PENGAMANAN LAUT MEWUJUDKAN KEAMANAN MARITIM INDONESIA
Dipaparkan oleh Kolonel Laut (P) Antonius Widyoutomo, S.H Kepala Pusat Olah Yudha Sekolah Staf dan Komando TNI AL pada
23 rd Asia Pacifik Naval College Seminar 2020 di Tokyo Jepang Tanggal 25 Februari 2020
Abstract.
Ancaman keamanan maritim yang semakin berkembang dan kompleks saat ini ditandai salah satunya dengan munculnya wabah virus Corona yang diduga mampu menular secara cepat, termasuk dapat menular kepada personil yang berada di kapal laut yang sedang berlayar. Ancaman ini harus menjadi perhatian seluruh negara dan dibutuhkan adanya kerjasama di laut antar negara dalam menanggulangi menularnya virus Corona bagi para pengguna jasa transportasi laut. Selain kerjasama antar negara di bidang maritim, TNI Angkatan Laut melihat pentingnya melakukan kerjasama dengan Angkatan Laut negara sahabat untuk mewujudkan keamanan maritim nasional, kawasan regional dan global. Arti penting Indonesia sebagai barometer keamanan maritim kawasan, yaitu; sebagai ukuran kemandirian kemampuan Indonesia menghadapi ancaman keamanan maritim, terukurnya pola, metoda dan teknologi aparat keamanan maritim Indonesia menghadapi ancaman, serta memprediksi trend ancaman keamanan maritim yang terjadi. TNI Angkatan Laut sebagai komponen utama pertahanan negara dituntut untuk mampu menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara di Laut dengan mewujudkan keamanan maritim Indonesia. Berbagai upaya yang dapat dilakukan adalah; sinergisitas dengan instansi keamanan maritim dengan menyinergikan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh berbagai instansi maritim di laut dan kerjasama antar Angkatan Laut negara sahabat yang meliputi, kerja sama pertemuan tingkat tinggi, bantuan kemanusiaan, latihan dan operasi bersama, serta pendidikan.
Kata kunci : ancaman, keamanan maritim, kerjasama, TNI Angkatan Laut
1. Pendahuluan.
Indonesia memiliki 17.504 pulau1 dengan panjang garis pantai sepanjang 108.000 km2 dan dikelilingi oleh luas perairan yang mencapai 6.400.000 km2 dan luas daratan 1.900.000 km2. Berarti Indonesia sebagai negara kepulauan yang 2/3 dari keseluruhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari perairan dan berdasarkan letak geografisnya, perairan Indonesia adalah salah satu kawasan perairan tropis yang berdaya dukung alam tinggi dengan kemampuan mega biodiversity, sehingga kondisi ini tentu saja akan menarik keinginan negara-negara atau pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk mencoba mengelolanya secara legal maupun ilegal yang dalam pemanfaatannya dapat merugikan dan membahayakan lingkungan maritim.
Stabilitas keamanan maritim sangat didukung oleh dimilikinya kekuatan pertahanan negara di laut yang kuat. Natalie Klein2 menjelaskan bahwa keamanan maritim merupakan salah satu kepentingan keamanan suatu negara yang dipandang dari aspek lautan. Keamanan maritim dikembangkan dalam kerangka keamanan suatu Negara yang menekankan pentingnya laut dalam pembangunan suatu negara, baik pada pengelolaan potensi-potensi sumber-sumber daya laut yang bermanfaat bagi kelangsungan suatu bangsa yang sudah seharusnya menjadi perhatian untuk dikembangkan dan dilindungi, dimana pada akhirnya menjadi suatu asset yang harus dipertahankan keberlanjutannya oleh negara sehingga dapat dinikmati hingga generasi yang akan datang. Negarapun berkewajiban untuk melindunginya dari berbagai ancaman yang muncul. Menurut A.Octavian (2019) “Maritime security is an important indicator how a state safeguards its national interst, as it is connected to sovereignty, freedom navigation, economic development and political stability in the region ”3
Keamanan maritim di wilayah laut sangat dibutuhkan oleh para pengguna ataupun pengelola sumber daya maritim guna memberikan suatu keyakinan akan dapat tetap terpenuhinya kebutuhan hidup mereka atapun nilai investasi pengelolaan kekayaan maritim yang dapat menjamin masa depan mereka ataupuan bagi generasi penerus. Konsistensi mewujudkan keamanan maritim Indonesia tidak terlepas dari peran Negara untuk mendorong dan memprioritaskan pembangunan kekuatan keamanan maritim. TNI Angkatan Laut sebagai salah satu komponen kekuatan kemanan maritim yang merupakan bagian dari komponen kekuatan pertahananan negara di laut tampil sebagai ujung tombak mewujudkan keamanan maritim Indonesia sesuai dengan medan pengabdiannya di laut. Konsep negara maritim tidak lepas dari kekuatan pertahanan. Jika pertahanan kuat, kedaulatan negara pun akan terlindungi dari ancaman luar.
1 Data Rujukan Wilayah Kelautan Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Maritim,
aritim.go.id/menko-maritim-luncurkan-data-rujukan-wilayah/didownload pada tanggal 1 Februari 2020
2 Ibid.,
3 Rear Admiral Dr.A.Octavian, Commander of Indonesian Naval Command and Staff College, Indonesian Navy, Global Maritime Fulcrum and ASEAN, 2018, 36
9, Seskoal Press, 2019, Dr.A.Octavian, Komandan Seskoal, Penegakan Hukum dan Penjagaan Keamanan di Laut, Makalah Kuliah Umum di ITB, 16 Oktober 2019, hal 13
Penegakan Hukum dan Penjagaan Keamanan di Laut, Makalah Kuliah Umum di ITB, 16 Oktober 2019, hal 13
2. Teori
Mewujudkan kemanan maritim oleh TNI Angkatan Laut dalam pengabdiannya sebagai bagian dari komponen pertahanan negara di laut selain didukung oleh aturan perundangan yang berlaku, juga didasari oleh beberapa teori kemaritiman yang memiliki korelasi dalam implikasi tugas TNI Angkatan Laut di laut sebagai medan pengabdiannya.
2.1 Teori Sea Power.
Sea power tidak hanya terbatas pada kekuatan Angkatan Laut (naval power) saja, tetapi sea power juga melibatkan seluruh komponen kekuatan maritim nasional.
Bersama kekuatan maritim lainnya,TNI Angkatan Laut turut mendukung pembangunan nasional dengan menjaga lancarnya perekonomian dan perhubungan nasional melalui laut, dan pengelolaan sumber daya maritim. Hal ini dapat dilihat dari teori Sea Power menurut Alfred Thayer Mahan4 yang meliputi enam elemen yaitu geographical position (posisi geografis), Physical conformation, extent of territory (luasnya wilayah), number of population (jumlah penduduk), national character (karakter bangsa) dan character of government (karakter pemerintahan).
2.2 Teori Keamanan Maritim.
Konsep keamanan berkembang seiring dengan munculnya ancaman yang timbul didalam aspek kehidupan manusia selama proses pemenuhan kebutuhan hidupnya yang pada akhirnya membutuhkan penanganan untuk menghilangkan ancaman tersebut dengan tujuan menciptakan keamanan sehingga tercapai kondusi yang kondusif. Barry Buzan5 mengatakan bahwa keamanan tidak hanya berbatas terhadap keamanan saja namun terdapat beberapa aspek yakni militer, ekonomi,
4 Alfred Thayer Mahan, Sea Power “ The Influece of Sea Power Upon History, 1660-1783
5 Bary Buzan. People, States and Fear: An Agenda for International Security Studies in The Post. London.
1991.
Gambar 1. Konstelasi Geografis Indonesia
sosial dan keamanan lingkungan. Adapun keamanan maritim (Maritime Security) menurut Christian Buerger6 adalah rangkaian proses yang terkait dengan (1) kondisi yang menciptakan terciptanya keselamatan laut, kekuatan laut, dan ketahanan (2) kepentingan yang menjadi dasar terjadinya ancaman martim; dan (3) peningkatan keamanan maritim. Buerger juga menjelaskan bahwa semua keselamatan laut yang meliputi aktivitas bernavigasi dan seluruh aktivitas pengelolaan sumber daya maritim yang dapat berjalan dengan aman dan baik serta tidak menganggu dan merugikan orang, pihak dan lingkungan maritim sekitarnya merupakan bagian dari keamanan maritim. Menurut George W Bush (2005)7 keamanan maritim paling baik dicapai dengan memadukan kegiatan keamanan maritim publik dan swasta dalam skala global ke dalam upaya terpadu yang menangani semua ancaman maritim.
2.3 Teori Penegakan Hukum.
Menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 8, Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pengertian penegakan hukum itu dapat pula ditinjau dari sudut objeknya, yaitu dari segi hukumnya. Dalam hal ini, pengertiannya juga mencakup makna yang luas dan sempit. Dalam arti luas, penegakan hukum itu mencakup pula nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Tetapi, dalam arti sempit, penegakan hukum itu hanya menyangkut penegakan peraturan yang formal dan tertulis saja. Secara umum penegakan hukum dapat diartikan sebagai tindakan menerapkan perangkat sarana hukum tertentu untuk memaksakan sanksi hukum guna menjamin pentaatan terhadap ketentuan yang ditetapkan tersebut.
2.4 Teori Peran Angkatan Laut.
Secara universal Angkatan Laut seluruh dunia menurut Ken Booth9 memiiliki peran secara universal yaitu peran yang disebut Trinitas Angkatan Laut. Peran-peran tersebut meliputi peran militer (military role), peran polisionil (constabulary role), dan peran diplomasi (diplomacy role). Peran Militer (Military Role) dalam rangka menegakan kedaulatan negara di laut dengan cara pertahanan negara dan penangkalan melalui penyiapan kekuatan untuk perang, menangkal setiap ancaman militer melalui laut, menjaga stabilitas kawasan maritim, melindungi dan menjaga perbatasan laut dengan negara tetangga. Peran Polisionil (Constabulary Role) dilaksanakan dalam rangka menegakan hukum di laut, melindungi sumber daya dan kekayaan laut nasional dan memelihara ketertiban di laut sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap stabilitas dan pembangunan nasional. Peran Diplomasi (Diplomacy) dilaksanakan dengan menggunakan kekuatan laut sebagai sarana
6 Christian Bueger, What is maritime security? Maret 2015, https://www.sciencedirect.com/science/
article/ pii/S0308597X14003327, diunduh pada tanggal 2 Februari 2020
7 George W Bush, The National Strategy for Maritime Security, Maritime security, resource management, September 2005, https://georgewbush-whitehouse.archives.gov/homeland/maritime- security.html, diunduh tanggal 30 Januari 2020
8 Jimly Asshiddiqie,Penegakan Hukum, Diakses melalui
http://www.jimly.com/makalah/namafile/56/Penegakan_Hukum.pdf , pada hari Rabu, 5 Februari 2020
9 Ken Booth, Law Force and Diplomacy at Sea, New York:Routledge,2014,page 45-190
diplomasi dalam mendukung kebijakan luar negeri pemerintah dan dirancang untuk mempengaruhi kepemimpinan negara atau beberapa negara dalam keadaan damai atau pada situasi bermusuhan.
3. Ancaman Maritim.
Beberapa wilayah laut Indonesia berbatasan langsung dengan beberapa negara di kawasan, khususnya Zone Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen dengan 10 (sepuluh) negara sahabat diantaranya dengan Malaysia, Singapura, Papua Nugini, Australia, Timor Leste, Vietnam, Philipina, Republik Palau, India dan Thailand10. Hampir sebagian besar perbatasan wilayah laut tersebut memiliki potensi kekayaan sumber daya maritim yang sangat besar seperti Indonesia, sehingga membuka peluang datangnya ancaman diantara negara-negara tersebut. Bentuk ancaman maritim yang dimaksud, adalah;
a. Ancaman kekerasan. Ramainya lalu lintas pelayaran di perairan Indonesia karena beberapa perairan merupakan garis perhubungan laut yang terdiri dari Sea Lines of Communication (SLOC) dan Sea Lines of Trade (SLOT)11. Luasnya garis perhubungan laut yang menghubungkan banyak negara di
10 Indroyono Soesilo,Kemenko Maritim Indonesia, Indonesia Akan Selesaikan Perbatasan Laut dengan 10 Negara, dari ustralia Hingga Palau https://news.detik.com/berita/d-2900381/ri-akan-selesaikan-
perbatasan-laut-dengan-10-negara-dari-australia-hingga-palau, 28 April 2015, diunduh tanggal 22 Januari 2020
11 Lyle J.Morris, A Preliminary Assesment of Indonesia’s Maritime Security Threats and Capabilities,2018, https://www.rand.org/pubs/research_reports/RR2468.html, diunduh tanggal 26 Januari 2020
Gambar 2. Peran Universal Angkatan Laut - Trinitas Angkatan Laut
kawasan Indo-Pasifik yang beorientasi ekspor dan impor memberikan konsekuensi tingginya jumlah kapal yang berlayar melintasi jalur tersebut.
Sangat terbuka kemungkinan terjadi aksi Pembajakan (sea piracy) dan perampokan (sea robbery), sabotase obyek vital dan teror di laut. International Maritime Bureau (IMB) melaporkan bahwa pada tahun 2019 telah terjadi 119 laporan perampokan dan pembajakan kapal di wilayah laut seluruh dunia12. Berbagai tindak kejahatan di laut terus berkembang, sehingga menimbulkan ancaman keamanan maritim yang makin meluas13. Penggunaan kekuatan bersenjata membutuhkan aksi penindakan dan perlawanan oleh aparat keamanan maritim.
b. Ancaman terhadap sumber daya laut. Pengelolaan sumber daya laut tanpa batas, pengerusakan ekosistem laut, illegal Unreported Unregulated Fishing dan pencemaran lingkungan adalah beberapa bentuk ancaman terhadap sumber daya laut. Kebutuhan energi dunia terus mengalami peningkatan. Menurut proyeksi Badan Energi Dunia (International Energy Agency-IEA), hingga tahun 2030 permintaan energi dunia meningkat sebesar 45% atau rata-rata mengalami peningkatan sebesar 1,6% per tahun. Sebagaian besar atau sekitar 80% kebutuhan energi dunia tersebut dipasok dari bahan bakar fosil14.
c. Ancaman pelanggaran hukum. Tidak dipatuhinya aturan hukum yang berlaku, baik Hukum Nasional maupun Hukum Internasional. Ketidakpahaman dan kesengajaan para pelaku kegiatan illegal di laut terhadap ketentuan dan undang-undang yang berlaku merupakan muara utama terjadinya kegiatan pelanggaran hukum di laut. Ancaman pelanggaran hukum dapat berupa kegiatan illegal fishing, people smuggling, illegal logging, illegal mining dan lain- lain. Berdasarkan data Food and Agriculture Organisation (FAO) menyebutkan kerugian negara akibat pencurian ikan di perairan Indonesia mencapai Rp. 50 triliun tiap tahunnya.15 Berdasarkan data resmi Bea Cukai Indonesia pada tahun 2017 telah terjadi 279 kasus penyelundupan di laut Indonesia. Penyelundupan tersebut meliputi kayu, BBM, narkoba, miras, hewan, dan barang dengan nilai yang hampir mencapai Rp 551,4 miliar16.
d. Ancaman bahaya Navigasi. Bahaya navigasi dapat mengancam keselamatan dan keamanan pelayaran yang dapat berakibat terganggunya aktivitas di laut. Dengan luasnya wilayah perairan di muka bumi, banyak selat dan alur sempit yang membutuhkan alat bantu navigasi di perairan tersebut.
12 ICC International Maritime Bureau, Piracy and Armed Robbery Against Ships, 1 Jan-30 Sept 2019 report, kbrv.be/wp-content/uploads/2019/10/2019, diunduh pada tanggal 5 Februari 2020, pukul 06.30
13 Dr.A.Octavian, Komandan Seskoal, Pola Kejahatan di Laut, Makalah Kuliah Umum di ITB, 16 Oktober 2019, hal 2
14 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2030, Permintaan Energi Dunia Meningkat 45 % https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/hingga-2030-permintaan-energi-dunia-meningkat- 45-
15 Badan Pemeriksa Keuangan Negara, Pencurian Ikan Rugikan Negara 5o Triliun,21 Februari 2011, Bpk.go.id/news/pencuria-ikan-rugikan-negara-rp-50-triliun, diunduh pada tanggal 24 januari 2020
16 Kementerian Keuangan, Direktorat Bea dan Cukai, Lewat operasi Patroli Laut Jaring Wallace, beacukai.go.id/berita/lewat-operasi-patroli-laut-jaring-wallace.html, diunduh pada tanggal 2 Februari 2020
Namun, belum seluruhnya perairan yang memiliki kerawanan bahaya navigasi dilengkapi dengan sarana bantu navigasi di laut seperti bouy dan suar (light house).
e. Ancaman penyakit menular. Ancaman bahaya virus corona merupakan bukti nyata bahwa penyakit menular dapat menyebar lewat media apapun.
Penyebaran virus Corona yang begitu cepat dan mengakibatkan ± 1.086 orang meninggal dan 56.800 orang terinfeksi virus yang mematikan hingga pertengahan Februari 2020. Bukan hanya terpusat di Wuhan Cina virus ini menyebar, tetapi sudah menyebar ke belahan dunia. Penyebaran viruspun terjadi di kapal laut yang sedang berlayar. Kapal pesiar Diamond Pricess pada medio awal Februari yang lalu dipaksa untuk bersandar di pelabuhan untuk dikarantina oleh pihak otoritas pelabuhan Jepang setelah ditemukan 60 orang positif terjangkit virus corona. Karantina terpaksa dilakukan untuk mencegah meluasnya virus corona keluar kapal. Peristiwa ini menyadarkan bagi kita pentingnya langkah antisipasi keadaan darurat kesehatan di laut dan pelabuhan, mulai dari penyiapan alokasi karantina di kapal dan pelabuhan.
4. Karakteristik Laut Indonesia.
Diamanatkan dalam UNCLOS 1982 tentang pengakuan negara kepulauan beserta hak dan kewajibannya. Indonesia menindaklanjuti dalam hukum nasional yang berlaku di Indonesia melalui Undang-Undang no 17 Tahun 1985 tentang pengesahan konvensi PBB tersebut. Sejak diberlakukannya Undang-Undang tersebut, Indonesia telah memiliki hak dan kewajiban sesuai ketentuan yang diputuskan dalan hukum laut PBB 1982. Sebagai negara kepulauan dan dengan letaknya yang strategis diantara persilangan 2 benua; Asia dan Australia serta Samudera Pacifik dan Samudera Hindia menjadikan Indonesia memiliki 3 karakteristik perairan yang khas, yaitu :
(1) Laut terbuka. Seluruh perairan Indonesia yang berhubungan langsung dengan Samudera Hindia dan Samudera Pacifik. Laut terbuka mencapai ± 3.000.000 km2 (43 %).
(2) Laut setengah tertutup. Seluruh perairan Indonesia yang pada salah satu sisinya berhubungan langsung dengan laut terbuka, dan pada sisi yang lain berhubungan langsung dengan daratan (pulau). Laut terbuka mencapai ± 560.000 km2 (9 %).
(3) Laut tertutup. Seluruh perairan kepulauan Indonesia. Laut tertutup mencapai ± 3.110.000 km2 (48 %)17.
Menurut Lutz Feldt, Dr.Peter Roell (2013) karakter laut telah berubah dari ruang terbuka dimana segala kebebasan yang ada dan melekat di dalamnya berangsur- angsur menjadi perhatian dan kepedulian bersama dikarenakan adanya suatu kerawanan yang akan timbul dan berpotensi akan merugikan pihak-pihak lain, sehingga membutuhkan adanya manajemen tata kelola dan perlindungan. Manajemen yang mampu mengaturnya adalah UNCLOS 1982, dan telah diberlakukan dan diratifikasi oleh negara-negara di dunia. 3 Karakteristik khas laut Indonesia terbentuk karena konstelasi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dan TNI Angkatan
17 Luhut Panjaitan, Menteri Koordinator Maritim, Data Rujukan Terbaru Wilayah Kelautan Indonesia, 27 Agustus 2018,mongabay.co.id/2018/08/27/pemerintah-keluarkan-data-resmi, diunduh pada tanggal 29 Januari 2020
Laut telah mempertimbangkan karakteristik laut Indonesia sebagai dasar utama dalam pemilihan jenis kapal perang yang dikembangkan dan dioperasionalkan di seluruh perairan yurisdiksi nasional Indonesia. Berdasarkan gambar 2. Pengoperasian Jenis Kapal TNI Angkatan Laut Berdasarkan Karakteristik Laut Indonesia, didapatkan data bahwa prosentase luas laut tertutup dan laut terbuka di Indonesia hampir sama besarnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk TNI Angkatan Laut mengoperasikan secara berimbang kapal jenis OPV/patroli dan jenis kapal corvette/fregatte dalam operasi laut baik di laut tertutup maupun di laut terbuka.
5. Tugas dan Kewenangan TNI Angkatan Laut.
Membangun kekuatan pertahanan maritim sebagai bagian kekuatan pertahanan di laut dalam rangka menjaga dan melindungi potensi kekayaan sumber daya maritim sesuai dengan visi maritim Presiden RI Ir.Jokowi, untuk menghadapi meningkatnya ancaman keamanan maritim18 Dasar hukum dan aturan perundangan yang mengatur tugas dan kewenangan TNI Angkatan Laut adalah United Nations Convention on the Law of The Sea (UNCLOS 1982)19 atau Konvensi Hukum Laut PBB ke-III Tahun 1982, telah diratifikasi dengan UU RI Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan
18 Kuncoro, “Membangun Kekuatan Nasional Dengan Mewujudkan Visi Poros Maritim Dunia”, Jurnal Pertahanan, Volume 5 Nomor 2, 2015, hlm.176.
19 United Nations Ocean and Law of the Sea, United Nations Convention on the Law of the Sea of 10 December 1982, dapat dilihat pada https://www.un.org/Depts/los/convention_agreements/convention_
overview_ convention.htm diakses pada tanggal 7 Oktober 2019
Tabel 1. Pengoperasian Jenis Kapal TNI Angkatan Laut Berdasarkan Karakteristik Laut Indonesia.
(diolah dari berbagai sumber)
UNCLOS 1982, UU RI Nomor 6 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen, UU RI Nomor 5 Tahun 1983 tentang ZEE Indonesia, UU RI Nomor 17 Tahun 1985 tentang UNCLOS 1982, UU RI Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia,UU RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, UU RI Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, dan UU RI Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan.
5.1 Tugas TNI Angkatan Laut.
TNI Angkatan Laut sebagai bagian dari Tentara Nasional Indonesia, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI dalam Pasal 920 disebutkan bahwa TNI Angkatan Laut memiliki tugas-tugas sebagai berikut :
a. Melaksanakan tugas-tugas TNI Matra Laut di bidang pertahanan.
Melaksanakan tugas TNI matra laut di bidang pertahanan adalah sebagai Tugas pokok TNI matra laut untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara di wilayah perairan Indonesia.
b. Menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional, hukum internasional yang telah diratifikasi. Sesuai dengan Pasal 224 UNCLOS 1982 yang mengatur bahwa kapal perang suatu negara pantai memiliki kewenangan untuk melakukan pemaksaan atau enforcement, bersama pesawat udara militer. Ini berarti bahwa secara tersirat UNCLOS 1982 menentukan instansi yang paling berwenang di laut adalah angkatan bersenjata dari suatu negara.
c. Melaksanakan tugas diplomasi Angkatan Laut dalam rangka mendukung kebijakan politik luar negeri yang ditetapkan oleh pemerintah.
Melalui kehadiran dan keterlibatan unsur TNI Angkatan Laut dalam operasi dan latihan bersama angkatan laut negara sahabat, dapat mempererat dan meningkatkan hubungan baik antar negara. Beberapa tugas diplomasi Angkatan Laut, yaitu; (1) UNIFIL Maritime Task Force (MTF) dibentuk pada tahun 2006 atas permintaan pemerintah Lebanon sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701. Tugas dan Wewenang yang dimiliki adalah mencegah masuknya senjata ilegal dan bahan berbahaya terkait lainnya ke Lebanon, serta melatih Lebanese Armed Force Navy (LAF-Navy). UNIFIL MTF telah melaksanakan tugas diantaranya Maritime Interdiction Operations (MIO) dan selain itu UNIFIL MTF turut serta melatih LAF-Navy, agar mereka mampu menjaga perairannya. Pengiriman kapal perang TNI Angkatan Laut pada UNIFIL MTF adalah untuk menjalankan salah satu peran TNI Angkatan Laut, yaitu peran naval diplomacy pada pergaulan dunia internasional.21 (2) Kegiatan muhibah KRI Dewaruci mengelilingi dunia dalam rangka praktek pelayaran astronomi Akademi TNI Angkatan Laut merupakan bukti bahwa tugas diplomasi dunia selalu diemban oleh TNI Angkatan Laut. Pelayaran pertama KRI
20 Undang-Undang Nomer 34 Tahun 2004 Pasal 9 Tentang Tugas TNI AL.
21 Dispenal, Satgas Maritim TNI, Kontingen Garuda XXVII-C/UNIFIL 2011, KRI Sultan Iskandar Muda-367, 2012
Dewaruci keliling dunia dilaksanakan pada tahun 1964, berarti sejak 56 tahun yang lalu naval diplomacy telah ditunjukkan TNI Angkatan Laut kepada dunia.
d. Melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra laut. TNI Angkatan Laut senantiasa mengikuti perkembangan lingkungan strategis, mengantisipasi segala bentuk ancaman yang datang dan senantiasa melangkah maju untuk mewujudkan tugas pokok, TNI Angkatan Laut akan terus membangun kekuatannya sesuai rencana strategis yang telah direncanakan.
e. Melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan laut. Sebagai negara maritim, sudah sewajarnya TNI Angkatan Laut sebagai leading sector untuk menggerakkan seluruh potensi sektor maritim di seluruh pelosok tanah air sehingga dapat diberdayakan sebagai kekuatan pertahanan negara di laut.
5.1.1 Tugas TNI Angkatan Laut dalam pengamanan wilayah laut.
TNI Angkatan Laut memandang strategi pengamanan wilayah laut yurisdiksi nasional Indonesia yang paling tepat adalah dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan geopolitik Indonesia22. Perwujudan stabilitas keamanan di laut diselenggarakan melalui operasi keamanan laut sebagai upaya untuk menegakkan keamanan di laut, sekaligus untuk mewujudkan dampak penangkalan. Operasi keamanan laut yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Laut digelar dalam beberapa wilayah area operasi Koarmada, meliputi Koarmada I-Jakarta, Koarmada II-Surabaya dan Koarmada III-Sorong. Prioritas penggelaran operasi dilaksanakan dengan mempertimbangkan wilayah yang memiliki potensi kerawanan di laut yang cukup tinggi seperti 4 choke point di Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar dan Selat Lombok. Karena melibatkan stake holder maritim nasional dan angkatan laut negara sahabat lainnya dalam pelaksanaan operasi keamanan laut yang dilaksanakan, TNI Angkatan Laut selalu melaksanakan;
5.1.1.1 Sinergisitas dengan instansi keamanan maritim.
Pengamanan wilayah laut oleh TNI Angkatan Laut dilaksanakan secara sinergis, efektif dan efisien antar instansi maritim terkait, karena pada hakikatnya menjaga keamanan wilayah laut digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia bersama seluruh komponen maritim bangsa23. Keamanan maritim saat ini harus dibangun dengan prinsip menyinergikan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh berbagai instansi maritim di laut. Diperlukan sinergitas antar aparat penegak hukum di laut sehingga penegakan hukum di laut tidak bersifat sektoral. Ada beberapa instansi yang memiliki kewenangan dalam penegakan hukum di laut Indonesia, yaitu diantaranya; (1) TNI Angkatan Laut. (2) Kepolisian Republik Indonesia (3) Bakamla (4) Kementerian Hukum Perundang-undangan dan HAM. (5) Kementerian Keuangan (6) Kementerian Perhubungan. (7) Kementerian Kelautan, dan (8) .Perikanan serta Kementerian Kehutanan.
Sinergisitas TNI Angkatan Laut dengan instansi kekuatan keamanan maritim dapat dilihat dari kegiatan Satgas 115 dalam operasi pengawasan dan penindakan
22 Ibid halaman 2
23 Andrew Forbes, The Naval Contribution to National Security and Prosperity, Desember 2012, https://www.navy.gov.au/sites/default/files/documents/SP12.pdf, diunduh tanggal 2 Februari 2020
illegal fishing di laut yang mengikutsertakan kapal patroli TNI Angkatan Laut sebagai unsur utama dalam satuan tugas24. Untuk dapat menjamin kondisi stabilitas keamanan maritim di wilayah perairan yurisdiksi nasional Indonesia dan di kawasan, TNI Angkatan Laut menggelar; Operasi laut sepanjang tahun, operasi pada waktu tertentu dan Operasi khusus, baik secara mandiri, gabungan bersama instansi keamanan maritim lain, maupun bersama angkatan laut negara sahabat. Keberhasilan TNI Angkatan Laut dalam menjaga keamanan maritim dengan melaksanakan operasi pengamanan laut, diantaranya; (1) Operasi pembebasan kapal MV Sinar Kudus di Somalia. Operasi pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang dibajak pada tanggal 6 Maret 2011 sebagai sebuah operasi untuk membebaskan awak kapal MV Sinar Kudus yang dibajak dan disandera selama 46 hari di Somalia. (2) Pembebasan kapal tanker MV Hai Soon-12 di Tanjung Puting. Pembebasan kapal tanker MV Hai Soon-12 bermuatan 240 ton bahan bakar minyak (BBM) solar yang dibajak sekelompok perompak di Selat Karimata saat berlayar dari Singapura menuju India.25 (3) Pembebasan kapal FV. Viking di perairan Tanjung Berakit Bintan. Pembebasan kapal ikan FV. Viking yang berstatus buron pada 25 Februari 201626 karena 13 Negara selama bertahun-tahun telah memburu FV. Viking karena aksinya melakukan kegiatan illegal fishing. (4) Penangkapan Kapal MV Sunrise Glory. Kapal MV Sunrise Glory berhasil diamankan oleh TNI Angkatan Laut karena membawa 1 ton narkoba bernilai 1,5 Triliun 7 Februari 2018 oleh kapal perang Indonesia KRI Sigurot 864 di perairan Selat Phillip27.
5.1.1.2 Kerjasama antar Angkatan Laut
TNI Angkatan Laut juga aktif dalam menjalin kerja sama dengan angkatan laut negara sahabat. Kerja sama ini meliputi kerja sama pertemuan tingkat tinggi, bantuan kemanusiaan dan bencana alam, latihan dan operasi bersama, serta pendidikan. Kerja sama internasional antara TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut negara sahabat pada hakikatnya adalah untuk mewujudkan hubungan yang dinamis antar negara yang mencerminkan keakraban, keharmonisan, kesetaraan dan saling menguntungkan.
Dengan kata lain, latihan dan operasi bersama juga dapat diartikan sebagai strategi TNI Angkatan Laut dalam interaksinya bersama Angkatan Laut negara sahabat.
Penanganan tindak kejahatan terorganisasi maupun tidak terorganisasi antar angkatan laut telah dikelola dengan membangun kerja sama terpadu antar negara di kawasan antara lain patroli terkoordinasi (Patkor) dengan negara tetangga seperti dengan India: Patkor Indindo ”Samudera Shakti”, Malaysia: Patkor Malindo, Filipina:
Patkor Philindo, Thailand: Patkor IndoThai dan Australia: Patkor Ausindo.
24Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, Seminar Nasional Penegakan Hukum terhadap Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, 20 Januari 2018,https://news.detik.com/berita/d-3824455/susi-cerita-soal-pentingnya-laut-sebagai-kedaulatan- indonesia, diunduh pada tanggal 4 Februari 2020
25 Laksda Darwanto, Pangarmatim, Kapal Tangker Hai Soon 12 Dibajak,
http://beritatrans.com/2016/05/12/kapal-tanker-hai-soon-12-dibajak-12-wni-di-selat-singapura-sudah- ditangkap-tni-al/, 12 Mei 2016, Diunduh 4 Februari 2020
26 Laksdya Ari Sembiring, Kalakhar Satgas 115,Dosa Kapal Viking di Laut Indonesia, https://news.detik.com/berita/d-3164251/ditenggelamkan-ini-daftar-dosa-kapal-viking-di-laut- indonesia, 14 Maret 2016, Diunduh 4 Februari 2020
27 Marsekal Hadi Tjahjanto, Panglima TNI, Penangkapan Kapal MV Sunrise Glory Sudah Dipersiapkan Lama, nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/02/11, diunduh pada tanggal 2 Februari 2020
Operasi bersama yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Laut antara lain Malacca Strait Patrol (MSP) dilaksanakan menangani keamanan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura oleh empat negara yaitu; Indonesia, Malaysia dan Singapura dan Thailand yang ikut bergabung pada tahun 2008. Trilateral Maritime Patrol Indomalphi adalah operasi bersama TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut negara sahabat yaitu Malaysia dan Filipina. Operasi bersama ini bertujuan untuk bekerja sama mengamankan perairan perbatasan tiga negara di perairan Laut Sulu dan Laut Sulawesi. Beberapa kerja sama berupa latihan dan seminar multilateral lainnya yang digelar antara lain Indian Ocean Symposium (IONS), Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK). Western Pacific Naval Symposium (WPNS), International Maritime Security Symposium (IMSS), Asean Navy Chief Meeting (ANCM), Rimpac Exercise, Kakadu Exercise, Seacat Exercise dan berbagai macam kerja sama lainnya.
Kerjasama di bidang pendidikan dilakukan TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut beberapa negara sahabat di kawasan regional Asia, Australia, Amerika dan Eropa dengan melaksanakan program; (1) Pendidikan dan kursus bidang Angkatan Laut.
(2) Pertukaran perwira siswa Pendidikan Sesko Angkatan (3) Pertukaran dosen pengajar TNI Angkatan Laut dan Royal Australian Navy. (4) Pemberian materi pelajaran dari Dosen negara sahabat ke Seskoal.
5.2 Kewenangan TNI Angkatan Laut di Laut.
Setelah Konvensi PBB tentang UNCLOS 1982 diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 1985 di mana konvensi tersebut diberlakukan sebagai hukum positif pada tanggal 16 November 1994, maka status Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) diakui secara de-jure oleh dunia. Pengakuan dunia dalam hukum internasional tersebut mengesankan “a defined territory”, dengan demikian Indonesia memiliki legalitas hukum terhadap wilayah nasionalnya yang meliputi wilayah darat, laut dan udara di atasnya. Kewenangan TNI Angkatan Laut berdasarkan UNCLOS 1982 dan Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 1985 di tiap-tiap zona maritim, yaitu :
5.2.1 Perairan Indonesia.
Perairan ini meliputi Perairan Pedalaman, Perairan Kepulauan, dan Laut Teritorial sejauh 12 nm yang diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesiar28. Seluruh aparat penegak hukum di laut memiliki kewenangan untuk mengawasi, mencegah dan menindak pelanggaran hukum di laut seperti pembajakan dan penyelundupan, pengawasan instalansi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam, melindungi kekayaan sumber daya alam dan sumber daya buatan, dan pengamanan pelayaran.
5.2.2 Perairan Zona Tambahan.
Zona tambahan ini merupakan wilayah laut yang merupakan transisi antara ZEE dan laut teritorial dan tidak melebihi dari 24 nm laut dari garis pangkal dimana lebar laut wilayah diukur. Adapun aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan di zona ini adalah PPNS Bea Cukai, Kesehatan, dan Imigrasi adalah untuk mencegah dan menindak pelanggaran peraturan bea cukai, fiskal, kesehatan dan imigrasi.
28 Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia
5.2.3 Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia.
Zona ini adalah bagian perairan (laut) yang terletak di luar dan berbatasan dengan laut teritorial wilayah Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) nm laut diukur dari garis pangkal luar wilayah Indonesia. Pada zona ini TNI Angkatan Laut memiliki kewenangan sebagai aparat hukum guna melindungi dan mengamankan sumber daya alam hayati dan non hayati, melindungi dan mengamankan pulau-pulau buatan dan alat-alat lainya dalam rangka pelaksanaan eksploitasi sumber daya alam maupun sumber daya hayati, pengawasan dan pemeriksaan terhadap kegiatan penangkapan ikan illegal, mencegah dan menindak kegiatan-kegiatan penelitian ilmiah kelautan (marine scientific research) illegal. Ketentuan khusus di zona ini diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 45 Tahun 2009.
5.2.4 Landas Kontinen.
Sebagai daerah di bawah laut yang meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya dari daerah dibawah permukaan laut yang terletak di luar laut teritorial sepanjang kelanjutan alamiah wilayah daratan hingga pinggiran laut tepi kontinen, hingga jarak 200 mil laut dari garis pangkal. Pada wilayah Landas Kontinen ini negara pantai tetap menjamin kebebasan berlayar dan penerbangan di atas landas kontingen dan udara di atasnya, kebebasan kabel komunikasi dan pipa bawah laut, hak untuk menangkap ikan, kebebasan melakukan riset ilmiah, kegiatan yang berhubungan dengan pelayaran, lingkungan hidup dan pencemaran, konservasi sumber daya hayati dan non hayati. TNI Angkatan Laut dan PPNS Perikanan sebagai aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas di wilayah tersebut.
5.2.5 Laut Lepas.
Laut lepas adalah semua bagian laut yang tidak termasuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), laut Teritorial, perairan kepulauan, atau perairan pedalaman suatu Negara dan terbuka bagi semua negara, baik begara yang berpantai maupun yang tidak berpantai memiliki kebebasan di atasnya. Kebebasan bagi pengguna laut adalah kebebasan di laut lepas meliputi kebebasan berlayar, penerbangan, memasang pipa/kabel dibawah laut, kebebasan membangun pulau buatan/instalasi lainnya, menangkap ikan, kebebasan riset ilmiah kelautan, dengan memperhatikan ketentuan yang tercantum dalam UNCLOS 1982, dan Hukum Internasional lainnya. Kapal yang berlayar di laut lepas berada di bawah yurisdiksi eksklusif negara bendera.
Kewenangan aparat penengak hukum di zona ini untuk memerangi penyelundupan manusia, perdagangan narkoba dan pembajakan adalah TNI Angkatan Laut.
Gambar 2. Visualisasi zona maritim di Indonesia
6. Arti Penting Laut Bagi Indonesia, dan Arti Penting Indonesia Sebagai Barometer Keamanan Maritim di Kawasan.
Laut dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia, sama halnya dengan negara lain yang juga memiliki hak pemanfaatan laut sebagaimana diatur dalam UNCLOS 1982. Namun, Indonesia dengan luas wilayah laut yang lebih besar dari daratannya, hanya mampu memberikan kontribusi ekonomi sektor maritim terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di bawah 30 %. Dibandingkan dengan Thailand, dengan panjang garis pantai Thailand hanya 2.800 km2 (panjangnya hanya 2,8 % dari garis pantai Indonesia yang mencapai 108.000 km2) mampu menyumbang PDB hingga US$ 212 miliar atau sekitar 2.800 triliun29. Besarnya nilai tersebut dapat juga menujukkan arti penting laut bagi Indonesia.
6.1 Arti Penting Laut Bagi Indonesia.
Begitu besar fungsi laut bagi bangsa Indonesia, maka laut memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia, yaitu; (1) Media pemersatu bangsa Indonesia. Media utama yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis negara Indonesia sehingga menjadi harapan utama bagi rakyat Indonesia untuk membentuk satu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan negara. (2) Media perhubungan.
Media yang menjembatani lalu lintas distribusi komoditas kebutuhan ekonomi ke seluruh wilayah tanah air dan sekaligus mewujudkan pemerataan kesejahteraan
29 LIPI: Potensi Kekayaan Laut Indonesia Setara 93% Pemasukan APBN 2018,
https://www.gatra.com/detail/news/411647/ekonomi/lipi-potensi-kekayaan-laut-indonesia-setara-93- pemasukan-ap, 22 Apr 2019, diunduh tanggal 3 Februari 2020
pembangunan ke seluruh daerah. Tersebarnya pulau-pulau di tanah air dengan segala potensi kekayaan sumber daya alam dan manusia di dalamnya, menunjukkan betapa pentingnya laut sebagai media perhubungan yang mudah dan terjangkau oleh seluruh rakyat untuk memanfaatkannya. (3) Media penyedia sumber daya alam. Sebagai media yang mampu memberikan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya dalam bentuk kekayaan yang terkandung didalamnya, baik yang di dasar samudera (sea bed) dan landas kontinen (continental shelf). (4) Media pertahanan dan keamanan. Sebagai medan pengabdian TNI Angkatan Laut dalam melaksanakan tugas pokoknya untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara di laut. Kekuatan armada kapal perang, pesawat udara, Marinir dan pangkalan Angkatan Laut digelar di seluruh wilayah laut Indonesia dan diprioritaskan pada beberapa daerah rawan selektif.
6.2 Arti Penting Indonesia Sebagai Barometer Keamanan Maritim di Kawasan.
Secara geopolitik dan geostrategis Indonesia dapat dikatakan sebagai negara kunci stabilisator kawasan Asia Tenggara mengingat potensi yang dimiliki yaitu besarnya wilayah dan jumlah penduduk Indonesia. Terlebih lagi dengan letak strategisnya posisi geografis Indonesia yang sangat mempengaruhi perkembangan pembangunan sektor maritim nasional, sehingga terciptanya stabilitas keamanan maritim Indonesia sebagai salah satu kunci dari terciptanya stabilitas keamanan maritim di wilayah kawasan Indo-Pasifik. Kemampuan Indonesia secara langsung maupun tidak langsung dalam mengamankan ke-4 chokepoints dunia di Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar dan Selat Lombok akan berpengaruh langsung terhadap situasi keamanan dan ekonomi kawasan Indo-Pasifik secara keseluruhan, karena perairan tersebut merupakan jalur penghubung antara kawasan Asia Barat ke Asia Timur dan sebaliknya. International Maritime Organisation (IMO) sudah menyetujui Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat Lombok akan diberlakukan pada Juni 2020. Pemberlakuan TSS memberikan konsekuensi bagi Indonesia untuk melaksanakan pengawasan dan pengendalian di koridor tersebut, serta menjaga lingkungan di sekitarnya sesuai kewenangan negara pantai di Unclos 1982. Pentingnya Indonesia untuk mampu menjaga keamanan maritim, maka Indonesia memiliki arti penting pula sebagai barometer keamanan maritim kawasan, yaitu; (1) Sebagai ukuran kemandirian kemampuan menghadapi ancaman keamanan maritim. Berhasil tidaknya Indonesia mengatasi ancaman keamanan maritim memberikan suatu pilihan bagi negara lain untuk menyiapkan pilihan untuk memberikan bantuan kerjasama kekuatan maritim dalam kerangka kerjasama kekuatan maritim kawasan atau menyiapkan
kekuatan keamanan maritim mandirinya untuk siap menghadapi ancaman.
(2) Terukurnya pola, metoda dan teknologi aparat keamanan maritim Indonesia menghadapi ancaman30. (3) Memprediksi trend ancaman keamanan maritim yang terjadi. Meskipun berbeda kondisi geografis antara negara yang satu dengan lainnya, beberapa negara di kawasan memimiliki hampir kemiripan potensi sumber daya maritim seperti perikanan, lalu lintas laut dan pengelolaan sumber daya maritim di laut.
30 Dr.A.Octavian, Komandan Seskoal, Penegakan Hukum dan Penjagaan Keamanan di Laut, Makalah Kuliah Umum di ITB, 16 Oktober 2019, hal 13
7. Penutup
Sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan sumber daya maritim yang melimpah dan dengan letaknya yang sangat strategis bagi jalur ekonomi perdagangan regional dan global, sangat membuka peluang bukan hanya bagi rakyat dan bangsa Indonesia sendiri untuk mengelola dan memanfaatkannya, tetapi pihak-pihak lainpun memiliki harapan pula untuk dapat mengambil bagian dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi dan sumber daya maritim Indonesia. Pengelolaan dan pemanfaatan secara ilegal dan tidak seimbang menjadi ancaman bagi keamanan maritim, untuk itu TNI Angkatan Laut membutuhkan sinergisitas dengan kekuatan maritim nasional lainnya serta kerjasama dengan Angkatan Laut negara sahabat guna mendukung tugas pokok. Kekuatan armada dibangun sesuai dengan kebutuhan operasi dengan memperhatikan karakteristik laut Indonesia. Tugas TNI Angkatan Laut dalam pengamanan wilayah laut dijabarkan dengan menggelar operasi laut sepanjang tahun, operasi waktu tertentu dan operasi khusus. Gelar operasi TNI Angkatan Laut menunjukkan pula pentingnya fungsi laut bagi Indonesia dan negara lain di kawasan guna mewujudkan keamanan maritim Indonesia dan kawasan.