S
ManagementMutu
Pengembangan SDM
Berbasis Kompetensi
BNSP
Sertifikasi kompetensi kerja adalah proses pemberian
sertifikasi kompetensi yang dilahirkan secara sistematis dan
obyektif, melalui uji kompetensi atau asesmen kopetensi
yang mengacu pada standar kompetensi kerja. Standar
kompetensi kerja tersebut dapat berupa Standar Kompetensi
Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), atau standar kompetensi
yang berlaku secara internasional, atau stadar kompetensi
yang mengacu khusus dan terbatas.
bekerja secara produktif. Produktivitas tenaga kerja. Data dariThe
ini yang akan menjamin pertumbuhan Conference Board and Groninge
peningkatan daya saing dan Growth and Develoment Centre
kesejahteraan. menunjukan, bahwa out-put tenaga
Oleh karena itu, setiap pekerjaan kerja Indonesia di sektor ekonomis dan kewenangan , sebaiknya terpilih tahun 2005 berada di posisi diserahkan pelaksanaanya kepada nomor empat, yaitu sebesar US9,022. orang yang kompeten dibidangnya. Nomor tiga diduduki Thailand dengan
ini nilai $.US.13..915 nomor dua
Kompetensi dan Daya Saing Malaysia dengan nilai $US..13.915
Nasional: nomor dua Malaysia dengan nilai Daya saing Indonesia di US.22.112 dan nomor satu Singapura kancah persaingan global dengan nilai .US.7.975.
masih harus diperkuat secara Rendahnya out-put per tenaga signifikan.Berdasarkan IMU World kerja rendah kualitasnya tenaga kerja
Competitivenes Year book 2005, Indonesia. Data BPS menunjukan peringkat kinerja Indonesia aspek bahwa dan 106 juta angkatan kerja ekonomi pada posisi nomor 59 dari 60 Indonesia misalnya pada tahun negara yang di survei. Untuk aspek 2006, sebanyak 52 persen lebih efesiensi bisnis pada posisi 59, aspek berpendidikan SD ke bawah. Tamatan efisiensi pemerintah di posisi 55 dan SLTP 20 pesen, tamatan SMA sekitar aspek produktivitas diposisi 59. 23 persen, dan Diploma besar 2
Peningkat daya saing tersebut persen SI ke atas sebesar 2,6 persen. kaitannya dengan tingkat produktifitas Jumlah angkatan kerja yang ERTIFIKASI kerja yang
dimaksudkan untuk menjamin bahwa suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh tanaga kerja yang betul-betul kompeten dibidangnya. Sertifikasi kompetensi yang dimaksud untuk memberi rekognisi yang proporsional kepada tenaga kerja yang kompeten. Dengan demikian, tenaga kerja baik mengguna jasa tenaga kerja yang diuntungkan dengan adanya sertifikasi kompetensi kerja.
Kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, ketrampilan, keahlian, serta sikap kerja tertentu sesuai dengan standar yang ditetapkan . Kompetensi kerja merliputi 5 (lima) kemampuan sebagai berikut:
1.Kemampuan melaksakan setiap tugas jabatan/pekerjaan.
2.Kemampuan mengelola semua tugas jabatan/pekerjaan.
3.Kemampuan menghadapi keadaan yang bersifat mendadak/ darurat.
4. Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja.
5.Kemampuan menghadapi perubahan dan perkembangan dunia kerja.
Kompetensi kerja diberbagai bidang dan tingkat profesi perlu distandarkan agar ada tolak ukurnya.Pada dasarnya, setiap pekerjaan harus dilakukan oleh tenaga kerja yang kompeten. Hidist Nabi Muhammad, SAW yang mengatakan, ”Apabilaurusan di serahkan kepada bukan ahlinya, tunggulahkehancurannya”
besar, bagi Indonesia masih dirasakan sebagai beban, baik secara sosial maupun secara ekonomi. Cara pandang ini kiranya yang harus dirubah, jumlah angkatan kerja yang banyak harus kita pandang sebagai aset bangsa yang harus didayagunakan secara optimal. Caranya dengan memberikan kompetensi dan kesempatan untuk berkarya. Semakin banyak angkatan kerja yang bekerja semakin tinggi produktifitas kerjanya. Hal ini akan berdampak semakin tingginya pertumbuhan dan daya saing bangsa secara bersamaan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kompetensi dan profesionalisme tidak selalu paralel dengan tingkat pendidikan Walaupun pendidikan dengan relatif rendah, apabila yang bersangkutan kompeten dan profesional, akan menghasilkan produktifitas yang tinggi. Sebaliknya walaupun pendidikannya relatif tinggi, kalau yang bersangkutan tidak kompeten dan tidak profesional, tidak akan menghasilkan produktifitas dan bahkan dapat kontra produktif. Oleh karena itu, paradigma bangsa yang harus dikembangkan adalah ”PengembanganSDM Berbasis Kompetensi”.
Prisip Dasar Pengembangan SDM Berbasis Kompetensi:
Pengembangan SDM berbasis kompetensi bertumpu pada tiga pilar utama: Yakni adanya standar kompetensi kerja, adanya pendidikan dan pelatihan yang berbasis pada standar kompetensi kerja dan adanya sistem sertifikasi yang independen dan terpercaya menjamin mutu kompetensi sesuai dengan standar kompetensi.
Standar kompetensi kerja di susun dan dikembangkan di berbagai bidang pekerjaan/ profesi oleh para pemangku kepentingan , terutama dikalangan dunia usaha dan asosiasi profesi. Standar kompetensi tersebut, disusun secara nasional dan
diusahakan setara serta dibandingkan dengan standar negara-negara lainnya. Oleh karena itu, untuk bidang profesi yang secara Internasional sudah ada standar kompetensinya, tinggal dilakukan adopsi atau adaptasi
www.bnsp.go.id edisi 1 I 2011
saja. Standar kompetensi, baik yang bersifast nasional (SKKNI) maupun yang bersifat international (SI), perlu mendapat kesepakatan bersama dari pemangku kepentingan dan regulator. Hal ini penting agar standar tersebut dapat diterima oleh semua pihak yang berkepentingan. Legal Framework SKKNI ditetapkan dengan keputusan Menteri yang membidangi ketenagakerjaan dan aplikasinya secara wajib ditetapkan keputusan Menteri atau pimpinan instansi teknis sesuai dengan sektor masing-masing.
Standar kompetensi yang telah disusun dak dikembangkan secara nasional, tidak optimal manfaatnya bila tidak digunakan untuk acuan dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan profesi. Oleh karena itu, standar kompetensi tersebut perlu dijabarkan dan standar pendidikan dan pelatihan.
Berdasarkan acuan dari Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) standar pendidikan dan pelatihan tersebut meliputi:
1. Standar kelulusan 2. Standar Isi
3. Standar Proses Standar Asesmen/Penilaian 5. Standar Guru/Pelatih 6. Standar Fasilitas dan sarana 7. Standar Manajemen 8. Standar Biaya Lembaga pendidikan dan pelatihan yang ingin melaksanakan pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi, perlu segera melakukan konsolidasi agar dapat menghasilkan kelulusan yang kompeten, sesuai dengan standar komptensi yang telah ditetapkan. Apabila hal tersebut tidak dilakukan , maka lembaga pendidikan dan pelatihan tersebut hanya akan menghasilkan lulusan berijazah,
tetapi tidak atau sedikit menghasilkan lulusan bersertifikas kompetensi. Hal ini dapat terjadi karena sertifikasi kompetensi dilakukan oleh lembaga yang independen.
Dalam konsepsi pengembangan SDM Berbasis Kompetensi, sertifikasi kompetensi yang dilakukan oleh lembaga independen . Artinya lembaga pendidikan dan pelatihan sebagai produsen kompetensi, dipisahkan dengan lembaga sertifikasi kompetensi sebagai penjamin mutu kompetensi. Hal ini penting untuk menghidarkan terjadinya konflik kepentingan dalam suatu lembaga.
Lembaga pendidikan dan pelatihan dapat menerbitkan ijzah atau sertifikat diklat bagi lulusannya, tetapi untuk menjamin bahwa mereka telah memenuhi standar kompentensi yang ditetapkan, mereka harus lulus uji kompetensi/asesmen kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi kompetensi yang independen. Untuk itulah pemerintah membentuk Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Apabila instruktur Pengembangan SDM Berbasis Kompetensi seperti di atas telah terbentuk dan aplikasinya telah berjalan, maka perlu dikembangkan harmonisasinya dengan negara-negara lain, baik secara bilateral maupun secara multilateral.
Diantaranya, melalaui notifikasi dan kerjasama saling pengakuan (Mutual Recognitionon). Berbagai forum kerjasama
global maupun regional seperti WTO,AFTA, ASEAN,ASEAN PLUS THREE,ASEAN-EU, perlu dimanfaatkan secara optimal untuk harmonisasi yang dimaksud.***
W
ApakataMereka
BNSP
Dra. Nurmaningsih, MBA (Ketua Komisi II. Harmonisasi dan Kelembagaan BNSP)
Menuju SDM Unggul Melalui
Sertifikasi Kompetensi
menyadari tidak bisa bekerja dengan sendirian. Karena itu, kami berharap pemangku kebijakan dan stakeholder bisa bekerja sama guna menciptakan tenaga kerja yang kompeten sesuai dengan permintaan dunia usaha,”tuturNurmaningsih di sela-sela kesibukannya di Hotel Bidakara.
Dia optimis, bila instansi pemerintah terkait, lembaga mitra, dan dunia usaha merasa mempunyai tanggung jawab besar, dalam membina dan menciptakan SDM unggul melalui sertifikasi kompetensi, tegas Nurmaningsih, negara
Indonesia akan berkembang pesat. “Sayasangat yakin Indonesia akan maju bila pemangku kepentingan bisa bersinergi dan bekerja sama dengankami,”ujarnyabahwa workshop diadakan tidak lain guna mengharmonisasi program dan menyatukan aspirasi menuju SDM unggul di masa mendatang.*** bertujuan untuk mengharmonisasi
para instansi pemerintah terkait, lembaga mitra dan para LSP sudah menjadi mitra kerja BNSP. Workshop yang mengambil tema Menuju SDM Unggul Melalui Sertifikasi Kompetensi juga diharapkan bisa mendukung program BNSP ke depan.
“Kamiakan terus melakukan sosialisasi kepada para instansi pemerintah terkait, lembaga mitra dan LSP-LSP,baik melalui investigasi langsung maupun melalui Workshop sepertiini,”ujar Ketua Komisi II, Harmonisasi dan Kelembagaan BNSP yang sekaligus ditunjuk sebagai Ketua Panitia Workshop.
Sebagai Ketua Panitia, Nurmaningsih berharap, semua pemangku kebijakan dan stakeholder yang hadir mau bekerja sama dengan BNSP, agar permintaan dari dunia usaha mendapatkan tenaga kerja kompeten bisa terlayani.“Kami
Rachmad Sugiyanto,MBA (Direktur LSP Hotel dan Restauran)
BNSP Go Internasional
adan Nasional Sertifikasi berkunjung ke redaksi Majalah
Profesi (BNSP) yang memiliki Sertifikasi di Jln MT. Haryono Kav 52
tugas melaksanakan sertifikasi Jakarta baru-baru ini.
kompetensi kerja bagi tenaga Rachmad menceritakankan,
kerja. Selain itu, BNSP juga bisa ketika itu ada salah satu orang yang
melaksanakan tugasnya antara lain datang kepadanya untuk mengikuti
memverifikasi standar kompetensi, uji kompetensi di LSP Hotel dan
pemberian lisensi, pengaturan dan restauran. Orang tersebut, kata
pengendalian pelaksanaan sertifikasi Rachmad, sengaja datang dari
kompetensi serta mengembangkan luar negeri untuk mengiukuti uji
sistem dan manajemen mutu. kompetensi.
“BNSPharus menjadi lembaga Setelah lulus dan membawa
otoritas yang terpercaya dalam sertifikat yang menyatakan dia
menjamin kompetensi tenaga kerja kompeten di bidangnya, ketika
fungsinya serta bisa membangun dengan stakeholder yang ada.“Kami berharap BNSP merupakan lembaga otoritas yang terpercaya di dalam menjamin kompetensi tenaga kerja tidak hanya di Indonesia, tapi hingga gointernasional,”ujarnya ketika
Foto: Warno
www.bnsp.go.id edisi 1 I 2011 61
Sri Sundari (Kepala PUSDIKLAT Industri)
Indonesia Menjadi Negara Industri
Tangguh di Tahun 2025
epala Pusdiklat, Kementerian tekun dan mudah menerima pelatihan, Perindustrian RI , Sri kemampuan didang operasional Sundari sangat optimis sudah berkembang dan kemampuan di tahun 2025 Indonesia akan bidang rancang bangun dan menjadi negara tangguh di bidang perekayasaan sudah berkembang. industri. Hal tersebut di dasari Tantangan global telah ditanda dengan pertumbuhan ekonomi tangani dengan lima pilar utama yang berkelanjutan, penciptaan
stabilitas ekonomi yang kokoh dan pembangunan ekonomi yang inklusif
dan berkeadilan.
“Ciri
Indonesia pada tahun
Disampng itu, pihaknya dengan
2025 menjadi negara industri
fokus prioritaskan industri padaRPJM 2010-2014 antara lain dengan penumbuhan populasi usaha industri, penguatan struktur industri dan peningkatan produktifitas usaha
industri.“CiriIndonesia pada tahun
tehnologi menjadi ujung tombak
antara sertifikat kompentensi (BNSP) belum semua industri di Indonesia mengakuinya, karena belum ada kesetaraan dengan luar negeri seperti sertifikat BNSP belum diakui di luar negeri, kurangnya Asesor untuk mendukung kegiatan verifikasi TUK, masih terbatasnya LSP di bidang industri, sosialisasi yang kurang, sehingga kesadaran akan pentingnya sertifikasi kompetensi yang minim serta kebijakan dari kementerian tekhnis terkait saling berbenturan, sehingga tidak terjalin harmonisasi.
D
ApakataMereka
BNSP
i era perdagangan bebas yang telah melahirkan blok-blok perdagangan di tingkat global maupun regional. Dan lahirnya World Trade Organization (WTO) pada tingkat global dan Asean Free Trade Area (AFTA) di tingkat regional , kata Wakil Sekretaris Umum DPN APINDO dalam acara Workshop BNSP, merupakan indikasi signifikan globalisasi perdagangan dunia yang termasuk di dalamnya globalisasi tenaga kerja.
Sebagai Wakil Sekretaris Umum, Iftida Yasar menjelaskan, di mulainya perdagangan bebas tingkat Asean-China pada Desember 2008 (yang telah melalui berbagai pembahasan dan pertemuan sejak tahun 1991), tenaga kerja yang tidak terampil menjadi kekuatan Indonesia tidak termasuk sektor tenaga kerja yang dibebaskan bergerak dalam
Iftida Yusar (Wakil Sekretaris UMUM DPN APINDO)
Kompetensi SDM Kunci Sukses
Membangun Kesejahteraan
perjanjian.
“Semuaitu karena kurangnya Mutual Regognigtion Arrangement (MRA) dan Standard Mutual Agreement dalam menentukan standard kompetensi profesi tingkat Asean dan China, sehingga tenaga kerja dari luar negeri menjadi ancaman , dibandingkan dengan kemampuan tenaga kerja Indonesia,”tuturIftida.
Dijelaskan, dampak dari masalah diatas terhadap harmonisasi hubungan Industrial mengakibatkan banyaknya terjadi konflik.
Menurut Iftida, kondisi saat ini disebabkan tingginya pengangguran karena suplay dan demand yang tidak seimbang. Disamping itu, juga redahnya produktivitas tanaga kerja ini disebabkan oleh rendahnya pendidikan dan kompetensi yang dimiliki oleh angkatan kerja, serta hubungan industrial yang tidak kondusif (upah, pesangon, outsourcing dan UU No 13 tahun 2003 dan lain sebagainya.
Iftida membandingkan dengan negara Malaysia, Singapura, Thailand dan Jerman. Negara Malaysia kata Iftida, mampu mengembangkan industri pariwisata dengan motto Malaysia Trully Asia.“Walaupun tenaga kerja kasar tergantung dari Indonesia, tapi negara tersebut mampun membangun infrastruktur dan perkebunan kelapa sawit. Malaysia membangun negaranya dengan fokus pada pembangunan kompetensiSDM,”katanya.
Sedangkan Singapura terkenal sebagai negara ahli dibidang insvestasi keuangan. Namun negara
“Singapura
mempunyai
training center yang merupakan
rujukan bagi perusahaan
anggota dan bukan anggota
dalam meningkatkan kompetensi
SDM, bahkan Indonesia dan
negara Asean lainya juga belajar
dari SNEF. Semua itu, kerja
sama tripartit yang solid dalam
membangun SDM
yang kompeten,
kecil, lanjut Iftida, Singapura sebagai tempat semua pusat dunia. “Singapuramempunyai training center yang merupakan rujukan bagi perusahaan anggota dan bukan anggota dalam meningkatkan kompetensi SDM, bahkan Indonesia dan Negara ASEAN lainya juga belajar dari SNEF. Semua itu, kerja sama tripartit yang solid dalam membangun SDM yangkompeten,” ujarnya.
Sedangkan Negara Thailand, tambahnya, juga mampu membangun industri pariwisata yang aman, nyaman, murah dan infrastruktur yang baik, serta dikenal sebagai negara penghasil produk pertanian, Thailand juga selalu menjadi negara pilihan tingkat Asean untuk menjadi tempat pertemuan ILO Internasional, bahkan kantor pusat ILO Asean. Thailand mampu membangun kompetensi SDM melalui OTOP One Tamboon One Product.
M
S
www.bnsp.go.id
Mabes Polri Gandeng BNSP
Selenggarakan Pelatihan Audit
Investigasi Propam Polri
edisi 1 I 2011 63 tanggungjawab jabatannya.
Dijelaskan, dalam pelatihan Audit Investigasi diselenggarakan selama 4 hari melibatkan BPK, BNSP dan unsur pimpinan Mabes Polri untuk membangun sistem Audit internal dan pengembangan standar kompetensi
ALAM hangat untuk pembaca Majalah Sertifikasi di seantero jagad. Seiring terbitnya majalah BNSP yang rencana akan hadir di hadapan Anda setiap bulan sekali, kami dari Komisi Sertifikasi dan Lisensi BNSP, akan mengajak para pembaca budiman untuk bergabung atau memberi kritik membangun demi kemajuan kita bersama antara BNSP dan pera lembaga mitra, LSP dan stakeholder terkait.
Dalam rubrik konsultasi yang diasuh langsung oleh Ketua Komisi I Ir. Surono, M.Phil. Rubrik ini dibuka untuk umum dan diharapkan bisa memberi warna serta suport kinerja rekan-rekan anggota BNSP. Atau sebaliknya para pembaca arkas Besar Polisi Republik
Indonesia (Maber Polri) telah mengandeng Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk membangun kerja sama. Kerja sama dalam bentuk pelatihan Audit Investigasi Propam Polri, diantaranya agar mandapatkan pemahaman tentang standarisasi, sertifikasi dan pelaksanaan akreditasi profesi di bidang audit investigasi Propam Polri.“Disampingitu juga akan mendapatkan peluang dan tantangan sertifikasi profesi di era globalisasi,”tuturSugiyanto.
Sebagai Ketua Renbang, BNSP, Sugiyanto mengatakan, Maber Polri sangat serius
mengembangkan Jorgon Polri dengan “Memuliakan Profesi”yakni dengan memperdayakan devisi Propam untuk membangun Standar kompetensi di bidang audit internal terhadap dugaan pelanggaran kode etik profesi oleh anggota PNS Polri dalam melaksanakan tugas, wewenang dan
Diasuh oleh: Ir. Surono, M.Phil Ketua Komisi I BNSP
yang akan dipergunakan sebagai acuan pelaksana audit secara nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Brigadir Jenderal Polisi, Drs. Yotje Mende. M. Hum menambahkan, pelatihan audit investigasi diadakan bertujuan untuk menyamakan visi, persepsi dan interpretasi dalam pelaksanaan pengawasan internal khususnya, dibidang Audit Investigasi terkait dengan penerapan kode etik profesi Polri dan disiplin anggota Polri diibidang peraturan perundang undangan, tata laksana dan administrasi pengawasan serta penegakan hukum kode etik profesi Polri.
Selain itu, tambahnya, juga untuk menyamakan visi, persepsi dan interpretasi dalam pelaksanaan pengawasan internal khususnya, Audit Investigasi terkait dengan penerapan kode etik profesi Polri dan disiplin anggota Polri, pada fungsi Reskrim, Brimob dan Lantas.***
KonsultasiAnda
ingin mengetahui apa itu BNSP dan manfaatnya terhadap dunia industri.
Anda ingin mengetahui lebih detail info seputar sertifikasi profesi BNSP atau ingin mendapatkan info tentang syarat-syarat dan jenis bidang apa yang bisa disertifikasi? Dan mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) silahkan hub alamat dibawah ini.
Alamat Redaksi: Jl. MT. Haryono Kav. 52
Jakarta Selatan Email: [email protected]
T
“Melalui
Sertifikasi
dengan misi utama
yang dicanangkan oleh
BNSP sebagai lembaga
pemegang otoritas
tingkat nasional.
EventEvent
BNSP
epatnya pada tanggal 27 Juli 2011, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) berkesempatan menyelenggarakan acara pertemuan dengan para stakeholder-nya di Hotel Bidakara. Acara yang dibuka secara resmi oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini berlangsung secara sukses dan meriah, dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan terkait, seperti: pimpinan Lembaga Sertifikasi Profesi, pengurus asosiasi industri, para asesor sertifikasi, perwakilan berbagai kementrian, dan anggota BNSP periode lama maupun baru. Acara setengah hari ini mengambil tema“MelaluiSertifikasi Kompetensi Menuju SDMUnggul”, sesuai dengan misi utama yang dicanangkan oleh BNSP sebagai lembaga pemegang otoritas tertinggi sertifikasi kompetensi kerja tingkat nasional.
Dalam pembukaannya Menakertrans menekankan pentingnya keberadaan sertifikasi sebagai bagian dari manajemen mutu dan penjaminan kualitas SDM, terutama dalam menghadapi globalisasi. Beliau juga secara tegas menjelaskan pentingnya peranan BNSP meningkatkan kinerjanya dalam mensertifikasi berbagai kompetensi kerja seperti dibutuhkan beragam sektor industri. Di akhir sambutannya, Menakertrans mengatakan perlunya terjalin kerjasama yang intensif antara BNSP dengan berbagai pihak terkait, terutama LSP dan asosiasi industry, agar proses sertifikasi dapat berjalan secara efektif dan BNSP menjadi lembaga nasional yang dapat dipercaya dunia internasional.
Setelah rehat dan ramah tamah selama kurang lebih 30 menit, acara dilanjutkan dengan talk show yang dipandu oleh Prof. Richardus Eko Indrajit (anggota BNSP periode 2011-2016) dan Mila Rachmawati, presenter RCTI. Diskusi serius tapi santai ini menampilkan 5 (lima) orang pembicara, masing-masing adalah Ibu Sundari dari Kementrian Perindustrian, Bapak
WORKSHOP BNSP BERSAMA
STAKEHOLDERNYA
Beliau juga secara tegas menjelaskan pentingnya
peranan BNSP meningkatkan kinerjanya dalam
mensertifikasi berbagai kompetensi kerja seperti
dibutuhkan beragam sektor industri.
Wahab Bangkonah dari Kementrian sumber daya manusia Indonesia, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Ibu terutama dalam hal perlunya sertifikasi Iftida Yasar dari APINDO, Bapak dalam menghadapi berbagai agenda Budisuharto dari KADIN, dan Bapak besar dunia seperti AFTA, WTO, Adjat Daradjat selaku Ketua BNSP dan lain sebagainya. Ibu Sundari
Periode 2011-2016. menekankan perlunya dipersiapkan
secara masif sumber daya manusia yang kompeten atau berdaya saing di segala lini industri. Dalam konteks ini disadari bahwa sertifikasi merupakan salah satu cara untuk
Kompetensi Menuju
menjamin terciptanya tenaga kerjaSDM
Unggul”,
sesuai
kompeten yang berkualitas karenadianggap telah memenuhi standar yang berlaku. Namun sayangnya di Indonesia memang belum semua industri mewajibkan sejumlah profesi unggulannya untuk melakukan usaha
tertinggi sertifikasi
sertifikasi sumber daya manusiakompetensi kerja
terkait. Sementara itu pak Wahab Bangkonah yang merupakan Direktur Jendral Binalatas Kemenakertrans memandang perlunya keberpihakan pemerintah dalam mengelola sumber daya manusia Indonesia, terutama Melalui paparan singkat dari dalam menghadapi serangankelima nara sumber tersebut, globalisasi yang begitu gencar terjadi. terungkap sejumlah isu dan prinsip Diingatkan pula olehnya bahwa strategis yang saat ini dihadapi postur pemerintahan Indonesia saat
www.bnsp.go.id edisi 1 I 2011 65 ini adalah desentralisasi, berbasis
otonomi daerah, sehingga diperlukan perubahan pola pikir dan pola tindak dalam mempersiapkan sumber daya manusianya.
Pandangan pihak swasta yang disampaikan oleh Ibu Iftida Yaser pada dasarnya menekankan bahwa akhirnya pihak swasta-lah yang menjadi pengguna akhir dari tenaga kerja atau sumber daya manusia, sehingga pemerintah harus bekerjasama dan bermitra secara erat dengan sejumlah asosiasi industri yang mewakili berbagai sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu kerangka kerjasama yang dapat dipergunakan sebagai panduan adalah model Public Private Partnership.
Sementara pak Budisuharto memberikan tekanan tambahan bahwa selain pengetahuan, keterampilan, dan sikap, sebuah sertifikasi dianggap memiliki kualitas baik oleh kalangan industri apabila disokong dengan tingginya jam terbang atau pengalaman dari individu pemegang sertifikat. Paparan awal diakhiri dengan sejumlah pernyataan Pak Adjat Daradjat mengenai sejumlah hal prinsip terkait dengan proses sertifikasi. Yang bersangkutan berpendapat pula bahwa sertifikasi merupakan jalan alternatif yang patut diambil dan didukung penuh
terbuka.
Perhelatan perdana BNSP periode pengurus baru ini diakhiri dengan tanya jawab yang disampaikan secara langsung melalui dialog interaktif maupun tidak langsung via SMS. Dari dialog yang ada antara nara sumber dengan audiens, terlihat adanya suatu benang merah bersama yaitu disepakatinya perlu dilakukan kerjasama dan kolaborasi yang lebih intensif lagi antara BNSP, sektor industri, dan pemerintahan–agar usaha bersama untuk menciptakan sumber daya manusia nasional yang unggul dalam persaingan dapat terjadi.
Terhadap berbagai isu, permasalahan, dan tantangan yang dihadapi, semua sepakat akan dapat tertangani dengan baik apabila jalur komunikasi, koordinasi, dan kooperasi di antara seluruh pemangku kepentingan terjadi secara efektif. Para pihak terkait menaruh harapan yang tinggi terhadap anggota BNSP Periode 2011-2015 untuk kiranya selaku pemegang otoritas tertinggi proses sertifikasi kompetensi kerja nasional dapat menjadi pelaku utama, pemercepat, sekaligus fasilitator dalam pencapaian cita-cita bangsa ini. Saat ini adalah waktu yang tepat bagi seluruh pihak untuk melihat ke depan, dengan belajar pada pengalaman masa lalu, dengan modal bersama yang telah dimiliki selama ini, saling bekerjasama bahu-membahu menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing demi terciptanya sumber daya manusia Indonesia yang unggul, profesional, mandiri, bermartabat, dan menjadi kebanggaan tanah air tercinta. (REI) oleh dunia pendidikan dan
tenaga kerja, terutama setelah melihat bahwa program“link andmatch”dianggap tidak berhasil dan masih jalan di tempat. Beliau juga mengatakan pentingnya pengendalian dalam proses sertifikasi agar benar-benar mencerminkan kualitas kompetensi kerja yang dibutuhkan industry. Oleh karena itulah maka