BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan membahas tentang hasil penelitian yang terdiri dari hasil analisis normalitas dan homogenitas pretest, gambaran pelaksanaan penelitian pada kelas kontrol dan ekperimen atau pembelajaran menggunakan model problem based learning dengan dongeng, deskriptif data hasil belajar matematika, uji t independent sample test, serta pembahasan yang terdiri dari uji hipotesis dan pembahasan hasil penelitian. Secara rinci akan dibahas sebagai berikut ini.
4.1 Pelaksanaan Penelitian
Dalam penelitian ini subjek penelitian 71 siswa dengan rincian 32 siswa kelas III SD Negeri Salatiga 03 semeser II tahun pelajaran 205/2016 sebagai kelas ekperimen dan 39 siswa kelas III SD Negeri Salatiga 10 semester II Tahun Pelajaran 205/2016 sebagai kelas kontrol. Pemilihan kedua kelas pada SD tersebut didasarkan pada :
a. Kedua sekolah tersebut berada pada gugus yang sama yaitu gugus Kartini. b. Kedua sekolah tersebut sama-sama SD imbas di gugus kartini.
c. Kedua sekolah tersebut berada pada lokasi yang sama yaitu Jalan Margosari Nomor 3 Salatiga.
d. Kedua kelas memiliki jumlah siswa yang perbedaannya tidak terlalu jauh dibandingkan dengan sekolah lain yang satu gugus Kartini yaitu 32 dan 39 e. Memilih kelas rendah yaitu kelas III karena siswa kelas rendah lebih suka
untuk didongengi.
Kelas III di SD N Salatiga 03 yang terletak di jalan Margosari Nomor 03 Salatiga. Dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari terbiasa dengan metode ceramah dan tanya jawab yang digunakan oleh guru sehingga siswa cenderung pasif dan guru yang lebih aktif dan pembelajaran lebih didominasi oleh guru. Karena siswa hanya mendengarkan dan mencatat apa yang diterangkan oleh guru. Penyempaian materi matematika lebih disampaikan secara parsial sehingga siswa kurang begitu memahami dalam penerapan kehidupan sehari-hari siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil mengerjakan soal pretest. Siswa kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Nilai rata-rata pretest kelas ekperimen 57,69 dan pada kelas kontrol 59,39. Di dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu problem based learning dengan dongeng sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika.
Penelitaian ini dilaksanakan pada 32 siswa kelas III semester II SD N Salatiga 03 dan 39 siswa kelas III semester II SD N Salatiga 10 tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 71 siswa. Kelas ekperimen berjumlah 32 siswa dan kelas kontrol 39 siswa karena 3 siswa tidak berangkat dalam pretest, mengajar dan postes. Sehingga dalam pengolahan data hanya diambil siswa yang mengikuti kegitan pretest, mengajar dan postes saja sehingga jumlah sisiwa kelas kontrol 36 siswa. Berdasarkan hasil pretest kedua kelas tersebut sudah diuji normalitas, uji homogen, dan uji keseimbangan dengan mengunakan SPSS 22.0 for windows dan menunjukkan kedua kelas itu homogen, yang berarti data berdestribusi normal dan memiliki varian yang tak berbeda secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa sebelum diberi perlakuan kedua kelas memiliki kemampuan awal yang sama sehingga peneliti dapat melanjutkan penelitiannya dengan memberikan perlakuan pada kelas eksperimen dengan menggunakan Problem Based Learning dengan dongeng. Sedangkan pada kelas kontrol diajar sesuai dengan standar yang berlaku yaitu diajar seperti biasa. Setelah keduanya selesai dengan pembelajaran dengan cara yang berbeda, selanjutnya diadakan tes akhir (postest).
Penelitian ini dilakukan dalam 6 pertemuan, yaitu 2 pertemuan pada tanggal 25,26 dan 27 April 2016 untuk kelas eksperimen (Problem Based Learning dengan dongeng) dan 3 pertemuan pada tanggal 03, 04 dan 05 Mei 2016 untuk kelas Kontrol. Pertemuan pertama terdiri dari tiga jam pelajaran dengan alokasi waktu 35 menit setiap satu jam pelajaran. Materi yang diberikan untuk kelas eksperimen sama dengan materi yang diberikan untuk kelas kontrol yaitu membahas tentang persamaan luas persegi dan persegi panjang. Pada saat pelaksanaan tes akhir, kelas eksperimen terlebih dahulu mengerjakan tes pada hari selasa tanggal 27 April 2016 jam ke-1. Sedangkan kelas kontrol
mengerjakan tes pada hari Kamis tanggal 05 Mei 2016. Materi yang diajarkan dapat dilihat pada Tabel 13 di bawah ini.
Tabel 14
Pelaksanaan Penelitian pada kelas Ekperimen
Pertemuan Materi
I 1. Memberikan permasalahan awal yang disampaikan dalam bentuk dongeng.
2. Melakukan penyelidikan dengan menyusun pazzle persegi satuan
3. Menyelesaikan permasalah yang terjadi di negeri dongeng
4. Menemukan persamaan luas persegi dan persegi panjang (penemuan mantra aji-aji)
II 1. Menghitung luas persegi dan persegi panjang pada soal cerita
2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas persegi dan persegi panjang.
III Postest
Berikut ini merupakan gambaran pelaksaan penelitian pada kelas ekperimen (Problem Based Learning dengan dongeng) dan kelas kontrol.
1. Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol
Pembelajaran kelas kontrol menggunakan pembelajaran seperti biasannya sesuai dengan standar yang telah ada. Materi yang dibahas yaitu tentang luas persegi dan persegi panjang. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan berdasarkan tahapan pembelajaran yang sudah dikembangkan dalam beberapa tahapan kegiatan. Tahapan kegiatan dan keterlaksananaannya dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 15
Lembar Observasi Kelas Kontrol
No Aspek Kegiatan Guru
Keterlaksanaan Pertemuan 1 Pertemuan 2 1. Kegiatan Pendahuluan Memotivasi siswa Ya Ya
Mengingatkan pelajaran yang telah lalu
Ya Ya
Melakukan orientasi kelas dengan
menyampaikan tujuan
pembelajaran dan kegiatan
pembelajaran yang akan dilakukan.
Ya Ya
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
Ya Tidak
2. Kegiatan Inti Membimbing siswa dalam
mengumpulkan informasi untuk menyelesaikan soal latihan.
No Aspek Kegiatan Guru Keterlaksanaan Pertemuan 1 Pertemuan 2
Mendampingi siswa dalam
menyelesaikan soal latihan bersama dengan kelompok.
Ya Ya
Mengamati jalannya kerja
kelompok
Ya Ya
Melakukan pembetulan jawaban siswa yang belum sesuai.
Ya Ya
3. Kegiatan
Penutup
Memberi penegasan dan membuat rangkuman.
Ya Ya
Melakukan refleksi dengan
menanyakan hal yang didapat.
Ya Ya
Memberikan soal mandiri Ya Ya
Memberikan soal evaluasi Ya Ya
Pada kelas kontrol mengunakan model pembelajaran seperti yang biasanya dilakukan oleh guru kelas dalam mengajar yaitu direct learning (pembelajaran langsung) atau lebih dikenal metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). Sehingga pembelajaran lebih didominasi oleh guru dibandingkan dengan siswa. Guru aktif memberikan penjelasan tentang materi, dengan mempresentasikan bahan ajar yang disampaiakan dengan bantuan slide PowerPoint. Siswa berperan aktif hanya pada saat pengumpulan informasi dan data melalui kerja kelompok. Kegiatan selanjutnya lebih didominasi oleh guru karena guru memberikan penjelasan dan siswa mendengarkan dan mencatatnya. Ketika penanaman konsep luas diberikan oleh guru sehingga siswa lebih cenderung menghafal tanpa mengetahui konsep tentang luas itu sendiri selain itu pembelajaran disampaikan secara parsial tanpa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Hal ini dapat dilihat saat siswa mengerjakan soal latihan dalam bentuk cerita siswa banyak yang mengalami kesulitan dalam penyelesainnya dan masih ada siswa yang terbalik mengenai konsep keliling dan luas. Namun sebagian besar pembelajaran sudah terlaksana dengan baik sesuai rancangan kegiatan yang telah direncanakan. Hanya terdapat satu langkah pembelajaran yang tidak terlaksana yaitu pembentukan kelompok pada pertemuan kedua. Dalam pertemuan kedua memang tidak dibentuk kelompok dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan setiap individu siswa dalam menyelesaikan soal karena
jika dibuat kelompok yang bekerja hanya beberapa siswa saja sedangkan siswa yang memiliki kemampuan kurang cenderung acuh tak acuk dan tidak mau mengerjakan. Selain itu untuk memberikan tanggung jawab pada setiap siswa dalam menyelesaikan permasalahan.
2. Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Ekperimen
Pelaksanakan pembelajaran kelas ekperimen menggunakan model Problem Based Learning dengan dongeng dilakukan dua kali pertemuan. Materi yang diajarkan tentang luas persegi dan persegi panjang. Proses pembelajaran dilakukan dengan mengacu pada tahapan pembelajaran yang dilakukan dalam beberapa tahapan kegiatan. Tahapan kegiatan dan keterlaksanaan dapat dilihat pada Tabel 19 berikut.
Tabel 16
Lembar Observasi Kelas Ekperimen (Problrm Based Learning)
No Indikator Tingkah Laku Guru
Keterlaksanaan Aktivitas Pengajar (Ya/Tidak) Pertemuan 1 Pertemuan 2 1. Orientasi siswa pada
Masalah
Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah
Ya Ya
2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Ya Ya 3. Membimbing pengalaman individual / kelompok
Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Ya Ya 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan temannya.
Ya Ya
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan.
Ya Ya
Tahapan pembelajaran terlaksana dalam dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama pembelajaran berfokus dalam proses penyelesaian masalah yang disampaikan guru melalui dongeng yang bertujuan untuk memotivasi siswa
agar bersemangat untuk melakukan penyelesaian masalah. Dalam proses penyelidikan guru membagikan pazzle kepada setiap kelompok yang telah dibagi. Dalam penyusunan pazzle siswa lebih tertarik dan berantusias. Pembelajaran hari pertama hanya berfokus pada proses penemuan persamaan luas persegi dan persegi panjang. Sedangkan untuk hari kedua siswa diberikan latihan dalam pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari siswa dengan diberikan soal cerita yang berkaitan permasalahan yang dijumpai dalam lingkungan siswa. Setelah pembelajaran selama 2 hari di kelas ekperimen dihari ketiga diadakan postest.
Selama pertemuan pertama dan pertemuan ketiga siswa lebih banyak melakukan penyelidikan untuk penyelesaian masalah. Kerena permasalahan awal disampaiakn dengan menggunakan dongeng sehingga siswa lebih termotivasi dan berantusia dalam proses penyelidikan untuk menyelesaikan masalah. Sehingga kegiatan pembelajaran siswa lebih terlibat aktif dibandingakan dengan gurunya. Selain itu siswa lebih berani dalam penyapaian pendapat atau ide-idenya. Selain itu, siswa tidak terlihat bosan dalam mengikuti setiap tahapan pembelajaran. Berdasarkan lembar observasi kegiatan pembelajaran berjalan baik tanpa ada halangaan yang cukup berarti, mulai dari persiapan, kegiatan inti dan akhir pembelajaran terlaksana sesuai dengan langkah-lamgkah dalam model Problem based learning dengan dongeng seperti yang telah direncanakan dan diharapkan. 4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Deskripsi Data
Deskripsi data yang disajikan adalah data hasil nilai pretest matematika materi keliling persegi dan persegi panjang sebelum perlakuan sebagai data kemampuan awal. Kemudian setelah diberikan perlakuan diperoleh data akhir melalui postest kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika yang berkaitan dengan luas persegi dan persegi panjang. Dari data tersebut diperoleh ringkasan data yang disajikan dalam tabel dan gambar berikut.
Tabel 17
Deskripsi Data Sebelum Perlakuan
Tabel 18
Deskripsi Data Setelah Perlakuan
Statistik
Kelas Eksperimen
(kelas model Problem
Based Learning dengan dongeng)
Kelas Kontrol (kelas dengan pembelajaran
seperti biasa) N (jumlah siswa) 32 36 Nilai rata-rata 78,69 70,92 Nilai tertinggi 100 88 Nilai terendah 60 40 Standar deviasi 10,050 10,739
Berdasarkan kedua tabel di atas, dapat diketahui bahwa pada kelas ekperimen mengalami peningkatan. Nilai rata-rata kemampuan awal sebelum perlakuan 56,94 meningkat sebesar 21,75 sehingga menjadi 78,69 setelah diadakan perlakuan. Sedangkan pada kelas kontrol, rata-rata awal 59,39 meningkat sebesar 11,53 sehingga menjadi 70,92 setelah diadakan perlakuan. Dari hasil rata-rata nilai postes dapat diketahui bahwa peningkatan nilai rata-rata kelas ekperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Secara garis besar keadaan ini dapat dilaihat pada Gambar 2 diagram batang di bawah ini.
Statistik
Kelas Eksperimen
(kelas model Problem
Based Learning dengan dongeng)
Kelas Kontrol (kelas dengan pembelajaran
seperti biasa) N (jumlah siswa) 32 36 Nilai rata-rata 56,94 59,39 Nilai tertinggi 85 90 Nilai terendah 25 20 Standar deviasi 15,742 19,691
Gambar 2 Deskripsi Data Pretest
Gambar 3 Deskripsi Data Postest
4.2.2 Data Hasil Penelitian
Sebelum melakukan analisis data terlebih dahulu menyusun tabel distribusi frekuensi untuk menyederhanakan nilai Pretes dan postest. Berikut adalah langkah-langkah dalam menyususn tabel frekuensi pretest kelas ekperimen dengan rumusan sebagai berikut.
Banyaknya Kelas = 1 + 3,3, log n N (Jumlah siswa) = 32
Log 32 = 1,505
Jadi banyak kelas = 1 + (3,3 × 1,505) = 1 + 4,9665
= 5,9665 dibulatkan menjadi 6 kelas 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 N (jumlah siswa) Nilai rata-rata Nilai tertinggi Nilai terendah Standar deviasi
Kelas Eksperimen (kelas model Problem Based Learning dengan dongeng)
Kelas Kontrol (kelas dengan pembelajaran seperti biasa) 0 20 40 60 80 100 120 N (jumlah siswa) Nilai rata-rata Nilai tertinggi Nilai terendah Standar deviasi
Kelas Eksperimen (kelas model Problem Based Learning dengan dongeng)
Kelas Kontrol (kelas dengan pembelajaran seperti biasa)
Range = Nilai maksimum – nilai minimum + 1 = 85 – 25 + 1 = 61 Interval = 𝑅𝑎𝑛𝑔𝑒 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 = 61 6 = 10,17 dibulatkan menjadi 10
Hasil tabel distribusi frekuensi pretest kelas eksperimen dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 19
Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Eksperimen
Interval Kelas Eksperimen
Frekuensi Prosentase 25-35 4 12,50% 36-45 4 12,50% 46-55 5 16% 56-65 7 21,88% 66-75 9 28,13% 76-85 3 9,38% N 32 100%
Hasil analisis tabel distribusi frekuensi pretest kelas eksperimen dapat dilihat pada Gambar 6 seperti di bawah ini:
Gambar 4 Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Eksperimen
Berikut adalah langkah-langkah dalam menyususn tabel frekuensi pretest kelas kontrol dengan rumusan sebagai berikut.
Banyaknya Kelas = 1 + 3,3 log n 0 5 10 15 20 25 30 35 25-35 36-45 46-55 56-65 66-75 76-85 N Kelas Eksperimen Frekuensi Kelas Eksperimen Prosentase
N (Jumlah siswa) = 36
Log 36 = 1,556
Jadi banyak kelas = 1 + (3,3 × 1,556) = 1 + 5,134
= 6,134 dibulatkan menjadi 6 kelas
Range = Nilai maksimum – nilai minimum + 1 = 90 – 20 + 1 = 71 Interval = 𝑅𝑎𝑛𝑔𝑒 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 = 71 6
= 11,83 dibulatkan kebawah menjadi 12
Hasil tabel distribusi frekuensi pretest kelas kontrol dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 20
Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Kontrol
Interval Kelas Kontrol
Frekuensi Prosentase 20-31 5 13,89% 32-43 4 11,11% 44-55 5 14% 56-67 8 22,22% 68-79 5 13,89% 80-91 9 25,00% N 36 100%
Hasil analisis tabel distribusi frekuensi pretest kelas kontrol dapat dilihat pada Gambar 7 seperti di bawah ini:
Gambar 5 Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Kotrol
Berdasarkan tabel 19, tabel 20 dan gambar 4, gambar 5 di atas menunjukkan pada pretest kelas eksperimen dan pretest kelas kontrol diperoleh nilai terendah pretest kelas eksperimen sebanyak 3 siswa pada interval 25-35
0 5 10 15 20 25 30 35 40 20-31 32-43 44-55 56-67 68-79 80-91 N
Kelas Kontrol Frekuensi Kelas Kontrol
dengan persentase 9,38%. Sedangkan untuk nilai tertinggi pretest kelas eksperimen sebanyak 3 siswa pada interval 76 – 85 dengan persentase 9,38%.
Sedangkan pretest kelas kontrol niai terendah sebanyak 5 anak pada interval 20-31 dengan persentase 18,18%. Nilai tertinggi pretest kelas kontrol sebanyak 9 anak dengan interal 80-91 dengan persentase 25%. Berikut ini adalah distribusi frekuensi setelah perlakuan (postest). Langkah-langkah dalam menyusun tabel frekuensi postest kelas eksperimen dengan rumus sebagai berikut:
Banyaknya Kelas = 1 + 3,3, log n N (Jumlah siswa) = 32
Log 32 = 1,505
Jadi banyak kelas = 1 + (3,3 × 1,505) = 1 + 4,9665
= 5,9665 dibulatkan menjadi 6 kelas
Range = Nilai maksimum – nilai minimum + 1 = 100 – 60 + 1 = 41 Interval = 𝑅𝑎𝑛𝑔𝑒 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 = 41 6 = 6,83 dibulatkan menjadi 7
Hasil tabel distribusi frekuensi posttest kelas eksperimen dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 21
Distribusi Frekuensi Posttest Kelas Eksperimen
Interval Kelas Eksperimen
Frekuensi Prosentase 60-66 6 18,75% 67-73 4 12,5% 74-80 8 25% 81-87 7 21,88% 88-94 6 18,75% 95-100 1 3,13% N 32 100%
Hasil analisis tabel distribusi frekuensi postes kelas ekperimen dapat dilihat pada Gambar 8 seperti di bawah ini :
Gambar 6 Distribusi Frekuensi Postes Kelas Ekperimen
Berikut adalah langkah-langlah dalam menyususn tabel frekuensi postest kelas kontrol dengan rumus sebagai berkut :
Banyaknya Kelas = 1 + 3,3, log n N (Jumlah siswa) = 36
Log 36 = 1,556
Jadi banyak kelas = 1 + (3,3 × 1,556) = 1 + 5,1348
= 6,1348 dibulatkan menjadi 6 kelas
Range = Nilai maksimum – nilai minimum + 1 = 88 – 40 + 1 = 49 Interval = 𝑅𝑎𝑛𝑔𝑒 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 = 49 6
= 8,166 dibulatkan ke atas menjadi 9
Hasil tabel distribusi frekuensi postes kelas kontrol dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 22
Distribusi Frekuensi Posttest Kelas Kontrol
Interval Kelas Kontrol
Frekuensi Prosentase 40-48 2 5,56% 49-57 1 2,78% 58-66 7 19% 67-75 10 27,78% 76-84 14 38,89% 85-93 2 5,56% N 36 100% 0 20 40 60 80 100 120 Kelas Eksperimen Frekuensi Kelas Eksperimen Prosentase
Hasil tabel distribusi frekuensi postest kelas kontrol dapat dilihat pada Gambar 7 sebagai berikut:
Gambar 7 Distribusi Frekuensi Postest Kelas Kontrol
Berdasarkan tabel 20, tabel 21 dan gambar 6, gambar 7 di atas menunjukan postest kelas ekperimen dan postest kelas kontrol. Dari tabel dan gambar di atas diperoleh nilai terendah postest kelas ekperimen sebanyak 6 siswa pada interval 60-66 dengan presentase 18,75%. Sedangkan nilai tertinggi postest pada kelas ekperimen sebanyak 1 siswa pada interval 91-100 dengan presentase 3,13 %. Sedangkan postest kelas kontrol nilai terendah sebaknyak 2 siswa pada interval 40-48 dengan presentase 5,56%. Nilai tertinggi postest kelas kontrol sebanyak 2 siswa pada interval 85-93 dengan presentase 5,56 %.
4.2.3 Analisis Data
a. Sebelum Perlakuan (Pretest)
Hasil analisis data sebelum perlakuan dilakukan sebagai uji prasyarat analisis untuk uji keseimbangan. Hasil uji prasyarat sebagai berikut :
1) Uji Normalitas
Pretest dilakukan untuk kedua kelas baik kelas ekperrimen maupun kelas kontrol dengan soal yang sama, bertujuan untuk mengetahui kemampuan kognitif siswa berkenaan dengan bahan pelajaran yang akan diberikan. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Normalitas dipenuhi jika hasil uji signifikasi atau taraf signifikasi > 0,05. Sedangkan jika signifikasi yang
0 5 10 15 20 25 30 35 40 40-48 49-57 58-66 67-75 76-84 85-93 N
Kelas Kontrol Frekuensi Kelas Kontrol Prosentase
diperoleh < 0,05 maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Rangkuman uji normalitas menggunakan SPSS 22 for windows dapat dilihat pada Tabel 22 berikut ini.
Tabel 23
Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol dan Ekperimen
Group
Shapiro-Wilk
Statistic df Sig.
Nilai 1 ,956 32 ,207
2 ,941 36 ,053
Tabel 23 mendiskripsikan hasil normalitas terhadap sebaran data, hasil uji normalitas sebagai berikut :
1. Hasil belajar pra penelitian kelas eksperimen dengan teknik Shapiro-Wilk. Dari tabel tersebut tampak tingkat signifikan untuk hasil belajar pra penelitian kelas eksperimen sebesar 0,207. Karena signifikansi lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar pra penelitian berdistribusi normal.
2. Hasil belajar pra penelitian kelas kontrol dengan teknik Shapiro-Wilk. Dari tabel tersebut tampak tingkat signifikan untuk hasil belajar pra penelitian kelas kontrol sebesar 0,053. Karena signifikan lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar pra penelitian kelas kontrol berdistribusi normal.
Sebelum uji t dilakukan maka dilakukan terlebih dahulu uji prasyarat yang kedua yaitu uji homogenitas.
2) Uji Homogenitas
Uji Homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel kelas ekperimen dan kontrol sebelum diberikan perlakuan mempunyai variansi yang sama atau tidak. Berikut ini adalah hasil analisis uji homogenitas menggunakan SPSS 22.0 for windows.
Tabel 24
Hasil Uji Homogenitas Pretest
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Tabel di atas menunjukan hasil uji homogenitas dengan menggunakan One-Way ANOVA dapat dilihat bahwa antara kelompok ekperimen dan kelompok kontrol berasal dari kelompok yang homogen. Dibuktikan dengan nilai signifikasi sebesar 0,109 > 0,05.
Setelah dilakukan uji prasyarat dapat diketahui bahwa kedua kelompok ekperimen dan kontrol berdistribusi normal dan homogen. Dengan demikian, uji keseimbangan dapat dilakukan.
3) Uji Keseimbangan
Sebelum penelitian dilaksanakan terlebih dahulu uji keseimbangan. Uji keseimbangan dilakukan untuk mengetahui apakah kelas ekperimen dan kelas kontrol memiliki kemampuan yang sama. Sehingga untuk uji keseimbangan dalam penelitian ini menggunakan uji t Independent Sample Test. Hasil perhitungan uji keseimbangan menggunakan SPSS 22.0 for windows dengan taraf signifikasi α = 0,05 disajikan pada tabel berikut.
Tabel 25
Hasil Uji Keseimbangan Pretest t-test for Equality of Means
t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Differen ce 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Nilai Equal variances assumed -,562 66 ,576 -2,451 4,360 -11,156 6,253 Equal variances not assumed -,570 65,306 ,571 -2,451 4,303 -11,044 6,141
Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa data memiliki variansi yang sama maka yang digunakan adalah Equal Variance Assumed dengan nilai sig (2-tailed) yaitu 0,576. Sesuai dengan kriteria pengujian, nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
kelompok ekperimen dan kelompok kontrol memiliki kemampuannya yang sama. Jadi antara siswa yang akan dilaksanakan pembelajaran menggunakan model
problem based learning dan pembelajaran yang dilakukan seperti biasa mempunyai hasil belajar awal yang sama.
b. Setelah Perlakuan
Uji prasyarat hipotesis setelah perlakuan meliputi uji normalitas dan homogenitas. Hasil uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis setelah perlakuan sebagai berikut:
1) Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menentukan data berdistribusi normal atau tidak. Perhitungan dalam penelitian ini menggunakan Kolmogorov-Smirnov karena jumlah sampel >50. Rincian hasil uji normalitas kelas kontrol dan kelas ekperimen dapat dilihat melalui Tabel 25 sebagai berikut:
Tabel 26
Hasil Uji Normalitas Posstest Kelas Eksperimen dan Kontrol Group Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Nilai 1 2 ,970 32 ,491 ,931 36 ,062
Tabel 25 di atas menunjukan hasil uji normalitas dengan Shapiro-Wilk. Diketahui pda tabel nilai signifikasi kelas ekperimen 0,491 dengan kata lain 0,491> 0,05 dan pada kelas kontrol nilai signifikasi 0,062 yang berarti 0,062> 0,05. Dapat disimpulkan bahwa data skor postest pada kelas ekperimen dan kontrol berdistribusi normal.
2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel kelas ekperimen dan kelas kontrol setelah diberi perlakuan memiliki variansi yang sama. Berikut adalah hasil analisis uji homogenitas menggunakan SPSS 22.0 for windows.
Tabel 27
Hasil Uji Homogenitas Postest Kelas Eksperimen dan Kontrol Levene
Statistic df1 df2 Sig.
,031 1 66 ,861
Tabel di atas menunjukan hasil uji homogenitas dengan metode One-Way ANOVA. Nilai signifikasi ditunjukan pada kolom (sig) sebesar 0,861. Nilai sig 0,861>0,05 sehingga dapat disimpulkan kedua kelompok kelas ekperimen dan
kelas kontrol setelah diberikan perlakuan memiliki varians yang sama atau homogen.
3) Uji Hipotesis
Hasil perhitungan menunjukan bahwa hasil belajar matematika kelas ekperimen (kelas dengan model problem based learning dengan dongeng) dan kelas kontrol berdistribusi normal dan homogen. Setanjutnya dilakukan uji hipotesis penelitian. Pengujian hipotesis ini bertujuan untuk menentukan apakah hipotesis diterima atau ditolak.
Uji hipotesis dengan uji beda dilakukan dengan uji Independent Samples Test. Jika varian sama, maka uji T menggunakan Equal Variances Assumed (diasumsikan varian sama) dan jika varian berbeda menggunakan Equal variances not Assumed (diasumsikan varian berbeda). Sehingga dalam penelitian ini digunakan Equal Variances Assumed karena kedua kelompok homogen.
Uji beda dilakukan untuk mengetahui pengaruh hasil belajar antara dua kelompok yang diberikan perlakuan yang berbeda. Kelompok ekperimen diberikan perlakuan dengan menggunakan model problem based learning dengan dongeng, sedangkan kelas kontrol diberikan perlakuan sesuai dengan standar yang telah ada. Pembelajaran dilakukan dengan materi yang sama yaitu luas persegi dan persegi panjang.
Kriteria pengujian hipotesis dinyatakan dalam bentuk H0 dan Ha. H0
dinyatakan dengan hipotesis tidak terdapat pengaruh penerapan model Problem Based Learning dengan dongeng terhadap hasil belajar matematika. Ha dinyatakan
dengan hipotesis terdapat pengaruh penerapan Problem Based Learning dengan dongeng terhadap hasil belajar matematika. Uraian hipotesis penelitian di atas dapat ditulis seperti di bawah ini :
1. H0 :µ1 ≤ µ2 diartikan tidak terdapat pengaruh penerapan model Problem Based
Learning dengan dongeng terhadap hasil belajar matematika siswa kelas III SD N Salatiga 03 semester II tahun pelajaran 2015/2016.
2. Ha : µ1 > µ2 diartikan terdapat pengaruh penerapan model Problem Based
Learning dengan dongeng terhadap hasil belajar matematika siswa kelas III SD N Salatiga 03 semester II tahun pelajaran 2015/2016.
Dalam menguji hipotesis menggubakan output olahan SPSS 22.0 for windows. Kriteria pengujian
1) Menggunakan koefisien sig, dengan ketentuan:
a. Jika nilai sig. Hitung (probabilitas) < 0,05 maka H0 ditolak.
b. Jika nilai sig. Hitung (probabilitas) > 0,05 maka H0diterima.
2) Menggunakan koefisien t hitung, dengan ketentuan : a. Jika kefisien t hitung > t tabel maka H0 ditolak.
b. Jika kefisien t hitung < t tabel maka H0 diterima.
Hasil penghitungan uji hipotesis menggunakan uji t Independent Sample Test dengan taraf signifikasi α = 0,05 disajikan pada tabel berikut:
Tabel 28
Hasil Uji Hipotesis (Uji T Independent Samples Test Nilai Posttest)
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Group N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Nilai 1 32 78,69 10,050 1,777 2 36 70,92 10,739 1,790
Berdasarkan hasil uji t, diperoleh Mean kelas ekperimen 78,69 dan mean kelas kontrol 70,92. Kelas ekperimen (M=78,69) memiliki perubahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol (M=70,92).
Independent Samples Test
t-test for Equality of Means
t df Sig. (2-tailed) Mean Differenc e Std. Error Differenc e 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Nilai Equal variances assumed 3,069 66 ,003 7,771 2,532 2,716 12,826 Equal variances not assumed 3,081 65,814 ,003 7,771 2,522 2,735 12,806
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa signifikasi dilihat dari Sig.(2-tailed) sebesar 0,003 yang artinya 0,003<0,05 nilai, thitung sebesar 3,069.
Terdapat df = 66, sedangkan perbedaan rata-rata (mean difference) 7,771. Perbedaan mean difference berkisar antara 2,716 sampai 12,826.
Penelitian ini juga dapat juga dilihat dari uji t dua pihak dengan df =66 dan signifikasi α = 5 % maka diperoleh t tabel 1,99656 dibulatkan tiga angka dibelakang koma menjadi 1,997. Karena dari 1
2α = 1
25% = 2,5%. Jadi 2,5 %
untuk kiri dan 2,5 % untuk kanan sehingga t tabel yang digunakan 1,99656 diambil dari kolom 2-tailed 0,003. Kriteria t hitung yang digunakan untuk mengambil keputusan jika t hitung > t tabel maka H0 ditolak. Jika t hitung < t
tabel maka H0 diterima. Untuk lebih jelasnya hasil pengujian uji t dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Tabel 29
Rangkuman uji Hipotesis
thirung ttabel Keputusan Uji
3,069 1,997 H0 ditolak Ha diterima
Gambar 8 Daerah Kritis Uji Hipotesis
Dari tabel 29 dan gambar 14 uji t di atas dapat diketahui bahwa t hitung > t tabel, yaitu 3,069 > 1,997 dan dengan nilai signifikasi 0,003 < 0,005 yang menunjukan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh penerapan model Problem Based Learning dengan dongeng terhadap hasil belajar matematika siswa kelas III SD N Salatiga 03 semester II tahun pelajaran 2015/2016.
4.3Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Problem Based Learning dengan dongeng terhadap hasil belajar matematika siswa kelas III
-1,997 -3,069 1,997 3,069 Daerah penerimaan H0 Daerah penolakan H0 Daerah penolakan H0
SD N Salatiga 03 semester II tahun pelajaran 2015/2016. Dari hasil penelitian ini diperoleh data awal (sebelum perlakuan) yang diperoleh melalui nilai pretest dan data akhir hasil belajar matematika (setelah perlakuan) yang didapatkan melalui postest setelah semua materi selesai diajarkan. Dari data yang diperoleh dari pengolahan terdapat pengaruh yang signifikan dalam penerapan model Problem Based Learning dengan dongeng terhadap hasil belajar matematika siswa kelas III SD N Salatiga 03 semester II tahun pelajaran 2015/2016.
Penelitain ini menggunakan dua kelompok yaitu kelompok ekperimen dan kelompok kontrol. Sebelum perlakuan kedua kelompok sudah diuji normalitas, homogenitas dan uji keseimbangan. Dari pengujian menunjukan bahwa kedua kelompok berdistribusi normal dan homogen serta memiliki kemampuan yang sama (seimbang). Berdasarkan hasil pengujian setelah perlakuan data hasil belajar matematika siswa kelas kontrol dan ekperimen menunjukan bahwa data berdistribusi normal dan homogen sehingga dalam uji hipotesis menggunakan uji t. Dari penelitian yang telah dilakukan didapat nilai rata-rata kelas ekperimen 78,69 dengan jumlah siswa 32 dan 70,92 pada kelas kontrol dengan jumlah siswa 36. Melalui hasil uji t didapatkan thitung sebesar 3,069 dan ttabel 1,997. Hasil penghitungan tersebut dapat diketahui bahwa thitung > ttabel (3,069 >
1,997). Dengan demikian H0 ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan
bahwa terdapat pengaruh penerapan model Problem Based Learning dengan dongeng terhadap hasil belajar matematika siswa kelas III SD N Salatiga 03 semester II tahun pelajaran 2015/2016.
Perbedaan yang sifnifikan penerapan model Problem Based Learing dengan dongeng terdapap hasil belajar matematika ini dilakukan pada materi luas persegi dan persegi panjang yang diajarkan pada kedua kelompok yaitu kelompok ekperimen dan kelompok kontrol. Perbedaan perlakuan ini terletak pada pelaksanaan pembelajarannya pada kelas ekperimen diajar dengan menggunakan model Problem Based Learning dengan dongeng sedangkan pada kelas kontrol diajar sesuai dengan standar proses pembelajaran yang ada. Pembelajaran pada kelas ekperimen ditekankan pada kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan dengan menyelidikan permasalahan awal. Pembelajaran dengan
model Problem Based Learning ini dikemas dalam cerita dongeng dengan tujuan siswa lebih termotivasi melakukan penyelidikan guna penyelesaian permasalahan yang disampaikan diawal pembelajaran. Melalui model Problem Based Learning ini dapat melatih siswa berfikir logis, analitis, sistematis dan peka terhadap masalah disekitarnya serta trampil dalam menyelesaian masalah. Sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III SD N Salatiga 03 semester II tahun pelajaran 2015/2016.
Pembelajaran kelas kontrol dilakukan dengan berpacuan pada standar proses yang ada yaitu melalui tahapan ekplorasi, elaborasi dan konfirmasi dengan menggunakan bantuan power point dalam penyampaian materi. Aktivitas siswa dalam pengumpulan data secara kelompok guna pengumpulan data. Aktivitas dalam pembelajaran ini tidak didahului dengan pengkaitan dalam masalah keseharian siswa namun langsung menjurus kedalam materi luas persegi dan persegi panjang. Pembelajaran lebih didominasi oleh guru tanpa membahas lebih lanjut data yang dicari oleh siswa. Konsep menghafal pada rumus mesih menjadi bagian dalam pembelajaran, oleh karena itu siswa kurang memahami bagaimana konsep itu ditemukan dan digunakan dalam penyelesaian masalahan dalam kehidupan siswa atau dengan kata lain konsep matematika masih berdiri secara parsial. Hal ini dapat dilihat pada saat pemberian soal latihan yang berupa soal cerita mengenai pemecahan masalah siswa masih mengalami kebingungan dalam menyelesaiakan permasalahan dalam soal. Pembelajaran yang dilakukan pada kelas kontrol ini mengakibatkan nilai rata-rata pada kelas kontrol tebih rendah dibandingkan dengan nilai kelas ekperimen yaitu 70,92.
Berdasarkan hasil pengamatan pada kelas ekperimen tercipta pembelajaran yang menyenangkan, menantang, memotivasi, melatih siswa bertanggung jawab dan kritis serta tanggap terhadap masalah disekitarnya. Diantara lain dapat dilihat pada: 1) Keantusiasan siswa dalam memahami permasalahan yang disampaiakn dalam bentuk dongeng. Hal ini dapat dilihat pada saat guru mendongeng semua siswa hening dan tenang mendengarkan cerita. 2) Pada saat siswa diberikan masalah siswa tidak merasa keberatan ataupun mengeluh namun sebaliknya siswa marasa senang karena merupakan tugas dari
tokoh dalam dongeng yaitu sang baginda raja dikerajaan banper. 3) Dalam kerja kelompok siswa juga diberikan tanggung jawab selain menyelesaikan masalah mereka juga bertanggung jawab terhadap kelompok mereka untuk menghendel anggota bagi ketua kelompok dan anggota kelompok bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang telah dibagi. 4) Melalui permasalahan yang diberikan siswa menjadi tanggap dan kritis terhadap masalah sekitar yang sedang terjadi. Siswa menjadi mengetahui akibat atas apa yang terjadi, jika akibat yang ditimbulkan besifat negatif maka siswa akan mengubah sikapnya agar hal yang negatif tersebut tidak terjadi. 5) pembelajaran yang biasanya bersifat teks book dan membosankan, namun dalam pembelajaran ini semua siswa terlibat aktif dan terbawa dengan suasana dalam cerita. Sehingga pembelajaran tidak menjadi membosankan. Dari pembelajaran yang dilakukan nilai rata-rata kelas ekperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yaitu 78,69.
Penelitian sejenis telah dilakukan oleh Ibrahim yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Berbicara Siswa Dengan Menggunakan Media Dongeng Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas V SD Negeri No 01 Nanga Tebidah” dari hasil penelitian tersebuh media dongeng dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dalam kemampuan berbicara. Dari pembahasan hasil penelitian, setelah diterapkan pembelajaran dengan media dongeng hasil belajar siswa menjadi meningkat. Selain itu siswa lebih termotivasi dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan temuan penelitian maka pembelajaran dengan dongeng baik diterapkan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Dalam penelitian dilakukan Andriastutik Novi yang berjudul “Penerapan Model Problem Based Learning (Problem Based Learning) Pada Pembelajaran Matematika Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas 5 Semester II Sekolah Dasar Negeri 6 Sindurejo Tahun Ajaran 2012/2013” dari hasil penelitian menunjukan penerapan model problem based learning mampu meningkatkan hasil belajar matematika. Selain itu dijelaskan juga dalam penelitian ini siswa dilatih untuk berfikir aktif, analitis, sistematis, kritis dan tarampil dalam menyelesaikan masalah. Berdasarkan penelitian ini penerapan
model problem based learning sangat efektif diterapkan dalam pembelajaran karena melatih sisiwa untuk trampil dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.
Abdul Muiz Lidinillah dalam tulisannya tentan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) juga menjelaskan bahwa salah satu kelemahan dari problem based learning tidak cocok diterapkan disekolah dasar dikarenakan kemampaun siswa dalam kerja kelompok selain itu sesuai dengan teori perkembangan Piaget bahwa usia siswa sekolah dasar masih dalam taraf pra-oprasional kongkrit. Dilihat pula dari karakteristik siswa sekolah dasar terutama kelas rendah yang senang untuk didongengi. Oleh karena itu pembelajaran problem based learning sangat cocok diterapkan dengan dongeng.
Berdasarkan pengalaman praktis saat perlakuan, secara teoritis dan dilihat dari berbagai penelitian yang relevan, maka diperoleh hasil akhir belajar matematika pada materi luas persegi dan persegi panjang siswa kelas ekperimen mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata kelas setelah perlakuan dan hasil uji hipotesis penelitian. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penerapan model problem based learning dengan dongeng terhadap hasil belajar matematika siswa kelas III SD N Salatiga 03 semester II tahun pelajaran 2015/2016.