WALAU malam itu Si Muka Bangkai telah sampai di puncak Gunung Gede, namun dia tidak segera mendatangi pondok kayu kediaman Sinto Gendeng. Menggempur seorang sakti setingkat Sinto Gendeng pada malam hari terlalu berbahaya. Bukan mustahil pondok kayu itu dipasangi segala macam senjata rahasia yang bisa membantainya sebelum tugas terlaksana. Dari tempat tersembunyi Si Muka Bangkai mengawasi bangunan itu. Ada lampu menyala di dalam pondok, pertanda penghuninya ada di tempat itu.
Pagi hari, baru saja sang surya muncul menampakkan diri dan puncak Gunung
Gede disapu cahaya terang benderang. Si Muka Mayat segera keluar dari persembunyiannya, berkelebat mengelilingi pondok dua kali lalu berdiri bungkuk dan berkacak pinggang di depan pintu pondok.
"Sinto Gendeng, aku Si Muka Bangkai datang untuk minta kau punya nyawa!"
Si Muka Bangkai berteriak sampai tiga kali, lalu melesat ke atas wuwungan pondok kayu. Menunggu. Sekian lama dia berada di atas atap pondok, tak terdengar suara gerakan di dalam rumah. Tak ada yang keluar. Si Muka Bangkai merutuk sendiri dalam hati.
"Malam tadi ada lampu menyala. Nenek jahanam itu pasti ada dalam pondok. Kini diteriaki mengapa dia diam saja? Jangan-jangan sudah merat dinihari tadi?" Dari atas atap kembali Si Muka Bangkai berteriak. Tetap saja tak ada gerakan tak ada yang keluar dari dalam pondok. "Aku harus bertindak!" Si Muka Bangkai mengambil keputusan.
Sekali kakinya menghantam atap pondok jebol berantakan. Lewat atap yang jebol kakek ini melesat masuk ke dalam pondok. Memandang berkeliling pondok dia dapatkan bangunan itu dalam keadaan kosong. Lampu minyak yang menempel di dinding tidak menyala.
"Kurang ajar! Aku kena ditipu. Nenek jahanam itu pasti sudah kabur
menjelang pagi tadi. Pengecut!"
Si Muka Bangkai ingat sesuatu. Dia mendongak dan menghirup udara dalam-dalam.
"Aku tak mencium bau pesing. Nenek jahanam itu jelas-jelas memang sudah kabur!" Kakek muka pucat itu mendumal seorang diri.
Saking marahnya Si Muka Bangkai hancurkan perabotan yang ada di dalam pondok. Yakni sebuah balai-balai kayu, satu meja dan satu kursi reyot. Ketika dia melihat gentong besar yang terletak di sudut ruangan, sesaat dia menaruh curiga.
"Jangan-jangan bangsat itu sembunyi di dalam gentong! Tolol! Kau kira bisa memperdayai diriku!" Si Muka Bangkai umbar tawa bergelak. Bersamaan dengan itu dia hantamkan dua tangannya. Sepuluh larik sinar merah melesat ke arah gentong besar terbuat dari tanah.
"Braaakkk!" "Byaaarr!"
Gentong tanah hancur berantakan. Tapi Sinto Gendeng ternyata tidak sembunyi di dalam gentong. Gentong itu kosong! Si Muka Bangkai terbungkuk-bungkuk memaki panjang pendek. Pintu depan dihajarnya dengan tendangan. Kakek ini lalu melesat keluar pondok. Matanya menyorot merah. Masih kurang puas dia
menyelidik seputar pondok. Di sudut luar pondok sebelah kiri belakang dia melihat sebuah gentong besar. Lebih besar dari yang tadi dihancurkannya di dalam pondok. Di atas tutupan gentong ada sebuah gayung terbuat dari batok kelapa. Mungkin karena marah, mungkin juga karena sudah lama tidak meneguk air. Si Muka Bangkai merasa haus. Dia dekati gentong besar, mengambil gayung dan membuka penutup gentong. Air gentong kelihatan jernih, penuh sampai ke leher gentong.
Si Muka Bangkai celupkan gayung batok kelapa ke dalam gentong. Sehabis minum sekalian dia hendak mencuci muka dan membasahi rambut. Tetapi apa yang terjadi kemudian membuat guru Pangeran Matahari ini menjadi kaget setengah mati. Dengan mata mendelik besar dia memperhatikan bagaimana gayung yang hendak diangkat dan didekatkan ke mulutnya kini telah buntung. Kepala gayung dari batok kelapa tak ada lagi di ujung gagang gayung! Di saat bersamaan Si Muka Bangkai mencium bau pesing. Bau itu datang menyambar dari dalam gentong besar.
Penuh curiga kakek bungkuk ini berjingkat, ulurkan kepala dekat-dekat agar bisa melihat ke dalam gentong lebih jelas. Pada saat itulah tiba-tiba satu tangan kurus kering berkulit hitam
melesat dari dalam gentong. Si Muka Bangkai tersentak kaget. Dia berusaha jauhkan kepalanya dari mulut gentong tapi terlambat. Satu jotosan keras melanda dagu Si Muka Bangkai.
Kakek itu menjerit keras. Tubuhnya mencelat sampai dua tombak. Dagunya serasa hancur. Kepalanya laksana tangga. Mukanya jadi pencong tak karuan. Selagi Si Muka Bangkai pegangi dagu dan kepala sambil meraung kesakitan, dari dalam gentong besar melesat keluar sosok basah kuyup seorang nenek-nenek mengenakan kebaya dan kain panjang butut. Di kepalanya menancap lima tusuk konde terbuat dari perak putih. Dari mulutnya mengumbar suara tawa bergelak. Berdiri di tanah tangan kanan berkacak pinggang, tangan kiri menuding ke arah Si Muka Bangkai.
"Kasihan! Tamu datang dari jauh ingin minum. Mau cuci muka. Tapi gayungnya amblas. Hik... hik... hik! Biar aku tolong. Tidak kepalang tanggung. Biar mandi dan cebok sekalian! Hik... hik... hik!"
Habis berkata begitu Sinto Gendeng angkat tangan kanannya. Gentong besar penuh air bergerak. Luar biasa sekali. Perlahan-lahan gentong ini naik ke atas setinggi kepala manusia lalu melayang ke arah Si Muka Bangkai. Di atas sosok si
kakek gentong bergerak membalik. Air bau pesing dalam gentong yang sudah bercampur air kencing si nenek mencurah deras, mengucur tumpah membasahi sekujur kepala dan tubuh Si Muka Bangkai.
Dalam menahan sakit dan ledakan amarah yang tidak tertahan Si Muka Bangkai hantamkan tangan kanannya ke atas.
"Braaakkk! Byaaar!" "Buuurrr!"
Gentong besar pecah berantakan. Seluruh air tumpah membasahi Si Muka Bangkai. Sinto Gendeng kembali tertawa cekikikan.
"Sinto Gendeng keparat! Amblas nyawamu!"
Si Muka Bangkai berteriak. Serentak dengan itu dia kirimkan serangan ganas. Sepuluh jari tangan keluarkan kilatan cahaya merah, menghantam ke arah si nenek. Kaget Sinto Gendeng bukan kepalang. Dia sudah lama berseteru dengan kakek satu itu dan tahu betul setiap ilmu yang dimiliki Si Muka Bangkai. Kalau hari itu dia bisa menyerang dengan sepuluh larik sinar merah yang luar biasa hebat dan panasnya, sungguh dia tidak menduga. Guru Pendekar Wiro Sableng ini segera berkelebat selamatkan diri tapi tak urung bahunya masih sempat terserempet salah satu larikan sinar merah hingga si nenek
menjerit kesakitan. Bahunya yang luka kepulkan asap kelabu. Di belakang sana larikan sinar merah yang dilepaskan Si Muka Bangkai melabrak pondok kayu. Pondok itu hancur berantakan dan musnah dilalap kobaran api.
"Jahanam kurang ajar! Kau memang sengaja datang mengantar nyawa!" Sinto Gendeng membentak marah. "Kau hancurkan pondokku. Kini kuhancurkan tubuhmu!" Si nenek pukulkan tangan kanannya. Dia keluarkan jurus bernama "Kilat Menyambar Puncak Gunung" tapi yang sebenarnya dilepaskan adalah pukulan sakti bernama "Benteng Topan Melanda Samudera".
Tempat itu laksana dilanda topan. Deru angin bukan olah-olah dahsyatnya. Tanah, batu dan pasir berhamburan ke udara. Pohon-pohon bergoyang hebat, cabang dan rerantingan serta semak belukar patah beterbangan. Sosok bungkuk Si Muka Bangkai bergetar hebat. Dada terangkat, kepalanya seperti hendak tanggal. Dua kakinya goyah. Perlahan-lahan mulai terangkat. Dia kerahkan seluruh tenaga dalam. Mata melotot ke depan, dua telapak tangan terpentang ke arah Sinto Gendeng. Mulutnya yang tadi kena dihajar pencong berkomat-kamit.
Sinto Gendeng keluarkan suara menggeram ketika melihat bagaimana kekuatan tenaga dalam lawan sanggup
membendung serangannya. Selangkah demi selangkah dia maju mendekati Si Muka Bangkai. Kakek bungkuk muka pucat tak tinggal diam. Dia segera pula bergerak ke depan menyongsong lawan. Tinggal tiga langkah lagi tiba-tiba keduanya sama-sama membentak hebat dan hantamkan seluruh tenaga dalam yang mereka miliki.
Dua jeritan dahsyat menggeledek keluar dari mulut Sinto Gendeng dan Si Muka Bangkai. Bedanya kalau si nenek terpental sampai tiga tombak maka sang kakek mencelat empat tombak dan masih terguling lagi di tanah dengan tubuh dan wajah berkelukuran. Bedanya lagi kalau Sinto Gendeng menjerit murni keluarkan suara maka Si Muka Bangkai menjerit sambil semburkan darah segar! Jelas dalam hal tenaga dalam dan hawa sakti guru Pangeran Matahari itu masih berada di bawah guru Pendekar 212 Wiro Sableng.
Terbungkuk-bungkuk, sambil menyeka darah yang berselomotan di mulutnya Si Muka Bangkai bangkit berdiri. Tampangnya semakin pucat angker. Memandang ke depan dilihatnya Sinto Gendeng telah lebih dulu berdiri sambil berkacak pinggang, menyeringai komat-kamit permainkan susur di dalam mulutnya yang perot.
"Sinto Gendeng, jangan mengira kau telah mengalahkan diriku!" tiba-tiba Si Muka Bangkai keluarkan ucapan.
"Ketahuilah hari ini adalah hari kematianmu! Tapi aku Si Muka Bangkai berjanji akan membiarkan utuh jazadmu, jika kau mau menjawab satu pertanyaanku!"
Sinto Gendeng semburkan ludah susurnya lalu tertawa mengikik. "Ada orang mau membunuh pakai perjanjian segala! Hik... hik.... hik! Apa kau tidak sadar kalau nyawa dalam tubuhmu saat ini sebenarnya hanya tinggal setengah?! Hik... hik... hik!"
"Keparat jahanam!"" Si Muka Bangkai memaki sambil pukulkan tangan kanan. Lima larik sinar api merah serta-merta menyambar ke arah si nenek. Sinto Gendeng cepat melompat. Dari atas dia lepaskan pukulan sakti yang selama ini telah menggetarkan delapan penjuru rimba persilatan. Pukulan "Sinar Matahari."
Tangan si nenek mulai dari jari sampai ke siku berubah menjadi putih perak menyilaukan. Ketika tangan itu dipukulkan maka berkiblatlah cahaya panas mengerikan, menyambar ke arah Si Muka Bangkai.
Hebatnya Si Muka Bangkai seperti tidak perduli dengan datangnya serangan maut itu. Dia angkat dua tangannya ke atas. Jari-jari berkuku panjang menekuk demikian rupa, memancarkan sinar merah. Ketika cahaya putih panas pukulan "Sinar Matahari" sampai di hadapannya, Si Muka
Bangkai putar dua tangan, membuat gerakan seperti menangkap! Sungguh luar biasa! Sinto Gendeng sampai melotot besar menyaksikan bagaimana cahaya putih pukulan sakti yang dilepaskannya berhasil ditangkap lawan. Dan belum habis kagetnya tiba-tiba Si Muka Bangkai lemparkan cahaya putih panas itu ke arahnya, disertai dengan serangan sepuluh sinar merah!
Selagi Sinto Gendeng jungkir balik selamatkan diri sambil membentengi tubuh dengan dua pukulan sakti yakni "Tameng Sakti Menerpa Hujan" dan "Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih" tiba-tiba Si Muka Bangkai melesat ke depan. Sepuluh jari tangan kanannya yang berkuku panjang menyambar ke arah dua mata si nenek.
Sepuluh Cakar Iblis! "Crass!"
Walau Sinto Gendeng mampu bergerak cepat selamatkan matanya namun salah satu cakaran lawan masih sempat menyerempet pelipis kirinya hingga kulit mukanya yang tipis hitam tergores dalam dan kucurkan darah!
Sinto Gendeng keluarkan suara menggembor dahsyat. Dia hendak menghantam dengan dua pukulan sekaligus, mengerahkan tenaga dalam penuh. Namun selintas pertanyaan muncul dalam benaknya. Mengapa lawan sengaja menyerang dua matanya?
Pasti ada maksud tertentu. Si nenek kemudian ingat pada ilmu kesaktian yang bersumber pada sepasang matanya.
"Hemmm... Tua bangka keparat ini menyerang dengan ilmu Sepuluh Jari Iblis. Setahuku dia dulu tidak memiliki ilmu itu. Sepuluh jari tangannya tidak berkuku panjang. Dia ingin mencungkil dua mataku. Dia hendak melumpuhkan ilmu yang bersumber pada kekuatan yang tersimpan dalam mataku!" Si nenek meludah ke tanah.
Melihat Sinto Gendeng tegak seperti tertegun, Si Muka Bangkai mengira lawan telah leleh nyalinya. Maka dia pun membentak.
"Sinto Gendeng! Katakan siapa nama pemuda yang hendak kau jadikan Pendekar Tahun 2000!"
Sinto Gendeng terkesiap mendengar pertanyaan itu. Keningnya yang hitam mengerenyit. Dia tahan gejolak hatinya. Lalu menyeringai.
"Tua bangka muka mayat! Siapa yang menyuruhmu menanyakan hal itu?!"
"Aku datang sendiri dan ajukan pertanyaan sendiri! Tak ada yang menyuruh!" jawab Si Muka Bangkai. "Kau mau menjawab atau mampus percuma?!"
"Tua bangka muka pucat! Kau berdusta! Sekarang biar aku memilih mampus percuma! Aku mau lihat bagaimana kau melakukannya!" jawab Sinto Gendeng
lalu tertawa cekikikan.
Asap putih kelabu mengepul dari batok kepala Si Muka Bangkai. Untuk dapat mencungkil dua mata lawan dia harus bertempur dalam jarak pendek. Sebelum berkelebat mendekati si nenek, kakek ini lepaskan pukulan sakti larikan sepuluh api merah. Ketika lawan berkelit untuk selamatkan diri, laksana terbang dia melesat ke arah Sinto Gendeng. Tapi Sinto Gendeng dua jengkal dari atas tanah. Dua mata yang mendelik besar dikedipkan. Bersamaan dengan itu terdengar suara berdesir. Dua larik sinar biru menyambar bersilang laksana dua belah pedang, membabat dan menusuk ke arah Si Muka Bangkai. Kakek ini berseru kaget. Dia belum sempat mendekati lawan tapi Sinto Gendeng sudah mendahului dengan serangan yang paling ditakutinya.
Untuk selamatkan diri dengan mengelak sudah tidak mungkin. Si Muka Bangkai berjibaku membentengi tubuh dengan pukulan sepuluh larik sinar api.
"Wusss! Wussss!" "Bummmm!"
Ledakan keras menenggelamkan jeritan yang keluar dari mulut Si Muka Bangkai. Dia berhasil selamatkan diri dari dua larik sinar biru yang mematikan, namun untuk itu dia terpaksa merelakan tangan kirinya. Tangan itu hancur putus
sebatas siku. Si Muka Bangkai sendiri terpental ke udara. Sinto Gendeng ikuti sosok lawan dengan gerakan dua matanya. Mata dikedipkan. Dua larik sinar biru kembali menggebu. Kali ini Si Muka Bangkai tidak punya kesempatan untuk mengelak atau menangkis. Sesaat lagi tubuhnya akan hancur ditembus dua larik sinar maut itu tiba-tiba satu bayangan biru disertai rambut merah riap-riapan berkelebat di udara. Dengan cepat bayangan ini menarik tubuh Si Muka Bangkai lalu memanggulnya. Sebelum berkelebat lenyap si jubah biru berambut merah hantamkan tangan kanannya ke arah Sinto Gendeng. Segulung kobaran api melabrak dahsyat. Sinto Gendeng cepat bentengi tubuh dengan pukulan "Benteng Topan Melanda Samudera" lalu dari matanya dia semburkan dua larik sinar biru.
Untuk kedua kalinya puncak Gunung Gede dilanda dentuman dahsyat akibat bentrokan dua ilmu kesaktian hebat. Sinto Gendeng tegak tergontai-gontai, wajah berkerut kelam. Memandang ke depan Si Muka Bangkai dan orang yang menolongnya telah lenyap.
Sinto Gendeng menggeram. Walau cuma sekilas namun dia sudah bisa menduga siapa adanya orang yang menolong dan melarikan Si Muka Bangkai.
hitam itu masih gentayangan rupanya. Pasti dia yang menyuruh Si Muka Bangkai untuk mencelakai diriku...." Si nenek geleng-gelengkan kepala. "Orang-orang dari dunia hitam agaknya telah bergerak.
Anak setan itu. Aku harus segera menemuinya. Orang-orang golongan hitam sudah tahu rencana besarku. Anak itu dalam bahaya. Dirinya harus segera diisi ilmu kepandaian...."