BAB II
UPAYA PENINGKATAN MEMBACA PEMAHAMAN
MELALUI PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES
2.1. Pembelajaran Membaca Pemahaman di SD
Pembelajaran membaca pemahaman di SD lebih ditekankan pada kelas
tinggi salah satunya pada kelas V. Tujuan pembelajaran membaca pemahaman
adalah untuk memperoleh pengetian tentang sesuatu atau untuk tujuan belajar
sehingga memperoleh wawasan yang lebih luas tentang sesuatu yang dibaca
Tarigan (1993).
Kegiatan membaca pemahaman ada pula yang menyebutkan dengan
membaca teliti. Namun kita tidak menggunakan istilah membaca teliti mengingat
ada kesan bahwa membaca teliti selalu dilakukan dengan lambat. Padahal dalam
membaca pemahaman kecepatan membaca yang kita gunakan mungkin bervariasi,
bergantung pada bahan bacaan yang kita baca. Bila bahan yang dibaca itu berisi
penjelasan mengenai ciri-ciri demokrasi, misalnya kita akan membaca bagian itu
dengan kecepatan maksimal, sedangkan apabila bacaan itu berisi detail data-data
berupa angka (misalnya) mungkin kecepatan kita dalam membaca agak
berkurang.
Pembelajaran membaca pemahaman di SD mempunyai manfaat praktis,
diantaranya meningkatkan keterampilan membaca siswa khususnya membaca
Beberapa hal yang menyangkut faktor yang mempengaruhi terwujudnya
keterampilan membaca pemahaman siswa diantaranya tersedia sarana dan
prasarana, kemauan dan motivasi anak, teknik membaca yang digunakan guru.
Teknik membaca yang baik akan mengantarkan siswa untuk terampil
membaca, hal lainnya adalah metode yang digunakan guru haruslah sesuai dengan
karakteristik siswa baik secara individu maupun kelompok. Keterampilan
membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan
mendengarkan dan berbicara. Tetapi pada masyarakat yang memiliki tradisi
literasi seringkali keterampilan membaca dikembangkan secara terintegrasi
dengan keterampilan menyimak dan berbicara.
Membaca pemahaman di Sekolah Dasar dikenal dengan membaca dalam
hati. Membaca dalam hati adalah suatu kemampuan yang sangat diperlukan dalam
kegiatan sehari-hari. Ada beberapa keuntungan membaca dalam hati yaitu
kemampuan membaca lebih cepat sehingga lebih banyak informasi yang diserap
dan tidak mengganggu lingkungan sehingga suasana tidak gaduh.
Hal-hal yang menghambat kelancaran membaca dalam hati yaitu: (1)
menggerak-gerakkan bibir,(2) menunjuk kalimat yang dibaca, (3) kepala masih
bergerak mengikuti kalimat yang dibacanya, dan (4) bahan bacaan mengandung
banyak kata-kata yang sukar (Depdiknas, 1993).
Pengajaran membaca dalam hati harus didasari dengan kemampuan
isi bacaan secara cepat dan cermat, baik yang tersurat maupun yang tersirat, yang
meliputi pertanyaan ingatan dan pertanyaan yang bersifat pikiran atau kecerdasan.
Langkah-langkah pembelajaran membaca pemahaman atau membaca
dalam hati di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:
a. Guru menerangkan kata-kata yang diperkirakan sulit dan baru bagi siswa.
b. Siswa diberi waktu kurang lebih 15 menit untuk membaca dalam hati .
c. Siswa supaya menutup buku bacaan.
d. Guru memberikan pertanyaan bacaan.
e. Membuat ringkasan bacaan.
f. Menceritakan isi bacaan.
2.1.1 Hakekat Membaca
Membaca pada hakikatnya adalah proses yang melibatkan banyak hal,
tidak hanya sekedar melibatkan aktivitas visual, psikolinguistik dan metakognitif.
Membaca adalah proses visual menerjemahkan simbol tulis (huruf) ke
dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berfikir, membaca mencakup aktivitas
pengenalan kata biasa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan
kamus (Crawley dan Mountain, 1995 dalam buku Keterampilan Berbahasa
Indonesia SD)
Membaca merupakan suatu proses, dimaksudkan informasi dari teks dan
pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam
2.1.2. Pengertian Membaca Pemahaman
Menurut Tarigan (1989) bahwa membaca pemahaman (reading for
understanding atau comprehensive reading) merupakan salah satu bagian dari jenis membaca ekstensif telaah isi (content study reading) yang bertujuan untuk
memahami (a) standar-standar atau norma-norma kesusastraan (literary standars),
(b) resensi kritis (critical review), (c) drama tulis (printed drama), (d) pola-pola
fiksi (patterns of fiction).
Membaca pemahaman yaitu membaca yang merujuk kepada jenis kegiatan
membaca dalam hati yang dilakukan untuk memperoleh pengertian tentang
sesuatu atau untuk tujuan belajar sehingga memperoleh wawasan yang lebih luas
tentang sesuatu yang dibaca.
Membaca pemahaman adalah proses pemikiran yang kompleks untuk
membangun empat pengetahuan pemahaman, pengetahuan itu diantaranya:
a. Pemahaman literal (literal comprehention) yaitu meliputi pemahaman
terhadap apa yang dikatakan atau disebutkan, yang diperoleh dengan
memahami arti kata, kalimat dan paragraf dalam konteks bacaan itu seperti
apa adanya.
b. Pemahaman interpretatif (interpretative comprehention) yaitu berusaha
memahami apa yang dimaksudkan oleh penulis dalam teks bacaan,
aktifitanya antara lain berupa: menarik kesimpulan, membuat generalisasi,
memahami hubungan sebab akibat,dan menemukan fakta yang disebutkan
c. Pemahaman kritis (critical comprehention) merupakan membaca yang
bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap suatu teks bacaan dengan
jalan melibatkan diri dengan sebaik-baiknya kedalam teks bacaan itu.
d. Pemahaman kreatif (creative comprehention), ini merupakan level tingkat
membaca paling tinggi. Pembaca pada tingkat ini harus berfikir kritis dan
harus menggunakan imajinasinya.
Adapun aspek-aspek dalam membaca pemahaman yaitu meliputi:
a. Memahami pengertian-pengertian sederhana, mencakup:
1) Kemampuan memahami kata-kata atau istilah, baik secara leksikal
maupun secara gramatikal yang terdapat di dalam suatu bacaan.
2) Kemampuan memahami pola-pola kalimat, bentuk-bentuk kata serta
susunan kalimat-kalimat panjang yang sering dijumpai di dalam tulisan
resmi,
3) Kemampuan menafsirkan lambang atau tanda tulisan yang terdapat dalam
bacaan.
b. Memahami signifikasi atau makna, yang mencakup:
1) Kemampuan memahami ide-ide pokok yang dikemukakan oleh pengarang,
2) Kemampuan mengaplikasikan isi karangan dengan kebudayaan yang ada,
c. Dapat mengevaluasi isi dan bentuk karangan
d. Dapat menyesuaikan kecepatan membaca dengan tujuan yang hendak dicapai.
Membaca pemahaman di Sekolah Dasar dikenal dengan membaca dalam
hati. Membaca dalam hati adalah suatu kemampuan yang sangat diperlukan dalam
kegiatan sehari-hari. Ada beberapa keuntungan membaca dalam hati yaitu
kemampuan membaca lebih cepat sehingga lebih banyak informasi yang diserap
dan tidak mengganggu lingkungan sehingga suasana tidak gaduh.
2.1.3 Keterampilan Membaca Pemahaman di SD
Pembelajaran membaca pemahaman di SD bertujuan untuk memperoleh
pengetian tentang sesuatu atau untuk tujuan belajar sehingga memperoleh
wawasan yang lebih luas tentang sesuatu yang dibaca. Kegiatan membaca
pemahaman ada pula yang menyebutkan dengan membaca teliti. Namun kita tidak
menggunakan istilah membaca teliti mengingat ada kesan bahwa membaca teliti
selalu dilakukan dengan lambat. Padahal dalam membaca pemahaman kecepatan
membaca yang kita gunakan mungkin bervariasi, bergantung pada bahan bacaan
yang kita baca. Bila bahan yang dibaca itu berisi penjelasan mengenai suatu
materi secara garis besar, maka kita akan membaca bagian itu dengan kecepatan
maksimal, sedangkan apabila bacaan itu berisi detail data-data berupa angka
Pembelajaran membaca pemahaman di SD mempunyai manfaat praktis,
diantaranya meningkatkan keterampilan membaca siswa khususnya membaca
pemahaman karena siswa mendapat informasi cara membaca yang efektif.
Beberapa hal yang menyangkut faktor yang mempengaruhi terwujudnya
keterampilan membaca pemahaman siswa diantaranya tersedia sarana dan
prasarana, kemauan dan motifasi anak, teknik membaca yang digunakan guru.
Teknik membaca yang baik akan mengantarkan siswa untuk terampil membaca,
hal lain yang digunakan metode yang digunakan guru haruslah sesuai dengan
karakteristik siswa baik secara individu maupun kelompok. Membaca adalah
keterampilan reseptif bahasa tulis. Keterampilan membaca dapat dikembangkan
secara tersendiri, terpisah dari keterampilan mendengarkan dan berbicara. Tetapi
pada masyarakat yang memiliki tradisi literasi seringkali keterampilan membaca
dikembangkan secara terintegrasi dengan keterampilan menyimak dan berbicara.
Dalam membaca ada beberapa keterampilan mikro yang harus dimiliki
pembicara diantaranya: (1) mengenal sistem tulisan yang digunakan, (2) mengenal
kosa kata, (3) menentukan kata-kata kunci yang mengidentifikasi topik dan
gagasan utama, (4) menentukan makna kata-kata, termasuk kosakata split dari
konteks tertulis, (5) mengenal kelas kata gramatikal: kata benda, kata sifat,dan
sebagainya, (6) menentukan konstituen-konstituen dalam kalimat, seperti subjek,
predikat, objek dan preposisi, (7) mengenal bentuk-bentuk dasar sintaksis, (8)
merekonstruksi dan menyimpulkan situasi, tujuan-tujuan dan partisipan, (9)
menggunakan perangkat kohesif leksikal dan gramatikal guna menarik
kohesif leksikal dan gramatikal untuk memahami topik utama atau informasi
utama, (11) menggunakan ide utama dari detail-detail yang disajikan, (12)
menggunakan strategi membaca yang berbeda terhadap tujuan-tujuan membaca
yang berbeda, seperti skimming untuk mencari ide-ide utama atau melakukan
studi secara mendalam.
Pembelajaran membaca pemahaman diperlukan pengetahuan baik
kebahasaan maupun non kebahasaan. Pembaca harus mengenali konsep dan kosa
kata. Sehubungan dengan upaya meningkatkan keterampilan membaca pada
siswa. Masalah keterampilan membaca pemahaman perlu mendapat perhatian.
Pengajaran membaca pemahaman di SD kelas V sangat tepat digunakan
sebagai sarana untuk membimbing anak menjadi pembaca yang mandiri dan
menumbuhkan minat baca. Melalui pengajaran membaca pemahaman guna
mendapatkan gambaran umum mengenai bahan bacaan yang akan kita baca, kita
hendaknya melakukan kegiatan prabaca (previewing). Kegiatan prabaca ini akan
memberikan pemahaman awal kepada kita mengenai bahan bacaan yang dihadapi.
Pembelajaran membaca pemahaman merupakan proses berfikir untuk
dapat memahami bacaan, pembaca terlebih dahulu harus memahami kata-kata dan
kalimat yang dihadapinya melalui proses asosiasi dan eksperimental. Kemudian ia
membuat simpulan dengan menghubungkan isi preposisi yang terdapat dalam
materi bacaan. Untuk itu siswa harus mampu berpikir secara sistematis, logis dan
kreatif. Bertitik tolak dari tersebut, maka pembaca dapat menilai bacaan. Kegiatan
Keterampilan membaca pemahaman cocok untuk diberikan di kelas V,
yang merupakan salah satu kelas tinggi di SD. Guru pada kelas tinggi ini harus
dapat membimbing siswanya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang
memungkinkan mereka bisa meningkatkan kemampuan berfikirnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru hendaknya bisa merangsang siswa untuk berfikir,
seperti pertanyaan mengapa dan bagaimana. Jadi pertanyaan yang diajukan
sehubungan dengan bacaan tidak hanya pertanyaan yang menghasilkan jawaban
berupa fakta.
2.2 Pendekatan Keterampilan Proses dalam Bahasa Indonesia
2.2.1 Pengertian Keterampilan Proses
Keterampilan proses merupakan wahana penemuan dan pengembangan
konsep. Di lain pihak konsep-konsep yang telah dikembangkan siswa berperan
pula sebagai penunjang berkembangnya keterampilan proses tersebut.
Menurut Hendriyani (1995:5) mengemukakan bahwa:
Keterampilan proses adalah keterampilan intelektual, sosial maupun fisik yang diperlukan untuk dapat mengembangkan lebih lanjut pengetahuan atau konsep yang telah dimiliki. Dengan dimilikinya keterampilan ini siswa berpeluang untuk dapat memperoleh konsep-konsep baru atau informasi-informasi baru yang diperlukan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka keterampilan proses banyak
melibatkan berbagai keterampilan meliputi intelektual, fisik, dan sosial.
Keterampilan-keterampilan ini sangat diperlukan oleh siswa yang berada pada
ini akan mampu meningkatkan kemampuan khususnya dalam membaca
pemahaman.
Pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran bahasa adalah
pembelajaran yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk
terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan bahasa. Pendekatan ini
dipandang sebagai pendekatan dalam proses belajar-mengajar yang sesuai dalam
era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendekatan ini memberikan
pengetahuan, pengalaman, serta keterampilan yang cocok untuk memperoleh serta
mengembangkan kompetensi bahasa yang dipelajarinya, dalam hal ini bahasa
Indonesia.
Fokus pembelajarannya tidak hanya pada pencapaian tujuan pembelajaran
saja, melainkan juga pada pemberian pengetahuan, pengalaman,dan keterampilan
untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Pengelolaan kelas dalam
pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dilaksanakan dengan
pengaturan kelas, baik secara pisik maupun non fisik.
Pengaturan kelas dilakukan sedemikian rupa agar siswa mempunyai
keleluasan gerak, merasa aman, bergembira, bersemangat, dan bergairah untuk
belajar. Dengan kondisi yang demikian, materi yang diberikan kepada siswa akan
mencapai hasil yang maksimal.
2.2.2 Jenis-Jenis Kemampuan dalam Keterampilan Proses
Ada beberapa kemampuan atau keterampilan yang perlu dikembangkan
dasar yang harus dikuasai dan dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Keterampilan ini tidak hanya berupa keterampilan fisik saja melainkan
keterampilan mental.
Pengembangan berbagai jenis keterampilan dalam keterampilan proses
sebenarnya mengikuti cara kerja para ilmuwan. Mereka menumbuhkan dan
mengembangkan sampai menguasai sejumlah kemampuan atau keterampilan fisik
dan mental tertentu saja. Kebanyakan para ilmuwan justru mendapatkan
penemuan baru tanpa menguasai fakta dan konsep yang tergabung dalam suatu
cabang ilmu saja. Penguasaan fakta dan konsep yang terlalu banyak dapat
menghambat daya cipta untuk menemukan hal-hal yang baru.
Menurut Semiawan (1992; 17) ada beberapa kemampuan atau
keterampilan mendasar dalam pendekatan keterampilan proses adalah:
a. Mengobservasi atau Mengamati
Mengamati di dalamnya termasuk menghitung, mengukur, mengklasifikasi,
dan mencari hubungan ruang dan waktu.
- Mengobservasi atau Mengamati tidak sama dengan melihat. Dalam
mengobservasi atau mengamati kita memilah-milahkan mana yang penting
dari yang kurang atau yang tidak penting.
- Menghitung, keterampilan menghitung anak biasanya dilatih dan dibina
melalui pelajaran matematika, namun dalam IPA atau Ilmu Sosial dan
Bahasa anak dapat pula dilatih dengan menggunakan menghitung kelereng,
batu kerikil, kancing, kucing, ayam, rumah, luas meja, keliling lingkaran,
membuat table,grafik, atau histogram. Semakin tinggi tingkat sekolah anak,
semakin sulit soal-soal menghitung yang ditugaskan kepadanya.
- Mengukur, Para ilmuwan biasanya mengadakan pengukuran. Keterampilan
mengukur sangat penting dalam kerja ilmiah. Dasar pengukuran adalah
pembanding. Kita perlu membandingkan luas, kecepatan, suhu, volume dan
sebagainya. Para guru dapat melatih anak-anak agar terampil mengukur.
Pertama-tama tentu saja mereka diarahkan untuk membanding-bandingkan
satu benda dengan benda lainnya lama-kelamaan nereka diperkenalkan
dengan satuan ukuran, seperti centimeter, kilogram, dan liter. Semakin
tinggi tingkat sekolah anak, semakin rumit tugas-tugas pengukuran yang
dapat diberikan kepadanya.
- Klasifikasi, keterampilan mengklasifikasi atau menggolong0golongkan
adalah salah satu kemampuan yang penting dalam kerja ilmiah, dalam
membuat klasifikasi perlu diperhatikan dasar klasifikasi, misalnya menurut
suatu ciri khusus, tujuan atau kepentingan tertentu.
Para guru melatih klasifikasi anak dengan cara mengelompokkan berbagai
jenis daun-daunan menurut bentuk, warna, berduri tidaknya, berbulu
tidaknya, dan corak tulang daun. Dalam membuat klasifikasi dituntut
kecermatan anak dalam mengamati. Semakin tinggi tingkat pendidikan
anak, semakin rumit jenis klasifikasi yang dapat dilatih.
- Mencari Hubungan Ruang dan Waktu
Mencari hubungan ruang dan waktu adalah salah satu keterampilan yang
melihat hubungan ruang. Dilatih dengan mengenal bentuk-bentuk, seperti
lingkaran, persegi empat, persegi banyak, kubus, dan silinder. Para guru
perlu melatih anak melihat hubungan waktu dengan belajar membuat urutan
kejadian, membuat jam sederhana, menggunakan unit waktu, seperti
menit,minggu bulan, dan tahum, menyebutkan jam berapa sekarang dan
mengukur waktu suatu kejadian.
b. Membuat hipotesis
Kemampuan membuat hipotesis adalah suatu keterampilan yang sangat
mendasar dalam kerja ilmiah. Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan
untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu. Dalam kerja
ilmiah, seorang ilmuwan biasanya membuat hipotesis yang kemudian diuji
melalui eksperimen.
Para guru dapat melatih anak dalam membuat hipotesis sederhana misalnya
dalam melakukan percobaan dengan baterai, jika lampu tidak menyala mereka
dapat membuat hipotesis mengapa terjadi demikian.
Mereka dapat membuat hipotesis bahwa lilin akan padam jika ditutup dengan
gelas, bahwa tanaman yang diberi pupuk akan tumbuh lebih cepat daripada
tanaman yang tidak diberi pupuk.
c. Merencanakan penelitian/eksperimen.
Eksperimen adalah usaha menguji atau mengetes melalui penyelidikan praktis.
Para guru melatih anak-anak untuk mengadakan eksperimen sederhan misalnya
sekolah, serangga yang dibawa dari rumah atau yang berada disekitar sekolah,
lilin, balon, karet, benang dan kotak korek api, bamboo dan baterai.
d. Mengendalikan Variabel
Dalam penyelidikan ilmiah para ilmuwan sering mengendalikan variable
eksperimen atau penelitian. Variable adalah faktor yang berpengaruh.
Para guru dapat melatih anak-anak dalam mengendalikan variable adalah
tanaman jagung yang diberi pupuk akan lebih cepat tumbuh dibandingkan
dengan yang tidak diberi pupuk dan disirami.
e. Menginterpretasi atau menafsirkan data.
Kemampuan menginterpretasi atau menafsirkan data adalah salah satu
keterampilan yang penting yang dimiliki para ilmuwan.
Para guru melatih anak-anak dalam menginterpretasi data, misalnya anak
diminta mencatat suhu udara pada pukul 12.00 siang selama enam hari , dari
hari senin sampai hari sabtu. Data tersebut dicatat dalam sebuah tabel, setelah
data diperoleh, anak dapat membaca atau menginterpretasi data itu. Misalnya
hari apa yang terpanas dan hari apa yang terdingin.
f. Menyusun kesimpulan sementara (inferensi).
Membuat kesimpulan sederhana atau inferensi sering dilakukan oleh seorang
ilmuwan dalam proses penelitiannya. Untuk para guru dalam melatih
anak-anak dalam menyusun suatu kesimpulan sementara dalam penelitian sederhana
yang dilakukan adalah guru mengatakan kepada anak-anak bahwa ia
observasi tentang binatang pada papan tulis, lalu anak-anak disuruh membuat
kesimpulan sementara.
g. Meramalkan (memprediksi).
Para ilmuwan sering membuat ramalan atau prediksi berdasarkan hasil
observasi, pengukuran atau penelitian yang memperlihatkan kecenderungan
gejala tertentu.
Para guru dapat melatih anak-anak dalam peramalan kejadian yang akan
dating, berdasarkan pengetahuan, pengalaman, atau data yang dikumpulkan.
Misalnya siswa mencatat curah hujan selama dua tahun dan berdasarkan
data-data itu meramalkan jumlah curah hujan pada tahun depan.
h. Menerapkan (mengaplikasi)
Keterampilan menerapkan atau mengaplikasi konsep adalah kemampuan yang
umumnya dimiliki oleh para ilmuwan. Para guru dapat melatih anak-anak
untuk menerapkan konsep yang telah dikuasai untuk memecahkan masalah
tertentu, atau menjelaskan suatu peristiwa baru dengan menggunakan konsep
yang telah dimiliki.
Sebagai contoh, setelah menguasai konsep bahwa udara mempunyai tekanan,
para siswa disuruh memompa ban yang mampu memuat beban yang berat.
Ada berbagai latihan menerapkan yang dapat digunakan guru. Tingkat
kesulitan latihan hendaknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan
i. Mengkomunikasikan.
Keterampilan mengkomunikasikan apa yang ditemukan adalah salah satu
keterampilan mendasar yang dituntut dari para ilmuwan.
Para guru perlu melatih anak dalam keterampilan ini, misalnya dengan
membuat gambar, model, table, diagram, grafik atau histogram, dengan
membuat karangan, dengan menceritakan pengalamannya dalam kegiatan
observasi, dengan menyajikan laporan hasil diskusi kelompok, atau dengan
berbagai pajangan yang dipamerkan di dalam ruang kelas.
Keterampilan-keterampilan di atas ini berproses dalam kerja ilmiah, dan
proses-proses ini digunakan oleh para ahli dalam kerjanya. Pertanyaan
berikutnya adalah apakah keterampilan-keterampilan fisik dan mental itu pada
dasarnya dimiliki pula oleh anak-anak meskipun dalam wujud potensi atau
kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, kemampuan yang masih
sederhana, kemampuan yang masih perlu dirangsang agar mampu
menampakkan diri? Kalau kita melihat seorang anak yang menyelidiki seekor
belalang, lalu kita bandingkan dengan seorang biolog menyelidiki belalang,
maka tingkah laku akan muncul pada dasarnya mirip, serupa anak kecil
didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, ia bertanya dan terus bertanya untuk
menemukan jawaban. Ia berusaha menyelidiki. Ilmuwanpun memiliki perilaku
yang serupa, meskipun dibandingkan dengan anak, ilmuwan bekerja dengan
landasan teoritis, hipotesis, lebih terarah, dan lebih sistenatis. Ilmjuwan
didorong oleh rasa ingin tahu. Ia bertanya dan merumuskan masalah. Ia
Kalau kenyataanya demikian, para guru dapat menumbuhkan potensi dan dapat
mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut dalam diri anak. Para guru
dapat menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan itu
dalam diri anak sesuai dengan taraf perkembangan pemikirannya.
Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproseskan
perolehan, anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan
konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang di tuntut.
Dengan demikian, keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak
penemuan pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan
sikap dan nilai. Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses belajar-mengajar
seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif. Inilah sebenarnya
yang dimaksuf dengan pendekatan proses.
2.2.3 Keterampilan Proses Dalam Membaca Pemahaman
a. Keterampilan Membaca Pemahaman
Membaca Pemahaman yaitu membaca yang merujuk kepada jenis
kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan untuk memperoleh
pengertian tentang sesuatu atau untuk tujuan belajar sehingga
memperoleh wawasan yang lebih luas tentang sesuatu yang dibaca.
b. Keterampilan Membuat Pertanyaan
Siswa harus terampil membuat pertanyaan untuk meningkatkan
pemahaman terhadap pesan yang disimak. Dua jenis pertanyaan yang
1. Pertanyaan terbuka, yaitu pertanyaan yang jawabannya lebih dari
satu dan harus diklarifikasi lebih jauh.
2. Pertanyaan tertutup, yaitu pertanyaan ysng jawabannya tunggal.
c. Keterampil Menjawab Pertanyaan
1. Memahami secara efektif isi pertanyaan
2. Memahami struktur bacaan
d. Keterampilan Membuat Rangkuman
Rangkuman adalah isi ide pokok atau alur cerita singkat. Pemahaman
daya ingat siswa terhadap isi buku atau artikel akan semakin mantap
apabila setelah selesai membacanya kita mampu membuat rangkuman
mengenai isinya.
e. Keterampilan berkomunikasi
Berkomunikasi adalah menyampaikan fikiran secara efektif untuk
mengekspresikan, mengatakan serta menyampaikan fikiran, gagasan
dan perasaan.
Dalam hal ini hubungan antaraktivitas berbahasa dalam suatu peristiwa
komunikasi tergantung pada tujuan, topik, tempat, waktu dan orang
yang terlibat dalam peristiwa komunikasi.
2.2.4. Pentingnya Keterampilan Proses dalam Membaca Pemahaman
Pendekatan keterampilan proses dalam berbahasa Indonesia bertolak dari
dasar pemikiran bahwa kemampuan seseorang dalam berbahasa ditentukan oleh
penguasaan keterampilan proses dalam berbahasa, yakni menyimak, berbicara,
Hal itu sejalan dengan aksioma yang dinyatakan oleh Alexander (1972):
Tidak ada yang harus diucapkan sebelum di dengar . Tidak ada yang harus dibaca sebelum diucapkan. Tidak ada yang harus ditulis sebelum dibaca.
Di dalam proses pembelajaran terjadi interaksi antara keterampilan dan
konsep yang sekaligus di dalam interaksi itu berkembang pula sikap dan nilai
dalam diri siswa. Misalnya sikap teliti, kreatif, tekun, kerjasama, tenggang rasa,
kritis, objektif, bertanggung jawab, jujur, disiplin,dan orisinal. Sedangkan
nilai-nilai yang dapat terbentuk diantaranya kejujuran, kedisiplinan, keobjektifan, rasa
tanggung jawab, dan pengorbanan. Nilai adalah sesuatu yang memiliki unsur
kebaikan yang dapat dijadikan pedoman hidup.
Sikap yang dikembangkan akan menunjang pula pengembangan
keterampilan dan konsep. Misalnya konsep Bahasa Indonesia hanya akan
dipahami dengan baik bila konsep itu dipelajari dengan penuh kejujuran dan
keobjektifan dalam mengamati, berkomunikasi, mengajukan pertanyaan,
mengerjakan tugas yang harus diselesaikan siswa, menjawab pertanyaan guru,
menjawab pertanyaan-pertanyaan tertulis.
Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan yang didasarkan atas suatu
pengamatan, proses-proses ini dijabarkan dari pengamatan terhadap apa yang
dilakukan oleh seorang guru disebut pendekatan keterampilan proses.
Dalam keterampilan proses ini guru diharapkan bisa memaksimalkan
dapat mencari dan menemukan konsep serta prinsip berdasar dari pengalaman
yang dilakukannya.
Pendekatan keterampilan proses mempunyai beberapa kelebihan antara
lain: (1) Merangsang ingin tahu dan mengembangkan sikap ilmiah siswa, (2)
siswa akan aktif dalam pembelajaran dan mengalami sendiri proses mendapatkan
konsep, (3) Pemahaman siswa lebih mantap ( Karsa dan Edy, 1993).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan pendekatan
keterampilan proses adalah merupakan suatu cara untuk memecahkan
permasalahan yang dihadapi guna mengembangkan dan membantu siswa dan