energi bebas Gibbs memiliki sifat yang sama dengan entalpi dan entropis yang ditentunkan oleh kondisi

awal dan kondisi akhir dalam perubahan kondisi termodinamik bahan sehinga beda energi bebas Gibbs G atau g dinnyatakan oleh persamaan

∆𝐺 = ∆𝐻 − ∆(𝑇𝑆) dan ∆𝑔 = ∆ℎ − ∆(𝑇𝑠)

(19)

7.6.1 Energi Bebas Gibbs Larutan dan Potensial kimia bahan dalam larutan

i. Energi bebas Gibbs larutan per mol larutan dinyatakan sebagai 𝑔 yang disebut sebagai energi bebas Gibbs molar

ii. Larutan pada tekanan P dan temperatur T dibentuk oleh beberapa bahan kimia dengan fraksi mol y1, y2,...yi

iii. Bila jumlah mol larutan adalah n, maka jumlah energi bebas Gibbs larutan sebagai G dinyatakan oleh 𝐺 = 𝑛 𝑔

iv. Energi bebas Gibbs molar 𝑔 bergantung nilainya pada T, P, y1, y2,...yi yang dinyatakan oleh fungsi 𝑔 = 𝑔 𝑇, 𝑃, 𝑦1, 𝑦2, … , 𝑦𝑖, . .

v. Perbandingan perubahan energi bebas Gibbs larutan ∆ 𝑛 𝑔 terhadap perubahan jumlah mol bahan i ∆𝑛𝑖 pada kondisi T, P dan jumlah mol komponen lain nj tetap dinyatakan sebagai Potensial Kimia bahan i yang disimbulkan sebagai 𝜇𝑖 yang dituliskan dalam bentuk persamaan differensial parsial

𝜇𝑖 = 𝜕 𝑛 𝑔

𝜕𝑛𝑖 𝑇,𝑃,𝑛𝑗

= ҧ𝑔𝑖

vi. Energi bebas Gibbs molar larutan campuran biner 𝑔 dengan fraksi mol bahan 1 y1 dan fraksi mol bahan 2 y2 diperoleh dari persamaan

𝑔 = 𝑦1𝜇1 + 𝑦2𝜇2 = 𝑦1𝑔1ҧ + 𝑦2𝑔ҧ2

(20)

7.7 Larutan dan campuran gas ideal

i. Gas ideal yang dibentuk oleh beberapa bahan kimia gas selalu sebagai larutan

ii. Volume molar bahan i dalam larutan gas ideal ҧ𝑣𝑖𝑔 bernilai sama dengan volume molar bahan murninya 𝑣𝑖𝑔 dan bernilai sama dengan volume molar gas campurannya 𝑣𝑔, atau ҧ𝑣𝑖 = 𝑣𝑖𝑔 = 𝑣𝑔 = 𝑅𝑇

𝑃

iii. Bila fraksi mol bahan i dalam campuran gas ideal adalah yi, maka tekanan parsial bahan i dalam campuran gas ideal sebagai pi diperoleh dari hubungan fraksi mol nya dengan tekanan total P : 𝑝𝑖 = 𝑦𝑖𝑃

iv. Tekanan total sistem gas ideal P merupakan penjumlahan dari seluruh tekanan parsialnya dengan persamaan : 𝑃 = σ1𝑁𝑦𝑖 𝑃

v. Entalpi molar bahan i dalam campuran gas ideal തℎ𝑖𝑔 bernilai sama dengan entalpi molar bahan i murni ℎ𝑖𝑔 sehingga തℎ𝑖𝑔 = ℎ𝑖𝑔

vi. Entropi molar bahan i dalam campuran gas ideal ҧ𝑠𝑖𝑔 memiliki hubungan dengan entropi molar bahan i murni 𝑠𝑖𝑔 dengan fraksi molnya yi dalam campuran yi dalam bentuk persamaan :

ҧ𝑠𝑖𝑔 = 𝑠𝑖𝑔 − 𝑅 ln 𝑦𝑖

v. Energi bebas Gibbs molar bahan i dalam campuran gas ideal dinyatakan sebagai potensial kimia bahan i (𝜇𝑖) dalam campuran diperoleh dari hubungannya dengan energi bebas Gibbs molar bahan murni i (𝑔𝑖𝑔) dan fraksi mol gas i nya (yi) dalam bentuk persamaan :

𝜇𝑖 = 𝑔𝑖𝑔 + 𝑅𝑇 ln 𝑦𝑖 atau 𝜇𝑖 = Γ𝑖 + 𝑅𝑇 ln 𝑦𝑖𝑃

(21)

7.7.1 Besaran termodinamika campuran gas atau larutan ideal

i. Volume molar gas ideal campuran 𝑣𝑔 diperoleh dari persamaan gas ideal : 𝑣𝑔 = 𝑅𝑇

𝑃

ii. Entalpi molar gas ideal campuran hg dinyatakan oleh persamaan:

𝑔 = σ𝑖𝑁𝑦𝑖𝑖𝑔

iii. Entropi molar dan perubahannya untuk gas ideal dalam campuran pada T dan P tetap diperoleh dari persamaan : 𝑠𝑔 = σ1𝑁𝑦𝑖𝑠𝑖𝑔− 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖

Δ𝑠𝑔 = 𝑠𝑔 − σ1𝑁𝑦𝑖𝑠𝑖𝑔 = −𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖 Δ𝑆𝑔 = 𝑛 𝑠𝑔 − σ1𝑁𝑦𝑖𝑠𝑖𝑔 = −𝑛𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖 ln 𝑦𝑖

iv. Perubahan entropi molar gas ideal dalam campuran s pada T dan P yang berubah diperoleh dari persamaan Δ𝑠𝑔 = ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜− 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖 Δ𝑆𝑔 = 𝑛 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜− 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖

v. Energi bebas Gibbs molar gas ideal campuran pada T dan P tetap diperoleh dari persamaan 𝑔𝑔 = σ𝑖𝑁𝑦𝑖𝑔𝑖𝑔 + 𝑅𝑇 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖 atau

Δ𝑔𝑔 = 𝑔𝑔 − σ𝑖𝑁𝑦𝑖𝑔𝑖𝑔 = 𝑅𝑇 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖 𝑔𝑔 = σ𝑖𝑁𝑦𝑖Γ𝑖 + 𝑅𝑇 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖𝑃

Δ𝐺𝑔 = 𝑛 𝑅𝑇 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖

(22)

Kasus 7.7

Berapakah perubahan entropi ketika 0,7 m3 CO2dan 0,3 m3 N2, masing-masing pada 1 bar dan 25 °C, bercampur membentuk campuran gas pada kondisi yang sama?

Solusi kasus 7.7

• Jumlah mol gas CO2 ditentukan dari hubungan gas ideal PV = nRT. Untuk P=1 Bar, T=298 K, VCO2= 0,7 m3, R=8.314462 m3⋅Pa⋅K−1⋅mol−1 ,

maka nCO2=PV/RT= 1x105Pa x 0,7 m3/(8,314462 m3⋅Pa⋅K−1⋅mol−1 x 298 K) = 28,252 mol

• Jumlah mol gas N2 ditentukan dari hubungan gas ideal PV = nRT. Untuk P=1 Bar, T=298 K, VN2 = 0,3 m3, R=8.314462 m3⋅Pa⋅K−1⋅mol−1 ,

maka nN2=PV/RT= 1x105Pa x 0,3 m3/(8,314462 m3⋅Pa⋅K−1⋅mol−1 x 298 K) = 12,108 mol Jumlah mol campuran gas adalah n = nCO2+ nN2=28,252 mol = 12,108 mol = 40,36 mol

• Campuran gas ideal ini memberikan yCO2 = nCO2 /(nCO2 + nN2) = 28,252/(28,252+12,108) = 0,7 dan yN2= 0,3

• Entropi molar gas ideal dalam campuran s diperoleh dari persamaan :𝑠𝑔 = σ1𝑁𝑦𝑖𝑠𝑖𝑔 − 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖 ln 𝑦𝑖 sehingga perubahan entropi adalah

𝑠𝑔 − σ1𝑁𝑦𝑖𝑠𝑖𝑔 = −𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖 = −8,314462 J/(mol K) x 0,7 ln 0,7 + 0,3 ln 0,3 =5,08 J/(mol K) Δ𝑆𝑔 = 𝑛 −𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖 = 40,36 𝑚𝑜𝑙 𝑥 5,08 𝐽

𝑚𝑜𝑙 𝐾 = 205 𝐽

𝐾

(23)

Kasus 7.8

Berapakah usaha yang ideal untuk pemisahan campuran equimolar metana dan etana pada 175 °C (448 K) dan 3 bar dalam proses aliran tunak menjadi aliran produk gas murni pada 35 °C dan 1 bar jika suhu sekitarnya 300 K

Solusi kasus 7.7

• Jumlah kerja ideal yang dinyatakan oleh hubungan 𝑊𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 = Δ𝐻 − 𝑇𝜎Δ𝑆

• Δ𝐻 = 𝑛𝐶𝐻4׬𝑇

1

𝑇2

𝐶𝑃,𝐶𝐻4𝑑𝑇 + 𝑛𝐶2𝐻6׬𝑇

1

𝑇2

𝐶𝑃,𝐶2𝐻6𝑑𝑇

Δ𝐻 = 0,5 𝑚𝑜𝑙 ׬448308𝐶𝑃,𝐶𝐻4𝑑𝑇 + 0,5 𝑚𝑜𝑙 ׬448308𝐶𝑃,𝐶2𝐻6𝑑𝑇

𝐶𝑃,𝐶𝐻4

𝑅 = 1,702 + 9,081𝑥 10−3𝑇 − 2,164𝑥10−6𝑇2

𝐶𝑃,𝐶2𝐻6

𝑅 = 1,131 + 19,225𝑥 10−3𝑇 − 5,561𝑥10−6𝑇2 Δ𝐻 = 0,5 𝑚𝑜𝑙 ׬448308𝐶𝑃,𝐶𝐻4𝑑𝑇 + 0,5 𝑚𝑜𝑙 ׬448308𝐶𝑃,𝐶2𝐻6𝑑𝑇

0,5 𝑚𝑜𝑙 ׬448308𝐶𝑃,𝐶𝐻4𝑑𝑇 = 0.5 mol x 8,314 J

mol K 1,702 𝑇 +9,08𝑥 10−3

2 𝑇22,164𝑥10−6

3 𝑇3

448 308

= −3170,25 𝐽 0,5 𝑚𝑜𝑙 ׬448308𝐶𝑃,𝐶2𝐻6𝑑𝑇 = 0.5 mol x 8,314 J

mol K 1,131 𝑇 +19,225𝑥 10−3

2 𝑇25,561𝑥10−6

3 𝑇3

448 308

= −5355,21 𝐽 Δ𝐻 = −3170,25 𝐽 − 5355,21 𝐽 = −8525,5 𝐽

0,5mol CH4 dan 0,5 mol C2H6, 175 oC

dan 3 Bar

0,5 mol CH4, 35 oC, 1 Bar

0,5 mol C2H6 35 oC, 1 Bar

(24)

Kasus 7.8

Berapakah usaha yang ideal untuk pemisahan campuran equimolar metana dan etana pada 175

°C (448 K) dan 3 bar dalam proses aliran tunak menjadi aliran produk gas murni pada 35 °C dan 1 bar jika suhu sekitarnya 300 K

Solusi kasus 7.8

• Jumlah kerja ideal yang dinyatakan oleh hubungan 𝑊𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 = Δ𝐻 − 𝑇𝜎Δ𝑆

𝐶𝑃,𝐶𝐻4

𝑅 = 1,702 + 9,081𝑥 10−3𝑇 − 2,164𝑥10−6𝑇2

𝐶𝑃,𝐶2𝐻6

𝑅 = 1,131 + 19,225𝑥 10−3𝑇 − 5,561𝑥10−6𝑇2

∆𝑠 = ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝𝑑𝑇

𝑇 − ׬𝑃

𝑜

𝑃 𝑅𝑑𝑃

𝑃 = ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 − 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖 ln 𝑦𝑖

∆𝑆 = 𝑛𝐶𝐻4 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶𝐻4𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 + 𝑛𝐶2𝐻6 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶2𝐻6𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 − 𝑛𝐶𝐻4 + 𝑛𝐶2𝐻6 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖 𝑛𝐶𝐻4 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶𝐻4𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 = 0,5 𝑚𝑜𝑙 ׬𝑇

𝑜

𝑇 1,702 + 9,081𝑥 10−3𝑇 − 2,164𝑥10−6𝑇2 𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln1

3

0,5mol CH4 dan 0,5 mol C2H6, 175 oC

dan 3 Bar

0,5 mol CH4, 35 oC, 1 Bar

0,5 mol C2H6 35 oC, 1 Bar

(25)

Kasus 7.8

Solusi kasus 7.8

• Jumlah kerja ideal yang dinyatakan oleh hubungan 𝑊𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 = Δ𝐻 − 𝑇𝜎Δ𝑆

𝐶𝑃,𝐶𝐻4

𝑅 = 1,702 + 9,081𝑥 10−3𝑇 − 2,164𝑥10−6𝑇2

𝐶𝑃,𝐶2𝐻6

𝑅 = 1,131 + 19,225𝑥 10−3𝑇 − 5,561𝑥10−6𝑇2

∆𝑆 = 𝑛𝐶𝐻4 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶𝐻4𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 + 𝑛𝐶2𝐻6 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶2𝐻6𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 − 𝑛𝐶𝐻4 + 𝑛𝐶2𝐻6 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖 ln 𝑦𝑖

𝑛𝐶𝐻4 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶𝐻4𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 = 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 ׬𝑇

𝑜

𝑇 1,702 + 9,081𝑥 10−3𝑇 − 2,164𝑥10−6𝑇2 𝑑𝑇

𝑇 − ln1

3

= 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 1,702 ln 𝑇 + 9,081𝑥10−3𝑇 +2,164𝑥10−6

2 𝑇2

448 308

− 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 𝑙𝑛1

3 = −12,98𝐽

𝐾

𝑛𝐶2𝐻6 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶2𝐻6𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 = 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 ׬𝑇

𝑜

𝑇 1,131 + 19,225𝑥 10−3𝑇 − 5,561𝑥10−6𝑇2 𝑑𝑇

𝑇 − ln1

3

= 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 1,131 ln 𝑇 + 19,225𝑥10−3𝑇 +5,561𝑥10−6

2 𝑇2

448 308

− 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 𝑙𝑛1

3 = −18,74 𝐽

𝐾

𝑛𝐶𝐻4 + 𝑛𝐶2𝐻6 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖 = 1 𝑚𝑜𝑙 𝑥8,314 J

mol K𝑥 0,5 ln 0,5 + 0,5 ln 0,5 = −5,762 J

K

∆𝑆 = −12,98 𝐽

𝐾 − 18,74 𝐽

𝐾 + 5,762 J

K = −25,95 𝐽 𝐾

(26)

Solusi kasus 7.8

• Jumlah kerja ideal yang dinyatakan oleh hubungan 𝑊𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 = Δ𝐻 − 𝑇𝜎Δ𝑆

𝐶𝑃,𝐶𝐻4

𝑅 = 1,702 + 9,081𝑥 10−3𝑇 − 2,164𝑥10−6𝑇2

𝐶𝑃,𝐶2𝐻6

𝑅 = 1,131 + 19,225𝑥 10−3𝑇 − 5,561𝑥10−6𝑇2

∆𝑆 = 𝑛𝐶𝐻4 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶𝐻4𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 + 𝑛𝐶2𝐻6 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶2𝐻6𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 − 𝑛𝐶𝐻4 + 𝑛𝐶2𝐻6 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖 ln 𝑦𝑖

𝑛𝐶𝐻4 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶𝐻4𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 = 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 ׬𝑇

𝑜

𝑇 1,702 + 9,081𝑥 10−3𝑇 − 2,164𝑥10−6𝑇2 𝑑𝑇

𝑇 − ln1

3

= 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 1,702 ln 𝑇 + 9,081𝑥10−3𝑇 +2,164𝑥10−6

2 𝑇2

448 308

− 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 𝑙𝑛1

3 = −12,98𝐽

𝐾

𝑛𝐶2𝐻6 ׬𝑇

𝑜

𝑇 𝐶𝑝,𝐶2𝐻6𝑑𝑇

𝑇 − 𝑅 ln 𝑃

𝑃𝑜 = 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 ׬𝑇

𝑜

𝑇 1,131 + 19,225𝑥 10−3𝑇 − 5,561𝑥10−6𝑇2 𝑑𝑇

𝑇 − ln1

3

= 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 1,131 ln 𝑇 + 19,225𝑥10−3𝑇 +5,561𝑥10−6

2 𝑇2

448 308

− 0,5 𝑚𝑜𝑙 𝑅 𝑙𝑛1

3 = −18,74 𝐽

𝐾

𝑛𝐶𝐻4 + 𝑛𝐶2𝐻6 𝑅 σ𝑖𝑁𝑦𝑖ln 𝑦𝑖 = 1 𝑚𝑜𝑙 𝑥8,314 J

mol K𝑥 0,5 ln 0,5 + 0,5 ln 0,5 = −5,762 J

K

∆𝑆 = −12,98 𝐽

𝐾 − 18,74 𝐽

𝐾 + 5,762 J

K = −25,95 𝐽

𝐾

𝑊𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 = Δ𝐻 − 𝑇𝜎Δ𝑆 = −8525,5 𝐽 + 300 𝑥 25,95 𝐽 = −738,5 𝐽

(27)

7.8 Energi bebas Gibbs gas tidak ideal dengan besaran fugasitas

i. Gas tidak ideal tidak memenuhi rumus gas ideal lagi sehingga persamaan gas tidak ideal dinyatakan dengan cara memberikan faktor koreksi Z sebagai faktor kompresibilitas dalam bentuk

𝑃𝑣 = 𝑍𝑖 𝑅𝑇, atau sebuah bentuk persamaan gas tidak ideal 𝑍𝑖 = 𝐵𝑖𝑖𝑃

𝑅𝑇 − 1

ii. Energi bebas Gibbs molar bahan i murni 𝑔𝑖 untuk gas tidak ideal dirumuskan dengan memperkenal fugasitas 𝑓𝑖 dalam persamaannya untuk menggantikan tekanan P dalam persamaannya untuk gas ideal yang dinyatakan dalam bentuk persamaan :

𝑔𝑖 = Γ𝑖 + 𝑅𝑇 ln 𝑓𝑖 : 𝑔𝑖 = Γ𝑖 + 𝑅𝑇 ln 𝑃𝑖

untuk gas ideal 𝑓𝑖 = 𝑓𝑖𝑔 = 𝑃, maka 𝑔𝑖𝑔 = Γ𝑖 + 𝑅𝑇 ln 𝑃𝑖

iii. Perbedaan antara energi bebas Gibbs molar bahan murni i gas tak ideal dengan energi bebas Gibss molar gas ideal dinyatakan sebagai energi Gibbs residual 𝑔𝑖𝑅 yang dinyatakan oleh persamaan

𝑔𝑖𝑅 = 𝑔𝑖 − 𝑔𝑖𝑔 = 𝑅𝑇 ln 𝑓𝑖

𝑃 atau 𝑔𝑖𝑅 = 𝑔𝑖 − 𝑔𝑖𝑔 = 𝑅𝑇 ln 𝜙𝑖 dimana 𝜙𝑖 = 𝑓𝑖

𝑃 sebagai koefesien fugasitas iv. Koefisien fugasitas 𝜙𝑖 diperoleh sebagai fungsi tekanan untuk temperatur T tetap dari persamaan berikut

𝑔𝑖𝑅

𝑅𝑇 = ln 𝜙𝑖 = ׬𝑜𝑃 𝑍𝑖 − 1 𝑑𝑃

𝑃

(28)

7.8.1 Energi bebas Gibbs residual fasa uap, fasa cair dan kesetimbangan fasa cair-uap

i. Energi bebas Gibbs molar bahan i murni 𝑔𝑖 untuk fasa uap kesetimbagan dengan fasa cair adalah : 𝑔𝑖,𝑣𝑒 = Γ𝑖 + 𝑅𝑇 ln 𝑓𝑖,𝑣𝑒

ii. Energi bebas Gibbs molar bahan i murni 𝑔𝑖 untuk fasa cair kesetimbangan dengan fasa uap adalah 𝑔𝑖,𝑙𝑒 = Γ𝑖 + 𝑅𝑇 ln 𝑓𝑖,𝑙𝑒

iii. Kesetimbangan fasa cair-uap bahan i memberikan kesamaan pada energi bebas Gibbs molar bahan ini untik fasa cair dan fasa uap sehingga

𝑔𝑖,𝑣𝑒 = 𝑔𝑖,𝑙𝑒 sehingga 𝑔𝑖,𝑣𝑒 − 𝑔𝑖,𝑙𝑒 = 𝑅𝑇 ln𝑓𝑖,𝑣𝑒

𝑓𝑖,𝑙𝑒 = 0 dan memberikan ketentuan 𝑓𝑖,𝑣𝑒 = 𝑓𝑖,𝑙𝑒 = 𝑓𝑖,𝑠𝑎𝑡 atau 𝜙𝑖,𝑠𝑎𝑡 = 𝑓𝑖,𝑠𝑎𝑡

𝑃 , 𝜙𝑖,𝑣𝑒 = 𝑓𝑖,𝑣𝑒

𝑃 , 𝜙𝑖,𝑙𝑒 = 𝑓𝑖,𝑙𝑒

𝑃 , jadi 𝜙𝑖,𝑣𝑒 = 𝜙𝑖,𝑙𝑒 = 𝜙𝑖,𝑠𝑎𝑡

(29)

7.8.2 Energi bebas fasa cair lewat dingin (bukan kesetimbangan)

i. Bahan murni pada tekanan P dan temperatur T berada pada fasa cair lewat dingin memiliki energi bebas Gibbs 𝑔𝑖,𝑙 = Γ𝑖 + 𝑅𝑇 ln 𝑓𝑖,𝑙 dimana

𝑓𝑖,𝑙 = 𝜙𝑖,𝑠𝑎𝑡𝑃𝑖,𝑠𝑎𝑡 exp 𝑣𝑖,𝑙𝑒 𝑃−𝑃𝑖,𝑠𝑎𝑡

𝑅𝑇

(30)

7.8.3 Evaluasi fugasitas pada satu temperatur dan berbagai tekanan

i. Bahan murni pada temperatur T dan tekanan P tinggi (P) dan tekanan P (P*) memiliki energi bebas Gibbs untuk tekanan tinggi P maka

𝑔𝑖 = Γ𝑖 + 𝑅𝑇 ln 𝑓𝑖

dan untuk tekanan sangat rendah P* maka 𝑔𝑖,∗ = Γ𝑖 + 𝑅𝑇 ln 𝑓𝑖∗ dan 𝑓𝑖∗ = 𝑃

ii. Beda energi bebas Gibbs molar antara tekanan tinggi dan tekanan rendah pada temperatur yang sama dinyatakan oleh

𝑔𝑖 − 𝑔𝑖,∗ = 𝑅𝑇 ln 𝑓𝑖

𝑓𝑖,∗ , bila 𝑔𝑖 = ℎ𝑖 − 𝑇𝑠𝑖, dan 𝑔𝑖,∗ = ℎ𝑖∗ − 𝑇𝑠𝑖∗

maka ln 𝑓𝑖

𝑓𝑖,∗ = 1

𝑅

𝑖−ℎ𝑖∗

𝑇 − 𝑠𝑖 − 𝑠𝑖∗

(31)

Kasus 7.9

Berapa fugasitas dan koefisien fugasitas uap air jenuh pada temperatur 300 oC (573 K) dan tekanan 4000 kPa.

Tekanan terendah untuk data air adalah 1 kPa.

Solusi kasus 7.9

• Data entalpi dan entropi uap air pada tekanan 4000 kPa dan temperatur 300 oC adalah ℎ𝑖 = 2962 𝑘𝐽

𝑘𝑔 dan 𝑠𝑖 = 6,3642 𝑘𝐽

𝑘𝑔 𝐾

• Data entalpi dan entropi uap air pada tekanan 1 kPa dan temperatur 300 oC adalah ℎ𝑖∗ = 3076,8 𝑘𝐽

𝑘𝑔 dan 𝑠𝑖∗ = 10,345 𝑘𝐽

𝑘𝑔 𝐾

• Evaluasi dengan menggunakan persamaan berikut ln 𝑓𝑖

𝑓𝑖,∗ = 1

𝑅

𝑖−ℎ𝑖∗

𝑇 − 𝑠𝑖 − 𝑠𝑖∗ = 18 𝑘𝑔/𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 8,314 𝑘𝐽/ 𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 𝐾

2962−3076,8 573

𝑘𝑗

𝑘𝑔 𝐾 − 6,3642 − 10,345 𝑘𝑗

𝑚𝑜𝑙 𝐾

ln 𝑓𝑖

𝑓𝑖,∗ = 8,1917, maka 𝑓𝑖

𝑓𝑖,∗ = 3611. Bila 𝑓𝑖,∗ = 1 𝑘𝑃𝑎, maka fugasitas 𝑓𝑖 = 3611 𝑘𝑃𝑎

• Evaluasi koefisien fugasitas 𝜙𝑖 pada tekanan 4000 kPa,

Pada tekanan 4000 kPa dan temperatur 300 oC, 𝑓𝑖 = 3611 𝑘𝑃𝑎. Koefisien fugasitas 𝜙𝑖 = 𝑓𝑖

𝑃 = 3611

4000 = 0,9028

(32)

Kasus 7.10

Berapa fugasitas dan koefisien fugasitas uap air jenuh pada temperatur 300 oC (573 K). Tekanan terendah untuk data air adalah 1 kPa.

Solusi kasus 7.10

• Data entalpi dan entropi uap air jenuh temperatur 300 oC dengan tekanan jenuhnya sebesar 8587,71 kPa adalah ℎ𝑖𝑣𝑒 = 2749,6 𝑘𝐽

𝑘𝑔 dan 𝑠𝑖𝑣𝑒 = 5,706 𝑘𝐽

𝑘𝑔 𝐾

• Data entalpi dan entropi uap air pada tekanan 1 kPa dan temperatur 300 oC adalah ℎ𝑖∗ = 3076,8 𝑘𝐽

𝑘𝑔 dan 𝑠𝑖∗ = 10,345 𝑘𝐽

𝑘𝑔 𝐾

• Evaluasi dengan menggunakan persamaan berikut ln 𝑓𝑖

𝑓𝑖,∗ = 1

𝑅

𝑖−ℎ𝑖∗

𝑇 − 𝑠𝑖 − 𝑠𝑖∗ = 18 𝑘𝑔/𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 8,314 𝑘𝐽/ 𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 𝐾

2749,6−3076,8 573

𝑘𝑗

𝑘𝑔 𝐾 − 5,706 − 10,345 𝑘𝑗

𝑘𝑔 𝐾

ln 𝑓𝑖

𝑓𝑖,∗ = 8,807, maka 𝑓𝑖

𝑓𝑖,∗ = 6682,5 Bila 𝑓𝑖,∗ = 1 𝑘𝑃𝑎, maka fugasitas 𝑓𝑖 = 6682,5 𝑘𝑃𝑎

• Evaluasi koefisien fugasitas 𝜙𝑖 pada tekanan 8587,71 kPa,

Pada tekanan 8587,71 kPa dan temperatur 300 oC, 𝑓𝑖𝑣𝑒 = 𝑓𝑖,𝑠𝑎𝑡 = 6682,5𝑘𝑃𝑎.

Koefisien fugasitas 𝜙𝑖,𝑠𝑎𝑡 = 𝑓𝑖,𝑠𝑎𝑡

𝑃 = 6682,5

8587,71 = 0,778

Gambar

Gambar Diagram termodinamika udara basah (Diagran Mollier)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini menyatakan bahwa usulan PKM-M saya dengan judul : Penerapan Metode Porsi Sitanajir (Portofolio Siswa Tanggap Bencana Banjir) Sebagai Upaya Pendidikan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di 5 sekolah, dapat diambil kesimpulan bahwa berdasarkan deskripsi dan analisis data, gaya komunikasi yang digunakan

sebagian orang menggunakan kata heuristic sebagai lawan kata dari algoritmik, di mana kata heuristic ini diartikan sebagai suatu proses yang mungkin dapat menyelesaikan suatu

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Menggunakan perbandingan, fungsi, persamaan, dan identitas trigonometri dalam pemecahan masalah.  Melakukan manipulasi aljabar

Dengan adanya sistem ini diharapkan para tamu mendapatkan pelayanan yang lebih baik (good of service). Hasil lain yang di capai dengan pemakaian sistem manajemen adalah

P1 : seng kaluar dari katong teman-teman perawat mungkin ya seng tau kaluar teman-teman perempuan kalau teman laki-laki kan kebanyakan dia juga ikut cuek

Partner yang bisa mendukung aku, bisa mengerti aku, bisa aku andalkan saat aku butuh, bukannya malah menyusahkan aku, bikin kesal aku… Jadi kalau kamu memang keberatan,

Di satu sisi, masyarakat akan menganggap harga sebagai faktor penentu untuk membeli suatu produk, tetapi di sisi lain pertimbangan utama masyarakat membeli produk