• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUDUL: ABG - Anak Baru... Gendenk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JUDUL: ABG - Anak Baru... Gendenk"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

SERIAL: "BOMA GENDENK"

JUDUL: ABG - Anak Baru....

Gendenk

Oleh: BASTIAN TITO

HAK CIPTA DAN COPY RIGHT PADA BASTIAN TITO

DIBAWAH LINDUNCAN UNDANG-UNDANG Diterbitkan pertama kali Tahun 1997

oleh Penerbit Duta Media, Jakarta P.O. BOX. NO. A226/JKTJ/13342 Foto cover Depan: Orly Velli Valentine

Vino Giovanni

Dilarang keras memfotokopi atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi

buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

(3)

1

TABLOID PUNYA BERITA

BRAM DWI SUMITRO mendorong pintu pagar. Tergulung di tangan kanannya sebuah tabloid terbitan hari itu.

Sumitro Danurejo -ayah Bram- keluar dari rumah. Sebelum membuka pintu pagar lelaki ini menatap wajah anaknya yang tampak keletihan.

"Bagaimana tes lamaran kerjamu?" Sumitro bertanya.

"Belum tau 'Yah. Sehabis tes masih ada wawancara. Mungkin hari Jum'at baru ketauan hasilnya." jawab Bram sambil menyeka keningnya yang basah oleh keringat.

Sumitro membuka pintu pagar. Di ruang depan, Hesti Sumitro -ibu Bram- yang sedang menyeterika memalingkan kepala. Seperti suaminya yang penuh harap, dia juga ingin tahu hasil tes lamaran kerja puteranya itu.

"Hasil Bram?"

"Jum'at depan Bu. Baru ketauan..." jawab Bram.

Nyonya Hesti meletakkan seterika listrik. "Adikmu sudah pulang. Ada di atas." Perempuan itu memberi tahu.

"Boma pulang?" Wajah dan suara Bram menunjukkan rasa gembira. Setengah

(4)

berlari pemuda berusia 24 tahun S1 Teknik Elektro yang sudah satu tahun menganggur itu menaiki tangga. Pintu kamar tidur Boma tidak tertutup. Bram langsung masuk ke dalam kamar. Boma terbaring di ranjang, menelentang. Hanya pakai singlet dan celana jins. Matanya terbuka, pandangannya kosong seperti melamun.

Bram memukul paha adiknya dengan gulungan tabloid. "Bom, kapan kau pulang?"

"Siang tadi," jawab Boma. "Kata Ibu hari ini kau ngikutin tes lamaran kerja."

Bram mengangguk. "Sorry aku nggak bisa ngejemputmu di rumah sakit."

"Nggak apa-apa." "Gimana tesmu Bram?"

"Bisa semua. Dari sembilan pelamar yang disaring, yang lulus tes cuma empat, termasuk aku. Lusa ada wawancara. Dari hasil wawancara nanti baru ketauan siapa yang bakal diterima."

"Aku doa-in supaya kau yang diterima."

Bram Dwi Sumitro tersenyum mendengar kata-kata adiknya itu. Namun lubuk hatinya tersentuh dalam. Sejak ayahnya pensiun memang terasa sekali akan adanya seseorang yang dapat menunjang biaya kehidupan rumah tangga mereka, termasuk biaya sekolah Boma. "Udah, kita jangan bicara soal lamaranku. Baca dulu

(5)

ini." Bram melemparkan gulungan tabloid yang sejak tadi dipegangnya. "Kau jadi orang kesohor sekarang."

"Kesohor? Ada apa? Kok nyuruh aku..."

"Aku tau, kau paling males baca surat kabar. Tapi yang satu ini lain Bom. Liat halaman dua," kata Bram Dwi Sumitro memotong ucapan adiknya.

Boma membuka gulungan tabloid, langsung membalik halaman dua.

"Kau liat! Foto siapa 'tuh! Kenal nggak? Liat judul beritanya!"

Di halaman dua tabloid sebelah kiri atas terpampang foto besar Trini Damayanti. Cantik dan tersenyum. Di bawah foto ada caption : Trini Damayanti, pacar Boma. Di sebelah foto, dengan huruf-huruf besar tertera judul berita. Pacar Boma Mengakui. Lalu dengan huruf-huruf lebih kecil dibawah judul menyusul sub-judul berbunyi Ada Misteri Dalam Penyelamatan Korban Musibah Gunung Gede.

"Sialan! Apa-apaan 'nih!" kata Boma

setengah berteriak. Tabloid dibantingkannya ke lantai lalu dia

beringsut, duduk ke dinding. Matanya membesar menatap ke arah kakaknya.

Bram mengambil tabloid yang tercampak di lantai, di letakkan di pangkuan Boma. "Tenang Bom, jangan emosi. Baca dulu beritanya sampai habis."

(6)

"Tapi ini jelas nggak bener! Siapa bilang aku pacaran sama dia. Wartawan geblek!"

"Pacaran apa nggak, itu sih bukan soal. Lagian mungkin bukan wartawannya yang geblek. Biasanya wartawan nulis apa adanya. Jadi kau harus baca dulu," kata Bram sambil senyum-senyum.

Boma menowel hidungnya beberapa kali. Lalu mengambil tabloid di pangkuannya dan mulai membaca. Beritanya cukup panjang, sampai menghabiskan empat kolom lebih. Menurut sang wartawan yang berinisial "TB" tulisan itu merupakan sambungan dari berita Minggu sebelumnya dan adalah hasil wawancaranya dengan Trini Damayanti, puteri Letkol (Pol) Kusumo Atmojo, pelajar SMA Nusantara III yang sejak lama sudah menjadi pacar Boma Tri Sumitro. Dalam berita dikatakan selamatnya tujuh pelajar tersebut meru-pakan satu peristiwa luar biasa, baru pertama kali terjadi. Sang wartawan mengutip keterangan dari beberapa sumber dipercaya yang juga diakui oleh Trini Damayanti bahwa selama penyelamatan dilakukan, terjadi beberapa peristiwa aneh.

Keanehan pertama dialami oleh Bapak Tatang Suryadilaga, Kepala Pos Pengawasan Gunung Gede. Satu hari sebelum terjadinya musibah atas rombongan para pelajar SMA

(7)

Nusantara III, lelaki ini bermimpi melihat api di puncak Gunung Gede. Tiga tahun lalu Pak Tatang pernah mimpi seperti itu. Beberapa hari kemudian rombongan mahasiswa dari Bandung yang mendaki Gunung Gede mengalami kecelakaan. Lima dari enam mahasiswa itu ditemukan tewas. Lalu setahun setelah itu kembali Pak Tatang mimpi melihat api di puncak Gunung Gede. Besoknya empat pelajar STM Bogor ditemukan dalam keadaan kaku tak bernyawa di salah satu lereng Gunung Gede.

Pertanda mimpi yang sama mau tak mau membuat Pak Tatang jadi khawatir. Takut kalau musibah yang dialami oleh mahasiswa dari Bandung dan pelajar STM dari Bogor akan menimpa pula rombongan para pelajar SMA Nusantara III dari Jakarta. Ternyata hal itu memang kejadian. Tetapi kali ini semuanya selamat. Tidak seorangpun dari tujuh pelajar itu tewas.

Keanehan kedua, menurut perhitungan pelaksanaan evakuasi yaitu membawa dan menyelamatkan anak-anak itu dari lokasi ditemukan sampai ke kaki gunung paling cepat akan memakan waktu lima jam. Ternyata regu penolong dan tim medis mampu melakukan dalam waktu hanya tiga jam. Padahal saat itu malam hari, udara dingin dan jalan licin. Menurut Letda

(8)

Sofyan, Polisi dari Sukabumi yang memimpin regu penolong, sepanjang jalan menuju kaki Gunung Gede malam itu secara aneh di depan mereka ada puluhan kunang-kunang. Binatang yang tubuhnya mengeluarkan cahaya ini bukan saja terbang menerangi jalan yang ditempuh tapi sekaligus seolah menjadi penunjuk jalan.

Keanehan berikutnya yang diung-kapkan oleh wartawan tabloid berinisial "TB" itu ialah pengakuan regu penolong yang menggotong anak-anak yang celaka. Bukan pekerjaan mudah menandu seseorang menuruni gunung dalam gelapnya malam dan buruknya cuaca. Tapi anak-anak yang mereka tandu, termasuk Gita Parwati yang gemuk lebih seratus kilogram, terasa ringan. Seolah-olah ada tangan-tangan tak kelihatan dari mahluk-mahluk gaib ikut menggotong tandu!

Keanehan yang paling luar biasa dan sampai saat itu masih menjadi teka teki inilah ketika tujuh anak pertama kali ditemukan di lokasi kecelakaan. Mereka ditemukan berjejer rapi di dalam kantong-kantong plastik yang mereka bawa. Siapa yang mengatur begitu rupa, dan yang lebih jadi pertanyaan, bagaimana mereka bisa berada dalam kantong-kantong plastik tebal itu. Padahal jangankan masuk dan menggunakan kantong plastik, bergerak

(9)

saja anak-anak itu sudah tak sanggup karena kondisi tubuh yang sangat lemah. Menurut tim medis dan dokter yang menolong di Rumah Sakit Sukabumi, seandainya anak-anak itu tidak berada dalam kantong plastik tersebut, kemungkinan besar nyawa mereka tidak akan tertolong akibat dinginnya udara dan lemahnya daya tahan tubuh. Menurut wartawan yang menulis, semua teka-teki ini akan terungkap setelah Boma, pimpinan rombongan pendaki dapat ditemui dan dimintakan keterangannya. Enam anak anggota rombongan telah dihubungi dan pernah diwawancara, namun tidak bisa memberikan keterangan banyak. Terutama menyangkut semua keanehan itu.

Boma melipat tabloid yang barusan dibacanya.

"Gimana?" tanya Bram. "Brengsek!"

"Apa? Siapa yang brengsek Bom?"

"Cerita tentang keanehan ini memang betul. Tapi soal aku pacaran sama Trini! Itu yang brengsek!"

"Kau merasa pacaran sama 'tu cewek nggak?" tanya Bram.

Boma tak menjawab. Dia turun dari tempat tidur, mengambil kemeja yang tergantung di sangkutan dan mengenakannya.

(10)

bertanya.

"Nilpon."

"Nilpon? Nilpon siapa?" Bram bertanya lagi.

"Kau punya koin cepean nggak?"

"Kau masih sakit Bom. Sebaiknya istirahat, tidur saja. Jangan kemana-mana dulu..."

"Tapi aku musti nilpon Trini. Brengsek! Seharusnya di rumah ini ada tilpon!" Boma duduk di tepi tempat tidur setengah membantingkan diri.

Bram gelengkan kepala. "Boro-boro tilpon Bom. Buat bayar rekening listrik aja setiap bulan Ayah sudah susah..."

"Itu karena usaha ayah sendiri. Sablon. Boros listrik!"

"Huss. Pelan-pelan. Nanti kedengaran Ayah. Doa-in lamaranku diterima. Bisa kerja. Bisa membantu Ayah sama Ibu."

Dua kakak beradik itu sama-sama terdiam cukup lama.

"Bram...." Boma akhirnya memecah kesunyian.

"Hemmm..."

"Kau tau cerita ada yang bayarin biaya perawatanku di Rumah Sakit..."

"Ya, aku dengar dari Ibu. Kau tau siapa orangnya?"

Boma menggeleng. "Aku musti cari tau..."

(11)

"Menurut Ayah biaya perawatanmu hampir satu setengah juta."

Boma kaget. "Satu setengah juta Bram?"

Bram mengangguk. "Gila!"

"Itu masih nggak seberapa Bom. Masih termasuk kecil. Kau musti mengetahui siapa orang yang berbuat baik itu. Paling tidak buat ngucapin terima kasih. Jaman sekarang makin sedikit orang berhati baik dan berbudi ikhlas Bom..."

Boma mengangguk. "Setahuku Ayah kan bisa bayar pakai Askes..."

"Betul, tapi waktu ayah baru nanyain berapa biaya perawatanmu di kantor Rumah Sakit, pegawai Rumah Sakit bilang sudah ada yang melunasi. Lagian pakai Askes rasanya tidak seluruhnya bisa ditanggung... Kau tau kira-kira siapa orangnya yang baik sama kamu?"

"Dugaanku cuma satu. Mungkin, masih mungkin Bram. Mungkin Dwita...."

"Dwita apa Trini?" ujar Bram sambil senyum dan memandang seputar kamar. Untuk pertama kali dia melihat vas kuning karangan bunga mawar merah di atas meja kecil di sudut kamar. "Kembang dari siapa Bom?"

"Dwita," jawab Boma.

"Aaahhh. Kayaknya dia baik amat sama kamu."

(12)

"Kami cuma teman biasa. Teman satu sekolah. Juga Trini. Cuma Trini mungkin mulutnya nggak ketulungan. Pasti dia yang bicara banyak dan nggak-nggak pada wartawan tabloid itu."

"Aku rasa dugaanmu benar Bom. Mungkin Dwita yang bayar biaya perawatanmu di Rumah Sakit. Keliatannya dia serius sama kamu. Anak pejabat, banyak duit."

Boma tak menjawab, hanya menowel hidungnya beberapa kali. Entah mengapa saat itu rasanya dia ingin sekali bertemu dengan Dwita. Paling tidak mendengar suara anak itu. Kalau saja di rumahnya ada tilpon.

"Bom..."

"Hemmm... Apa?"

"Kau siap-siap aja. Wartawan tabloid itu pasti bakal ngewawancarain kamu."

Boma menowel hidungnya. "Brengsek!" katanya perlahan.

(13)

2

DWITA DATANG

PAGI itu Boma baru selesai mandi. Setelah berpakaian dia memperhatikan wajahnya di depan kaca persegi yang tergantung di dinding kamar. Pucat. Beker kecil di atas meja belajar menunjukkan pukul 9.05 pagi. Selagi Boma memencet-mencet jerawat di dagu kiri tiba-tiba dia mendengar suara langkah-langkah kaki -banyak sekali- menaiki tangga kayu.

Boma melangkah ke pintu. Begitu pintu dibuka pertama sekali dilihatnya kepala Ronny Celepuk. Lalu Vino. Menyusul Firman dan Rio. Lalu Andi. Di belakangnya si gemuk Gita dan terakhir sekali Dwita. Wajah Boma bersinar segar ketika melihat anak perempuan ini.

"Hallo my friend!" Ronny Celepuk menyapa. Lalu meletakkan ke lantai satu tandan pisang emas yang dibawanya.

"Pisang kesukaan lu, Bom." kata Ronny.

"Gila, banyak banget! Kau mau bikin aku mencret apa!"

"Tadinya mau beli anggur," kata Vino. "Tapi takut perutmu nggak bisa nerima buah import" Vino tertawa, teman-temannya ikut tertawa.

(14)

sambil menowel hidungnya.

Ronny membuka pintu kamar lebih lebar, memandang ke arah Dwita dan berkata.

"Silahkan, yang kangen masuk duluan."

"Apaan sin kamu! Masuk aja sama-sama!" kata Dwita sambil mundur menjauh.

"Lho, tadi di mobil bilang kangen sama Boma. Sekarang udah ketemu kok malu-malu." Yang bicara menggoda si gemuk Gita.

"Enak aja. Siapa yang bilang?" kata Dwita. Wajah merengut kemerahan, tapi kemudian tersenyum juga.

Gita mendorong punggung Dwita. Ronny menarik lengan anak perempuan itu. Mau tak mau Dwita melangkah masuk ke dalam kamar. Begitu Dwita berada di dalam Ronny cepat-cepat menutup pintu.

"Ron! Apa-apaan sih lu! Buka!" teriak Boma dari dalam.

Ronny Celepuk dan teman-temannya sama tertawa cekikikan. Rupanya hal ini memang sudah mereka rencanakan sebelumnya.

Lalu ada suara pintu dipukul-pukul dari dalam. Menyusul suara Dwita, berteriak agar pintu dibuka. Boma berusaha membuka pintu. Tapi handel bulat pintu sebelah luar ditahan kuat-kuat oleh Ronny.

(15)

"Udah belon?!" teriak Ronny Celepuk.

"Apa yang udah?!" teriak Boma dari dalam.

"Ala, belagak bodo kau!" teriak Andi.

"Brengsek kau Ron! Buka buruan!"

"Kesempatan Bom! Kesempatan!" teriak Rio.

"Kangen... Orang kangen musti dikasihani Bom!" Gita ikut berteriak.

"Udah Bom?! Puas nggak?!" seru Ronny.

"Kalau udah puas gua buka nih!"

"Brengsek lu! Kalian brengsek semua!" teriak Boma.

Ronny akhirnya melepaskan handel pintu. Begitu pintu terbuka Boma mendamprat.

"Brengsek! Kalian sinting semua!" Tangan kanannya diacungkan hendak menjotos. Ronny Celepuk cepat menghindar mundur.

Di sebelah Boma berdiri Dwita dengan wajah merah keringatan.

Enam anak di depan pintu tertawa riuh.

Di ruangan bawah ayah Boma berkali-kali menurunkan kacamata plus enamnya, memandang ke langit-langit di atasnya lalu menoleh pada istrinya.

(16)

Brisik amat."

Ibu Boma hanya bisa geleng-gelengkan kepala.

"Biasa Pak, anak-anak kalau sudah ketemu pasti riuh."

"Sorry Bom. Sorry Dwita. Kami teman-teman cuma mau kasih kesempatan. Lebih kurangnya terserah kalian berdua yang lagi saling kangen!" kata Ronny Celepuk lalu masuk ke dalam kamar sambil membawa pisang setandan. Lima temannya mengikuti hingga kamar berlantai papan yang tak seberapa besar di tingkat atas itu jadi penuh.

"Kawan-kawan, kita ke bawah aja," kata Boma.

"Di sini saja Bom," jawab Gita. "Soalnya di bawah sana ada bokap lu. Orangnya sih baek, tapi tampangnya angker banget. Tadi aku diliatin sambil kaca mata tebelnya diturunin ke hidung...."

"Nggak heran kalau kau diliatin kayak gitu Git," kata Vino. "Soalnya ayahnya Boma mungkin heran. Tanya-tanya dalam hati. Ini kira-kira mahluk apa ya...?"

Suara tawa anak-anak diputus oleh jeritan Vino yang kesakitan karena disengat cubitan Gita Parwati.

"Aku takut nih kamar jebol!" kata Boma.

(17)

kata Gita. "Belon apa-apa, baru juga baek, Boma udah nyindir gua!" kata Gita Parwati yang gemuk dan berbobot lebih seratus kilo.

Di dalam kamar Boma hendak menyembunyikan tabloid yang ada di atas tempat tidur ke bawah bantal. Tapi Vino lebih cepat menyambar tabloid itu.

"Nggak usah diumpetin Bom. Kami udah tau semua." Kata Vino.

"Dwita juga udah baca," memberitahu Ronny.

Boma memandang ke arah Dwita. Anak perempuan itu kelihatan tenang-tenang saja. Berdiri di samping meja belajar sambil bersandar ke dinding.

Tak tahu mau berkata apa akhirnya Boma ingat. "Dwita, terima kasih kembangnya."

Dwita mengangguk.

"Say it with flower! Ca illa!" Vino menyengir. "Kalau orang intelek

mengatakan rasa suka sama kembang. Kalau kita-kita bangsa krocoan sama siomay!"

Kamar di tingkat atas itu kembali gemuruh oleh suara tawa.

"Bom...," Ronny berkata sambil memasukkan tangan ke saku blujins.

"Ron, awas lu ngerokok di sini! Apa mau bikin kita mati pengap semua!" kata Gita memotong ucapan Ronny. Rupanya dia sudah tahu kalau Ronny hendak

(18)

mengeluarkan rokok. Tapi Ronny bandel.

"Ala, kalau jendelanya dibuka kan nggak apa-apa," jawab Ronny yang mulutnya sudah terasa asam. Dia melangkah ke dekat jendela, membukanya lebar-lebar lalu menyalakan sebatang rokok. Setelah menyedot dan menghembuskan asap rokoknya beberapa kali Ronny meneruskan kata-katanya yang tadi terpotong ucapan Gita.

"Aku sama teman-teman datang selain mau ngeliat kamu, juga ada yang mau ditanyain."

"Tanya aja, apa sih yang mau kalian tanyakan?" ujar Boma.

"Itu, yang ada sangkut pautnya dengan berita dalam tabloid," kata Andi.

"Soal ucapan Trini?" Boma melirik ke arah Dwita. Anak perempuan itu masih tegak bersandar ke dinding, memandang keluar jendela, pura-pura tidak memperhatikan apa yang dibicarakan teman-temannya. Padahal diam-diam dia memasang telinga.

"Bukan, bukan soal kucing garong itu," kata Gita Parwati. Anak ini memang sudah benci lama sama Trini dan menyebut Trini kucing garong sejak peristiwa di warung bakso Mang Asep. (Baca serial Boma Gendenk Episode Pertama berjudul "Suka Suka Cinta.")

(19)

apa?" tanya Boma.

"Itu Bom, yang nyangkut semua keanehan itu. Kami pernah didatengin wartawan tabloid. Tapi terus terang kami bilang nggak ada yang tau soal aneh-aneh itu. Wartawan itu pasti nyari kau. Sebelon kau cerita sama dia, maunya kami, kau cerita duluan sama kita-kita ini...."

Boma tak segera menjawab.

"Kok diem?" ujar Gita. "Kami yakin kau tau semua menyangkut keanehan itu. Soalnya waktu di Rumah Sakit PMI Bogor, sakitmu aneh. Kau sering ngigau. Manggil-manggil nenek-nenek. Suaramu juga berubah seperti suara nenek tua. Lalu Dwita cerita, dia pernah nganterin bokapmu ketemu satu orang pinter di Bogor. Sehabis dikasih air putih sama orang pinter itu kau baru sembuh. Panasmu turun, ngacokmu hilang."

"Aku nggak tau 'tuh kalau aku ngigau...."

"Betul Bom, kau musti cerita sama aku dan teman-teman...." kata Ronny Celepuk pula.

Boma menowel hidungnya.

"Towel terus sampe tua!" kata Vino "Yang nolong kita, yang nyelamatkan kita Tuhan. Apa anehnya. Tuhan Maha Kuasa. Kita harus berterima kasih, bersyukur padaNya...."

(20)

"Tapi menurut Dwita, waktu nganterin

bokapmu ke rumah orang pinter di Bogor itu..." Gita diam sebentar, berpaling pada Dwita. "Siapa Dwit, nama orang pinter itu?"

"Haji Sobirin," jawab Dwita.

"Haji Sobirin," mengulang Gita. "Menurut orang pinter itu, ada seseorang mau ngewarisin ilmu kepandaian padamu. Tapi kau menolak...."

Boma pandangi wajah temannya satu persatu lalu tertawa membahana.

"Ajie busyet, ajie gombal! Kalian percaya aja sama omongan orang. Siapa yang mau ngewarisin ilmu sama aku? Ilmu apa? Matematika, Fisika? Teman-teman, mendingan kita ngobrol soal lain aja!"

"Bom, aku dan teman-teman tau kalau kau ngerasain sesuatu. Kenapa sih nggak mau cerita pada kita-kita ini?" ujar Ronny. "Apa perlu Dwita yang maksa kamu?" Ronny menyengir.

Boma menowel hidungnya. Menghela nafas beberapa kali. Memandang keluar jendela. Lalu melirik ke arah Dwita.

"Iyya deh, gua cerita. Tapi awas. Cuma sama kalian aku beri tau. Jangan bilang sama siapapun. Jangan ngomong sama wartawan, terutama wartawan tabloid yang muat berita aku sama Trini itu. Kalian semua musti bersumpah!"

(21)

Vino sambil mengangkat tangan kanan, mengacungkan jari dalam bentuk huruf V. Tapi jari-jari tangan kiri dikempitkan ke ketiak kanan. Teman-teman Boma kecuali Dwita ikut-ikutan melakukan hal yang sama sambil tertawa cekikikan. Semua anak-anak itu kemudian duduk di lantai. Boma duduk sambil bersandar ke pinggiran tempat tidur. Tujuh pasang mata memandang padanya. Tujuh pasang telinga siap mendengar dan tujuh hati berdebar dalam keheningan.

3

CERITA BOMA

BOMA menowel hidungnya, membuat teman-temannya yang menunggu jadi tak sabaran.

"Malam pertama di Gunung Gede, waktu kalian udah pada tidur, aku masih belum bisa mejemin mata." Boma mulai. "Badanku rasanya letih banget tapi heran kenapa nggak bisa tidur. Aku keluar dari dalam kantong tidur plastik. Duduk. Kuperhatikan arloji di lengan Vino menunjukkan hampir pukul dua. Gila. Di luar tenda suara tiupan angin bikin serem. Apa lagi sesekali ada suara kepak sayap terbang melintas di atas tenda.

(22)

Mungkin burung, mungkin kelelawar. Pokoknya serem."

"Aku masuk kembali ke dalam kantong, coba-coba tidur. Tetap aja nggak bisa. Aku bangun lagi. Berdiri. Tadinya mau bangunin kamu Ron, tapi nggak jadi. Seperti ada yang ngedorong aku keluar dari dalam tenda. Di luar aku liat api unggun masih nyala. Karena dingin aku melangkah mendekati api, jongkok sebentar sambil manasin tangan. Waktu itu aku merasa ada hembusan angin di belakangku. Seperti ada orang lewat cepat sekali. Aku nengok ke belakang. Nggak ada siapa-siapa. Nggak ada orang. Tengkuk gue mendadak jadi dingin. Takut. Aku rasa ada yang ngawasin diriku. Aku coba berdiri, buru-buru mau masuk ke dalam tenda lagi. Tapi aneh, kaki-ku terasa berat. Bukannya berdiri, malah terduduk di tanah. Mendadak hidungku nyium bau aneh. Bau pesing. Aku masih sadar. Masih bisa mikir. Malam itu malam Jum'at. Kalau memang ada bau-bau aneh, biasanya bau menyan atau bau kembang. Tapi yang aku cium bau pesing. Aku tambah takut. Coba lagi berdiri. Tetap kagak bisa. Sementara itu nyala api unggun mulai mengecil. Udara dingin kayak sayatan silet nembus jaket yang aku pakai. Lalu di depanku, di bawah kegelapan bayangan pohon aku liat ada sesuatu bergerak. Aku memperhatikan.

(23)

Kupikir mungkin aku salah liat, atau cuma liat bayangan. Rasa takut tambah numpuk. Aku seperti mau kencing. Lalu yang aku sangka bayangan itu makin jelas. Bau pesing tambah santer.

***

SOSOK bungkuk di dalam gelap bayangan pohon tegak tak bergerak. Di tangan kirinya ada sebatang tongkat kayu.

"Setan.... Mahluk penghuni gunung...." pikir Boma. Dalam takutnya anak ini segera saja komat-kamit membaca semua ayat-ayat suci yang dihafalnya.

Sosok dalam gelap tiba-tiba bergerak. Satu langkah... dua langkah. Bayangan nyala api unggun menerangi tubuh dan sebagian kepalanya. Nenek-nenek. Sosok itu ternyata sosok seorang nenek berkulit hitam berwajah angker. Matanya merupakan dua rongga dalam. Pipinya cekung keriput. Kepalanya nyaris sulah karena hanya ditutupi oleh sekian lembar rambut-rambut putih. Di atas kulit kepala yang botak itu menancap lima buah tusuk konde perak putih. Pakaiannya kebaya rombeng dan kain panjang butut. Tubuh dan pakaian itu menebar bau pesing. Mulutnya tidak henti berkomat-kamit. Gembung ke kiri, gembung ke kanan. Ternyata dalam mulut itu ada susur.

(24)

Wajah nenek itu mengingatkan Boma pada seorang nenek tetangga, dua rumah dari rumahnya. Yang meninggal sekitar dua bulan lalu. Tapi nenek tetangga itu tidak angker begini. Tidak pakai tusuk konde juga tidak bau pesing. Mungkin rohnya yang menampakkan diri. Tapi kenapa bisa sampai kesasar sejauh ini?

"Nek, Nek Kiyem...."

Tampang angker si nenek bertusuk konde lima kelihatan berubah berkerut. Dari mulutnya dia semburkan ludah susur berwarna kemerahan.

"Anak setan! Enak saja kau menyebut aku Nek Kiyem! Kau kira aku ini siapa?!"

Tiba-tiba mahluk berwajah angker membentak, membuat Boma terhenyak dalam ketakutan.

"Bu... bukan setan. Kata orang setan beneran nggak bisa bicara." Dalam takutnya Boma masih bisa membatin. Anak ini coba beringsut, mundur ke arah tenda.

Si nenek bergerak maju. Empat langkah di hadapan Boma, tepat di kiri api unggun, dia berhenti lalu tiba-tiba sekali tancapkan tongkat di tangan kirinya ke tanah. Tongkat kayu yang ditancapkan tapi Boma yang merasakan tubuhnya seperti dipantek ke tanah hingga dia tak bisa bergerak. Dengan tangan kanan si nenek keluarkan susur dari dalam mulut.

(25)

"Katakan! Siapa Nek Kiyem yang barusan kau sebut?!" Tiba-tiba nenek angker hardikkan pertanyaan.

"Anu Nek.... Tetangga.... Tapi sudah meninggal. Dua bulan lalu. Kata orang meninggal karena bengek." Luar biasa! Walau takut setengah mati Boma masih sanggup menjawab hardikan si nenek. Meskipun dengan suara dan badan gemetaran. Tangannya berkali-kali menowel hidung.

"Jadi kau anggap aku ini setan jejadian penjelmaan roh Kiyem si nenek bengek itu! Hah?!"

"Saya... saya nggak bilang begitu. Saya... saya nggak tau kau ini siapa Nek. Kalau saya ngomong salah saya minta maaf."

Nenek angker pencongkan mulutnya. Tiba-tiba kembali dia membentak.

"Anak setan! Ulurkan telapak tanganmu. Yang kiri!"

Boma tak berani melakukan apa yang diperintah si nenek.

"Kau tuli apa budek?!" Si nenek sumpalkan kembali susurnya ke dalam mulut.

"Nek...."

Nenek bertampang angker cabut tongkat yang tadi ditancapkannya di tanah. Tongkat diacungkan di atas kepala Boma.

(26)

"Kau mau ulurkan tangan kirimu atau minta digebuk!" Si nenek membuat gerakan hendak ayunkan tongkat ke kepala Boma.

Boma cepat lindungi kepalanya dengan dua tangan.

Si nenek menyeringai. Seringai ini membuat tampangnya tambah menyeramkan.

"Anak setan! Jangan membuat aku marah! Ulurkan tangan kirimu! Cepat!"

Bukannya mengulurkan tangan, Boma malah menowel hidung dengan tangan kanan, tangan kiri masih melindungi kepala.

Tiba-tiba tongkat dipukulkan ke bawah.

"Braakk!"

Sebuah batu hitam besar yang sejak

tadi ada di samping Boma hancur

berantakan. Mata Boma sampai mendelik besar.

"Tobat cing!" Boma membatin. "Batu segitu keras, segitu gede hancur jadi bubuk, gimana kepala gua?!"

Dalam takutnya Boma akhirnya ulurkan tangan kiri. Telapak dibuka dikembangkan. Bersamaan dengan itu si nenek letakkan ujung tongkat di atas telapak tangan Boma. Aneh, ujung tongkat itu tiba-tiba memancarkan cahaya hingga telapak tangan Boma terlihat jelas sampai ke garis-garis tangan yang terhalus sekalipun.

(27)

tangan kirinya. Tapi si nenek segera membentak.

"Jangan berani bergerak!"

Boma terpaksa tidak jadi menarik tangan kirinya. Si nenek maju dua langkah. Sepasang matanya memperhatikan telapak tangan Boma tanpa berkedip. Ujung tongkat digerak-gerakkan di atas garis-garis tangan anak lelaki itu. Kepala diangguk-anggukkan. Mulutnya yang perot berulang kali mengeluarkan suara bergumam.

"Anak setan, apa kau tahu kalau di telapak tangan kirimu ada dua garis bersilang membentuk tanda kali?"

"Tau Nek...." jawab Boma. "Kau tahu apa artinya?"

"Ka... kata orang kalau saya mukul orang bisa mati."

"Begitu?"

Boma mengiyakan sambil mengangguk. Si nenek tertawa panjang. "Orang yang berkata begitu adalah orang tolol. Kau juga orang tolol! Kalau tidak memiliki ilmu, mana mungkin memukul orang bisa mati! Tangan kirimu itu paling-paling hanya mampu dipakai cebok! Hik... hik... hik!"

Boma pandangi si nenek sambil menowel hidungnya dengan tangan kiri. Rasa takut masih menjalari anak ini. Si nenek sebaliknya balas memperhatikan

(28)

kelakuan anak lelaki itu. Dalam hati dia berkata. "Yang satu itu suka menggaruk kepala. Yang ini suka menowel hidung. Hik... hik... hik. Apakah aku memang menemukan anak yang selama ini aku cari-cari dari alam roh? Aku harus memastikan. Petunjuk mengatakan dia memiliki tanda kedua."

Nenek berwajah seram tiba-tiba susupkan tongkatnya ke bawah betis kanan Boma, lalu diangkat ke atas. Gerakan ini membuat Boma terlentang di tanah dengan kaki naik di udara, tepat di depan wajah seram si nenek, Dengan tangan kanannya si nenek kemudian menarik lepas sepatu basket hitam yang dikenakan Boma. Juga kaos tebal yang membungkus kaki anak itu. Begitu sepatu dan kaos kaki lepas perempuan tua itu kerenyitkan muka, tekap hidungnya. Rupanya ada bau yang tidak enak menyambar dari kaki yang selama ini lembab terbungkus sepatu karet itu!

"Anak setan! Kakimu bau comberan!" Si nenek keluarkan ucapan lalu semburkan ludah susur ke tanah.

Boma mau ketawa tapi tak berani.

Masih menekap mulut si nenek jauhkan kepalanya sedikit. Dua matanya memandang tak berkedip memperhatikan kaki kanan Boma yang kini telanjang. Mulut si nenek bergerak pencong. Matanya yang cekung membesar. Boma tidak mengerti apa

(29)

yang tengah dilakukan perempuan tua aneh bau pesing ini.

"Anak setan.... Benar dia. Tanda kedua ada di tumit kaki kanannya. Satu tahi lalat besar...."

Perlahan-lahan si nenek turunkan tongkatnya hingga kaki kanan Boma menyentuh tanah.

"Namamu siapa?!" si nenek tiba-tiba ajukan pertanyaan.

"Boma."

"Apa?" Si nenek miringkan kepalanya sambil tangan kanannya didorongkan ke daun telinga kanan. "Bemo?!"

"Bemo!" Tampang Boma jadi berkerut. Dalam hati anak ini berkata. "Kok jauh banget budeknya ini orang tua!"

"Boma, bukan Bemo...." kata Boma kemudian.

"Ooo... Boma, ya.. ya aku ingat. Bemo 'kan sudah digusur! Hik... hik... hik...!"

"Aneh, kok dia tau segala bemo digusur?" kata Boma dalam hati.

"Nek, kau ini siapa..?" Boma beranikan diri bertanya.

"Menurutmu aku ini siapa?!" si nenek balik menukas.

"Nggak tau Nek. Saya...."

"Anak bau kencur, kau tak layak bertanya. Aku yang akan menanyai dirimu...?"

(30)

"Nek, saya...."

"Diam!" Si nenek membentak. Matanya melotot. "Aku mau tanya. Tadi waktu aku muncul mendekatimu, aku lihat mulutmu komat-kamit mengucap sesuatu. Apa yang kau ucapkan? Apa yang kau baca?!"

"Anu Nek...." Boma menowel hidungnya.

"Anu apa?!"

"Yang saya baca ayat-ayat suci Nek. Ayat-ayat Qur'an...."

Si nenek terdiam. Muka angkernya mengerenyit. Sesaat Boma melihat keseraman sirna dari wajah tua hitam keriput itu.

"Kenapa kau baca ayat-ayat suci?" Si nenek bertanya.

"Sa... saya takut Nek."

"Takut? Takut apa? Takut sama siapa?" Boma tak menjawab. Takut si nenek marah.

Justru si nenek yang berucap. "Takut sama aku hah?!"

"Betil... eh betul Nek." "Kenapa takut?!"

"Saya ngira Nenek ini... jangan marah ya Nek. Saya mengira Nenek ini setan. Atau mahluk halus penghuni gunung." Akhirnya Boma keluarkan juga ucapannya.

Si nenek mendongak lalu tertawa panjang cekikikan.

(31)

"Itulah sifat kalian bangsa manusia. Sama setan takut. Tapi sama dosa tidak pernah takut. Buktinya masih banyak orang-orang yang mau berbuat dosa, berbuat kejahatan dan kemaksiatan!"

Mendengar ucapan si nenek yang menyebut "kalian bangsa manusia" tengkuk Boma mendadak sontak jadi dingin. "Berarti... berarti nenek ini memang bukan manusia. Tapi...." Hati-hati Boma tarik kaki kanannya yang sejak tadi terjulur lalu bangkit dan duduk di tanah.

"Anak setan...."

"Nek, nama saya Boma. Bukan Anak setan...."

"Terserah aku mau memanggilmu apa. Aku suka memanggilmu Anak setan. Apa kau keberatan. Apa kau berani menampik?"

"Saya bukan Anak setan Nek. Lagian setau saya setan nggak pernah punya anak,..."

Si nenek delikkan matanya, tapi lalu tertawa mengekeh. "Setan memang tidak punya anak. Tapi manusia setan yang banyak gentayangan di duniamu, kawin sana kawin sini, pekerjaannya bikin anak di mana-mana. Mending kalau diurus. Banyak yang ditelantarkan. Mereka itu bapak setan yang punya Anak setan!"

Boma terdiam. "Boma!"

(32)

"Kau suka menenggak miras?"

"Heran.... Kok nenek tau-tauan minuman keras segala?"

"Jawab saja pertanyaanku. Suka minum apa tidak?!"

"Tidak Nek...."

"Suka minum obat terlarang?" "Nggak Nek...."

"Nipam?".

"Nggak pernah Nek...." "Ganja?"

"Ngerokok aja nggak Nek." "Ecstasy?"

"Apa lagi itu Nek. Mana kebeli..." "Barangkali ada yang ngasih!" Boma menggeleng.

"Suka ikut tawuran?" "Nggak pernah." "Suka main cewek?"

"Ajie gile. Gue jadi bingung. Gue diinterogasi. Ini setan apa neneknya Polwan...." membatin Boma lalu gelengkan kepala.

Si nenek kembali tertawa cekikikan. "Anak setan, dengar baik-baik. Hidup di dunia ini makin lama makin banyak tantangan. Tantangan kadang-kadang membuat manusia tidak selamat. Untuk menghadapi tantangan seseorang harus punya ilmu. Aku mau mewariskan ilmu kepandaian padamu. Kau harus terima..."

(33)

"Tidak usah tanya-tanya dulu. Pokoknya terima saja...."

"Nek, kata orang tua saya, kalau mau hidup selamat di dunia dan akhirat tidak sulit...."

"Apa, tidak sulit bagaimana? Aku mau tahu...."

"Kata orang tua saya kalau mau hidup selamat kita harus hidup dengan menjalankan perintah Allah, menjauhkan laranganNya..."

Si nenek menyeringai lalu geleng-geleng kepala. "Banyak memang orang yang begitu. Menjalankan perintah Tuhan, menjauhkan larangan Tuhan. Tapi lebih banyak lagi yang tidak menjalankan perintah Tuhan, malah seperti berlomba melanggar perintah Gusti Allah. Di situlah munculnya tantangan. Agar seseorang tidak sampai terseret ke dalam kesesatan maka harus memiliki ilmu. Sudah! Sekarang ulurkan tangan kirimu! Sebelum kuturunkan ilmu yang kumaksudkan itu padamu, dirimu perlu dibersihkan dan diisi dengan hawa murni"

Boma diam saja. Tak mau mengeluarkan tangan kirinya. Takut.

"Kau tidak mau aku wariskan ilmu kepandaian?"

"Saya, saya musti tau dulu ilmu kepandaian apa Nek? Matematika? Fisika...? Kalau Matematika sama Fisika

(34)

di sekolah saya memang jeblok."

"Anak setan! Aku mana tahu segala ilmu begituan! Kalau kau tak mau mengulurkan tangan aku terpaksa memaksa.... Mau kupelintir tanganmu sampai medel?!"

Boma masih diam.

Tiba-tiba si nenek angkat tongkat di tangan kirinya. Ujung tongkat diarahkan ke tangan kiri Boma. Aneh. Perlahan-lahan tangan kiri Boma terangkat ke atas. Bagaimanapun anak ini menge-rahkan tenaga tetap saja dia tak kuasa menahan. Si nenek putar ujung tongkatnya sedikit. Tangan Boma yang terulur ikut berputar. Telapak mengembang, menghadap ke atas. Si nenek ulurkan tangan kanannya yang kurus keriput. Lalu telapak tangannya ditempelkan ke telapak tangan Boma. Terasa ada hawa panas menjalari tubuh anak lelaki itu.

Pada saat itulah di dalam tenda besar terdengar suara orang menyalakan geretan gas. Lalu ada cahaya terang. Sesaat kemudian bagian depan tenda terbuka. Lalu menyeruak muncul sosok Ronny Celepuk.

"Bom? Boma? Kau di mana?"

"Sialan! Ada orang!" si nenek yang tengah memegang telapak tangan Boma memaki. "Anak setan, dengar baik-baik. Aku terpaksa pergi. Tapi aku akan kembali

(35)

lagi menemuimu."

Si nenek lepaskan pegangannya pada tangan kiri Boma. Bersamaan dengan itu tubuhnya berkelebat ke arah pohon besar lalu lenyap ditelan gelap dan dinginnya malam.

***

BOMA tersentak ketika Ronny Celepuk mendatangi dari samping. Sebatang rokok terselip di sela jari tangan kanannya.

"Bom, gua kira lu diculik hantu gunung."

"Huss! Kau jangan ngomong sembarangan Ron. Kalau kejadian beneran...."

"Habis, kau lagi ngapain di sini?" tanya Ronny Celepuk.

Boma cepat-cepat mengenakan kaos dan sepatu basket, berpaling ke arah Ronny.

"Kau lagi tapa di depan api unggun? Mukamu kuliat pucat amat!"

"Aku nggak bisa tidur. Jongkok sebentar di sini buat manasin diri." Jawab Boma.

"Aku tadi kebangun. Liat kok kamu nggak ada dalam tenda. Aku kirain ke mana...."

"Dingin Ron, ayo masuk lagi," kata Boma,

(36)

4

MISTERI MULAI TERSINGKAP

GITA Parwati beringsut mendekati Boma. Suaranya agak gemetaran ketika berkata. "Bom, nenek-nenek yang kau ceritakan itu, persis nenek-nenek yang aku liat dalam kamar tempat kau dirawat di Rumah Sakit PMI Bogor. Berarti kau nggak cerita ngibul...."

"Siapa yang ngibul!" jawab Boma. "Yang masih belon jelas mahluk itu setan, hantu apa manusia," kata Vino.

"Jelas hantu alias setan. Kalau manusia biasa mana bisa menghilang," menyahuti Gita.

"Tapi setan kok tau-tauan segala

Miras, Nipam, Ecstasy, ganja" Rio ikut bicara.

"Mungkin yang satu ini setan moderen," kata Andi. "Setan dalam rangka globalisasi. Akibat globalisasi nggak ada lagi batas antara alam gaib dan alam nyata."

"Keren amat omonganmu. Kayak yang ngarti globalisasi aja." kata Gita Parwati sambil pencongkan mulut dan hidungnya yang pesek.

"Memang aneh," Firman ikutan bicara "Setan kok bisa tau kalau bemo mau digusur"

(37)

"Jangan-jangan 'tu nenek matinya ketabrak bemo. Lalu gentayangan jadi setan penasaran. Yang dicari temen kita! Uh, ngeri juga!" kata Vino sambil mengusap tengkuknya.

"Yang aku heran," kata Andi, "Kenapa dia terus-terusan manggil kamu

Anak setan, Bom. Jangan-jangan dia ibunya setan, kawin sama bapak setan, kau jadi

Anak setannya...."

Kamar di tingkat atas itu jadi riuh.

"Sialan lu!" maki Boma. Andi cuma cengar-cengir.

Boma menowel hidungnya. Lalu berpaling pada Dwita.

"Dwita, menurut ayahmu, orang pinter di Bogor memberi tau ada mahluk yang mau mewariskan ilmu. Aku menolak. Lalu aku jadi sakit. Begitu?"

Dwita mengangguk.

Boma terdiam. Berpikir. Perlahan dia berkata sendiri. "Apa yang diliat orang pinter itu cocok dengan kejadian yang aku alami." Boma memandang pada Vino.

"Tapi ilmunya kan belon ketauan ilmu apa," kata Vino. Anak ini berpaling pada Ronny Celepuk. "Kamu sih Ron, pakai keluar tenda segala. Kalau tidak saat ini Boma pasti sudah jadi orang hebat."

(38)

jadi bego-bego?!" kata Gita Parwati. "Eh, lu tau kagak. Saudaranya Bapak gue ada yang jadi gendeng akibat keberatan ilmu." Gita berpaling pada Boma. "Bom, aku rasa ceritamu baru sebagian. Gimana soal kejadian yang aneh-aneh lainnya?"

"Betul Bom, kau harus cerita semuanya," kata Ronny.

"Tapi perutku rada honger nih. Dari tadi cuman makanin pisang melulu. Lama-lama gua bisa mules. Gimana kalau kita dengerin ceritanya Boma sambil ngebakso di warung di ujung gang sono," kata Gita Parwati pula.

"Ah, kamu sih nggak lain makan-molor, makan en molor. Itu aja yang dipikirin!" kata Vino. "Tapi terus terang, ane sih setuju-setuju aja, ring."

"Uh!" Gita mendorong kepala Vino dengan tangannya. "Liat aja nanti, pasti lu yang paling banyak makannya! Nambah ampe dua mangkok!"

Vino menyengir lalu berdiri diikuti yang lain-lain. Mereka sama-sama melangkah ke pintu.

"Tunggu," kata Rio. "Siapa yang traktir?"

Semua anak terdiam. Masing-masing mereka memang punya uang. Tapi pas-pasan. Kalau untuk traktir segitu banyak orang mana cukup. Dalam diam anak-anak itu akhirnya sama memandang ke arah Dwita.

(39)

Anak perempuan ini tersenyum. "Oke, aku yang traktir."

"Jangan Dwita. Biar aku saja," kata Boma.

"Wah, keren banget kau Bom. Banyak duit ya?" tanya Vino.

"Jangan-jangan dikasih sama nenek setan itu," kata Ronny Celepuk.

"Wah, kalau gitu musti diliat dulu. Jangan-jangan duitnya palsu. Begitu habis dibayar berubah jadi daon. Kita bisa diketok tukang bakso!" kata Gita gendut.

Boma tertawa. menowel hidungnya lalu berkata.

"Inget nggak, waktu kita ngobrol di warung Mang Asep?"

"Ya... ya inget!" teman-teman Boma menjawab berbarengan.

"Dwita ngasih uang dua ratus ribu. Uangnya masih utuh." Boma memandang ke arah Dwita. Anak perempuan ini balas menatap.

"Asyik!" celetuk Andi.

"Langsung enak dieh kalau gini!" kata Vino meniru iklan di televisi.

"Teman-teman," kata Ronny, "mumpung duit lagi ada, gimana kalau kita tunda ngebaksonya. Gantinya pergi ke MacDonal

aja."

Beberapa anak siap mengatakan setuju tapi Boma menggeleng. "Bakso aja. Sisa duit kita simpen. Pasti ada gunanya

(40)

nanti."

"Oke, setuju aja Bos. Asal jangan dipakai buat beli Jisamsunya si Ronny aja!" kata Vino.

"Ee, enak aja lu Vin. Gue ngerokok beli sendiri. Bukan malakkin temen." Jawab Ronny sambil ngacungkan tinju.

***

WARUNG bakso di ujung jalan sedang sepi. Delapan anak SMA Nusantara III itu memilih duduk di pojokan yang cukup luas. Sementara menunggu bakso dibuatkan Gita meminta Boma menyambung ceritanya.

"Iyya Bom. Gua kepengen tau apa sih yang kejadian sebenarnya. Soalnya orang-orang kaya-nya masih nggak bisa percaya kalau kita semua bisa selamat," kata Ronny Celepuk.

Boma mengusap hidungnya. Dia pandangi wajah Dwita yang duduk tepat di depannya lalu berkata. "Oke, aku akan cerita. Tapi aku minta kalian janji. Jangan ceritain sama orang lain. Ini bener-bener rahasia. Super rahasia."

"Oke, kami nggak bakal bilang sama siapapun," kata Ronny.

"Terus, mulai aja Bom." Gita tak sabaran.

(41)

LERENG Gunung Gede, hari Sabtu siang. Matahari tak kelihatan. Udara terasa tambah dingin. Boma pimpinan rombongan anak-anak SMA Nusantara III memandang ke langit. Mendung tebal menggantung di mana-mana menutupi langit. Angin bertiup kencang.

"Teman-teman, kayaknya mau hujan gede," kata Boma. "Ron, siapkan tali."

Dari kantong perbekalannya Ronny Celepuk mengeluarkan seutas tali plastik besar berwarna kuning. Tujuh anak itu meneruskan perjalanan menuruni lereng Gunung Gede. Boma di depan sekali memegang handy talky. Mereka bergerak beriringan sambil berpegangan pada tali kuning.

"Vin, jam berapa sekarang?" tanya Boma.

Vino yang berada di bagian tengah rombongan melihat ke arloji di pergelangan tangannya.

"Jam satu kurang lima." Vino kemudian memberi tahu.

"Baru jam satu. Tapi udah kayak malem...." kata Gita Parwati yang berada di belakang Boma. Ucapan anak perempuan ini terputus oleh sambaran kilat di langit, disusul gelegar guntur menggetarkan tanah yang mereka jalani.

"Bentar lagi pasti turun hujan. Bom, bagusnya cari tempat berlindung

(42)

dulu!" Ronny Celepuk yang berada paling belakang rombongan berseru.

Boma memandang ke depan. Saat itu keadaan tambah gelap dan lereng yang hendak mereka tempuh kelihatan curam.

"Teman-teman," kata Boma. "Jangan-jangan kita nyasar. Kayaknya ini bukan jalanan yang kita tempuh waktu mendaki."

Hujan mulai turun.

"Kita berhenti dulu di sini. Jangan terus. Bahaya!" Vino berteriak.

"Jangan, jangan berhenti di sini!" Gita yang punya pengalaman mendaki gunung beberapa kali berseru. "Bom, kita musti naik lagi ke atas. Cari tempat yang datar. Kita musti menjauhi lereng terjal ini. Pohon sekitar sini kecil-kecil. Nggak bisa nahan tanah kalau terjadi longsor!"

Hujan turun menggemuruh. Besar luar biasa. Bergabung dengan suara angin, deru hujan terdengar mengerikan.

"Semua balik ke atas. Cepat!" teriak Boma.

Tujuh anak itu dengan berpegangan pada tali kuning segera berbalik, bergerak kembali ke arah atas. Di langit kilat sambung menyambung dan guntur menggelegar hampir tak berkeputusan.

Boma menghidupkan handy talky.

"Pos Satu di sini. Nusantara Tiga

(43)

calling!."

"Pos Satu di sini. Nusantara Tiga silahkan masuk."

Boma mengenali itu adalah suaranya Pak Tatang. Kepala Pos Pengawas Gunung Gede.

"Pak Tatang. Nusantara Tiga dalam perjalanan turun. Halangan hujan besar. Halangan hujan besar. Kami terpaksa naik lagi ke atas. Ganti."

"Nusantara Tiga harap beri tahu posisi, Harap beri tahu posisi"

Boma mengambil kompas yang ada di kantong jaketnya. Tapi tiba-tiba di belakangnya terdengar suara menggemuruh keras. Pohon-pohon di kiri kanannya seolah terbang, meluncur ke bawah. Tanah yang dipijaknya bergetar. Bukan cuma bergetar tapi bergerak ke lereng gunung sebelah bawah.

"Longsor!" Boma sempat mendengar Gita berteriak.

Setelah itu tubuh tujuh anak itu terseret ke bawah digulung oleh tanah yang longsor. Pohon-pohon di sekitar mereka tumbang berserabutan. Jerit pekik tenggelam ditelan suara menggemuruh yang seolah keluar dari perut gunung, ditambah gelegar guntur dan sabungan kilat.

Dalam keadaan seperti itu Boma melihat satu bayangan hitam berkelebat. Cepat sekali. Ada tumpukan manusia di

(44)

bahu kirinya. Boma tidak dapat memastikan apakah itu manusia, binatang atau setan. Anak ini tak bisa berpikir lebih jauh. Tubuhnya meluncur ke bawah, setengah tenggelam dalam longsoran tanah. Lalu ketika batangan pohon membentur punggungnya, Boma menjerit keras. Handy talky terlepas dari tangannya. Pemandangannya gelap. Dia tak ingat apa-apa lagi.

***

SABTU malam menjelang pagi. Udara sedingin es. Hembusan angin laksana sayatan pisau di permukaan kulit. Perlahan-lahan dua mata Boma Tri Sumitro terbuka sedikit. Dia hanya melihat kegelapan. Pekat menghitam. Tubuhnya terasa dingin. Anak ini menggigil keras. Mulutnya kering dan bibirnya pecah-pecah. Lalu ada rasa sakit di punggungnya. Boma tidak tahu berada di mana saat itu. Apakah dia masih hidup atau sudah mati? Dia coba menggerakkan tangan dan kaki. Tidak bisa. Selain ada rasa nyeri juga ada sesuatu yang menahan. Sekali lagi dia perhatikan keadaan di sekitarnya. Ternyata tubuhnya tenggelam dalam long-soran tanah sampai sebatas dada.

Dalam keadaan tak berdaya, tak mampu bergerak apa lagi mengeluarkan diri

(45)

dari timbunan tanah. Boma ingat teman-temannya.

"Ron... Ronny...!" Dia hampir tidak mendengar suaranya sendiri. Untuk mengeluarkan ucapan itu dia harus mengeluarkan tenaga luar biasa, membuat kepalanya pusing dan pemandangannya berkunang.

"Ron...."

Tak ada jawaban. "Gita...."

Sunyi.

"Vino... Firman... Andi... Rio."

Boma masih mampu menyebut nama teman-temannya satu persatu. Namun tetap saja tak ada jawaban, tak ada sahutan. Lalu anak ini ingat. Sesaat sebelum dia jatuh pingsan, dia melihat satu bayangan hitam berkelebat memanggul sosok-sosok manusia di bahunya. Rasa ngeri serta merta menjalari sekujur badan anak ini.

"Jangan-jangan... yang aku liat itu Malaikat Maut. Membawa mayat teman-temanku... Gita... Vino... Rio. Ya Tuhan, di mana teman-teman saya. Tuhan, tolong kami...."

Tiba-tiba ada sesuatu berkelebat di depan Boma. Pemandangan anak ini masih berkunang dan tempat sekitar situ masih diselimuti kegelapan.

"Malaikat Maut...." pikir Boma, memperhatikan sosok dalam kegelapan.

(46)

Kalau tadi ada rasa takut menyungkupi dirinya kini dalam takut muncul ketabahan. "Kalau memang nyawaku mau dicabut aku pasrah..." Boma pejamkan matanya. Sosok bungkuk bergerak mendekat. Sepasang mata Boma tiba-tiba membesar. Dia ingat. Dia mengenali.

Sosok yang mendatangi itu adalah sosok nenek-nenek berwajah angker, berkulit hitam. Tubuh bungkuk mengenakan kebaya rombeng dan kain panjang butut. Di atas kepalanya ada lima buah tusuk konde perak putih. Boma mencium bau pesing. Tak salah lagi. Mahluk angker ini adalah nenek-nenek aneh yang mendatanginya pada malam pertama dia dan rombongan berada di Gunung Gede.

"Anak Setan! Syukur aku masih bisa menemuimu. Kukira kau sudah amblas ditelan tanah!"

Boma menggerakkan mulut. Lidahnya terasa kelu. Bibirnya berat. "Nek...."

"Sudah, jangan banyak bicara. Aku akan mengeluarkanmu dari timbunan tanah...."

"Nek... saya... saya tidak apa-apa, Teman-teman saya Nek.... Kalau kau mau menolong... tolong mereka duluan. Saya...."

Si nenek hendak membentak namun tak jadi, Sepasang matanya yang berada dalam rongga cekung kelihatan mencorong menatap

(47)

wajah Boma. Dalam hati si nenek membatin. "Anak satu ini benar-benar luar biasa. Dia tidak perdulikan keadaannya sendiri. Malah meminta aku menolong teman-temannya. Aku bersyukur pada Yang Maha Kuasa. Aku tidak salah memilih orang...."

"Nek, tolong teman-teman saya. Di mana mereka... Gita... Rio... Ronny...."

"Diam!" si nenek membentak. "Tak perlu memikirkan teman-temanmu! Gusti Allah sudah menolong mereka!" Tangan kiri si nenek bergerak. Tongkat kayu menyusup ke bawah ketiak kanan Boma. Ketika sekali lagi tangan si nenek yang memegang tongkat bergerak, tiba-tiba tubuh Boma bergerak keluar dari dalam timbunan tanah untuk kemudian melesat ke udara.

Sosok si nenek ikut melesat ke udara, menyambar tubuh Boma, lalu membawa tubuh anak lelaki itu melayang turun ke tanah dan lenyap dalam kegelapan.

***

DELAPAN mangkok bakso di atas meja tak satupun yang disentuh. Semua anak begitu asyik mendengar cerita Boma. Kini mereka terdiam dalam alam pikiran masing-masing.

"Wah, baksonya udah dingin 'nih!" Rio yang pertama sekali bersuara.

(48)

"Ceritamu luar biasa Bom. Kayak filem horror aja," kata Vino.

"Bom," kata Gita. "Menurut tim penolong yang pertama kali nemuin kita, kita semua ditemuin di satu tempat datar, di lereng timur Gunung Gede. Semua kita berada dalam kantong plastik milik kita masing-masing."

"Ya, Ayahku juga bilang begitu," kata Boma.

"Siapa yang memasukkan kita ke dalam kantong tidur itu?" Ujar Andi. "Kalau tidak di dalam kantong, lebih dua hari dua malam, nggak makan apa-apa, cuma minum air hujan, kita semua pasti udah pada mati kaku."

"Nenek angker itu...." kata Vino. "Pasti dia yang nolong kita."

"Lalu waktu kita digotong turun, katanya badan kita enteng sekali. Aku yang ceking ini sih oke-oke aja. Tapi si Gita? Mana mungkin bobot seratus kilo lebih dibilang enteng," kata Firman.

Gita cemberut. Teman-temannya menyengir.

"Malam itu," Rio menjawabi ucapan Firman. "Ada petugas yang bilang, kayaknya seperti ada tangan-tangan gaib ikut bantu menggotong tandu...."

"Mungkin nenek angker itu punya anak buah, punya pasukan yang diperintahkannya buat ngebantu tim

(49)

penolong," kata Vino sambil usap-usap tengkuknya.

"Lalu kunang-kunang yang jadi penunjuk jalan?" ujar Gita.,

"Mungkin peliaraannya si nenek," kata Boma.

"Nenek-nenek itu nggak ngedatengin kamu lagi Bom?" tanya Ronny.

Boma menggeleng. "Minta-minta sih jangan deh."

"Emangnya, kenapa kau nanyain nenek-nenek itu Ron?" tanya Gita.

"Kalau memang dia yang nolong kita, kita pantas bilang terima kasih...." jawab Ronny.

"Bom, kalau si nenek memang dateng lagi bilang Ronny Celepuk mau ketemu," kata Gita.

"Gila! Jangan Bom!" kata Ronny. "Gua bisa kojor duluan."

Boma dan kawan-kawannya tertawa.

"Bang, baksonya semangkok lagi!" Tiba-tiba Vino berseru.

Gita langsung membuka mulut

"Nah, apa kata gua tadi! Kamu 'kan yang paling banyak makannya!"

Vino senyum. "Mumpung lagi ditraktir, Git."

Selesai makan bakso, waktu teman-temannya sudah berdiri Boma memberi isyarat pada Dwita agar tetap duduk. Lalu pada teman-temannya Boma berkata. "Kalian

(50)

duluan aja balik ke rumahku. Aku mau ngomong sebentaran sama Dwita."

"Wah, ada rahasia yang kita nggak boleh denger 'nih bo," kata Ronny.

"Bom, kalau mau beduaan jangan di warung bakso dong. Cari tempat yang lebih

representatip!" kata Vino.

"Ah, sok tau lu!" kata Gita sambil menarik tangan Vino.

Setelah teman-temannya pergi Dwita bertanya.

"Ada apa Bom?"

"Aku mau tanya." Boma meluruskan badannya.

"Soal apa?"

"Satu hari sebelum aku keluar Rumah Sakit PMI, ayahku ke kantor Rumah Sakit. Nanyain berapa biaya perawatan yang harus dibayar kalau aku pulang besoknya." Boma sengaja tidak meneruskan kata-katanya, menatap dalam ke mata anak perempuan yang bening bagus itu. Coba melihat reaksi Dwita. Tapi dia tidak melihat perubahan pada wajah dan sepasang mata itu. Mungkinkah anak ini pandai menyimpan rahasia hatinya?

"Terus?" malah Dwita kini yang bertanya.

"Menurut pegawai Rumah Sakit, semua biaya perawatanku sudah ada yang bayar."

"Siapa?"

(51)

kata Boma.

Dwita unjukkan wajah heran. "Kok nanya sama aku?"

"Jujur aja Dwita." "Maksudmu?"

"Kau yang membayar?"

Dwita menatap wajah Boma sesaat. Lalu tersenyum.

"Benar kamu yang bayar?" tanya Boma.

Dwita menggeleng. "Jangan bohong." "Aku nggak bohong." "Lalu siapa?"

"Mana Dwita tau Bom."

Boma terdiam. "Aneh. Kata pegawai Rumah Sakit itu yang bayar perempuan."

"Perempuan 'kan banyak Bom."

"Sayang ayahku tidak nanyain ciri-ciri orangnya. Jadi betul bukan kamu?"

"Buat apa sih aku bohong Bom."

Boma menowel hidungnya lalu berdiri.

(52)

5

MISTERI SANG PEMBAYAR

RONNY CELEPUK mengusap-usap hidungnya yang tinggi bengkok. "Ngapain kau minta diantar ke Rumah Sakit PMI di Bogor, Bom?"

"Aku masih penasaran Ron. Mau nyari tau siapa yang bayarin perawatan waktu aku dirawat"

"Aku curiga pasti Dwita. Habis siapa lagi?"

"Dwita bilang nggak. Aku yakin dia nggak bohong."

"Kalau gitu Trini. Kau udah tanya cewek itu?"

"Ketemu lagi juga belum. Lagian, aku masih sebel sama dia. Gara-gara berita di tabloid itu." Boma diam sebentar lalu meneruskan. "Menurut bokap

gue, pegawai yang melayani pembayaran itu namanya Ibu Mardi. Aku musti nemuin dia. Tanya."

Dari dalam saku kemejanya Boma keluarkan sebuah foto. "Ini foto waktu kita piknik ke Ciater dulu. Ada Trini, ada Dwita. Aku mau kasih liat sama Ibu Mardi. Pasti dia bisa ingat orangnya kalau aku perlihatkan foto ini."

"Sebenarnya gua mau liat anak-anak latihan ben di sekolahan. Tiga Minggu

(53)

lagi 'kan pesta perpisahan anak-anak kelas tiga."

"Kalau kau nggak mau nganterin, aku naik bis juga bisa." Kata Boma.

"Tuh, belon apa-apa kau udah ngambek." Kata Ronny sambil tersenyum.

***

IBU MARDI pegawai Rumah Sakit PMI Bogor orangnya tinggi kurus, berkaca mata besar berusia hampir setengah abad.

"Oo, anak ini yang namanya Boma. Yang dulu dirawat di sini?"

"Betul Bu. Ini teman saya Ronny. Dia juga sama-sama dirawat."

"Wah, saya baca beritanya di tabloid. Cerita adanya nenek-nenek misterius di kamar adik tempo hari sudah tersebar ke mana-mana."

Boma dan Ronny saling pandang. "Ada kabar apa 'nak Boma?"

Boma lalu menerangkan maksud kedatangannya.

"Wah, kejadiannya sudah lama juga. Kalau ketemu orangnya lagi saya pasti ingat..."

"Mungkin Ibu ingat ciri-cirinya?" tanya Boma.

"Orangnya masih muda. Cantik. Bajunya kalau tidak salah blus biru tua, tangan panjang. Digulung...."

(54)

Ronny berbisik. "Bom, yang suka pakai baju biru tangan panjang digulung si Dwita. Pasti dia."

Dari balik baju jaketnya Boma mengambil sebuah amplop. Dari dalam amplop dikeluarkannya sehelai foto. Boma menunjuk wajah Trini dalam foto.

"Mungkin yang ini orangnya Bu?" tanya Boma.

Ibu Mardi memakai kacamatanya, memperhatikan wajah Trini. Lalu menggeleng. Boma menunjuk pada wajah Dwita. "Kalau yang ini?"

Ibu Mardi betulkan letak kaca-matanya, menatap lama. Akhirnya kembali menggeleng. "Bukan.... Orang yang datang membayar memang masih muda. Tapi tidak semuda anak-anak dalam foto ini. Wajahnya cantik gimana ya.,.. Banyak orang cantik tapi yang satu itu cantiknya nggak bosan dipandang. Ada anggunnya. Lebih dewasa dari anak-anak ini. Bicaranya lembut...."

"Kulitnya putih, hitam, atau mungkin belang-belang?" Ronny bertanya konyol.

Ibu Mardi tertawa lebar.

"Seingat Ibu, orangnya berkulit kuning langsat. Raut wajahnya mulus, nggak ada flek nggak ada jerawat."

Boma memandang pada Ronny. "Kau bisa ngeduga siapa orangnya Ron?"

(55)

buntu Bom."

"Nak Boma, memangnya ada apa?" Ibu Mardi bertanya.

"Rasanya nggak enak aja Bu. Ada orang baik, tapi kita nggak tahu siapa orangnya. Nggak bisa bilang terima kasih."

"Ya, 'Nak Boma betul juga. Mungkin ada salah satu saudara ayah atau ibunya 'Nak Boma yang berbaik hati...."

"Mungkin Bu," jawab Boma. Tapi dalam hati dia tahu betul bahwa hal itu tidak mungkin. Semua keluarga ayah atau ibunya hidup pas-pasan. Jangankan untuk membayar uang perawatan rumah sakit, untuk membayar uang sekolah dan uang kuliah anak-anak sendiri saja mereka sering-sering mengalami kesulitan.

Setelah mengucapkan terima kasih Boma dan Ronny keluar dari kantor Rumah Sakit.

Di halaman parkir sambil duduk di jok Honda Tiger merah Ronny menyalakan sebatang rokok.

"Gimana Bom?" tanya Ronny lalu menghembuskan asap rokoknya.

"Aneh. Gua nggak habis pikir," jawab Boma lalu menowel hidungnya sampai tiga kali. "Trini bukan, Dwita juga bukan. Lalu siapa? Sekarang kita mau nyelidik ke mana lagi?"

(56)

dari Gunung Gede yang nyelametin kita itu?"

"Bego amat kamu Ron. Jelas Ibu Mardi tadi bilang yang datang perempuan muda cantik ayu. Bukan nenek-nenek!" Boma berkata dengan wajah setengah bersungut dan sambil mengambil helm yang tergantung di stang motor.

"Gua sih nggak bego-bego amat Bom," jawab Ronny. "Mungkin aja nenek itu muncul dengan bersalin rupa. Menyaru jadi perempuan muda."

"Gue nggak mikir sampai ke situ Ron," kata Boma. Anak ini terdiam sejurus. "Ayo balik Ron. Cabut...."

"Cabut." kata Ronny Celepuk sambil mencampakkan rokok yang baru setengah dihisapnya.

Saat itu seorang anak perempuan manis lewat di depan Ronny bersama adiknya.

"Anak cakep, mau besuk siapa?"

Anak perempuan itu melirik sebentar pada Ronny lalu buru-buru melanjutkan langkahnya.

"Aduh somsenya. Lupa ya sama Ronny."

Tiba-tiba seorang kakek bertongkat tahu-tahu sudah berdiri di depan Ronny. Orang tua ini menyeringai lebar, memperlihatkan barisan giginya yang sudah banyak ompong.

(57)

"Suka ya sama cucu Abah?" si kakek menegur.

Ronny jadi salah tingkah.

"Kalau suka sama cucu Abah, musti belajar tata tertib dulu. Itu tong sampah segede gajah dekat di sebelah sana. Tapi tadi Abah liat situ buang rokok di jalanan seenaknya."

Ronny tersenyum pahit, cepat-cepat naik ke atas motor.

"Kena batunya kau Ron," kata Boma sambil duduk di belakang Ronny.

"Apes gua," jawab Ronny. "Gua kira 'tu cewek cuman sama adeknya."

"Mustinya tadi si Abah kau bujukin. Tawarin rokok."

"Gila 'lu! Kalau diterima, kalau kepala gue yang diketok sama tongkat!"

Boma tertawa mengakak. Dia berpaling ke arah orang tua yang masih berdiri di pelataran parkir lalu melambaikan tangannya. Si kakek membalas dengan mengacungkan tongkat. "Anak sekarang, selalu tidak ada sopannya." Si kakek menggerendeng sendiri lalu membalikkan badan. Ketika mau melangkah dia tidak melihat ada seekor kucing di dekatnya. Salah satu kaki kucing terinjak. Binatang ini mengeong keras kesakitan, hampir mencakar. Si kakek melompat kalang kabut, tongkatnya mental. Dia sendiri nyaris jatuh kalau tidak

(58)

cepat berpegang pada gerobak penjual minuman.

6

PENDEKAR TAHUN 2000

OMBAK pantai selatan bergulung ganas, memecah menghantam jajaran gugusan bukit karang yang membujur dari barat ke timur. Suara menggemuruh tiada henti sepanjang siang sampai malam. Saat itu tepat tengah hari. Sang surya bersinar terik. Langit bersih tak berawan. Hembusan angin sesekali terdengar seperti suara tiupan seruling.

Di salah satu puncak bukit karang, paling tinggi di antara semua bukit-bukit karang yang ada di kawasan pantai selatan, seorang tua berpakaian putih rombeng, lusuh dan dekil tampak duduk bersila di atas batu. Tetapi jika diperhatikan, sosok orang tua ini ternyata tidak menempel ke batu, melainkan mengambang setinggi satu jengkal di atas batu. Siapapun adanya, orang tua ini jelas memiliki ilmu kesaktian tinggi.

Angin laut meniup rambutnya yang putih panjang sepunggung, menyibakkan wajahnya yang sangat cekung di kedua pipi

(59)

dan rongga mata kiri kanan. Walau panas menyengat, bisa membuat gosong kulit manusia, apa lagi kulit lapuk si orang tua, namun aneh dan luar biasa, kulit muka orang tua ini kelihatan pucat pasi seperti muka mayat. Dua matanya yang terpuruk ke dalam rongga dalam membuat tampangnya mengerikan luar biasa. Matanya yang terbuka sedikit membersitkan sinar dingin angker. Sudah enam hari enam malam orang tua ini bersamadi dengan mata nyalang di tempat itu. Dua tangan di lipat di depan dada. Hari demi hari sosoknya naik semakin tinggi dari atas batu karang. Sesekali ada asap putih kelabu mengepul dari ubun-ubun di batok kepalanya.

Di penghujung sore sang surya menggelincir ke barat. Udara berubah temaram, dan mulai gelap ketika sang surya lenyap seolah ditelan samudera raya.

Malam itu adalah malam ke tujuh dari tapa aneh yang dilakukannya. Deru angin menyambar dingin. Di langit muncul bulan sabit. Sepasang mata si orang tua membuka lebih besar. Dalam gelapnya malam tiba-tiba ada cahaya putih kebiru-biruan. Lalu seperti keluar dari dasar laut terdengar suara.

"Muka Bangkai! Hentikan tapamu! Aku datang!"

(60)

Suara itu ternyata suara perempuan. Melengking merobek langit. Di lain kejap satu sosok mengerikan tahu-tahu telah berdiri di hadapan orang tua yang dipanggil dengan nama Muka Bangkai. Sosok yang muncul adalah sosok seorang nenek berjubah biru, berambut merah panjang sekali, riap-riapan sampai menjejak batu karang. Jari-jari tangan dan kaki ditumbuhi kuku-kuku panjang berwarna merah. Ketika dia memandang ke arah si orang tua yang duduk mengapung di atas batu karang, ternyata dia memiliki sepasang mata angker yang juga berwarna merah. Mulutnya yang pencong ke kiri menyeringai. Lalu mulut itu membentak.

"Muka Bangkai, jangan membuat aku menunggu dalam marah! Hentikan tapamu, lekas berdiri!"

Sepasang mata orang tua Muka Bangkai membesar. Dia sudah melihat kedatangan sosok di hadapannya. Rahangnya menggembung, pelipisnya bergerak mendenyut, pertanda orang tua ini sebenarnya tidak suka tapanya diganggu. Tapi sadar siapa yang datang, si Muka Bangkai cepat-cepat rundukkan tubuh hingga keningnya menyentuh batu. Lalu sekali menyentakkan diri tubuhnya melesat satu tombak ke atas, perlahan-lahan turun ke bawah, injakkan kaki di atas batu. Ketika sosoknya berdiri ternyata si Muka

(61)

Bangkai bertubuh bungkuk.

"Eyang Kunti Api, Guru! Aku muridmu Si Muka Bangkai alias Si Muka Mayat mengucapkan selamat datang. Namun mohon maaf, menyesal sekali kalau murid mengatakan kemunculanmu tidak tepat waktu..."

"Tidak tepat waktu?! Apa maksudmu?!" bentak nenek bernama Kunti Api.

"Murid sedang bertapa. Tengah merampungkan satu ilmu baru. Kedatangan Guru membuyarkan dan membatalkan tapa murid. Berarti murid harus mengulang dari semula."

Kunti Api pelototkan mata lalu meludah.

"Murid kufur! Apakah tapamu lebih penting dari kedatanganku?! Apakah kau berani menolak pertemuan ini?! Jawab?!" Sepuluh kuku tangan dan kaki Kunti Api pancarkan sinar menyeramkan. Pertanda amarah telah menyelubungi dirinya.

Asap putih kelabu di atas ubun-ubun Si Muka Bangkai membubung ke atas pertanda kakek ini juga mulai dirasuk kemarahan.

Kunti Api tiba-tiba keluarkan tawa mengekeh.

"Murid sombong! Aku mau lihat sampai dimana kehebatan ilmu kepandaianmu hari ini!"

(62)

Habis berkata begitu si nenek gerakkan tangan kanannya.

"Wusss!"

Puncak bukit karang yang gelap itu jadi terang benderang.

Lima larik sinar merah berkiblat menghantam ke arah lima sasaran di kepala dan tubuh Si Muka Bangkai. Si kakek menjerit kaget. Secepat kilat dia hentakkan kaki kanannya ke batu karang. Tubuhnya melesat ke udara. Di udara dia membuat gerakan jungkir balik. Ketika dia berhasil selamatkan diri dan tegak kembali di atas batu karang, mukanya tambah pucat seolah darahnya baru saja disedot habis. Matanya membujur keluar, menatap ke arah nenek berambut merah panjang riap-riapan yang berdiri di hadapannya sambil umbar tawa bergelak.

"Eyang! Kau mau membunuh murid sendiri?!" teriak Si Muka Bangkai.

"Kalau memang kau perlu kuhabisi apa salahnya?!" jawab si nenek. "Kau berhasil selamatkan diri dari seranganku tadi. Aku merasa lega walau cuma sedikit."

Merinding juga Si Muka Bangkai mendengar jawaban sang guru.

"Guru, aku mohon maaf. Antara kita memang selalu terjadi saling salah mengerti...."

(63)

sikap sombong congkak. Tidak memandang sebelah mata pada orang lain. Sampai-sampai aku gurumupun kau perlakukan acuh tak acuh! Dan sifat burukmu itu sudah kau turunkan pula pada muridmu Pangeran Matahari!" (Mengenai Si Muka Bangkai dan Pangeran Matahari harap baca buku-buku serial "Wiro Sableng" Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212).

"Guru, Eyang Kunti Api, tidak maksud murid berlaku kurang ajar terhadapmu...."

"Sudah, aku sudah lama tahu sifatmu. Kau memang kurang ajar! Ayo, kau masih mau menjawab?!" bentak Eyang Kunti Api.

"Eyang, maaf kan saya. Mohon kau mau memberi tahu maksud kedatanganmu," kata Si Muka Bangkai sambil merunduk.

"Karena mengejar ilmu kau tidak mengetahui apa yang tengah terjadi di dunia sana. Telingamu jadi tuli, matamu jadi buta."

"Eyang Guru, aku selalu memerintahkan muridku Pangeran Matahari untuk memantau keadaan di delapan penjuru angin. Dia selalu datang memberikan laporan pada waktu-waktu tertentu. Hanya saja, belakangan ini dia sudah lama tidak muncul. Belum murid ketahui dimana dia berada. Eyang Guru, mohon murid diberi tahu apa yang tengah terjadi di dunia

(64)

sana?"

"Seseorang tengah menyusun satu rencana besar. Rencana besar yang sangat berbahaya bagi kita dan kawan-kawan dari dunia hitam."

"Eyang, mohon diberi tau siapa adanya seseorang itu dan apa rencana besar yang Eyang maksudkan itu."

"Sinto Gendeng, nenek jahanam dari Gunung Gede...!"

"Ah, dia rupanya yang punya peranan," ujar Si Muka Bangkai. "Apa yang tengah dilakukannya, Eyang?"

"Tua bangka itu tengah merencanakan kehadiran seorang pendekar baru. Pendekar Tahun 2000."

"Pendekar Tahun 2000?" mengulang Si Muka Bangkai.

"Jika hal itu sampai kejadian, ini merupakan satu malapetaka besar bagi kita semua dari golongan hitam. Lebih celaka kita tak akan mampu menguasai dunia sana."

"Kalau begitu kita harus melakukan sesuatu Eyang Guru."

"Apa yang ada dalam benakmu, Muka Bangkai?"

"Menghancurkan rencana Sinto Gendeng." Jawab Si Muka Bangkai alias Si Muka Mayat, guru Pangeran Matahari dari puncak Gunung Merapi.

(65)

caranya?!" tanya Kunti Api.

"Dua cara. Pertama habisi Sinto Gendeng. Kedua habisi sang calon pendekar."

Eyang Kunti Api dongakkan kepala. Dari sepasang matanya keluar memancar sinar merah menembus kegelapan malam.

"Muridku Muka Bangkai, katakan padaku. Siapa yang bakal melakukan semua itu. Siapa yang akan menghabisi Sinto Gendeng dan Pendekar Tahun 2000?!"

Kakek bermuka sepucat mayat berpikir sejenak lalu menjawab. "Aku akan perintahkan muridku Pangeran Matahari melakukan dua tugas itu."

"Tolol sekali!" tiba-tiba si nenek rambut merah membentak sambil hunjamkan kaki kiri ke batu karang hingga bukit batu itu bergetar hebat, membuat sosok bungkuk Si Muka Bangkai terhuyung-huyung. "Apa menurut otak tololmu Pangeran Matahari muridmu itu akan mampu menghadapi si jahanam Sinto Gendeng?"

"Maafkan murid jika berpikir terlalu picik. Eyang, aku mohon petunjukmu," kata Si Muka Mayat pula.

"Yang kita hadapi satu urusan besar. Maha penting, sangat berbahaya, bukan main-main. Karena semua ini akan menentukan masa depan orang-orang golongan hitam di dunia sana. Itu sebabnya aku sengaja menyempatkan diri

Referensi

Dokumen terkait