• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proyek Perubahan Diklat Pim II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Proyek Perubahan Diklat Pim II"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

JUDUL PROYEK PERUBAHAN :

STRATEGI PENINGKATAN KONSUMSI IKAN MELALUI

PENGOLAHAN IKAN DARI KONVENSIONAL KE MODERN DI

(2)

LAPORAN PROYEK PERUBAHAN

STRATEGI PENINGKATAN KONSUMSI IKAN MELALUI

PENGOLAHAN IKAN DARI KONVENSIONAL KE MODERN DI

KABUPATEN SUBANG

Disusun Oleh:

H. SUMARNA,S.Sos.,M.A.P NDH : 43

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA

PUSAT KAJIAN DAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN APARATUR I

JATINANGOR - SUMEDANG

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala karena atas segala karunia-Nya, laporan proyek perubahan Diklatpim Tk. II Angakatan XLI kelas D Tahun 2015 telah dapat kami laksanakan dan kami susun. Laporan proyek perubahan ini merupakan implementasi terhadap tahapan kegiatan yang telah dipresentasikan dan disetujui oleh Asisten Bidang Administrasi dan Pembinaan Aparatur Daerah Kabupaten Subang sebagai Mentor. Adapun judul Laporan proyek perubahan ini yang dilaksanakan selama Laboratorium Kepemimpinan pada waktu Breakhtrough II adalah “Strategi Peningkatan Konsumsi Ikan Melalui Pengolahan Ikan dari Konvensional ke Modern di Kabupaten Subang”.

Adapun tahapan yang sudah dilaksanakan pada kegiatan Laboratorium Kepemimpinan ini antara lain :

1. Bimbingan Teknis Pengembangan Industri Tepung Ikan.

2. Penyuluhan Pengembangan Usaha Perikanan Berbasis Kerakyatan

3. Pelatihan Budidaya Ikan Mas dan Nila

4. Pelatihan Teknis Usaha Perikanan

5. Sosialisasi Budidaya Ikan Jaring Terapung di Perairan Umum

6. Penyerahan bantuan Jaring Insang (Gill Net) dan Jaring Udang (Trimmel Net) Untuk Masyarakat Nelayan

7. Penyerahan Benih Ikan Untuk Dilepaskan di Perairan Terbuka (restocking)

8. Penyerahan Bantuan Benih dan Bibit Ikan Kualitas Unggul Bagi Petani Ikan

9. Pemberian Bantuan Alat Pengolahan Makanan Berbahan Ikan dan Alat Pemasaran

10.Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Ikan Kepada Para Balita

11.Pembuatan Buku Tentang Kandungan Gizi Pada Ikan dan Cara Memasak Ikan

(4)

Keberhasilan dan kelancaran dalam pelaksanaan proyek perubahan ini tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk hal tersebut sudah pada tempatnya saya menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada ;

1. Bupati Subang, Bapak H. Ojang Sohandi, S.STP, M.Si yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengikuti Diklatpim Tk. II ini. 2. Sekretaris Daerah Kabupaten Subang, Bapak Drs. H. Abdurakhman, M.Si yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam pelaksanaan laboratorium kepemimpinan.

3. Asisten Bidang Administrasi dan Pembinaan Aparatur, Bapak H. Saad B Abdulgani, SH, M.Si, yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam pelaksanaan laboratorium kepemimpinan dan sekaligus sebagai Mentor penulis

4. Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti Diklatpim Tk II, sehingga dapat berpengaruh positif terhadap perubahan organisasi yang lebih berdaya guna dan berhasil guna.

5. Widyaiswara, Bapak Dr. Dedi Barnadi, selaku Coach yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dari mulai tahap

Taking Ownership, Breakhtrough I sampai dengan selesainya laporan

proyek perubahan ini pada Breakhtrough II - Laboratorium Kepemimpinan.

6. Para Widyaiswara pada Diklatpim II Angkatan XLI Kelas D di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur I Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN – RI) yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta pengetahuan kepada

(5)

7. Tim Pokja Proyek Perubahan dari Dinas Kelautan dan Perikanan yang tidak mengenal lelah membantu penulis dalam pelaksanaan proyek perubahan.

8. Seluruh Panitia Penyelenggara Diklatpim Tk II Angkatan XLI Kelas D di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur I Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN – RI) yang telah membantu penulis selama penulis mengikuti Diklatpim Tk II.

Subang, 24 Juli 2015, Penulis,

(6)

i

DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN ……… 1

A. Latar Belakang ……….... 1

B. Area Proyek Perubahan ……….. .. 6

1. Rasionalitas Pemilihan/Penerapan Area Proyek Perubahan ………… 6

2. Keterkaitan Area Perubahan Dengan Isu Strategis Organisasi …………. 7

C. Ruang Lingkup ……….. . 8

1. Internal (Output dan Outcome) ……… . 9

2. Eksternal (Output dan Outcome) ……… .. 9

D. Kriteria Keberhasilan ………. . 10

1. Indikator Keberhasilan ………. . 10

2. Faktor Kunci Keberhasilan ………. . 11

BAB II : DESKRIPSI PROYEK PERUBAHAN ………. 13

A. Roadmap/Milestone Proyek Perubahan ……… .. 13

1. Kegiatan ……….. .. 13

2. Stakeholders ……….. . 19

3. Peta Jaringan (Netmap) ………. . 21

4. Waktu Pelaksanaan ……….. . 22

5. Perbandingan Kondisi/Keadaan …………..………. 22

a. Kondisi Awal (Sebelum Proyek Perubahan) ………. 22

b. Kondisi saat ini (setelah Proyek Perubahan) ………. 23

B. Stakeholder Proyek Perubahan ………. . 23

1. Internal ……….. . 23

2. Eksternal ……….. . 24

C. Strategi Komunikasi ……….. . 26

BAB III : PELAKSANAAN PROYEK PERUBAHAN ……… 27

A. Capaian Proyek Perubahan ………. . 27

B. Kendala : Internal dan Eksternal ………. . 27

C. Strategi Mengatasi Kendala ………. 28

BAB IV : PENUTUP ……….. 29

A. Kesimpulan ……….. . 30

B. Rekomendasi ……… . 30

(7)

ii

DAFTAR ISI ………. i

DAFTAR TABEL ………..………. iii

DAFTAR GAMBAR ……….……….………. iv

(8)

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Data Perkembangan Produksi Ikan ………..……… 7

Tabel 2 : Data Konsumsi Ikan Per Kapita ………. 8

Tabel 3 : Data Perkembangan PDRB dan Income Per Kapita ………..…… 8

Tabel 4 : Internal Stakeholders ……… 19

Tabel 5 : External Stakeholders ……… 19

(9)

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Sumbangan Konsumsi Protein Ikan Indonesi ………..……….. 1

Gambar 2 : Alur Pikir atau Framework ……….... 12

Gambar 2: Kuadran Stakeholders ………. 20

(10)

v

DAFTAR LAMPIRAN

1. Berita Acara Penyerahan Judul 2. SK Mentor

3. Surat Penyataan Komitmen Mentor 4. SK Kelompok Kerja Proyek Perubahan 5. Proyek Charter yang Disetujui Mentor

6. Berita Acara Penyerahan Hasil Kegiatan Proyek Perubahan

7. Formulir Kegiatan Peserta Diklat (Hari/Tgl/Kegiatan/Diinfikan ke Coach tgl) & Paraf Mentor

(11)

KESEPAKATAN AREA PERUBAHAN PESERTA DIKLAT PIM TINGKAT II

TAKING OWNERSHIP (BREAKTHROUGH 1) DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT II

STRATEGI PENINGKATAN KONSUMSI IKAN DI KABUPATEN SUBANG DENGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PRODUK BAHAN BAKU IKAN

Disusun Oleh:

H. SUMARNA,S.Sos.,M.A.P NDH :

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA

PUSAT KAJIAN DAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN APARATUR I JATINANGOR - SUMEDANG

(12)

KESEPAKATAN AREA PERUBAHAN PESERTA DIKLATPIM TINGKAT II

1. Judul:

“Strategi Peningkatan Konsumsi Ikan di Kabupaten Subang dengan Tekno;ogi Pengolahan Produk Bahan Baku Ikan.”

A. Deskripsi Singkat Tusi Unit Kerja Landasan Hukum dan Peraturan Tusi a. Landasan Hukum

1. Undang-undang No. 4 Tahun 1968, tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang;

2. Undang-undang No. 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. 12 Tahun 2008, tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang No. 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah;

3. Undang-undang No. 33 Tahun 2004, tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

4. Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000, tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah;

5. Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2001, tentang Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;

6. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007, tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten;

7. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007, tentang Organisasi Perangkat Daerah; 8. Peraturan Pemerintah Kabupaten Subang No. 4 Tahun 2013, tentang Perubahan

atas Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 7 Tahun 2008, Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Subang;

9. Peraturan Bupati Subang No. 14 C 13 Tahun 2008, tentang Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang.

b. Peraturan Tusi

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang merupakan unsur pelaksana otonomi daerah dipimpin oleh kepala dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati Subang.

(13)

Dalam menyelenggarakan tugas pokoknya dibidang kelautan dan perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan mempunyai fungsi :

1. Perumusan kebijaksanaan teknis di bidang kelautan dan perikanan

2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang kelautan dan perikanan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bupati 3. Pembinaan dan pelaksanaan kegiatan di bidang kelautan dan perikanan 4. Pengelolaan administrasi umum, meliputi urusan umum, urusan keuangan,

urusan kepegawaian dan perlengkapan dinas.

Untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud di atas, maka Dinas Kelautan dan Perikanan mempunyai kewenangan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Termasuk Sumberdaya Alam di Wilayah Laut Kewenangan Kabupaten/Kota 2. Pelaksanaan Pengawasan dan Penegakan Hukum di Wilayah Laut

Kewenangan Kabupaten dan Pemberian Informasi Apabila Terjadi Pelanggaran di Luar Batas Kewenangan Kabupaten.

3. Pelaksanaan dan Koordinasi Perijinan Terpadu Pengelolaan dan Pemanfaatan Wilayah Laut.

4. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir di Wilayah Kewenangan Kabupaten. 5. Pelaksanaan pencegahan pencemaran dan kerusakan Sumber Daya Ikan

Serta Lingkungannya.

6. Pelaksanaan Eksplorasi, Eksploitasi, konservasi dan Pengelolaan Kekayaan Perairan Danau, Sungai, Rawa dan Wilayah Perairan Lainnya di Wilayah Kabupaten.

7. Rehabilitasi Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Yang Mengalami Kerusakan (Kawasan Mangrove, Lamun dan Terumbu Karang).

8. Pengelolaan dan Pemanfaatan Perikanan di Wilayah Laut Kewenangan Kabupaten.

9. Pelaksanaan Kebijakan Pemberdayaan Nelayan Kecil.

10. Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pelelangan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

11. Pelaksanaan Kebijakan Pembudidayaan Ikan dan Perlindungannya. 12. Pelaksanaan Kebijakan Mutu Benih/Induk Ikan.

13. Pelaksanaan Kebijakan Pengelolaan Penggunaan Sarana dan Prasarana Pembudidayaan Ikan.

14. Pengawasan Perbenihan, Pembudidayaan ikan dan System Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan.

(14)

15. Pelaksanaan Kebijakan, Pembangunan dan Pengelolaan Balai Benih Ikan Air Tawar, Air Payau dan Laut.

16. Pelaksanaan Kebijakan Pengolahan Hasil Perikanan dan Pemasarannya. 17. Pembangunan, Perawatan dan Pengelolaan Pasar Ikan

B. Struktur Organisasi

Struktur organisasi Dinas Kelautan dan Perikanan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 7 Tahun 2008, tanggal 13 Juni 2008 tentang Susunan Organisasi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang adalah sebagai berikut :

Kepala Dinas I. Sekretaris Dinas

1. Sub Bagian Keuangan 2. Sub Bagian Kepegawaian 3. Sub Bagian Umum

II. Bidang Perikanan Budidaya 1. Seksi Perikanan Air Tawar 2. Seksi Perikanan Air Payau

3. Seksi Pengendalian Perikanan Air Tawar dan Payau III. Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap

1. Seksi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Perikanan Tangkap 2. Seksi Pengembangan Perikanan Tangkap

3. Seksi Pengendalian dan Perlindungan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Tangkap

IV. Bidang Bina Usaha

1. Seksi Perijinan dan Kelembagaan

2. Seksi Pemasaran, Permodalan dan Investasi 3. Seksi Usaha dan Pengolahan Hasil

V. Bidang Program

1. Seksi Identifikasi dan Perumusan Program 2. Seksi Data dan Informasi

3. Seksi Evaluasi dan Pelaporan VI. Kelompok Jabatan Fungsional

1. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah

2. Latar Belakang.

Ikan, baik ikan segar maupun ikan olahan memiliki kandungan gizi sangat tinggi, yakni rendah kolesterol, tinggi asam lemak tak jenuh ganda omega-3 dan relatif lebih tinggi

(15)

kuantitas dan mutu protein (kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahan untuk dicerna) daripada bahan pangan sumber protein lainnya. Oleh karena itu, ikan dengan segala keunggulan gizi yang dimiliki dapat dijadikan sebagai sumber pangan masa depan yang mempunyai banyak manfaat untuk pertumbuhan.

Terkait dengan hal tersebut, Indonesia sangat berpeluang untuk menjadikan ikan sebagai sumber protein utama guna meningkatkan gizi masyarakat, karena memiliki potensi ikan melimpah.

Namun besarnya potensi tersebut tidak diikuti dengan tingkat konsumsi ikan dalam negeri yang tinggi pula. Menurut Direktorat Pemasaran Dalam Negeri/PDN (2014), penyediaan ikan untuk konsumsi di Indonesia pada tahun 2014 adalah 40,95 kg/kapita dengan tingkat konsumsi ikan 38 kg/kapita. Tingkat konsumsi ini masih di ba-wah tingkat konsumsi ikan di beberapa negara, di antaranya Jepang (140 kg/kapita), Korea Selatan (115 kg/kapita), Amerika Serikat (110 kg/kapita), Singapura (110 kg/kapita), Hongkong (115 kg/ kapita), Malaysia (70 kg/kapita), dan Thailand (75 kg/kapita). Kabupaten Subang sendiri sebagai daerah penghasil ikan, baik ikan air tawar maupun ikan laut, yakni 31,51 kg/kapita pada tahun 2014 dan masih dibawah target daerah yaitu 32,52 kg/kapita.

Rendahnya tingkat konsumsi ikan per kapita masyarakat Indonesia, disebabkan oleh dua hal yang terkait dengan lemahnya sisi ketersediaan (supply) dan rendahnya tingkat permintaan (demand). Pada sisi ketersediaan, rendahnya konsumsi ikan masyarakat Indonesia disebabkan kurang meratanya suplai ikan bermutu, kurangnya sarana prasarana penjualan, distribusi ikan yang baik dan higienis, yang mampu menjangkau seluruh penjuru daerah dan adanya produk substitusi ikan. Sementara pada sisi permintaan, banyak faktor diduga berperan dalam pembentukan budaya makan ikan yang masih rendah di Indonesia sampai saat ini, di antaranya:

1. Ketersediaan ikan segar yang rendah di pasaran,

2. Perilaku dan budaya tabu makan ikan dalam komunitas masyarakat tertentu, Pengetahuan gizi di kalangan ibu yang masih rendah,

3. Harga ikan dan produknya yang relatif lebih mahal daripada yang lainnya, serta daya beli masyarakat yang rendah,

4. Rendahnya ragam jenis ikan dan produk diversifikasi olahan hasil perikanan dan penguasaan teknologi yang masih minim,

5. Masalah prestise dan preferensi di kalangan masyarakat tertentu yang menganggap bahwa produk ikan merupakan bahan pangan inferior,

6. Ketakutan akan terkontaminasi logam-logam berat dari perairan tercemar. Dalam hal ini perilaku, persepsi dan preferensi konsumen menjadi penting untuk diketahui.

(16)

Kabupaten Subang memiliki luas wilayah sebesar 205.176,95 ha dan memiliki panjang pantai sebesar 68,0 km dengan budaya pesisir yang kuat dan budaya petani ikan yang mengakar sejak lama sehingga Kabupaten Subang mempunyai potensi perikanan yang sangat layak untuk dikembangkan. Hal ini dapat dilihat pada sumbangan subsektor perikanan terhadap PDRB Kabupaten Subang menurut sektor pertanian sebesar 6,84 % atau 1,95% dari total PDRB Kab. Subang pada tahun 2012 (Tabel 1.1). Besarnya potensi yang ada memerlukan suatu strategi yang tepat agar potensi tersebut dapat diwujudkan dan dikembangkan sehingga dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat khususnya masyarakat Kabupaten Subang.

TABEL 1.1

PDRB ATAS HARGA KONSTAN 2009 – 2012 (jutaan Rupiah)

No. LAPANGAN USAHA 2009 2010 2011 2012 Rp % Rp % Rp % Rp % I. PERTANIAN 2.123.043,38 30,04 2.175.005,12 29,50 2.261.781,26 29,37 2.290.944,79 28,46 1.1 Tanaman dan Bahan Makanan 1.433.507,09 20,29 1.474.444,75 20,00 1.550.195,57 20,13 1.573.771,99 19,55 1.2 Tanamana Perkebunan 82.326,02 1,17 82.973.,58 1,13 83.986,77 1,09 84.825,99 1,05 1.3 Peternakan & Hasil2nya 444.884,42 6,30 452.498,79 6,14 460.400,92 5,98 462.514,61 5,75 1.4 Kehutanan 12.456,45 0,18 12.633,58 0,17 12.809,18 0,17 13.111,86 0,16 1.5 Perikanan 149.869,42 2,12 152.454,42 2,07 154.388,81 2,00 156.720,34 1,95

Sumber : Subang Dalam Angka 2013

Strategi yang dapat dilakukan dapat dibagi menjadi tiga kelompok karakteristik strategi, adalah:

1. Strategi peningkatan produksi;

2. Strategi pengembangan dan peningkatan hasil olahan perikanan; 3. Strategi pengembangan permintaan hasil produksi perikanan.

Strategi tersebut dapat diperinci dalam strategi-strategi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Subang melalui Dinas Kelautan dan Perikanan yaitu:

1. Melaksanakan promosi potensi kelautan dan perikanan Kabupaten Subang 2. Membuka lapangan usaha baru dibidang kelautan dan perikanan

3. Meningkatkan kampanye/sosialisasi gerakan makan ikan

4. Mengadakan kerjasama dengan pihak perguruan tinggi dan atau swasta untuk transfer teknologi bidang kelautan dan perikanan

5. Perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana dibidang kelautan dan perikanan

(17)

6. Adanya suatu usaha perlindungan bagi sumberdaya perikanan yang semakin punah

7. Meningkatkan sistem informasi pemasaran 8. Meningkatkan pengelolaan budidaya perikanan

9. Mengadakan kaji terap teknologi kelautan dan perikanan

10. Mencari pakan alternatif untuk menekan biaya produksi yang tinggi 11. Menjaga kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan

Strategi yang selama ini telah dijalankan telah berhasil menaikkan produksi perikanan di Kabupaten Subang dengan terus meningkatnya produksi perikanan di Kabupaten Subang (Tabel 1.2). Tapi hal ini masih dapat ditingkatkan melihat potensi pengolah ikan yang membutuhkan hasil produksi perikanan sebagai bahan baku. Pada akhirnya, pengolah hasil perikanan juga membutuhkan demand atau permintaan dari pasar yang dapat ditingkatkan dengan suatu gerakan kampanye atau sosialisasi gemar makan ikan.

Tabel 1.2

Pertumbuhan Produksi Perikanan

No. Kegiatan Usaha

JUMLAH PRODUKSI ( TON ) Tahun

2009 Tahun2010

Tahun

2011 Tahun2012 Tahun2013 Tahun2014 1 Penangkapan - Laut 18.240,93 18.243,58 18.243,83 18.324,03 18.847,62 18.912,034 - Perairan Umum 535,6 542,89 451,87 396,88 374,67 359,261 Jumlah 1 18.776,53 18.786,47 18.695,70 18.720,91 18.713,31 19.271,30 2 Budidaya - Tambak 12.885,72 13.610 14.563,04 18.754,64 28.541,31 28.756,93 - Kolam Air Tenang 6.256,97 14.103,74 14.187,98 11.624,31 9.276 9.291,81 - Sawah 1.168,87 182,83 177,59 51,19 5 3

- Kolam Air Deras 2.873,00 4.708,19 4.867,12 5.138,26 8.258,84 8.297,46

- Budidaya Laut 440 85 88,00 72 36

-- Karamba 4,58 7 0,11

Jumlah 2 23.624,56 32.689,76 33.883,73 35.644,98 44.124,14 46.349,31 Jumlah 1 + 2 42.401,09 51.476,23 52.579,43 54.365,89 57.048,81 65.620,61

(18)

3. Identifikasi Kondisi Organisasi

Identifikasi Permasalahan Sektor Kelautan dan Perikanan 1. Permasalahan Sumber Daya Manusia

2. Permasalahan Sumber Daya Ikan

3. Permasalahan Teknologi Yang Digunakan 4. Permasalahan Sarana dan Prasarana

Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah

Visi Kabupaten Subang : Terwujudnya Kabupaten Subang yang Religius, Berilmu, Mandiri, Berbudaya dan Bergotong Royong

Diuraikan inti uraian Visi:

a. Pemerintahan yang Bermartabat (Gapura Permata) b. Infrastruktur Berkelanjutan (Gapura Intan)

c. Ekonomi Masyarakat (Gapura Emas) d. Pendidikan Rakyat (Gapura Perak)

e. Sehat, rapi, Bersih dan Indah (Gapura Serasi)

berdasarkan Visi Pemerintah Kabupaten Subang, maka dIuraikan kedalam Misi yang terdiri dari :

1. Mewujudkan Aparatur Pemerintah Yang Cerdas, Lugas dan Terpercaya

2. Meningkatkan Ketersediaan Infrastruktur Yang Baik dan Berwawasan Lingkungan

3. Mewujudkan Ekonomi Mandiri Berbasis Ekonomi Kerakyatan dan Keunggulan Daerah

4. Mewujudkan Sumber Daya Manusia Yang Berilmu, Religius dan Berbudaya

5. Mewujudkan Masyarakat dan Lingkungan Yang Serasi dan Bergotong Royong

Hubungan/keterkaitan antara misi dengan tugas pokok dan fungsi setiap dinas/SKPD dalam konteks pelayanan kelautan dan perikanan adalah pada misi yang ketiga yaitu mewujudkan Ekonomi Mandiri Berbasis Ekonomi Kerakyatan dan Keungguan daerah.

Telaahan Renstra Kementerian/Lembaga dan Provinsi.

(19)

Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Misi Kementerian Kelautan dan Perikanan

1. Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan

2. Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan

3. Memelihara Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan

Arahan Visi dan Misi Kementerian Kelautan dan Perikanan dikaitkan dengan tugas pokok dan fungsi SKPD/Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang :

1. Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan 2. Mengoptimalkan Pembangunan Kelautan dan Perikanan

Visi Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat

1. Masyarakat Perikanan dan Kelautan Jawa Barat Yang maju dan Sejahtera

2. Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Sumberdaya Perikanan dan Kelautan 3. Meningkatkan Usaha dan Nilai Tambah Produk Perikanan dan Kelautan

4. Meningkatkan Pengelolaan, Pengawasan, Pengendalian dan Pelestarian Sumberdaya Perikanan dan Kelautan

Keterkaitan Visi, misi Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat, dengan Tugas pokok dan fungsi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang

Penentuan Isu-Isu Strategis.

1. Melaksanakan promosi potensi kelautan dan perikanan Kabupaten Subang 2. Membuka Lapangan Usaha Baru dibidang Kelautan dan Perikanan

3. Meningkatkan Sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) 4. Mengadakan Kerja Sama Dengan Pihak Perguruan Tinggi dan Atau Swasta Untuk

Transfer Teknologi Bidang Kelautan dan Perikanan

5. Perbaikan dan Peningkatan Sarana dan Prasarana dibidang Kelautan dan Perikanan 6. Perlindungan Sumber Daya Perikanan Yang Semakin Punah

7. Meningkatkan Sistem Informasi Pemasaran

8. Meningkatkan Pengelolaan Budidaya Perikanan Dengan Menjaga Kualitas Air Agar Tetap baik

(20)

10. Mencari pakan Alternatif Untuk Menekan Biaya Produksi Yang Tinggi 11. Menjaga Kelestarian Sumber Daya Perikanan

4. Identifikasi Harapan Organisasi yang Akan Datang.

1) Visi

Terwujudnya Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang Berdaya Saing dan Berwawasan Lingkungan serta Berkelanjutan yang berbasis gotong royong

2) Misi

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM kelautan dan perikanan yang produktif

2. Meningkatkan sarana dan prasarana kelautan dan perikanan.

3. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produk kelautan dan perikanan

4. Meningkatkan kelestarian sumberdaya kelautan dan perikanan 5. Penanggulangan dan pengendalian hama penyakit ikan

6. Meningkatkan Pembangunan Kelautan dan Perikanan

3) Sasaran dan Tujuan

Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah

1. Tujuan 1 : Meningkatnya jumlah dan kualitas SDM kelautan dan perikanan yang produktif

Sasaran 1 : SDM Pembudidaya Ikan Sasaran 2 : SDM Nelayan

Sasaran 3 : SDM Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Sasaran 4 : SDM Aparatur Kelautan dan Perikanan

2. Tujuan 2 : Meningkatnya Sarana dan Prasarana Kelautan dan Perikanan Sasaran 1 : Sarana dan Prasarana Penangkapan Ikan

Sasaran 2 : Sarana dan Prasarana Pengawasan Sumber daya Kelautan dan Perikanan

Sasaran 3 : Sarana dan Prasarana Budidaya Ikan

Sasaran 4 : Sarana dan Prasarana Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan

3. Tujuan 3 : Meningkatnya kuantitas dan kualitas produk kelautan dan perikanan

Sasaran 1 : Produk Ikan Hasil Tangkapan Sasaran 2 : Produk Ikan Hasil Budidaya Sasaran 3 : Produk Ikan Hasil Olahan

(21)

Sasaran 1 : Sumber Daya Ikan di Laut

Sasaran 2 : Sumber Daya Ikan di Pesisir Pantai Sasaran 3 : Sumber daya Ikan di Perairan Umum 5. Tujuan 5 : Terkendalinya Serangan Hama Penyakit Ikan

Sasaran 1 : Budidaya Tambak Sasaran 2 : Budidaya Ikan Air Tawar

6. Tujuan 6 : Meningkatnya Pembangunan Kelautan dan Perikanan Sasaran 1 : Pembudidaya Ikan

Sasaran 2 : Nelayan

Sasaran 3 : Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan

5. Area Organisasi Bermasalah.

Kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan di Kabupaten Subang merupakan penjabaran dari tujuan dan sasaran misi dan tujuan pembangunan kelautan dan perikanan nasional. Salah satu tujuan pembangunan kelautan dan perikanan nasional adalah meningkatkan jumlah produksi dan konsumsi ikan nasional. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, di Kabupaten Subang masih terdapat kendala-kendala sebagai berikut:

1. Masih rendahnya tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Subang yaitu baru 30 % apabila dibandingkan dengan tingkat konsumsi nasional yang 35%.

2. Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat makan ikan.

3. Belum berkembangnya keanekaragaman produk-produk hasil olahan dari bahan baku ikan.

4. Belum optimalnya pemasaran produksi hasil olahan ikan.

Area Perubahan Terpilih yang Ingin Dicapai

I. Strategi I : Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM Kelautan dan Perikanan yang produktif.

Kebijakan pada strategi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan SDM nelayan dengan sasaran :

 Nelayan yang usianya dianggap masih produktif (15 – 50 Tahun)

 Meningkatnya pengetahuan, sikap dan keterampilan nelayan, meningkatnya SDM aparatur kelautan dan perikanan dengan sasaran peningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilanaparatur Kelauutan dan Perikanan

(22)

2. Meningkatnya SDM pengolah dan pemasaran hasil perikanan dengan sasaran:  Pengolah dan pemasar hasil perikanan yang usianya masih produktif (15 – 60

Tahun)

 Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan pengolah dan pemasaran hasil perikanan.

3. Meningkatnya SDM pembudidaya ikan dengan sasaran :

 Para pembudidaya ikan yang usianya masih produktif (15 – 60 Tahun)  Meningkatnya pengetahuan, sikap dan keterampilan para pembudidaya ikan. 4. Meningkatnya SDM aparatur Kelautan dan Perikanan dengan sasran :

 Peningkatan Ilmu Pengetahuan dan keterampilan aparatur Kelautan dan Perikanan.

II. Strategi 2 : Meningkatnya produksi Kelautan dan Perikanan yang berkualitas

Kebijakan pada strategi ini adalah sebagai berikut :

1. Meningkatnya produksi ikan hasil tangkapan di laut, dengan sasaran :  Meningkatnya jumlah produksi ikan hasil penangkapan di laut.  Meningkatnya jalur penangkapan ikan.

2. Meningkatnya produksi ikan hasil tangkapan di perairan umum, dengan sasaran :  Meningkatnya jumlah produksi ikan hasil penangkapan.

3. Meningkatnya produksi ikan hasil budidaya tambak, dengan sasaran ;  Meningkatnya jumlah produksi ikan hasil budidaya di tambak.  Meningkatnya penerapan teknologi budidaya.

 Meningkatnya normalisasi saluran tambak.

4. Meningkatnya produksi ikan hasil budidaya perikanan air tawar, dengan sasaran:  Meningkatnya penerapan teknologi budidaya air tawar.

 Meningkatnya produksi hasil budidaya perikanan air tawar. 5. Meningkatnya produksi ikan hasil olahan, dengan sasaran :

 Meningkatnya jumlah produksi ikan hasil olahan.

6. Identifikasi Stakeholder dan Kebutuhan Total.

Kelompok Stakeholder

1. Promoters memiliki kepentingan besar terhadap Proyek Perubahan & juga kekuatan untuk membantu membuatnya berhasil (atau menggelincirkannya) a. Promotor (Bupati Kab. Subang : Bpk. H. Ojang Sohandi, SSTP.,M.Si) b. Mentor (Asda III : Bpk. Saad Abdul Gani, SH., M.Si)

(23)

c. Sekretaris Dinas, Kepala Bidang, Kepala Seksi, Kepala UPTD, dan Pelaksana

di Lingkungan Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Subang.

d. KUD Mina, Kelompok Nelayan, dan Kelompok Petani Ikan

2. Defenders memiliki kepentingan pribadi & dapat menyuarakan dukungannya dlm komunitas, tetapi kekuatannya kecil untuk mempengaruhi Proyek Perubahan

a. Wakil Bupati Kab. Subang ( Ibu Hj. Imas Aryumningsih, S)

b. Sekretaris Daerah Kab. Subang ( Bpk. Drs. H. Maman Abdurrahman, M.Si) c. Kepala Bappeda Kab. Subang

3. Latents tidak memiliki kepentingan khusus maupun terlibat dalam Proyek Perubahan, tetapi memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi Proyek Perubahan Upaya jika mereka menjadi tertarik

a. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah b. Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pemasaran c. Kepala Bagian Ekonomi Setda Kab. Subang

4. Apathetics kurang memiliki kepentingan maupun kekuatan, bahkan mungkin tidak mengetahui adanya Upaya

7. Alternatif/Pilihan/Terobosan/Inovasi Rencana Solusi Pemecahan Organisasi dan Rencana Kerja Berdasarkan Area Perubahan Pilihan

1. Bidang Kelautan

a. Pengadaan Kapal Penangkap 12 GT b. Pengadaan Alat Tangkap Gill Net

c. Sosialisasi Kelengkapan Surat-surat Usaha Tangkap

d. Perbaikkan Tempat Pendaratan Ikan dan Tempat Pelelangan Ikan 2. Bidang Bina Usaha

a. Sosialisasi Gemar Makan Ikan b. Sosialisasi Pengolahan Rumput Laut

c. Sosialisasi Pengolahan Produksi Perikanan Bebas Bahan Makanan Berbahaya d. Pengadaan alat rantai dingin

e. Pengadaan alat produksi pengolahan perikanan. f. Pengadaan mobil cool box

g. Perbaikkan pabrik es 3. Bidang Budidaya

a. Sosialisasi Penerapan Teknologi Terbaik Pada Budidaya Perikanan b. Pengadaan Bibit Ikan Unggul

c. Pengadaan Benih Ikan Unggul d. Pencegahan penyakit pada ikan

(24)

e. Perbaikkan Tempat Pelelangan Hasil Tambak f. Perbaikkan Sarana dan Prasarana Tambak

g. Restocking/Penebaran Benih Ikan Pada Perairan Umum

PESERTA DIKLAT

ATASAN LANGSUNG PESERTA DIKLAT

(H. SUMARNA,S.Sos.,M.A.P) ( Drs. H. MAMAN ABDURRAHMAN)

(25)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia memiliki banyak potensi dari sektor agribisnis yang dapat dijadikan tonggak pembangunan nasional. Salah satu sektor agribisnis yang memiliki potensi yang cukup besar yaitu sektor perikanan. Dilihat dari sisi geografis, luas perairan Indonesia lebih luas dari daratannya, sehingga sektor perikanan sangat strategis untuk dapat dikembangkan sebagai penggerak ekonomi nasional. Potensi yang cukup besar yang tersimpan didalam lingkungan perairan Indonesia, sudah seharusnya mampu dimanfaatkan oleh pemerintah. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencanangkan peningkatan target produksi dari sektor perikanan budidaya sebesar 353 persen. Konsep peningkatan produktifitas perikanan Indonesia pun terdapat dalam program kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini dengan mencanangkan konsep industrialisasi perikanan di berbagai sentra produksi perikanan. Salah satu kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan dengan tujuan tercapainya peningkatan produksi untuk 10 komoditas unggulan perikanan budidaya antara lain rumput laut, udang, kakap, kerapu, bandeng, mas, nila, patin, lele dan gurame. Data SUSENAS (Survey Sosial Ekonomi Nasional) – BPS menunjukkan bahwa sumbangan protein ikan terhadap konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia mencapai 57%. Ini terjadi seiring dengan kecenderungan pergeseran konsumen dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani darired meat kepada white meat. Mutu protein pada bahan pangan ditentukan oleh tinggi-rendahnya asam amino esensial yang dikandungnya. Dan protein ikan memiliki keunggulan dibandingkan dengan sumber protein lainnya yaitu kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahannya untuk dicerna tubuh. Disamping itu, kandungan gizi ikan yang kaya omega 3 juga menyumbang terhadap peningkatan kecerdasan masyarakat Indonesia.

(26)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

Ikan juga bersifat universal, dapat diterima semua agama dan semua golongan (tidak memerlukan ritual khusus terkait penyembelihan) serta dapat dikonsumsi oleh semua kelompok umur. Keragamanan yang sangat tinggi pada ikan baik dari segi jenis, bentuk, warna, rasa dan ukuran juga menyebabkan ikan dapat diproses lebih lanjut menjadi berbagai macam produk olahan. Hal lainnya, ikan juga mempunyai keragaman dan kisaran harga yang sangat bervariasi sehingga dapat memenuhi semua segmen kelas ekonomi. Sehingga dengan biaya terbataspun, kebutuhan protein dapat lebih tercukupi.

Sebagai penyedia lapangan kerja dan penghasil devisa, perikanan telah berkontribusi terhadap penciptaan dan pengembangan industri rumah tangga, usaha mikro kecil menengah dan industri besar berskala ekspor. Menurut FAO (2012), diantara produk pangan, perdagangan internasional ikan merupakan yang paling dinamis dengan pertumbuhan nilai perdagangan yang tinggi. Sekitar 80% produksi ikan dan hasil perikanan lainnya berasal dari negara berkembang, dan 50% diantaranya diekspor ke pasar internasional. Dengan berkembangnya industri perikanan baik berskala nasional maupun global telah mendorong berkembangnya industri manufaktur dan jasa pendukung.

Dari sisi konsumsi, tingkat konsumsi ikan per kapita masyarakat Indonesia tertinggal hampir dari semua negara di ASEAN. Tahun 2012 tercatat tingkat konsumsi ikan Indonesia sebesar 34,76 kg per kapita dan pada tahun 2013 ditargetkan meningkat menjadi 35,14 kg per kapita. Meski konsumsi ikan Indonesia masih rendah, namun dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa sumbangan protein ikan Indonesia terhadap total konsumsi protein hewani masih lebih tinggi dibanding negara-negara ASEAN yang memiliki tingkat konsumsi ikan lebih tinggi dari Indonesia seperti Malaysia, Philipina, Thailand, Vietnam dan Myanmar.

Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi perikanan di Indonesia yang didominasi oleh budidaya ikan air tawar. Hal ini dikarenakan potensi budidaya ikan air tawar dan teknologi budidaya di daerah Jawa Barat telah berkembang dengan baik. Ditambah lingkungan perairan Jawa Barat, seperti sungai, danau, waduk dan lainnya sangat cocok untuk kegiatan budidaya ikan. Salah satu contoh perairan di Jawa Barat yang dikembangkan untuk kegiatan budidaya perikanan yaitu waduk Cirata, Jatiluhur dan Saguling. Waduk yang mendapatkan pengairan dari sungai Citarum tersebut dikembangkan budidaya ikan didalam Keramba Jaring Apung (KJA). Jawa Barat memiliki beberapa sentra produksi perikanan dengan berbagai komoditas ikan air tawar yang diunggulkan. Komoditas ikan air tawar unggulan Jawa Barat diantaranya ikan mas, ikan nila dan ikan lele.

Daerah di Jawa Barat yang terkenal akan produksi budidaya ikannya yaitu Kabupaten Subang. Pada tahun 2014 produksi ikan di Kabupaten Subang mencapai 2. 073,36 ton dengan

(27)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

pertumbuhan produksi 12,55 persen. Teknologi budidaya ikan telah berkembang dengan pesat di Kabupaten Subang, bahkan belakangan mulai dikembangkan teknologi reproduksi ikan dengan rekayasa genetik. Pengembangan teknologi rekayasa genetik pada reproduksi ikan dikembangkan oleh para peneliti dan Guru Besar IPB yang bekerjasama dengan Balai Budidaya Perikanan. Sehingga produksi ikan dapat ditingkatkan dengan baik di berbagai sentra produksi perikanan. Dari data diatas menunjukan potensi yang cukup besar dalam mengembangkan komoditas ikan Kabupaten Subang.

Dibandingkan dengan produksi perikanan budidaya daerah lain di Jawa Barat, Kabupaten Subang merupakan salah satu sentra produksi dengan produktifitas yang cukup tinggi. Pengembangan teknologi dan kebijakan pemerintah daerah terhadap kegiatan usaha tani perikanan budidaya merupakan faktor pendukung dalam peningkatan produksi perikanan budidaya.

Potensi yang cukup besar yang dimiliki oleh sektor perikanan Kabupaten Subang mampu menghasilkan peluang usaha baru dalam memaksimalkan potensi yang ada, khususnya dalam bidang pengolahan produk perikanan. Karakteristik produk perikanan yang mudah rusak dan tidak tahan lama menyebabkan daya saing produk perikanan dalam bentuk ikan segar kurang mampu bersaing dengan produk substitusi yang ada di pasaran. Penanganan pasca panen dari kegiatan budidaya perikanan di Kabupaten Subang harus dapat ditingkatkan, karena jika penanganan pasca panen yang kurang optimal akan menyebabkan nilai jual produk perikanan menurun. Dengan begitu pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan sangat dibutuhkan di Kabupaten Subang.

Konsumsi ikan pada masa mendatang diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan kesejahteraan dan kesadaran masyarakat akan arti penting nilai gizi produk perikanan bagi kesehatan dan kecerdasan otak. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Dirjen. Pemanfaatan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) terus mengkampanyekan Gerakan Makan Ikan (GEMARIKAN) dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi ikan. GEMARIKAN digencarkan pemerintah untuk mengembangkan peluang pasar bagi produk-produk olahan hasil perikanan.

Di subsistem hilir pelaku usaha pengolahan ikan menjadi ujung tombak dalam meningkatkan dan merangsang konsumsi ikan masyarakat. Karena dengan berbagai varian dan inovasi pengolahan dapat meningkatkan nilai tambah (added value ) dari komoditas perikanan yang selama ini hanya dikonsumsi dalam bentuk ikan segar. Berbagai keunggulan kegiatan pengolahan cukup mampu memberikan manfaat lebih terhadap komoditas perikanan, seperti daya tahan yang meningkat, penyimpanan yang mudah dan cita rasa serta keunikan yang mampu merangsang tingkat konsumsi ikan masyarakat. Sifat produk perikanan yang mudah

(28)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

rusak dengan kondisi potensi produksi budidaya yang cukup baik, maka keberadaan unit usaha pengolahan perikanan sangat dibutuhkan.

Menurut Amri (2007) penanganan pasca panen dengan menggunakan teknologi pengolahan, ikan-ikan yang diproduksi mampu menghasilkan nilai tambah bagi pelaku usaha perikanan. Pengolahan ikan bermanfaat dalam meningkatkan nilai tambah produk-produk perikanan, seperti daya tahan produk lebih lama, cita rasa lebih tinggi, harga meningkat, memudahkan dalam kegiatan pemasaran, penyimpanan lebih mudah dan daya saing produk di pasaran meningkat.

Menurut Kurniawan (2011) ikan dan hasil perikanan merupakan bahan pangan yang mudah membusuk, sehingga proses pengolahan bertujuan untuk menghambat atau menghentikan aktivitas zat-zat dan mikroorganisme yang dapat menyebabakan kerusakan mutu ikan. Selain untuk menghambat atau menghentikan aktivitas zat-zat dan mikroorganisme, pengolahan juga bertujuan untuk memperpanjang daya tahan dan mendiversifikasikan produk olahan hasil perikanan. Proses pengolahan hasil perikanan meliputi pengolahan dengan suhu rendah, penggaraman, pemindangan, pengeringan, pengasapan, fermentasi, pengolahan dengan suhu tinggi, dan diversifikasi pengolahan ikan.

1. Penanganan dengan suhu rendah

Pengolahan dengan suhu rendah merupakan proses pemindahan panas dari tubuh ikan ke bahan lain. Penanganan dengan suhu rendah terdiri dari pendinginan dan pembekuan. Pendinginan terhadap ikan memiliki kelebihan yaitu sifat-sifat asli ikan tidak mengalami perubahan tekstur, rasa, dan bau. Pembekuan ikan menggunakan suhu jauh dibawah titik beku ikan dan mengubah hamper seluruh kandungan air pada ikan menjadi es. Pendinginandan pembekuan hanya mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan menghambat aktivitas mikroorganisme sehingga aktivitas akan kembali normal jika suhu tubuh ikan kembali naik.

2. Penggaraman

Penggaraman merupakan cara pengawetan yang sudah lama dilakukan dalam pengolahan hasil perikanan. Tujuan dari penggaraman adalah untuk memperpanjang daya tahan dan daya simpan ikan. Pengawetan ikan dengan cara penggaraman terdiri dari dua proses yaitu proses pengeringan dan proses penggaraman. Proses pengeringan dilakukan dengan mengurangi kadar air dalam badan ikan sampai titik tertentu sehingga bakteri tidak dapat hidup dan berkembang lagi. Ikan yang mengalami proses penggaraman menjadi awet karena garam dapat menghambat dan membunuh bakteri penyebab kebusukan ikan.

(29)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

Pemindangan ikan merupakan cara pengawetan ikan sekaligus pengolahan ikan yang menggunakan teknik penggaraman dan pemanasan ikan. Prinsip pemindangan adalah perebusan ikan dalam suasana bergaram selama jangka waktu tertentu da dalam suatu wadah terbuka atau tertutup. Perebusan ikan pada suhu dan tekanan normal tersebut dapat membunuh bakteri yang ada pada ikan. Penambahan garam akan mengawetkan produk karena garam mempunyai sifatbakterisidal dan bakteriostatik. Lama perebusan dan konsentrasi garam air erebus berpengaruh terhadap rasa dan daya awet produk pindang.

4. Pengeringan

Pengeringan ikan merupakan cara pengawetan ikan dengan mengurangi kandungan air pada ikan yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti sehingga ikan yang dikeringkan mempunyai waktu simpan lebih lama.

5. Pengasapan

Pengasapan merupakan cara pengolahan atau pengawetan dengan memanfaatkan kombinasi perlakuan pengeringan dan pemberian senyawa kimia alami dari hasil pembakaran bahan bakar alami. Pengasapan ikan bertujuan untuk mengawetkan ikan dengan memanfaatkan bahan alam dan memberi rasa dan aroma yang khas.

6. Fermentasi

Fermentasi merupakan cara pengolahan melalui proses penguraian senyawa dari bahan-bahan protein kompleks. Fermentasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fermentasi yang menghasilkan produk dengan bentuk dan sifat yang berubah, misalnya terasi, kecap ikan, dan fermentasi yang menghasilkan senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan atau daya awet dalam produk, misalnya pembuatan ikan peda.

7. Pengolahan dengan suhu tinggi

Pengalengan ikan merupakan cara pengawetan dengan penggunaan panas untuk mengurangi jumlah seminimal mungkin serta mematikan mikroorganisme pembusuk dan mengubah ikan dari bentuk mentah menjadi produk yang siap disajikan. Pengalengan harus memperhatikan kemasan dan sterilisasi. Kemasan harus tertutup dengan sangat rapat sehingga tidak dapat ditembus oleh air, udara, kerusakan akibat oksidasi, atau perubahan cita rasa. Sterilisasi adalah usaha untuk membebaskan alat-alat atau bahan-bahan dari segala bentuk macam kehidupan terutama mikroorganisme. 8. Diversifikasi pengolahan ikan

Perkembangan teknologi menyebabkan pengolahan hasil perikanan semakin berkembang, tidak hanya sebatas proses pengolahan saja, tetapi sudah disesuaikan dengan keinginan dan selera konsumen. Diversifikasi produk olahan ikan dilakukan

(30)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

untuk mengoptimalkan pengolahan dan untuk memenuhi keinginan dan selera konsumen. Diversifikasi produk olahan ikan diantaranya petis, abon, dendeng, kerupuk, sosis, nugget, siomay, bakso, kaki naga, ekado, otak-otak, dan empek-empek. B. Area Proyek Perubahan

1. Rasionalitas Pemilihan/Penerapan Area Proyek Perubahan

Sebagai daerah produsen ikan, tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Subang masih terbilang rendah. Masih rendahnya rata-rata tingkat konsumsi ikan Kabupaten Subang adalah hal yang patut disayangkan, mengingat sebagai sumber pangan, ikan mengandung banyak kandungan gizi esensial yang sangat bermanfaat. Pada setiap ekor ikan terkandung berbagai macam mineral yang diperlukan oleh tubuh (iodium, seng, kalium, kalsium, dll), vitamin, protein, dan asam lemak yang sangat bermanfaat untuk kesehatan serta membantu perkembangan otak dan kecerdasan. Sementara itu, kandungan omega 3 pada ikan dan hasil laut lainnya seperti tiram, udang, cumi melebihi 100 mg/100 gram berat ikan yang dapat dimakan, jauh di atas bahan pangan lain seperti sapi 22 mg/100 gram berat daging, ayam 19 mg/100 gram berat daging, terlebih lagi babi 0 mg/100 gr. Selain itu, ikan merupakan sumber protein hewan yang relatif murah, mudah didapat, dapat dibuat berbagai macam masakan dengan cita rasa yang beragam, menyehatkan dan mencerdaskan, serta tidak ada keraguan akan kehalalannya.

Rendahnya tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Subang, dapat dibagi menjadi tiga aspek penyebab, yaitu:

1. Aspek ketersedian produk perikanan, yang dapat diurai menjadi beberapa penyebab yaitu:

a) Tidak kontinyunya pasokan ikan b) Rendahnya kualitas produk ikan

c) Belum berkembangnya diversifikasi produk perikanan d) Belum meratanya distribusi produk perikanan

e) Sarana dan prasarana produksi perikanan yang masih rendah f) Terbatasnya teknologi produksi, pengolahan, dan pemasaran 2. Aspek permintaan produk perikanan, dengan penyebab yaitu:

a) Adanya mitos dan persepsi negatif makan ikan b) Rendahnya pengetahuan tentang kandungan gizi ikan

c) Belum berkembangnya preferensi aneka olahan berbahan ikan 3. Aspek kelembagaan, dengan faktor penyebab:

(31)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

a) Belum optimalnya kerjasama lembaga terkait dalam usaha peningkatan konsumsi ikan

b) Belum berkembangnya data dan informasi tentang ikan dan prosuk olahannya

c) Kurangnya datasupply dan demand produk perikanan 2. Keterkaitan Area Perubahan Dengan Isu Strategis Organisasi

Pembangunan kelautan dan perikanan di Kabupaten Subang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan walaupun peningkatannya tidak terlalu signifikan. Indikator yang dijadikan tolok ukur untuk menentukan meningkat tidaknya pembangunan kelautan dan perikanan antara lain dari perkembangan produksi ikan, konsumsi per kapita, dan perkembangan pendapatan sedangkan yang menjadi pendorong / pemacu meningkatnya pembangunan kelautan dan perikanan adalah adanya pelaksanaan program / kegiatan yang merupakan implementasi dari suatu kebijakan.

Produksi ikan di Kabupaten Subang dari tahun 2013 – 2014 mengalami peningkatan baik produksi yang berasal dari penangkapan maupun budidaya. Data selengkapnya adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Data Perkembangan Produksi Ikan

No Jenis Usaha Jumlah Produksi Ikan (Ton)

Tahun 2013 Tahun 2014 Tertimbang (%) I Penangkapan Laut 18.243,83 18.324,03 0,44 Perairan Umum 451,87 396,88 (12,17) Jumlah I 18.695,70 18.720,91 0,13 II Budidaya Tambak 14.563,04 18.754,64 26,93 Kolam Air Tenang 14.187,98 11.624,31 (18,07) Sawah 177,59 51,19 (71,17) Kolam Air Deras 4.867,12 5.138,26 5,57 Rumput Laut 88,00 72,00 (18,18)

Jumlah II 33.883,73 35.644,98

T O T A L 52.579,43 54.365,89 3,40

Sedangkan konsumsi ikan per kapita di Kabupaten Subang dari tahun 2013 – 2014 mengalami peningkatan walaupun secara prosentase menunjukkan bahwa

(32)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

kenaikkan konsumsi ikan tidak sebesar kenaikkan prosuksi ikan. Data selengkapnya adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Data Konsumsi Ikan Per Kapita

No Uraian Konsumsi Ikan Per Kapita (Kg/Kapita/Tahun) Tahun 2013 Tahun 2014 Kenaikan (%)

1. Konsumsi Per Kapita 22,60 23,06 2,03

Perkembangan PDRB dan Income Per Kapita di Kabupaten Subang dari tahun 2013 – 2014 mengalami peningkatan yang sangat signifikan dimana ini membuktikan bahwa dari sektor perikanan mulai tumbuh menjadi sektor andalan di Kabupaten Subang. Data selengkapnya adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Data Perkembangan PDRB dan Income Per Kapita

Uraian Perkembangan PDRB dan Income Per Kapita (Rp) Tahun 2013 Tahun 2014 Kenaikan (%) PDRB 96.975.099 318.425.080 228,3 Income / Kapita 18.329 39.627,70 116,2

Dari data-data di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa sektor perikanan mengalami pergeseran dari sektor sekunder menjadi sektor primer penyokong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Subang. Oleh karena ini, perlu adanya suatu strategi dan kebijakan yang tepat agar sektor perikanan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya, dapat terus tumbuh dan berkembang. Peningkatan pertumbuhan produksi tetap harus didukung oleh peningkatan konsumsi ikan agar stabilitas antara supply dan demand tetap terjaga dengan baik sehingga sektor perikanan menjadi sektor primadona di Kabupaten Subang.

Dari hasilbenchmarking Diklatpim II yang dilaksanakan di Thailand dapat diambil pembelajaran yang patut dicontoh, antara lain:

1. Pelatihan dan pengembangan teknologi perikanan baik untuk para nelayan, petani ikan, maupun pelaku industri perikanan agar dapat memiliki daya saing. 2. Ketersediaan pasar dan regulasi pemerintah yang melindungi industri perikanan. 3. Pengembangan pusat-pusat (clusters) berbasis perikanan baik perikanan

budidaya maupun perikanan tangkap.

4. Pengembangan dan perkuatan dalam industri kapal, khususnya kapal nelayan. C. Ruang Lingkup

(33)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

Dalam proyek perubahan ini ruang lingkup difokuskan pada peningkatan konsumsi ikan baik melalui peningkatan produksi ikan, pengolahan, maupun pemasaran. Sedangkanoutput dan outcome yang diharapkan muncul adalah sebagai berikut:

1. Internal (Output dan Outcome)

Unit eselon II atau SKPD merupakan suatu unit organisasi yang memiliki entitas sendiri, ini berarti unit eselon II memiliki area yang merupakan tanggungjawab untuk menghasilkan jabaran kebijakan dan strategi yang tepat dan memiliki proses transformasi dan pada akhirnya menghasilkan kegiatan yang tepat sebagai outputnya. Pada proyek perubahan ini, output yang dihasilkan adalah:

a. Buku Panduan Pembuatan Standar Pelayanan dan Buku Pembuatan Standart Operation Procedure (SOP) untuk Dinas Kelautan dan Perikanan; merupakan buku panduan untuk pembuatan suatu standar pelayanan dan pembuatan standart operational procedure (SOP) untuk pelayanan dan kegiatan yang ada di Dinas Kelautan dan Perikanan.

b. Surat Keputusan Bupati Subang tentang Kelompok Kerja Terpadu Pemasyarakatan Konsumsi Ikan; sebagai dasar hukum bagi kerjasama antara SKPD di lingkung Pemerintah Kabupaten Subang dalam upaya meningkatkan konsumsi ikan.

Adapun outcome dari kegiatan tersebut adalah peningkatan kinerja dari Dinas Kelautan dan Perikanan serta kerjasama yang baik dan terarah dengan SKPD lainnya.

2. Eksternal (Output dan Outcome)

Sesuai dengan Tusi dari Dinas Kelautan dan Perikanan, maka output dalam proyek perubahan ini yaitu:

1. Bimbingan Teknis Pengembangan Industri Tepung Ikan.

2. Penyuluhan Pengembangan Usaha Perikanan Berbasis Kerakyatan

3. Pelatihan Budidaya Ikan Mas dan Nila

4. Pelatihan Teknis Usaha Perikanan

5. Sosialisasi Budidaya Ikan Jaring Terapung di Perairan Umum

6. Penyerahan bantuan Jaring Insang (Gill Net) dan Jaring Udang (Trimmel Net) Untuk Masyarakat Nelayan

7. Penyerahan Benih Ikan Untuk Dilepaskan di Perairan Terbuka (restocking)

(34)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

8. Penyerahan Bantuan Benih dan Bibit Ikan Kualitas Unggul Bagi Petani Ikan

9. Pemberian Bantuan Alat Pengolahan Makanan Berbahan Ikan dan Alat Pemasaran

10. Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Ikan Kepada Para Balita

11. Pembuatan Buku Tentang Kandungan Gizi Pada Ikan dan Cara Memasak Ikan

12. Pembuatan Baligo, Banner, Spanduk, Leaflet, dan Pamflet untuk kegiatan Gemarikan

Kegiatan-kegiatan tersebut diatas diharapkan dapat memberikanoutcome berupa: a. Berkembangnya pengetahuan masyarakat dalam usaha perikanan b. Meningkatnya pengetahuan petani ikan dalam berbudiaya ikan

c. Meningkatnya pengetahuan masyarakat pelaku industri berbasis perikanan baik industri yang bersifat hulu (pakan dan benih ikan) maupun hilir (industri pengolahan makanan berbahan ikan)

d. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat makan ikan dan cara pengelohan ikan yang baik dan enak.

D. Kriteria Keberhasilan 1. Indikator Keberhasilan

a. Terlaksananya Bimbingan Teknis Pengembangan Industri Tepung Ikan. b. Terlaksananya Penyuluhan Pengembangan Usaha Perikanan Berbasis

Kerakyatan

c. Terlaksananya Pelatihan Budidaya Ikan Mas dan Nila d. Terlaksananya Pelatihan Teknis Usaha Perikanan

e. Terlaksananya Sosialisasi Budidaya Ikan Jaring Terapung di Perairan Umum

f. Terlaksananya Penyerahan bantuan Jaring Insang (Gill Net) dan Jaring Udang (Trimmel Net) Untuk Masyarakat Nelayan

g. Terlaksananya Penyerahan Benih Ikan Untuk Dilepaskan di Perairan Terbuka (restocking)

h. Penyerahan Bantuan Benih dan Bibit Ikan Kualitas Unggul Bagi Petani Ikan i. Terlaksananya Pemberian Bantuan Alat Pengolahan Makanan Berbahan

(35)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

j. Terlaksananya Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Ikan Kepada Para Balita

k. Terwujudnya Buku Tentang Kandungan Gizi Pada Ikan dan Cara Memasak Ikan

l. TerwujudnyaBaligo, Banner, Spanduk, Leaflet, dan Pamflet untuk kegiatan Gemarikan

2. Faktor Kunci Keberhasilan

a. Tim kerja yang solid dan terkendalikan; b. Tersedianya sarana dan prasarana;

c. Komitmen bersama antara Pemerintah Daerah, Para Kelompok Nelayan, KUD Mina, Petani Ikan, Pelaku industri perikanan, dan Masyarakat dalam meningkatkan produksi dan konsumsi ikan

Secara garis besar, aksi perubahan yang dilaksanakan dapat dilihat pada alur pikIr atau frame work dibawah ini,

(36)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna Diagnostic Reading

Gambar 2. Alur piki atau framework proyek perubahan

RPJMD RENSTRA DINAS VISI-MISI DINAS TUPOKSI DINAS DASAR HUKUM KONDISI HARAPAN GEJALA PERMASALAHAN (GAP) ALTERNATIF PRIORITAS PERMASALAHAN ( AREA PERUBAHAN) SOLUSI PERUBAHAN (INOVASI) PETA STAKEHOLDERS SMART OFFICE MILESTONE IMPLEMENTASI MANFAAT HASIL BENCHMARKING FAKTOR KUNCI PERKIRAAN KENDALA / H A 1. Pelatihan dan pengembangan

teknologi perikanan

2. Ketersediaan pasar dan perlindungan Pemerintah

3. Pengembangan cluster berbasis perikanan

4. Pengermbangan dan perkuatan industry kapal nelayan

1. Meningkatkan Kinerja Dinas 2. Meningkatkan

pengetahuan, nelayan, petani ikan, pelaku usaha, dan masyarakat tentang ikan dan perikanan STRATEGI MENGATASI KENDALA JANGKA PENDEK JANGKA MENENGAH JANGKA PANJANG FAKTOR KUNCI KEBERHASILAN

(37)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

BAB II

DESKRIPSI PROYEK PERUBAHAN

A. Roadmap/Milestone Proyek Perubahan

1. Kegiatan

1) Tahap Perencanaan i. Tahap Persiapan

Tahap persiapan merupakan tahap yang penting karena menentukan kelancaran dari tahapan-tahapan selanjutnya. Dalam tahap persiapan dimulai dari orientasi di area Dinas Kelautan dan Perikanan untuk mengetahui perkembangan terkini yang terjadi selama Project Leader mengikuti Diklatpim II di Kampus Pusat Kajian dan Diklat Aparatur I LAN RI Jatinangor.

ii. Studi Literatur

Studi Literatur dilakukan sebagai tolok ukur dan benchmarking dari setiap tahapan yang akan dilaksanakan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan kaidah-kaidah yang baku dan umum berlaku.

2) Tahap Pengorganisasian i. PembuatanTeamwork

Sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang No. 962/KEP. /DKP/V/2015 tentang Penunjukan Tim Pengelola Proyek Perubahan Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Subang pada tanggal 19 Mei 2015 tim pengelola mempunyai tugas melakukan analisis prosedur, pengembangan, melakukan penerapan, sosialisasi, melakukan monitoring dan evaluasi serta penyempurnaan-penyempurnaan hasil kegiatan.

Tim pengelola dibentuk menjadi 2 (dua) Tim Kelompok Kerja (Pokja) dengan anggota dari Dinas Kelautan dan Perikanan. Tim Pokja I bertugas untuk melakukan sosialisasi, pelatihan, dan bantuan kepada para nelayan dan petani ikan. Tim Pokja bertugas untuk menyusun Buku Panduan Standar Pelayanan dan Buku Panduan Standart Operation Procedur (SOP), kelengkapan kegiatan Gemarikan 2015

ii. Sosialisasi Proyek Perubahan

Proyek perubahan ini perlu disosialisasikan kepada seluruh staf di Dinas Kelautan dan Perikanan. Sosialisasi ini dilakukan karena proyek perubahan yang dilaksanakan akan berimbas pula kepada seluruh jajaran staf di lingkungan Dinas Kelautan dan Perikanan baik secara langsung maupun tidak langsung.

(38)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna 3) Tahap Pelaksanaan

i. Buku Panduan Pembuatan Standar Pelayanan di Dinas Kelautan dan Perikanan

a. Maksud penyusunan petunjuk teknis adalah sebagai acuan atau panduan bagi Dinas Kelautan dan Perikanan dalam penyusunan, penetapan, dan penerapan Standar Pelayanan.

b. Tujuan petunjuk teknis penyusunan, penetapan, dan penerapan Standar Pelayanan adalah untuk memberikan kepastian, meningkatkan kualitas dan kinerja pelayanan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan selaras dengan kemampuan Dinas Kelautan dan Perikanan sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat.

c. Sasaran petunjuk teknis ini adalah agar Dinas Kelautan dan Perikanan mampu menyusun, menetapkan, dan menerapkan Standar Pelayanan dengan baik dan konsisten.

Dalam menyusun, menetapkan dan menerapkan suatu Standar Pelayanan dilakukan dengan memperlihatkan prinsip :

a) Sederhana. Standar pelayanan yang mudah dimengerti, mudah diikuti, mudah dilaksanakan, mudah diukur, dengan prosedur yang jelas dan biaya terjangkau bagi masyarakat maupun penyelenggara.

b) Konsistensi. Dalam penyusunan dan penerapan standar pelayanan harus memperhatikan ketetapan dalam mentaati waktu, prosedur, persyaratan, dan penetapan biaya pelayanan yang terjangkau.

c) Partisipatif. Penyusunan Standar Pelayanan dengan melibatkan masyarakat dan pihak terkait untuk membahas bersama dan mendapatkan keselarasan atas dasar komitmen atau hasil kesepakatan.

d) Akuntabel. Hal-hal yang diatur dalam Standar Pelayanan harus dapat dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan secara konsisten kepada pihak yang berkepentingan. e) Berkesinambungan. Standar Pelayanan harus dapat berlaku sesuai perkembangan

kebijakan dan kebutuhan peningkatan kualitas pelayanan.

f) Transparansi. Standar Pelayanan harus dapat dengan mudah diakses dan diketahui oleh seluruh masyarakat.

g) Keadilan. Standar pelayanan harus menjamin bahwa pelayanan yang diberikan dapat menjangkau semua masyarakat yang berbeda status ekonomi, jarak lokasi geografis, dan perbedaan kapabilitas fisik dan mental.

(39)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna ii. Buku Panduan Pembuatan SOP di Dinas Kelautan dan Perikanan

Standart Operation Procedur (SOP) adalah serangkaian instruksi tertulis yang dibakukan mengenai berbagai proses Penyelenggaraan administrasi Pemerintahan, bagaimana dan kapan harus dilakukan dimana dan oleh siapa dilakukan.

Penyusunan SOP harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Kemudahan dan kejelasan. Prosedur-prosedur yang distandarkan harus dapat dengan mudah dimengerti dan diterapkan oleh semua pegawai bahkan seseorang sama sekali baru dalam tugas pelaksanaan tugasnya.

b. Efisiensi dan efektivitas. Prosedur-prosedur yang distandarkan harus merupakan prosedur yang paling efisien dan efektif dalam proses pelaksanaan tugas.

c. Keselarasan. Prosedur-prosedur yang distandarkan harus selaras dengan prosedur-prosedur standar lain yang terkait.

d. Ketertekunan. Output dari prosedur-prosedur yang distandarkan mengandung standar kualitas (mutu) tertentu yang dapat diukur pencapaian keberhasilannya. e. Dinamis. Prosedur-prosedur yang distandarkan harus dengan cepat dapat

disesuaikan dengan kebutuhan peningkatan kualitas pelayanan yang berkembang dalam administrasi Pemerintahan.

f. Berorientasi pada pengguna (mereka yang dilayani). Prosedur-prosedur yang distandarkan harus mempertimbangkan kebutuhan pengguna (customer’s needs) sehingga dapat memberikan kepuasan kepada pengguna.

g. Kepatuhan hukum. Prosedur-prosedur yang distandarkan harus memenuhi ketentuan dan peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku.

h. Kepastian hukum. Prosedur-prosedur yang distandarkan harus ditetapkan oleh pimpinan sebagai sebuah produk hukum yang ditaati, dilaksanakan dan menjadi instrument untuk melindungi pegawai dari kemungkinan tuntutan hukum.

iii. Bimbingan Teknis Pengembangan Industri Tepung Ikan.

Merupakan suatu bimbingan teknis bagi para kelompok mandiri pakan ikan yang bertujuan memberikan penjelasan teknis dan pratik mengolah sisa-sisa pengolahan ikan menjadi tepung ikan yang dapat berkualitas dan terjamin mutunya sehingga dapat bersaing di pasar.

(40)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

Merupakan temu wicara dengan para pengusaha mikro di bidang perikanan sehingga didapat suatu persamaan persepsi dan keselarasan antara Pemerintah dengan para pengusaha mikro yang bergerak di bidang perikanan mengenai pengembangan usaha perikanan rakyat.

v. Pelatihan Budidaya Ikan Mas dan Nila

Materi Pelatihan Budidaya Ikan Mas dan Nila ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi para penyuluh perikanan dan pelaku utama dan pelaku usaha perikanan dengan maksud meningkatkan kompetensi dalam pengembangan potensi ikan mas sebagai produk unggulan yang bernilai ekonomis.

vi. Pelatihan Teknis Usaha Perikanan

Usaha di bidang perikanan merupakan usaha yang cukup panjang. Dari mulai industri bahan pakan ikan, pakan ikan, pembenihan ikan, pendederan ikan, pembesaran ikan, sampai industri pengolahan merupakan suatu mata rantai yang dapat dikembangkan sebagai suatu usaha yang menjanjikan secara ekonomis. Oleh karena itu perlu diadakan suatu pelatihan yang intesif.

vii. Sosialisasi Budidaya Ikan Jaring Terapung di Perairan Umum

Jaring terapung merupakan suatu jenis budidaya yang memanfaatkan perairan terbuka seperti waduk, danau, situ, dan embung. Kelebihan budidaya ini adalah investasi awal relatif rendah karena tidak memerlukan biaya lahan dan pembuatan kolam serta ikan cepat besar karena ada makanan alamiah dari daerah tersebut. Tapi terdapat pula kekurangannya yaitu pakan ikan yang ditebar dan tidak termakan oleh ikan lama kelamaan akan mengalami pembusukan dan dapat merusak ekosistem dari tempat jaring apung itu berada. Pemerintah mulai membatasi jumlah luas dari jaring apung sehingga perlu dilakukan suatu sosialisasi langsung kepada masyarakat pembudidaya ikan jaring terapung sehingga mereka dapat mengolah jaring terapung dengan baik tanpa merusak ekosistem yang ada.

viii. Penyerahan bantuan Jaring Insang (Gill Net) dan Jaring Udang (Trimmel Net) Untuk Masyarakat Nelayan

Merupakan langkah yang diambil oleh Dinas Kelautan dan Perikanan dalam membantu para nelayan ekonomi lemah yang kesulitan dalam penggantian jenis jaring dari jaring pukat yang telah dilarang pemerintah karena dapat merusak lingkungan biota laut menjadi jenis jaring yang diijinkan oleh pemerintah.

ix. Penyerahan Benih Ikan Untuk Dilepaskan di Perairan Terbuka (restocking)

Ikan merupakan salah satu mata rantai dari suatu ekosistem air. Karena adanya overfishing dan perlakuan terhadap lingkungan perairan yang tidak bijak, maka terjadi

(41)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

penyusutan jumlah ikan di perairan umum yang akan berakibat rusaknya rantai dari ekosistem perairan. Untuk memperbaiki dan menjaga ekosistem perairan maka Dinas Kelautan dan Perikanan perlu melakukan restocking atau penebaran benih-benih ikan di perairan umum agar jumlah ikan yang ada tetap terjaga.

x. Penyerahan Bantuan Benih dan Bibit Ikan Kualitas Unggul Bagi Petani Ikan

Balai Budidaya Ikan telah mengembang berbagai varian atau spicies dari ikan budidaya yang memiliki bebrbagai keunggulan seperti: tahan penyakit, pertumbuhan yang cepat, kebutuhan pakan yang lebih sedikit, dan kemampuan beradaptasi dalam kondisi air tertentu. Dalam rangka meningkatkan produksi hasil perikanan khususnya perikanan budidaya dan memasyarakatkan benih ikan berkualitas unggul, maka Dinas Kelautan dan Perikanan memberikan bantuan benih dan bibit ikan kualitas unggul kepada para pembudidaya ikan. Bibit yang dibagikan antara lain: ikan mas jenis Rajadanu, ikan nila hitam jenis Nirwana, ikan nila merah jenis Nifi, ikan patin, dan ikan lele jenis Sangkuriang dan Mutiara.

xi. Pemberian Bantuan Alat Pengolahan Makanan Berbahan Ikan dan Alat Pemasaran Dalam menyerap hasil produksi ikan dan dalam memenuhi selera pasar terhadap berbagai jenis hasil olahan ikan, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Subang melalui Dinas Kelautan dan Perikanan perlu memberikan suatu stimulasi berupa bantuan alat-alat pengolah kepada para produsen makanan berbahan ikan yang memeiliki modal terbatas agar dapat meningkatkan kapasitas produksi sesuai permintaan pasar yang terus meningkat.

Hasil produksi juga perlu didiukung oleh sistem pemasaran yang aktif dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah kesehatan berupa sistem rantai dingin. Oleh sebab itu, maka Dinas Kelautan dan Perikanan memberikan pula bantuan alat-alat pemasaran berupa frezzer dan cool box agar hasil prosuk olahan dapat dipasarkan dalam jangka waktu yang lebih panjang dengan kondisi yang tetap menarik tanpa zat pengawet.

xii. Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Ikan Kepada Para Balita

Dalam masyarakat Indonesia, masih saja terdapat anggapan yang negatif tentang kebiasaan makan ikan. Oleh karena itu dirasakan perlunya suatu terobosan untuk memperkenalkan dan membiasakan kepada anak usisa balita untuk menyukai makan ikan. Dinas Kelautan dan Perikanan melakukan pemberian makanan tambahan makanan berbahan ikan.

xiii. Pembuatan Buku Tentang Kandungan Gizi Pada Ikan dan Cara Memasak Ikan

Dalam acara Gemarikan yang direncanakan diadakan awal bulan Agustus, akan dibagikan kepada para serta buku yang menerangkan kelebihan-kelebihan dari ikan

(42)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna

sebagai bahan makanan. Buku ini juga berisikan aneka resep masakan ikan beserta cara pembuatanya dan cara penyajiannya. Diharapkan dengan buku ini terbukalah wawasan dari peserta tentang aneka masakan ikan dan manfaatnya.

xiv. Pembuatan leaflet, pamflet, dan banner Gemarikan

Leaflet, pamflet, dan banner Gemarikan berisi penjelasan singkat dan jelas mengenai manfaat makan ikan dan cara pengolahannya segaligus sebagai media ajakan, himbauan, dan promosi akan arti pentingnya peningkatan konsumsi ikan.

4) Tahap Monitoring dan Evaluasi i. Monitoring

Tahap monitoring merupakan tahap yang sangat menentukan dalam proyek perubahan ini. Hal ini disebabkan karenastakeholders yang terlibat tidak hanya dari dalam Dinas Kelautan dan Perikanan itu sendiri, tapi juga melibatkan stakeholders dari luar Dinas Kelautan dan Perikanan yaitu dari pengurus KUD, pengusaha yang bergerak di bidang perikanan, nelayan, dan petani ikan dengan melibatkan sumberdaya material yang tidak sedikit. Setiap kegiatan yang dilaksanakan harus terlaporkan dengan baik dari mulai tahap perencanaan, pelaksanaan, sampai pada tahap evaluasi sehingga dapat diambil langkah-langkah selanjutnya.

ii. Evaluasi

Mengadakan suatu evaluasi dari setiap kegiatan harus dilakukan agar setiap perkembangan dapat terlaksana dengan baik karena setiap kesalahan dan capaian yang tidak sesuai target dapat terdeteksi sejak awal dan dapat segera dilakukan perbaikan sedini mungkin. Dengan demikian capaian sasaran sesuai target yang direncanakan dapat tercapai dengan baik.

(43)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna 2. Stakeholders

Tabel 4 : Internal Stakeholders

No. Stakesholders Pengaruh Ketertarikan Nilai

1. Bupati (Ojang Sohandi) Tinggi Tinggi 9

2. Wakil Bupati (Imas Aryumningsih) Tinggi Tinggi 9

3. Sekretaris Daerah (Maman Abdurakhman) Tinggi Tinggi 8

4. Asda II (Saad Abdulgani) Tinggi Tinggi 9

5. Sekretaris Dinas (Merry Mariam) Sedang Tinggi 7

6. Kepala Bidang Bina Usaha (Beben Sudrajat) Tinggi Tinggi 8

7. Kepala Bidang Budidaya (Tarlan) Tinggi Tinggi 8

8. Kepala Bidang Kelautan (Naida Rizalmi) Tinggi Tinggi 8

9. Kepala Bidang Program (Bayuaji) Tinggi Tinggi 8

10. Staf pada Bidang Dinas Kelautan dan Perikanan(91 Orang) Sedang Tinggi 7

Tabel 5: External Stakeholders

No Stakesholders Pengaruh Ketertarikan Nilai

1. Kepala Bappeda (Komir Bastaman) Tinggi Netral 6

2. Kepala BPMKB (H. Syawal) Tinggi Netral 6

3. Kepala Diskop&UMKM (Ugit Sugiana) Tinggi Netral 6

4. Kepala Dinkes (Budi Subiantoro) Tinggi Netral 6

5. Inspektur Irda (Ade Mulyawardi) Tinggi Netral 6

6. Kepala DPPKAD (Ahmad Sobari) Tinggi Netral 6

7. Sekretaris BP4KKP (Agus Ismail) Tinggi Netral 6

8. Perbankan Tinggi Rendah 4

9. Pengolah Hasil Ikan Tinggi Rendah 4

10. Pengurus KUD Mina Tinggi Rendah 4

11. Petani Ikan Tinggi Rendah 4

12. Nelayan Tinggi Rendah 4

13. Masyarakat Tinggi Rendah 3

14. Anggota DPRD Rendah Rendah 2

15. LSM Rendah Rendah 1

Keterangan Nilai : 7 – 9 Promoters 5 – 6 Latens 3 – 4 Defenders 0 – 2 Apatheties

(44)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna Untuk dapat lebih jelasnya, dapat dilihat padagambar 2 dibawah ini

Indetifikasi Stakeholders

Gambar 3: Kuadran Stakeholders

INFLUENCE IN T E R E S T PROMOTERS APATHETIES DEFENDERS LATENTS 1. BUPATI 2. SEKDA 3. ASDA III 4. KABID BINUS 5. KABID BUDIDAYA 6. KABID KELAUTAN 7. KABID PROGRAM 1. SEKDIS 2. STAF DKP 1. BAPPEDA 2. BPMKB 3. DISKOP &UKM 4. DINKES 5. IRDA 6. DPPKAD 7. BP4KP 1. PERBANKAN 2. PENGOLAH HASIL IKAN 3. PETANI IKAN 4. NELAYAN 5. MASYARAKAT 1. ANGGOTA DPRD KAB SUBANG 2. LSM

(45)

Laporan Akhir Proyek Perubahan Diklatpim II Kab. Subang H. Sumarna 2. Peta Jaringan (netmap)

Dalam merencanakan suatu proyek perubahan, perlu mengenal terlebih dahulu siapa saja stakeholder yang berkepentingan terhadap perubahan itu. Oleh karena itu perlu dibuat suatu peta jaringan atau netmap yang bertujuan memetakan stakeholders yang terkait dengan perubahan tersebut. Dari netmap itu dapat diperkirakan bagaimana sudut pandang stakeholders terhadap proyek perubahan ini. Untuk melangkah lebih jauh, maka perlu tahu stakeholder mana yang akan mendukung dan menolak. Dari netmap dapat diketahui stakeholder mana saja yang penting dan memiliki pengaruh besar terhadap proyek perubahan ini.

Dalam proyek perubahan ini, dapat digambarkan peta jaringan atau netmap seperti gambar dibawah ini: Legenda Perintah Laporan Koordinasi Sosialisasi

Gambar 4: Peta Jaringan Proyek Perubahan

Bupati Pengolah Ikan Perbankan Petani Ikan DPPKAD Bappeda

Asda III (Mentor)

Kadis DKP (Project Kabid2 DKP Staf DKP DPRD Masyarakat Sekdis DKP BPMKB

Dinas Koperasi & UKM Dinas Kesehatan

IRDA

Sekretaris Daerah

Gambar

Gambar 1. Sumbangan Konsumsi Protein Ikan Indonesia
Tabel 1. Data Perkembangan Produksi Ikan
Tabel 3. Data Perkembangan PDRB dan Income Per Kapita
Gambar 2. Alur piki atau framework proyek perubahanRPJMDRENSTRA DINASVISI-MISI DINASTUPOKSI DINASDASAR HUKUMKONDISI HARAPANGEJALAPERMASALAHAN(GAP)ALTERNATIFPRIORITASPERMASALAHAN (AREA PERUBAHAN)SOLUSIPERUBAHAN(INOVASI)PETASTAKEHOLDERSSMART OFFICEMILESTONEI
+4

Referensi

Dokumen terkait