TABUH KREASI RARE KUAL
I Kadek Putra Guna Wisnawa, I Nyoman Kariasa, dan I Gde Made Indra Sadguna
Institut Seni Indonesia Denpasar
Jalan Nusa Indah Denpasar, Telp (0361) 227316, Fax (0361) 236100
E-mail [email protected]
ABSTRAK
Pada masa ini anak cenderung menjadi keras kepala, pembangkang dan tidak penurut. Ketika
menjalani masa kanak-kanaknya, jalan pemikiran masih sering dikuasai oleh emosi yang mengarah
pada keinginan-keinginan, ia cenderung menikmati hidupnya dengan cara bermain-main, seakan-akan
tidak pernah memikirkan apa yang terjadi akibat permainan yang dilakukannya. Manja, nakal,
cengeng, lincah, memiliki jiwa petualang, enerjik dan aktif, dan pendiam adalah beberapa contoh
sifat-sifat dimasa kanak-kanak yang menggambarkan diri seorang anak. Berkumpul dan bermain
dengan teman sebayanya kadang kala menjadi saat yang tepat untuk melupakan emosinya, tangis dan
tawa kerap mewarnai perseteruan mereka sehingga menjadi suatu warna kehidupan di masa
kanak-kanak.
Sifat nakal atau handal wajar dimiliki oleh anak-anak. Mereka biasanya cenderung aktif, usil
dan tidak takut bahaya. Selain itu, anak mempunyai banyak akal atau ide yang membuat mereka
selalu berkeinginan untuk mengetahui suatu hal yang menurut mereka baru.
Anak memang tidak sama dengan orang dewasa, jalan pemikiran anak masih sering kali
dikuasai oleh emosinya yang mengarah pada keinginan – keinginan bermain. Apabila setiap keluarga
disoroti kemungkinan akan ada tidaknya persoalan dengan anak, maka akan terlibat macam-macam
derajat kesulitan. Bahkan mungking saja bahwa tidak semua keluarga menyadari adanya suatu
kesulitan. Permasalahan yang disebabkan oleh kenakalan anak, justru sering menyangkut pihak –
pihak lain.
Melihat penjelasan tersebut kenakalan yaitu hal yang dilakukan secara tidak baik. disini yang
di alami penata, yaitu kenakalan yang kreatif, yang di maksud kenakalan kreatif menurut penata yaitu
kenakalan yang dilakukan untuk kesenangan dirinya ataupun bersama temannya, dengan
menggunakan alat-alat dapur yang dipukul supaya menghasilkan suara yang diinginkannya. Pada saat
masa kecil diri saya sendiri dengan kenakalan yang pernah dilakukan pada saat masa kecil yaitu
dengan mengambil prabot-prabot rumah tangga atau dapur untuk dipukul supaya menghasilkan bunyi
yang diinginkannya. Dimana juga sering mrngambil kain-kain bekas yang masih layak pakai dan
digunakan sebagai mainan barong-barongan. Kata
Rare Kual
berasal dari 2 (dua) suku kata yaitu
Rare
dan
Kual,
dalam bahasa Indonesia kata
Rare
berarti
anak
dan
Kual
berarti
nakal
. Dan dimana bisa
disebutkan dalam bahasa Indonesia berarti
anak
yang
nakal
.
Abstrak
At this time children tend to be stubborn, opposition and disobedient. When their, the way of
think still often dominated by the emotion that leads in the desires. They tends to enjoy their life by
playing around, never thinking about what happened if they did. Spoiled, mischievous, whiny, lively,
has an adventurous spirit, energetic, active and stolid are some examples of childhood traits described
by a child. Gather and play with friends sometimes be a good time to forget their emotions, tears and
laughter often becom the color in their pronlem to become a life in childhood.
Naughty or reliables is a natural thing of children. They usually tend to be active,nosy and not
afraid of danger. Besides children have many ideas that make them always want to know something
new thing.
with children will be involving various thing degree of dificulty. Even thogh not all families are aware
of that dificullty. Problem caused by child mischief, it’s often relate to other parties.
Seeing the explanation of a misbehavior is done badly. Here is experienced by the author is a
creative mischief. Creative misbehavior is a delinquency done for the pleasure of themseves or wiyh
their friends by using a kitchenware that is played to get the desired sound. In my childhood, the
behavior i have ever done is to take and play a housewares or kitchenwares to get the deries sound.
And also use clothes are still good to be used as a barong toys. The word of rare kual is from 2
syllables that is rare and kual, in indosenian language rare means child and kual means naughty. Then
in indonesian language means a naughty child.
PENDAHULUAN
Manusia adalah ciptaan Tuhan yang lahir ke dunia dengan jenis kelamin yang berbeda, yakni
lelaki dan perempuan. Tiap manusia mengalami siklus kehidupan dari masa kanak-kanak, remaja, dan
tua. Semua orang tidak akan pernah tahu bagaimana perjalanan hidupnya sendiri karena hidup ini
penuh dengan misteri, oleh sebab itu keyakinan, perjuangan, kebersamaan, dan kerja keras memang
hal mutlak yang harus dilakukan oleh semua manusia untuk bertahan hidup. Lahir, hidup, dan mati
adalah proses yang akan dilalui oleh setiap manusia. Dimulai dari terbentuknya janin, lahir dan
tumbuh menjadi seseorang manusia dengan perjalanan hidup dari masa ke masa merupakan proses
yang harus dilalui oleh setiap manusia. Dalam perjuangan manusia apalagi masa kanak-kanak yang
lugu, lucu, riang, gembira dan memiliki keingin tahuan yang kuat sungguh sangat menarik.
Anak adalah mahluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk
membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak terlahir dengan segala kelemahan. Anak
juga cenderung memiliki pribadi yang masih bersih peka terhadap rangsangan-rangsangan yang
berasal dari lingkungan. Masa kanak-kanak berlangsung dari 2 tahun sampai 6 tahun. Perkembangan
fisik pada masa ini berjalan lambat tetapi kebiasaan atau fisologis dasarnya yang diletakkan pada
masa bayi menjadi cukup baik. Pada saat awal masa kanak-kanak dianggap sebagai masa belajar
untuk mencapai berbagai ketrampilan dan mencoba hal baru. Pertumbuhan seorang manusia dalam
masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat meguras kesabaran para orang tua. Pada akhir masa
kanak-kanak usia 3-4 tahun paa masa ini anak-anak cenderung agresif dan posesif (Gunarsa, 1986).
Pada masa ini anak cenderung menjadi keras kepala, pembangkang dan tidak penurut. Ketika
menjalani masa kanak-kanaknya, jalan pemikiran masih sering dikuasai oleh emosi yang mengarah
pada keinginan-keinginan, ia cenderung menikmati hidupnya dengan cara bermain-main, seakan-akan
tidak pernah memikirkan apa yang terjadi akibat permainan yang dilakukannya. Manja, nakal,
cengeng, lincah, memiliki jiwa petualang, enerjik dan aktif, dan pendiam adalah beberapa contoh
sifat-sifat dimasa kanak-kanak yang menggambarkan diri seorang anak. Berkumpul dan bermain
dengan teman sebayanya kadang kala menjadi saat yang tepat untuk melupakan emosinya, tangis dan
tawa kerap mewarnai perseteruan mereka sehingga menjadi suatu warna kehidupan di masa
kanak-kanak.
Sifat nakal atau handal wajar dimiliki oleh anak-anak. Mereka biasanya cenderung aktif, usil
dan tidak takut bahaya. Selain itu, anak mempunyai banyak akal atau ide yang membuat mereka
selalu berkeinginan untuk mengetahui suatu hal yang menurut mereka baru.
Anak memang tidak sama dengan orang dewasa, jalan pemikiran anak masih sering kali
dikuasai oleh emosinya yang mengarah pada keinginan – keinginan bermain. Apabila setiap keluarga
disoroti kemungkinan akan ada tidaknya persoalan dengan anak, maka akan terlibat macam-macam
derajat kesulitan. Bahkan mungking saja bahwa tidak semua keluarga menyadari adanya suatu
kesulitan. Permasalahan yang disebabkan oleh kenakalan anak, justru sering menyangkut pihak –
pihak lain.
menggunakan alat-alat dapur yang dipukul supaya menghasilkan suara yang diinginkannya.
Pada saat masa kecil diri saya sendiri dengan kenakalan yang pernah dilakukan pada saat
masa kecil yaitu dengan mengambil prabot-prabot rumah tangga atau dapur untuk dipukul supaya
menghasilkan bunyi yang diinginkannya. Dimana juga sering mrngambil kain-kain bekas yang masih
layak pakai dan digunakan sebagai mainan barong-barongan. Kata
Rare Kual
berasal dari 2 (dua)
suku kata yaitu
Rare
dan
Kual,
dalam bahasa Indonesia kata
Rare
berarti
anak
dan
Kual
berarti
nakal
.
Dan dimana bisa disebutkan dalam bahasa Indonesia berarti
anak
yang
nakal
.
Penata ingin membuat sebuah garapan komposisi karawitan dengan mengangkat konsep
kehidupan diri sendiri di masa kecil. Menggunakan gambelan gong kebyar sebagai media ungkap
yang berbentuk tabuh kreasi dengan judul
Rare Kual
dengan mengungkap arti anak yang nakal
.
de Garapan
Perkembangan seorang anak dengan penuh gerak gerik lincah ialah anak yang bisa
menemukan hal-hal baru. Aktivitas seorang anak dalam kehidupan sehari-hari dengan rasa ingin
tahu yang besar. memperhatikan tingkah laku seorang anak yang tidak terduga dan nakal, dengan
memukul-mukul alat dapur supaya menghasilkan suara yang dihasilkannya untuk bermain bersama
teman-temannya ataupun menghibur dirinya, dan mengambil kain-kain bekas yang dimiliki oleh
ibunya utuk dijadikan mainan barong-barongan. Disini terkadang juga membuat jengkel para orang
tua. Namun semua itu masih bisa diterima dengan akal sehat melihat keberadaan anak itu yang
masih dibawah umur. Sehingga timbul ketertarikan bagi penata untuk menggarap sebuah karya
tabuh kreasi yang masih berpijak pada pola-pola tradisi. Pengertian komposisi kreasi baru dalam
buku estetika karawitan menjelaskan “sebuah komposisi karawitan yang diaransir baru kendatipun
materi tradisi masih sangat menonjol, karena yang diinovasi lebih bersifat ornamentasi unruk
menampilkan nuansa baru, sedangkan aspek musikalnya masih mengunakan materi tradisi dan sifat
konfensionalnya masihsangat kuat” (Suweca,2009:45).
Istilah kreasi baru belum lama digunakan dalam gong kebyar untuk menyebut salah satu bentuk
gending dalam gong kebyar yang baru disusun. Menurut Dibia, istilah kreasi baru digunakan sejak
akhir tahun 1960-an, yaitu pada festival gong kebyar se-Bali,
merdangga utsava
pada tahun 1968.
Kalau dilihat dari pengertiannya “kreasi baru” merupakan susunan gending hasil kreativitas seniman
yang mengandung unsur-unsur kebaruan, artinya sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada. Kata
“baru” digunakan untuk membedakan dengan hal-hal yang sebelumnya sudah ada. Hardjana,
menjelaskan, bahwa pengertian kata “baru” sebagai batas penyimpangan (perbedaan, perubahan) dua
kutub (yang tidak jarang sering mendiskriditkan) atau yang dianggap “masa lalu” dan “masa yang
sedang berlangsung’ pendapat ini juga ditegaskan oleh Anak Agung Made Djelantik, yang
menghasilkan bentuk-bentuk kesenian baru yang belum pernah terwujud sebelumnya (Dibia,1994:53).
Unsur kebaruan yang digunakan dalam bentuk gending krasi baru antara lain adanya penyajian
tungguhan tunggal, artinya suatu bagian gending yang disajikan oleh satu jenis tungguhan seperti
tungguhan suling, ceng-ceng barangan, dan kendang.
Pada bentuk gending kreasi sangat memberikan kebebasan seniman dalam mengungkapkan
expresinya lewat medium suara yang diwadahi pada berbagai jenis tungguhan (Sukerta, 2009:213),
serta di dalamnya terdapat teknik
kotekan
, kekebyaran yang nantinya berbentuk komposisi kreasi
yang bertemakan kehidupan anak kecil dan membingkainya dengan judul
Rare Kual.
Pembentukan sebuah karya sudah barang tentu didasari dengan sebuah konsep sebagai rancang
bangun dari sebuah karya. Konsep dalam hal ini sangat membantu atau mempermudah seorang
komposer atau penata dalam suatu pembentukan sebuah karya yang ingin diangkat untuk dijadikan
sebuah karya musik ataupun karya dalam bidang karawitan. Selain itu dalam konteks karya seni
akademik, sebuah konsep garapan akan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memberikan
pertanggungjawaban secara komperensif terhadap hasil karya yang telah dibuat. Ada beberepa bagian
dalam proses garap antara lain, bahan garap, penggarap, prabot garap, pertimbangan garap, dan
penunjang garap.
dalam susunan melodi atau jalinan melodi yang akan dituangkan penata dalam karya musik
karawitan.
Penggarap adalah seniman
pengerawit
atau penyusunan sebagai pelaku garap dalam music
karawitan penggarapan disini berperan penting karena kalau tidak ada penggarap tidak ada sebuah
karya, begitu juga gending tidak akan terlahir. Penggarap berperan didalam karya ini dalam
menempatkan posisi sebagai seseorang komposer (seorang yang menggarap komposisi).
Prabot garap adalah benda fisik berupa alat atau instrumen musik yang digunakan para
penggarap sebagai sarana atau media untuk menggarap suatu karya musik lewat media bunyi ataupun
suara. Dalam karya ini penata menggunakan media ungkap barungan gambelan gong kebyar,
gambelan gong kebyar adalah satu barungan gambelan bali yang menurut penata cocok digunakan
dalam menggarap karya ini.
Sarana garap adalah perangkat berupa konsep musikal atau aturan norma yang telah terbentuk
oleh tradisi. Salah satu pertimbanggan penggarap yaitu laras, bentuk dan setruktur gending. Laras
yang penggarap gunakan sudah barang tentu mengunakan laras pelog 5 (lima) nada. laras pelog
adalah susunan nada-nada dalam satu angkep atau oktaf yang berseruti 5 (lima) tidak sama, terdiri
dari panjang pendek sebagai identitas gambelan gong kebyar (Dibia, 1977).
Komposisi karawitan “
Rare Kual”
ini merupakan sebuah karya tabuh kreasi yang secara umum
konsep musikalnya masih mengacu kepada konsep garap musik tradisi, seperti halnya dalam konsep
tri Angga
yaitu
kawitan, pengawak
, serta
pengecet.
Berpijak dari konsep tradisi ini, tentunya akan
selalu menjadi pijakan maupun pedoman yang mendasari dari sebuah karya komposisi karawitan.
Pada intinya bagian-bagian yang sesuai dengan konsep
tri angga
seperti kepala (
Pengawit
), badan
(
pengawak
), kaki (
pengecet
) tersebut dikembangkan melalui pengembangan unsur-unsur musikalnya.
Dalam garapan tabuh kreasi ini memakai media ungkap gamelan gong kebyar, itu dikarenakan
gamelan ini sangat mendukung karakter maupun suasana yang diinginkan. Selain itu saya tertantang
dengan penggolahan gambelan gong kebyar. Sesuai dengan kebutuhan dari garapan ini,
penata didalam garapan ini akan menggunakan 29 penabuh sebagai pendukung.
Tujuan Garapan
Dalam melakukan perwujudan karya seni pasti ada tujuan yang ingin dicapai, tanpa suatu
tujuan sebuah garapan karya seni biasanya tiak terlahir secara utuh. Penata memiliki beberapa tujuan
yang ingin dicapai, antara lain:
A. Tujuan umum
Untuk menuangkan daya kreativitas, serta potensi dalam berkesenian melalui penggarapan
komposisi karawitan, guna menciptakan karya yang bermutu dan berkualitas.
Untuk menambah reportoar penciptaan karawitan dengan menggunakan media ungkap
gambelan gong kebyar.
Untuk mengembangkan kreativitas tehnik perminan melodi, ritme, tempo, dinamika didalam
mendukung garapan komposisi hingga terkesan utuh.
B. Tujuan khusus
Mewujudkan garapan komposisi karawitan dengan media ungkap gambelan gong kebyar.
Untuk menuangkan imajinasi penata ke dalam sbuah komposisi karawitan.
Untuk menggambarkan masa kanak-kanak dengan rasa ingin tahunya yang kuat yang
Mafaat Garap
Manfaat garap yang dapat diperoleh dari penyusuna komposisi karawitan tabuh kreasi
karawitan ini adalah :
1.
Menambah pengetahuan dan pengalaman penata sebagai seorang seniman akademis.
2.
Penata mendapatkan pengalaman baru sebagai jembatan untuk menciptakan garapan
karawitan.
3.
Dapat meningkatkan kreativias, pengalaman, serta menambah wawasan dalam berkarya seni
yang nanti sangat berguna, baik bagi penata maupun masyarakat.
4.
untuk evaluasi dari dan mengaplikasikan hasil belajar sekaligus mengukur kemampuan
didalam berkreativitas seni.
Ruang Lingkup
Untuk membatasi ruang tafsir dan apresiasi terhadap garapan komposisi yang berjudul “
Rare
Kual”
ini, penata memberikan pemaparan batasan karya sebagai berikut:
1.
Garapan komposisi ini secara khusus hanya disajikan dengan menggunakan gambelan gong
kebyar.
2.
Garapan komposisi yang berjudul “
Rare Kual”
adalah bentuk karawitan kreasi yang masih
berpegangan pada pola-pola tradisi. Pengembangannya terdapat pada pola permainan, serta
pengolahan
unsur-unsur
musikal
seperti
nada,
melodi,
irama
( ritme ), tempo, harmoni,dan dinamika. Sifat estetik seperti
unity
( kesatuan ),
intensity
(
kekuatan, keyakinann ), dan
complexity
( kerumitan ), tetap dijadikan pijakan serta acuan
dalam mewujudkan karya yang berkualitas.
3.
Garapan ini secara structural terdiri dari 4 (Empat) bagian yaitu bagian I, bagian II, bagian,III,
dan bagian IV.
Bagian I : Dalam garapan
Rare kual
ini menggambarkan seorang anak yang mempunyai
semangat yang membara untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari
Bagian II : Dalam garapan ini menceritakan seorang anak yang berkumpul bersama teman
sebayanya untuk merencanai sebuah pertualangan dengan memuaskan rasa ingin tahunya
yang begitu kuat.
Bagian III : Dalam garapan ini ciri khas dari seorang anak yang kreatif muncul.
Bagian IV : Dari garapan ini. Pada bagian ini dengan menggambarkan anak-anak yang
merasakan kepuasan dalam hatinya tetapi tidak menurunkan semangat mereka untuk mencari
dan menemui hal yang baru bagi kepuasan batinya, hingga mencerminkan anak yang
memiliki rasa ingin tahu yang kuat.
KAJIAN SUMBER
Untuk mendapatkan suatu karya yang bermakna berkeilmuan sistematis dan dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah harus didukung dengan beberapa kajian sumber, artikel-artikel
untuk member atau informasi untuk dijadikan landasan di dalam mewujudkan suatu komposisi secara
lebih mendalam dan meyakinkan. Adapun sumber-sumber tersebut ialah:
Pengetahuan Karawitan Bali.
I WM Aryasa. 1948. Buku ini berisikan beberapa jenis
gambelan bali dan instrument serta nama gending-gendingnya. Dalam buku ini terdapat informasi
tentang fungsi dan instrument dari gambelan.
Ubut-Ubitan Sebuah Tehnik Permainan Gambelan Bali
. I Made Bandem 1987. Dalam buku
ini disebutkan ada beberapa jenis ubitan-ubitan yang ada dalam permainan gambelan bali. Memalui
buku ini penata mendapatkan masukan mengenai penggunaan beberapa jenis tehnuk
ubit-ubitan
yang
ditranspormasikan lewat karya.
Estetika karawitan.
I Wayan Suweca 2009
,
Institut Seni Indonesia Denpasar. Dibuku ini
berisikan penjelasan estetika komposisi dan menjelaskan tentang kerawitan kreasi baru.
Sumber Diskografi
Sumber audio maupun vidio sangan penting sebagai sarana munculnya inspirasi pada penata.
Demikian dalam garapan ini penata juga menggunakan rekaman berupa audio dan vidio yana akan
dikembangkan dalam proses penggarapan. Adapun sumber diskografi antara lain sebagai berikut:
Mp3 tabuh kreasi, Lekesan, Festival Gong Kebyar PKB 2004 kota Denpasar karya I Nyoman
Windha SSkar.MA juga menginspirasi penata untuk mengelola melodi-melodi, sebab kreasi
lekesan tersebut banyak memakai melodi-melodi yang sangat manis dan dinamis untuk
didengar.
Rekaman mp3
Pujawali
karya I Dewa Alit. Dalam karya ini penata mendapatkan inspirasi
tantang cara pengolahan atau permainan modulasi.
Rekaman mp3 kreasi
campuhan
karya Wayan Widya duta Kecamatan Menguwi dalam
festival gong kebyar yang diadakan di pusat pemerintahan Kabupaten Badung. Dalam karya
ini penata mendapatkan pengolahan-pengolahan permainan setiap instrumen yang menurut
penata menarik.
Mp3 tabuh kreasi angklung,
Damuh
karya Agun duta Kecamatan Petang. Dalam Karya ini
penata mendapat inspirasi untuk mengolah melodi.
PROSES KREATIVITAS
Tahap Penjajagan ( Eksplorasi )
Langkah awal dari keseluruhan proses kerja komposisi adalah ekplorasi, menjelajahi
kemungkinan terhadap komponen musik yang pada hakekatnya tidak hanya ditentukan oleh
unsur-unsur yang tampak. Pengamatan terhadap elemen-elemen komposisi yang dipakai sebagai alat
ekspresi, seperti; material nada, tonalitas (laras), ritme, melodi, harmoni dan instrumentasi tidak hanya
cukup dinikmati sebagai komposisi. Di sini diperluka pandangan yang menyeluruh terhadap nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya seperti ekspresi musikal. Termasuk nilai-nilai estetika, nilai historis,
dan nilai sosial sangat penting dilakukan sebagai pandangan langkah selanjutnya.
Berawal dari cerita ibu penata kepada diri penata sendiri yang menceritakan prlaku-prilaku
penata pada saat kecil, dengan bermain sesuka hatinya dan berpetualang dengan teman-teman
sebayanya merupakan kegiatan yang sering penata lakukan setiap hari. Memiliki sifat seperti itu orang
tua penata tidak mendidiknya dengan keras, karena sebagai orang tua harus memahami sifat anaknya
yang sedang dalam masa pertumbuhan dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat.
ibu penata sendiri kepada penata sendiri, bahwa diri penata saat kecil itu bia dibilang sangatlah nakal
dan sering bermain tak mengenal waktu. Dengan cerita itu penata menggunakan judul
Rare Kual
.
Penata mengungkapkan ide tersebut dengan media ungkap gambelan gong kebyar
pengamatan media yang dipakai, maka penata juga memikirkan untuk bisa memberi kesan yang
berbeda supaya terkesan kekanak-kanakan yang ingin mengetahui hal yang baru bagi
dirinya.Berdasarkan ide tersebut dan didukung dengan semangat membara penata mencar sumber,
buku-buku yang terkait dengn ide dan tema garapan dengan sumber didapatkan penata membulatkan
tekat mengangkat ide tersebut menjadi sebuah karya seni yang berjudul
Rare Kual
.
Tahap percobaan ( improvipasi )
Dalam tahap ini teman-teman sepakat latihan Tgl 15 mei 2017, sebagai penata umat hindu
mempunyai keyakinan bahwa untuk melakukan kegiatan apapun bentuknya, terlebih dahulu
melakukan upacara
nuasen
, guna memohon restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar apa yang
dilakukan nantinya bisa berjalan dengan lancar dan sukses. Upacara ini dilakukan di tempat latian
yaitu di banjar Senapan, Carangsari Petang. Pada tanggal 15 mei 2017.
Setelah melakukan persembahyangan penata melakukan latihan ringan agar intinya untuk
memulai latihan ini dengan tujuan agar di beri keselamatan dan berjalan dengan lancar dilatihan
selanjutnya. Pada latihan ini penata menerangkan apa yang akan digarap agar mempermudah para
pendukung untuk memahami setiap bagian-bagiannya yang terdapat dalam garapan. Selanjutnya
memperkenalkan instrumen-instrumen yang digunakan. Sesudah selesai latihan disepakai untuk latian
berturut-turut selama 3 (tiga) hari, dan pendukung menyanggupi untuk latihan selama 3 (tiga) hari.
Tahap Pembentukan ( forming )
Tahap akhir dari garapan komposisi musik yaitu tahap pembentukan menjadi sebuah komposisi
karawitan yang utuh. Pada tahap ini penata mulai memilih, menghubungkan satu temuan dengan
temuan lainnya, baik yang berupa warna suara, melodi, ritme, dan dinamika.Tahap ini juga
menyangkut pengendapan hasil temuan, pertimbangan, dan pembobotan scara estetis musikalitas.
Bagian-bagian yang telah dicari, dirangkai menjadi satu bentuk komposisi yang pada dsarnya masih
kasar dan belum utuh.
Perbaikan-perbaikan terus dilakukan, agar komposisi ini menjadi lebih rapi dan bersih,
sehingga enak untuk didengar.Disamping itu perlu juga diberikan aksen-aksen, watak, dan corak
tertentu yang ditonjolkan sebagai suatu identitas agar diperoleh sebuah komposisi misik yang
berkualitas. Penjiwaan dan kekompakan pendukung dalam garapan ini sangat dibutuhkan, karena hal
tersebut menentukan dalam menyampaikan pesan dan kesan yang terkandung dalam garapan, supaya
penonton mengerti dari bahasa musik yang penata sajikan.
Ditahap ini setelah melakukan upacara nuasen dilaksanakan latian selama tiga kali
berturut-turut. Dalam latihan tersebut penata menerangkan instrument yang akan dipakai, bagaimana pola-pola
yang digunakan disetiap bagian sehingga pendukung bisa menghayati dalam memainkannya.
Penuangan dimulai dengan bekal materi yang sudah dicatat.Terkadang materi yang sudah dituangkan
berhasil dengan baik tetapi ada juga materi yang kurang enak atau perlu diperbaiki sehingga
membtuhkan kesabaran dalam berkarya.
WUJUD GARAPAN
Wujud garapan memurapakan hasil dari serangkaian proses kreativitas yang telah dilalui. wujud
adalah sesuatu yang tampak secara konkrit atau sesuatu yang dapat dipersepsi dengan mata atau
telinga. Berbicara tentang wujud garapan, satu hal yang tidak dapat dilepaskan adalah bentuk. Bentuk
mengacu pada hal yang bersifat spesifik dan konkrit (Djelantik, 1999:19). Menurut Sukerta, bahwa
bentuk pada gilirannya menunjukkan pada pengertian struktur yang merupakan “ketentuan”
keputusan rekayasa karya seni yang bersifat material (bunyi, suara, nada, ritme, harmoni, dan
seterusnya) dan non material (dinamika, sifat, watak, warna, rasa, dan seterusnya) diakomodasikan.
Perlu dibatasi bahwa bentuk yang dimaksud oleh Sukerta adalah mengacu pada konteks penciptaan
komposisi musik. Antara wujud dan bentuk merupakan implikasi dari serangkain proses kreativitas
yang telah dilalui serta didalamnya memuat berbagai unsur, ketentuan, cara dan aspek lain yang
sifatnya sangat relative. Relative dalam artian bahwa proses pembentukan guna mencapai sebuah
wujud dikembangkan pada tafsir serta respon inteprrtatif dari setiap komposer ataupun pencipta karya
seni (Sukerta, 2009:209).
Deskripsi Garapan
Garapan tabuh kreasi
Rare Kual
merupakan garapan yang menggunakan satu
barung
gamelan
gong kebyar sebagai media ungkap. Struktur garapan ini terdiri dari empat bagian yang setiap bagian
mempunyai pola- pola yang dikembangkan baik dari teknik permainannya dan motif-motif
gendingnya. Pengembangan tersebut diolah dari unsur-unsur musikal seperti ritme, melodi,
dinamika, dan warna suara yang ditimbulkan sehingga diharapkan bisa mewujudkan sebuah garapan
yang terkesan baru.
Keutuhan
(Unity)
Keutuhan yang dimaksudkan bahwa karya yang indah menunjukan dalam keseluruhan sifat
yang utuh atau tidak ada cacatnya, berarti tidak ada yang kurang dan tidak ada yang berlebihan.
Terdapat hubungan yang bermakna (
relevan)
antar bagian tanpa adanya bagian yang sama sekali tidak
berguna atau tidak mempunyai hubungan dengan bagian yang lain (Djelantik, 1990: 32-33). Keutuhan
dari garapan ini terlihat dari berhasilnya penyampaian pesan kepada penikmat melalui komposisi yang
dihasilkan. Masing-masing bagian mempunyai makna, kesan, nuansa yang tercermin dari konsep
yang diangkat.
Penonjolan
(Dominance)
Penonjolan mempunyai maksud mengarahkan perhatian orang yang menikmati suatu karya seni
pada sesuatu hal tertentu, yang dipandang lebih penting dari hal-hal yang lain (Djelantik, 1990 : 41).
Penonjolan dalam garapan ini dapat diamati pada perubahan ritme dan melodi disetiap bagian garapan
ini. Dapat pula diamati dari pergantian tempo, dari tempo cepat ke tempo lambat atau sebaliknya dan
permainan instrumen secara bergantian. Dalam garapan ini terdapat penonjolan dibagian ketiga
dengan menambahkan permainan motif bebarongan. Penambahan motif tersebut dikarenakan ingin
menonjolkan kesan rasa keingintahuan seorang anak yang sangat tinggi.
Keseimbangan
(Balance)
penonjolan yang dilakukan oleh setiap instrumen baik berupa melodi, ritme, tempo, dan dinamika
sehingga keseimbangan bisa terwujud dalam garapan ini. Dalam garapan ini ditambahkan motif
permainan bebarongan untuk memberikan kesan keingintahuan seoang anak. Permainan motif
bebarongan tersebut terdapat pada bagian ketiga.
Analisa Simbol
Membahasahkan sebuah komposisi musik untuk ditransformainkan kedalam wujud patitur
memerlukan bebereapa simbul guna mempermudahkan kita untuk memahami sekaligus untuk
menganalisa strukturnya. Kegiatan ini dikenal dengan sistem penotasian komposisi. Notasi iyalah
sistem pencatatan musik (gambelan) yang setidaknya mengandung dua persyaratan bunyi dalam
musik yaitu nada dan jarak nada, notasi dalam gambelan Bali disebut
titilaras
(Bandem, 2013:144).
Sistem penotasian yang penulis aplikasikan garapan ini adalah menggunakan simpol pengangge
aksara Bali.
Table
Pengangge Aksara Bali Pelong Tujuh Nada
No.
Symbol
Aksara
Dibaca
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
1
2
3
4
5
6
7
Cecek
Pepet
Ulu
Tedong
Taleng
Suku ilut
Suku
Dang
Daing
Ding
Dong
Deng
Deung
Dung
Struktur Garapan
Garapan
Rare Kual
disusun berdasarkan komposisi atau struktur garapan yang terdiri dari
empat bagian pokok yang disebut dengan bagian I, II, III, IV, masing-masing mempunyai
karakteristik berbeda dari unsur-unsur yang ada.Struktur garapan
Rare Kual
adalah sebagi berikut.
Bagian I
Bagian pertama dalam garapan
Rare Kual
ini menggambarkan seorang anak yang mempunyai
semangat yang membara untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari dan terdapat juga suasana dengan
tempo pelan yang menceritakan seorang ayah yang sedang memberi bimbingan kepada anaknya.
Dalam penggambaran struktur komposisi garapannya diawali dengan permainan bersama dengan
teknik penutupan semua bilah, dengan memukul nada
dang
terus dilanjutkan dengan kebyar
.
Penata
memilih teknik ini karena menginginkan perasaan yang mempunyai semangat membara muncul.
Adapun notasi dari bagian pertama ini sebagai berikut:
Melodi:
.4.3 ...5 .3.. ....
..17 54(3)... ....
(1)341 3457 5313 1753
53.. 3..1 4.71
153. 5153. 5754. 5754.
4 kali pengulangan
1. 5 1. 3 4.3 4. 7
5 kali pengulangan
153. 5153. 5754. 5754. Transisi
1. 5 1. 3 4.3 4.
5 kali pengulangan
Bagian II
Bagian kedua dalam garapan ini menceritakan seorang anak yang berkumpul bersama teman
sebayanya untuk merencanai sebuah pertualangan dengan memuaskan rasa ingin tahunya yang begitu
kuat. Bagian ini penata membuat melodi yang dibawakan oleh instrumen jublag dan suling, sehingga
menimbulkan keceriaan anak-anak dalam perkumpulannya. Dalam bagian ini juga ditambahkan
aksen-aksen dari instrumen reyong sehingga menambah kesan anak-anak yang mempunyai rasa ingin
mencoba semua hal yang dirasakannya. Hal inilah yang diungkap pada bagian kedua dengan notasi
sebagai berikut:
Melodi :
13 5 15 3 4 5 3 45 7
8 kali pengulangan
17 5 43 1 43 7 13 3 Transisi
13 5 15 3 4 5 3 45 7
4 kali pengulangan
17 5 43 1 43 7 13 3 Transisi
13 5 15 3 4 5 3 45 7
2 kali pengulangan, tempo pelan
13 5 15 3 4 5 3 45 7
2 kali pengulangan, tempo cepat
1.57.45 34571. .3451 Transisi 2 kali pengulangan
13 5 15 3 4 5 3 45 7
2 kali pengulangan, tempo cepat
1754. 1754. 1754. 1754.
4 kali pengulangan
1.57.45 34571. .3451 Transisi 2 kali pengulangan
1754. 1754. 1754. 1754.
4 kali pengulangan
1754. 3.. . 5...1.(1) Transisi
Bagian III
aktivitas seorang anakyang mencoba segala hal yang baru bagi mereka. Adapun pemaparan notasi
dari bagian ketiga ini yaitu sebagi berikut:
Melodi :
5475 1713 ...5 ...1.(1)
5475 1713 ...5 ...1.(3)
..1.3 ..4.5 ..4.5 ..1.3
..1.3 ..4.5 ..4.5 ..1.3
...5 ...1.(1)
5475 1713 ...5 ...1.(1)
5475 1713 ...5 ...1.(3)
..1.3 ..4.5 ..4.5 ..1.3
..1.3 ..4.5 ..4.5 ..1.3
1713
.1.7.5713 .1.7. 5735
.1.7.5713 .1.7. 5735
.1.7.5713 .1.7. 5735
.1.7.5713 .1.7. 5735
.1.7.5713 .1.7. 5735
.1.7.5735 .1.7. 5713
175754 1353154345 45545454
1.4. 1.4 .(1)
Bagian IV
Bagian keempat merupakan bagian akhir dari garapan ini. Pada bagian ini dengan
menggambarkan anak-anak yang merasakan kepuasan dalam hatinya tetapi tidak menurunkan
semangat mereka untuk mencari dan menemui hal yang baru bagi kepuasan batinya, hingga
mencerminkan anak yang memiliki rasa ingin tahu yang kuat adalah anak yang kreatif dan pintar.
Adapun wujud dari garapan bagian keempat ini dalam bentuk notasi yaitu sebagai berikut:
Melodi :
135 135 135 135
135 135 135 135
1.35 135 577 777
(3)... 3... 1... 1...
3... 3... 1... 1...
3... 3... 1... 1...
3... 3... 1... 1...
..5.1 ..5.1 ..5.1 ..5.1
..5.1 ..5.1 ..5.1 ..5.1
..5.1 ..5.1 ..5.1 ..5.1
..5.1 ..5.1 ..5.1 ..5.1
175754
1343134345457571713171757543134345457
175431 345..45...(7)
Fungsi Instrumen
Fungsi dari masing-masing instrumen Gong Kebyar dalam garapan ini tidak jauh menyimpang
dari fungsi sebelumnya (tradisi), hanya saja ada beberapa insrtumen yang dikembangkan fungsinya,
tentunya disesuaikan dengan kebutuhan musikalitas untuk mendukung ide dari garapan ini.Adapun
fungsi instrumen dalam garapan ini adalah sebagai berikut:
ugal
- Membawa melodi gending
- Menghubungkan ruas-ruas gending
Pemade Kantilan
.
- Membuat jalinan-jalinan tertentu
- Memberi hiasan terhadap nada pokok berupa
ubit-ubitan
Jublag
- Menentukan jatuhnya pukulan jegogan
- Memperjelas tekanan-tekanan gending pada setiap akhir kalimat lagu.
- Dalam garapan ini fungsi dari instrumen jegogan juga dikembangkan
sebagai pembawa melodi.
Reong
- Memberikan
angsel-angsel
(ritme)
- Membuat jalinan motif-motif tertentu
- Memberi hiasan pada nada pokok berupa
ubit-ubitan
- Membuat jalinan melodi tertentu dengan permainan tunggal
Kendang
- Sebagai pemurba irama
- Sebagai penghubung ruas-ruas gending
- Memberi
angsel-angsel
Gong, kempur dan klentong
Gong
- Sebagai finalis lagu/gending
- Memberikan tekanan-tekanan sesuai dengan tujuan lagu itu sendiri
- Tapi dalam garapan ini jatuhnya pukulan gong tidak memakai hitungan
artinya jatuhnya pukulan gong pada lagu yang tepat.
.Kempur
- Memberi aksen pada itungan tertentu
- Pematok ruas gending
Klentong
- Dimainkan secara bergantian dengan kempur dalam satu gong
Kajar dan ceng-ceng ricik
Kajar
- Sebagai pemegang tempo
Ceng-ceng ricik
- Sebagai pengisi irama
- Membuat
angsel-angsel
, variasi-variasi tertentu bersama dengan
- kendang.
suling
- Memperindah bagian-bagian gending yang lirih
- Membuat suasana tertentu
- Menjalankan melodi
- Dalam garapan ini suling sangat memegang melodi.
Kostum
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada BAB I sampai BAB IV di atas, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Komposisi karawitan
Rare Kual
merupakan sebuah garapan kreasi Gong Kebyar yang
diwujudkan dengan konsep tentang kehidupan anak kecil yang lincah dan memiliki rasa
keingintahuan yang sangat kuat. Garapan ini adalah garapan yang menggunakan gamelan berlaraskan
pelog yaitu gamelan Gong Kebyar. Struktur garapan ini terdiri atas empat bagian, yaitu bagian
pertama, bagiankedua, bagian ketiga dan bagian keempat dengan beberapa transisi untuk
menghubungi bagian-bagian tersebut, dimana masing-masing bagian tersebut mempunyai karakter
musikal yang berbeda sesuai dengan suasana yang ingin diungkapkan. Kemampuan yang diperoleh
dalam menempuh studi di Institut Seni Indonesia Denpasar telah mampu mewujudkan karya seni
karawitan yang berjudul
Rare kual.
Saran-saran
Dalam garapan komposisi karawitan
Rare Kual
ini banyak
pengalaman yang didapat. Dari pengalam tersebut ada beberapa hal yang penata
ingin sampaikan kepada para pembaca, diantaranya :
Mewujudkan sebuah karya seni bukanlah suatu hal yang mudah untuk mendapatkan hasil yang
memuaskan, oleh karena itu diperlukan kesiapan yang cukup matang agar tidak merasa terbebani.
Dalam berkarya, kematangan konsep dan ide adalah kunci untuk meraih kesuksesan, karena semakin
matang konsep dan ide itu maka semakin lancer jalan yang dilalui dalam berkarya.
Kepada mahasiswa yang mengambil jalur penciptaan, berkaryalah dengan penuh semangat, dan
ciptakan karya sebanyak-banyaknya karena akan mampu menambah bekal dan pengalaman untuk
menjadi seorang komposer handal. Setiap penata sudah tentu memiliki kekurangan dan kelebihan.
Dalam berkarya lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Penata berharap
semoga karya-karya yang dihasilkan oleh para seniman bisa tetap berkualitas dan tetap dicintai oleh
masyarakat luas.
DAFTAR PUSTAKA
Alma M. Hawkins.
Creating thragh dance,
1990, University of California Los Angeles. Dialih
bahasakan ke Bahasa Indonesia oleh Y. Sumadio Hadi. Seni Indonesia Yogyakarta. p.28.
Aryasa, I WM, dkk 1948.
“Pengetahuan Karawitan Bali”
Denpasar ; Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Pengembangan Kesenian Bali.
Bandem, I Made 1987. “
Ubit-Ubitan Sebuah Tehnik Permainan Gambelan Bali”
. Denpasar ;Sekolah
Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar.
Djelantik. A. A.M. 1990. “Pengantar Estetika Jilid I”. Denpasar ;Sekolah Tinggi Seni Indonesia
(STSI) Denpasar.
. 1999. “
Estetika Sebuah Pengantar”.
Bandung : Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
(MSPI).
Suweca
.
I Wayan 2009.“
Estetika karawitan”.
Denpasar ;Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)