• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dalam bukunya yang berjudul Prostitusi Cyber, Penetrasi internet yang begitu masif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dalam bukunya yang berjudul Prostitusi Cyber, Penetrasi internet yang begitu masif"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Berkembang pesatnya Teknologi Informasi dan Komunikasi saat ini banyak sekali memberikan kemudahan-kemudahan dan manfaat serta dampak positif bagi manusia di berbagai sektor terutama di bidang teknologi. Menurut Dewi Bunga di dalam bukunya yang berjudul Prostitusi Cyber, “Penetrasi internet yang begitu masif apabila tidak dipergunakan dengan bijak maka akan melahirkan kejahatan di dunia maya atau yang diistilahkan dengan cyber crime.”1

Dengan adanya kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi tersebut tidaklah dipungkiri juga menimbulkan banyak sekali dampak negatif yang salah satunya adalah penyalahgunaan kemajuan teknologi tersebut sebagai sarana untuk melakukan tindak pidana baru di dunia maya. Salah satu contoh tindak pidana baru di dunia maya yaitu tindak pidana prostitusi online.

Prostitusi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai: “pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan; pelacuran.”2 Sedangkan menurut Soerjono Soekanto:

1 Dewi Bunga, Prostitusi Cyber, Udayana University Press, Denpasar, 2012, h. 3.

2

Hasan Alwi dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta, 2003, H. 899

▸ Baca selengkapnya: salah satu karya besar sir muhammad iqbal dalam bukunya adalah buku yang berjudul

(2)

2

Prostitusi adalah istilah yang sama dengan pelacuran yakni suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapat upah. Menurutnya, sebab pelacuran harus ditelaah dari dua sisi yakni faktor endogen dan faktor eksogen. Faktor endogen antara lain nafsu kelamin yang besar, sifat malas dan keinginan yang besar untuk hidup mewah. Faktor eksogen yang utama adalah faktor ekonomis, urbanisasi yang tak teratur, keadaan perumahan yang tak memenuhi syarat dan seterusnya.3

Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul Pantologi Sosial mengemukakan bahwa orang yang melakukan perbuatan prostitusi disebut pelacur yang dikenal juga dengan WTS atau Wanita Tuna Susila.4

Tidak hanya pelacur, di dalam tindak pidana prostitusi online biasanya melibatkan komponen yang saling berkaitan dan menguntungkan satu sama lain yakni Mucikari (Pimp), dan Pelanggan (Client).

Mucikari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): “merujuk pada kata Muncikari yang merupakan arti dari induk semang bagi perempuan lacur; germo; jaruman; alkun.”5

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): “pelacur berasal dari kata lacur yang berarti malang; celaka; sial; buruk laku, sedangkan pelacur diartikan sebagai perempuan yang melacur, wanita tuna susila, sunda.”6 Tetapi pada

3Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005,

h. 375.

4

Kartini Kartono, Pantologi Sosial, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, h. 177

5

Hasan Alwi dkk, Op.Cit., h. 623.

(3)

3

kenyataannya tidak hanya perempuan saja yang melacur tetapi ada juga pria yang melacur atau biasa disebut gigolo.

Sedangkan pelanggan di dalam prostitusi merupakan seseorang atau lelaki hidung belang yang menggunakan jasa pelacur atau PSK untuk memuaskan hasrat nafsunya, biasanya seorang pelanggan dalam mencari seorang pelacur melalui perantara mucikari.

Selama ini yang menjadi sorotan/pandangan masyarakat hanyalah seorang pelacurnya saja yang paling dianggap penting di dalam persoalan praktik prostitusi dan melupakan persoalan mucikari atau germo. Pekerja Seks Komersial tidak selalu tinggal bersama mucikari/germo namun selalu berhubungan dengannya.

Berbeda halnya dengan jaman dulu, prostitusi hanya dilakukan dengan cara face to face tetapi pada jaman sekarang bisa melalui sarana media sosial (online). Oleh sebab itu mengatasi kemajuan tindak pidana yakni tindak pidana melalui sarana internet, pemerintah memberlakukan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagai salah satu upaya penegakan hukum terhadap tindak pidana yang dikategorikan sebagai tindak pidana cyber.

Peraturan mengenai prostitusi online tercakup dalam Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) berbunyi: “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan

(4)

4

dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”7

Ketentuan Pasal 27 ayat (1) UU ITE merupakan ketentuan yang mengatur content-related offence yaitu tindak pidana yang memiliki muatan beberapa tindak pidana yang diatur dalam KUHP, yaitu mengenai tindak pidana kesusilaan. Perumusan pasal tersebut pada dasarnya merupakan reformulasi tindak pidana yang terdapat dalam pasal-pasal KUHP tersebut.8

Seperti halnya Pasal 27 ayat (1) UU ITE mengenai tindak pidana kesusilaan yang termasuk di dalamnya ialah prostitusi online merupakan reformulasi dari pasal 296 KUHP (delik umum). Konstruksi Pasal 27 tersebut menjelaskan perkembangan modus kejahatan dan/atau pelanggaran dengan media komputer/internet khususnya ayat (1), hal itu membantu penegak hukum dalam mengadili kasus-kasus yang menggunakan media informasi elektronik untuk memuluskan kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan.9

Tindak pidana prostitusi online yang merupakan salah satu tindak pidana yang tercakup di dalam pasal 27 ayat (1) UU ITE ini merupakan bentuk pemasaran pelacuran oleh para mucikari untuk menggaet para pelanggan melalui perantara internet. Penggunaan teknologi berbasis internet ini memudahkan para mucikari khususnya dalam menjalankan atau memasarkan pelacurnya, biasanya dengan

7

Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008

8Sigid Suseno, Yuridiksi Tindak Pidana Siber, Refika Aditama, Bandung, 2012, h. 35.

(5)

5

menggunakan sarana media sosial contohnya facebook dan dengan sarana Blackberry Messenger (BBM).

Memperhatikan rumusan di atas, ada 3 (tiga) putusan yang menarik bagi penulis mengenai pemidanaan terhadap prostitusi online sebagaimana terlihat di dalam :

1. Putusan Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta dengan Nomor Putusan 470/ Pid.Sus/2014/PN.Smn

Pelaku tindak pidana dalam putusan tersebut bernama bernama Marcelus Moses Parera Al. Ongen Bin Daniel 28 tahun seorang Mahasiswa. Tuntutan pidana oleh Penuntut Umum yakni Terdakwa bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidanadalam Dakwaan Pasal 27 ayat (1) jo Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Bermula sekitar bulan Juni s/d Juli 2014 terdakwa kenal dengan Ely Setyorini Al Mey. Antara Terdakwa dengan Mey terjalin komunikasi dan terjadi kesepakatan setiap ada teman laki-laki Terdakwa, atau siapapun yang membutuhkan perempuan yang bisa diajak berhubungan intim, maka Terdakwa akan menghubungi dan memberitahukan kepada Mey melalui SMS dengan meminta imbalan sekitar Rp.200.000,- (dua ratus ribu rupiah) sekali berhubungan intim,

Terdakwa menggunakan akun Blackberry Messenger bernama “MasBro jogja 86“ maupun akun Facebook “Fadli Jogja“. Tulisan-tulisan Terdakwa

(6)

6

kemudian dibaca oleh orang lain yaitu salah satu anggota Kepolisian Polda DIY.

2. Putusan Pengadilan Negeri Pangkalpinang dengan Nomor 228/Pid.B/2015/ PN.Pgp

Pelaku tindak pidana dalam putusan tersebut bernama Enzel Binti Kamari berusia 29 Tahun seorang Wiraswasta. Tuntutan pidana oleh Penuntut Umum yakni Terdakwa bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Dakwaan Pasal 27 Ayat (1) jo Pasal 45 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008.

Terdakwa pada hari Senin tanggal 03 Agustus 2015 menawarkan perempuan-perempuan untuk kegiatan prostitusi dengan harga Rp 800.000,- (delapan ratus ribu rupiah) untuk short time via Blackberry Messenger dengan BB ID No. Pin26435CBC dengan akun Blackberry “Nalia Anjel Salon”. Informasi diakses oleh orang lain, sehingga pada tanggal 04 Agustus 2015 terdakwa menyuruh anak buahnya ke salah satu hotel yang ditentukan. Selanjutnya datanglah Petugas Kepolisian langsung mengamankan.

3. Putusan Pengadilan Negeri Pangkalpinang dengan Nomor 267/Pid.B/2015/ PN.Pgp

Pelaku tindak pidana dalam putusan tersebut bernama Danny Rizky Yunansyah alias c0lonely Bin Dahlan Ibrahim (alm) berusia 25 tahun seorang Wiraswasta. Tuntutan pidana oleh Penuntut Umum diatur dan diancam pidana

(7)

7

dalam Dakwaan Pasal 27 Ayat (1) jo Pasal 45 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008.

Mula–mula Terdakwa seorang yang aktif berinternet, lalu mendaftar diri untuk menjadi member pada situs web “lendir.org” yakni situs web yang berisi konten dewasa. Terdakwa diketahui aktif dalam forum diskusi regional untuk wilayah Kepulauan Bangka Belitung yang di dalamnya para member saling bertukar informasi penyediaan jasa prostitusi, di dalam forum pada situs web “lendir.org” tersebut Terdakwa juga mengiklankan jasa prositusi threesome dan swinger (jasa prostitusi yang menyediakan layanan untuk berhubungan badan dengan dua orang wanita atau lebih sekaligus). Dalam iklannya tersebut, Terdakwa menggunakan akun“cOlonely”.

Putusan perkara-perkara tersebut di atas, akan menjadi bahan analisis bagi penulis bagaimana hakim dalam menjatuhkan pidana yang berbeda-beda (disparitas). Apakah faktor-faktor yang menjadi pertimbangan hakim di dalam menjatuhkan putusan, seperti halnya keterpenuhan unsur-unsur di dalam suatu pasal, faktor yang memberatkan dan faktor yang meringankan, serta yang lainnya.

Kebebasan seorang hakim didasarkan pada kemandirian kekuasaan kehakiman yang dijamin oleh Pasal 24 Ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Kekusasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradian guna menegakkan hukum dan keadilan.”10 Selanjutnya di

10

(8)

8

implementasikan dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyebutkan bahwa: “Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim juga wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dariterdakwa.”11

Pemahaman tentang kebebasan hakim yakni seorang hakim dalam memeriksa dan memutuskan suatu perkara bebas dalam menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat serta bebas dari segala pengaruh pihak luar yang dapat merubah keyakinannya tentang rasa keadilan yang dimilikinya.12

2. Rumusan Masalah

Mengapa Hakim menjatuhkan pidana yang berbeda terhadap pelaku tindak pidana Prostitusi Online dalam Putusan Nomor 470/Pid.Sus/2014/PN.Smn, Putusan Nomor 228/Pid.B/2015/PN.Pgp, dan Putusan Nomor 267/Pid.B/2015/ PN.Pgp? 3. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui perbedaan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana prostitusi online dalam

11Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 8 Ayat (2) UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang

Kekuasaan Kehakiman.

12

Sofyan lubis, LHS ARTIKEL Kebebasan Hakim VS Pencari Keadilan, diakses dari http://artikel.kantorhukum-lhs.com/kebebasan-hakim-vs-pencari-keadilan/, dikunjungi pada tanggal 19februari2018 pukul 09.30.

(9)

9

Putusan Nomor 470/Pid.Sus/2014/PN.Smn, Putusan Nomor 228/ Pid.B/2015/ PN.Pgp, dan Putusan Nomor 267/Pid.B/2015/PN.Pgp.

4. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Manfaat Teoritis

Dari hasil penelitian ini penulis berharap agar tulisan tersebut dapat digunakan sebagaimana mestinya dalam rangka menambah wawasan di bidang Ilmu Hukum khusunya dalam memahami Tindak Pidana Prostitusi Online yang berkaitan dengan pengembangan pengetahuan akademik.

b. Manfaat Praktis

Penulis berharap dengan adanya penelitian penulisan ini berguna untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang Prostitusi Online sebagai salah satu tindak pidana Prostitusi yang dilakukan melalui sarana media elektronik dan dilarang menurut ketentuan hukum di Indonesia yakni UU ITE karena pada dasarnya Prostitusi merupakan salah satu penyakit sosial dimana perantaranya atau yang biasa disebut mucikari bida dipidana berdasarkan Pasal 27 ayat (1) UU ITE, sedangkan sanksi bagi pelacurnya terdapat di dalam Perda masing-masing daerah yang berbeda pengaturannya antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya yang biasanya berupa pidana kurungan ataupun denda.

(10)

10 5. Metode Penelitian

a. Jenis Penelitian

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu dengan jalan menganalisisnya.13

Metode penelitian hukum yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif merupakan penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma.14

Teknik pengumpulan data diperoleh dari studi kepustakaan dalam menggali data. Ada beberapa penafsiran hukum yang akan penulis gunakan untuk penelitian tersebut.

b. Pendekatan yang digunakan

Ada beberapa pendekatan yang penulis gunakan, yaitu :

Pendekatan perundang-undangan (Statute Approach). Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundang-undangan yang bersangkut paut dengan permasalahan atau isu hukum yang sedang dihadapi.

Pendekatan Kasus (Case Approach). Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah kasus-kasus yang berkaitan dengan ilmu hukum. Kasus yang ditelaah merupakan kasus yang telah memiliki kekuatan hukum tetap

13Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta,

1986, h. 42.

14 Fahmi M. Ahmadi dan Jaenal Arifin, Metode Penelitian Hukum, Lembaga Penelitian UIN

(11)

11

(Putusan pengadilan) dimana yang dikaji dalam putusan tersebut ialah pertimbangan hakim dalam memutus perkara sehingga, pertimbangan hakim tersebut dapat dijadikan sebagai argumentasi dalam memecahkan isu hukum yang dihadapi.

c. Sumber Data

Sumber data terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder. 1. Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung oleh

peneliti di lapangan melalui responden dengan cara observasi.15 2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang

sudah ada. Di dalam penelitian hukum normatif, hanya mengenal data sekunder. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:16

a) Data primer dalam penelitian ini yakni sumber data yang diperoleh dari perundang-undangan yang berlaku yakni Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan KUHP;

b) Data sekunder dalam penelitian ini terdiri dari Putusan Nomor 470/Pid.Sus/2014/Pn.Smn, Putusan Nomor 228/Pid.B/2015/ Pn.Pgp, dan Putusan Nomor 267/Pid.B/2015/Pn.Pgp;

15

Hendryadi, Metode Pengumpulan Data, diakses dari https://teorionline.wordpress.com/ service/metode-pengumpulan-data/, dikunjungi pada tanggal 11 Januari 2018 pukul 13.35.

16Arifin, Metode Penelitian Hukum, diakses dari http://arifinpratama.blogspot.co.id/2015

(12)

12

c) Data tersier yang digunakan penulis untuk mendukung data primer dan data sekunder adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia.

d. Unit Amatan dan Unit Analisis

1. Unit Amatan, yang dijadikan unit amatan dalam penelitian ini yaitu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakimandan Putusan Nomor 470/Pid.Sus/2014/Pn.Smn, Putusan Nomor 228/Pid.B/2015/Pn.Pgp, serta Putusan Nomor 267/Pid.B/ 2015/Pn.Pgp;

2. Unit Analisis, yang dijadikan unit analisis adalah Pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana prostitusi online.

6. Sistematika Penulisan

Sesuai dengan buku panduan penelitian dan penulisan skripsi fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana, maka meliputi:17

I. Bab Pendahuluan

Bab ini berisi uraian orientasi tentang penelitian yang akan dilakukan meliputi: hakikat permasalahan (apa yang oleh penulis dianggap atau diperlukan sebagai masalah, problematik atau difficulties), existing knowledge, serta tesis/argumen yang akan dipertahankan oleh penulis. Uraian dari ketiga hal tersebut

17Krishna, Buku panduan penelitian dan penulisan skripsi, Program studi ilmu hukum

(13)

13

dituangkan menjadi: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan Metode Penelitian.

II. Bab Pembahasan

Bab ini berisi Tinjauan Pustaka, Hasil Penelitian, dan Analisis.

III. Bab Penutup

Bab ini berisi pernyataan tentang kesimpulan (jawaban atas permasalahan) dan saran penulis.

Referensi

Dokumen terkait

Sangat menarik ketika pro kontra atas eksistensi pidana mati dikaitkan dengan hak asasi manusia. Sebagaimana diketahui bahwa di satu sisi setiap manusia memiliki hak

Dengan menemukan pengaruh yang ada, peneliti berharap dapat membuktikan jenis gaya kepemimpinan transaksional sebagai salah satu faktor yang diduga mempengaruhi kepuasan kerja

Penulis berharap dengan adanya penulisan ini dapat memberikan manfaat sebagai bahan masukan yang berguna untuk pihak manajemen perusahaan dalam mengatasi kelemahan

Dengan membandingkan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap minat beli fashion online Zalora, oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti kembali dengan menggali

Salah satu bentuk kenakalan remaja yang terus mengalami peningkatan dalam masyarakat Jepang adalah prostitusi remaja putri (White, 1993: 163).. Sejak pertengahan tahun

Dari salah satu putusan yang dijadikan objek penelitian oleh penulis terlihat adanya keringanan hukuman yang dijatuhkan hakim kepada perbuatan perbarengan tindak pidana

Dalam hal initerdapat peran salah satu saksi ahli dalam memecahkan kassus tindak pidana yang dimaksud saksi ahli tersebut yang penulis angkat ialah saksi ahli

Bahan-bahan hukum lain yang diperlukan untuk menjelaskan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dalam Perspektif Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dokumen-dokumen hukum,